0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan12 halaman

Hospital Is As I

Hospitalisasi pada anak usia toddler (1-3 tahun) dapat menimbulkan stres dan kecemasan karena berpisah dari lingkungan dan orang terdekat serta menghadapi lingkungan baru di rumah sakit. Respon anak meliputi protes, putus asa, hingga penolakan terhadap perpisahan. Intervensi diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari pengalaman ini bagi perkembangan anak.

Diunggah oleh

erna setiawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan12 halaman

Hospital Is As I

Hospitalisasi pada anak usia toddler (1-3 tahun) dapat menimbulkan stres dan kecemasan karena berpisah dari lingkungan dan orang terdekat serta menghadapi lingkungan baru di rumah sakit. Respon anak meliputi protes, putus asa, hingga penolakan terhadap perpisahan. Intervensi diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari pengalaman ini bagi perkembangan anak.

Diunggah oleh

erna setiawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEPERAWATAN ANAK I

“ESSAY DAMPAK HOSPITALISASI PADA TOODLER”

Disususun Oleh:

1. Erna Setiawati
2. Ruth Despitaria Duha
3. Ida Anyes Citra Dewi

Ak. 14
STIKES PERTAMEDIKA
A. PENDAHULUAN

Hospitalisasi adalah suatu keadaan dimana anak dirawat di Rumah Sakit dalam situasi
terencana maupun darurat untuk mendapatkan terapi dan perawatan sampai kodisinya
membaik hingga pemulangannya kerumah. Selama menjalani proses perawatan tersebut,
anak dan orang tua dapat mengalami kondisi yang ditunjukkan dengan pengalaman yang
sangat traumatik dan penuh dengan kecemasan.
Masa toddler yang berada pada umur 12 sampai 36 bulan merupakan masa eksplorasi
lingkungan yang intensif, karena anak berusaha mencari tahu bagaimana semua terjadi.
Meskipun bisa menjadi saat yang sangat menantang bagi orang tua dan anak karena
masing-masing belajar untuk mengetahui satu sama lain dengan lebih baik, pada masa ini
merupakan periode sangat penting untuk mencapai perkembangan dan pertumbuhan anak
yang optimal. Hospitalisasi yang terjadi pada anakini dapat memunculkan kecemasan dan
stres pada anak di semua tingkatan
Penyebab dari kecemasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari petugas
(perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya), lingkungan baru, maupun keluarga yang
mendampingi selama perawatan. Kecemasan yang dialami oleh anak jika dibiarkan terus
menerus dapat menimbulkan stres. Stres pada anak dapat menyebabkan penurunan respon
imun sehingga dapat berpengaruh terhadap proses penyembuhannya, lama perawatannya
bertambah, dan mempercepat terjadinya komplikasi penyakit yang tidak diinginkan
Perawatan pada anak yang berkualitas dengan memperhatikan tahapan pertumbuhan
dan perkembangan anak akan dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan yang terjadi
karena bila kecemasan dan ketakutan tidak ditangani akan membuat anak menolak
tindakan perawatan dan pengobatan yang diberikan. Anak perlu dilakukan intervensi
untuk meminimalisir akibat dari pengalaman traumatik yang dialami oleh anak ketika
menjalani proses hospitalisasi
B. Konsep Tumbuh Kembang Anak Usia Toodler
Pengertian Toddler Anak usia toddler adalah anak usia 12–36 bulan (1-3 tahun) pada
periode ini anak berusaha mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja dan bagaimana
mengontrol orang lain melalui kemarahan, penolakan dan tindakan keras kepala. Hal ini
merupakan periode yang sangat pentinguntuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan
intelektual secara optimal
Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah
satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bagi Erikson, dinamika
kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis
dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Sedangkan konsep
perkembangan yang diajukan dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu
oral, anal, dan genita.

Perkembangan Anak Usia Toodler


a. Perkembangan psikososial (Erikson)
Erikson memberi istilah krisi social yang dihadapi toddler sebagai “otonomi vs
rasa malu dan ragu”, toddler telah mengembangkan rasa percaya dan siap
menyerahkan ketergantungannya untuk membangun perkembangan kemampuan
pertamanya dalam mengendalikan dan otonomi, toddler mulai menguasai
keterampilan social, toddler sering menggunakan kata “tidak” bahkan ketika
bermaksud “ya” untuk mengungkapkan kebebasannya (perilaku negativistic), toddler
sering terus menerus mencari benda familiar yang melambangkan rasa aman, sepertii
selimut, selama waktu stress dan perasaan tidak menentu.
b. Perkembangan psikoseksual (Freud)
Perkembangan tahap anal dari usia 8 bulan-4 tahun. Zona erogenous terdiri dari anus
dan bokong dan aktivitas seksual berpusat pada saat pembuangan dan penahanan
sampah tubuh. Focus toddler berganti dari area oral ke anal dengan penekanan pada
pengendalian defekasi saat dia mencapai pengendalian neuromuscular terhadap
sfingter anal.
1. Toddler mengalami kepuasan dan frustasi saat ia menahan dan mengeluarkan,
memasukkan dan melepaskan
2. Konflik antara menahan dan melepaskan secara bertahap diselesaikan seiring
dengan kemajuan latihan defekasi. Penyelesaian terjadi saat kemampuan
mengendalikan benar-benar terbentuk.
3. Perkembangan moral anak usia toddler
Teori Kohlberg menyatakan perkembangan moral anak sudah harus dibentuk
pada usia toddler.Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan (sekitar usia 2-4 tahun)
anak mampu menilai suatu tindakan apakah baik atau buruk bergantung dari
hasilnya berupa hukuman atau penghargaan. Usia 4-7 tahun anak berada pada
tahap orientasi instrumental naif dimana segala tindakan ditujukan ke arah
pemuasan kebutuhan mereka dan lebih jarang ditujukan pada kebutuhan orang
lain, rasa keadilan konkret. Timbal balik atau keadilan menjadi landasan mereka
(misalkan, jika kamu memukul tanganku, aku akan memukul tanganmu juga)
tanpa berpikir mengenai loyalitas atau rasa terima kasih (Wong, 2008)
C. Hospitalisasi Pada Anak Usia Toodler
Menurut Supartini (2004), hospitalisasi merupakan suatu proses dimana karena alasan
tertentu atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di RS, menjalani terapi perawatan
sampai pemulangannya kembali ke rumah. Hospitalisasi adalah bentuk stressor individu
yang berlangsung selama individu tersebut dirawat di rumah sakit (Wong,2003).
Menurut WHO, hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam ketika anak
menjalani hospitalisasi karena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak
aman.
Beberapa faktor yang dapat menimbulkan stres ketika anak menjalani hospitalisasi
seperti:
1. Faktor Lingkungan rumah sakit
Rumah sakit dapat menjadi suatu tempat yang menakutkan dilihat dari sudut pandang
anak-anak. Suasana rumah sakit yang tidak familiar, wajah-wajah yang asing,
berbagai macam bunyi dari mesin yang digunakan, dan bau yang khas, dapat
menimbulkan kecemasan dan ketakutan baik bagi anak ataupun orang tua. (Norton-
Westwood,2012).
2. Faktor Berpisah dengan orang yang sangat berarti
Berpisah dengan suasana rumah sendiri, benda-benda yang familiar digunakan sehari-
hari, juga rutinitas yang biasa dilakukan dan juga berpisah dengan anggota keluarga
lainnya (Pelander & Leino-Kilpi,2010).
3. Faktor kurangnya informasi yang didapat anak dan orang tuanya ketika akan
menjalani hospitalisasi.
Hal ini dimungkinkan mengingat proses hospitalisasi merupakan hal yang tidak
umum di alami oleh semua orang. Proses ketika menjalani hospitalisasi juga
merupakan hal yang rumit dengan berbagai prosedur yang dilakukan (Gordon
dkk,2010).
4. Faktor kehilangan kebebasan dan kemandirian
Aturan ataupun rutinitas rumah sakit, prosedur medis yang dijalani seperti
tirah baring, pemasangan infus dan lain sebagainya sangat mengganggu kebebasan
dan kemandirian anak yang sedang dalam taraf perkembangan (Price & Gwin,2005).
5. Faktor pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan Kesehatan
Semakin sering seorang anak berhubungan dengan rumah sakit, maka semakin kecil
bentuk kecemasan atau malah sebaliknya (Pelander & Leino-Kilpi,2010).
6. Faktor perilaku atau interaksi dengan petugas rumah sakit
Khususnya perawat; mengingat anak masih memiliki keterbatasan dalam
perkembangan kognitif, bahasa dan komunikasi. Perawat juga merasakan hal yang
sama ketika berkomunikasi, berinteraksi dengan pasien anak yang menjadi sebuah
tantangan, dan dibutuhkan sensitifitas yang tinggi serta lebih kompleks dibandingkan
dengan pasien dewasa. Selain itu berkomunikasi dengan anak juga sangat dipengaruhi
oleh usia anak, kemampuan kognitif, tingkah laku, kondisi fisik dan psikologis
tahapan penyakit dan respon pengobatan (Pena & Juan,2011).

Respon Anak Ketika Menjalani Hospitalisasi


Hospitalisasi dapat dianggap sebagai suatu pengalaman yang mengancam dan
merupakan sebuah stressor, serta dapat menimbulkan krisis bagi anak dan keluarga.
Hal ini mungkin terjadi karena anak tidak memahami mengapa di rawat, stress dengan
adanya perubahan akan status kesehatan, lingkungan dan kebiasaan sehari-hari dan
keterbatasan mekanisme koping.
Menurut Wong (2003) berbagai perasaan merupakan respons emosional seperti:
1. Cemas akibat Perpisahan
Kecemasan yang timbul merupakan respon emosional terhadap penilaian sesuatu
yang berbahaya, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart
& Sundeen, 1998). Menurut Wong (2003), Stres utama dari masa bayi
pertengahan sampai usia prasekolah, terutama untuk anak-anak yang berusia 6
bulan sampai 30 bulan adalah kecemasan akibat perpisahan yang disebut sebagai
depresi anaklitik.
Pada kondisi cemas akibat perpisahan anak akan memberikan respon berupa
perubahan perilaku. Manifestasi kecemasan yang timbul terbagi menjadi tiga fase
yaitu:
a. fase protes (phase of protest); anak-anak bereaksi secara agresif dengan
menangis dan berteriak memanggil orang tua, menarik perhatian agar orang
lain tahu bahwa ia tidak ingin ditinggalkan orang tuanya serta menolak
perhatian orang asing atau orang lain dan sulit ditenangkan.
b. fase putus asa (phase of despair); dimana tangisan akan berhenti dan muncul
depresi yang terlihat adalah anak kurang begitu aktif, tidak tertarik untuk
bermain atau terhadap makanan dan menarik diri dari orang lain.dan
c. fase menolak (phase of denial); merupakan fase terakhir yaitu fase pelepasan
atau penyangkalan, dimana anak tampak mulai mampu menyesuaikan diri
terhadap kehilangan, tertarik pada lingkungan sekitar, bermain dengan orang
lain dan tampak membentuk hubungan baru, meskipun perilaku tersebut
dilakukan merupakan hasil dari kepasrahan dan bukan merupakan kesenangan

2. Kehilangan Kendali
Kurangnya kendali akan mengakibatkan persepsi ancaman dan dapat
mempengaruhi ketrampilan koping anak-anak. Kehilangan kendali pada Toddler;
sesuai dengan teori Ericson dalam Price & Gwin (2005), bahwa pada fase ini anak
sedang mengembangkan kemampuan otonominya. Akibat sakit dan dirawat di
rumah sakit, anak akan kehilangan kebebasan dalam mengembangkan
otonominya.
Keterbatasan aktifitas, kurangnya kemampuan untuk memilih dan perubahan
rutinitas dan ritual akan menyebabkan anak merasa tidak berdaya. Toddler
bergantung pada konsistensi dan familiaritas ritual harian guna memberikan
stabilitas dan kendali selama masa pertumbuhan dan perkembangan. Area toddler
dalam hal ritual mencakup makan, tidur, mandi, toileting dan bermain. Jika
rutinitas tersebut terganggu, maka dapat terjadi kemunduran terhadap kemampuan
yang sudah dicapai atau disebut dengan regresi (Wong,2003).
3. Cedera Tubuh dan Nyeri
a. Reaksi Bayi terhadap Cedera Tubuh dan Nyeri
Respon bayi terhadap nyeri setelah lahir hampir serupa, meskipun terdapat
keberagaman yang jelas dalam pengukuran distres terutama pada tangisan
awal dan frekuensi jantung, yang dapat menurun pada beberapa bayi. Indikator
distres yang paling kosisten adalah ekspresi wajah terhadap ketidak nyamanan.
Gerakan tubuh termasuk menggeliat, menyentak dan memukul-mukul
(Tamowski dan Brown,1995 dikutip oleh Wong,2003).
Reaksi Toddller Cedera Tubuh dan Nyeri
Pemahaman toddler tentang citra tubuh, terutama definisi batasan tubuh,
perkembangannya masih sangat buruk. Pengalaman intrusif seperti
pemeriksaan telinga atau mulut atau pemeriksaan suhu rektal merupakan
prosedur yang sangat mencemaskan dan toddler bereaksi sama kerasnya
dengan prosedur yang menyakitkan. Secara umum, anak dalam kelompok usia
ini terus bereaksi dengan kemarahan emosional yang kuat dan resistensi fisik
terhadap pengalaman nyeri baik yang aktual maupun yang dirasakan. Perilaku
yang mengindikasikan nyeri antara lain, meringis kesakitan, mengatupkan gigi
dan atau bibir, membuka mata lebarlebar, mengguncang-guncang,
menggosok-gosok, dan bertindak agresif, seperti menggigit, menendang,
memukul, atau melarikan diri. Tidak seperti orang dewasa yang biasanya
mengurangi aktifitasnya pada saat nyeri, anakanak cenderung lebih gelisah
dan sangat aktif, seringkali respon ini tidak diketahui sebagai akibat dari nyeri.
Di akhir periode ini, toddler biasanya mampu mengkomunikasikan nyeri
dengan cara menunjuk area spesifik nyeri yang mereka rasakan, meskipun
begitu anak belum mampu menggambarkan jenis dan intensitas nyeri

D. Peran Perawat dalam Meminimalisir Hospitalisasi Pada Toodler


Mempersiapkan anak menghadapi pengalaman rumah sakit dan prosedur merupakan
hal yang dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan karena
hospitalisasi. Semua tindakan atau prosedur di rumah sakit dilakukan berdasarkan prinsip
bahwa ketakutan akan ketidaktahuan (fantasi) lebih besar daripada ketakutan yang
diketahui. Oleh karena itu, mengurangi unsur ketidaktahuan dapat mengurangi ketakutan
tersebut.
Tujuan utama asuhan keperawatan anak yang dihospitalisasi adalah meminimalkan
munculnya masalah pada perkembangan anak. Perawat yang melibatkan anak dalam
aktivitas yang sesuai dengan tingkat perkembangan akan lebih menormalkan lingkungan
anak dan membantu mengurangi gangguan perkembangan anak (Wong, 2008). Bermain
merupakan pekerjaan pada masa kanak-kanak. Ahli pekembangan anak mengakui bahwa
bermain sebagai strategi koping yang penting bagi anak, hal tersebut merupakan aspek
terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan salah satu cara yang paling efektif
menurunkan stres pada anak dan penting untuk menyejahterakan mental
Perawat memiliki peranan penting dalam memberikan dukungan bagi anak dan
keluarga guna mengurangi respon stres anak terhadap hospitalisasi. Intervensi untuk
meminimalkan respon stres terhadap hospitalisasi menurut Hockenberry dan Wilson
(2007), dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Meminimalkan pengaruh perpisahan
2. Meminimalkan kehilangan kontrol dan otonomi
3. Mencegah atau meminimalkan cedera fisik
4. Mempertahankan aktivitas yang menunjang perkembangan
5. Bermain
6. Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak
7. Mendukung anggota keluarga
8. Mempersiapkan anak untuk dirawat di rumah sakit

Perilaku carring

Perawat memerlukan kemampuan untuk memperhatikan orang lain, keterampilan


intelektual, teknikal dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku caring atau kasih
sayang dalam menjalankan fungsi dan perannya. Keperawatan dan caring merupakan
suatu hal yang tak terpisahkan dan pada saat yang sama mengindikasikan bahwa beberapa
aktivitas praktik harus didasarkan pada perilaku caring (Morison, 2009). Keperawatan
anak merupakan salah satu ruang lingkup pelayanan keperawatan, dimana perawat
menjalankan fungsi dan perannya untuk memberikan asuhan keperawatan secara holistik
kepada pasien anak yang juga perlu didasarkan pada perilaku caring (Dwidiyanti, 2007).

Penyebab stres dan kecemasan pada anak dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya
perilaku yang ditunjukkan petugas kesehatan (dokter, perawat dan tenaga kesehatan
lainnya), pengalaman hospitalisasi anak, support system atau dukungan keluarga yang
mendampingi selama perawatan. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan anak menjadi
semakin stres dan hal ini dapat berpengaruh terhadap proses penyembuhan (Nursalam,
Susilaningrum & Utami, 2008).

Kegiatan Terapi Bermain Anak Usia Toodler


a. Terapi music
Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan
rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya
yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk
kesehatan fisik dan mental, Ketika musik diterapkan menjadi sebuah terapi, musik
dapat meningkatkan, memulihkan dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional
dan spiritual. Musik memiliki beberapa kelebihan yaitu karena musik bersifat
nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur dan universal.( Rasyid, 2010 )
Terapi musik sangat mudah diterima organ pendengaran kita dan melalui saraf
pendengaran disalurkan ke bagian otak yang memproses emosi (sistem limbik).
Contohnya ketika kita mendengarkan suatu alunan musik (meskipun tanpa lagu)
seketika kita bisa merasakan efek dari musik tersebut. Ada musik yang membuat kita
gembira, sedih, terharu, terasa sunyi, semangat, mengingatkan masa lalu dan lain-lain.

b. Mendongeng
Kegiatan mendongeng dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu replika
peralatan rumah sakit atau boneka tangan. Boneka tangan biasanya efektif untuk
berkomunikasi dengan anak-anak, dan membantu mereka (Hockenberry & Wilson,
2013).
Sehingga hal ini dapat menjadi sebuah terapi, yaitu terapi mendongeng. Mendongeng
dapat meningkatkan rasa percaya (trust), menjalin hubungan, dan menyampaikan
pengetahuan. Ide terapi mendongeng bukanlah konsep baru. Mendongeng sudah
digunakan pada proyek komunitas, promosi kesehatan dan pencegahan penyakit,
koping terhadap kesedihan, dan sebagainya (Parker & Wampler, 2010). Terapi ini
dapat diaplikasikan pada rentang toddler dan prasekolah. Banyak orang tua meyakini
bahwa pentingnya kemampuan berbahasa di masa depan (de Vris, 2008), sehingga
secara tidak langsung terapi mendongeng ini dapat mengembangkan kemampuan
berbahasanya. Selain itu pada tingkat perkembangan, sangat sulit bagi pemberi
pelayanan kesehatan untuk memberikan tindakan pada mereka (Dillon, 2007). Pada
usia toddler dan prasekolah, mereka mulai tumbuh rasa untuk bersosialisasi, keingin
tahuan yang tinggi, dan memiliki self control dan will power.

c. Tebak Gambar
Masa toddler yang berada pada umur 12 sampai 36 bulan merupakan masa eksplorasi
lingkungan yang intensif, karena anak berusaha mencari tahu bagaimana semua
terjadi. Meskipun bisa menjadi saat yang sangat menantang bagi orang tua dan anak
karena masing-masing belajar untuk mengetahui satu sama lain dengan lebih baik,
pada masa ini merupakan periode sangat penting untuk mencapai perkembangan dan
pertumbuhan anak yang optimal. Hospitalisasi yang terjadi pada anakini dapat
memunculkan kecemasan dan stres pada anak di semua tingkatan.
Masa anak-anak merupakan dasar dari seluruh kehidupan seseorang. Pengalaman
kurang menyenangkan yang dialami oleh anak akan memudahkan timbulnya
gangguan dalam penyesuaian diri. Anak perlu dilakukan intervensi untuk
meminimalisir akibat dari pengalaman traumatik yang dialami oleh anak ketika
menjalani proses hospitalisasi.8 Anak membutuhkan media untuk dapat
mengekspresikan perasaan yang timbul akibat pengalaman yang tidak
menyenangkan , sehingga anak mampu bekerja sama dengan petugas kesehatan
selama dalam pengobatan. Media yang paling efektif adalah melalui kegiatan
permainan. Bermain merupakan aktifitas pada masa kanak-kanak yang dapat
mengalihkan perasaan yang tidak menyenengkan dengan kegiatan yang disukai anak

d. Lingkungan
Reaksi hospitalisasi pada anak diasumsikan dapat diminimalisir dengan keberadaan
lingkungan yang terapetik. Menurut Smith dan Watkins (2010), lingkungan terapetik
meliputi efek psikososial lingkungan, efek lingkungan terhadap sistem immune, dan
bagaimana pengaturan ruangan yang menarik. Setting ruang rawat anak yang menarik
diharapkan memberikan kesenangan tersendiri sehingga anak menjadi tidak cemas
selama horpitalisasi. Anak yang kooperatif ketika dilakukan tindakan keperawatan
merupakan salah satu tanda anak yang tidak cemas akibat hospitalisasi. Penerapan
lingkungan terapetik o leh perawat baik fisik maupun non fisik perlu ditelit i, sehingga
diharapkan dapat memberi masukan kepada manajemen untuk peningkatan kualitas
pelayanan.
Lingkungan terapetik yang diharapkan dapat meminimalkan reaksi hospitalisasi
negatif diantaranya penataan ruang, restrain terapetik, sikap dan komunikasi perawat
terapetik, permainan terapetik, seni, dan terapi music.
REFRENSI

Ball, J.W., & Bindler, R.C. (2003). Pediatric nursing: Caring for children. New
Jersey: Prentice Hall.
Ganghiuwu, Lidia. 2013. Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Stress
Hospitalisasi pada Anak Usia Toodler di Irina E Blu RSUP Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado. E Jurnal Keprawatan Vol 1No 1. Manado: Stikes FK Sam
Ratulamngi Manado
Kusumaningtyas, Dwi, dkk. 2020. Pengaruh Terapi Bermain Tebak Gambar Untuk
Menurunkan Kecemasan Pada Pasien Anak Usia Toddler Akibat Hospitalisasi
Di Rumah Sakit, Jpp Vol 15 No 2. Palembang
Solikhah, Umi. 2012. Efektifitas Lingkungan Terapetik Terhadap Reaksi Hospitalisasi
Pada Anak. Jakarta
Thahir, Andi. 2012. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta
Utami, Yuli. 2014. Jurnal Ilmiyah Widya: Dampak Hospitalisais Terhadap
Perkembangan Anak. Jakarta: Stikes Binawan

Anda mungkin juga menyukai