Departemen Keperawatan Medikal Bedah
LAPORAN PENDAHULUAN
SISTEM ENDOKRIN “DIABETIC KIDNEY DISEASE”
Oleh:
Reski Matte, S.Kep
NIM: 70900119028
PRESEPTOR LAHAN PRESEPTOR INSTITUSI
(...........................................) (...........................................)
PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS
KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2020
BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. DEFINISI
Diabetic Kidney Disease merupakan komplikasi Diabetes mellitus pada
ginjal yang dapat berakhir sebagai gagal ginjal. Keadaan ini akan dijumpai pada
35-45% penderita diabetes militus terutama pada DM tipe I dan DM tipe II
Diabetic Kidney Disease adalah kelainan ginjal yang dapat muncul
sebagai akibat dari komplikasi diabetes mellitus (DM) baik tipe 1 maupun 2,
ditandai dengan adanya albuminuria (mikro/makroalbuminuria).
B. ETIOLOGI
Hipertensi atau tekanan darah yang tinggi merupakan komplikasi dari
penyakit DM dipercaya paling banyak menyebabkan secara langsung terjadinya
Nefropati Diabetika. Hipertensi yang tak terkontrol dapat meningkatkan
progresifitas untuk mencapai fase Nefropati Diabetika yang lebih tinggi. Tidak
semua pasien DM tipe I dan II berakhir dengan Nefropati Diabetika. Dari studi
perjalanan penyakit alamiah ditemukan beberapa faktor resiko antara lain:
1. Hipertensi dan prediposisi genetika
2. Kepekaan (susceptibility) Nefropati Diabetika
a. Antigen HLA (human leukosit antigen)
Beberapa penelitian menemukan hubungan Faktor genetika tipe
antigen HLA dengan kejadian Nefropati Diabetik. Kelompok penderita
diabetes dengan nefropati lebih sering mempunyai Ag tipe HLA-B9
b. Glukose trasporter (GLUT)
Setiap penderita DM yang mempunyai GLUT 1-5 mempunyai
potensi untuk mendapat Nefropati Diabetik.
c. Hiperglikemia
Konsumsi protein hewani
C. FAKTOR RESIKO DIABETIC KIDNEY DISEASE
Terdapat 2 klasifikasi faktor resiko DKD, yaitu faktor yang dapat
dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat
dimodifikasi meliputi: kontrol glikemik yang buruk, hipertensi, dislipidemia,
merokok, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat. Sementara faktor
yang tidak dapat dimodifikasi adalah: genetik, usia dan jenis kelamin.
1. Kontrol Glikemik
Hiperglikemik menyebabkan peningkatan Advanced glycation end
products (AGEs) pada individu diabetes. Metabolit glukosa akan menstimulasi
sel intrinsic glomerular untuk memproduksi TGF-1yang berkontribusi terhadap
timbulnya sklerosis glomerulus dan kerurasakan tubulointerstitial dangan cara
memproduksi abnmal ekstraseluler matriks . Insiden DKD meningkat pada
pasien DM dengan kontrol glikemik yang buruk.
2. Hipertensi
Hipertensi adalah faktor resiko sangat penting sebagai penyebab DKD
terutama resiko ini akan diperberat dengan adanya kontrol glikemik yang
buruk. Jika kontrol glikemik yang baik, resiko ini tetap lebih besar tetapi
progresivitas DKD dapat di tunda. Meningkatnya tekakan darah sistolik
merupakan indikator klasik adanya komplikasi ginjal. Peningkatan tekanan
darah berbanding lurus dengan meningkatnya albuminuria.
3. Dislipidemia
Dislipidemia adalah hal yang umum terjadi pada Diabetes Melitus. Hal
ini karena resistensi insulin menyebabkan peningkatan metabolisme lemak.
Dampaknya terjadi hipetrigliseridemia. Kondisi dislipdemia tidak selalau sama
pada semua tahap DKD. Trigliserida yang tinggi, apolipoprotein (ApoB),
ApoA-II dan HDL3- Kolesterol memprediksi terjadinya mikroalbuminuria,
sedang trigleserida tinggi dan ApoB meprediksi berkembangnya menjadi
mikroalbuminuria.
4. Kebiasaan Merokok
Rokok menjadi faktor resiko karena meningkatkan stres oksidatif pada
pembulh darah, akumulasi lipid, dan akumilasi AGEs, sementara prouksi nitric
oxide menurun, dimana semua kondisi ini menyebabkan penebalan membrane
basal glomerular, ekspansi mesangial, glomerulosklerpsis, dan fibrosis
interstitial.
5. Kurang aktivitas fisik
Kurang kativitas menyebabkan kurang berkembangnya
mikroalbuminuria karena kativitas simpatik dan rendahnya sensitifitas
barorefleks. Aktivitas fisik dapat mencegah berkembangnya DKD karena dapat
menurunkan tekakan darah, memperbaiki profil lipid, kontrol glikemik,
sensitifitas insulin, dan fungsi endotel.
6. Pola Diet
Pola makan tidak sehat dan tinggi kalori seperti fast food, minuman
bersoda, konsumsi alcohol menjadi faktor resiko meningkatnya DKD karena
meningkatnya AGEs akibat hiperglikemik. Meningkatnya AGEs dapat
berdampak pada terjadinya kerusakan sel dan jaringan serta meningkatkan
resiko kerusakan fungsi ginjal.
7. Genetik
Terjadinya perubahan struktur dan fungsi glomerulus pada DKD
dipengaruhi oleh adanya faktor genetik atau riwayat penyakit keturunan di
keluarga seperti hipertensi, DMT2, penyakit kardiovaskuler, dan resistensi
insulin.
8. Usia dan jenis kelamin
Fungsi ginjal menurun 1 ml/menit tiap tahunnya sejak individu berusia
40 tahun. Diabetik kidney desiase (DKD) jarang berkembang sebelum masa
pubertas. Pada usia dewasa hormon seksual berperan dalam terajdinya resiko
DKD. Edogen dan estrogen berperan penting dalam patofisiologi penyakit
ginjal. Pada wanita menopause, kadar estrogen berkurang dan hal ini lebih
meningkatkan resiko resistensi insulin karena estrogen berperan sebagai
inhibitor interleukin -6 (IL6). Laki-laki dengan DMT1 lebih beresiko karena
terjadinya peningkatan atau behkan penurunan free testoteron dan peningkatan
estradiol.
D. KLASIFIKASI DIABETIC KIDNEY DISEASE
a. Stadium I (Hyperfiltration-Hypertropy Stage)
Secara klinik pada tahap ini akan dijumpai:
1. Hiperfiltrasi: meningkatnya laju filtrasi glomerules mencapai 20-50%
diatas nilai normal menurut usia.
2. Hipertrofi ginjal, yang dapat dilihat melaui foto sinar x.
3. Glukosuria disertai poliuria.
4. Mikroalbuminuria > 20 dan < 200 ug/min.
b. Stadium II (Silent Stage)
Ditandai dengan:
1. Mikroalbuminuria normal atau mendekati normal (<20ug/min).
2. Sebagian penderita menunjukan penurunan laju filtrasi glomerulus ke
normal. Awal kerusakan struktur ginjal
c. Stadium III (Incipient Nephropathy Stage)
Stadium ini ditandai dengan:
1. Awalnya dijumpai hiperfiltrasi yang menetap yang selanjutnya mulai
menurun
2. Mikroalbuminuria 20 sampai 200 ug/min yang setara dengan eksresi
protein 30-300mg/24 jam
3. Awal Hipertensi.
d. Stadium IV (Overt Nephroathy Stage)
Stadium ini ditandai dengan:
1. Proteinuria menetap (>0,5gr/24jam)
2. Hipertensi
3. Penurunan laju filtrasi glomerulus.
e. Stadium V (End Stage Renal Failure)
Pada stadium ini laju filtrasi glomerulus sudah mendekati nol dan
dijumpai fibrosis ginjal. Rata-rata dibutuhkan waktu 15 – 17 tahun untuk
sampai pada stadium IV dan 5 – 7 tahun kemudian akan sampai stadiumV.
Ada perbedaan gambaran klinik dan patofisiologi Nefropati
Diabetika antara diabetes mellitus tipe I (IDDM) dan tipe II (NIDDM).
Mikroalbuminuria seringkali dijumpai pada NIDDM saat diagnosis
ditegakkan dan keadaan ini serigkali reversibel dengan perbaikan status
metaboliknya. Adanya mikroalbuminuria pada DM tipe II merupakan
prognosis yang buruk.
E. TANDADANGEJALA
Pasien dengan nefropati diabetic dapat menunjukkan gambaran gagal
ginjal menahun seperti lemas, mual, pucat sampai keluhan sesak napas akibat
penimbunan cairan (edema).Adanya gagal ginjal yang dibuktikan dengan
kenaikan kadar kreatinin/ureum serum ditemukan berkisar antara 2 % sampai 7,1
% pasien diabetes miletus.
Adanya proteinuria yang persisten tanpa adanya kelainan ginjal yang lain
merupakan salah satu tanda awal nefropati diabetic. Proteinuria ditemukan pada
13,1 % sampai 58% pasien diabetes melitus.Gambaran klinis awalnya
asimtomatik, kemudian timbul hipertensi, edema dan uremia
F. KOMPLIKASI
a. Hypoglikemia (penurunan sekresi insulin)
b. Stadium akhir penyakit ginjal
c. Hyperkalemia
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Kadar glukosa darah
Sebagaimana halnya penyakit DM, kadar glukosa darah akan meningkat.
Tetapi perlu diperhatikan bahwa pada tahap lanjut yaitu bila terjadi gagal
ginjal, kadar gula darah bisa normal atau malahan rendah. Hal ini disebabkan
menurunnya bersihan ginjal terhadap insulin endogen maupun eksogen.
1. HbA1C
2. Ureum
3. Creatinin Σ dapat meningkat pada kerusakan ginjal lanjut
4. BUN
5. Urine
6. Urin rutin ; tampak gambaran proteinuria
7. Aseton
8. Dipstik untuk albumin/ mikroalbumin
9. Penentuan protein dalam urin secara kuantitatif
b. USG ginjal
Untuk mengamati ukuran ginjal, biasanya ukuran meningkat pada tahap awal
dan kemudian menurun atau menyusut pada gagal ginjal kronik. Dapat juga
untuk menggambarkan adanya obstruksi, sebagai study Echogenisitas pada
gagal ginjal kronik.
Serum dan electrophoresis urine ditujukan untuk menyingkirkan multiple
myeloma dan untuk mengklasifikasikan proteinuria (dimana predominan pada
glomerolus pada nephropati diabetic).
H. PENATALAKSANAAN
1. Pengendalian hipertensi
Semua obat antihipertensi dapat menurunkan tekanan darah sistemik, tetapi
tidak semua obat antihipertensi mempunyai potensi untuk mengurangi
ekskresi proteinuria.
a. Penghambat EAC
Banyak laporan uji klinis memperlihatkan penghambat EAC paling efektif
untuk mengurangi albuminuria dibandingkan dengan obat antihipertensi
lainnya.
b. Antagonis kalsium
Laporan studi meta-analysis memperlihatkan antagonis kalsium golongan
nifedipine kurang efektif sebagai antiproteinuric agent pada nefropati
diabetik dan nefropati non-diabetik.
c. Kombinasi penghambat EAC dan antagonis kalsium non dihydropyridine.
Penelitian invitro dan invivo pada nefropati diabetic (DMT) kombinasi
penghambar EAC dan antagonis kalsium non dihydropyridine mempunyai
efek.
2. Optimalisasi terapi hiperglikemia
Optimalisasi terapi insulin eksogen sangat penting.
a) Normalisasi metabolisme seluler dapat mencegah penimbunan toksin
seluler (polyol) dan metabolitnya (myoinocitol)
b) Insulin dapat mencegah kerusakan glomerulus
c) Mencegah dan mengurangi glikolisis protein glomerulus yang dapat
menyebabkan penebalan membran basal dan hilangnya kemampuan
untuk seleksi protein dan kerusakan glomerulus (permselectivity).
d) Memperbaiki fatal tubulus proksimal dan mencegah reabsorpsi glukosa
sebagai pencetus nefomegali. Kenaikan konsentrasi urinary N-acetyl-
Dglucosaminidase (NAG) sebagai petanda hipertensi esensial dan
nefropati.
e) Mengurangi dan menghambat stimulasi growth hormone (GH) atau
insulin-like growth factors (IGF-I) sebagai pencetus nefromegali.
f) Mengurangi capillary glomerular pressure (Poc)
3. Keadaan hiperglikemi harus segera dikendalikan menjadi normoglikemia
dengan parameter HbA1c dengan insulin atau obat antidiabetik oral (OADO).
4. Pencegahan atau terapi yang intensif terhadap infeksi trakus urinarus
5. Tindakan menghindari zat-zat nefro toksik
6. Penyesuaian obat-obat yang digunakan setelah terjadi perubahan fungsi renal
Contoh :
Pemberian antihipertensi pada diabetes mellitus merupakan permasalahan
tersendiri. Bila sudah terdapat nefropati diabetik disertai penurunan faal
ginjal, permasalahan lebih rumit lagi. Beberapa permasalahan yang harus
dikaji sebelum pemilihan obat antihipertensi antara lain :
a) Efek samping misal efek metabolik
b) Status sistem kardiovaskuler.
i. Miokard iskemi/infark
ii. Bencana serebrovaskuler
c) Penyesuaian takaran bila sudah terdapat insufisiensi ginjal.
7. Diet rendah natrium
Diet rendah garam (DRG) kurang dari 5 gram per hari penting untuk
mencegah retensi Na+(sembab dan hipertensi) dan meningkatkan
efektivitas obat antihipertensi yang lebih proten.
8. Diet rendah protein
DRP (0,6-0,8 gram per kg BB per hari) sangat penting untuk mencegah
progresivitas penurunan faal ginjal
Daftar Pustaka
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. EGC: Jakarta.
Hananta, P. Yuda Dan Harry Freitag. 2011. Deteksi Dini Dan Pencegahan 7 Penyakit
Penyebab Mati Muda.Medpress: Yogyakarta.
Khasanah, Nur.2012.Waspadai Beragam Penyakit Degeneratif Akibat Pola
Makan.Jogjakarta:Laksana
Mansjoer, A. 2007. Kapita selekta kedokteran. Media aeskulapius: Jakarta.