RESUME
SEDIAAN SUPPOSITORIA
Disusun oleh :
ALAM MUZDALIFAH
70100 118 014
KELAS C
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN 2020
Pertanyaan:
1. Sri Wahyuni 70100118018, bagaimana mekanisme kerja suppositoria dalam tubuh bu?
2. Rabiatul adawiyah 70100118022, bagaimana saja metode pembuatan suppo dan cara
pengemasannya??
3. Syarah Syam 70100118006 pada kondisi apa digunakan bahan dasar suppo basis berminyak
dan basis larut air?
4. Miftahul Fatihah 70100118012, Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat
dalam rektum?
5. Auliah Aliah Pertiwi 70100118030, apa saja keuntungan pemakaian melalui rektum?
6. Citra Nurul Saputri 70100118002, bahan dasar apakah yg sebaiknya digunakan untuk
suppositoria?
7. Alam Muzdalifah (70100 118 014) apa perbedaan PEG 1000 dan PEG 4000?
8. Asrul. R 70100118024, , mengapa suatu obat dibuat menjadi sediaan supositoria?
9. Ismunandar NIM 70100118016 Apa yang terjadi jika dalam formulasi terjadi reaksi antara
bahan sedian?
10. Nur Magfirah Badaruddin (70100118004) bagaimana karateristik dosis suppositoria itu
sendiri
DEFINISI SUPPOSITORIA
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal,
vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat
bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa terapetik yang bersifat lokal atau
sistemik (Kemenkes, 2014).
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan cara memasukkan
melalui lubang atau celah pada tubuh, dimana ia akan melebur, melunak atau melarut dan
memberikan efek lokal atau sistemik (Ansel, 2005).
Supositoria adalah sediaan farmasi padat yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam rectum di
mana massa supositoria akan melebur, melarut, terdispersi, dan menunjukkan efek lokal atau
sistemik (Agoes, 2013).
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan obat padat yang umumnya dimaksudkan untuk
dimasukkan ke dalam rectum, vagina, dan jarang digunakan untuk uretra. Supositoria rektal dan
uretral biasanya menggunakan pembawa yang meleleh atau melunak pada temperatur tubuh,
sedangkan supositoria vaginal, kadang-kadang disebut pessaries, juga dibuat sebagai tablet kompresi
yang hancur dalam cairan tubuh (Lachman, 2012).
ALASAN PEMBUATAN SUPPOSITORIA
Supositoria merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi berbentuk padat yang digunakan melalui
dubur, umumnya berbentuk torpedo dan meleleh pada suhu tubuh. Supositoria sangat berguna bagi
pasien dengan kondisi yang tidak memungkinkan dengan terapi obat secara peroral, misalnya pada
pasien muntah, mual, tidak sadar, anak-anak, orang tua yang sulit menelan dan selain itu juga dapat
menghindari metabolisme obat di hati (Voigt, 1971). Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah
dengan memformulasi obat tersebut dalam bentuk sediaan supositoria. (Siswandono dan Sukarjo,
2000).
JENIS-JENIS SUPPOSITORIA
1. Suppositoria rektal
Berbentuk silindris dan kedua ujungnya tajam, peluru, torpedo atau jari-jari kecil. Ukuran
panjangnya ± 32 mm (1,5 inchi). Amerika menetapkan beratnya 2 gram untuk orang dewasa bila
oleum cacao yang digunakan sebagai vasis. Sedangkan untuk bayi dan anak-anak ukuran dan
beratnya ½ dari ukuran dan berat orang dewasa, bentuknya kira-kira seperti pensil.
2. Suppositoria vagina
Biasanya berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut sesuai dengan kompendik resmi, beratnya 5
gram, apabila basisnya oleum cacao, sebab lagi tergantung pada macam basis dan masing-masing
pabrik yang membuatnya.
3. Suppositoria uretra (Bougie)
Bentuk ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukan kedalam lambung urine/saluran urine pria
atau wanita 1 garis tengah 3-6 mm dengan panjang ± 140 mm. Walaupun ukuran ini masih
bervariasi antar yang satu dengan yang lain apabila basisnya dari oleum cacao, maka beratnya ± 4
gram untuk wanita panjang dan beratnya ½ dari ukuran untuk pria. Panjang kurang lebih 78 mm dan
beratnya 2 gram inipun bila oleum cacao sebagai basisnya.
(Ansel hal 576-577)
MEKANISME KERJA SUPPOSITORIA
1. Supositoria berefek mekanik bahan dasar supositoria berefek mekanik tidak peka pada
penyerapan. Supositoria mulai berefek bila terjadi kontak yang menimbulkan refleks defikasi,
namun pada keadaan konstipasi refleks tersebut lemah. PadaPada efek kontak tersebut
terutama pada supositoria gliserin terjadi fenomena osmose yang disebabkan oleh afinitas
gliserin terhadap air. Hal tersebut menimbulkan gerakan peristaltik
2. supositoria berefek setempat termasuk dalam kelopok ini adalah supositoria anti wasir. Yaitu
senyawa yang efeknya disebabkan oleh adanya sifat astringen atau peringkas pori. Ke dalam
basis supositoria yang sangt beragam kadang-kadang ditambahkan senyawa peringkas pori baik
dengan cara penyempitan maupun hemostatik. Dalam formula supositoria sering terdapat
senyawa penenang. Obat tersebut bekerja secara rangkap baik terhadap perifer maupun sentral
yang terakhir ini sepenuhnya berefek sistemik.
3. supositoriasupositoria berefek sistemik adalah supositoria yang mengandung senyawa yang
diserap dan berefek pada organ tubuh selain rektum. Pada kelompok ini termasuk supositoria
nutritif, supositoria obat.
METODE PEMBUATAN SUPOSITORIA
Menurut Lachman hal 1179
1. Metode dengan Tangan
Metode pembuatan suppositoria yang paling sederhana dan yang paling tua adalah dengan tangan.
Yakni dengan menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung zat
aktif menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan aktif
dengan menggunakan atau dilarutkan dengan air, atau kadang-kadang dicampur atau dengan sedikit
lemak bulu domba untuk mempermudah penyatuan basis suppositoria. Kemudian massa digulung
menjadi satu barang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki atau menjadi bola-
bola vaginal sesuai dengan berat yang diinginkan. Batang silinder dipotong menjadi beberapa bagian
kemudian salah satu ujungnya diruncingkan.
2. Mencetak kompressi
Suppositoria yang lebih seragam dengan cara farmasetik dapat dibuat dengan mengkompressi
larutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang dikehendaki, suatu roda tangan berputar menekan
suatu bistor pada massa suppositoria yang diisikan dalam silinder sehingga massa terdorong masuk
ke dalam cetakan.
3. Metode Tuang
Metode yang paling umum digunakan pada suppositoria skala kecil dan skala besar adalah
pencetakan. Pertama-tama bahan basis diletakkan sebaiknya di atas penangas air atau penangas uap
untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan. Kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan
atau disuspensikan ke dalamnya.
4. Metode Pencetak Otomatis
Pelaksanaan pencetakan (penanganan, pendinginan) dan pemindahan dapat dilakukan dengan
mesin. Seluruh pengisian, pengeluaran dan pembersihan cetak semua dijalankan secara otomatis.
Pertama-tama massa yang telah disiapkan diisikan ke dalam suatu corong pengisi dimana massa
tersebut secara kontinyu dicampur dan dijaga pada temperatur konstan.
CARA PENGEMASAN
1. Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah, tidak mudah hancur atau meleleh.
2. Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau strip plastik sebanyak 6 sampai 12
buah, untuk kemudian dikemas dalam dus.
3. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ABSORBSI OBAT DALAM REKTUM
Setelah bahan aktif mengalami pelepasan adari bahan dasar supppositoria maka tahap berikutnya
adalah absorbsi bahan aktif tersebut pada mucosa rektum. Tahap ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu :
- Faktor fisiologi
Faktor fisiologi yang mempengaruhi absorbsi obat dari rektum antara lain : kandungan kolon, jalur
sirkulasi, pH dan tidak adanya kemampuan mendapar dari cairan rektum.
- Faktor fisika - kimia dari bahan obat dan
bahan dasar yang mempengaruhi absorbsi obat dari rektum yaitu : koefisien partisi lemak - air,
ukuran partikel dan sifat basis.
(Erwin Sulistyowati, 1991)
KEUNTUNGAN SUPPOSITORIA REKTUM
1. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.
2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung
3. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat
daripada penggunaan obat peroral
4. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar.
BAHAN DASAR SUPPOSITORIA
Bahan dasar suppositoria mempengaruhi pada pelepasan zat terapeutiknya. Lemak coklat capat
meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, sehingga menghambat
difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar
yang sesuai dengan beberapa antiseptik, namun bahan dasar ini sangat lambat larut sehingga
menghambat pelepasan zat yang dikandungnya. Bahan pembawa berminyak, seperti lemak coklat,
jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu yang tidak dapat diserap.
Sedangkan gelatin jarang digunakan dalam penggunaan melalui rektal karena disolusinya lambat.
(Depkes RI, 1995).
PERBEDAAN PER 1000 DAN PEG 4000
1. PEG>1000 berwarna putih atau hampir putih, dan memiliki konsistensi dari bentuk pasta hingga
serpihan lilin. (Anonim. Handbook of Pharmaceutical Excipients, Second Edition.Edited by Ainley
Wade and Paul J Weller. Washington: American Pharmaceutical Association. 1994: 355-361, 428-
430.)
2. Polietilen glikol secara kimia stabil dalam udara dan dalam larutan. Polietilen glikol sangat
higroskopis, walaupun higroskopis menurun dengan peningkatan berat molekul. Bentuk padat,
PEG 4000 dan di atasnya tidak bersifat higroskopis. PEG 200 mempunyai higroskopisitas 70% dari
gliserol tetapi akan menurun dengan peningkatan berat molekul. (Florence, AT, D. Attwood.
Physicochemical Principles of Pharmacy, Second Edition. London: Macmillan Press. 1988: 309-
310.)
KARAKTERISTIK DOSIS SUPPOSITORIA
Umumnya dosis untuk pemberian obat secara rektal adalah satu setengah sampai dua kali atau
lebih dosis oral, kecuali untuk obat-obat yang sangat kuat. Penentuan rentang dosis tergantung pada
availabilitas obat, khususnya dalam basis suppositoria yang digunakan. Dosis yang tepat untuk
setiap obat tergantung pada laju pelepasan obat tersebut dari suppositoria. Akibatnya basis dan
jumlah obat yang diberikan harus dipertimbangkan secara bersamaan. Karena basis dapat
mengubah laju absorbsi obat, maka jumlah obat yang akan diberikan dalam bentuk suppositoria
tergantung pada basis dan bentuk kimia dan fisik dari obat yang diberikan. (Modul tekno, 2020 )