LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN JIWA
PANSS EC
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Keperawatan Jiwa
Oleh :
MEGA DWI ANGGRAENI
NIM. 201920461011089
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2020
A. Definisi
PANSS (Positive and Negative Syndrome Scale) ialah salah satu instrumen
penilaian yang paling penting untuk pasien dengan gangguan jiwa berat/skizofrenia
(Obermeier, et al., 2011). Positive and Negative Syndrome Scale - Excited
Component (PANSS-EC) diukur dengan cara memberikan nilai pada komponen gaduh
gelisah, ketegangan, permusuhan, tidak kooperatif, dan pengendalian impuls. PANSS-EC
adalah instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi pasien dengan perilaku agresif
atau agitasi. Hasil dari evaluasi PANSS-EC dapat digunakan untuk menentukan
pendekatan terapi pada pasien (Vieta E, Garriga M, Cardete L, Bernardo M, Lombraña
M, Blanch J, 2017).
Agitasi dan perilaku agresif, terutama akibat gangguan psikiatri, cukup sering
ditemukan di instalasi gawat darurat dan unit psikiatri. Agitasi dan perilaku agresif pada
pasien dengan psikosis bisa muncul dalam bentuk peningkatan aktivitas motorik dan
aktivasi emosional (Vieta E, Garriga M, Cardete L, Bernardo M, Lombraña M, Blanch J,
2017). Pada kondisi gawat darurat, ada risiko untuk terjadinya cedera pada pasien dan
petugas. Untuk itu diperlukan tindakan yang cepat dan efektif untuk meminimalkan
risiko, serta mencegah eskalasi agresi menjadi perilaku kekerasan.
PANSS-EC menilai berbagai komponen aktivitas motorik dan aktivasi emosional
pada pasien. Penelitian menunjukkan bahwa PANSS-EC merupakan skala yang valid dan
efektif dalam penilaian agitasi dan perilaku agresif. PANSS-EC juga bisa digunakan
untuk monitoring dan evaluasi penatalaksanaan pasien dengan agitasi atau agresi (Bauer
JØ, Stenborg D, Lodahl T, Mønsted MM, 2016).
B. Indikasi Penggunaan PANSS-EC
Agitasi dan perilaku agresif biasanya merupakan satu rangkaian peristiwa yang
berkelanjutan. Etiologinya bisa gangguan psikiatri atau gangguan organik lainnya. Bila
kondisi pasien menyebabkan dokter sulit untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
gangguan organik, maka sebaiknya diasumsikan bahwa perilaku pasien disebabkan oleh
gangguan organik. Contoh gangguan psikiatri yang dapat menyebabkan agitasi dan
perilaku agresif adalah depresi, skizofrenia, dan alkoholisme.
C. Gangguan Organik
Agitasi dan perilaku agresif yang disebabkan oleh gangguan organik biasanya :
• Mempunyai onset akut atau subakut
• Biasanya pada pasien berusia tua
• Tanpa riwayat gangguan psikiatri sebelumnya
• Perjalanan penyakitnya fluktuatif
• Seringkali juga ditemukan gangguan kesadaran, disorientasi waktu dan tempat,
perubahan parameter fisik
• Dapat disertai gangguan kognitif, waham, dan/atau halusinasi visual
D. Gangguan Psikiatri
Agitasi dan perilaku agresif karena gangguan psikiatri seringkali :
• Mempunyai onset akut atau subakut, tapi tidak disertai dengan perubahan tingkat
kesadaran
• Seringkali ada riwayat gangguan psikiatri sebelumnya
• Perjalanan penyakitnya cenderung stabil progresif
Untuk melakukan penegakan diagnosis dengan baik, maka pasien perlu terlebih
dahulu ditenangkan. Tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya agitasi atau perilaku
agresif ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Tanda-Gejala Agitasi dan Perilaku Agresif
Tipe Tanda dan gejala
1. Perilaku bermusuhan (kombatif)
2. Perilaku yang tidak sesuai dengan lingkungan tanpa
tujuan yang jelas
3. Hiperaktivitas terhadap stimulus
4. Ketidakmampuan untuk duduk diam atau tenang
5. Gerak tubuh yang berlebihan
6. Ekspresi wajah yang tegang atau marah
7. Pandangan mata yang terkesan mengancam atau
menentang
8. Nada bicara yang tinggi, diam atau tidak mau menjawab
Perubahan pertanyaan
Perilaku 1). Agresi
1. Fluktuasi dalam hal tingkat kesadaran
2. Gangguan orientasi waktu dan tempat
3. Kecenderungan mengalami frustasi
Perubahan 4. Kesulitan dalam mengantisipasi konsekuensi dari perbuatannya
kognitif 5. Isi pikir yang berupa waham dan atau halusinasi
Perubahan 1. Demam
parameter fisik 2. Takikardi
3. Takipnea
4. Berkeringat secara berlebihan
5. Tremor
6. Tanda-tanda neurologis, seperti kesulitan berjalan
E. Komponen dan Cara Penilaian PANSS-EC
Positive and Negative Syndrome Scale - Excited Component (PANSS-EC)
merupakan salah satu instrumen penilaian agresivitas dan agitasi yang sederhana dan
mudah diaplikasikan. PANSS-EC terdiri dari 5 item penilaian, yaitu gaduh gelisah,
ketegangan, permusuhan, ketidak kooperatifan, dan pengendalian impuls yang buruk.
Masing-masing item mempunyai skala penilaian berikut:
1 (tidak ditemukan)
2 (minimal, patologis diragukan)
3 (ringan)
4 (sedang)
5 (agak berat)
6 (berat)
7 (sangat berat)
Penilaian didasarkan atas observasi selama anamnesis dengan pasien dan atau
berdasarkan laporan keluarga. Skor dari kelima item kemudian dijumlahkan sehingga
didapatkan rentang antara 5-35.
F. Gaduh Gelisah
Gaduh gelisah adalah hiperaktivitas yang ditampilkan dalam bentuk percepatan
perilaku motorik, peningkatan respons terhadap stimulus, waspada berlebihan, atau
labilitas alam perasaan yang berlebihan. Poin ini dinilai dengan manifestasi perilaku
selama anamnesis dan juga laporan perawat atau keluarga tentang perilaku.
1. Tidak ditemukan adanya gaduh gelisah
2. Gaduh gelisah minimal, keadaan patologis diragukan
3. Ringan : cenderung sedikit agitatif, waspada berlebihan, atau sedikit mudah
terangsang selama anamnesis, tetapi tanpa episode gaduh gelisah yang jelas atau
labilitas alam perasaan yang mencolok.
4. Sedang : agitasi atau mudah terangsang yang jelas terbukti selama anamnesis,
mempengaruhi pembicaraan dan mobilitas umum atau ledakan-ledakan episodik yang
terjadi secara sporadik
5. Agak berat : tampak hiperaktivitas yang bermakna, atau sering terjadi ledakan-ledakan
atau aktivitas motorik yang menyebabkan kesulitan bagi pasien tetap duduk untuk
waktu yang lebih lama dari beberapa menit dalam setiap kesempatan
6. Berat : gaduh gelisah yang mencolok mendominasi anamnesis, membatasi perhatian,
sedemikian rupa sehingga mempengaruhi fungsi sehari-hari, seperti makan dan tidur
7. Sangat berat : gaduh gelisah yang mencolok, secara serius mempengaruhi kegiatan
makan dan tidur, serta jelas tidak memungkinkan interaksi interpersonal, percepatan
bicara, dan aktivitas motorik dapat menimbulkan inkoherensi dan kelelahan
G. Ketegangan
Ketegangan didefinisikan sebagai manifestasi yang jelas tentang ketakutan,
ansietas, dan agitasi, seperti kekakuan, tremor, keringat berlebihan, dan ketidaktenangan.
Poin ini dinilai berdasarkan laporan lisan yang membuktikan adanya anxietas dan derajat
keparahan. Manifestasi fisik ketegangan dapat dilihat selama anamnesis.
1. Tidak ditemukan adanya ketegangan
2. Ketegangan minimal, keadaan patologis diragukan
3. Ringan : postur dan gerakan-gerakan yang menunjukkan kekhawatiran ringan,
ketidaktenangan yang sesekali timbul, perubahan posisi, dan tremor tangan yang halus
dan cepat
4. Sedang : suatu penampilan yang nyata-nyata gelisah yang terbukti dari adanya
berbagai manifestasi, seperti perilaku tidak tenang, tremor tangan yang nyata, keringat
berlebihan, dan manerisme karena gugup
5. Agak berat : ketegangan yang berat yang dibuktikan oleh berbagai manifestasi, seperti
gemetar karena gugup, keringat yang berlebihan, dan ketidaktenangan. Tetapi perilaku
selama anamnesis tidak terpengaruh secara bermakna
6. Berat : ketegangan berat sehingga interaksi interpersonal terganggu. Misalnya pasien
terus menerus bergerak, tidak dapat tetap duduk untuk waktu yang lama, atau
menunjukkan hiperventilasi
7. Sangat berat : ketegangan yang sangat mencolok yang dimanifestasikan sebagai tanda-
tanda panik atau percepatan gerakan motorik kasar, seperti langkah cepat yang gelisah
dan ketidakmampuan untuk tetap duduk tenang dalam waktu lebih lama dari satu
menit, sehingga anamnesis tidak bisa dilanjutkan
H. Permusuhan
Permusuhan didefinisikan sebagai ekspresi verbal dan nonverbal tentang
kemarahan dan kebencian, termasuk sarkasme, perilaku pasif agresif, caci maki, dan
penyerangan. Poin dinilai berdasarkan perilaku interpersonal yang diamati selama
anamnesis dan laporan oleh perawat atau keluarga.
1. Tidak ditemukan adanya permusuhan
2. Permusuhan minimal, keadaan patologis diragukan
3. Ringan : melampiaskan kemarahan secara tidak langsung atau ditahan, seperti
sarkasme, sikap tidak sopan, ekspresi bermusuhan, dan kadang-kadang iritabilitas
4. Sedang : adanya sikap bermusuhan yang nyata, sering memperlihatkan iritabilitas, dan
ekspresi kemarahan atau kebencian yang langsung
5. Agak berat : pasien sangat mudah marah dan kadang-kadang memaki dengan kata-
kata kasar atau mengancam
6. Berat : tidak kooperatif dan mencaci maki dengan kasar atau mengancam, khususnya
dalam upaya mempengaruhi pemeriksa, dan berdampak serius terhadap hubungan
sosial. Pasien dapat beringas dan merusak tapi tidak menyerang orang lain secara fisik
7. Sangat berat : kemarahan yang hebat yang mengakibatkan subyek sangat tidak
kooperatif, menghalangi interaksi, atau secara episodik melakukan penyerangan fisik
terhadap orang lain
I. Tidak Kooperatif
Aktif menolak untuk patuh terhadap keinginan tokoh bermakna termasuk
pemeriksa, staf rumah sakit atau keluarga yang mungkin disertai dengan rasa tidak
percaya, defensif, keras kepala, negativistik, penolakan terhadap otoritas, hostilitas, atau
membangkang. Dinilai melalui perilaku interpersonal yang diobservasi selama anamnesis
dan juga dilaporkan oleh perawat atau keluarga.
1. Tidak ditemukan adanya ketidak kooperatifan
2. Tidak kooperatif minimal, keadaan patologis diragukan
3. Ringan : patuh tapi disertai sikap marah, tidak sabar, atau sarkasme, mungkin ada
penolakan yang tidak mengganggu penyelidikan terhadap masalah-masalah sensitif
selama anamnesis
4. Sedang : kadang-kadang terdapat penolakan langsung untuk patuh terhadap tuntutan
sosial yang normal, seperti merapikan tempat tidur atau mengikuti kegiatan sesuai
jadwal. Pasien mungkin memproyeksikan hostilitas, defensif, atau bersifat negatif,
tetapi biasanya masih dapat diatasi
5. Agak berat : pasien seringkali tidak patuh terhadap tuntutan lingkungan dan mungkin
sering disebut sebagai orang yang mempunyai masalah sikap yang serius. Ketidak
kooperatifan tercermin jelas dalam sikap defensif atau iritabilitas terhadap pemeriksa
dan mungkin tidak bersedia menghadapi banyak pertanyaan
6. Berat : pasien sangat tidak kooperatif, negativistik, dan mungkin membangkang.
Menolak untuk patuh terhadap sebagian besar tuntutan sosial dan mungkin tidak mau
memulai atau mengikuti anamnesis sepenuhnya
7. Sangat berat : resistensi aktif yang jelas berdampak serius terhadap hampir seluruh
fungsi. Pasien mungkin menolak untuk ikut berpartisipasi dalam aktivitas sosial
apapun, mengurus kebersihan diri, bercakap-cakap dengan keluarga, dan bahkan untuk
berpartisipasi dalam anamnesis yang singkat sekalipun
J. Pengendalian Impuls yang Buruk
Gangguan pengaturan dan pengendalian impuls yang mengakibatkan pelepasan
ketegangan dan emosi yang tiba-tiba tidak teratur, sewenang-wenang, atau tidak terarah
tanpa merisaukan konsekuensinya. Dinilai berdasarkan perilaku selama anamnesis dan
yang dilaporkan perawat atau keluarga.
1. Tidak ditemukan adanya pengendalian impuls yang buruk
2. Minimal, patologis diragukan
3. Ringan : pasien cenderung mudah marah dan frustasi bila menghadapi stress atau
pemuasannya ditolak, tapi jarang bertindak impulsif
4. Sedang : dengan provokasi minimal, pasien menjadi marah dan mencaci maki.
Mungkin sesekali mengancam, merusak, atau terdapat satu-dua episode yang
melibatkan konfrontasi fisik atau perselisihan ringan
5. Agak berat : pasien memperlihatkan episode impulsif yang berulang-ulang termasuk
mencaci maki, merusak harta benda, atau ancaman fisik. Mungkin ada satu atau dua
episode yang melibatkan serangan serius sehingga pasien perlu diisolasi, difiksasi,
atau bila perlu diberikan sedasi
6. Berat : pasien sering menunjukkan agresivitas secara impulsif, mengancam, menuntut,
dan merusak, tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Menunjukkan perilaku
menyerang dan mungkin juga serangan seksual, atau berperilaku yang merupakan
respon terhadap perintah yang bersifat halusinasi
7. Sangat berat : pasien memperlihatkan serangan yang nyata mengancam keselamatan
orang, penyerangan seksual, perilaku brutal yang berulang, atau perilaku menyakiti
diri sendiri.
K. Interpretasi PANSS-EC
Setelah dilakukan penilaian untuk skor masing-masing item penilaian selama
anamnesis, skor dari kelima item penilaian dijumlahkan. Interpretasi skor PANSS-EC di
Indonesia masih berbeda-beda pada setiap pusat layanan kesehatan, namun secara garis
besar guideline yang digunakan sebagai berikut:
1. Skor ≥ 10 – 14
Skor PANSS-EC > 10 - 14 dan salah satu atau lebih komponen mempunyai skor > 4,
maka ini adalah indikasi untuk dilakukan intervensi medis.
Dilakukan de-eskalasi melalui persuasi verbal. Bila de-eskalasi gagal menenangkan
pasien, maka pertimbangkan pemberian antipsikotik oral (haloperidol 0,5 mg) atau
benzodiazepine oral (lorazepam 0,5 mg)
Observasi 30 menit (dewasa) atau 15 menit (anak dan remaja). Apabila tidak ada
perbaikan/terjadi peningkatan gejala, maka lakukan tindakan sesuai skor saat itu
2. Skor ≥15 – 19
Skor PANSS-EC > 15 - 19 dan salah satu atau lebih komponen mempunyai skor > 5
atau risiko menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka ini adalah indikasi untuk rawat
inap.
Dilakukan chemical restriction dengan injeksi haloperidol i.m. 5 mg untuk dewasa.
Untuk anak dan remaja usia < 12 tahun diberikan 0,025-0,075 mg/kgBB/kali
(maksimal 2,5 mg/kali) dan usia > 12 tahun diberikan dosis 2,5 – 5 mg per kali.
Observasi selama 30 menit, injeksi boleh diulang tiap 30 menit sampai tercapai
dosis maksimal 30 mg
Pilihan lainnya adalah injeksi olanzapine i.m. 10 mg untuk dewasa dan 2,5 -5 mg
untuk anak dan remaja. Observasi selama 2 jam, injeksi dapat diulang sampai dosis
maksimal 30 mg (dewasa) dan 10 mg (anak dan remaja)
Evaluasi apabila terjadi peningkatan skor dan monitoring efek samping obat (anak
dan remaja lebih mudah mengalami extrapyramidal syndrome)
3. Skor ≥ 20
Skor PANSS-EC > 20 dan salah satu atau lebih komponen mempunyai skor > 5
adalah indikasi untuk seklusi.
Diberikan injeksi kombinasi dari haloperidol 5 mg i.m dan diazepam 5 mg i.v.
Untuk anak dan remaja, dosis diazepam adalah 0,1 mg/kgBB/kali. Dapat diulang
sampai dosis maksimal diazepam 20 mg. Dosis maksimal diazepam per kali
pemberian adalah 10 mg. Evaluasi apabila terjadi peningkatan skor dan monitoring
efek samping obat (penurunan kesadaran atau distress pernafasan)
Bila agitasi masih belum bisa dikendalikan, maka pertimbangkan untuk restraint fisik.
Evaluasi adanya luka atau cedera pada area yang akan diikat
Pilih bahan pengikat yang aman dan nyaman dari kain katun.
Pengikatan sebaiknya dilakukan oleh beberapa orang, dimana ada yang bertugas
memegang kepala dan masing-masing ekstremitas.
Pengikatan dilakukan di tengah tempat tidur, dengan posisi kaki lurus, satu tangan
di samping badan dan tangan yang lain di atas kepala.
Ikatan sebaiknya tidak terlalu kencang dan tidak terlalu longgar, dan berikan bantal
di kepala.
Lakukan monitoring setiap 15 menit
L. Kesimpulan
Positive and Negative Syndrome Scale - Excited Component (PANSS-EC) diukur
dengan cara memberikan nilai pada komponen gaduh gelisah, ketegangan, permusuhan,
tidak kooperatif, dan pengendalian impuls. PANSS-EC adalah instrumen yang digunakan
untuk mengevaluasi pasien dengan perilaku agresif atau agitasi.
Masing-masing item mempunyai skala penilaian antara 1-7 dengan total skor
antara 5-35. Total skor antara 25-35 menunjukkan indikasi untuk rawat inap. Interpretasi
skor PANSS-EC di Indonesia masih berbeda-beda pada setiap pusat layanan kesehatan.
Secara umum, apabila didapatkan salah satu komponen ≥4 atau total skor ≥10, maka
sudah indikasi untuk dilakukan intervensi medis. Intervensi awalnya dilakukan dengan
pendekatan verbal dan menggunakan obat oral. Jika tidak memungkinkan, maka
digunakan obat injeksi atau bahkan restrain fisik.
POSITIVE AND NEGATIVE SYNDROME SCALE (PANSS)
Informasi Pasien
Pasien Tgl Tgl Bln Tahun Waktu Jam Menit
Catatan pribadi
Prosedur Penilaian
Berikan cek pada box disamping.
P1. WAHAM
Keyakinan yang tidak mempunyai dasar, tidak realistik dan aneh (idiosinkratik).
Dasar penilaian : Isi pikiran yang diekspresikan dalam wawancara dan pengaruhnya
terhadap relasi sosial dan perilaku.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Ada satu atau dua waham yang samar-samar, tidak
terkristalisasi, dan tidak bertahan. Waham tidak mempengaruhi proses
pikir, relasi sosial atau perilaku.
4. Sedang – Adanya rangkaian waham yang bentuknya kurang jelas dan
tidak stabil atau beberapa waham yang berbentuk jelas, yang kadang-
kadang mempengaruhi proses pikir, relasi sosial atau perilaku.
5. Agak berat – Adanya beberapa waham yang berbentuk jelas, yang
13
dipertahankan dan kadang-kadang mempengaruhi proses pikir, relasi
sosial atau perilaku.
6. Berat – Adanya suatu susunan waham yang stabil, yang
terkristalisasi, mungkin sistematik, dipertahankan, dan jelas
mempengaruhi proses pikir, relasi sosial dan perilaku.
7. Sangat berat – Adanya suatu susunan waham yang stabil, sangat
sistematik, atau sangat banyak dan yang mendominasi bidang (facet)
utama kehidupan pasien. Sering kali mengakibatkan tindakan yang tidak
serasi dan tidak bertanggung jawab, yang bahkan membahayakan
keamanan pasien atau orang lain.
P2. Kekacauan Proses Pikir (Conceptual Disorganization)
Kekacauan proses pikir ditandai oleh putusnya tahapan penyampaian maksud, misalnya
sirkumstansial, tangensial, asosiasi longgar, tidak berurutan, ketidaklogisan yang parah,
atau putusnya arus pikir.
Dasar penilaian : Proses pikir kognitif verbal yang diamati selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – proses pikir sirkumstansial, tangensial atau paralogikal.
Adanya kesulitan dalam mengarahkan ketujuan dan kadang-kadang
asosiasi longgar dapat dijumpai di bawah tekanan.
14
4. Sedang – mampu memusatkan pikiran bila komunikasi singkat dan
terstruktur, tetapi menjadi longgar atau tidak relevan bila menghadapi
komunikasi yang lebih kompleks atau bila di bawah tekanan minimal.
5. Agak berat – secara umum mengalami kesulitan dalam menata pikiran
yang terbukti dalam bentuk sering tidak relevan, tidak ada hubungan,
atau asosiasi longgar bahkan walaupun tanpa tekanan.
6. Berat – proses pikir (thinking) sangat menyimpang dan pada dasarnya
(internally) tidak konsisten, mengakibatkan tidak relevan yang parah dan
kekacauan proses piker, yang hampir terjadi terus menerus.
7. Sangat berat – pikiran (thought) sangat kacau sehingga menjadi
inkoheren. Asosiasi longgar yang sangat jelas, yang mengakibatkan
kegagalan total dalam komunikasi, misalnya :”word-salad” atau
mutisme.
P3. Perilaku Halusinasi
Laporan secara verbal atau perilaku yang menunjukkan persepsi yang tidak dirangsang
oleh stimuli luar. Dapat terjadi halusinasi pendengaran, penglihatan, penciuman atau
somatik.
Dasar penilaian : Laporan verbal dan manifestasi fisik selama wawancara, dan juga
perilaku yang dilaporkan oleh perawat atau keluarga.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
15
3. Ringan – suatu atau dua halusinasi yang jelas tetapi jarang timbul, atau
beberapa abnormalitas yang samar-samar lainnya yang tidak
mengakibatkan penyimpangan (distorsi) proses pikir atau perilaku.
4. Sedang – Sering ada halusinasi tetapi tidak terus menerus, dan proses
pikir serta perilaku pasien hanya sedikit terpengaruh.
5. Agak berat – Halusinasi sering, dapat meliputi lebih dari satu organ
sensoris dan cenderung menyimpangkan proses pikir dan/atau
mengacaukan perilaku. Pasien dapat memiliki interpretasi bersifat
waham atas pengalamannya ini dan bereaksi terhadapnya secara
emosional, serta kadang-kadang juga secara verbal.
6. Berat – Halusinasi hampir terus menerus ada, mengakibatkan
kekacauan berat pada proses pikir dan perilaku. Pasien menganggapnya
sebagai persepsi nyata dan fungsinya terganggu oleh seringnya bereaksi
secara emosional dan verbal terhadapnya.
7. Sangat berat – pasien hampir secara total mengalami preokupasi dengan
halusinasi, yang jelas mendominasi proses pikir dan perilaku.
Halusinasi diikuti oleh interpretasi bersifat waham yang kaku dan
memacu timbulnya respons verbal dan perilaku, termasuk kepatuhan
terhadap halusinasi perintah.
P4. Gaduh Gelisah (Excitement)
Hiperaktifitas yang ditampilkan dalam bentuk percepatan perilaku motorik,
peningkatan respons terhadap stimulasi, waspada berlebihan (hypervigilance) atau
labilitas alam perasaan (mood) yang berlebihan.
16
Dasar penilaian : Manifestasi perilaku selama wawancara dan juga laporan perawat atau
keluarga tentang perilaku
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Cenderung sedikit agitatif, waspada berlebihan, atau sedikit
mudah terangsang (overaroused) selama wawancara, tetapi tanpa
episode yang jelas dari gaduh, gelisah atau labilitas alam perasaan
yang mencolok. Pembicaraan mungkin sedikit mendesak.
4. Sedang – Agitasi atau mudah terangsang yang jelas terbukti selama
wawancara, mempengaruhi pembicaraan dan mobilitas umum atau
ledakan-ledakan episodic yang terjadi secara sporadic.
5. Agak berat – Tampak hiperaktifitas yang bermakna, atau sering terjadi
ledakan-ledakan atau aktivitas motorik, yang menyebabkan
kesulitan bagi pasien tetap duduk untuk waktu yang lebih lama dari
beberapa menit dalam setiap kesempatan.
6. Berat – Gaduh gelisah yang mencolok mendominasi wawancara,
membatasi perhatian, demikian rupa sehingga mempengaruhi fungsi
sehari-hari seperti makan dan tidur.
7. Sangat berat – Gaduh gelisah yang mencolok, secara serius
mempengaruhi kegiatan makan dan tidur, serta jelas tidak
memungkinkan interaksi interpersonal. Percepatan pembicaraan dan
17
aktivitas motorik dapat menimbulkan inkoherensi dan kelelahan.
P5. Waham Kebesaran
Pendapat tentang diri sendiri yang berlebihan dan keyakinan tentang superioritas yang
tidak realistic, termasuk waham tentang kemampuan diri yang luar biasa, kekayaan,
pengetahuan, kemashyuran, kekuasaan dan kebajikan moral.
Dasar penilaian : Isi pikiran yang diekspresikan selama wawancara dan pengaruhnya
terhadap perilaku.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Terdapat luapan-luapan atau kesombongan tetapi tanpa
waham kebesaran yang jelas.
4. Sedang – perasaan superior yang jelas dan tidak realistic terhadap
orang lain. Bisa terdapat beberapa waham yang kurang berbentuk
tentang kekhususan status diri atau kemampuan tetapi tidak bertindak
sesuai.
5. Agak berat – waham-waham jelas yang diekspresikan, tentang
kehebatan kemampuan, status atau kekuasaan dan mempengaruhi
sikap tetapi tidak mempengaruhi perilaku.
6. Berat – waham-waham jelas yang diekspresikan, tentang superioritas
luar biasa, meliputi lebih dari satu parameter (kekayaan, pengetahuan,
kemashyuran dll) khususnya mempengaruhi interaksi dan mungkin
18
bertindak sesuai.
7. Sangat berat – proses pikir, interaksi dan perilaku didominasi
oleh pelbagai waham tentang kemampuan diri yang menakjubkan,
kekayaan, pengetahuan, kemashyuran, kekuasaan dan/atau ketinggian
moral yang bias sampai berkualitas aneh (bizzare).
P6. Kecurigaan/ Kejaran.
Ide-ide kejaran yang tidak realistic atau berlebihan, yang tercermin dalam sikap
berjaga- jaga, sikap tidak percaya, kewaspadaan yang berlebihan berdasarkan kecurigaan
atau waham jelas bahwa orang lain berniat mencelakakan.
Dasar penilaian : Isi pikiran yang diekspresikan dalam wawancara dan pengaruhnya
terhadap perilaku.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Adanya sikap berjaga-jaga atau bahkan sikap tidak percaya
yang diperlihatkan, tetapi pikiran, interaksi dan perilaku hanya sedikit
terpengaruh.
4. Sedang – Terdapat ketidakpercayaan yang jelas dan mengganggu
wawancara dan/atau perilaku, tetapi tidak terdapat bukti tentang
adanya waham-waham kejaran. Kemungkinan lain, bias ada petunjuk
tentang waham kejaran yang samara-samar bentuknya, tetapi
tampaknya tidak mempengaruhi sikap pasien atau relasi interpersonal.
19
5. Agak berat – Pasien memperlihatkan ketidakpercayaan yang mencolok,
mengarah pada pemutusan relasi interpersonal atau jelas ada waham-
waham kejaran yang sedikit berdampak terhadap relasi
interpersonal dan perilaku.
6. Berat – waham-waham kejaran pervasive yang nyata yang mungkin
sistematik dan secara bermakna mempengaruhi relasi interpersonal.
7. Sangat berat – rangkaian waham-waham kejar yang
sistematik mendominasi proses piker pasien, relasi social dan
perilaku.
P7. Permusuhan
Ekspresi verbal dan nonverbal tentang kemarahan dan kebencian, termasuk sarkasme,
perilaku pasif, caci maki dan penyerangan.
Dasar penilaian : perilaku interpersonal yang diamati selama wawancara dan laporan oleh
perawat atau keluarga.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – melampiaskan kemarahan secara tidak langsung atau ditahan,
seperti sarkasme, sikap tidak sopan, ekspresi bermusuhan, dan kadang-
kadang iritabilitas.
4. Sedang – Adanya sikap bermusuhan yang nyata, sering
memperlihatkan iritabilitas dan ekspresi kemarahan atau kebencian
20
yang langsung.
5. Agak berat – pasien sangat mudah marah dan kadang-kadang memaki
dengan kata-kata kasar atau mengancam.
6. Berat – Tidak kooperatif dan mencaci maki dengan kasar atau
mengancam khususnya mempengaruhi wawancara, dan berdampak
serius terhadap relasi social. Pasien dapat beringas dan merusak
tetapi tidak menyerang orang lain secara fisik.
7. Sangat berat – kemarahan yang hebat berakibat sangat tidak
kooperatif, menghalangi interaksi, atau secara episodic melakukan
penyerangan fisik terhadap orang lain.
SKALA NEGATIF
N 1. Afek Tumpul.
Berkurangnya respons emosional yang ditandai oleh berkurangnya ekspresi
wajah, gelombang (modulation) perasaan dan gerak gerik komunikatif.
Dasar penilaian : Observasi manifestasi fisik suasana dan respons emosional selama
wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Perubahan ekspresi wajah dan gerak gerik komunikatif
tampak kaku, dipaksakan, dibuat-buat atau kurangnya gelombang.
21
4. Sedang – Berkurangnya corak ekspresi wajah dan sedikitnya gerak
gerik ekspresif yang tampak dalam penampilan yang tumpul (dull).
5. Agak berat – Afek umumnya datar dengan hanya sekali-sekali tampak
perubahan ekspresi wajah dan gerak-gerik komunikatif sedikit.
6. Berat – Pendataran dan defisiensi emosi yang mencolok yang tampak
hamper sepanjang waktu. Kemungkinan terdapat pelepasan afek
ekstrim yang tidak bergelombang seperti “excitement”, kemarahan
atau tertawa yang tidak terkendali yang tidak serasi.
7. Sangat berat – Jelas tidak tampak perubahan ekspresi wajah dan
adanya gerak gerik komunikatif. Pasien terus-menerus menmpakkan
ekspresi yang “tidak hidup” atau berwajah “kayu”.
N 2. Keruntuhan Emosional (emotional withdrawal).
Berkurangnya minat dan keterlibatan, serta curahan perasaan terhadap
peristiwa kehidupan.
Dasar penilaian : Laporan-laporan tentang fungsi dari perawat atau keluarga dan
observasi perilaku interpersonal selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Biasanya kurang inisiatif dan sekali-sekali mungkin menunjukkan
22
minat yang kurang terhadap peristiwa-peristiwa di sekitarnya.
4. Sedang – Pasien pada umumnya mengambil jarak secara emosional
dengan lingkungan dan tantangannya, tetapi dengan dorongan masih
dapat dilibatkan.
5. Agak berat – Pasien secara nyata memutuskan kontak emosional
dari orang dan peristiwa-peristiwa dilingkungan, resisten terhadap
semua usaha untuk melibatkannya. Pasien tampak mengambil jarak,
patuh dan tanpa tujuan tetapi dapat dilibatkan dalam komunikasi,
setidak-tidaknya secara singkat dan cenderung untuk kebutuhan
pribadi, kadang-kadang dengan bantuan.
6. Berat – Berkurangnya minat dan keterlibatkan emosional yang
mencolok yang mengakibatkan terbatasnya percakapan dengan orang
lain dan sering mengabaikan perawatan diri, sehingga pasien
memerlukan supervise.
7. Sangat berat – Pasien hampir secara keseluruhan menarik diri tidak
komunikatif dan mengabaikan kebutuhan pribadi sebagai akibat dari
sangat berkurangnya minat dan keterlibatan emosional.
N 3. Kemiskinan Rapport.
Berkurangnya empati interpersonal, kurangnya keterbukaan dalam percakapan dan rasa
keakraban, minat, atau keterlibatan dengan pewawancara. Ini ditandai oleh adanya jarak
interpersonal dan berkurangnya komunikasi verbal dan nonverbal.
Dasar penilaian : Perilaku interpersonal selama wawancara.
23
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – percakapan ditandai oleh kekakuan, ketegangan, atau nada
yang dibuat-buat, mungkin kurangnya kedalaman emosional atau
kecenderungan untuk tetap pada taraf impersonal dan intelektual.
4. Sedang – Secara khas pasien tampak bersikap menjauhkan diri, serta
mengambil jarak interpersonal yang cukup jelas. Pasien mungkin
menjawab pertanyaan secara mekanis, bertingkah bosan atau
menunjukkan tidak berminat.
5. Agak berat – Ketidak terlibatan nyata dan jelas menghambat
produktifitas wawancara. Pasien mungkin cenderung untuk
menghindari kontak mata atau tatap muka.
6. Berat – Pasien sangat tidak perduli disertai adanya jarak
interpersonal yang mencolok. Jawaban-jawaban asal saja dan ada
sedikit bukti keterlibatan nonverbal. Kontak mata dan tatap muka
sering dihindari.
7. Sangat berat – Pasien secara total tidak terlibat dengan pewawancara.
Pasien tampak sepenuhnya tidak perduli serta terus menerus
menghindari interaksi verbal dan nonverbal selama wawancara.
N 4. Penarikan Diri Dari Hubungan Sosial Secara Pasif/ Apatis.
24
Berkurangnya minat dan inisiatif dalam interaksi social, yang disebabkan oleh
pasivitas, apatis, anergi atau tidak ada dorongan kehendak. Hal ini mengarah pada
berkurangnya keterlibatan interpersonal dan mengakibatkan aktivitas kehidupan sehari-
hari.
Dasar penilaian : Laporan perilaku social dari perawat atau keluarga.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan : Sekali-sekali menunjukkan minat dalam aktivitas social,
tetapi inisiatif sangat kurang. Biasanya keterlibatan dengan orang
lain hanya bila “didekati” oleh orng lain tsb.
4. Sedang – Secara pasif ikut dalam sebagian besar aktivitas social tetapi
dengan cara “ogah-ogahan” (disinterested) atau secara mekanis
cenderung untuk ada di baris belakang.
5. Agak berat – Secara pasif berpartisipasi dalam hanya sedikit
aktivitas social dan menunjukkan jelas tidak ada minat atau inisiatif.
Umumnya menyendiri.
6. Berat – Cenderung menjadi apatis dan terisolasi, sangat jarang
berpartisipasi dalam aktivitas social dan sekali-sekali mengabaikan
kebutuhan pribadi. Kontak social yang spontan sangat sedikit.
7. Sangat berat – Sangat apatis, terisolasi secara social dan sangat
25
mengabaikan perawatan diri.
26
N 5. Kesulitan Dalam Pemikiran Abstrak.
Hendaya dalam penggunaan cara berfikir abstrak atau simbolik yang dibuktikan
kesulitan mengklarifikasikan, membentuk generalisasi dan berpikir secara konkrit
atau egosentrik dalam memecahkan masalah.
Dasar penilaian : Respons terhadap pertanyaan mengenai interpretasi persamaan dan
peribahasa, dan penggunaan cara berpikir konkrit vs abstrak selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Cenderung menginterpretasikan secara harafiah atau
semaunya sendiri tentang peribahasa yang lebih sulit dan mungkin
mendapat kesulitan dengan konsep yang agak abstrak atau yang mirip.
4. Sedang – Sering menggunakan cara piker konkrit. Sulit mengartikan
sebagian besar peribahasa dan beberapa pengelompokan . Cenderung
dialihkan oleh aspek fungsional dan gambaran yang mencolok.
5. Agak berat – Berfikir terutama dengan cara konkrit,
mempertlihatkan kesulitan dalam sebagian besar peribahasa dan
banyak pengelompokan.
6. Berat – Tidak mampu mengartikan peribahasa atau ekspresi
figurative apa pun dan hanya dapat mengelompokkan persamaan yang
sangat sederhana. Proses piker terpusat atau terpaku pada aspek
fungsional, gambaran yang mencolok dan interpretasi idiosinkratik.
7. Sangat berat – Hanya dapat berpikir konkrit. Tidak ada pemahaman
peribahasa, persamaan-persamaan atau kiasan-kiasan yang umum dan
pengelompokan sederhana. Bahkan tanda-tanda yang mencolok dan
fungsional pun tidak dapat dijadikan dasar untuk klarifikasi. Penilaian
ini dapat diterapkan untuk mereka yang tidak dapat berinteraksi
sedikitpun dengan pemeriksa, karena hendaya kognitif yang sangat
mencolok.
N 6. Kurangnya Spontanitas dan Arus Percakapan.
Berkurangnya arus normal percakapan yang disertai dengan apatis, avolisi (tidak ada
dorongan kehendak), defensive atau deficit kognitif. Ini dimanifestasikan oleh
berkurangnya kelancaran dan produktivitas dalam proses interaksi verbal.
Dasar penilaian : Proses kognitif verbal yang dapat diobservasi selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Menunjukkan sedikit inisiatif dalam percakapan. Jawaban
pasien cenderung sengkat dan tanpa tambahan, membutuhkan
pertanyaan langsung dan pengarahan dari pewawancara.
4. Sedang – Arus percakapan kurang bebas dan tidak lancer atau terhenti-
henti. Pertanyaan terarah sering dibutuhkan untuk mendapatkan
respons yang adekuat dan untuk melanjtkan percakapan.
5. Agak berat – Pasien menunjukkan berkurangnya spontanitas dan
keterbukaan yang mencolok, menjawab pertanyaan pewawancara
dengan hanya 1 atau 2 kalimat singkat.
6. Berat – Respons pasien hanya terbatas terutama pada beberapa kata
atau kalimat pendek untuk menghindari atau mempersingkat
komunikasi (misalnya “ Saya tidak tahu “, “Saya sedang tidak bebas
berbicara”). Akibatnya terdapat hendaya berat dalam percakapan, dan
wawancara sangat tidak produktif.
7. Sangat berat – Kata-kata yang diucapkan sangat terbatas, paling banter
sekali-sekali ada ungkapan sehingga percakapan tmungkin terjadi.
N 7. Pemikiran Stereotipik.
Berkurangnya kelancaran, spontanitas dan fleksibilitas proses piker yang terbukti
dari kekakuan, pengulangan atau isi piker yang miskin.
Dasar penilaian : Proses kognitif verbal yang diobservasi selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Adanya kekakuan yang ditunjukkan dalam sikap atau
keyakinan. Pasien mungkin menolak untuk mempertimbangkan
alternative atau sulit untuk mengalihkan satu id eke ide yang lain.
4. Sedang – Percakapan berkisar seputar tema yang itu-itu saja, yang
berakibat kesulitan untuk mengalihkan ke topic baru.
5. Agak berat – Proses pikir kaku dan berulang-ulang sedemikian rupa
sehingga walaupun pewawancara berusaha, percakapan hanya
terbatas pada 2 atau 3 topik yang mendominasi.
6. Berat – Pengulangan yang tidak terkendali tentang tuntunan-tuntunan,
pernyataan-pertanyaan, ide-ide atau pertanyaan-pertanyaan yang
sangat mengganggu percakapan.
7. Sangat berat – Proses pikir, perilaku dan percakapan didominasi oleh
pengulangan yang terus menerus dari ide yang terpaku atau kalimat-
kalimat pendek yang itu-itu saja sehingga komunikasi pasien
menjadi sangat kaku, tidak serasi dan terbatas.
SKALA PSIKOPATOLOGI UMUM (G)
G 1. Kekhawatiran Somatik.
Keluhan-keluhan fisik atau keyakinan tentang penyakit atau malfungsi tubuh. Ini
mungkin berkisar dari rasa yang samar tentang perasaan tidak sehat sampai pada waham
yang jelas tentang penyakit fisik yang parah.
Dasar penilaian : Isi pikiran yang diekspresikan dalam wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Kekhawatiran yang nyata mengenai kesehatan atau hal ihwal
somatic, sebagaimana dibuktikan oleh pertanyaan-pertanyaan yang
sekali-sekali timbul atau keinginan kuat untuk mendapatkan
penentraman.
4. Sedang – Keluhan mengenai kesehatan yang buruk atau malfungsi
tubuh, tetapi tidak ada keyakinan yang bersifat waham, dan
kekhawatiran yang berlebihan dapat diredakan dengan penenteraman.
5. Agak berat – Pasien mengekspresikan berbagai keluhan atau sering
mengeluh mengenai penyakit fisik atau malfungsi tubuh atau pasien
megungkapkan satu atau dua waham jelas yang mengandung tema-
tema ini tetapi tidak dipreokupasi olehnya.
6. Berat – Pasien dipreokupasi oleh satu atau beberapa waham yang jelas
tentang penyakit fisik atau malfungsi organic, tetapi afek tidak
tenggelam sepenuhnya dalam tema-tema ini, dan pikiran dapat
dialihkan oleh pewawancara dengan usaha.
7. Sangat berat – Waham somatik yang dilaporkan banyak dan sering,
atau hanya beberapa waham somatic yang parah, yang sepenuhnya
mendominasi afek dan pikiran pasien.
G 2. Anxietas.
Pengalaman subyektif tenteng kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan (apprehension) atau
ketidaksenangan yang berkisar dari kekhawatiran yang berlebihan tentang masa kini
atau masa depan sampai perasaan panic.
Dasar penilaian : Laporan lisan selama wawancara dan manifesrasi fisik yang terkait.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – mengekspresikan kecemasan, kekhawatiran yang
berlebihan atau ketidaktenangan yang bersifat subyektif, tetapi tidak
ada konsekuensi somatic dan perilaku yang dilaporkan atau terbukti.
4. Sedang – Pasien melaporkan gejala yang jelas tentang kegelisahan yang
tercermin dari manifestasi fisik ringan seperti tremor tangan yang halus
dan keringat yang berlebihan.
5. Agak berat – Pasien melaporkan problem serius tentang anxietas yang
mempunyai konsekuensi fisik dan perilaku yang bermakna, seperti
ketegangan yang mencolok, konsentrasi buruk, palpitasi atau tidur
yang terganggu.
6. Berat – Pernyataan subyektif akan ketakutan yang hamper terus
menerus yang disertai oleh fobia, kegelisahan yang mencolok atau
pelbagai manifestasi somatik.
7. Sangat berat – Kehidupan pasien terganggu berat oleh anxietas, yang
terjadi hamper terus menerus dan sewaktu-waktu mencapai derajat
panic atau dimanifestasikan dalam serangan panic yang sebenarnya.
G 3. Rasa Bersalah.
Rasa penyesalan yang mendalam atau menyalahkan diri sendiri terhadap perbuatan
salah atau bayangan kelakuan buruk pada masa lampau.
Dasar penilaian : Laporan lisan mengenai perasaan bersalah selama wawancara dan
pengaruhnya terhadap sikap dan pikiran.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Pertanyaan-pertanyaan, mengungkapkan rasa bersalah yang
samara tau menyalahkan diri sendiri untuk kejadian sepele tetapi
pasien tidak tampak tertlalu khawatir.
4. Sedang – Pasien mengekspresikan rasa khawatir yang jelas atas
tanggungjawabnya untuk suatu kejadian nyata dalam kehidupannya
tetapi tidak berpreokupasi dengan hal tersebut, dan sikap serta
perilakunya sama sekali tidak terpengaruh.
5. Agak berat – Pasien mengekspresikan rasa bersalah yang kuat yang
disertai dengan mencela diri sendiri atau keyakinan bahwa dirinya
patut dihukum. Perasaan-perasaan bersala tersebut mungkin
mempunyai dasar waham, mungkin diungkapkan secara spontan,
mungkin merupakan sumber dari preokupasi dan/atau alam perasaan
yang depresi, dan tidak dapat diredakan dengan mudah oleh
pewawancara.
6. Berat – Ide bersalah kuat yang mempunyai kualitas waham dan
mengarah sikap putus asa atau rasa tidak berharga. Pasien yakin
bahwa ia seharusnya mendapat hukuman yang berat untuk perbuatan
salahnya dan bahkan menganggap situasi kehidupannya sekarang
sebagai hukuman.
7. Sangat berat – Kehidupan pasien didominasi oleh waham rasa
bersalah yang tidak tergoyahkan, untuk mana ia merasa patut
mendapat hukuman yang drastic, seperti hukuman penjara seumur
hidup, peniksaan atau kematian. Mungkin disertai oleh pikiran-pikiran
bunuh diri atau yang berhubungan dengan itu, atau persoalan-
persoalan lain yang terkait dengan kesalahannya di masa lampau.
G 4. Ketegangan.
Manifestasi fisik yang jlas tentang ketakutan, anxietas dan agitasi, seperti ketakutan,
tremor, keringat berlebihan dan ketidaktenangan.
Dasar penilaian : Laporan lisan membuktikan adanya anxietas dan karenanya derajat
keparahan manifestasi fisik ketegangan dapat dilihat selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Postur dan gerakan-gerakan menunjukkan kekhawtiran
ringan seperti rigiditas yang ringan, ketidak tenangan yang sekali-
sekali, perubahan posisi, atau tremor tangan yang halus dan cepat.
4. Sedang – Suatu penanmpilan yang nyata-nyata gelisah yang terbukti
dari adanya pelbagai manifestasi, seperti perilaku tidak tenang, tremor
ringan yang nyata, keringat berlebihan, atau manerisme karena gugup.
5. Agak berat – Ketegangan yang berat yang dibuktikan oleh pelbagai
manifestasi seperti gemetar karena gugup, keringat sangat
berlebihan dan ketidaktenangan, tetapi perilaku selama wawancara
tidak terpengaruh secara bermakna.
6. Berat – Ketegangan berat sedemikian rupa sehingga taraf interaksi
interpersonal terganggu. Misalnya pasien mungkin terus-menerus
bergerak seperti cacing kepanasan, tidak dapat duduk untuk waktu
lama atau menunjukkan hiperventilasi.
7. Sangat berat – Ketegangan sangat mencolok yang
dimanifestasikan oleh tanda-tanda panik atau percepatan gerakan
motorikkasar, seperti langkah cepat yang gelisah dan ketidakmampuan
tetap duduk untuk waktu lebih lama dari semenit, yang menyebabkan
percakapan tidak mungkin diteruskan.
G 5. Manerisme dan Posturing.
Gerakan atau sifat tubuh yang tidak wajar seperti yang ditandai oleh kejanggalan, kaku,
disorganisasi atau penampilan yang bizar.
Dasar penilaian : Observasi tentang manifestasi fisik selama wawancara dan juga
laporan dari perawat atau keluarga.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Kejanggalan ringan dalam pergerakan atau kekakuan
sifat tubuh yang ringan.
4. Sedang – Gerakan janggal yang putus-putus atau sikap tubuh tidak
wajar yang dipertahankan untuk suatu periode yang singkat.
5. Agak berat – Sekali-sekali tampak ritual bizar, atau sikap tubuh yang
berubah-ubah (contorter), atau posisi abnormal yang
dipertahankan terus menerus untuk waktu yang agak lama.
6. Berat – Sering tampak pengulangan bizar, mannerisme, atau gerakan-
gerakan stereotipik, atau sikap tubuh yang berubah-ubah yang
diertahankan terus menerus untuk waktu yang agak lama.
7. Sangat berat – Fungsi terganggu berat oleh keterlibatan terus
menerus yang jelas dalam ritual, mannerisme, atau gerakan-gerakan
stereotipik atau suatu sikap tubuh tidak wajar tertentu yang
dipertahankan terus menerus dalam sebagian besar waktu.
G 6. Depresi.
Perasaan sedih, putus asa, rasa tidak berdaya, dan pesimisme.
Dasar penilaian : Laporan lisan tentang alam perasaan depresi selama wawancara
dan yang teramati pengaruhnya terhadap sikap dan perilaku.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Mengekspresikan kesedihan atau putus asa hanya bila
ditanya, tetapi tidak terdapat bukti dalam sikap keseluruhan atau
cara bertindak.
4. Sedang – Perasaan sedih atau tidak ada harapan yang jelas, yang
mungkin secara spontan diutarakan, tetapi alam perasaan depresi tidak
berdampak besar terhadap perilaku atau fungsi social, dan pasien
biasanya masih dapat dibuat ceria.
5. Agak berat – Alam perasaan depresi yang jelas disertai kesedihan
yang nyata, pesimisme, kehilangan minat social, retardasi
psikomotor dan sedikit pengaruhnya terhadap nafsu makan dan
tidur. Pasien tidak mudah dibuat ceria.
6. Berat – Alam perasaan depresi yang mencolok disertai dengan
perasaan duka nestapa terus menerus, kadang – kadang
menangis,tidak ada harapan, dan rasa tidak berharga. Sebagai
tambahan terdapat pengaruh yang besar terhadap nafsu makan
dan/atau tidur juga dalam fungsi motorik normal dan social, dengan
kemungkinan tanda-tanda mengabaikan diri sendiri.
7. Sangat berat – Perasaan depresi yang sangat mengganggu sebagian
besar fungsi utama. Manifestasinya termasuk sering menangis,
keluhan- keluhan somatic yang jelas, gangguan konsentrasi, retardasi
psikomotor, tidak ada minat social, mengabaikan diri sendiri,
kemungkinan waham depresi atau nihilistic, dan/atau kemungkinan
pikiran atas tindakan bunuh diri.
G 7. Kelambanan Motorik.
Penurunan aktivitas motorik seperti tampak dalam perlambatan atau kurangnya
gerakan dan pembicaraan, penurunan respons terhadap stimulasi dan pengurangan tonus
tubuh.
Dasar penilaian : Manifestasi selama wawancara dan juga laporan oleh perawat atau
keluarga
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Pengurangan gerakan dan pembicaraan yang ringan namun
nampak. Pasien mungkin kurang produktif dalam percakapan dan
gerak gerik.
4. Sedang – Pasien jelas lambat dalam gerakan, pembicaraan mungkin
ditandai oleh kurang produktif, termasuk respons yang lambat,
berhenti yang lama atau lambatnya arus pembicaraan.
5. Agak berat – Pengurangan aktivitas motorik mencolok, mengakibatkan
komunikasi sangat tidak produktif atau membatasi fungsi dalam
situasi social dan pekerjaan. Pasien biasanya dapat dijumpai sedang
duduk atau berbaring.
6. Berat – Gerakan-gerakan sangat lambat berakibat aktivitas dan
pembicaraan yang minim. Pokoknya, hari dihabiskan dengan duduk
bermalas-malasan atau tiduran.
7. Sangat berat – Pasien hamper tidak bergerak sama sekali dan
benar- benar tidak bereaksi terhadap stimuli dari luar.
G 8. Ketidakkooperatifan.
Aktif menolak untuk patuh terhadap keinginan tokoh bermakna termasuk
pewawancara, staf rumah sakit, atau keluarga, yang mungkin disertai dengan rasa
tidak percaya, defensive, keras kepala, negativistic, penolakan terhadap otoritas,
hostilitas atau suka membangkang.
Dasar penilaian : Perilaku interpersonal yang diobservasi selama wawancara, dan juga
dilaporkan oleh perawat atau keluarga.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batas- batas normal.
3. Ringan – Patuh tetapi disertai sikap marah, tidak sabar, atau sarkasme.
Mungkin ada penolakan yang tidak mengganggu terhadap
penyelidikan yang sensitive selama wawancara.
4. Sedang – Kadang-kadang terdapat penolakan langsung untuk patuh
terhadap tuntunan-tuntunan social yang normal seperti merapikan
tempat tidur, mengikuti acara yang telah dijadwalkan dsb. Pasien
mungkin memproyeksikan hostilitas, defensive, atau bersikap
negative, tetapi biasanya masih dapat diatasi.
5. Agak berat – Pasien seringkali tidak patuh terhadap tuntutan
lingkungannya dan mungkin dijuluki orang sebagai “orang
buanagn” atau “ oaring yang mempunyai problem sikap yang serius”.
Ketidakkooperatifan tercermin dalam jelas-jelas defensive, atau
iritabilitas terhadap pewawancara dan mungkin tidak bersedia
menghadapi banyak pertanyaan.
6. Berat – Pasien sangat tidak kooperatif, negativistic dan mungkin juga
suka membangkang. Menolak untuk patuh terhadap sebagian besar
tuntutan social dan mungkin tidak mau memulai atau mengikuti
wawancara sepenuhnya.
7. Sangat berat – Resistensi aktif yang jelas berdampak serius terhadap
benar-benar seluruh bidang fungsi utama. Pasien mungkin menolak
untuk ikut dalam aktifitas social apapun, mengurus kebersihan diri,
bercakap- cakap dengan keluarga atau staf dan bahkan untuk
berpartisipasi dalam wawancara singkat sekali pun.
G 9. Isi Pikiran Yang Tidak Biasa.
Proses pikir ditandai ole hide-ide yang asing, fantastic atau bizar, berkisar dari yang
ringan atau atipikal sampai distorsi, tidak logis dan sangat tidak masuk akal.
Dasar penilaian : Isis pikiran yang diekspresikan selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Isi pikiran ganjil atau idiosinkratik atau ide yang lazim
dalam konteks yang aneh.
4. Sedang – Ide-ide seringkali mengalami distorsi dan sekali-sekali
cukup bizar.
5. Agak berat – Pasien mengekspresikan banyak pikiran-pikiran asing dan
fantastic (misalnya menjadi anak angkat raja, orang yang berhasil
lolos dari kematian) atau beberapa pikiran yang sangat tidak masuk
akal (misalnya mempunyai ratusan anak, menerima pesan radio dari
angkasa luar melalui sebuah tambalan gigi).
6. Berat – Pasien mengekspresikan banyak ide yang tidak logis atau
tidak masuk akal atau beberapa ide yang jelas berkualitas bizar
(misalnya mempunyai 3 kepala, menjadi seorang pengunjung dari
planet lain).
7. Sangat berat – Proses pikir dipenuhi dengan ide-ide yang tidak
masuk akal (absurd), bizar dan aneh sekali (grotesque).
G 10. Disorientasi.
Kurang menyadari (awareness) hubungan seseorang dengan lingkungannya,
termasuk orang, tempat dan waktu yang mungkin disebabkan oleh kekacauan atau
penarikan diri.
Dasar penilaian : Respons terhadap pertanyaan tentang orientasi.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Orientasi umum adekuat, tetapi ada kesulitan tentang hal-
hal yang spesifik. Sebagai contoh, pasien mengetahui lokasinya tetapi
tidak mengetahui alamatnya; mengetahui nama-nama staf rumah sakit
tetapi tidak mengetahui fungsi-fungsi mereka; mengetahui bulan tetapi
kacau tentang hari-hari dalam minggu dan urutan hari, atau salah
tanggal yang lebih dari 2 hari. Mungkin ada penyempitan minat
terbukti dari hanya mengenal lingkungan sempit tetapi tidak
mengenal lingkungan yang lebih luas, misalnya kemampuan untuk
mengenali staf tetapi tidak tahu nama Walikota, Gubernur atau
Presiden.
4. Sedang – Hanya mengenal sebagian orang, tempat dan waktu.
Contohnya pasien mengetahui dia ada di rumah sakit tetapi tidak tahu
nama rumah sakitnya; tahu nama kota tetapi tidak tahu wilayahnya atau
provinsinya; tahu nama terapis utama tetapi banyak tidak tahu perawat-
perawat langsung lainnya; tahu tahun dan musim tetapi tidak yakin
tentang nama-nama bulan.
5. Agak berat – Jelas terdapat kegagalan dalam mengenal orang, tempat
dan waktu. Pasien hanya mempunyai ide yang samara dimana ia ada
dan nampaknya tidak kenal dengan sebagian besar orang di
lingkungannya. Ia mungkin mengenal tahun dengan benar atau
hamper benar, tetapi tidak tahu bulan yang sekarang, hari dalam
minggu atau bahkan musim.
6. Berat – Kegagalan yang mencolok dalam mengenal orang, tempat dan
waktu. Contoh, pasien tak tahu di mana ia ada, kacau menyebut
tanggal yang lebih dari 1 tahun, hanya dapat menyebutkan satu atau
dua orang dalam kehidupannya sekarang.
7. Sangat berat – Pasien tampak mengalami disorientasi menyeluruh
tentang orang, tempat dan waktu. Sangat kacau atau tidak mengenal
sama sekali tentang lokasi, tahun sekarang, dan bahkan orang yang
sangat dekat seperti orang tua, suami/isteri dan terapis utamanya.
G 11. Perhatian Buruk.
Gagal dalam memusatkan perhatian yang ditandai oleh konsentrasi yang buruk,
perhatian mudah teralih oleh stimulasi eksternal dan internal dan kesulitan dalam
mengendalikan (harnessing), mempertahankan, atau mengalihkan (shifting) focus pada
stimuli baru.
Dasar penilaian : Manifestasi-manifestasi selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Konsentrasi terbatas yang dibuktikan dengan sekali-sekali
peka terhadap gangguan atau perhatian goyah menjelang akhir
wawancara.
4. Sedang – Percakapan dipengaruhi oleh kecenderungan untuk
mudahteralih, kesulitan dalam mempertahankan konsentrasi yang
lama atas topic tertentu atau ada masalah dalam mengalihkan perhatian
ke topic yang baru.
5. Agak berat – Percakapan sangat terganggu oleh konsentrasi yang
buruk, mudah teralih, dan kesulitan dalam mengalihkan focus secara
tepat.
6. Berat – Perhatian pasien hanya dapat dikendalikan untuk waktu yang
singkat atau dengan usaha yang keras, disebabkan oleh sangat
mudahnya terganggu oleh stimuli internal dan eksternal.
7. Sangat berat – Perhatian sangat terganggu bahkan percakapan yang
singkat pun tidak mungkin.
G 12. Kurangnya Daya Nilai dan Tilikan.
Hendaya kesadaran (awarness) atau pemahaman atas kondisi psikiatrik dan situasi
kehidupan dirinya. Dibuktikan oleh kegagalan untuk mengenali penyakit atau gejala-
gejala psikiatrik yang lalu atau sekarang, menolak perlunya perawatan atau pengobatan
psikiatrik, keputusan ditandai oleh buruknya antisipasi terhadap konsekuensi, serta
rencana jangka pendek dan jangka panjang yang tidak realistic.
Dasar penilaian : Isi pikiran yang diekspresikan selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Mengetahui mempunyai gangguan psikiatrik tetapi dengan
jelas meremehkan keseriusannya, maksud pengobatan atau pentingnya
memperkirakan gejala untuk mencegah kekambuhan. Perencanaan
masa depan mungkin disusun dengan buruk.
4. Sedang – Pasien hanya menunjukkan pengenalan yang samara-
samar atau dangkal tentang penyakitnya. Mungkin ada fluktuasi
dalam pengertian bahwa ia sakit atau sedikit menyadari adanya gejala
utama seperti waham, proses pikir yang kacau, kecurigaan dan
penarikan diri dari lingkungan social. Pasien mungkin
merasionalisasikan kebutuhan akan pengobatan dalam bentuk untuk
meredakan gejala-gejala yang lebih ringan seperti anxietas,
ketegangan dan kesulitan tidur.
5. Agak berat – Mengakui gangguan psikiatrik yang lampau tetapi
menyangkal yang sekarang. Bila ditantang pasien mungkin mengakui
adanya beberapa gejala yang tidak ada hubungannya atau tidak
bermakna, yang cenderung untuk diterangkannya dengan
misinterpretasi yang parah atau yang bercorak waham. Kebutuhan
akan pengobatan psikiatrik juga tidak diketahuinya.
6. Berat – Pasien menyangkal telah mengalami gangguan psikiatrik. Ia
mengingkari adanya gejala psikiatrik apa pun di masa lampau atau
sekarang dan meskipun patuh, sebenarnya menyangkal perlunya
pengobatan dan perawatan.
7. Sangat berat – Tegas-tegas menyangkal adanya penyakit psikiatrik
di masa lampau dan sekarang. Perawatan dan pengobatan saat ini
diberi interpretasi bersifat waham (contoh sebagai hukuman untuk
perbuatan salah, penyiksaan oleh algojo dsb), dan dengan
demikian mungkin pasien menolak bekerjasama dengan terapis,
menolak obat atau aspek pengobatan yang lain.
G 13. Gangguan Dorongan Kehendak.
Gangguan dalam dorongan kehendak, makan dan minum dan pengendalian pikiran,
perilaku, gerakan-gerakan, serta pembicaraan.
Dasar penilaian : Isi pikiran dan perilaku yang dimanifestasikan selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Terdapat bukti keragu-raguan dalam percakapan dan
berpikir yang mungkin secara ringan menghambat verbalisasi dan
proses kognitif.
4. Sedang – Pasien seringkali ambivalen dan menunjukkan kesulitan
yang nyata dalam mengambil keputusan. Percakapan mungkin
terganggu oleh perubahan dalam berpikir dan konsekuensinya
verbalisasi serta fungsi kognitif jelas terganggu.
5. Agak berat – Gangguan dorongan kehendak mempengaruhi proses
pikir dan juga perilaku. Pasien menunjukkan keraguan jelas yang
mengganggu untuk memulai serta melanjutkan aktivitas motorik
dan social, dan yang juga dibuktikan oleh pembicaraan yang terhenti-
henti.
6. Berat – Gangguan dorongan kehendak mempengaruhi pelaksanaan
fungis motorik otomatis yang sederhana seperti berpakaian dan
berhias, dan secara mencolok mempengaruhi pembicaraan.
7. Sangat berat – Kegagalan kehendak yang hamper menyeluruh yang
dimanifestasikan dalam inhibisi nyata pada gerakan dan pembicaraan
yang mengakibatkan immobilitas dan atau mutisme.
G 14. Pengendalian Impuls yang Buruk.
Gangguan pengaturan dan pengendalian impuls yang mengakibatkan pelepasan
ketegangan dan emosi yang tiba-tiba, tidak teratur sewenang-wenang, atau tidak terarah
tanpa merisaukan konsekuensinya.
Dasar penilaian : Perilaku selama wawancara dan yang dilaporkan oleh perawat dan
keluarganya.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Pasien cenderung mudah marah dan frustasi bila
menghadapi stress atau pemuasannya ditolak tetapi jarang bertindak
impulsive.
4. Sedang – Dengan provokasi yang minimal pasien menjadi marah dan
mencaci maki. Mungkin sekali-sekali mengancam, merusak atau
terdapat satu atau dua episode yang melibatkan konfrontasi fisik atau
perselisihan ringan.
5. Agak berat – Pasien memperlihatkan episode impulsive yang
berulang- ulang, termasuk mencaci maki, pengrusakan harta benda
atau ancaman fisik. Mungkin ada satu atau dua episode yang
melibatkan serangan serius, sehingga pasien perlu diisolasi, difiksasi
dan bila perlu diberi sedasi.
6. Berat – Pasien sering agresif secara impulsive, mengancam, menuntut
dan merusak, tanpa pertimbangan yang nyata tentang konsekuensinya.
Menunjukkan perilaku menyerang dan mungkin juga serangan
seksual, dan kemungkinan berperilaku yang merupakan respons
terhadap perintah-perintah yang bersifat halusinasi.
7. Sangat berat – Pasien memperlihatkan serangan yang dapat membunuh
orang, penyerangan seksual, kebrutalan yang berulang, atau perilaku
merusak diri sendiri. Membutuhkan pengawasan langsung yang terus
menerus atau fiksasi karena ketidakmampuan mengendalikan
impuls yang berbahaya.
G 15. Preokupasi.
Terpaku pada pikiran dan perasaan yang timbul dari dalam diri dan disertai
pengalaman autistic sedemikian rupa sehingga terjadi gangguan orientasi realita dan
perilaku adaptif.
Dasar penilaian : Perilaku interpersonal yang tampak selama wawancara.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Keterlibatan yang berlebihan dalam kebuthan-kebutuhan atau
masalah-masalah pribadi, seperti percakapan yang selalu kembali ke
tema-tema egosentris dan ada pengurangan kepedulian yang
diperlihatkan terhadap orang-orang lain.
4. Sedang – Pasien sekali-sekali kelihatan terpaku sendiri seolah-olah
melamun atau sedang terlibat dalam pengalaman internal yang sedikit
mempengaruhi komunikasi.
5. Agak berat – Pasien sering terlihat terikat dalam pengalaman
autistic seperti yang dibuktikan oleh perilaku yang secara
bermakna mengganggu fungsi social dan komunikasi, seperti
terdapatnya pandangan kosong, mengguman, atau berbicara sendiri
atau adanya pola-pola gerakan stereotipik
6. Berat – Preokupasi yang mencolok dengan pengalaman autistic, yang
secara serius membatasi konsentrasi, kemampuan untuk bercakap-
cakap dan orientasi lingkungan. Pasien mungkin sering tampak
tersenyum, tertawa, menggumam, berbicara atau berteriak sendiri.
7. Sangat berat – Keterpakuan yang parah dengan pengalaman autistic,
yang sangat mempengaruhi seluruh bidang utama perilaku pasien.
Pasien mungkin terus menerus berespons secara verbal dan perilaku
terhadap halusinasi dan menunjukkan sedikit kesadaran
(awareness) akan orang lain atau lingkungan eksternal.
G 16. Penghindaran Sosial Secara Aktif.
Penurunan keterlibatan social yang disertai adanya ketakutan yang tidak beralasan,
permusuhan atau ketidak percayaan.
DAsar penilaian : Laporan fungsi social oleh perawat atau keluarga.
1. Tidak ada – definisi tidak dipenuhi.
2. Minimal – patologis diragukan ; mungkin suatu ujung ekstrim dari
batasan normal.
3. Ringan – Pasien tampak tidak enak dengan kehadiran orang lain
dan lebih suka menghabiskan waktu sendirian meskipun dia masih
mengambil bagian dalam fungsi social bila diperlukan.
4. Sedang – Pasien dengan malas mengikuti semua atau sebagian besar
aktivitas social tetapi mungkin perlu dibujuk atau mungkin mengakhiri
lebih awal sehubungan dengan anxietas, kecurigaan atau permusuhan.
5. Agak berat – Pasien dengan ketakutan atau marah, menjauhi banyak
interaksi social walaupun orang-orang lain berusaha melibatkan dia.
Cenderung menghabiskan waktu sia-sia sendirian.
6. Berat – Pasien mengambil bagian dalam sangat sedikit aktivitas social
karena rasa takut, permusuhan atau tidak percaya. Bila didekati, pasien
menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk memutuskan
interaksi, dan umumnya ia cenderung mengisolisasi diri dari orang
lain.
7. Sangat berat – Pasien tidak dapat dilibatkan dalam aktivitas social
karena adanya ketakutan yang hebat, dan rasa permusuhan atau
adanya waham kejaran. Bila mungkin, ia menghindari semua interaksi
dan tinggal terisolasi dari orang lain.
Daftar Pustaka
Montoya A, Valladares A, Lizán L, San L, Escobar R, Paz S. (2011). Validation of the
Excited Component of the Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS-EC)
in a naturalistic sample of 278 patients with acute psychosis and agitation in a
psychiatric emergency room. Health Qual Life Outcomes;9:18.
Vieta E, Garriga M, Cardete L, Bernardo M, Lombraña M, Blanch J, et al. (2017).
Protocol for the management of psychiatric patients with psychomotor agitation.
BMC Psychiatry, 6 (2).
Van den Oord EJCG, Rujescu D, Robles JR, Giegling I, Birrell C, Bukszár J, et al.
(2006). Factor structure and external validity of the PANSS revisited. Schizophr.
Res, 82:213–23.
Bauer JØ, Stenborg D, Lodahl T, Mønsted MM. (2016). Treatment of agitation in the
acute psychiatric setting An observational study of the effectiveness of
intramuscular psychotropic medication. Nord. J. Psychiatry;70:599–605.
Garriga M, Pacchiarotti I, Kasper S, Zeller SL, Allen MH, Vázquez G, et al. (2016).
Assessment and management of agitation in psychiatry: Expert consensus. World
J. Biol. Psychiatry Off. J. World Fed. Soc. Biol. Psychiatry;17:86–128.
Sacchetti E, Amore M, Di Sciascio G, et al. (2017). Psychomotor Agitation in Psychiatry
: An Italian Expert Consensus. EB Psy Care,. 3:1-24.
LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN JIWA
“RUFA”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Keperawatan Jiwa
Oleh :
MEGA DWI ANGGRAENI
NIM. 201920461011089
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2020
A. Definisi
RUFA (Respons Umum Fungsi Adaptif)/ GAFR (General Adaptive Funtion
Response) merupakan modifikasi dari skor GAF, karena keperawatan menggunakan
pendekatan respons manusia dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
fungsi respons yang adaptif (Stuart &Laraia, 2005).
Keperawatan meyakini bahwa kondisi manusia selalu bergerak pada rentang
adaptif dan maladaptif. Kondisi adaptif dan maladaptive ini dapat dilihat atau diukur dari
respons yang ditampilkan. Dari respon sini kemudian dirumuskan diagnosa skor RUFA
dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien. Sehingga setiap
diagnosa keperawatan memiliki kriteria skor RUFA tersendiri. Pengkajian
Kegawatdaruratan Jiwa berdasarkan RUFA (Mahardika, 2013) yaitu:
Table 1. RUFA Perilaku Kekerasan
Domain Intensif I Intensif II Intensif III
1 - 10 11 - 20 21 – 30
Pikiran Orang lain / makhluk Orang lain / Orang lain /
lain mengancam makhluk lain makhluk lain
mengancam mengancam
Perasaan Marah dan jengkel Marah dan jengkel Kadang marah dan
terus-menerus (seringkali) jengkel, sering
tenang
Tindakan Terus-menerus Hanya mengancam Kadang-kadang
mengancam orang lain secara verbal masing
(verbal) mengancam secara
Tidak ada tindakan
Terus-menerus kekerasan fisik verbal.
berusaha mencederai
Komunikasi kacau Komunikasi cukup
orang lain (fisik)
koheren
Komunikasi sangat
kacau
Table 2. RUFA Waham
Domain Intensif I Intensif II Intensif III
1 - 10 11 - 20 21 – 30
Pikiran Terus menerus terfiksasi Pikiran Pikiran kadang-
dengan wahamnya didominasi oleh kadang
isi waham, dikendalikan
kadang masih wahamnya
memiliki pikiran
yang rasional
Perasaan Sangat dipengaruhi oleh Lebih Kadang masih
wahamnya dipengaruhi dipengaruhi
wahamnya wahamnya
Tindakan Komunikasi sangat kacau, Komunikasi Komunikasi
selalu dipengaruhi oleh masih kacau. sering terganggu
waham. waham
Tidak
Mungkin mengancam mencederai
orang lain orang lain
Mencederai orang lain
Table 3. RUFA Risiko Bunuh Diri
(Skor: 1-10 Skala (Skor: 11-20 Skala (Skor: 21-30 Skala RUFA
RUFA) RUFA
Percobaan Bunuh Diri Ancaman Bunuh Isyarat Bunuh Diri
1. Aktif mencoba bunuh Diri 1. Mungkin sudah
diri dengan cara: 1. Aktif memiliki ide untuk
a. gantung memikirkan mengakhiri hidupnya,
diri rencana bunuh namun tidak disertai
b. minum diri, namun tidak dengan ancaman dan
racun disertai dengan percobaan bunuh diri
c. memoton percobaan bunuh 2. Mengungkapkan
g urat nadi diri perasaan seperti rasa
d. menjatuh 2. Mengatakan bersalah / sedih / marah /
kan diri dari ingin bunuh diri putus asa / tidak berdaya
tempat yang namun tanpa 3. Mengungkapkan hal-
tinggi rencana yang hal negatif tentang diri
2. Mengalami depresi spesifik sendiri yang
3. Mempunyai rencana 3. Menarik diri menggambarkan harga diri
bunuh diri yang dari pergaulan rendah
spesifik sosial 4. Mengatakan: “Tolong
4. Menyiapkan alat jaga anak-anak karena saya
untuk bunuh diri akan pergi jauh!” atau
(pistol, pisau, silet, “Segala sesuatu akan lebih
dll) baik tanpa saya.”
Table 4. RUFA Halusinasi
Domain Intensif I Intensif II Intensif III
1 - 10 11 – 20 21 – 30
Penilaian Penilaian realitas Mulai dapat Pasien sudah
realitas terganggu, pasien membedakan mengenal
tidak bisa yang nyata dan halusinasinya
membedakan yang tidak nyata. Berfikir logis
yang nyata dan Kadang-kadang Persepsi
yang tidak nyata. mengalami adekuat
Halusinasi gangguan pikiran
dianggap nyata
Perasaan Panik Cemas berat Cemas sedang
Reaksi emosinal Emosi sesuai
berlebihan atau dengan
berkurang, mudah kenyataan
tersinggung
Perilaku Pasien PK secara verbal Perilaku sesuai
kehilangan Bicara, senyum Ekspresi
control diri, dan tertawa tenang
melukai diri sendiri Frekwensi
sendiri, orang Mengatakan munculnya
lain dan mendengar suara, halusinasi
lingkungan melihat, jarang
akibat mengikuti mengecap,
isi halusinasinya mencium dan atau
PK secara verbal merasa sesuatu
Kegiatan fisik yang tidak nyata.
yang Sikap curiga dan
merefleksikan isi permusuhan
halusinasi seperti Frekwensi
amuk, agitasi, munculnya
memukul atau halusinasi sering
melukai orang
secara fisik, serta
pengerusakan
secara
lingkungan
Gejala di atas
ditemukan secara
terus-menerus
pada pasien
Table 5. RUFA Panik
Domain Intensif I Intensif II Intensif III
1 - 10 11 – 20 21 – 30
Respon Napas pendek, rasa Napas pendek, Napas
fisik tercekik dan palpitasi, berkeringat, tekanan pendek, mulut
nyeri dada, sakit darah naik kering,
kepala, pucat dan anoreksia,
gemetar diare/konstipa
si
Persepsi Persepsi sangat kacau, Persepsi sangat sempit, Hanya
takut menjadi gila, merasa tidak mampu berfokus pada
takut kehilangan menyelesaikan masalah masalahnya
kendali
Perilaku Agitasi, mengamuk, Marah Sering merasa
marah gelisah,
gerakan
tersentak-
sentak
(meremas
tangan)
Emosi Ketakutan Tegang Adanya
perasaan
tidak aman
Verbal Blocking atau berteriak Bicara cepat terkadang Banyak
blocking bicara dan
cepat
Table 6. RUFA Isolasi Sosial
Domain Intensif I Intensif II Intensif III
1 - 10 11 – 20 21 – 30
Respon terhadap Apatis Apatis Ada tapi jarang
lingkungan
Respon motorik Stupor Mulai ada Pergerakan tubuh
pergerakan tubuh lambat
Kataton
Komunikasi Tidak ada Ada respon non Respon verbal
dengan orang lain verbal seperlunya
Kemampuan Total care Pertial care Minimal care
perawatan diri :
Makan dan
Tidak mampu Dibantu Dimotivasi
minum
Berhias
Toileting Tidak mampu Dibantu Dimotivasi
Kebersihan
Tidak mampu Dibantu Dimotivasi
diri
Tidak mampu Dibantu Dimotivasi
Afek Datar Tumpul Sesuai
Kontak mata Tidak ada Ada tapi jarang ada
Table 7. RUFA Overdosis Opioid
Domain Intensif I Intensif II Intensif III
1 - 10 11 – 20 21 – 30
Tingkat koma Somnolen Compos mentis
kesadaran
Komunikasi Tidak ada Non verbal dan Koheren baik
bicara kacau verbal maupun
non verbal serta
gelisah
TTV Respirasi Respirasi normal, Respirasi normal,
hipoventilasi heart rate takikardia, suhu
kurang dari 12 kali bradikardi, suhu tubuh fluktuatif,
permenit, Heart rate badan fluktuatif, tekanan darah
bradikardi, hipotensi meningkat dari
hipotermi, normal
hipotensi
Respon fisik Pupil miosis (pin Pupil dilatasi Pupil dilatasi,
point pupil), bibir goose flesh,
dan tubuh membiru yawning,
lakrimasi,
berkeringat,
rhinore,
emosilabil, nyeri
abdomen, diare,
mual dan atau
muntah dan tremor
Table 8. RUFA Putus Zat Golongan Opioid
Domain Intensif I Intensif II Intensif III
1 - 10 11 – 20 21 – 30
Mual dan Mual menetap Mual ringan tanpa Tidak mual dan
muntah kadang muntah muntah tidak muntah atau
mual yang hilang
timbul
Berdirinya Goose flesh jelas Goose flesh jelas dan Kadang-kadang
bulu-bulu pada tubuh dan dapat diraba Goose flesh jelas
badan / tangan pada tubuh dan
merinding / tangan
goose flesh
TTV Respirasi Respirasi normal, Respirasi normal,
hipoventilasi heart rate bradikardi, takikardia, suhu
kurang dari 12 suhu badan fluktuatif, tubuh fluktuatif,
kali permenit, hipotensi tekanan darah
Heart rate meningkat dari
bradikardi, normal
hipotermi,
hipotensi
Respon fisik Pupil miosis (pin Pupil dilatasi Pupil dilatasi,
point pupil), bibir gooseflesh,
dan tubuh yawning,
membiru lakrimasi,
berkeringat,
rhinore,
emosilabil, nyeri
abdomen, diare,
mual dan atau
muntah dan tremor
Penanganan pasien amuk di RS terdiri dari Managemen Krisis dan Managemen
Perilaku Kekerasan. Managemen krisis adalah penanganan yang dilakukan pada saat
terjadi perilaku amuk oleh pasien. Tujuannya untuk menenangkan pasien dan mencegah
pasien bertindak membahayakan diri, orang lain dan lingkungan karena perilakunya yang
tidak terkontrol. Sedangkan managemen perilaku kekerasan adalah penanganan yang
dilakukan setelah situasi krisis terlampaui, di mana pasien telah dapat mengendalikan
luapan emosinya meski masih ada potensi untuk untuk meledak lagi bila ada
pencetusnya.
Pada saat situasi krisis, di mana pasien mengalami luapan emosi yang hebat,
sangat mungkin pasien melakukan tindak kekerasan yang membahayakan baik untuk diri
pasien, orang lain, maupun lingkungan. Walaupun sulit sedapat mungkin pasien diminta
untuk tetap tenang dan mampu mengendalikan perilakunya. Bicara dengan tenang, nada
suara rendah, gerakan tidak terburu-buru, sikap konsisten dan menunjukkan kepedulian
dari petugas kepada pasien biasanya mampu mempengaruhi pasien untuk mengontrol
emosi dan perilakunya dengan lebih baik.
Bila pasien tidak bisa mengendalikan perilakunya maka tindakan pembatasan
gerak (isolasi) dengan menempatkan pasien di kamar isolasi harus dilakukan. Pasien
dibatasi pergerakannya karena dapat mencederai orang lain atau dicederai orang lain,
membutuhkan pembatasan interaksi dengan orang lain dan memerlukan pengurangan
stimulus dari lingkungan. Pada saat akan dilakukan tindakan isolasi ini pasien diberi
penjelasan mengenai tujuan dan prosedur yang akan dilakukan sehingga pasien tidak
merasa terancam dan mungkin ia akan bersikap lebih kooperatif. Selama dalam kamar
isolasi, supervisi dilakukan secara periodik untuk memantau kondisi pasien dan
memberikan tindakan keperawatan yang dibutuhkan termasuk memenuhi kebutuhan
dasarnya seperti nutrisi, eliminasi, kebersihan diri, dsb.
Bila tindakan isolasi tidak bermanfaat dan perilaku pasien tetap berbahaya,
berpotensi melukai diri sendiri atau orang lain maka alternatif lain adalah dengan
melakukan pengekangan/pengikatan fisik. Tindakan ini masih umum digunakan petugas
di RS dengan disertai penggunaan obat psikotropika. Untuk menghindari ego pasien
terluka karena pengikatan, perlu dijelaskan kepada pasien bahwa tindakan pengikatan
dilakukan bukan sebagai hukuman melainkan pencegahan resiko yang dapat ditimbulkan
oleh perilaku pasien yang tidak terkendali. Selain itu juga perlu disampaikan pula
indikasi penghentian tindakan pengekangan sehingga pasien dapat berpartisipasi dalam
memperbaiki keadaan. Selama pengikatan, pasien disupervisi secara periodik untuk
mengetahui perkembangan kondisi pasien dan memberikan tindakan keperawatan yang
diperlukan. Selanjutnya pengekangan dikurangi secara bertahap sesuai kemampuan
pasien dalam mengendalikan emosi dan perilakunya, ikatan dibuka satu demi satu,
dilanjutkan dengan pembatasan gerak (isolasi), dan akhirnya kembali ke lingkungan
semula.
Pasien yang melakukan kekerasan dan melawan paling efektif ditenangkan
dengan obat sedatif dan atau antipsikotik yang sesuai. Obat sedatif yang biasa digunakan
misalnya Valium injeksi 5 - 10 mg atau lorazepam (Ativan) 2 -4 mg yang bisa diberikan
secara intramuskuler atau intravaskuler. Pada umumnya obat antipsikotik yang paling
bermanfaat untuk pasien jiwa yang melakukan kekerasan adalah injeksi Haloperidol 5
-10 mg yang diberikan secara intra muskuler
B. Kesimpulan
Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk
dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak
menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam. Terdapat 2
model keperawatan jiwa yang relevan untuk mengatasi masalah PTSD, yaitu model
keperawatan jiwa psychoanalytical dari Freud dan Erickson dan Social dari Caplan dan
Szasz. Beberapa tindakan keperawatan yang bisa dilakukan diantaranya tercantum dalam
label NIC Abuse Protection Support, Active Listenin, Anger Control Assistance, dan
Environmental Management.
Pasien dengan PTSD memiliki mekanisme koping yang tidak efektif sehingga
terkadang pasien memiliki keinginan unutk bunuh diri. Risiko bunuh diri ini bisa
diketahui melalui karakteristiknya melalui aspek psikologis, biologis dan sosiologis.
Selain itu perilaku bunuh diri bisa diketahui melalui Executive Functioning: Cognitive
Rigidity, Dichotomous thinking, dan Deficient Problem-Solving, Hopelessness, alasan
untuk hidup, Perfectionism, konsep diri, Ruminative Response Style, dan
Autobiographical Memory. Kegawatdaruratan keperawatan jiwa bisa dikaji melalui
respon pasien dengan menggunakan skor RUFA. Setiap diagnosa memiliki skor RUFA
tersendiri. Pada keadaan kegawatdaruratan Jiwa untuk mengatasi krisis misalkan perilaku
kekerasan seorang perawat bisa melakukan tindakan managemen krisis dan management
perilaku kekerasan.
DAFTAR PUSTAKA
Corr, Charless A, Clyde Nabe, Clyde M. Nabe, Donna M. Corr. (2003). Death and
Dying, Life and Living. Brooks: Cole
Dochtermen, joanne M & Bulecheck, Gloria N. (2004). Nursing Intervention
Classification. Fourth Edition. United States Of America: Mosby
Ellis,T.E. & Rutherford,B. (2008). Cognition and Suicide: Two Decades od Progress.
International Journal Of Cognitive Therapy, 1; 47-68
Kaplan & Saddock. (1997). Sinopsis Psikiatri .Jakarta: Bina Rupa Aksara
Mahardika, M. (2013). Pengkajian Kegawatdaruratan Jiwa. Diakses melalui
http://www.scribd.com/doc/154394539/pengkajian-baru-RUFA tanggal 29
September 2014
McCloskey, J.C. (2004). Nursing Interventions Classification (NIC). Fourth Edition.
Missouri: Mosby Elsevier.
Stuart, G.W &Laraia, M. T. (2005). Principels And Practice Of Psychiatric Nursing (8
thed). Philadelphia: Elseiver Mosby
Yosep, Iyus. (2011). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama