Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUTORIAL KEMOTERAPI I

DIABETES MELITUS

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kemoterapi I

Disusun Oleh :

Kelompok IV

Dinar Nur Fadillah 31117111


Elis Rahyani 31117114
Lisda Solihati Salamah 31117122
PROGRAM Muhammad Irgi Novaldi 31117125 STUDI
Oktaviani Ayu Saputri 31117128
S1-FARMASI Puput Arista Dewi 31117130
Roffy Oktavian 31117138
SEKOLAH Sani Sri Nurjanah 31117140 TINGGI
ILMU
KESEHATAN BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA
2020
A. PengertianDiabetes Melitus
Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu kelompok penyakit metabolik
yang ditandai oleh hiperglikemia karena gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau
keduanya. Keadaan hiperglikemia kronis dari diabetes berhubungan dengan
kerusakan jangka panjang, gangguan fungsi dan kegagalan berbagai organ, terutama
mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah (Dipiro, et. al., 2015). Diabetes
Melitus adalah sindrom klinis yang ditandai dengan hiperglikemia karena defisiensi
insulin yang absolut maupun relatif. Kurangnya hormon insulin dalam tubuhyang
dikeluarkan dari sel β pankreas mempengaruhi metabolismekarbohidrat, protein, dan
lemak menyebabkan gangguan signifikan. Kadar glukosa darah erat diatur oleh
insulin sebagai regulator utama perantara metabolisme. Hati sebagai organ utama
dalam transport glukosa yang menyimpan glukosa sebagai glikogen dan kemudian
dirilis ke jaringan perifer ketika dibutuhkan (American Diabetes Association, 2012).
A. Penyebab
Peningkatan jumlah penderita DM yang sebagian besar DM tipe 2, berkaitan
dengan beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko yang
dapat diubah dan faktor lain. Menurut American DiabetesAssociation (ADA) bahwa
DM berkaitan dengan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputiriwayat
keluarga dengan DM (first degree relative), umur ≥45 tahun, etnik,
riwayatmelahirkan bayi dengan beratbadan lahir bayi >4000 gram atau riwayat
pernah menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan beratbadan rendah (<2,5
kg).1,9 ? Faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT
≥25kg/m2 atau lingkar perut ≥80 cm pada wanita dan ≥90 cm pada laki-laki,
kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemi dan diet tidak sehat. (.................)?
Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes adalah penderita polycystic
ovarysindrome (PCOS), penderita sindrom metabolikmemiliki riwatyat toleransi
glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya,
memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau peripheral rrterial
Diseases (PAD), konsumsi alkohol,faktor stres, kebiasaan merokok, jenis
kelamin,konsumsi kopi dan kafein.Obesitas (kegemukan)Terdapat korelasi
bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada derajat kegemukan
dengan IMT >23 dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi
200mg. ? (.................)?
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam tubuh
pada sirkulasi pembuluh darah perifer.Riwayat keluarga diabetes mellitus seorang
yang menderita diabetes mellitus diduga mempunyai gen diabetes. Diduga bahwa
diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen
resesif tersebut yang menderita diabetes mellitus. (.................)?
Dislipedimia adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak
darah (Trigliserida > 250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin
dengan rendahnya HDL (< 35 mg/dl) sering didapat pada pasien Diabetes.
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Mellitus adalah > 45
tahun.Riwayat persalinanabortus berulang, melahirkan bayi cacat atau berat badan
bayi > 4000gram .Faktor GenetikDM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan
berbagai faktor mental. Penyakit ini sudah lama dianggap berhubungan dengan
agregasi familial. Risiko emperis dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua
sampai enam kali lipat jika orang tua atau saudara kandung mengalami penyakitini.
(.................)?
Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan
frekuensi DM tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan
peningkatan obesitas dan pengurangan ketidakaktifan fisik, faktor-faktor lain yang
berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional kelingkungan kebarat-
baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga
berperan dalam peningkatan DM tipe 2. Alkohol akan menganggu metabolisme gula
darah terutama pada penderita DM, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah
dan meningkatkan tekanan darah. Seseorang akan meningkat tekanan darah apabila
mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60ml/hari yang setara dengan 100 ml proof
wiski, 240ml wine atau 720 ml. (.................)?
Faktor resiko penyakit tidak menular, termasuk DM Tipe 2, dibedakan
menjadi dua. Yang pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya
umur, faktor genetik, pola makan yang tidak seimbang jenis kelamin, status
perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok,
konsumsi alkohol, Indeks Masa Tubuh. (.................)?
B. Epidemiologi Diabetes Melitus (DM)
Prevalensi penderita DM di seluruh dunia sangat tinggi dan cenderung meningkat
setiap tahun. Jumlah penderita DM di seluruh dunia mencapai 422 juta penderita pada
tahun 2014. Jumlah penderita tersebut jauh meningkat dari tahun 1980 yang hanya
180 juta penderita. Jumlah penderita DM yang tinggi terdapat di wilayah South-East
Asia dan Western Pacific yang jumlahnya mencapai setengahdari jumlah seluruh
penderita DM di seluruh dunia. Satu dari sebelas penduduk adalah penderita DM dan
3,7 juta kematian disebabkan oleh DM maupun komplikasi dari DM (WHO, 2016).
Penderita DM di Indonesia berdasarkan data dari IDF pada tahun 2014 berjumlah 9,1
juta atau 5,7 % dari total penduduk. Jumlah tersebut hanya untuk penderita DM yang
telah terdiagnosis dan masih banyak penderita DM yang belum terdiagnosis.
Indonesia merupakan negara peringkat ke-5 dengan jumlah penderita DM terbanyak
pada tahun 2014. Indonesia pada tahun 2013 berada diperingkat ke 7 penderita DM
terbanyak di dunia dengan jumlah penderita 7,6 juta (Perkeni, 2015).

C. Faktor resiko
1. Genetika
2. Obesitas
3. Usia (semakin tua usia fungsi organ menurun)
4. Kurang berolahraga
5. Resistensi insulin
6. Makanan yang mengandung banyak gula
7. Lingkungan
8. Merokok (.................)?

D. Gejala
1. Poliurea (pipis terus)
2. Polipagia (makan terus)
3. Polydipsia (minum terus)
4. Ketoasidosis diabetic (DKA), terutama pada lingkungan yang sedikit atau
etnis minoritas. (.................)?

E. Diagnosa (Diagnosa secara umum)


Tn Lg berumur 47 Tahun BB 75 kg dengan tinggi 170 cm, didiagnosa
mengalami diabetes tipe 2 dilihat berdasarkan hasil cek lab Hba1C yang tinggi yaitu
sebesar 9,2%, dimana kadar normal Hba1C yaitu antara 5,7-6,4 % , kriteria yang
menyatakan pasien tersebut didiagnosa mengalami diabetes itu dilihat dari kadar
glukosa darah plasma dan kadar Hba1C pada pasien tersebut (ADA,2019).

F. Penatalaksaan Non Farmakologi (Penatalaksanaan secara umum)


Menurut ADA,2019 untuk penatalaksaan non farmakologi bagi pasien yang
didiagnosa menderita diabetes tipe 2 dilakukan beberapa cara antara lain :

• Pentingnya melakukan penurunan berat badan untuk pasien yang punya berat
badan lebih atau obesitas, Untuk pasien Tn Lg ini mempunyai body mass index
(BMI) 26,0 dimana masuk kateogi obesitas tipe 1 oleh Karena itu menurut anjuran
ADA supaya melakukan managemen gaya hidup yang baik guna menurunkan
berat badan.
• Usahakan untuk menghindari merokok karena penggunaan tembakau dapat
meningkatkan resiko diabetes tipe 2
• Menjaga pola makan yang sehat termasuk distribusi makronutrien , kemudian
perencanaan makan harus disesuaikan dengan kebutuhan
• Hindari mengkonsumsi makanan maupun minuman yang mengandung pemanis
berlebih serta makanan maupun minuman yang tidak bergizi
• Sering melakukan aktivitas fisik pada saat waktu luang minimal 150 menit
berolahraga 3 kali dalam seminggu.
• Untuk medical nutrisi terapi yang direkomendasikan oleh ADA,2019 antara lain
yaitu membatasi sodium dalam makanan, hindari mengkonsumsi alcohol, lakukan
diet lemak untuk pasien obesitas, usahakan konsumsi makanan yang banyak
mengandung protein karena bisa meningkatkan respon insulin dalam
memetabolisme glukosa didalam darah, sering mengkonsumsi makanan yang
mengandung micronutrients seperti supplement yang mengandung vitamin mineral
dibandingkan mengkonsumsi makanan maupun minuman yang tidak bergizi dan
malah menyebabkan kadar gula darah naik dan bisa memperburuk resiko pada
pasien diabetes tipe 2.
• Dukungan dari orang tua,sodara maupun teman akan sangat mempengaruhi
pasien sehingga meningkatkan mental dan psikis pasien yang berkeinginan untuk
sembuh
• Mengkonsumsi buah-buahan yang rendah gula seperti apel dan pisang yang agak
coklat karena kandungan glukosa nya tidak terlalu banyak, menurut ADA, 2019.
• Menurut ESC,2019 asupan kalori yang dikurangi dianjurkan untuk menurunkan
berat badan berlebihan pada pasien DM kemudian perubahan gaya hidup adalah
kunci untuk mencegah komplikasi DM dan CV.

G. Penatalaksaan Farmakologi
Class Compunds (s) Dosage
strenght/product
(if applicable)

Biguanides Metformin 500 mg (IR)


850 mg (IR)
1,000 mg (IR)
500 mg (ER)
750 mg (ER)
1,000 MG (ER)

Sulfonylureas (2nd Glimepiride 4 mg


generation) Glipizide 10 mg (IR)
Glyburide 10 mg (XL)
6 mg
(micronized)5 mg

Thiazolidinediones Pioglitazone 45 mg
Rosiglitazone 4 mg
ɑ-Glucosidase Acarbose 100 mg
inhibitors Miglitol 100 mg

Meglitinides Nateglinide 120 mg


(glinides) Repaglinide 2 mg

DPP-4 inhibitors Alogliptin 25 mg


Saxagliptin 5 mg
Linagliptin 5 mg
Sitagliptin 100 mg

SGLT2 inhibitors Ertugliflozin 15 mg


Dapagliflozin 10 mg
Empagliflozin 25 mg
Canagliflozin 300 mg
GLP- 1 Ras
Exenatide 2 mg powder for
(exended suspension or pen
release)

Exenatide 1o µg pen
Dulaglutide 1,5/0.5 mL pen
Semaglutide 1 mg pen14 mg
(tablet)
Liraglutide 18 mg/3 mL pen
Lixisenatide 300 µg/3 mL pen
Bile acid sequestrant
Colesevelam 625 mg tabs
Dopamine-2 3.75 g suspension
Agonist
Bromocriptine 0,8 mg
Amylin mimetic

Pramlintide 120 µg pen


(.................)?

H. SOAP
Subjek : Sakit kepala, pusing, keleyengan pagi hari, sering
kesemutan.
Objek : HbA1C 9,2%
Obat-obatan ?
Diagmosis ?
Assasment : 1. Ketidaktepatan penggunaan obat
Ketidaktepatan penggunaan obat
adalah adanya pemberian obat yang
tidak efektif berdasarkan kondisi
pasein. Pasein memiliki BMI 26, bisa
dikatakan bahwa pasein obesitas.
Permasalahan pada kasus ini adalah
pasein diberikan Glikazid. Sedangkan
glikazid dapat meningkatkan berat
badan sehingga penggunaan obat
glikazid tidak tepat.
2. Indikasi tanpa pengobatan
Indikasi tanpa pengobatan dapat terjadi
apabila pasein memerlukan terapi tapi
pasein tidak mendapatkan obat. Pada
kasus ini pasein menderita luka dikaki
yang tidak sembuh selama 3 bulan,
menurut Guidline Nice 2019 bisa
diberikan antibiotik untuk
menyembuhkan lukanya. Apa
antibiotiknya ? Berapa dosisnya?
3. Interaksi obat
Interaksi obat artinya aksi suatu obat
diubah atau dipengaruhi oleh obat lain
jika diberikan secara bersamaan. Pada
kasus ini adanya interaksi antara
metformin dengan insulin dapat
menyebabkan hipoglikemik
(drugs.com). Hipoglikemik ditandai
dengan pusing, keleyengan pada pagi
hari juga sakit kepala pada pasein.
Hipoglikemik yaitu turunnya kadar
glukosa dalam darah sehingga
menyebabkan lemas dan tidak
bertenaga.
4. Overdosis
Overdosis dapat disebabkan karena
penggunaan dosis obat diatas nilai
batas dosis lazim atau frekuensi yang
berlebih. Pada kasus ini diberikan
Metformin 1 g 2 x 1. Seharusnya ?
5. Efek samping
Efek samping dari metformin dan
insulin yaitu hipoglikemia.
1. Glikazid dihentikan
2. Pasein mengalami obesitas dilihat dari
BMI nya, direkomendasikan untuk diet
dan olahraga (Guidline ADA) ADA
tahun? Diet apa ? Olahraga apa ?
berapa kali ?
3. Berikan antibiotik yang sesuai untuk
mengobati lukanya. Antibiotik yang
diberikan tergantung bakteri penyebab
dari infeksi tersebut. Untuk mengetahui
bakteri penyebabnya bisa dilakukan cek
laboratorium dengan dilakukan kultur
bakteri. Rekomendasi dari (Guidline
Nice 2019) bisa digunakan antibiotik
Sefalosporin dan Metrodinazol. Berapa
dosisnya ? Lukanya bisa dibersihkan
menggunakan Nacl 1x sehari.
4. Berikan makanan pisang atau apel
kenapa? bisa juga dextrosa dosisnya ?
dan glukagon bukan dan tapi atau
glukagon jika dengan dextrosa
masih tidak turun, jadi yang
diebrikan dextrosa saja dulu untuk
hipoglikemik. Menurut (Guidline ADA)
ADA tahun? bisa diberikan makanan
yang angka indeks glikemiknya rendah
atau bisa menaikkan kadar glukosa
dalam darah secara perlahan seperti
pisang dan apel. Bisa diberikan
dextrosa dengan dosis IV : 10-25 g(ie?,
20-50 mL 50% solution or 40-100 mL of
25%) atau PO: 4-20 g single dosis dapat
diulang setelah 15 menit jika glukosa
darah menunjukkan hipoglikemia
lanjutan (Medscape) dan menurut
(Guidline ADA) ADA tahun? bisa
diberikan juga glukagon untuk
mengubah glikogen yang ada pada hati
menjadi glukosa.
5. Turunkan dosis metformin menjadi 500
mg 2 x sehari. Menurut (Medscape)
dosis metformin yaitu 500 mg 2 x 1
sehingga dosis harus diturunkan karena
menurut medscape juga tidak boleh
melebhihi 2000 mg/hari.

I. Monitoring
1. Lakukan pemantauan kadar HBA1C pada pasien DM tipe 2, target terapi
HBA1C pada pasien DM tipe 2 yaitu 48 mmol/mol (6,5%) (NICE, 2019).
2. Glukosa postprandial dapat digunakan jika target HBA1C tidak terpenuhi dan
meskipun target glukosa praprandial terpenuhi. Target kadar glukosa kapiler
praprandial yaitu 80-130 mg/dL (4,4-7,2 mmol/L) dan target kadar glukosa
kapiler postprandialnya yaitu <180 mg/dL (10,0 mmol/L) (ADA, 2019).
3. Pantau tanda dan gejala efek samping hipoglikemik yang diakibatkan
penggunaan insulin pada pasien yang ditandai dengan pusing, sakit kepala,
kleyengan, mual, kegelisahan dan tremor.
4. Perhatikan juga efek samping dari penggunaan metformin karena dapat
berpotensi mengakibatkan defisiensi vitamin B12 (ADA, 2019).
5. Pantau adanya reaksi hipersensitifitas (alergi) pada tempat injeksi akibat efek
dari penggunaan insulin yang mengakibatkan adanya tanda-tanda seperti
edema, ruam-ruam, lipodistropi dan pruritus (ADA, 2019 & Drugs.com).
6. Lakukan monitoring efek samping dari insulin dimana pada penggunaan
insulin dapat peningkatan berat badan pada pasien (Drugs.com).
7. Pada pasien DM tipe 2 yang disertai obesitas sebaiknya dilakukan diet
terhadap makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat dan
mengandung kadar glukosa yang tinggi. Pasien dianjurkan memakan makanan
yang mempunyai indeks glikemik (IG) yang rendah seperti apel, pisang, beras
merah, kacang hijau dan kacang merah. Diet dan melakukan aktifitas fisik
yang seperti apa ? sangat dianjurkan bagi pasien DM tipe 2, karena dapat
menurunkan berat badan pada pasien DM ≥ 5% (NICE, 2019).

J. Konseling
1. Metformin Hydrochloride
Golongan : Biguanin
Cara kerja : Menurunkan kadar gula darah dengan cara
menurunkan produksi glukosa di hati, juga
menurunkan absorpsi glukosa di usus dan menaikan
respon insulin
Indikasi : Tambahan untuk diet, untuk menurunkan glukosa
darah pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2
yang hiperglikemia tidak dapat dikontrol dengan
diet saja.
Kontraindikasi : Penyakit ginjal atau disfungsi seperti yang
disarankan oleh kreatinin serum> 1,5 mg / dL pada
pria atau> 1,4 mg / dL pada wanita atau Ccr
abnormal; kondisi yang menjadi predisposisi
disfungsi ginjal (mis. kolaps kardiovaskular, MI
akut, septikemia); pada pasien yang menjalani studi
radiologis yang melibatkan pemberian parenteral
dari bahan kontras beryodium (berpotensi untuk
mengubah fungsi ginjal secara akut); asidosis
metabolik akut atau kronis, termasuk ketoasidosis
diabetikum.
Rute / Dosis : Dewasa: Dosis awal: PO 500 mg bid, naik 500 mg q
minggu (maks, 2500 mg / hari dalam dosis terbagi).
Dewasa: Dosis awal: PO 850 mg qd, meningkat 850
mg q 2 minggu (maks, 2550 mg / hari dalam dosis
terbagi).
Dewasa: Glukofage XR Dosis awal: PO 500 mg
qd? dengan makan malam, naik 500 mg q?
minggu ? (maks, 2000 mg sekali sehari). Jika
diperlukan dosis metformin yang lebih tinggi,
berikan dosis harian total hingga 2500 mg dalam
dosis harian terbagi seperti dijelaskan di atas. Jadi
dosis maks yang bolehnya 2000 atau 2500 mg?
Interaksi obat - Alkohol : Memperkuat efek metformin pada
maksudnya ini
metabolisme laktat.
teh ?

- Obat Kationik (mis. Amiloride, Digoxin,


Quinidine) : Dapat meningkatkan konsentrasi
serum metformin dengan bersaing untuk sekresi
tubular.
- Cimetidine : Meningkatkan konsentrasi serum
metformin.
- Furosemide: meningkatkan konsentrasi serum
metformin, dan juga dapat mereduksi konsentrasi
serum furosemide
- Bahan Kontras Beryodium : Dapat menyebabkan
gagal ginjal akut dan telah dikaitkan dengan
asidosis laktat pada pasien yang menerima
metformin.
- Nifedipine :Meningkatkan konsentrasi serum
metformin. Gangguan tes lab tidak ada yang
terdokumentasi dengan baik.

Reaksi yang : - EENT: rasa tidak menyenangkan / logam.


merugikan
- Gi: diare; mual; muntah; perut kembung; perut
kembung; anoreksia.
- Metabolik: asidosis laktat.
- Lainnya: kadar vitamin b12 di bawah normal.

(.................)?
Tindakan pencegahan:
- Kehamilan: Kategori B. Insulin direkomendasikan untuk mempertahankan kadar
glukosa darah selama kehamilan.
- Laktasi: Tidak ditentukan.
- Anak-anak: Keamanan dan kemanjuran tidak ditetapkan.
- Lansia: Gunakan dengan hati-hati. Dosis maksimum umumnya tidak digunakan
karena penurunan fungsi ginjal yang berkaitan dengan usia.
- Asidosis Laktat: Dapat terjadi dan berakibat fatal pada 50% kasus, akibat
akumulasi metformin (misalnya, kerusakan ginjal) atau dengan kondisi
patofisiologis yang terkait dengan hipoperfusi jaringan dan hipoksia. Risiko
asidosis laktat meningkat dengan derajat disfungsi ginjal dan usia pasien.
- Penurunan fungsi ginjal: Penurunan fungsi ginjal menyebabkan penurunan
pembersihan ginjal dan perpanjangan paruh metformin.
- Obat bersamaan yang mempengaruhi fungsi ginjal, menghasilkan perubahan
hemodinamik yang signifikan atau mengganggu disposisi metformin (misalnya,
obat kationik dihilangkan dengan sekresi tubular ginjal) harus digunakan dengan
hati-hati.
- Penyakit hati: Hindari metformin pada pasien dengan bukti klinis atau
laboratorium penyakit hati.
- Gejala-gejala GI: Gejala-gejala GI yang terjadi setelah seorang pasien distabilkan
dengan metformin tidak mungkin terkait dengan obat tetapi bisa karena asidosis
laktat atau penyakit serius lainnya.
- Bahan Kontras Beryodium: Menahan metformin selama 48 jam sebelum studi
kontras parenteral dengan bahan beryodium. Terapi penggantian 48 jam setelah
penelitian dan setelah fungsi ginjal telah ditentukan normal. (.................)?

Pertimbangan Perawatan Pasien :

Administrasi / Penyimpanan:

- Berikan dalam dosis terbagi dengan makanan mulai dengan dosis rendah dengan
peningkatan dosis bertahap.
- Dosis metformin harus disesuaikan berdasarkan efektivitas dan toleransi.
- Pastikan penentuan kadar plasma puasa sebelum dosis awal untuk memastikan
respons terapeutik terhadap metformin.
- Metformin dapat diberikan sendiri atau dalam kombinasi dengan sulfonilurea.
- Pantau kemungkinan efek hipoglikemik.
- Dosis yang dikurangi mungkin diperlukan pada pasien usia lanjut dan yang
lemah atau kurang gizi.
- Pantau glukosa darah sesuai indikasi untuk memastikan kontrol gula darah;
mengukur hemoglobin glikosilasi pada interval mo? 3 bulan.
- Jangan diberikan selama kehamilan; insulin biasanya diberikan. (.................)?

Penilaian / Intervensi :

- Dapatkan riwayat pasien.


- Pantau pasien untuk tanda dan gejala hipoglikemia.
- Menilai kemungkinan interaksi obat-obat. Seorang pasien yang menerima agen
hiperglikemik harus dimonitor untuk menjaga kontrol glikemik yang memadai.
- Nilai pasien untuk faktor risiko tinggi untuk asidosis laktat.
- Jangan menggunakan metformin jika pasien ingin menjalani prosedur rontgen
dengan pewarna kontras atau pembedahan.
- Jika pasien menjadi sakit, tinjau studi laboratorium sebagaimana diindikasikan
untuk kelainan pada serum elektrolit, CBC, dan kadar glukosa darah untuk tanda-
tanda asidosis dan dehidrasi.
- Kaji adanya gejala GI, terutama dengan dosis yang lebih tinggi.
- Ketika mentransfer dari agen hipoglikemik oral standar, selain klorpropamid,
tidak ada periode transisi yang biasanya diperlukan; Namun, ketika mentransfer
dari chlorpropamide, perawatan harus dilakukan selama 2 minggu pertama
karena retensi panjang chlorpropamide dalam tubuh, yang mengarah pada efek
obat yang tumpang tindih dan kemungkinan hipoglikemia.
- Menentukan kemungkinan kehamilan atau menyusui, karena keamanan untuk
kondisi ini belum ditetapkan.
- Berikan dengan hati-hati pada pasien usia lanjut.
- Simpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu kamar. (.................)?
2. Insulin

Golongan : Antidiabetes
cara kerja : Mengatur penggunaan glukosa yang tepat
dalam proses metabolisme normal.
Indikasi : Manajemen diabetes mellitus tipe 1 (tergantung
insulin) dan diabetes mellitus tipe 2 (tidak
tergantung insulin) tidak dikontrol dengan baik
oleh diet, olahraga, dan penurunan berat badan.
Pada hiperkalemia, infus glukosa dan insulin
menurunkan kadar kalium serum. Insulin
reguler IV atau IM dapat diberikan untuk efek
cepat pada ketoasidosis berat atau koma
diabetikum. Insulin yang sangat murni
(komponen tunggal) dan manusia digunakan
untuk pengobatan alergi insulin lokal, resistensi
insulin imunologis, lipodistrofi di tempat
injeksi, pemberian insulin sementara, dan pada
pasien diabetes yang baru didiagnosis.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap babi atau insulin
daging sapi/babi campuran kecuali desensitisasi
yang berhasil telah tercapai.
Persiapan insulin diklasifikasikan menjadi 3
kelompok berdasarkan ketepatan waktu, durasi,
dan intensitas tindakan setelah pemberian SC.
Klasifikasi ini cepat-? (Reguler atau
Semilente), menengah-? (Lente atau NPH)
atau long- (Ultralente) bertindak. Dosis
pemeliharaan diberikan SC dan harus individual
dengan memantau pasien dengan cermat.
Pertimbangkan pedoman dosis berikut :
Anak-anak dan orang dewasa: 0,5 hingga 1 u /
kg / hari. Remaja (selama pertumbuhan
pertumbuhan): 0,8 hingga 1,2 U / kg / hari.
Sesuaikan dosis untuk mencapai kadar glukosa
darah sebelum tidur dan sebelum tidur 80
hingga 140 mg / dl (anak-anak <5 tahun 100
hingga 200 mg / dl). Insulin reguler diberikan
secara IV atau IM untuk ketoasidosis berat atau
koma diabetik.
Interaksi : - Kontrasepsi (oral), kortikosteroid,
dextrothyroxine, diltiazem, dobutamine,
epinefrin, merokok, diuretik thiazide, hormon
tiroid: hormon tiroid: Dapat mengurangi efek
hipoglikemik insulin.
- Alkohol, steroid anabolik, penghambat beta,
clofibrate, fenfluramine, guanthidine,
inhibitor MAO, phenylbutazone, salisilat,
sulfinpyrazone, tetrasiklin: Dapat
meningkatkan efek hipoglikemik dari insulin.

Reaksi yang merugikan : - META: Hipoglikemia.


- DERM: Lipodistrofi (dari injeksi insulin
berulang ke situs yang sama).
- LAINNYA: Reaksi hipersensitivitas (mis.
Ruam, napas pendek, denyut nadi cepat,
berkeringat,hipotensi, anafilaksis,
angioedema); reaksi lokal (mis. kemerahan,
bengkak, gatal di tempat injeksi).

(.................)?
Tindakan pencegahan :

- Kehamilan: Insulin adalah obat pilihan untuk mengendalikan diabetes pada


kehamilan; awasi dengan cermat.
- Laktasi: Tidak diekskresikan dalam ASI. Menyusui dapat mengurangi kebutuhan
insulin meskipun peningkatan asupan kalori yang diperlukan.
- Mengubah insulin: Perubahan dalam kemurnian, kekuatan, merek, jenis, atau
spesies sumber insulin mungkin memerlukan penyesuaian dosis.
- Buat perubahan dengan hati-hati di bawah pengawasan medis.
- Ketoasidosis diabetik: Dapat terjadi akibat stres, penyakit, atau kelalaian insulin
dan dapat berkembang secara perlahan setelah periode kontrol insulin yang lama.
Kondisi ini berpotensi mengancam jiwa dan membutuhkan diagnosis dan
perawatan yang cepat.
- Hipoglikemia: Dapat terjadi akibat dosis insulin berlebihan, peningkatan kerja
atau olahraga tanpa makan, atau karena penyakit dengan muntah, demam, atau
diare. Dapat juga terjadi ketika kebutuhan insulin menurun.
- Resistensi insulin: Persyaratan> 200 unit / hari insulin selama> 2 hari tanpa
ketoasidosis atau infeksi akut dapat terjadi, terutama pada pasien obesitas, pasien
dengan acanthosis nigricans, pasien dengan defek reseptor insulin, atau selama
infeksi. (.................)?

Pertimbangan Perawatan Pasien

Administrasi / Penyimpanan :

- Untuk suspensi insulin, pastikan dispersi seragam dengan menggulung vial


dengan lembut di antara kedua tangan. Hindari guncangan keras yang dapat
menyebabkan pembentukan gelembung udara.
- Saat mencampur insulin, tarik insulin reguler ke dalam semprit terlebih dahulu.
- Gunakan hanya jarum suntik insulin.
- Pilih tempat injeksi yang tepat sesuai dengan riwayat dan kebutuhan pasien;
putar situs administrasi untuk mencegah lipodistrofi. Insulin SC diserap paling
cepat di tempat suntikan perut, lebih lambat di tempat di lengan, dan paling
lambat di tempat di paha anterior.
- Berikan insulin 30 menit sebelum makan.
- Simpan dengan benar sesuai dengan kebutuhan harian pasien. Insulin tetap stabil
selama 1 bulan pada suhu kamar atau 3 bulan di bawah pendinginan. Simpan
botol insulin ekstra dalam lemari es.
- Dinginkan jarum suntik plastik dan gelas yang bisa disimpan di dalam lemari
pendingin hingga 14 hari.
- Jangan membeku. Siapa yang jangan membeku?
- Jangan sampai terkena suhu ekstrem atau sinar matahari.
- Penilaian / Intervensi . apa yang ditilai dan diintervensi?
- Dapatkan riwayat pasien, termasuk riwayat obat dan segala alergi yang diketahui.
- Kaji tanda-tanda hipoglikemia pada pasien (mis., Kegelisahan, kedinginan,
kebingungan, kulit dingin dan pucat, kantuk, lapar berlebihan, sakit kepala, lekas
marah, mual, denyut nadi cepat, tremor).
- Amati pasien untuk tanda-tanda hiperglikemia (misalnya, mengantuk, bau napas
seperti buah, sering buang air kecil, kehilangan nafsu makan, haus).
- Pantau kadar glukosa darah selama terapi.
- Amati tempat injeksi untuk tanda-tanda reaksi hipersensitif lokal, seperti
kemerahan, gatal, atau terbakar.
- Beri tahu dokter jika terjadi hipoglikemia atau reaksi merugikan.
- Jika lipoatrofi atau lipohipertrofi berkembang di tempat injeksi, gunakan tempat
pengganti atau insulin murni.
- Dokumen situs injeksi digunakan. (.................)?

konseling untuk Pasien / Keluarga :

- Ajarkan nama, dosis, aksi, dan efek samping insulin.


- Beri tahu pasien untuk tidak mengubah merek, kekuatan, jenis, atau dosis tanpa
sepengetahuan dokter.
- Penyesuaian dosis mungkin diperlukan ketika jenis insulin diubah.
- Beri tahu pasien untuk berkonsultasi dengan dokter untuk perubahan dosis
selama sakit.
- Instruksikan pasien untuk menggunakan jenis dan merek jarum suntik yang sama
setiap kali untuk mencegah kesalahan dosis.
- Menjelaskan potensi komplikasi jangka panjang dari diabetes, dan mendorong
pemeriksaan fisik dan mata secara umum dan umum.?
- Beri tahu pasien untuk melaporkan kemerahan, pembengkakan, atau gatal di
tempat suntikan.
- Menjelaskan signifikansi dan pentingnya melaporkan efek samping berikut:
Perubahan visual; ruam; infeksi yang tidak sembuh; rasa haus meningkat;
peningkatan buang air kecil; mulut kering; sensasi terbakar di kaki, kaki, atau
tangan; nyeri pada kaki setelah latihan; episode sering kadar gula darah rendah
atau tinggi.
- Tunjukkan pada pasien cara merotasi tempat injeksi untuk mencegah jaringan
parut.
- Ajari pasien cara memantau glukosa darah sesuai petunjuk.
- Identifikasi sumber untuk mendapatkan ID medis (mis. Medi-Alert) dan jelaskan
pentingnya informasi.
- Ajarkan pasien dan keluarga cara menyusun dan mengelola insulin.
- Tunjukkan teknik perawatan sendiri untuk pasien yang menggunakan pompa
insulin.
- Tekankan pentingnya kepatuhan pada diet dan sistem pertukaran untuk makanan.
- Tekankan pentingnya olahraga teratur.
- Beri tahu pasien untuk membawa sumber gula (misalnya, permen, paket gula)
untuk mengatasi hipoglikemia. (.................)?
DAFTAR PUSTAKA

ADA (American Diabetes Association).,2012. Standards of Medical Care in Diabetes.


Diabetes Care Vol.37:S41-S80.
ADA (American Diabetes Association).,2019. Standards of Medical Care In
Diabetes. The Journal of Clinical and Applied Research and Education
Vol.38: S1-S91.
ESC Guidelines on Diabetes.,2019 and Cardiovascular Diseases Developed in
Collaboration with the EASD, Eur Heart J 2019. doi/10.1093?
euheartj/ehz4862. Williams B, et al. Eur Heart J 2018; 39:3021-3104
Medscape drugs.com drug A to Z, siapa pengarangnya ? tahun berapa?
NICE. 2010. Management of chronic obstructive pulmonary disease in adults in
primary and secondary care (partial update). National Institute for Health and
Care and Excellence.guidance.nice.org.uk/cg101.
Evaluasi

1. Untuk tanda merah tolong spasi diperbaiki


2. Untuk tanda ungu tolong dibuat miring tulisannya
3. Untuk tanda hijau (........)? seperti itu tolong berikan sitasi atau sumbernya
dari mana tahun berapa
4. Untuk tanda orange tolong jelaskan maksudnya apa dan ikuti petunjuknya
5. Untuk penatalaksanaan non farmakologi ditulis secara umum sesuai guideline
bukan penatalaksanaan untuk kasus saja. Kalo untuk kasus itu ditulisnya di
SOAP
6. Untuk penatalaksanaan farmakologi tolong tambahkan keterangannya misal
untuk dm tipe 2 gunakan monoterapi metformin jika tidak ada perbaikan
kombinasi dengan golongan obat lain seperti insulin dsb
7. Tambahkan bagian pengerjaan masing-masing apa saja misal Dinar 31117111
(Pengertian) begitu pula untuk yang lainnya. Karena penilaian tidak hanya
perkelompok tapi juga perorang
8. Tambahkan kasus sebelum pengertian
9. Tambahkan patofisiologinya belum ada
10. Tambahkan keterangan pada faktor resiko, misal genetik bagaimana genetik
bisa menjadi faktor resiko DM?
11. Tambahkan pula gejala DM selain yang telah ada
12. Tolong perbaiki cara penulisan titik, koma, dan spasi.
13. Untuk dafus tolong perbaiki juga penulisannya nama, tahun, judul, tempat,
penerbit jika dari buku jika dari jurnal tambahkan nama jurnalnya apa.
Perhatikan juga sitasi bila sitasi ditiap paragraf ada maka harus ada juga di
dafus misal di atas ada sitasi Perkeni, 2015 tapi tidak ada di dafus.
14. Jika ada tambahkan jurnal penelitian untuk menambah nilai. Misal
jurnal tentang antibiotik sefalosporin yang efektif untuk luka diabetes.