Anda di halaman 1dari 5

KEUTAMAAN SHOLAT

(SMP NEGERI 1 MARTAPURA)

TOKOH-TOKOH :
Ibu Guru Nadia : Nadia Shakila
Harist : Harist Hibatur Azizi
Intan : Intan Safitri
Alya : Alya Cinitra Marbela
Tasya : Matasya Adelia Fatarani Karim
Lussy : Lussy Perdinia
Eka : Eka Wulandari
Fitria : Fitria Insani
Yuda : Yuda Agustian
Narator : Yasa Dwina Ophelia

Narator : Pada suatu pagi di kelas IX sebuah madrasah Tsanawiyah


murid-murid sudah mulai berdatangan untuk bersekolah, di
salah satu sudut kelas terlihat seorang murid yang bernama
Intan sedang duduk sambil membaca buku.
Tak lama kemudian tampak seorang murid lainnya yang
bernama Alya menghampiri Intan.

Alya : “ Intan, kamu lagi ngapain ?”


Intan : “Alya jangan berisik dong, aku sedang belajar !”
Alya : “Maaf intan, aku nggak tahu kalau kamu sedang belajar, aku pikir
kamu sedang membaca buku cerita.”
Intan : “Ya sudah nggak apa-apa, tapi tolong jangan ganggu dulu ya !”
Alya : “Aku salut sama kamu yang selalu rajin belajar disaat-saat
senggangmu, kalau begitu lanjutkan saja belajarmu, aku tidak akan
mengganggu lagi.”
Intan : “OK, terimakasih Alya”

Narator : Disaat Intan dan Alya berbincang-bincang, tampak yuda dan


tasya menghampiri mereka bersamaan

Yuda : “Sedang apa sih kalian ini ?”


Alya : “Ini nih aku lagi bertanya dengan intan ia sedang membaca buku
apa ?”
Tasya : “Ih, sok kerajinan banget pake baca buku pelajaran pagi-pagi begini,
caaaapek deh !”
Intan : “Pagi-pagi begini otak kita kan masih fresh jadi lebih mudah
digunakan untuk menghapal pelajaran”
Yuda dan Tasya : “Itukan derita elo bukan kami, ha ha ha ha ha”
Tasya : “Alya, ikut kita keluar yuk kan jam pelajaran masih 15 menit lagi,
yuk ah !”
Alya : “OK, aku ikut, dadah Intan !”

Narator : Setelah Yuda, Tasya dan Alya meninggalkan Intan, terlihat


Lussy, Fitria dan Harist yang menghampiri Intan

Lussy : “Ada apa sih pagi-pagi begini sudah ngerumpi seru ?”


Intan : “Kita tadi bukan lagi ngerumpi, tapi mereka tadi bertanya mengapa
pagi-pagi begini aku sudah membaca buku pelajaran”
Lussy : “Wah, hebat kamu tan, selalu bisa memanfaatkan waktu senggangmu
pantas saja nilai-nilai pelajaranmu selalu bagus dan kamu selalu jadi
juara kelas”
Harist : “Andai aku bisa seperti kamu, tan”
Fitria : “Iya ya kapan aku bisa menjadi yang terbaik seperti kamu tan,
membaca aku malas apalagi belajar”
Intan : “Ah bisa aja kalian, jangan memujiku nanti aku jadi besar kepala,
kalian juga bisa seperti aku asal kalian mau belajar”
Lussy : “Tapi memang hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha tan”

Narator : Disaat mereka sedang asyik berbincang-bincang terdengar bunyi


bel yang menandakan dimulainya jam pelajaran, terlihat murid-
murid memasuki kelas dan siap menerima kedatangan guru
yang akan mengajar.
: Terdengar suara ketukan pintu yang diiringi suara salam dari
luar kelas, setelah pintu terbuka tampak Ibu guru Nadia yang
memasuki kelas.

Ibu guru Nadia : “Assallamualaikum wr wb, selamat pagi anak-anak”


Seluruh murid : “Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraokatuh, selamat pagi bu”
Ibu guru Nadia : “Tolong buku buku fiqih kalian halaman 54, hari ini kita akan
mempelajari tentang keutamaan sholat !”
Ibu guru Nadia : “Ada yang bisa menjelaskan tentang bagaimana pentingnya sholat ?,
kalau ada yang tahu tolong angkat tangan !”
Intan : “Saya bu”
Ibu guru Nadia : “Silahkan dijawab Intan”
Intan : “Shalat itu bagaikan tiang sebuah bangunan yang apabila sebuah
rumah tidak mempunyai tiang maka rumah itu akan rubuh begitupun
shalat apabila agama tidak di sertai dengan shalat maka kita belum
menjadi umat islam yang sebenarnya”
Ibu guru Nadia : “Ada yang lain !”
Alya : “Saya bu”
Ibu guru Nadia : “Silahkan Alya”
Alya : “Saya bu, sholat juga bisa menjauhkan kita dari perbuatan keji dan
munkar
Ibu guru Nadia : “Betul sekali jawaban Intan dan Alya, dan Rasulullah SAW. telah
bersabda : “Barang siapa yang memelihara solat, maka solat itu
sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barang siapa
yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat itu tidak
menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat
baginya.”
OK, karena kalian telah memahami keutamaan sholat, sekarang
keluarkan kertas kosong karena kita akan mengadakan ulangan
harian !”

Narator : Setelah Ibu guru Nadia menyampaikan tentang ulangan harian,


hampir seluruh murid terkejut akibatnya kelas terdengar sangat
gaduh

Yuda : “Aduh mati aku, aku belum belajar lagian aku kan jarang sholat, jadi
gimana dong”
Tasya : “Sama, aku juga belum belajar, tamat kita hari ini yud”
Narator : Setelah murid menyiapkan kertas kosong dan alat tulisnya, ulangan
harian pun berlangsung, di beberapa tempat terlihat murid-murid
gelisah mengerjakan ulangannya sedangkan waktu ulangan sudah
hampir habis
Yuda : “Tasya, kamu sudah selesai belum ?”
Tasya : “Belum, nggak usah bingung yud, kita hitung kancing aja daripada
kertas ulangannya kosong”
Yuda : “Ya sudah, baiklah kalau begitu”
Ibu guru Nadia : “Waktu sudah habis, tolong kumpulkan kertas ulangan kalian ke
meja ibu, sekarang !”
Semua murid : “Baik bu”

Narator : Setelah semua murid selesai mengumpulkan kertas ulangan,


terdengar bel waktunya istirahat sholat dzuhur berbunyi

Lussy : “Mari kawan-kawan kita sholat dzuhur terlebih dahulu !”


Yuda : “Males ah, enakan kita jajan sambal ngerumpi, untuk apa sholat”
Lussy : “Kamu bilang untuk apa, berarti pelajaran tadi tidak kamu simak
dengan baik, yuda-yuda mau jadi apa kamu nanti”
Intan : “Sudahlah biarkanlah mereka, mereka sudah kebal dengan nasehat
apapun jadi kamu percuma marah-marah kaya gitu nggak ada
gunanya”
Alya : “Mari kita ke mushola !”

Narator : Disaat teman-temannya menjalankan ibadah sholat dzuhur,


terlihat yuda dan matasya dengan asyiknya bercanda di kantin
sekolah dengan suara yang besar, hal tersebut diamati dari
kejauhan oleh Ibu guru Nadia yang saat itu sedang tidak
mengerjakan sholat dzuhur. Ibu guru Nadia pun menghampiri
mereka berdua.

Ibu guru Nadia : “Assalamualaikum wr wb yudha, matasya”


Yuda dan Matasya : “Waalaikumsalam wr wb, eh ibu”
Ibu guru Nadia : “Kok kalian berdua tidak sholat dzuhur di mushola ?, apa kalian
tidak tahu kalau disekolah kita diwajibkan sholat dzuhur
berjamaah !”
Yuda : “Eh anu bu tadi kita telat bu”
Matasya : “Eh iya bu”
Ibu guru Nadia : “Walaupun telat kalian tetap bisa kok mengerjakan sholat tetapi
sepertinya kalian memang enggan mengerjakan sholat. Ibu sudah
sering mendengar laporan tentang kalian. Mulai besok ibu tidak mau
lagi ada laporan bahwa kalian tidak sholat dzuhur berjamaah di
mushola. Kalau ibu masih mendengar kalian akan mendapatkan
sangsinya. Apakah kalian mengerti ?”
Yudha dan Matasya : “Mengerti bu”

Narator : Setelah Ibu Nadia meninggalkan mereka, Yudha dan Matasya


pun tampak berbisik-bisik.

Yudha : “Sya, gak usah dipikirin ancaman dari Ibu Nadia, nanti juga ia akan
bosan menegur kita !”
Matasya : “Iya Yud”

Narator : Dalam perjalanan pulang Yudha dan Matasya melihat secara


langsung kecelakaan yang menewaskan pengendara motor di
jalan raya. Mereka berdua terlihat syok setelah melihat kejadian
itu, tetapi karena kejadian itulah hidayah menghampiri mereka

Yuda : “Astagfirullah, aku takut sya kalau itu menimpa kita sementara kita
tidak pernah sholat, mautkan kita tidak pernah tahu”
Matasya : “Aku juga takut yud, bagaimana kalau mulai sekarang kita harus
rajin sholat”
Yuda : “Iya sya aku janji mulai sekarang akan rajin sholat”
Matasya : “Aku juga yuk”

Narator : Keesokan harinya pada saat bel sholat dzuhur berbunyi, murid-
murid nampak berhamburan keluar kelas menuju mushola.
Tampak Yuda dan Matasya dengan malu-malu menuju
mushola, hal tersebut terlihat oleh teman-temannya

Alya : “Ada yang insyaf nih, ha ha ha”


Intan : “Alya, kamu tidak boleh ngomong begitu, Sungguh Allah SWT
mencintai orang yang peduli dengan sesama muslim lainnya karena
semua muslim itu bersaudara”
Alya : “Maafkan aku ya tadi aku khilaf”
Intan : “Ya sudah mari kita sholat nanti kita jadi makmum masbuk klo
telat !”
Narator : Sesaat setelah usai sholat, Intan, Alya, Lussy, Harist, Fitria, Eka
menghampiri Yuda dan Matasya

Eka : “Kita senang lo lihat kalian mau sholat dzuhur berjamaah di


mushola”
Harist : “Iya itu baru teman kita, teman yang selalu bersama-sama meniti
jalan Allah”
Intan : “Bahagia kami melihat hidayah menghampiri kalian”
Yuda : “Maafkan kesalahanku ya teman-teman”
Matasya : “Aku juga minta maaf karena sering mengejek kalian”
Harist : “Itulah gunanya kita berteman”
Eka : “Sesama teman tugas kita untuk saling mengingatkan teman yang
lainnya untuk berbuat kebaikan”
Matasya : “Iya kita mau taubat, kita sekarang sudah sadar bahwa shalat itu
ternyata penting sekali kita telah merasakannya karena kita melihat
kalian hidup tenang dengan sering beribadah akan tetapi kita terus
gelisah walau pun sedang tidak ada musibah apapun dan maut itu
bisa datang kapan pun amal apa yang mau dibawa kalau kita tidak
sholat.”
Yudha : “Sekarang aku merasakan damai setelah menjalankan sholat, hilang
rasa gelisah yang selama ini sering menghantuiku”
Fitria : “Semoga hidayah terus menghampiri kalian ya”
Yuda dan Matasya : “Terima kasih teman-teman”
Lussy, Intan, Alya, : “Mulai sekarang dan seterusnya we are best friend forever”
Eka, Harist, Yuda,
Matasya, Fitria

Narator : Teman yang baik selalu ada disaat susah dan senang yang kita
rasakan dan akan senantiasa mengajak kita berbuat kebaikan
karena mengharap ridho dan berkah dari Allah SWT. Maut
tidak akan menunggu kita bertaubat karenanya jadikanlah
sholat sebagai tiang agama yang akan menjauhkan kita dari
perbuatan keji dan munkar dan membawa kita ke Jannah-Nya.