0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
530 tayangan21 halaman

Kapasitor Bank

Bab ini membahas tentang kapasitor bank, sifat beban listrik, faktor daya, dan hubungan antara arus dan tegangan pada rangkaian AC. Mahasiswa akan mempelajari cara mengoptimalkan faktor daya dengan memperbaiki sudut fasa antara arus dan tegangan, serta dampak dari faktor daya rendah terhadap arus yang dibutuhkan untuk mentransfer daya aktual.

Diunggah oleh

dwi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
530 tayangan21 halaman

Kapasitor Bank

Bab ini membahas tentang kapasitor bank, sifat beban listrik, faktor daya, dan hubungan antara arus dan tegangan pada rangkaian AC. Mahasiswa akan mempelajari cara mengoptimalkan faktor daya dengan memperbaiki sudut fasa antara arus dan tegangan, serta dampak dari faktor daya rendah terhadap arus yang dibutuhkan untuk mentransfer daya aktual.

Diunggah oleh

dwi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KAPASITOR BANK

CAPAIAN PEMBELAJARAN KHUSUS


Kemampuan yang akan dimiliki oleh mahasiswa setelah memahami isi bab
ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa mampu mengetahui sifat-sifat beban listrik
2. Mahasiswa mampu menguasai rangkaian kapasitor
3. Mahasiswa mampu mengetahui fungsi faktor daya
4. Mahasiswa mampu memperbaiki faktor daya (cosϕ) mendekati 1 untuk beban
beban induktif
5. Mahasiswa mampu mengoptimalkan daya yang digunakan.

SIFAT BEBAN LISTRIK DAN FAKTOR DAYA


Terdapat tiga macam sifat-sifat beban listrik yaitu, resistif, induktif dan kapasitif.
Di dalam rangkaian listrik arus bolak-balik, terdapat tiga buah daya listrik yang diserap
oleh beban, yaitu daya nyata P, daya reaktif Qdan daya semu S. Apabila terdapat arus
yang mengalir pada beban listrik sebesar I (A) dan besarnya tegangan adalah V (volt),
maka besarnya daya semu S (VA) yang dibutuhkan oleh beban listrik tersebut adalah,
S =
VI……………………………………………………………………………………. (5.1)
Sedangkan daya real P (watt) yang digunakan, dirumuskan sebagai :
P = S cosϕ= VI cosϕ
…………………………………………………………………… (5.2)
Sehingga,cosϕ=pf=P/S…………………………………………………………
…………………. (5.3)
Dimana cosϕ adalah faktor daya (power factor, pf ). Untuk beban yang bersifat
induktif, pf lagging di arusnya tertinggal dari tegangannya. Dan untuk beban yang
bersifat kapasitif, pf leading dimana arusnya mendahului tegangannya. ϕ disebut sudut
daya listrik, yang merupakan sudut antara daya aktif dan daya semu juga merupakan
sudut antara tegangan dan arus listrik.
Dan besarnya daya reaktif Q (KVAR) adalah,
Q = S sinϕ= VI sinϕ
……………………………………………………………………. (5.4) Hubungan daya
beban listrik digambarkan sebagai segitiga daya sebagai berikut
Gambar 4.1. Segitiga daya.

Daya dalam rangkaian DC sama dengan perkalian arus dan tegangan. Daya dalam
rangkaian AC sama dengan perkalian dari arus dan teganganefektif. Tetapi jika ada
reaktansi dalam rangkaian, arus dan tegangan tidak sefasa sehingga selama siklusnya
dapat terjadi arusnya negatif seraya tegangan positif. Hal ini menghasilkan besarnya daya
dalam rangkaian kurang dari perkalian I dan V.
Perkalian harga arus dan tegangan efektif dalam rangkaian AC dinyatakan dalam
voltampere (VA) atau kilovoltampere (kVA). Satu kVA sama dengan 1.000 VA. Daya
yang berguna atau daya nyata diukur dalam watt dan diperoleh jika voltampere dari
rangkaian dikalikan dengan faktor yang disebut faktor daya. Maka faktor daya dalam
rangkaian AC satu fasa adalah,
P (dalam Watt)= VI x faktor daya
Dengan memindahkan suku persamaan di atas, maka didapat:

Faktor daya=

Jadi faktor daya dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara daya nyata dalam watt
dengan voltampere dari rangkaian AC. Harga faktor daya tergantung pada besarnya beda
fasa antara arus sumber dan tegangan sumber. Jika arus dan tegangan sefasa, daya sama
dengan I x V, atau dengan perkataan lain faktor dayanya 1. Jika arus dan tegangan
berbeda fasa 90° seperti dalam rangkaian kapasitif atau induktif murni, faktor daya nol,
sehingga daya nyata juga nol. Dalam rangkaian yang mengandung tahanan dan reaktansi,
harga faktor daya berkisar antara 1 dan 0, tergantung pada harga reaktif dari tahanan dan
reaktansi dalam rangkaian.
Arus yang mengalir dalam rangkaian AC dapat dianggap terdiri dari dua komponen yaitu,
komponen yang sefasa dengan tegangan dan komponen yang berbeda fasa 90° dengan
tegangan seperti yang ditunjukkan pada gambar, komponen yang sefasa disebut
komponen aktif, karena itu jika dikalikan dengan tegangan menghasilkan daya yang
berguna atau daya nyata dari rangkaian. Komponen yang tidak sefasa disebut komponen
reaktif, oleh karena itu jika dikalikan dengan tegangan menghasilkan daya reaktif.Pada
gambar menunjukan bahwa makin besar sudut fasa, makin besar harga komponen reaktif
dan makin kecil harga komponen aktif dan harga arus total yang diberikan.
Dalam gambar cosinus sudut fase θ adalah perbandingan arus aktif terhadap arus total, atau:
……………………………………………………………………………… (5.5)

atau
…………………………………………………………………………… (5.6)

Gambar 4.2.Dua komponen arus rangkaian AC.

Hubungan Fase
Mengalirnya arus bolak-balik disebabkan oleh tegangan bolak-balik yang melewati suatu
tahanan. Jika arus dan tegangan melalui harga nol dan naik keharga maksimumnya dalam arah yang
sama akan pada setiap saat, maka arus dikatakan sefasa dengan tegangan. Tetapi dalam beberapa jenis
rangkaian bila harga nol, maksimum dari arus dan tegangan tidak terjadi pada saat yang sama, maka
arus dikatakan tidak sefasadengan tegangan. Secara teknis faktor daya (PF) adalah cosinus yang
dibentuk oleh gelombang arus yang mendahului ataupun tertinggal dari gelombang tegangan. Jika arus
yang diserap beban tertinggal, maka faktor dayanya adalah lagging atau beban bersifat induktif. Jika
arus yang diserap beban mendahului, maka faktor dayanya adalah leading atau beban bersifat
kapasitif.Secara vektoris dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.3.Vektor daya dan faktor daya.

Ada tiga kemungkinan hubungan fasa antara arus dan tegangan dalam suatu rangkaian:
1. Arus dan tegangan sefasa (PF=1)
Sebuah beban dikatakan mempunyai faktor daya satu, jika perbandingan antara daya nyatanya
dengan daya semunya adalah satu. Faktor daya satu ini dapat terjadi apabila
tidak terjadi pergeseran fasa antara arus yang diserap oleh beban dengan tegangan kerjanya. Faktor
daya satu ini terjadi pada beban-beban yang bersifat resistif (R), misalnya pada lampu pijar.

(a) (b)

Gambar 4.4.Unity Power Factor.

2. Arus tertinggal (lagging) dari tegangan sebesar θ


Sebuah benda dikatakan mempunyai faktor daya tertinggal (lagging), jika arus yang diserap beban
tertinggal dari tegangan kerjanya. Hal ini terjadi pada beban-beban yang bersifat induktif, misalnya motor
listrik, setrika listrik, heater, bor listrik, dll.
v
i
t v

θ 30°
i Gambar 4.5. Arus lagging
terhadap tegangan sebesar 30°.
3. Arus mendahului (leading) tegangan sebesar θ
Sebuah beban dikatakan mempunyai faktor daya mendahului (leading), jika beban mensuplai daya reaktif
atau arus yang diserap beban mempunyai fasa yang mendahului terhadap tegangan kerjanya.
iv i

t
v

Gambar 4.6.Arus leading terhadap tegangan.


Lamanya waktu dimana tegangan mendahului atau tertinggal dari arus, bervariasi dari setiap rangkaian yang
berbeda dari kondisi sefasa sampai kondisi mendahului atau tertinggal. Oleh karena waktu dapat diukur dalam
derajat listrik,beda waktu atau beda fasa arus dan tegangan biasanya dinyatakan dalam derajat listrik yang
disebut sudut fasa.
Sama seperti arus dan tegangan dalam rangkaian satu fasa. Dalam rangkaian tiga θ antara arus dan tegangan
juga dapat memiliki beda fasa.

Faktor DayaRendah
Faktor daya yang rendah biasanya dihasilkan oleh motor induksi, terutama pada beban-beban rendahdan
unit-unit balas (ballast) dari lampu pelepas (discharge lighting) yang memerlukan arus magnetisasi reaktif
untuk geraknya. Alat-alat las busur listrik juga memiliki faktor daya yang rendah. Medan magnet dari
peralatan-perlatan seperti ini memerlukan arus yang tidak melakukan kerja yang bermanfaat dan tidak
mengakibatkan panas atau daya mekanis, tetapi yang diperlukan hanyalah untuk membangkitkan medan.
Walaupun arus dikembalikan ke sumber jika medan turun mendadak, perlu menambahkan penampang kabel
dan instalasi untuk membawa arus ini. Hanya komponen arus aktif dan bermanfaat yang mempertanggung
jawabkan kerja bermanfaat yang dilakukan oleh peralatan tersebut.
Faktor daya yang rendah juga disebabkan oleh pemasangan kapasitor secara berlebihan. Tetapi hal ini
tidak biasanya terjadi. Sehingga pada umumnya faktor daya yang rendah yang biasanya terjadi adalah
disebabkan oleh pembebanan induktif yang ada pada sistem secara berlebihan.Faktor daya yang rendah dapat
dirasakan malam hari saat beban turun, maka tegangan suplai menjadi lebih besar dan menyebabkan arus
magnetisasi dari motor dan transformator bertambah, maka nilai faktor daya pada sistem yang sedang
beroperasi menjadi rendah.
Cara lain untuk melihat masalah ini adalah menyadari bahwa suatu faktor daya yang buruk
menyebabkan tegangan dan arus berlawanan arus sehingga perkaliannya tidak menghaslkan daya dalam watt
tetapi dalam voltampere.Prinsip dasar dari peningkatan faktor daya adalah menyuntikan arus dengan fasa
mendahului dalam rangkaian agar menetraliser efek arus magnetisasi yang ketinggalan fasa.Dalam kondisi-
kondisi ini energi yang dibutuhkan oleh medan magnet bersirkulasi diantara peralatan koreksi dan instalasi
yang dikoreksi sebagai pengganti antara instalasi dan sumber. Karena biaya instalasi bertambah jika faktor
daya mendekati satu, hal ini normal jika membatasi peningkatan ini sampai 0.95.
Efek Merugikan Faktor Daya Rendah
Faktor daya yang rendah akan mengakibatkan arus untuk menghantarkan daya aktual akan lebih tinggi.
Untuk menunjukkan bahwa faktor daya yang renda tersebut dapat dilihat dari contoh perhitungan berikut ini:
Bila sumber tegangan 120V, 60Hz digunakan untuk mensuplai beban sebesar 746 watt, maka arus untuk
menghantarkan daya tersebut, bila faktor dayanya 0.75.
I= = 8.3 A
=

Apabila faktor daya = 1

I=
= 6.2 A
=

Arus yang tinggi dalam suatu saluran transmisi akan menyebabkan lebih banyaknya energi yang terbuang
dalam saluran. Oleh karena itu, untuk saluran yang mempunyai faktor daya yang rendah diperlukan koreksi
faktor daya (perbaikan faktor daya).

Kompensator Faktor Daya


Dalam perbaikan faktor daya sumber kVAr yang biasanya digunakan dan paling efektif adalah
kapasitor. Kapasitor ini mengeluarkan negative charge ion dan mengkompensasi kehilangan pada sistem yang
memerlukan arus magnetisasi.
a. Hubungan seri kapasitor
Kapasitor pengganti dan kapasitor yang dihubungkan seri adalah sama dengan kapasitor yang bertambah tebal
bahan dielektriknya. Sehingga nilai kapasitansi total pada suatu sistem adalah sama dengan muatan pada
masing-masing kapasitor itu sendiri.

Karena Qt = Q1 = Q2 = Q3, maka diperoleh hasil :

Keterangan:
Q = Muatan (C)
U = Tegangan (V)
C = Kapasitor pengganti (Farad)
c1 c2 c3

U1U2 U3
+ -
Gambar 4.7.Hubungan seri kapasitor.
b. Hubungan pararel kapasitor
Bila kapasitor dihubungkan secara pararel dan kemudian dihubungkan dengan tegangan U, maka jumlah
muatan seluruhnya sama dengan jumlah muatan kapasitor itu. Salah satu sifat dari rangkaian paralel adalah
tegangan pada tiap-tiap kapasitor sama dengan tegangan sumber yang dihasilkannya (U 1 = U2 = U3).

C2
U C1 C3
Q1Q2Q3
-

Gambar 4.8 Hubungan pararel kapasitor.

Kapasitor pararel dapat dirumuskan: Qt = Q1 + Q2 + Q3


Dari persamaan Q = C.U, maka:
Ct . Ut = Q1 .U1 + Q2 .U2 + Q3 .U3
Karena Ut = U1 + U2 + U3, maka : Ct = C1 + C2 + C3

Kapasitor satu fasa dan tiga fasa


Kapasitor dalam pembuatannya dapat dibuat satu fasa dan tiga fasa. Untuk kapasitor satu fasa dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Qc = U2 .  . 10-3 (KVAR)

Ic =
(A)

()
Xc =

Keterangan:
Qc = Rating kapasitor (KVAR) U = Tegangan kapasitor (kV) Ic = Arus kapasitor (A)
C = Kapasitansi ( )
 = Frekuensi sudut (2f)
Xc = Reaktansi pada kapasitansi ( )
Pada kapasitor 3 fasa konfigurasinya dibedakan konfigurasi delta dan konfigurasi bintang.
Kapasitor dengan konfigurasi bintang dapat dirumuskan: Qc = U2.C.10-3 (KVAR)
Ic = A

Xc =

Uc CC

Gambar 4.9. Kapasitor 3 fasa dengan konfigurasi bintang.

Kapasitor dengan konfigurasi delta dapat dirumuskan : Qc = 3 .U2 .C .10-3 (KVAR)


Ic = A


Xc =

CC
Uc C

U
Gambar 4.10 Kapasitor 3 fasa konfigurasi delta.

Perbaikan faktor daya


Seperti telah dijelaskan bahwa PLN membebankan biaya kelebihan pemakaian pada pelanggan, jika rata-rata
faktor dayanya (cos kurang dari 0.85. Untuk memperbaiki faktor daya sehingga tidak membayar denda adalah
aplikasi dari kapasitor bank.
Selain itu, pemasangan kapasitor bank dapat menghindari:
a. Trafo kelebihan beban (overload), sehingga memberikan tambahan daya yang tersedia.
b. Voltage drop pada akhir saluran (line ends)
c. Kenaikan arus atau temperature pada kabel, sehingga mengurungi rugi-rugi. Untuk pemasangan kapasitor
bank diperlukan:
a. Kapasitor dengan jenis yang cocok dengan kondisi jaringan
b. Regulator untuk pengaturan daya tumpuk kapasitor (kapasitor bank) secara otomatis
c. Kontaktoruntuk switching kapasitor
d. Pemutus tenagauntuk proteksi tumpuk kapasitor.
Ada beberapa cara yang dipergunakan untuk menentukan daya reaktif (Qc):
1. Metode sederhana
Metode ini digunakan agar dengan cepat dapat menentukan Qc. Angka yang harus diingat adalah 0.84
untuk setiap kW beban. Yaitu diambil dari:
- Perkiraan rata-rata faktor daya suatu instalasi: 0.65
- Maka dari tabel Cos yang didapat angka : 0.85
2. Metode kuitansi PLN
Metode ini memerlukan data dari kuitansi PLN selama satu periode (misalnya 1 tahun). Kemudian data
perhitungan diambil dari pembayaran denda KVARH yang tertinggi. Data lain yang diperlukan adalah
jumlah waktu pemakaian.
3. Metode Cos
Metode ini menggunakan tabelcos . Data yang diperlukan adalah: Daya beban total dan faktor daya (cos ).
Dengan cara perhitungan bentuk diagram phasor, maka daya listrik arus bolak-balik dapat digambarkan seperi
berikut ini.

QL S1
QL2 S2

1 2 P
QC

Gambar 4.11. Diagram phasor daya sebelum dan sesudah perubahan Cos .

Tabel 4.1 Persamaan phasor daya

QC = U x
tg 1 =

QL = P x tg 1
QC =

Q=
tg C
2=

QL – QC = P x tg 2 QC =
QC = P (tg 1 - tg 2 )
C=

QC = U x IC
LEMBAR KERJA
Peralatan dan Bahan Yang Digunakan
Tabel 4.2 Peralatan praktek kapasitor bank
N Nama Spesifikasi Jumlah Keterangan
o.
1 MCB 3 P, 32 A 1 buah ABB
1 P, 6 A 1 buah ABB
2 Kontaktor 3 P, 25 A, coil 3 buah Telemecanicue
220V,50 Hz
3 Auxiliary contact 1 NO, 1 NC 3 buah Telemecanicue
2 NO, 2 NC 3 buah FUJI
4 Termal overload 1 buah Telemecanicue
5 Pushbutton NC (stop) 6 buah Telemecanicue
NO (start) 6 buah Telemecanicue
6 Indicator lamp merah 1 buah Demex
kuning 7 buah Demex
hijau 7 buah Demex
7 VSS 20A/300V AC 1 buah Camsco
8 Voltmeter AC 500V 3 buah CIC
9 Amperemeter 50A 3 buah H&G
1 CT 50/5A 4 buah H&G
0
1 Hz 53 Hz, 220V 1 buah H&G
1
1 Terminal block krem 8 buah LEGRAND
2
1 Busbar Cu 110x15x 3 2.5 m
3
1 Cable schoon 2.5 mmsq 2 pak
4
1 Isolator busbar 110x 15x 3 8 buah
5
1 Spiral cable 1 pak
6
1 Kabel NYY 1.5 mm2 40 m ETERNA
7 NYY 2.5 mm 2
20 m ETERNA
2
NYY 4 mm 25 m ETERNA
NYY 6 mm2 21 m ETERNA
1 Baut+mur M3,M4 4 pak
8
1 Box panel 180x 60x 50 mm 1 buah
9
2 cos θ 3 fasa,.../5A,ICT 1 buah CIC
0
2 Kapasitor 10 Μf, 380/440 V 18 buah MC
1
Tabel 4.3 Perlengkapanpraktek kapasitor bank
N NAMA SPESIFIKASI JUMLAH KETERANGA
o. N
1 Tang potong 1 buah MEKANIK
2 Tang kombinasi 1 buah MEKANIK
3 Tang cable schoon 1 buah MEKANIK
4 Tang kerucut 1 buah MEKANIK

5 Pisau potong (cutter) 1 buah MEKANIK


6 Obeng 1 buah MEKANIK
7 Multitester 1 buah MEKANIK
8 Insulation 1 buah MEKANIK
9 Tespen 1 buah MEKANIK
1 Clamp tester 1 buah MEKANIK
0
1 Dig it a l C lam p K yor it su 20 07 1 buah 400 V AC
1 A
Am per e

Keselamatan Kerja
a. Gunakanlah pakaian prakek
b. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan belajar.
c. Gunakanlah alat sesuai dengan fungsinya
d. Pastikan power dalam keadaan off sebelum merangkai
e. Bersihkan panel kapasitor dari debu yang menempel
f. Hati-hati dalam melakukan praktek.
Petunjuk
1. Gambar perlengkapan panel kapasitor bank
2. Gambar rangkaian control
3. Gambar rangkaian kapasitor bank
4. Gambar letak komponen di panel
5. Gambar untuk susunan komponen dalam panel
6. Gambar wiring diagaram kapasitor bank
7. Gambar wiring diagram control kapasitor bank di dalam panel
8. Gambar wiring diagram control kapasitor bank di pintu
9. Gambar depan Panel
10. Gambar dalam Panel.
Gambar 4.12. Panel kapasitor bank.
Pengukuran
1. Pengukuran tanpa tegangan:
a. Hubung Singkat:
i. Posisi MCB 3 fasa “on”. Periksa dengan ohmmeter pada incoming MCB 3 fasa apakah ada hubung
singkat atau tidak antara terminal fasa-fasa, fasa-netral dan fasa-ground di panel kapasitor bank.
ii. Masukkan hasilnya pada Tabel 5.4 pada item 1. hubung singkat.
b. Connection Rangkaian Daya - Sumber:
i. Posisi MCB 3fasa “on”. Periksa dengan ohmmeter antara terminal L1 incoming dengan terminal L1
outgoing, L2 incoming dengan terminal L2 outgoingdan L3 incoming dengan terminal L3 outgoing.
ii. Masukkan hasilnya pada Tabel 5.4 pada item 2. connection.
c. Connection Rangkaian Control - Sumber:
i. Posisi MCB 1 fasa “on”. Periksa dengan ohmmeter antara incoming MCB 1 5fasadengan terminal
Netral. Tekan dan tahan pushbutton S-on posisi step 1.
ii. Masukkan hasilnya pada Tabel 5.4 pada item 2. connection.
2. Pengujian rangkaian control dengan tegangan
a. Siapkan kabel dan rangkaikan untuk sambungan incoming/power supply dan
outgoing/beban pada panel kapasitor bank.
b. Masukkan sumber tegangan ke panel dan nyalakan MCB 1 fasa dalam panel. (yang 3 fasa biarkan off)
c. Tekan pushbutton S-on mulai dari step 1 sampai 6. Masukkan hasil pengamatan pada Tabel 5.5.
d. Tekan pushbutton S-off mulai dari step 6 sampai 1. Masukkan hasil pengamatan pada Tabel 5.5.
3. Pengujian faktor daya
a. Pastikan semua MCB baik yang 1 fasa maupun 3 fasadalam posisi off.
b. Pastikan beban dan sumber telah terangkai dengan panel.
c. Siapkan alat ukur yang diperlukan untuk Tabel 5.6.
d. Pindahkan posisi MCB baik yang 1 fasa maupun 3 fasa menjadi on.
e. Catat semua parameter yang diperlukan dalam Tabel 5.6
4. Catat spesifikasi beban yang digunakan.
Tabel 4.4Hasil pengujian hubung singkat tanpa sumber tegangan

Pengujian Ada Tidak


ada
Hubungan Singkat
Fasa dengan fasa dalam panel : L1 – L2
L1 – L3 L2 – L3
Fasa dengan netral L1 – N
L1 – N L2 – N
Fasa dengan proteksi pentanahan dalam panel : L1 – PE
L2 – PE L3 – PE
Connection
Rangkaian daya – sumber Rangkaian kontrol – sumber

Catatan : 0 = tidak ada hubungan 1= ada hubungan

Tabel 4.5. Pengujian rangkaian control dengan tegangan, beban belum masuk.

Keterangan

Pengujia S On S Off Lampu


n Indikator
Bekerj Tida Beker Tida Menya Tida
a k ja k la k
Step 01
Step 02
Step 03
Step 04
Step 05
Step 06
Catatan : 0 = tidak ada hubungan 1 = ada hubungan Tabel 4.6. Kenaikan besar cos θ tiap step

IL
Step UL-L(V) COS  Jenis Beban
L1(A) L2(A) L3(A)
0 Induktif/Kapasitif
1 Induktif/Kapasitif

2 Induktif/Kapasitif

3 Induktif/Kapasitif

4 Induktif/Kapasitif

5 Induktif/Kapasitif

TUGAS
1. Apakah yang dimaksud dengan faktor daya?
2. Bilamanakah pemakaian kapasitor bank diperlukan?
3. Ada berapa macam cara perhitungan perbaikan fakor daya? Sebut dan jelaskan!

REFERENSI
Antonius Lipsmeir, Adolf Teml, Friedrich Tabellenbuch, 1989. Elektrotechnik
Elektronik. Bronner and Daentler K. G, Germany.
Horst Dieter Tolle-Erhard Vop, 1984. Technical Drawing for Electrical
Engineering. GTZ GmbH, Germany.
Michael Neidle, Ir. Sahat Pakpahan, 1989. Teknologi Instalasi Listrik.
LembagaPenerbangan dan Amerika Nasional (LAPAN). Penerbit Erlangga, Jakarta.
P. Van Harten, E Setiawan, 1985. Instalasi Listrik Arus Kuat 2. Penerbit Bina Cipta,
Bandung.
PUIL 2011, 2011. Persyaratan Umum Instalasi Listrik Indonesia 2011. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai