"Hydrilla verticillata: Deskripsi, Klasifikasi, dan Manfaat"
"Hydrilla verticillata: Deskripsi, Klasifikasi, dan Manfaat"
TINJAUAN PUSTAKA
II.1.1. Hydrilla
Hydrilla verticillata merupakan tanaman air yang tumbuh terus-
menerus, hidup berkoloni dan dapat tumbuh di permukaan air hingga
kedalaman 20 kaki. Tanaman air Hydrilla verticillata dapat tumbuh
bercabang-cabang dengan banyak hingga mencapai permukaan air
dimana. percabangannya dapat menutupi seluruh permukaan air.
Tanaman air ini dapat dijumpai di danau, kolam, sungai dengan kondisi
air yang relatif jernih (Handoko dan Fajariyanti, 2013).
Hydrilla verticillata memiliki akar berwarna kekuning-kuningan
yang tumbuh di dasar air dengan kedalaman sampai 2 meter. Batangnya
tumbuh dengan panjang 1 sampai 2 meter dengan 2 hingga 8 helai daun
yang tumbuh pada lingkar batangnya. Tiap-tiap daun memiliki panjang 5
sampai 20 mm dan 0,7 sampai 2 mm lebarnya dengan gerigi atau duri
kecil disepanjang ujung daun. Hydrilla verticillata merupakan tumbuhan
berumah satu (meskipun kadang-kadang berumah dua) dengan bunga
jantan dan betina dihasilkan dalam satu tanaman. Bunganya kecil
dengan 3 kelopak dan 3 mahkota dengan mahkota panjangnya 3 sampai
5 mm berwarna transparan dengan garis merah. Hydrilla verticillata juga
dapat bereproduksi secara vegetatif dengan jalan fragmentasi, bertunas
dan akar tinggal (Handoko dan Fajariyanti, 2013).
II.1.2. Klasifikasi
Berikut ini merupakan klasifikasi Berikut ini merupakan Hydrlla
verticllata:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Monocotyledonae
Order : Helobiae (Alismatales)
Family : Hydrocharitaceae Gambar 1. Hydrilla
(Hydrilla verticillata)
Genus : Hydrilla
Species : Hydrilla verticillata
(Handoko dan Fajariyanti, 2013).
II.1.3. Deskripsi
Menurut Handoko dan Fajaryanti (2013), morfologi Hydrilla
verticillata memiliki akar berwarna kekuning-kuningan yang tumbuh di
dasar air dengan kedalaman sampai 2 meter. Batangnya tumbuh dengan
panjang 1 sampai 2 meter dengan 2 hingga 8 helai daun yang tumbuh
pada lingkar batangnya. Tiap-tiap daun memiliki panjang 5 sampai 20
mm dan 0,7 sampai 2 mm lebarnya dengan gerigi atau duri kecil
disepanjang ujung daun. Hydrilla verticillata merupakan tumbuhan
berumah satu (meskipun kadang-kadang berumah dua) dengan bunga
jantan dan betina dihasilkan dalam satu tanaman. Bunganya kecil
dengan 3 kelopak dan 3 mahkota dengan mahkota panjangnya 3 sampai
5 mm berwarna transparan dengan garis merah. Hydrilla verticillata juga
dapat bereproduksi secara vegetatif dengan jalan fragmentasi, bertunas
dan akar tinggal.
Anatomi Hydrilla verticillata memiliki letak stomatanya lebih
banyak berada pada permukaan bawah daun. Hal ini dibuktikan pada
percobaan yang dilakukan oleh Ingen House diketahui bahwa daun-daun
yang berfotosintesis mengeluarkan oksigen lebih cepat pada bagian
permukaan sisi bawah daun daripada sisi permukaan atas daun.
Disamping itu, temuan Ingen House menunjukkan bahwa terdapat
sejumlah ± 100.000/cm2 stomata dibagian sisi permukaan bawah daun
dan tidak ditemukan sama sekali adanya stomata di permukaan atas
daun (J.W.Kimball, 2005).
II.1.4. Kandungan
Hydrilla verticillata memiliki kandungan air hingga 93%, protein
kasar, lemak kasar, abu, Kalsium (Ca), Fosfor (P) serta energi (Rifai,
1987).
II.1.5. Manfaat
Pemanfaatan Hydrilla verticillata diantaranya sebagai pakan alami
ikan, pengendali gulma air (Said, 2006).
II.1.6. Sampel Kelompok
II.2 Elephantopus scaber (Tapak Liman)
II.2.1. Klasifikasi
Klasifikasi Tapak Liman adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Asterales
Family : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Species : Elephantopus scaber
Gambar 2. Tapak
(Cronquist, 1981). Liman (Elephantopus
scaber)
II.2.2. Deskripsi
Tapak liman (Elephantophus scaber) memiliki ujung daun rounded
dengan tepi daun undulate, serta permukaan daun yang berbulu
(Sunanto, 2009).
II.2.3. Kandungan
Tapak Liman memiliki kandungan epifrieelinol, lupeol,
stiqmasterol, triacontan-l-ol, dotriacontan-l-ol, lupeol acetat,
deoxyelephantopin, dan isodeoxyelephantopin, tetapi belum diketahui
senyawa aktifnya yang mempunyai khasiat anti inflamasi. Efek anti
inflamasi dari ekstrak tapak liman tergantung besarnya dosis yang
diberikan. Semakin besar dosis yang diberikan semakin kuat efeknya
sebagai anti inflamasi. Hal ini karena semakin besar dosis ekstrak tapak
liman yang diberikan semakin besar pula kandungan senyawa aktifnya
sehingga semakin kuat pula khasiatnya sebagai anti inflamasi (Sudjarwo,
2008).
II.2.4. Manfaat
Tapak liman dapat digunakan sebagai obat anti inflamasi
tergantung dari jumlah dosis yang diberikan (Sudjarwo, 2008).
II.3. Rosa sp. (Mawar)
II.3.1. Klasifikasi
Klasifikasi Mawar adalaah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledonae
Order : Ronales
Family : Rosaceae
Genus : Rosa
Species : Rosa sp.
Gambar 3. Mawar
(Julianto, 2016). (Rosa sp.)
II.3.2. Deskripsi
Mawar merupakan bunga majemuk juga bunga tunggal, terdiri dari
20 sampai dengan 40 helai mahkota. Jumlah kelopak kurang lebih 5
dengan berbagai macam warna. Memiliki bakal buah dan bakal biji serta
putik dan benang sari yang banyak (Lingga, 2008).
II.3.3. Kandungan
Kandungan yang paling banyak di dalam mahkota bunga mawar
segar antara lain air 85%, vitamin, beta karoten, sianin (antosianin), gula,
minyak atsiri sekitar 0,01-1,00% (citronellol, euganol, asam galat dan
linalool). Pigmen antosianin yang terdapat pada bunga mawar merah
memiliki sifat sinergis dengan asam sitrat yang akan berfungsi sebagai
antioksidan (Saati dkk., 2011).
Beberapa bahan kimia yang juga terkandung dalam bunga mawar
diantaranya tannin, geraniol, nerol, citronellol, asam geranik, terpen,
flavonoid, pektin, polyphenol, vanillin, karotenoid, stearopten, farnesol,
eugenol, vitamin B, C, E, dan K (Rukmana, 1999).
II.3.4. Manfaat
Bunga mawar merah dapat dijadikan sebagai bahan baku obat,
antara lain sebagai pengobatan aromaterapi, anti kejang, pengatur haid,
menyembuhkan infeksi, menyembuhkan sekresi empedu, dan
menurunkan panas badan (daun dan kelopak bunga mawar). Bunga
mawar merah bisa digunakan sebagai antiseptik, antispasmodik, antiviral
dan antibakteri (Rukmana, 1999).
II.4. Zea mays (Jagung)
II.4.1. Klasifikasi
Klasifikasi Jagung adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Monocotyledonae
Order : Graminae
Family : Graminaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays
(Purwono dan Hartono, 2005). Gambar 4. Jagung
(Zea mays)
II.4.2. Deskripsi
Tanaman ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, terdiri dari satu
batang utama, terbagi dalam ruas-ruas rata-rata dapat mencapai tinggi 2
– 3 m pada varietas tertentu. Daun terdiri dari tangkai daun (pelepah
daun), lidah daun, ibu tulang daun dll. Tanaman jagung merupakan
tanaman tropik yang pertumbuhannya sampai berbunga, membutuhkan
air yang cukup dan terbagi merata (Rukmana, 1997).
II.4.3. Kandungan
Menurut Auliah (2013), Jagung mengandung sekitar 70% pati dari
bobot biji jagung yang merupakan komponen penting tepung jagung.
Komponen karbohidrat lain adalah gula sederhana, yaitu glokusa,
sukrosa dan fruktosa, sekiatar 1,3% dari bobot biji. Tepung jagung juga
mengandung protein, lemak, serat kasar, vitamin, mineral.
Jagung juga mengandung fenol asam ferulik, antosianin dan asam
folat (Krisnamurthi, 2010).
II.4.4. Manfaat
Jagung merupakan sumber yang kaya akan senyawa fenolik asam
ferulic, agen anti-kanker yang telah terbukti efektif dalam memerangi
tumor pada kanker payudara dan kanker hati. Anthocyanin yang
ditemukan dalam jagung ungu juga bertindak sebagai pemulung radikal
bebas yang dapat menyebabkan kanker. Selain itu menurut para peneliti,
minyak jagung telah menunjukkan efek anti aterogenik pada tingkat
kolesterol, sehingga mencegah resiko penyakit jantung.
Jagung juga dapat mencegah anemia: vitamin B12 dan asam folat
yang terdapat dalam jagung mencegah anemia yang disebabkan oleh
kekurangan vitamin ini. Lbih jauh lagi jagung dapat menurunkan
Kolesterol Jahat (LDL) (Krisnamurthi, 2010).
II.5. Nymphaea lotus (Teratai kecil)
II.5.1. Klasifikasi
Klasifikasi Teratai Kecil adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledonae
Order : Nymphaeales
Family : Nymphaeaceae
Genus : Nymphaea
Species : Nymphaea lotus Gambar 5. Teratai
(Nymphaea lotus)
(Rani, dkk, 2012).
II.5.2. Deskripsi
Menurut Tjitrosoepomo (1988), Nymphaea lotus atau Teratai
merupakan hidrofita yang tumbuh di rawa-rawa atau daerah-daerah yang
tergenang air, terapung atau mempunyai akar, yang dapat mencapai
dasar air. Daun - daun terapung di air atau tenggelam, tetapi ada pula
yang muncul diatas air. Bunga terpisah-pisah, aktinomorf dengan tenda
bunga berbilangan 3 sampai banyak yang berfungsi sebagai daun
kelopak, atau hanya 6 daun tenda bunga yang tersusun dalam 2
lingkaran. Benang sari 3 sampai banyak, sebagian besar bersifat steril
dan berubah menjadi bagian bagian yang menyerupai daun mahkota.
Bakal buah menumpang atau setengah tenggelam, kadang kadang
sama sekali tenggelam berjumlah 3 sampai banyak, bebas satu sama
lain atau berlekatan, sering kali tenggelam dalam dasar bunganya,
masing-masing beruang banyak, tiap ruang dengan 1 sampai banyak
bakal biji yang laminal. Buahnya buah kurung atau menyerupai buah
buni. Biji mempunyai salut biji, kebanyakan dengan endosperm, dan
perisperm, lembaga lurus.
II.5.3. Kandungan
Nymphaea lotus mengandung mengandung alkaloid (rendah),
saponin (sedang), dan tannin (rendah) (Yisa, 2009). Berdasarkan hasil
analisis fitokimia terdapat senyawa bioaktif seperti tanin, terpen,
flavonoid, alkaloid, antrakuinon, saponin, glikosida dan fenolat pada
ekstrak etanol daun Nymphaea lotus (Akinjonggula, 2010).
II.5.4. Manfaat
Manfaat Nymphaea lotus diantaranya yaitu biki teratai bisa
dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat. Tepung biji teratai dapat
dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat kue (Arsyad, 2016).
Kandungan unsur gizi yang terdapat pada biji teratai yaitu protein,
lemak, karbohidrat, serat, abu, air, dan energi. Selain itu biji teratai juga
berpotensi sebagai antimikroba (Khairiah, dkk, 2012).
II.6. Kentang (Solanum tuberosum)
II.6.1. Klasifikasi Kentang (Solanum tuberosum)
Menurut Sharma (2002), klasifikasi kentang sebagai berikut
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Tubiflorae
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum tuberosum L. Gambar 6. Kentang (Solanum
tuberosum)
II.6.2. Deskripsi
Kentang(Solanum tuberosum L) merupakan tanaman umbi-
umbian dan tergolong tanaman berumur pendek. Tumbuhnya bersifat
menyemak dan menjalar dan memiliki batang berbentuk segi empat.
Batang dan daunnya berwarna hijau kemerahan atau berwarna ungu.
Umbinya berawal dari cabang samping yang masuk ke dalam tanah,
yang berfungsi sebagai tempat menyimpan karbohidrat sehingga
bentuknya membengkak. Umbi ini dapat mengeluarkan tunas dan
nantinya akan membentuk cabang yang baru (Aini, 2012).
II.6.3. Kandungan (Solanum tuberosum)
Alkaloid solanin, mineral, protein, karbohidrat, karotenoid, dan
polifenol. (Hermani, 2005).
II.6.4. Manfaat (Solanum tuberosum)
Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama
karbohidrat. Sebagai sumber utama karbohidrat, kentang sangat
bermanfaat untuk meningkatkan energi di dalam tubuh, sehingga
manusia dapat melakukan aktivitas. Di samping itu, karbohidrat sangat
penting untuk meningkatkan proses metabolisme tubuh, seperti proses
pencernaan dan pernafasan. Zat protein dalam tubuh manusia
bermanfaat untuk membangun jaringan tubuh, seperti otot-otot dan
daging. Sebagai sumber 10 lemak, kentang dapat meningkatkan energi.
Kandungan gizi lainnya, seperti zat kalsium dan fosfor bermanfaat untuk
pembentukan tulang dan gigi. Selain itu, kandungan zat besi (Fe) dapat
bermanfaat dalam pembentukan sel darah merah (haemoglobin)
(Samadi, 1997 ).
II.7. Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata)
II.7.1. Klasifikasi
Klasifikasi Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata), menurut
(Winanti, dkk, 2006)
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monokotiledon
Sub Kelas : Lilidae
Ordo : Liliales
Family : Agaveceae Gambar 7. Lidah
Mertua (Sansevieria
Genus : Sansevieria trifasciata)
Spesies : Sansevieria trifasciata
II.7.2. Deskripsi
Lidah mertua (Sansevieria trifasciata) merupakan jenis tumbuhan
dengan tipe daun seperti pedang atau lanset, memiliki daun yang tebal
berwarna hijau dan corak bintik-bintik serta permukaannya yang licin
dengan jumlah helaian pada umumnya 3-8 helaian. (Megia, dkk, 2015)
Dalam struktur anatomi tanaman ini dijumpai stomata tunggal dan
berkelompok yang bersifat amfistomatik , sel penjaga stomatanya
bebentuk seperti ginjal. Selain itu juga, tipe stomata tanaman ini terdapat
4 sel tetangga yang tegak lurus dan sejajar mengelilingi stomata yang
disebut tetrasitik. Jumlah stomata tanaman ini lebih banyak ditemukan
pada bagian adaksial serta memiliki kerapatan yang tinggi dibandingkan
stomata bagian adaksial (Megia, dkk, 2015)
II.7.3. Kandungan
Lidah Mertua memiliki kandungan senyawa yaitu carotenoids,
phytates, saponins, dan tannins (Ayalogu, et al, 2010). Selain itu,
tanaman ini memngandung klorofil a dan klorofil b yang kandungan
klorofil a lebih tinggi dibandingkan klorofil b (Megia, dkk, 2015)
II.7.4. Manfaat
Tumbuhan Lidah Mertua ini memiliki fungsi dalam menyerap dan
mengakumulasi polutan. Pada siang hari, tumbuhan ini mampu
menyerap polutan bersamaan karbon dioksida melalui stomata dan
digunakan proses fotosintesis sehingga polutan di udara semakin
berkurang. (Megia, dkk, 2015)
II.8. Bayam Duri (Amaranthus spinosus)
II.8.1. Klasifikasi
Klasifikasi Bayam Duri menurut Tjitrosoepomo (2004) :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Caryophyllales
Family : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Gambar 8. Bayam Duri
Spesies : Amaranthus spinosus L. (Amaranthus spinosus)
II.8.2. Deskripsi
Tumbuhan bayam duri (Amaranthus spinosus L.) mempunyai
batang tegak, lunak atau basah, tingginya dapat mencapai 1 meter,
kerap bercabang banyak dan berduri. Daun bulat telur memanjang
berbentuk lanset, panjang 5-8 cm, dengan ujung tumpul daan pangkal
runcing. Daun pelindung dan anak daun pelindung runcing, panjangnya
sama dengan tenda bunga. Daun tenda bunga berjumlah 5 dengan
panjang 2-3 mm, gundul, hijau atau ungu dengan tepi transparan
(Steenis, 2002).
Pada batang pohon, tepatnya dipangkal tangkai daun terdapat duri
bunganya terletak di bawah duduk di ketiak, yang atas terkumpul menjadi
karangan bunga di ujung dan duduk diketiak, bentuk bunga seperti bulir
atau bercabang pada pangkalnya. Bulir ujung sebagian besar jantan,
tidak berduri. Benang sari 5, lepas, tanpa taju yang disispkan
diantaranya. Kepala putik duduk, bentuk benang. Buah bulat memanjang
dengan tutup yang rontok serta bayam duri juga berbiji (Steenis, 2002).
Pada struktur irisanmelintang batang Amaranthus spinosus
tersebut. terdapat sel-sel yang mengandung kristal kalsium oksalat
berbentuk pasir. Selain itu juga, terdapat xylem dan floem. Masing-
masing dari xilem dan floem memiliki fungsi yang berbeda pula. Pada
xilem memiliki fungsi mengangkut bahan mineral dan air dari akar sampai
daun. Susunan xilem ini merupakan suatu jaringan pengangkut yang
serba kompleks. Xilem meliputi meliputi trakea dan trakeid
(Kartasapoetra, 1991). Sedangkan floem berfungsi utama dalam
penghantaran makanan yang diolah dalam daun. Kedua jaringan ini
selalu berdampingan dan bersama-sama menyusun pembuluh atau
sistem hantaran yang meluas keseluruh bagian tumbuhan
(Loveles,1991).
II.8.3. Kandungan
Pada tumbuhan bayam duri (Amaranthus spinosus L.) terdapat
kandungan kimia/bahan kimia seperti amarantin, rutin, kalium nitrat,
kalium oksalat, tannin, piridoksin, garam-garam fosfat, zat besi, vitamin
A, vitamin C, dan vitamin K (Hariana, 2006).
II.8.4. Manfaat
Tumbuhan bayam duri (Amaranthus spinosus L.) telah digunakan
secara tradisional sebagai obat. Ada beberapa penyakit yang dapat
diobati dengan menggunakan tumbuhan bayam duri. Tumbuhan bayam
duri yang digunakan, yaitu semua bagian dari bayam duri yaitu akar,
batang, dan daun. Bagian batang bayam duri dapat digunakan sebagai
pelancar ASI (Kriss, 2009).
Daun bayam duri (Amaranthus spinosus L.) dapat digunakan
sebagai obat penyakit bisul, wasir, dan demam serta sebagai penambah
darah. Sedangkan bagian akar dapat digunakan sebagai obat penyakit
dysentri, kencing tidak lancer, dan keputihan. Untuk penggunaan seluruh
bagian bayam duri dapat digunakan sebagai obat TBC kelenjar dan
eksim (Hariana, 2006).
II.9. Padi (Oryza sativa)
II.9.1. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Commoliniade
Ordo : Cyperales
Famili : Poaceae
Genus : Oryza L. Gambar 9. Padi (Oryza
Spesies : Oryza sativa L sativa)
II.9.2. Deskripsi
Padi merupakan keluarga padi-padian dengan batang beruas-
ruas yang dalamnya berongga. Tanaman ini memiliki tinggi 1-1,5 meter.
Bagian vegetatif yaitu organ-organ tanaman yang berfungsi mendukung
atau menyelenggarakan proses pertumbuhan, termasuk dalam bagian
ini adalah akar, batang dan daun. Akar tumbuh dari kecambah biji
disebut akar utama (primer) Batang padi terdiri dari beberapa ruas yang
dibatasi oleh buku. Pada awal pertumbuhan ruas batang masih
bertumpukan dan mulain memanjang setelah memasuki fase reproduktif.
Anakan mulai tumbuh setelah tanaman padi memiliki 4 atau 5 daun .
Daun padi tumbuh pada buku-buku batang dengan susunan berseling.
Pada tiap buku batang tumbuh satu daun yang terdiri dari pelepah daun,
helai daun, telinga daun (uricle), dan lidah daun (ligula). Pelepah daun
berbentuk pita yang menggulung menjadi silinder yang membungkus
semua bagian dari tunas muda. Helaian daun datar, dan lebih panjang
dari selubung di semua daun kecuali daun kedua. Lidah daun biasanya
berwarna putih, berbentuk segitiga kecil yang terlihat seperti kelanjutan
dari pelepah daun, terletak di dasar helai daun, sekitar persimpangan
antara pelepah daun dan helaian daun. Manfaat lidah daun yaitu untuk
menahan air agar tidak masuk dalam pelepah daun Bunga padi
mempunyai dua tangkai putik dengan dua kepala putik yang berwarna
putih atau ungu. Sekam mahkotanya ada dua dan yang bawah disebut
lemma sedang yang atas disebut palea. Pada dasar bunga terdapat dua
daun mahkota yang berubah bentuk dan disebut lodicula. Bagian ini
sangat berperan dalam pembukaan palea. Bunga padi bersifat majemuk
yaitu ibu tangkai bunga bercabangcabang dan masing-masing cabang
mendukung bunga-bunga dengan susunan seperti bulir Persarian dapat
berlangsung dengan baik pada hari kering dan cuaca terang. Lembaga
atau embrio beras sangat kecil dan terdapat pada sisi ventral dari beras
(kariopsis).
Anatomi batang tanaman yang diperlakukan dengan paklobutrazol
memperlihatkan terjadinya perubahan susunan sel pada batang,
misalnya susunan jaringan kortek menjadi lebih rapat dan padat
sehingga tidak terdapat ruang antar sel. Rapatnya susunan sel korteks
menyebabkan batang tanaman padi hitam menjadi lebih kaku sehingga
tahan terhadap kerebahan.
II.9.3. Kandungan
Kandungan dalam setiap 100 gram beras yaitu energi 1.527 kJ
(365 kcal), Karbohidrat 79 g, serat pangan 1,3 g, lemak 0,66 g, protein
7,13 g, air 11,62g, Thiamine (Vit.B1) 0,070 mg (5%), Riboflavin (Vit.B2)
0,049 mg (3%), Niacin (Vit. B3) 1,6 mg (11%), Pantothenic acid (B5)
1,014 mg (20%), Vitamin B60 164 mg (13%), Folate (Vit. B9) 8 g (2%),
Calcium 28 mg (3%), Iron 0.80 mg (6%), Magnesium 25 mg (7%),
Manganese 1,088 mg (54%), Phosphorus 115 mg (16%), Potassium 115
mg (2%), Zinc 1,09 mg (11%) (Anonim, 2013).
II.9.4. Manfaat
Mengurangi resiko tekanan darah tinggi. Nasi tidak banyak
mengandung sodium, dan dianggap sebagai makanan terbaik untuk
mereka yang menderita tekanan darah tinggi dan hipertensi.
II.10. Teratai Besar (Nelumbium nelumbo)
II.10.1. Klasifikasi
Klasifikasi Teratai Besar (Nelumbium nelumbo), menurut
(Steenis, 2002):
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Nymphales
Family : Nymphaceae
Gambar 10. Teratai besar
Genus : Nelum bium (Nelumbium nelumbo)
Spesies : Nelumbium nelumbo
II.10.2. Deskripsi
Tumbuhan teratai besar (Nelumbium nelumbo) memrupakan tipe
akar serabut yang batangnya memiliki silinder dan batang udara.
(Budiawati, 2004).
Tanaman ini memiliki diameter 1 cm yang akar-akarnya bisa
membentuk umbi yang diselimuti bulu-bulu halus, dan memiliki panjang
rimpang sekitar 10 cm (AgroMedia, 2017).
II.10.3. Kandungan
Tumbuhan teratai (Nelumbium nelumbo Druce) khususnya
pada bagian bunga memiliki kandungan kimia seperti Querceti.
Quercetin merupakan perwakilan utama dari sub kelas flavonol yang
mendapat banyak perhatian. Quercetin dan gula terikat atau glikosida
merupakan bentuk dari asupan 60-70% flavonoid (Aprilina, 2012)
II.10.4. Manfaat
Teratai juga memiliki manfaat untuk menyembuhkan berbagai
penyakit, seperti darah tinggi (hipertensi), keputihan (leucorrhea), radang
kulit bernanah (impetigo), gangguan lambung, dan sebagainya.
II.11. Kamboja (Plumeria sp.)
II.11.1. Klasifikasi
Menurut (steenis, 2002) klasifikasi Plumeria adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Apocynales
Famili : Apocynaceae
Gambar 11. Kamboja
Genus : Plumeria
(Plumeria sp.)
Spesies : Plumeria sp.
II.11.2. Deskripsi
Daun kamboja berbentuk lanset dengan ujung dan pangkal daun
meruncing, berwarna hijau dan tebal, serta tulang daunnya menonjol.
Panjang daun berukuran 15- 20 cm. Sementara lebar daunnya berkisar
6 – 12,5 cm. Selain bentuk lanset yang lebar, ada daun yang sempit dan
ada pula yang ujung daunya tidak lancip, tetapi membulat. Ada pula
tanaman kamboja yang memiliki daun yang pada bagian pangkalnya
menyempit, tetapi di bagian ujung melebar (Febjislami, dkk, 2018).
Bunga kamboja memiliki ukuran diameter 8-12 cm. Mahkota
bunga umumnya berjumlah lima helai dan memiliki wangi yang khas.
Mahkota bunga mempunyai corong dengan lingkar yang sempit dan sisi
bagian dalamnya berambut halus. Bentuk mahkotanya pun tidak
monoton, ada yang bertajuk lebar hingga bulat serta mahkota panjang
yang sempit dan berpilin (menggulung). Selain itu, ada mahkota yang
berbentuk oval hingga bintang warna mahkota sangat beragam mulai
dari putih, merah, pink, hingga kuning. Tangkai putik tanaman berukuran
pendek dengan dasar bunga yang menonjol sehingga menutupi tabung
kelopak (Febjislami, dkk, 2018).
Buah akan terbentuk bila terjadi penyerbukan. Proses
penyerbukan hingga matangnya buah berlangsung kurang lebih 8 bulan.
Buahnya tidak berdaging (buah kering atau follicle) dan berbentuk
tabung dengan kedua ujungnya lancip. Buahnya bisa berjumlah satu
atau dua yang saling terpisah. Panjang buah berkisar 15-20 cm dengan
diameter 2 cm. Biji – biji akan beterbangan terbawa angin bila buahnya
telah matang dan pecah. Biji berbentuk elips dengan embrio tanaman
berada di salah satu ujung, sedangkan ujung lainnya berupa lembaran
tipis yang 6 berfungsi sebagai sayap ketika terbang terbawa angin.
Panjang biji 4 – 5 cm dengan lebar 1 cm. Biji berwarna cokelat muda
seperti lembar daun yang kering (Febjislami, dkk, 2018).
II.11.3. Kandungan
Kulit batang tanaman kamboja bergetah. Getah tanaman ini
mengandung senyawa sejenis karet, triterpenoid, amyrin, lupeol,
kautscuk, dan damar. Bila terkena kulit, getah kamboja dapat
menimbulkan rasa gatal di kulit (Heyne, 1987).
II.11.4. Manfaat
Manfaat dari tanaman ini, selain dari getahnya yang
menimbulkan rasa gatal pada kulit, getah tanaman ini ternyata dapat
digunakan sebagai obat kulit. (Heyne, 1987).
II.12. Pepaya (Carica papaya)
II.12.1. Klasifikasi
KIasifikasi Carica papaya L. menurut (steenis, 2002) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermathophyta
Subdivision : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
SubClass : Sympetalae
Ordo : Cystales/Parietales
Gambar 12. Pepaya (Carica
Famili : Caricaceae
papaya)
Genus : Carica
Spesies : Carica papaya L
II.12.2. Deskripsi
Carica papaya L. adalah semak berbentuk pohon dengan batang
yang lurus dan bulat. Bagian atas bercabang atau tidak, sebelah dalam
berupa spons dan berongga, sebelah luar banyak tanda bekas daun.
Tinggi pohon 2,5-10 m, tangkai daun bulat berongga, panjang 2,5-10 m,
daun bulat atau bulat telur, bertulang daun menjari, tepi bercangap,
berbagi menjari, ujung runcing garis tengah 25-75 cm, sebelah atas
berwarna hijau tua, sebelah bawah hijau agak muda daun licin dan
suram, pada tiap tiga lingkaran batang terdapat 8 daun (Steenis, 2002).
Bunga hampir selalu berkelamin satu atau berumah dua, tetapi
kebanyakan dengan beberapa bunga berkelamin dua pada karangan
bunga yang jantan. Bunga jantan pada tandan yang serupa malai dan
bertangkai panjang, berkelopak sangat kecil mahkota berbentuk
terompet berwarna putih kekuningan, dengan tepi yang bertaju lima, dan
tabung yang panjang, langsing, taju berputar dalam kuncup, kepala sari
bertangkai pendek, dan duduk bunga betina kebanyakan berdiri sendiri,
daun mahkota lepas dan hampir lepas, putih kekuningan, bakal buah
beruncing satu, kepala putik lima duduk,. Buah buni bulat telur
memanjang, biji banyak, dibungkus oleh selaput yang berisi cairan,
didalamnya berduri (Steenis, 2002).
II.12.3. Kandungan
Tanaman papaya mempunyai kandungan kimia yang berbeda-
beda pada buah, daun, akar maupun biji. Pada buah terkandunga asam
butanorat, metal butanoat, benzilglukosinolat, linalool, papain, asam alfa
linoleat, alfa filandren, alfa terpinen, gamma terpinen, 4-terpineol, dan
terpinolen. Pada daun terkandung alkaloid, dehidrokarpain,
pesedokarpain, flavonol, benzilglukosinolat, papain dan tannin. Seratus
gram daun dilaporkan mengandung 74 kalori, 77.5 g H2O, 7 g protein, 2
g lemak, 11.3 g karbohidrat total, 1.8 g serat, 2.2 g abu, 344 mg kalsium,
142 mg fosfor, 0.8 mg besi, 18 g natrium, 652 mg kalium, 11.565 µg beta
karoten, 0.09 mg thiamin, 0.48 mg riboflavin, 2.1 mg niasin, 140 mg asam
askorbat dan 136 mg vitamin E (Duke, 1983).
II.12.4. Manfaat
Tanaman papaya ini mempunyai banyak sekali manfaat dan
kegunaan dan telah digunakan secara tradisional untuk arthiris dan
reumatik, konstipasi, infeksi pernapasan, dan sifilis. Papain adalah enzim
yang terkandung dalam papaya dan telah banyak diteliti manfaatnya.
Dalam industri, papain mempunyai banyak kegunaan antara lain dalam
proses penggumpalan susu (rennet), proses penguraian protein,
pembuatan bir, mengempukkan daging, proses ekstraksi minyak hati
ikan tuna, dan membersihkan sutra dan wool sebelum pewarnaan.
(Duke, 1983).
II.13. Bauhinia purpurea (Bunga Kupu-Kupu)
II.13.1. klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyt
Kelas : Macnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Caesalpiniaceae Gambar 13. Bunga Kupu-
Kupu (Bauhinia purpurea)
Genus : Bauhinia
Spesies : Bauhinia purpurea ( Cronquist , 1981 )
II.13.2. Deskripsi
Memiliki daun tak lengkap, tipe daun tunggal, dengan bentuk tepi
daun entire, ujung daun cleft, dan permukaan daun halus (Irsyam . 2016).
memiliki batang berwarna pucat sampai cokelat, terdapat rambut halus,
dan bentuk silinder berkayu. bunga majemuk, tanda, terminal, stamen 3-
4 cm, warna ungu, biji cokelat dan panjang.korteks terdiri dari sel – sel
klorenkima, xilem dan floes berada dalam jaringan perisikel. xilem
sekunder berada dalam kambium pembuluh dan memiliki kambium
(Orwa,2009).
II.13.3. Kandungan
Daun Bunga Kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) merupakan salah
satu tanaman yang memiliki aktivitas antikanker. Bauhinia purpurea L.
memiliki kandungan utama senyawa metabolit sekunder seperti
glikosida, flavonoid, saponin, treterpenoid, senyawa fenol, oxepin, asam
lemak dan fitosterol.
II.13.4. Manfaat
Daun Bunga Kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) mengandung
senyawa flavonoid yang berperan dalam aktivitas antiproliferatif.
tumbuhan ini memiliki potensi 4 sebagai antibakteri, antidiabetes,
antijamur, analgesik, anti-inflamasi, anti- diare, antikanker dan
nephroprotective.(kumar.2011).
II.14. Cyperus rotundus (Teki)
II.14.1. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom :Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Gambar 14. Teki
Famili : Cyperaceae (Cyperus rotundus)
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus L. (Moenandir, J. 1993)
II.14.2. Deskripsi
Akar serabut yang tumbuh menyamping dengan membentuk
umbi yang banyak, tiap umbi mempunyai mata tunas, umbi tidak tahan
kering selama 14 hari di bawah sinar matahari maka daya tumbuhnya
akan hilang. Batang tumbuh tegak, berbentuk tumpul atau segitiga. Daun
berbentuk garis, mengelompok dekat pangkal batang, terdiri dari 4-10
helai, pelepah daun tertutup tanah, helai daun berwarna hijau mengkilat.
Bunga bulir tunggal atau majemuk, mengelompok atau membuka,
berwarna coklat, mempunyai benang sari tiga helai, kepala sari kuning
cerah, tangkai putik bercabang tiga. Tinggi dapat mencapai 50 cm.(
Amalia .2015 ). Memiliki penebalan xilem tipe spiral rapat dan tipe ikat
pembuluh kolateral tertutup (Rodrigues . 2009 )
II.14.3. Kandungan
Kandungan rumput teki antara lain alkaloid, flavonoid,
gilosida,furokromon, tanin, sitosterol, lemak, monoter
pensesquiterpenoid, polifenol dan minyak esensial (Zhou ,2012)
II.14.4. Manfaat
Rumput teki telah lama digunakan sebagai obat untuk berbagai
penyakit seperti antidiare, antiinflamasi, antidiabetik, antijamur,
antimikroba, antioksidan, antimutagenik, antipiretik, analgesik,
antiemetik, stimulan, diuretik, sedatif, antiobesitas dan sebagai
antikanker. Rumput teki diketahui memiliki efek sitotoksik pada sel
kanker, sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen
antikanker(Susianti, 2015).
II.15. Apel (Molus domestika)
II.15.1. Klasifikasi Apel (Molus domestika)
Menurut Yulianti S. Irlansyah, dkk (2002) klasifikasi Apel adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rosales
Family : Rosaceae
Genus : Molus Gambar 15. Apel
(Molus domestika)
Spesies : Molus domestika
II.15.2. Deskripsi
Daun Apel (Molus domestika) berbentuk lonjong/oval, ada yang
lebar dan ada yang kecil. Ujung daun runcing,pangkal daun tumpul, dan
tepi daunnya bergerigi teratur. Pohon Apel (Molus domestika) berasal
dari biji dan anakan yang membentuk akar tunggang, yaitu akar yang
arah tumbuhnya luas atau vertical ke dalam tanah. Pohon Apel (Molus
domestika) berkayu cukup keras dan kuat. Kulit kayu cukup tebal,
berwarna muda kecokelatan sampai cokelat kuning keabu-abuan.
Bunga Apel bertangkai pendek, menghadap ke atas,bertandan dan
pada tiap tandan terdapat 7-9 bunga. Bunga tumbuh pada ketiak daun,
mahkota bunganya berwarna putih sampai merah jambu berjumlah
5helai, menyelubungi benang sari pada daun buah, di tengah-tengah
bunga terdapat ptik/bakal buah (Bambang, S. 1997)
Buah Apel (Molus domestika) berbentuk bulat hingga bulat telur.
Sebelum masak, buahnyaberwarna hijau dan sesudah masak ada yang
berwarna merah kekuningan. Mempunyai biji sedikit dan keras, rasanya
manis dan ukuran buahnya beragam (Sunarjono, 2008). Apel termasuk
buah semu karena bunganya membesar dan menjadi bagian yang
sering dimakan. Buah ini memiliki tipe biji dikotil dan angiospermae.
Warna bijinya coklat kehitaman dan mempunyai 2 lapisan biji
(Agromedia, 2008).
II.15.3. Kandungan Apel
Kandungan Apel (Molus domestika) berupa zat berguna bagi
tubuh manusiadiantaranya pectin (sejenis serat), quersetin (bahan anti
kanker dan antiradang), serta vitamin C yang tinggi merupakan
sebagian alasan mengapa ahli gizi sangat menganjurkan masyarakat
untuk mengkonsusmsi buah Apel secara teratur. Kandungan anti
oksidan yang sangat tinggi juga menjadi alasan tingginya konsumsi
buah Apel oleh masyarakat sebagai upaya pencegahan terhadap
penyakit dan disfungsi kesehatan tubuh lainnya (Baskara, 2010).
II.15.4. Manfaat Apel
Buah Apel (Molus domestika) mempunyai banyak manfaat,
diantaranya dalahmengeluskan toksin yang ada dalam tubuh, menjaga
kestabilan hormone dan sistem imunitas (daya tahan tubuh),
mengurangi stress, meningkatkan konsentrasi dan produktivitas,
memperbaiki kualitas tidur, mengurangi manifestasi alergi (misalnya :
gatal, asma, sinusitis), dan melancarkan peredaran darah dan sistem
saraf (Bambang, S. 1997).
II.16. Ubi Jalar (Ipomoea batatas)
II..16.1. Klasifikasi Ubi Jalar (Ipomoea batatas)
Klasifikasi dari Ubi Jalar sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermathophyta
Subdivision : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Solanales
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea Gambar 16. Ubi
Jalar (Ipomoea
Spesies : Ipomoea batatas L. batatas L.)
II.16.2. Deskripsi
Memiliki bentuk batang bulat, warna hijau.Bentuk daun jantung
tepi rata, warna daun hijau. Tangkai daun bagian ujung hijau, pangkal
juga berwarna hijau, bahkan semua tangkai daun berwarna hijau. Akar
bentuk bulat, warna putih. Bunga bentuk terompet, ujung berwarna ungu
muda, pangkal bagian dalam ungu tua, dan warna bunga bagian luar
secara keseluruhan ungu muda . Karakter anatomi daun ubi jalar
meliputi tebal kutikula, epidermis, ukuran stomata (panjang dan lebar,
serta kerapatan stomata dan trikomata berkorelasi dengan intensitas
penyakit kudis daun.
II.16.3. Kandungan
Kandungan gula reduksi dan analisa isoenzim dengan melihat
pola pita yang terbentuk. Kadar pati dan gula reduksi I. batatas.L adalah
8 – 29 % dan 0,5 –2,5 %.
II.16.4. Manfaat
Umbi tanaman batatas.L merupakan bagian yang dimanfaatkan
untuk bahanmakanan. dapat dimanfaatkan sebagaipengganti makanan
pokok karena merupakan sumber kalori yang efisien .
II.17. Nanas (Ananas comosus)
II.17.1. Klasifikasi Nanas (Ananas comosus)
Klasifikasi nanas menurut Irfandi (2005), sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Bromeliaceae
Genus : Ananas
Spesies : Ananas comosus
Gambar 17. Nanas
II.17.2. Deskripsi (Ananas comosus)
Tanaman nanas berupa herba tahunan atau dua tahunan
dengan tinggi 50 -100 cm, daun berbentuk pedang, panjang daun
sampai 1 m, lebar daun 5-8 cm. Pinggir daun berduri dan ada juga yang
rata, ujung daun lancip, bagian atas daun berdaging, tersusun spiral,
pangkalnya memeluk poros utama. Batang nanas memiliki panjang 20
cm sampai 25 cm dengan diameter bagian bawah 2 sampai 3.5 cm,
sedangkan diameter bagan atas 5 .5 sampai 6.5 cm dan mengecil pada
bagian puncak
17.3. Kandungan
Kandungan gizi, vitamin dan mineral dalam 100 g buah nanas
sebagai berikut: air 86 g, kalori 218 kj, protein 0.5 g, lemak 0.2 g,
karbohidrat 13.5 g, serat 0.5 g, dan abu 0.3 g. Kandungan mineralnya
sebagai berikut: kalsium 18 mg, besi 0.3 mg, magnesium 12 mg, pospor
12 mg, kalium 98 mg dan Na 1 mg. Kandungan vitamin sebagai berikut:
asam askorbat 10 mg, thiamin 0.09 mg, riboflavin 0.04 mg, niacin 0.24
mg dan vitamin A 5.3 IU (Nakasone dan Paull, 1999).
II.17.4. Manfaat
Buah nanas berdasarkan kegunaannya dibagi menjadi dua
golongan yakni: buah nanas konsumsi segar dan olahan atau buah
kalengan. (Sudibyo.1992).
II.18. Mengkudu (Morinda citrifolia)
II.18.1. Klasifikasi Mengkudu (Morinda citrifolia)
Menurut Djauhiriya, E., dkk. (2006), klasifikasi mengkudu
sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rubiales
Family : Rubiceae
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia Gambar 18. Mengkudu
(Morinda citrifolia)
II.18.2. Deskripsi
Tumbuhan ini berbentuk pohon dengan tinggi 4-8 cm. Batang
berkayu, bulat, kulit kasar, percabangan monopoidal. Daun tunggal,
bulat telur, ujung dan pangkal runcing. Panjang 10-40 cm. Bunga
majemuk, bentuk bongkol, bertangkai, benang sari 5. Buah bongkol,
permukaan tidak teratur, berdaging, panjang 5-10 cm, hijau kekuningan
(Syamsul hidayat & Hutapea,1991).
II.18.3. Kandungan Mengkudu (Morinda citrifolia)
Buah mengkudu mengandung skopoletin, rutin, polisakarida,
asam askorbat, β-karoten, 1-arginin, proxironin, dan proxeroninase,
iridoid, asperolusid, iridoid antrakinon, asam lemak, kalsium, vitamin B,
asam amino, glikosida, dan juga glukosa (Sjabana & Bahalwan, 2002;
Wijayakusuma & Dalimartha, 1995). Selain itu juga dikandung senyawa-
senyawa seperti, morindon, rubiadin, dan flavonoid (Bangun & Sarwono,
2002).
II.18.4. Manfaat Mengkudu (Morinda citrifolia)
Tanaman mengkudu terutama buahnya memiliki banyak
kegunaan antara lain: untuk obat tekanan darah tinggi, beri-beri,
melancarkan kencing, radang ginjal, radang empedu, radang usus,
disentri, sembelit, nyeri limpa, limpa bengkak, sakit lever, liur berdarah,
kencing manis (diabetes melitus), cacingan, cacar air, kegemukan
(obesitas), sakit pinggang (lumbago), sakit perut (kolik), dan perut mulas
karena masuk angin, kulit kaki terasa kasar (pelembut kulit),
menghilangkan ketombe, antiseptik, peluruh haid (emenagog), dan
pembersih darah. Air perasan buah masak yang diparut digunakan
untuk kumur-kumur (gargle) pada difteri atau radang amandel. Godogan
buah, kulit batang atau akar digunakan untuk mencuci luka dan ekzema
(Wijayakusuma, dkk., 1996).
Buah mengkudu dapat menghambat pertumbuhan tumor
dengan merangsang sistem imun yang melibatkan makrofag dan atau
limfosit (Hirazumi et al., 1994). Ekstrak buah ini juga terbukti paling
efektif menghambat sel RAS yang menyebabkan kanker di antara 500
ekstrak yang diuji (Hirazumi et al., 1993). Younos et al. (1990)
melakukan studi mengenai efek analgesik dan sedatif ekstrak tanaman
mengkudu dan menyatakan bahwa ekstrak mengkudu mempunyai
aktivitas analgesik secara konsisten, tidak toksik, dan tergantung pada
dosis.