Anda di halaman 1dari 46

Talcott Parsons Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Artikel

ini tidak memiliki paragraf pembuka yang sesuai dengan standar Wikipedia. Artikel ini harus didahului dengan kalimat pembuka: Talcott Parsons adalah ........ Tolong bantu Wikipedia untuk mengembangkannya dengan menulis bagian atau paragraf pembuka yang informatif sehingga pembaca awam mengerti apa yang dimaksud dengan "Talcott Parsons". Talcott Parsons Lahir 13 Desember 1902 Colorado Springs, Colorado, USA 8 Mei 1979 (umur 76) Munich, Germany

Meninggal

Tempat tinggal United States Talcott Parsons (lahir di Colorado Springs, Colorado, USA, 13 Desember 1902 meninggal di Munich, Jerman, 8 Mei 1979 pada umur 76 tahun) adalah seorang sosiolog yang cukup terkenal dengan pemikiran-pemikirannya. Daftar isi [sembunyikan] 1. 1 Biografi 2. 2 Konsep Pemikiran 1. 2.1 Tindakan Sosial dan Orientasi Subjektif 2. 2.2 Analisis Struktural Fungsional dan Diferensiasi Struktural 3. 3 Referensi [sunting] Biografi Ia lahir tahun 1902 di Colorado. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang memiliki latar belakang yang saleh dan intelek. Ayahnya adalah seorang pendeta gereja Kongregasional, seorang profesor dan presiden dari sebuah kampus kecil.[1] Parsons mendapat gelar sarjana dari Amherst College tahun 1924 dan

melanjutkan kuliah pascasarjana di London School of Economics. Pada tahun berikutnya, dia pindah ke Heidelberg, Jerman.[2] Max Weber menghabiskan sebagian kariernya di Heidelberg, dan meski dia wafat lima tahun sebelum kedatangan Parsons, Weber tetap meninggalkan pengaruh mendalam terhadap kampus tersebut dan jandanya meneruskan pertemuan-pertemuan di rumahnya, yang juga diikuti oleh Parsons.[3]. Parsons sangat dipengaruhi oleh karya Weber dan sebagian disertasi doktoralnya di Heidelberg membahas karya Weber.[4] Parsons menjadi pengajar di Harvard pada tahun 1927, dan meskipun ia berpindah jurusan beberapa kali, Parsons tetap berada di Harvard sampai dengan ia wafat tahun 1979. Perjalanan kariernya tidak pesat ia tidak memperoleh posisi tetap sampai dengan tahun 1939. Dua tahun sebelumnya, ia mempublikasikan buku the structure of social action, satu buku yang tidak hanya memperkenalkan teoritisi-teoritisi sosial utama semisal Weber kepada sosiolog lain, namun juga menjadi dasar bagi pengembangan teori Parsons sendiri. [5] Sesudah itu karier akademis Parsons maju pesat.[3] Dia menjadi ketua jurusan sosiologi di Harvard pada 1944 dan dua tahun kemudian mendirikan Departemen Hubungan Sosial, yang tidak hanya memasukkan sosiolog, tetapi juga berbagai sarjana ilmu sosial lainnya.[6]. Tahun 1949, ia terpilih menjadi Presiden The American Sociological Association.[3] Tahun 1950-an dan menjelang tahun 1960-an, dengan diterbitkannya buku seperti The Social System pada tahun 1951 Parsons menjadi tokoh dominan dalam sosiologi Amerika.[7]. Tetapi, di akhir 1960-an Parsons mendapat serangan sayap radikal sosiologi Amerika yang baru muncul.[3] Parsons dinilai berpandangan politik konservatif dan teorinya dianggap sangat konservatif dan tidak lebih dari sebuah skema kategorisasi yang rumit.[3] Akan tetapi, pada tahun 1980-an timbul kembali perhatian terhadap teori Parsons, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di seluruh dunia.[3] Pemikiran Parsons tidak hanya memengaruhi pemikir konservatif, tetapi juga teoritisi neo-Marxian, terutama Jurgen Harbemas.[8]. Setelah kematian Parsons, sejumlah bekas mahasiswanya, semuanya sosiolog sangat terkenal, merenungkan arti pentingnya teorinya maupun pencipta teori itu sendiri. Dalam renungan mereka, para sosiolog ini mengemukakan pengertian menarik tentang Parsons dan karyanya. Beberapa pandangan selintas mengenai Parsons yang direproduksi di sini bukan dimaksudkan untuk membuat gambaran yang masuk akal, tetapi dimaksudkan untuk mengemukkan pandangan selintas yang provokatif mengenai Parsons dan karya-karyanya. [9]. Robert Merton adalah seorang mahasiswanya ketika Parsons baru saja mulai mengajar di Harvard.[3] Merton yang menjadi teoritisi terkenal karena teori ciptaanya sendiri, menjelaskan bahwa mahasiswa pascasarjana yang datang ke Harvard, di tahun-tahun itu bukan hendak belajar dengan Parsons, tetapi juga dengan Sorokin, telah menjadi anggota senior jurusan sosiologi yang telah menjadi musuh utama Parsons.[3] Celaan Merton mengenai kuliah pertama

Parsons dalam teori juga menarik, terutama karena materi yang disajikan adalah basis untuk salah satu buku teori yang paling berpengaruh pada sosiologi. [3]. Pemikiran Parsons di dalam perkembangan ilmu sosiologi dikenal dengan teori fungsionalis. [sunting] Konsep Pemikiran Sebagai seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan prosesnya.[10] Pendekatannya selain diwarnai oleh adanya keteraturan masyarakat yang ada di Amerika juga dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto dan Max Weber. Hal tersebut di ataslah yang menyebabkan Teori Fungsionalisme Talcott Parsons bersifat kompleks. [10] Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaanperbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan.[10] Dengan demikian masyarakat adalah merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan.[10] Teori Fungsionalisme Struktural yang mempunyai latar belakang kelahiran dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat tersebut dikembangkan dan dipopulerkan oleh Talcott Parsons.[10] [sunting] Tindakan Sosial dan Orientasi Subjektif Teori Fungsionalisme Struktural yang dibangun Talcott Parsons dan dipengaruhi oleh para sosiolog Eropa menyebabkan teorinya itu bersifat empiris, positivistis dan ideal.[10] Pandangannya tentang tindakan manusia itu bersifat voluntaristik, artinya karena tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan, dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati.[10] Tindakan individu manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana (alat) dan tujuan yang akan dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau kondisi-kondisi, dan apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma.[10] Prinsip-prinsip pemikiran Talcott Parsons, yaitu bahwa tindakan individu manusia itu diarahkan pada tujuan.[10] Di samping itu, tindakan itu terjadi pada suatu kondisi yang unsurnya sudah pasti, sedang unsur-unsur lainnya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Selain itu, secara normatif tindakan tersebut diatur berkenaan dengan penentuan alat dan tujuan.[10] Atau dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa tindakan itu dipandang sebagai kenyataan sosial yang terkecil dan mendasar, yang unsur-unsurnya berupa alat, tujuan, situasi, dan norma. Dengan demikian, dalam tindakan tersebut dapat digambarkan yaitu individu sebagai pelaku dengan alat yang ada akan mencapai tujuan dengan

berbagai macam cara, yang juga individu itu dipengaruhi oleh kondisi yang dapat membantu dalam memilih tujuan yang akan dicapai, dengan bimbingan nilai dan ide serta norma. Perlu diketahui bahwa selain hal-hal tersebut di atas, tindakan individu manusia itu juga ditentukan oleh orientasi subjektifnya, yaitu berupa orientasi motivasional dan orientasi nilai. Perlu diketahui pula bahwa tindakan individu tersebut dalam realisasinya dapat berbagai macam karena adanya unsur-unsur sebagaimana dikemukakan di atas. [sunting] Analisis Struktural Fungsional dan Diferensiasi Struktural Sebagaimana telah diuraikan di muka, bahwa Teori Fungsionalisme Struktural beranggapan bahwa masyarakat itu merupakan sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam bentuk keseimbangan. Menurut Talcott Parsons dinyatakan bahwa yang menjadi persyaratan fungsional dalam sistem di masyarakat dapat dianalisis, baik yang menyangkut struktur maupun tindakan sosial, adalah berupa perwujudan nilai dan penyesuaian dengan lingkungan yang menuntut suatu konsekuensi adanya persyaratan fungsional.[3] Perlu diketahui ada fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi agar ada kelestarian sistem, yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan keadaan latent.[10] Empat persyaratan fungsional yang mendasar tersebut berlaku untuk semua sistem yang ada. Berkenaan hal tersebut di atas, empat fungsi tersebut terpatri secara kokoh dalam setiap dasar yang hidup pada seluruh tingkat organisme tingkat perkembangan evolusioner. [10] Perlu diketahui bahwa sekalipun sejak semula Talcott Parsons ingin membangun suatu teori yang besar, akan tetapi akhirnya mengarah pada suatu kecenderungan yang tidak sesuai dengan niatnya.[10] Hal tersebut karena adanya penemuan-penemuan mengenai hubungan-hubungan dan hal-hal baru, yaitu yang berupa perubahan perilaku pergeseran prinsip keseimbangan yang bersifat dinamis yang menunjuk pada sibernetika teori sistem yang umum.[10] Dalam hal ini, dinyatakan bahwa perkembangan masyarakat itu melewati empat proses perubahan struktural, yaitu pembaharuan yang mengarah pada penyesuaian evolusinya Talcott Parsons menghubungkannya dengan empat persyaratan fungsional di atas untuk menganalisis proses perubahan.[10] Perlu diketahui bahwa sekalipun Talcott Parsons telah berhasil membangun suatu teori yang besar untuk mengadakan pendekatan dalam masyarakat, akan tetapi ia tidak luput dari serangkaian kritikan, baik dari mantan muridnya Robert K. Merton, ataupun sosiolog lain, yaitu George Homans, Williams Jr., dan Alvin Gouldner.[3] Masyarakat Sebagai Sistem Sosial (Talcott Parson)

Menurut Talcott Parson masyarakat sebagai sistem sosial terbagai atas beberapa bagian/kesatuan yaitu : 1. Tindakan Manusia, terbagi atas 2 bagian utama yaitu : A. Orientasi Motivational 1. Dimensi kognitif 2. Dimensi karateristik 3. Dimensi evaluasional B. Orientasi Nilai 1. Dimensi kognitif 2. Dimensi apresiatif 3. Dimensi moral 2. Teori AGIL : 1. Adaptation 2. Goal Attainment 3. Integration 4. Latents Pattern Maintanance 3. Variabel Pola (Pattern Variables), terbagi atas : 1. Afektif versus Netral Afektif 2. Orientasi Diri versus Orientasi Kolektif 3. Universalistik versus Patrikuralistik 4. Askripsi versus Prestasi 5. Spesifitas versus kekaburan Berdasarkan pembagian masyarakat sebagai sistem sosial di atas, menurut Talcott Parson dapat dijelaskan sebagai berikut : A. Orientasi Motivational yaitu segala sesuatu dalam masyarakat baik individu maupun kelompok yang menyangkut kepuasan jangka panjang dan kepuasan jangka pendek, atau dengan kata lain ada tujuan utama yang ingin diperoleh dimana tujuan tersebut dapat memperbesar kepuasan dan memperkecil kekecewaan. Contoh : - kepuasan jangka pendek : seseorang yang telah selesai bermain bola selama kurang lebih 45 menit akan merasakan capek dan haus, untuk

menghilangkan rasa hausnya ia meminum segelas air. Pada saat itulah ketika ia meminum air maka kepuasan jangka pendeknya terpenuhi untuk beberapa saat. - kepuasan jangka panjang : seseorang yang telah menikah dan kawin dengan wanita pujaan hatinya akan merasakan kepuasan jangka panjangnya karena dengan menikahi wanita tersebut maka keinginannya selama ini untuk memiliki wanita tersebut seumur hidupnya telah terpenuhi. Di dalam orientasi motivational ini terbagi lagi atas 3 bagian dimensi yaitu dimensi kognitif, dimensi karateristik, dan dimensi evaluasional. Dimensi Kognitif yaitu dapat diartikan sebagai pemahaman terhadap sesuatu. Contoh : Kita ingin menikah, dalam hal ini kita harus memiliki dimensi kognitif yang harus kita gunakan untuk memahami sebuah arti pernikahan yang akan kita lakukan. Dimana di dalam sebuah pernikahan itu harus ada rasa saling memahami (latar belakang sosial, budaya dan ekonomi) antara satu sama lain sebelum menuju ketahap pernikahan. Pernikahan yang diinginkan tersebut dapat terjadi jika kita memahami arti dari dimensi kognitif yang intinya harus ada rasa saling memahami. Dimensi Karateristik yaitu berupa tindakan atau reaksi terhadap orang lain yang bersifat emosional dan dapat berupa reaksi positif dan negatif. Contoh : Jika seseorang ingin menikah sebaiknya antara keduanya harus mengetahui karakter dari masing-masing (pasangannya) sehingga tidak ada penyesalan dikemudian hari, dimana dalam proses saling memahami tersebut jangan ada kejelakan-kejelekan dari keduanya yang disembunyikan. Hubungan yang dijalin selama dalam proses pra-nikah tersebut akan berakhir pada satu tujuan yaitu nikah (dalam arti positif) dan kandas (dalam arti negatif). Dimensi Evaluasional yaitu menyangkut atau terkait dalam dimensi kognitif dan dimensi karateristik, sehingga dalam dimensi ini pengetahuan itu sangatlah mutlak. Contoh : Dalam hal pernikahan, pengetahuan yang kita miliki harus digunakan sebaik mungkin untuk memahami (dimensi kognitif) dan mengetahui karakter (dimensi karateristik) pasangan kita, sehingga setelah kita menggunakan pengetahuan yang dimiliki, kita dapat mengambil tindakan/sikap (positif/negatif) dari apa yang telah kita ketahui dari pasangan kita.

B. Orientasi Nilai yaitu merujuk pada standar-standar normatif, berupa fikiran-fikiran yang dapat mempengaruhi pola hidup seseorang. Contoh : Strata perkawinan, dalam hal ini kita melihat sistem kasta yang digunakan di India, dimana kaum brahmana (orang ningrat) tidak diperbolehkan menikah dengan kaum paria (orang miskin) apa pun alasannya, begitu pula sebaliknya, atau dengan kata lain setiap orang yang ingin menikah haruslah menikah dengan orang-orang se-kastanya tidak pada kasta yang di atas maupun di yang bawahnya. Di dalam orientasi nilai ini Parson membaginya lagi menjadi 3 bagian dimensi yaitu : dimensi kognitif, dimensi apresiatif, dan dimensi moral. Dimensi Kognitif yaitu standar-standar normatif yang ada digunakan untuk menolak dan menerima seseorang. Contoh : Ketika Pak Rahman diundang untuk datang membersihkan mesjid di dekat perumahannya secara bergotong-royong bersama-sama dengan warga yang lain, ia menolak untuk hadir dengan alasan tertentu, namun dengan ketidakhadirannya di mesjid tersebut bukan berarti menghalangi niatnya untuk tidak ikut ambil bagian secara langsung membersihkan mesjid, dengan penuh rasa bertanggung jawab atas undangan yang ditujukan kepadanya untuk membersihkan mesjid biarpun tidak secara langsung, ia lakukan dengan cara memanggil seorang tukang becak untuk menggantikannya membersihkan mesjid atas namanya dan kemudian memberikan uang kepada tukang becak tersebut sebagai ganti atas tidak beroprasinya selama menggantikan pak Rahman membersihkan mesjid. Dalam hal ini penolakan yang dilakukan oleh pak Rahman didasarkan pada standar-standar normatif yang sesuai dimana antara pihak pak Rahman dan pihak tukang becak tidak ada yang dirugikan, malahan tukang becak terbantukan dengan mendapat uang dari membantu menggantikan pak Rahman di mesjid plus dapat makanan gratis dari mesjid setelah membersihkan mesjid bersama-sama dengan warga yang lain. Dimensi Apresiasi yaitu berupa penilaian yang diberikan seseorang terhadap orang lain (positif/negatif). Contoh : Ketika seseorang membantu orang lain yang membutuhkan bantuan misalnya dalam hal finansial, setelah membantu orang tersebut maka secara otomatis si penerima bantuan tersebut akan memberikan apresiasi (penilaian) yang positif kepada si pemberi bantuan karena telah membantunya mengurangi bebannya, namun di sisi lain, akan ada orang lain yang akan memberikan apresiasi negatif karena ia berfikir

bahwa si pemberi bantuan membantu karena ada hal-hal tertentu yang ia inginkan dari si penerima bantuan. Dimensi Moral yaitu berupa sikap atau tindakan seseorang terhadap orang lain yang didasarkan atas perilaku-perilaku moral. Contoh : Ketika kita berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita misalnya Ibu/bapak maka kita sebagai orang yang paling muda dari mereka akan berbicara secara sopan, baik, dan penuh dengan rasa menghormati agar tidak terjadi rasa ketersinggungan dari mereka. Berbeda ketika kita berbicara dengan orang yang setara dengan kita, dalam berbicara biasanya kita menggunakan kata-kata yang tidak terlalu formal dan tidak terlalu sopan namun dalam batasan-batasan yang wajar. Teori AGIL, dalam teori Talcott Parson berupaya mengembangkan dan meyempurnakan model analisis umum yang sangat cocok untuk menganalisis semua bentuk kolektifitas atau organisasi. Dalam hal ini Parson mengeksploitasi mengapa masyarakat bias stabil dan berfungsi. Modelnya yaitu AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latern Patten Maintanance) mewakili empat fungsi dasar yang harus dicapai oleh semua system social atau organisasi social jika ingin bertaha. Adaptation (adaptasi) Penyesuaian Yaitu kemampuan suatu sistem untuk meyerap dari lingkungan serta membagikannya kebagian-bagian dari sistem yang lainnya atau dengan kata lain kemampuan sistem sosial untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi. Contoh : Sistem budaya asing yang masuk ke Indonesia, utamanya cara berpakaian. Otomatis secara tidak langsung budaya asing tersebut akan berusaha menyesuaikan diri dengan budaya yang ada di Indonesia. Budaya asing ini akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat beradaptasi dengan budaya Indonesia sehingga dari hasil adaptasi tersebut akan muncul suatu budaya yang bercorak ke-Indonesiaan, atau budaya yang bercorak kebarat-baratan(westernisasi) ataukah budaya baru perpaduan kedua budaya tersebut. Goal Attainment (pencapaian tujuan) Yaitu dari sekian banyak tujuan yang ingin dicapai harus ada sebuah tujuan yang dipilih yang paling dibutuhkan dan mewakili dari sekian banyak tujuan yang ada. Contoh : Ketika kita ingin membantu sebuah desa yang sangat terpencil, dimana di desa tersebut terdapat berbagai masalah seperti : 1. Gizi buruk

2. Tidak Adanya Posyandu 3. Tidak Adanya Listrik Dari sekian banyak masalah di atas yang dihadapi desa tersebut maka yang paling utama dan paling mendesak yang akan dilakukan sebagaimana pengertian dari Goal Attainment adalah pemberantasan masalah gizi buruk karena untuk masalah ini sangatlah penting sebab tanpa penanganan gizi buruk yang terjadi mustahil untuk menyelesaikan masalah yang lain. Masalah yang lain dapat ditangani ketika masalah gizi buruk yang melanda desa dapat diberantas sehingga jalan menuju peneyelesaian masalah yang lain akan menjadi gampang. Integration (integrasi) berembuk 1. Proses penyesuaian dari unsur-unsur yang pokok menjadi satu kesatuan yang utuh dan menyatukan bagian-bagian dari suatu sistem menjadi sebuah sistem yang memiliki fungsi. 2. Menunjukkan adanya solidaritas sosial dari bagian-bagian yang mementuknya, serta berperannya masing-masing unsur tersebut sesuai dengan posisinya.

Teori Organisasi Sosial Menurut Talcott Parsons Strategi Parsons untuk menyusun teori, berpegang teguh pada suatu posisi ontologis yg jelas, yaitu keadaan sosial memperlihatkan ciri-ciri secara sistematis yang harus dicakup oleh suatu pengaturan konsep-konsep abstrak secara paralel. Hal yg lebih menonjol lagi adalah asumsi-asumsi mengenai hakikat dunia sosial yg voluntaristik. Teori aksi voluntaristik menyajikan suatu sintesa asumsi-asumsi bermanfaat dan konsep-konsep utilitarianisme, positivisme, maupun idealisme bagi Parsons. Formulasi tertib sosial, menyajikan berbagai masalah bagai Parsons, misalnya apakah manusia senantiasa berperilaku rasional? Apakah mereka benar-benar bebas dan tidak diatur? Bagaimana ketertiban mungkin ada dalam sistem kompetitif yang tidak teratur? Parsons menyampingkan formulasi-formulasi ekstrim para positivis radikal, yang cenderung memandang dunia sosial dalam kerangka hubungan sebab akibat yang dapat diamati diantara gejala-gejala fisik, sehingga tidak memperhitungkan fungsi simbolis jiwa manusia. Selanjutnya Parsons berpendapat, tekanan pada hubungan sebab akibat yang dapat diamati akan menuju pada reduksionisme tanpa batas, misalnya : 1. Kelompok-kelompok dijabarkan kedalam hubungan sebab akibat anggota-anggotanya secara individual.

2. Individu-individu dijabarkan dalam hubungan sebab akibat proses fisiologis, sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. Aksi voluntaristik yg dikemukakan oleh Talcott Parsons mencakup unsur-unsur dasar, sebagai berikut : 1. Pelaku, yang merupakan pribadi individual 2. Pelaku mencari tujuan-tujuan yang akan dicapai 3. Pelaku mempunyai cara-cara untuk mencapai tujuan 4. Pelaku dihadapkan pada berbagai kondisi situasional 5. Pelaku dikuasai oleh nilai-nilai, kaidah-kaidah, dan gagasan-gagasan lain yg mempengaruhi penetapan tujuan dan pemilihan cara untuk mecapai tujuan 6. Aksi mencakup pengambilan keputusan secara subyektif oleh pelaku untuk memilih cara mencapai tujuan, yang dibatasi oleh berbagai gagasan dan kondisi situasional Sebagai sosiolog Parsons mengakui bahwa pusat perhatiannya pada teori mencakup analisa sistem sosial. Empat belas tahun setelah terbit The Structure of Social Action, Parsons menulis dan menerbitkan The Social System. Dalam buku itu Parsons menyajikan perbedaan-perbedaan analitis antara sistem-sistem sosial kepribadian maupun pola-pola kebudayaan. Oleh karena sistem sosial menjadi pusat perhatian Parsons, dia menelaah masalah integrasi dalam sistem sosial dengan pola-pola kebudayaan disatu pihak. Parsons memandang institusionalisasi baik sebagai proses maupun struktur. Pada awalnya dia membicarakan proses institusionalisasi dan hanya mengacu pada hal itu sebagai suatu struktur. Sebagai suatu proses, institusionalisasi dapat digolongkan kedalam tipe-tipe tertentu dengan cara berikut : 1. Para pelaku dengan beraneka ragam orientasi memasuki situasi tempat mereka harus berinteraksi 2. Cara pelaku beorientasi merupakan pencerminan dari struktur kebutuhannya dan bagaimana struktur kebutuhan itu telah diubah oleh penjiwaan pola-pola kebudayaan 3. Melalui proses interaksi tertentu, muncullah kaidah-kaidah pada saat pelaku saling menyesuaikan orientasi masing-masing 4. Kaidah-kaidah itu timbul sebagai suatu cara saling menyesuaikan diri, dan juga membatasi pola-pola kebudayaan umum 5. Selanjutnya kaidah-kaidah itu mengatur interaksi yang terjadi kemudian, sehingga tercipta keadaan stabil Melalui cara-cara itu, pola-pola institusionalisasi tercipta, dipelihara, dan diubah. Apabila interaksi telah melembaga, maka dapat dikatakan terdapat suatu sistem sosial. Suatu sistem sosial tidak harus merupakan masyarakat yang menyeluruh, namun setiap pola interaksi yang diorganisasi baik secara mikro

maupun makro, merupakan suatu sistem sosial. Apabila pusat perhatian diarahkan pada masyarakat secara total atau bagian-bagiannya yang mencakup himpunan pola-pola peranan yang terlembaga, Parsons menyebutnya sebagai sub-sistem. Parsons telah menyusun suatu sistem konseptual yang cukup rumit yang memberikan tekanan pada proses pelembagaan interaksi menjadi pola-pola mantap yang disebut sistem-sistem sosial, yang dipengaruhi oleh kepribadian dan dibatasi oleh kebudayaan. Pola-pola kedua sistem aksi yang sesungguhnya kepribadian dan sosial merupakan pencerminan pola-pola dominan orientasiorientasi nilai dalam kebudayaan. Tekanan secara implisit pada pengaruh polapola kebudayaan dalam mengatur dan mengendalikan sistem-sistem aksi lainnya, menjadi semakin nyata dalam karya-karya Parsons kemudian. Setelah menyusun suatu kerangka analisa, Parsons kembali pada pertanyaan yang diajukannya dalam The Structure of Social Action yang menjadi patokan bagi semua formulasi teoritisnya, yaitu bagaimanakah sistem-sistem sosial bertahan? Atau, secara lebih tegas, mengapa pola-pola interaksi yg telah melembaga dapat bertahan? Jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan jalan mengembangkan konsep-konsep tambahan yang menunjukkan bagaimana sistem-sistem kepribadian dan kebudayaan terintegrasi dalam sistem sosial, sehingga menjamin kesatuan normatif dan keterikatan para pelaku untuk mematuhi kaidah-kaidah dan memainkan peranannya. Bagaimanakah sistemsistem kepribadian terintegrasikan dalam sistem sosial, sehingga mempertahankan keserasian? Pada taraf yang paling abstrak, parsons menyusun konsep dua mekanisme yg mengintegrasikan kepribadian kedalam sistem sosial, yaitu mekanisme sosialisasi dan pengendalian sosial. Melalui pengoprasian kedua mekanisme itu, sistem-sistem kepribadian menjadi struktur, sehingga sepadan dengan struktur sistem-sistem sosial. Dalam artian abstraknya, parsons memandang mekanisme sosialisasi sebagai sarana tempat pola-pola kebudayaan nilai-nilai, kepercayaan, bahasa, dan lambang-lambang lainnya - diinternalisasikan kedalam sistem kepribadian, sehingga mencakup struktur kebutuhannya. Melalui proses ini, para pelaku akan mau menyimpan energi motivasionalnya dalam peranan dan kepada para pelaku diberikan ketrampilan untuk memainkan peran masing-masing. Fungsi lain sosialisasi dan mekanismenya adalah menjamin kestabilitas ikatan-ikatan antara pribadi yang menimbulkan berbagai tekanan. Mekanisme pengendalian sosial mencakup cara-cara dalam mana peranan-peranan kedudukan diorganisasikan dalam sistem-sistem sosial untuk mengurangi tekanan dan penyimpangan. Kedua mekanisme tersebut dipandang sebagai unsur yang memecahkan salah satu masalah integratif yang dihadapi oleh sistem-sistem sosial. Masalah integratif lainnya yang dihadapi sistem-sistem sosial adalah bagaimana polapola kebudayaan berperan dalam memelihara tertib sosial dan keserasiannya. Parsons tidak lupa menyatakan bahwa mekanisme sosialisasi dan pengendalian sosial tidak selali berhasil, sehingga ada kemungkinan terjadinya penyimpangan dan perubahan sosial. Namun kiranya jelas bahwa konsep-konsep yang dikembangkan parsons dalam The Social System, menyajikan suatu analisa

kearah proses-proses yang memelihara integrasi dan keserasian dalam sistemsistem sosial. Talcott Parsons Posted by linggadp BIOGRAFI SINGKAT TALCOTT PARSONS [1] Talcott Parsons dilahirkan di Colorado Springs pada tahun 1902. Pada 1920 Ia masuk ke Amherst College. Setelah itu, ia melanjutkan studi pascasarjana di London School of Economics tahun 1924. Pada tahun 1925, Parsons pindah ke Heidelberg, Jerman. Pada tahun 1927, ia menjadi instruktur dalam ekonomi di Amherst. Sejak tahun 1927 hingga wafat pada tahun 1979 ia berprofesi sebagai pengajar di Harvard, Amerika Serikat. Pada 1937, ia mempublikasikan sebuah buku yang menjadi dasar bagi teoriteorinya, yaitu buku The Structure of Social Action. Sejak tahun 1944, ia menjadi ketua jurusan sosiologi di Harvard, Amerika Serikat. Pada tahun 1946, ia menjadi ketua jurusan hubungan sosial di universitas tersebut. Pada tahun 1949, ia dipilih sebagai Presiden Assosiasi Sosiologi Amerika. Dan pada tahun 1951, ia menjadi tokoh dominant sosiologi Amerika seiring dengan terbitnya buku karyanya The Social System. Pada akhir 1960-an, Parsons mendapat serangan oleh sayap radikal sosiologi Amerika karena ia dipandang konservatif (dalam sikap politiknya maupun teori-teorinya). Selain itu teori-teorinya juga dipandang hanya sebagai skema kategorisasi panjang-lebar. Pada tahun 1980-an, teori-teorinya diminati diseluruh dunia. Menurut Holton dan Turner (1986), karya-karya parsons memberikan kontribusi lebih besar bagi teori sosiologi, daripada Marx, Weber maupun Durkheim. Selain itu, ide-ide pemikiran Parsons maupun teori-teorinya, tidak hanya mempengaruhi para pemikir konservatif namun juga teoretisi Neo-Marxian (khususnya Jurgen Habermas). Berdasarkan semua hasil karyanya, Talcott Parsons adalah tokoh fungsionalis struktural modern terbesar hingga saat ini.

FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Dalam teorinya, Parsons menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup[2]. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berpendapat bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan. Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu bahwa masyarakat menjadi suatu kesatuan atas dasar kesepakatan dari para anggotanya terhadap nilai-nilai tertentu yang mampu mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat adalah merupakan kumpulan sistemsistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling memiliki ketergantungan. Talcott Parsons adalah seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan prosesnya. Pendekatannya selain diwarnai oleh adanya keteraturan masyarakat yang ada di Amerika juga dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto dan Max Weber. Hal tersebut di ataslah yang menyebabkan Teori Fungsionalisme Talcott Parsons bersifat kompleks. Teori Fungsionalisme Struktural mempunyai latar belakang kelahiran dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat. Teori Fungsionalisme Struktural Parsons mengungkapkan suatu keyakinan yang optimis terhadap perubahan dan

kelangsungan suatu sistem. Akan tetapi optimisme Parson itu dipengaruhi oleh keberhasilan Amerika dalam Perang Dunia II dan kembalinya masa kejayaan setelah depresi yang parah itu. Bagi mereka yang hidup dalam sistem yang kelihatannya mencemaskan dan kemudian diikuti oleh pergantian dan perkembangan lebih lanjut maka optimisme teori Parsons dianggap benar. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Gouldner (1970: 142): untuk melihat masyarakat sebagai sebuah firma, yang dengan jelas memiliki batas-batas srukturalnya, seperti yang dilakukan oleh teori baru Parsons, adalah tidak bertentangan dengan pengalaman kolektif, dengan realitas personal kehidupan sehari-hari yang sama-sama kita miliki. Teori struktural fungsional mengansumsikan bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dari sistem. Fokus utama dari berbagai pemikir teori fungsionalisme adalah untuk mendefinisikan kegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup sistem sosial. Terdapat beberapa bagian dari sistem sosial yang perlu dijadikan fokus perhatian, antara lain ; faktor individu, proses sosialisasi, sistem ekonomi, pembagian kerja dan nilai atau norma yang berlaku. Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial. Gagasan-gagasan inti dari fungsionalisme ialah perspektif holistis (bersifat menyeluruh), yaitu sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh bagian-bagian demi tercapainya tujuantujuan dari keseluruhan, kontinuitas dan keselarasan dan tata berlandaskan konsensus mengenai nilai-nilai fundamental. Teori fungsional ini menganut faham positivisme, yaitu suatu ajaran yang menyatakan bahwa spesialisasi harus diganti

dengan pengujian pengalaman secara sistematis[3], sehingga dalam melakukan kajian haruslah mengikuti aturan ilmu pengetahuan alam. Dengan demikian, fenomena tidak didekati secara kategoris, berdasarkan tujuan membangun ilmu dan bukan untuk tujuan praktis. Analisis teori fungsional bertujuan menemukan hukum-hukum universal (generalisasi) dan bukan mencari keunikan-keunikan (partikularitas). Dengan demikian, teori fungsional berhadapan dengan cakupan populasi yang amat luas, sehingga tidak mungkin mengambilnya secara keseluruhan sebagai sumber data. Sebagai jalan keluarnya, agar dapat mengkaji realitas universal tersebut maka diperlukan representasi dengan cara melakukan penarikan sejumlah sampel yang mewakili. Dengan kata lain, keterwakilan (representatifitas) menjadi sangat penting. Walaupun fungsionalisme struktural memiliki banyak pemuka yang tidak selalu harus merupakan ahli-ahli pemikir teori, akan tetapi paham ini benar-benar berpendapat bahwa sosiologi adalah merupakan suatu kajian tentang struktur-struktur sosial sebagai suatu unit-unit yang terbentuk atas bagianbagian yang saling terkait. Pendekatan fungsionalisme-struktural dapat dikaji melalui anggapan -anggapan dasar berikut[4]: a. Masyarakat haruslah dilihat sebagai suatu sistem dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain b. Hubungan saling mempengaruhi di antara bagian-bagian suatu sistem bersifat timbal balik c. Sekalipun integrasi sosial tidak pernah dapat dicapi dengan sempurna, namun secara fundamental sistem sosial selalu cenderung bergerak kearah keseimbangan yang bersifat dinamis. d. Sistem sosial senantiasa berproses ke arah integrasi sekalipun terjadi ketegangan, disfungsi dan penyimpangan. e. Perubahan-perubahan dalam sistem sosial, terjadi secara gradual (perlahan-lahan atau bertahap), melalui penyesuaianpenyesuaian dan tidak secara revolusioner. f. Faktor paling penting yang memiliki daya integrasi suatu sistem sosial adalah konsensus atau mufakat di antara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai kemasyarakatan tertentu.

Demi memudahkan kajian teori-teori yang digagas oleh Parsons, Peter Hamilton berpendapat bahwa Teori Parsonian dapat dibagi kedalam 3 fase [5]:
1.

Fase Permulaan. Fase ini berisi tahap-tahap perkembangan atas teori Voluntaristik (segi Kemauan) dari tindakan sosial dibandingkan dengan pandanganpandangan sosiologi yang positivistis, utilitarian, dan reduksionis. Fase Kedua. Fase ini berisi gerakannya untuk membebaskan diri dari kekengan teori tindakan sosial yang mengambil arah fungsionalisme struktural ke dalam pengembangan suatu teori tindakan kebutuhan-kebutuhan yang sangat penting. Fase Ketiga Fase ini terutama mengenai model sibernetik (elektronik pengendali) dari sistem-sistem sosial dan kesibukannya dengan masalah empiris dalam mendefinisikan dan menjelaskan perubahan sosial.

2.

3.

Dari ketiga fase tersebut, dapat dinyatakan bahwa Parsons telah melakukan tugas penting, yaitu: Ia mencoba untuk mendapatkan suatu penerapan dari sebuah konsep yang memadai atas hubungan-hubungan antara teori sosiologi dengan ekonomi. Ia juga mencari kesimpulan-kesimpulan metodologis & epistemologis dari apa yang dinamakan sebagai konsep sistem teoretis dalam ilmu sosial. Ia mencari basisbasis teoretis dan metodologis dari gagasan tindakan sosial dalam pemikiran sosial.[6] Dalam mengkategorikan tindakan atau menggolongkan tipetipe peranan dalam sistem sosial, Parsons mengembangkan 5 buah skema yang dilihat sebagai kerangka teoritis utama dalam analisa sistem sosial. 5 buah skema itu adalah[7]:
1.

Affective versus Affective Neutrality, maksudnya dalam suatu hubungan sosial, orang dapat bertindak untuk pemuasan Afeksi (kebutuhan emosional) atau bertindak tanpa unsur tersebut (netral). Self-orientation versus Collective-orientation, maksudnya, dalam berhubungan, orientasinya hanya pada dirinya sendiri atau mengejar kepentingan pribadi.

2.

Sedangkan dalam hubungan yang berorientasi kolektif, kepentingan tersebut didominasi oleh kelompok.
3.

Universalism versus Particularism, maksudnya, dalam hubungan yang universalistis, para pelaku saling berhubungan menurut kriteria yang dapat diterapkan kepada semua orang. Sedangkan dalam hubungan yang Partikularistis, digunakan ukuran/kriteria tertentu. Quality versus Performance, maksudnya variable Quality ini menunjuk pada Ascribed Status (keanggotaan kelompok berdasarkan kelahiran/bawaan lahir). Sedangkan Performance (archievement) yang berarti prestasi yang mana merupakan apa yang telah dicapai seseorang. Specificity versus Diffusness, maksudnya dalam hubungan yang spesifik, individu berhubungan dengan individu lain dalam situasi terbatas .

4.

5.

4 FUNGSI IMPERATIF SISTEM TINDAKAN (AGIL)[8] Dalam teori struktural fungsional Parsons ini, terdapat empat fungsi untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsi adalah kumpulan hal yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Secara sederhana, fungsionalisme struktural adalah sebuah teori yang pemahamannya tentang masyarakat didasarkan pada model sistem organik dalam ilmu biologi. Artinya, fungsionalisme melihat masyarakat sebagai sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Satu bagian tidak bisa dipahami terpisah dari keseluruhan. Dengan demikian, dalam perspektif fungsionalisme ada beberapa persyaratan atau kebutuhan fungsional yang harus dipenuhi agar sebuah sistem sosial bisa bertahan. Parsons kemudian mengembangkan apa yang dikenal sebagai imperatif-imperatif fungsional agar sebuah sistem bisa bertahan. Imperatifimperatif tersebut adalah Adaptasi, Pencapaian Tujuan, Integrasi, dan Latensi atau yang biasa disingkat AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, Latency).
1.

Adaptasi, sebuah sistem ibarat makhluk hidup, artinya agar dapat terus berlangsung hidup, sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. harus mampu bertahan ketika situasi eksternal sedang tidak mendukung.

2.

Goal (Pencapaian), sebuah sistem harus memiliki suatu arah yang jelas dapat berusaha mencapai tujuan utamanya. Dalam syarat ini, sistem harus dapat mengatur, menentukan dan memiliki sumberdaya untuk menetapkan dan mencapai tujuan yang bersifat kolektif.[9] Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya. Latensi, Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.

3.

4.

Berdasarkan skema AGIL di atas, dapat disimpulkan bahwa klasifikasi fungsi sistem adalah sebagai Pemeliharaan Pola (sebagai alat internal), .Integrasi (sebagai hasil internal), Pencapaian Tujuan (sebagai hasil eksternal), Adaptasi (alat eksternal). Adapun komponen dari sistem secara general (umum) dari suatu aksi adalah: Keturunan & Lingkungan yang merupakan kondisi akhir dari suatu aksi, Maksud & Tujuan, Nilai Akhir, dan hubungan antara elemen dengan faktor normatif.[10] Asumsi Parsons terkait dengan tatanan sistem: Sistem memiliki bagian-bagian yang saling tergantung satu sama lain, sehingga suatu sistem tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Sebagai contoh, sistem tindakan itu mendapat pengaruh maupun dapat memberi pengaruh pada sistem kepribadian. Sistem cenderung menjadi tatanan yang memelihara dirinya, dapat menjadi statis/mengalami proses perubahan secara tertata. Sifat satu bagian sistem berdampak pada bagian yang lain. Sistem memelihara batas dengan lingkungan mereka. Alokasi & Integrasi adalah 2 proses fundamental bagi kondisi ekuilibrium sistem. Sistem cenderung memelihara dirinya yang meliputi pemeliharaan batas & hubungan bagian-bagian dengan keseluruhan, kontrol variasi lingkungan, dan kontrol kecendrungan untuk mengubah sistem dari dalam. Sistem harus terstruktur agar dapat menjaga kelangsungan hidupnya dan juga harus harmonis dengan sistem lain. Sistem

juga harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem lain, artinya suatu sistem tidak dapat berdiri sendiri. Tetapi antara satu sustem dengan sistem lainnya akan saling terkait. Sistem juga dituntut untuk mampu mengakomodasi para aktornya secara proporsional (imbang), melahirkan partisipasi yang memadai dari para aktornya, Mampu untuk mengendalikan perilaku yang berpotensi mengganggu, dapat dikendalikan bila terjadi konflik atau menimbulkan kekacauan dan memiliki bahasa dan aktor sosial. Menurutnya persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai dan norma ke dalam sistem ialah dengan sosialisasi dan internalisasi. Pada proses Sosialisasi yang sukses, nilai dan norma sistem sosial itu akan diinternalisasikan. Artinya ialah nilai dan norma sistem sosial ini menjadi bagian kesadaran dari aktor tersebut. Akibatnya ketika si aktor sedang mengejar kepentingan mereka maka secara langsung dia juga sedang mengejar kepentingan sistem sosialnya.
1.

Sistem Tindakan

Dalam sistem tindakan, Parsons melandaskan pada teori aksi ( the structure of social action) yang menujun titik sentral konsep perilaku voluntaristik. Dalam konsep ini dijelaskan bahwa Individu memiliki kemampuan untuk menentukan cara & alat dari berbagai alternative yang ada untuk mencapai suatu tujuan.[11] Sistem Tindakan berdasarkan Orientasi Motivasi:[12] 1. Kognitif (merujuk pada definisi seorang aktor tentang situasi dalam terminologi kepentingannya, yang didorong oleh apa yang diketahui oleh obyek ). 2. Katektik (pengujian seorang aktor untuk kepuasannya yang seringkali merupakan tanggapan atas obyek). 3. Evaluatif (merujuk pada pilihan sang aktor dan tatanan dari alternatifnya yang dilakukan dengan cara dimana obyek dininlai dan diurutkan satu sama lain agar saling menyerang). 2. Sistem Sosial Sistem sosial terdiri dari beragam aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi yang setidaknya memiliki aspek fisik/lingkungan, aktor yang termotivasi kearah optimisasi kepuasan, dan hubungan dengan situasi mereka, termasuk

hubungan satu sama lain, didefinisikan dan diperantarai dalam bentuk simbol yang terstruktur secara kultural dan dimiliki bersama. Sistem sosial dibentuk oleh norma, kepercayaan, nilai-nilai yang diorganisasikan dan dapat diukur sebagai keleompok yang terpola dari peran-peran sosial yang berjalan baik. Prasyarat fungsional bagi sistem sosial[13]: 1. Terstruktur, dapat beroperasi dengan baik bersama sistem lain.
2.

Didukung sebelumnya oleh sistem lain, agar dapat bertahan hidup.

3. Signifikan memenuhi proporsi kebutuhan aktor-aktornya. 4. Menimbulkan partisipasi yang memadai dari anggotanya. 5. Memiliki kontrol minimum terhadap perilaku yang berpotensi merusak. 6. Mmerlukan bahasa agar bertahan hidup. Batasan-batasan dari sistem sosial:[14] a. Sistem sosial merupakan jaringan hubungan-hubungan antar aktor atau jaringan hubungan interaktif. b. Sistem sosial menyediakan kerangka konseptual untuk menghubungkan tindakan individu dalam situasi yang bervariasi. c. Pandangan Aktor tentang alat & tujuan didapat pada situasi yang dibentuk oleh kepercayaan, norma & nilai yang diorganisasikan dalam harapan peran d. Aktor tidak menghadapi situasi sebagai individu, tetapi sebagai posisi dalam peran sosial yang menyediakan perilaku yang sesuai dan juga berhubungan dengan peran-peran sosial lain (Timasheff & Theodorson, 1976:254). 3.Aktor dari Sistem Sosial Proses internalisasi & sosialisasi merupakan hal terpenting dalam integrasi.Biasanya aktor adalah penerima pasif dalam proses sosialisasi. Sosialisasi harus terus menerus dilengkapi dalam siklus kehidupan dengan serangkaian pengalaman sosialisasi yang lebih spesifik.Sosialisasi & Kontrol sosial adalah

mekanisme utama yang memungkinkan sistem sosial mempertahankan ekuilibriumnya[15]. 4. Masyarakat Masyarakat merupakan sistem sosial yang paling spesifik & penting, yaitu sebuah kolektivitas yang relatif mandiri, anggotanya mampu memenuhi kebutuhan individual & kolektif, dan sepenuhnya hidup dalam kerangka kerja kolektif. Contoh Sub sistem masyarakat: ekonomi, politik. 5. Sistem Kultural (kebudayaan) Kebudayaan adalah kekuatan utama yang mengikat berbagai elemen dunia sosial atau sistem simbol yang terpola, tertata, yang merupakan sasaran orientasi aktor, aspek sistem kepribadian yang diinternalisasikan dan pola-pola yang terlembagakan dalam sistem sosial. Dalam sistem sosial, kebudayaan menubuh dalam norma dan nilai, sedangkan dalam sistem kepribadian, kebudayaan ditanamkan kepada individu oleh aktor kedalam dirinya. Sistem kebudayaan juga dapat dikatakan sebagai aspek tindakan yang mengorganisasikan karakteristik dan urgensi yang membentuk sistem yang stabil. Contoh dari sistem kultural diantaranya adalah: klen (marga). 6. Sistem Kepribadian Kepribadian adalah organisasi sistem orientasi & motivasi tindakan aktor individual. Komponen dasar kepribadian: kebutuhan-disposisi, yaitu sebagai unit paling signifikan dari motivasi tindakan. Cara Parsons mengaitkan kepribadian dengan sistem sosial: pertama, aktor harus belajar melihat dirinya dengan cara yang sesuai dengan status mereka dalam masyarakat. Kedua, harapan-harapan peran melekat pada setiap peran yang dimainkan oleh aktor individu. Lalu terjadi pembelajaran disiplin diri, internalisasi orientasi nilai, identifikasi, dsb. 7. Organisme Behavioral Meskipun memasukan organisme behavioral dalam salah satu sistem tindakan, Parsons tidak begitu detil membahasnya. Organisme behavioral dalam karya Parsons merupakan sistem bekas dan merupakan sumber energi bagi seluruh sistem.

Sistem ini kemudia berubah nama menjadi sistem perilaku. [16] 8. Perubahan dan Dinamika Teori Parsonsian Berdasarkan karya-karya Parsons, seperti empat sistem tindakan dan imperatif fungsional mengundang tuduhan bahwa ia menawarkan teori struktural yang tidak mampu menangani perubahan sosial. Hal ini dikarenakan, ia peka terhadap perubahan sosial, namun ia berpendapat bahwa meskipun studi perubahan diperlukan, tapi itu harus didahului dengan studi tentang struktur. 9. Teori Evolusi Dalam membahas perubahan sosial, terdapat pradigma perubahan evolusioner. Dalam paradigma tersebut terdapat beberapa komponen, yaitu: Proses Differensiasi[17] dan Integrasi. Dalam hal ini dijelaskan bahwa masyarakat mengalami evolusi & pertumbuhan sehingga menjadi semakin mampu untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Evolusi tersebut berlangsung melalui berbagai siklus (tahap) yaitu, tahap primitif, pertengahan dan modern. 10. Media Pertukaran yang Digeneralisasi Media pertukaran yang digeneralisasi adalah media yang beredar diantara keempat sistem tersebut, yang mana eksistensi dan gerakannya mendinamiskan sebagian besar analisis struktural Parsons. Contoh model media ini dapat berupa uang ( sebagai media pertukaran dalam bidang ekonomi), jabatan (sebagai media prtukaran dalam bidang politik). Kritik terhadap Parsons: 1. Orientasinya statis, sehingga terlalu banyak mencurahkan perhatian pada perubahan.Karya-karyanya tentang perubahan sosial dinilai sangat statis & terstruktur.[18] 2. Pada saat dia melakukan elaborasi (pengerjaan dengan teliti) sisi sistem & teori, tindakan dia telah menerapkan seluruh terminologi dan asumsi kaum fungsionalis yang telah diketahui bahwa begitu problematis dari berbagai sudut pandang. 3. Parsons tidak pernah berhasil menjelaskan secara tepat, realitas sosial empirik yang bagaimana ia bicarakan.

4. Definisi yang ia buat, tetap merupakan pengujian neoskolastik (sesuatu yang berhubungan dengan penyelidikan hukum-hukum filsafat baru) yang mencoba mengatasi suatu ketidakjelasan melalui sarana lainnya. Inti dari kritik untuknya, Parsons tidak menyadari bahwa sebagian besar pernyataannya yang dibuat tentang suatu masyarakat harus dibatasi keumumannya. Salah satu alasan yang paling pokok tentang ketidakjelasan Parsons adalah bahwa dia mendefinisikan terminologinya tanpa ada tujuan penelitian maupun problema yang masuk akal. Kelemahan teori fungsionalisme-struktural & AGIL: Bahwa pandangan pendekatan ini terlalu bersifat umum atau terlalu kuat memegang norma, karena menganggap bahwa masyarakat akan selalu berada pada situasi harmoni, stabil, seimbang, dan mapan. Ini terjadi karena analogi dari masyarakat dan tubuh manusia yang dilakukan oleh Parson bisa diilustrasikan, bahwa tidak mungkin terjadi konflik antara tangan kanan dengan tangan kiri, demikian pula tidak mungkin terjadi ada satu tubuh manusia yang membunuh dirinya sendiri dengan sengaja. Demikian pula karakter yang terdapat dalam masyarakat. Dengan kata lain, suatu sistem sosial, akan selalu terkait secara harmonis, berusaha menghindari konflik, dan tidak mungkin akan menghancurkan keberadaannya sendiri. Hal-hal yang bersifat menguji pendapat Parsons[19]: 1. Sistem Kekerabatan Kekerabatan selalu ada dalam masyarakat. Menurut Parsons, kekerabatan telah masuk kedalam rangkaian jenis struktural yang bersifat kolektif. Bentuk-bentuk kekerabatan saat ini dan masa lalu memperlihatkan bahwa ada keharusan struktural dan fungsional yang sudah pasti & tidak ada masyarakat yang dapat melanggarnya. 2. Stratifikasi Sosial Dalam masalah ini, Parsons gagal untuk membedakan antara proses diferensiasi dan stratifikasi sosial. Ia juga tidak begitu menggali permasalahan (berupa pertanyaan) itu di dalam suatu sikap ilmiah & kritis, tetapi semata-mata hanya meyakini

berdasarkan bahasan yang tidak menganalisa suatu permasalahan. 3. Territorial & Tekanan Dalam hal ini diskusi Parsons secara keseluruhan tentang pengklasifikasian yang bersifat empirik terlihat dominan. Dia juga mengulas tentang kekuasaan (dalam hal ini territorial diartikan sebagai wilayah kekuasaan), konflik, dan tekanan. Tetapi ia tidak menerapkan konsep ini dalam skema analisanya. Selain itu, ia juga gagal untuk menghadapi problema peranan tekanan di dalam melestarikan tatanan tersebut di dalam sutau model yang logis atau empiris. 4. Agama & Integrasi Nilai Dalam hal ini, agama merupakan suatu lembaga yang diperlukan didalam suatu masyarakat dan merupakan suatu keseluruhan yang mendasari suatu nilai.

Talcott Parsons: Teori Struktur Fungsional Posted on August 30, 2011 | Leave a comment

Rate This

Talcott Parson lahir di Spring, Colorado pada tanggal 13 Desember 1902 dan meninggal di Munchen, Bayern pada tanggal 18 Mei 1979. Ayahnya bernama Edward Smith Parson dan ibunya bernama Marry Augusta Parson. Ayahnya seorang pendeta, professor dan kemudian menjadi rektor sebuah perguruan tinggi kecil. Parson mendapatkan gelar sarjana muda dari Universitas Amherst tahun 1924 dan menyiapkan disertasinya di London School of Economics. Disamping itu ia dilengkapi oleh teori fungsional antropologi dari Bronislaw- Malinosky. Di tahun berikutnya ia pindah ke Universitas Heidelberg Jerman. Parson sangat dipengaruhi karya Weber dan akhirnya menulis disertasi diHeidelberg, yang sebagian menjelaskan karya Weber. Parson mengajar di Harvard pada tahun 1927-1979. Kemajuan karirnya tidak begitu cepat, ia tidak mendapatkan jabatan professor hingga tahun 1939. Dua tahun selanjutnya ia menerbitkan The Structure Of Social Action, sebuah buku yang tak hanya memperkenalkan pemikiran sosiologi utama seperti Weber kepada sejumlah sosiolog, tetapi juga meletakkan landasan bagi teori yang dikembangkan Parson sendiri. Pada tahun 1950-an dan menjelang tahun 1960-an dengan diterbitkan buku seperti The Social System Parson menjadi tokoh dominan dalam sosiologi Amerika. Diakhir 1960-an Parson mendapat serangan dari sayap radikal sosiologi Amerika yang baru muncul. Pemikiran Parson dinilai sebagai politik konservatif sehingga Parson dianggap sebagai orang yang konservatif. Tetapi pada tahun 1980-an teori Parsons diakui tidak hanya oleh Amerika Serikat tetapi seluruh Dunia. Talcott Parsons: Teori Fungsionalisme Struktural Fungsi dikaitkan sebagai segala kegiatan yang diarahkan kepada memenuhi kebutuhan atau kebutuhan-kebutuhan dari sebuah sistem.

Ada empat persyaratan mutlak yang harus ada supaya termasuk masyarakat bisa berfungsi. Keempat persyaratan itu disebutnya AGIL. AGIL adalah singkatan dari Adaption, Goal, Attainment, Integration, dan Latency. Demi keberlangsungan hidupnya, maka masyarakat harus menjalankan fungsi-fungsi tersebut, yakni; 1. Adaptasi (adaptation): supaya masyarakat bisa bertahan dia harus mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan dengan dirinya. 2. Pencapain tujuan (goal attainment): sebuah sistem harus mampu menentukan tujuannya dan berusaha mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskan itu. 3. Integrasi (integration): masyarakat harus mengatur hubungan di antara komponen-komponennya supaya dia bisa berfungsi secara maksimal. 4. Latency atau pemeliharaan pola-pola yang sudah ada: setiap masyarakat harus mempertahankan, memperbaiki, dan membaharui baik motivasi individu-individu maupun pola-pola budaya yang menciptakan dan mepertahankan motivasi-motivasi itu. Sistem Tindakan Sistem mengandaikan adanya kesatuan antara bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain. Kesatuan antara bagian itu pada umumya mempunyai tujuan tertentu. Dengan kata lain, bagian-bagian itu membentuk satu kesatuan (sistem) demi tercapainya tujuan atau maksud tertentu. 1. Sistem organisme biologis (aspek bilogis manusia sebagai satu sistem), dalam sistem tindakan berhubungan dengan fungsi adaptasi yakni menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengubah lingkungan sesuai dengan kebutuhan. 2. Sistem kepribadian, melaksanakan fungsi pencapaian tujuan dengan merumuskan tujuan dan menggerakkan seluruh sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan itu. 3. Sistem sosial berhubungan dengan fungsi integrasi dengan mengontrol komponen-komponen pembentuk masyarakat itu. 4. Sistem kebudayaan berhubungan dengan fungsi pemeliharaan polapola atau struktur-struktur yang ada dengan menyiapkan normanorma dan nilai-nilai yang memotivasi mereka dalam berbuat sesuatu. Defenisi sistem-sistem di atas menurut Talcott:

Sistem organisme atau aspek biologis dari manusia. Kesatuan yang paling dasar dalam arti biologis, yakni aspek fisik dari manusia itu. Hal lain yang termasuk ke dalam aspek fisik ini ialah lingkungan fisik di mana manusia itu hidup. 2. Sistem kepribadian. Kesatuan yang paling dasar dari unit ini ialah individu yang merupakan aktor atau pelaku. Pusat perhatiannya dalam analisa ini ialah kebutuhan-kebutuhan, motif-motif, dan sikap-sikap, seperti motivasi untuk mendapat kepuasan atau keuntungan. 3. Sistem sosial. Sistem sosial adalah interaksi antara dua atau lebih individu di dalam suatu lingkungan tertentu. Tetapi interaksi itu tidak terbatas antara individu-individu melainkan juga terdapat antara kelompok-kelompok, institusi-institusi, masyarakatmasyarakat, dan organisasi-organisasi internasional. Sistem sosial selalu terarah kepada equilibrium (keseimbangan). 4. Sistem budaya. Dalam sistem ini, unit analisis yang paling dasar adalah kepercayaan religius, bahasa, dan nilai-nilai. Skema Tindakan Empat komponen skema tindakan: 1. Pelaku atau aktor: aktor atau pelaku ini dapat terdiri dari seorang individu atau suatu koletifitas. Parsons melihat aktor ini sebagai termotivisir untuk mencapai tujuan. 2. Tujuan (goal): tujuan yang ingin dicapai biasanya selaras denga nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. 3. Situasi: tindakan untuk mencapai tujuan ini biasanya terjadi dalam situasi. Hal-hal yang termasuk dalam situasi ialah prasarana dan kondisi. 4. Standar-standar normatif: ini adalah skema tindakan yang paling penting menurut Parsons. Guna mencapai tujuan, aktor harus memenuhi sejumlah standar atau aturan yang berlaku. Perubahan Sosial Konsep perubahan sosial Parsons bersifat perlahan-lahan dan selalu dalam usaha untuk menyesuaikan diri demi terciptanya kembali equilibrium. Dengan kata lain, perubahan yang dimaksudkan oleh Parsons itu bersifat evolusioner dan bukannya revolusioner. Konsep tentang perubahan yang bersifat evolusioner dari Parsons dipengaruhi oleh para pendahulunya seperti Aguste Comte, Hebert Spencer, dan Emile Durkheim.
1.

Your browser does not support iframes.

Teori

Fun gsionalisme

struktur al Talcott Parsons

Teori Fungsionalisme struktural Talcott Parsons Sosiologi Kontemporer Sebelumnya | Aspek-aspek Religiusitas (dimensi keberagamaan) Menurut Jalaluddin Rahmat ====================

Talcott Parsons-ilustrasi Teori Fungsionalisme struktural pertama kali dikembangkan dan dipopulerkan oleh Talcott Parsons. Talcott Parsons adalah seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan prosesnya. Pendekatannya selain diwarnai oleh adanya keteraturan masyarakat yang ada di Amerika juga dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto dan Max Weber. Kemunculan Teori Fungsionalisme Struktural dipengaruhi oleh adanya asumsi kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat.

Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural , yaitu bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat merupakan kumpulan sistem-sistem

sosial yang satu ketergantungan.

sama

lain

berhubungan

dan

saling

1. Tindakan Sosial dan Orientasi Subjektif Teori Fungsionalisme Struktural yang dibangun Talcott Parsons dan dipengaruhi oleh para sosiolog Eropa menyebabkan teorinya itu bersifat empiris, positivistis dan ideal. Pandangannya tentang tindakan manusia itu bersifat voluntaristik, artinya karena tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan, dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Tindakan individu manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana (alat) dan tujuan yang akan dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau kondisi-kondisi, dan apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma.

Prinsip-prinsip pemikiran Talcott Parsons , yaitu bahwa tindakan individu manusia itu diarahkan pada tujuan. Di samping itu, tindakan itu terjadi pada suatu kondisi yang unsurnya sudah pasti, sedang unsur-unsur lainnya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Selain itu, secara normatif tindakan tersebut diatur berkenaan dengan penentuan alat dan tujuan. Atau dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa tindakan itu dipandang sebagai kenyataan sosial yang terkecil dan mendasar, yang unsur-unsurnya berupa alat, tujuan, situasi, dan norma.

Dengan demikian, dalam tindakan tersebut dapat digambarkan yaitu individu sebagai pelaku dengan alat yang ada akan mencapai tujuan dengan berbagai macam cara, yang juga individu itu dipengaruhi oleh kondisi yang dapat membantu dalam memilih tujuan yang akan dicapai, dengan bimbingan nilai dan ide serta norma. Perlu diketahui bahwa selain hal-hal tersebut di atas, tindakan individu manusia itu juga ditentukan oleh orientasi subjektifnya, yaitu berupa orientasi motivasional dan orientasi nilai. Perlu diketahui pula bahwa tindakan individu tersebut dalam

realisasinya dapat berbagai macam karena adanya unsur-unsur sebagaimana dikemukakan di atas.

2. Analisis Struktural Fungsional dan Diferensiasi Struktural Sebagaimana telah diuraikan bahwa Teori Fungsionalisme Struktural beranggapan bahwa masyarakat itu merupakan sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam bentuk keseimbangan. Menurut Talcott Parsons dinyatakan bahwa yang menjadi persyaratan fungsional dalam sistem di masyarakat dapat dianalisis, baik yang menyangkut struktur maupun tindakan sosial, adalah berupa perwujudan nilai dan penyesuaian dengan lingkungan yang menuntut suatu konsekuensi adanya persyaratan fungsional.

Perlu diketahui ada fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi agar ada kelestarian sistem, yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan keadaan latent. Empat persyaratan fungsional yang mendasar tersebut berlaku untuk semua sistem yang ada. Berkenaan hal tersebut di atas, empat fungsi tersebut terpatri secara kokoh dalam setiap dasar yang hidup pada seluruh tingkat organisme tingkat perkembangan evolusioner. Perlu diketahui bahwa sekalipun sejak semula Talcott Parsons ingin membangun suatu teori yang besar, akan tetapi akhirnya mengarah pada suatu kecenderungan yang tidak sesuai dengan niatnya. Hal tersebut karena adanya penemuan-penemuan mengenai hubungan-hubungan dan hal-hal baru, yaitu yang berupa perubahan perilaku pergeseran prinsip keseimbangan yang bersifat dinamis yang menunjuk pada sibernetika teori sistem yang umum. Dalam hal ini, dinyatakan bahwa perkembangan masyarakat itu melewati empat proses perubahan struktural, yaitu pembaharuan yang mengarah pada penyesuaian evolusinya Talcott Parsons menghubungkannya dengan empat persyaratan fungsional di atas untuk menganalisis proses perubahan.

Itulah tadi sekelumit wawasan tentang Teori Fungsionalisme struktural Talcott Parsons . Semoga bermanfaat

Untuk lebih lengkap bisa dibaca di: Talcott Parsons, Social Systems and The Evolution of Action Theory New York: The Free Press, 1975. Sciulli, David and Gerstein Dean. 1985. Social Theory and Talcott Parsons in the 1980s. Teori Sibenertika Talcott Parson : sistem sosial merupakan suatu sinergi antara berbagai sub sistem sosial yang saling mengalami ketergantungan dan keterkaitan. Adanya hubungan yang saling keterkaitan, interaksi dan saling ketergantungan. Contoh keterkaitan antara Hukum,agama, pendidikan, budaya, ekonomi, politik, sosial yang tak dapat terpisahkan dan saling berinteraksi. Menurut Talcott Parson, ada 4 subsistem yang menjalankan fungsi utama dalam kehidupan masyarakat : 1. Fungsi adaptasi(adaptation) dilaksanakan oleh subsistem ekonomi contoh: melaksanakan produksi & distribusi barang-jasa 2. Fungsi pencapaian tujuan (goal attainment) dilaksanakan oleh subsistem politik contoh: melaksanakn distribusi distribusi kekuasaan & memonopoli unsur paksaan yg sah (negara) 3. Fungsi integrasi(in te gration) dilaksanakan oleh subsistem hukum dengan cara mempertahankan keterpaduan antara komponen yg beda pendapat/konflik untuk mendorong terbentuknya solidaritas sosial. 4. Fungsi mempertahankan pola & struktur masyarakat (lattent pattern maintenance) dilaksanakan oleh subsistem budaya menangani urusan pemeliharaan nilai - nilai & norma-norma budaya yg berlaku dengan tujuan kelestarian struktur masyarakat dibagi menjadi subsistem keluarga, agama,pendidikan INGAT : Keempat subsistem (pranata) ekonomi, politik, hukum dan budaya tersebut akan bekerja secara mandiri tetapi saling bergantung satu sama lain utk mewujudkan keutuhan & kelestarian sistem sosial secara keseluruhan.

FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS Pembahasan teori fungsionalisme structural Parson diawali dengan empat skema pentingmengenai fungsi untuk semua system tindakan, skema tersebut dikenal dengan sebutan skemaAGIL. Sebelumnya kita harus tahu terlebih dahulu apa itu fungsi yang sedang dibicarakan disini,fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan kearah pemenuhan kebutuhan system.Menurut parson ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan bagi semua system social,meliputi adaptasi (A), pencapaian tujuan atau goal attainment (G), integrasi (I), dan Latensi (L).empat fungsi tersebut wajib dimiliki oleh semua system agar tetap bertahan ( survive ), penjelasannya sebagai berikut:Adaptation : fungsi yang amat penting disini system harus dapat beradaptasi dengan caramenanggulangi situasi eksternal yang gawat, dan system harus bisa menyesuaikan diri denganlingkungan juga dapat menyesuaikan lingkungan untuk kebutuhannnya.Goal attainment ; pencapainan tujuan sangat penting, dimana system harus bisa mendifinisikandan mencapai tujuan utamanya.Integrastion : artinya sebuah system harus mampu mengatur dan menjaga antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya, selain itu mengatur dan mengelola ketiga fungsi(AGL).Latency :laten berarti system harus mampu berfungsi sebagai pemelihara pola, sebuah systemharus memelihara dan memperbaiki motivasi pola-pola individu dan cultural .Lalu bagaimanakah Parson menggunakan empat skema diatas, mari kita pelajari bersama.Pertama adaptasi dilaksanakan oleh organisme prilaku dengan cara melaksanakan fungsi adaptasidengan cara menyesuaikan diri dan mengubah lingkungan eksternal. Sedangkan fungsi pencapaian tujuan atau Goal attainment difungsikan oleh system kepribadian dengan menetapkantujuan system dan memolbilisai sumber daya untuk mencapainya. Fungsi integrasi di lakukanoleh system social, dan laten difungsikan system cultural. Bagaimana system cultural bekerja? Jawabannhya adalah dengan menyediakan actor seperangkat norma dan nilai yang memotivasiactor untuk bertindak.Tingkat integrasi terjadi dengan dua cara, pertama : masing-masing tingkat yang p[aling bawahmenyediakan kebutuhan kondisi

maupun kekuatan yang dibutuhkan untuk tingkat atas.Sredangkan tingkat yang diatasnya berfungsi mengawasi dan mengendalikan tingkat yang adadibawahnya.Parson memberikan jawaban atas masalah yang ada pada fungsionalisme structural denganmenjelaskan beberapa asumsi sebagai berikut; 1. system mempunyai property keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. 2. system cenderung bergerak kea rah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan. 3. system bergerak statis, artinya ia akan bergerak pada proses perubahan yang teratur. 4. sifat dasar bagian suatu system akan mempengaruhi begianbagian lainnya. 5. system akam memelihara batas-batas dengan lingkungannya. 6. alokasi dan integrasi merupakan ddua hal penting yang dibutuhkan untuk memeliharakeseimbangan system. 7. system cenderung menuju kerah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-baguan dengan

keseluruhan sostem, mengendalikan lingkungan yang berbeda dan mengendalikankecendrungan untuyk merubah system dari dalam. System social Pada pembahasannya parson mendefinisikan system social sebagai berikut:sistem social terdiri dari sejumlah actor-aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasiyang sekurangkurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik, actor-aktor yang mempunyaimotivasi dalam arti mempunyai kecendrungan untuk mengoptimalkan kepuasan yanghubungannya dengan

situasi mereka didefinisikan dan dimediasi dalam term system simbol bersama yang terstruktur secara cultural. (Parsons, 1951:5-6)kunci masalah yang dibahas pada system social ini meliputi actor, interaksi, lingkungan,optimalisasi, kepuasan, dan cultural.Hal yang paling penting pada system social yang dibahasnya Parsons mengajukan persyaratanfungsional dari system social diantaranya: 1. system social harus terstuktur (tertata) sehingga dapat beroperasi dalam hubungan yangharmonis dengan sisten lain. 2. untuk menjaga kelangsungan hidupnya system social harus mendapatkan dukungan darisystem lain. 3. system social harus mampu memenuhi kebutuhan aktornya dalam proporsi yangsignifikan. 4. system social harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya. 5. system social harus mampu mengendalikan prilaku yang berpotensi menggangu. 6. bila konflik akan menuimbulkan kekacauan maka harus bisa dikendalikan. 7. system social memerlukan bahasa.Definisi sistemSistem mengandung dua pengertian utama yaitu:1.Merupakan suatu kesatuan dari beberapa subsistem atau elemen definisi yang menekankan pada komponen atau elemennya2.Merupakan suatu prosedur untuk mencapai tujuan definisi yang menekankan prosedurnya.Definisi Sistem yang menekankan pada komponennya menerangkan bahwa sistem adalahkomponen-komponen atau subsistem-subsistem yang saling berinteraksi, dimana masing-masing bagian tersebut dapat bekerja secara sendiri-sendiri (independen) atau bersama-sama serta saling berhubungan membentuk satu kesatuan sehingga tujuan atau sasaran sistem tersebut dapat tercapai secara keseluruhan.Definisi Sistem yang menekankan pada prosedurnya menerangkan bahwa sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling

berhubungan, berkumpul bersama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelasaikan suatu sasaran tertentu.Teori sistemTeori Struktural Fungsional Talcot Parsons Paradigma AGIL.Paradigma AGIL adalah salah satu teori Sosiologi yang dikemukakan oleh ahli sosiologiAmerika, Talcott Parsons pada sekitar tahun 1950. Teori ini adalah lukisan abstraksi yangsistematis mengenai keperluan sosial (kebutuhan fungsional) tertentu, yang mana setiapmasyarakat harus memeliharanya untuk memungkinkan pemeliharaan kehidupan sosial yangstabil. Teori AGIL adalah sebagian teori sosial yang dipaparkan oleh Parson mengenai struktur fungsional, diuraikan dalam bukunya The Social System, yang bertujuan untuk membuat persatuan pada keseluruhan system sosial. Teori Parsons dan Paradigma AGIL sebagai elemenutamanya mendominasi teori sosiologi dari tahun 1950 hingga 1970.AGIL merupakan akronim dari Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency ataulatent pattern-maintenance, meskipun demikian tidak terdapat skala prioritas dalam pengurutannya.a)Adaptations b)GoalAttainment.c)Integration.d)Latency (Latent-PatternMaintenance)Di samping itu, Parsons menilai, keberlanjutan sebuah sistem bergantung pada persyaratan:a)Sistem harus terstruktur agar bisa menjaga keberlangsungan hidupnya dan juga harus mampuharmonis dengan sistem lain. b)Sistem harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem lainc)Sistem harus mampu mengakomodasi para aktornya secara proporsionald)Sistem harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para aktornyae)Sistem harus mampu untuk mengendalikan perilaku yang berpotensi menggangguf)Bila terjadi konflik menimbulkan kekacauan harus dapat dikendalikang)Sistem harus memiliki bahasa Aktor dan Sistem Sosial.Menurutnya persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai dan norma ke dalamsistem ialah dengan sosialisasi dan internalisasi. Pada proses Sosialisasi yang sukses, nilai dannorma sistem sosial itu akan diinternalisasikan. Artinya ialah nilai dan norma sistem sosial inimenjadi bagian kesadaran dari aktor tersebut. Akibatnya ketika si aktor sedang mengejar kepentingan mereka maka secara langsung dia juga sedang mengejar kepentingan sistemsosialnya. Teori Fungsionalisme Struktural (Sebuah Ulasan Singkat) Talcott Parsons dan Teori Fungsionalisme Struktural

Tradisi pemikiran para fungsionalis barat mengenai teori fungsionalisme struktural berangkatdari analogi sistem biologi yang melihat jasad atau badan sebagai sebuah sistem. Karenamerupakan sebuah sistem, badan terdiri dari kesatuan komponen-komponen pembentuk yang bekerjasama dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan pemeliharaan diri. Berdasarkan analogitersebut, para ahli mengamati masyarakat sebagai sebuah rangkaian komponen beserta fungsinya

masing-masing yang saling mempengaruhi satu sama lain.Adalah Talcott Parson, seorang pakar sosiologi kelahiran Colorado pada tahun 1902, yangmengawali pengembangan teori fungsionalisme struktural. Publikasi spektakuler yang dimilikiParson salah satunya adalah The Structure of Social Action (1937). Dari langkah awal inilah,Parson menelurkan teori tindakan yang menganggap tindakan manusia bersifat voluntary,intentional, dan symbolic.Kemudian ia mengemukakan bahwa pada dasarnya suatu sistem tindakan umum terdiri dari tigasistem yang saling berkaitan; sistem sosial, personalitas, dan kultural. Dari sistem sosial inilah,Parson melihat adanya struktur-struktur dalam masyarakat yang memiliki fungsi masing-masing.Dalam pengembangan ide tersebut, Parson banyak berkiblat pada hasil-hasil pemikiran pendahulunya, diantaranya Durkheim, Malinowski, Weber, dan Pareto.Sistem SosialSekali lagi, dapat digarisbawahi bahwa sistem sosial yang dirumuskan oleh Parsons dan beberapa sosiolog lainnya menekankan sifat interrelationship atau saling keterhubungan dansaling ketergantungan antar unsur-unsur struktural dalam kehidupan sosial. Dalam prosesinteraksi sosial anggota masyarakat melaksanakan hubungan timbal balik dengan caramenyesuaikan diri.Sistem sosial terdiri atas aktifitasaktifitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan yanglain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat, kebiasaan atau normayang berlaku.Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret. Beberapa sistem sosial

yang adadalam masyarakat adalah;1) Sistem mata pencaharian2) Sistem kekerabatan dan organisasi sosial3) Bahasa4) Sistem kepercayaanUlasan mengenai sistem sosial merupakan pijakan dasar dalam memahami institusi sosial yangtumbuh dan berkembang dalam sistem masyarakat. Meskipun belum ditemukan istilah yangtepat untuk merefleksikan isi frase kata sosial institution namun beberapa sosiolog di Indonesiasepakat untuk menggunakan kata institusi sosial atau lembaga kemasyarakatan untuk menggambarkannya.Telah disinggung dalam bab sebelumnya bahwa institusi sosial merupakan sesuatu yang timbulakibat tindakan manusia yang memiliki kecenderungan untuk membentuk kelompok-kelompok atau koloni sesuai dengan latarbelakang sosial dan kebutuhan masing-masing. Agar ketertiban pelaksanaan kehidupan bermasyarakat antar kelompok-kelompok tersebut tercipta makadiperlukan tata aturan atau yang populer disebut dengan norma.Kekuasaan, Wewenang, dan KepemimpinanDalam satu sistem kemasyarakatan dimana individu berkumpul, bertemu, dan berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidup, keberadaan seorang pemimpin menjadi suatu keniscayaan.Sebagaimana telah disinggung pada subbab sebelumnya bahwa kehidupan bermasyarakat di atur oleh norma atau tata tertib. Agar norma tersebut berjalan sesuatu aturan yang berlaku dan ditaatiatau dilaksanakan oleh anggota masyarakat, maka diperlukan satu lembaga yang memilikikewenangan untuk mengadakan pengawasan dan tinjauan. Seyogyanya pula suatu lembagamasyarakat memiliki pemimpin yang memimpin pelaksanaan sistem operasional norma masyarakat.Dalam disiplin ilmu sosiologi, kekuasaan tidak dipandang sebagai sesuatu yang baik dan buruk akan tetapi kekuasaan merupakan piranti atau unsur penting dalam masyarakat. Secarasederhana, kekuasaan digambarkan sebagai suatu kemampuan untuk memengaruhi orang lain.Kekuasan umumnya dijelmakan pada diri seseorang yang kemudian lazim disebut pemimpin.Kekuasaan bersumber pada beberapa aspek kehidupan sosial dan diselaraskan dengankegunaannya masing-masing, sebagaimana berikut: kekuasaan yang bersumber pada militerismememiliki kegunaan sebagai pengendali kekerasa, yang bersumber pada ekonomi berguna untuk mengendalikan tanah, buruh, kekayaa,

dan produksi, yang bersumber pada politik berguna untuk mengambil keputusan, yang bersumber pada hukum berguna untuk mempertahankan interaksi,yang bersumber pada tradisi berguna sebagai sistem kepercayaan, yang bersumber pada ideologi berguna sebagai pandangan hidup, dan yang bersumber dari diversionary power berguna untuk kepentingan rekreatif.Sedikit berbeda dengan kekuasaan, wewenang merupakan suatu hak untuk menetapkankebijaksanaan, menentukan keputusan, dan menyelesaikan permasalahan. Dari definisi tersebut,wewenang dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan, akantetapi kekuasaan harus mendapatkan pengesahan dari masyarakat terlebih dahulu untuk dapatmenjalankan kewenangan.Menurut pandangan Max Weber terdapat 3 bentuk wewenang, yaitu:- wewenang kharismatis : wewenang yang didasarkan pada suatu kemampuan khusus yangdimiliki seseorang (seringkali bersifat irasional),- wewenang tradisional : wewenang yang dimiliki seseorang atau kelompok karena kekuasaanyang telah melembaga dan melebur dalam masyarakat.- wewenang rasional : wewenang yang didasarkan pada sistem hukum yang berlaku.Selain bentuk-bentuk wewenang menurut pemikiran Weber diatas, beberapa ahli jugamerumuskan beberapa bentuk lainnya, akan tetapi hanya wewenang resmi dan tidak resmisebagaimana dikemukakan oleh Robert A. Nisbet dalam The Social Bond, An Introduction toThe Study of Society yang akan disinggung secara singkat oleh penulis karena hal ini berkaitandengan sistem organisasi masyarakat yang diangkat sebagai tema sentral tulisan ini. Wewenangresmi bersifat sistematis dan rasional serta memiliki aturan tata tertib yang tegas dan tetapsedangkan wewenang tidak resmi diterapkan tidak sistematis tetapi cenderung spontan dansituasional. Wewenang tidak resmi dapat diamati dari sikap seorang bapak sebagai kepala rumahtangga.Kekuasaan dan wewenang bermuara pada sistem kepemimpinan. Kepemimpinan yang bersifatresmi biasanya dijelmakan dalam suatu jabatan sehingga pelaksanaannya dilandaskan pada peraturanperaturan resmi pula. Lain halnya dengan kepemimpinan tak resmi yang didasarkan pada pengakuan dan kepercayaan masyarakat, meskipun tetap harus berpedoman pada peraturanatau undang-undang yang berlaku.Keberadaan pemimpin dalam suatu sistem masyarakat sangat diperlukan

utamanya untuk mengatur pelaksanaan norma masyarakat agar tercipta interaksi sosial yang dinamis.Berdasarkan konsepsi masyarakat tradisional, seorang pemimpin harus memiliki sifat Ing ngarsasung tulada (Di muka memberi teladan), Ing madya mangun karsa (Di tengah membangunsemangat), dan Tut wuri handayani (Dari belakang memberi dorongan). Pengejewantahan darikonsepsi tersebut dimasa kini adalah bahwa pemimpin harus memiliki idealisme kuat,mewujudkan keinginan masyarakat, dan mengikuti perkembangan masyarakat. Berangkat dari prinsip tersebut, maka sistem kepemimpinan masyarakat disebut pamong praja/pamong desayang berarti membimbing masyarakat.Soekanto juga merumuskan beberapa pola kepemimpinan diterapkan dalam masyarakat, yaitu melalui pola otoriter, demokratis, dan bebas. Pola-pola tersebut dilaksanakan sesuai dengankarakteristik masyarakatnya, misalnya pola atau cara demokratis diterapkan pada masyarakatdengan tingkat pendidikan tinggi dan pola otoriter biasanya diterapkan pada masyarakatheterogen.Diambil dari beberapa sumber Bahasan tentang struktural fungsional Parsons ini akan diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsu adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empatfungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :1 . A d a p t a s i , s e b u a h s i s t e m h a t u s m a m p u m e n a n g g u l a n g u s i t u a s i e k s t e r n a l y a n g g a w a t . Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.2 . P e n c a p a i a n , s e b u a h s i s t e m h a r u s mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.3.Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang m e n j a d i komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi pentinglainnya.4 . P e m e l i h a r a a n p o l a , s e b u a h s i s t e m harus melengkapi, memelihara dan m e m p e r b a i k i motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopangmotivasi.Francesca Cancian memberikan sumbangan pemikiran bahwa sistem sosial merupakansebuah model dengan persamaan tertentu. Analogi yang dikembangkan didasarkan pula olehilmu alam, sesuatu

yang sama dengan para pendahulunya. Model ini mempunyai beberapavariabel yang membentuk sebuah fungsi. Penggunaan model sederhana ini tidak akan mampumemprediksi perubahan atau keseimbangan yang akan terjadi, kecuali kita dapat mengetahuisebagaian variabel pada masa depan. Dalam sebuah sistem yang deterministik, seperti yangdisampaikan oleh Nagel, keadaan dari sebuah sistem pada suatu waktu tertentu merupakanfungsi dari keadaan tersebut beberapa waktu lampau. Teori struktural fungsional mengansumsikan bahwa masyarakat merupakan sebuahsistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Bagian-bagiantersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup darisistem. Fokus utama dari berbagai pemikir teori fungsionalisme adalah untuk mendefinisikankegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup sistem sosial. Terdapat beberapa bagian dari sistem sosial yang perlu dijadikan fokus perhatian, antara lain ; faktor individu, proses sosialisasi, sistem ekonomi, pembagian kerja dan nilai atau norma yang berlaku. Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanankemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial. P e n u l i s T a j u k t u l i s a n A s u m s i a s u m s i T h e s i s S u m b e r perubahanPola perubahanTalcottParsonsA functionalTheory of ChangeSebuah sistemterdiri dari beberapa bagianatau subsistemyang saling berhubungan.Sistem harusmempunyaiempat fungsi(adaptasi, pencapaiantujuan, integrasidan pemeliharaan pola) agar dapattetap bertahanhidup.Dari luar dandalam sistemsosial.Siklus.FrancescaCancianFunctionalAnalysis

of ChangeSistem sosialmerupakansebuah modeldengan persamaantertentu.Keadaan darisebuah sistem pada suatu waktutertentumerupakanfungsi darikeadaan tersebut beberapa waktulampau.Sebuah sistemfungsional terdiridari dua tipevariabel yaitu Gs dan statecoordinates .Perubahan didalam sistemmerupakan perubahan yangtidak merubahstruktur darisitem tersebut.Perubahan padasistem adalahsegala perubahanyang merubahstruktur darisistem tersebut.Dari luar dandalam sistemsosial.Siklus.

Everett E.HagenOn the Theoryof SocialChangePerubahan sosialdapatdigambarkan dari perubahanstruktur ekonomi.Perubahan sosialdipengaruhi olehfaktor kepribadianmasingmasingindividu.Perubahanstruktur sosialyang tradisionalsangatdiperlukan untuk mencapai pertmbuhanekonomi.D a r i d a l a m . L i n e a r . Daftar Rujukan Etzioni, A. & Halevy, Eva Etzioni- (

eds ). 1973. Social Changes: Sources, Patterns and Consequences . Basic Books, New York. Everett E. Hagen. 1962. On The Theory of Social Change; How Economic Growth Begins .Illinois. The Dorsey Press. Goodman. Douglas J. 2004. Teori Sosiologi Modern . Jakarta. Prenada Media. Koento, Wibisono. 1983 . Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Aygus Comte .Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Teori Organisasi Sosial Menurut Talcott Parsons Strategi Parsons untuk menyusun teori, berpegang teguh pada suatu posisi ontologis yg jelas, yaitu keadaan sosial memperlihatkan ciri-ciri secara sistematis yang harus dicakup oleh suatu pengaturan konsep-konsep abstrak secara paralel. Hal yg lebih menonjol lagi adalah asumsiasumsi mengenai hakikat dunia sosial yg voluntaristik. Teori aksi voluntaristik menyajikan suatu sintesa asumsi-asumsi bermanfaat dan konsepkonsep utilitarianisme, positivisme, maupun idealisme bagi Parsons. Formulasi tertib sosial, menyajikan berbagai masalah bagai Parsons, misalnya apakah manusia senantiasa berperilaku rasional? Apakah mereka benar-benar bebas dan tidak diatur? Bagaimana ketertiban mungkin ada dalam sistem kompetitif yang tidak teratur? Parsons menyampingkan formulasi-formulasi ekstrim para positivis radikal, yang cenderung memandang dunia sosial dalam kerangka hubungan sebab akibat yang dapat diamati diantara gejala-gejala fisik, sehingga tidak memperhitungkan fungsi simbolis jiwa manusia. Selanjutnya Parsons berpendapat, tekanan pada hubungan sebab akibat yang dapat diamati akan menuju pada reduksionisme tanpa batas, misalnya : 1. Kelompok-kelompok dijabarkan kedalam hubungan sebab akibat anggota-anggotanya secara individual. 2. Individu-individu dijabarkan dalam hubungan sebab akibat proses fisiologis, sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. Aksi voluntaristik yg dikemukakan oleh Talcott Parsons mencakup unsur-unsur dasar, sebagai berikut : 1. Pelaku, yang merupakan pribadi individual 2. Pelaku mencari tujuan-tujuan yang akan dicapai 3. Pelaku mempunyai cara-cara untuk mencapai tujuan 4. Pelaku dihadapkan pada berbagai kondisi situasional 5. Pelaku dikuasai oleh nilai-nilai, kaidah-kaidah, dan gagasan-gagasan lain yg mempengaruhi penetapan tujuan dan pemilihan cara untuk mecapai tujuan 6. Aksi mencakup pengambilan keputusan secara subyektif oleh pelaku untuk memilih cara mencapai tujuan, yang dibatasi oleh berbagai gagasan dan kondisi situasional Sebagai sosiolog Parsons mengakui bahwa pusat perhatiannya pada teori mencakup analisa sistem sosial. Empat belas tahun setelah terbit The Structure of Social Action, Parsons

menulis dan menerbitkan The Social System. Dalam buku itu Parsons menyajikan perbedaanperbedaan analitis antara sistem-sistem sosial kepribadian maupun pola-pola kebudayaan. Oleh karena sistem sosial menjadi pusat perhatian Parsons, dia menelaah masalah integrasi dalam sistem sosial dengan pola-pola kebudayaan disatu pihak. Parsons memandang institusionalisasi baik sebagai proses maupun struktur. Pada awalnya dia membicarakan proses institusionalisasi dan hanya mengacu pada hal itu sebagai suatu struktur. Sebagai suatu proses, institusionalisasi dapat digolongkan kedalam tipe-tipe tertentu dengan cara berikut : 1. Para pelaku dengan beraneka ragam orientasi memasuki situasi tempat mereka harus berinteraksi 2. Cara pelaku beorientasi merupakan pencerminan dari struktur kebutuhannya dan bagaimana struktur kebutuhan itu telah diubah oleh penjiwaan pola-pola kebudayaan 3. Melalui proses interaksi tertentu, muncullah kaidah-kaidah pada saat pelaku saling menyesuaikan orientasi masing-masing 4. Kaidah-kaidah itu timbul sebagai suatu cara saling menyesuaikan diri, dan juga membatasi pola-pola kebudayaan umum 5. Selanjutnya kaidah-kaidah itu mengatur interaksi yang terjadi kemudian, sehingga tercipta keadaan stabil Melalui cara-cara itu, pola-pola institusionalisasi tercipta, dipelihara, dan diubah. Apabila interaksi telah melembaga, maka dapat dikatakan terdapat suatu sistem sosial. Suatu sistem sosial tidak harus merupakan masyarakat yang menyeluruh, namun setiap pola interaksi yang diorganisasi baik secara mikro maupun makro, merupakan suatu sistem sosial. Apabila pusat perhatian diarahkan pada masyarakat secara total atau bagian-bagiannya yang mencakup himpunan pola-pola peranan yang terlembaga, Parsons menyebutnya sebagai sub-sistem. Parsons telah menyusun suatu sistem konseptual yang cukup rumit yang memberikan tekanan pada proses pelembagaan interaksi menjadi pola-pola mantap yang disebut sistem-sistem sosial, yang dipengaruhi oleh kepribadian dan dibatasi oleh kebudayaan. Pola-pola kedua sistem aksi yang sesungguhnya kepribadian dan sosial merupakan pencerminan pola-pola dominan orientasi-orientasi nilai dalam kebudayaan. Tekanan secara implisit pada pengaruh pola-pola kebudayaan dalam mengatur dan mengendalikan sistem-sistem aksi lainnya, menjadi semakin nyata dalam karya-karya Parsons kemudian. Setelah menyusun suatu kerangka analisa, Parsons kembali pada pertanyaan yang diajukannya dalam The Structure of Social Action yang menjadi patokan bagi semua formulasi teoritisnya, yaitu bagaimanakah sistem-sistem sosial bertahan? Atau, secara lebih tegas, mengapa pola-pola interaksi yg telah melembaga dapat bertahan? Jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan jalan mengembangkan konsep-konsep tambahan yang menunjukkan bagaimana sistem-sistem kepribadian dan kebudayaan terintegrasi dalam sistem sosial, sehingga menjamin kesatuan normatif dan keterikatan para pelaku untuk mematuhi kaidah-kaidah dan memainkan peranannya. Bagaimanakah sistem-sistem kepribadian terintegrasikan dalam sistem sosial, sehingga mempertahankan keserasian? Pada taraf yang paling abstrak, parsons menyusun konsep dua mekanisme yg mengintegrasikan kepribadian kedalam sistem sosial, yaitu mekanisme sosialisasi dan pengendalian sosial. Melalui pengoprasian kedua mekanisme itu, sistem-sistem kepribadian menjadi struktur, sehingga sepadan dengan struktur sistem-sistem sosial. Dalam artian abstraknya, parsons memandang mekanisme sosialisasi sebagai sarana tempat pola-pola kebudayaan nilai-nilai, kepercayaan, bahasa, dan lambang-lambang lainnya diinternalisasikan kedalam sistem kepribadian, sehingga mencakup struktur kebutuhannya. Melalui proses ini, para pelaku akan mau menyimpan energi motivasionalnya dalam peranan dan kepada para pelaku diberikan ketrampilan untuk memainkan peran masing-masing.

Fungsi lain sosialisasi dan mekanismenya adalah menjamin kestabilitas ikatan-ikatan antara pribadi yang menimbulkan berbagai tekanan. Mekanisme pengendalian sosial mencakup cara-cara dalam mana peranan-peranan kedudukan diorganisasikan dalam sistem-sistem sosial untuk mengurangi tekanan dan penyimpangan. Kedua mekanisme tersebut dipandang sebagai unsur yang memecahkan salah satu masalah integratif yang dihadapi oleh sistem-sistem sosial. Masalah integratif lainnya yang dihadapi sistem-sistem sosial adalah bagaimana pola-pola kebudayaan berperan dalam memelihara tertib sosial dan keserasiannya. Parsons tidak lupa menyatakan bahwa mekanisme sosialisasi dan pengendalian sosial tidak selali berhasil, sehingga ada kemungkinan terjadinya penyimpangan dan perubahan sosial. Namun kiranya jelas bahwa konsep-konsep yang dikembangkan parsons dalam The Social System, menyajikan suatu analisa kearah prosesproses yang memelihara integrasi dan keserasian dalam sistem-sistem sosial.