Biografi Talcott Parsons
Ia lahir tahun 1902 di Colorado. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang memiliki
latar belakang yang saleh dan intelek. Ayahnya adalah seorang pendeta gereja
Kongregasional, seorang profesor dan presiden dari sebuah kampus kecil. Parsons
mendapat gelar sarjana dari Amherst College tahun 1924 dan melanjutkan kuliah
pascasarjana di London School of Economics. Di tahun berikutnya, dia pindah ke
Heidelberg, Jerman. Max Weber menghabiskan sebagian kariernya di Heidelberg, dan
meski dia wafat lima tahun sebelum kedatangan Parsons, Weber tetap meninggalkan
pengaruh mendalam terhadap kampus tersebut dan jandanya meneruskan pertemuan-
pertemuan di rumahnya, yang juga diikuti oleh Parsons. Parsons sangat dipengaruhi oleh
karya Weber dan sebagian disertasi doktoralnya di Heidelberg membahas karya Weber.
Parsons menjadi pengajar di Harvard pada tahun 1927, dan meskipun ia berpindah
jurusan beberapa kali, Parsons tetap berada di Harvard sampai dengan ia wafat tahun
1979. Perjalanan kariernya tidak pesat ia tidak memperoleh posisi tetap sampai dengan
tahun 1939. Dua tahun sebelumnya, ia mempublikasikan buku the structure of social
action, satu buku yang tidak hanya memperkenalkan teoritisi-teoritisi sosial utama
semisal Weber kepada sosiolog lain, namun juga menjadi dasar bagi pengembangan teori
Parsons sendiri.
Sesudah itu karier akademis Parsons maju pesat. Dia menjadi ketua jurusan
sosiologi di Harvard pada 1944 dan dua tahun kemudian mendirikan Departemen
Hubungan Sosial, yang tidak hanya memasukkan sosiolog, tetapi juga berbagai sarjana
ilmu sosial lainnya.. Tahun 1949, ia terpilih menjadi Presiden The American Sociological
Association. Tahun 1950-an dan menjelang tahun 1960-an, dengan diterbitkannya buku
seperti The Social System pada tahun 1951 Parsons menjadi tokoh dominan dalam
sosiologi Amerika.
Tetapi, di akhir 1960-an Parsons mendapat serangan sayap radikal sosiologi
Amerika yang baru muncul. Parsons dinilai berpandangan politik konservatif dan
teorinya dianggap sangat konservatif dan tidak lebih dari sebuah skema kategorisasi yang
rumit. Akan tetapi, pada tahun 1980-an timbul kembali perhatian terhadap teori Parsons,
tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di seluruh dunia. Pemikiran Parsons tidak
hanya memengaruhi pemikir konservatif, tetapi juga teoritisi neo-Marxian, terutama
Jurgen Harbemas.
Setelah kematian Parsons, sejumlah bekas mahasiswanya, semuanya sosiolog
sangat terkenal, merenungkan arti pentingnya teorinya maupun pencipta teori itu sendiri.
Dalam renungan mereka, para sosiolog ini mengemukakan pengertian menarik tentang
Parsons dan karyanya. Beberapa pandangan selintas mengenai Parsons yang direproduksi
di sini bukan dimaksudkan untuk membuat gambaran yang masuk akal, tetapi
dimaksudkan untuk mengemukkan pandangan selintas yang provokatif mengenai Parsons
dan karya-karyanya.
Robert Merton adalah seorang mahasiswanya ketika Parsons baru saja mulai
mengajar di Harvard. Merton yang menjadi teoritisi terkenal karena teori ciptaanya
sendiri, menjelaskan bahwa mahasiswa pascasarjana yang datang ke Harvard, di tahun-
tahun itu bukan hendak belajar dengan Parsons, tetapi juga dengan Sorokin, telah menjadi
anggota senior jurusan sosiologi yang telah menjadi musuh utama Parsons. Celaan
Merton mengenai kuliah pertama Parsons dalam teori juga menarik, terutama karena
materi yang disajikan adalah basis untuk salah satu buku teori yang paling berpengaruh
pada sosiologi. Pemikiran Parsons di dalam perkembangan ilmu sosiologi dikenal dengan
teori fungsionalis.
Konsep Pemikiran
Sebagai seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan
pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan
prosesnya. Pendekatannya selain diwarnai oleh adanya keteraturan masyarakat yang ada
di Amerika juga dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo
Pareto dan Max Weber. Hal tersebut di ataslah yang menyebabkan Teori
Fungsionalisme Talcott Parsons bersifat kompleks.
Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu bahwa masyarakat
terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai
kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-
perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang
secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian
masyarakat adalah merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain
berhubungan dan saling ketergantungan.
Teori Fungsionalisme Struktural yang mempunyai latar belakang kelahiran
dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis
dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan
keseimbangan dalam masyarakat tersebut dikembangkan dan dipopulerkan oleh
Talcott Parsons.
Tindakan Sosial dan Orientasi Subjektif
Teori Fungsionalisme Struktural yang dibangun Talcott Parsons dan
dipengaruhi oleh para sosiolog Eropa menyebabkan teorinya itu bersifat empiris,
positivistis dan ideal. Pandangannya tentang tindakan manusia itu bersifat
voluntaristik, artinya karena tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan,
dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Tindakan individu
manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana (alat) dan tujuan yang akan
dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau kondisi-kondisi, dan apa yang dipilih
tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma.
Prinsip-prinsip pemikiran Talcott Parsons, yaitu bahwa tindakan individu manusia
itu diarahkan pada tujuan. Di samping itu, tindakan itu terjadi pada suatu kondisi yang
unsurnya sudah pasti, sedang unsur-unsur lainnya digunakan sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Selain itu, secara normatif tindakan tersebut diatur berkenaan dengan penentuan
alat dan tujuan. Atau dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa tindakan itu dipandang
sebagai kenyataan sosial yang terkecil dan mendasar, yang unsur-unsurnya berupa alat,
tujuan, situasi, dan norma. Dengan demikian, dalam tindakan tersebut dapat digambarkan
yaitu individu sebagai pelaku dengan alat yang ada akan mencapai tujuan dengan
berbagai macam cara, yang juga individu itu dipengaruhi oleh kondisi yang dapat
membantu dalam memilih tujuan yang akan dicapai, dengan bimbingan nilai dan ide serta
norma. Perlu diketahui bahwa selain hal-hal tersebut di atas, tindakan individu manusia
itu juga ditentukan oleh orientasi subjektifnya, yaitu berupa orientasi motivasional dan
orientasi nilai. Perlu diketahui pula bahwa tindakan individu tersebut dalam realisasinya
dapat berbagai macam karena adanya unsur-unsur sebagaimana dikemukakan di atas.
Analisis Struktural Fungsional dan Diferensiasi Struktural
Sebagaimana telah diuraikan di muka, bahwa Teori Fungsionalisme Struktural
beranggapan bahwa masyarakat itu merupakan sistem yang secara fungsional terintegrasi
ke dalam bentuk keseimbangan. Menurut Talcott Parsons dinyatakan bahwa yang
menjadi persyaratan fungsional dalam sistem di masyarakat dapat dianalisis, baik yang
menyangkut struktur maupun tindakan sosial, adalah berupa perwujudan nilai dan
penyesuaian dengan lingkungan yang menuntut suatu konsekuensi adanya persyaratan
fungsional.
Perlu diketahui ada fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi agar ada kelestarian
sistem, yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan keadaan latent. Empat persyaratan
fungsional yang mendasar tersebut berlaku untuk semua sistem yang ada. Berkenaan hal
tersebut di atas, empat fungsi tersebut terpatri secara kokoh dalam setiap dasar yang
hidup pada seluruh tingkat organisme tingkat perkembangan evolusioner.
Perlu diketahui bahwa sekalipun sejak semula Talcott Parsons ingin membangun
suatu teori yang besar, akan tetapi akhirnya mengarah pada suatu kecenderungan yang
tidak sesuai dengan niatnya. Hal tersebut karena adanya penemuan-penemuan mengenai
hubungan-hubungan dan hal-hal baru, yaitu yang berupa perubahan perilaku pergeseran
prinsip keseimbangan yang bersifat dinamis yang menunjuk pada sibernetika teori sistem
yang umum. Dalam hal ini, dinyatakan bahwa perkembangan masyarakat itu melewati
empat proses perubahan struktural, yaitu pembaharuan yang mengarah pada penyesuaian
evolusinya Talcott Parsons menghubungkannya dengan empat persyaratan fungsional di
atas untuk menganalisis proses perubahan.
Perlu diketahui bahwa sekalipun Talcott Parsons telah berhasil membangun suatu
teori yang besar untuk mengadakan pendekatan dalam masyarakat, akan tetapi ia tidak
luput dari serangkaian kritikan, baik dari mantan muridnya Robert K. Merton, ataupun
sosiolog lain, yaitu George Homans, Williams Jr., dan Alvin Gouldner.
Biografi malinowski
Malinowski lahir di Kraków, Austria-Hungaria (Polandia saat ini) dalam sebuah
keluarga ekonomi menengah-atas. Ayahnya adalah seorang profesor dan ibunya adalah
putri dari keluarga seorang tuan tanah. Di masa kecilnya, ia adalah seorang yang
pesakitan dan lemah, namun sangat pintar secara akademik. Ia menerima gelar doktor
dari Jagiellonian University pada tahun 1908, dengan konsentrasi ilmu matematika dan
fisika. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Leipizig selama dua tahun,
tempat dimana ia mulai dipengaruhi pemikiran Wilhem Wundt dan teorinya tentang folk
psychology. Hal tersebut kemudian memancing Malinowski untuk mendalami ilmu
antropologi. Ketika itu, James Frazer dan beberapa penulis Inggris lainnya terkenal
sebagai antropolog-antropolog terbaik, sehingga Malinowski memutuskan untuk berlayar
ke Inggris untuk belajar di London School of Economics pada tahun 1910
Pada tahun 1914 ia pergi ke Papua (Papua New Guinea saat ini]]) dan melakukan
penelitian di Mailo dan kemudian, yang lebih terkenal, di Kepulauan Trobriand. Ia
sempat mendapatkan masalah pada penelitian itu. Perang Dunia I pecah, dan sebagai
orang Polandia yang berada di teritori Inggris ia ditahan dan tidak diperbolehkan untuk
meninggalkan wilayah itu. Setelah beberapa lama, ia kemudian memutuskan untuk
mempelajari suku pribumi Trobrainders dan tinggal bersama komunitas mereka hingga
akhirnya ia dapat menguasai bahasa mereka, menjalin persahabatan dengan penduduk
dan bahkan dikabarkan menjalin cinta dengan seorang wanita pribumi. Dalam periode itu
lah ia mulai melakukan penelitian di Kula dan menghasilkan teori Participant
observation yang menjadi salah satu kunci metodologi antropologi saat ini. Patut diakui
bahwa tanpa adanya perang dan terisolasinya Malinowski, teori yang banyak
mempengaruhi antropologi modern itu tak akan pernah ada.
Pada tahun 1922 Malinowski mendapatkan gelar doktor antropologi dan mulai
mengajar di London School of Economics. Pada tahun itu pula bukunya yang berjudul
Argonauts of the Western Pacific diterbitkan. Buku itu diakui secara luas sebagai sebuah
mahakarya dan Malinowski dinobatkan menjadi salah satu antropologi terbaik yang
bernah ada. Selama tiga dekade selanjutnya Malinowski membawa LSE menjadi pusat
pembelajaran antropologi terbaik di Inggris. Ia mengajar banyak orang, termasuk siswa
dari daerah koloni Inggris yang kemudian menjadi figur penting di negaranya. Ia
kemudian mengajar di Yale University, Amerika Serikat, sampai ia wafat pada tahun
1942.
Bronisław Kasper Malinowski (7 April 1884 - 16 Mei 1942)
Seorang Antropolog kelahiran Polandia yang diakui sebagai salah satu antropolog
terpenting di abad ke-20 karena keahliannya yang besar dalam menelorkan konsep
Fungsionalisme.
Malinowski lahir dalam sebuah keluarga ekonomi menengah-atas. Ayahnya adalah
seorang profesor dan ibunya adalah putri dari keluarga seorang tuan tanah. Di
masa kecilnya, ia adalah seorang yang pesakitan dan lemah, namun sangat pintar
secara akademik. Ia menerima gelar doktor dari Jagiellonian University pada tahun
1980, dengan konsentrasi ilmu matematika dan fisika. Ia kemudian melanjutkan
pendidikannya di Universitas Leipizig selama dua tahun, tempat dimana ia mulai
dipengaruhi pemikiranWilhem Wundt dan teorinya tentang folk psychology. Hal
tersebut kemudian memancing Malinowski untuk mendalami ilmu antropologi.
Ketika itu, James Frazer dan beberapa penulis Inggris lainnya terkenal sebagai
antropolog-antropolog terbaik, sehingga Malinowski memutuskan untuk berlayar
ke Ingris untuk belajar di London School of Economics pada tahun 1910
Tahun 1914 selanjutnya memantapkan keahliannya dibidang etnografi dengan
penelitiannya di Kepulauan Trobriand. Namun disela penelitiannya, Perang Dunia I
pecah, dan sebagai orang Polandia yang berada di teritori Inggris ia ditahan dan tidak
diperbolehkan untuk meninggalkan wilayah itu. Setelah beberapa lama, ia kemudian
memutuskan untuk mempelajari suku pribumi Trobrainders dan tinggal bersama
komunitas mereka hingga akhirnya ia dapat menguasai bahasa mereka, menjalin
persahabatan dengan penduduk dan bahkan dikabarkan menjalin cinta dengan seorang
wanita pribumi. Dalam periode itu lah ia mulai melakukan penelitian di Kula dan
menghasilkan sebuah argumen “… to native point of view” yang menjadi salah satu
kunci metodologi antropologi saat ini.
Ia kemudian mengajar di Yale University, Amerika Serikat, sampai ia wafat pada
tahun 1942. Beberapa tokoh antropologi bahkan lahir dari hasil didikannya. Tetapi yang
menjadi kontroversial dalam sosoknya adalah beberapa tahun setelah kematiannya adalah
publikasi catatan hariannya selama melakukan penelitian di Kepulauan Trobriand yang
menuangkan kegelisahannya bertolak belakang dengan hasil mahakaryanya dan membuat
beberapa kalangan di antropologi terhenyak dengan beberapa pernyataannya tentang
orang yang ditelitinya.
Fungsionalisme Malinowski
Bronislaw Malinowski (1884 – 1942) merupakan salah satu tokoh antropologi
yang menggagas dan berhasil mengembangkan teori fungsionalisme dalam ilmu
antropologi. Dan yang paling penting untuk dicatat adalah bahwa teorinya ia kembangkan
dengan menekuni penelitian lapangan. Kepulaun Trobriand diwilayah pasifik dipilihnya
menjadi objek penelitian dan dari daerah itu pula dari tangan Malinowski lahir berbagai
karya tulisan yang sangat dikagumi dikalangan antropologi, salah satu adalah “Argonauts
Of The Western Pacific”
Secara garis besar Malinowski merintis bentuk kerangka teori untuk menganalisis
fungsi dari kebudayaan manusia, yang disebutnya sutu teori fungsional tentang
kebudayaan atau “a functional theory of Culuture”. Dan melalui teori ini banyak
antropolog yang sering menggunakan teori tersebut sebagai landasan teoritis hingga
dekade tahun 1990-an, bahkan dikalangan mahasiswa menggunakan teori ini untuk
menganalisis data penelitian untuk keperluan skripsi dan sebagainya.
Tulisan “Argonauts of the Western Pacific” (1922) melukiskan tentang sistem
Kula yakni berdagang yang disertai upacara ritual yang dilakoni oleh penduduk di
kepulauan Trobriand dan kepulauan sekitarnya. Perdagangan tersebut dilakukan dengan
menggunakan perahu kecil bercadik menuju pulau lainnya yang jaraknya cukup jauh.
Benda-benda yang diperdagangkan dilakukan dengan tukar menukar (barter) berupa
berbagai macam bahan makanan, barang-barang kerajinan, alat-alat perikanan, selain
daripada itu yang paling menonjol dan menarik perhatian adalah bentuk pertukaran
perhiasana yang oleh penduduk Trobriand sangat berharga dan bernialai tinggi. Yakni
kalung kerang (sulava) yang beradar satu arah mengikuti arah jarum jam, dan sebaliknya
gelang-gelang kerang (mwali) yang beredar berlawanan dari arah kalung kerang
dipertukarkan.
Karangan etnografi dari hasil penelitian lapangan tersebut tidak lain adalah bentuk
perkeonomian masyarakat di kepulauan Trobriand dengan kepulauan sekitarnya. Hanya
dengan menggunakan teknologi sederhana dalam mengarungi topografi lautan pasifik,
namun disis lain tidak hanya itu, tetapi yang menraik dalam karangan tersebut ialah
keterkaitan sistem perdagangan atau ekonomi yang saling terkait dengan unsur
kebudayaan lainnya seperti kepercayaan, sistem kekerabatan dan organisasi sosial yang
berlaku pada masyarakat Trobriand. Dari berbagai aspek tersebut terbentuk kerangka
etnografi yang saling berhubungan satu sama lain melalui fungsi dari aktifitas tersebut.
Pokok dari tulisan tersebut oleh Malinowski ditegaskan sebagai bentuk Etnografi yang
berintegrasi secara fungsional. Selain dari hasil karya etnografinya, tentunya harus
diperhatikan pula upaya-upaya Malinowski dalam mengembangkan konsep teknik dan
metode penelitian. Dan sangat lugas ditekankan pentingnya penelitian yang turun
langsung ketengah-tengah objek masyarakat yang diteliti, menguasai bahasa mereka agar
dapat memahami apa yang objek lakukan sesuai dengan konsep yang berlaku pada
masyarakat itu sendiri dan kebiasaan yang dikembangkan menjadi metode adalah
pencatatan. Mencatat seluruh aktifitas dan kegiatan atau suatu kasus yang konkret dari
unsur kehidupan. Selain dari pada itu yang patut untuk para peneliti menurut Malinowski
adalah kemampuan keterampilan analitik agar dapat memahami latar dan fungsi dari
aspek yang diteliti, adat dan pranata sosial dalam masyarakat. Konsep tersebut
dirumuskan kedalam tingkatan abstraksi mengenai fungsi aspek kebudayaan, yakni :
saling keterkaitannya secara otomatis, pengaruh dan efeknya terhadap aspek lainnya.
konsep oleh masyarakat yang bersangkutan. unsur-unsur dalam kehidupan sosial
masyarakat yang terintegrasi secara fungsional.esensi atau inti dari kegiatan /aktifitas
tersebut tak lain adalah berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan dasar “biologis” manusia.
Melalui tingkatan abstraksi tersebut Malinowski kemudian mempertegas inti dari
teorinya dengan mengasumsikan bahwa segala kegiatan/aktifitas manusia dalam unsur-
unsur kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah
kebutuhan naluri mahluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.
Kelompok sosial atau organisasi sebagai contoh, awalnya merupakan kebutuahn manusia
yang suka berkumpul dan berinteraksi, perilaku ini berkembang dalam bentuk yang lebih
solid dalam artian perkumpulan tersebut dilembagakan melalui rekayasa manusia.
A. R. Radcliffe-Brown
Alfred Reginald Radcliffe-Brown (17 Januari 1881 - 24 Oktober 1955)
Adalah seorang antropolog sosial Inggris yang mengembangkan teori Fungsionalisme
Struktural, sebuah kerangka kerja yang menggambarkan konsep-konsep dasar yang
berkaitan dengan struktur sosial dari peradaban primitif.
Ide pokoknya adalah tentang strutur sosial seperti yang diasumsikan bahwa
perumusan dari keseluruhan hubungan atau jaringan antarindividu dalam masyarakat, hal
yang dilihat dalam struktur sosial adalah tak lain dari prinsip-prinsip kaitan antara
berbagai unsur masuarakat seperti status dan peran, pranata dan lembaga sosial.
Selanjutnya dikatakan hubungan interaksi antara individu dalam masyarakat merupakan
hal yang konkrit sedangkan struktur sosial berada di belakangnya dan mengendalikan hal
yang konkrit tersebut. Jadi struktur sosial tidak diamati.
Radcliffe-Brown mengemukakan gagasan dan pandangannya terhadap kehidupan
sosial kebudayaan melalui karyanya “The Andaman Islanders”(1922), dalam karangan
tersebut ia menguraikan dan mendeskripsikan aspek kekerabatan upacara yang terkait
dengan mitos yang dilakoni dalam penduduk Andaman. Karyanya hampir bersamaan
dengan terbitnya karya etnografi Malinowski. Dan beberapa tokoh yang telah
mengoreksi kedua karya dari Malinowski dan Radcliffe Brown disimpulkan adanya
kesamaan pandangan dari metode keduanya mendeskripsikan bentuk kebudayaan yakni
aspek struktur sosial yang digambarkan terintegrasi secara fungsional dan hingga kini
santer disebut dengan kerangka konsep struktur-fungsionalisme.
Melalui karangannya Radcliffe-Brown juga telah merumuskan metode
pendiskripsian terhadap karangan etnografi. Salah satunya ialah melalui aspek upacara,
yang dirumuskan kedalam beberapa bagian ;
1. agar suatu masyarakat dapat hidup langsung, maka harus ada suatu sintimen
dalam jiwa warganya yang merangsang meraka untuk berperilaku sesuai dengan
kebutuhan mereka.
2. Tiap unsur dalam sistem sosial dan tiap gejala atau benda yang dengan demikian
mempunyai efek pada solidaritas masyarakat menjadi pokok orientasi dari
sentimenn tersebut.
3. Sentimen itu ditimbulkan dalam pikiran individu warga masyarakat sebagai
pengaruh hidup warga masyarakat.
4. Adat istiadat upacara adalah wahana dengan apa sentimen-sentimen itu dapat
diekspresikan secara kolektif dan berulang pada saat tertentu.
5. Ekspresi kolektif dari sentimen memelihara intensitas itu dalam jiwa warga
masyarakat dan bertujuan meneruskan kepada warga generasi berikutnya.
Sama halnya dengan Malinowski melalui kerangka konsep dari fungsi dari suatu
pranata, Radcliffe-Brown juga memberikan asumsi tentang efek dari suatu keyakinan,
upacara, adat dan aspek kebudayaan lainnya. Ia menggunakan istilah fungsi sosial untuk
merujuk terhadap gejala dalam kehidupan sosial. Sifat dari metode pendeskripsian
konsep tersebut tidak lain adalah hubungan-hubungan sosial dari kesatuan-kesatun secara
terintegrasi. Selain dari organisasi sosial, juga yang menjadi perhatian adalah aspek
hukum, Radcliffe-Brown memberikan istilah hukum dalam aspek teknisnya saja dan
upayanya dalam memberikan batasan teknis pada tataran sistem pengendalian sosial yang
ada dalam masayarakat yang lebih kompleks, karena menurutnya hukum tersebut ada jika
terdapat alat-alat seperti polisi; pengadilan atau penjara. Gejala berlakunya hukum pada
masyarakat yang kompleks dibandingkan dengan masyarakat yang tidak memiliki
hukum, menurutnya dalam masyarakat yang sederhana yang ada adalah norma-norma
dan adat yang berlaku terhadap masyarakat dan memberikan efek ketaatan secara
otomatis, hal ini terjadi disebabkan oleh sifat kecil dari masyarakat tersebut.
Yang memberikan penekanan terhadap kerangka konseptual Radcliffe-Brown
adalah analoginya yang mengarahkan pada bentuk morfologi dan fisiologi (studi biologi)
yang ia lekatkan terhadapa teorinya. Ia mengasumsikan kalau dalam organisme mahluk
terdapat struktur dari bagian yang saling terkait maka begitu pula terhadap
pengelompokkan kehidupan manusia, seperti yang ia sarankan dalam metode komparasi
terhadap budaya. Lepas dari itu pula ia mengakui bahwa perkembangan kearah ilmu
sosial yang lebih matang terhadap metodologi ilmu alam tidak akan terjadi dengan cepat.
Karena berbagai faktor yang dianggap menghambat.