LAPORAN PENDAHULUAN
PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK
OLEH :
DWI ANGGRAINI
891201023
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM
PRODI NERS KEPERAWATAN
PONTIANAK 2020
A. Pengertian
Kelainan Jantung Kongenital (CHD) atau Penyakit Jantung Bawaan adalah kelainan
yang sudah ada sejak bayi lahir, jadi kelainan tersebut sudah terjadi sebelum bayi lahir. Tetapi
kelainan ini tidak selalu memberi gejala yang segera setelah bayi lahir. Tidak jarang kelainan
tersebut baru muncul setelah bayi berusia beberapa bulan atau beberapa tahun. Kelainan
Jantung Kongenital (CHD) merupakan kelainan yang disebabkan gangguan perkembangan
sistem kardiovaskuler pada embrio yang diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen
(Ngastiyah, 2014).
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit jantung yang dibawa sejak lahir,
karena sudah terjadi ketika bayi masih dalam kandungan. Pada akhir kehamilan 7 minggu,
pembentukan jantung sudah lengkap; jadi kelainan pembentukan jantung terjadi pada awal
kehamilan. Penyebab PJB seringkali tidak bisa diterangkan, meskipun beberapa faktor
dianggap berpotensi sebagai penyebab (Ariani, dkk, 2020).
B. Etiologi
Penyebab terjadinya PJB belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor
yang di duga memmpunyai pengaruh pada penyakit peningkatan angka kejadia PJB. Faktor-
faktor penyebab kelainan jantung menurut sifatnya dapat dibagi sebagai berikut menurut Arif
(2010):
1. Eksogen
Infeksi rubella atau penyakit virus lain, obat-obat yang diminum ibu (misalnya
thalidomide), konsumsi alkohol, radiasi dan sebagainya yang dialami ibu pada kehamilan
muda dapat merupakan faktor terjadinya kelainan jantung kongenital, umur ibu lebih dari
40 tahun, dan lain-lain. Diferensiasi lengkap susunan jantung terjadi pada kehamilan bulan
kedua. Faktor eksogen mempunyai pengaruh terbesar terhadap terjadinya kelainan jantung
dalam masa tersebut.
2. Endogen
Faktor genetik/kromosom memegang peranan kecil dalam terjadinya kelainan
jantung congenital. Walaupun demikian beberapa keluarga mempunyai insiden PJB tinggi,
jenis PJB yang sama terdapat pada anggota keluarga yang sama.
C. Klasifikasi
PJB menurut Ariani, dkk (2020) dapat dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu:
1. Golongan PJB Asianotik (tidak biru)
a. Defek Septum Atrium / Atrial Septum Defect (ASD)
Atrial Septal Defect (ASD) adalah terdapatnya hubungan antara atrium kanan
dengan atrium kiri yang tidak ditutup oleh katup. Biasanya anak dengan DSA tidak
terlihat menderita kelainan jantung karena pertumbuhan dan perkembangannya biasa
seperti anak lain yang tidak ada kelainan. Hanya pada pirau kiri ke kanan yang sangat
besar pada stres anak cepat lelah dan mengeluh dispnea, dan sering memdapat infeksi
saluran napas. Pada pemeriksaaan palpasi terdapat kelainan ventrikel kanan
hiperdinamik di parasternal kiri. Pada pemeriksaan auskltasi, foto toraks EKG dapat
lebih jelas adanya kelainan DSA ini. Diagnosis dipastikan dengan pemeriksaaan
ekokardiografi.
b. Defek Septum Ventrikel (VSD)
Ventricular septum defect (VSD) merupakan suatu keadaan adanya lubang disekat
jantung yang memisahkan ruang ventrikel (bilik) kanan dan kiri . Lubang ini
mengakibatkan kebocoran aliran darah dari bilik kiri yang memiliki tekanan lebih besar
melalui bilik kanan langsung masuk ke pembuluh nadi paru (arteri pulmonalis).
c. Duktus Arteriosus Paten (PDA)
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada janin
yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada bayi normal
duktus tersebut menutup secara fungsional 10-15 jam setelah lahir dan secara anatomis
menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2-3 minggu. Bila tidak menutup disebut
Duktus Arteriosus Persisten (Persistent Ductus Arteriosus : PDA). Jika duktus tetap
terbuka, darah yang seharusnya mengalir ke seluruh tubuh akan kembali ke paru-paru
sehingga memenuhi pembuluh paru-paru.
d. Stenosis Pulmonal (PS)
Stenosis Katup Pulmonal adalah suatu kerusakan katup jantung yang ditandai
dengan penyempitan (stenosis) katup pulmonal. Katup pulmonal terdiri dari tiga
jaringan kelopak yang tipis yang dikenal sebagai daun katup yang tersusun seperti kaki
tripod. Ketika ruang jantung kanan bawah (ventrikel kanan) berkontraksi, daun katup ini
terbuka, memungkinkan darah mengalir dari ventrikel kanan ke paru-paru melalui arteri
pulmonalis. Pada stenosis katup pulmonal, satu atau lebih daun katup tersebut mungkin
rusak, terlalu tebal atau tidak terpisah satu dengan lainnya sebagimana mestinya. Hal ini
menyebabkan katup pulmonal tidak terbuka sepenuhnya, membatasi aliran darah ke
paru-paru. Hal ini menurunkan kemampuan darah untuk mengalirkan darah yang kaya
akan oksigen keseluruh tubuh. Keadaan ini biasanya muncul pada saat lahir
(kongenital). Namun, kondisi ini juga dapat terjadi sebagai akibat dari demam reumatik
atau endokarditis. Stenossi katup pulmonal yang ringan biasanya tidak membutuhkan
perawatan. Pada kasus yang moderat dan berat mungkin membutuhkan pembedahan.
2. Golongan PJB Sianotik (biru)
a. Tetralogi of Fallot (TOF)
Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung dengan gangguan sianosis yang
ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel,
stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan.
b. Transposition of the Great Arteries (TGA)
Kelainan jantung bawaan TGA (Transposition Of The Great Arteries) merupakan
kelainan pada jantung berupa adanya pemindahan asl dari aorta dan arteri pulmonalis;
aorta keluar dari ventrikel kanan dan arteri pulmonalis dari ventrikel kiri. Selain
kelainan asal aorta dan arteri pulmonalis pada TGA terdapat kelainan pada jantung yang
menyertai TGA seperti letak katup aorta, katup pulmonal, dan sebagainya. Pada PJB
yang disebut TGA komplek ialah adanya letak katup aorta di kanan pada lengkung aorta
ke kanan.
D. Patofisiologi
Penyakit Jantung Bawaan dipengaruhi oleh faktor yaitu faktor genetik dan
maternal. Pada kelainan struktur jantung digolongkan menjadi penyakit jantung bawaan
asianotik dan penyakit jantung bawaan sianotik. Penyakit jantung bawaan asianotik;
kondisi ini disebabkan oleh lesi yang memungkinkan darah shunt dari kiri ke sisi kanan
sirkulasi atau yang menghalangi aliran darah dengan penyempitan katup serta
pencampuran darah dari arteri (Padila, 2013).
Terdapat lubang antara atrium kanan dan kiri menimbulkan tekanan atrium kiri
lebih besar ketimbang atrium kanan, sehingga darah akan mengalir dari atrium kiri ke
kanan. Darah yang mengalir dari atrium kiri ke kanan menimbulkan volume atrium
kanan meningkat menyebabkan hipertropi atrium kanan dan selain itu meningkatnya
volume dan tekanan atrium kanan maka darah akan mengalir ke ventrikel kanan dan
paru-paru juga meningkat. Hal ini menyebabkan penumpukan darah dan oksigen di
paru sehingga alveoli membesar dan terjadi pola nafasnya tidak efektif.
Volume di ventrikel kiri menurun disebabkan darah mengalir dari atrium kanan ke
atrium kiri. Hal ini akan menyebabkan kontraktilitas ventrikel kiri menurun sehingga terjadi
penurunan curah jantung. Penurunan curah jantung menjadikan tubuh akan kurang oksigen
dan kurang nafsu makan. Kurangnya suplai oksigen ke tubuh membuat tubuh akan terasa
lemas dan pusing. Kurangnya nafsu makan menjadikan nutrisi tidak adekuat sehingga
pertumbuhan akan terhambat dan menyebabkan gangguan pertumbuhan perkembangan
(Irnizarifka, 2011).
E. Pathway Keperawatan
Terpapar faktor endogen & eksogen selama kehamilan trimester I & II
Kelainan jantung congenital
Defek septum ventrikel Pirau
kiri ke kanan
Aliran Beban Hipe
darah & O2 volume rtrofi
ke paru ventrikel ventri
meningkat kiri kel
meningkat kiri
Edema PaCO2
paru meningkat Gaga Penu
& PaO2 l runan
Difusi menurun jantu kema
oksege ng mpua
n Hiperventila n
menur si O2 kontra
un dalam ktilitas
jaringa
Kontriksi n Resi
arteriol menur ko
paru un penu
runa
n
cardi
ac
output
Ketidakef Hipoksia & Aliran Aktivasi kan GFR
Ganggua Intake nutrisi ektif laktat darah system nefron,
n tidak adekuat meningkat ke jaringan rennin vasokontri
an pola tidak Angiotens
pertukara ksi ginjal
nafas Asidosis adekuat in-
n gas Ketidakseim
bangan metabolic Aldostero Retensi
nutrisi Gangguan n Na+
Sesak kurang dari Perfusi danH2O
kebutuhan Jaringan Vasokontri
Kemampua ksi Urine
n sistemis output
menghisap menurun,
menurun Menurun volume
plasma Penurunan
meningkat suplai O2 ke
miokardium
Kelebihan
Volume Hipoksia Perubah
Cairan miokardium an
metaboli
Iskemia sme
miokardium miokardi
um
Infark
miokardium N
ye
Syok ri
kardiogenik da
da
Kematian
F. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis kelainan jantung kongenital sangat bervariasi, tergantung macam
kelainannya. Kelainan yang menyebabkan penurunan aliran darah ke paru atau
percampuran darah berkadar tinggi zat asam dengan darah kotor dapat menimbulkan
sianosis, ditandai oleh kebiruan di kulit, kuku jari, bibir, dan lidah. Ini karena tubuh tidak
mendapatkan zat asam memadai akibat pengaliran darah kotor ke tubuh. Pernapasan anak
akan lebih cepat dan nafsu makan berkurang. Daya toleransi gerak yang rendah mungkin
ditemukan pada anak yang lebih tua.
Kelainan yang dapat menyebabkan sianosis atau kebiruan adalah penyumbatan
katup pulmonal (antara bilik jantung kanan dan pembuluh darah paru) yang mengurangi
aliran darah ke paru, tertutupnya katup pulmonal (pada muara pembuluh darah paru) yang
menghambat aliran darah dari bilik jantung kanan ke paru, tetralogi fallot (kelainan yang
ditandai oleh bocornya sekat bilik jantung, pembesaran bilik jantung kanan, penyempitan
katup pulmonal dan transposisi aorta), serta tertutupnya katup trikuspidal (terletak antara
serambi dan bilik jantung kanan) yang menghambat aliran darah dari serambi ke bilik
jantung kanan. Selain itu, gejala kebiruan juga bisa muncul jika terjadi transposisi
pembuluh darah besar, gangguan pertumbuhan ruangan, katup dan pembuluh darah yang
berhubungan dengan sisi jantung kiri, serta kelainan akibat salah bermuaranya keempat
vena paru yang seharusnya ke serambi jantung kiri.
Beberapa jenis kelainan jantung kongenital juga dapat menyebabkan gagal jantung.
Kelainan ini menyebabkan terjadinya aliran darah dari sisi jantung kiri ke sisi jantung
kanan yang secara progresif meningkatkan beban jantung. Gejala dari gagal jantung
berupa menurut Sudarti & Endang (2010) adalah sebagai berikut:
1. Nafas Cepat, bibir biru
2. Sulit makan dan menyusu
3. Berat badan rendah
4. Infeksi pernafasan berulang
5. Toleransi gerak badan yang rendah
G. Respon Tubuh Terhadap Perubahan Fisiologis
Menurut Amelia (2019) respon tubuh terhadap perubahan fisiologis pada penyakit
jantung bawaan, yaitu:
1. Sistem Kardiovaskular
Didapatkan bunyi jantung tambahan (murmur) pada tepi sternum kiri atas.
Didapatkan adanya gejala atau keluhan, umumnya didapatkan adanya sesak daat
beraktivitas, dispnea, mudah lelah, dan infeksi saluran napas berulang.
2. Sistem Pernapasan
VSD dapat menimbulkan resiko terjadinya infeksi saluran pernapasan, karena
darah yang tercampur didalam paru-paru lebih banyak sehingga pertukaran oksigen
tidak adekuat. Gejala infeksi adalah demam, batuk, dan napas pendek, bayi sukar jika
diberi minum.
3. Sistem Persyarafan
Serangan hipersianotik selama masa bayi, juga dikenal sebagai “Tet spells” dapat
menyebabkan peningkatan frekuensi pernapasan, dispnea awitan mendadak, perubahan
kesadaran, iritabilitas sistem saraf pusat yang dapat berkembang sampai letargi dan
sinkop serta akhirnya menimbulkan kejang, stroke dan kematian.
4. Sistem Integumen
Pengembalian darah dari vena sistemik ke atrium kanan dan ventrikel kanan
berlangsung normal. Ketika ventrikel kanan menguncup, dan menghadapi stenosis
pulmonalis, maka darah akan dipintaskan melewati defek septum ventrikel tersebut
kedalam aorta. Akibatnya darah yang dialirkan keseluruh tubuh tidak teroksigenasi, hal
inilah yang menyebabkan terjadinya sianosis.
5. Sistem Hematologi
Sianosis yang berat dapat menyebabkan polisitemia (peningkatan sel darah merah
dalam darah) sehingga mempermudah timbulnya embolus atau trombus. Terjadinya
polisitemia berat dan hipoksia maka anak akan mengalami anemia.
6. Sistem Muskuloskeletal
Umumnya mengalami gangguan tumbuh kembang. Karena kelemahan tubuh atau
biasa disebut penurunan toleransi latihan pasien mengalami kesukaran dalam
makan/minum.
7. Aspek Tumbuh kembang
Pada pasien PJB terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan yaitu berat
badan anak tidak bertambah akibat nutrisi tidak adekuat, anak akan kelihatan kurus dan
mudah sakit akibat terjadinya infeksi saluran pernapasan. Sedangkan untuk
perkembangan yang terganggu adalah aspek motorik dan psikososial. Anak dengan PJB
tidak bisa melakukan aktifitas seperti anak normal lainnya, seperti bermain, berlari.
Anak dengan PJB tidak bisa melakukan aktivitas yang berat karena anak dengan PJB
mengalami sesak nafas kemudian bisa terjadinya sianosis. Kemudian anak juga
mengalami kesulitan untuk bersosialisasi, anak dengan PJB mengalami gangguan
bicara.
H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Irnizarifka (2011), pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
pasien dengan penyakit jantung bawaan, yaitu:
1. Pemeriksaan Laboratorium
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi
oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan
hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA menunjukkan peningkatan tekanan partial
karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan
PH.pasien dengan Hn dan Ht normal atau rendah mungkin menderita defisiensi besi.
2. Radiologis
Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal, tidak ada
pembesaran jantung . gambaran khas jantung tampak apeks jantung terangkat sehingga
seperti sepatu.
3. EKG
Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula
hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar dijumpai P pulmonal.
4. Echocardiography
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi ventrikel
kanan,penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan aliran darah ke paru-paru.
I. Penatalaksanaan
Penatalaksaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan penyakit jantung bawaan
menurut Gumilar & Pradnyani (2020), yaitu:
1. VSD (Ventrikel Septum Defect)
a. Medis
Pasien dengan VSD perlu ditolong dengan obat-obatan untuk mengatai gagal
jantung seperti digoksin dan diuretic,jika menunjukan perbaikan maka operasi tidak
perlu dilakukan ampai umur 2-3 tahun.Operasi dilakukan jika pada umur muda
pengobatan medis untuk mengatasi gagal jantung tidak berhasil.
b. Keperawatan
Pada VSD baru dirawatdi RS bila sedang mendapatkan infeksi saluran
nafas,karena biasanya sangat dispnea dan sianosis sehingga pasien terlihat
payah,Maslah pasien yang perlu diperhatikan adalah bahaya terjadinya gagal
jantung,resiko terjadi infeksi saluran nafas,kebutuhan nutrisi,gangguanrasa aman dan
nyaman,kurangnya pengetahuan orangtua mengenai penyakit.
2. Paten Duktus Arteriosus (PDA)
a. Medis
Pengobatan definitive untuk PDA kecil adalah pembedahan PDA kecil dapat
dioperasikapan saja. Pada PDA besar dapat diberikan digoksin dan diuretic untuk
mengurangi gagal jantung. Operasi dilakukan pada masa bayi bila gejala yang terjadi
berat.pada bayi premature PDA ditutup dengan Antiprostatglandin,misalnya
indometasin,yang harus diberikan sedini mungkin (<1 minggu).
b. Keperawatan
Berbagai resiko seperti pada VSD juga terjadi pada PDA,dengan demikian
perawatan bayi dan anak dengan PDA serupa pada VSD
3. ASD (Atrial Septum Defect)
ASD kecil tidak perlu oprasi karena tidak menyebabkan gangguan hemodinamik
atau bahaya.
4. Stenosis Pulmonal
a. Medis
Jika tekanan ventrikel kanan 70 mm Hg, maka terdapat indikasi untuk operasi.
Sekarang makin populer pelebaran penyempitan SP dengan kateter balon, dan
dilaporkan hasilnya baik.
b. Keperawatan
Kegiatan anak harus dibatasi sesuai dengan petunjuk dokter dan istirahat harus
diperhatikan. Pada anak yang sudah mengerti hal tersebut perlu pula diberitahukan
secara kontinu pasien harus datang konsultasi ke dokter jantung anak/dokter yang
menangani.
5. Tetralogi Of Fallot (TOF)
a. Medis
Pertolongan untuk pasien TOF hanya dengan dioperasi. Jika TOF dengan
sianosis ringan dapat dilakukan hanya dengan satu tahap pada umur 3-5 tahun. Pada
TOF dengan sianosis berat yang terjadi sebelum umur 6 bulan operasi dilakukan 2
tahap. Tahap ke-2 pada umur 3-5 tahun. Pasien TOF yang sedang mendapat
serangan anoksia harus ditolong dengan memberikan sikap knee chest atau
menungging dengan kepala dimiringkan sambil diberikan O2 melalui air minimal 2
L per menit. Diberikan juga suntikan morfin dosis 1mg/kg BB secara subkutan. Bila
perlu koreksi dehidrasi dan asidosis metabolik. Setiap tindakan yang dapat
menimbulkan bakteremia seperti mencabut gigi, sirkumsisi, kateterisasi urine harus
dilindungi dengan antibiotik 1 hari sebelum dan 3 hari setelahnya untuk mencegah
endokarditis bakterialis.
b. Keperawatan
Walaupun pasien TOF selalu tampak sianosis (hanya TOF ringan tidak
sianosis) tetapi tidak selalu dirawat di rumah sakit kecuali jika dokter memandang
perlu. Oleh karena itu, orang tua pasien perlu diberikan petunjuk perawatan anaknya.
Masalahnya pasien yang perlu diperhatikan ialah bahaya terjadi anoksia, kebutuhan
nutrisi, risiko terjadi komplikasi, dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai
penyakit.
6. Transposition of the Great Arteries (TGA)
a. Medis
Dengan operasi memungkinkan pasien TAB dapat bertahan hidup.
b. Keperawatan
Sama dengan pasien TOF dan penyakit jantung lainnya. Bedanya tidak perlu
tindakan memberikan sikap knee-chest karena sianosis selalu terdapat, maka O2
harus diberikan terus menerus secara rumat. Dalam bangsal tersebut watan pasien
penyakit jantung perawat yang bertugas di ruang tersebut diharapkan memahami
kelainan yang diderita oleh setiap pasien sehingga dapat menentukan tindakan
sewaktu-waktu diperlukan. Selain itu juga mengetahui bagaimana persiapan pasien
untuk suatu tindakan seperti:
1) Membuka rekaman EKG, bila perlu dapat membacanya.
2) Mengukur tekanan darah secara benar.
3) Mempersiapkan pasien untuk keteterisasi jantung atau operasi.
4) Mengambil darah untuk pemeriksaan gas darah arteri.
J. Pengkajian Fokus
Menurut Amelia (2019), pengkajian fokus dari penyakit jantung bawaan, sebagai
berikut:
1. Pengkajian
a. Biodata
Meliputi nama, tempat tanggal lahir/umur, berat badan lahir, serta apakah bayi lahir
cukup bulan atau tidak, jenis kelamin, anak keberapa, jumlah saudara dan identitas
orang tua.
b. Genogram
c. Keluhan Utama
Biasanya orang tua mengeluh nafas anak sesak, lemas, ujung jari tangan dan kaki
teraba dingin, anak cepat berhenti saat menyusu, keringat yang berlebihan, berat
badan anak tidak bertambah, sianosis atau kebiruan pada bibir dan kuku.
d. Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat kesehatan dahulu pada neonatus juga mencakup riwayat kesehatan keluarga
atau riwayat kesehatan serangan sianotik, faktor genetik, riwayat keluarga yang
mempunyai penyakit jantung bawaan dan riwayat tumbuh kembang anak yang
terganggu, adanya riwayat gerakan jongkok bila anak telah berjalan beberapa menit.
e. Riwayat Kehamilan
Riwayat terjadinya infeksi pada ibu selama trimester pertama. Agen penyebab lain
adalah rubella, influenza atau chicken fox. Riwayat prenatal seperti ibu yang
menderita diabetes mellitus dengan ketergantungan pada insulin. Kepatuhan ibu
menjaga kehamilan dengan baik, termasuk menjaga gizi ibu, dan tidak kecanduan
obat-obatan dan alcohol, tidak merokok.
f. Riwayat Persalinan
Proses kelahiran atau secara alami atau adanya factor-faktor yang memperlama
proses persalinan, pengunaan alat seperti vakum untuk membantu kelahiran atau ibu
harus dilakukan SC.
g. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat keturunan dengan memperhatikan adanya anggota keluarga lain yang juga
mengalami kelainan jantung, untuk mengkaji adanya factor genetic yang menunjang.
h. Riwayat aktifitas
Anak-anak yang mengalami PJB sering tidak dapat melaksanakan aktivitas sehari-
hari secara normal. Apabila melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak energi,
seperti berlari, bergerak, berjalan-jalan cukup jauh, makan/minum tergesa-gesa,
menangis, atau tiba-tiba duduk jongkok (squating), anak dapat mengalami serangan
sianosis. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar aliran darah ke otak. Kadang-
kadang anak tampak pasif dan lemah, sehingga kurang mampu untuk melaksanakan
aktivitas sehari-hari dan perlu dibantu
2. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-Tanda Vital
1) Nadi: Nadi berdasarkan usia, frekuensi nadi usia 1-3 tahun 90- 150x/menit, usia
4-5 tahun 80-140x/menit, usia 5-12 tahun 70-120x/menit, usia 12-18 tahun 60-
100x/menit.
2) Pernapasan: Pernapasan berdasarkan usia, frekuensi pernapasan 1-3 tahun 24-
40x/menit, usia 4-5 tahun 22-34x/menit, usia 5-12 tahun 18-30x/menit, 12-18
tahun 12-16x/menit.
3) Suhu: Suhu tubuh normal 36,5oC-37,5OC, pada anak PJB suhu normal selama
tidak didapatkan tanda-tanda infeksi.
b. Kepala-leher: Biasanya tidak ada kelainan pada kepala.
c. Mata: Konjungtiva anemis, sklera ikterik.
d. Hidung: Nafas cepat dan adanya pernafasan cuping hidung.
e. Mulut: Sianosis (warna kebiruan) dapat dilihat pada membran mukosa, seperti lidah,
bibir. Sianosis yang terdapat pada daerah tersebut disebut sianosis sentral. Sianosis
sentral dapat timbul selama melakukan aktivitas, seperti menangis atau makan
tergesa-gesa. Pada sianosis yang berat, tanpa melakukan aktivitas apapun warna
pucat kebiruan sudah tampak.
f. Leher: Terdapat distensi vena jugularis, aneurisma aorta akibat penebalan atau
pembengkakan aorta.
g. Thorax
1) Paru: Biasanya pada anak dengan TOF, hasil inspeksi tampak adanya retraksi
dinding dada akibat pernapasan yang pendek dan dalam dan tampak menonjol
akibat pelebaran ventrikel kanan. Palpasi mungkin teraba desakan dinding paru
yang meningkat terhadap dinding dada, pada perkusi mungkin terdengar suara
redup karena peningkatan volume darah paru dan untuk auskultasi akan terdengar
ronkhi basah atau krekels sebagai tanda adanya edema paru pada komplikasi
kegagalan jantung. Bayi yang baru lahir saat di auskultasi akan terdengar suara
nafas mendengkur lemah bahkan takipneu.
2) Jantung: Biasanya pada inspeksi mungkin dada masih terlihat simetris sehingga
tidak tampak jelas, namun pada usia dewasa akan ditemukan tonjolan atau
pembengkakan pada dada sebelah kiri karena pembesaran ventrikel kanan.
Perkusi biasanya didapatkan batas jantung melebihi 4-10 cm ke arah kiri dari
garis midsternal pada intercostae ke 4, 5, dan 8. Palpasi teraba pulsasi pada
ventrikel kanan akibat peningkatan desakan, iktus kordis masih teraba jelas
pada interkosta 5-6. Pada auskultasi terdengar bunyi jantung tambahan
(machinery mur-mur) pada batas kiri sternum tengah sampai bawah, biasanya
bunyi jantung I normal sedangkan bunyi jantung II terdengar tunggal dan keras.
h. Abdomen: Biasanya hasil inspeksi tampak membesar dan membuncit, pada
auskultasi biaanya terdengar bunyi gesekan akibat adanya pembesaran hepar. Pada
perkusi adanya suara redup pada daerah hepar dan saat dipalpasi biasanya ada nyeri
tekan.
i. Kulit: Adanya keringat yang berlebihan dan pucat.
j. Ekstremitas: Biasanya pada ekstremitas teraba dingin bahkan dapat terjadi clubbing
finger akibat kurangnya suplai oksigen ke perifer. Dan CRT > 3 detik akibat suplai
oksigen ke perifer berkurang menyebabkan sianosis dan adanya clubbing finger (jari
tabuh).
K. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan preload.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menyusu dan makan.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan.
L. Perencanaan Keperawatan
Tujuan &
No. Intervensi Rasional
Kriteria Hasil
1. Setelah dilakukan 1. Berikan salam, panggil 1. Bina hubungan saling
tindakan klien dengan nama percaya dapat menciptakan
keperawatan kesukaannya, Perkenalkan suasana yang kondusif dan
selama …x 24 jam nama dan tanggung jawab bersahabat.
Penurunan curah perawat, Menanyakan
jantung pasien keadaan klien (perasaan
dapat teratasi klien/tidur klien nyenyak
dengan kriteria atau tidak), Jelaskan
hasil: tujuan, prosedur, dan
- TTV dalam batas lamanya tindakan pada
normal klien dan keluarg.
- Dapat 2. Observasi keadaan kulit 2. Pucat menunjukan adanya
mentoleransi terhadap pucat dan penurunan perfusi sekunder
aktivitas, tidak sianosis. terhadap ketidakadekuatan
ada kelelahan curah jantung, vasokonstriksi
- Tidak ada edema dan anemi.
paru, perifer dan 3. Observasi tanda-tanda 3. Permulaan terjadinya
tidak ada asites vital tiap 4 jam. gangguan pada jantung akan
- AGD dalam batas ada perubahan pada tanda-
normal tanda vital seperti pernafasan
- Tidak ada menjadi cepat, peningkatan
distensi vena suhu, nadimeningkat,
leher peningkatan tekanan darah,
- Warna kulit semuanya dapat cepat
normal dideteksi untuk penanganan
lebih lanjut.
4. Monitor tanda-tanda PJB 4. Untuk mengetahui sejauh
seperti gelisah, takikardi, mana tingkat kegawatan dari
tachypnea, sesak, mudah anak serta diperlukan dalam
lelah, periorbital edema, mendeteksi untuk
oliguria, dan penanganan lebih lanjut.
hepatomegali.
5. Berikan oksigen tambahan 5. Meningkatkan sediaan
dengan kanula oksigen untuk kebutuhan
nasal/masker sesuai miokard dan untuk
indikasi. melawan efek
hipoksia/ iskemia.
6. Informasikan dan 6. Istirahat yang adekuat dapat
anjurkan tentang meminimalkan kerja dari
pentingnya istirahat yang jantung dandapat
adekuat. mempertahankan energi yang
ada.
7. Observasi perubahan pada 7. Dapat menunjukan tidak
sensori, contoh letargi, adekuatnya perfusi serebral
bingung disorientasi sekunder terhadap penurunan
cemas. curah jantung.
8. Berikan health education 8. Lebih meningkatkan
pada pasien dan keluarga pengetahuan dan informasi
pasien tentang cardiac bagi pasien dan keluarga
output. pasien serta lebih kooperatif
dalam tindakan pelaksanaan
yang dilakukan perawat.
9. Kolaborasi dengan team 9. Mempengaruhi reabsorbsi
medis dalam pemberian natrium dan air, dan
tindakan farmakologis digoksinmeningkatkan
berupa digitalis dan kekuatan kontraksi miokard
digoxin. dan memperlambat frekuensi
jantung dengan menurunkan
konduksi dan memperlambat
periode refraktori
padahubungan AV untuk
meningkatkan efisiensi curah
jantung.
2. Setelah dilakukan 1. Berikan salam, panggil 1. Bina hubungan saling
tindakan klien, perkenalkan nama percaya.
keperawatan dan tanggung jawab
selama … x 24 jam perawat pada keluarga
Gangguan klien, menanyakan
pertukaran gas keadaan klien (perasaan
pasien teratasi klien/tidur klien nyenyak
dengan kriteria atau tidak) pada keluarga
hasil: klien, jelaskan tujuan,
- Pertukaran gas prosedur, dan lamanya
tidak terganggu tindakan pada klien dan
- Pasien tidak keluarga.
sesak 2. Monitor status pernafasan 2. Memantau status pulmonal
- TTV normal klien. klien secara teratur.
- Tidak ada 3. Monitor TTV 3. Memantau tanda-tanda vital
penurunan klien secara teratur.
kesadaran 4. Monitor adanya dyspneu, 4. Memantau aktivitas respirasi
- AGD dalam batas takipneu, dan fatique dan kardiovaskuler klien.
normal 5. Atur periode istirahat dan 5. Klien tidak dapat beraktivitas
aktivitas untuk seperti orang normal, karena
menghindari kelelahan adanya kelainan jantung
yang berarti 6. Obat-obat tersebut dapat
6. Kolaborasikan pemberian mempertahankan
obat anti aritmia,inotropik, kontraktilitas jantung dan
nitrogliserin dan mencegah gagal jantung
vasodilator untuk
mempertahankan
kontraktilitas jantung.
3. Setelah dilakukan 1. Berikan salam, panggil 1. Bina hubungan saling
tindakan klien, perkenalkan nama percaya.
keperawatan dan tanggung jawab
selama ...x24 jam perawat pada keluarga
diharapkan Defisit klien, menanyakan
nutrisi pasien dapat keadaan klien (perasaan
teratasi aktivitas klien/tidur klien nyenyak
dengan kriteria atau tidak) pada keluarga
hasil: klien, jelaskan tujuan,
- BB stabil prosedur, dan lamanya
- Anak dapat tindakan pada klien dan
menyusu keluarga.
2. Identifikasi status nutrisi. 2. Untuk mengetahui kebutuhan
nutrisi pada anak.
3. Identifikasi kebutuhan 3. Mengkaji pemasukan
kalori dan jenis nutrient. makanan yang adekuat.
4. Observasi selama 4. Selama makan atau menyusui
pemberian makan atau mungkin dapat terjadi anak
menyusui. sesak atau tersedak.
5. Monitor berat badan. 5. Mengawasi penurunan berat
badan atau efektivitas
intervensi nutrisi.
6. Pasang infus jika perlu 6. Infus akan menambah
kebutuhan nutrisi yang tidak
dapat dipenuhimelalui oral.
7. Anjurkan ibu untuk terus 7. Air susu akan
memberikan anak susu, mempertahankan kebutuhan
walaupun sedikit tetapi nutrisi anak.
sering.
8. Kolaborasi dengan ahli 8. Menyeimbangkan atau
gizi untuk menentukan memenuhi kebutuhan nutrisi
jumlah kalori dan jenis pada anak.
nutrient yang dibutuhkan,
jika perlu.
4. Setelah dilakukan 1. Berikan salam, panggil 1. Bina hubungan saling
tindakan klien, perkenalkan nama percaya.
keperawatan dan tanggung jawab
selama ...x24 jam perawat pada keluarga
diharapkan klien, menanyakan
Intoleransi keadaan klien (perasaan
aktivitas pasien klien/tidur klien nyenyak
dapat teratasi atau tidak) pada keluarga
aktivitas dengan klien, jelaskan tujuan,
kriteria hasil: prosedur, dan lamanya
- Tidak nampak tindakan pada klien dan
kelelahan. keluarga.
- Tidak nampak 2. Kaji perkembangan 2. Menunjukan gangguan pada
lesu. tanda-tanda peningkatan jantung yang kemudian akan
- Saturasi O2 saat tanda-tanda vital, seperti menggunakan energi lebih
aktivitas dalam adanya sesak. Diskusikan sebagai kompensasi.
batas normal dan jelaskan pentingnya
(95-100%). menjaga tempat tidur.
- TTV Normal 3. Batasi aktifitas anak yang 3. Teknik penghematan energi.
berlebihan.
4. Berikan health education 4. Lebih meningkatkan
pada pasien dan keluarga pengetahuan dan informasi
pasien tentang aktifitas. bagi pasien dan keluarga
pasien serta lebih kooperatif
dalam tindakan pelaksanaan
yang dilakukan perawat.
5. Hindarkan suhu 5. Meringankan kerja jantung,
lingkungan yang terlalu menyesuaikan lingkungan
panas atau terlalu dingin
DAFTAR PUSTAKA
Amelia, Tika. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Penyakit Jantung Bawaan
Ventricel Septal Defect (Vsd) Di Ruangan Hcu Anak Rsup Dr. M. Djamil Padang.
Poltekkes Kemenkes Padang.
Ariani, dkk. (2020). Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan.
Malang: UB Press.
Gumilar, Khanisyah Erza & Ni Nyoman Ayu Ratih Pradnyani. (2020). Kehamilan dengan
Penyakit Jantung: Seri-1: Penyakit Jantung Bawaan. Surabaya: AUP.
Irnizarifka. (2011). Buku Saku Jantung Dasar. Bogor : Penerbit Ghalia Indonesia
Muttaqin, Arif. (2010). Pengantar Asuhan Keperawatan Dgn Gangguan Sistem
Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.
Ngastiyah. (2014). Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta: EGC.
Padila. (2013). Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogjakarta: Nuha Medika.
Sudarti & Endang. (2010). Kebidanan Neonatus, bayi dan anak balita untuk mahasiswa
kebidanan. Yogyakarta: Numed.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta
Selatan: DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta
Selatan: DPP PPNI.