Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH KEPERAWATAN

KECEMASAN (ANSIETAS)

Oleh :
Dwi Hastari Yuliani
Nim. 132

PROGRAM STUDY KEPERAWATAN


STIKES HAFSHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG
PROBOLINGGO
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa karena
atas Rahmat dan Karunia-Nyalah, kami selaku penulis makalah Keperawatan
berjudul“MASALAH ANSIETAS (KECEMASAN)” .
Maka dengan terselesainya makalah ini, kami selaku penulis tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini.
semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya
membangun sehingga dapat digunakan untuk membantu perbaikan mendatang
dan atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Lumajang, 02 April 2018

                                                                                                            Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Globalisasi telah membuat perubahan diberbagai bidang
ilmu pengetahuan   dan   teknologi. Persaingan kelompok dan
individu  semakin ketat, dampak dari perubahan tersebut
merupakan salah satu stressor bagi individu, apabila seseorang
tidak bisa bertahan dengan perubahan yang terjadi. Hal tersebut
akan dirasakan sebagai stressor yang berkepanjangan, koping
individu yang tidak efektif menjadikan seseorang mengalami
gangguan secara psikologis. Menurut Organisasi kesehatan dunia
(WHO), bahwa 10% dari populasi mengalami gangguan jiwa, hal
ini didukung oleh laporan dari hasil studi bank dunia dan hasil
survei Badan Pusat Statistik yang melaporkan bahwa penyakit
yang merupakan akibat masalah kesehatan  jiwa  mencapai  8,1%
yang merupakan angka tertinggi dibanding prosentase
penyakit lain.
Data riset kesehatan dasar tahun 2007 menunjukkan
bahwa gangguan mental emosional(depresi dan kecemasan) di
alami oleh sekitar 11,6% populasi usia  di atas 15 tahun sedangkan
sekitar 0,48% populasi mengalami gangguan jiwa berat atau
psikosis (Depkes, 2012). Gangguan ansietas lebih sering di alami
oleh wanita individu berusia kurang dari 45 tahun, bercerai atau
berpisah, dan individu yang berasal dari status sosial – ekonomi
rendah (Videbeck. 2008)

1.2  Rumusan Masalah
-   Apa definisi dari ansietas?
-   Apa etiologi dari ansietas?
-   Apa saja klasifikasi ansietas?
-   Apa manifestasi klinis dari ansietas?
-   Bagaimana patofisiologi ansietas?
-   Bagaimana penatalaksanaan ansietas?
-   Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada klien ansietas?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan Umum :
Untuk mengetahui asuhan kepeawatan pada masalah kecemasan
(ansietas)
Tujuan Khusus :
1.  Untuk mengetahui definisi dari ansietas
2.  Untuk mengetahui etiologi ansietas
3.  Untuk mengetahui klasifikasi dari ansietas
4.  Untuk mengetahui manifestasi klinis dari ansietas
5.  Untuk mengetahui patofisiologi ansietas
6.  Untuk mengetahui penatalaksanaan
7.     Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan ansietas

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1  Definisi
Ansietas adalah suatu perasaan takut dengan gejala fisiologis,
sedangkan pada gangguan ansietas terkandung unsur penderitaan yang
bermakna dan gangguan fungsi yang di sebabkan oleh kecemasan tersebut
(Tomb. Dafit A 2003)
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini
tidak memiliki objek yang spesifik. Ansietas di alami secara subjektif dan
dikomunikasikan secaar interpersonal. (Stuart & Laraia 2005).
Ansietas adalah respons emosional terhadap penilaian intelektual
terhadap bahaya. (Stuart & Laraia 2005).
Ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan yang tidak di
dukung oles situasi ( Videbeck. 2008)
Ansietas merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir
disertai dengan gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan berlebihan
dari Susunan Saraf Autonomic (SSA). Ansietas merupakan gejala yang
umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi.
Sedangkan depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya termasuk
perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan,
rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri.
Kecemasan memiliki nilai yang positif. Menurut Stuart dan Laraia
(2005) aspek positif dari individu berkembang dengan adanya konfrontasi,
gerak maju perkembangan dan pengalaman mengatasi kecemasan. Tetapi
pada keadaan lanjut perasaan cemas dapat mengganggu kehidupan seseorang.

2.2  Etiologi
Meski penyebab ansietas belum sepenuhnya diketahui, namun
gangguan keseimbangan neurotransmitter dalam otak dapat menimbulkan
ansietas pada diri seseorang. Faktor genetik juga merupakan faktor yang
dapat menimbulkan gangguan ini.
Ansietas terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan menghadapi
situasi, masalah dan tujuan hidup (Videbeck, 2008).Setiap individu
menghadapi stres dengan cara yang berbeda-beda, seseorang dapat tumbuh
dalam suatu situasi yang dapat menimbulkan stres berat pada orang lain.

Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi ansietas adalah :


1. Faktor Predisposisi
1)    Dalam pandangan psikoanalisis, ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara dua elemen kepribadiani yaitu id, ego dan
superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif,
sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh
norma budaya, sedangakan ego di gambarkan sebagai mediator antara
tuntunan dari id dan super ego
2)    Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut
terhadap ketidak setujuan dan penolakan interpersonal.
3)    Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi
yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk
mencapai tujuan yang di inginkan.
4)    Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan
hal yang biasa di temui dalam suatu keluarga.
5)   Kajian biologis menunjukkan bahwa otak megandung reseptor khusus
untuk benzodiasepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator
inhibisi asam-asam gama-aminobutirat (GABA), yang berperan
penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan
ansietas.

2.  Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan
yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Stresor
presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
1)    Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam
integritas fisik yang meliputi :
a.  Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem
imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (misalnya :
hamil).
b.  Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan
bakteri, polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak
adekuatnya tempat tinggal.
2)   Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.
-   Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di
rumah dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru.
Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat mengancam
harga diri.
-   Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai, perceraian,
perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya.

2.3    Tingkatan Ansietas
1.    Ansietas Ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-
hari. Menyebabkan individu menjadi lebih waspada dan
meningkatkan lapang persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi
belajar dan menghasilakn pertumbuhan serta kreativitas.
2.   Ansietas Sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang
penting  dan mengesampingkan hal yang lain. Mempersempit lapang
persepsi individu. Sehingga individu mengalami tidak perhatian yang
selektif namun dapat lebih berfokus pasda area jika diarahkan untuk
melakukannya.
3.   Ansietas Berat
Sangat mengurangi lapang persepsi individu, cenderung
berfokus ada sesuatu yang rinci dan spesifik sehingga tidak
memikirkan hal yang lain. Semua perilaku ditujukkan untuk
mengurangi ketegangan. Individu memerlukan banyak arahan untuk
berfokus pada hal lain.
4.   Tingkat Panik dari Ansietas
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror.
Individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu
meskipun dengan arahan, karena mengalami kehilangan kendali.
2.4  Manifestasi Klinis
Manifestasi dengan gejala setiap tingkatan yaitu, ansietas ringan,
ansietas sedang, ansietas berat, dan ansietas panik.
1)   Ansietas Ringan
a.  Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-
hari.
b.  Lapang persepsi meluas/melebar dan  individu berhati-hati serta
waspada.
c.  Individu terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan
pertumbuhan dan kreatifitas.
2)   Respon Ansietas Ringan
a.  Fisiologis
Kadang nafas pendek, nadi dan TD naik, gejala ringan pada lambung,
muka berkerut dan bibir bergetar.
b.  Kognitif
Lapang persepsi meluas/melebar, mampu menerima rangsangan yang
kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara
efektif.
c.  Perilaku dan Emosi
Tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, suara kadang
meninggi.

3)    Ansietas Sedang
Pada tingkat ini lapang pandang terhadap linngkungan menurun,
individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dn
mengesampingkan hal lain.
Respon Ansietas Sedang :
a.  Fisiologis
Sering nafas pendek, nadi dan TD naik, mulut kering, anoreksia,
diare/konstipasi, gelisah
b.  Kognitif
-   Lapang persepsi menyempit
-   Rangsang luar tidak mampu diterima
-   Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya
c.  Perilaku dan Emosi
-  Gerakan tersentak-sentak (meremas tangan)
-    Bicara banyak & lebih cepat
-    Susah tidur
-    Perasaan tidak aman
4)    Ansietas Berat
Pada tingkat ini lapang persepsi menjadi sangat sempit, individu
cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang
lain. Individu tidak mampu berpikir berat lagi dan membutuhkan banyak
pengarahan/ tuntunan.
Respon Ansietas Berat :
a.  Fisiologis
- Nafas pendek, nadi dan TD naik, berkeringat dan sakit kepala,
penglihatan kabur, ketegangan.
b.  Kognitif
-   Lapang persepsi sangat sempit
-   Tidak mampu menyelesaikan masalah
c.  Perilaku dan Emosi
-     Perasaan ancaman tinggi
-     Verbalisasi cepat
-     Blocking
5)   Ansietas Panik
Terganggu sehingga individu sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi
dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pengarahan/
tuntunan
Respon Ansietas Panik :
a.   Fisiologis
- Nafas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat,
hipotensi, koordinasi motorik rendah.
b.  Kognitif
-   Lapang pandang persepsi sangat sempit
-   Tidak dapat berpikir logis
c.  Perilaku dan Emosi
-      Agitasi mengamuk dan marah
-      Ketakutan dan berteriak-teriak, blocking
-      Kehilangan diri kendali/ kontrol diri
-      Persepsi kacau

2.5  Patofisiologi
Berdasarkan proses perkembangannya:
1)    Bayi/anak-anak
-    Berhubungan dengan perpisahan
-    Berhubungan dengan lingkungan atau orang yang tidak dikenal
-    Berhubungan dengan perubahan dalam hubungan teman sebaya
2)   Remaja
Berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri sekunder akibat:
-    Perkembangan seksual
-    Perubahan hubungan dengan teman sebaya

3)   Dewasa
Berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri sekunder akibat:
-   Kehamilan
-    Menjadi orang tua
-    Perubahan karir
-    Efek penuaan
4) Lanjut usia
Berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri sekunder akibat:
-     Penurunan sensori
-     Penurunan motorik
-     Masalah keuangan
-     Perubahan pada masa pension

2.6  Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ansietas pada tahap pencegahaan dan terapi
memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu
mencangkup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan
psikoreligius (Hawari, 2008) selengkapnya seperti pada uraian berikut :
1)   Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara :
a.   Makan makan yang bergizi dan seimbang.
b.   Tidur yang cukup.
c.   Cukup olahraga.
d.   Tidak merokok.
e.   Tidak meminum minuman keras.
2)    Terapi psikofarmaka
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan
memakai obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan
neuro-transmitter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak
(limbic system). Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat
anti cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, clobazam, bromazepam,
lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam.
3)   Terapi somatik
Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala
ikutan atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk
menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-
obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.
4)    Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain :
a.    Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan
dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan
diberi keyakinan serta percaya diri.
b.     Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi
bila dinilai bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan.
c.     Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki
kembali (rekonstruksi) kepribadian yang telah mengalami
goncangan akibat stressor.
d.   sikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu
kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya
ingat.
e.    Psikoterapi psiko-dinamik, untuk menganalisa dan menguraikan
proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa
seseorang tidak mampu menghadapi stressor psikososial sehingga
mengalami kecemasan.
f.     Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan,
agar faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor
keluarga dapat dijadikan sebagai faktor pendukung.
3)   Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya
dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem
kehidupan yang merupakan stressor psikososial.

BAB III
PEMBAHASAN
1) Tanda Dan Gejala
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini
tidak memiliki objek yang spesifik. Ansietas dialami secara subjektif dan
di komunikasikan secaar interpersonal.
Adapun tanda dan gejala dari ansietas:
a.       Perilaku gelisah
b.      Ketegangan fisik
c.       Tremor
d.      Kurang koordinasi
e.       Cenderung mengalami cedera
f.       Menarik diri dari hubungan interpersonal
g.      Kreativitas menurun

2)    Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi secara umum yang mempengaruhi terjadinya
ansietas:
a.       Panik
b.      Ketegangan menghadapi sesuatu
c.       Kurang percaya diri
d.      Ketakutan kehilangan
e.       Preoperasi
f.       Obsesius
Menurut beberapa teori terjadinya faktor predisposisi, yaitu:
a.       Teori Psikoanalisa
Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara antara 2
elemen kepribadian – id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan
impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang
dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego berfungsi
menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas
adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b.      Teori Interpersonal
Ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya
penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas berhubungan dengan
perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang
menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang mengalami harga diri
rendah terutama mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.
c.       Teori Perilaku
Ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang
mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Pakar perilaku menganggap sebagai dorongan belajar
berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan. Individu
yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada ketakutan
berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas dalam kehidupan
selanjutnya.
d.      Kondisi keluarga
Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga.
Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan
ansietas dengan depresi. Faktor ekonomi, latar belakang pendidikan
berpengaruh terhadap terjadinya ansietas.
e.      Keadaan Biologis
Keadaan biologis menunjukkan bahwa otak megandung reseptor
khusus untuk benzodiasepin, obat-obatan yang meningkatkan
neuroregulator inhibisi asam-asam gama-aminobutirat (GABA), yang
berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan
ansietas

3)      Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dibedakan menjadi:
1)      Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan
aktivitas hidup sehari-hari.
2)      Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas,
harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
4) Pengkajian psikologis
  

a.       Status emosi
Suasana hati yang menonjol adalah tampak purtus asa. Ekspresi muka
tampak datar. Saat berinteraksi, klien mampu menjawab pertanyaan
perawat dengan jawaban sejelas-jelasnya.  Apakah Perasaan klien saat
ini cukup baik.
b.      Konsep diri
Tanyakan apa yang di inginkan oleh kilen, pandangan hidup yang
bertentangan, menarik diri dari realitas dll.
c.       Gaya komunikasi
Apakah klien berbicara secara santai, sulit di ajak berkomunikasi
dll.Perhatikan juga ekspresi nonverbal saat berinteraksi tampak serius
dan antusias, ada kontak mata.
d.      Pola interaksi
Bagaimana cara klien berinteraksi dengan perawat, dengan anggota
keluarga yang lain di rumah.
e.       Pola pertahanan
Bila mengatasi situasi yang sangat menekan atau sedih, klien lebih suka
berdiam diri di kamar, melamun. Klien mengatakan tidak
5) Pengkajian sosial
  

a.    Pendidikan dan pekerjaan


b.   Hubungan sosial
c.    Faktor sosial budaya
d.   Gaya hidup
6) Diagnosa Keperawatan
1. Resiko menciderai diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan ansietas
2.   Ansietas berhubungan dengan koping individu tak efektif.
7) Perencanaan

Diagnosa Perencanaan Intervensi Rasional


Resiko TUM:  1.  Melihat/observas1.  Intervensi diperlukan
mencederai Klien menahan i ada tidaknya jika klien melakukan
dirisendiri dan diri untuk tidak perilaku tindak kekerasan
orang lain b.d membahayakan kekerasan. terhadap diri sendiri dan
ansietas diri dan orang lain. orang lain.
TUK 1: 2.  Ansietas hebat sering
Klien mengatakan 2.  Diskusikan kali mengakibatkan
perasaan agresif ansietas, hilangnya kontrol diri
tetapi tidak perasaan, dan dan sering menimbulkan
melakukannya bagaimana tindakan permusuhan.
peningkatan
ketegangan dapat3.  Membicarakan tentang
menyebabkan rasa marah akan
permusuhan. menurunkan
3.  Bantu merawat kecenderungan klien
diri dengan cara untuk  menindak lanjuti.
mengikuti
TUK 2 : kecemasan. 1.  Identifikasi dini
Klien terhadap peningkatan
memperagakan ketegangan dapat
keterampilan mencegah klien
koping yang sesuai
1.    Bantu klien kehilangan kontrol dan
untuk mengatasi untuk melukai diri sendiri dan
distres yang hebat. mengidentifikasi orang lain
isyarat yang
mengindikasikan
peningkatan
frustasi yang 2.  Kesadaran diri adalah
dapat langkah awal untuk
menimbulkan memfasilitasi kontrol
prilaku merusak diri.

2.    Dorong klien
untuk
membentuk
kesadaran diri 3.  Penyaluran energi fisik
akan prilaku non yang nyaman akan
verbal dan memampukan klien
pernyataan mengurangi ansietas
verbal yang dengan cara yang
menunjukkan konstruktif
memuncaknya 4.  Keterampilan asertif dan
ansietas ekspresi emosi yang
3.    Ajari klien sesuai akan membantu
tentang cara-cara klien menyelesaikan
penyaluran masalah, jika masalah
ansietas secara tersebut muncul dan
fisik. menyebarkan
kemungkinan agresi.
5.  Intervensi ini memberi
waktu kepada klien
4.  Bantu klien untuk mengatasi situasi
mempelajari stres dan dapat
keterampilan mencegah episode
asertif dan kekerasan.
ekspresi yang
sesuai untuk 6.  Bantuan berkelanjutan
emosinya yang memampukan klien
kuat. untuk tetap berada dalam
kontrol dalam situasi
stres dan memikul
tanggung jawab atas
5.  Bersama dengan perilakunya.
klien melakukan
upaya
pengembangan
toleransi
terhadap frustasi
dan kekecewaan.
6.  Dorong klien
untuk meminta
bantuan dari
sumber-sumber
ansietas.
Ansietasberhubun TUM:      Dorong pasien1.     Perasaan sakit yang

gan Klien mengungkapkan tidak diakui adalah


demgan koping menunjukkan secara verbal stressor,
individu tak kemampuan perasaan yang mengungkapkan
efektif. mengatasi panik kuat, tidak perasaan yang tidak
dengan nyaman, nyaman membantu
mengurangi khususnya meredakan stres
perilaku penyebab ansietas, rasa
panik bersalah, & 2.     Sebelum klien dapat
TUK 1: frustasi. memperoleh kendali
Pasien bercerita     Bantu klien terhadap serangan,
tentang stressor mengidentifikasi stressor yang
kehidupan, yang stressor internal berhubungan dengan
b.d serangan panik yang umumnya panik harus
di masa lalu. terjadi sebelum diidentifikasi.
serangan. 3.     Analisis stimulus
eksternal yang menyertai
    Diskusikan dan panik membantu klien

analisa situasi mengantisipasi dan pada


panik dengan akhirnya mengontrol
klien, berfokus serangan.
pada stimulus 4.     Klien perlu mengetahui
eksternal yang metode koping klien
merangsang yang dapat digunakan
serangan. untuk mengatasi ansietas
yang tidak dapat
    Diskusikan ditoleransi akibat
mekanisme serangan panik.
koping, seperti
gerakan fisik dan    Memiliki pengetahuan
latihan nafas tentang cara alternatif
dalam yang untuk menangani stres
TUK 2: klien lambat, dan akan meningkatkan
meunjukkan bagaimana kendali perilaku.
perulaku yang mekanisme     Keterampilan ini

membantu memampukan klien


mengontrol untuk melepas ansietas
keadaan panik     Ajari klien melalui fokus keluar.
strategi intuk     Memfasilitasi daya tilik
mengatasi klien kedalam hubungan
stressor internal antara ansietas dan
seperti ketakutan gejala fisik akibat
atau perasaan serangan panik.
tidak menentu.
    Ajari klien

tentang cara     Klien perlu mengetahui

perpindah dari akibat gejala fisiologis


keadaan internal ansieta diikuti oleh
ke keadaan pikiran spontan yang
eksternal. mengganggu penilaian
tentang apa yang sedang
    Diskusikan terjadi.
hubungan antara    Mengembangkan dan
ansietas dengan menggunakan sistem
respon fisiologis pendukung
yang secra khas meningkatkan tanggung
ditunjukkan jawab pribadi dan
dalam serangan pengakuan pribadi
panik. tentang kebutuhan
memperoleh bantuan
    Bantu klien terhadap stres.
untuk
memodifikasi
situasi yang
dapat dirubah.

Dorong klien
    

membentuk
sistem
pendukung dan
mencari bantuan
ketika tanda dan
gejala ansietas
muncul.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Ansietas masih menjadi salah satu masalah gangguan kesehatan jiwa yang
masih banyak terjadi baik di negara-negara maju maupun di negara berkembang
seperti Indonesia. Ansietas sendiri merupakan kekhawatiran atau keadaan
emosional yang tidak jelas, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak
memiliki objek yang spesifik.

4.2 Saran
Ansietas merupakan gangguan kejiwaan berupa cemas yang tidak
berobyek, sehingga memerlukan pencegahan sedini mungkin pada tiap lapisan
masyarakat. Langkah-langkah pencegahan tersebut dapat berupa :
-          Kurikulum pendidikan kesehatan jiwa pada tiap jenjang pendidikan
-          Perbaikan pelayanan kesehatan jiwa pada di setiap lapisan institusi kesehatan
-          Gaya hidup yang sehat :
-          Makan makan yang bergizi dan seimbang.
-          Tidur yang cukup.
-          Cukup olahraga.
-          Tidak merokok.
-          Tidak meminum minuman keras.

DAFTAR PUSTAKA
Stuart, G. W. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. (5th ed). Jakarta : EGC.

Tomb, D. A. (2001). Buku Saku Psikiatri (5th ed). Jakarta : EGC.

Townsend, M.C. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan


Psikiatrik :Pedoman untuk Pembuatan Rencana Perawatan (3rd ed). Jakarta :
EGC.

Videbecek, S. L. (2001). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Tomb, Davit A. (2003). Buku Saku Psikiatri. Jakarta : EGC