0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan16 halaman

MAKALAH Kompetensi

Makalah ini membahas tentang tiga hal utama: 1) pengertian anak didik, 2) persoalan-persoalan yang dihadapi guru, dan 3) karakteristik kepribadian guru di MI. Anak didik dijelaskan sebagai individu yang sedang berkembang dan membutuhkan bimbingan. Persoalan guru terkait kompetensi dan karakteristik kelas/sekolah. Karakteristik kepribadian guru MI mencakup kemampuan beribadah dan menj

Diunggah oleh

alfi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan16 halaman

MAKALAH Kompetensi

Makalah ini membahas tentang tiga hal utama: 1) pengertian anak didik, 2) persoalan-persoalan yang dihadapi guru, dan 3) karakteristik kepribadian guru di MI. Anak didik dijelaskan sebagai individu yang sedang berkembang dan membutuhkan bimbingan. Persoalan guru terkait kompetensi dan karakteristik kelas/sekolah. Karakteristik kepribadian guru MI mencakup kemampuan beribadah dan menj

Diunggah oleh

alfi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

KEPRIBADIAN GURU

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah ; Profesi Keguruan

Dosen Pengampu : Alfiati, M.Pd

Kelompok 6

Tafsirudin

Tuji Syafa’at

PROGAM STUDI S1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MADIUN

TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang masih
memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan
makalah dengan judul “ Kemampuan Profesional Pemimpin Pendidikan ”. Tidak
lupa shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang
merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa penulis
sampaikan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Profesi Keguruan
yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini serta
pada anggota kelompok 6 yang kompak dalam menyusun makalah ini.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah
Profesi Keguruan dan dipresentasikan dalam pembelajaran di kelas. Dalam
makalah ini akan dibahas mengenai pengertian anak didik, problematika guru dan
kepribadian guru MI.

Begitulah adanya makalah, ini yang penuh dengan keterbatasan


kekurangan. Dengan segala kerendahan hati, saran dan kritik yang sangat penulis
harapkan dari pembaca guna peningkatan dan perbaikan pada pembuatan makalah
mendatang.

Madiun, 14 April 2020


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam proses beiajar mengajar, guru menempati posisi penting dan
penentu berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu proses pembelajaran. Sekalipun
proses pembelajaran telah menggunakan berbagai model pendekatan dan metode
yang lebih memberi peluang siswa aktif, kedudukan dan peran guru tetap penting
dan menentukan.
Dalam sebuah ungkapan bahasa Arab dinyatakan, "ath-thoriqotu ahammu minal
maadah, wal mudarrisu ahammu min kulli sya’i " (Metode atau cara pembelajaran
lebih penting daripada materi pembelajaran, dan guru lebih penting dari
segalanya). Ungkapan ini mengandung makna bahwa seorang guru harus
menguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan. Lebih baik dari itu,
penguasaan metode pembelajaran oleh seorang guru memiliki arti lebih penting
lagi dan menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran dari pada hanya
penguasaan materi. Di atas itu semua, posisi dan peran guru jauh lebih penting
dan menentukan atas segalanya. Materi, metode, media, dan sumber
pembelajaran, semuanya menjadi tidak bermakna apabila guru tidak mampu
memerankan tugasnya dengan baik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan gambaran latar belakang masalah yang kami uraikan diatas,
maka rumuasan masalah yang menjadi pokok pembahasan ini yaitu :
1. apakah yang di maksud dengan anak didik itu?
2. apa sajakah persoalan-persoalan dari Seorang guru?
3. Serta Bagaiamanakah Karakteristik Kepribadian Guru Di MI?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dibuat rumusan
malasah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui siapakah anak didik itu
2. Untuk mengetahui apa sajakah persoalan-persoalan dari Seorang guru
3. Untuk mengetahui Bagaiamanakah Karakteristik Kepribadian Guru Di MI
BAB II

PEMBAHASAN

A. Peserta Didik
Secara etimologi peserta didik dalam bahasa arab disebut Tilmidz
jamaknya Talamid yang artinya murid. Menurut Abu Ahmadi peserta didik
merupakan anak yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan,
bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, supaya dapat melaksanakan
tugasnya sebagai makhluk Tuhan.
Peserta didik adalah individu yang belum dewasa yang mempunyai suatu
potensi yang harus di berkembangkan, yang memiliki kepribadian dan ciri khas
yang berbeda dan berusaha mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui
pembelajaran. Peserta didik merupakan objek dari pendidikan. Suatu individu
yang sangat membutuhkan orang dewasa untuk membimbingnya, salah satunya
adalah guru (pengajar), untuk membimbing mereka menjadi dewasa.
1. Ciri-ciri Peserta Didik
a. Individu yang memiliki potensi atau bakat yang berbeda-beda
Sejak lahir, anak telah dianugrahi bakat atau potensi yang berbeda-beda. Tidak
ada anak yang lahir tanpa memiliki potensi, namun hanya saja karena kurang
dikembangkan. Oleh sebab itu untuk mengembangkan potensi yang dimilki maka
diperlukan suatu bimbingan, baik itu dari orang tua ataupun lingkungan tempat
tinggalnya.
b. Individu yang sedang berkembang
Dapat diartikan bahwa individu akan terus berkembang, dan sedang berkembang
baik itu berkembang tentang pola pikirnya atau pun dalam fisiknya. Individu tidak
akan tetap begitu saja, dia akan terus berkembang khususnya sesuai dengan
usianya. Ia akan berkembang dengan sendirinya. Ketika individu sedang
berkembang maka peran orang tua atau guru pun sangat diperlukan. Atas dasar itu
pendidik harus dapat mengatur kondisi dan strategi yang relevan dengan
kebutuhan peserta didik.
c. Individu yang mebutuhkkan bimbingan secara manusiawi
Dalam proses berkembang, peserta didik membutuhkan bimbingan, seperti halnya
bayi yang baru lahir ia sangat membutuhkan seorang ibu untuk berkembang dan
untuk hidup. Namun disini berbeda, peserta didik memang bukan lagi bayi.
Namun mereka membutukan bimbingan, dan tentunya masih tergantung kepada
yang ia anggap dewasa.
d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri
Dalam perkembangnya, peserta didik mempunyai kemampuan yang akan
membawanya kepada kedewasaan. Dimana orang tua ataupun pendidik dapat
membebaskannya, namun tidak membebaskan begitu saja melainkan sedikit demi
sedikit. Dimana peserta didik suah bisa menjalani kehidupannya sendiri, agar dia
dapat memperoleh kesempatan untuk bertanggung jawab dengan apa yang dia
perbuat.

B. Problematika guru
Secara umum problem yang dialami oleh para guru dapat dibagi menjadi
dua kelompok besar, yaitu problem yang berasal dari dalam diri guru disebut
problem internal, sedangkan yang berasal dari luar disebut problem eksternal

1. Problem Internal
Problem internal yang dialami oleh guru pada umumnya berkisar pada
kompetensi professional yang dimilikinya, baik bidang kognitif seperti
penguasaan bahan/materi, bidang sikap seperti mencintai profesinya (kompetensi
kepribadian) dan bidang perilaku seperti keterampilan mengajar, menilai hasil
belajar siswa (kompetensi pedagogik) dan lain-lain. Berikut ini problem internal
seorang guru:
a. Menguasai bahan/materi
Menguasai materi harus dimulai dengan merancang dan menyiapkan
bahan ajar /materi pelajaran yang merupakan faktor penting dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran dari guru kepada anak didiknya. Agar
proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, rancangan dan
penyiapan bahan ajar harus cermat, baik dan sistematis. Rancangan atau
persiapan bahan ajar/materi pelajaran berfungsi sebagai pemberi arah
pelaksanaan pembelajaran, sehingga proses belajar mengajar dapat terarah
dan efektif. Namun hendaknya dalam merancang dan menyiapkan bahan ajar
disertai pula dengan gagasan/ide dan perilaku guru yang kreatif, dengan
memperhatikan segenap hal yang terkandung dalam makna belajar peserta
didik.

b. Mencintai profesi keguruan


Bertolak dari kompetensi guru yang harus dimiliki oleh guru dan
adanya keinginan kuat untuk menjadi seorang guru yang baik, persoalan
profesi guru di sekolah terus menarik untuk dibicarakan, didiskusikan, dan
menuntut untuk dipecahkan, karena masih banyak guru yang punya
anggapan bahwa mengajar hanyalah pekerjaan sambilan, padahal guru
merupakan faktor dominan dalam pendidikan formal pada umumnya, karena
bagi siswa, guru sering dijadikan teladan dan tokoh panutan. Untuk itu guru
sebaiknya memiliki perilaku dan kemampuan yang memadai dalam
mengembangkan peserta didik secara utuh. Peran guru adalah perilaku yang
diharapkan (expected behavior) oleh masyarakat dari seseorang karena
status yang disandangnya. Status yang tinggi membuat seorang guru
mengharuskan tampilnya perilaku yang terhormat dari penyandangnya.
Dewasa ini masyarakat tetap mengharapkan perilaku yang paling baik dan
terhormat dari seorang guru.

c. Keterampilan mengajar
Guru harus memiliki beberapa komponen keterampilan mengajar
agar proses pembelajaran dapat tercapai, di antaranya yaitu 10 kompetensi
guru yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru. Adapun 10
kompetensi guru tersebut menurut Depdikbud, meliputi:
a) Menguasai bahan
b) Mengelola program belajar mengajar
c) Mengelola kelas
d) Penggunaan media atau sumber
e) Mengelola interaksi belajar mengajar
f) Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
g) Mengenal fungsi layanan bimbingan dan penyuluhan (BP)
h) Mengenal menyelenggarakan administrasi sekolah
i) Memahami prinsip- prinsip
j) Menafsirkan hasil penelitian pendidikan guru untuk keperluan pengajaran.

d. Menilai hasil belajar siswa


Evaluasi diadakan bukan untuk hanya ingin mengetahui tingkat
kemajuan yang telah dicapai siswa saja, melainkan ingin mengetahui sejauh
mana tingkat pengetahuan siswa atau peserta didik yang telah dicapai.
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data
tentang sejauh mana kerberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan
guru dalam mengajar. Pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh guru dengan
memakai instrumen penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis dan tes
lisan.

2. Problem Eksternal
Problem eksternal yaitu problem yang berasal dari luar diri guru itu
sendiri. Kualitas pengajaran juga ditentukan oleh karakteristik kelas dan
karakteristik sekolah.
a. Karakteristik kelas seperti besarnya kelas, suasana belajar, fasilitas dan
sumber belajar yang tersedia.
b. Karakteristik sekolah yang dimaksud, misalnya disiplin sekolah, contoh
seperti perpustakaan yang ada di sekolah yang memberikan perasaan
nyaman, bersih, rapi dan teratur.
Dalam konteks pertimbangan faktor eksternal, terutama yang menyangkut
lingkungan kerja, secara rinci, bahwa ada beberapa hal yang mempengaruhi
semangat kerja, yaitu:
a. Volume upah kerja yang dapat memenuhi kebutuhan.
b. Suasana kerja yang menggairahkan atau iklim.
c. Pemahaman sikap dan pengertian di kalangan pekerja.
d. Sikap jujur dan dapat di percaya dari kalangan pemimpin terwujud
dalam kenyataan.
e. Penghargaan terhadap hasrat dan kebutuhan yang berprestasi.
Sarana yang menunjang bagi kesejahteraan mental dan fisik, seperti
tempat olah raga, masjid dan rekreasi.

C. Kepribadian Guru
Faktor terpenting dari seorang guru adalah kepribadiannya. Karena dengan
kepribadian itulah seorang guru bisa menjadi seorang pendidik dan pembina bagi
anak didiknya atau bahkan malah sebaliknya akan menjadi perusak dan
penghancur bagi masa depan anak didiknya. Kepribadian yang sesungguhnya
adalah abstrak, sulit dilihat dan tidak bisa diketahui secara nyata yang dapat
diketahui yaitu hanyalah penampilan dari segi luarnya saja yaitu misalnya : dalam
tindakannya, ucapannya, cara bergaul, berpakaian dan menghadapi segala
persoalan atau masalah baik yang ringan ataupun yang berat.
Kepribadiaan adalah sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan
prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku,
sehingga kalu dikatakan pola sikap itu sudah berlaku terus-menerus secara
konsisten dalam menghadapi situasi yang dihadapi.

Menurut Zakiah Darajat ada 2 macam kepribadian guru yaitu :

1. Guru yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang memerintah dan


menyumh yaitu hal seperti ini kurang menyenangkan dalam pendidikan.
2. Guru yang menempatkan sebagai pembimbing bagi anak didiknya yaitu
biasanya guru seperti ini sangat menarik dan menyenangkan. Maksudnya yaitu ia
akan disenangi dan disayangi oleh anak didiknya.
Bagaimanapun seorang guru memberikan pelajaran bahkan penguasaan
materi yang matang tanpa diiringi oleh kepribadian yang baik dan menarik
seorang guru bisa menjadi guru yang ideal.
D. Kepribadian Guru Madrasah Ibtida'iyah
Segenap guru hendaknya mengetahui dan menyadari betul bahwa
kepribadiannya yang tercermin dalam berbagai penampilan itu ikut menetukan
tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan itu
sendiri, pada umumnya dan pada tempat ia mengajar pada khususnya.
Kepribadian guru akan diserap dan diambil oleh anak didik menjadi unsur dalam
kepribadiannya yang sedang tumbuh dan berkembang.
Madrasah Ibtida'iyah di Indonesia bertujuan untuk mencetak anak didik yang
menjadi seorang warga negara yang baik, menerima dan mau melaksanakan
pancasila dan UUD 1945. Selain itu juga madrasah ini bertujuan untuk
menumbuhkan sikap dan nilai-nilai yang positif lainnya yang diperlikan bagi
seorang muslim yang baik sehat jasmani maupun rohaninya, berpikiran maju dan
berminat pada ilmu pengetahuan dan lain-lian. Semua yang ingin dicapai oleh
tujuan madrasah ini yang dijabarka dalam kurikulumnya harus dapat benar-benar
dipahami dan dilaksanakan oleh semua guru dan tercermin dalam bentuk
penampilan kepribadinnya.

E. Komponen-Komponen Kompetensi Pribadi


Adapun kemampuan kepribadian guru dalam proses belajar mengajar
secara rinci yaitu sebagai berikut:

1. Kemantapan integritas pribadi


Seorang guru dapat dituntut untuk dapat bekerja secara teratur tetapi
kreatif dalam mengahadapi ppekerjaannya sebagai guru. Menurut Oemar Hamalik
"Kemampuan dalam bekerja hendaknya merupakan karakteristik pribadinya,
sehingga pola hidup seperti ini terhayati pula oleh siswa. Kemantapan integritas
pribadi tidak terjadi, dengan sendirinya melainkan tumbuh melalui proses belajar
yang sengaja diciptakan . Misalnya : Seorang guru dalam mengajarkan bab
masalah muamalah kepada murid, guru tidak boleh sekedar hanya mengajarkan
tetapi harus mampu mengaplikasikan juga dalam kehidupannya secara konsisten
baik didalam sekolah maupun diluar sekolah dan hal ini pun harus dilatih dan
terus dilatih melalui proses belajar mengajar.
2. Peka terhadap perubahan atau pembaharuan
Dimaksudkan agar apa yang dilakukan oleh sekolah tetap konsisten
dengan kebutuhan zaman. Untuk itu kemampuan penelitian merupakan
karakteristik yang harus dikuasai oleh guru walaupun dalam bentuk sifat yang
sederhana. Sebagai contoh seperti yang kita lihat sekarang dalam kehidupan
masyarakat banyak hal-hal yang baru dalam tatanan kehidupannya. Mungkin
sesuatu yang baru ini tidak terjadi pada zaman nabi, sehingga nabi tidak
menjalaskan masalah hukumnya, jadi seorang guru harus peka terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi dengan mengadakan suatu penelitian agar tidak
terjadi ketinggalan zaman yang disebabkan adanya tatanan baru yang ada dalam
kehidupan masyarakat.

3. Berpikir alternatif
Ini dimaksudkan untuk menghindari verbalisme dan absolutisme. Untuk
itu panduan belajar untuk setiap pelajaran harus dibuat setiap semester. Guru
harus mampu memberikan berbagai alternative jawaban memilih salah satu
alternative untuk kelancaran proses belajar mengajar dan meningkatkan akan
mutu pendidikan. Misalnya: dalam mengajarkan masalah do'a qunut pada shalat
shubuh, seorang guru tidak boleh menekankan pada satu pendapat ulama saja,
misalnya ulama mengatakan tidak boleh, karena ini akan mengakibatkan
verbalisme tetapi seorang guru harus berpikir alternatif dengan cara memberikan
berbagai pendapat-pendapat ulama dari dari berbagai macam rujukan/sumber
buku untuk menghindarkan verbalisme pada diri anak didik.

4. Adil, jujur dan objektif


Sifat-sifat ini harus ditunjang dengan mengamalkan nilai-nilai moral,
social yang diperoleh dari kehidupan masyarakat serta pengalaman belajar yang
diperolehnya. Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya sedangkan jujur
adalah tulus ikhlas dalam menjalankan fungssinya sebagai guru. Objektif artinya
menjalani aturan-aturan yang ditetapkan tidak pilih kasih. Hal ini memang sangat
sesuai dengan kepribadian guru apalagi guru agama, karena dalam materi PAI ada
yang membahas masalah tersebut, jadi seorang guru tidak hanya mengajarkan
masalah-masalah tersebut, tetapi dituntut untuk mengaplikasikannya didalam
kehidupannya sehari-hari bagaimana seorang siswa aka berlaku adil, jujur sesuai
yang diajarkan oleh seorang pendidik kalau guru itu sendiri tidak melakukannya.

5. Berdisiplin dalam melaksanakan tugas


Disiplin muncul dari kebiasaan hidup yang teratur serta mencintai dan
menghargai pekerjaan. Disiplin memerlukan proses pendidikan untuk itu guru
memerlukan pemahaman tentang landasan ilmu pendidikan. Disiplin adalah
sesuatu yang terletak didalam hati didalam jiwa seseorang yang memberikan
dorongan untuk melakukan sesuatu tidak sebagaimana yang ditetapkan oleh
norma-norma aturan yang berlaku. Misalnya, ketika mendapat tugas jam mengajar
pada jam pertama,harus dating tepat waktu, jangan sampai terlambat karena hal
ini akan menciptkan suatu kondisi yang teratur dalam proses belajar mengajar.

6. Ulet tekun bekerja


Keuletan ketekunan dalam bekerja tanpa mengenal lelah serta tanpa
pamrih yang harus diperhatikan oleh guru. Guru harus ulet tekun dalam bekerja
sehingga program pendidikan yang telah digariskan dalam kurikulum dapat
dijalankan agar dapat tercapai dengan baik. Misalnya, dalam pencapaian tujuan
dari materi yang diajarkan, yaitu siswa dapat melaksanakan sekolah dengan baik
dan benar. Maka seorang guru harus ulet dan tekun dalam menjalankan tugasnya
untuk pencapaian dari tujuan sebuah materi sebelum anak didiknya bisa
melaksanakan sholat yang baik dan benar, maka seorang guru harus terus
mencoba sampai apa yang diinginkaan dari sebuah kurikulum tersebut dapat
tercapai dan berjalan dengan baik.

7. Berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya


Guru diharapkan meningkatkan diri mencari cara baru agar mutu dan
kualitas pendidikan selalu meningkat, pengetahuan yang dimilikinya selalu
bertambah dengan membuka mata terhadap perkembangan zaman dan tidak peka
terhadap perubahan-perubahan. Disamping itu guru perlu menjaga semangat kerja
yang tinggi sehingga program pendidikan yang dicanangkan dapat memperoleh
hasil yang memuaskan. Apalagi pada saat ini banyak anggapan bahwa pendidikan
agama masih dalam tahap tradisional dan masih banyak ketertinggalan, misalnya
keterbatasan dalam alat-alat peraga untuk menyampaikan sebuah materi PA1, saat
calon guru itu belajar sehingga pemahamannya kurang dari kurangnya
pemahaman tersebut menyebabkan ketertinggalan, oleh Karena itu seorang guru
harus bekerja keras untuk meningkatkan diri dengan cara mencari hal-hal yang
baru.

8. Simpatik,lues, arif/bijaksana sederhana dalam bertindak


Guru harus simpati karena sifat ini aka disenangi oleh siswa, jiwa siswa
yang menyenangi gurunya sudah barang tentu akan menyenangi pelajarannya.
Demikian juga dalam hal melaksnakan proses belajar mengajar harus menarik
dengan daya tarik yang diungkapkan oleh motivasi belajar yang lebih meningkat.
Keuletan merupakan factor pendukung untuk disenangi oleh siswa karena guru
mampu bergaul berkomunikasi dengan baik. Kebijaksanaan dan kesederhanaan
maka menjalin keterikatan batin dengan siswa. Dengan adanya keterkaitan
tersebut, guru mampu mengendalikan proses belajar mengajar yang dilaksanakan.

9. Bersifat terbuka
Dengan dimilikinya sifat terbuka oleh guru maka demokrasi dalam belajar
akan terlaksana sebab dengan demokrasi akan mendidik mmelatih siswa untuk
bersifat terbuka pula, tidak menutupi kesalahan terus terang mau dikritik untuk
dimasa yang akan datang. Misalnya, dalam proses belajar mengajar, salah seorang
siswa menanyakan pelajaran yang diajarkannya, karena tidak pahamnya,
kemudian guru tersebut tidak bisa mnejawabnya, dikarenakan minimnya
pengetahuan maka seorang guru haruslah terbuka dan berterus terang karena hal
ini akan menciptakan kondisi belajar yang demokratis.

10. Kreatif
Artinya guru harus mampu melihat berbagai kemungkinan yang menurut
perkiraannya sama-sama jitu, kreatifitas itu erat sekali hubungannya dengan
kecerdasan. Untuk memperoleh kreatifitas yang tinggi sudah tentu banyak
bertanya, banyak belajar. Misalnya di lembaga pendidikan yang terbatas dengan
tenaga pendidiknya, sehingga yang mengajarkan PAI bukan dari jurusannya
melainkan dari jurusan matematika, hal ini guru tersebut dituntut untuk kreatif,
dengan cara belajar kembali ataupun dengan cara banyak bertanya.

11. Berwibawa
Dengan kewibawaan maka proses belajar mengajar akan terlaksana
dengan baik, berdisiplin tertib. Dengan demikian kewibaan bukan berarti sisa
harus takut kepada guru, melainkan siswa akan taat patuh pada peraturan yang
berlaku pada peraturan yang berlaku sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh guru.
Sebagai contoh dalam proses belajar mengajar seorang guru ketika menerangkan
suatu mata pelajaran harus menjaga pembicaraannya guru tidak boleh bicara yang
kotor/tidak masuk akal walaupun bertujuan untuk membuat anak didik senang hal
ini tidak boleh dilakukan bagi seorang guru karena akan merusak
citra/kewibawaan seorang guru.

Pada tulisan ini akan difokuskan pada bagaimana peran guru di Indonesia dari
masa penjajahan sampai kealam kemerdekaan dengan berbagai situasi dan
kondisi.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah
atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, dengan
tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen
seseorang, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan, atau ucapan ketika
menghadapi suatu pesroalan.
Disamping perangkat dan segala hal yang berhubungan dengan pengajaran dan
yang bermuara pada keberhasilan dalam tujuan pendidikan itu, ternyata adalah
kepribadian guru juga merupakan hal yang sangat menentukan dalam keberhasilan
pengajaran. Bahkan keberhasilan kepribadian ini dianggap vital karena anaak
didik akan mencomtoh dan menyerap dari segala tingkah laku dan penampilan
guru saat mengajar.
Seorang guru diharapkan dapat mengimplementasikan baik secara emosional,
intelegensi dan spiritual sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung
secara baik, efektif dan efisien. Kepribadian guru PAI diharapkan benar-benar
benar-benar teraplikasikan dalam kegiatan proses belajar mengajar, baik dari
peserta didiknya maupun dari tenaga pendidiknya itu sendiri sehingga tercapainya
tujuan dari pendidkan itu yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa.
DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiyah, Kepribadian Guru, Jakarta : Bulan Bintang, 1978.


Hawi, Akmal, Kompetensi Guru PA I, Palembang, Farah Press, 2010
Hamalik, oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001
Soelaeman, Menjadi Guru, Bandung: CV. Diponegoro: 1985

Parkay, Forrest W dan Beverly Hardcastle Stanford. Menjadi Seorang Guru. PT


Indeks. 2008.
Wibowo, Catur Hari. Problematika Profesi Guru dan Solusinya Bagi peningkatan
Kualitas Pendidikan di Mts Negeri Nguntorinadi Kbupaten Wonogiri. IAIN
Surakarta. 2014. eprints.iain-surakarta.ac.id/17/1/2015TS0007.pdf

Anda mungkin juga menyukai