Anda di halaman 1dari 11

Peran Guru dalam Mengembangkan Pembelajaran Siswa TK (Taman Kanak-

Kanak) Muslim di Kota Surabaya

Shiky Isyana P.S.M1


NIM. 071411631038

ABSTRAK

Mengembangkan pembelajaran siswa TK Muslim di Surabaya merupakan tugas


penting yang didalamnya terdapat peran-peran yang harus dilakukan sebaik mungkin
oleh guru, penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran sesungguhnya
peran guru di TK Muslim di Surabaya dalam mengembangkan pembelajaran
siswanya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan tipe deskriptif.
Lokasi ini ditentukan dengan cara probability sampling, hasil yang didapat adalah
102 lokasi TK Muslim yang tersebar di seluruh kota Surabaya, dengan total sampel
yang sama dengan jumlah lokasi yaitu 102 guru. Berdasarkan hasil penelitian, peran
guru yang pertama yaitu sebagai demonstrator, guru telah menguasai paham dan
menguasai kurikulum pendidikan yang berbasis pendidikan agama islam. Sebagai
inspirator, guru selalu memiliki inpirasi ketika mengajar dengan cara mengajak siswa
untuk bernyanyi di sela-sela belajar ketika guru melihat siswa mulai bosan dan hilang
fokus. Sebagai informator sudah dilakukan dengan baik namun untuk jenis informasi
yang dibagikan tentang keagamaan masih kurang, hanya sebanyak 29,4%. Peran guru
sebagai motivator telah dilakukan dengan baik, namun untuk media apa yang
diberikan sebagai bentuk motivasi untuk siswanya hanya 15,7% saja yang
memberikan hadiah berupa atribut keagamaan. Sebagai inisiator, guru telah dapat
mengintegrasikan inisiatifnya dengan keagamaan, karena guru lebih banyak
berinisiatif mengajak siswanya bermain permainan edukatif yang terintegrasi dengan
keagamaan seperti bermain sebut jumlah rukun-rukun islam dan rukun iman. Sebagai
fasilitator, sekolah 100% memiliki semua jenis buku bacaan yang memadai. Guru
sebagai pembimbing, masih perlu memberikan perhatian khusus pada siswanya yang
merasa kesulitan. Guru sebagai pengelola kelas dilakukan dengan baik terlihat dari
hasil yang didapat bahwa suasana dilingkungan kelas sangat memadai. Guru sebagai
evaluator masih kurang baik dalam segi indikator yang menjadi pertimbangan
evaluasi, di mana seharusnya guru melihat dari berbagai dimensi indicator tidak
hanya terpaku pada satu atau dua dimensi saja.

Kata kunci: peran guru, pembelajaran, pendidikan agama islam, TK Muslim, anak
usia dini
1
Korespondensi: Shiky Isyana P.S.M, Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya, No. Telp 089505939943,
Email: shiky151295@gmail.com
ABSTRACT

Developing the learning of Muslim kindergarten students in Surabaya is an


important task in which there are roles that must be done as well as possible by the
teacher, this study aims to see how the real role of the teacher in Muslim kindergarten
in Surabaya in developing students' learning. This study uses quantitative methods
with descriptive types. This location is determined by probability sampling, the
results obtained are 102 Muslim TK locations spread throughout the city of Surabaya,
with a total sample of the same number of locations as 102 teachers. Based on the
results of the study, the role of the first teacher is as a demonstrator, the teacher has
mastered understanding and mastering the education curriculum based on Islamic
religious education. As an inspiration, the teacher always has inspiration when
teaching by inviting students to sing on the sidelines of learning when the teacher
sees students getting bored and lost focus. As an informator it has been done well but
for the types of information shared about religion is still lacking, only as much as
29.4%. The role of the teacher as a motivator has been done well, but for what media
is given as a form of motivation for students only 15.7% give gifts in the form of
religious attributes. As an initiator, the teacher has been able to integrate his
initiatives with religion, because the teacher takes the initiative to invite students to
play educational games that are integrated with religion such as playing with the
number of pillars of Islam and harmony. As a facilitator, 100% of schools have all
kinds of adequate reading books. The teacher as a guide, still needs to pay special
attention to students who feel difficulties. The teacher as the class manager is done
well as seen from the results obtained that the atmosphere in the classroom is very
adequate. Teachers as evaluators are still not good in terms of indicators that are
considered evaluations, where teachers should see from a variety of indicator
dimensions not only fixed on one or two dimensions.

Keywords: the role of teachers, learning, Islamic religious education, Muslim


kindergarten, early childhood
Pendahuluan intenasional “Pendidikan Anak Usia Dini”
bahwa guru harus berperan sebagai
Anak usia dini menurut para ahli pengamat, melakukan elaborasi, sebagai
disebut juga golden age, di mana usia model, melakukan evaluasi dan melakukan
tersebut sang anak masih memiliki memori perencanaan. Guru juga harus mengenali
yang jernih dan sangat mudah untuk apakah dalam kegiatan bermain, murid-
menerima dan mengingat setiap hal yang di murid mengembangkan aspek akademik,
ajarkan pada mereka. Anak pada usia dini 1- social, kecerdasan atau jasmaninya.2
5 tahun merupakan masa di mana anak Mengembangkan kemampuan
masih merasa senang untuk bermain dan belajar anak usia dini (siswa TK) sangat
melihat sebuah objek dengan visualisasi perlu, khususnya untuk siswa TK yang
yang menarik. Pada usia dini, sang anak tinggal di kota Surabaya yang merupakan
cenderung untuk menyukai bermain dan Kota Literasi. Sebagai implementasi di
belum dapat untuk berfikir dengan pola yang deklarasikannya Surabaya Kota Literasi,
abstrak, yang artinya bahwa menurut Lev pemerintah kota Surabaya telah
Vygotsky, makna dan objek bagi anak usia memberlakukan program GLS (Gerakan
dini berbaur menjadi satu. Sebagai contoh, Literasi Sekolah). Penerapan program GLS,
anak tidak dapat berfikir tentang “kuda” telah diberlakukan di hampir seluruh SD
tanpa melihat kuda yang sesuangguhnya. Negeri di Kota Surabaya. Namun
Saat anak terlibat dalam kegiatan bermain permasalahan yang muncul, mengapa hanya
khayal dan menggunakan objek misalnya diberlakukan di SD negeri, mengapa tidak
sepotong kayu untuk mewakili benda lain diberlakukan di SD Swasta yang umum
yaitu “kuda”, maka makna dapat terpisah maupun berbasis keagamaan juga untuk
dari objek. Jadi bermain simbolik mewujudkan kota literasi yang sempurna?
mempunyai peran penting dalam Karena sekolah-sekolah swasta pun terdapat
perkembangan berfikir anak yang abstrak.1 di Kota Surabaya. Program GLS juga belum
Pada usia 4-6 tahun adalah saat di terlihat diberlakukan di sekolah-sekolah TK
mana anak telah memasuki sekolah formal di mana sekolah TK pun perlu untuk
dan anak berhak untuk mendapatkan dibangun literasi dini pada siswanya agar
pendidikan awal yang cocok untuk usianya. pondasi semakin kuat.
Contoh pendidikan formal anak pada usia Alasan awal diberlakukan program
dini adalah Taman Kanak-kanak, Raudatul tersebut adalah peringkat peserta didik di
Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. Negara Indonesia yang sangat rendah
Meskipun anak usia dini masih sebagai mana yang di jelaskan dalam
membutuhkan bimbingan dan pengawasan Programme for International Student
yang besar dari keluarga, namun ketika anak Assessment (PISA) pada tahun 2009, di
usia dini mulai masuk sekolah TK, saat mana peserta didik Indonesia berada pada
itulah anak berhak untuk mendapatkan peringkat ke-57 (dari 65 negara yang
pembelajaran dari guru, di mana beberapa berpartisipasi) dengan skor 396 (skor rata-
jam di pagi hari guru memiliki waktu efektif
untuk mendidik siswanya. Lebih lanjut
dikatakan oleh Netrawati dalam seminar 2
Netrawati, “Pendidikan Anak Usia Dini:
peningkatan profesionalitas guru anak usia
1
Mayke S. Tedjasaputra, “Bermain, dini dalam upaya pengembangan sumber
Mainan, dan permainan: untuk pendidikan daya manusia berkualitas di masa depan”,
anak usia dini”, (Jakarta: PT. Grasindo, (Padang: Teater Tertutup FBSS Universitas
2005), hlm 9. Negeri Padang, 2009), hlm 4.
1
rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 penglihatan dan pendengaran serta hati
menunjukkan peserta didik Indonesia berada sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu.4
pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor Penelitian ini penting dilakukan di
rata-rata OECD 496). Antara tahun 2012 TK Muslim karena untuk melihat lebih
dan 2015, capaian siswa berusia 15 tahun di dalam bagaimana guru dapat
bidang sains meningkat sebesar 21 poin. Hal mengembangkan pembelajaran pada
ini menjadikan Indonesia sebagai sistem siswanya yang tidak sekedar membuat siswa
pendidikan tercepat kelima di antara 72 yang dapat membaca, menulis dan menghitung
ikut serta dalam perbandingan ini.3 Namun tapi juga untuk membuat siswa memiliki
demikian, hasil peringkat tersebut masih jiwa dan akhlak yang baik ketika mereka
menunjukkan bahwa pendidikan di hidup tengah kota Surabaya yang juga
Indonesia belum mampu mencapai batas merupakan kota literasi. Selain itu, melihat
maksimal dalam mengakomodasi minat semakin maraknya kenakalan yang
belajar siswa. disebabkan oleh siswa SD, maraknya
Melihat fenomena yang terjadi di pernikahan dini yang tentunya pendidikan
atas, menjadikan guru lebih giat dalam tidak lagi dipandang penting, menjadi salah
mengembangkan kemampuan belajar pada satu alasan kuat peneliti ingin melihat
seorang anak pada usia dini yang telah bagaimana pembekalan ilmu agama di usia
memasuki sekolah TK agar siswa lebih siap dini. Seperti pada artikel yang di tulis oleh
untuk selanjutnya masuk ke sekolah dengan Eddy Fadlyana dan Shinta Larasaty,
tingkatan lebih tinggi yakni sekolah dasar. mengatakan bahwa semakin muda usia
Terdapat berbagai jenis sekolah TK di kota menikah semakin rendah tingkat pendidikan
Surabaya, mulai TK umum hingga yang yang dicapai oleh sang anak. Pernikahan
berbasis agama (Muslim dan Non-muslim). seringkali menyebabkan anak tidak lagi
Setiap TK memiliki cara tersendiri dalam bersekolah, karena kini mereka mempunyai
membuat anak didiknya menjadi lulusan tanggung jawab baru sebagai suami atau
terbaik yang siap untuk belajar di tingkat isteri.5
sekolah yang lebih tinggi (sekolah dasar).
Sebagai contoh TK muslim, sebagai TK Rumusan Masalah
yang berbasis muslim di mana di dalam Al-
Qur’an kitab suci umat Islam terdapat satu Bagaimana gambaran peran guru
surah yang berbunyi Iqra’ atau dapat di dalam mengembangkan pembelajaran siswa
artikan “bacalah”, dalam surah tersebut TK muslim di Kota Surabaya?
dijelaskan bahwa manusia di lahirkan dalam
keadaan suci dan tidak mengetahui apa-apa
lalu Allah SWT memberikan karunia berupa

4
“Al Qur’an dan terjemahannya”, (Cetakan
Pertama. Bandung: Kementrian Agama RI,
3
Layli hidayah, “Implementasi Budaya 2011)
5
Literasi di Sekolah Dasar Melalui Eddy Fadlyana dan Shinta Larasaty,
Optimalisasi Perpustakaan: Studi kasus di “Pernikahan Usia Dini dan
Sekolah Dasar Negeri di Surabaya”, Permasalahannya”, Jurnal, (Bandung: sari
(Malang: Universitas Islam Malang, 2017), Pediatri, FK Universitas Padjajaran 2009),
hlm 48. Vol 11, No 2 Agustus 2009.
2
Konsep Guru namun pada penelitian ini hanya akan
digunakan 9 peranan yang paling penting,
Guru merupakan tenaga yakni sebagai berikut:
pendidik yang pekerjaan utamanya adalah a. Guru Sebagai Demonstrator
mengajar. Lebih lanjut dibahas, kegiatan Guru hendaknya senantiasa menguasai
belajar mengajar yang dilakukan oleh guru bahan atau materi pelajaran yang akan
tidak hanya berorientasi pada kecakapan- diajarkannya serta senantiasa
kecakapan berdimensi ranah cipta saja tetapi mengembangkannya dalam arti
kecakapan yang berdimensi ranah rasa dan meningkatkan kemampuan dalam hal
karsa. Ranah cipta merupakan hasil yang ilmu yang dimilikinya. Seorang guru
berasal dari sebuah pemikiran yang sifatnya juga hendaknya mampu dan terampil
tertutup, sedangkan ranah rasa merupakan dalam merumuskan TPK (Tim Pengelola
hal-hal yang dilakukan dengan tulus ikhlas Kegiatan), memahami kurikulum, dan
melalui sebuah perasaan, dan ranah karsa dia sendiri sebagai sumber belajar
adalah keterampilan membaca, dalam hal ini terampil dalam memberikan informasi
membaca tidak di hanya di orientasikan kepada kelas. Dalam pengertian lain,
pada teks atau buku melainkan, membaca peran guru sebagai demonstrator ialah
dalam makna luas seperti membaca keadaan untuk dapat memperagakan apa yang
atau situasi yang terjadi di dalam dunia akan disampaikan secara didaktis selama
pendidikan, membaca apapun yang proses pembelajaran.7 Pada akhirnya
merupakan kebutuhan siswanya untuk seorang guru akan dapat memainkan
kemudian diajarkan agar mudah diterima. peranannya sebagai pengajar dengan
baik bila ia menguasai dan mampu
Peran Guru
melaksanakan keterampilan-
Sebagai pihak kedua setelah keterampilan mengajar.
orang tua siswa yang memiliki waktu cukup b. Guru Sebagai Inspirator
banyak dalam berinteraksi dan mendidik Guru harus dapat memberikan petunjuk
anak, guru memiliki tanggung jawab untuk yang baik bagi kemajuan belajar anak
menjalankan perannya untuk mengajar didik. Petunjuk itu tidak harus bertolak
siswanya. Seperti yang dikatakan oleh Adam dari sejumlah teori-teori belajar, dari
& Decey dalam basic principles of Student pengalaman pun dapat dijadikan
Teaching, peran guru adalah guru sebagai petunjuk bagaimana cara belajar yang
pengajar, perencana kelas, pembimbing baik.
pengatur lingkungan, pertisipan ekspeditor, c. Guru Sebagai Informator
perencana, supervisor, motivator, dan Guru harus dapat meberikan informasi
konselor. Dalam teorinya tersebut, buku perkembangan ilmu pengetahuan dan
yang di tulis oleh Roesminingsih dan teknologi, selain sejumlah bahan
Susarno hanya akan mengemukakan 13 pelajaran untuk setiap mata pelajaran
peranan yang dianggap paling dominan6, yang telah diprogramkan dalam
kurikulum. Menjadi informatory yang
yang baik dan efektif, dibutuhkan
6
Roseminingsih dan Lamijan Hadi Susarno,
“Teori dan Praktek Pendidikan”,
7
(Surabaya: Lembaga Pengkajian dan Muhamad Irham dan Novan Ardy Wiyani,
Pengambangan Ilmu Pendidikan Fakultas “Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi
Ilmu Pendidikan Universitas Surabaya, dalam Proses Pembelajaran”,
2015), hlm 146-151. (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2017), hlm 144.
3
penguasaan bahasa sebagai kuncinya, di h. Guru Sebagai Pengelola Kelas
topang dengan penguasaan bahan yang Guru hendaknya dapat mengelola kelas
akan diberikan kepada anak didik. dengan baik, karena kelas adalah tempat
Informator yang baik adalah guru yang berhimpun semua anak didik dan guru
mengerti apa kebutuhan anak didik dan dalam rangka menerima bahan pelajaran
mengabdi untuk anak didik. dari guru. Kelas yang dikelola dengan
d. Guru Sebagai Motivator baik akan menunjang jalannya interaksi
Guru hendaknya dapat mendorong anak edukatif. Kelas yang terlalu padat
didik agar bergairah dan aktif belajar. dengan anak didik, pertukaran udara
Dalam upaya memberikan motivasi, kurang, penuh kegaduhan, lebih banyak
guru dapat menganalisis motif-motif tidak menguntungkan bagi terlaksananya
yang melatarbelakangi anak didik malas interaksi edukatif yang optimal. Hal ini
belajar dan menurun prestasinya tidak sejalan dengan tujuan umum dari
disekolah. Motivasi dapar efektif bila pengelola kelas, yaitu menyediakan dan
dilakukan dengan memperhatikan menggunakan fasilitas kelas bagi yang
kebutuhan anak didik. bermacam-macam kegiatan agar
e. Guru Sebagai Inisiator mencapai hasil yang baik dan optimal.
Guru harus dapat menjadi pencetus ide- Jadi, maksud dari pengelola kelas adalah
ide kemajuan dalam pendidikan dan agar anak didik betah tinggal dikelas
pengajaran. Guru juga harus menjadikan dengan motivasi yang tinggi untuk
dunia pendidikan lebih baik dari yang senantiasa belajar di dalamnya.
sebelumnya dengan cara mencetuskan i. Guru Sebagai Evaluator
ide-ide inovasi bagi kemajuan Guru dituntut untuk menjadi seorang
pendidikan dan pengajaran. evaluator yang baik dan jujur, dengan
f. Guru Sebagai Fasilitator memberikan penilaian yang menyentuh
Sebagai fasilitator, guru hendaknya pada aspek kepribadian anak didik, yaitu
dapat menyediakan fasilitas yang aspek nilai (values). Berdasarkan hal ini,
memungkinkan kemudahan kegiatan guru harus dapat memberikan penilaian
belajar anak didik. Guru juga seharusnya dalam dimensi yang luas. Penilaian
memahami berbagai jenis media terhadap kepribadian anak didik tentu
pembelajaran yang dapat memudahkan lebih diutamakan daripada penilaian
siswa menangkap pelajaran yang guru terhadap jawaban anak didik ketika
sampaikan. Sudah menjadi tugas guru diberikan tes. Jadi, penilaian itu pada
menyediakan fasilitas, sehingga akan hakikatnya diarahkan pada perubahan
tercipta lingkungan belajar yang kepribadian anak didik agar menjadi
menyenangkan untuk anak didik. manusia susila yang cakap. Pada peran
g. Guru Sebagai Pembimbing ini, guru tidak hanya menilai produk dari
Peranan ini harus lebih dipentingkan, (hasil pengajaran), tetapi juga menilai
karena kehadiran guru di sekolah adalah proses (jalannya pengajaran). Kedua
untuk membimbing anak didik menjadi kegiatan ini, akan mendapatkan umpan
manusia dewasa susila yang cakap. balik (feedback) tentang pelaksanaan
Tanpa bimbingan, anak didik akan interaksi edukatif yang telah dilakukan.
mengalami kesulitan dalam menghadapi
perkembangan dirinya. Jadi, bimbingan
dari guru sangat diperlukan pada saat
anak didik belum mampu mandiri.

4
Pelaksanaan Pembelajaran PAUD (TK, Metodologi Penelitian
RA, KB, TPA) Berbasis Pendidikan
Agama Islam Pada penelitian kuantitatif ini,
penulis menggunakan jenis penelitian
Salah satu pendekatan deskriptif, Proses penentuan sampel yang
pembelajaran yang digunakan dalam akan digunakan dalam penelitian ini ialah
Kurikulum 2013 untuk melaksanakan dengan menggunakan probability sampling
pembelajaran adalah pendekatan tematik atau pengambilan sampel secara bertahap
terpadu. Model pembelajaran tematik dan menghasilkan 102 sampel dari total
terpadu didalamnya juga mengembangkan seluruh populasi yang ada.
ibadah ritual menjadi pembelajaran tematik, Teknik pengumpulan data dalam
terpadu dan holistik di PAUD Berbasis penelitian ini menggunakan dua jenis yaitu
Pendidikan Agama Islam. Kegiatan-kegiatan primer dan sekunder. Pengumpulan data
yang dilakukan untuk satu tema, sub tema, primer yaitu dengan cara menyebar
atau sub-sub tema yang dirancang untuk kuesioner sedangkan pengumpulan data
mencapai secara bersama-sama kompetensi sekunder yaitu dengan cara studi pustaka,
sikap, pengetahuan, dan keterampilan observasi dan wawancara.
dengan mencakup sebagian atau seluruh
aspek pengembangan. Kegiatan PAUD Hasil dan Pembahasan
berbasis Pendidikan Agama Islam
Pada Bagian ini dipaparkan hasil
menggunakan pendekatan sebagai berikut:
temuan data dari lapangan yang di ambil
a. Berpedoman pada Agama Islam dan
dari total 102 responden yaitu guru di TK
Hadits.
Muslim di Surabaya.
b. Berbasis kompetensi (sikap religious,
sikap social, pengetahuan dan 1. Peran Guru sebagai Demonstrator
ketrampilan). Telah terlaksana dengan baik karena
c. Belajar melalui bermain. 53,9% responden mampu dan paham
d. Terintegrasi dengan pengembangan kurikulum pendidikan berbasis
keimanan (aqidah) dan karakter agama islam. Guru juga mampu
(akhlak). mengembangkan aspek kemampuan
e. Kegiatan bersifat tematik dengan literasi dini yang terintegrasi dengan
pendekatan saintifik, mengembangkan aqidah dan akhlak, terdapat 61,7%
semua aspek yang dibungkus dengan responden. Selain itu, guru juga
nilai-nilai keislaman. menunjukkan dan mengajak siswa
Pelaksanaan pembelajaran dilakukan untuk berdo’a dan beribadah
melalui bermain secara interaktif, inspiratif, bersama, sebanyak 76,55% guru
menyenangkan, kontekstual dan berpusat yang mengamati bahwa respon siswa
pada anak untuk berpartisipasi aktif serta dalam kegiatan ini adalah ikut serta
memberikan keleluasaan bagi prakarsa, melakukan kegiatan tersebut hingga
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan selesai
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta 2. Peran Guru sebagai Inspirator
psikologis anak.8 Guru telah menyalurkan inspirasinya
saat mengajar dengan cara mengajak
siswa bernyanyi di sela-sela belajar
8
Erman Syamsuddin, “Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan PAUD Berbasis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Pendidikan Agama Islam”, (Jakarta: 2015), hlm 22.
5
ketika melihat siswa mulai bosan dan Bentuk inisiatif yang muncul adalah
hilang fokus sebanyak 42,2%. Tidak mengajak siswa bermain permainan
hanya menyalurkan inspirasinya, edukatif yang terintegrasi dengan
tetapi dalam peran ini guru juga keagamaan sebanyak 36,3%, Jenis
membantu siswanya untuk dapat permainan edukatif yang terintegrasi
menyalurkan inspirasinya, terdapat dengan agama islam adalah 34,3%
59,8% guru membantu siswa dengan responden menjawab “bermain sebut
cara mengajak siswa berinteraksi jumlah rukun iman dan rukun islam.
terkait kegiatan apa yang ingin 6. Peran Guru sebagai Fasilitator
mereka lakukan. Sebanyak 66,7% guru sering
3. Peran Guru sebagai Informator menyediakan fasilitas pendukung untuk
Sebanyak 38,2% responden yang kegiatan literatif yang bertema
memilih membagi informasi keagamaan. Jenis fasilitas tersebut
mengenai kejadian yang ada dipilih oleh 26,5% responden, berupa
disekitar siswa-siswi karena menurut alat peraga dengan atribut
hasil probing informasi mengenai keagamaan, 22,5% lainnyamemilih
kejadian yang ada disekitar siswa media audio visual. Tersedia pula
dan siswi lebih akurat dan buku-buku yang merupakan fasilitas
memungkinkan kejadian tersebut dan kebutuhan untuk pembelajaran,
dilihat secara langsung tanpa diketahui sebanyak 43,0% TK
perantara. Berbagi informasi tidak Muslim memiliki semua jenis buku
semata-mata hanya dari guru yang yang disebutkan di pilihan jawaban,
ingin memberi tahukan namun dan terakhir di ketahui sebanyak
informasi juga dapat dibagi ketika 52,0% responden selalu
menjawab pertanyaan dari siswa. menggunakan fasilitas tersebut.
Sebanyak 52,0% respponden 7. Peran Guru sebagai Pembimbing
memilih selalu menjawab setiap Sebanyak 53,9% responden memiliki
pertanyaan dengan benar. intensitas memberi bimbingan setiap
4. Peran Guru sebagai Motivator kali siswa merasa kesulitan.
Guru di TK Muslim sebanyak 72,5% Didukung oleh pernyataan Irham dan
responden selalu memotivasi Wiyani bahwa guru diharapkan
siswanya untuk memunculkan mampu membantu siswa untuk
semangat belajar. Reward yang menuntaskan setiap materi pelajaran
diberikan sebagai wujud motivasi dan setiap pokok pembahasan dalam
eksternal sebanyak 52,0% responden bentuk kemauan memahami materi
memilih memberikan penghargaan pelajaran dengan sempurna. Namun
berupa nilai tambah, bintang, peran guru TK Muslim di Surabaya
stampel, ataupun stiker. Diketahui sebagai pembimbing masih belum
pula sebanyak 44,1% responden terlalu sempurna karena menurut
memilih memberikan dukungan Irham dan Wiyani siswa yang
kepada semua siswanya sebagai mengalami kesulitan belajar harus di
bentuk motivasi. berikan perhatian khusus9,
5. Peran Guru sebagai Inisiator sedangkan kenyataan di lapangan
Diketahui sebanyak 52,9% guru di
TK Muslim Surabaya sering 9
Loc.cit, “Psikologi Pendidikan: Teori dan
memiliki inisiatif ketika mengajar. Aplikasi dalam Proses Pembelajaran”, hal
258.
6
hanya sebanyak 20,6% yang Kesimpulan
memberikan perhatian khusus
dariitotal seluruh responden. Hasil dari penelitian ini dilakukan
8. Peran Guru sebagai Pengelola Kelas untuk mengetahui bagaimana peran guru
Guru diharapkan dapat mengelola dalam mengembangkan pembelajaran pada
kelas dengan baik sehingga tercipta siswa TK Muslim di Kota Surabaya. Hasil
suasana kelas yang nyaman bagi yang di dapat dari penyebaran kuesioner
siswa saat belajar. Menurut data langsung pada responden menyatakan
yang didapat di lapangan, terdapat bahwa dari 9 dimensi peran guru, hanya
41,2% responden yang menjawab terdapat 3 dimensi peran guru saja yang
suasana lingkungan kelas dalam dianggap paling unggul dalam pelaksanaan
kondisi yang sangat memadai. Data atau penerapannya yaitu peran guru sebagai
tersebut di ukur dari jenis atribut demonstrator, sebagai inspirator dan juga
yang ada di ruang kelas sebagai sebagai pengelola kelas.
pelengkap lingkup literasi dan kental Peran guru sebagai demonstrator
dengan suasana keagamaan, dikatakan berhasil karena sebagian guru TK
dibuktikan dari 45,1% responden Muslim di kota Surabaya mampu
yang menjawab semua yang ada di memahami dan menguasai materi yang
pilihan jawaban adalah benar. Cara diajarkan yang tidak hanya berkaitan dengan
guru untuk mengkondisikan kelas pelajaran secara umum namun juga berbasis
agar tetap nyaman dan kondusif agama islam, serta guru juga mampu untuk
adalah sebanyak 44,1% responden mendemonstrasikan materi tersebut. Tidak
memberikan aba-aba untuk hanya itu, guru juga mampu
mengajak anak tetap diam dan mendemonstrasikan cara membaca, menulis,
tenang. Suasana kelas yang beribadah bersama, sehingga banyak dari
diciptakan oleh 43,1% responden siswa yang diamati memiliki respon yang
saat di dalam kelas adalah suasana baik terhadap hal tersebut. Guru sebagai
yang kondusif dan interaktif untuk inspirator mampu menyalurkan inspirasinya
melatih partisipasi siswa. dengan baik dengan mengajak siswa
9. Peran Guru sebagai Evaluator bernyanyi disela-sela pelajaran berlangsung
Peran guru sebagai evaluator saat siswa dan siswi mulai merasa bosan.
berfungsi untuk melihat hasil sudah Guru dalam peran inspirator juga mampu
sejauh mana perkembangan membantu siswanya untuk menyalurkan
siswa.Terdapat 36,3% guru akan inspirasi mereka. Terakhir adalah peran guru
membuat evaluasi dengan intensitas sebagai pengelola kelas telah dilakukan
harian yang artinya guru akan dengan baik pula, hal ini dibuktikan dari
membuat evaluasi di setiap harinya. bagaimana cara guru menciptakan ruangan
Guru harus dapat memberi penilaian kelas yang kondusif dan interaktif untuk
dalam dimensi yang luas, tidak boleh melatih partisipasi siswa dalam belajar, serta
hanya menilai dari hasil pengajaran membuat suasana kelas menjadi nyaman.
saja. Namun jawaban dari responden
hanya sebanyak 20,6% saja yang
Saran
memilih dari berbagai dimensi
(menjawab semua pilihan jawaban Berdasarkan hasil penelitian
yang tersedia adalah benar) dari mengenai peran guru dalam
seluruh jumlah responden, mengembangkan literasi dini siswa TK

7
Muslim di Surabaya, maka peneliti memiliki mencocokkan gambar dengan
beberapa saran yang dapat disampaikan tema keagamaan, dan
untuk pihak-pihak yang terkait dengan sebagainya.
penelitian ini. e. Sebagai Pembimbing, guru
1. Kepada guru TK Muslim dalam disarankan untuk lebih banyak
perannya sebagai: memberi perhatian khusus untuk
a. Informator, meskipun membagi siswa yang mengalami kesulitan
informasi yang berkaitan dengan belajar, dengan cara selalu
kejadian di sekitar siswa siswi itu memantau siswa yang dirasa
lebih akurat dan mudah lebih kesulitan atau lebih lambat
dipahami, namun alangkah lebih menangkap apa yang
baiknya jika guru memperbanyak disampaikan oleh guru, atau
pengetahuan atau wawasan dengan cara menghampiri dan
informasinya tentang keagamaan bertanya secara langsung bagian
agar dapat lebih banyak mana yang belum dipahami oleh
membagikan informasi kepada siswanya.
siswanya tentang keagamaan f. Sebagai Evaluator, disarankan
karena mengingat bahwa basis agar guru dapat menilai hasil
pendidikan TK tempat guru belajar siswa dari berbagai
mengajar adalah pendidikan dimensi, seperti yang ada pada
Agama Islam. pilihan jawaban yang tertulis
b. Sebagai Motivator, guru telah pada kuesioner. Agar siswa dapat
baik melakukan perannya namun lebih berkembang tidak hanya
disarankan untuk lebih banyak pada kemampuan belajarnya atau
memberikan hadiah berupa segi akademiknya namun juga
atribut keagamaan (peci, dalam hal keagamaannya.
kerudung, buku iqra’, buku kisah 2. Bagi peneliti berikutnya yang
nabi-nabi, dsb) sebagai media mengambil tema terkait literasi dini,
untuk memotivasi siswa dalam peran guru, ataupun PAUD dengan
segi keagamaannya pula. basis Pendidikan Agama Islam di
c. Sebagai Inisiator, disarankan sarankan untuk menggunakan
guru untuk lebih sering atau metode kualitatif yang menjadikan
membuat kegiatan rutin anak sebagai obyek penelitian dan
mengajak siswa melakukan untuk melihat bagaimana tingkat
kunjungan religi (mengunjungi literasi dini dan bekal keagamaan
tempat wisata religi, berbagi siswa yang diberikan sejak dini.
sesama ke panti asuhan, dsb). Karena masih diperlukan adanya
Hal ini penting untuk penelitian lebih lanjut dan mendalam
membangun jiwa sosial dan rasa terkait peran guru dalam
berbagi siswa pada orang-orang mengembangkan literasi dini siswa
yang lebih membutuhkan. TK Muslim di Kota Surabaya.
d. Sebagai Fasilitator, disarankan
untuk memfasilitasi siswa lebih
banyak permainan edukatif yang
bertemakan keagamaan, seperti
puzzle huruf hijaiyah, permainan

8
Daftar Pustaka

“Al Qur’an dan Terjemahannya”. 2012.


Cetakan Pertama. Bandung:
Kementrian Agama RI.
Fadlyana, Eddy dan Shinta Larasaty. 2009.
“Pernikahan Usia Dini dan
Permasalahannya”. Jurnal. (Bandung:
sari Pediatri, FK Universitas
Padjajaran). Vol 11 No 2 Agustus
2009.
Hidayah, Layli. 2017. “Implementasi
Budaya Literasi di Sekolah Dasar
Melalui Optimalisasi Perpustakaan:
Studi kasus di Sekolah Dasar Negeri di
Surabaya”. (Malang: Universitas
Islam Malang)
Irham, Muhamad dan Novan Ardy Wiyani.
2017. “Psikologi Pendidikan: Teori
dan Aplikasi dalam Proses
Pembelajaran”. (Jogjakarta:Ar-Ruzz
Media)
Netrawati,. 2009. “Pendidikan Anak Usia
Dini: peningkatan profesionalitas guru
anak usia dini dalam upaya
pengembangan sumber daya manusia
berkualitas di masa depan”. (Padang:
Teater Tertutup FBSS Universitas
Negeri Padang)
Roseminingsih,. dan Lamijan Hadi Susarno.
2015 “Teori dan Praktek Pendidikan”.
(Surabaya: Lembaga Pengkajian dan
Pengambangan Ilmu Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
Surabaya)
Syamsuddin, Erman. 2015. “Petunjuk
Teknis Penyelenggaraan PAUD
Berbasis Pendidikan Agama Islam”.
(Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan)
Tedjasaputra, Mayke S. 2005. “Bermain,
Mainan, dan permainan: untuk
Pendidikan Anak Usia Dini”. (Jakarta:
PT. Grasindo)