Anda di halaman 1dari 133

RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN

SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT INAP JIWA RUMAH SAKIT


DAERAH MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERIODE
JANUARI-APRIL 2014

SKRIPSI

FAHRUL
G 701 10 003

PROGRAM STUDI FARMASI JURUSAN KIMIA FAKULTAS


MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
MEI 2014
RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN
SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT INAP JIWA RUMAH SAKIT
DAERAH MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERIODE
JANUARI-APRIL 2014

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan


dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S1) Program Studi Farmasi
pada Jurusan Kimia FMIPA Universitas Tadulako

FAHRUL
G 701 10 003

PROGRAM STUDI FARMASI JURUSAN KIMIA FAKULTAS


MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
MEI 2014
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul : Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik Pada Pasien

Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani

Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014

Nama : Fahrul

Stambuk : G 701 10 003

Telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan.

Palu, Mei 2014

Pembimbing I Pembimbing II

Alwiyah Mukaddas, S.Farm., M.Si., Apt Ingrid Faustine, S.Si., M.Sc., Apt
NIP. 19800418 200501 2 002

Mengetahui,
Ketua Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Tadulako

Dr. Abd. Rahman Razak, S.Si., M.Si., Apt


NIP. 19711020 199903 1 002

ii
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI

Judul : Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik Pada Pasien

Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani

Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014

Nama : Fahrul
Stambuk : G 701 10 003

Disetujui Tanggal :

DEWAN PENGUJI

Ketua : Alwiyah Mukaddas, S. Farm., M.Si., Apt. ………………

Sekretaris : Ingrid Faustine, S.Si., M.Sc., Apt. ………………

Penguji 1 : Yuliet, S.Si., M.Si., Apt. ………………

Penguji 2 : Indriani, S.Far., M.Sc., Apt. ………………

Penguji 3 : Arsa Wahyu Nugrahani, S. Farm., M.Sc., Apt. ………………

Penguji 4 : Muhamad Rinaldhi Tandah, S.Farm., M.Sc., Apt. ………………

Penguji 5 : Ririen Hardani, S.Farm., M.Si., Apt. ………………

Mengetahui

Dekan FMIPA
Universitas Tadulako

Drs. H. Abdullah, MT
NIP. 196202171991031002

iii
P E R N YATAA N

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas akhir ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan

sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam

naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Palu, Mei 2014

Penulis,

Fahrul
G 701 10 003

iv
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antipsikotik


meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi pada
pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
Periode Januari-April 2014. Metode yang digunakan adalah deskriptif yang
dikerjakan secara prospektif dengan mengumpulkan data primer dengan melakukan
observasi, wawancara dan data sekunder dari rekam medik pasien skizofrenia yang
menjalani rawat inap di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April
2014. Analisa data dilakukan secara deskriptif kuantitatif bertujuan untuk
menjelaskan atau memberikan gambaran karakteristik setiap variabel penelitian
meliputi : Karakteristik pasien, karakteristik klinis dan rasionalitas penggunaan obat.
Hasil rasionalitas pengobatan yang didapatkan adalah sebagai berikut : tepat indikasi
100%, tepat obat 90,4%, tepat pasien 87,8%; tepat dosis 81,6% dan tepat frekuensi
pemberian antipsikotik 90,4%. Penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di
instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-
April 2014 belum dapat dikatakan rasional.

Kata kunci : Rasionalitas, antipsikotik, skizofrenia

v
ABSTRACT

This research is aimed to find out rationality of antipsychotic usage includes right
indication, drug, patient, dosage, and frequency in Schizophrenia at Patient
Department in Madani Mental Hospital of Central Sulawesi from January-April 2014.
This research is a descriptive study, prospectively done by collecting primary data
which is observing, interviewing and secondary data from the schizophrenia patient
medical record. Data analysis is done by descriptive quantitative to provide an
overview of the characteristic each study variables include : patient characteristic,
clinical characteristic, and rational use of drug. The results obtained rationality
treatment was as follows : 100% precise indications, 90,4% right drug, 87,8 right
patient, 81,6% right dosage and 90,4% appropriate frequency of antipsychotic usage.
Antipsychotic usage in schizophrenia at Patient Department in Madani Mental
Hospital of Central Sulawesi January-April 2014 cannot be stated as rational yet.

Key words : Rationality, antipsychotic, schizophrenia

vi
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas segala

nikmat-Nya terutama nikmat waktu dan kesehatan sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan Skripsi ini yang berjudul “Rasionalitas Penggunaan

Antipsikotik pada Pasien Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani

Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014”. Shalawat dan salam

senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga

dan sahabatnya serta umat islam yang selalu istiqomah hingga akhir zaman.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini dapat terselesaikan berkat

bantuan dan dorongan yang tulus ikhlas dari berbagai pihak, untuk itu dengan

kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya dan

penghargaan setinggi-tingginya, teristimewa kepada Ibundaku Fatmawati, S.Pd dan

Ayahandaku Tamin, A.Ma, Adik-adikku tersayang (Ahmad Rifaldi dan Salsa Nur

Fadilah) serta keluarga besarku untuk semua cinta, kasih sayang, pengorbanan serta

doanya kepada penulis. Kepada Ibu Alwiyah Mukaddas, S.Farm., M.Si., Apt selaku

pembimbing I sekaligus dosen wali dan Ibu Ingrid Faustine, S.Si., M.Sc., Apt selaku

pembimbing II yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah meluangkan waktu

memberikan bimbingan dan motivasi yang sangat berharga dalam penyusunan skripsi

ini, serta arahan selama penulis menempuh bangku perkuliahan di Program Studi

Farmasi.

vii
Terima kasih dan penghargaan yang sama penulis sampaikan kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir, S.E., M.S., Rektor Universitas Tadulako.

2. Bapak Drs. H. Abdullah, MT., Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Universitas Tadulako.

3. Bapak/Ibu Wakil Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Tadulako.

4. Bapak Syariful Anam, S.Si., M.Si., Apt dan Ibu Yuliet, S.Si., M.Si., Apt.,

Koordinator dan Sekretaris Program Studi Farmasi FMIPA UNTAD.

5. Ibu Yuliet, S.Si., M.Si., Apt, Bapak Ihwan, S.Si., M.Kes., Apt, Ibu Arsa Wahyu

Nugrahani, S.Farm., M.Sc., Apt , Bapak Muhamad Rinaldhi Tandah, S.Farm., M.Sc.,

Apt, Ibu Ririen Hardani, S.Farm., M.Si., Apt dan Ibu Indriani, S.Far., M.Sc, Apt

selaku dosen pembahas yang telah memberikan saran dan pemikiran yang

berharga dalam penyusunan skripsi ini.

6. Bapak dan Ibu dosen program studi Farmasi FMIPA UNTAD yang telah banyak

membantu dan membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan selama

perkuliahan.

7. Seluruh staf akademik di Fakultas MIPA UNTAD yang telah memberikan

pelayanan yang baik kepada penulis selama kuliah.

8. Ibu dr. Isharwati., M.Kes selaku direktur RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah,

yang telah memberikan izin melaksanakan penelitian.

viii
9. Ibu dr. Eka, Ibu dr. Desi selaku dokter jiwa, Ibu Ni Ketut Suharyani, Amd., Kep.,

Bapak Losaende, L., Amd., Kep., Bapak Umar Mansyur., Amd., Kep., Bapak

Nursid Hadi, Amd., Kep selaku kepala ruangan inap jiwa tempat penulis

meneliti, bapak Malvin dan Ibu Rina selaku staf diklat RSD Madani Provinsi

Sulawesi Tengah yang telah memberikan kesempatan bimbingan dan bantuan

kepada penulis selama penelitian.

10. Kesayanganku Arum Maulidiyah serta Oryza Sativa, Andika dan Panji yang

selama ini dalam suka duka telah banyak memberikan bantuan semangat dan

dukungan kepada penulis.

11. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Farmasi angkatan 2010 (POT’10) yang

tidak dapat saya tuliskan satu-persatu. Kalian adalah teman-teman terbaikku.

Terima kasih atas semua kebaikan dan bantuan kalian

Harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca

dan semoga segala bantuan dan bimbingan dari semua pihak senantiasa mendapat

ridho Allah SWT. Amin.

Palu, Mei 2014

Penulis

ix
DAFTAR ISI

SAMPUL
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN DEWAN PENGUJI .......................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN ..........................................................................
ABSTRAK ........................................................................................................
iv
ABSTRACT ......................................................................................................
v
vi
KATA PENGANTAR ...................................................................................... vii
DAFTAR ISI .................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xiv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvi
DAFTAR SIMBOL/ISTILAH .......................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................ 5
1.5 Batasan Masalah ................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 7

2.1 Skizofrenia ............................................................................ 7


2.2 Antipsikotik .......................................................................... 24
2.3 Rasionalitas Penggunaan Obat ............................................. 35
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................... 38

3.1 Desain Penelitian .................................................................. 38


3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ 38
3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ............ 38
3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ...................... 40
3.5 Teknik Pengumpulan Data ................................................... 43
3.6 Analisa Data ......................................................................... 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................. 45

4.1 Hasil Penelitian ..................................................................... 45


4.2 Pembahasan .......................................................................... 50

x
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 79
5.1 Kesimpulan ........................................................................... 79
5.2 Saran ..................................................................................... 79
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 81

LAMPIRAN ...................................................................................................... 86
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... 114

xi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Efek samping Farmakologik Antipsikotik..................................................................33

4.1 Distribusi jenis kelamin pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........45

4.2 Distribusi usia pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........................45

4.3 Distribusi suku/etnis pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa


di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........46

4.4 Distribusi status perkawinan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014................46

4.5 Distribusi jenjang pendidikan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........46

4.6 Distribusi pekerjaan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di


RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014................47

4.7 Distribusi gejala pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di


RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014................47

4.8 Distribusi tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD


Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........................47

4.9 Distribusi jenis antipsikotik yang digunakan pasien skizofrenia yang


dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014.............................................................................................................48

4.10 Distribusi lama rawat inap pasien infeksi saluran kemih yang dirawat
inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014.............................................................................................................48

4.11 Distribusi tepat indikasi pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........49

xii
4.12 Distribusi tepat obat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........49

4.13 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa


di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........49

4.14 Distribusi tepat dosis pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........49

4.15 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pasien skizofrenia


yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014..............................................................................................50

4.16 Kontraindikasi Obat Antipsikotik..................................................................................72

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Patofisiologis skizofrenia...................................................................................................8

2.2 Skema diagnosis skizofrenia...........................................................................................17

2.3 Algoritma antipsikotik......................................................................................................34

4.1 Distribusi jenis kelamin pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........50

4.2 Distribusi usia pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........................52

4.3 Distribusi suku/etnis pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa


di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........53

4.4 Distribusi status perkawinan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........54

4.5 Distribusi jenjang penididikan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........55

4.6 Distribusi pekerjaan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........................57

4.7 Distribusi gejala pada pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........................58

4.8 Tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014............................................................60

4.9 Distribusi jenis antipsikotik pasien skizofrenia rawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014...........................61

4.10 Distribusi lama rawat inap pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014................64

xiv
4.11 Distribusi tepat indikasi pada pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014........... 66
4.12 Distribusi tepat obat pada pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD

Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ................... 67


4.13 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani

Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014................................. 71


4.14 Distribusi tepat dosis antipsikotik pada pasien skizofrenia yang dirawat inap

jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April


2014............................................................................................................... 72
4.15 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pada pasien skizofrenia

yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah


periode Januari-April 2014 ........................................................................... 76

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data pasien skizofrenia rawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah Periode Januari – April 2014..............................................86

Lampiran 2 Standar pelayanan medik RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah.........93

Lampiran 3 Dosis dan frekuensi penggunaan antipsikotik peroral..................................95

Lampiran 4 Algoritma tatalaksana terpai skizofrenia tanpa riwayat...............................96

Lampiran 5 Algoritma tatalaksana terpai skizofrenia dengan riwayat............................97

Lampiran 6 Hasil analisa data.....................................................................................................98

Lampiran 7 Surat izin penelitian penelitian...........................................................................111

Lampiran 8 Surat keterangan telah melaksanakan penelitian...........................................112

Lampiran 9 Dokumentasi............................................................................................................113

xvi
DAFTAR SIMBOL/ISTILAH

AGK : antipsikotik generasi kedua

AGP : antipsikotik generasi pertama

AP : antipsikoik

APG-I : antipsikotik generasi I

APG-II : antipsikotik generasi II

CSS : cairan serebrospinal

CT-scan : computed tomography scanning

d : kesalahan (absolut) yang dapat ditolerir

DDA : dopamine depleting agent

DNA : deoxyribonucleic acid

DRA : dopamine reseptor antagonist

DSM : diagnostic and statistic manual of mental disorders

ECT : elctro convulsive therapy

EEG : electroencephalography

GABA : gamma aminobutyric acid

GEP : gejala ekstapiramidal

Hb : hemoglobin

HT : hidroksitriptamin

LED : laju endap darah

n : besar sampel minimum

xvii
N : populasi yang diketahui

PDD : pervasive developmental disorder

PDSKJI : perhimpinan dokter spesialis kedokteran jiwa

PET : positron emission tompgraphi

PIF : prolactine inhibiting factor

RSD : rumah sakit daerah

RSK : rumah sakit khusus

SDA : serotonin dopamine antagonist

VIP : very important person

WHO : world health organization

xviii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan jiwa merupakan bentuk gangguan dalam fungsi alam pikiran.

Gangguan tersebut dapat berupa disorganisasi (kekacauan) isi pikiran, yang

ditandai antara lain oleh adanya gejala gangguan pemahaman (delusi/waham),

dan gangguan persepsi berupa halusinasi atau ilusi serta dijumpai gangguan

terhadap daya nilai realitas berupa perilaku aneh (bizzare). Gangguan jiwa tidak

menyebabkan kematian secara langsung, namun akan menyebabkan penderitanya

menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga dan lingkungan

masyarakat sekitarnya. Salah satu bentuk gangguan jiwa adalah skizofrenia

(Agus, 2005).

Pada saat ini penderita dengan gangguan jiwa jumlahnya mengalami

peningkatan terkait dengan berbagai macam permasalahan yang dialami oleh

bangsa Indonesia, mulai dari kondisi perekonomian yang memburuk, kondisi

keluarga atau latar belakang, pola asuh anak yang tidak baik sampai bencana

alam yang melanda negara kita. Selain itu, dampak modernisasi dimana tidak

semua orang siap untuk menghadapi perubahan dan kemajuan teknologi baru

(Maramis, 2004)

1
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang sangat berat. Penyakit ini

menyerang 4 sampai 7 dari 1000 orang (Saha et al, 2005). Skizofrenia biasanya

menyerang pasien dewasa yang berusia 15-35 tahun. Diperkirakan terdapat 50

juta penderita di dunia, 50% dari penderita tidak menerima pengobatan yang

sesuai, dan 90% dari penderita yang tidak mendapat pengobatan tepat tersebut

terjadi di negara berkembang (WHO, 2011). Di Indonesia, prevalensi gangguan

jiwa berat (skizofrenia) sebesar 4,6‰. Sulawesi Tengah menempati peringkat

pertama dari provinsi lain yang berada di Sulawesi dengan penderita skizofrenia

sebesar 5,3‰ yang kemudian secara berturut-turut diikuti oleh Sulawesi Selatan

3,2‰, Sulawesi Tenggara 2,5‰, Sulawesi Utara 2,4‰, Gorontalo 2,4‰, dan

Sulawesi Barat 1‰ (RISKESDAS, 2008).

Salah satu penanganan skizofrenia dengan menggunakan pengobatan

antipsikotik. Antipsikotik merupakan terapi obat-obatan pertama yang efektif

mengobati skizofrenia (Irwan dkk, 2008). Hasil penelitian pola penggunaan

antipsikotik pada penderita skizofrenia menunjukkan bahwa jenis antipsikotik

yang digunakan adalah klorpromazin, haloperidol, trifluoperazin, risperidon dan

klozapin. Pada terapi tunggal antipsikotik yang paling banyak digunakan adalah

risperidon (21,1%) dan terapi kombinasi antipsikotik yang banyak digunakan

adalah kombinasi haloperidol dan klorpromazin (23,2%). Pada kategori

pengobatan terdiri dari pengobatan antipsikotik tipikal, pengobatan antipsikotik

atipikal dan kombinasi antipsikotik tipikal-atipikal. Pengobatan dengan

2
menggunakan antipsikotik tipikal merupakan pengobatan terbanyak yang

digunakan dengan persentase sebesar 41,5% (Jarut dkk., 2013). Hasil penelitian

evaluasi penggunaan obat pada pasien skizofrenia adalah tepat indikasi sebanyak

100%, tepat pasien 100%, tepat obat 93,39%, dan tepat dosis 99,06%

(Setyaningsih, 2011).

Mekanisme kerja obat antipsikotik tipikal seperti haloperidol dan

klorpromazin adalah memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron

di otak, khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2

receptor antagonists). Dengan adanya mekanisme kerja tersebut maka

penggunaan antipsikotik tipikal mempunyai potensi yang besar untuk

menimbulkan efek samping diantaranya berupa gejala ekstrapiramidal (GEP)

(Maslim, 2003). Gejala ekstrapiramidal ini dapat berupa parkinsonisme

(hipokinesia, kekakuan anggota tubuh, tremor tangan dan keluar air liur

berlebihan, gejala ’rabbit syndrome’), akathisia, dystonia akut, dyskinesia

tardive, (BPOM RI, 2008).

Rumah Sakit Daerah Madani merupakan satu-satunya Rumah Sakit milik

pemerintah di Provinsi Sulawesi Tengah sebagai rujukan untuk pasien gangguan

kejiwaan. Laporan dari unit rekam medik RSD Madani kasus pasien skizofrenia

rawat inap termasuk pasien terbanyak di rumah sakit tersebut dengan kejadian

pada tahun 2010 jumlah kasus sebanyak 326 dari 506 pasien gangguan jiwa,

2011 jumlah kasus sebanyak 347 pasien dari 560 pasien gangguan jiwa, 2012

3
jumlah kasus sebanyak 365 pasien dari 427 pasien gangguan jiwa dan 2013

jumlah kasus sebanyak 375 pasien dari 662 pasien gangguan jiwa. Data di atas,

menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah pasien skizofrenia di Provinsi

Sulawesi Tengah setiap tahun. Hal tersebut seharusnya mendapat perhatian yang

lebih, baik dari keluarga, masyarakat, perawat, dokter, farmasis maupun tenaga

kesehatan lainnya di rumah sakit karena dampaknya yang luas dan berjangka

waktu lama, baik terhadap kualitas hidup atau beban bagi pasien, keluarga,

masyarakat maupun negara. Penggunaan obat yang rasional merupakan upaya

intervensi untuk mencapai pengobatan yang efektif. Dalam upaya meningkatkan

pemakaian obat secara rasional, diperlukan peningkatan secara bersama-sama

dalam seluruh proses terapi yang mencakup penegakkan diagnosis, pemilihan

kelas terapi dan jenis obat, pemberian obat ke pasien, penentuan dosis, cara dan

pemberian, harga obat, pemberian informasi yang sesuai dan kewaspadaan efek

samping. Berdasarkan berbagai hal tersebut penelitian ini perlu dilakukan untuk

mengetahui rasionalitas penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di

instalasi rawat inap jiwa Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah

periode Januari-April 2014 ditinjau dari aspek tepat indikasi, tepat obat, tepat

pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut : bagaimana rasionalitas penggunaan antipsikotik pada pasien

4
skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah

periode Januari-April 2014 meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat

dosis dan tepat frekuensi?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan

antipsikotik pada pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa Rumah Sakit

Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ditinjau

dari aspek tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Aspek Pendidikan

Penelitian ini diharapkan sebagai sumber berbagai konsep teori

yang telah dipelajari sehingga dapat mengembangkan pemahaman,

penalaran, dan pengalaman peneliti terkait dengan masalah rasionalitas

pengobatan.

1.4.2 Aspek pengembangan penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan langkah awal untuk

penelitian selanjutnya yang terkait dengan rasionalitas penggunaan

antipsikotik pada pasien skizofrenia.

5
1.4.3 Aspek Pelayanan Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan

sumber data mengenai penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia,

khususnya di wilayah kerja RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah.

1.5 Batasan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada rasionalitas penggunaan

antipsikotik pada pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa (ruang manggis,

ruang salak, ruang srikaya, ruang langsat) RSD Madani Provinsi Sulawesi

Tengah periode Januari-April 2014 meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat

pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Skizofrenia

2.1.1 Definisi

Istilah schizophrenia diperkenalkan oleh Bleuler (psikiater dari

Swiss). Kata schizophrenia berasal dari bahasa Yunani, yaitu skhizo

(split/membelah) dan phren (mind/pikiran). Schizophrenia berarti

terbelah atau terpisahnya emosi dengan pikiran. Hal ini jelas terlihat

bahwa penderita gangguan schizophrenia pada umumnya ditandai

penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan

persepsi, serta oleh afek tidak wajar (inappropriate) atau tumpul

(blunted) (First et al, 2004).

Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan

ini ditandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang

kacau, delusi, halusinasi, gangguan kognitif dan persepsi; gejala-gejala

negatif seperti avolition (menurunnya minat dan dorongan),

berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan, efek

yang datar; serta terganggunya relasi personal (Arif, 2006).

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang dalam kebanyakan

kasus bersifat sangat serius, berkelanjutan dan dapat mengakibatkan

7
kendala sosial, emosional dan kognitif (pengenalan, pengetahuan, daya

membedakan) (Tjay dkk, 2007).

2.1.2 Patofisiolo gis

Pada skizofrenia terdapat penurunan aliran darah dan ambilan

glukosa, terutama di korteks prefontalis, dan pad a pasien yang

didominasi gejala negatif juga terdapat penurunan jumlah neuron

(penurunan jumlah substansia grisea). Selain itu, migrasi neuron yang

abnormal selama perkembangan otak secara patofisiologis sangat

bermakna.

Gambar 2.1 Patofisiologis skizofrenia (Silbernagl, 2007)

8
Atrofi penonjolan dendrit mengandung sinaps glutamatergik,

sehingga transmisi glutamatergiknya terganggu. Selain itu, pada area yang

terkena, pembentukan GABA dan/atau jumlah neuron GABAergik

tampaknya berkurang sehingga penghambatan sel piramidal menjadi

berkurang. Makna patofisiologis yang khusus dikaitkan dengan dopamin;

availibilitas dopamin atau agonis dopamin yang berlebihan dapat

menimbulkan gejala skizofrenia, dan penghambat reseptor dopamin-D 2

telah sukses digunakan dalam penatalaksanaan skizofrenia.

Di sisi lain, penurunan reseptor D2 yang ditemukan di korteks

prefontalis, dan penurunan reseptor D1 dan D2 berkaitan dengan gejala

negatif skizofrenia, seperti kurangnya emosi. Penurunan reseptor

dopamin mungkin terjadi akibat pelepasan dopamin yang meningkatkan

dan hal ini tidak memiliki efek patogenetik (Silbernagl, 2007).

2.1.3 Etiologi

Menurut Amir (2013), belum ditemukan etiologi yang pasti

mengenai skizofrenia. Ada beberapa hasil penelitian yang dilaporkan

saat ini :

1. Biologi

Tidak ada gangguan fungsional dan struktur yang

patognomonik ditemukan pada penderita skizofrenia. Meskipun

demikian beberapa gangguan organik dapat terlihat pada sub

populasi pasien. Gangguan yang paling banyak dijumpai yaitu

pelebaran ventrikel tiga dan lateral yang stabil yang kadang-

9
kadang sudah terlihat sebelum awitan penyakit; atropi bilateral

lobus temporal medial dan lebih spesifik yaitu girus

parahipokampus, hipokampus dan amiglada; disorientasi spasial sel

pyramid hipokampus dan penurunan volume korteks prefrontal

dorsolateral. Beberapa penelitian melaporkan bahwa semua

perubahan ini tampaknya statis dan telah dibawa sejak lahir, dan

beberapa perjalanan progresif. Lokasinya menunjukkan gangguan

perilaku yang ditemui pada skizofrenia; misalnya, gangguan

hipokampus dikaitkan dengan impermen memori dan atropi lobus

frontalis dihubungkan dengan gejala negatif skizofrenia. Penemuan

lain yaitu adanya antibodi sitomegalovirus dalam cairan

serebrospinal (CSS), limposit atipikal tipe P (terstimulasi),

gangguan fungsi hemister kiri, gangguan transmisi dan pengurangan

ukuran korpus kalosum, pengecilan serebri, penurunan aliran darah

dan metabolisme glukosa di lobus frontal (dilihat dengan PET),

kelainan EEG, EPP300 auditorik (dengan QEEG), sulit memusatkan

perhatian, dan perlambatan waktu reaksi, serta berkurangnya

kemampuan menanamkan benda.

Pada individu yang berkembang menjadi skizofrenia terdapat

peningkatan insiden komplikasi persalinan, lebih besar

kecenderungan lahir pada akhir musim dingin atau awal musim

panas, dan terdapat gangguan neurologi minor. Kemaknaan

penemuan-penemuan ini belum diketahui. Bagaimanapun, ini

10
menunjukkan adanya dasar biologik dan heterogenitas skizofrenia.

2. Biokimia

Etiologi biokimia skizofrenia belum diketahui. Hipotesis yang

paling banyak yaitu adanya gangguan neurotransmiter sentral yaitu

terjadinya peningkatan aktivitas dopamin sentral (hipotesis

dopamin). Hipotesis ini dibuat berdasarkan tiga penemuan utama :

a) Efektivitas obat-obat neuroleptik (misalnya fenotiazin) pada


skizofrenia, ia bekerja memblok reseptor dopamin pasca sinaps

(tipe D2).

b) Terjadinya psikosis akibat pengguanaan amfetamin. Psikosis

yang terjadi sukar dibedakan, secara klinik, dengan psikosis

skizofrenia paranoid akut. Amfetamin melepaskan dopamin

sentral. Selain itu, amfetamin juga memperburuk skizofrenia.

c) Adanya peningkatan jumlah reseptor D2 di nukleus kaudatus,

nukleus akumben, dan putamen pada skizofrenia.

Penelitian reseptor D1, D5 dan D4, saat ini tidak banyak

memberikan hasil. Teori lain yaitu peningkatan serotonin di susunan

saraf pusat (terutama 5-HT2A) dan kelebihan neurotramsmiter di

forebrain limbik (terjadi pada beberapa penderita skizofrenia).

Setelah pemberian obat yang bersifat antagonis terhadap

neurotransmitter tersebut terjadi perbaikan klinis skizofrenia.

11
3. Genetika

Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara

signifikan, kompleks dan poligen. Sesuai dengan penelitian

hubungan darah (konsanguinitas), skizofrenia adalah gangguan

bersifat keluarga (misalnya; terdapat dalam keluarga). Semakin

dekat hubungan kekerabatan semakin tinggi risiko. Pada penelitian

anak kembar, kembar monozigot mempunya risiko 4-6 kali lebih

sering menjadi sakit bila dibandingkan dengan kembar dizigot. Pada

penelitian adopsi, waktu lahir, oleh keluarga normal, peningkatan

angka sakitnya sama dengan bila anak-anak tersebut diasuh sendiri

oleh orang tuanya yang skizofrenia.

Frekuensi kejadian gangguan nonpsikotik meningkat pada

keluarga skizofrenia dan secara genetik dikaitkan dengan gangguan

kepribadian ambang dan skizotipal (gangguan spektrum

skizofrenia), gangguan obsesif kompulsif, dan kemungkinan

dihubungkan dengan gangguan kepribadian paranoid dan antisosial.

4. Faktor Keluarga

Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan penting

dalam menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan remisi.

Pasien yang pulang kerumah sering relaps pada tahun berikutnya

bila dibandingkan dengan pasien yang ditempatkan di residensial.

Pasien yang berisiko adalah pasien yang tinggal bersama keluarga

12
yang hostilitas, memperlihatkan kecemasan berlebihan, sangat

protektif terhadap pasien, terlalu ikut campur, sangat pengeritik

(ekspresi emosi tinggi). Pasien skizofrenia sering tidak

“dibebaskan” oleh keluarganya.

Beberapa peneliti mengidentifikasi suatu cara komunikasi

yang aneh pada keluarga-keluarga skizofrenia. Komunikasi sering

samar-samar atau tidak jelas dan sedikit tak logis. Pada tahun 1959,

Betson menggambarkan suatu karakteristik “ikatan ganda” yaitu

pasien sering diminta oleh anggota keluarga untuk merespon pesan

yang bentuknya kontradiksi sehingga membingungkan. Penelitian

terbaru menyatakan bahwa pola komunikasi keluarga tersebut

mungkin disebabkan oleh dampak memiliki anak skizofrenia.

2.1.4 Manifestasi klinis

Menurut Ade (2012), gambaran secara klinis terjadinya

skizofrenia pada setiap orang berbeda-beda, bahkan pada satu individu

pun akan bervariasi seiring bejalan waktu. Para peneliti dan komonitas

medis telah menyetujui bahwa terdapat 3 fase/tahapan yang berbeda

dalam perjalan penyakit skizofrenia, yaitu :

1. Fase akut

Pada fase tersebut, penderitanya mengalami gejala-gejala mayor

yang bisa dilihat jelas. Pertolongan medis berupa pemberian

antipsikotik dibutuhkan penderita. Gejala-gejala tersebut bisa saja

13
terjadi dengan sangat perlahan atau mungkin tiba-tiba. Gejala yang

dialami penderita pada episode mayor diantaranya yaitu penderita

tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan yang ada di

lingkungannya, halusinasi, delusi, asosiasi longgar, cenderung

menarik diri dari lingkungan sekitar, ambivalen, tidak mau bekerja

sama dan menyukai hal-hal yang membuat konflik disekitarnya,

tidak mau merawat diri serta gangguan nafsu makan dan tidur

(Dipiro et al, 2009).

2. Fase stabilisasi

Penderita mengalami penurunan gejala setelah fase akut, ditandai

dengan berkurangnya gejala-gejala klinis.

3. Fase stabil

Pada fase yang biasa disebut juga fase kronis atau rumatan ini,

gejala-gejala klinis yang terjadi pada episode akut sudah mampu

dikelola dengan baik, namun masih ada kesulitan untuk berfungsi

seperti semula dan berisiko kambuh pada episode akut dan

stabilisasi.

2.1.5 Gejala-Gejala skizofrenia

Menurut Hawaris (2007), gejala skizofrenia dibagi menjadi 2,

yaitu gejala positif dan negatif antara lain :

14
1. Gejala Positif skizofrenia

a) Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional.

Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya

itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini kebenarannya.

b) Halusinansi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada

rangsangan. Misalnya penderita mendengar bisikan-bisikan

ditelinganya padahal tidak ada sumber dari bisikan itu.

c) Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya.

Misalnya bicaranya kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur

pikirannya.

d) Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara

dengan semangat dan gembira berlebihan.

e) Merasa dirinya “Orang Besar”, merasa serba mampu, serba hebat

dan sejenisnya.

f) Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada

ancaman terhadap dirinya.

g) Menyimpan rasa permusuhan

2. Gejala negatif skizofrenia

a) Alam perasaan “tumpul” dan “mendatar”. Gambaran alam

perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan

ekspresi.

b) Menarik diri atau mengasingkan diri tidak mau bergaul atau

kontak dengan orang lain, suka melamun.

15
c) Kontak emosional amat “miskin”, sukar diajak bicara, pendiam.

d) Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.

e) Sulit dalam berfikir abstrak.

f) Tidak ada/kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada inisiatif

dan serba malas.

2.1.6 Diagnosis

Menurut Arif (2006), paling tidak terdapat enam kriteria

diagnostik skizofrenia menurut Diagnostic and Statistic Manual of

Mental Disorders (DSM) IV text revision sebagai berikut :

1. Jika terdapat dua atau lebih gejala psikotik secara terus menerus

minimal dalam waktu 6 bulan, dengan sedikitnya 1 bulan penderita

menunjukkan gejala tersebut secara intens. Gejala-gejala yang

dimaksud seperti:

a) Delusi

b) Halusinasi

c) Pembicaraan kacau

d) Tingkah laku kacau atau katatonik

e) Gejala negatif (pendataran afek atau tidak ada kemauan)

2. Disfungsi sosial

3. Durasi paling tidak selama 6 bulan. Periode 6 bulan ini mencakup

paling tidak 1 bulan dimana gejala-gejala muncul.

4. Tidak termasuk gangguan skizoefektif dan gangguan mood.

5. Tidak termasuk gangguan karena zat atau karena kondisi medis.

16
6. Hubungan dengan Pervasive Developmental Disorder (PDD). Bila

ada riwayat gangguan austistik atau gangguan PDD lainnya,

diagnosis tambahan skizofrenia hanya dibuat bila ada halusinasi

atau delusi yang menonjol, selama paling tidak 1 bulan.

GEJALA PSIKOTIK

1. Waham 3. Inkoherensi
2. Halusinasi 4. Katatonia

TANDA ORGANIK

1. Penurunan kesadaran patologik


2. Disorientasi
3. Gangguan daya ingat
4. Gangguan fungsi intelektual
Ya Tidak

GANGGUAN MENTAL ORGANIK PSIKOTIK FUNGSIONAL


atau GANGGUAN JIWA AKIBAT (gangguan psikotik)
PENYAKIT UMUM

1. > 6 bulan 3. Deteriorasi


2. Onset < 45 tahun

Ya Tidak

skizofrenia nonskizofrenia

Gambar 2.2 Skema diagnosis skizofrenia (Mansjoer dkk, 1999)

2.1.7 Tipe-tipe Skizofrenia

Menurut Arif (2006), ada beberapa tipe skizofrenia; masing-

masing memiliki kekhasan tersendiri dalam gejala-gejala yang

diperlihatkan dan tampaknya memiliki penyakit yang berbeda-beda

antara lain :

17
1. Skizofrenia Tipe Paranoid

Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah adanya waham yang

mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya

fungsi kognitif dan afek yang relatif masih terjaga. Wahamnya

biasanya adalah waham kebesaran, atau keduanya, tetapi waham

dengan tema lain misalnya waham kecemburuan, keagamaan

mungkin juga muncul.

Kriteria diagnostik untuk skizofrenia tipe paranoid:

a) Preokupasi dengan satu atau lebih waham atau sering mengalami

halusinasi auditorik.

b) Tidak ada ciri berikut yang mencolok: bicara kacau, motorik

kacau atau katatonik, afek yang tak sesuai atau datar.

2. Skizofrenia Tipe hebefrenik (disorganized)

Ciri utama disorganized adalah pembicaraan kacau, tingkah

laku kacau dan afek yang datar. Pembicaraan yang kacau dapat

disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak berkaitan dengan isi

pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku misalnya: kurangnya

orientasi pada tujuan dapat membawa pada gangguan yang serius

pada berbagai aktivitas hidup sehari- hari.

Kriteria diagnostik skizofrenia tipe disorganized :

a) Gejala ini cukup menonjol: Pembicaraan kacau, tingkah laku

kacau.

b) Tidak memenuhi kriteria untuk tipe katatonik.

18
3. Skizofrenia Tipe katatonik

Ciri utama pada skizofrenia tipe katatonik adalah gangguan

pada psikomotor yang dapat meliputi ketidak-bergerakan motorik,

aktivitas motor yang berlebihan, sama sekali tidak mau bicara dan

berkomunikasi, gerakan-gerakan yang tidak terkendali, mengulang

ucapan orang lain atau mengikuti tingkah laku orang lain.

Kriteria diagnostik skizofrenia tipe katatonik :

a) Aktivitas motor yang berlebihan (yang tidak bertujuan dan tidak

dipengaruhi oleh stimulasi eksternal).

b) Negativism yang ekstrim (tanpa motivasi yang jelas, bersikap

sangat menolak pada segala instruksi atau mempertahankan

postur yang kaku untuk menolak dipindahkan) atau sama sekali

diam.

c) Gerakan-gerakan yang khas dan tidak terkendali.

4. Skizofrenia Tipe Tak Terici (undifferentiated)

Pasien mempunyai halusinasi, waham dan gejala-gejala

psikosis aktif yang menonjol (misalnya; kebingungan, inkoheren)

atau memenuhi kriteria skizofrenia tetapi tidak digolongkan pada

tipe paranoid, katatonik, hebefrenik, residual dan depresi pasca

skizofrenia (Amir, 2013).

5. Skizofrenia Tipe residual

Diagnosa skizofrenia tipe residual diberikan bilamana pernah

ada paling tidak satu kali episode skizofrenia, tetapi gambaran

19
klinis saat ini tanpa gejala positif yang menonjol. Terdapat bukti

bahwa gangguan masih ada sebagaimana ditandai oleh adanya

gejala negatif atau gejala positif yang lebih halus.

Pasien dalam keadaan remisi dari keadaan akut tetapi masih

memperlihatkan gejala-gejala residual (penarikan diri secara sosial,

afek datar atau tak serasi, perilaku eksentrik, asosiasi melonggar

atau pikiran tak logis) (Amir, 2013).

6. Depresi Pasca skizofrenia

Suatu episode depresi yang mungkin berlangsung lama dan

timbul sesudah suatu serangan penyakit skizofrenia. Beberapa

gejala skizofrenia masih tetap ada tetapi tidak mendominasi

gambaran klinisnya. Gejala-gejala yang menetap tersebut dapat

berupa gejala positif atau negatif (biasanya lebih sering gejala

negatif) (Amir, 2013).

7. Skizofrenia simpleks

Skizofrenia simpleks adalah suatu diagnosis yang sulit dibuat

secara meyakinkan karena bergantung pada pemastian

perkembangan yang berlangsung perlahan, progresif dari gejala

negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa adanya riwayat

halusinasi, waham atau manifestasi lain tentang adanya suatu

episode psikotik sebelumnya, dan disertai dengan perubahan-

perubahan yang bermakna pada perilaku perorangan, yang

20
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, kemalasan

dan penarikan diri secara sosial (Amir, 2013)

8. Skizofrenia lainnya

Skizofrenia lainnya termasuk skizofrenia senestopatik,

gangguan skzofreniform YTT, skizofrenia siklik, skizofrenia laten,

gangguan lir-skizofrenia akut (Amir, 2013).

9. Skizofrenia Tipe Yang Tidak Tergolongkan/YTT (unspecified)

Skizofrenia jenis ini gejalanya sulit untuk digolongkan pada

tipe skizofrenia tertentu.

2.1.8 Terapi skizofrenia

Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa

(PDSKJI) (2012), penatalaksanaan skizofrenia dapat berupa

farmakoterapi, psikoterapi dan terapi lainnya yang dibagi dalam

beberapa fase yaitu :

1. Fase Akut

a) Farmakoterapi

Pada fase akut terapi bertujuan mencegah pasien melukai

dirinya atau orang lain, mengendalikan perilaku yang merusak,

mengurangi beratnya gejala psikotik dan gejala lainnya misalnya

agitasi, agresi dan gaduh gelisah. Pada langkah pertama yaitu

berbicara kepada pasien dan memberinya ketenangan.

Kemudian keputusan untuk memulai pemberian obat.

Pengikatan atau isolasi hanya dilakukan bila pasien

21
berbahaya terhadap dirinya sendiri dan orang lain serta restriksi

lainnya tidak berhasil. Pengikatan dilakukan hanya boleh untuk

sementara yaitu sekitar 2-4 jam dan digunakan untuk memulai

pengobatan. Meskipun terapi oral lebih baik, pilihan obat injeksi

untuk mendapatkan awitan kerja yang lebih cepat serta

hilangnya gejala dengan segera perlu dipertimbangkan.

b) Psikoedukasi

Tujuan intervensi adalah mengurangi stimulus yang

berlebihan, stresos lingkungan dan peristiwa-peristiwa

kehidupan. Memberikan ketenangan kepada pasien atau

mengurangi keterjagaan melalui komunikasi yang baik,

memberikan dukungan atau harapan, menyediakan lingkungan

yang nyaman, toleran perlu dilakukan.

c) Terapi lainnya

ECT (terapi kejang listrik) dapat dilakukan pada

skizofrenia katatonik dan skizofrenia refrakter.

2. Fase Stabilisasi

a) Farmakoterapi

Tujuan fase stabilisasi adalah mempertahankan remisi

gejala atau untuk mengontrol, meminimalisir risiko atau

konsekuensi kekambuhan dan mengoptimalkan fungsi dan

proses kesembuhan (recovery).

22
Setelah diperoleh dosis optimal, dosis tersebut

dipertahankan selama kurang 8-10 minggu sebelum masuk ke

tahap rumatan. Pada fase ini dapat juga diberikan obat anti

psikotik jangka panjang (long acting injectable), setiap 2-4

minggu.

b) Psikoedukasi

Tujuan intervensi adalah meningkatkan keterampilan

orang dengan skizofrenia dan keluarganya dalam mengelola

gejala. Mengajak pasien untuk mengenali gejala-gejala, melatih

cara mengelola gejala, merawat diri, mengembangkan kepatuhan

menjalani pengobatan. Teknik intervensi perilaku bermanfaat

untuk diterapkan pada fase ini.

3. Fase Rumatan

a) Farmakoterapi

Dosis mulai diturunkan secara bertahap sampai diperoleh

dosis minimal yang masih mampu mencegah kekambuhan. Bila

kondisi akut pertama kali, terapi diberikan sampai dua tahun,

bila sudah berjalan kronis dengan beberapa kali kekambuhan

terapi diberikan lima tahun bahkan seumur hidup.

b) Psikoedukasi

Tujuan intervensi adalah mempersiapkan pasien kembali

pada kehidupan masyarakat. Modalitas rehabilitasi spesifik,

misalnya remediasi kognitif, pelatihan keterampilan sosial dan

23
terapi vokasional, cocok diterapkan pada fase ini. Pada fase ini

pasien dan keluarga juga diajarkan mengenali dan mengelola

gejala prodromal, sehingga mereka mampu mencegah

kekambuhan berikutnya.

2.2 Antipsikotik

2.2.1 Definisi

Antipsikotik (major tranquillizers) adalah obat-obat yang dapat

menekan fungsi-fungsi psikis tertentu tanpa mempengaruhi fungsi

umum seperti berpikir dan berkelakuan normal. Obat ini dapat

meredakan emosi dan agresi dan dapat pula menghilangkan atau

mengurangi gangguan jiwa seperti impian dan pikiran khayali

(halusinasi) serta menormalkan perilaku yang tidak normal (Tjay dkk,

2007).

Antipsikotik bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronik,

suatu gangguan jiwa yang berat (skizofrenia). Obat antipsikotik

memiliki 4 ciri terpenting. Pertama berefek antipsikotis, yaitu berguna

mengatasi agresivitas, hiperaktivitas dan labilitas emosional pada

pasien psikosis. Ciri kedua yaitu dosis besar obat antipsikosis tidak

menyebabkan koma yang dalam dan anesthesia. Ciri yang ketiga yaitu

dapat menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang reversible dan

ireversible. Ciri terakhir yaitu tidak memiliki kecenderungan untuk

menimbulkan ketergantungan (Anonim, 2007).

24
2.2.2 Penggolongan Antipsikotik

Menurut Tjay dkk (2007), Antipsikotik (AP) biasanya dibagi

dalam dua kelompok besar yakni:

1. Antipsikotik typis atau klasik, terutama efektif mengatasi gejala

positif; pada umumnya dibagi lagi dalam sejumlah kelompok

kimiawi sebagai berikut :

a) Derivat-fenotiazin : klorpromazin, levomepromazin dan

triflupromazin, thioridazin dan periciazin, perfenazin dan

flufenazin, perazin, trifluoperazin dan thietilperazin.

Semua fenotiazin mempunyai struktur yang sama yaitu

tiga cincin. Perbedaan terletak pada rantai samping atom

nitrogen cincin tengah. Fenotiazine terdiri dari tiga jenis,

berdasarkan substitusi pada posisi sepuluh. Substitusi ini

memberikan pengaruh penting terhadap karakteristik

farmakologi fenotiazine. Substitusi pada rantai alifatik, seperti

klorpromazin, menyebabkan turunnya potensi antipsikotik

(AP). Obat ini cenderung menyebabkan sedasi, hipotensi, dan

efek antikolinergik pada dosis terapeutiknya. Klorpromazin

mempunya atom klorpromarin pada posisi dua. Apabila atom

klorine dibuang, akan dihasilkan promazin yaitu AP lemah.

Mensubstitusi piperidin pada posisi sepuluh dapat

menghasilkan kelompok AP seperti tioridazin. Obat ini

mempunyai potensi dan profil efek samping yang sama dengan

25
fenotiazine alifatik. Flufenazin dan trifluoperazin merupakan

AP dengan kelompok piperazin yang disubstitusi pada posisi

sepuluh. Piperazin memiliki efek otonom dan antikolinergik

lebih rendah dan tetapi memiliki afinitas yang tinggi terhadap

dopamin (D2) sehingga efek samping ekstrapiramidalnya (EPS)

lebih tinggi. Beberapa fenotiazin piperazin diesterifikasi pada

kelompok hidroksil bebas dengan etanoat dan asam dekanoat

sehingga terbentuk AP depo antipsikotik generasi I (APG-I)

jangka panjang (Amir, 2013).

Klorpromazin dan thioridazin: menghambat α1

adrenoreseptor lebih kuat dari reseptor dopamin D2. Kedua

obat ini juga menghambat reseptor serotonin 5-HT2 dengan

kuat. Tetapi afinitas untuk reseptor D1 seperti diukur dengan

penggeseran ligan D1 yang selektif, relatif lemah (Katzung,

1998). Klorpromazin khasiat antipsikotiknya lemah dan juga

digunakan untuk mengobati sedu yang tak henti-henti, dosis

pada psikosis oral, i.m atau i.v. 3 dd 25 mg selama 3-4 hari, bila

perlu dinaikkan sampai 1 g. Sedangkan thioridazin memiliki

khasiat antipsikotis dan sedatif yang baik, sehingga sering

digunakan pada pasien yang sukar tidur, dosis oral 2-4 dd 25-27

mg maksimal 800 mg sehari (Tjay dkk, 2007).

26
Levomepromazin : khasiat antipsikotiknya sama dengan

klorpromazin dengan dosis pada nyeri hebat i.m 12,5-25 mg,

oral 4-6 dd 12,5-50 mg. Trifluoperazin yang kurang lebih sama

dengan periciazin memiliki antipsikotik agak ringan dan efek

antiadrenergik dan seretonin kuat dengan dosis oral permulaan

5 mg sehari, dinaikkan setiap 2-3 hari dengan 5 mg sampai

maksimal 90 mg (Tjay dkk, 2007)

Perfenazin : bekerja terutama pada reseptor D2, efek pada

reseptor 5-HT2 dan α1 ada tetapi pada reseptor D1 dapat

dikesampingkan (Katzung, 1998).

b) Derivat-thioxanthen : klorprotixen dan zuklopentixol

Tioxantine mempunyai persamaan struktur cincin tiga

dengan fenotiazine tetapi nitrogen pada posisi sepuluh

disubstitusi dengan atom karbon. Klorprotixin merupakan

tioxantin alifatik potensi rendah dengan profil efek samping

sama dengan khlorpromazine (Amir, 2013).

c) Derivat-butirofenon: haloperidol, bromperidol, pipamperon dan

droperidol.

Butirofenon mempunyai cincin piperidine yang melekat

pada kelompok amino tersier. Haloperidol merupakan

antipsikotik yang termasuk kelompok ini. Haloperidol dan

27
butirofenon lain bersifat D2 antagonis yang sangat poten. Efek

terhadap sistem otonom dan efek antikolinergiknya sangat

minimal. Haloperidol merupakan piperidine yang paling sering

digunakan (Amir, 2013).

Haloperidol merupakan obat yang digunakan untuk

skizofrenia dan pada berbagai macam gerakan spontan dari otot

kecil yang diperkirakan akibat hiperaktivitas sistem dopamin di

otak. Bromperidol berkhasiat khusus terhadap halusinasi dan

pikiran khayal sedangkan droperidol digunakan sebagai

antipsikotikum pada keadaan gelisah akut dengan dosis i.m/i.v

5-10 mg (Tjay dkk, 2007)

d) Derivat-butilpiperidin : pimozida, fluspirilen dan penfluridol

Difenilbutil piperidine sama strukturnya dengan

butirofenon (Amir, 2013). Pimozida memiliki khasiat

antipsikotik kuat dan panjang. Efek terapi baru nyata sesudah

beberapa waktu, tetapi bertahan agak lama. Obat ini tidak layak

diberikan pada keadaan eksitasi dan kegelisahan akut, yang

memerlukan sedasi langsung, lagi pula efek sedasinya lebih

ringan dibandingkan obat lain. Pimozida khusus digunakan

pada psikosis kronis jangka panjang (Tjay dkk, 2007).

2. Antipsikotik atypis (sulpirida, klozapin, risperidon, olanzapin dan

quetiapin) bekerja efektif melawan gejala negatif, yang praktis

28
kebal terhadap obat klasik. Lagi pula efek sampingnya lebih

ringan, khususnya gangguan ekstrapiramidal dan dyskinesia tarda.

Klozapin merupakan antipsikotik generasi kedua yang efek

samping ekstrapiramidalnya dapat diabaikan. Dibandingkan dengan

obat-obat generasi pertama, semua antipsikotik generasi II (APG-

II) mempunyai rasio blokade serotonin (5 hidroksitriptamin) (5-

HT) tipe 2 (5-HT2) terhadap resptor dopamin tipe 2 (D2) lebih

tinggi. Ia lebih banyak bekerja pada sistem dopamin mesolimbik

dari pada striatum (Amir, 2013).

Klozapin : bekerja dengan menghambat reseptor-D2 agak

ringan dibandingkan obat-obat klasik (60-75%). Namun efek

antipsikotisnya kuat, yang bisa dianggap paradoksal. Juga

afinitasnya pada reseptor lain dengan efek antihistamin,

antiserotonin, antikolinergis dan antiadrenergis adalah relatif tinggi.

Menurut perkiraan efek baiknya dapat dijelaskan oleh blokade kuat

dari reseptor-D2, -D4, dan -5HT2. Blokade reseptor-

muskarinik dan –D4 diduga mengurangi GEP, sedangkan blokade

5HT2 meningkatkan sintesa dan pelepasan dopamin di otak. Hal

ini meniadakan sebagian blokade D2, tetapi mengurangi risiko

gejala ektrapiramidal (Tjay dkk, 2007).

29
Risperidon merupakan antagonis kuat baik terhadap

serotonin (terutama 5-HT2) dan reseptor D2. Risperidon juga

mempunyai afinitas kuat terhadap a1 dan a2 tetapi afinitas terhadap


β-reseptor dan muskarinik rendah. Walaupun dikatakan ia

merupakan antagonis D2 kuat, kekuatannya jauh lebih rendah bila

dibandingkan dengan haloperidol. Akibatnya, efek samping

ekstrapiramidalnya lebih rendah bila dibandingkan dengan

haloperidol. Aktivitasnya melawan gejala negatif dikaitkan dengan

aktivitasnya terhadap 5HT2 yang juga tinggi (Amir, 2013).

2.2.3 Efek samping

Menurut Tjay dkk (2007), sejumlah efek samping serius dapat

membatasi penggunaan antipsikotik dan yang paling sering adalah :

1. Gejala ekstrapiramidal (GEP), yang berhubungan dengan daya

antidopaminnya dan bersifat lebih ringan pada senyawa

butirofenon, butilpiperidin dan obat atypis. GEP dapat berbentuk

banyak macam, yaitu sebagai:

a) Parkinsonisme (gejala penyakit Parkinson), yakni hipokinesia

(daya gerak berkurang, berjalan langkah demi langkah) dan

kekauan anggota tubuh, kadang-kadang tremor tangan dan

keluar liur berlebihan. Gejala lainnya “rabbit-syndrome” (mulut

membuat gerakan mengunyah, mirip kelinci), yang dapat

muncul setelah beberapa minggu atau bulan. Terutama pada

30
dosis tinggi dan lebih jarang pada obat dengan kerja

antikolinergis.

b) Dystonia akut, yakni kontraksi otot-otot muka dan tengkuk,

kepala miring, gangguan menelan, sukar bicara dan kejang

rahang. Guna menghindarkannya dosis harus dinaikkan dengan

perlahan atau diberikan antikolinergika sebagai profilaksis.

c) Akathisia, yakni selalu ingin bergerak, tidak mampu duduk diam

tanpa menggerakan kaki, tangan atau tubuh. Ketiga GEP di atas

dapat dikurangi dengan menurunkan dosis dan dapat diobati

dengan antikolinergika.

d) Dyskinesia tarda, yakni gerakan abnormal tak sengaja,

khususnya otot-otot muka dan mulut (menjulurkan lidah), yang

dapat menjadi permanen.

e) Sindroma neuroleptika maligne berupa demam, kekakuan otot

dan GEP lain, kesadaran menurun dan kelainan-kelainan sistem

saraf otonom (takikardia, berkeringat, fluktasi tekanan darah,

inkontinensi). Gejala ini tak tergantung pada dosis, terutama

terjadi pada pria muda dalam waktu 2 minggu dengan insiden

1%. Diagnosanya sukar, tetapi bila tidak ditangani bisa berakhir

fatal.

2. Galaktorrea (banyak keluar air susu), juga akibat blokade dopamin,

yang identik dengan PIF (Prolactine Inhibiting Factor). Sekresi

31
prolaktin tidak dirintangi lagi, kadarnya meningkat dan produksi air

susu bertambah banyak.

3. Sedasi, yang berhubungan dengan khasiat antihistamin, khusunya

klorpromazin, thioridazin dan klozapin. Efek sampingnya ringan

pada zat-zat difenilbutilamin.

4. Hipotensi ortostatis akibat blokade reseptor α1-adrenergis, misalnya

klorpromazin, thioridazin dan klozapin.

5. Efek antikolinergis akibat blokade reseptor muskarin, yang

bercirikan antara lain mulut kering, penglihatan guram, obstipasi,

retensi kemih dan takikardia, terutama pada lansia. Efeknya khusus

kuat pada klorpromazin, thioridazin dan klozapin.

6. Efek antiserotonin akibat blokade reseptor-5HT, yang berupa

stimulasi nafsu makan dengan akibat naiknya berat badan dan

hiperglikemia.

7. Gejala penarikan dapat timbul, meskipun obat-obat ini tidak

berdaya adiktif. Bila penggunaannya dihentikan mendadak dapat

terjadi sakit kepala, sukar tidur, mual, muntah, anorexia dan rasa

takut. Efek ini terutama pada obat-obat dengan kerja antikolinergis.

Oleh karena itu penghentiannya selalu perlu secara berangsur.

Efek samping yang irreversible : tardive dyskinesia (gerak,

dimana tidur akan berulang involunter pada lidah, wajah,

mulut/rangka, dan anggota gerak, di mana waktu tidur gejala tersebut

menghilang). Biasanya terjadi pada pemakaian jangka panjang dan

32
pasien lanjut usia. Bila terjadi, obat antipsikosis harus dihentikan

perlahan-lahan, biasa dicoba pemberian obat 2,5 mg/hari Dopamine

Depleting Agent (DDA). Obat pengganti antipsikosis yang paling baik

adalah klozapin 50-100 mg/hari. Pada pemakaian obat jangka panjang

secara periodik harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk

deteksi dini perubahan akibat efek samping obat (Mansjoer dkk, 1999).

Kontraindikasi untuk obat ini adalah penyakit hati, penyakit

darah, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi, ketergantungan

alkohol dan gangguan kesadaran (Maslim, 1997).

Tabel 2.1 Efek Samping Farmakologik Antipsikosis


Sistem
organ yang Manifestasi Mekanisme
dipengaruhi
Sistem saraf Gangguan penglihatan, mulut Hambatan reseptor
otonom kering, sulit berkemih, muskarinik
konstipasi
Hipotensi ortostatik, Hambatan reseptor

impotensi, gangguan adrenergik


ejakulasi
Susunan saraf Sindrom Parkinson, akatisia Hambatan reseptor

pusat distonia, dopamin


Diskinesia tardif Supersensitivitas

reseptor dopamin
Kejang Toksik Hambatan reseptor

muskarinik
Sistem Amenorea, galaktorea, Hambatan reseptor
Endokrin infertilitas, impotensi dopamin yang
menyebabkan
hiperprolaktinemia
Sistem lain Peningkatan berat badan Kemungkinan hambatan

reseptor H1 dan 5-HT2


Sumber: Anonim, 2007

33
Pemilihan antipsikotik sebaiknya mempertimbangkan tanda-

tanda klinis dari penderita, profil khasiat dan efek samping dari

obat-obat yang akan digunakan. Tiap-tiap tahap dapat dilewati

tergantung pada gambaran klinis atau riwayat kegagalan pemberian

antipsikotik.

Episode pertama atau belum Tahap 1


Pemberian AGK tunggal
pernah mendapat terapi AGP (ARIPIPRAZOLE, OLANZAPINE, QUETIAPINE,
sebelumnya RISPERIDONE, atau ZIPRASIDONE)
Respon sebagian atau tidak ada

Tahap 2

Pemberian AGK tunggal


(selain AGK yang diberikan pada tahap 1)
Respon sebagian atau tidak ada Respon sebagian atau tidak ada

Tahap 2A Tahap 3
Pemberian AGP tunggal Respon sebagian atau
CLOZAPINE
(selain AGK yang diberikan pada tahap 1) tidak ada

Respon sebagian atau


AGP, antipsikotik generasi pertama
tidak ada
AGK, antipsikotik generasi kedua
ECT, terapi electrokonvulsif Tahap 4
CLOZAPINE
+
(AGP, AGK atau

Tidak ada respon

Tahap 5
Nilai dari kegagalan
Coba terapa dengan agen tunggal
terapi clozapine tidak
ditentukan AGP atau AGK (selain AGK yang
diberikan pada tahap 1,2 atau 2A)

Dilporkan tidak ada Tahap 6


kontrol pada penelitian Terapai kombinasi, yaitu: AGK+AGP,
dengan penggunaan kombinasi AGK, (AGP atau
terapi kombinasi AGK)+ECT, (AGP atau AGK+agen
jangka panjang untuk lain (misal mood stabilizer)
terapi skizofrenia

Gambar 2.3 Algoritma antipsikotik (Dipiro et al, 2011)

34
2.3 Penggunaan Obat yang Rasional

Menurut Swandari (2012), penggunaan obat yang rasional merupakan

upaya intervensi untuk mencapai pengobatan yang efektif. Penggunaan obat

dapat diidentifikasi rasionalitasnya dengan menggunakan indikator 8 Tepat

dan 1 Waspada.

1. Tepat Diagnosis

Penggunaan obat harus berdasarkan penegakan diagnosis yang tepat.

Ketepatan diagnosis menjadi langkah awal dalam sebuah proses

pengobatan karena ketepatan pemilihan obat dan indikasi akan tergantung

pada diagnosis penyakit pasien.

2. Tepat indikasi

Pasien diberikan obat dengan indikasi yang benar sesuai diagnosa

dokter. Misalnya pasien skizofrenia hanya akan diberikan obat antipsikotik.

3. Tepat pemilihan obat

Berdasarkan diagnosis yang tepat maka harus dilakukan pemilihan

obat yang tepat. Pemilihan obat yang tepat dapat ditimbang dari ketepatan

kelas terapi dan jenis obat yang sesuai dengan diagnosis. Selain itu, obat

juga harus terbukti manfaat dan keamanannya. Obat juga harus merupakan

jenis yang paling mudah didapatkan. Jenis obat yang akan digunakan

pasien juga seharusnya jumlahnya seminimal mungkin.

35
4. Tepat pasien

Obat yang akan digunakan oleh pasien mempertimbangkan kondisi

individu yang bersangkutan. Riwayat alergi, adanya penyakit penyerta

seperti kelainan ginjal atau kerusakan hati, serta kondisi khusus misalnya

hamil, laktasi, balita, dan lansia harus dipertimbangkan dalam pemilihan

obat.

5. Tepat dosis

Dosis obat yang digunakan harus sesuai range terapi obat tersebut.

Obat mempunyai karakteristik farmakodinamik maupun farmakokinetik

yang akan mempengaruhi kadar obat di dalam darah dan efek terapi obat.

Dosis juga harus disesuaikan dengan kondisi pasien dari segi usia, bobot

badan, maupun kelainan tertentu.

6. Tepat cara dan lama pemberian

Cara pemberian yang tepat harus mempertimbangkan keamanan dan

kondisi pasien. Hal ini juga akan berpengaruh pada bentuk sediaan dan saat

pemberian obat.

Lama pemberian meliputi frekuensi dan lama pemberian yang harus

sesuai karakteristik obat dan penyakit. Frekuensi pemberian akan berkaitan

dengan kadar obat dalam darah yang menghasilkan efek terapi.

36
7. Tepat harga

Penggunaan obat tanpa indikasi yang jelas atau untuk keadaan yang

sama sekali tidak memerlukan terapi obat merupakan pemborosan dan

sangat membebani pasien, termasuk peresepan obat yang mahal.

8. Tepat informasi

Kejelasan informasi tentang obat yang harus diminum atau digunakan

pasien akan sangat mempengaruhi ketaatan pasien dan keberhasilan

pengobatan.

9. Waspada efek samping

Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek

tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi.

37
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan

penelitian non eksperimental observasional yang dikerjakan secara prospektif dan

hasil penelitian disajikan secara deskriptif.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi

Sulawesi Tengah.

3.2.2 Waktu penelitian

Waktu penelitian berlangsung pada periode Januari-April 2014.

3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien skizofrenia yang

menjalani rawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah

periode Januari-April 2014.

38
3.3.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien skizofrenia yang

menjalani rawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah

periode Januari-April 2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria

eksklusi. Untuk menghitung ukuran minimal sampel dapat diketahui dari

populasi yang diketahui jumlahnya pada tahun 2013 yang kemudian dibagi

dengan 4 sehingga didapatkan jumlah sampel selama 3 bulan. Rumusnya

adalah sebagai berikut:

n= ( )

Keterangan:

N = Besar Populasi

n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan, pada penelitian ini

digunakan 0,05.

(Notoatmodjo, 2005)

Telah dilakukan studi pendahuluan dan jumlah populasi yang

diketahui pada tahun 2013 adalah 375.


n= ( ,) = , = 193,54 ≈ 194
Maka:

Sehingga jumlah sampel selama 3 bulan yaitu:


Jumlah sampel minimal = = = 48,5 ≈ 49

39
1. Kriteria Inklusi

a) Pasien yang terdiagnosis skizofrenia tanpa penyakit penyerta

b) Pasien dengan usia ≥ 18 tahun

c) Pasien yang menjalani rawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi

Sulawesi Tengah

2. Kriteria eksklusi

a) Pasien pulang paksa, lari, pindah rumah sakit, dirujuk ke tempat lain.

b) Pasien yang menjalani rawat inap jiwa di ruangan mangga (observasi),

apel (VIP), dan anggur (skizofrenia dengan penyakit penyerta).

c) Pasien meninggal

3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total

sampling. Total sampling adalah teknik penentuan sampel bila semua

anggota populasi digunakan sebagai sampel yang memenuhi kriteria inklusi

dan eksklusi.

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.4.1 Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah rasionalitas penggunaan obat

antipsikotik pada pasien skizofrenia meliputi tepat indikasi, tepat obat,

tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.

40
3.4.2 Definisi Operasional

1. Antipsikotik adalah obat-obat yang dapat menekan fungsi-fungsi psikis

tertentu tanpa mempengaruhi fungsi umum seperti berpikir dan

berkelakuan normal.

2. Rasionalitas merupakan upaya intervensi untuk mencapai pengobatan

yang efektif dinilai berdasarkan tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis

dan tepat frekuensi.

3. Jenis kelamin adalah perbedaan antara perempuan dan laki-laki secara

biologis sejak seseorang lahir.

Kategori : a. Laki-laki b. Perempuan

Skala : nominal

4. Usia adalah selisih waktu kelahiran dengan waktu masuk rumah sakit.

Sampel penelitian yang digunakan pasien usia ≥18 tahun.

Kategori : a. 18-25 tahun c. 46-65 tahun

b. 26-45 tahun d. >65 tahun

Skala : ordinal

5. Lama rawat inap adalah selisih antara waktu masuk rumah sakit dan

waktu pulang.

Kategori : a. < 28 hari

b. > 28 hari

Skala : ordinal

41
6. Tepat indikasi adalah pemberian obat dengan indikasi yang benar

sesuai diagnosa dokter.

Kategori : a. Ya b. Tidak

Skala : nominal

7. Tepat obat adalah pemilihan obat antipsikotik yang tepat dapat

ditimbang dari ketepatan kelas terapi, jenis dan kombinasi obat yang

sesuai dengan diagnosis pada pasien skizofrenia

Kategori : a. Ya b. Tidak

Skala : nominal

8. Tepat pasien adalah kesesuaian pemilihan obat antipsikotik yang

diberikan pada pasien skizofrenia yang tidak kontraindikasi dengan

kondisi pasien seperti riwayat alergi dan kondisi khusus lainnya.

Kategori : a. Ya b. Tidak

Skala : nominal

9. Tepat dosis adalah dosis obat yang digunakan harus sesuai range terapi

obat antipsikotik.

Kategori : a. Ya b. Tidak

Skala : nominal

10. Tepat frekuensi adalah jumlah pemberian obat dalam sehari yang harus

sesuai indikasi obat antipsikotik dan penyakit skizofrenia.

Kategori : a. Ya b. Tidak

Skala : nominal

42
3.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan 2 cara, yaitu pengumpulan data primer

dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan observasi dan

wawancara, dimana peneliti terlibat secara langsung dalam mengamati keadaan

pasien. Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mencatat isi

rekam medik meliputi :

1. Identitas pasien (nomor rekam medis, nama, tanggal lahir, jenis kelamin, usia,

alamat, suku, status perkawinan, jenjang pendidikan, pekerjaan)

2. Data klinik (gejala, diagnosis, jenis antipsikotik yang digunakan, tanggal

masuk rumah sakit, tanggal keluar rumah sakit, cara keluar)

3. Obat (nama obat, dosis, frekuensi)

3.6 Analisa Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif

kuantitatif (frekuensi) bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian yaitu :

1. Karakteristik pasien skizofrenia

a. Jenis kelamin

b. Usia

c. Suku/etnis

d. Status perkawinan

e. Jenjang pendidikan

f. Pekerjaan

43
2. Karakteristik klinis skizofrenia

a. Gejala

b. Diagnosis

c. Jenis antipsikotik yang digunakan

d. Lama rawat inap

e. Keadaan pulang

3. Rasionalitas penggunaan antipsikotik

a. Tepat indikasi

b. Tepat obat

c. Tepat pasien

d. Tepat dosis

e. Tepat frekuensi

44
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang dilakukan di instalasi rawat inap jiwa RSD

Madani Provinsi Sulawesi Tengah selama kurun waktu 3 bulan (Januari-April

2014) diperoleh jumlah pasien sebanyak 74 orang yang memenuhi kriteria

inklusi dan eksklusi.

a. Karakteristik Pasien

1. Jenis kelamin

Tabel 4.1 Distribusi jenis kelamin pasien skizofrenia yang dirawat


inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014
Jenis kelamin Jumlah pasien Persentase (%)
Laki-laki 59 79,7
Perempuan 15 20,3
Total 74 100

2. Usia

Tabel 4.2 Distribusi usia pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014
Usia (tahun) Laki-laki Usia (tahun) Perempuan
N % N %
18-25 14 23,7 18-25 2 13,3
26-45 39 66,1 26-45 11 67,6
46-65 6 10,2 46-65 2 13,3
>65 0 0 >65 0 0
Total 59 100 Total 15 100

45
3. Suku/etnis

Tabel 4.3 Distribusi suku/etnis pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Suku/etnis Jumlah pasien Persentase (%)
Kaili 22 29,7
Pamona 7 9,5
Mori 2 2,7
Tomini 5 6,8
Bungku 3 4,1
Dampelas 1 1,4
Lainnya 21 28,4
Tanpa Keterangan 12 16,4
Total 74 100

4. Status perkawinan

Tabel 4.4 Distribusi status perkawinan pasien skizofrenia yang


dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Status Perkawinan Jumlah pasien Persentase (%)
Kawin 10 13,5
Tidak/Belum Kawin 53 71,6
Duda/Janda 11 14,9
Total 74 100

5. Jenjang pendidikan

Tabel 4.5 Distribusi jenjang pendidikan pasien skizofrenia yang


dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Jenjang Pendidikan Jumlah pasien Persentase (%)
Tidak Sekolah 10 13,5
SD 21 28,4
SMP 19 25,7
SMA 20 27
Akademi 1 1,4
Sarjana 3 4,1
Total 74 100

46
6. Pekerjaan

Tabel 4.6 Distribusi pekerjaan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Pekerjaan Jumlah pasien Persentase (%)
PNS 2 2,7
Tani/Nelayan 14 18,9
Wiraswasta 4 5,4
Buruh 1 1,4
Pelajar/Mahasiswa 2 2,7
Tidak Bekerja 51 68,9
Total 74 100

b. Karakteristik klinis skizofrenia

1. Gejala

Tabel 4.7 Distribusi gejala pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014
Gejala Jumlah Persentase (%)
Gejala Positif
Waham 18 16.2
Halusinasi 51 45.9
Inkoherensi 11 9.9
Gejala Negatif
Afek Datar 19 17.1
Alogia 9 8.1
Isolasi sosial 3 2.7
Total 100

2. Tipe-tipe skizofrenia

Tabel 4.8 Distribusi tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di


RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014
Diagnosa Jumlah pasien Persentase (%)
Skizofrenia Paranoid 30 40,5
Skizofrenia Hebefrenik 3 4,1
Skizofrenia Tak Terinci 20 27,0
Skizofrenia Residual 4 5,4
Skizofrenia YTT 17 23,0
Total 74 100
YTT: Yang Tak Tergolongkan
47
3. Jenis antipsikotik yang digunakan

Tabel 4.9 Distribusi jenis antipsikotik yang digunakan pasien


skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014
Jenis Antipsikotik Jumlah Persentase (%)
Tipikal
Klorpromazin 37 27,2
Trifluoperazin 10 7,4
Haloperidol 59 43,4
Atipikal
Klozapin 26 19,1
Olanzapin 1 0,7
Risperidon 3 2,2
Total 136 100

4. Lama rawat inap

Tabel 4.10 Distribusi lama rawat inap pasien infeksi saluran kemih
yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Lama Rawat Inap Jumlah pasien Persentase (%)
< 28 hari 22 29,7
> 28 hari 30 40,5
Total 52 70,3

5. Keadaan pulang

Keadaan pulang pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di

RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014

adalah seluruh pasien skizofrenia pulang 52 orang (70,3%) sembuh

parsial dengan tetap berobat jalan dan pasien skizofrenia belum pulang

22 orang (29,7%) masih dirawat inap. Beberapa pasien sudah

memenuhi kriteria pulang tapi masih dirawat inap karena belum

adanya keluarga yang menjemput. Namun, jika jangka waktu yang

cukup lama keluarga tidak datang, pasien diantar kerumahnya oleh

pihak rumah sakit

48
c. Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik

1. Tepat indikasi

Tabel 4.11 Distribusi tepat indikasi pasien skizofrenia yang dirawat


inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014
Tepat Indikasi Jumlah Persentase (%)
Ya 74 100
Tidak 0 0
Total 74 100

2. Tepat obat

Tabel 4.12 Distribusi tepat obat pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Tepat Obat Jumlah Persentase (%)
Ya 123 90,4
Tidak 13 9,6
Total 136 100

3. Tepat pasien

Tabel 4.13 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Tepat Pasien Jumlah Persentase (%)
Ya 65 87,8
Tidak 9 12,2
Total 74 100

4. Tepat dosis

Tabel 4.14 Distribusi tepat dosis pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Tepat Dosis Jumlah Persentase (%)
Ya 111 81,6
Tidak 25 18,4
Total 136 100

49
5. Tepat frekuensi

Tabel 4.15 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pasien


skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014
TFPA Jumlah Persentase (%)
Ya 123 90,4
Tidak 13 9,6
Total 136 100
TFPA : Tepat Frekuensi Pemberian Antipsikotik

4.2 Pembahasan

1. Karakteristik Pasien

a. Jenis kelamin

Jenis Kelamin

20.3%
Laki-Laki
Perempuan
79.7%

Gambar 4.1 Distribusi jenis kelamin pasien skizofrenia yang dirawat


inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014

Gambar 4.1 di atas menunjukkan perbedaan distribusi pasien

skizofrenia laki-laki dan perempuan pada hasil penelitian ini cukup

signifikan. Pasien laki berjumlah 59 orang (79,7%), sedangkan pasien

perempuan hanya berjumlah 15 orang (20,3%). Penelitian lain

50
menunjukan yaitu 66,9% pasien laki-laki dan 33,1% pasien

perempuan dari total 142 pasien menderita skizofrenia (Jarut dkk,

2013). Berdasarkan wawancara peneliti dengan perawat rawat inap

pasien skizofrenia di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah, jenis

kelamin laki-laki penderita skizofrenia adalah yang paling banyak

dirawat inap dibanding dengan perempuan karena laki-laki biasanya

memiliki agresifitas sangat tinggi sehingga sulit ditangani jika hanya

dirawat di rumah, sedangkan agresifitas pada perempuan penderita

skizofrenia masih dapat ditangani oleh keluarga di rumah sehingga

cenderung dirawat di rumah. Prognosis atau perjalanan penyakit pada

laki-laki lebih buruk dibandingkan pada penderita perempuan

sehingga cepat terlihat. Penyebabnya dapat karena faktor genetik,

lingkungan atau pengaruh dari dalam diri sendiri. Hal ini juga sesuai

dengan literatur bahwa laki-laki mempunyai onset skizofrenia lebih

awal dari pada wanita dan mengalami pubertas lebih lambat karena

suatu tingkat kematangan fungsi otak berpengaruh dalam tingkat

kerentanan seseorang dalam jiwanya (Kaplan et al, 1997; Byrne et al,

2003; Lehman et al, 2004).

51
b. Usia

Usia(tahun)
17-25 26-45 45-65 >65
73.3%
66.1%

23.7%
10.2% 13.3%
0% 2% 0%

Laki-laki Perempuan

Gambar 4.2 Distribusi usia pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014

Gambar 4.2 di atas menunjukkan distribusi usia pasien

skizofrenia berdasarkan jenis kelamin, usia yang terbanyak pada

pasien berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan adalah yang

berusia antara 26-45 tahun yaitu 66,1% dan 73,3%. Hal ini sesuai

dengan literatur bahwa skizofrenia pada laki-laki biasanya timbul

antara usia 15-25 tahun, sedangkan pada wanita antara 25-35 tahun

(Irmansyah, 2005). Lebih kurang 90% dari pasien skizofrenia dalam

pengobatan berumur antara 15-25 tahun. Hal ini disebabkan pada usia

muda terdapat faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi

perkembangan emosional, sedangkan pada usia tua lebih banyak

52
dipengaruhi oleh faktor biologik (Kaplan et al, 1997). Oleh karena itu,

skizofrenia yang muncul pada usia muda dapat mengurangi kualitas

hidup penderitanya. Hal ini tidak berarti usia pada penelitian ini

mempengaruhi skizofrenia karena usia pasien diambil ketika pasien

masuk rumah sakit sehingga peneliti tidak mengetahui sejak kapan

sebenarnya pasien mulai menderita skizofrenia.

c. Suku/etnis

Suku/etnis
29.70% 28.40%
16.40%

9.50% 6.80% 4.10%


2.70% 1.40%

Gambar 4.3 Distribusi suku/etnis pasien skizofrenia yang dirawat inap


jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014

Gambar 4.3 menunjukkan suku terbanyak pasien skizofrenia

adalah suku Kaili yaitu 29,70%. Hal ini disebabkan karena jumlah

responden pada saat penelitian yang paling banyak dirawat inap adalah

suku Kaili. Menurut Anonim (2011) bahwa suku Kaili mendominasi

daerah di Sulawesi Tengah, sehingga kemungkinan penderita

53
skizofrenia bersuku kaili lebih banyak berobat dibandingkan dengan

suku lain. Penelitian Sinaga (2009) di Rumah Sakit Jiwa Mahoni

Medan menunjukkan suku yang terbanyak menderita skizofrenia

adalah suku yang jumlahnya terbanyak di daerah tersebut yaitu suku

Batak (59,07%). Suku lainnya merupakan terbanyak kedua yaitu

28,40%. Suku lainnya merupakan suku yang berasal dari luar Sulawesi

Tengah. Hal ini sesuai dengan Kaplan et al (2010) disebutkan bahwa

para imigran baru memiliki stress lebih besar karena harus beradaptasi

dengan kultur sekitarnya. Namun pada penelitian ini, tidak diketahui

sejak kapan suku lainnya yang berasal dari luar Sulawesi Tengah

tinggal menetap di daerah Sulawesi Tengah dan bukan berarti

menjelaskan bahwa ada keterkaitan faktor suku dengan terjadinya

penyakit skizofrenia.

d. Status perkawinan

Status perkawinan
14.9% 13.5%
kawin

tidak/belum kawin
71.6% duda/junda

Gambar 4.4 Distribusi status perkawinan pasien skizofrenia yang


dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014

54
Gambar 4.4 menunjukkan status perkawinan pasien

skizofrenia yang terbanyak adalah status tidak/belum kawin yaitu

71,6%. Penelitian lain di RSK Alianyang Pontianak menunjukkan

pasien 69,11% belum kawin, jumlah tersebut lebih besar bila

dibandingkan dengan pasien dengan status kawin, janda dan duda

(Sira, 2011). Hal ini sesuai dengan literatur bahwa skizofrenia lebih

banyak dijumpai pada orang yang tidak kawin (Kaplan et al, 2010).

Gangguan jiwa skizofreenia biasanya mulai muncul pada masa remaja

atau belum menikah, sehingga pasien kemungkinan tidak akan

menikah dengan kondisi sakit dan perlu pengobatan karena skizofrenia

bersifat kronis dan dibutuhkan pengobatan sehingga didapatkan

kehidupan sosial pasien dan kemampuannya membangun relasi

dengan baik (misalnya untuk menikah) cenderung terganggu (David,

2004; Sira, 2011).

e. Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan
Sarjana 4.1%

Akademik 1.4%
SMA 27.7%
SMP 25.7%
SD 28.40%
Tidak Sekolah 13.50%

Gambar 4.5 Distribusi jenjang pendidikan pasien skizofrenia yang


dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
55
Gambar 4.5 menunjukkan jenjang pendidikan pasien

skizofrenia yang terbanyak yaitu pendidikan SD 28,4%. Jenjang

pendidikan yang terbanyak setelah itu adalah SMA 27,7%. Hal ini

berkaitan dengan onset dari skizofrenia, usia pertama kali terkena

skizofrenia antara 15-25 dan 25-35 tahun (Kaplan et al, 2010). Oleh

karena itu, pada usia tersebut pasien yang terkena skizofrenia tidak

dapat mendapat pendidikan yang lebih tinggi lagi karena kesulitan

untuk mengikuti pendidikan formal.

Berdasarkan latar belakang yang didapatkan dari data

sekunder menunjukkan pasien yang paling banyak adalah yang

berekonomi lemah, sehingga kemungkinan banyak juga pasien yang

tidak melanjutkan pendidikan setelah tingkat sekolah dasar. Oleh

karena itu, dapat dikatakan bahwa tidak hanya karena menderita

skizofrenia, pengaruh lainnya seperti kondisi sosial dan ekonomi juga

dapat menyebabkan pasien tidak bersekolah. Hal ini tidak berarti

bahwa jenjang pendidikan mempengaruhi kasus skizofrenia.

Tingginya pasien skizofrenia dengan jenjang pendidikan Sekolah

Dasar karena responden yang diambil pada pasien skizofrenia yang

dirawat inap di Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi Sulawesi

Tengah pada periode Januari-April 2014 lebih banyak dengan

pendidikan Sekolah Dasar.

56
f. Pekerjaan

Pekerjaan
tidak bekerja 62.2%

Pelajar/mahasiswa 2.7%

Buruh 1.4%

wiraswasta 5.4%

tani/nelayan 25.7%

PNS 2.7%

Gambar 4.6 Distribusi pekerjaan pasien skizofrenia yang dirawat inap


jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014

Gambar 4.6 di atas menunjukkan distribusi pekerjaan pasien

yang terbanyak adalah tidak bekerja yaitu 62,2%. Penelitian lain di

RSK Alianyang Pontianak menunjukkan distribusi pasien skizofrenia

yang tidak bekerja adalah yang terbanyak yaitu 85,09% (Sari, 2011).

Selain motivasi diri yang kurang karena adanya gejala negatif yang

mendasarinya, stigmatisasi dan diskriminasi pada penyandang

gangguan jiwa menghalangi mereka untuk berintegrasi ke dalam

masyarakat, karena sering mendapatkan ejekan, serta isolasi sosial dan

ekonomi. Oleh karena itu, faktor ini membatasi hak berpendapat dan

hak memperoleh pekerjaaan (Perkins et al, 2002; Saperstein et al,

2011).

57
2. Karakteristik

Klinis a. Gejala

Gejala Skizofrenia

10.9%
waham
halusinasi
44.5% 7.6% inkoherensi
16.8% afek tumpul
16.8% 3.4% alogia
isolasi sosial
positif = 72.3% negatif = 27.7%

Gambar 4.7 Distribusi gejala pada pasien skizofrenia yang dirawat


inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014

Gambar 4.7 di atas menunjukkan distribusi gejala skizofrenia

yang paling banyak adalah gejala positif (72,3%). Penelitian lain di

RSJ Mahoni Medan tahun 2009 gejala yang paling banyak adalah

gejala positif (63,71%) (Sinaga, 2011). Gangguan skizofrenia ditandai

dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan kacau (inkoherensi),

halusinasi, waham, gangguan kognitif dan persepsi. Gejala-gejala

negatif seperti menurunnya minat dan dorongan, berkurangnya

keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan (alogia), afek yang

datar serta terganggu relasi personal (isolasi sosial). Gejala positif

berarti bertambahnya kemunculan suatu tingkah laku dalam kadar

58
yang berlebihan dan menunjukkan penyimpangan dari fungsi psikosis

normal (Arif, 2006). Menurut Hawari (2007) gejala positif skizofrenia

merupakan gambaran gangguan jiwa skizofrenia yang mencolok dan

amat mengganggu lingkungan atau keluarga dan merupakan salah satu

motivasi keluarga untuk membawa penderita berobat.

Halusinasi merupakan gejala positif yang paling banyak

ditemukan di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-

April 2014 yaitu 44,5%. Menurut Maramis (2004) gangguan jiwa

berat adalah skizofrenia. Dari seluruh pasien skizofrenia, gejala yang

mendominasi adalah halusinasi. Halusinasi yaitu persepsi sensorik

yang salah di mana tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan

dengannya dengan wujud penginderaan yang keliru (Arif, 2006).

Halusinasi juga merupakan salah satu gejala psikotik yang merupakan

kriteria diagnostik skizofrenia sehingga gejala ini mendominasi dari

gejala lainnya.

Afek tumpul merupakan gejala negatif yang banyak

ditemukan di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-

April 2014 yaitu 16,8%. Afek tumpul atau alam perasaan yang datar

merupakan gambaran alam perasaan yang dapat terlihat dari wajahnya

yang tidak menunjukkan ekspresi (Hawari, 2007).

59
b. Tipe-tipe skizofrenia

Tipe skizofrenia
Yang Tak Tergolongkan 23%

residual 6.8%

tak terinci 27%

hebefrenik 4.1%

paraniod 39.2%

Gambar 4.8 Tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD


Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April
2014

Menurut Arif (2006), ada beberapa tipe skizofrenia yang masing-

masing memiliki kekhasan tersendiri dalam gejala-gejala yang

diperlihatkan antara lain skizofrenia tipe paranoid, skizofrenia tipe

hebefrenik, skizofrenia tipe katatonik, skizofrenia tipe tak terinci,

skizofrenia tipe residual, depresi pasca skizofrenia, skizofrenia tipe

simpleks, skizofrenia tipe lainnya dan skizofrenia yang tak tergolongkan.

Gambar 4.8 menunjukan tipe skizofrenia terbanyak adalah tipe paranoid

yaitu 39,3%. Penelitian lain di RSK Alianyang Pontianak tahun 2009

menunjukan tipe paranoid merupakan tipe terbanyak yang diderita pasien

skizofrenia yaitu 79,67% (Sira, 2011). Menurut Arif (2006) ciri utama

skizofrenia tipe paranoid adalah adanya waham yang mencolok atau

halusinasi auditorik dalam konteks

60
terdapatnya fungsi kognitif dan afek yang relatif masih terjaga. Hal ini

sejalan dengan pembahasan sebelumnya yang menyatakan bahwa

gejala halusinasi paling banyak ditemukan yang merupakan salah satu

ciri yang mendominasi tipe paranoid.

c. Jenis antipsikotik

Jenis antipsikotik

klorpromazin
43.4% trifluoperazin
19.1% haloperidol
0.7%
klozapin
2.2%
7.4% 27.2% olanzapin
risperidon
Tipikal = 78% Atipikal = 22%

Gambar 4.9 Distribusi jenis antipsikotik pasien skizofrenia rawat inap


jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014

Obat antipsikotik (neuroleptik) merupakan terapi utama pada

pasien skizofrenia. Obat ini dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan

mekanisme kerjanya yaitu dopamine reseptor antagonist (DRA) atau

antipsikotik generasi I (APG-I) biasa juga disebut tipikal. dan

serotonin-dopamine antagonist (SDA) atau antipsikotik generasi II

(APG-II) biasa juga disebut atipikal (Amir, 2013). Obat antipsikotik

yang banyak digunakan dalam penatalaksanaan skizofrenia adalah

61
DRA karena beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal

dari aktivitas neurotransmiter dopamin yang berlebihan di bagian-

bagian tertentu di otak. Tomografi emisi positron (PET) pada

penderita skizofrenia menunjukkan kepadatan reseptor dopamin di

otak. Availabilitas dopamin atau agonis dopamin yang berlebihan

dapat menimbulkan gejala skizofrenia. Sehingga DRA digunakan

untuk menghambat aktivitas dopamin untuk menurunkan gejala-

gejala skizofrenia tersebut (Arif, 2006; Silbernagl, 2007; Katzung,

2012; Amir, 2013).

Jenis antipsikotik yang banyak digunakan di RSD Madani

Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 adalah tipikal

yaitu 78% dan paling sedikit adalah jenis atipikal yaitu 22% (Gambar

4.9). Hal ini sejalan dengan pembahasan sebelumnya karena

antipsikotik tipikal digunakan untuk mengobati gejala positif yang

merupakan gejala yang mendominasi pasien skizofrenia. Penelitian

ini gejala positif mendominasi (72,3%) sehingga penggunaan

antipsikotik tipikal juga paling tinggi (78%).

Antipsikotik tipikal yang banyak digunakan adalah haloperidol

yaitu 43,4% (Gambar 4.9). Haloperidol merupakan antipsikotik yang

bersifat D2 antagonis yang sangat poten. Efek terhadap sistem otonom

dan efek antikolinergiknya sangat minimal. Efek hipotensifnya sangat

62
rendah dibanding dengan klorpromazin. Haloperidol merupakan

golongan butirofenon yang paling sering digunakan. Haloperidol

berguna untuk menenangkan keadaan mania pasien psikosis. Obat ini

digunakan pada skizofrenia dan berbagai macam gerakan spontan

dari otot kecil yang diperkirakan akibat hiperaktivitas sistem dopamin

di otak. (Anonim, 2007; Tjay dkk, 2007; Amir, 2013).

Klorpromazin merupakan antipsikotik tipikal yang paling

banyak digunakan kedua yaitu 27,2% (Gambar 4.9). Penggunaan

klorpromazin lebih sedikit dibandingkan dengan haloperidol. Selain

memiliki efek samping hipotensi yang tinggi dari pada haloperidol,

klorpromazin juga memiliki efek samping sedatif kuat yang

digunakan terhadap sindrom psikosis dengan gejala gaduh gelisah,

hiperaktif, sulit tidur, kekacauan pikiran, perasaan dan perilaku.

Sedangkan haloperidol yang efek samping sedatif lemah digunakan

terhadap sindrom positif dengan gejala dominan antara lain

halusinasi, waham, apatis, menarik diri, hipoaktif kehilangan minat

dan inisiatif dan perasaan tumpul (Maslim, 2003; Dipiro et al, 2011).

63
d. Lama rawat inap

Lama rawat inap

30% 30%
< 28 hari
> 28 hari
belum pulang

40%

Gambar 4.10 Distribusi lama rawat inap pasien skizofrenia yang


dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014

Lama rawat inap pasien < 28 hari 30%, > 28 hari 40%

(Gambar 4.10). Berdasarkan standar pelayanan medik RSD Madani

Provinsi Sulawesi Tengah, rawat inap perlu bagi pasien skizofrenia

jika membahayakan diri sendiri atau lingkungannya dan lama

perawatan pasien skizofrenia adalah minimal 4 minggu (28 hari).

Hasil penelitian menunjukkan pasien yang menjalani rawat inap > 28

hari paling dominan hal ini dikarenakan pengobatan skizofrenia

membutuhkan waktu yang lama. Pengobatan biasanya dimulai dari

terapi inisial dalam waktu 1- 3 minggu, terapi pengawasan selama

lebih kurang 8-10 minggu dan terapi pemeliharan diberikan sampai 2

tahun, bila kronis terapi diberikan 5 tahun bahkan seumur hidup bila

dijumpai riwayat agresifitas berlebih (Amir, 2013). Namun terdapat

64
pula 30% pasien yang menjani rawat inap < 28 hari karena menurut

salah satu dokter spesialis jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi

Tengah pasien boleh berobat jalan jika selama perawatan pasien sudah

memenuhi kriteria pasien pulang yaitu tenang, kooperatif, perawatan

diri cukup, minum obat teratur, makan dan minum teratur.

e. Keadaan pulang

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa semua

pasien yang pulang sembuh parsial sehingga masih perlu berobat

jalan. Hal ini disebabkan karena gejala skizofrenia dapat kambuh

apabila putus obat secara tiba-tiba. Terapi pengobatan skizofrenia juga

membutuhkan waktu yang lama sehingga berobat jalan berguna untuk

meminimalisir pelayanan medis di rumah sakit dan pemulihan dapat

dilakukan sendiri di rumah dengan bantuan keluaga dan mengontrol

kesehatan pasien ke rumah sakit secara rutin.

3. Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik

a. Tepat indikasi

Ketepatan indikasi disesuaikan dengan tanda dan gejala yang

dialami oleh pasien. Pemilihan obat mengacu pada penegakkan

diagnosis. Jika diagnosis yang ditegakkan tidak sesuai maka obat yang

digunakan juga tidak akan memberikan efek yang diinginkan.

65
Tepat Indikasi

Ya
100%
Tidak

Gambar 4.11 Distribusi tepat indikasi pada pasien skizofrenia yang


dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014

Hasil penelitian menunjukan semua pasien skizofrenia

mendapatkan terapi antipsikotik. Hal tersebut menunjukkan semua

pasien 100% tepat indikasi (Gambar 4.12). Penelitian lain di RSJ Dr.

RM. Soedjarwadi Propinsi Jawa Tengah Tahun 2009 menunjukan

bahwa 100 % tepat indikasi (Setyaningsih, 2011).

b. Tepat obat

Pemilihan antipsikotik sebaiknya mempertimbangkan tanda-

tanda klinis dari pasien, profil khasiat dan efek samping dari obat-obat

yang digunakan.

66
Tepat Obat
9.6%

Ya
Tidak
90.4%

Gambar 4.12 Distribusi tepat obat pada pasien skizofrenia yang


dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014

Hasil penelitian menunjukkan pemilihan jenis, golongan dan

kombinasi antipsikotik pada pasien skizofrenia yang tepat obat sebesar

90,4% dan yang tidak tepat obat sebesar 9,6% dari 136 antipsikotik

(Gambar 4.12). Penelitian lain di RSJ Dr. RM. Soedjarwadi Propinsi

Jawa Tengah Tahun 2009 menunjukan bahwa 93,39% tepat obat dan

7,61% tidak tepat obat (Setyaningsih, 2011).

Pasien yang mendapat episode pertama atau belum pernah

mendapat terapi dengan APG-I sebelumnya dapat dibedakan menjadi

enam tahap. Tiap-tiap tahap dapat dilewati tergantung pada gambaran

klinis atau riwayat kegagalan pemberian antipsikotik. Pertama,

pemberian APG-II tunggal yaitu aripriprazol, olanzapin, quetiapin,

risperidon atau ziprasidon. Kedua, pemberian APG-II tunggal selain

yang diberikan pada tahap pertama. Jika respon

67
sebagian atau tidak ada dapat diberikan APG-I atau APG-II tunggal

selain APG-II pada langkah pertama dan kedua atau langsung ke

tahap tiga yaitu pemberian klozapin. Keempat, diberikan klozapin

dengan APG-I, APG-II atau langsung ke tahap lima yaitu dengan

mencoba terapi dengan agen tunggal APG-I atau APG-II selain yang

diberikan pada tahap satu dan dua. Tahap enam merupakan tahap

terakhir yaitu terapi kombinasi APG-II dengan APG-I, kombinasi

APG-I atau APG-II dengan terapi elektrokonvulsif (ECT), kombinasi

APG-I atau APG-II dengan agen lain misalnya mood stabilizer.

Algoritma pemberian antipsikotik pada pasien dengan riwayat

penggunaan antipsikotik atau mendapat episode kedua dan seterusnya

sama seperti pemberian antispikotik pada pasien dengan episode

pertama. Namun pada tahap terakhir, jika tidak ada respon atau

menolak pemberian klozapin dapat diberikan kombinasi tipikal

(Dipiro et al, 2011).

Penelitian pada 136 antipsikotik terdapat yang tidak tepat obat

sebesar 9,6%. Hal ini terjadi karena pasien dengan episode pertama

diberi APG-I yaitu masing-masing diberi haloperidol, trifluoperazin

dan kombinasi haloperidol dengan klorpromazin sebanyak 3 pasien.

Hal ini tidak sesuai dengan algoritma pengobatan dimana firstline

pada pengobatan episode pertama adalah APG-II. Selain itu, pasien

68
yang kesekian kalinya masuk rumah sakit dengan gejala positif dan

negatif tetapi hanya diberikan terapi trifluoperazin sebanyak 1 pasien.

Trifluoperazin merupakan APG-I yang hanya efektif terhadap gejala

positif. Penggunaan kombinasi klorpromazin dengan trifluoperazin

pada 4 pasien juga dianggap tidak tepat. Pemberian kombinasi ini

dianggap polifarmasi karena keduanya merupakan golongan

fenotiazin. Pemberian obat antipsikotik dalam satu golongan

umumnya memiliki efek yang sama misalnya pada potensi

antipsikotiknya, efek sampingnya seperti efek sedatif, efek

ekstrapiramidal dan efek hipotensif. Kombinasi tersebut selain tidak

memberikan keuntungan justru akan meningkatkan risiko efek

samping yang dapat membahayakan pasien.

Klorpromazin dan trifluoperazin adalah golongan fenotiazin.

Klorpromazin bekerja dengan menghambat dopamin, muskarinik, α1-

adrenergik dan reseptor histamin yang dapat menyebabkan efek

samping seperti mulut kering, konstipasi, sinus takikardia dan

hipotensi ortostatik. Obat ini memiliki efek sedasi dan berguna untuk

pasien beringas (violent) tanpa menyebabkan kehilangan kesadaran.

Trifluoperazin memiliki efek otonom dan antikolinergik lebih rendah

tetapi memiliki afinitas terhadap D2 sehingga efek samping

ekstrapiramidalnya lebih tinggi. Klorpromazin dan trifluoperazin

sama-sama berguna mengobati skizofrenia dan psikosis lain, mania,

69
terapi tambahan jangka pendek pada ansietas berat, agitasi psikomotor,

eksitasi dan perilaku kekerasan, impuls yang berbahaya, antiemetik dan

penggunaan prabedah (ISFI, 2008; Anonim, 2008; Amir, 2013).

Klozapin, olanzapin dan risperidon merupakan APG-II yang

selain berafinitas terhadap reseptor dopamin D 2, juga terhadap reseptor

serotonin 5-HT2 sehingga efektif terhadap gejala positif maupun

gejala negatif. Klozapin afinitasnya terhadap dopamin D2 rendah

sedangkan terhadap 5-HT2 tinggi. Klozapin berguna untuk skizofrenia

pada pasien yang tidak bereaksi atau intoleran terhadap obat-obat

APG-I. Olanzapin secara spesifik memblok 5-HT2 dan reseptor

dopamin D2. Bila dibandingkan dengan klozapin, olanzapin memblok

dopamin D2 lebih besar, sehingga dosis tinggi dapat meningkatkan

kadar prolaktin dan efek samping ekstrapiramidal. Olanzapin berguna

untuk skizofrenia, kombinasi terapi mania dan mencegah kambuhnya

kelainan bipolar. Risperidon merupakan antagonis kuat baik terhadap

serotonin (5-HT2) dan reseptor dopamin D2. Walaupun dikatakan

antagonis dopamin D2 kuat, kekuatannya jauh lebih rendah bila

dibandingkan dengan haloperidol. Akibatnya, efek samping

ekstrapiramidalnya lebih rendah bila dibandingkan dengan

haloperidol. Aktivitasnya melawan gejala negatif dikaitkan dengan

aktivitasnya terhadap 5-HT2 yang juga tinggi. Risperidon

70
diindikasikan untuk pengobatan skizofrenia akut dan kronik (Maslim,

2003; Dipiro et al, 2011; Amir, 2013).

Pemilihan obat antipsikotik dipengaruhi oleh tingkat sedasi

yang diinginkan dan kerentanan pasien terhadap efek samping

ekstrapiramidal. Bagaimanapun perbedaan antara obat antipsikotik

merupakan hal yang tidak begitu penting dibanding respon pasien

terhadap obat. Selain medikasi antipsikotik dari pengobatan

skizofrenia, intervensi psikososial dapat memperkuat perbaikan klinis

seperti dukungan keluarga dan terapi spiritual.

c. Tepat pasien

Tepat Pasien

12.2%

Ya
Tidak
87.8%

Gambar 4.13 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap


jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014

Gambar 4.13 menunjukan distribusi tepat pasien skizofrenia

yang mendapat terapi antipsikotik didapatkan hasil tepat pasien

71
sebesar 87,7% dan tidak tepat sebesar 12,2%. Tepat pasien jika

penggunaan obat antipsikotik sesuai dengan kondisi fisiologi dan

patofisiologi pasien atau tidak adanya kontraindikasi dengan pasien

dan tidak terdapat riwayat alergi.

Tabel 4.16 Kontraindikasi Obat Antipsikotik (Anonim, 2008)


Nama Obat Kontraindikasi

Haloperidol, Koma karena depresan SSP, depresi sumsum


Klorpromazin, tulang, hindari pada feokromositoma, gangguan
Trifluoperazin hati dan ginjal berat
Kelainan jantung berat, penyakit hati aktif,
kerusakan ginjal berat, riwayat neutropenia atau
Klozapin, agranulositosis, kelainan sumsumng tulang,
Risperidon, ileus paralitik, psikosis alkoholik dan psikosis
Olanzapin toksik, riwayat kolaps sirkulasi, keracunan
obat, epilepsi tidak terkontrol, kehamilan dan
menyusui.

Hasil penelitian didapatkan 12,2% pasien tidak tepat pasien,

karena 1 pasien yang mempunyai riwayat alkoholik diberikan terapi

klozapin yang kontraindikasi dengan riwayat tersebut. Selain itu, tidak

ditemukannya lagi riwayat penyakit lain pada semua pasien yang

diteliti. Menurut salah satu dokter di RSD Madani Provinsi Sulawesi

Tengah jika ditemukan riwayat dan penyakit fisik yang berat pasien di

tempatkan di ruang tersendiri yang merupakan tempat rawat inap

pasien skizofrenia dengan gangguan lainnya. Sehingga mempermudah

dokter untuk lebih berhati-hati dalam memberikan terapi antipsikotik.

72
Sebelum pasien dirawat di RSD Madani Provinsi Sulawesi

Tengah, biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu.

Namun, di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah hanya sebagian

pasien yang melakukan pemeriksaan laboratorium. Menurut Maharani

(2004) pada prinsipnya obat antipsikotik cukup aman. Sehingga pada

situasi gawat darurat dapat diberikan obat kecuali klozapin, tanpa

melakukan pemeriksaan fisik atau laboratorium pada diri pasien.

Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah pemeriksaan

laboratorium yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan hematologi

dan kimia darah. Pemeriksaan hematologi yang biasa dilakukan adalah

pemeriksaan hemoglobin (Hb), leukosit, laju endap darah (LED),

hematokrit dan trombosit. Sedangkan pemeriksaan kimia darah yang

dilakukan berupa gula darah sewaktu, kolesterol total, trigliserida,

asam urat, kreatinin, urea, SGOT dan SGPT.

Pemeriksaan laboratorium tersebut dilakukan pada pasien

skizofrenia terkait untuk melihat ada tidaknya penyakit penyerta dan

keadaan normal organ-organ tubuh khususnya hati dan ginjal. Hati dan

ginjal merupakan jalur metabolisme utama sebagian besar obat

antipsikotik (ISFI, 2008), sehingga apa bila terjadi kelainan pada

organ tersebut, proses pengobatan dengan antipsikotik dapat

disesuaikan.

73
d. Tepat Dosis

Tepat Dosis

18.4%

Ya
Tidak
81.6%

Gambar 4.14 Distribusi tepat dosis antipsikotik pada pasien


skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014

Gambar 4.14 menunjukan distribusi tepat dosis antipsikotik

pada pasien skizofrenia, dari hasil penelitian didapatkan tepat dosis

sebesar 81,6% dan tidak tepat sebesar 18,4% dari 136 antipsikotik.

Tepat dosis adalah dosis yang berada dalam area terapi obat

antipsikotik dan kesesuaian dosis tersebut berdasarkan kondisi pasien

khususnya pasien lanjut usia. Hasil penelitian ini diperoleh dosis yang

tidak tepat diberikan pada pasien lanjut usia karena dosis awal yang

diberikan sama dengan dosis untuk pasien dewasa. Pemberian dosis

obat antipsikotik pada pasien lanjut usia setengah dosis dewasa

(Anonim, 2008). Pasien usia lanjut membutuhkan dosis antipsikotik

lebih rendah karena beberapa alasan antara lain penurunan klirens

74
ginjal, penurunan cardiac output, penurunan fungsi liver, penurunan

P450 dan lebih sensitif untuk gejala ekstrapiramidal (Amir, 2013).

Penggunaan obat antipsikotik pada pasien geriatri memerlukan

perhatian khusus. Hal tersebut dikarenakan banyak hal-hal tertentu

yang sangat mempengaruhi pemberian antipsikotik kepada pasien

geriatri. Diantaranya adalah kondisi medis umum pasien, efek

samping yang mungkin timbul dan farmakodinamik serta

farmakokinetik dari obat yang digunakan (Andri, 2009).

Menurut Maharani (2004) dosis obat antipsikotik pada pasien

skizofrenia dimulai dengan dosis yang rendah lalu perlahan-lahan

dinaikkan, dapat juga langsung diberi dosis tinggi tergantung pada

keadaan pasien dan kemungkinan terjadi efek samping. Pada pasien

yang dirawat di rumah sakit boleh diberikan dosis tinggi karena

pengawasannya lebih baik (Maramis, 2004).

Apabila dosis kurang dari dosis terapeutiknya kemungkinan

efek yang diinginkan tidak muncul. Pada pengobatan skizofrenia jika

efek yang diinginkan tidak muncul maka gejala-gejala tidak dapat

ditekan sehingga pengobatan akan percuma karena tujuan dan sasaran

terapi tidak akan tercapai. Apabila terjadi pemberian dosis antipsikotik

berlebih, pada penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan

75
kerusakan pada organ hati dan ginjal serta menambah risiko efek

samping obat (Maharani, 2004).

e. Tepat Frekuensi

Tepat Frekuensi

9.6%

Ya
Tidak

90.4%

Gambar 4.15 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pada


pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014

Gambar 4.15 menunjukan distribusi ketepatan frekuensi

pemberian antipsikotik pada pasien skizofrenia, dari hasil penelitian

didapatkan tepat frekuensi pemberian antipsikotik sebesar 90,4% dan

tidak tepat sebesar 9,6% dari 136 antipsikotik. Penentuan frekuensi

pemberian obat dengan fungsi organ normal dapat ditentukan dengan

melihat nilai waktu paruh (t1 2) obat. Waktu paruh haloperidol 12 jam,

sehingga cukup diberikan 2 kali sehari. Klorpromazin dapat diberikan

dosis awal 30-75 mg 3 kali sehari namun untuk dosis pemeliharaan

diberikan 100 mg 2 kali sehari. Klozapin hanya tersedia dalam bentuk

76
preparat oral, konsentrasi plasma puncak dicapai setelah 2 jam

pemberian oral. Waktu paruh eliminasi adalah 12 jam (antara 10-16

jam). Sehingga klozapin cukup diberikan 2 kali sehari agar dapat

mempertahankan kadar obat dalam plasma. Kadar puncak plasma

dicapai 5 jam pemberian olanzapin. Waktu paruh 31 jam (rata-rata 21-

24 jam) dengan satu kali dosis (Dipiro et al, 2011; Amir, 2013).

Antipsikotik sering diberikan dalam dosis harian yang terbagi

dan titrasi hingga mencapai dosis efektif. Jika dosis harian efektif

pasien telah diketahui, obat dapat diberikan tidak terlalu sering. Dosis

sekali sehari, biasanya pada malam hari, dapat bermanfaat bagi

kebanyakan pasien selama menjalani terapi rumatan jangka panjang.

Penyederhanaan jadwal dosis akan meningkatkan kepatuhan pasien.

Kebanyakan antipsikotik sangat larut lemak dan terikat protein

(klorpromazin 92-97%; haloperidol 90%). Antipsikotik merupakan

lipofilik sehingga terkumpul dalam kompartenen lipid tubuh dan

afinitasnya terhadap beberapa reseptor neurotransmiter disusunan

saraf pusat sangat tinggi, durasi kerja klinisnya lebih lama dari yang

diperkirakan berdasarkan waktu paruh plasmanya. Oleh karena itu,

reseptor dopamin D2 di otak pun lebih lama ditempati. Metabolit

klorpromazin diekskresikan dalam urin berminggu-minggu sesudah

dosis terakhir pemberian klorpromazin menahun. Serupa dengan hal

ini, relaps sempurna mungkin tidak akan tercapai sebelum 6 minggu

77
atau lebih pasca pemutusan sebagian antipsikotik (Solimando, 2003;

Katzung, 2012).

Frekuensi pemberian obat merupakan penentu dalam

memaksimalkan proses terapi obat, karena menentukan efek biologis

suatu obat seperti absorpsi, kecepatan absorpsi dan bioavailabilitas

(total obat yang dapat diserap), cepat atau lambatnya obat mulai

bekerja (onset of action), lamanya obat bekerja (duration of action),

intensitas kerja obat, respons farmakologik yang dicapai serta dosis

yang tepat untuk memberikan respons tertentu.

78
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi

Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 diteliti dengan melihat kerasionalan

pemberian antipsikotik terhadapnya. Penggunaan antipsikotik pada pasien

skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah

periode Januari-April 2014 belum dapat dikatakan rasional, karena kriteria

pengobatan rasional meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis

dan tepat frekuensi belum tepat 100%. Hasil rasionalitas pengobatan adalah

sebagai berikut : tepat indikasi 100%; tepat obat 90,4%; tepat pasien 87,8%; tepat

dosis 81,6%; dan tepat frekuensi pemberian antipsikotik 90,4%.

5.2 Saran

a. Bagi institusi rumah sakit

Diharapkan untuk dapat lebih meningkatkan pelayanan dan ketepatan

terapi antipsikotik secara rasional terhadap pasien skizofrenia dan merevisi

standar pelayanan medik rumah sakit yang lebih lebih up to date karena

dampaknya yang luas dan berjangka waktu lama, baik terhadap kualitas hidup

atau beban bagi pasien, keluarga dan masyarakat.

77
b. Bagi klinisi

Diharapkan untuk dokter dapat memperhatikan dan mengevaluasi

terapi antipsikotik yang diberikan pada pasien skizofrenia khususnya pasien

lansia sesuai dengan standar. Untuk perawat diharapkan melengkapi status

pasien khususnya bobot badan pasien karena bobot badan dapat

mempengaruhi ketepatan pengobatan.

c. Bagi peneliti lain

Perlu diadakan penelitian lebih lanjut penggunaan antipsikotik pada

pasien skizofrenia rawat inap yang berada di ruang observasi dan di ruang

gangguan skizofrenia dengan penyakit penyerta agar dapat diketahui

kerasionalitas kepada seluruh pasien.

80
DAFTAR PUSTAKA

Ade, S., 2012, Buku Pedoman Bagi Pendamping:Pendamping Keluarga dengan


Anggotanya Mengalami Gangguan Jiwa, Departemen Keperawatan Jiwa,
Yogyakarta.

Agus, D., 2005, Difungsi Kognitif pada Skizofrenia. Majalah Psikiatri, Jakarta.

Amir, N., 2013, Buku Ajar Psikiatri: Skizofrenia. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Andri., 2009, Tatalaksana Psikofarmaka dalam Manajemen Gejala Psikosis


Penderita Usia Lanjut. Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta.

Anonim., 2007, Farmakologi dan Terapi, Departemen Farmakologi dan Terapeutik


FKUI, Jakarta

_______., 2011, http://sultengprov.go.id/profil-sulteng/sekilas-sulteng/65-tentang-


propinsi-sulawesi-tengah (diakses 3 April 2014)

_______., 2011, http://www.who.int/mental_health/management/schizophrenia/en/


(diakses 8 Desember 2013).

Arif, I. M., 2006, Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Pasien, Penerbit Refika
Aditama, Bandung.

BPOM RI., 2008, IONI: Informatorium Obat Nasional Indonesia. Badan Pengawas
Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Byrne, M., Agerbo, E., Ewald, H., Eaton, W.W., Mortensen., P.B., 2003, Parental Age
and Risk of Schizophrenia. Arch Gen Psychiatry

David, A., 2004, Buku Saku Psikiatri. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Dipiro, J.T., Wells, B.G., Schwinghammer, T.L., Dipiro, C.V., 2009,


Pharmacotherapy Handbook, Seventh Edition, 799-813, McGraw-Hill
Medical, New York.

81
Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M., 2011,
Pharmacotheraphy A Pathophysiologic Approach 8th, McGraw-Hill
Medical, New York.

First, M.B., Tasman, A., 2004, DSM-IV-TR Mental Disorders Diagnosis.


Schizophrenia: Etiology and Treatment (640-700). Wiley, London.

Hawaris, D., 2007, Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia, Edisi 2,
Balai Penerbitan, Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia., 2008, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan,
Jakarta.

Irmansyah, M., 2005, Skizofrenia Bisa Mengenai Siapa Saja. Majalah Kesehatan Jiwa
No. 3, Jakarta.

Irwan M., Fajriansyah A., Sinuhadji B., Indrayana M. 2008, Penatalaksanaan


Skizofrenia. Fakultas Kedokteran Riau, Riau.

Jarut, M.Y., Fatimawali., Wiyono, W.I., 2013, Tinjauan Penggunaan Antipsikotik


pada Pengobatan Skizofrenia di Rumah Sakit Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang
Manado Periode Januari 2013-Maret 2013, Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT
Vol. 2 No. 03, Manado.

Kaplan, H.I., Sadock B.J., 1997, Sinopsis psikiatri Edisi ke-7, Terjemahan. Binarupa
Aksara, Jakarta.

_____________________., 2010, Sinopsis psikiatri Jilid 1. Binarupa Aksara, Jakarta.

Katzung, B., 1998, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 1, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakrata.

__________., 2012, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 10, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakrata.

Lehman, A.F., Lieberman, A.F., Dixon, L.B., 2004, Practice Guideline for The
Treatment of Patients with Schizophrenia (2nd ed).. American Psychiatric
Association, Arlington.

Maharani, F.R.L., 2004, Kajian Penggunaan Obat Antipsikosis pada Pasien


Skizofrenia di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Grhasia Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Periode Januari-Desember 2003. Skripsi. Fakultas
Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

82
Mansjoer A., Triyani K., Savitri R., Wardhani W.I., Setiowulan W., 1999, Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Asculapius, Jakarta.

Maramis, W.F., 2004, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press,
Surabaya.

Maslim, R., 1997, Diagnosis Gangguan Jiwa, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK
Unika Atma Jaya, Jakarta.

_________., 2003, Panduan Praktis Penggunaan Klinis dan Kebijakan Obat


Psikotropik (Psychotropic Medication), Edisi 3. Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta.

Notoatmodjo, S., 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta, Jakarta.

PDSKJI., 2012, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Jiwa/Psikiatri.


Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter/Spesialis Kedokteran Jiwa.

Perkins, R., Rinaldhi, M., 2002, Unemployment rates among patients with long-term
mental health problems. Psychiatric bulletin.

Riset Kesehatan Dasar., 2008, Laporan Nasional 2007. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Depertemen Kesehatan Republik Indonesia.

Saha, S., Chant, D., Welham, J., McGrath., 2005, A Systematic Review of the
Prevalence of Schizophrenia. PloS Med 2(5): e141.

Santoso., Wiria., 1995, Psikotropik, Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Saperstein, A.M., Fiszdon J.M., Bell, M.D., 2011, Intrinsic motivation as a predictor
of work outcome after vocational rehabilitation in schizophrenia J Nerv
Ment Dis:199:672

Setyaningsih, T., 2011, Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Skizofrenia di


Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM Soedjarwadi
Povinsi Jawa Tengah Tahun 2009. Skripsi, Universitas Muhammadiyah
Surakarta, Surakarta.

Silbernagl, S., 2007, Teks & Atlas Berwarna: Patofisiologi, Fakultas Kedokteran
EGC, Jakarta

83
Sinaga, B.R., 2007, Skizofrenia dan Diagnosis Banding. Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Sinaga, Y.M., 2011, Karakteristik Penderita Skizofrenia yang Dirawat Inap di


Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. Skripsi. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sira, I., 2011, Karakteristik Skizofrenia di Rumah Sakit Khusus Alianyang Pontianak
Periode 1 Januari – 31 Desember 2009. Naskah Publikasi Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Solimando, D.A., 2003, Drug Information Handbook for Oncology featuring A


rd
Complete Guide to Combination Chemotherapy Regimens 3 Edition. Lexi-
Comp, Inc

Sugiyono., 2007, Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung.

Swandari, S., 2012, Penggunaan Obat Rasional (POR) Melalui 8 Tepat dan 1
Waspada, Balai Besar Pelatihan Kesehatan, Jakarta.

Tjay H,T., Rahardja, K., 2007, Obat-Obat Penting, Edisi 6, Departemen Kesehatan
RI, PT Gramedia, Jakarta.

Yusuf., Prodjosudjadi., 2001, Hematologi: Ilmu Penyakit Dalam Edisi III. Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

84
LAMPIRAN

85
LAMPIRAN 1

Data Pasien Skizofrenia Rawat Inap Jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014

No no RM JK U G LRI KP Terapi Rute Ds F (x dd) Rasionalitas


(th) Diagnosis
(H) (mg) TI TO TP TD TF
1 000081 P 15 1, 2,4 36 SP Klozapin PO 25 2 Y Y Y Y Y
Skizofrenia
paranoid Haloperidol PO 25 2 Y Y Y
2 000006 P 48 Skizofrenia 2 35 SP Haloperidol PO 5 3 Y Y Y T Y
paranoid Klozapin PO 50 2 Y T Y
3 015247 P 28 Skizofrenia 2 26 Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y Y Y
paranoid SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
4 012992 P 28 Skizofrenia 2 43 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
YTT Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
5 017726 P 32 Skizofrenia 2 44 SP Triflupperazin PO 5 2 Y Y Y Y Y
YTT Klozapin PO 25 2 Y Y Y
6 012165 P 37 2 35 SP Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y Y Y
Skizofrenia
paranoid Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
7 030206 P 31 1 23 SP Klozapin PO 50 1 Y Y Y Y Y
(PB) Skizofrenia
paranoid Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
8 030089 P 45 2, 4 34 SP Trifluoperazin PO 2.5 2 Y T T T T
Skizofrenia
9 025801 P 17 residual
3,4 17 SP Klorpromazin PO 100 2 Y T T T T
Skizofrenia
Trifluoperazin PO 5 2 T T T
10 006730 P 34 tak terinci
2,4 34 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
Skizofrenia
11 010527 L 35 Hebefrenik
4,5 16 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
Skizofrenia
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
12 000498 L 30 tak terinci
3,6 10 SP Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y Y Y
Skizofrenia Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
Hibefrenik

RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan
Pulang, SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat
Pasien, TD: Tepat Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak. 86
No no RM JK U Diagnosis G LRI KP Terapi Rute Ds F (x dd) Rasionalitas
(th) (H) (g) TI TO TP TD TF
13 029541 L 21 Skizofrenia 4 62 SP Haloperidol PO 2.5 2 Y Y Y Y Y
tak terinci Klozapin PO 50 2 Y Y Y
14 030018 L 37 Skizofrenia 2 33 SP Klozapin PO 50 2 Y Y Y Y
(PB) YTT Y
15 025151 L 31 Skizofrenia 1 11 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
paranoid Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
16 000117 L 30 Skizofrenia 1,2 12 SP Haloperidol PO 2.5 2 Y Y Y Y Y
paranoid Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
17 022665 L 28 Skizofrenia 1,2 47 SP Klorpromazin PO 100 3 Y Y Y Y Y
paranoid Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
18 022316 L 34 Skizofrenia 4 61 SP Klozapin PO 25 2 Y Y Y Y Y
tak terinci Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
19 000309 L 12 Skizofrenia 2 12 SP Haloperidol PO 5 3 Y Y Y Y Y
paranoid Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
20 019692 L 28 Skizofrenia 3 34 SP Klozapin PO 50 2 Y Y Y Y Y
YTT Haloperidol PO 5 3 Y Y Y
21 019692 L 27 Skizofrenia 1,2,6 13 SP Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y Y Y
paranoid Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
22 023556 L 19 Skizofrenia 2,3,4 67 SP Klozapin PO 100 2 Y Y Y Y Y
paranoid Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
23 000210 L 34 Skizofrenia 1,2 31 SP Klozapin PO 100 2 Y Y Y Y Y
tak terinci Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
24 029672 L 48 Skizofrenia 2 12 SP Klorpromazin PO 100 1 Y Y Y T Y
YTT Haloperidol PO 5 2 Y T Y
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.

87
U G LRI KP Terapi Rute Ds F (x dd) Rasionalitas
No no RM JK Diagnosis
(th) (H) (mg) TI TO TP TD TF
25 Skizofrenia 2 9 SP Klorpromazin PO 100 1 Y Y Y Y Y
021450 L 24 YTT Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
26 Skizofrenia 2,3 18 SP Klorpromazin PO 5 3 Y Y Y Y Y
029642 L 28 YTT Haloperidol PO 100 2 Y Y Y
27 Skizofrenia 2,5 19 SP Risperidon PO 2 2 Y Y Y Y Y
000290 L 39 paranoid Klozapin PO 25 2 Y Y Y
28 Skizofreni 1,3 12 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
029785 L 25 paranoid Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
29 030620 Skizofrenia 1 7 SP Haloperidol PO 5 2 Y T T T T
L 42
(PB) paranoid Klorpromazin PO 100 2 T T T
30 028521 Skizofrenia 4 95 SP Haloperidol PO 2.5 2 Y T T T T
L 26
(PB) tak terinci
31 Skizofrenia 2,3,5 7 SP Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y Y Y
026810 L 29 tak terinci Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
2 19 SP Klozapin PO 50 2 Y Y T Y Y
32 Skizofrenia
022747 L 18 Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
YTT
33 2 127 SP Haloperidol PO 2.5 2 Y Y Y Y Y
Skizofrenia
027748 L 27 tak terinci
2 101 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
34 Skizofrenia
028430 L 33 paranoid 2 35 SP Klozapin PO 25 1 Y Y Y Y Y
35 Skizofrenia
010035 L 52 Haloperidol PO 5 3 Y Y Y
paranoid
2 27 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
36 Skizofrenia
006168 L 27 Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
paranoid
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.

88
U G LRI KP Terapi Rute Ds F (x dd) Rasionalitas
No no RM JK Diagnosis
(th) (H) (mg) TI TO TP TD TF
37 Skizofrenia 6 106 SP Risperidon PO 2 2 Y Y Y Y Y
018191 L 20 tak terinci
38 Skizofrenia 3 44 SP Klorpromazin PO 100 1 Y T T T T
000476 L 40 residual Trifluoperazin PO 5 2 T T T
39 Skizofrenia 2,5 19 SP Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y Y Y
019160 L 34 paranoid Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
40 Skizofrenia 2 43 SP Klozapin PO 25 2 Y Y Y Y Y
029779 L 56 YTT Haloperidol PO 5 2 Y T Y
41 Skizofrenia 4 23 SP Haloperidol PO 5 1 Y Y Y T Y
010100 L 63 YTT Klozapin PO 50 2 Y T Y
42 Skizofrenia 2 60 SP Trifluoperazin PO 5 3 Y Y Y T Y
005229 P 49 tak terinci Klozapin PO 25 2 Y Y Y
43 Skizofrenia
1,2,3 29 SP Trifluoperazin PO 5 3 Y Y Y Y Y
030386 P 45 tak terinci Klozapin PO 25 2 Y Y Y
2,5 - BP Klorpromazin PO 100 1 Y T T T T
44 Skizofrenia
007770 P 28 trifluoperazin PO 5 2 T T T
tak terinci
2,4 - BP Haloperidol PO 5 3 Y Y Y Y Y
45 Skizofrenia
000177 P 37 residual Klozapin PO 50 2 Y Y Y
46 028440 2,4 - BP Risperidon PO 2 2 Y Y Y Y Y
P 25
Skizofrenia
(PB) tak terinci
1,2 13 SP Klorpromazin PO 100 1 Y Y Y T Y
47 Skizofrenia
020100 L 49 Haloperidol PO 5 2 Y T Y
paranoid
4 - BP Haloperidol PO 2.5 3 Y Y Y Y Y
48 Skizofrenia
000503 L 23 Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
tak terinci
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.

89
U G LRI KP Terapi Rute Ds F (x dd) Rasionalitas
No no RM JK Diagnosis
(th) (H) (mg) TI TO TP TD TF
49 030658 Skizofrenia 1,2,4,6 - BP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
L 41
(PB) paranoid Klozapin PO 50 1 Y Y Y
50 Skizofrenia 2 - BP Haloperidol PO 5 3 Y Y Y Y Y
030383 L 34 residual Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
51 Skizofrenia 4 - BP Klozapin PO 50 2 Y Y Y Y Y
019160 L 26 tak terinci
52 Skizofrenia 2 19 SP Klozapin PO 50 1 Y Y Y Y Y
023678 L 28 YTT Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
53 Skizofrenia 1,2 11 SP Klozapin PO 50 2 Y Y Y Y Y
024154 L 19 paranoid Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
54 Skizofrenia 2,4 11 SP Klorpromazin PO 100 3 Y T T T T
027189 L 34 YTT Trifuoperazin PO 5 2 T T T
55 Skizofrenia 2,4 - BP Haloperidol PO 5 3 Y Y Y Y Y
000402 L 26 paranoid Klozapin PO 50 1 Y Y Y
56 Skizofrenia 2,4 136 SP Haloperidol PO 2.5 2 Y Y Y Y Y
025785 L 28 residual klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
57 1,5 - BP Haloperidol PO 2 3 Y Y Y Y Y
Skizofrenia
003916 L 35 paranoid Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
2 - BP Haloperidol PO 5 1 Y Y Y Y Y
58 Skizofrenia
001397 L 41 YTT Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
2 - BP Klorpromazin PO 100 1 Y Y Y Y Y
59 Skizofrenia
012019 L 29 tak terinci Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
2 - BP Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y Y Y
60 Skizofrenia
001157 L 28 Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
tak terinci

RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.

90
U G LRI KP Terapi Rute Ds F (x dd) Rasionalitas
No no RM JK Diagnosis
(th) (H) (mg) TI TO TP TD TF
61 030384 Skizofrenia 2,5 - BP Trifluoperazin PO 5 2 Y T T T T
L 24
(PB) YTT
62 Skizofrenia 1,3 - BP Klorpromazin PO 100 1 Y Y Y Y Y
028395 L 32 paranoid Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
63 Skizofrenia 2,5 - BP Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y Y Y
028100 L 31 tak terinci Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
64 Skizofrenia 2 181 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
015961 L 20 paranoid Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
65 Skizofrenia 1,3 - BP Haloperidol PO 2.5 3 Y Y Y Y Y
028844 L 32 tak terinci Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
66 Skizofrenia 2,3 - BP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
001233 L 39 hebefrenik Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
67 Skizofrenia 2 - BP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
000184 L 37 paranoid Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
68 Skizofrenia
2,4 23 SP Trifluoperazin PO 5 3 Y Y Y Y Y
020233 L 23 tak terinci
1,2,4 - BP Klozapin PO 25 2 Y Y Y Y Y
69 030263 Skizofrenia
L 19
(PB) paranoid
1,2,3 - BP Haloperidol PO 5 3 Y Y Y Y Y
70 Skizofrenia
020932 L 30 Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
YTT
2 - BP Klozapin PO 50 2 Y Y Y Y Y
71 Skizofrenia
030406 L 28 Haloperidol PO 5 1 Y Y Y
paranoid
1 12 BP Olanzapin PO 10 1 Y Y Y T Y
72 Skizofrenia
014301 L 54 Haloperidol PO 5 1 Y T Y
paranoid

RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.

91
No no RM JK U Diagnosis G LRI KP Terapi Rute Ds F (x dd) Rasionalitas
(th) (H) (mg) TI TO TP TD TF
73 014386 L 18 Skizofrenia 1,4,5 48 BP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
YTT Klozapin PO 50 1 Y Y Y
74 029164 L 21 Skizofrenia 2,5 36 BP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
paranoid Klozapin PO 100 1 Y Y Y

RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD:
Tepat Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.

92
LAMPIRAN 2

Standar Pelayanan Medik RSD Madani Provinsi Sulawesi T engah

93
94
LAMPIRAN 3

Dosis dan Frekuensi Penggunaan Antipsikotik Per Oral

Dosis Rentang Dosis


Terapeutik Dosis Yang Maksimum Frekuensi
Nama Generik Efektif Sering Menurut Pabrik
Minimum Digunakan
(mg) (mg/Hari) (mg/Hari)
Antipsikotik Tipikal (Antipsikotik Generasi Pertama)

Chlorpromazine 100 100-1000 2000 2-4 x 1


Haloperidol 2 2-60 100 2-3 x 1

Trifluoperazine 5 5-60 80 2-3 x 1

Antipsikotik Atipikal (Antipsikotik Generasi Kedua)


Klozapin 50 50-500 900 1-2 x 1
Olanzapin 5 10-30 30 1x1
Risperidone 4 4-16 16 1-2 x 1

Catatan : Antipsikotik sering diberikan dalam dosis harian yang terbagi dan titrasi hingga
mencapai dosis efektif. Sehingga dosis sekali sehari dapat diberikan jika dosis
tersebut sudah efektif bagi pasien.
Sumber: Anonim, 2007; Dipiro et al, 2011; Katzung, 2012

95
LAMPIRAN 4

Algoritma Tatalaksana Terapi Skizofrenia Tanpa Riwayat

Tahap 1
Episode pertama atau belum Pemberian AGK tunggal
(ARIPIPRAZOLE, OLANZAPINE, QUETIAPINE,
pernah mendapat terapi AGP
RISPERIDONE, atau ZIPRASIDONE)
sebelumnya

Tahap 2
Pemberian AGK tunggal
(selain AGK yang diberikan pada tahap 1)

Tahap 2A Tahap 3
Pemberian AGP tunggal CLOZAPINE
(selain AGK yang diberikan pada tahap 1)

AGP, antipsikotik generasi pertama


AGK, antipsikotik generasi kedua
ECT, terapi electrokonvulsif Tahap 4
CLOZAPINE
+
(AGP, AGK atau

Tahap 5
Nilai dari kegagalan
Coba terapa dengan agen tunggal
terapi clozapine tidak
ditentukan AGP atau AGK (selain AGK yang
diberikan pada tahap 1,2 atau 2A)

Dilporkan tidak ada Tahap 6


kontrol pada penelitian Terapai kombinasi, yaitu: AGK+AGP,
dengan penggunaan kombinasi AGK, (AGP atau
terapi kombinasi AGK)+ECT, (AGP atau AGK+agen
jangka panjang untuk lain (misal mood stabilizer)
terapi skizofrenia

Sumber: Dipiro et al, 2011

96
LAMPIRAN 5

Algoritma Tatalaksana Terapi Skizofrenia Dengan Riwayat

Tidak ada riwayat Ada riwayat kegagalan


kegagalan terapi AP terapi AP

Olanzapin atau Olanzapin atau


Quetiapin atau Quetiapin atau
Risperidon Risperidon

Tidak ada respon Tidak ada respon


Tidak Tidak
Haloperidol
Gunakan Gunakan
dekonat atau
yang lain Fluphenazin yang lain
Tidak ada respon decanoat Tidak ada
Tidak ada respon respon

Gunakan Gunakan Gunakan


yang lain yang lain yang lain
Tidak ada
Tidak ada Tidak ada
Gunakan
AP lain respon

Tidak ada

KLOZAPIN

Respon parsial
Klozapin + obat pendukung (AP tipikal/atipikal, Tidak ada
mood stabilizer, ECT, antidepresan respon atau
menolak
klozapin
Tidak ada

Kombinasi atipikal+tipikal, atau kombinasi tipikal, atau


kombinasi atipikal, atau tipikal + ECT

97
LAMPIRAN 6

Hasil Analisa Data

a. Jenis Kelamin

Statistics
jenis kelamin

N Valid 74

Missing 0

jenis kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid laki-laki 59 79.7 79.7 79.7


perempuan 15 20.3 20.3 100.0
Total 74 100.0 100.0

98
b. Umur

Statistics
klasifikasi umur

N Valid 74

Missing 0

klasifikasi umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 17-25 16 21.6 21.6 21.6

26-45 50 67.6 67.6 89.2

46-65 8 10.8 10.8 100.0


Total 74 100.0 100.0

99
c. Suku/etnis

Statistics
Suku/Etnis

N Valid 74

Missing 0

Suku/Etnis

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent

Valid kaili 22 29.7 29.7 29.7


pamona 7 9.5 9.5 39.2
mori 2 2.7 2.7 41.9
tomini 5 6.8 6.8 48.6
bungku 3 4.1 4.1 52.7
dampelas 1 1.4 1.4 54.1
lainnya 22 29.7 29.7 83.8
tanpa keterangan 12 16.2 16.2 100.0
Total 74 100.0 100.0

100
d. Status perkawinan

Statistics
Status Perkawinan

N Valid 74

Missing 0

Status Perkawinan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid kawin 10 13.5 13.5 13.5


tidak/belum kawin 53 71.6 71.6 85.1
duda/janda 11 14.9 14.9 100.0
Total 74 100.0 100.0

e.
f.
g.

101
e. Jenjang pendidikan

Statistics
Jenjang Pendidikan

N Valid 74

Missing 0

Jenjang Pendidikan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak Sekolah 10 13.5 13.5 13.5


SD 21 28.4 28.4 41.9
SMP 19 25.7 25.7 67.6
SMA 20 27.0 27.0 94.6
Akademi 1 1.4 1.4 95.9
Sarjana 3 4.1 4.1 100.0
Total 74 100.0 100.0

102
f. Pekerjaan

Statistics
Pekerjaan

N Valid 74

Missing 0

Pekerjaan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid PNS 2 2.7 2.7 2.7


Tani/Nelayan 19 25.7 25.7 28.4
Wiraswasta 4 5.4 5.4 33.8
Buruh 1 1.4 1.4 35.1
Pelajar/Mahasiswa 2 2.7 2.7 37.8
Tidak Bekerja 46 62.2 62.2 100.0
Total 74 100.0 100.0

103
g. Tipe-tipe skizofrenia

Statistics

tipe skizofrenia

N Valid 74

Missing 0

tipe skizofrenia
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid skizofrenia paranoid 29 39.2 39.2 39.2


skizofrenia hebefrenik 3 4.1 4.1 43.2
skizofrenia tak terinci 20 27.0 27.0 70.3
skizofrenia residual 5 6.8 6.8 77.0
skizofrenia YTT 17 23.0 23.0 100.0
Total 74 100.0 100.0

104
h. Lama Rawat Inap

Statistics
Lama Rawat Inap

N Valid 52

Missing 22

Lama Rawat Inap

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid < 28 hari 22 29.7 42.3 42.3


> 28 hari 30 40.5 57.7 100.0
Total 52 70.3 100.0

Missing System 22 29.7


Total 74 100.0

105
i. Tepat Indikasi

Statistics
Tepat Indikasi

N Valid 74

Missing 0

Tepat Indikasi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 74 100.0 100.0 100.0

106
j. Tepat Obat

Statistics
Tepat Obat

N Valid 136

Missing 0

TepatObat
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 123 90.4 90.4 90.4


Tidak 13 9.6 9.6 100.0
Total 136 100.0 100.0

107
k. Tepat Pasien

Statistics

Tepat Pasien

N Valid 74

Missing 0

Tepat Pasien
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 65 87.8 87.8 87.8


Tidak 9 12.2 12.2 100.0
Total 74 100.0 100.0

108
l. Tepat Dosis

Statistics

Tepat Dosis

N Valid 136

Missing 0

Tepat Dosis
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 111 81.6 81.6 81.6


Tidak 25 18.4 18.4 100.0
Total 136 100.0 100.0

109
m. Tepat Frekuensi

Statistics
Tepat Frekuensi

N Valid 136

Missing 0

Tepat Frekuensi
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 123 90.4 90.4 90.4


Tidak 13 9.6 9.6 100.0
Total 136 100.0 100.0

110
LAMPIRAN 7

Surat Izin Penelitian

111
LAMPIRAN 8

Surat K eterangan Telah Melaksanakan penelitian

112
LAMPIRAN 9

Dokumentasi

Gambar pengambilan data sekunder (rekam medik)

Gambar pengambilan data primer (wawancara) pada pasien skizofrenia

Gambar pengambilan data primer (wawancara) pada tenaga medis rawat inap jiwa

Gambar pasien skizofrenia diberikan obat antipsikotik

113
RIWAYAT HIDUP

Fahrul lahir di Biromaru tanggal 20 Agustus 1992. Anak


pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Tamin,
A.Ma dan Ibu Fatmawati, S.Pd yang bertempat tinggal di
Jalan Lasoso No. 50 Desa Lolu Kecamatan Sigi Biromaru
Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Pendidikan
Sekolah Dasar di tempuh di SD Negeri Inpres Lolu dan lulus
pada tahun 2004. Pendidikan selanjutnya adalah Sekolah
Menengah Pertama, ditempuh di SMP Negeri 1 Biromaru dan
lulus pada tahun 2007. Kemudian pada tahun 2007
melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas ditempuh
di SMA Negeri 3 Palu dan lulus pada tahun 2010.
Pada tahun 2010, melalui jalur Seleksi Lokal Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SLMPTN) melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Universitas Tadulako Palu dan
terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
(FMIPA) Program Studi Farmasi. Selama menjalankan studi pernah menjadi anggota
bidang pengembangan olahraga dan seni Himpunan Mahasiswa Farmasi
(HIMAFAR) FMIPA UNTAD periode 2011-2012, wakil ketua Himpunan Mahasiswa
Farmasi (HIMAFAR) FMIPA Universitas Tadulako periode 2012-2013, dewan
2
pengawas UKOF Science Sports (S ) FMIPA Universitas Tadulako (2012-2013),
dewan penasehat Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMAFAR) FMIPA Universitas
Tadulako (2013-2014) dan pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FMIPA
Universitas Tadulako (2013-2014).

114

Anda mungkin juga menyukai