Anda di halaman 1dari 17

BAB II ◄▬

POLITIK HUKUM PERTANAHAN INDONESIA

1. Umum
Politik hukum dikenal juga dengan “legal policy atau arah hukum yang
akan diberlakukan oleh negara untuk mencapai tujuan negara yang bentuknya
74
dapat berupa pembuatan hukum baru dan penggantian hukum lama” .
Dengan demikian, politik hukum agraria merupakan arah kebijaksanaan
hukum dalam bidang agraria dalam usaha memelihara, mengawetkan,
memperuntukan, mengusahakan, mengambil manfaat, mengurus dan membagi
tanah dan sumber daya alam lainnya yang terkandung di dalamnya untuk
kepentingan dan kesejahteraan rakyat, yang hal ini juga terdapat dalam konsep
75
tujuan hukum tanah . Dimana dalam pelaksanaan legal policy itu dapat
dituangkan dalam sebuah peraturan perundang-undangan yang memuat asas,
dasar, dan norma dalam bidang agraria.
Pelaksanaan UUPA ini mempunyai arti ideologis yang sangat penting.
Sebab undang-undang ini merupakan penjabaran langsung dari Pasal 33 ayat
(3) UUD 1945, sebagai “basic power” demokrasi ekonomi yang sedang
dikembangkan dalam rangka menciptakan kemakmuran rakyat.
2. Pada Masa Penjajahan Belanda
Politik hukum agraria kolonial menganut prinsip dagang, yakni untuk
mendapatkan hasil bumi/bahan mentah dengan harga yang serendah mungkin,
kemudian dijual dengan harga yang setinggi-tingginya. Tujuannya tidak lain
mencari keuntungan sebesar-besarnya bagi diri pribadi penguasa kolonial yang
merangkap sebagai pengusaha. Keuntungan ini juga dinikmati oleh pengusaha
Belanda dan pengusaha Eropa. Sebaliknya bagi rakyat Indonesia hanya
menimbulkan penderitaan yang sangat mendalam.
Sistem politik hukum agraria kolonial ditandai dengan empat (4) ciri,
76
yaitu :
1) dominasi;
Prinsip dominan terjadi dalam kekuasaan golongan penjajah yang minoritas
terhadap penduduk pribumi yang mayoritas. Dominasi ini ditopang oleh keunggulan
militer kaum penjajah dalam menguasai dan memerintah penduduk pribumi.
2) eksploitasi;
Eksploitasi dilakukan dengan pemerasan sumber kekayaan tanah jajahan untuk
kepentingan negara penjajah. Penduduk pribumi diperas tenaga dan hasil
produksinya untuk diserahkan kepada penjajah, yang kemudian oleh pihak penjajah
dikirim ke negara induknya untuk kemakmuran mereka sendiri.
3) diskriminasi;

74
Mahfud MD. Membangun ......op.cit, hlm. 13
75
Singgih Praptodihardjo, (1), hlm. 26-37.; Sunarjati Hartono. CFG, (7a), hlm. 89-114
76
Noer Fauzi dalam Urip Santoso, Hukum Agraria & Hak-hak Atas Tanah, Kencana, Jakarta,
Edisi Pertama, Cet. Ke-2, 2005, hlm. 28

43
44
Politik Hukum
Diskriminasi dilakukan dengan perbedaan ras dan etnis. Golongan penjajah
dianggap sebagai golongan yang superior, sedangkan penduduk pribumi yang
dijajah dipandang sebagai bangsa yang rendah atau hina.
4) dependensi.
Dependensi adalah ketergantungan masyarakat jajahan terhadap penjajah.
Masyarakat terjajah menjadi makin tergantung kepada penjajah dalam hal modal,
teknologi pengetahuan, dan keterampilan karena mereka semakin lemah dan
miskin.
Contoh politik hukum agraria kolonial yang dimuat dalam Agrarische
Wet (AW) Stb.1870 No.55 dengan isi dan maksud serta tujuan sebagai
berikut:
1) Tujuan primer:
Memberikan kesempatan kepada pihak swasta (asing) mendapatkan
bidang tanah yang luas dari pemerintah untuk waktu yang cukup lama
dengan uang sewa (canon) yang murah. Di samping itu untuk
memungkinkan orang asing (bukan bumi putera) menyewa atau
mendapat hak pakai atas tanah langsung dari orang bumi putera menurut
peraturan-peraturan yang ditetapkan dengan ordonansi. Meaksudnya
adalah memungkinkan berkembangnya perusahaan pertanian swasta
asing.
2) Tujuan sekunder.
Melindungi hak penduduk Bumi Putera atas tanahnya, yaitu:
a) Pemberian tanah dengan cara apapun tidak boleh mendesak hak
Bumi Putera;
b) Pemerintah hanya boleh mengambil tanah Bumi Putera apabila
diperlukan untuk kepentingan umum atau untuk tanaman-tanaman
yang diharuskan dari atasan dengan pemberian ganti kerugian;
c) Bumi Putera diberikan kesempatan mendapatkan hak atas tanah
yang kuat yaitu hak eigendom bersyarat (agrarische eigendom);
d) Diadakan peraturan sewa menyewa antara Bumi Putera dengan
bukan Bumi Putera.
Dalam perjalanan berlakunya AW terjadi penyimpangan terhadap
tujuan skundernya, yaitu adanya penjualan tanah-tanah milik pribumi
langsung kepada orang-orang Belanda atau Eropa lainnya, untuk
menghindari hal yang demikian maka pemerintah Hindia Belanda
mengeluarkan kebijaksanaan berupa Vervreemdingsverbod Stb.1875
77
No.179 .

77
Yang dimaksud dengan Vervreemdingsverbod adalah hak milik (adat) atas tanah tidak dapat
dipindahtangankan oleh orang-orang Indonesia asli kepada bukan orang Indonesia asli dan oleh karena
itu semua perjanjian yang bertujuan untuk memindahkan hak tersbut, baik secara langsung maupun
tidak langsung adalah batal karenanya.

Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya Muliadi & Partners


Politik Hukum 45
Selain AW, maka pemerintah Hindia Belanda juga pernah
mengeluarkan kebijakan agraria dalam Agrarische Besluit (AB) sebagai
pelaksanaan dari ketentuan AW. AB ini diundangkan dalam Stb.1870 No.118.
Yang terpenting dalam pengaturan AB adalah adanya politik hukum tanah
tentang pernyataan domein negara (Raja/Ratu) atau lebih dikenal dengan
Domein Verklaring.
Dalam Pasal 1, disebutkan: “behoudens opvolging van de tweede en
derde bepaling der voormelde wet, blijft het beginsel gehandhaafd, dat alle
grond, waarop niet door anderen regt van eigendom wordt bewezen, domein
van de Staat is”. (dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan dalam
Pasal 2 dan 3 Agrarisch Wet, tetap dipertahankan asas, bahwa semua tanah
pihak lain tidak dapat membuktikan sebagai hak eigendomnya, adalah
domein (milik) Negara).
Ketentuan Pasal 1 Agrarisch Besluit ini dikenal sebagai pernyataan
kepemilikan “Domein Verklaring” dari Negara dan dikenal sebagai pernyataan
domein umum (algemene Domein Verklaring). Disamping itu, dikenal juga
adanya pernyataan domein khusus (speciale Domein Verklaring) yang
tercantum dalam peraturan perundangan tentang pengaturan hak erfpaht
yang diundangkan dalam Stb.1875 No.94f, Stb.1877 No.55 dan Stb.1888
No.55. Rumusannya sebagai berikut: “alle woeste gronden in de
Gouvernementsladen op…. berhooren, voorzoover daarop door leden der
inheemsche bevolking gene aan het ontginningsrecht ontleende rechten
worden uitgeoefend, tot het Staatsdomein. Over dit tot het Staatsdomein
behoorende gronden, berust behoudens het ontginningsrecht der bevolking,
de beschikking iutluitend bij het Gouvernement”. (“Semua tanah kosong
dalam daerah pemerintahan langsung di… adalah domein Negara, kecuali
yang diusahakan oleh para penduduk asli dengan hak-hak yang bersumber
pada hak membuka hutan. Mengenai tanah-tanah Negara tersebut
kewenangan untuk memutuskan pemberiannnya kepada pihak lain hanya
ada pada pemerintah, tanpa mengurangi hak yang sudah dipunyai oleh
penduduk untuk membukanya”).
Maksudnya adalah adanya pernyataan-pernyataan secara umum
(algemene-domeinverklaring) yang menganut suatu prinsip (azas) agraria
yaitu pernyataan bahwa semua tanah yang tidak dapat dibuktikan eigendom
seseorang adalah tanah negara (domein vanden Staat), Negara bertindak
sebagai eigenaar (pemegang hak milik). Kalau terbukti ada hak eigendom
orang lain diatasnya maka negara akan mengakui keberadaan hak eigendom
tersebut.
Pernyataan kepemilikan ini menjadikan landasan hukum
Negara/pemerintahan pada waktu itu untuk memberikan tanah dengan hak
kepemilikan dengan hak-hak barat yang diatur dalam KUH Perdata, seperti
hak Erfpacht, hak Opstal dan lain-lainnya. “Dalam rangka domein verklaring,

Muliadi & Partners Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya


46
Politik Hukum
pemberian tanah dengan hak eigendom dilakukan dengan cara pemindahan
hak milik Negara kepada penerima tanah dan pemberian itu dijadikan
78
sebagai alat pembuktian pemilikan tanah” .
Pernyataan domein Negara yang diatur dalam Pasal 1 Agrarisch
Besluit ini paralel dengan yang diatur dalam BW. Dimana dapat dilihat dalam
Pasal 519 dan Pasal 520 BW, mengatur bahwa: setiap bidang tanah selalu
ada yang memiliki. Kalau tidak dimiliki oleh perorangan atau badan hukum,
maka negaralah pemiliknya.
Atas dasar Pasal 1 Agrarisch besluit dikenal adanya dua bentuk tanah
Negara yakni:
Pertama, tanah-tanah Negara yang disebut dengan tanah Negara
bebas “vrij landsdomein” yaitu tanah tersebut belum ada atau belum pernah
79
dilekati oleh sesuatu hak apapun . Sepanjang tidak didaftarkan haknya
dengan cara menundukkan diri secara suka rela kepada hukum barat maka
tanah yang dikuasai rakyat merupakan bagian dari atau berstatus sebagai
tanah Negara yang diistilahkan sebagai tanah Negara yang diduduki oleh
rakyat.
Dalam perkembangannya pemerintah Hindia Belanda berpendapat
bahwa sebutan tanah Negara bebas ini cakupannya dibedakan menjadi dua:
1) Tanah-tanah menjadi tanah Negara bebas karena dibebaskan dari hak-
hak milik rakyat oleh suatu Instansi/departemen, dianggap tanah Negara
dibawah penguasaan departemen yang membebaskan;
2) Tanah Negara bebas yang tidak ada penguasaan secara nyata
diserahkan kepada suatu departemen, dianggap bahwa tanah tersebut
dimasukkan kedalam penguasaan departemen dalam negeri (Binnen van
bestuur)
Kedua, tanah Negara yang tidak bebas “onvrij landsdomein” yaitu
tanah Negara yang diatasnya ada hak-hak rakyat atas tanah atau tanah yang
dikuasai atau diduduki oleh rakyat berdasarkan pada hukum adat mereka
(hak ulayat masyarakat hukum adat).
Berkaitan dengan struktur agraria warisan penjajah sebagai hasil politik
80
agraria kolonial dapat :
1) Dipandang dari sudut hukumnya tidak ada kesatuan hukum.

78
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-undang Pokok
Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Djambatan, Jakarta, Edisi Revisi, Cet. Ke-8, 1999, hlm. 43
79
Pengertian hak disini harus diartikan yuridis yang diatur dalam ketentuan hukum barat (BW)
termasuk didalamnya hak rakyat atas tanah yang pada waktu itu tanah-tanah yang mendasarkan pada
hukum adat setempat.
80
Imam Sotiknjo, “Pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria dalam Rangka Menyukseskan
Pelita V”, Makalah Ceramah Sehari, Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya, 1989, hlm. 2-3

Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya Muliadi & Partners


Politik Hukum 47
a) Ada dua macam (dualisme hukum), yaitu hukum barat yang dibawa dan
diberlakukan di Hindia Belanda oleh pihak penjajah Belanda dan hukum adat
penduduk Bumi Putera;
b) Hukum adat di Indonesia itu beraneka warna, agak berbeda di pelbagai daerah
(plurisme) yang dibiarkan terus berlaku selama dianggap tidak bertentangan
dengan politik agraria penjajah;
c) Ada hak ciptaan baru yang bukan hukum adat tapi yang bukan hukum barat,
yaitu hak agraris eigendom.
2) dilihat dari sudut objeknya, tidak ada kesamaan status subjek.
a) Ada pemegang hak yang orang Bumi Putera, ada yang bukan orang Bumi
Putera yang sistem hukumnya berbeda;
b) Yang bukan Bumi Putera ada:
(1) Orang asing bangsa Eropa/Barat;
(2) Orang keturunan asing;
(3) Orang Timur Asing.
3) dilihat dari yang menguasai/memiliki tanah, tidak ada keseimbangan dalam
hubungan antara manusia dengan tanah.
a) Ada besar golongan manusia (petani) yang tidak mempunyai tanah atau yang
mempunyai tanah yang sangat sempit;
b) Di lain pihak ada golongan kecil manusia (penguasa, pengusaha asing, tuan
tanah, pemilik tanah partikelir) yang memiliki/menguasai tanah;
4) Dilihat dari sudut penggunaan tanah, tidak ada keseimbangan dalam
penggunaan tanah.
a) Tanah di Jawa dan Madura hampir semua sudah dibuka/diusahakan;
b) Di luar Jawa, Madura dan Bali masih ada tanah luas yang bukan
dibuka/diusahakan.
5) Dilihat dari sudut tertib hukum, tidak ada tertib hukum.
a) Penjajah Jepang mengambil tanah rakyat atau tanah/rumah orang asing yang
menguasai atau ditangkap, tanpa ambil pusing soal hak yang ada di atasnya;
b) Rakyat sendiri juga menduduki tanah perkebunan, pekarangan bahkan rumah
orang asing/bekas penjajah yang mengungsi secara tidak sah.
3. Pada Masa Awal Kemerdekaan
Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945 segera bermunculan
tuntutan kepada pemerintahan untuk membuat produk hukum agraria nasional
81
yang baru dan berwatak responsif . Tanggapan pemerintah pada periode ini
terdiri dari dua macam yaitu:
Pertama; mengeluarkan berbagai UU secara parsial dalam bidang
agraria yang berisi pencabutan terhadap beberapa bagian dalam hukum
82
agraria peninggalan kolonial yang sangat menindas .

81
Kar J. Pelzer, Sengketa Agraria; Pengusaha Perkebunan Melawan Petani, Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta, 1991, hlm 80
82
Pada masa ini dapat dilihat dikeluarkannya berbagai peraturan, antara lain: UU No.5 Tahun
1952 tentang Penetapan "Undang-Undang Nr 6 Tahun 1951 Untuk Mengubah "Grondhuur Ordonantie"
Dan "Vorstenlandsch Grondhuurreglement" Sebagai Undang-Undang.; UU No.14 Tahun 1952 tentang
Penunjukan Jawatan Regi Garam Sebgai Perusahaan I.B.W. Dengan Nama Baru "Perusahaan Garam

Muliadi & Partners Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya


48
Politik Hukum
Kedua; membuat rancangan UU Agraria Nasional untuk menggantikan
Agrarische Wet (AW) 1870 melalui beberapa panitia perancang. Pada akhirnya
rancangan UU tersebut berhasil disusun tetapi pengundangannya baru
dilakukan pada periode berikutnya. Secara umum produk hukum dan respons
pemerintah dalam masalah agraria pada periode ini merupakan produk hukum
dan tindakan-tindakan yang responsif.
4. Pada Masa Orde Lama
Rancangan UU tentang Agraria Nasional yang berhasil disusun pada
periode 1945-1959, diadakan penyesuaian dengan konstitusi dan konfigurasi
politik yang baru yakni UU No. 5 Tahun 1960.
UUPA adalah UU yang sangat responsif karena merombak seluruh sistem yang
dianut di dalam Agrarische Wet (AW) 1870 dan semua peraturan pelaksanaannya.
Masalah-masalah mendasar dalam hukum agraria lama yang dihapus oleh UUPA
meliputi domeinverklaring, feodalisme dan hak konversi dalam hukum tanah, serta
dualisme hukum. UUPA menegaskan adanya fungsi sosial bagi setiap hak milik atas
83
tanah .
Selanjutnya UUPA dapat dilihat sebagai awal pembaharuan dan
perkembangan hukum di Indonesia, dan dapat disebut sebagai “pioneer bagi
84
usaha-usaha pembaharuan hukum” karena “through indonesias numerous
Cabinets had achieved little in the way of substantive legal reform, and the

Dan Soda Negeri”.; UU No.6 Tahun 1953 tentang Pernyataan Perlunya Beberapa Tanah Partikelir
Dikembalikan Menjadi Tanah Negeri.; UU No.25 Tahun 1953 tentang Penetapan "Undang-Undang
Darurat Nomor 12 Tahun 1950, Tentang Mengadakan Pajak Peredaran 1950" Dan "Undang-Undang
Darurat Nomor 38 Tahun 1950 Tentang Tambahan Dan Perubahan Undang-Undang Pajak Peredaran
1950" Sebagai Undang-Undang.; UU No.14 Tahun 1954 tentang Pencabutan Ordonansi "Uitvoerverbod
Plantenmateriaal Negara Sumatera Timur 1949".; UU No.19 Tahun 1954 tentang Peraturan Penagihan
Penghasilan Lebih Kepada Negara.; UU No.24 Tahun 1954 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat
Tentang Pemindahan Hak Tanah-Tanah Dan Barang-Barang Tetap Yang Lainnya Yang Bertakluk
Kepada Hukum Eropah Sebagai Undang-Undang.; UU No.21 Tahun 1957 tentang Menetapkan Undang-
Undang Darurat Nomor 14 Tahun 1952 Tentang Perubahan Dan Penambahan Peraturan Pemungutan
Pajak Peralihan, Pajak Upah Dan Pajak Kekayaan Sebagai Undang-Undang.; UU No.76 Tahun 1957
tentang Pengubahan Undang-Undang No. 24 Tahun 1954 Dan Undang-Undang No. 28 Tahun 1956
Mengenai Penggantian Perkataan "Menteri Kehakiman" Dengan Perkataan "Menteri Agraria".; UU No.78
Tahun 1957 tentang Perubahan Canon Dan Cijns Atas Hak Hak Erfpacht Dan Konsesi Guna
Perusahaan Kebun Besar.; UU No.13 Tahun 1959 tentang Penetapan "Undang-Undang Darurat No. 25
Tahun 1957 Tentang Penghapusan Monopoli Garam Dan Pembikinan Garam Rakyat" Sebagai Undang-
Undang.; UU No.16 Tahun 1959 tentang Penetapan "Undang-Undang Darurat No. 1 Tahun 1959
Tentang Badan Perusahaan Produksi Bahan Makanan Dan Pembukaan Tanah" Sebagai Undang-
Undang.; UU No.2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil
83
Moh. Mahfud MD, Konfigurasi Politik dan Karakter Produk Hukum, merupakan ringkasan
disertasi penulis yang dipertahankan di depan Sidang Senat Terbuka Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta, 25 Juni 1993, juga tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Prisma No.7 – 1995, yang
diterbitkan oleh LP3ES, Jakarta, hlm. 18
84
Abdurrahman, “Pengaruh UUPA dalam Pembaharuan Hukum Perdata di Indonesia”,
Sumbangan pikiran dalam Simposium Pembaharuan Hukum Perdata Nasional, di Yogyakarta 1988, hlm.
3

Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya Muliadi & Partners


Politik Hukum 49
pressures of political conflict hardly allowed Parliament time to take up the
85
matter seriously” , selanjutnya disebut ”langkah perbaikan perundang-
86
undangan kita di bidang hukum perdata” , yang tersusun “bersandarkan
87
Hukum Adat, dan ini merupakan permulaan besar dari codificatie nasional” ,
dengan “meletakkan dasar yang modern dan serasi dengan perkembangan
88
politik di negara kita” , sebagai landasan pembangunan dan sebagai induk dari
89
landreform Indonesia .
Secara historis, Orde Lama telah menempatkan landreform sebagai
kebijakan revolusioner dalam pembangunan semestanya dengan
mengeluarkan peraturan mengenai redistribusi tanah sesuai UU No.56 Prp
Tahun 1960. Bahwa syarat pokok untuk pembangunan tata perekonomian
adalah pembebasan berjuta-juta kaum tani dan rakyat pada umumnya dari
pengaruh kolonialisme, imperialisme, feodalisme dan kapitalisme dengan
melaksanakan landreform menurut ketentuan hukum nasional Indonesia,
seraya meletakkan dasar-dasar bagi industrialisasi, terutama industri dasar dan
industri berat yang harus diusahakan dan dikuasai negara. TAP MPRS RI
Nomor II/MPRS/1960 dan Manifesto Politik menyebut tiga landasan filosofis
pembangunan pada masa ini yaitu: anti penghisapan atas manusia oleh
manusia (Iâ exploitation de Iâ homme per Iâ homme); kemandirian ekonomi;
dan anti kolonialisme, imperialisme, feodalisme dan kapitalisme dengan
landreform sebagai agenda pokoknya.
Demikian juga dari jumlah Peraturan Perundang-Undangan bidang
Hukum Pertanahan Periode 1960-1966, sebagian besar dari keseluruhan
peraturan perundang-undangan yang diterbitkan pada masa ini adalah tentang
90
landreform dan pengurusan hak atas tanah . Tampak jelas bahwa era

85
Daniel S. Lev, “The Land and the Banyan Tree: Civil Law Change in Indonesia”, The American
Journal of Comparative Law, Th. XIV 1965, hlm. 289
86
Wirjono Prodjodikoro. R, Hukum Perdata tentang Hak Atas Benda, Intermasa, Jakarta, Cet.ke-
5, 1986, hlm. 9
87
Soedargo, Perundang-undangan Agraria I. Eresco, Bandung, 1962, hlm. iii.; bandingkan
dengan “UUPA bukan saja mengadakan perombakan secara strukturial mengenai kedudukan hukum
tanah di Indonesia, tetapi juga secara tak langsung telah merombak sistem Hukum Adat”, dalam Saleh
Adiwinata, Perkembangan Hukum Perdata/Adat Sejak Tahun 1960, Alumni, Bandung, 1970, hlm. x
88
Parlindungan. AP, Kapita Selekta Hukum Agraria, Alumni, Bandung, 1981, hlm. 120
89
Ibid, hlm. 39, bandingkan dengan “urgensi untuk mengadakan suatu Landreform sebagai hasil
yang gemilang dalam pembentukan hukum nasional, yaitu merupakan “pendobrak hukum agrarian
kolonial” dan menjadi pula “alat” yang membuka kemungkinan untuk membangun masyarakat yang adil
dan makmur.”, dalam Subekti. R, Bunga Rampai Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 1977, hlm. 35-36
90
Perinciannya adalah sebagai berikut: Land Reform terdiri dari 4 Undang-Undang, 2 Peraturan
Pemerintah, 3 Keputusan Presiden, 10 Peraturan Menteri, 12 Keputusan Menteri, 9 Surat Edaran
Menteri (40 peraturan); dan tentang Pengurusan Hak Tanah terdiri dari 1 Undang-Undang, 3 Peraturan
Pemerintah, 2 Keputusan Presiden, 1 Instruksi Presiden, 4 Peraturan Menteri, 10 Keputusan Menteri, 7
Surat Edaran Menteri (28 peraturan), dari keseluruhan yang berjumlah 92 peraturan. Lihat dalam
Nurhasan Ismail, Perkembangan Hukum Pertanahan Indonesia: Suatu Pendekatan Ekonomi-Politik,
Disertasi pada Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2006, hlm. 185.

Muliadi & Partners Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya


50
Politik Hukum
pemerintahan ini meletakkan isu agraria sebagai pokok bidang yang harus
segera diprioritaskan. Landreform sebagai bagian mutlak daripada revolusi
Indonesia adalah basis pembangunan semesta yang berdasarkan prinsip
bahwa tanah sebagai alat produksi tidak boleh dijadikan sebagai alat
penghisapan.
“Landreform merupakan strategi politik agraria yang dilatarbelakangi oleh
perseteruan beberapa kepentingan, terutama kepentingan para petani tak
91
bertanah melawan kepentingan para tuan tanah” . Kepentingan dari dua
golongan ini muncul pula di tingkat elite kenegaraan, dimana terbentuk tiga
golongan yaitu golongan radikal yang mengusulkan pembagian tanah berdasar
prinsip tanah bagi mereka yang benar-benar menggarapnya. Sedangkan
mereka yang memiliki tanah luas adalah telah melakukan penghisapan
terhadap manusia lainnya. Golongan ini terdiri dari PKI, PNI dan Partai Murba.
Golongan kedua adalah golongan konservatif yang terdiri dari Partai-partai
Islam dan sebagian PNI. Inti dari pendapat golongan ini adalah penolakan
dilakukannya pembatasan atas luas pemilikan tanah dan tuduhan pemilikan
tanah luas sebagai penghisapan. Sedangkan golongan ketiga adalah golongan
yang kompromis terhadap kedua golongan lainnya. Mereka menerima
pendapat golongan radikal tetapi dengan penerapan yang bertahap. Dalam
golongan inilah Soekarno dan Sadjarwo (Menteri Agraria) sebagai dua tokoh
penting dalam perumusan UUPA menjadi anggotanya.
Pelaksanaan program ini ditandai dengan program pendaftaran tanah
berdasar PP No.10 Tahun 1961, untuk mengetahui dan memberi kepastian
hukum tentang pemilikan dan penguasaan tanah. Kemudian penentuan tanah-
tanah berlebih (melebihi batas maksimum pemilikan) yang selanjutnya dibagi-
bagikan kepada sebanyak mungkin petani tidak bertanah. Termasuk juga
pelaksanaan UU No.2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil.
Tetapi ketiga program tersebut mengalami hambatan sebagaimana
dikatakan oleh Sadjarwo bahwa kelemahan administrasi yang tidak sempurna
yang menyulitkan redistribusi tanah; dan kurangnya dukungan baik itu dari
rakyat, organisasi petani, organisasi politik, tokoh-tokoh dan panitia landreform
sendiri. Hal ini kemudian menyebabknan terjadinya aksi sepihak, baik itu oleh
petani yang menginginkan tanah maupun tuan tanah. Akibat banyaknya aksi
sepihak ini, dikeluarkanlah UU No.21 Tahun 1964 tentang Pengadilan
Landreform.
Periode Orde Lama, hukum pertanahan didorong untuk lebih mengutamakan
terciptanya keadilan komutatif dengan memberikan fasilitas dan kemudahan
menguasai/memiliki tanah kepada kelompok mayoritas yang lemah, seperti petani
tidak bertanah atau bertanah sempit, petani penggarap, petani yang menduduki tanah

91
Utrecht. E & Moh. Saleh Djindang, Pengantar dalam Hukum Indonesia, Sinar Harapan,
Jakarta, Cet.ke-10, 1983, hlm. 141

Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya Muliadi & Partners


Politik Hukum 51
perkebunan serta koperasi sebagai organisasi yang dibentuk oleh kelompok tersebut.
“Selain itu agar ada keadilan korektif yaitu dengan memberikan fasilitas dan
kemudahan kepada kelompok mayoritas yang pada periode sebelumnya terabaikan
92
dalam kebijakan pertanahan .
Sehingga dapat dikatakan bahwa program landreform sebagai awal
93
pelaksanaan tujuan tersebut, pada penerapannya mengalami kegagalan . Hal
itu karena:
1) Kelambanan praktek-praktek pemerintah dalam pelaksanaan Hak
Menguasai Negara;
2) Tuntutan organisasi dan massa petani yang ingin meredistribusikan tanah
secara segera sehingga kemudian timbul aksi sepihak;
3) Unsur-unsur anti landreform yang melakukan berbagai mobilisasi kekuatan
tanding dan siasat mengelak dari dan untuk menggagalkan landreform;
4) Terlibatnya unsur kekerasan antara kedua pihak yaitu yang pro dan kontra
landreform. Konflik ini bahkan memuncak dan menimbulkan konflik yang
lebih besar di dalam konflik elite politik yang berujung pada peristiwa
Gerakan 30 September 1965 dan jatuhnya rezim Orde Lama.
Akan halnya hasil dari program landreform masa orde lama adalah
diredistribusikannya sekitar 450.000 hektar, yaitu sejak program ini dicanangkan
pertama kalinya hingga akhir tahun 1964. Perinciannya adalah tahap I sejumlah
296.566 hektar dan tahap II sejumlah 152.502 hektar karena tahap II ini belum
selesai. Pembagian ini terutama baru dilaksanakan di Pulau Jawa, Madura, Bali dan
Nusa Tenggara. Sedangkan tanah kelebihan yang telah ditentukan adalah 337.445
94
hektar .
Meskipun UU No. 5 Tahun 1960 (UUPA) ini diproduk di dalam konfigurasi
politik yang otoriter (demokratis terpimpin) tetapi UU ini tetap berkarakter
95
sangat responsif karena empat alasan ;
pertama; rancangan UU tersebut merupakan warisan periode sebelumnya yang
dirumuskan oleh berbagai panitia perancangan;
kedua; materi UU tersebut merupakan pembalikan total terhadap UU yang
diwariskan oleh pemerintah kolonial Belanda sehingga pasti diterima oleh
setiap pemerintah nasional;
ketiga; materi UU tersebut tidak menyangkut distribusi kekuasaan politik
(gezagverbouding) sehingga pemberlakuannya tidak akan mengganggu
posisi pemegang kekuasaan politik yang dominan;

92
Nurhasan Ismail, Perkembangan Hukum Pertanahan Indonesia: Suatu Pendekatan Ekonomi-
Politik, Disertasi pada Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2006, hlm. 15
93
Terjadinya aksi sepihak, baik itu dalam arti aksi sepihak yang dilakukan oleh petani (di bawah
naungan Barisan Tani Indonesia) maupun oleh tuan tanah karena keduanya sama-sama tidak
memperhatikan prosedur normal landreform.
94
Lilis Nur Faizah, Landreform: Sejarah Dari Masa Ke Masa, www.zeilla.wordpress.com, akses
22 Mei 2008
95
Moh. Mahfud MD, Konfigurasi ......op.cit, hlm. 26

Muliadi & Partners Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya


52
Politik Hukum
keempat; UUPA memuat dua bidang hukum sekaligus yaitu hukum publik dan hukum
perdata. Seperti dikemukakan di atas pengaruh konfigurasi politik terhadap
karakter produk hukum secara lebih signifikan akan mengena pada bidang
hukum publik yang menyangkut gezagverbouding.
5. Orde Baru
Berbeda dengan Orde Lama, dalam pemerintahan Soeharto
memfokuskan pembangunan pada pertumbuhan ekonomi, dan memulai
kebijakan pembangunan ekonominya dengan mengeluarkan UU No.1 Tahun
1967 tentang PMA untuk menarik investasi asing dalam pengelolaan sumber
daya alam. Terjadi denasionalisasi (privatisasi) perusahaan asing pada tahun
1967 yang sebelumnya telah dinasionalisasi oleh pemerintahan Soekarno pada
tahun 1958. Hal ini dengan alasan kondisi perekonomian yang kritis dan defisit
sebagai peninggalan Orde Lama. “Bahkan sebelumnya dilakukan negosiasi
penjadwalan ulang atas utang-utang luar negeri sekaligus mengajukan
96
pinjaman-pinjaman baru” .
Stigma Partai Komunis Indonesia (PKI)97 atau subversif sering dijadikan
alasan kepada orang-orang atau organisasi-organisasi yang tidak
seide/berseberangan dengan Pemerintahan Soeharto sehingga terjadi
pembekuan gerakan-gerakan revolusioner. Sebagaimana juga halnya
landreform yang merupakan salah satu kebijakan Orde Lama yang populis,
dianggap sebagai produk PKI sehingga dihentikan secara total. Bahkan
perebutan kembali tanah-tanah yang semula ditentukan sebagai tanah
kelebihan dan karenanya menjadi objek redistribusi tanah dilakukan oleh
sejumlah tuan tanah.
Di sisi lain dapat dibuktikan bagaimana penjabaran dari pada Sila-Sila
Pancasila ke dalam UUPA sehingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan
bahwa “UUPA adalah suatu (bahkan satu-satunya) Undang-Undang yang telah
berhasil menjelmakan tiap-tiap sila dari Pancasila dalam pasal-pasal yang
98
penting” .

96
Rikardo Simarmata, Kapitalisme Perkebunan: Dinamika Konsep Pemilikan Tanah oleh
Negara, Insist Press&Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hlm. 64-65
97
Sosialisme Indonesia dan dinyatakan bahwa hukum Agraria tersebut adalah merupakan
pelaksanaan dari pada dekrit Presiden 5 Juli 1959, ketentuan dalam Pasal 33 UUD dan Manifesto Politik
Republik Indonesia sebagai yang ditegaskan dengan Pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1960 dan
seterusnya. Hal yang demikian dapat dimaklumi oleh suasana politik konsentrasi kekuatan golongan
komunis di Indonesia yang sedikit banyaknya ada pengaruhnya terhadap penyusunan UUPA atau lebih
ekstrim lagi bahwa undang-undang ini adalah merupakan suatu proyek politik dalam masa tersebut.
dalam Abdurrahman, Aneka Masalah Hukum Agraria dalam Pembangunan di Indonesia, Alumni,
Bandung, 1978, hlm. 12
98
Iman Soetiknjo, Politik Agraria Nasional, Gama University Press, Yogyakarta, Cet.ke-1, 1983,
hlm. 35.; lebih lanjut disebutkan Khusus terhadap pandangan yang menyatakan bahwa UUPA itu buatan
PKI/Komunis ia menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada tempat bagi pendapat yang menyatakan
bahwa UUPA diundangkan secara tergesa-gesa bahkan mungkin pula dengan maksud tersembunyi dari

Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya Muliadi & Partners


Politik Hukum 53
Kebijakan landreform pada masa ini hanya sebagai masalah tehnis, atau
sebagai program rutin birokrasi pembangunan. Rezim ini menghapus peraturan
perundang-undangan yang menjadi pokok landreform, terutama dikeluarkannya
UU No.7 Tahun 1970 yang menghapus UU tentang Pengadilan Landreform
dan UU No.2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil yang secara sosiologis
tidak diberlakukan pada era ini.
Yang dihadapi pemerintah Orde Baru dalam bidang agraria juga dijadikan
alasan adalah “tuntutan pembaruan terhadap beberapa peraturan dalam
99
bidang agraria yang sifatnya parsial” , “pembuatan berbagai peraturan
100
pelaksanaan yang lamban” , dan proses pembebasan tanah untuk keperluan
pembangunan. Khusus yang menyangkut proses pembebasan tanah ada
kecenderungan bahwa pemerintah telah memilih jalan pragmatis dengan
mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang materinya tidak sejalan
dengan UU yang telah ada. Untuk mempermudah pengadaan tanah bagi
keperluan pembangunan, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri
Dalam Negeri (Permendagri) No.15 Tahun 1975 yang mengatur prosedur
pembebasan tanah dan Inpres No.9 Tahun 1973 yang mengatur tentang Jenis-
Jenis Kepentingan Umum, padahal untuk itu telah ada UU No.20 Tahun 1961
yang mengatur prosedur pencabutan hak atas tanah (onteigening).
Konsepsi hukum agraria Orde Lama yang cenderung populis
sebagaimana dalam UUPA, diganti dengan konsepsi yang berorientasi pada
pembangunan ekonomi. Landreform yang menjadi program pokok Orde Lama
dalam pemerataan tanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat menjadi
terabaikan. Kebijakan pertanahan Orde Baru lebih ditujukan pada pemusatan
penguasaan atas tanah dan pembangunan ekonomi yaitu dengan peningkatan
produksi pertanian sehingga tercapai swasembada pangan (melalui Revolusi
101
Hijau) dan bahkan ekspor hasil pertanian ke sejumlah negara lain .

PKI untuk memungkinkan tanah-tanah Indonesia (dan dengan itu seluruh perekonomian), dikuasai oleh
orang Cina sehingga lebih mudah Indonesia dikuasai oleh Komunisme RRC.; Ibid, hlm. 92
99
Maria S.W Sumardjono, “Implikasi Yuridis Kebijaksanaan Penguasaan dan Penggunaan
Tanah di pedesaan Menyongsong Era Industrilialisasi,” makalah pada Seminar Nasional Tri Dasa Warsa
UUPA, FH-UGM dan BPN, Yogyakarta, 24 Oktober 1990, hlm.3
100
Iman Sutiknjo, Politik .....op.cit, hlm.95
101
berdasarkan data Biro Pusat Statistik 1993 dalam sensus pertanian, disebutkan data
penguasaan tanah pertanian sebagai berikut: (1) 22, 41% dari 19.713.806 rumah tangga tani hanya
menguasai tanah seluas 0,25 sampai 0,49 hektar lahan pertanian; (2) 48,61% memguasai lahan lebih
dari 0,5 hektar. Tetapi terdapat perincian yang menunjukkan ketimpangan yang tajam dalam
penguasaan dan pemilikan tanah pertanian tersebut, yaitu: (1) 8.726.343 atau 48,54% dari keseluruhan
rumah tangga tani hanya menguasai 13,6% dari keseluruhan lahan pertanian; (2) 217.720 atau 1,21%
dari keseluruhan rumah tangga tani menguasai 1.457.477,46 hektar atau 9,44% dari keseluruhan lahan
pertanian yang ada. Dari data tersebut, berarti kelompok pertama hanya menguasai lahan pertanian
rata-rata seluas 0,24 hektar, sedangkan kelompok kedua rata-rata penguasaannya adalah sekitar
22,174 hektar.; demikian juga Hasil redistribusi tanah yang didapat pada Juni 1998 adalah dari
1.397.167 hektar yang menjadi objek landreform, baru diredistribusikan sejumlah 787.931 hektar

Muliadi & Partners Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya


54
Politik Hukum
Dari sudut hukum materi “Permendagri No.15 Tahun 1975 dipandang
telah melanggar batas proporsional materi peraturan perundang-undangan
sebab PMDN tersebut memuat pengaturan tentang sesuatu yang telah dan
102
seharusnya diatur di dalam sebuah UU” . Karena itu, “untuk keperluan
pragmatis, dapat dikatakan pemerintah telah mengeluarkan produk hukum
yang cenderung berkarakter ortodoks/konservasif dalam masalah keagrariaan
103
secara parsial” . Pada tahun 1993 presiden telah mengeluarkan Kepres No.
104
55 Tahun 1993 yang mengatur tentang mencabut peraturan-peraturan
tentang pembebasan tanah, namun Keppres ini tetap memuat benturan
hierarkhis dengan UU yang telah ada dalam arti mengatur secara lain tentang
hal yang telah diatur di dalam UU (yang secara hierarkhis lebih tinggi).
Selain itu, dalam hal pendaftaran tanah pada masa Orde Baru mengganti
PP No.10 Tahun 1961 menjadi PP No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah, yang dinilai banyak pihak merupakan agenda Bank Dunia dan lembaga
keuangan internasional lainnya di Indonesia. Berbeda dengan produk Orde
Lama yang bertujuan untuk kepentingan penataan penguasaan tanah melalui
landreform, produk hukum Orde Baru tentang pendaftaran tanah ini adalah
untuk mencapai kepastian hukum kepemilikan hak atas tanah melalui sertifikat.
Perbedaan lainnya adalah jika UUPA dan PP No.10 Tahun 1961 lebih
mendasarkan pada pendaftaran tanah dengan stelsel negatif, yaitu apa-apa
yang terdaftar tidak secara otomatis dan mutlak menjamin kebenaran akan
pemilikan tanah. Sebaliknya dalam PP No.24 Tahun 1997 menganut stelsel
positif, mempunyai arti apa-apa yang terdaftar merefleksikan keadaan yang
sebenarnya. Dalam stelsel negatif, orang yang sebenarnya berhak atas tanah
dapat mengajukan gugatan pada pengadilan atas tanah miliknya meskipun
tanah tersebut telah didaftarkan sebagai hak orang lain. Dalam peraturan yang
baru disebutkan bahwa masih digunakan stelsel negatif sesuai dengan UUPA.
Tapi diakomodir juga stelsel positif, yang diimbangi dengan upaya untuk
meningkatkan kebenaran dari data yang terdaftar itu.
Ketika ini dikaitkan dengan LAP (Proyek Administrasi Pertanahan) yang
mengatakan: ...permasalahan tanah selama ini terletak pada sistem
administrasi yang pluralistik yang dimiliki masyarakat adat... terlihat bahwa
peraturan ini bertujuan untuk menciptakan homogenitas administrasi

(56,4%) yang diterima oleh sejumlah 1.267.961 rumah tangga tani, dalam Maria SW Sumardjono,
Kebijakan.....,op.cit, hlm. 51.
102
Parlindungan. AP, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, Mandar Maju, Bandung,
Cet.ke-6, 1991, hlm. 106
103
Moh. Mahfud MD, Konfigurasi .....op.cit, hlm. 20
104
terakhir dicabut dengan Perpres No.36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.; dan Perpres No.65 Tahun 2006 Perubahan
Atas Perpres No.36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum

Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya Muliadi & Partners


Politik Hukum 55
pertanahan akan memudahkan kepentingan bisnis untuk memperoleh tanah
yang selama ini dimiliki masyarakat adat secara komunal. Dan inilah yang
kemudian dinilai banyak pihak semakin mengeliminir keberadaan tanah ulayat.
6. Orde Reformasi
Seiring dengan perubahan konstelasi politik, alam demokrasi yang
semakin menguat, dan dilaksanakannya sistem desentralisasi, maka semangat
pembaruan agraria juga menggema dan kemudian melahirkan Ketetapan MPR
Nomor IX Tahun 2001 yang merekomendasikan dilakukannya pembaruan atau
revisi terhadap UUPA. Beberapa peraturan perundang-undangan tentang
pengelolaan sumber daya alam (agraria) dikeluarkan sejak dilakukannya
reformasi pemerintahan di tahun 1998. Baik itu yang kemudian dinilai
merupakan langkah maju maupun yang justru dinilai mundur dari substansi
peraturan-peraturan sebelumnya.
Landreform kembali masuk dalam program penting pembaruan agraria,
yaitu disebutkan dalam Pasal 5 TAP MPR RI No.IX/MPR/2001 bahwa salah
satu arah kebijakan pembaruan agraria adalah:
1) melaksanakan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah (landreform) yang berkeadilan dengan memperhatikan
kepemilikan tanah oleh rakyat;
2) menyelenggarakan pendataan pertanahan melalui inventarisasi dan
registrasi penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah
secara komprehensif dan sisematis dalam rangka pelaksanaan landreform.
Dalam rancangan Undang-Undang tentang Sumber Daya Agraria
disebutkan Tanah dan sumberdaya agraria selain tanah yang penguasaan dan
pemilikannya melebihi batas maksimum, dikuasai oleh Pemerintah dan
ditetapkan sebagai objek landreform untuk dibagikan kepada warga
masyarakat yang termasuk dalam kelompok yang memperoleh hak utama.
Selanjutnya pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, redistribusi
tanah pun kembali diagendakan. Pembagian 8,15 juta hektar lahan ini akan dilakukan
pemerintah tahun 2007 hingga 2014. Diperkirakan, 6 juta hektar lahan akan dibagikan
pada masyarakat miskin. Sisanya 2,15 juta hektar diberikan kepada pengusaha untuk
usaha produktif yang melibatkan petani perkebunan. Tanah yang di bagian ini
tersebar di Indonesia, dengan prioritas di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi
Selatan. Tanah itu berasal dari lahan kritis, hutan produksi konversi, tanah telantar,
105
tanah milik negara yang hak guna usahanya habis, maupun tanah bekas swapraja .
Bahwa kebijakan pembaharuan agraria dan sumber daya alam tersebut
dilaksanakan antara lain dengan melakukan pengkajian ulang terhadap
berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan agraria dalam
rangka sinkronisasi kebijakan antar sektor serta menyelesaikan konflik-konflik

105
Kompas, tanggal 30 Januari 2007, judul berita “Pembagian Lahan agar Hati-hati: Ada yang
Dijual atau Digadaikan”

Muliadi & Partners Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya


56
Politik Hukum
yang berkenaan dengan sumber daya agraria yang timbul selama ini sekaligus
dapat mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin
terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan pada prinsip-prinsip
berkeadilan.
Bahwa hal tersebut dimandatkan secara tegas dalam ketentuan Pasal 6
dan Pasal 7 TAP-MPR No.IX Tahun 2001 dimana DPR RI bersama Presiden
ditugaskan untuk segera mengatur lebih lanjut pelaksanaan pembaruan agraria
dan pengelolaan sumber daya alam, serta mencabut, mengubah dan/atau
mengganti semua undang-undang dan peraturan pelaksanaannya yang tidak
sejalan dengan Ketetapan ini, serta untuk segera melaksanakan Ketetapan
tersebut dan melaporkan pelaksanaannya pada Sidang Tahunan MPR RI.
Bahwa dengan disahkannya peraturan perundang-undangan di bidang
106
pengelolaan sumber daya alam telah merusak politik pembaharuan hukum
pengelolaan agraria dan sumber daya alam yang telah dimandatkan secara
tegas dalam TAP-MPR No.IX Tahun 2001, sehingga berpotensi kembali
melanggengkan pola pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi pada
eksploitasi (use oriented) yang mengabaikan kepentingan konservasi dan
keberlanjutan fungsi sumber daya alam, karena semata-mata digunakan
sebagai perangkat hukum (legal instrument) untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi, orientasi pengelolaan sumber daya alam yang lebih berpihak pada
pemodal-pemodal besar (capital oriented), dimana hal tersebut akan
mengabaikan kepentingan dan akses atas sumber daya alam serta mematikan
potensi-potensi pengelolaan perekonomian masyarakat lokal. Implementasi
pengelolaan yang dilakukan Pemerintah akhirnya bersifat sangat sektoral,
sehingga sumber daya alam tidak dilihat sebagai sistem ekologi yang
terintegrasi dan tidak terkoordinasi serta berpotensi melanggar hak asasi
manusia berkaitan dengan penguasaan, pemanfaatan dan pengelolaan sumber
daya alam. Hal ini bertentangan dengan Pembukaan alinea IV UUD 1945 yang
menyatakan:
“..... untuk membentuk suatu Pemerintah negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut

106
misalnya, antara lain: UU No.22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.; UU No.27
Tahun 2003 tentang Panas Bumi.; UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.; UU No.18 Tahun
2004 tentang Perkebunan.; UU No.19 Tahun 2004 tentang Penetapan Perpu No.1 Tahun 2004 Tentang
Perubahan Atas UU No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.; UU No.31 Tahun
2004 tentang Perikanan.; UU No.4 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Treaty On Plant
Genetic Resources For Food And Agriculture (Perjanjian Mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman
Untuk Pangan Dan Pertanian).; UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.; UU No.26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang.; UU No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-
Pulau Kecil.; UU No.30 Tahun 2007 tentang Energi dan UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral Dan Batubara

Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya Muliadi & Partners


Politik Hukum 57
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial .....”.
Hal ini sejalan dengan tujuan dan politik hukum pertanahan/agraria,
yaitu antara lain:
1) Untuk mengatur keselarasan dan keseimbangan dalam pemanfaatan bumi,
air, ruang angkasa dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dalam
hubungannya dengan kepentingan manusia menuju masyarakat yang adil
dan makmur.
2) Untuk menjamin ketertiban, kepastian hukum dan keadilan dalam
hubungannya dengan hak-hak seseorang atau masyarakat atas tanah
(bumi), air, ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya.
3) Untuk penyederhanaan hukum dan kesatuan hukum dalam mengatur hal-
hal yang berkaitan dengan agraria atau pertanahan dengan memperhatikan
hukum adat.
4) Untuk mengatur dan sekaligus membatasi hak dan kewajiban seseorang
atau badan hukum, dan masyarakat serta negara dalam hubungannya
dengan kepemilikan, penguasaan, penggunaan atau pemanfaatan,
pengusahaan, pemakaian, penatagunaan dan pengelolaan atas bumi
(tanah), air, ruang angkasa dan kekayaan yang terkandung di dalamnya.
5) Untuk memberikan atau menetapkan kekuasaan dan kewenangan kepada
pemerintah dalam mengatur hubungan hukum antara seseorang atau
badan hukum tertentu dengan tanah yang dimiliki, dikuasai, digunakan,
dimanfaatkan, dipakai, dikelola, baik oleh seseorang, masyarakat, badan
hukum maupun instansi pemerintah lainnya.
Hal ini harus disesuaikan dengan Pasal 5 ayat 2 Ketetapan MPR RI
No.IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya
Alam yang menyebutkan bahwa arah kebijakan dalam pengelolaan sumber
daya alam adalah:
1) Melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan perundang-
undang an yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dalam
rangka sinkronisasi kebijakan antarsektor yang berdasarkan prinsip-prinsip
sebagaimana dimaksud Pasal 4 Ketetapan ini;
2) Mewujudkan optimalisasi pemanfaatan berbagai sumber daya alam melalui
identifikasi dan inventarisasi kualitas dan kuantitas sumber daya alam
sebagai potensi pembangunan nasional;
3) Memperluas pemberian akses informasi kepada masyarakat mengenai
potensi sumber daya alam di daerahnya dan mendorong terwujudnya
tanggung jawab sosial untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan
termasuk teknologi tradisional;

Muliadi & Partners Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya


58
Politik Hukum
4) Memperhatikan sifat dan karakteristik dari berbagai jenis sumber daya alam
dan melakukan upaya-upaya meningkatkan nilai tambah dari produk
sumber daya alam tersebut;
5) Menyelesaikan konflik-konflik pemanfaatan sumber daya alam yang timbul
selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik di masa
mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum;
6) Mengupayakan pemulihan ekosistem yang telah rusak akibat eksploitasi
sumber daya alam secara berlebihan;
7) Menyusun strategi pemanfaatan sumber daya alam yang didasarkan pada
optimalisasi manfaat dengan memperhatikan potensi, kontribusi,
kepentingan masyarakat dan kondisi daerah maupun nasional.
Bahwa dengan berbagai indikasi penyimpangan atas beberapa prinsip
yang disebut di atas telah terjadi pembelokan prinsip negara hukum, dimana
hukum telah dipakai menjadi alat (instrument) untuk kepentingan kekuasaan
semata, sehingga masyarakat menganggap perlu untuk mengajukan uji materil
ke Mahkamah Konstitusi, karena Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji Undang-undang terhadap UUD 1945,
seperti dinyatakan dalam Pasal 24C UUD 1945 dan Pasal 10 ayat (1) huruf a
Undang-undang Republik Indonesia No.24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi. Para Pemohon yang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya
dirugikan, misalnya:
1) Putusan MK No.01-21-22/PUU-I/2003, menyatakan UU No.20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
2) Putusan MK No.002/PUU-I/2003 tentang menyatakan Pasal 12 ayat (3)
sepanjang mengenai kata-kata “diberi wewenang”, Pasal 22 ayat (1)
sepanjang mengenai kata-kata “paling banyak”, dan Pasal 28 ayat (2) dan
(3) UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tidak mempunyai
kekuatan hukum mengikat;
3) Putusan MK No.58-59-60-63/PUU-II/2004 dan No.08/PUU-III/2005 tentang
Pengujian UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang walaupun
ditolak, namun dalam pertimbangan hukumnya majelis menganggap bahwa
alasan-alasan permohonan dapat dimaklumi.
4) Putusan MK No.03/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No.19 Tahun 2004
tentang Perubahan UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menyatakan
menolak Permohonan Pemohon
5) Putusan MK No.13/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No.41 Tahun 1999
tentang Kehutanan.; permohonan Pemohon tidak dapat diterima (niet
ontvankelijk verklaard);
6) Putusan MK No.21/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No.19 Tahun 2004
tentang Perubahan UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menyatakan
permohonan Pemohon ditolak untuk seluruhnya.

Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya Muliadi & Partners


Politik Hukum 59
7) Putusan MK No.11/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No.56 Prp Tahun
1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian, menyatakan permohonan
pemohon ditolak.
8) Putusan MK No.20/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No. 22 Tahun 2001
tentang Minyak dan Gas Bumi, menyatakan Permohonan para Pemohon
tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard);
9) Putusan MK No.21-22/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No.25 Tahun
2007 tentang Penanaman Modal, menyetakan Pasal 22 ayat (1) dan ayat
(2) sepanjang menyangkut kata-kata “di muka sekaligus” dan “sekaligus di
muka”; tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;
Dengan adanya berbagai permohonan uji materil atas peraturan
perundang-undangan yang menyangkut pertanahan, maka perlu diterapkan
sistem pengelolaan pertanahan yang efisien, efektif, serta melaksanakan
penegakan hukum terhadap hak atas tanah dengan menerapkan prinsip-prinsip
keadilan, transparansi, dan demokrasi. Selain itu, perlu dilakukan
penyempurnaan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah
melalui perumusan berbagai aturan pelaksanaan land reform serta penciptaan
insentif/disinsentif perpajakan yang sesuai dengan luas, lokasi, dan
penggunaan tanah agar masyarakat golongan ekonomi lemah dapat lebih
mudah mendapatkan hak atas tanah. Selain itu, menyempurnakan sistem
hukum dan produk hukum pertanahan melalui inventarisasi dan
penyempurnaan peraturan perundang-undangan pertanahan dengan
mempertimbangkan aturan masyarakat adat, serta peningkatan upaya
penyelesaian baik melalui kewenangan administrasi, peradilan, maupun
alternative dispute resolution. Selain itu, akan dilakukan penyempurnaan
kelembagaan pertanahan sesuai dengan semangat otonomi daerah dan dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama yang berkaitan
dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia bidang pertanahan di
107
daerah .

107
lebih lanjut lihat Lampiran BAB IV, point 1.5 tentang Mewujudkan Pembangunan Yang Lebih
Merata Dan Berkeadilan, angka 11 UU No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025

Muliadi & Partners Sinopsis SAP S-2 Univ.Jayabaya