RESUME MANTUBA:
PERANGKAT-PERANGKAT TARBIYAH IKHWANUL
MUSLIMIN
Nama: Hilmy Maulana Yusuf
Asal PD: KAMMI PD Cilegon
TARBIYAH ISLAMIYYAH DAN TUJUANNYA
Definisi Tarbiyah adalah cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia,
baik secara langsung (berupa kata-kata) maupun secara tidak langsung (berupa
keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkatnya yang khas), untuk memproses
perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.
Dalam definisi tarbiyah, sistem atau manhaj sendiri terbagi menjadi dua macam,
yakni:
a. Sistem yang hasil akhirnya tidak pasti (zhanni). Biasanya berakhir dengan
kegagalan, yaitu seluruh sistem yang ditegakkan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan tujuan menciptakan perubahan pada diri umat
manusia.
b. Sistem yang hasil akhirnya sudah pasti, yakni berupa keberhasilan. Ia adalah
sistem yang disyariatkan Allah dan dianjurkan kepada kita agar menempuh
jalannya. Sistem ilahi ini terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Sistem yg Allah swt. tundukkan untuk manusia, menyangkut suatu
langkah yang ditentukannya sendiri, dengan orientasi kepada
kemaslahatan umat manusia dan terbangunnya sebuah tatanan
masyarakat.
2. Sistem yang Allah tetapkan untuk manusia berupa agama, manusia
diperintahkan untuk berpegang teguh padanya.
Adapun sumber daripada sistem ilahi ini adalah kitabullah, sunnah rasul,
sirah nabawi, sirah para sahabat, juga ijma’. Sistem ini selain itu bersifat
integral dan komprehensif. Pilar pokoknya ada dua, yaitu:
1. Pilar tarbawi (pembinaan)
Tujuannya untuk menyempurnakan potensi pribadi muslim yang
terpelajar dan mengubahnya ke kondisi yang lebih baik agar mampu
berinteraksi dengan hidup dan kehidupan. Agar dapat mewujudkan
kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.
2. Pilar tanzhimi (institusi)
Terdiri atas dua, yaitu:
a. Institusi internal masyarakat, yakni tentang aturan dan kode etik.
b. Institusi eksternal, yakni tentang hubungan antar negara islam dan
lainnya.
Secara ringkas, Tarbiyah Islamiyyah adalah proses penyiapan manusia yang
shalih, yakni agar tercipta suatu keseimbangan dalam potensi, tujuan, ucapan, dan
tindakannya secara keseluruhan. Manfaat daripada Tarbiyah Islamiyyah adalah:
a. Adanya keseimbangan, baik itu dalam hal potensi maupun hal lainnya.
b. Mendorong seseorang untuk bersikap positif dan responsif
c. Mendorong seseorang untuk memiliki dinamika yang tinggi di seluruh
kehidupan bersama diri dan orang-orang di sekitarnya.
d. Mampu mengiringi fitrah manusia dalam menghadapi realitas hidupnya di
bumi dan di alam materi ini, juga mengiringi potensinya menuju tingkat
keteladanan dan kepeloporan.
Sedangkan tujuan daripada Tarbiyah Islamiyyah adalah menciptakan kondisi
yang kondusif bagi manusia untuk dapat hidup di dunia secara lurus dan baik, serta
hidup di akhirat dengan naungan ridha dan pahala Allah swt.
Tujuan di atas dapat dirangkum ke dalam poin-poin tujuan Tarbiyah Islamiyyah,
yaitu:
1. Ibadah kepada Allah semata sesuai dengan syariat-Nya.
Ibadah menuntut terwujudnya unsur-unsur dari seorang muslim; iman,
islam, ihsan, keadilan, amar ma'ruf nahi munkar, dan jihad di jalan Allah
untuk menjadikan kalimah Allah sebagai yang tertinggi.
2. Tegaknya khilafah Allah di muka bumi.
Berinteraksi dengan seluruh alam yang terbentang ini, dengan
menggunakan potensi ilmu dan seluruh produk penemuan ilmiah yang baik,
untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya.
3. Saling mengenal sesama manusia.
Tarbiyah Islamiyyah menyiapkan manusia untuk dapat hidup penuh
kasih sayang dengan saudaranya setelah dihimpun oleh aqidah yang benar
dan ajaran Allah.
4. Kepemimpinan dunia.
Selama kaum muslimin berada jauh dari penguasaan dunia, berarti
mereka jauh juga dari hakikat iman dan amal shalih. Akibatnya mereka akan
senantiasa terganjal dengan urusan agamanya dan terpuruk dalam dosa dan
maksiat. Tarbiyah Islamiyyah berupaya dengan segenap potensi yang
dimiliki untuk mengeluarkan umat manusia dari ganjalan perasaan, dosa,
dan maksiat.
5. Menghukum dengan syariat.
Hasil akhir daripada empat poin-poin tujuan Tarbiyah Islamiyyah
adalah tegaknya syariat Allah tanpa tawar menawar, pemilah-milahan, dan
tambal sulam, apalagi toleran kepada sistem lain buatan manusia.
Cakupan daripada Tarbiyah Islamiyyah sendiri adalah:
1. Individu, dengan seluruh unsur yang dapat membangun kepribadiannya.
2. Rumah Tangga muslim, dengan seluruh nilai dan moralitas yang harus
ditegakkannya.
3. Masyarakat muslim, dengan seluruh interaksi sosial dan pengaturannya.
4. Umat muslimah, dengan seluruh aktivitas yang ada di dalamnya
5. Negara Islam, dengan sistem dan undang-undang yang harus ditegakkan di
dalamnya.
TARBIYAH IKHWANIYYAH DAN TUJUANNYA
Tujuan tarbiyah dalam jama’ah Ikhwan dan tarbiyah islamiyyah sebenarnya
masih dalam satu kerangka tujuan, hanya saja dalam jama’ah ikhwan tujuan
tersebut ada beberapa penambahan. Perbedaan tujuan antara tarbiyah ikhwaniyyah
dan islamiyyah tidak lain menyangkut pada:
1. Penjelasan yang lebih terperinci dalam ikhwan.
2. Aplikasi operasional terhadap teori dan prinsip-prinsip yang terkandung
dalam Tarbiyah Islamiyyah.
Secara global tujuan daripada Tarbiyah Ikhwaniyyah adalah mempersiapkan
individu, baik fisik, akal, maupun ruhaninya; juga akhlak, ilmu, maupun amalnya.
Lalu mempersiapkan rumah tangga, masyarakat, umat, dan negara, di bawah
naungan ajaran islam yang intergral dan komprehensif.
Sedangkan tujuan besar daripada Tarbiyah dalam jama’ah Ikhwanul Muslimin
adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Permanen
Menyangkut penerapan dari tujuan-tujuan Tarbiyah Islamiyyah
2. Tujuan Kontekstual
Pengamatan terhadap arus berbagai nilai yang mewarnai masyarakat dan
bagaimana mencari perangkat yang dapat digunakan untuk menghadapinya
dalam perspektif syariat islam.
Tujuan besar di atas dirinci menjadi beberapa poin:
A. Tujuan-tujuan permanen tarbiyah dalam jamaah Ikhwanul Muslimin.
B. Tujuan-tujuan kontekstual tarbiyah, disertai dengan pemaparan berbagai
arus nilai:
1. Arus pemikiran dan peradaban
2. Arus sistem nilai sosial dan politik
3. Arus politik dan ekonomi
4. Sarana-sarana kehidupan dan pola-polanya.
C. Peletakan kurikulum untuk proses tarbiyah individu, keluarga, dan
masyarakat.
D. Mengamati realitas dunia islam kontemporer, meliputi:
1. Sistem nilai sosial yang berbahaya
2. Institusi politik yang destruktif
3. Institusi ekonomi yang bertentangan dengan islam
Dinamika nilai yang bertentangan dengan islam bertujuan, antara lain:
1. Menjauhkan kaum muslimin dari sistem dan undang-undang yang disyariatkan
oleh Allah.
2. Pengaburan syariat Allah di benak hamba-hamba-Nya (dengan segenap tuduhan
palsu terhadap undang-undang dan sistem Islam).
3. Mengisi kefakuman kaum muslimin (dengan berbagai hal yang melalaikan).
A. Tujuan-Tujuan Permanen Tarbiyah Dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin
Tujuan permanen Tarbiyah Ikhwaniyyah ada dua:
4. Mewujudkan tujuan-tujuan tarbiyah islamiyyah yang baku dengan
mengantarkannya dari tataran konsep ke dunia realitas, yakni:
A. Memberdayakan orang untuk dapat mengabdi kepada sesembahan yg
hak, Allah swt. Dilakukan dengan cara:
i. Menajamkan unsur keimanan dalam diri manusia sebagai hamba
Allah dengan persepsi yang benar tentangnya serta keikhlasan hati
hanya kepada Allah dengan tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah.
Serta iman kepada 5 pokok yang lainnya, dengan harus
menyertakan dasar yang dijelaskan syariat, tanpa mempermudah
atau mempersulitnya.
ii. Menghidupkan unsur islam dalam diri manusia. Dilakukan dengan
pemahaman yang benar terhadap syahadat dan pengamalan
kandungannya.
iii. Penerapan unsur ihsan dalam ibadah dan tradisi. Dapat diterapkan
dengan:
Dalam ibadah, dengan perasaan taqarrub, merasa dekat dan
diawasi Allah swt.
Dalam tradisi, dengan kualitas baik seorang muslim dalam
setiap pekerjaan yang dilakukan (perfeksionis).
iv. Menegaskan dan membiasakan keadilan serta membantu orang
untuk menegakkannya.
v. Penanganan amar ma'ruf nahi munkar dan membantu org lain
melakukan nya. Bentuknya:
Aktivitas dan perubahan dengan tangan dan kekuatan
Kata-kata, apabila tangan dan kekuatan tidak berdaya.
Keprihatinan hati, jika tangan dan lisan tidak berdaya.
vi. Penanganan operasional jihad di jalan Allah. Yaitu dengan
melakukan:
Penyiapan jiwa, akal pikiran, dan fisik.
Penyiapan seluruh perangkat kekuatan; rohani, materi, akal
pikiran.
Meneguhkan tekad di dada untuk berjihad di jalan Allah
sehingga hanya kalimah Allah-lah yang paling tinggi.
B. Menjalankan kewajiban khilafah di muka bumi, memakmurkannya
dan membantu orang lain untuk memahami tujuan ini. Meliputi:
i. Keyakinan bahwa bumi dan segala isinya sudah Allah tundukkan
untuk kita, untuk dimanfaatkan, dan usaha memakmurkan bumi
adalah kewajiban syariat.
ii. Meraih segala hal yang meningkatkan potensi keilmuan dan
keahlian yang dapat menjadikan orang mampu memakmurkan
bumi dan mengambil manfaat darinya yang dapat membawa
kebaikan hidup dan mati.
iii. Menegaskan keyakinan bahwa iman dan amal shalih menjadi
syarat mutlak untuk mewujudkan kepenguasaan yang membawa
kemanfaatan dunia dan akhirat.
C. Menunaikan kewajiban ta'ruf antar kaum muslimin di berbagai tanah
air islam dengan beberapa pilar, yaitu:
i. Akhlak islami dan etikanya.
ii. Ukhuwah dalam naungan ajaran agama dan tuntutannya.
iii. Saling menolong dan membantu.
iv. Saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
v. Saling mengungkapkan pendapat dan nasehat untuk setiap
masalah umat muslim.
D. Bekerja untuk meraih kursi kekuasaan di bumi dan menjadikan syariat
Allah sebagai dasar pijakan, mencakup:
i. Iman, amal shalih, pemakmuran bumi, saling berkenalan, saling
mencintai karena Allah di tingkat individu, rumah tangga,
masyarakat, dan umat keseluruhannya.
ii. Mewujudkan semua perangkat yang dibenarkan syariat, yang
menyebabkan kokohnya islam dan muslimin di muka bumi.
Meliputi dakwah, tarbiyah, taujih, dan amal.
iii. Penanganan aktivitas-aktivitas kenegaraan yang sesuai dengan
syariat Allah.
iv. Bekerja dalam rangka menjadikan agama Allah sebagai
pemimpin dan penguasa atas seluruh agama dan seluruh aturan
perundang-undangan.
v. Mempersiapkan tegaknya hukum dengan wahyu Allah swt.
turunkan. Dengan cara:
Mengambil seluruh perangkat yang tidak bertentangan
dengan syariat, yang dapat mengantarkannya padanya.
Mempersiapkan energi, potensi, maupun pengetahuan yang
dibutuhkan dalam penyelenggaraan hukum dengan
persiapan yang detaill dan terarah bagi setiap peringkat
spesialis yang dibutuhkan oleh negara.
Menolak dan membuang segala sistem hukum selain Islam.
melatih para pribadi yang berpotensi untuk melaksanakan
tugas kenegaraan (membuat semacam pemerintah
bayangan) untuk membekalinya dengan pengalaman
sehingga memungkinkannya memikul tugas-tugas
kenegaraan ketika negara Islam sudah berdiri.
5. Membantu orang untuk merealisasikan tujuan-tujuan tarbiyah islamiyyah.
Adapun tujuan dan target jama’ah yang hendak direalisasikan adalah:
a. Terbentuknya sosok muslim (dalam pemikiran, keyakinan, akhlak,
dan emosinya.)
b. Rumah tangga muslim
c. Lahirnya pemerintah islam (yang menggiring masyarakat menuju k
masjid dan membimbing umat manusia menuju hidayah).
d. Bergabungnya negeri islam.
e. Panji-panji Allah berkibar tinggi di berbagai wilayah yang dulunya
pernah berbahagia dengan hadirnya islam.
f. Dakwah tersebar ke seluruh dunia, menyampaikannya kepada seluruh
umat manusia, menggaungkannya ke seluruh penjuru bumi, dan
menjatuhkan semua penguasa otoriter sehingga tidak ada lagi fitnah
dan agama seluruhnya hanya milik Allah.
B. Tujuan-Tujuan Kontekstual Tarbiyah Dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin
Yakni tentang bagaimana upaya menghadapi perubahan arus nilai secara
ilmiah dan tepat berlandaskan ajaran Islam, sekaligus bagaimana merumuskan
cara-cara terbaik untuk itu.
Perubahan pada hakikatnya adalah sunnatullah dan engkau tidak akan
mendapati pada sunnatullah itu gantinya, yakni bagaimana manusia berubah
dari satu kondisi ke kondisi yg lain, juga bagaimana kehidupan di sekitarnya
berubah seiring dengan perubahan yg diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Ada beberapa aspek perubahan, yakni:
1. Arus pemikiran dan peradaban
i. Khurafat
ii. Atheisme dan materialisme
iii. Nasionalisme
iv. Filsafat yang destruktif
2. Arus sistem nilai sosial dan politik
i. Demokrasi
ii. Komunisme
iii. Sosialisme
iv. Diktatorisme / otokrasi
3. Arus politik dan ekonomi
i. Zionisme
ii. Kolonialisme
iii. Perang pemikiran dan peradaban
Tujuan umum daripada manhaj politik Ikhwanul Muslimin adalah
sebagai berikut:
Agar tanah air islam terbebas dari kekuasaan asing
Agar ditengah tanah air islam yang bebas ini tegak pemerintah
islam yang merdeka.
iv. Ekonomi dan arus pemikiran tentangnya yang merasuki dunia islam.
Ikhwan menghadapinya dengan sikap operasional yang muncul dalam
dua arus besar:
Arus penyadaran
Arus operasional dan penerapan
Sebagai solusi konkret dalam menghadapi arus ini, Ikhwan memiliki
badan usaha ekonomi. Tujuh macam badan usaha ekonomi ikhwan
dengan saham per-anggotanya:
Koperasi muamalah islam
koperasi arab untuk tukang kayu dan tukang batu
Koperasi Ikhwanul Muslimin untuk pemintal dan penyulam.
Koperasi percetakan islam.
Koperasi pedagang dan industri tepat guna di iskandariyah
Koperasi perwakilan pedagang
Koperasi informasi arab
4. Sarana-sarana kehidupan dan pola polanya. Terdapat beberapa arus besar
dalam hal ini, yakni:
i. Mengasingkan berbagai corak dan gaya hidup keseharian dari agama
dan ajarannya
ii. Mengalahkan zending (kristenisasi) dengan segala kandungan misinya
yang hasud kepada islam dan kaum muslimin, sehingga menjadikan
mereka hina dan terpedaya. Adapun terkait zending atau kristenisasi
memiliki beberapa nilai yang dikandungnya, antara lain:
Westernisasi
Persoalan wanita
Persoalan pendidikan dan pengajaran
Sikap konkret ikhwan terhadap isu ini secara operasional adalah
sebagai berikut:
a.) Lajnah Al-Muthalabah bi Ishlahit Ta'lim (lembaga untuk
memberi masukan perbaikan pengajaran).
b.) Lajnah Ta'sis Al Madaris Al-Ibtida'iyah wa Tsanawiyah lil
Banin wal Banat (Lembaga perintis SD dan SMP)
c.) Lajnah Syu-un ats-tsaqafah
d.) Menjadikan lembaga perintis sekolah menjadi lembaga
bersama
e.) Membuat kurikulum pendidikan
Persoalan dekadensi moral
Persoalan kristenisaai (tanshiriyah)
Zending
Pilar pokok ikhwan dalam menghadapi isu zending, antara lain:
a.) Memahamkan kepada masyarakat tujuan berbahaya
zending dengan berbagai selebarannya.
b.) Menggunakan sarana2 operasional yg sama dengan yg
dgunakan oleh para misionaris.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan ikhwan dalam menghadapi isu
yang bertentangan dengan islam, disarikan dari Al-Quran dan sunnah nabi.
Sifatnya mengikuti (ittiba’) syariat islam bukan merekayasa (bid’ah).
5. Arus cara pandangan terhadap alam, kehidupan, dan benda hidup
Beberapa aspek global yang dimiliki jama’ah Ikhwanul Muslimin terkait hal
tarbiyyah:
1. Tarbiyah Individu Muslim, dengan tarbiyah islam yang integral
2. Tarbiyah keluarga muslim, dengan tarbiyah islam yang efektif dan integral
3. Tarbiyah masyarakat muslim, dengan pola pembinaan islam yang juga
efektif dan komprehensif, yang dilandasi oleh semangat amar ma'ruf nahi
munkar, keadilan, ihsan, dan cinta jihad di jalan Allah.
4. Mempersiapkan umat islam, dengan persiapan yang memungkinkannya
memanggul beban-beban dakwah dan jihad di jalan Allah
5. Bekerja dalam rangka mewujudkan pemerintah islam, yang dapat
mengantarkan tegaknya agama Allah di tengah manusia dan menghukum
dengan syariat-Nya
6. Mewujudkan sikap adil di tubuh umat islam, agar mereka menjadi
pemandu alam ini.
C. Peletakan Sistem Tarbiyah Individu, Keluarga, Dan Masyarakat.
Penjelasan mengenai sistem tarbiyah jamaah Ikhwanul Muslimin, sebagaimana
berikut:
1. Wajah Manhaj Ikhwanul Muslimin dalam Tarbiyah
Berikut ini program pemula bagi Tarbiyah Ikhwaniyyah
a. Saya berkeyakinan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah,
Muhammad saw. adalah penutup para rasul yang diutus untuk seluruh
umat manusia, pahala adalah benar adanya, Al-Qur'an adalah kitabullah,
dan islam adalah undang-undang yang menyeluruh untuk mengatur
kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Saya juga berjanji untuk
menghafal satu juz Al-Qur'an, berpegang teguh kepada sunnah yang
suci, dan mempelajari Sirah Nabi serta sejarah para sahabat yang mulia.
b. Saya berkeyakinan bahwa istiqamah, sikap utama, dan ilmu adalah
salah satu rukun islam, saya berjanji untuk senantiasa istiqamah, untuk
senantiasa menunaikan ibadah dan menjauhi kemungkaran dengan
suka rela, berakhlak dengan akhlak yang baik, melepaskan diri dari
akhlak yang buruk, senantiasa disiplin dengan berbagai amalan ibadah
sebisa yang saya lakukan. Saya memilih menyelesaikan masalah
dengan kasih sayang dan kecintaan daripada dengan pengadilan dan
hukum, saya tidak akan berlindung kepada hukum kecuali terpaksa,
saya merasa terhormat dengan syiar-syiar islam dan bahasanya, dan
saya bekerja dalam rangka membangkitkan cinta ilmu pengetahuan
yang bermanfaat di setiap lapisan masyarakat.
c. Saya berkeyakinan bahwa seorang muslim dituntut untuk bekerja dan
mencari penghidupan; di dalam harta ada hak yang harus diberikan
kepada orang yang meminta dan yang membutuhkan, saya berjanji
untuk siap bekerja mencari penghidupan, siap berlaku ekonomis untuk
persiapan masa depan, menunaikan zakat dengan hartaku,
mempersembahkan dari waktuku untuk kerja sosial, ikut mendorong
setiap proyek ekonomi yang bermanfaat, mempersembahkan hal-hal
yang produktif bagi negeriku dan membangun agama serta tanah air ku,
tidak bergaul dengan riba dalam segala urusanku, dan tidak belanja
kebutuhan yang bersifat tersier melebihi kemampuanku.
d. Saya berkeyakinan bahwa seorang muslim mesti bertanggung jawab
tentang keluarganya, salah satu kewajibannya adalah menjaga
kesehatan, aqidah, dan akhlaknya. Saya berjanji untuk bekerja demi
semua itu dengan sungguh-sungguh, menyebarkan ajaran islam kepada
anggota keluargaku, tidak memasukkan anak-anakku ke tempat
pendidikan yang tidak menjaga aqidah dan akhlak mereka, dan
memutuskan hubungan dengan penerbitan, buku-buku, lembaga-
lembaga, klub-klub, dan forum-forum yang tidak beriringan dengan
ajaran islam.
e. Saya berkeyakinan bahwa salah satu kewajiban seorang muslim adalah
menghidupkan kembali kejayaan islam dengan membangkitkan
masyarakat dan mengembalikan tegaknya syariat, bendera islam harus
dikibarkan di tengah umat, dan salah satu fungsi keberadaan seorang
muslim adalah mendidik dunia dengan kaidah-kaidah islam. Saya
berjanji untuk berjihad untuk menunaikan misi ini sepanjang hayat
masih dikandung badan dan berkorban untuknya dengan segenap
potensi yang saya miliki.
f. Saya berkeyakinan bahwa kaum muslimin seluruhnys adalah umat
yang satu dan diikat oleh aqidah islam. Saya juga berkeyakinan bahwa
islam memerintahkan kepada putra-putrinya untuk berbuat ihsan
kepada seluruh umat manusia. Saya berjanji untuk mengerahkan
seluruh potensiku dalam rangka memperkuat ikatan persaudaraan
antara kaum muslimin dan menghilangkan kegersangan dan pertikaian
antar golongan di tengah mereka.
g. Saya berkeyakinan bahwa rahasia dari keterbelakangan kaum muslimin
adalah jauhnya mereka dari ajaran agamanya. Saya juga bersaksi bahwa
prinsip dasar perbaikan adalah kembali menjadikan ajaran islam dan
hukum-hukumnya sebagai referensi dan bahwa itu semua hanya
mungkin diwujudkan apabila kaum muslimin bekerja keras untuk
memperjuangkannya, dan bahwa fikrah ikhwan dapat dipergunakan
untuk mewujudkan cita-cita ini. Saya berjanji untuk tegar dalam
memegang prinsip-prinsipnya dan mendukung setia kepada semua
orang yang bekerja untuknya, juga senantiasa menjadi jundi untuk
berkhidmah atau mati di jalannya.
2. Keluasan Wilayah Manhaj menurut jamaah
Perincian sistem Ikhwan dijabarkan dalam beberapa poin:
A. Menganggap bahwa aqidah ikhwan (usul 'isyrin) merupakan simbol
dari manhaj ini.
B. Agar setiap muslim meyakini bahwa manhaj ini seluruhnya berasal dari
islam dan kelemahan dalam memahaminya berarti kelemahan dalam
memahami fikrah islam yang benar.
C. Setiap al-akh muslim dituntut untuk bekerja untuk menyebarkan
prinsip-prinsip ini di seluruh masyarakat, agar mereka memiliki
semangat yang utuh dan menerapkannya dalam kehidupan di rumah
tangganya, walaupun untuk itu ia harus berhadapan dengan hal-hal
yang tidak disukainya.
D. Setiap al-akh yang tidak konsisten dengan manhaj ini agar diterapkan
untuknya sanksi yang sesuai dengan kadar pengabaiannya. Selanjutnya
ia disadarkan agar kembali setia kepadanya.
E. Al-akh hendaknya berkenalan dengan tujuan dakwahnya secara
lengkap dan menjadikannnya sebagai satu-satunya barometer untuk
mengukur antara dirinya dengan lembaga yang lain.
F. Semua manhaj yang tidak mendukung islam dan tidak berakar dari
prinsip-prinsip umumnya tidak akan mengantarkan kepada
keberhasilan.
G. Semua manhaj yang mendukung salah satu aspek dalam manhaj
Ikhwanul Muslimin, maka al-akh harus mendukung aspek itu.
H. Ikhwanul muslimin, jika berkeinginan mendukung suatu lembaga,
hendaknya meyakinkan dirinya bahwa pada suatu waktu nanti ia tidak
meracuni tujuan yang telah digariskan.
I. Lembaga yang bermanfaat dapat membimbing ke arah tujuan dengan
meningkatkan kekuatannya, bukan dengan melemahkan nya.
J. Ikhwan hendaknya menyambut baik setiap fikrah yang bertujuan untuk
menyatukan potensi kaum muslimin di manapun berada. Mendukung
ide penyatuan umat islam adalah bagian dari fenomena kebangkitan
timur.
K. Ikhwanul muslimin berbaik sangka kepada seluruh lembaga islam dan
senantiasa berusaha untuk mendekatkan antara yang satu dengan yang
lainnya dengan segala cara. Juga meyakini bahwa cinta kasih antara
sesama kaum muslimin adalah modal utama untuk proses kebangkitan
mereka. Namun, mereka menentang setiap lembaga yang mengaburkan
makna islam, seperti bahaiyyah dan qadiyaniyah.
Intisari manhaj ikhwanul muslimin diungkap di Majmu’atur Rasail pada
subtema:
a. Dakwah kami?
b. Kepada apa kami menyeru manusia?
c. Kepada para pemuda
d. Dakwah kami di Era baru
e. Muktamar kelima
f. Risalah Ta’lim (Bercicara tentang Arkanul Bai’ah)
3. Karakter manhaj
Spesifikasi karakter manhaj tarbiyah Ikhwanul Muslimin:
a. Seluruh manhaj, baik secara global maupun ringkasnya, diambil dari
Al-Quran, sunnah, dan sirah nabi.
b. Ia adalah manhaj yang memiliki sasaran-sasaran yang jelas. Sasaran-
sasaran itu pasti seiring dengan Islam dan diridhai oleh syariat.
c. Sistem ini memiliki sarana-sarana yang pas dan setiap sarananya
berbobot syar'i serta memiliki akar dalam ajaran Islam.
d. Diuraikan secara terperinci (dalam buku Mr), meliputi tarbiyah
Individu, keluarga, dan masyarakat, dengan tarbiyah Islam yang shahih.
e. Bersikap akomodatif terhadap arus perubahan, sepanjang tidak
bertentangan dengan ajaran Islam. Sedangkan segala hal yang
bertentangan dengan Islam, maka ia ditolak mentah-mentah.
f. Mencakup segala tuntutan umat Islam kontemporer, di wilayah yang
berbeda-beda.
g. Bersifat aplikatif dan realistis, bahkan sudah terbukti aplikasinya dalam
kurun waktu lama dengan mencetak para pejuang yang tegar di medan
jihad, dan para pejuang memiliki kesabaran menakjubkan dalam
menghadapi kezaliman pemerintah Mesir.
POTRET DUNIA ISLAM KONTEMPORER
1. Sistem sosial impor yang destruktif
Tercermin dalam bentuk upaya mengaburkan kepribadian seorang
muslim. A.) Pertama dengan meracuni otak dan pengetahuan para pemuda
dengan nilai2 akhlak barat. B.) Kemudian merusak kepribadian wanita
muslimah dengan upaya melepaskan agama dan akhlak dari jiwanya.
Sebagai gantinya mereka menanamkan nilai2 akhlak yang banyak dianut
oleh wanita barat yang tidak peduli dengan agama, perasaan malu, dan
akhlak. C.) Mengimpor berbagai tradisi dan sistem sosial barat yang
bertentangan dengan agama dan akhlak islami.
2. Sistem Politik yang Merusak
Sistem ini mulai terlihat diawali dengan a.) mengaburkan sistem
undang-undang Islam, lalu menghapuskan sistem khilafah, hingga merusak
segala sesuatu yang menjadi bagian dari sistem tersebut, sepanjang masih
bersentuhan dengan ajaran islam. b.) Menyebabkan sedikitnya sistem
politik islam yang digunakan. c.) Berakibat lenyap dan tersembunyinya
kepribadian politik Islam, di samping juga hilangnya undang-undang,
hukum dan etika politik islam. Menjauhkan kaum muslimin dari islam
dengan cara:
Dengan melontarkan kerancuan pikiran tentang politik islam dalam
kehidupan, dengan tuduhan bahwa islam adalah agama sektoral dan
temporal, tidak cocok kecuali untuk bangsa arab.
Dengan pembaratan. Yakni, mengarahkan loyalitas kaum muslimin ke
barat, baik pemikiran, wawasan, perdagangan, agraria, industri,
maupun ilmu pengetahuannya secara umum
3. Sistem Ekonomi yang Memusuhi Islam
Negeri barat merubah dunia islam ini menjadi ladang bagi mereka
dan menjadi pasar untuk menjual hasil panennya. Sebagian negara islam
setelah terperangkap terpuruk kondisinya pada keadaan yang semakin buruk
meskipun kekayaan alam dunia islam luar biasa, dengan produk ekonomi
yang begitu beragam. Para penjajah merampok seluruh kekayaan ini untuk
kepentingan mereka, dan meninggalkan sisa-sisa kecil yang tidak berarti
sama sekali. Mengakibatkan distribusi kekayaan yang tidak beres pada
warga masyarakat. Lahirlah kemiskinan yang akut di tengah kekayaan yang
melimpah.
Sistem ekonomi islam dapat disimpulkan dalam beberapa poin
berikut:
a. Menganggap harta yang baik adalah pilar kehidupan. Karenanya
wajib dilindungi, dikelola secara baik dan dikembangkan.
b. Setiap personil mampu, harus bekerja untuk mencari
penghidupan.
c. Menyingkap potensi kekayaan alam dan keharusan
memanfaatkannya.
d. Mendekatkan kesenjangan dalam berbagai strata kehidupan
untuk menghapuskan kemiskinan dan kecemburuan sosial.
e. Hasil kerja yang mungkar hukumnya haram.
f. Jaminan sosial dan jaminan hidup aman harus diberikan kepada
setiap warga negara. Selain itu jaminan dapat bekerja sesuai
pilihannya untuk kesejahteraannya.
g. Dianjurkan untuk mengeluarkan infak dalam hal kebaikan,
diharuskan adanya saling menanggung antar warga negara, dan
saling kerja sama dalam hal kebaikan dan taqwa.
h. Menetapkan kehormatan harta dan kehormatan pemilikannya
secara khusus sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan
umum.
i. Mengatur distribusi ekonomi dengan aturan yang adil dan penuh
santun serta hendaklah bersikap cermat dalam urusan uang.
j. Menegaskan adanya tanggung jawab pemerintah dalam
melindungi sistem ini.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disarikan salah satu pilar
tarbiyah jamaah untuk individu muslim adalah hendaknya ia mengenal
dunia islam yang dirinya menisbatkan diri padanya, dengan pengenalan
yang baik, dan menganggap bahwa segenap penyakit yang menimpanya
adalah penyakit tanah airnya sendiri, bahkan penyakit dalam tubuhnya
sendiri. Adalah larangan baginya mendekapkan kedua tangannya dengan
acuh tak acuh dan tidak berbuat sesuatu pun. Sebaliknya ia harus membina
perasaannya untuk dapat memberikan kontribusi bagi pemecahan berbagai
persoalan di dunia islam sepanjang terdapat jalan untuk itu, sesuai dengan
syariat Allah dan Rasulnya.
FIKRAH JAMAAH ANTARA TUJUAN DAN PERANGKAT
Prinsip dasar yang jamaah dakwahkan dan banggakan adalah sebagai berikut:
1. Meyakini bahwa hukum dan ajaran islam itu komprehensif, mengatur
seluruh urusan manusia di dunia dan di akhirat.
2. Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa asas dan mata air ajaran islam adalah
kitab Allah dan sunnah rasulnya, yang jika umat mau berpegang teguh
padanya, niscaya mereka tidak akan tersesat selamanya.
3. Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa islam sebagai agama yang universal
adalah sistem kehidupan yang mengatur semua aspek kehidupamn umat dan
bangsa di setiap masa.
Pemahaman yang komprehensif dan utuh tentang islam dalam diri Ikhwanul
Muslimin ini menghasilkan keuniversalan fikrahnya yang menyentuh semua aspek
reformasi umat dan tercermin di dalamnya semua ide perbaikan. Maka dapat
dikatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah:
1. Dakwah Salafiyah, karena mereka menyeru untuk mengembalikan Islam
kepada sumbernya yang jernih, yakni Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya.
2. Thariqah Sunniyah, karena dengan segenap kemampuannya mereka
membawa dirinya untuk beramal dengan landasan sunnah yang suci dalam
segala hal, khususnya dalam hal aqidah dan ibadah.
3. Haqiqah Shufiyah, karena mereka memahami bahwa asas kebaikan adalah
kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinuitas amal, berpaling dari
ketergantungan kepada makhluk, kecintaan kepada Allah, dan komitmen
dengan kebaikan.
4. Hai’ah Siyasiyah, karena mereka menuntut perbaikan hukum dari dalam,
meluruskan persepsi seputar hubungan umat Islam dengan bangsa-bangsa
lain di luar negeri, serta mendidik masyarakat untuk memiliki kehormatan,
harga diri, dan kemauan yang kuat untuk mempertahankan jati dirinya,
sampai batas maksimal.
5. Jama’ah Riyadhiyah, karena mereka sangan memperhatikan fisiknya dan
menyadari bahwa mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang
lemah. Sesungguhnya semua tuntutan islam, tidak bisa ditunaikan dengan
sempurna dan benar kecuali dengan dukungan fisik yang kuat.
6. Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqafiyah, karena islam menjadikan aktivitas mencari
ilmu sebagai satu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Begitu juga
karena forum-forum Ikhwan pada dasarnya adalah madrasah-madrasah
taklim dan peningkatan wawasan, serta lembaga-lembaga untuk
mentarbiyah fisik, akal pikiran, dan ruhani.
7. Syirkah Iqtishadiyah, karena Islam sangat memperhatikan pendistribusian
harta dan perolehannya.
8. Fikrah Ijtima’iyah, karena mereka sangat memperhatikan penyakit-
penyakit yang melanda masyarakat islam dan berusaha memberikan terapi
serta solusinya.
Karakteristik Dakwah Ikhwan:
1. Jauh dari titik-titik perselisihan
2. Jauh dari dominasi para tokoh dan pembesar
3. Jauh dari fanatisme partai dan golongan
4. Memberikan perhatian terhadap pembentukan kepribadian dan bertahap
dalam langkah
5. Memprioritaskan sisi praktis yang produktif daripada slogan dan
propaganda kosong
6. Dakwahnya banyak direspon oleh kaum muda
7. Cepat berkembang di pedesaan maupun perkotaan
Fase dakwah:
1. Fase propaganda, pengenalan, dan penyebaran fikrah, sehingga sampai
semua khalayak dari berbagai strata sosial
2. Fase pembentukan, penyeleksian para pendukung, penyusunan pasukan,
dan pemobilisasian massa yang sudah tersentuh oleh dakwah
Tiga bentuk program yang Ikhwan jalankan untuk fase ini:
a. Al-kataib (katibah-katibah)
Dimaksudkan untuk memperkuat barisan dengan cara ta’aruf untuk
mempertautkan jiwa dan ruh, mengendalikan kebiasaan dan tradisi,
serta melatih mereka agar senantiasa menjalin hubungan baik dengan
Allah dan selalu memohon pertolongan dari Nya. Inilah Ma’had
Tarbiyah Ruhiyah Ikhwanul Muslimin
b. Al-firaq (pembentukan klub-klub) untuk kepanduan, kamping dan
olahraga
Memperkuat barisan dengan cara peningkatan kesehatan fisik
anggota ikhwan, melatih ketaatan, kedisiplinan dan sportivitas, serta
menyiapkan mereka agar memiliki sikap jundiyah yang benar. Inilah
Ma’had Tarbiyah Jismiyah Ikhwanul Muslimin.
c. Kajian dalam kataib atau di arena-arena diskusi Ikhwan
Dengan meningkatkan intelektualitas dan daya nalar Ikhwan melalui
studi yang komprehensif terhadap segala permasalahan yang semestinya
diketahui oleh seorang muslim, baik mengenai urusan agama maupun
dunianya. Inilah Ma’had Tarbiyah Ilmiyah wal Fikriyah Ikhwanul
Muslimin
3. Fase pelaksanaan amal yang produktif
Penjelasan secara utuh mengenai fase ini ada pada risalah ta’lim
Seorang da’i yang berdakwah pada saat yang sama adalah seorang pendidik yang
tengah melakukan tarbiyah dan seleksi atas obyek dakwahnya. Pada saat yang sama
pula dia melakukan aktivitas dan aksi sekaligus.
Tujuan dan Perangkat
Tujuan Ikhwan terbatas pada pembentukan generasi baru (yakni: kaum beriman
yang berpegang teguh kepada ajaran-ajaran islam yang benar), dimana generasi
baru itu bekerja untuk memformat umat ini dengan format islam dalam semua aspek
kehidupannya.
Perangkat yang digunakan Ikhwan untuk mewujudkannya terbatas pada
pengubahan tradisi pada umumnya dan pembinaan para pendukung dakwah agar
komitmen dengan ajaran-ajaran islam ini, sehingga mereka menjadi teladan bagi
orang lain dalam berpegang teguh kepadanya, memelihara, dan tunduk kepada
hukum-hukumnya.
Manhaj Jamaah dan Sikapnya Terhadap Penggunaan Kekuatan dan Revolusi
Unsur kekuatan menurut Ikhwan ada tiga peringkat, yang pertama aqidah
dan iman, kemudian kesatuan dan persatuan, setelah itu baru fisik dan senjata.
Sebuah jamaah tidak bisa dikatakan kuat apabila tidak memiliki semua unsur
kekuatan tersebut.
Sikap ikhwan dalam menggunakan kekuatan, adalah ketika cara yang lain
tidak berguna lagi dan ketika yakin bahwa mereka telah menyempurnakan iman
dan kesatuan. Mereka memberi peringatan pertama kali, lalu menunggu beberapa
saat. Setelah itu mereka bergerak maju dengan penuh kehormatan dan harga diri
serta menanggung segala risiko sebagai konsekuensinya dengan lapang dada.
Adapun revolusi Ikhwan sama sekali tidak memikirkannya, tidak mengandalkannya,
apalagi meyakini hasil dan manfaatnya.
Manhaj dan Sikap Jamaah Terhadap Pemerintahan
Ikhwanul Muslimin meyakini, Islam telah menjadikan pemerintahan sebagai salah
satu pilar bangunannya. Tak hanya menjadi alat pengarah, tapi juga menjadi alat
penekan bagi terlaksananya arahan itu dalam kehidupan.
Manhaj dan Sikap Jamaah Terhadap Kekhilafahan
Ikhwan meyakini bahwa kekhilafahan merupakan lambang persatuan islam, bentuk
formal dari jalinan antar umat islam, dan syi’ar Islam yang harus dipikirkan dan
diperhatikan perwujudannya oleh kaum muslimin.
Langkah besar dalam upaya mengembalikan eksistensi kekhilafahan harus
didahului oleh banyak langkah:
1. Harus ada kerjasama penuh antar berbagai bangsa muslim dalam masalah
budaya, sosial, dan ekonomi
2. Membentuk berbagai kesepakatan, membuat lembaga-lembaga kerjasama,
dan mengadakan berbagai seminar antar negara.
3. Membentuk perserikatan bangsa-bangsa muslim.
PERANGKAT-PERANGKAT KHUSUS YANG DIPERGUNAKAN
JAMAAH DALAM MENTARBIYAH ANGGOTA-ANGGOTANYA
Perangkat Tarbiyah yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Usrah
2. Katibah
3. Rihlah
4. Mukhayyam atau Mu’asykar
5. Daurah
6. Nadwah
7. Muktamar
Dimensi Fundamental yang perlu diperhatikan dalam proses tarbiyah:
1. Manhaj yang shahih
2. Perangkat yang komprehensif
3. Pimpinan yang tegas dan terpercaya
A. Usrah
Merupakan landasan bagi pembentukan kepribadian anggota dan perangkat
paling tepat untuk mentarbiyah mereka secara integral, menyentuh seluruh sendi
kepribadian, untuk selanjutnya memformat mereka dengan format islam sesuai
dengan Kitabullah dan Sunnah RasulNya.
Urgensi Usrah:
1. Dari sistem usrah didapatkan kearifan, kejelian, dan langsung di bawah
asuhan seoranng syaikh atau murabbi.
2. Tidak bertentangan dengan universalitas dakwah, karena universalitas
dakwah ini bersumber dari universalitas Islam, sistem dan perundang-
undangannya
3. Penyiapan individu secara islami, pematangan mentalitas, pemikiran, aqidah,
dan perilaku merupakan kegiatan yang memerlukan kontinuitas, karena hal
ini usrah diharuskan memiliki sifat kontinuitas.
4. Hanya sistem usrah yang mampu memantapkan proses penyiapan individu
islami secara integral. Melalui usrahlah tersedia sumber daya manusia.
5. Hanya sistem usrah lah yang dapat mentarbiyah anggota dengan tarbiyah
islamiyah sesuai dengan harapan.
a. Definisi Usrah
Menurut bahasa arti usrah adalah:
- Baju perisai yang melindungi
- Istri dan keluarga seseorang
- Jamaah yang diikat oleh kepentingan yang sama
- Mereka adalah famili dan usrah ku
- Usrah seorang berarti kelompoknya, karena ia menjadi kuat
bersamanya
Dari definisi di atas, dapat dikatakan, sejak dini jamaah menjadikan
perkumpulan ini bertumpu pada sebuah wadah, yaitu usrah yang
didalamnya terkandung semua makna di atas. Usrah dikatakan sebagai
perisai perlindungan yang kokoh bagi setiap anggotanya. Dalam konteks
keanggotaan, ia seperti keluarga atau kerabatnya. Usrah juga merupakan
kumpulan orang-orang yang terikat oleh kepentingan yang sama, yakni;
bekerja, mentarbiyah, dan mempersiapkan kekuatan untuk islam.
b. Batasan Usrah dalam Jamaah
Aturan usrah dalam jamaah:
1. Sistem usrah adalah sistem islam yang mengarahkan para anggotanya
ke arah nilai-nilai teladan tertinggi
2. Mengukuhkan ikatan persatuan antar personal,
3. Mengangkat jalinan persaudaraan antar personal dari tataran teori ke
tingkat operasional
4. Merupakan sarana untuk menghimpun dana bagi ikhwan
5. Keterikatan dengan sistem ini merupakan kewajiban bagi semua
anggota jamaah ini
6. Sistem ini merupakan tulang punggung jamaah, baik secara individu,
sosial maupun finansial.
c. Nilai Syaratnya dalam Islam
Orisinalitas nilai syar’i bagi usrah dapat kita kenali melalui rukun-rukun dan
etikanya. Berikut ini sebagian prinsip-prinsip dasar syar’i yang mendukung
sistem usrah dan memberikan legitimasinya:
1. Berkaitan dengan target-target usrah
Tujuan usrah pertama adalah membentuk kepribadian islami secara
integral pada diri setiap individu muslim, mentarbiyah, dan
mengembangkannya sesuai dengan etika-etika dan nilai-nilai islam.
Adapun aspek kepribadian yang terpenting dijelaskan sebagai berikut:
a. Iman
Yakni pembenaran dalam hati, pengakuan dalam lisan, dan
pembuktian dengan amal perbuatan
b. Islam
Ketundukan kepada Allah dan pengakuan dengan lisan. Allah tidak
akan menerima agama selain Islam dari hamba-Nya.
c. Ihsan
Yakni engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya.
Jika engkau tidak melihat-Nya, hendaklah engkau menyadari bahwa
Dia melihatmu. Ihsan juga berarti pencermatan dan pembagusan
yang telah Allah tetapkan atas segala sesuatu
d. Keadilan
Berarti persamaan dan penempatan segala sesuatu secara
proporsional.
e. Amar ma’ruf nahi munkar
Berarti aktivitas memerintahkan kebaikan kepada setiap orang dan
melarang kemungkaran dari setiap orang
f. Jihad fi sabilillah
Jihad adalah pengerahan seluruh upaya dan daya untuk memerangi
musuh. Ada tiga macam:
Memerangi musuh yang terlihat
Memerangi syetan
Memerangi nafsu
1. Sejarah Usrah dalam Jamaah
Penetapan sistem usrah, atau dinamakan pada saat itu dengan Usar At-
Ta’awuniyyah pada Pertemuan Besar pada tahun 1943 M yang diikuti oleh
seluruh jajaran pimpinan dari semua cabang ikhwan di Mesir.
2. Tujuan Usrah; Umum maupun Khusus
Tujuan Umum:
1. Membentuk kepribadian muslim seutuhnya yang sanggup merespon
semua tuntutan agama dan kehidupan.
2. Mengukuhkan ikatan antar sesama anggota jamaah, baik secara sosial
maupun keorganisasian.
3. Upaya meningkatkan kesadaran akan derasnya arus nilai.
4. Memberi kontribusi dalam memunculkan potensi kebaikan dan
kebenaran yang tersembunyi pada diri seorang muslim dan
mendayagunakannya untuk berkhidmat kepada agama dan tujuan-
tujuannya
5. Menanggulangi unsur-unsur destruktif dan negatif pada diri anggota
6. Mewujudkan hakekat kebanggaan terhadap islam dengan membangun
komitmen kepada etika dan akhlak dalam semua aktivitas kehidupannya,
baik dikala senang maupun susah.
7. Mewujudkan hakekat loyalitas kepada jamaah dan komitmen untuk
meraih tujuan-tujuannya, dalam menggunakan perangkat-perangkatnya,
membangun gerakannya, dan menaati aturan serta etikanya.
8. Mengkaji problem dan kendala yang dihadapi anggota demi tegaknya
agama islam, dengan kajian yang cermat disertai gambaran langkah
solusinya dengan jelas.
9. Memperdalam pemahaman dakwah dan harakah dalam diri seorang
muslim.
10. Memperdalam keterampilan manajerial dan keorganisasian dalam medan
aktivitas islam.
Tujuan Khusus:
a.) Berkaitan dengan individu
1. Membentuk kepribadian islami, yakni dengan mewujudkan berbagai
aspek yang dapat membangun kepribadian islami seutuhnya. Aspek
itu adalah:
a. Aspek ideologi
b. Aspek ibadah
c. Aspek pemikiran dan wawasan
d. Aspek moral dan etika
e. Aspek gerakan pada diri
f. Aspek manajerial dan keorganisasian pada diri
2. Mengukuhkan makna ukhuwah dalam diri anggota, serta
mengingatkan bahwa ukhuwah adalah syi’ar jamaah.
3. Melatih diri untuk mengemukakan pendapat secara bebas, mau
mendengar pendapat orang lain dengan lapang dada dan pikiran yang
terbuka, serta mendiskusikan pendapat itu sehingga menjadi jelas
kebenaran yang wajib diikuti.
4. Memberdayakan setiap anggota agar mampu mentarbiyah dirinya
sendiri
5. Bekerja sama antar anggota usrah untuk mengembangkan potensi diri
dengan pelatihan
6. Bekerja sama antar anggota usrah untuk memecahkan berbagai
problematika dan kendala yang menghadang aktivitas islam.
7. Bekerja untuk mencetak calon-calon naqib usrah
b.) Tujuan Usrah Untuk Rumah Tangga
1. Pandai memilih Istri
2. Memformat rumah tangga muslim dengan format islam
3. Etika rumah tangga muslim
Rumah tangga muslim senantiasa dihiasi dengan nilai-nilai Islam
dalam segala aspek kehidupannya.
4. Anak-anak dalam rumah tangga muslim
Anak-anak dapat tumbuh berkembang dengan penuh kesadaran dan
memegang teguh nilai-nilai Islam.
c.) Tujuan Usrah bagi Masyarakat
Hendaknya ia menjadi masyarakat yang terwarnai oleh nilai-nilai Islam,
berhukum kepada syariat Allah dalam segala urusannya, dan dipimpin
oleh sistem ideologi islam dalam setiap persoalannya.
d.) Tujuan Usrah Bagi Jamaah
1. Menyuplai jamaah dengan sumber daya manusia yang memiliki
kemampuan dalam berbagai bidang kerja jamaah.
2. Menyuplai jamaah dengan sosok pemimpin yang baik
3. Menyuplai jamaag dengan sumber daya manusia yang mampu
menjalankan tugas-tugas yang terkait dengan fenomena berbagai
kelompok dan arus gerakan, baik yang pro maupun yang kontra
dengan Islam.
4. Menyuplai jamaah dengan sumber daya manusia yang mampu
mewariskan dakwah kepada generasi berikutnya.
5. Sedapat mungkin mengupayakan perluasan wilayah usrah.
3. Rukun-rukun Usrah
a. Ta’aruf, saling mengenal
b. Tafahum, saling memahami
c. Takaful, saling menanggung beban
4. Syarat-syarat Usrah
Syarat individu sebelum bergabung ke usrah:
a. Perbaikan diri sendiri
b. Pembentukan keluarga muslim
c. Bimbingan kepada masyarakat dengan menyebarkan dakwah memerangi
perilaku yang kotor dan munkar, serta mendukung kegiatan yang mulia,
amar ma’ruf, bersegera mengerjakan kebaikan, membangun opini umum
untuk berpihak kepada fikrah islamiyah, dan memformat kehidupan
secara umum dengannya.
d. Pembebasan tanah air dari setiap penguasa asing non muslim baik secara
politik, ekonomi, maupun moral
e. Perbaikan pemerintah, sehingga menjadi pemerintahan yang benar-benar
islami
f. Membangun kembali eksistensi umat islam
g. Menegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah islam ke
seluruh penjuru dunia
Syarat-syarat pembentukan usrah:
a. Kesejajaran para anggota dalam kapasitas intelektual dan wawasan
b. Kesejajaran para anggota usrah dalam hal usia
c. Kesejajaran para anggota dalam kondisi mental dan emosinya
d. Kesejajaran para anggota dalam senioritas berjamaah dan berorganisasi
e. Kedekatan jarak tempat tinggal para anggota
f. Keseriusan untuk menghilangkan kebiasaan menghidangkan makanan
dalam pertemuan usrah
g. Perhatian untuk selalu berpindah-pindah tempat pertemuan agar dapat
menghilangkan kejenuhan
5. Etika dan Kewajiban Usrah
a. Kewajiban atau Adab Individu:
1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dan senantiasa perbarui taubat
2. Senantiasa membaca wirid al-quran dan doa-doa yang ma’tsur
seoptimal mungkin
3. Memperbarui janji setia
4. Menghormati hak saudaranya dan mendahulukan mereka dalam
setiap muamalah serta tidak absen atau terlambat dari pertemuan
mereka kecuali karena udzur syar’i yang tidak bisa dielakkan.
5. Memelihara shalat tepat pada waktunya.
6. Menunaikan zakat mal apabila telah memenuhi satu nishab dan
meminta pendapat usrah dalam pendistribusiannya
7. Menunaikan ibadah haji bagi yang telah mampu dan belum pernah
menunaikan kewajiban ini
8. Berpuasa secara benar pada bulan Ramadhan
9. Menyucikan diri dari riba, perjudian, dan pekerjaan haram dalam
setiap muamalah
10. Menjauhkan diri dari zina dan hal-hal yang menjadi pengantarnya
11. Meyakini bahwa dirinya adalah prajurit dakwah dan menyadari
bahwa dakwah memiliki hak atas diri, waktu, dan hartanya.
12. Menyadarkan keluarganya akan perkembangan baru dalam
kehidupannya dan berusaha sekuat tenaga mencetak keluarganya
dengan pola islami.
b. Kewajiban atau Adab Kolektif
1. Mengukuhkan ikatan persaudaraan sesama anggota usrah
2. Usrah memiliki satu tempat selain kantor cabang untuk mengadakan
pertemuan semalam dalam sepekan
3. Sekali dalam sebulan para anggota mengadakan mabit bersama
dalam satu tempat dan menyantap makan malam dan pagi secara
bersama seperti dalam acara kepanduan
4. Sebaiknya semua anggota usrah mengadakan shalat jum’at di satu
masjid
5. Diharapkan semua anggota usrah mengadakan shalat shubuh dan isya’
secara berjamaah di kantor cabang, masjid, atau tempat lain yang
disepakati.
c. Kewajiban atau Adab Finansial
1. Semua anggota harus bahu-membahu dalam memikul beban
kehidupan
2. Setiap usrah membuka kas khusus solidaritas
3. Uang yang telah terkumpul didistribusikan untuk bantuan bagi
anggota-anggota yang ikut serta dalam kas khusus solidaritas apabila
mereka membutuhkannya
4. Dari semua kas usrah ini diambil seperlimanya untuk disetorkan ke
kas solidaritas di markas umum
5. Uang ini ditransfer ke Syirkah Takmin Ijtima’ Islami (Serikat
Asuransi Sosial Islami).
d. Adab lainnya:
1. Menyiapkan ruhani, jiwa, dan pikirann sebelum mengadakan
pertemuan usrah
2. Memberikan bagian yang asasi dari waktu dan tenaganya untuk
menghadiri pertemuan usrah ini
3. Melaksanakan tugas-tugas usrah dan menunaikan kewajiban-
kewajiban yang dibebankan kepadanya
4. Disiplin dalam segala hal yang terkait dengan pertemuan usrah
5. Mendengar dengan baik dan konsentrasi penuh terhadap segala yang
dibicarakan dalam forum itu, serta mencatat hal yang penting dalam
buku catatan atau cukup diingat-ingat tergantung kondisi dan situasi
6. Dialog dengan baik
7. Ketika menghadiri pertemuan usrah, al-akh harus bisa memberikan
gagasan baru yang bisa mengembangkan usaha dakwah,
memperbaikinya atau menghilangkan kesalahan-kesalahan yang
mewarnainya.
6. Program-program Usrah
1. Evaluasi umum
2. Mengkaji permasalahan dakwah apabila ada hal-hal yang baru
3. Membaca risalah dan arahan-arahan yang berasal dari pemimpin umum
usrah
4. Tidak diperkenankan berdebat, berkelahi, atau meninggikan suara, tapi
diperkenankan memberi atau meminta penjelasan yang berlandaskan
etika dan sikap saling menghormati
5. Mengkaji buku-buku yang berharga
6. Merealisasikan makna ukhuwah dalam momen-momen pergaulan yang
bersifat insidental dan tidak dibahas dalam buku atau pengarahan dari
pemimpin
Prinsip umum dalam setiap program
1. Anasir program
2. Schedule program
3. Perencanaan waktu atau masa pelaksanaan program
7. Perangkat-perangkat Usrah
Perangkat usrah ini maksudnya berbagai cara yang mungkin digunakan oleh
usrah untuk mewujudkan tujuannya. Beberapa cara itu antara lain:
a. Pertemuan pekanan
b. Pertemuan di tempat sunyi
c. Pertemuan di masjid
d. Mengunjungi anggota jamaah yang lebih dahulu bergabung
e. Memperluas lingkaran usrah,
8. Manajemen Usrah
Manajemen usrah yang baik menuntut beberapa syarat, yaitu sebagai berikut:
a. Pengetahuan secara detail akan tujuan-tujuan umum dan tujuan
khususnya
b. Realisasi rukun-rukunnya
c. Realisasi syarat-syaratnya
d. Sesuai dengan perencanaan matang yang mencakup hal:
Waktu
Tempat dan kelayakannya
Anggota beserta kondisi mereka
Program dan time schedulenya
Jaminan keamanannya
e. Pembagian tugas yang baik di antara para anggota
f. Disiplin penuh terhadap keragaman unsur-unsur acara
g. Menentukan tahapan-tahapan aktivitas usrah dan skala prioritasnya
h. Selalu berpikir untuk meningkatkan kualitas aktivitas usrah
i. Bersikap serius dan bersemangat dalam menunaikan tugas, serta
berorientasi pada kualitas, kemudian mengarahkan tujuan hanya kepada
Allah dalam setiap urusan
j. Bersikap disiplin dalam segala aktivitas yang berkaitan dengan usrah
k. Perhatian khusus bagi setiap pertemuan
l. Bersikap disiplin untuk mengikuti langkah-langkah yang telah
ditetapkan dalam melaksanakan program
Sifat penting yang perlu diperhatikan oleh orang yang mengelola usrah
a. Kecakapan manajerial
b. Pandangan yang jelas terhadap aktivitas dan aktivisnya sekaligus
c. Mencurahkan perhatian secara total untuk aktivitas tersebut
d. Mampu mengevaluasi dan mengontrol lima belas unsur dalam hal
manajerial usrah.
9. Pemimpin Usrah
Merupakan pimpinan utama dalam jamaah, bahkan ia sekaligus murabbi
bagi seluruh anggota usrah yang merancang kegiatan mereka dan
mengoordinasikannya. Ia harus mampu mengarahkan dan memberdayakan
usrah untuk mencapai tujuan
Sifat-sifat yang harus dimiliki naqib:
a. Khusyu’ dalam shalatnya
b. Menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna
c. Menunaikan zakat
d. Menjaga kemaluannya
e. Memelihara amanat-amanat dan janjinya
f. Memelihara shalatnya
Prinsip dasar pemilihan naqib:
a. Pemilihan naqib harus secara baik, dipilih dari orang-orang yang
memiliki kesiapan penuh
b. Menyiapkan dan mendidik naqib dengan pendekatan yang integral
c. Melakukan kontrol terhadap naqib setelah ia menerima tugas-tugas
mengelola usrah untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang ia
capai.