Anda di halaman 1dari 81

MODUL PRAKTIKUM

GEOLOGI FISIK

Edisi ke 3

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNOLOGI EKSPLORASI DAN PRODUKSI

UNIVERSITAS PERTAMINA

2019
Modul Praktikum Geologi Fisik, Edisi ke 3

Editor Edisi Ke 3

Wahyuningrum Angesti Lestari


M utiq Jujazki
Yan Bachtiar M uslih

Kontributor Edisi Ke 3

Agustina Rosi Divina


Arum Widyastuti
Arvino M ulyatama Rizki M ilono
Garnis Handayani
Kiveileen Nova M alindo
Lifia Pangestika
M uhamad Caesar Alif Pratama
M uhammad Zaini
Putri Dewi Nur Aeini
Rijalul Halimi Harishun
Septiana Nawang Wulan
Tunggul M irza Pratama
Victoria Vania Blanca Widjaya
Wahyu Wibowo
Yan Satriyo

Editor Edisi Ke 2

Ratna Widiarti
Alfa Cinor Kaban

Kontributor Edisi Ke 2

Aldio Chafid Eddy Saputra


Alfie Fitrahadi Kusumah
Aulia Dwi Putri
Gaudensia Phang
Gelegar Ulya Shifin
Khairunisa Nurapriliani
Lifia Pangestika
M ohammad Fahmi Amiruddin
M uhammad Zaini
Putri Dewi Nur Aeini
Rijalul Halimi Harishun
Taufan Rifqi Syafrudin
Teuku Luthfi M aulana Nazlin
Yosella M eyling
3

Kontributor Edisi Ke 1

Abang Mansyursyah Surya Nugraha


Epo Prasetya Kusumah
Lolita Marheni
Ratna Widiarti
Wahyuningrum Angesti Lestari
Alfa Cinor Kaban
Yan Bachtiar Muslih
Nerisa Varianti
Qoyyima Fias Salam

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

I. MINERAL DAN BATUAN .............................................................................................. 2

II. BATUAN BEKU DAN PIROKLASTIK .......................................................................... 22

III. BATUAN SEDIMEN ........................................................................................................ 34

IV. BATUAN METAMORF ................................................................................................... 43

V. PETA DASAR I ................................................................................................................ 48

VI. PETA DASAR II ............................................................................................................... 53

VII. PETA GEOLOGI I ............................................................................................................ 58

VIII. PETA GEOLOGI II........................................................................................................... 69


1

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
2

I. MINERAL DAN BATUAN

1.1. MINERAL
Mineral adalah suatu material padat yang terbentuk secara alamiah di dalam, bersifat inorganik,
memiliki komposisi kimia dan sifat fisik tertentu serta memiliki struktur kristalin (Gunter, M. E.
(2008). Struktur kristalin adalah susunan tiga dimensi yang memperlihatkan bentuk kristal
berdasarkan struktur atom atau molekulnya, material dengan struktur kristalin membentuk
kristal. Mineral merupakan senyawa seperti kuarsa (SiO 2 ), pirit (FeS2 ), olivin (Mg,Fe)2 [SiO 4 ],
dan lain- lain. Namun, beberapa juga muncul sebagai native element misalnya emas (Au),
tembaga (Cu) atau intan (C). Batuan terdiri atas mineral- mineral, misalnya kuarsa dan feldspar
(mineral- mineral berwarna terang) dan sedikit mineral- mineral gelap yang terdapat pada batu
granit. Oleh sebab itu untuk mempelajari batuan harus didahului dengan pemahaman mengenai
mineral- mineral yang berupa komposisi utama dari penyusun batuan.
1.2. SIFAT FISIK MINERAL
1.2.1. Bentuk Kristal & Perawakan Kristal ( Habits)
Salah satu sifat fisik mineral yang sangat penting adalah bentuk Kristal. Pada mineral yang sama
akan memiliki bentuk kristal yang sama (sudut antara sisi-sisi kristal yang identik) tidak
terkecuali besar atau kecilnya ukuran kristal. Sifat kristal ini dinamakan “constancy of interfacial
angels” yang dikemukakan oleh Nicolas Steno (1669). Ada tujuh sistem kristal yaitu Kubus
(Cubic), Tetragonal, Ortorombik (Orthorombic), Monoklin (Monoclonic), Triklin (Triclinic),
Heksagonal dan Trigonal, seperti pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Bentuk-bentuk kristal mineral (Busch, 2006)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
3

Suatu kristal mineral juga dapat memiliki bentuk lain yang dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan pembentukannya yang disebut sebagai perawakan (habit) kristal. Umumnya
perawakan kristal tertentu sering terlihat pada mineral tertentu pula (Gambar 1.2).

Gambar 1.2. Perawakan-perawakan kristal mineral (Klein, 1989)

1.2.2. Warna
Warna timbul akibat adanya absorbsi atau refraksi sinar pada panjang geolombang tertentu oleh
suatu benda. Hal ini dipengaruhi oleh komposisi kimia dan pengotor pada mineral tersebut. Oleh
sebab itu warna-warna pada setiap mineral akan berbeda, bahkan pada mineral yang sama dapat
memiliki warna-warna yang beragam, misalnya kuarsa.

1.2.3. Kilap
Kilap merupakan kenampakan umum pada bidang mineral akibat reaksi cahaya dengan
permukaan mineral, secara umum digolongkan menjadi kilap logam dan non- logam. Kilap
metallic (logam) misalnya pirit, galena, emas dll. Sedangkan untuk kilap non logam dikenal
istilah- istilah pearly (kilap mutiara), dull (kilap tanah), vitrous (kilap kaca), damar, resinous
(kilap minyak), silky (sutera) dan lain-lain.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
4

1.2.4. Transparansi
Transparansi merupakan kemampuan suatu mineral meneruskan cahaya yang mempunyai
rentang transparan (bening) seperti air misalnya kuarsa hingga opaq atau tidak tembus cahaya
sama sekali seperti kebanyakan mineral bijih, misalnya magnetit. Untuk mineral- mineral yang
memperlihatkan objek menjadi samar-samar biasanya digunakan istilah translusen.

1.2.5. Densitas (Specific Gravity)


Besar specific gravity (SG) suatu mineral dintentukan oleh struktur kimia dan komposisi
atomnya. Dikarenakan perbedaan berat atom dan jumlah atom (struktur kimia) membentuk SG.
SG mineral dapat diukur di laboratorium jika kristal tersebut tidak terlalu kecil, dengan
persamaan berikut:

Specific Gravity (SG) = W1 / (W1 – W2 )


W1 = berat butir mineral di udara
W2 = berat butir mineral di dalam air

Sebagai perbadingan, untuk indetifikasi besar desitas mineral dapat digunakan mineral- mineral
berikut ini:
- Silikat, karbonat, sulfat, dan halida SG berkisar antara 2,2 - 4,0.
- Bijih logam, termasuk sulfida, dan oksida berkisar antara 4,5 - 7,5.
- Native element (logam), emas dan perak umumnya termasuk logam berat.

1.2.6. Goresan/Streak
Goresan adalah warna dari serbuk mineral yang dihasilkan ketika sampel mineral digosok pada
permukaan porselen. Warna goresan juga sering disebut sebagai warna asli mineral, sebagai
contoh warna goresan empat variasi hematit memiliki warna goresan merah hingga merah
kecoklatan. Sebagai catatan, dalam menentukan warna goresan suatu mineral harus dilakukan
pada kondis penyinaran yang cukup dan pada permukaan porselen yang bersih, serta pada
permukaan mineral yang segar.

1.2.7. Belahan dan Rekahan (Cleavage dan Fracture)


Belahan adalah kemampuan mineral pecah atau membelah melalui bidang datar/planar yang
menunjukkan kekuatan ikatan atom paling lemah. Arah belahannya pada umumnya sejajar
dengan suatu sisi kristal mineral. Bidang belah biasanya rata, halus, kadang berkilau. Tabel 1.1
menunjukan arah belahan suatu kristal mineral.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
5

Tabel 1.1. Bentuk-bentuk mineral dan kecenderungan bidang belahannya (Busch, 2015)

Tingkat belahan mineral yang biasanya dipakai dalam mengidentifikasi belahan mineral yaitu
sempurna (excellent), baik (good), cukup atau buruk (poor) dan tidak ada (absent).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
6

Tabel 1.2 Kualitas belahan kristal mineral

Kualitas Belahan Keterangan

Sempurna Bidang belahan sangat rata dan licin

Bidang belahan rata dan licin tidak sebaik yang sempurna, masih

Baik dapat pecah melalui bidang lain

Buruk Bidang belah jelas, tapi tidak begitu rata, tidak begitu licindan dapat
pecah pada arah lain dengan mudah
Tidak Ada Bidang belahan tidak jelas, bisa pecah kesegala arah kemungkinan
membentuk fracture atau pecahan sama besar

Sebagian mineral dapat pecah pada arah yang tidak sejajar dengan bidang belahnya, yang disebut
dengan fracture atau rekahan. Contoh yang paling mudah diidentifikasi adalah karakteristik
rekahan kuarsa yang membentuk lengkungan permukaan yang konsentris (concoidal fracture).
Istilah- istilah lain dalam mengidentifikasi rekahan mineral yaitu serabut (fibrous) pada asbes,
even (kasar tetapi kurang lebih datar), uneven (kasar dan sangat irregular/tidak beraturan),
hackly (pola bergerigi), splintery dan earthy (pola seperti berpasir).

1.2.8. Keliatan (Tenacity)


Keliatan adalah tingkat ketahanan suatu mineral untuk hancur atau melentur seperti malleability,
ductility, brittleness, dll.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
7

Tabel 1.3. Istilah dalam Identifikasi Keliatan Mineral

Brittle (tegar) Mudah hancur/pecah/getas

Elastic (lentur) Dapat dibentuk,dapat kembali ke posisi semula setelah gaya tiada

Flexible (liat) Dapat dibentuk, tidak kembali ke posisi semula

Malleable Dapat dibelah atau dipipihkan menjadi lembaran tanpa hancur/patah


Sectile Dapat dipotong dengan pisau

Ductile Dapat dibentuk sebagai kabel

1.2.9. Kekerasan (Hardness)


Kekerasan adalah ketahanan kristal suatu mineral terhadap goresan atau kikisan. Kekerasan
berhubungan dengan komposisi kimia mineral. Pada umunya mineral hydrous, mineral yang
mengandung molekul air, mempunyai tingkat kekerasan rendah atau soft misalnya: halida,
karbonat, sulfat, fosfat dan sulfida. Mineral Anhydrous (mineral yang tidak mengandung molekul
air) dan silikat memiliki tingkat kekerasan yang relatif Hard (pada skala Mohs >5).
Kekerasan suatu mineral dapat ditentukan dengan cara menggoreskan suatu mineral dengan
mineral lain atau suatu benda yang telah diketahui secara pasti skala kekerasannya. Skala mohs
dapat digunakan sebagai acuan kekerasan relatif suatu mineral. Skala Mohs memberikan skala 1
hingga 10 (dari soft hingga hard), setiap skala diwakili oleh suatu mineral sebagai acuan
kekerasan relatif. Untuk mengidentifikasi kekerasan mineral secara praktis dapat digunakan kuku
(±2,5), jarum tembaga (±3,5), pisau silet (5-5,5), pecahan kaca (±5,5), paku besi (±4,5), dan
kawat baja (±6,5).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
8

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
9

Gambar 1.3. Skala Mohs 1-10 menunjukkan tingkat kekerasan mineral (Busch, 2015). Mineral yang
memiliki skala >5.5 disebut mineral keras karena hanya dapat digores dengan paku baja dan mineral ini
dapat menggores gelas kaca (skala 5.5).

1.2.10. Magnetisme
Beberapa mineral- mineral yang mengandung besi bersifat magnetik yang artinya jika didekatkan
dengan kompas maka jarumnya akan berbelok dari arah utara. Contohnya, Mineral Magnetit
memiliki kekuatan magnet yang sangat kuat dan dapat menarik besi atau baja disekitarnya.

1.2.11. Reaksi dengan Asam


Beberapa mineral akan bereaksi dengan Asam Klorida (HCl), reaksi dengan mineral golongan
karbonat akan menghasilkan CO2 sedangkan pada beberapa bijih sulfida menghasilkan H2 S.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
10

1.3. PEMBAGIAN MINERAL


1. Mineral Silikat
Mineral silikat merupakan mineral pembentuk batuan yang paling banyak ditemukan di dibumi,
unsur-unsur utamanya terdiri dari Si, O, Al, Fe, Ca, Na, K dan Mg. Struktur kimia mineral silikat
ini mengikuti suatu pola tertentu (Gambar 1.4) yang nantinya akan berpengaruh terhadap sifat
fisik dan kimia mineral tersebut. Secara fisik, mineral- mineral silikat dapat dibedakan menjadi
gelap dan terang. Secara sederhana akan ada hubungan antara warna, komposisi mineral dan
peran individu mineral dalam kristalisasi dan pembentukan mineral silikat.

Gambar 1.4. Struktur Silikat (Britannia Encyclopedia, 2018)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
11

a. Mineral Silikat Gelap


Olivin ((Mg, Fe)K 2 SiO4 ), berwarna hijau gelap, H = 3,5, terbentuk pada temperatur
yang tinggi dan mengkristal paling awal (lihat Deret Bowen). Karena pada saat maupun
setelah konsolidasi kandungan air pada magma cukup besar menyebabkan olivin
beralterasi menjadi serpentin.
Serpentin (Mg3 [Si2 O5 ](OH)4 ), berwarna hijau, H = 3,5, SG = 2,6, mineral ini banyak
ditemukan pada alterasi batuan yang banyak mengandung mineral olivin. Batuan yang
kaya olivin yang mengalami alterasi ekstensif menjadi serpentin disebut serpentinit.
2+ 3+
Hornblenda (Na0-1 Ca2 (Mg,Fe ,Fe ,Al)5 [(Si,Al)8 O 22 ](OH)2 ), gelap, H = 3.3,
hornblenda mengandung silikat cukup banyak. Kristalisasinya dari magma mengandung
komponen air (disebut mineral basah), dan kemungkinan beralterasi menjadi klorit bila
kandungan air cukup banyak. Mineral ini sangat tidak stabil pada kondisi permukaan
(pelapukan). Hornblenda adalah mineral penting dalam batuan metamorf, terutama
metamorfosa batuan beku basaltik yang dikenal dengan amfibolit.
Biotit (K(Mg,Fe)3 [AlSi3 O 10 ](OH,F)2 ), berwarna merah, H = 3,0, SG = 2,9-3,4, bagian
dari kelompok mineral mika (Mica Group) yang berwarna gelap. Ikatan mineral ini
sangat lemah, sangat mudah membelah sepanjang bidang kristalnya. Mengkristal dari
magma yang mengandung air pada batuan beku yang banyak mengandung silika, juga
pada batuan sedimen dan metamorf. Dapat beralterasi menjadi klorit. Biotit
dimanfaatkan untuk bahan isolasi pada peralatan listrik, bila kristalnya cukup besar.
b. Mineral Silikat Terang
Feldspar, warna putih, merah, mineral ini dibagi menjadi dua yaitu K Feldspar
(K[AlSi3 O8 ] and Na[AlSi3 O8 ])dan Feldspar Plagioklas (Na[AlSi3 O8 ] and
Ca[Al2 Si2 O8 ]). Felspar ortoklas terdapat pada batuan beku yang kaya akan silika.
Felspar plagioklas merupakan kandungan utama yang penting dan dipakai sebagai dasar
klasifikasi batuan beku.
Kuarsa (SiO2 ), umumnya berwarna putih namun mempunyai warna yang beragam
akibat penambahan zat lain misalnya mangan memberi warna merah dan besi menjadi
warna ungu, H = 7, SG = 2,65, memiliki kilap kaca, pecahan konkoidal. Kuarsa banyak
dijumpai pada batuan yang kaya silika misalnya granit. Kuarsa banyak digunakan
sebagai bahan gelas dan bahan untuk industri alat-alat listrik.
Mineral lempung, mineral yang terbentuk dari alterasi dari mineral lain, contohnya
kaolinit, illit, vermikulit, smektit, klorit.
Muskovit (K2 Al4 Si6 Al2 O20 (OH)4), H = 2,5, SG = 2,7, termasuk kelompok mika yang
hampir sama dengan biotit. Terdapat pada batuan beku yang kaya akan Silika. Digunakan
sebagai bahan isolasi panas atau listrik. Muskovit terdapat juga pada batuan sedimen dan
metamorf. Seperti jenis mika lainnya, muskovit beralterasi menjadi montmorilonit.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
12

2. Mineral Non Silikat


Mineral silikat merupakan mineral yang dominan penyusun batuan, namun beberapa mineral non
silikat juga penting dalam menyusun batuan, misalnya kalsit. Mineral non silikat juga
kebanyakan mineral yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
a. Native elements, misalnya emas, perak, tembaga dan platina di alam dalam bentuk native
element. Mineral native non-metalic terdiri dari polimorf karbon yaitu intan dan grafit,
serta sulfur. Native sulphur memiliki H = 2, kuning, ortorombik kristal, terbentuk ketika
gas vulkanik aktif.
b. Sulfida, grup mineral yang sangat penting, kebanyakan yang termasuk dalam mineral bijih.
Semua mineralnya mempunyai kilap metalik dan densitas yang tinggi.
Galena (PbS), bentuk kristal kubik, belahan kubik sempurna, H = 2,5, SG = 7,5,
warnanya dan goresannya gelap keabu-abuan. Galena mengandung perak pada
strukturnya dan merupakan bijih yang penting untuk Pb dan Ag.
Spalerite (ZnS), bentuk kristal tetrahedral dengan belahan yang sempurna. H = 3,5-4, SG
= 4. Kilapnya non-metalik (kadang-kadang adamantine) dan biasanya coklat
kekuningan hingga gelap. Mineral ini bisanya ditemukan dengan galena.
Pirit (FeS2 ) berbentuk kubik, sisi kubusnya biasanya berstriasi (striated), H = 6-6,5, SG
= 5, mempunyai kilap metalik dan kuning pucat, goresannya berwarna gelap. Mineral
ini sering dijumpai sebagai aksesosri mineral pada banyak jenis batuan.
Kalkopirit, CuFeS2 , memiliki bentuk kristal tetragonal namun biasanya muncul dalam
bentuk masif, H = 3,5-4, SG = 4,2, kilap metallic kekuning-kuningan. Goresannya gelap
kehijauan. Ini merupakan bijih pneting untuk tembaga (copper).
c. Oksida
Hematit (Fe2 O3 ), memiliki bentuk kristal hexagonal dan khususnya membentuk kristal
tabular. Perawakan hematit kidney-like (reniform) dan micaceous (specular). Berwarna
coklat kemerahan dengan H = 5, SG = 5,26, kilap metallic, beberapa mungkin dull.
Goresannya coklat kemerahan. Hematit terbentuk dari oksidasi mineral pembawa Fe
yang lain. Mineral ini menjadi bijih ekonomis untuk pabrik baja.
Magnetit, magnetit dan kromit termasuk dalam grup spinel, dengan rumus kimia spinel
XY2 O4 , X adalah divalent dan Y adalah trivalent kation. Spinel berbentuk kubus dan
membentuk otahedral kristal, pada magnetit membentuk kristal gelap dengan kilap
metallic, H = 6 dan SG = 5,18.
Ilmenite (FeTiO 3 ), krital heksagonal namun perawakannya berbentuk agregat masif.
Kilap metallic-submetallic, H = 5,5-6 dan SG = 4,7 dengan goresan berwarna gelap.
Magnetiknya rendah. Mineral ini menjadi sumber untuk Ti dan TiO2 untuk pigmen
kertas dan cat.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
13

d. Klorida dan Florida


Halite (NaCl), mineral berbentuk kubus dengan belahan sempurna, massa kristal halite
disebut batu garam, H = 2,5 dan SG = 2,16. Garam terbentuk dari penguapan air laut
dan biasanya bersama dengan gypsum dan kalsit.
Fluorite (CaF2 ), mineral kubus, belahannya sempurna dan berbentuk oktahedral. Kristal
fluorite transparan dan translusen dengan H = 4, SG = 3,18. Fluorite biasanya
berasosiasi dengan mineral bijih di urat (vein).
e. Karbonat
Kalsit (CaCO 3 ), mineral trigonal dengan bentuk yang beragam, berwarna putih. Belahan
rombohedralnya sempurna, H = 3, SG = 2,71. Mineral ini dapat diidentifikasi dari
bentuk kristalnya, kekerasan, birefringence, dan reaksinya dengan HCl. Mineral ini
menjadi komponen utama dalam batukapur. Mineral ini juga banyak dijumpai
padabatuan beku dan batuan metamorf sebagai mineral aksesoris dan bersama dengan
banyak mineral bijih.
Aragonit (CaCO3 ), salah satu polimorf dengan komposis CaCO3 , berbentuk ortorombik.
Dolomite (CaMg(CO)2), berbentuk trigonal, H = 3,5-4, lebih keras dari kalsit dan bereaksi
lambat dengan HCl. Mucul di batuan sedimen.
f. Sulfat
Gypsum (CaSO 4 .2H2 O), bentuk kristal monoklin dengan perawakan tabular. H = 2, SG
= ~2,3, berwarna putih dan dapat juga transparan. Kristal gypsum juga disebut dengan
selenite. Gipsum banyak dijumpai pada batuan sedimen dan terbentuk akibat penguapan
air laut.
Barit (BaSO4), berwarna putih dengan bentuk kristal tabular ortorombik dan belahan yang
sempurna (001). Densitas tinggi untuk non-metalik mineral SG = 4,5 dan H = 3-3,5.
g. Fosfat
Apatite (Ca5 (PO4 )3 (F,Cl,OH)), mineral berbentuk hexagonal dengan perawakan kristal
prismatik panjang. Mineral ini berwarna kehijauan, H = 5 dapat digores dengan pisau,
SG = 3,18. Apatit muncul sebagai mineral aksesoris namun berkumpul dalam jumlah
yang besar, kadang-kadang dalam pegmatites mineral ini membentuk hexagonal hijau
yang besar.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
14

1.4. TAHAPAN IDENTIFIKASI MINERAL


Tabel 1.4 - 1.6 menunjukkan tahapan dalam mengindentifikasi mineral.
1) Pisahkan mineral- mineral yang memiliki kilap metalik dan non-metalik. Jika mineral
tersebut memiliki sifat metalik maka gunakan Tabel 1.4, namun jika mineral tersebut non-
metalik maka gunakan Tabel 1.5 dan 1.6.
2) Untuk mineral dengan kilap metalik (Tabel 1.4):
1. Tentukan kekerasan mineral, dan catat dalam mineral data chart (Gambar 1.13).
2. Tentukan goresan mineral, catat di mineral data chart (Gambar 1.13).
3. Tentukan juga sifat-sifat fisik lainnya seperti warna, segar atau tidak, belahan, sifat
magnetisme, keliatan, bentuk kristal (jika terlihat) dan SG-nya.
4. Gunakan sifat-sifat mineral untuk menentukan nama mineral. Periksa mineral yang telah
anda tentukan pada database mineral pada Gambar 1.5, periksa kesesuaian sifat fisik
mineral yang telah anda tentukan sebelumnya dengan yang ada dalam database.
5. Catat dalam mineral data chart (Gambar 1.13).
3) Untuk mineral- mineral non-metalik :
1. Tentukan kekerasan mineral, catat dalam mineral data chart (Gambar 1.13).
2. Tentukan belahan mineral.
3. Tentukan sifat-sifat fisik mineral yang lain seperti warna, keliatan, rekasi dengan asam,
bentuk kristal, kehadiran striasi, SG, dan lain-lain.
4. Gunakan sifat-sifat fisik ini untuk menentukan nama mineral pada Gambar 1.6 (mineral
non- metalik berwarna terang) atau Gambar 1.7 (mineral non- metalik berarna gelap).
Periksa database mineral Gambar 1.8 sampai Gambar 1.12, bandingkan sifat fisik
mineral yang telah anda catat dengan sifat fisik mineral dalam database tersebut.
5. Catat dalam mineral data chart (Gambar 1.13).
4) Daftar nama-nama mineral dapat merujuk ke Tabel 1.7.a - e.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
15

Tabel 1.4. Tahapan identifikasi mineral dengan kilap metalik dan sub metalik (Busch, 2015)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
16

Tabel 1.5. Tahapan identifikasi mineral berwarna gelap sampai medium dengan kilap non-metalik
(Busch, 2015)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
17

Tabel 1.6. Tahapan identifikasi mineral berwarna cerah dengan kilap non-metalik (Busch, 2015)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
18

Tabel 1.7.a. Database mineral dan sifat-sifat fisiknya (Busch, 2015)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
19

Tabel 1.7.b. Database mineral dan sifat-sifat fisiknya (Busch, 2015) (lanjutan)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
20

Tabel 1.7.c. Database mineral dan sifat-sifat fisiknya (Busch, 2015) (lanjutan)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
21

Tabel 1.7.d. Database mineral dan sifat-sifat fisiknya (Busch, 2015) (lanjutan)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
22

Tabel 1.7.e. Database mineral dan sifat-sifat fisiknya (Busch, 2015) (lanjutan)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
23

II. BATUAN BEKU DAN PIROKLASTIK

2.1. BATUAN
Batuan adalah kumpulan (aggregate) dari satu atau lebih mineral, yang merupakan bagian
dari kerak bumi. Terdapat tiga jenis batuan yang utama yaitu:
a. Batuan beku (igneous rock), terbentuk dari hasil pendinginan dan kristalisasi magma
didalam bumi atau dipermukaan bumi.
b. Batuan sedimen (sedimentary rock), terbentuk dari material sedimen hasil rombakan
batuan yang telah ada sebelumnya, akumulasi organic maupun proses kimia yang
mengalami proses sedimentasi dan litifikasi.
c. Batuan metamorf (metamorphic rock), batuan ubahan yang dipengaruhi oleh
tekanan, suhu atau keduanya didalam bumi dalam kurun waktu yang cukup lama.
Semua jenis batuan ini dapat diamati dipermukaan sebagai (singkapan) serta terdapat di
bawah permukaan. Proses pembentukannya juga dapat diamati saat ini seperti, kegiatan gunung
api yang menghasilkan beberapa jenis batuan beku, proses pelapukan, erosi, transportasi dan
pengendapan sedimen yang setelah melalui proses pembatuan (lithification) menjadi beberapa
jenis batuan sedimen. Kerak bumi ini bersifat dinamik, dan merupakan tempat berlangsungnya
berbagai proses yang mempengaruhi pembentukan ketiga jenis batuan tersebut. Sepanjang kurun
waktu dan akibat dari proses-proses ini, suatu batuan akan berubah menjadi jenis batuan yang
lain. Hubungan ini merupakan dasar dari jentera (siklus) batuan, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Siklus batuan (Plummer et al., 2016)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
24

2.2. PROSES PEMBENTUKAN BATUAN BEKU


Batuan beku merupakan terbentuk dari hasil pendinginan dan kristalisasi magma didalam
bumi atau dipermukaan bumi. Sumber panas yang diperlukan untuk meleburkan bahan ini
o
berasal dari dalam bumi, dimana temperatur bertambah dengan 300 C setiap kilometer
kedalaman (geothermal gradient). Bahan yang lebur ini, atau magma, adalah larutan yang
kompleks, terdiri dari silikat dan air, dan berbagai jenis gas. Magma dapat mencapai permukaan,
dikeluarkan (ekstrusi) sebagai lava, dan didalam bumi disebut batuan beku intrusif dan yang
membeku dipermukaan disebut sebagai batuan beku ekstrusif. Komposisi dari magma tergantung
pada komposisi batuan yang dileburkan pada saat pembentukan magma. Jenis batuan beku yang
terbentuk tergantung dari berbagai faktor diantaranya, komposisi asal dari peleburan magma,
kecepatan pendinginan dan reaksi yang terjadi didalam magma ditempat proses pendinginan
berlangsung. Pada saat magma mengalami pendinginan akan terjadi kristalisasi dari berbagai
mineral utama yang mengikuti suatu urutan atau orde, umumnya dikenal sebagai Seri Reaksi
Bowen.

Gambar 2.2 Seri Reaksi Bowen menjelaskan tahapan pembekuan mineral dari magma dan asosiasinya
dengan jenis batuan beku (Lutgens et al., 2012)

Pada Gambar 2.2 ditunjukkan bahwa mineral pertama yang terbentuk cenderung
mengandung silika rendah. Seri reaksi menerus (continuous) pada plagioklas dimaksudkan
bahwa, kristal pertama, plagioklas-Ca (anorthite), menerus bereaksi dengan sisa larutan selama
pendinginan berlangsung. Disini terjadi substitusi sodium (Na) terhadap kalsium (Ca). Seri tak-
menerus (discontinuous) terdiri dari mineral- mineral feromagnesian (Fe-Mg).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
25

Mineral pertama yang terbentuk adalah olivine. Hasil reaksi selanjutnya antara olivine dan sisa
larutannya membentuk piroksen (pyroxene). Proses ini berlanjut hingga terbentuk biotite.
Apabila magma asal mempunyai kandungan silika rendah dan kandungan besi (Fe) dan
magnesium (Mg) tinggi, magma dapat membeku sebelum seluruh seri reaksi ini terjadi. Batuan
yang terbentuk akan kaya Mg dan Fe, yang dikatakan sebagai batuan mafic, dengan mineral
utama olivin, piroksen dan plagioklas-Ca. Sebaliknya, larutan yang mengandung Mg dan Fe
yang rendah, akan mencapai tahap akhir reaksi, dengan mineral utama felspar, kwarsa dan
muskovit, yang dikatakan sebagai batuan felsic atau sialic. Seri reaksi ini adalah ideal, bahwa
perubahan komposisi cairan magma dapat terjadi di alam oleh proses kristalisasi fraksional
(fractional crystallization), yaitu pemisahan kristal dari cairan karena pemampatan (settling) atau
penyaringan (filtering), juga oleh proses asimilasi (assimilation) dari sebagaian batuan yang
terlibat akibat naiknya cairan magma, atau oleh percampuran (mixing) dua magma dari
komposisi yang berbeda (Gambar 2.3).

2.3. MORFOLOGI DAN SETTING BATUAN BEKU


Batuan intrusif dan batuan ekstrusif hadir bentuk geometri yang bermacam- macam.
Gambar 2.4 menunjukkan bentuk-bentuk batuan beku yang umumnya dijumpai di alam, dan
hubungan antara jenis batuan dan keberadaannya ditunjukkan pada Tabel 2.1. Masa batuan beku
(pluton) intrusif adalah batolit (batholith), umumnya berkristal kasar (phaneritic), dan
berkomposisi granitik. Stok (stock), mempunyai komposisi yang sama, berukuran lebih kecil (<
100 km). Korok (dike) berbentuk meniang (tabular), memotong arah struktur tubuh batuan.
Bentuk-bentuk ini, didasarkan pada hubungan kontaknya dengan struktur batuan yang diterobos
disebut sebagai bentuk batuan beku yang diskordan (discordant igneous plutons). Sill, berbentuk
tabular, dan Lakolit (lacolith), tabular dan membumbung dibagian tengahnya, memotong sejajar
arah umum batuan, yang disebut sebagai bentuk batuan beku yang konkordan (concordant
igneous plutons).

Gambar 2.3. Pendinginan magma dengan proses kristalisasi fraksional. (Plummer etc., 2016)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
26

Tabel 2.1. Hubungan antara jenis batuan dan keberadaannya pada kerak bumi (Pedoman Praktikum
Geologi Fisik ITB. 2013)

(a)
(b)
Gambar 2.4. Bentuk umum tubuh batuan beku pada kerak bumi. Catatan : stock dengan ukuran besar
dinamakan batolith ((a) oleh Lutgens, dkk (2012) dan (b) oleh Plummer (2016)).

2.4. MINERALOGI BATUAN BEKU


Pada dasarnya sebagian besar (99%) batuan beku hanya terdiri dari unsur- unsur utama
yaitu ; oksigen (O), silikon (Si), aluminium (Al), besi (Fe), kalsium (Ca), sodium, potasium (K)
dan magnesium (Mg). Unsur- unsur ini membentuk mineral silikat utama, yaitu : felspar, olivin,
piroksen, amfibol, kwarsa dan mika. Mineral-Mineral ini menempati lebih dari 95% volume
batuan beku, dan menjadi dasar untuk klasifikasi dan menjelaskan tentang magma asal.
Komposisi mineral berhubungan dengan sifat warna batuan. Batuan yang banyak mengandung
mineral silika dan alumina (felsik) akan cenderung berwarna terang, sedangkan yang banyak
mengandung magnesium, besi dan kalsium umumnya mempunyai warna yang gelap. Gambar
2.5 menjelaskan pembagian batuan beku berdasarkan (1) komposisi kimia, (2) komposisi
mineral, dan (3) tekstur dari ukuran minera yang terlihat.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
27

Gambar 2.5. Klasifikasi umum batuan beku berdasarkan (1) tekstur fanerik dan afanitik, (2) komposisi
mineral, dan (3) komposisi kimia. Tabel paling atas merupakan nama-nama batuan beku yang
berasosiasi dengan komposisi tertentu (Busch, 2015).

2.5. TEKSTUR
Tekstur adalah kenampakkan dari ukuran, bentuk dan hubungan keteraturan butiran atau kristal
dalam batuan. Tekstur pada batuan beku dapat dibagi berdasarkan:

a. Kristalinitas
Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya
batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak
yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat mencerminkan
kecepatan pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya berlangsung lambat maka
kristalnya kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus,
akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk
amorf.

Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
28

● Holokristalin, yaitu batuan beku di mana semuanya tersusun oleh kristal. Tekstur
holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah
membeku di dekat permukaan.
● Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi
terdiri dari massa kristal.
● Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. Tekstur
holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies
yang lebih kecil dari tubuh batuan.

b. Granularitas
Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya
dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:
● Fanerik, Terdiri dari mineral yang dapat diamati secara makroskopik, berbutir (kristal)
kasar, umumnya lebih besar dari 1 mm sampai lebih besar dari 5 mm. Pada pengamatan
lebih seksama dibawah mikroskop
● Afanitik, Terdiri dari mineral berbutir (kristal) halus, berukuran mikroskopik, lebih
kecil dari 1 mm, dan tidak dapat diamati dibawah pengamatan biasa.

c. Bentuk Kristal
Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan
secara keseluruhan. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal,
yaitu:
● Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.
● Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi.
● Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.

Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu:
Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya sama panjang.
● Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi yang lain.
● Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi yang lain.
● Irregular, apabila bentuk kristal tidakteratur.

d. Hubungan Antar Kristal


Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan sebagai hubungan antara kristal
mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi dapat dibagi
menjadi dua, yaitu:
● Equigranular
Yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya yang membentuk batuan berukuran sama
besar. Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular dibagi menjadi tiga,
yaitu:

1) Panidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral- mineralnya terdiri


dari mineral- mineral yang euhedral.
2) Hipidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral- mineralnya terdiri
dari mineral- mineral yang subhedral.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
29

3) Allotriomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral- mineralnya terdiri


dari mineral- mineral yang anhedral.

● Inequigranular
Istilah ini digunakan apabila ukuran butir kristalnya sebagai pembentuk batuan tidak
sama besar. Mineral yang besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau
matrik yang bisa berupa mineral atau gelas. Apabila kristal-kristal penyusun massa dasar
dapat terlihat jelas dengan mata atau lup maka disebut Faneroporfiritik, dan apabila
kristal penyusun massa dasar tidak dapat terlihat dengan mata atau lup maka disebut
Faneroafanitik
Tekstur pada batuan beku merupakan pencerminan mineralogi dan proses pembekuan
magma atau lava pada tempat pembentukannya. Tekstur fanerik adalah hasil pembekuan yang
lambat, sehingga dapat terbentuk kristal yang kasar. Umumnya terdapat pada batuan plitonik.
Tekstur afanitik atau berbutir halus, umumnya terdapat pada batuan ekstrusif, yang merupakan
hasil pembekuan yang bertahap, dari proses pendinginan yang lambat, dan sebelum keseluruhan
magma membeku, kemudian berubah menjadi cepat. Tekstur vesikuler merupakan ciri aliran
lava, dimana terjadi lolosnya gas pada saat lava masih mencair, menghasilkan rongga-rongga.
Tekstur gelas terjadi karena pendinginan yang sangat cepat tanpa disertai gas, sehingga larutan
mineral tidak sempat membentuk kristal (amorf). tekstur ini umumnya terdapat pada lava.

Gambar 2.6 Skema hubungan lokasi pembekuan dengan tekstur pada batuan beku (Lutgens, dkk, 2012).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
30

2.6 STRUKTUR
Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang meliputi kedudukan lapisan yang
jelas/umum dari lapisan batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat
dilapangan saja, misalnya:
● Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut,
membentuk struktur seperti bantal.
● Joint struktur (Columnar joint), merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar
hexagonal yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran. Struktur ini biasanya
terjadi pada batuan beku ekstrusif (basalt). Columnar joint dapat menunjukkan arah
pendinginan magma disuatu batuan.

Sedangkan, struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh batuan (hand speciment sample), yaitu:
● Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak
menunjukkan adanya lubang- lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang
tertanam dalam tubuh batuan beku.
● Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang- lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas
pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur.
● Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-lubangnya besar
dan menunjukkan arah yang tidak teratur.
● Amigdaloidal, yaitu struktur di mana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral- mineral
sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat.
● Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan batuan lain yang
masuk dalam batuan yang mengintrusi.

2.7 KLASIFIKASI BATUAN BEKU


Dasar untuk mengelompokan batuan beku yang terutama adalah kriteria tentang komposisi
mineral dan tekstur. Kriteria ini tidak saja berguna untuk pemerian batuan, akan tetapi juga untuk
menjelaskan asal kejadian batuan. Banyak sekali klasifikasi yang dapat dipakai, yang penting
untuk diketahui untuk kriteria mineralogi adalah :
 Kehadiran mineral Felsik (Felspar-Silika/kuarsa)
- Kehadiran Mineral Kuarsa
Kwarsa adalah mineral utama pada batuan felsik karena mineral ini mengandung silika yang
tinggi. Mineral ini memiliki kekerasan (H=7) dan berwarna putih-transparan.
- Komposisi dari Felspar
K-Felspar dan Na-Felspar adalah mineral- mineral utama pada batuan felsik, tetapi jarang atau
tidak terdapat pada batuan menengah atau mafik. Selain kuarsa dan felspar batuan beku felsic
juga terdapat beberapa mineral menengah seerti hornblende dan Na-Plagioklas
 Kehadiran mineral Mafik (Magnesium/Mg dan Besi/Fe)
- Proporsi Mineral Feromagnesia (Fe-Mg)
Sebagai batasan umum, batuan mafik kaya akan mineral Fe-Mg. Olivin umumnya hanya terdapat
pada batuan mafik. Piroksen dan amfibol hadir pada batuan mafik sampai menengah. Biotit
umumnya terdapat pada batuan menengah sampai felsik. Ca-Plagioklas adalah mineral
karakteristik batuan mafik.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
31

Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO 2 menurut (C.L. Hugnes, 1962), yaitu:


● Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah riolit.
● Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%. Contohnya adalah
dasit.
● Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya adalah andesit.
● Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah
basalt.

Namun klasifikasi diatas hanya digunakan saat adanya pembuktian secara geokimia, karena
lab geologi dasar hanya pemangatan secara megaskopis/ langsung, maka klasifikasi diatas jarang
digunakan. Batuan beku Felsik atau Mafiq tidak sama dengan batuan beku asam atau basa.
Batuan beku felsic dan mafik dilihat dari banyaknya kandungan mineral felsic dan mafik
didalamnya. Sedangkan batuan beku asam atau basa dilihat dari kandungan SiO2-nya.

Gambar 2.7 klasifikasi batuan beku berdasarkan tekstur (Lutgens et al., 2012)

Gambar 2.8 contoh batuan beku (Lutgens et al., 2012)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
32

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA

2.8 BATUAN PIROKLASTIK


Batuan piroklastik merupakan batuan klastik yang terbentuk dari material vulkanik yang
berhubungan dengan aktivitas vulkanik seperti erupsi gunung api. Piroklastik yang tertranspor
dan terolah kembali melalui proses mekanik disebut dengan vulkanoklastik. Akumulasi material
piroklastik atau sering pula disebut sebagai tephra merupakan hasil banyak proses yang
berhubungan dengan erupsi vulkanik tanpa memandang penyebab erupsi dan asal dari
materialnya. Fisher, 1984, menyatakan bahwa fragmen piroklastik merupakan fragmen
"seketika" yang terbentuk secara langsung dari proses erupsi vulkanik. Material piroklastik saat
dierupsikan gunung api memiliki sifat fragmental, dapat berujud cair maupun padat. Setelah
menjadi massa padat material tersebut disebut sebagai batuan piroklastik.

Material selain piroklastik adalah sebagai berikut:


- Material Hidroklastik
Material ini dihasilkan oleb suatu erupsi hidrovulkanik yakni erupsi yang terjadi karena
kontak air dengan magma. Berdasarkan cara transportasi sebelum diendapkan, akumulasi
material hidroklastik dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
● Endapan Hidroklastik Jatuhan, adalah endapan yang terjadi dari akumulasi material
hidroklastik yang dilemparkan dari pusat erupsi ke udara dan kemudian jatuh di tempat
pengendapannya. Cara transportasi material hidroklastik jatuhan dapat dibedakan
menjadi 2 yaitu transportasi gerak peluru (trajectory) dan turbulensi awan erupsi.
● Endapan Hidroklastik Aliran, terjadi dari akumulasi material hidroklastik yang
terlempar dari pusat erupsi, kemudian bergerak sepanjang permukaan bumi menuju
tempat pengendapannya.
- Material Autoklastik
Material ini di alam dijumpai sebagai breksi vulkanik autoklastik yaitu bentuk fragmentasi
padat karena letusan gas- gas yang ada di dalamnya karena oleh penghancuran lava (Wright,
1963 vide Willard, 1968). Jadi material ini merupakan gesekan oleh penghancuran lava
sebagai hasil dari perkembangan lanjut dari pembekuan.
- Material Alloklastik
Material ini sering disebut sebagai breksi vulkanik alloklastik yaitu breksi yang dibentuk oleh
fragmentasi dari beberapa batuan "preexisting" oleh proses vulkanik bawah permukaan
(Wright; 1963, Willard; 1968). Jadi proses breksiasi dari batuan ini terjadi di dalam gunung
api baru kemudian ekstrusi sebagai aliran breksi. Breksiasi ini mungkin dihasilkan oleh
pengembangan gas atau oleh runtuhnya gunung api yang kemudlan terbentuk rongga-rongga
dan akhirnya diikuti erupsi. Aliran breksi pada tipe ini terjadi pada derajat kemiringan dan
bergerak dari gunung api dengan media air menjadi lahar. Proses yang seperti ini
mengakibatkan batuan ini sukar dibedakan dengan breksi laharik. Ciri dari breksi ini adalah
ketebalannya yang besar dan tidak berlapis, material penyusunnya sangat kasar dan tidak
tersortasi. Fragmen mempunyai ukuran beraneka ragam, heterolitologi. Fragmen pumis,
skoria dan batuan afanitik jarang dijumpai.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
33

- Material Epiklastik.
Material ini merupakan hasil dari pelapukan dan erosi dari batuan vulkanik dan umumnya
bukan merupakan hasil vulkanisme yang seumur. Karena endapan epiklastik ini merupakan
hasil proses rework dan telah mengalami transportasi maka pada umumnya fragmen-
fragmennya lebih rounded dan material piroklastik maupun hidroklastik. Fragmen- fragmen
tersebut dapat terbentuk oleh proses-proses non vulkanik atau proses epigenik sehingga
membentuk modifikasi butiran yang agak membulat. Material epiklastik di alam sering
dijumpai sebagai breksi laharik.

2.9 KLASIFIKASI
Pembuatan klasifikasi batuan piroklastik sudah banyak dibuat oleh para ahli, tetapi masih terjadi
kekurangan maupun perbedaan tentang batuan piroklastik. Klasifikasi berdasarkan
perkembangan terbentuknya batuan piroklastik sangat sulit, sedangkan saat ini klasifikasi
didasarkan pada (a) asal - usul fragmen, (b) ukuran fragmen, dan (c) komposisi fragmen.

a. Klasifikasi berdasarkan asal - usul fragmen


Batuan piroklastik yang merupakan hasil endapan bahan volkanik dari letusan tipe eksplosif
maka Johnson dan Levis (1885), Mac Donald (1972) membuat klasifikasi sebagai berikut
- Essential : fragmen berasal langsung dari pembekuan magma segar
- Accessor : fragmen berasal dari lava atau piroklastik yang terdapat pada kerucut
volkanik
- Accidental : fragmen yang berasal dari batuan lain yang tidak menunjukkan gejala
pembekuan, metamorfisme

b. Klasifikasi berdasarkan ukuran dari fragmen


Tabel 2.2. Jenis-jenis ukuran fragmen piroklastik (Plummer et al., 2016)
Dust <1/8 millimeter
Ash 1/8–2 millimeters
Cinder or lapilli 2–64 millimeters
Blocks and bombs >64 millimeters

c. Klasifikasi berdasarkan komposisi


fragmen Klasifikasi batuan piroklastik dari:
- Breksi volkanik : tersusun dari fragmen- fragmen diameter > 32 mm, bentuk fragmen
meruncing
- Aglomerat : fragmen berupa born-born dengan ukuran > 32 mm
- Lapili/tuf lapili: fragmen tersusun atas lapili yang berukuran antara 4 mm -32 mm
- Tuf kasar : fragmen-fragmen tersusun atas abu kasar dengan ukuran butir terletak
antara 0,25 mm - 4 mm

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
34

Gambar 2.9. Lockwood, J. P., & Hazlett, R. W. (2013)

Gambar 2.10. Pyroclastic Rocks Classification Fisher, 1966

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
35

III. BATUAN SEDIMEN

3.1 KEJADIAN BATUAN SEDIMEN


Batuan sedimen terbentuk dari material lepas dan material terlarut hasil dari proses rombakan
secara mekanis dan kimia pada batuan yang telah ada sebelumnya (batuan induk), cangkang
binatang, dan sisa tumbuhan. Proses sedimentasi dari batuan asal menjadi batuan sedimen
mencakup pelapukan (mekanis atau kimia), erosi, transportasi, pengendapan, litifikasi/kompaksi,
dan diagenesis.
Berdasarkan pembentukannya, jenis-jenis batuan sedimen dapat dibagi menjadi batuan sedimen :
(1) Detritus (detrital, berasal dari rombakan batuan asal, misalnya batupasir)
(2) Kimiawi (chemical, berasal dari presipitasi mineral pada temperatur muka bumi, misalnya
batugamping)
(3) Organik (organic, berasal dari konsolidasi tumbuhan yang telah mati, misalnya batubara).

3.2 TEKSTUR BATUAN SEDIMEN


a. Warna
Merupakan warna sampel batuan secara
keseluruhan yang dapat menjelaskan
komposisi batuan tersebut. Warna
merupakan parameter yang paling mudah
diamati tanpa perlu memberikan perlakuan
khusus pada batuan.

b. Fragmen, Matrix, dan Semen


Semen adalah bahan yang mengikat butiran.
Semen terbentuk pada saat pembentukan
batuan, dapat berupa silika, karbonat,
oksida besi atau mineral lempung. Masa
dasar (matrix) adalah masa dimana butiran
berada dalam satu kesatuan. Masa dasar
terbentuk bersama-sama fragmen pada saat
sedimentasi, dapat berupa bahan semen atau
butiran yang lebih halus. Sedangkan
fragmen adalah butiran besar yang dominan
pada suatu batuan.

c. Besar Butir (Grain Size)


Besar butir adalah ukuran (diameter dari
fragmen batuan). Skala pembatasan yang
dipakai adalah “Skala Wentworth”,
sehingga penamaan butiran sedimen
didasarkan atas besar ukuran butirnya
(Tabel 3.1)
Tabel 3.1 Klasifikasi skala Wenworh
LABORATORIUM GEOLOGI DASAR
UNIVERSITAS PERTAM INA
36

d. Pemilahan (Sorting)
Pemilahan adalah tingkat keseragaman besar butir. Istilah- istilah yang dipakai adalah
“terpilah baik” (butir-butir sama besar), “terpilah sedang” dan “terpilah buruk” (Gambar 3.1).

Gambar 3.1 Perbandingan pemilahan sedimen (Powers, M.C., 1953)

e. Kebulatan dan Kebundaran (Roundness and Sphericity)


Kebulatan (roundness) merupakan tingkat ketumpulan bagian tepi dari suatu butir penyusun
batuan sedimen. Kebulatan secara interval dapat dikategorikan mulai dari sangat membulat
(well rounded) hingga sangat menyudut (very angular). Sedangkan, kebundaran (sphericity)
adalah tingkat proporsionalitas dari bentuk suatu butir penyusun batuan yang dapat dilihat dari
perbandingan antara dimensi atau panjang butiran pada sumbu x, y, dan z. Kebundaran secara
garis besar dibagi menjadi low sphericity dan high sphericity. Perbandingan antara kategori
kebulatan dan kebundaran dapat dilihat pada (Gambar 3.2).

Gambar 3.2 Perbandingan kebundaran (Powers, M.C., 1953)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
37

f. Kemas (Fabric)
Kemas adalah sifat hubungan antar butir di dalam suatu masa dasar atau di antara semennya.
Istilah- istilah yang dipakai adalah “kemas terbuka” digunakan untuk butiran yang tidak saling
bersentuhan, dan “kemas tertutup” untuk butiran yang saling bersentuhan.

Gambar 3.3 Perbandingan kemas pada butiran

g. Kontak antar Butir


Kontak antar butir menggambarkan bidang sentuh antar butiran penyusun batuan sedimen.
Kontak antar butir dibagi menjadi point contact, long contact, concave-convex contact, dan
suture contact.

Gambar 3.4 Perbandingan kontak antar butir pada batuan

h. Porositas
Porositas adalah perbandingan antara jumlah volume rongga dan volume keseluruhan dari satu
batuan. Dalam hal ini dapat dipakai istilah-istilah kualitatif yang merupakan fungsi daya serap
batuan terhadap cairan. Porositas ini dapat diuji dengan meneteskan cairan. Istilah-istilah yang
dipakai adalah “porositas sangat baik” (very good), “baik” (good) , “sedang” (fair) , dan “buruk”
(poor).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
38

3.3 STRUKTUR SEDIMEN


Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer, yaitu struktur yang terbentuk pada saat
pembentukan batuan (pada saat sedimentasi). Beberapa struktur sedimen yang dapat diamati
pada satuan antara lain :

a. Perlapisan (Lamination)
Perlapisan adalah bidang kemasan waktu
yang dapat ditunjukkan oleh perbedaan
besar butir atau warna dari bahan
penyusunannya. Jenis perlapisan
beragam dari sangat tipis (<1cm) yang
disebut laminasi, sampai sangat tebal
(>1cm) yang disebut bedding.

Gambar 3.5 Struktur perlapisan lamination

b. Perlapisan Bersusun (Graded Bedding)


Merupakan susunan perlapisan dari butir
yang kasar berangsur menjadi halus pada
satu satuan perlapisan. Struktur ini dapat
dipakai sebagai petunjuk bagian bawah
dan bagian atas dari perlapisan tersebut.
Umumnya butir yang kasar merupakan
bagian bawah (bottom) dan butiran yang
halus merupakan bagian atas (top).

Gambar 3.6 Struktur perlapisan bersusun

c. Perlapisan Silang-siur (Cross Bedding)


Merupakan bentuk lapisan yang
terpotong pada bagian atasnya oleh
lapisan berikutnya dengan sudut yang
berlainan dalam satu satuan perlapisan.
Lapisan ini terutama terdapat pada
batupasir.

Gambar 3.7 Struktur perlapisan silang-siur

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
39

d. Gelembur Gelombang (Current Ripple)


Bentuk perlapisan bergelombang, seperti
berkerut dalam satu lapisan.

Gambar 3.8 Struktur gelembur gelombang

e. Flute cast
Struktur sedimen berbentuk suling dan
terdapat pada dasar suatu lapisan yang
dapat dipakai untuk menentukan arus
purba.

Gambar 3.9 Struktur flute cast

f. Load cast
Struktur sedimen yang terbentuk akibat
pengaruh beban sedimen di atasnya.

Gambar 3.10 Struktur load cast

3.4 KOMPOSISI BATUAN SEDIMEN


Batuan sedimen dibentuk dari material batuan lain yang telah mengalami pelapukan dan stabil
dalam kondisi temperature dan tekanan permukaan. Batuan sedimen dibentuk oleh 4 (e mpat)
material utama yaitu :
a. Kuarsa
Kuarsa adalah salah satu dari mineral- mineral klastik pada batuan sedimen yang berasal dari
batuan granit kerak kontinental, bersifat keras, stabil dan tahan terhadap pelapukan. Kuarsa
tidak mudah lapuk walaupun telah mengalami transportasi oleh air, malahan sering
terakumulasi seperti endapan pasir fluvial pada lingkungan pantai.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
40

b. Kalsit
Kalsit adalah mineral utama pembentuk batugamping (limestone) yang juga dapat berfungsi
sebagai semen pada batupasir dan batulempung. Kalsium (Ca) berasal dari batuan-batuan
beku, sedangkan karbonat berasal dari air dan karbon dioksida. Kalsium diendapkan sebagai
CaCO3 atau diambil dari air laut oleh organisme-organisme dan dihimpun sebagai material
cangkang. Ketika organisme tersebut mati, fragmen- fragmen cangkangnya biasanya
terkumpul sebagai partikel klastik yang paling kaya membentuk macam-macam batugamping.
c. Lempung
Mineral- mineral lempung berasal dari pelapukan silikat, khususnya feldspar. Mereka sangat
halus serta terkumpul dalam lumpur dan serpih. Kelimpahan feldspar dalam kerak bumi dan
bukti bahwa pelapukan secara cepat dibawah kondisi atmosfer, terlihat dari mineral- mineral
lempung pada batuan-batuan sedimen dalam jumlah yang besar.
d. Fragmen-fragmen batuan
Batuan sumber yang telah mengalami pelapukan membentuk fragmen- fragmen berbutir kasar
dan endapan klastik seperti kerikil. Fragmen-fragmen batuan juga hadir sebagai butiran dalam
beberapa batuan berukuran halus.

3.5 KLASIFIKASI BATUAN SEDIMEN


a. Golongan detritus/klastik
- Breksi (Breccia)
Berukuran butir lebih besar dari 2 mm, dengan fragmen menyudut, umumnya terdiri dari
fragmen batuan hasil rombakan yang tertanam dalam masa dasar yang lebih halus dan
tersemenkan. Bahan penyusun dapat berupa bahan dari proses vulkanisme yang disebut
breksi volkanik.
- Batupasir (Sandstone)
Berukuran butir antara 1/16 mm - 2 mm. Dapat dikelompokkan menjadi, Batupasir halus,
sedang dan kasar. Jenis-jenis batupasir ditentukan oleh bahan penyusunannya misalnya ;
“greywacke” yaitu batupasir yang banyak mengandung material vulkanik. “arkose”, yaitu
batupasir yang banyak mengandung feldspar dan kuarsa. Terkadang komposisi utama
dipakai untuk penamaannya, misalnya; Batupasir kuarsa, “Kalkarenit” yaitu hampir
keseluruhannya terdiri dari butiran gamping.
- Batulanau (Siltstone)
Berukuran butir antara 1/256 - 1/16 mm, perbedaan dengan batupasir atau betulempung
hanya perbedaan besar butirnya.
- Batulempung (Claystone)
Berukuran butir sangat luas, lebih kecil dari 1/256 mm. Umumnya terdiri dari mineral-
mineral lempung. Perbedaan komposisinya dapat dicirikan dari warnanya (berhubungan
dengan lingkungan pengendapan) Serpih (Shale) mempunyai sifat-seperti batulempung
atau batulanau, tetapi pada bidang - bidang lapisan memperlihatkan belahan yang
menyerpih (berlembar).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
41

- Napal (Marl)
Napal adalah batulempung yang mempunyai komposisi karbonat yang tinggi, yaitu antara
30% - 60%. Sifat ini dapat berangsur menjadi lebih kecil dari 30% yang dikenal dengan
nama batulempung gampingan dan dapat lebih besar dari 60% yang disebut batugamping
lempungan (umum dijumpai dalam pemerian batuan detrius yang mengandung unsur
karbonat).

b. Golongan karbonat
Secara umum dinamakan batugamping (limestone) karena komposisi utamanya adalah
mineral kalsit (CaCO 3 ). Termasuk pada kelompok ini adalah Dolomit (Ca, Mg (CO 3 )2 ).
Sumber yang utama batugamping adalah “terumbu” (reef), yang berasal dari kelompok
binatang laut. Pada batugamping klastik, sedimentasi mekanis sangat berperan, dimana bahan
penyusun merupakan hasil rombakan dari sumbernya. Dikenal beberapa jenis batugamping :
(1)Kalkarenit, yaitu batupasir dengan butiran gamping/kalsit.
(2)Kalsirudit yaitu berukuran butir lebih besar dari 2 mm
(3)Batugamping bioklastik atau batugamping kerangka (Skeletal), merupakan batugamping
klastik. Pada sedimentasi organik dikenal “Batugamping terumbu” dimana bahan
penyusun terdiri dari Koral, Foraminifera dan Ganggang yang saling mengikat satu sama
lainnya.

Sedimentasi yang sifatnya kimiawi, merupakan hasil penguapan larutan gamping, dikenal
sebagai “batugamping kristalin”, terdiri dari kristal kalsit. Dapat disebut dolomit, jika terjadi
penggantian kristal kalsit menjadi dolomit.
Klasifikasi batuan karbonat umumnya mengikuti klasifikasi Dunham (1962). Hal utama yang
diperhatikan dalam penentuan sesuai klasifikasi tersebut adalah :
1. Kehadiran dan jenis dari susunan material organik atau fosil
2. Besar butir
3. Proporsi antara partikel dan masa dasar, saat butiran mengambang di matrix adalah
matrix-supported sedangkan bila butiran saling bersentuhan adalah grain-supported.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
42

Gambar 3.11 Klasifikasi batuan karbonat (Dunham, 1962)

c. Golongan evaporit
Umumnya batuan ini terdiri dari mineral, dan umumnya merupakan nama dari batuan
tersebut. misalnya :
- Anhidrit, yaitu garam gipsum (CaSO 4 ), garam halit/rocksalt (CaSO 4 xH2 O) yaitu garam
NaCl.
- Batubara, termasuk dari sisa tumbuhan yang telah mengalami proses tekanan dan
pemanasan. Dapat dibedakan jenisnya berdasarkan kematangannya dan variasi komposisi
karbon (C) dan hidrogen (H). Jenis batubara diantaranya :
1. Lignite, merupakan tingkatan paling rendah dari kualitas batubara, dengan
persentase karbon lebih sedikit dari sub bituminous dan masih banyak mengandung
material pengotor.
2. Sub bituminous, merupakan tingkatan menengah dari kualitas batubara, memiliki
kandungan karbon dibawah 69%.
3. Bituminous, adalah batubara berkualitas baik dengan kandungan karbon sebesar
69% hingga 86%.
4. Anthracite, adalah tingkatan paling tinggi dari kualitas batubara, memiliki
kandungan karbon sebesar 86% hingga 98%.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
43

d. Golongan Silika
Terdiri dari batuan yang umumnya diendapkan pada lingkungan laut dalam, bersifat kimiawi
dan kadang-kadang juga berasosiasi dengan organisme seperti halnya radiolaria dan diatom.
Contoh batuan ini adalah : chert (rijang) radiolarit tanah diatom.

Gambar 3.12 Bagan klasifikasi batuan sedimen (Koesoemadinata, 1985)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
44

IV. BATUAN METAMORF

4.1 KEJADIAN BATUAN METAMORF


Batuan metamorf adalah batuan ubahan yang terbentuk dari batuan asalnya yang telah terbentuk
sebelumnya, berlangsung dalam keadaan padat, akibat pengaruh peningkatan suhu (T) dan
tekanan (P), atau pengaruh kedua-duanya yang disebut proses metamorfisme dan berlangsung di
bawah permukaan. Proses metamorfosis meliputi : (1) rekristalisasi, (2) reorientasi dan (3)
pembentukan mineral baru dari unsur yang telah ada sebelumnya. Metamorfisme tidak
mengubah komposisi kimia batuan.
4.2 JENIS METAMORFISME
1) Metamorfisme thermal (kontak), adalah metamorfisme karena temperature yang sangat
tinggi (pengaruh tekanan dan temperatur, akan tetapi temperatur-nya jauh lebih tinggi dan
lebih berpengaruh dibandingkan tekanan, proses ini) diakibatkan oleh aktiftas intrusi
magma.
2) Metamorfisme dinamis, adalah metamorfisme akibat
kenaikan tekanan (P) dan Temperatur (T), dengan
dominasi P yang jauh lebih tinggi dibandingkan T yang
sangat tinggi. Pada umumnya proses ini terjadi di daerah
pergeseran/pergerakan yang dangkal, misalnya zona
patahan, di mana tekanan lebih berperan dari pada panas
yang timbul.
3) Metamorfisme regional, proses yang berperan adalah
kenaikan tekanan dan temperature yang tinggi. Kenaikan
P dan T di metamorfisme regional jauh lebih tinggi
dibandingkan 2 proses metamorfisme sebelumnya,
dengan proporsi yang hampir sama. Proses ini
berhubungan dengan aktifitas teknonik, terutama pada
zona subduksi atau pembentukan pegunungan.

Gambar 4.1. Jenis-jenis metamorfisme

4.3 TEKSTUR BATUAN METAMORF


Tekstur batuan metamorf ditentukan dari bentuk kristal dan hubungan antar butiran mineral
(Gambar 4.1).
a. Homeoblastik, terdiri dari satu macam bentuk :
-“Lepidoblastik”, mineral- mineral pipih dan sejajar.
-“Nematoblastik”, bentuk menjarum dan sejajar, serta.
-“Granoblastik”, berbentuk butir.
-“Porfiroblastik”, bentuk mineral pipih yang mengelilingi mineral yang besar.

b. Heteroblastik, terdiri dari kombinasi tekstur homeoblastik.


LABORATORIUM GEOLOGI DASAR
UNIVERSITAS PERTAM INA
45

4.4 STRUKTUR BATUAN METAMORF

a. Foliasi
Struktur penciri pada batuan metamorf yang terpenting adalah “foliasi”, yaitu hubungan tekstur
yang memperlihatkan orientasi kesejajaran. Orientasi kesejajaran mineral ini tidak berhubungan
dengan perlapisan batuan sedimen. Foliasi juga mencerminkan derajat metamorfisme. Jenis-jenis
foliasi di antaranya :
a. Gneissic : perlapisan dari mineral- mineral yang membentuk jalur terputus-putus, dan terdiri
dari tekstur lepidoblastik dan granoblastik.
b. Schistosity : perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari selang-seling tekstur
lepodoblastik dan granoblastik.
c. Phyllitic : perlapisan mineral- mineral yang menerus dan terdiri dari tekstur lepidoblastik.
d. Slaty : merupakan perlapisan, umumnya terdiri dari mineral yang pipih dan sangat luas.

Gambar 4.2. Tekstur batuan metamorfik (Busch, 2015)


b. Non-Foliasi
Jenis batuan metamorf yang tidak berfoliasi dapat menunjukkan tekstur granulose. Mineral pada
tekstur ini berbentuk butir, berukuran relatif sama, atau masif. Batuan metamorf non-foliasi yang
berasal dari hasil metamorfisme dinamis, umumnya harus diamati secara langsung di lapangan.
Contohnya: “breksi kataklastik” di mana fragmen- fragmen yang terdiri dari masa dasar yang
sama menunjukkan orentasi arah; “jalur milonit”, yaitu sifat tergerus yang berupa lembar/bidang-
bidang penyerpihan pada skala yang sangat kecil biasanya hanya terlihat dibawah mikroskop.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
46

4.5 CONTOH BATUAN METAMORF


a. Berfoliasi
1) Batu sabak (slate), merupakan peralihan dari
batuan sedimen ke metamorf yang berbutir halus,
bidang foliasi tidak memperlihatkan
pengelompokan mineral. Jenis mineral seringkali
tidak dapat dikenal secara megakopis karena
butiranya sangat halus. Komposisi mineral terdiri
dari mineral lempung dan serisit. Batuan ini
bersifat kompak dan keras. Derajat metamorfisme
batuan ini paling rendah.
2) Filit (phyllite), merupakan peralihan dari
batusabak ke sekis. Batuan ini berkomposisi
mineral mika (megaskopis), pipih, belahan
phyllitic, berkilap sutera pada bidang foliasinya ,
dan terdapat mineral- mineral lain, seperti turmalin
dan garnet. Derajat metamorfisme batuan filit
lebih tinggi dari slate.
Gambar 4.3. Ilustrasi lokasi terbentuknya batuan metamorf

3) Sekis (schist), bertekstur khas yaitu kepingan-kepingan dari mineral- mineral yang sejajar dan
teratur, dan mengandung mineral feldspar, augit, hornblende, garnet, epidot. Derajat
metamorfosa batuan sekis lebih tinggi dari filit, dicirikan adanya mineral- mineral lain disamping
mika, dan paling umum dihasilkan oleh metamorfosis regional.

4) Gneis (gneiss), merupakan batuan hasil metamorfisme derajat tinggi yang bersifat faneritik
dengan ukuran butir kasar dan bersifat banded (“gneissic”). Batuan ini dapat berasal dari batuan
beku maupun batuan sedimen seperti serpih dan napal sehingga batuan ini memiliki komposisi
kuarsa, feldspar dan mineral- mineral mafic dan membentuk jalur-jalur khusus pada setiap
mineralnya. Mineral- mineral yang pipih atau merabut (menyerat) contohnya klorit, mika, granit,
hornblende, kyanit, staurolit, sillimanit.

b. Foliasi/Nonfoliasi
1) Amfibolit (amphibolites), sama dengan sekis, tetapi foliasi tidak berkembang baik.
Batuan ini merupakan hasil metamorfisme regional dari batuan basalt atau gabro,
berwarna kelabu, hijau atau hitam dan mengandung mineral epidot, (piroksen), biotit dan
garnet.

c. Tak berfoliasi
1) Kuarsit (quartzite), batuan ini berkomposisi mineral kuarsa yang terbentuk dari batuan
asal batupasir kuarsa, umumnya terjadi pada metamorfisme regional.
LABORATORIUM GEOLOGI DASAR
UNIVERSITAS PERTAM INA
47

2) Marmer/pualam (marble), terdiri dari kristal-kristal kalsit yang merupakan proses


metamorfisme dari batuan asal berupa batugamping. Batuan ini padat, kompak dan masif
dapat terjadi karena metamorfosa kontak atau regional.
3) Grafit, batuan yang terkena proses metamorfosa (regional/termal), berasal dari batuan
sedimen yang kaya akan mineral- mineral organik. Batuan ini biasanya lebih dikenal
dengan nama batubara.
4) Serpentinit, batuan metamorf yang terbentuk akibat larutan aktif (dalam tahap akhir
proses hidrotermal) dengan batuan beku ultrabasa.

Gambar 4.4. Hubungan derajat metamorfisme dengan komposisi mineral dan nama batuan
(Lutgens, 2012)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
48

Tabel 4.1. Tahapan identifikasi batuan metamorf (Busch, 2015)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
49

V. PETA DASAR I

Peta adalah gambaran suatu daerah yang memiliki informasi spasial tertentu dengan batasan
tertentu yang dibuat agar cukup dicetak atau dimuat di satu lembar kertas dengan dicantumkan
keterangan lokasi, skala, dan legenda.
5. 1. ELEMEN PADA PETA

a. Skala dan Jarak


Karena peta merupakan bentuk minimalis dari gambaran bumi, maka jarak yang ada di peta tidak
akan sama dengan jarak sebenarnya. Untuk mendapatkan jarak sebenarnya, kita
mempertimbangkan skala pada peta. Skala adalah perbandingan antara jarak peta dengan jarak
sebenarnya. Skala biasanya disajikan dalam angka yang bulat dan mudah dihitung, dan disajikan
dalam dua format (skala batang, dan skala angka). Contoh penulisan skala adalah 1:25000,
dibaca “setiap 1 cm di peta mewaliki 25000cm jarak sebenarnya”. Cara menghitung jarak
sebenarnya pada peta adalah (1) hitung jarak dua titik dengan menggunakan penggaris, (2)
kalikan jarak peta dengan skala, dan (3) konversi dari satuan cm ke km atau m.

Rumus menentukan skala pada peta

Skala = Jarak Pada Peta : Jarak Sebenarnya

b. Grid dan Proyeksi Peta


Untuk bisa menentukan lokasi, sebuah peta harus menyantumkan lokasi absolut terhadap datum
tertentu, keterangan lokasi tersebut disajikan di dalam grid pada peta. Grid merupakan sistem
penentuan koordinat kartesian. Seperti yang kita ketahui, bumi memiliki bentuk berupa geoid
yang menyerupai bola. Geoid adalah bidang ekipotensial gaya berat bumi yang berimpit dengan
permukaan laut ideal. Dikarenakan bumi berbentuk geoid sedangkan peta merupakan bidang
datar, oleh karena itu diperlukan sebuah konversi matematis untuk mengangkakan koordinat
lokasi peta, hal tersebut dikenal sebagai sistem koordinat. Sistem koordinat yang umum dikenal
di Indonesia antara lain sistem koordinat UTM dan Long-Lat (quadrangle maps) dengan datum
WGS84. Sistem proyeksi peta wajib dicantumkan pada kolom legenda.
Sistem koordinat long-lat membagi bumi menjadi empat kuadran dengan dua garis utama, yaitu
0
garis lintang yang membagi bumi menjadi bagian utara (latitude) (0-90 ) dan selatan (longitude)
0 0 0
(0-(-90 )), dan garis bujur yang membagi bumi menjadi barat (0-180 ) dan timur (0-(-180 )).
0
Sistem ini memiliki format penyajian dalam Sudut, Menit, detik (DD ,MM’,SS” S
0 0 0
DD ,MM’,SS” E) atau sudut, menit dalam desimal (DD ,MM’ S DD ,MM’ E), atau menit
0 0
dalam desimal (DD S, DD E).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
50

Sistem koordinat UTM dikembangkan oleh militer Amerika untuk mempermudah menentukan
0
lokasi. Pada sistem ini, bumi dibagi menjadi 60 zona sebesar 6 gari bujur (longitude). Sistem
koordinat ini menggunakan format (Kode Zona Easting Northing). Northing adalah lokasi
koordinat pada sumbu Y, sedangkan Easting adalah lokasi koordinat pada sumbu X (Tabel 5.1).

Tabel 5.1. Contoh penyajian lokasi dengan system koordinat long-lat dan UTM (Google Earth, 2018)

Lokasi Long-lat (DMS) UTM


Monas 6°10'31.3"S 106°49'37.6"E 48M 702174.59, 9317063.84
Gedung Griya Legita 6°13'41.3"S 106°47'23.2"E 48M 698021.70, 9311241.50
London Eye 51°30'11.7"N 0°07'11.0"W 30U 699895.04, 5709723.73

Gambar 5.1 Contoh peta beserta elemennya. (dimodifikasi dari website Pemerintah Daerah Kecamatan
Banjarsari)

5. 2. PETA TOPOGRAFI
Peta topografi adalah peta yang merepresentasikan lanskap tiga dimensi dilihat dari atas, dengan
fitur garis (kontur) yang mewakili ketinggian relatif di atas datum (muka air laut) Peta topografi
memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut
menjadi bentuk garis- garis kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu ketinggian dengan
satuan meter atau feet. Perbedaan ketinggian antara garis kontur disebut interval kontur. Nilai
kontur akan spesifik dan memiliki nilai yang sama di satu lembar peta topografi.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
51

Selain digunakan oleh geologist, peta topografi juga digunakan oleh pemburu, pendaki gunung,
kontraktor, arsitek, perencana lahan, ahli pertambangan, dan ahli kehutanan, oleh karena itu
selain fitur yang menyimbolkan ketinggian, pada peta topografi juga terdapat simbol-simbol
yang menunjukkan struktur buatan manusia, antara lain jalan, bangunan penting, dan jembatan.
Bagi seorang geologist, peta topografi dapat digunakan untuk beberapa hal, diantaranya adalah:
- Menjadi alat navigasi utama.
- Media menandakan lokasi fitur geologi.
- Memperkirakan fitur-fitur geologi yang ada di daerah tersebut.
- Memperkirakan proses permukaan yang terjadi di daerah tersebut.
- Memperkirakan dimensi dari fitur geologi yang ada ada di daerah tersebut.
Peta topografi dapat dibuat dengan beberapa cara, perbedaan cara pembuatan peta topografi
menyebabkan perbedaan resolusi spasial.
Tabel 5.2. Beberapa cara pembuatan peta topografi

Tipe Survei Resolusi Spasial


Survei topografi Berm acam -m acam
Satelite Radar 8 - 30 m
Pencitraan satellite (aster) 15 – 30 m
Pencitraan foto udara 5 – 15 m
Airborn laser scanner 1.7 – 1.4 m

a. Fitur Pada Peta Topografi


Fitur pada peta topografi dapat diinterpretasi berdasarkan kerapatan kontur dan kemenerusan
garis (Gambar 5.2). Daerah dengan kontur yang rapat merepresentasikan daerah dengan
kemiringan yang curam. Daerah dengan kontur yang menerus membentuk garis tertutup,
menandakan daerah tersebut merupakan depresi terisolir atau perbukitan terisolir. Pada kontur
tertutup, ketinggian puncak bukit atau dasar depresi dilihat dari garis terkecil. Punggungan dan
lembah dicirikan dengan kontur yang sejajar. Kedua fitur ini umumnya memiliki kemiringan dan
arah yang konsisten, biasanya dasar lembah dicirikan dengan sungai.

Gambar 5.2. Contoh pola kontur yang menujukkan fitur geomorfologi bukit terisolasi (kiri), depresi
terisolir (tengah), dan monoklin/daerah miring (kanan) (Noor, 2012)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
52

b. Membuat Peta Topografi


Pembuatan peta topografi harus mengikuti aturan garis kontur:
 Pada peta topografi, terdapat kontur dengan label ketinggian dan memiliki garis tebal,
garis kontur tersebut disebut kontur indeks. Umumnya pada kontur indeks memiliki
interval 5 kali kontur indeks normal, hal ini dibuat untuk mempermudah membaca peta
topografi.
 Garis kontur memiliki besaran yang mudah ibaca dan memiliki angka bulat
 Garis kontur tidak pernah saling memotong dan tidak bisa dibagi.
 Garis kontur mewakili ketinggian relatif terhadap muka air laut.
 Peta kontur akan memiliki satuan yang sama pada lembar peta yang sama.

Cara membuat peta topografi manual (Gambar 5.3):


 Tentukan nilai maksimum dan minimum pada peta, kemudian gunakan angka
bulat untuk kontur maksimum dan minimum yang akan digunakan.
 Mulailah dari salah satu titik tertinggi di peta (titik A), tarik garis dari titik
tertinggi peta ke salah satu titik terdekat dengan (titik B).
 Tentukan lokasi Interval Kontur (IK) pada garis diantara titik A dan titik B.
 Lakukan hal yang sama untuk: Titik A → Titik C, Titik A → Titik D, Titik D →
Titik E, Titik C → Titik E
 Hubungkan titik-titik yang memiliki nilai kontur interval yang sama untuk semua
titik di peta

Gambar 5.3. Cara pembuatan garis kontur (Busch, 2007)


LABORATORIUM GEOLOGI DASAR
UNIVERSITAS PERTAM INA
53

c. Menghitung Kemiringan
Kemiringan dihitung dengan cara menghitung jarak tegak lurus antara kontur, dan
menggunakan prinsip trigonometri untuk mendapatkan kemiringan seperti pada Gambar 5.4.

tan θ = P erbedaan kontur


Jarak sesungguhnya

θ = arc tan P erbedaan kontur


Jarak sesungguhnya

T an θ = 100/82
θ = atan (100/82)
θ = 50.6°

Gambar 5.4. Cara menghitung kemiringan dari data kontur

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
54

VI. PETA DASAR II

6.1. STEREOSKOP DAN STEREOGRAM


Stereogram adalah gambar dua dimensi yang ketika dilihat dengan metode tertentu, menghasilkan
ilusi dari kedalaman dan ruang yang sama seperti melihat secara langsung (gambar tiga dimensi)
(Levine dan Priester, 2008). Stereogram dibuat dengan dua kamera bersebelahan yang mereplika
kondisi mata manusia. Sementara, alat yang digunakan untuk melihat stereogram disebut dengan
stereoskop. Dengan stereogram, kita mampu melihat fenomena bumi secara tiga dimensi yang
memudahkan untuk melihat relief bumi dan menginterpretasi fenomena geologi.

Gambar 6.1. Cara menggunakan stereoskop. (Busch, 2015)

6.2. PEMBUATAN PENAMPANG

Penampang topografi adalah proyeksi dua dimensi dari sebuah peta topografi pada arah
tertentu. Dalam pembuatan penampang topografi, selain perlu mempertimbangkan skala
horizontal juga perlu mempertimbangkan pengali ketinggian vertikal (Vertical Exaggeration).
Vertical Exaggeration adalah pengali skala vertikal terhadap skala horizontal pada penampang.
Skala vertikal sering kali dibuat lebih besar dari skala horizontal guna menonjolkan fitur- fitur
topografi pada penampang.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
55

a. Cara Membuat Penampang Topografi


Penampang topografi dapat dibuat dengan cara sebagai berikut:
1. Tarik garis penampang pada peta topografi;
2. Tentukan elevasi maksimal dan minimal di sepanjang garis penampang;
3. Pada milimeter blok, buat aksis vertikal dan horizontal sesuai dengan skala yang
diinginkan (catat skala vertikal dan horizontal pada penampang);
4. Letakan milimeter blok sepanjang garis penampang;
5. Catat nilai elevasi di sepanjang garis penampang, lalu buat tanda di milimeter blok;
6. Tarik garis menerus sepanjang tanda-tanda elevasi.

Gambar 6.2. Cara membuat penampang dari peta topografi.


=

b. Sumber Data Peta Topografi


Peta topografi dapat didapatkan dengan beberapa cara, di antaranya:
- Membeli peta dasar di Badan Informasi Geospasial (BIG), yang beralamat di Jalan Raya
Jakarta-Bogor, Cibinong, Kabupaten Bogor.
- Mengkonversi dari Digital Elevation Model (DEM), Digital Terrain Model (DTM),
SRTM (Shuttle Radar Transect Mission), atau berbagai moda elevasi digital lainnya ke
dalam model kontur dengan batuan software GIS. Moda elevasi digital dapat diunduh
secara gratis di website http://glovis.usgs.gov (memerlukan registrasi dan verifikasi).
- Survei foto udara dengan metode photogrammetry

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
56

6.3. CONTOL SOAL LATIHAN

Latihan I – Ekstrapolasi Kontur II


Buatlah kontur untuk kedua peta di bawah dengan metode freehand dengan interval kontur 10 m!

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
57

Latihan II – Pembuatan Penampang


1. Buatlah penampang NE-SW pada peta dengan Vertical Exaggeration 1x skala horizontal.
2. Hitung kemiringan pada ketiga panah merah!
3. Fitur topografi apakah yang terdapat pada peta topografi ini?

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
58

Latihan III – Pembuatan Penampang

1. Buatlah penampang A-A’ pada peta dengan Vertical Exaggeration 1x skala horizontal!
2. Hitung kemiringan pada ketiga panah merah!
3. Fitur topografi apakah yang terdapat pada peta topografi ini?

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
59

VII. PETA GEOLOGI I

7.1. PENDAHULUAN

Peta geologi adalah bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu daerah/wilayah/kawasan
dengan tingkat kualitas berdasarkan skala pada suatu bidang datar yang menggambarkan informasi
sebaran dan jenis serta sifat batuan, umur, stratigrafi, stuktur, tektonika, fisiografi dan
sumberdaya mineral serta energi. Peta geologi disajikan berupa gambar dengan warna, simbol
dan corak atau gabungan ketiganya. Penjelasan berisi informasi, misalnya situasi daerah, tafsiran dan
rekaan geologi, dapat diterangkan dalam bentuk keterangan pinggir.

Pada dasarnya peta geologi merupakan rangkaian dari hasil berbagai kajian lapangan. Hal ini
pula yang menyebabkan mengapa pemetaan geologi diartikan sama dengan geologi lapangan.
Peta geologi umumnya dibuat diatas suatu peta dasar (peta topografi/rupa bumi) dengan cara
memplot singkapan-singkapan batuan beserta unsur struktur geologinya diatas peta dasar
tersebut. Pengukuran kedudukan batuan dan struktur di lapangan dilakukan dengan
menggunakan kompas geologi. Kemudian dengan menerapkan hukum- hukum geologi dapat
ditarik batas dan sebaran batuan atau satuan batuan serta unsur unsur strukturnya sehingga
menghasilkan suatu peta geologi yang lengkap.

7.2. KEGUNAAN PETA GEOLOGI

Kegunaan peta geologi antara lain :


a. Keteknikan (pembangunan pondasi bendungan, jalan raya, daya dukung lahan,daerah
rawan longsor, daerah rawan banjir, dan lain-lain)
b. Perencanaan wilayah dan kota (perencanaan tata ruang).
c. Pertambangan (potensi bahan galian ekonomis).
d. Perminyakan (potensi sumberdaya gas dan minyakbumi).
e. Industri (potensi sumberdaya air dan mineral).

7.3. MENENTUKAN JURUS DAN KEMIRINGAN STRUKTUR BIDANG

Peta geologi dihasilkan dari pengamatan dan pengukuran singkapan di lapangan yang kemudian
diplot pada peta dasar yang dipakai (peta topografi), salah satunya adalah pengukuran jurus dan
kemiringan. Jurus dan kemiringan adalah besaran untuk menerangkan kedudukan perlapisan
suatu batuan sedimen. Pada suatu singkapan batuan berlapis, jurus dinyatakan sebagai garis arah
dan kemiringan dinyatakan sebagai besaran sudut (Gambar 7.1).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
60

Gambar 7.1. Jurus dan kemiringan pada singkapan batuan berlapis


Beberapa istilah lain yang sering digunakan adalah:
● Arah (bearing) : Besar sudut horisontal antara garis dengan arah koordinat tertentu, biasanya
diukur dari arah utara atau selatan.
● Azimuth : bearing yang diukur dari utara searah jarum jam.
● Kemiringan sebenarnya (true dip) : sudut kemiringan terbesar yang terbentuk oleh suatu
bidang dengan bidang datar, diukur tegak lurus perpotongan bidang.
● Kemiringan semu (apparent dip) : sudut yang terbentuk antara suatu bidang dengan bidang
horisontal yang diukur tidak tegaklurus perpotongan bidang.
● Jurus (strike) : arah garis horisontal yang terbentuk oleh bidang miring dengan bidang
horisontal (kelurusan suatu lapisan).

Gambar 7.2. Beberapa istilah yang


digunakan :
PQRS = bidang perlapisan.
β = true dip/ kemiringan lapisan.
α = bearing/azimuth.
δ = apparent dip/ kemiringan semu.
0
AB = jurus N α E.
0 0
Kedudukan bidang: Nα E/β

tan apparent dip = tan true dip x sin sudut antara strike dan sudut antara penampang

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
61

Cara mengukur strike:


a. Tempelkan sisi E (east) pada singkapan,
b. Geser kompas hingga gelembung udara
dalam Bull’s eye level masuk ke dalam lingkaran,
c. Tunggu hingga jarum kompas stabil
tidak bergerak,
d. Amati sudut yang ditunjuk arah Utara.
Lalu tulislah sesuai petunjuk N __˚ E.

Gambar 7.3. Kompas Geologi

Cara menentukan dip:


a. Tempelkan sisi W (west) badan kompas dan usahakan membentuk sudut 90˚ terhadap
strike,
b. Clinometer level diputar-putar sampai gelembung udara berada di antara garis dalam
clinometer level ditengah-tengahnya
c. Baca sudut dalam clinometer scale.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
62

Gambar 7.4. Penentuan ketebalan lapisan dengan metoda orthografi (Noor, 2012)Pada suatu satuan
batuan yang mempunyai ketebalan tertentu dapat dibatasi dengan adanya jurus lapisan bagian atas (top)
dan bawah (Bottom) pada ketinggian yang sama. Dari sini dapat ditentukan pula ketebalan tiap satuan,
apabila penyebaran atau jurus top dan botom-nya dapat diketahui (Gambar 7.4).

7.4. MENENTUKAN KEDUDUKAN LAPISAN DENGAN METODE TIGA TITIK

Seringkali singkapan yang ada di daerah tropis dengan curah hujan tinggi tertutupi oleh soil yang
tebal dan vegetasi yang lebat sehingga sulit untuk mendapatkan singkapan yang segar. Namun
dari minimal tiga singkapan yang terpisah-pisah dengan ketinggian yang berbeda dapat dicari
kedudukan perlapisan batuan. Metoda untuk mencari kedudukan lapisan dari batuan tersebut
dikenal dengan metode tiga titik. Metoda ini dapat juga digunakan untuk mencari kedudukan
lapisan bawah permukaan dari data lubang bor, dengan syarat lapisan tersebut belum terganggu
struktur (lihat Gambar 7.4).

Gambar 7.5. Pengukuran tiga titik dari data singkapan dan data bor (Sumber :
dokumen.tips/documents/problema-tiga-titik.html)

Metode tiga titik dapat digunakan apabila data-data memenuhi syarat:


- Ketiga titik singkapan yang telah diketahui lokasi dan ketinggiannya terletak pada satu bidang.
- Bidang tersebut belum terpatahkan atau terlipat.

7.5. METODE PENENTUAN PENYEBARAN BATUAN

Pada Gambar 7.5 diperlihatkan metode penentuan sebaran batuan berdasarkan singkapan batuan
yang diketahui jurus dan kemiringan lapisan batuannya. Untuk menentukan sebarannya
dilakukan langkah langkah sebagai berikut:

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
63

Gambar 7.6. Metode penentuan sebaran batuan berdasarkan perpotongan jurus perlapisan batuan
dengan garis kontur

1. Membuat garis “kontur struktur” melalui titik P (batas kontak batuan pada ketinggian 900
meter). Kontur struktur 900 dibuat melalui titik P yang merupakan kelanjutan dari jurus
perlapisan batuan. Batas sebaran kontak batuan adalah perpotongan antara garis kontur
struktur dengan kontur topografi pada ketinggian yang sama, yaitu pada kontur 900 meter.
2. Garis kontur struktur 880, 860, 840 dibuat dengan cara menarik garis yang sejajar dengan
garis struktur 900. Posisi garis kontur struktur 880, 860, 840 akan berada dibagian selatan dari
garis kontur struktur 900 karena arah kemiringan lapisan ke arah selatan (Gambar 7.5 b).
3. Penyebaran kontak batuan ditentukan berdasarkan perpotongan antara “kontur struktur”
dengan “kontur topografi” (kontur struktur 900 dengan kontur topografi 900, kontur struktur
880 dengan kontur topografi 880, kontur struktur 860 dengan kontur topografi 860, dan
kontur struktur 840 dengan kontur topografi 840.
4. Perpotongan kontur struktur dan kontur topografi 900 berpotongan di 2 titik, kontur 880
berpotongan di 2 titik, kontur 860 juga 2 titik, demikian juga perpotongan kontur 840 juga ada
2 titik. Penyebaran kontak batuan dibuat dengan cara menghubungkan titik-titik perpotongan
tersebut seperti diperlihatkan pada Gambar 7.5.c dengan garis putus-putus.

Aturan ini dapat dipakai untuk menggambarkan penyebaran batuan dipermukaan dengan mencari
titik‐titik tersebut, apabila jurus‐jurus untuk beberapa ketinggian dapat ditentukan. Sebaliknya,
dari suatu penyebaran singkapan dapat pula ditentukan kedudukan lapisan dengan mencari jurus-
jurusnya.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
64

Gambar 7.7. Mencari pola singkapan (Billings, 1977). Diketahui kedudukan lapisan batuan di X adalah
0 0
N90 E/20 . Pola sebaran singkapan yang diharapkan (tanpa adanya gangguan struktur) akan
diperlihatkan oleh garis tebal yang melewati garis-garis kontur.

Sehubungan dengan ini terdapat suatu keteraturan antara bentuk topografi, penyebaran singkapan
dan kedudukan lapisan. Pada suatu bentuk torehan lembah, keteraturan ini mengikuti Hukum V
(Gambar 7.7).

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
65

Gambar 7.8. Pola penyebaran singkapan batuan berdasarkan topografi dan kemiringan lapisan batuan
(hukum V) (Ragan, 1973). (a) lapisan horisontal, (b) lapisan miring ke arah hulu lembah, (c) lapisan tegak,
(d) lapisan miring ke arah hilir lembah, (e) lapisan dan lembah memiliki kemiringan yang sama, (f)
lapisan miring ke arah hilir lembah dengan sudut yang lebih kecil daripada kemiringan lembah
(kemiringan lapisan < kemiringan lembah). (Noor, 2012

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
66

7.6. CARA PENULISAN KEDUDUKAN LAPISAN


Kedudukan lapisan batuan diukur dengan kompas geologi di lapangan. Oleh karena itu kerangka
yang dipakai umumnya arah Utara atau Selatan. Dikenal dua jenis skala kompas yaitu skala
azimut (00 ‐ 3600) dan skala kwadran (00 ‐ 900).

Suatu lapisan mempunyai kemiringan berarah Selatan Barat, dituliskan sebagai berikut:
0
JJ. Skala azimuth N 120 E/45 SW atau,
0
KK. Skala kwadran S 60 E/45 SW (Gambar 7.8)

Gambar 7.9. Cara penggambaran kedudukan lapisan secara skala Azimut dan Kwadran (Noor, 2012)
0
Lazimnya lebih sering dipakai skala azimuth karena lebih praktis karena selalu ditulis N... E
untuk arah jurusnya, sehingga kadang‐kadang tidak dicantumkan pada kwadran arah kemiringan
dicantumkan.

7.7. SIMBOL PADA PETA DAN TANDA LITOLOGI

Peta geologi menggunakan tanda‐tanda yang menunjukkan jenis batuan, kedudukan, serta
struktur geologi yang ada pada daerah tersebut. Beberapa simbol yang umum dipakai
ditunjukkan pada Gambar 7.10. Disamping tanda (simbol) litologi, juga sering dipakai warna,
untuk membedakan jenis satuan (Gambar 7.10).

Gambar 7.10. Tanda-tanda pada peta geologi. (Noor, 2012)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
67

7.8. PETA GEOLOGI DAN PENAMPANG GEOLOGI

Peta geologi selalu dilengkapi dengan penampang geologi, yang merupakan gambaran bawah
permukaan dari keadaan yang tertera pada peta geologi. Keadaan bawah permukaan harus dapat
ditafsirkan dari data geologi permukaan dengan menggunakan prinsip dan pengertian geologi
yang telah dibahas sebelumnya.

Gambar 7.11. simbol dan warna batuan (Noor, 2012)

Untuk dapat lebih jelas menunjukkan gambaran bahwa permukaan penampang dibuat
sedemikian rupa sehingga akan mencakup hal‐hal yang penting, misalnya ; memotong seluruh
satuan yang ada struktur geologi dan sebagainya.

Untuk menggambarkan kedudukan lapisan pada penampang, dapat dilakukan penggambaran


dengan bantuan garis jurus (Gambar 7.12), yaitu dengan memproyeksikan titik perpotongan
antara garis penampang dengan jurus lapisan pada ketinggian sebenarnya.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
68

Apabila penampang yang dibuat tegak lurus pada jurus lapisan, maka kemiringan lapisan yang
nampak pada penampang merupakan kemiringan lapisan sebenarnya, sehingga kemiringan
lapisan dapat langsung diukur pada penampang, akan tetapi bila tidak tegak lurus jurus,
kemiringan lapisan yang tampak merupakan kemiringan semu, sehingg harus dikoreksi terlebih
dahulu dengan menggunakan tabel koreksi atau secara grafis.

Gambar 7.12. Cara membuat penampang dengan batuan garis jurus. (Noor, 2012)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
69

Cara membuat penampang geologi:


b. Tentukan garis penampang yang memiliki fitur geologi yang lengkap
c. Buat profil topografi dari garis penampang yang dipilih
d. Tandai kontak batuan sepanjang garis penampang, kemudian proyeksikan dari peta
ke profil topografi
e. Proyeksikan data dip ke penampang
f. Hitung dan plot apparent dip pada profil topografi
g. Buatlah interpretasi bawah permukaan.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
70

VIII. PETA GEOLOGI II

Sintesis geologi bertujuan untuk memberikan deskripsi geologi regional dan spesifik daerah
penelitian dengan memberikan data-data geologi seperti pola struktur, stratigrafi, dan sejarah
geologi yang terdapat di daerah tersebut.

Gambar 8.1. Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (Effendi A.C, dkk., 1998)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
71

8.1. FORMAT PETA GEOLOGI

Peta Geologi memiliki elemen-elemen sebagai berikut:

- Judul peta
- Skala (skala garis dan angka)
- Sistem koordinat yang digunakan
- Grid
- Indikator utara (keterangan deklinasi/inklinasi)
- Legenda dan keterangan peta
- Peta inset
- Pengarang peta
- Tanggal peta dibuat
- Penampang geologi
- Keterangan batuan

8.2. STRATIGRAFI

Stratigrafi adalah urutan strata batuan yang dapat dikorelasikan berdasarkan atribut dan
karakteristik unit batuan tersebut. Kolom stratigrafi diperlukan sebagai acuan umur, lithology,
paleohigh, dan depositional environment yang pernah berlangsung di daerah penelitian. Korelasi
stratigrafi dapat dilakukan berdasarkan kesamaan umur (chronostratigraphy), fosil
(biostratigraphy), batuan (lithostratigraphy), dan sebagainya.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
72

Gambar 8.2. Contoh Kolom Stratigrafi (Effendi A.C, dkk., 1998)

8.2.1. Jenis-jenis Kontak Antar Batuan

A. Kontak antar lapisan batuan

1) Kontak Tajam

Merupakan kontak antar lapisan yang menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok pada sifat
fisiknya, sehingga perbedaan antar lapisan satu dengan yang lain mudah diamati.

2) Kontak Berangsur
Adalah kontak antar lapisan yang dicirikan adanya gradasi perubahan sehingga kedua lapisan
memiliki batas yang tidak jelas dan menggunakan cara-cara tertentu untuk menentukannya.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
73

3) Kontak Erosional

Merupakan kontak lapisan satu dengan yang lainnya dimana bidang perlapisan yang tampak
tergerus/tererosi, dikarenakan oleh material yang terbawa oleh arus.

B. Kontak/hubungan antar stratigrafi

1) Kontak selaras (Conformity)

Bidang horizontal yang merupakan batas antar dua lapisan batuan yang menunjukkan waktu
pengendapan terus menerus tanpa ada gap umur.

2) Kontak tidak selaras / Ketidakselarasan (Uncorformity)


Bidang yang mengindikasikan gap umur pada suatu urutan strata batuan (Gambar 8.3).

 Angular Unconformity
Ketidakselarasan yang memisahkan batuan di atas yang lebih muda dan batuan di bawah
yang lebih tua, di mana kemiringan lapisan batuan di atas berbeda dengan kemiringan
lapisan batuan di bawahnya.

 Disconformity
Kontak antar batuan yang parallel dengan bidang kemiringan batuan, di mana pada kontak
tersebut terdapat gap umur yang dicirikan adanya bidang erosi.

 Paraconformity
Kontak antar dua lapisan sedimen yang bidang ketidakselarasannya sejajar dengan
perlapisannya. Pada kasus ini sangat sulit sekali melihat batas ketidakselarasannya karena
tidak ada batas bidang erosi. Cara yang digunakan untuk melihat keganjilan antara lapisan
tersebut adalah dengan melihat fosil di tiap lapisan. Karena setiap sedimen memiliki umur
yang berbeda dan fosil yang terkubur di dalamnya pasti berbeda jenis.

 Nonconformity
Permukaan antara lapisan batuan sedimen dangan lapisan batuan beku atau metamorf.
Lapisan batuan beku atau metamorf terbentuk terlebih dahulu, kemudian tererosi baru
kemudian lapisan sedimen terbentuk di atasnya.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
74

Gambar 8.3. Kontak ketidakselarasan (Plummer, et al., 2016)

8.2.2. Aturan singkatan nama pada litologi batuan

Satuan stratigrafi pada peta geologi ditunjukkan dengan singkatan huruf (lihat Gambar 8.3).

Sebagai dokumen/acuan satuan stratigrafi adalah tabel (chart) yang dibuat oleh Elsevier (1989) :

1. Huruf pertama (huruf besar) menyatakan jaman, misalnya P untuk Perem, TR untuk
Trias, T untuk Tersier.

2. Huruf kedua (huruf kecil) menyatakan seri, misalnya Tm berarti kala Miosen dalam
jaman Tersier.

3. Huruf ketiga (huruf kecil) menyatakan nama formasi atau satuan litologi, misalnya Tmc
berarti Formasi Cipluk berumur Miosen.

4. Huruf Keempat (huruf kecil) menyatakan jenis litologi atau satuan peta yang lebih rendah
(anggota), misalnya Tmcl berarti anggota batugamping Formasi Cipluk yang berumur
Miosen.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
75

5. Huruf kelima digunakan hanya untuk batuan yang mempunyai kisaran umur panjang,
misalnya Tpokc berarti Anggota Cawang Formasi Kikim berumur Paleosen-Oligosen.

6. Huruf pT (p kecil sebelum T besar ) digunakan untuk singkatan umur batuan sebelum
Tersier yang tidak diketahui umur pastinya.

7. Untuk batuan yang mempunyai kisaran umur panjang, urutan singkatan umur
berdasarkan dominasi umur batuan, misalnya QT untuk batuan berumur Tersier hingga
Kuarter yang didominasi batuan berumur Quarter; JK untuk batuan berumur Jura hingga
Kapur yang didominasi batuan berumur Jura.

8. Batuan beku dan malihan yang tak terperinci susunan dan umurnya cukup dinyatakan
dengan satu atau dua buah huruf, misalnya a untuk andesit, b untuk basal, gd untuk
granodiorit, um untuk ultramafik atau ofiolit dan s untuk sekis.

9. Batuan beku dan malihan yang diketahui umurnya menggunakan lambang hurup jaman,
misalnya Kg berarti granit berumur Kapur.

10. Pada peta geologi skala kecil, himpunan batuan cukup dinyatakan dengan huruf di
belakang lambang era, jaman atau sub-jaman; misalnya Pzm berarti batuan malihan
berumur Paleozoikum, Ks berarti sedimen berumur Kapur, Tmsv berarti klastika
gunungapi berumur Miosen, Tpv berarti batuan gunungapi berumur Paleogen, Tni berarti
batuan terobosan berumur Neogen. Satuan bancuh dinyatakan dengan notasi m.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
76

Gambar 8.4. Singkatan huruf satuan stratigrafi yang digunakan dalam peta geologi (Effendi A.
C. dkk, 1998)

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA
77

8.3. STRUKTUR GEOLOGI

a. Tektonik regional adalah hasil dari endogen/pergerakan lempeng (konvergen, divergen,


atau transform). Tektonik yang terjadi secara terus akan mengakibatkan perubahan
morfologi daerah dan secara detail dapat diamati dari morfologi permukaan bumi.

b. Analisis struktur dari peta geologi atau topografi mencakup:

 Kemiringan bedding plane (strike and dip).


 Tipe patahan/sesar : sesar naik (reverse fault), sesar turun (normal fault), sesar
geser (strike-slip fault).
 Tipe zona perlipatan: anticline, syncline, homocline.

Gambar 8.5. Konsep strike, dip direction, dan dip angle (Plummer et al. 2016).

8.4. PENAMPANG GEOLOGI

Langkah-langkah membuat penampang geologi:

1. Buatlah garis penampang dari titik 1 ke titik 2. Pembuatan garis penampang tidak bole
sejajar dengan arah strike.
2. Plot kontak antar batuan pada garis penampang.
3. Tentukan apparent dip pada masing- masing kontak antar batuan di garis penampang, jika
garis penampang tidak tegak lurus terhadap strike atau jurus.
4. Tentukan umur dan jenis kontak antar batuan.
5. Gambarlah penampang geologi.
6. Warnai litologi batuan pada penampang geologi yang telah dibuat.

LABORATORIUM GEOLOGI DASAR


UNIVERSITAS PERTAM INA