0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
180 tayangan11 halaman

Modul 3 Pajak Internasional

Dokumen tersebut membahas tentang Double Taxation Conventions (P3B) yang merupakan perjanjian antar negara untuk mencegah pengenaan pajak berganda. P3B dapat dilakukan secara unilateral, bilateral, atau multilateral, dan tujuannya adalah memfasilitasi perdagangan internasional serta mengatur pembagian hak pemajakan antar negara.

Diunggah oleh

Winda Oktasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
180 tayangan11 halaman

Modul 3 Pajak Internasional

Dokumen tersebut membahas tentang Double Taxation Conventions (P3B) yang merupakan perjanjian antar negara untuk mencegah pengenaan pajak berganda. P3B dapat dilakukan secara unilateral, bilateral, atau multilateral, dan tujuannya adalah memfasilitasi perdagangan internasional serta mengatur pembagian hak pemajakan antar negara.

Diunggah oleh

Winda Oktasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERPAJAKAN INTERNASIONAL

POKOK BAHASAN:

DOUBLE TAXATION CONVENTIONS

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh


Ekonomi dan Bisnis Akuntansi P321740003 Debbie Yoshida

03 Yenny Dwi Handayani

Abstract Kompetensi
Pajak berganda Internasional muncul Mampu menguasai dan memahami
karena adanya benturan yuridiksi double taxation conventions
pemajakan. Dalam dunia perpajakan
internasional, dikenal dua model utama
MTC, yaitu OECD Model dan UN
Model. OECD Model dibuat
berdasarkan perspektif atau kepentingan
negara-negara maju, sedangkan UN
Model dibuat berdasarkan perspektif
atau kepentingan negara-negara
berkembang

Pembahasan
Pajak berganda Internasional muncul karena adanya benturan yuridiksi perpajakan antara negara
negara yang punya modal (capital exporting country) dan negara negara yang membutuhkan modal
(capital importing country).
Kedua negara tersebut melakukan hubungan ekonomi yang tidak terlepas dari aspek
perpajakan. Akibat nya pengenaan pajak 2 kali atau lebih terhadap subjek pajak dan objek
pajak yang sama oleh 2 negara. Dua negara atau lebih mengenakan pengenaan pajak atas
objek pajak yang sama dan subjek pajak yang sama
Contoh:
Tuan Firman seorang subjek pajak dalam negeri Indonesia menjadi pemegang saham di Singapura
Corp sebuah perusahaan yang berkedudukan di Singapura. Pada suatu waktu Singapura Corp
membagikan dividen kepada para pemegang saham. Berdasarkan ketentuan Undang Undang
Singapura atas penghasilan dividen yang diterima Tuan Firman dikenakan pajak di Singapura.
Sedangkan menurut ketentuan Undang Undang domestik Indonesia, penghasilan yang diterima atau
diperoleh di luar negeri akan dikenakan pajak di Indonesia. Akibatnya penghasilan berupa dividen
yang diterima Tuan Firman dikenakan dua kali.
Untuk menghindari kedua efek tersebut, di perlukan ada nya pengaturan pengaturan terkait perpajakan
antara kedua negara yang melakukan hubungan ekonomi tersebut. Pengaturan pengaturan terkait
aspek perpajakan selanjutnya tertuang dalam Persetujuan Penghindaran Pajak berganda (P3B) / Tax
Treaty /Double taxation conventions (DTCs)
P3B merupakan kesepakatan antara dua negara untuk memodifikasi peraturan perundang undangan
perpajakannya masing masing. Biasanya yang dimodifikasi adalah ketentuan mengenai pajak atas
penghasilan saja.
P3B mempunyai dua tujuan utama yaitu:
1. Memfasilitasi perdagangan internasional dan arus investasi antar Negara, antara lain
dengan cara menghindarkan adanya pengenaan pajak berganda dan memberikan
pengurangan tarif pajak dinegara sumber atas beberapa bentuk penghasilan tertentu.
2. Merupakan alat bagi kedua contracting state (negara yang menandatangani P3B) untuk
dapat menerapkan aturan aturan domestiknya sehingga dapat mengurangi adanya praktek
pengelakan pajak, misalnya dengan memungkinkan masing masing contracting state utuk
saling bertukar informasi, konsultasi bersama atau mengadakan mutual agreement.
Metode Hak Pemajakan
Secama umum konsep pemajakan perpajakan internasional secara Perjanjian antar negara terdiri dari:
1. Unilateral
2. Bilateral
3. Multilateral

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 2
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
Dalam rangka mengurangi atau menetralisir dari kemungkinan pengenaan pajak berganda sebagai
akibat dari timbulnya konflik. maka ada beberapa metode yang bisa dilakukan menurut para ahli
seperti Soemitro yang kutip oleh Prof.Dr. Safri Nurmantu. M.S yaitu seperti metode Unilateral.
Bilateral dan Multilateral berupa pembebasan/ pengecualian. Kredit Pajak dan metode lainnya.
Perjanjian multilateral adalah perjanjian melibatkan banyak negara ataupun subyek hukum seperti
PBB.

Unilateral
Setiap Negara yang mengenakan pajak atas penghasilan luar negeri yang diperoleh atau diterima
WPDN-nya ialah dengan mencantumkan ketentuan penghindaran pajak berganda internasional (PBI)
dalam undang-undang domestiknya. Metode ini mengatur bahwa suatu negara misalnya negara
Republik Indonesia mempunyai kekuatan hukum didalamnya yang mengatur masyarakat atau badan
internasional dan ditetapkan sepihak oleh negara Indonesia sendiri. dengan kata lain tidak ada yang
dapat mengatur negara kita lain karena hal itu merupakan kewibawaan dan kedaulatan negara kita.
Metode Pemajakan Unilateral disebut juga metode yang ditetapkan sepihak berdasarkan prinsip
kedaulatan. Dalam Perundangan Perpajakan di Indonesia terdapat pada Pasal 26 UU PPh (Jika tidak
ada Tax Treaty, maka Indonesia berhak mengatur) dan Pasal 24 UU PPh (pajak yang telah dibayar di
negara lain dapat jadi pengurang pajak nasional).
Cara pelaksanaan pemajakan secara unilateral melalui UU pajak dan aturan pelaksanaannya secara
umum dalam P3B dilakukan melalui:
a. Mengecualikan seseorang/badan sebagai subjek pajak (Contoh Pejabat pemerintahan
asing/ diplomat, pejabat organisasi Internasional, dan lain-lain).
b. Mengecualikan suatu penghasilan sebagai objek pajak.
c. Menerapkan metode penghilangan pajak berganda (deduksi. pembebasan. kredit).
d. Membetulkan ketetapan pajak yang menimbulkan pajak berganda.
e. Mengembalikan pajak yang seharusnya tidak terutang (Refund).

Bilateral
Kedua Negara terkait memberikan keringanan pajak berganda internasional (PBI) berdasarkan
kesepakatan (persetujuan) antara kedua Negara pemegang yurisdiksi pemajakan. Kesepakatan
tersebut pada umumnya dirumuskan dalam bentuk perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B)
yang ditandatangani oleh pemerintah kedua Negara.
Pencegahan pajak berganda dan penghindaran pajak secara bilateral adalah pencegahan pajak
berganda dan penghindaran pajak yang disepakati bersama antara dua negara melalui suatu perjanjian
khusus yang disebut sebagai Convention atau Agreement. Dalam menyusun perjanjian tersebut
negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara yang menjadi anggota OECD menggunakan OECD
Model. sedangkan bagi negara-negara berkembang menggunakan UN Model. Berdasarkan Tax

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 3
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
Treaty. hukum pajak nasional dikesampingkan jika tidak sesuai dengan Tax treaty. Jadi Tax Treaty
bersifat Lex Specialis.

Multilateral
Metode multilateral melibatkan lebih dari dua Negara. Secara regional, Negara yang berada dalam
satu kawasan dapat menutup P3B secara bersama-sama. Metode ini didasarkan pada konvensi
internasional yang ketentuan atau ketetapan atau keputusan yang dihasilkan untuk kepentingan
banyak negara yang ditandatangani oleh berbagai negara. misalnya Konvensi Wina. Metode ini ada
dalam Pasal 3 UU PPh. bahwa setiap kedutaan asing dan organisasi Internasional di bawah PBB dan
penduduk asing yang bekerja di tempat tersebut. bukan subjek pajak Indonesia.

Ketentuan-ketentuan dalam P3B untuk mencegah pengenaan pajak berganda ini misalnya:
1. Adanya ketentuan untuk menyelesaikan kasus dual residence di mana seseorang atau badan
diakui sebagai subjek pajak dalam negeri (resident tax person) oleh dua negara yang berbeda.
Aturan ini dikenal dengan istilah Tie Breaker Rule yang dicantumkan dalam Pasal 4 ayat (2)
P3B.
2. Adanya ketentuan pembagian hak pemajakan dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 21 P3B untuk
jenis-jenis penghasilan tertentu. Pembagian hak pemajakan ini ada yang bersifat ekslusif
diberikan hanya kepada satu negara dan ada juga yang berupa pembatasan kepada suatu negara
untuk mengenakan pajak.
3. Adanya ketentuan tentang Corresponding Adjustment terhadap lawan transaksi di suatu negara
dalam hal negara yang lain melakukan koreksi terhadap satu Wajib Pajak yang melakukan
transfer pricing.
4. Adanya ketentuan tentang penerapan metode penghindaran pajak berganda yang diatur dalam
Pasal 23 P3B.
5. Adanya ketentuan tentang Mutual Agreement Procedures (MAP) di mana jika satu Wajib Pajak
diperlakukan tidak sesuai dengan ketentuan P3B di negara lain maka Wajib Pajak tersebut
dapat meminta otoritas pajak untuk menyelesaikan masalahnya melalui MAP ini.
DTCs dan Dosmestic law
Di Indonesia, P3B diatur dalam Pasal 32A Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008. Kedudukan P3B berdasarkan
ketentuan ini adalah lex specialist terhadap Undang-undang domestik. Dengan demikian, jika ada
ketentuan dalam undang-undang domestik bertentangan dengan ketentuan dalam P3B maka yang
dimenangkan adalah ketentuan P3B.
Di Indonesia, telah dikeluarkan ketentuan pelaksanaan terkait penerapan P3B ini, yaitu:
 PER-61/PJ./2009 tentang Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda.

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 4
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
 PER-62/PJ./2009 tentang Pencegahan Penyalahgunaan Persetujuan Penghindaran Pajak
Berganda.
 PER-67/PJ./2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi Berdasarkan P3B.
 PER-28/PJ./2017 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi Berdasarkan P3B.
Dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda OECD Model, ketentuan tentang pertukaran
informasi dimuat dalam Pasal 26. Sementara itu aturan internal di Indonesia untuk melakukan proses
pertukaran informasi diatur dalam SE-61/PJ/2009. Sementara itu, proses pembentukan Perjanjian
Penghindaran Pajak Berganda seperti proses pendekatan, perundingan, ratifikasi serta
pemberlakuannya tunduk kepada Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional.

MODEL TAX CONVENTION


Dalam dunia perpajakan internasional, dikenal dua model utama MTC, yaitu OECD Model dan UN
Model. OECD Model dibuat berdasarkan perspektif atau kepentingan negara-negara maju, sedangkan
UN Model dibuat berdasarkan perspektif atau kepentingan negara-negara berkembang. Baik OECD
Model maupun UN Model mempunyai susunan chapter dan artikel yang hampir sama. OECD Model
mempunyai karakteristik utama melindungi hak pemajakan negara domisili dalam wujud:
 Pencantuman definisi istilah ke dalam P3B untuk mencegah penggunaan definisi yang
terdapat dalam hukum domestik negara sumber,
 Pembatasan hak pemajakan negara sumber dalam bentuk seperti: syarat-syarat, time test yang
lebih panjang, dan pembatasan tarif pajak.
UN Model lebih condong melindungi hak pemajakan negara sumber dibandingkan OECD
Model.
Indonesia mempunyai model sendiri yang di sebut dengan Model P3B Indonesia (Indonesian
Model) yang merupakan modifikasi dari UN Model.Model P3B Indonesia biasanya dijadikan
posisi runding dasar ketika Indonesia menegosiasikan P3B dengan negara lain.
Model UN yang dikembangkan untuk memperjuangkan kepentingan negara negara berkembang,
sehingga prinsip sumber penghasilan tergambar dari model UN OECD model yang dikembangkan
oleh negara negara Eropa Barat, prinsip yang digunakan adalah azaz pengenaan domisili.
Perbedaan Model OECD, UN, Model Indonesia tentang Jenis jenis BUT
N
Objek UN Model OECD Model Model Indonesia
o
1 BUT Sebuah bangunan, Sebuah bangunan, kontruksi, Sebuah bangunan,
Jenis kontruksi, proyek intalasi proyek intalasi dianggap kontruksi, proyek intalasi
Aktivitas dianggap BUT apabila BUT apabila kegiatannya dianggap BUT apabila
kegiatannya berlangsung berlangsung lebih dari 12 kegiatannyaberlangsung
lebih dari 6bulan bulan lebih dari 60 hari

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 5
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
2 BUT Tidak memasukkan gudang, Tidak memasukkan gudang, * Model P3B indonesia
Jenis gerai penjualan, pertanian, gerai penjualan, pertanian, menambahkan bahwa BUT
Aktiva tempat pengeboran minyak tempat pengeboran minyak termasuk tidak
atau kapal kerja yang atau kapal kerja yang memasukkan gudang, gerai
digunakan untuk eksplorasi digunakan untuk eksplorasi penjualan, pertanian,
dan ekploitasi sumber dan ekploitsi sumber kekayaan tempat pengeboran minyak
kekayaan alam sebagai alam sebagai objek BUT atau kapal kerja
objek BUT yangdigunakan untuk
eksplorasi dan ekploitasi
sumber kekayaan alam
*Model P3B menambahkan
pengecualian BUTuntuk
pengurusan suatu tempat
tertentu dari suatu usaha
yang semata-mata
untuk tujuan iklan dan
penyediaan informasi
3 BUT Dianggap BUT, apabila * Tidak mengangggap BUT - Dianggap BUT apabila
Jenis kegiatan agen seluruhnya jika usahanya semata-mata membuat atau melakukan
Agen atau hampir seluruhnya sebagai agen, proses barang - barang
dilakukan atas nama * Tidak mengatur adanya perusahaan atau barang
perusahaan tersebut karena agen yang menjalankan persediaan untuk
dianggap sebagai agen yang usaha atas nama perusahaan induk disuatu
berdiri sendiri perusahaaaanya. negara lain.
* Dianggap memiliki BUT -Menambahkan dianggap
apabila memiliki kuasa BUT, apabila kegiatan agen
untuk menandatangi kontrak seluruhnya atau hampir
atas nama perusahaan seluruhnya dilakukan atas
tersebut nama perusahaan
tersebut karena dianggap
sebagai agen yang berdiri
sendiri.

STRUKTUR DTCs

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 6
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
Struktur persetujuan penghindaran pajak berganda pada umumnya menjelaskan:
1. Permufakatan kedua negara
2. Orang / badan yang merupakan penduduk salah satu atau kedua negara terikat dan berlaku
P3B
3. Pajak-pajak apa saja yang tunduk pada P3B, pada umumnya pajak pendapatan dan pajak
perseroan
4. Istilah yang mengandung perihal hukum
5. Bentuk usaha tetap
6. Harta tak bergerak
7. Laba perusahaan disuatu negara
8. Hubungan istimewa
9. Keuntungan dari pengoperasian kapal laut atau sewa pesawat udara
10. Pajak atas dividen
11. Pajak atas bunga
12. Pajak atas royalty
13. Keuntungan karena pengalihan harta tak bergerak
14. Pendapatan yang diterima seorang penduduk suatu negara sehubungan dengan pekerjaan
bebas atau pekerjaan lainnya yang sifatnya sama
15. Pajak atas gaji, upah dan balas jasa lainnya yang berkenaan dengan pekerjaan
16. Pendapatan para pengurus
17. Pendapatan seorang seniman penghibur
18. Pendapatan atas pensiunan
19. Kunjungan penduduk atau mahasiswa yang menerima bantuan negara lainnya
20. Pengajar atau peneliti negara lain
21. Pendapatan lain-lain
22. Metode penghindaran pajak ganda
23. Bagian- bagian yang tidak diatur dalam pasal-pasal P3B
24. Tindakan-tindakan negara yang tidak sesuai dengan ketentuan
25. Pertukaran bahan keterangan yang diperlukan untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan
persetujuan
26. Perjanjian yang menyatakan bahwa tidak ada pengaturan khusus dibidang perpajakan yang
menghalangi pemerintah kedua negara membuat kebijakan
27. Pernyataan tentang hak-hak khusus anggota misi diplomatik atau pegawai konsuler
berdasarkan ketentuan hukum internasional
28. Dimulainya P3B dan Ratifikasi
29. Berakhirnya P3B

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 7
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
Pasal- pasal dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dapat dikelompokan menjadi :
1. Ruang Lingkup (Scope)
2. Definisi (Definition)
3. Metode menghilangkan pajak berganda
4. Lain-lain
5. Substansi yaitu tentang pembagian hak pemajakan atas penghasilan
6. Anti Penghindaran Pajak,
Pengelompokan pasal-pasal dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (DTCs) dapat dilihat
pada gambar sebagai berikut :

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 8
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
MODEL OECD
PASAL 1 Orang yang tercakup dalam persetujuan (Person Covered)
Persetujuan ini berlaku bagi orang orang dan badan badan yang merupakan penduduk salah satu
atau kedua Negara yang terikat persetujuan
Penjelasan:
Meskipun tertulis person yang seakan seseorang, namun jika seseorang tersebut memiliki badan usaha
maka juga terikat atas perjanjian ini
PASAL 2 Pajak pajak yang tercakup dalam persetujuan (Taxes Covered)
1. Persetujuan ini berlaku terhadap pajak pajak atas penghasilan yang dikenai oleh masing
masing Negara atau bagian ketatanegaraan atau pemerintah daerahnya, tampa
memperhatikan cara pemungutan pajak pajak tersebut.
2. Dianggap sebagai pajak pajak atas penghasilan dan pajak kekayaan adalah semua pajak
yang dikenakan atas seluruh penghasilan atau kekayaan, atau elemen elemen dari
penghasilan atau kekayaan termasuk pajak atas keuntungan yang diperoleh dari
pemindahtanganan harta bergerak atau harta tidak begerak dan pajak pajak atas jumlah gaji
atau upah yang dibayar perusahaan, dan juga pajak atas kenaikan nilai kekayaan
3. Persetujuan ini akan diterapkan pada pajak pajak yang berlaku sekarang khususnya:
a. di Negara A:……….
b. di Negara B:………
4. Persetujuan ini berlaku pula terhadap setiap pajak yang serupa atau pada hakekatnya sama
yang dikenakan pajak setelah tanggal penendatanganan persetujuan ini sebagai tambahan

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 9
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
terhadap, atau sebagai pengganti dari pajak pajak yang ada dalam perjanjian ini. Pejabat
pejabat yang berwenang dari kedua Negara akan saling memberitahukan satu sama lein
mengenai setiap perubahan penting yang terjadi dalam perundang undangan pajak masing
masing.
Penjelasan:
1. Pada ayat 1 menjelaskan bahwa pemungutan pajak dapat dilakukan oleh pemerintah pusat
atau pemerintah daerah atau Negara bagian
2. Pada ayat 2 menjelaskan pengenaan pajak dikenakan atas penghasilan dan kekayaan termasuk
unsur unsur yang terkait Undang undang pajak penghasilan di Indonesia dalam pasal 4 ayat 1
telah mengenakan atas semua penghasilan dan kekayaan
3. Pada ayat 4 menjelaskan bahwa isi perjanjian P3B disamping yang telah ditandatangani
dalam persetujuan, bilaman terdapat tambahan, atau penggantinya, pajabat yang memliki
kewenangan dikedua Negara wajib memberitahukan perubahan yang terjadi.

PASAL 29 Berlakunya persetujuan (Entry Into Force)


1. Persetujuan ini akan diratifikasi dan instrument ini ratifikasi akan dipertukarkan
di……,,.secepat mungkin
2. Persetujuan ini akan syah berlaku setelah tanggal pertukaran instrument ratifikasi dan
ketentuan ketentuannya akan berlaku:
a. Di Negara A………………………
b. Di Negara B………………………
Penjelasan:
Persetujuan ini berlaku sejak tanggal pertukaran nota ratifikasi atau pemberitahuan kepada Negara
treaty partner
PASAL 30 Berakhirnya Persetujuan (Termination)
Persetujuan ini akan tetap berlaku sampai diakhiri salah satu pihak pada persetujuan masing masing
pihak pada persetujuan dapat mengakhiri berlakunya persetujuan ini, melalui perwakilan diplomatik,
dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis tentang berakhirnya persetujuan sekurang kurangnya
6 bulan sebelum berakhirnya tahun takwin berikutnya setelah jangka waktu …………………….tahun
sejak berlakunya persetujuan
Dalam hal demikian, persetujuan ini akan tidak berlaku :
a. negara A…………………….
b. negara B……………………

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 10
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK
Daftar Pustaka
1. Agus Setiawan, 2006. Perpajakan Internasional Di Indonesia. Jakarta: BPLK
2. Darusasalam John Hutagaol, Dany Sepriadi, 2010. Konsep dan Aplikasi Perpajakan
Internasional. Jakarta: Danny Darussalam Tax Center
3. Rachmanto Surahmat. 2011. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda.Jakarta: Salemba
Empat

2018 PERPAJAKAN INTERNASIONAL Pusat Bahan Ajar dan eLearning


Debbie Yoshida, S.Pd,M.Si Htt p://www.mercubuana.ac.id 11
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK

Anda mungkin juga menyukai