100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan7 halaman

Penatalaksanaan Gawat Janin dan Gejalanya

Makalah ini membahas tentang gawat janin, yaitu kondisi ketika janin tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Gawat janin dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti gangguan aliran darah ibu atau janin, infeksi, atau masalah struktural plasenta. Gejala gawat janin antara lain berkurangnya gerakan janin dan perubahan pola denyut jantung janin. Pemeriksaan seperti USG,

Diunggah oleh

warbid
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan7 halaman

Penatalaksanaan Gawat Janin dan Gejalanya

Makalah ini membahas tentang gawat janin, yaitu kondisi ketika janin tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Gawat janin dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti gangguan aliran darah ibu atau janin, infeksi, atau masalah struktural plasenta. Gejala gawat janin antara lain berkurangnya gerakan janin dan perubahan pola denyut jantung janin. Pemeriksaan seperti USG,

Diunggah oleh

warbid
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kesulitan download?

Kunjungi: https://warungbidan.blogspot.com/2020/08/makalah-penatalaksanaan-gawat-janin.html

MAKALAH GAWAT JANIN

A. Pengertian
Gawat janin adalah bradikardi janin persisten yang apabila tidak segera ditangani
dapat menimbulkan dekompresi respon fisiologis dan menyebabkan kerusakan permanen
sistem saraf pusat dan organ lain serta kematian. Gawat janin adalah keadaan / reaksi
ketika janin tidak memperoleh oksigen yang cukup. Gawat Janin dapat diketahui dari
tanda-tanda sbb :
- Frekuensi bunyi janin janin < 120 x/menit atau > 160 x/menit
- Berkurangnya gerakan janin (janin normal bergerak > 10 kali per hari)
- Adanya air ketuban bercampur mekonium, warna kehijauan (jika bayi lahir dengan
letak kepala
Kegawatan yang kronik dapat timbul setelah suatu periode waktu yang panjang
selama periode antenatal bila status fisiologis dari unit ibu-janin-plasenta yang ideal dan
normal terganggu. Hal ini dapat dipantau melalui evaluasi dari pertumbuhan  janin intar
uteri, keadaan biofisikal janin, cordosintesis, dan velosimetri Doppler. (springer) Gawat
janin akut disebabkan oleh suatu kejadian yang tiba-tiba yang mempengaruhi oksigenasi
janin. Gawat janin selama persalinan menunjukkan hipoksia (kurang oksigen) pada janin.
Tanpa oksigen yang adekuat, denyut jantung  janin kehilangan variabilitas dasarnya dan
menunjukkan deselerasi (perlambatan) lanjut pada kontraksi uterus. Bila hipoksia
menetap, glikolisis (pemecahan glukosa) anaerob menghasilkan asam laktat dengan pH
janin yang menurun.
Sebagian besar diagnosis gawat janin didasarkan pada pola frekuensi denyut
jantung. Penilaian janin ini adalah penilaian klinis yang sarna sekali subyektif dan
pastilah memiliki kelemahan dan harus diakui demikian. Salah satu penjelasannya adalah
bahwa pola-pola ini lebih merupakan cerminan fisiologi daripada patologi janin.
Pengendalian frekuensi denyut jantung secara fisiologis terdiri atas beragam
mekanisme yang saling berkaitan dan bergantung pada aliran darah serta oksigenasi.
Selain itu, aktivitas mekanisme-mekanisme pengendali ini dipengaruhi keadaan
oksigenasi janin sebelumnya, seperti tampak pada insufisiensi plasenta kronik, sebagai
contoh. Yang juga penting, jika janin menekan tali pusat, tempat aliran darah terus
menerus mengalami gangguan. Selain itu, persalinan normal adalah proses yang
menyebabkan janin mengalami asidemia yang semakin meningkat (Rogers dkk., 1998).
Dengan demikian, persalinan normal adalah suatu proses saat  janin mengalami serangan
hipoksia berulang yang menyebabkan asidemia yang tidak terelakkan. Dengan kata lain,
dan dengan beranggapan bahwa “asfiksia” dapat didefinisikan sebagai hipoksia yang
menyebabkan asidemia, persalinan normal adalah suatu proses yang menyebabkan janin
mengalami asfiksia. 2

B. Etiologi
Terdapat beberapa etiologi (penyebab) dari gawat janin.
1. Etiologi fetal distress- Ibu
a. penurunan kemampuan membawa oksigen ibu
b. Anemia yang signifikan
c. penurunan aliran darah uterin
d. posisi supine atau hipotensi lain, preeklampsia
e. kondisi ibu yang kronis
f. hipertensi
2. Etiologi – Faktor Uteroplasental
a. Kontraksi uterus seperti hiperstimulas dan solusio plasenta
b. disfungsi uteroplasental
1) infark plasental
2) korioamnionitis
3) disfungsi plasental ditandai oleh IUGR, oligohidramnion
3. Etiologi – Faktor Janin
a. kompresi tali pusat
1) oligohidramnion
2) prolaps tali pusat
3) puntiran tali pusat
b. Penurunan kemampuan janin membawa oksigen
1) anemia berat, misal : isoimunisasi, perdarahan feto-maternal
4. Kesejahteraan Janin dalam Persalinan
Asfiksia intrapartum dan komplikasi:
a. Skor Apgar 0-3 selama >/= 5 menit

1
b. sekuele neurologis neonatal
c. disfungsi multiorgan neonatal
d. pH arteri tali pusat 7,0
e. defisit basa arteri tali pusat >/= 16 mmol/L

C. Patofisiologi
Dahulu diperkirakan bahwa janin mempunyai tegangan oksigen yang lebih rendah
karena ia hidup di lingkkungan hipoksia dan sidosis yang kronik. Terapi pemikiran itu
tidak benar karena bila tidak ada tekanan (stress), janin hidup dalam lingkungan yang
sesuai dan dalam kenyataannya konsumsi oksigen per gram berat badan sama dengan
orang dewasa. Meskipun tekanan oksigen parsial (pO2) rendah, penyaluran oksigen pada
jaringan tetap memadai.
Afinitas terhadap oksigen, kadar hemoglobin dan kapasitas angkut oksigen pada
janin lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa. Demikian juga halnya dengan curah
jantung dan kecepatan arus darah lebih besar dari pada orang dewasa. Dengan demikian
penyuluhan oksigen melalui plasenta kepada janin dan jaringan periferdapat terselenggara
dnegan relatif baik. Sebagai hasil metabolisme oksigen akan terbentuk asam piruvat, CO 2
dan air di sekresi melalui plasenta. Bila plasenta mengalami penurunan fungsi akibat dari
ruang intervili yang berkurang, maka penyaluran oksigen dan ekskresi CO 2 akan
terganggu yang berakibat penurunan pH atau timbulnya asidosis. Hipoksia yang
berlangsung lama menyebabkan janin harus mengolah glukosa menjadi enersi melalui
reaksi anerobik yang tidak efisien, bahkan menimbulkan asam organik yang
menambahkan asidosis metabolik. Pada umumnya asidosis janin disebabkan oleh
gangguan arus darah uterus atau arus darah tali pusat. Bradikardi janin tidak harus berarti
merupakan indikasi kerusakan jaringan akibat hipoksia, karena janin mempunyai
kemampuan redistribusi darah bila terjadi hipoksia, sehingga jaringan vital (otak dan
jantung)akan menerima penyaluran darah yang lebih banyak dibandingkan jaringan
perifer. Badikardia mungkin merupakan mekanisme perlindungan agar jantung bekerja
lebih efisien sebagai akibat hipoksia. Yang akan dibahas disini adalah diagnosis gawat
janin dalam persalinan yang dapat diketahui dengan teknik pengawasan atau pemantauan
elektronik jantung janin dan teknik pemeriksaan darah janin (PDJ)

D. Tanda – tanda dan Gejala

2
Gejala yang dirasakan oleh ibu adalah berkurangnya gerakan janin. Ibu dapat
melakukan deteksi dini dari gawat janin ini, dengan cara menghitung jumlah tendangan
janin/ ’kick count’ . Janin harus bergerak minimal 10 gerakan dari saat makan pagi
sampai dengan makan siang. Bila jumlah minimal sebanyak 10 gerakan janin sudah
tercapai, ibu tidak harus menghitung lagi sampai hari berikutnya. Hal ini dapat dilakukan
oleh semua ibu hamil, tapi penghitungan gerakan ini terutamadiminta untuk dilakukan
oleh ibu yang beresiko terhadap gawat janin atau ibu yangmengeluh terdapat
pengurangan gerakan janin. Bila ternyata tidak tercapai jumlahminimal sebanyak 10
gerakan maka ibu akan diminta untuk segera datang ke RS atau pusat kesehatan
terdekat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tanda-tanda gawat janin:
1. Mekonium kental berwarna hijau terdapat di cairan ketuban pada letak kepala
2. Takikardi/ bradikardi/ iregularitas dari denyut jantung janinUntuk mengetahui adanya
tanda-tanda seperti di atas dilakukan pemantauan menggunakan kardiotokografi
3. Asidosis janin diperiksa dengan cara mengambil sampel darah janin

E. Komplikasi
Komplikasi yang dapat muncul jika janin mengalami gawat janin yaitu :
1. Asfiksia
2. Menyebabkan kematian janin jika tidak segera ditangani dengan baik. komplikasi
Gawat janin atau asfiksia intrauterin merupakan akibat dari kompresi talipusat akibat
berkurangnya cairan amnion (oligohidramnion) atau prolapsus talipusat KPD pada
kehamilan yang sangat muda dan disertai oligohidramnion yang lama menyebabkan
terjadinya deformitas janin a.l : Hipoplasia pulmonal Potter µs fascia Deformitas
ekstrimitas.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. USG : untuk mengetahui usia kehamilan, derajat maturitas plasenta.
2. Kardiotokografi : untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin.
3. Amniocentesis : pemeriksaan sitologi air ketuban.
4. Amnioskopi : melihat kekeruhan air ketuban.
5. Uji Oksitisin : untuk menilai reaksi janin terhadap kontraksi uterus.
6. Pemeriksaan kadar estriol dalam urine.

3
7. Pemeriksaan sitologi vagina.
Pemantauan Denyut Jantung Janin Kebanyakan dari diagnosis gawat janin yang
dilakukan didasarkan atas pola denyut jantung janin, tetapi diagnosa berdasarkan pola
denyut jantung janin ini masih menjadi kontroversi, karena hal itu lebihmerefleksikan
suatu keadaan fisiologi dari janin daripada suatu keadaan patologis. National Institute of
Child Health and Human Development fetalmonitoring workshop (1997) telah
memberikan suatu Konsensust entang pola denyut jantung janin.
1. Normal apabila denyut jantung janin berkisar antara 110-160 x.menitdengan variasi 6-
25 x/menit, dimana didapatkan suatu kondisi akselerasi tanpa deselarasi.
2. Intermediet
3. Abnormal, apabila ada tanda-tanda perlambatan atau deselerasi dengan kemampuan
nol atau bradikardi substansial dengankemampuan nol
Sementara dalam buku acuan nasional pelayanan kesehatanmaternal dan neonatal
memberikan penilaian terhadap denyut jantung janin sebagai berikut:
1. Denyut jantung janin normal dapat melambat sewaktu his, dan segerakembali normal
setelah relaksasi.
2. Denyut jantung lambat yaitu kurang dari 100 kali per menit saat tidak ada his,
menunjukan adanya gawat janin.
3. Denyut jantung cepat yaitu lebih dari 180 kali per menit yang disertaitakikardi ibu
bias karena ibu demam, efek obat, hipertensi atauamnionitis. Jika denyut jantung ibu
normal, denyut jantung janincepat sebaiknya dianggap sebagai tanda gawat janin.
Pemeriksaan PH darah janin telah dibuktikan mempunyai hubungan erat dengan
tingkat asidosis janin. Indikasi pemeriksaan darah janin adalah :
1. Deselerasi lambat berulang
2. Deselerasi variable memanjang
3. Mekonium pada presentasi kepala
4. Hipertensi pada ibu
5. Osilasi dengan variabilitas yang menyempit.
Sejak pertama pertama kali diperkenalkan oleh Saling pada tahun1967 pengambilan
sampel darah telah menjadi keputusan akhir dalam mendiagnosa adanya gawat janin.
Darah diambil dari bagian terbawah janin seperti kepala atau bokong selama proses
persalinan. Darah diambil melalui insisi dengan kedalaman 2mm.

4
Pengambilan darah janin harusdilakukan di luar his dan sebaiknya ibu dalam posisi
tidur miring daerah diambil sebanyak 0,25 ml kemudian dilakukan pemeriksaan
pH,Pco2,Po2. nilai pH sendiri tidak akan memperlihatkan perbedaan antara respirasi dan
asidosis metabolik. Penatalaksanaan dari penyebab asidosis secara teoritis
berbeda,dimana pada keadaan asidosis metabolik membutuhkan terminasi segera,
sementara keadaan asidosis respiratotrik dapat merespon resusitasi standar. Jika
deselerasi tidak memberikanrespon yang cepat pada gawat janin, maka segera dilakukan
pemeriksaan sampel darah janin.
Sementara Winkyosastro menetapkan Interprestasi pada hasil pemeriksaan darah
janin adalah sebagai berikut.
1. pH 7,25 normal
2. pH 7,25-7,10 tersangka asidodis dan dilakukan pemeriksaan ulang10 menit kemudian
3. pH < 7,10 Asidosis dan janin harus dilahirkan segera
Pemeriksaan darah janin dan pemantauan denyut jantung janin salingmenunjang
dan telah dibuktikan mempunyai korelasi yang erat.Pemeriksaan darah janin terutama
berguna untuk menera atau memastikankeadaan janin bila terdapat gambaran denyut
jantung janin yang abnormal.Meskipun demikian perlu diingat bahwa hasil pemeriksaan
darah janin itu sesaat dan mungkin perlu diulangi.
Zallar dan Quiland merekomendasikan suatu protokol yaitu : jika pH besar dari 7,25
maka persalinan di observasi. Jika pH antaraa 7,20 – 7,25 Pengukuran pH harusdiulangi
dalam 30 menit, Jika pH kurang dari 7,20 maka sampel darah kulit kepala yang lain harus
segera diambil dan ibu harus diterminasi segera. Sirkulasi janin mungkin berubah dengan
penyaluran darah yang lebih baik ke organ vital yaitu otak dan jantung dalam keadaan
asidosis.Pada umumnya hipoksia dan asidosis atau infeksi intrapartum
dapatmenyebabkan takikardi dari fetus Adanya mekonium pada cairan amnionlebih
sering terlihat saat gawat janin mencapai maturitas dan bukanmerupakan tanda-tanda
gawat janin. Sedikit mekonium tanpa disertaidengan kelainan denyut jantung janin
merupakan suatu peringatan untuk pengawasan lebih lanjut. Mekonium kental merupakan
tanda pengeluaranmekonium pada cairan amnion yang berkurang dan merupakan indikasi
perlunya persalinan yang cepat dan penanganan mekonium pada salurannafas atas
neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium, sementara pada presentasi bokong
mekonium dikeluarkan pada saat persalinan akibatkompresi abdomen janin pada
persalinan. Hal ini bukan merupakankegawatan kecuali jika terjadi pada awal persalinan

5
G. Penatalaksanaan
Penanganan umum:
1. Pasien dibaringkan miring ke kiri, agar sirkulasi janin dan pembawaan oksigen dari
obu ke janin lebih lancer.
2. Berikan oksigen sebagai antisipasi terjadinya hipoksia janin.
3. Hentikan infuse oksitosin jika sedang diberikan infuse oksitosin, karena dapat
mengakibatkan peningkatan kontraksi uterus yang berlanjut dan meningkat dengan
resiko hipoksis janin.
Diagnosis saat persalinan didasarkan pada denyut jantung janin yang abnormal.
Diagnosis yang lebih pasti jika disertai oleh air ketuban hijau dan kental atau sedikit. Jika
denyut jantung janin diketahui tidak normal, dengan atau tanpa kontaminasi mekonium
pada cairan amnion, lakukan hal se¬bagai berikut: Jika sebab dari ibu diketahui (seperti
demam, obat-obatan) mulailah penanganan yang sesuai. Jika sebab dari ibu tidak
diketahui dan denyut jantung janin tetap abnormal sepanjang paling sedikit 3 kontraksi,
lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab gawat janin:
1. Jika terdapat perdarahan dengan nyeri yang hilang timbul atau menetap,pikirkan
kemungkinan solusio plasenta.
2. Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, sekret vagina berbau tajam) berikan
antibiotika untuk.
3. Jika tali pusat terletak di bawah bagian bawah janin atau dalam vagina, lakukan
penanganan prolaps tali pusat Jika denyut jantung janin tetap abnormal atau jika
terdapat tanda-tanda lain gawat janin (mekonium kental pada cairan amnion),
rencanakan persalinan:
4. Jika serviks telah berdilatasi dan kepala janin tidak lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis
atau bagian teratas tulang kepala janin pada stasion 0, lakukan persalinan dengan
ekstraksi vakum atau forseps.
5. Jika serviks tidak berdilatasi penuh dan kepala janin berada lebih dari 1/5 di atas
simfisis pubis atau bagian teratas tulang kepala janin berada di atas stasion 0, lakukan
persalinan dengan seksio sesarea

Anda mungkin juga menyukai