Anda di halaman 1dari 43

BAB 2.

FILUM PROTOZOA

Jumlah dan keragaman protozoa sangat besar. Sekitar 46.000 spesies telah dinamai,
meskipun lebih dari 20.000 dari mereka adalah fosil. Seribu spesies protozoa hidup bebas
telah dideskripsikan dan setiap jenis menunjukkan ciri yang khas.
Filum Protozoa adalah hewan dengan macam-macam ukuran dan tingkah laku.
Meskipun tidak dibagi dalam sel-sel fungsional yang berbeda, Protozoa memiliki seluruh
proses kehidupan dengan satu sel. Mereka dimulai dari sel-sel sederhana, sampai sel-sel yang
kompleks dengan bermacam-macam vakuola, fibril, dan organel. Karena demikian kecilnya,
hanya sedikit Protozoa yang dapat terlihat dengan mikroskop cahaya. Yang cukup besar
dapat terlihat dengan mata telanjang. Pada tahun-tahun sekarang mikroskop elektron telah
menampilkan banyak tentang ultra-struktur mereka pada beberapa penelitian.

2.1 KARAKTERISTIK UMUM


1. Berukuran kecil, biasanya terdiri satu sel (eukariot). Sebagian besar berukuran kecil,
berkisar 3-5µ. Protozoa terbesar adalah Radiolaria dan Foraminifera, yaitu 2-10 cm.
2. Bentuk sel tetap, oval, panjang, bulat pada beberapa spesies bervariasi. Bentuk ini
tergantung umur dan lingkungan.
3. Inti jelas, berjumlah satu atau lebih, terdiri dari organel-organel, non jaringan.
4. Alat gerak: flagelum sidium, pseudo-podium, atau gerakan sel sendiri.
5. Beberapa spesies mempunyai cangkang dan sista.
6. Dapat hidup bebas sebagai komersal, mutualistik atau parasit.
7. Nutrisi dapat melalui holozoik, saprofitik, saprozoik, holofitik. Holozoik ialah
dengan memakan organisme lainnya seperti bakteri, jamur, dsb. Saprofitik yaitu
dengan cara menyerap zat larut di sekitarnya. Holfitik atau autotropik yaitu dengan
cara membentuk makanan melalui fotosintesis seperti tumbuhan.
8. Reproduksi: pembelahan biner, pembelahan multipel (aseksual); konjugasi (seksual).
9. Habitat: air tawar, laut dan dalam tanah.
Protozoa mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Amoeba adalah asimetri,
mereka merubah bentuknya selama aktivitas normal. Simetri radial terlihat kebanyakan
dalam bentuk sesil, seperti Voticella. Simetri bilateral terbatas pada sedikit Protozoa,
seperti Giardia. Homosonik atau simetris speris ditampilkan oleh Radiolaria.
Tubuh Protozoa protoplasmanya dipisahkan dari lingkungan eksternal oleh
penutup. Bentuk penutup ini dapat berupa plasmalemma, pelikel, lapisan skeleton yang
meliputi sista, teka, lorika, cangkang atau test dan skleton radiolaria. Sitoplasma dibagi
menjadi ektoplasma dan endoplasma. Seluruh Protozoa memiliki inti, beberapa halnya
memiliki satu dan yang lain memiliki dua atau lebih yaitu mikronukleus dan
makronukleus.
Protozoa mempunyai organ lokomotor berupa pseudopodium, flagellum, silum dan
struktur kontraktil pelikular. Pseudopodia ialah bentuk sementra oleh aliran sitoplasma.
Empat bentuk dasar pseudopodia adalah lobopodia yaniti berbentuk pipih dan tumpul
serta mengandung ektoplasama dan endoplasma, contohnya ditemukan pada Amoeba
proteus, filopodia yaitu bentuk lancip dan hanya mengandung ektoplasma, contohnya
pada Diflugia oblonga; aksopodia yaitu bentuk yang mempunyai seludang sitoplasma
diatas filament aksial contohnya pada Actinosphaerum eichhorni; dan rizopodia yaitu
bentuk yang bercabang-cabang yang menghasilkan jaringan melalui fusi cabang-cabang
tersebut, contohnya pada Gromia (Gambar 6).

Gambar 6. Jenis-jenis Pseudopodia. A, lobopodia; B, filopodia; C, aksopodia; D,


rizopodia. (Hegner & Engemann, 1968)

Flagella adalah organ lokomotor yang terdiri dari 9 pasang serabut tepi longitudinal
membentuk silinder yang mengelilingi dua serabut sentral longitudinal yang ditutupi oleh
selubung dalam membran. Ujung aksonema pada dasar dalam granula disebut
blefaroplas atau badan granula atau badan granula atau kinetosom. Pada kelompok
khusus flagellum mempunyai apendiks berupa perluasa lateral dari seludang luar disebut
mastigonema. Struktur silia pada umumnya sama dengan flagella.
Gambar 7. Diagram ultrastruktur flagellum (Barnes, 1987) dan cillium (Kotplat et al.,
1981). A, Ultrastruktur flagella. B, Silia. Bandingkan dengan gambar.

Nutrisi pada Protozoa dicerna dalam vakuola makanan. Makanan mencapai


vakuola dengan cara ditelan atau fagositosis. Pencernaan terjadi secara intraseluler.

Gambar 8. Pembentukan vakuola makanan dan pencernaan pada Silliata seperti


Tetrahymena (Barnes, 1987).

Protozoa yang hidup bebas tidak tersebar diantara tubuh air pada tubuh air dalam
pakian yang sembarangan: setiap spesies lebih atau kurang terbatas untuk jenis habitat
yang pasti juga seperti hewan yang lebih tinggi. Beberapa spesies hidup di air tawar;
yang lain hanya di air garam; beberapa hidup berhubungan dengan dasar; yang lain
terapung di sekitar endapan dalam air; beberapa tidak diketahui hidup hanya di tanah.
Dan yang lain hanya di spagnum rawa.

2.2. PERANAN TERHADAP KEHIDUPAN


Protozoa meningkat kepentingannya dalam studi biologi molekuler untuk alasan-
alasan berikut. Beberapa lintasan biokimia digunakan oleh Protozoa seperti yang
digunakan oleh hewan-hewan renik, termasuk manusia. Protozoa dapat dikembang
biakkan di dalam media kimia, di dalamnya tidak terdapat spesies lain, untuk
mempercepat menghasilkan populasi yang besar dari sel-sel identik esensialuntuk
digunakan sebagai organisme percobaan dan kontrol. Mereka kadang-kadang digunakan
untuk bioassay sebab respon pertumbuhan mereka sensitif terhadap bermacam-macam
makanan.
Protozoa parasit juga agak jelas pembatasnya dalam habitat mereka. Setiap hewan
yang lebih tinggi yang telah dipelajari dengan hati-hati telah ditemukan untuk pelabuhan
Protozoa parasit. Setiap spesies hewan, lazimnya, diparasati oleh spesies Protozoa yang
khas untuk dirinya sendiri. Sebagai contoh, 28 spesies Protozoa yang berbeda diketahui
hidup di dalam tubuh manusia. Beberapa spesies ini terdapat pula di dalam tubuh kera,
tetapi hanya sedikit dari mereka telah dicatat dari hewan yang lain. Spesies parasit
biasanya dibagi dalam dua kelompok, yaitu yang hidup di dalam saluran pencernaan
dikenal sebagai Protozoa intestinum dan yang hidupnya secara prinsip di dalam darah,
sebagai Protozoa darah di luar habitat.
Bilyunan spesies yang hidup bebas mungkin berada di dalam suatu kolam.
Diantara jenis-jenis parasit kita dapat berhubungan dengan berjuta-juta siliata yang ada
di dalam lambung lembu dan berjuta-juta flagelata yang hidup di dalam sekum beberapa
tikus

2.3. KLASIFIKASI
Jumlah Protozoa yang besar ini mempunyai pembagian secara tradisional
berdasarkan arti gerakan mereka kedalam empat kelas: Sarcodina dengan kaki semu,
Mastifophora dengan flagela, Ciliata dengan silia, dan Sporozoa dengan tanpa organel
untuk bergerak. Sekarang ini, Komite Taksonomi dan Masalah Taksonomi Lembaga
Protozologiwan mempublikasikan klasifikasi Protozoa yang direvisi (Honigberg et al.,
1964). Klasifikasi mereka mencoba untuk menunjukkan filogeni dan refleksi penemuan
sekarang. Meskipun demikian hal ini lebih sederhana daripada suatu klasifikasi buatan,
dia mengikuti ini, dengan beberapa modifikasi, sebagai klasifikasi paling diminati untuk
memiliki kemantapan dimasa mendatang kelas-kelas Sarcodina mengikuti Bovee dan
Jahn (1965).

Menurut Hegner dan Engemann (1968), klasifikasi Protozoa adalah:

Super kelas Mastigophora (Protozoa berflagelum)


Meliputi semua Protozoa berflagelum. Secara mudah mereka dipisahkan ke dalam
dua kelas, yaitu; (1) spesies seperti tumbuhan atau Phytomastigophorea, dan (2) spesies
seperti hewan atau Zoomastigophorea.

Kelas 1: Phymastigophorea
Biasanya mempunyai 1 atau 2 flagel dan memiliki kloroplas
Ordo Chysomonadina
Ordo ini meliputi bentuk yang mengandung satu atau dua kromatofora colat dan
satu atau tiga flagela. Tubuh sering amoeboid dan makanan dapat diambil dengan
pseupodopodia. Nutrisi holofitik, holozoik atau keduanya.
Protozoa air minum. Beberapa spesies Chysomonadina memiliki keistimewaan
yang menarik sebab mereka kadang-kadang menjadi sangat banyak dalam air dalam
reservoar dan membuatnya tidak layak untuk diminum. Mereka seluruhnya berada dalam
kebiasaan berkoloni. Uroglenopsis americana membentuk koloni individu speris yang
tertanam dalam pinggiran matriks gelatin.

Gambar 9. A. Chysomonadinda. Koloni flagelata, kadang-kadang menjijikkan dalam air


minum. (A) Uroglenopsis americana. (B) Dibnobryon sertularia. (C) Synura
uvella. (Hegner & Engemann, 1968).
Terdapat sebuah stigma dan kromatofora seperti lemengan. Dibnobryon sertularia
seperti jambangan, hialin, atau tes selulosa kuning, biasanya stigma dan satu atau dua
kromatofora coklat. Synura uvella terdiri dari 2 sampai 50 individu yang tersusun secara
radial; masing-masing mempunyai stigma dan dua kromatofora coklat. Uroglenopsis
disebut spesies terburuk, menimbulkan bau anyir: bila dalam jumlah yang besar
menyerupai minyak ikan. Bau ini disebabkan minyak aromatik yang diuraikan oleh
organisme selama pertumbuhan dan dibebaskan bila mereka mati dan dihancurkan.
Mereka dikenali bila keberadaanya dalam jumlah kecil: sebagai contoh, minyak Synura
menghasilkan kemungkina bau dalam pencairan 1 bagian minyak terhadap 25 juta bgaian
air. Perlakuan air dengn tembaga sulfat membunuh Protozoa ini kemudian bau berangsur
angsur hilang.
Ordo Cryptomonadida. Chilomnas paramecium adalah spesies yang umum milik
dari ordo ini. Panjang sekitar 35 mikron, tanpa kromatofora dan karena itu tidak
berwarna dengan dua flagela anterior, satu vakuola kontraktil pada suatu tempat dekat
ujung anterior, sebuah inti speris posterior terhadap puasat, dan satu masa endoplasma
yang jelas strukturnya berlubang. Partikel makanan yang tidak dapat ditelan, tetapi
substansi nutrisi diserap melewati permukaan tubuh.

Gambar 10. Phytomastigophorea. (A) Dipnoflagellida; Ceratium macroreas. (B)


Cryptomonadida; Chilomonas paramecium. (C) Volvocida; Haematococcus
lacustris. Menyebabkan air hujan dan salju merah bila berada dalam jumlah
besar. Aktivitas, istirahat dan tahap pembelahan (D) Dipnoflagellida; Noctiluca
scintillans (Hegner & Engemann, 1968).

Ordo Dipnoflagellida (Gambar 12,A dan 12, D). Karakteristik paling umum
bentuk Dipnoflagellida adalah cangkang dan apartus flagela. Cangkang atau lorika
adalah struktur yang kaku, kadang-kadang sangat aneh, tersusun oleh glukoasa atau
substansi gabungannya, yang biasanya mempunyai celah longitudinal, sulkus, dan celah
sirkular, selimut (anulus). Terdapat 2 flagela yang dianggap berasal dari lubang lorika
dan seolah-olah berada dalam celah itu. Flagelum di dalam sulkus meluas diluar
jangkauan dan meyediakan kekuatan yang banyak, undulasi flagelum di dalam selimut
tumbuh cukup di atas permukaan organisme untuk mneyediakan kekuatan pendorong.
Mayoritas Dipnoflagellata holpitik dan memiliki kromatofora, yang dapat coklat,
hijau pucat, atau kuning. Sedikit spesiesnya, bagaimanapun, memiliki cara makan
holozoik dan bahkan dapat menelan makanan meeka dengan pseudpodia. Terdapat
stigma. Reproduksi aaseksual dengan melakukan pembelahan.
Ekologi Dipnoflagellata. Paling banyak Dipnoflagellata adalah speises air garam;
sejumlah besar adalah parasit, dan beberapa hidup di air tawar, Ceratium hirundinella
(Gambar 12, A) dengan pasti ditemukan di perairan air tawar dan garam. Suatu spesies
laut yang menarik adalah Noctiluca scintillans (Gambar 12, D). Dia berbentuk speris,
simetri bilateral, dan biasanya berdiameter 500 sampai 1000 mikron. Dia mempunyai
sebuah flagela kecil, sebuah tentakel, dan sitoplasma yang banyak vakuola. Kadang-
kadang noctiluka berlimpah di Atlantik dan Passifik sebagaiman warna iar merah dalam
kesehariannya dam membuat fosforen malam hari. “Pasang merah” bertepatan dengan
melimpahnya beberapa spesies Dipnoflagelat, sering Gymnodium brevis. Minyak yang
tersimpan sebagai bahan makanan oleh Dipnoflagellata menyebabkan “pasang merah”
diperkirakan menjadi toksik terhadap hewan laut yang lain ketika dilepaskan dalam
jumlah besar melalui kematian alami sejumlah Dipnoflagellata tersebut. Teluk Meksiko
telah menjadi tempat “pasang merah” yang membunuh ikan. Dipnoflagellata adalah
Protozoa simbiotik yang kehadirannya di dalam sel beberapa invertebrata lau, sperti
karang dan moluska. Sebagai Dipnoflagellata simbiotik, dianggap menyediakan
keuntungan makanan terhadap inang mereka, dikenal dengan istilah Zooanthellae. Pada
asosiai mutualisme, Dipnofalgellata tidak dapat dikenali tetapi mereka medapatkan
kembali karakteristik Dipnoflaegllata mereka bila keluar dari inang.
Ordo Euglenida. Euglenida umumnya flagelata yang menyimpan makanan
dengan membaikkannya sebagai paramilum. Seluruh Euglenida menjadi undulasi
menggeliat dikenal sebagai metaboli; sebagai gerakan metabolik bukan gerakan
amoeboid. Euglena agak bertipe genus dan keberadaanya secara prinsip karakteristik
kelompok. Beberapa spesies yang menarik umumnya berada di air tawar. Euglena
pisciformis adalah spesies berbentuk gelendong dengan aktivitas yang tinggi. E. Spirogya
berukuran besar dan lamban. E. Sanguinea mempunyai hematokrom. E.deses
mempunyai flagelum yang sangat pendek dan dengan metabolik yang tinggi. Genus
Phacus (Gambar 13, A) diwakili oleh beberapa spesies air tawar. Tubuhnya kebanyakan
pipih, dan kutikula mempunyai lurik yang menyolok. Terdapat kromatofora hijau.
Peranema trichophorum (Gambar 13, C) adalah spesies yang umum. Tubuh pipih dan
meruncing pada ujung posterior bila bergerak, dan flagelum yang panjang dengan
getaran ujung meluas ke luar dari titik ujung anterior. Tubuh sangat metabolik bila
stasioner. Heteronema acus terdapat di air tawar dan di tanah. Dua flagela timbul dari
ujung anterior: satu langsung ke depan dan yang lain ke belakang. Tubuh tanpa warna,
metabolik, dan bertitik di kedua ujung.
Coprmonas substilis adalah spesies yang menarik karena dia koprozoik, yang
terdapat pada hewan tingkat tinggi yang mana dia menemukan lingkungan yang cocok.
Telah dicatat dari tinja katak, kodok, babi, dan manusia. Spesies parasit, Euglenamorpha
hegneri yang umumnya terdapat pada tinja katak dan kecebong kemungkinannya milik
dari kelompok ini, dan jika demikian hanya mewakili yang memiliki tiga flagela. Dia
tinggal diantara masa makanan dan dinding intestinum atau rektum kecebong dan dapat
dipindahkan dari satu kecebong ke spesies lain yang sama atau berbeda dengan cara
sosiasi kecebong terinfeksi dengan kecebong bersih atau dnegan cara memakan
kecebong bersih dengan rektum dari hewan yang terinfeksi.

Gambar 11. Euglenidae. (A) Phacus longicadus. (B) Heteronema acus. (C) Peranema
trichophorum. (D) Copromonas subtilis. (E). Euglenamorpha hegneri.
(Hegner & Engemann, 1968).

Ordo Volvocida. Volovocida tidak diragukan berkelompok erat dengan alga.


Tubuh ditutupi oleh membran selulosa yang kaku. Bentuk flagelata bermacam-macam,
flagela tersisipkan melewati lubang-lubnag pda dinding selulosa. Paling banyak spesies
secraa terpisah holopitik dan mempunyai kromatofora hijau berbentuk cangkir yang
besar. Sedikit bentuk tanpa warna yang hidup secara sapropitik berhubungan dengan
ordo ini, tetapi dalam bukan kasus yang dibahas beberapa bentuk menelan makanan
padat. Terdapat juga sebuah stigma merah atau bintik mata. Reproduksi aseksual
menumbuhkan sejumlah kawanan berflagela kecil. Fenomena seksual dengan pasti
dikenal bagi sejumlah besar spesies. Pembenukan koloni agaknya berulang-ulang. Suatu
kelompok genus yang memiliki paling banyak famili Vovocidae dapat disusun untuk
menggambarkan evolusi organisme multiseluler dari uniseluler dan juga evolusi kelamin,
sebagai penanda dalam paragraf berikut dan Gambar 12.
Spondylomorium (Gambar 12, A) adalah koloni yang biasaannya 16 sel dalam
setiap koloni. Sel-sel ini praktisnya independen. Masing-masing mereka bereproduksi
dengan cara pembelahan membentuk koloni seperti koloni tetuanya. Tidak ada
pembentukan gamet yang diketahui.
Chlamydomonas (Gambar 12, B) adalah jenis uniseluler yang bereproduksi secara
vegetatif melalui pembelahan menjadi dua, empat, delapan sel anak juga menghasilkan
gamet, selauhnya dalam satu ukuran, yang bergabung bersama dalam pasangan
pembentukan zigot. Zigot mengalami pembelahan menghasilkan jumlah individu
uniseluler vegetatif. Setelah pembelahan vegetatif, sel-sel dapat dipertahankan dalam
kelompok yang berbentuk tidak teratur dalam suatu kelimpahan bahan gelatin yang
secara bertingkat memisah sebagai mantel sel-sel individu. Sebagai suatu kelompok sel
yang bukan koloni sebenarnya dikenal sebagai formasi palmella.
Pandorina (Gambar 12, C) adalah koloni yang berbentuk 16 sel yag tertanam
matriks gelatin, masing-masing terpisah dengan yang lain. Koloni baru dihasilkan oleh
masing-masing sel melalui pembelahan. Gamet juga terbentuk, beberapa menjadi lebih
besar dari yang lainnya. Gamet yang besar menyediakan diri untuk bergabung dengan
satu yang lebih kecil untuk membentuk zigot. Karena reproduksi seksual biasanya
meliputi penggabungan sebuah gamet betina yang besar dengna gamet jantan yang lebih
kecil, proses pada Pandorina memperlihatkan melengkapi suatu tahap awal pada evolusi
kelamin.
Gambar 12. Koloni Volvocida. (A) Spondylomorium quaternarium. (B) Chlamydomonas
monadina. (C) Pandorina morum; aktif membelah dan penyatuan gamet ke
dalam sebuah zigot (Dari Oltmans dan lainnya). (Hegner & Engemann, 1968).

Eudorina adalah koloni bertipe 32 sel. Setiap sel dapat mereproduksi suatu koloni
secara vegetatif melalui pembelahan. Pada saat sel-sel khusus koloni menjadi besar; ini
adalah karakteristik koloni betina sel-sel yang besar adalah makrogamet. Pada koloni
jantan, setiap sel membelah membentuk 16 atau 32 mikrogamet. Mikrogamet bergabung
dengan makrogamet pada pasangannya membentuk zigot. Pada genus ini hal ini tidak
diragukan tentang perbedaan ukuran diantara sel gamet-gamet yang berkonjugasi.
Pleodorina adalah koloni agak sedikit speris, seperti Eudorina dengan sel-sel
tersusun pada permukaan dengan flagela keluar. Bagaimanapun, beberapa sel adalah sel-
sel somatik yang kecil yang tidak mempunyai kemampuan reproduktif. Sel-sel somatik
ini terletak pada suatu ujung; sel-sel generatif yang besar melengkapi mayoritas susunan
speris.

Gambar 13. Vovox globator


Sebuah koloni besar flagelata. (A) sebuah koloni matang seksual, menunjukkan
mikrogamet dan makrogamet pada macam-macam tahap perkembangan, detil
permukaan dihilangkan atas internal gamet. (B) bagian ujung koloni yang dengan
tinggi membesar, menunjukkan tiga sel flagelata digabungkan oleh untai
protoplasma, sebuah sel reproduktif tunggal. (C) Sebuah sel tunggal dihubungkan
dengan sel-sel permukaan oleh untai protoplasma. (dari Kolliker, dari Bourne)
(Hegner & Engemann, 1968).

Vovox globator (Gambar 13) mewakili tahap akhir dalam rangkaian. Ribuan sel-sel
vegetatif dalam koloni digabungkan oleh untai protoplasma; kelanjutan fisiologi
berikutnya ditetapkan diantara sel, suatu keadaan yang tidak ditemukan pada koloni yang
dideskripsikan sebelumnya. Paling banyak sel mengandung sebuah bintik mata, klorofil,
vakuola kontraktil, dan dua flagela. Ini adalah sel-sel somatik. Produksi koloni anak
diselesaikan oleh sel-sel reproduktif khusus yang diutarakan bukan untuk tujuan ini.
Proses cara reproduksi aseksual adalah sebagai berikut. Sel-sel khusus koloni lebih besar
dari yang lain dan flagela lebih tebal; jumlah ini dalam satu koloni bertambah ukurannya
dan membelah dengan pembelahan sederhana menjadi jumlah sel yang besar,
menghasilkan koloni baru tanpa pembuahan. Sel-sel yang bertindak dalam cara ini
bernama pertenogonidia. Cara reproduksi seksual dapat diamati pada koloni yang
mengandung sebanyak 50 sel-sel besar tanpa flagela. Beberapa barisan yang besari ini
dan dapat dikenali sebagai sel-sel betina atau makrogamet; yang lainnya dihasilkan
melalui pembelahan sederhan, mengandung 128 sel-sel jantan berbentuk gelendong atau
mikrogamet. Pengabungan ini dengan makrogamet. Zigot selanjutnya membentuk sekret
mengelilingi dinding dan kondisi ini musim dingin dilewati. Mengikuti musim semi zigot
memecahkan dinding dan dengan pembelahan menghasilkan sebuah koloni baru. Sel-sel
somatik yang lebih kecil terkandung dalam koloni induknya jatuh ke dasar dan berpisah
secepatnya koloni baru dihasilkan oleh fertilisasi sel-sel germinal yang telah dilepaskan.
Pada Pleodorina dan Volvox, sel-sel somatik sejati ditemukan untuk pertama kali,
sel-sel yang fungsinya hanya vegetatif dan tidak dapat memproduksi koloni. Dalam
bentuk deskripsi lain setiap sel berkemampuan bereproduksi seluruhnya. Volvox juga
mengandung sel-sel germinal sejati, yaitu sel-sel yang telah memberikan fungsi nutritif
terhadap berlangsungnya reproduksi. Lebih jauh, suatu kejelasan kematian alami yang
terjadi pada sel-sel somatik ketika mereka jatuh ke dasar kolam dan berpisah. Tubuh
hewan yang lebih tinggi mengandung sejumlah sel yang dapat membelah menjadi sel-sel
somatik dan germinal. Berikutnya jantan atau betina juga. Pada paling banyak kasus
penyatuan sel-sel betina dengan jantan dibutuhkan sebelum hewan baru dapat
bereproduksi. Pada rata-ratanya, berupa sel-sel germinal ini utamanya kelanjutan spesies
baru dengan menghasilkan individu baru, sementara sel-sel somatik mati bila hewan
mati.

Kelas 2: Zoomastigophora
Biasanya memiliki 1 atau beberapa flagella dan tanpa kloroplas.
Ordo Choanoflagellida. Ordo Choano-flagellida mengandung sejumlah kecil
spesies hidup bebas dan mempunyai flagellum tunggal mengelilingi pada dasar dengan
sebuah leher yang lembut. Spesies air tawar ialah Monosiga brevies (Gambar 14, B).
Berleher, sel-sel berflagel terdapat dalam ordo Protozoa ini, pada spons dan pada
Echinodermata.
Gambar 14. Zoomastigophora. (A) Oikomonas termo. (B) Monosiga brevipes. (C)
Mastigamoeba invertens. (D) Bodo saltans. (E) Cercomonas longicauda.
(F) Monas vulgaris (Hegner & Engemann, 1968).

Ordo Rhizomastigida. Ordo Rhizo-mastigida dicirikan oleh kenyataan bahwa


orgnisme ini menelan makanannya pada beberapa titik di tubuhnya dengan
mengartikannya sebagai pseudopodia. Mereka menampilkan karakter peralihan antara
Sarcodina sejati pada suatu sisi dan Mastigophora pada sisi lainnya yang sangat sulit
untuk membatasi ini kekerabatan mereka. Spesies yang umum di air tawar dan di tanah
adalah Mastigomoeba aspera. Spesies ini memiliki flagelum yang panjang dan
mendorong keluar pseudopodia seperti telunjuk. Mastigomoeba hyale adalah spesies
parasit yang terdapat di dalam usus besar kecebong katak. Sebuah flagelum inaktif
tumbuh dari inti pada ujung anterior. Histomonas meleagridis menyebabkan suatu
infeksi hati pada ayam kalkun dan burung hantu yang lain. Tidak ada tahap sista yang
diketahui tetapi flagelata amoeboid dapat didapatkan dari satu inang ke yang lain pada
telur parasit burung hantu yang berbeda, nematoda Heterakis gallinae.
Ordo Kinetoplastida. Ordo Kineto-plastida membandingkan sejumlah flagelata
yang umumnya berukuran kecil, dan hanya satu sampai empat flagela. Kebanyakan
spesies parasit. Ordo ini memiliki keistimewaan sebab dia meliputi flagelata yang hidup
pada darah dan jaringan manusia.
Kinetoplastida yang hidup bebas, Oikomonas termo (Gambar 14, A) adalah jenis
sederhana yang umumnya sering di air tawar dan tanah. Dia sangat kecil (berdiameter 4
sampai 5 mikron), berbentuk speris, dan memiliki flagelum tunggal yang panjang. Bodo
caudatus, Cercomonas longicauda (Gambar 14, E) dan Monas vulgaris (Gambar 14, F)
sangat umum di air tergenang dan masuk., dan dua yang pertama adalah koprozoik. Bodo
(Gambar 14, D) menghindar dan plastis dengan dua flagela anterior, satu mengatur ke
depan dan yang lain menjejaki di belakang, dan inti spesir dekat atau anterior terhadap
pusat tubuh. Cercomonas sama dengan Bodo, tetapi flagelum penjejak menempel
terhadap sisi tubuh dan nukleus piriformis. Monas memiliki dua flagela anterior yang
mengatur maju, satu flagelum primer lebih panjang dan yang lain flagelum sekunder
lebih pendek.
Enam genus spesies parasit yang dijelaskan pada paragraf berikut dengan jelas
berhubungan erat. Mereka termasuk yang biasanya dikelompokkan bersama sebagai
flagelata hidup di dalam darah untuk menjelaskan mereka darim kelompok lain yang
hidup di saluran pencernaan, disebut flagelata usus. Selama siklus hidupnya
Tryphanosoma boleh dianggap tahap tripanosoma, kritidia, herpetomonaddan leishmania
(perhatikan Gambar 15); herpetomonas boleh berada pada tahap-tahap tripanosoma,
kritida, herpetomoand dan leihsmania; Crithida pada tahap kritidia, herpetomoand dan
leihsmania; Leishmania pada tahap herpetomoand dan leihsmania. Fenomen ini spesies
tunggal yang mempunyai bentuk berbeda pada waktu berbeda ini dikenal sebagai
polimorfisme.

Gambar 15. Kinetoplastida


(A) Trypanosoma rotarium, dari katak. (B) Trypanosoma diemyctyli dari kadal
air. (C) Leishmania donovani, dari manusia. (D) Hepertomonas muscarum dari
lalat. (E) Phytomonas elmassiani, dari tumbuhan milkweed. (F) Crithidia
gerridis, dari caplak air. Beberapa kinetoplastida mempunyai beberapa tahap;
tahap tripanosoma mempunyai membran undulasi yang meluas melalui inti;
tahap kritidia mempunyai membran undulasi yang lebih pendek; tahap
herptomonad tidak mempunyai membran undulasi; dan tahap leishmania juga
mempunyai membran undulasi tanpa flagelum eksternal (Hegner & Engemann,
1968).
Genus Trypanosoma. Hewan Trypanosoma tersebar luas di antara hewan-hewan.
mereka terdapat pada manusia, burung, reptil, amfibi dan ikan. Jenis-jenis spesies,
T.rotarium (Gambar 15, A) terdapat dalam darah katak dan bukan tidak umum di negeri
ini. Spesies yang lain, T. Diemyctyli (Gambar 15, B) berada di darah umumnya kadal air
berbintik merah tua, Triturus’ viridescen, pada lokasi tertentu.tiga spesies yang
diketahui berasal dari manusia: Trypanosoma gambiense dari organisme penyakit tidur
orang Gambian dan T. rhodiense dari penyakit tidur orang Rhodesia di Afrika; dan T.
cruzi dari penyakit Chagas di Amerika Tengah dan Selatan. Jenis-jenis Afrika juga hidup
di padang perburuan, seperti antelop dan dipindahkan oleh lalat tsetse; jenis-jenis
Amerika terdapat khusus di armadillo, yang menyajikan sebagai penampung dari agen
yang dipindahkan, hama pencium triatoma, dapat menerima infeksi mereka. Seluruh
tripanosoma manusia adalah partenogenik dan perlahan-lahan menyebabkan kematian
inang.
Trypanosoma adalah hewan kebanyakan tidak patogen. T. lewisi tikus padang
adalah contoh yang bagus dari jenis ini. Tikus diyakini menghasilkan substansi yang
disebut ablasan, melalui beberapa cara yang tidak diketahui. Ablastin menghambat
pembelahan T. lewisi tetapi tidak menghancurkan mereka. Diantara tripanosoma yan
lebih penting yang menyebabkan pda hewan tingkat rendah adalah T. equiperdium,
organisme penyakit kuda dikenal sebagai duorin; T.brucei, organisme nagana dalam
macam-macam hewan domsetikasi; T. evansi, surra pada hewan domestikasi; T.
equinum, mal-de-caderas pada kuda dan begal; dan T. hippicum, murina pada kuda dan
begal. Tripanosoma sering lokal dalam distribusi mereka, hal ini beberapa spesies
terbatas bagi hewan khususnya di daerah geografi yang tertentu. Hal ini hal primer untuk
menyatakan bahwa agen pemindahan adalah pembatas secara geografi. Untuk bagian
terbanyak, agen pemindahan tripanosoma hewan teresterial adalah serangga penghisap
darah dan hewan-hewan akuatik lintah penghisap darah. Agen pemindah ini biasanya
aktif membawa, tripanosoma melewati bagian siklus hidup mereka dalam tubuh mereka
dan tidak semata-mata dipindahkan secara mekanis oleh mereka sebagai bakal demam
tipoid yang disebarkan oleh lalat rumah yang membawa secara pasif.
Genus Leishmania. Leishmania-leishmania kemungkinan dipindahkan dari
manusia ke loleh alat pasir. Kala-azar suatu penyakit yang tersebar luas di Asia
disebabkan oleh Leishmania donovani (Gambar 15, C), spesies yang khususnya
menyerang sel-sel endotel dan makrofag. Juga terlokalisir di Timu Jauh atau Dekat
adalah L. tropica, yaitu organisme penyakit oriental atau leishmaniasis kulit. Sekali
diserang oleh spesies ini memberikan kekebalan terhadap infeksi kemudian. Jenis-jenis
leishmaniasis kulit yang terdapat di Amerika Tengah dan Selatan disebabkan oleh L.
brazilliensis, spesies yang mirip L. tropica secara morfolgi tetapi berbeda reaksi
serologinya.
Genus Crithidia parasit pada arthropod dan invertebrata yang lain. Spesies yang
dapat dengan mudah dibutuhkan untuk dipelajari adalah C.gerridis (Gambar 15, F) dari
usus caplak air genus Gerris.
Genus Herpetomonas juga hidup di invertebrata. Spesies yang paling siap dijamin
untuk penelitian adalah H. muscarum (Gambar 15, D) yang hidup di usus lalat rumah
umum dan lalat lainnya.
Genus Leptomonas sama dengan Herpetomonas strukturnya dan juga hanya
memparasiti invertebrata. Spesies yang jarang, Leptomonas karyophillus, hanya dikenal
zooflagellata parasit pada protozoa lainnya. Dia ditemukan pada makronukleus
Paramecium.
Genus Phytomonas (Gambar 15, E) gaji menarik sebab dia terdapat dalam latks
tumbuhan, seperti milkweed dan Euphorbhia, dan dipindahkan oleh serangga hemiptera.

Ordo Diplomonadida. Diplomona-dida adalah protozoa dengan simetris bilateral


yang mantap.mereka termasuk satu lebih dari banyak flagelata usus umum manusia,
Giardia lamblia (Gambar 16, E). G. lamblia hidup di dalam duodenum dimana dia
menjaga dirinya sendiri dari serangan kekuatan gerakan peristaltik dengan cara
berpegang teguh terhadap dinding usus oleh keing penghisapnya. Dia memperbanyak
diri dengan pembelahan biner dan membentuk sista yang keluar tubuh pada tinja
menginfeksi orang lain yang makanan dan minumannya terkontaminasi. Giardia-giardia
terdapat di beberapa vertebrata lain dan bisa paling baik dibutuhkan untuk penelitian dari
usus laboratorium tikus dan kecebong katak. Anjing, kuda, mencit, kelinci, guinea-pig¸
bangau dan beberapa jenis mamalia lain diparasiti oleh spesies giardia yang aneh milik
mereka sendiri.
Hexaminata (Gambar 16, D) adalah diplomonad dengan enam flagela anterior dan
dua posterior, dengan spesies hidup dalam macam-macam hewan yang luas termasuk
tikus laboratorium, ayam kalkun, ikan salmon, dan kecoa.
Gambar 16. Flagelata usus. (A) Tricomonas hominis, sari manusia, (B) Chilomastix
mesnili, dari manusia. (C) Polymastix bufonis, dari kodok. (D) Hexaminata
salmonis, dari ikan salmon. (E) Giardia lamblia, sista, dari manusia. (Hegner
& Engemann, 1968).

Ordo Tricomonadida. Ordo Tricomonadida mengandung beberapa flagelata usus


manusia. Trichomonad memiliki tiga sampai lima flagela anterior dan satu flagellum
pengulangan sering bersosiasi dengan sebuah membrane undulasi. Mereka juga
mempunyai struktur penyokong longitudinal dikenal sebagai aksostil. Trichomonad
hidup dalam mulut, usus besar dan vagina, dan persentase yang besar dari populasi
umum diinfeksi mereka. Bukan hal yang istimewa bahwa lebih dari satu spesies berada
dalam tubuh manusia, tetapi mereka telah diberikan nama khusus. Selanjutnya, mulut
membentuk yag dikenal sebagai Trichomanas tenax; yang di dalam usus T. hominis
(Gambar 16, A); dan vagina membentuk T. vaginalis. Tidak ada sista yang terbentuk
oleh trichomonad; karena itu mereka harus dipindahkan dalam keadaan aktif, tahap
tropozoid. Trichomonad berlimpah pada hewan tingkat rendah.
Beberapa flagelata lain yang hidup dalam saluran pencernaan bermacam-macam
hewan adalah di Trichomonadida atau hewan lain yang berkerabat dekat. diantara
mereka adalah spesies dari genus Chilomastix dan Polymastix. Chilomastix mesnili
(Gambar 16, B) hidup di dalam usus besar manusia. Spesies yang lain terdapattikus,
kelinci dan hewan-hewan umum lain. Polymastix hidup dalam beberapa hewan tingkat
rendah tetapi tidak pada manusia. P. melolonthae ditemukan di ayam chafer, P. bufonis
(Gambar 18, C) hidup dalam katak dan kodok. Flagelata usus manusia dikatakan tidak
patogen pada kebanyakan kasus infeksi.

Ordo Hypermastigida. Ordo Hypermastigida meliputi sejumlah flagelata aneh


yang hidup di dalam usus seranga tertentu dan memiliki beberapa struktur yang sangat
lengkap. seluruh bentuk membawa flagela, yang tersusun di dalam kantung atau dapat
tersebar di seluruh tubuh. hal ini adalah hanya ordo zooflagelata yang reproduksi seksual.
ditambahkan untuk menemukan seksualitas pada mereka, Cleveland telah
mendemonstrasikan suatu koelasi keberadaan antara proses reproduktif beberapa
protozoa ini dan siklus hormone inang lipas kecil kayu mereka.
Flagelata usus rayap. Flagelata usus rayap adalah spesies yang menarik
disebabkan jumlah spesies, jumlah individual dalam rayap tunggal, kompleksitas mereka,
jumlah flagela yang dimiliki mereka, dan antara hubungan simbisosis antara mereka
dengan inang. spesies flagelata dari paling sedikit 11 famili da 40 genus telah dlaporkan
dari rayap. Spesies yang kami ilustrasikan sangat berkembang flagela dan kompleksitas
tubuhnya adalah Trychonympha campanula. Suatu contoh hubungan simbiotik yang
sangat baik dilengkapi oleh kekhususan flagella dan inang mereka. Flagelata membuat
selulosa (pada kayu) dapat dimakan rayap dicerna oleh serangga; tanpa pertolongan
flagelata pemkaan kayu tidak dicerna dan rayap menderita kelapan untu kematiannya
(Gambar 17).

Gambar 17. Flagelata usus rayap. (A) Sundurella tabogae, dari Lobitermes longicolis.
(B) Spirotrichonympha flagellate, dari Reticulitermes lucifugus. (C)
Probocidiella kofoidi, dari Cryptotermes dudleyi. (D) Streblomastrix, dari
Termopis laticeps. (A,B,C, fari Kirby; B, dari Garssi). (Hegner & Engemann,
1968).

Genus Lephomonas mngandung spesies yang umum ada di usus kecoa. L.


blattarum mempunyai tubuh piriformis dan membawa sebuah berkas flagella pada ujung
anterior. L. striata berbentuk gelendong dan dicirikan oleh tubuh seperti roda yang
tersusun miring pada tepi tubuh.

Super Kelas Sarcodina


Suatu Protozoa yang mengandung pseudopodia. Bentuk tubuh asimetri atau simetri
speris. Sarcodina dibagi menjadi dua kelas yaitu Hydraulea dan Autotractea.

Kelas Hydraulea
Seluruh bagian pseudpo-dium memiliki pengaturan gerakan yang sama berhubugan
aksis pseudopodium.

Ordo Amoebida. Sarcodina yang mengandung pseudopodia lobosa tetapi tidak


mengandung cangkang. Contoh: Amoeba proteus, A. discoides, A. verrucosa, Pelomyxsa
merupakan jenis-jenis yang berenang bebas. Entamoeba gingivalis, E. histolytica, E. coli,
Endolimax nana, Iodamoeba buschlii dan Dientamoeba fragilisi merupakan contoh yang
parasite (Gambar 18)

Gambar 18. Amoeba parasit pada manusia


A, Entamoeba coli, memperlihatkan pseudopodium, ini dan vakuola makanan; B,
E. coli, sista mengandung 8 inti dan sedikit badan kromatoid; C, E. hystolica,
organisme amoea disentri, mengandung inti dan kopuskel darah merah; D, inti
Entamoeba, E, inti Endolimax; F, inti Iodamoeba; G, inti Dientamoeba.

Ordo Arcellinida. Hewan dari ordo ini mempunyai cangkang yang disekresikan
oleh hewan itu sendiri. Cangkang ini melengkung di atas dan mempunyai lubang di
tengah bagian bawah. Umumnya hdup di air tawar meliputi genus Arcella, Difflugia,
Centropyxis dan Euglypha. Ordo ini terdiri dari genera Arcella vulgaris, mempunyai dua
inti. A. dentate, mempunyai dua inti. A. polypore adalah Difflugia oblongan mempunya
cangkang berbentuk botol dengan leher silinder yang kurang jelas, D. lobostoma
mempunyai cangkang speris atau ovate dengan lubang mulut terbuka, D. coronaI
memuny cangkang speris dengan sejumlah variable dari pada ujung yang berlawanan
dari lubang mulut. (Gambar 19).

Gambar 19. Ordo Arcellinida. A, Arcella vulgaris; B, Arcella dentate; C, Euglypha


acanthophora; D, Lecquereusia modesta; E, Difflugia corona; F,
Centropyxis aculate. (Hegner & Engemann, 1968).

Ordo Mycetozoida. Ordo ini dikenal sebagai hewan slime molds. Mereka
mempunyai dinding sista selulosa dan tubuh seperti tubuh buah jamur. Contohnya adalah
Stemonitis.
Kelas Autotractea
Pseudopodia berbentuk silinder dan pergerakan dapat terjadi dalam pengaturan
yang berlawanan terhadap tempat yang berlawanan dari pseudopodia yang sama;
pseudopoda seringkali berbentuk aksial.

Ordo Heliozoida. Tubuh dibagi dua kelompok yaitu lapisan kortk yang
mengandung vakuola kontraktil dan tumbuh menjadi pseudopodia; dan lapisan medula
yang mengandung inti, vakuola makanan. contohnya adalah Actinophrys sol dan
Actinosphaerium eichhorni (berukuran mencapai satu millimeter). (Gambar 20)

Gambar 20. Heliozoida. A, Pseudopora volvocis (parasite pada Volvox); B. Vamvirella


lateritia; C, Actinosphaerium eichhorni (Hegner & Engemann, 1968).

Ordo Radiolaria. Secara eksklusif di laut dan memiliki kapsul sntral, yang
struktur membrannya dibagi menjadi daerah inra dan ekstra kapsuler. Daerah ekstra-
kapsul dibagi menjad tiga lapisan, yaitu (1) lapisan asimilatif yang mengandung
makanan, (2) lapisan kalmia yang mengandung sebagian besar vakuola dan menyokong
fungsi hidrostatis, dan (3) lapisan eksternal yang mengelilingi tubuh dan dari situ
aksopodia tumbuh.
Ordo Foraminiferida. Seluruhnya mempunyai cangkang yang mungkin kitin,
calcarea atau material lain. sedikit yang bercangkang silica. Dua jenis struktur umumnya
berada dalam spesies yang sama yaitu (1) bentuk mikrosperis, dapat diidentifikasi
dengan rongga pertama yang kecil, yang menghasilkan individu secara aseksual, (2)
bentuk megalosperis, dapat diidentifikasi dengan rongga pertama yang besar yang
menumbuhkan gamet berflagela berfusi untuk menghasilkan bentuk mikrosperis.
Umumnya hewan ini hidup di dasar laut, kecuali Allogromia yang hidup di air tawar.
Contoh Globigerina bulloides (kosmopolitan di lumpur dasar dengan kedalam 3.000 m,
digunakan ahli geologi untuk korelasi stratigrafik sedimentasi batuan).

Gambar 21. Cangkan Foraminiferida. A. Globigerina bulloides; B. Rotali beccari; C.


Nummulites laevigatus; D, Nodosaria; E, Glumbelina. (Hegner & Engemann,
1968).

Super Kelas Sporozoa


Tidak mempunyai alat gerak, biasanya terbentuk spora. Hidup sebagai parasit
interna, hidup diantara sel inang invertebrate atau vertebrata. Makanan langsung diserap
dari induk semang. Siklus hidup yang lengkap, biasanya membentuk pembelahan
(schizogony), reproduksi aseksual dan pembentukan spora (sporogony). Dibagi menjadi
tiga kelas.

Kelas Terosporea
Tanpa filamen kutub, spora sederhana mempunyai zoid yang banyak. Dibagi
menjadi tiga ordo.
Ordo Gregarinida. Umumnya parasit pada insekta khususnya di saluran
pencernaan. Leidyana erratica, menyerang sel-sel usus jangkik. Monocystis menyerang
vesika seminal cacing tanah. Gregarina blattarum hidup pada usus belalang, kecoa dan
cacing.
Gambar 22. Teleospora. A. Gregarinidia, Leidyana erratica, B. Gregarina blattarum, C.
Coccida, Isospora hominis. (Hegner & Engemann, 1968).

Ordo Coccida. Sporozoa yang seluruh siklus hidupnya (schyzogony dan


sporogoni) dilalui pada hospes tunggal. Eimeria stiedae adalah parasit pada kelinci.
Isospora hominis (Gambar 24) merupakan parasit pada manusia. E. schubergi parasit
pada sentipoda. E. zurnii parasit pada lembu.
Ordo Haemosporida. Sporozoa yang hidup dalam darah. Contoh: Plasmodium
columbae, P. vivax, P. falcifarum, P. malariae, P.berghel.

Gambar 23. Sporozoa darah. A, Haemoproteus di dalam korpuskel darah merah (dkdm)
burung; B, Lenkesterella dkdm katak; C. Karyolisus dkdm merah katak; D.
Babesia canis dkdm anjing; E. Korpuskel darah merah normal burung; F.
Plasmodium relictum dkdm merpati. (Hegner & Engemann, 1968).

Superkelas Cilliata (Infusoria)


Hewan ini memiliki silia selama siklus hidupnya. Mulut definitif (sitostom) ada.
Terdapat atau dua vakuola kontraktil. Umumnya memiliki 2 initi, yaitu mikronukleus
dan makronukleus. Dibagi menjadi empat kelas, yaitu Holotrichea, Peritrichea, Suctoria
dan Spirotrichea.

Kelas Holotrichea
Memiliki silia yang sederhana dan seragam dan daerah oral biasanya tidak
mencolok.
Ordo Gymnostomatida. Tidak mempunyai rongga bukal, sitostom terbuka
langsung ke permukaan. Contoh Coleps hirtus, spesies berbentuk tong yang ditutupi oleh
12 platela longitudinal dan tiga duri posterior; Lacrymaria olor, berbentuk silinder
probosis yang sangat fleksibel; Didinium nasutum, berbentuk silinder dengan silia;
Dileptus anser, mempunyai beberapa mikronukleus dan kromatin makronukleus yang
terdistribusi melewati faring. Buxtonella sulcata, parasit pada vcsekum sapi;
Amplhileptus branchiarium, bagian dari siklus hidupnya ada di insang kecebong
(Gambar 24).
Gambar 24. Gymnostomatida. A. Coleps hirtus; B, Lacrymaria olor; C, Dileptus anser;
D, Chilodonella cucullus; E, Amplhileptus branchiarium (Hegner &
Engemann, 1968).

Ordo Trichostomatida. Sitostom berada di dasar vestibulum. Contoh: Colpoda


steini biasanya hidup bebas. Isotricha intestinalis, berada di dalam lambung sapi.
Balantidium coli, parasit pada usus vertebrata dan invertebrata (Gambar 25).
Ordo Hymenostomatida. Silia tubuh seragam, memiliki membran undulasi dan
tiga membranela dalam rongga bukal. Genus Paramecium dibedakan menjadi dua
kelompok berdasarkan bentuk tubuhnya yaitu kelompok aurelia dan busaria. Kelompok
Aurelia dan busaria. Kelompok Aurelia berbentuk spindel dan panjang tubuh lebih dari
tiga kali lebar, contoh Paramecium aurelia (punya 2 mikronukleus), P. caudatum, P.
multinucleatum. Kelompok busaria memiliki bentuk lebih tumpul dan panjang tubuh
kurang dari tiga kali lebar tubuh, contoh P. calkinsi, P. woodruffi, P. trichium, P.
bursaria, Polycaryum.

Gambar 25. Trichostomatida. A, Colpoda steini; B, Isotricha intestinalis; C, Balantidium


coli; (Hegner & Engemann, 1968).

Kelas Peritrichea
Mempunyai silia oral yang encolo dan tanpa silia tubuh pada yang dewasa; silia
melambar melawan arah jarum jam dan dewasa seringkali seperti batang.

Ordo Peritrichida. Fase dewasa tidak mempunyai silia tubuh, tetapi silia oral
berkembang menonjol. Kebanyakan sesil. Kebanyakan ditempel oleh jamur pada daerah
ujung oral yang disebut skopula. Genus Vorticella, umum di air tawar. Vorticella
campanulla berbentuk seperti lonceng terbalik, mempunyai batang kontraktil, soliter.
Contoh lain adalah Calchaesium polupinum hidup di permukaan krustacea dan cangkang
molluska, Epistylis flavicans, dan Trichodina peduculus (Gambar 26).

Gambar 26. A, Vorticella campanulla; B, Calchaesium polupinum; C, Epistylis


flavicans; D, Trichodina peduculus (Hegner & Engemann, 1968).

Kelas Suctorea
Tidak mempunyai silia pada yang dewasa; mereka memperoleh makanan dengan
cara tentakel suktoreal dan biasanya berbentuk batang.

Ordo Suctorida. Sedenter yang sama sekali menggunakan mekanisme silia pada
dewasa dan tanpa rongga bukal. Ingesti dan menangkap mangsa dengan bantuan
tentakel. Contoh Podophyra collini (tubuh dengan batang), Sphaerophyra magna (tubuh
speris tanpa batang), Trichophyra salparum. (Gambar 27).

Kelas Spirotrichae
Mempunyai silia bukal yang menonjol, yang biasanya termasuk zona membranela
adoral, yang bergetar melawan arah jarum jam terhadap sitostom.
Gambar 27. A, Tokophyra lemnarum; B, T. lemnarum dengan 4 pita dan berkas silia
diujung; C, larva T. lemnarum; D, Shaerophyra; E, Ophryodendron
abientium. (Hegner & Engemann, 1968).

Ordo Heterotrichida. Silia menutupi seluruh tubuh atau bagian-bagian tertentu


tetapi ada zona adoral dengan silia yang besar atau membranella. Contoh Stentor
coeruleus (Gambar 30), silia biru jelas dengan mata telanjang. Silliata sapi, lambung
pertama dan kedua (rumen dan reticulum) sering ditempati Diplodinium, Entodinium,
Ostacodinium yang aerob obligat yang memakan bakteri, protozoa lain dan fragmen
makanan inang.

Gambar 28. Stentor coereleus (Hegner & Engemann, 1968).

2.4. CONTOH TERPILIH


2.4.1. Euglena
Genus Euglena mengandung lebih dari selusin spesies. Dua yang umum
ditemukan di dalam kolam dipenuhi alga yaitu E. Viridis dan E. Gradilis. Mereka hijau
dan meskipun sebagai hewan bersel tunggal tidak dapat terlihat dengan mata telanjang-
suatu gabungan bersama dari masa yang besar memberikan warna hijau ke perairan.
Sitologi. (Gambar 29). Euglena adalah sel tunggal memanjang runcing di ujung
posterior, dan tumpul pada ujung anterior. Dua jenis sitoplasma dapat dijelaskan pada
Euglena seperti pada Amoeba dan Paramecium, lapisan luar yang tebal, ektoplasma, dan
masa sentral yang lebih cair. Terdapat suatu lapisan kutikula yang tipis, seperti pada
Paramecium, penutup seluruh permukaan tubuh. Punggung paralel dari kutikula ini
berpilin di sekeliling hewan, membuat dia jelas berlurik. Sedikit terhadap satu sisi pusat
ujung tumpul anterior tubuh adalah bentuk corong menurun dikenal sebagai sitostom.
Pada dasar bagian menurun ini adalah suatu bagian terbuka yang menuju kedalam
saluran pendek yang disebut kerongkongan. Ini, pada gilirannya, memasuki kantung
speris yang besar, reservoar kedalam beberapa vakuola kontraktil yang kecil melepaskan
isi mereka. Mulut (sitostom) dan kerongkongan tidak digunakan untuk menelan makanan
tetapi untuk membebaskan cairan dari reservoar.
Struktur yang mencolok pada Euglena adalah bintik mata merah atau stigma. Ini
terletak dekat ujung dalam kerongkongan berhubungan dengan reservoar. Dia terdiri dari
protoplasma yang tertanam sejumlah butiran pigmen merah. Dia nyatakan bahwa badan
paraflagelar adalah struktur yang sensitif cahaya, yang dapat memberikan suatu
pengaturan respon cahaya dikarenakan satu sisi cahaya bertindak menyaring stigma.
Euglena mempunyai sebuah inti oval tunggal terletak pada sisi yang pasti dekat
pusat tubuh. Terdapat membran inti yang jelas, melalui studi mikroskop elektron
menunjukkan terdiri dari lapisan ganda yang dipenetrasi oleh sejumlah
pori. Inti mengandung suatu pusat tubuh yang dikenal sebagai endosom (sin.
nukleolus, kariosom).
Euglena menurunkan warna hijaunya dari sejumlah keping oral yang terdedah di
dalam protoplasma. Benda-benda ini diketahui sebagai kromatofora. Terdapat dalam
pusat setiap kromatofora adalah kumpulan pirenoid. Protoplasma kromatofora
mengandung klorofil, yang dapat digunakan Euglena untuk menghasilkan makanan
melalui proses fotosintesis. Karakter seperti tumbuhan ini telah menyebabkan ahli botani
mengklasifikasikan Euglena sebagai alga.
Gambar 29. Euglena. Diagram bentuk sitologi utama (Hegner & Engemann, 1968).

Struktur lain dalam Euglena jelas ketika diwarnai dengan pantas. Sejumlah
butiran kecil, diistilahkan mitokondia tersebar di seluruh sel. Mitokondria penting
sebagai tempat reaksi kimia sel selama respirasi. Badan golgi berlimpah tetapi tidak
diketahui fungsinya.
Sebuah flagelum panjang seperti cambuk memanjang dari lubang reservoar. Dia
berasal dari satu dari dua flagelum yang berasal dari kinetosom yang terletak di dinding
reservoar. Struktur mikroskopis elektron flagelum sama dengan sillium bahwa masing-
masing mempunyai 11 serabut tebal elektron tersusun dalam suatu pola dua serabut pusat
dan sembilan serabut tepi. Hanya serabut tepi meluas dalam kinetosom. Posri distal
flagelum mengandung sejumlah kecil serabut, dikenal dengan sebagai mastigonema yang
terproyeksi secara lateral.
Nutrisi. Walaupun, Euglena mempunyai mulut (sitostom) dan kerongkongan, dia
diragukan, seperti dicatat diatas, jika makanan ditelan. Makanan dipabrikasi secara
fotosintesis, seperti tumbuhan, dengan bantuan cahaya dan klorofil dalam kromatofora.
Cara nutrisi ini dikenal sebagai holopitik atau autotropik. Fotosintesis dapat melepaskan
oksigen molukel, sementara hidrogen melalui molekul air mereduksi karbon dioksida
yang ada melewati tangkaian tahap untuk membentuk karbohidrat dan selebihnya air.
Panjang gelombang cahaya biru dan merah digunakan dalam efisiensi terbesar.
Karbohidrat disimpan sebagai substansi seperti pati yang disebut paramilum. Konversi
gula sederhanan yang dihasilkan oleh fotosintetis menjadi paramilum diduga terjadi
disebabkan kegiatan pirenoid. Pirenoid dan kromatofara adalah struktur permanen sel
dan bertambah jumlahnya melalui pembelahan dan bukan oleh sesuatu yang baru dari
bagian tubuh yang lain. Seluruh makanan yang dibutuhkan untuk kehidupan Euglena
bukan dibutuhkan dihasilkan oleh fotosintesis. Bila klorofil dihancurkan oleh suatu
perlakuan dengan bahan khusus, hasilnya Euglena yang kehilangan warna dapat
melanjutkan kehidupannya jika tersedia medium kaya nutrien organik. Hal ini
menunjukkan tanda-tanda bahwa substansi organik dalam larutan diserap melewati
permukaan tubuh, nutrisi sapropitik dapat terjadi dan dapat mungkin melengkapi nutrisi
holopitik normal. Nutrisi Euglena berbeda dari umumnya hewan, karena kehidupan
kemudian dengan cara penelanan partikel cair makanan dan dikatakan holozoik atau
heterotropik.
Lokomosi. Euglena merubah bentuknya secara berangsur-angsur, menjadi lebih
pendek dan lebih tebal, dan menunjukkan gerakan menggeliat khsuus. Bukti-bukti ini
bahwa dia memiliki hal yang dapat dipertimbangkan elastik, karena bentuk normal
didapatkan kembali jika keberadaan air cukup. Seringkali pada spesies yang
menguntungkan, flagelum seperti benang mungkin terlihat proyeksi dari ujung anterior
tubuh dan berikatan ke depan, menggambarkan hewan setelah dia. Pitelka dan Schooley
(1955) telah menemukan bahwa bila flagelum diletakkan pada pH mendekati yang
ditetapkan medium kultur mastigonema teraplikasi dengan rapat terhadap flagelum.
Dibawah kondisi lain, mastigonema yang terproyeksi lateral dapat membalikkan
pengaturan kekuatan mendorong (Gambar 30) yang dilakukan oleh flagelum
Ochromonas walaupun undulasi flagelum sama. Beberapa peneliti berpendapat bahwa
kekuatan mendorong berasal dari gerakkan mendayung buritan euglena yang meruncing
sebagaimana dia bergetar yang menyebabkan gerakan flagela.
Gambar 30. Gerakan flagela (Hegner & Engemann, 1968).

Gambar 30, menunjukkan bagaimana mastigonema dapat membalikkan kekuatan


yang tertekan oleh flagelum. (A) Pengaturan gelombang sinus distal menghasilkan
kekuatan yang ditunjukkan oleh tanda panah kecil sebagai gelombang maju dari A ke B.
Organisme bergerak dalam pengaturan berlawanan. (B) gerakan mastigonema pada suatu
gelombang yang sama membalikkan kekuatan efektif.
Tingkah laku. Euglena berenang melewati air dengan lintasan berpilin.
Pengaruh ini menghasilkan gerakan lurus sempurna menyebabkan dapat menembus air
tanpa jalur. Bila dirangsang oleh perubahan intensitas cahaya, Euglena dalam
kebanyakan kasus berhenti atau bergerak mundur, menggantikan maju permukaan
dorsal, tetapi melanjutkan bergerak kembali di atas aksis panjangnya. Ujung posterior
kemudian bergerak sebagai poros, sementara ujung anterior membentuk suatu lingkaran
berdiameter lebih di air. Hewan dapat berenang maju dalam pengaturan yang baru dari
beberapa titik dalam lingkaran ini. Ini adalah reaksi menghindar.
Euglena sangat peka terhadap cahaya. Dia berenang mendekati cahaya biasa dari
sebuah jendela, dan jika suatu kultur mengandung Euglena yang diteliti kebanyakan akan
ditemukan diatas sisi depan cahaya bercerah. Hal ini jelas-jelas keuntungan bagi hewan,
sebab cahaya dibutuhkan untuk asimilasi karbon dioksida oleh klorofilnya. Euglena akan
bergerak menjauhi cahaya matahari langsung. Cahaya matahari laangsung akan
membunuh hewan jika menempatinya untuk kegiatan lebih lama. Porsi ultraviolet
spektrum sinar matahari mungkin merupakan porsi saling membahyakan tubuhnya,
sebab sejumlah sinar ultraviolet letal untauk beberapa organisme. Jika tetesan air yang
mengandung Euglena ditempatkan pada sinar matahari langsung dan separuhnya adalah
tempat dibayangi, hewan akan menghindari tempat berbayang dan juga sinar matahari
langsung, keduanya tidak cocok bagi mereka, dan akan menyisahkan pita kecil diantara
dua dalam deretan cahaya tertinggi bagi mereka, ini adalah optimum bagi mereka.
Dengan porsi keteduhan yang beragam dari tubuh Euglena, telah ditemukan bahwa
daerah depan bintik mata lebih sensitif daripada bagian lain. Seharusnya dicatat bahwa
bila Euglena berenang melintasi air, ujung anteriornya yang pertama kali mencapai
lingkungan yang membahayakan, hewan memberikan reaksi menghindar dan selanjutnya
pergi dari serah yang berbahaya tersebut.
Reproduksi. Reproduksi pada Euglena terjadi dengan cara pembelahan
longitudinal biner. Pembelahan inti terjadi di dalam membran inti. Kromatin yang berada
dalam bentuk untung berpasangan kromomer dalam tahap vegetatif, membentuk
pasangan setiap kromosom membelah secara longitudinal menjadi dua (Gambar 33, A).
Endosom membelah menjadi dua bagian yang sama besar. Badan intranuklear juga
terbelah menjadi dua. Tubuh mulai membelah pada ujung anterior. Flagelum lama
dipertahankan setengahnya, sementara flagelum baru berkembang oleh yang lain.
Seringkali pembelahan terjadi sementara hewan berada dalam kondisi mengkista. Ada
kalanya euglena ditemukan telah menjadi hampir speris dan dikellilingi oleh penutup
gelatin yang agak tebal yang mereka sekresikan. Sebagai hewan dikatakan mengkista.
Dalam masa kondisi kekeringan ini dilalui dengan sukse; hewan menjadi aktif ketika air
ditemukan lagi. Biasanya di dalam kultur yang diabwa ke dalam laboratorium beberapa
sista ditemukan diatas sisi cawan. Pengkistaan berulang-ulang terjadi tanpa penyebab
yang jelas; hewan beristirahat dalam kondisi ini selama beberapa saat dan kemudian
genting sampai mereka berenang seperti kebiasannya. Sebelum pengkistaan flagelum
melepaskan diri, satu yang baru dapat dihasilkan bila kativitas dimulai lagi. Satu sista
biasanya menghasilkan dua euglena, meskipun hal ini dapat membelah sementraa masih
dalam dinding sista lama membuat empat seluruhnya. Pengamatan khusus telah mencatat
sebanyak 32 Euglena muda berflagel yang selamat dari sebuah sista tunggal. Pembelahan
terjadi hanya selama berjam-jam dalam gelap pada urutan yang memadai bagaimanapun,
sintesis protoplasma memilih terjadi hanya selama berjam-jam dalam terang dengan
replikasi DNA terbatas sampai bagian-bagian berjam-jam itu selanjutnya.

Gambar 31. Euglena spirogyar: pembelahan inti


(A) Bentuk vegatatif dengan kromatin inti dalam bentuk garis kromomer berpasangan.
Hanya bagian prosimal flagelum bertambah. (B). Profase inti. Kromosom berada
dalam pasangan; endosom telah memanjang dan terbelah menjadi dua: filamen
aksial menempel ke dua blefaroplas pada membran inti yang telah tumbuh dari
badan intranuklear. (C) Metafase inti. Kromosom terpisah dan endodom yang
memanjang. (D) Anafase inti. Membran inti menggenting: kromosom terbelah
secara longitudinal dan menjadi butiran: dan endosom menggenting. (E)
Pembelahan lengkap inti. Inti selanjutnyan diasumsikam ditunjukka jelas pada A.

2.4.2. Amoeba
Nama Amoeba proteus diturunkan dari kata latin dari amoibe yang berarti
berubah, dan proteus yang berarti yang dapat merubah bentuk. Habitat Amoeba proteus
dalah kolam dan aliran air tawar. Terdapat di permukaan lumpur dan vegetasi periran.
Struktur terdiri dari ektoplasma (plasma-lemma) dan endoplasma. Diameter
tubuh berukuran sekitar 250 sampai 600µ. Ektoplasma merupakan daerah bening berupa
membran selektif tubuh yang selektif permeabel terhadap air dan beberapa molekul
terlarut yang kecil. Endo-plasma dikelilingi oleh ektoplasma yang mengandung inti,
vakuola kontraktil, vakuola makanan dan organel-organel lainnya.
Lokomosi Amoeba menggunakan pseudopodia (lobopodia) yang berbentuk
seperti jari. Bentuk ini dihasilkan dari aliran kedepan sitoplasma. Gerakan ini disebut
gerakan amoeboid. Meskipun dengan bukti yang kurang memuaskan, ada 8 teori
pergerakan Amoeba: yaitu teori kontraksi hidrolik,teori tensi permukaan, teori gerakan
menggelinding, teori gerakan berjalan, teori sol-gel (perubahan viskositas), teori
pelipatan-nonpelipatan, teori kontraksi daerah depan, teori transfomasi gel-sol secara
reversibel.

Gambar 32. Struktur tubuh Amoeba proteus (Hegner & Engemann, 1968).

Menurut teori sol-gel atau perubahan viskositas Mast (1925) dalam Hegner &
Engemann (1968). Gerakan Amoeba melalui proses:
1. Plasmasol adalah pusat porsi perpanjangan atau substansi koloid pada fase sol.
Substansi ini bergerak mendorong pengaturan tekanan terendah.
2. Plasmagel adalah substansi koloid protoplasma pada fase gel yang membentuk
sebuah tabung yang mengelilingi plsamasol. Plasmagel berkontraksi pada bagian
posterior dan mengalami perubahan ke fase sol pada pertemuannya dengan plasma
sol.
3. Plasmalemma adalah lapisan permukaan membran elastik yang sangat tipis.
4. Sebuah lapisan hyalin berada diantara plasmagel dan plasmalemma. Plasmasel dan
plasmagel membentuk endoplasma, sedangkan lapisan hyalin dan plasmalemma
membentuk ektoplasma. Kontraksi plasmagel posterior menghasilkan tekanan
hidrolik pada plamasol. Perlawanan terhadap tekanan tersebut terjadi semakin
kecil pada bagian anterior dimana lapisan tipis plasmagel secara terus-menerus
menghalangi bahkan pecah, tetapi segera terbentuk kembali oleh gelatin
plasmasol. Plasmagel mempunyai tekanan terkuat pada tempat itu dan
berkekuatan menengah pada posterior. Selanjutnya tekanan pada anterior
menyebabkan aliran balik, atau tekanan pada daerah anterior menyebabkan
pembelokan menjauhi tekanan. Plasmagel dibawah tekanan yang terus-menerus
dan pengurang tekanan yang terlokalisir merupakan kekuatan elastis yang
menyebabkan pembentukan pseudopodium (Gambar 33).
Gambar 33. Diagram daerah yang terbentuk pada gerakan amoeboid (Hegner &
Engemann, 1968).

Amoeba merupakan hewan karnivor dengan cara holozoik. Makanan diperoleh


melalui fagositosis dan pinositosis. Ingesti, merupakan mekanisme menelan hewan
dalam keadaan padat. Bersamaan dengan makanan masuk ke dalam tubuh maka
berbentuk pula vakuola makanan. Vakuola makanan terbentuk oleh perluasan dan
kerjasama pseudopodia, pada hewan tingkat tinggi organ ini dapat disetarakan dengan
usus. Digesti, lisosom yang mengandung enzim pencernaan bergabung dengan vakuola
makanan dan mencerna makanan secara lambat. Mula-mula kondisi di dalam vakuola
makanan adalah asam kemudia berubah menjadi alkali. Absorbsi dan asimilasi, vakuola
makanan menyusut dan hasil pencernaan didifusikan ke sitoplasma. Makanan hasil
pencernaan diasimilasi untuk pembentukan protoplasma baru. Engesti, pembuangan
makanan yang tidak dicerna dilakukan pada beberapa titik permukaan tubuh.
Amoeba tidak mempunyai organ dan pigmen khusus respirasi. Pertukaran oksigen
dan karbondioksida dilakukan melalui permukaan tubuh. Osmoregulasi diatur oleh
vakuola kontraktil. Reproduksi dilakukan melalui pembelahan biner, pembelahan
multipel, dan konjugasi.
Ada beberapa tingkah laku yang dilakukan Amoeba. Termotaksis (respon terhadap
panas), Amoeba berespon negatif terhadap suhu 20-25oC. Fototaksis, Amoeba
menghindari cahaya matahari dan kegelapan total. Tigmotaksis, Amoeba berespon positif
terhadap beberapa objek. Kemotaksis, Amoeba menghindari bahan kimia yang
berbahaya. Reotaksis, Amoeba menghanyutkan diri sepanjang aliran air. Galvanotaksis,
Amoeba berhenti bergerak bila diberi aliran listrik. Geotaksis, Amoeba berespon positif
ke dasar perairan.
2.4.3. Plasmodium
Spesies Plasmodium menyebar pada reptile dan burung dan mammalian. Hewan
vertebrata dalah inang utama parasite malaria. Inang atau vector perantara adalah
nyamuk. Plasmodium vivax adalah parasite mamalia yang paling umum menginfeksi
manusia. Siklus hidup P.vivax adalah (Gambar 34.)

Gambar 34. Siklus Hidup Plasmodium vivax (Kotpal et al.,1981).

1. Siklus seksual pada manusia


Seseorang akan terinfeksi bila nyamuk anopheles betina yang mengandung
sporozoit pada kelenjar ludahnya menggigit. Masa inkubasi sampai menimbulkan
malaria adalah sekitar 14 hari.
Sizogoni hati, Dalam waktu sekitar setengah jam sporozoit akan mencapai hati
(sel-sel hepatica) Disini pembelahan aseksual (sizogoni) dilakukan dalam dua kali tahap
yaitu fasepraeritrostik dan fase eksoeritrositik.
Sizogini eritrositik, M ikrometa-kriptozoid setelah masuk ke dalam aliran darah
akan menyerbu eritrosit atau red blood corpuscle (RBC). Setiap organisme ini akan
menjadi bulat dan bermodifikasi menjadi trzopoid muda. Trozopoid muda selanjutnya
menelan sebagian besar sitoplasma RBC membentuk vakuola makanan yang
mensekresikan enzim pencernaan, Amoeboid tropozoid setelah aktif makan menjadi
tumbuh dalam ukurannya dan melakukan pembelhan inti menjadi 12-24 inti. Fase ini
merupakan sizon (pembelahan dilakukan secara sizogoni). Setiap masa sitoplasma yang
mengelilingi satu inti menjadi bentuk oval merozoid. Penyerbuan terhadap RBC ini
terjadi berulang-ulang.
Pembentukan gamet, Setelah merozoid bertambah ukurannya maka akan timbul
seksul dimorfisme, yaitu mikrogametosit untuk jantan dan megagametosit untuk betina.

2. Siklus Seksual pada nyamuk


Gametogony, setelah nyamuk menelan gametosit makan mikrogametosit mulai
mengalami proses eksfagellatin. Setiap mikrogametosit inti membelah secara mitosis
menjadi 6-8 sel haploid. Megagametosit mengalami beberapa reorganisasi dan menjadi
gamet betina atau megagamet yang siap untuk dibuahi.
Sporogoni. Fertilisasi terjadi ketika mikrogamet kontak dengan megagamet,
disebut juga singami, yang menghasilkan zigot atau sikarion. Selanjutnya zigot
berkembang menjadi ookinet.
Selanjutnya ookinet berpenetrasi ke dalam membrane peritropik usus, dan
menjadi oosit yang jumlahnya sekitar 50-500. Setiap oosit sekarang memasuki fase
pembelahan multiple (aseksual) yang dikenal dengan sebagai sporogoni. Akhirnya
berbentuk sekitar 200.000 sporozoid.
Plasmodium vivax dapat menyebabkan demam malaria tertian. Keadaan demam
digambarkan pada Gambar 35.
Gambar 35. Siklus demam malaria (Kotpal, et al., 1981).

2.4.4. Paramecium
Paramecium distribusi diseluruh dunia di air tawar, kolam, aliran air, sungai
danau dsb. Struktur tubuh (Gambar 36), bentuk memanjang, depan lancip, belakang
tumpul, sering disebut bentuk sandal atau bentuk gelendong.

Gambar 36. Struktur tubuh Paramecium caudatum (Kotpal et al., 1981).


Inti terdiri dari makronukleus dan mikronukleus, Makronukleus adalah somatic
atau vegetative haploid yang mengontrol aktivitas metabolism sel. Mikronukleus
merupakan kontrol reproduktif. Tubuh Paramecium memiliki dua vakuola kontraktif
dan sejumlah vakuola makanan. Panjang tubuh berkisar antara 80-350 um.
Permukaan ventral mengandung celah mulut. Bagian luar tubuh ditutupi oleh
membrane kutikula, pelikel yang mengandung: membrn sel luar, membrane alveolar luar
membrane alveolar dalam. Seluruh permukaan tubuh ditutupi oleh silia. Sitoplasma
terdiri dari ektopasma (korteks) dan endoplasma (medulla). Sistem infrasillari terdiri dari
basal dan kinetodesmata.

Gambar 37. Struktur pelikel dan sistem infrasilia Paramecium (Kotpal et al., 1981).

Paramecium memiliki tubuh streamline yang dapat digunakan untuk berenang. Laju
renang dibantu oleh silia yang menutupi permukaan tubuh. Paramecium bergerak
dengan kecepatan 1500α/ detikatau lebih. Selama bergerak, silia membuat gerakan yang
semutan dari anterior ke posterior, disebut ritme metrakonal. Gerakan yang timbul adalah
gerakan rotasi sambil majudengn gerakan spiral (heliks) melawan arah jarum jam.
Gambar 38. Beberapa gerakan Paramecium. A & B gerakan silium tunggal, gerakan
efektif & gerakan pembalikan; C & D ritme metakonal; E lintasan spiral
melawan arah jarum jam. (kotpal et al., 1981).

Paramecium bersifat holozoic, mkanan seperti Amoeba, bakteri, dsb. Ada satu
spesies P. bursaria bersimbiosis dengan Zoochlorella sehingga bersifat holofitik.
Mekanisme pencernaan dimulai ketika makanan masuk ke sitosom padarongga bukal.
Selanjutnya makanan yng telah terseleksi berangsur-angsur dikumpulkan di dalam
vakuola makanan. Di dalam vakuola makanan, makanan dicerna oleh enzim –enzim
yang disekresikan oleh lisosom, kemudian masuk ke dalam vakuola makan. Makanan
yang tidak dicerna dikeluarkan melalui sitofaga.
Respirasi dan eksresi dilakukan oleh pelikel semipermiabel. O2 terlarut
didifusikan dan digunakan untuk oksidasi. Limbah Katabolik seperti CO2 dan bahan –
bahan intro-gen di difusikan keluar tubuh (Gambar 39).
Gambar 41. Tahap siklosis pada Paramecium, (Kotpal et al., 1981).

Osmoregulasi dilakukan oleh vakuola kontraktil. Air dari sitoplasma disekresikan


ke dalam tubulus sehingga terakumulasi di dalam kanal radial. Ketika vakuola menjadi
maksimum kontraksi vakuola menyebabkan air terdorng ke luar tubuh (Gambar 42).
Paramecium Menangggapi beberapa stimulus adalah dengan cara 1) menghindari reaksi
dari 2) reaksi trial and eror Beberapa respon Paramecium yang ditanggapi adalah (1)
temperature 2) cahaya 3) sentuhan 4) bahan kimia 4) aliran air 6) aliran listrik dan 7)
gravitasi.
Gambar 40. A. Respirasi dan eksresi, B. C. D mekanisme osmoregulasi
(Kotpal, et al., 1981).

Gambar 41. Tahap pembelahan biner pada Paramecium paramecium (Kotpal et al.,
1981).

Reproduksi dilakukan dengan cara Pembelahan biner tranversal (Gambar 41)


konjugasi (Gambar 42), dan autogami (Gambar 43)
Gambar 42. Tahap Konjugasi pada Paramecium paramecium (Kotpal et al., 1981).

Gambar 43. Tahap autogami pada Paramecium paramecium (Kotpal et al., 1981).
Daftar Pustaka

Barnes, R.D. 1987. Invertebrate Zoology. Saunders College Publishing, Philadelphia.

Campbell, N.A., L.G. Mitchell and J.B. Reece. 1994. Biology,Concepts and Connections.
The Benjamin/Cummings Publishing Company, inc., California.

Hegner, R.W. dan J.G. Engemann. 1968. Invertebrate Zoology. MacMilan Publishing Co.
Inc., New York.

Kotpal, R.L., S.K. Agarwal dan R.P. Khetarpal. 1981. Modern Textbook of Zoology
Invertebrates. Rastogi Publications, Meerut.

Sugiri, N. 1989. Zoologi Avertebrata I. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sugiri, N. 1989. Zoologi Avertebrata II. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Vilee, C.A., W.F. Walker, Jr. Dan R.D. Barnes. 1988. Zoologi Umum. Terj. N. Sugiri.
Erlangga, Jakarta.