0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan22 halaman

Morfologi dan Pengembangan Pulau Kecil

Makalah ini membahas tentang proses morfologi yang terjadi pada daerah kepulauan dan pembangunan wilayah pada kawasan pulau kecil. Proses morfologi di daerah kepulauan dipengaruhi oleh proses endogen dan eksogen seperti tektonik, vulkanik, erosi, dan sedimentasi. Pembangunan wilayah pulau kecil perlu mempertimbangkan karakteristik pulau dan melibatkan masyarakat setempat.

Diunggah oleh

isa sandriatin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan22 halaman

Morfologi dan Pengembangan Pulau Kecil

Makalah ini membahas tentang proses morfologi yang terjadi pada daerah kepulauan dan pembangunan wilayah pada kawasan pulau kecil. Proses morfologi di daerah kepulauan dipengaruhi oleh proses endogen dan eksogen seperti tektonik, vulkanik, erosi, dan sedimentasi. Pembangunan wilayah pulau kecil perlu mempertimbangkan karakteristik pulau dan melibatkan masyarakat setempat.

Diunggah oleh

isa sandriatin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PENGANTAR
GEOGRAFI
(KONSEP ESENSIAL GEOGRAFI)

OLEH:

DHANI HARDIYANSYA ISAMU


R1B121048

JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga Makalah pengantar geografi (pengembangan wilaya pulau kecil yang
berkaitan berkaitan dengan morfologi) ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan
salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan
kepada kita selaku umatnya.
Makalah ini saya buat untuk melengkapi tugas mata kuliah Pengantar Geografi. saya
ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah
(pengembangan wilaya pulau kecil yang berkaitan berkaitan dengan morfologi) ini. Dan saya juga
menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam
memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah.
Saya mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan,
karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik
kita sebagai manusia. Semoga makalah (pengembangan wilaya pulau kecil yang berkaitan
berkaitan dengan morfologi) ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Kendari, 24 September 2021

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................................i
KATA PENGANTAR...............................................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1. Latar Belakang..........................................................................................................1
2. Rumusan Masalah.....................................................................................................2
3. Tujuan.......................................................................................................................2
4. Manfaat.....................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................3
1. Proses Morfologi Yang Terjadi Pada Daerah Kepulauan.........................................3
2. Pembangunan wilayah pada kawasan Pulau kecil...................................................5

BAB III PENUTUP..................................................................................................................16

1. Kesimpulan..............................................................................................................17

2. Saran........................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................18

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Morfologi dalam geografi adalah bentuk permukaan bumi. Bentuk permukaan bumi ini
bervariasi sekali guys dan terus berkembang dari masa ke masa.Ada dua tenaga yang membuat
morfologi permukaan bumi ini bisa bermacam-macam yaitu tenaga endogen dan tenaga eksogen.
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga endogen ini bersifat
membangun struktur permukaan bumi. Yang termasuk tenaga endogen adalah vulkanisme,
tektonisme dan seisme.
Sebenarnya semua fenomena tadi berasal dari aktivitas magma. Vulkanisme
menghasilkan beberapa morfologi seperti kaldera, gunung api, batolit dan lakolit. Orogenesa
adalah proses pembentukkan pegunungan sememtara epirogenesa adalah proses pembentukan
daratan benua. Seisme berkaitan dengan gempa yang bisa menyebabkan kerusakan di atas
permukaan bumi.
Gempa yang paling kuat adalah gempa tektonik. Gempa tektonik banyak terjadi di batas
lempeng konvergen atau di zona subduksi. Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar
dan bersifat merusak atau merombak struktur yang telah ada. Yang termasuk tenaga eksogen
adalah erosi, sedimentasi, pelapukan dan tenaga ekstaterestrial.
Penyebab erosi bisa oleh bantuan air, angin, es dan gravitasi. Erosi ini adalah upaya bumi
untuk menyeimbangkan diri sehingga kita membutuhkan erosi. Erosi membuat permukaan bumi
semakin bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya.
Hasil aktivitas eksogen diantaranya meander, delta, batu jamur, tombolo, morena dan
gumuk pasir. Tenaga ekstraterestrial adalah tenaga yang bersumber dari benda asing seperti
meteor. Selain itu, Secara geologis Kepulauan Indonesia berada pada jalur penumjaman lempeng
bumi, seperti penunjaman Lempeng Samudra Indo-Australia dengan Lempeng Benua Eurasia
yang memanjang dari pantai barat Sumatera hingga pantai selatan Jawa terus ke timur sampai
Nusa Tenggara. Pada proses pembetukanya, Pulau di Indonesia di dasari beberapa faktor di
antaranya Proses Tektonik Kepulauan
Berdasarkan klasifikasinya, kepulauan Indonesia terbentuk dari tiga hasil pergerakan
lempeng besar, yaitu lempeng Pasifik di sebelah barat, lempeng samudera Hindia di sebelah

1
selatan dan lempeng Asia di sebelah utara. Aktifitas lempeng besar tersebut telah terjadi sejak
zaman Neogen atau sekitar 50 juta tahun yang lalu dan hingga sekarang ketiga lempeng tersebut
masih aktif yang seringkali menyebabkan adanya guncangan gempa bumi yang berskala ringan
hingga berat. Dari proses tersebut sehingga Jadi terbentuklah morfologi di setiap kepulauan itu
berbeda, Morfologi juga menggambarkan perwujudan daratan di muka bumi, yang merupakan
hasil proses pengangkatan atau penurunan wilayah melalui proses geologi. Contohnya seperti
pulau-pulau, dataran yang luas, pegunungan, dan lembah

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas kita dapat menarik beberapa masalah antara lain:

1. Bagaimana proses morfologi yang terjadi pada daerah kepulauan?


2. Bagaimana pembangunan wilayah pada kawasan Pulau kecil?

Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan matakuliah
dan sebagai bahan referensi bagi pembaca, serta mengetahui proses morfologi yang terjadi pada
daerah kepulauan dan mengetahui pengembangan wilayah pada kawasan kepulauan.

Manfaat

Manfaat dari penulisan ini adalah sebagai tambahan pengetahuan dan mengetahui proses
morfologi yang terjadi pada daerah kepulauan dan mengetahui pengembangan wilayah pada
kawasan kepulauan.
BAB II

PEMBAHASAN

Morfologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentang alam(land-Scape), yang


meliputi sifat dan karakteristik dari bentuk morfologi, klasifikasi dan perbedaannya serta proses
yang berhubungan terhadap pembentukan morfologi tersebut Rokhmin Dahuri (2001). Dahuri
mengklasifikasikan proses pembentukan muka bumi menjadi 4 macam, antara lain:

a. Proses yang berlansung dari dalam bumi (endogin), yang membentuk morfologi gunung
api, bentuk pegunungan lipatan, pegunungan patahan, dan undak pantai.
b. Proses desintegrasi /degradasi yang mengubah bentuk permukaan bumi karena proses
pelapukan (kimia-fisika) dan erosi menuju proses perataan daratan.
c. Proses agradasi yang membentuk permukaan muka bumi baru dengan penumpukan/
akumulasi hasil rombakan /erosi batuan pada daerah rendah, pantai, dan dasar laut.
d. Proses biologi yang membentuk daratan biogenic seperti terumbu karang dan rawa
gambut .

Proses lain yang seringkali berinteraksi dengan keempat proses umum di atas, dalam banyak
hal ikut kontribusi terhadap kecepatan pembentukan berbagai bentuk morfologi yang ada, seperti
misalnya penggundulan hutan yang mempercepat proses erosi dan sedimentasi pantai,perubahan
iklim global, pembuatan bendungan dan konstruksi teknik sipil lain dan sebagainya.( Prasetyo.
2018)

Untuk daerah kepulauan, konsep pembentukan morfologi diatas secara umum berlaku pula
dalam proses pembentukan morfologinya,meskipun proses yang berlangsung lebih spesifik.

1. Proses Morfologi Yang Terjadi Pada Daerah Kepulauan

Pembentukan sebuah bentang lahan sangat ditentukan oleh proses geomorfologi.


Proses geomorfologi merupakan proses yang sangat dipengaruhi oleh tanaga pembentuk
permukaan bumi. Tenaga tersebut dapat berupa tenaga eksogen (angin, air, gletser,
maupun intervensi manusia) mapun tenaga endogen (tektonik dan vulkanik). Setiap tenaga,
akan menimbulkan pengaruh yang berbeda terhadap lahan yang dibentuknya. Pembentukan
lahan tersebut akan memengaruhi kondisi fisik alam dan sosial ekonomi masyarakat sekitar.

Proses geomorfologi antara satu tempat dengan tempat lain akan berbeda. Perbedaan
tersebut terdiri atas perbedaan intensitas dan perbedaan bentuk lahan (meskipun dengan
tenaga pembentuk yang sama). Intensitas proses geomorfologi dan perbedaan bentuk lahan
sangat bergantung pada (1) iklim, (2) topografi, (3) kedekatan dengan subduksi, (4)
litologi dan (5) perubahan lingkungan. (Kurnianto dkk. 2016). Dari beberapa proses yang
mempengaruhi proses morfologi sehingga terjadi bentuk bentang lahan seperti dataran rendah,
dataran menengah, pebukitan menggelombang, kras dan pegunungan.faktor ini juga yang
mempengaruhi bentuk bentang alam yang terjadi di suatu kepulauan seperti salah satu pulau
yang ada di Sulawesi tenggara yaitu pulau Muna.

Secara Karstologi, pembentukan morfologi kawasan karst Daerah Muna dengan adanya
cekung laut dalam pada masa Kapur. Di dalam cekungan tersebut terendapkan lapisan-lapisan
(sedimen) yang terdiri dari pasir krikil dan pasir. Endapan tersebut kemudian diikuti oleh
pendangkalan cekungan laut dan terendapkan batuan sedimen karbonat seperti batugamping
terumbu, batugamping pasiran. Setelah pengendapan tersebut, pada masa Kapur terjadi kegiatan
tektonik yang mengangkat endapan-endapan tersebut keatas permukaan air dan secara bertahap
terbentuklah pegunungan karst (Winarno,2018)

2. Pembangunan wilayah pada kawasan Pulau kecil

Kepulauan, dimana Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, namun Model
Pengembangan Wilayahnya menganut pada wilayah Kontinen/Daratan. Sampai-pun
pengembangan wilayah Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta diperlakukan sebagai suatu bagian
dari Daratan DKI Jaya yang dipisahpisahkan oleh laut dan bukan sebagai suatu gugusan
kepulauan dalam konsep ke-baharian. Karena itu perlu adanya upaya yang serius dan terus
menerus untuk mengembangkan konsep2 yang jelas mengenai perencanaan pengembangan
wilayah kepulauan, dengan dasar konsep maritim, yang berbeda dengan konsep pengembangan
wilayah daratankontinen. Setelah didapat suatu pengertian mengenai definisi perencanaa.

Perkembangan ekonomi wilayah Kepulauan Nusa Tenggara dapat didekati dari perspektif
kombinasi teori-teori tersebut. Dalam kaitan ini, sebagian teori mungkin berguna untuk
menjelaskan fenomena tertentu, namun tidak mampu untuk menjelaskan fenomena lain. Dalam
konteks sekarang, teoriteori tersebut dianggap tidak mampu menjawab kebutuhan untuk
menyelenggarakan pembangunan secara berkelanjutan. Hal ini terjadi karena factor lingkungan
dianggap inheren otomatis ada didalam sistem yang tidak akan banyak menggangu terjadinya
perubahan ekonomi wilayah. Ini merupakan kelemahan mendasar yang perlu dijawab dengan
mengintegrasikan perspektif pembangunan berkelanjutan dalam konsep pengembangan wilayah
Kepulauan Nusa Tenggara. (Harun 2017). Seiring dengan perkembangannya, muncul konsep
ekowisata berbasis masyarakat, yaitu wisata yang menyuguhkan segala sumber daya wilayah
yang masih alami, yang tidak hanya mengembangkan aspek lingkungan dalam hal konservasi
saja, namun juga memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar, sebagai salah satu upaya
pengembangan pedesaan untuk meningkatkan perekonomian lokal, dimana masyarakat di
kawasan tersebut merupakan pemegang kendali utama.

Rawa Pening merupakan salah satu kawasan wisata di Kabupaten Semarang yang mulai
dikembangkan sebagai kawasan ekowisata, yang terletak di Kabupaten Semarang, dan
menyajikan pemandangan yang masih alami. Danaunya termasuk dalam 15 danau prioritas
nasional yang ditetapkan dalam Kesepakatan Bali 2009, dengan dasar bahwa Rawa Sejalan
dengan bentuk morfologi dari pada daerah kepulauan. Morfologi Karst juga sangat brpotensi
untuk menjadi salah satu objek dalam pengembangan ekowisata seperti pada daerah muna
banyak potensi wisata yang dapat di kembangakan Sebagian kalangan beranggapan bahwa
ekosistem pulau-pulau kecil (luasan kurang dari 2.000 km persegi) di Indonesia dianggap sama
antara pulau kecil yang satu dengan pulau-pulau kecil lainnya. Dalam kenyataannya, Indonesia
memiliki beberapa tipe pulau kecil, yaitu (1) pulau kecil yang berada di dekat pulau besar, (2)
pulau kecil yang berada jauh dari daratan utama, (3) pulau kecil yang berbentuk gugusan pulau
kecil. Ketiga jenis pulau tersebut membutuhkan pendekatan berbeda-beda dalam pengelolaanya.

Potensi Pulau-Pulau Kecil

Sementara itu, potensi yang terdapat di pulau-pulau kecil akan tergantung pada proses
terbentuknya pulau serta posisi atau letak pulau tersebut sehingga secara geologis pulau-pulau
tersebut memiliki formasi struktur berbeda, dan dalam proses selanjutnya pulau-pulau tersebut
juga memiliki kondisi lingkungan, sumberdaya lingkungan, serta keanekaragaman yang spesifik
dan unik (Bengen dan Retraubun 20016).
Kawasan pulau-pulau kecil memiliki potensi cukup besar karena didukung oleh letaknya
yang strategis dari aspek ekonomi, pertahanan dan keamanan, serta adanya ekosistem khas tropis
dengan produktivitas hayati tinggi. Potensi pulau-pulau kecil terdiri dari potensi sumber daya
hayati dan potensi sumber nir hayati. Potensi sumberdaya hayati meliputi:

(1) Terumbu karang.Menurut Sawyer (1993) dan Cesar (1996), manfaat terumbu karang
meliputi manfaat langsung sebagai habitat bagi sumberdaya ikan (tempat mencari makan,
memijah), batu karang, pariwisata, wahana penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya.
Dan manfaat tidak langsung sebagai penahan abrasi pantai, keanekaragaman hayati, dan lain
sebagainya. Terumbu karang dapat menjadi sumber devisa yang diperoleh dari penyelam dan
kegiatan wisata bahari lainnya.

Dan berbagai jenis biota yang hidup pada ekosistem terumbu karang ternyata banyak
mengandung senyawa bioaktif sebagai bahan obat-obatan, makanan, dan kosmetika. Selain itu,
terumbu karang menjadi daya tarik dan perhatian bagi para ahli, mahasiswa, perusahaan farmasi
sebagai objek penelitian.

(2) Padang Lamun (Seagrass). Secara ekologis, seagrass berfungsi sebagai produsen detritus
dan zat hara; mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak dengan sistem perakaran
yang padat dan saling menyilang; sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan
memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan
ini; serta sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan
matahari. Di samping itu, padang lamun juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan
budidaya berbagai jenis ikan, kerang-kerangan dan tiram, tempat rekreasi, dan sumber pupuk
hijau.

(3). Hutan Mangrove. Hutan mangrove mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien
bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai macam biota, penahan abrasi,
amukan angin, taufan dan tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut, dan lain
sebagainya. Sedangkan secara ekonomis, berfungsi sebagai penyedia kayu, bahan baku obat-
obatan dan lain-lain. Ekosistem hutan mangrove juga bermanfaat tidak langsung, terutama
sebagai habitat bagi bermacam-macam binatang seperti udang, kepiting, dan beberapa jenis ikan
serta binatang melata lainnya.

Sementara itu, potensi sumberdaya nir hayati pulau pulau kecil terdiri dari

(1). Pertambangan. Aktivitas pertambangan banyak dilakukan di negara-negara pulau kecil di


dunia maupun di Indonesia pada provinsi-provinsi tertentu. Struktur batuan dan geologi pulau-
pulau kecil di Indonesia adalah struktur batuan tua yang diperkirakan mengandung deposit
bahan-bahan tambang/mineral penting seperti emas, mangan, nikel, dan lain-lain.

Beberapa aktivitas pertambangan baik pada tahap penyelidikan umum, eksplorasi, maupun
eksploitasi di pulau-pulau kecil antara lain timah di Pulau Kundur, Pulau Karimun (Riau); nikel
di Pulau Gag (Papua), Pulau Gebe (Maluku Utara), Pulau Pakal (Maluku); batubara di Pulau
Laut, Pulau Sebuku (Kalsel); emas di Pulau Wetar, Pulau Haruku (Maluku); dan migas di Pulau
Natuna (Riau).

(2). Energi Kelautan. Dengan luas wilayah laut yang lebih besar dibandingkan darat maka
potensi energi kelautan memiliki prospek sebagai energi alternatif untuk mengantisipasi
berkurangnya minyak bumi, LNG, batubara, dan lain-lain sepanjang kemampuan negara
diarahkan untuk pemanfaatannya. Sumberdaya kelautan yang mungkin digunakan untuk
pengelolaan pulau-pulau kecil adalah Konversi Energi Panas Samudera/Ocean Thermal Energy
Conversion (OTEC), panas bumi (geothermal), ombak, dan pasang surut.
Pulau-pulau kecil memberikan jasa-jasa lingkungan yang bernilai ekonomis yaitu sebagai
kawasan kegiatan kepariwisataan, media komunikasi, kawasan rekreasi, konservasi, dan jenis
pemanfaatan lainnya. Jenis-jenis pariwisata yang dapat dikembangkan di kawasan pulau-pulau
kecil adalah

(1). Wisata Bahari. Kawasan pulau-pulau kecil merupakan aset wisata bahari yang sangat
besar. Didukung oleh potensi geologis dan karaktersistik yang mempunyai hubungan sangat
dekat dengan terumbu karang (coral reef), khususnya hard corals. Di samping itu, kondisi pulau-
pulau kecil tak berpenghuni akan memberikan kualitas keindahan dan keaslian dari bio-diversity
yang dimilikinya. Berdasarkan rating yang dilakukan oleh lembaga kepariwisataan internasional,
beberapa kawasan di Indonesia dengan sumberdaya yang dimilikinya mempunyai rating tertinggi
bila ditinjau dari segi daya tarik wisata bahari dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain di
dunia.

Sebagian besar pulau-pulau kecil di Indonesia memiliki potensi wisata bahari yang cukup
potensial. Beberapa di antaranya telah dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata bahari seperti
Taman Nasional (TN) Taka Bone Rate (Sulsel), TN Teluk Cendrawasih, TN Kep. Wakatobi
(Sultra), Taman Wisata Alam (TWA) Kep. Kapoposang (Sulsel), TWA Tujuh Belas Pulau
(NTT), TWA Gili Meno, Ayer, Trawangan (NTB), TWA P. Sangiang (Jabar), dan lain-lain.

(2). Wisata Terestrial. Yaitu wisata yang merupakan satu kesatuan dengan potensi wisata
perairan laut. Wisata terestrial di pulau-pulau kecil misalnya TN Komodo (NTT), sebagai lokasi
Situs Warisan Dunia (world herritage site) merupakan kawasan yang memiliki potensi darat
sebagai habitat komodo, serta potensi keindahan perairan lautnya di Pulau Rinca dan Pulau
Komodo. Contoh lain adalah Pulau Moyo yang terletak di NTB sebagai Taman Buru (TB),
dengan kawasan hutan yang masih asri untuk wisata berburu dan wisata bahari (diving).

Kondisi Pulau Moyo dimanfaatkan para pengusaha pariwisata sebagai kawasan “Ekowisata
Terestrial”. Di kawasan ini terdapat resort bertarif relatif mahal, dengan fasilitas yang ditawarkan
berupa tenda-tenda sehingga merupakan “wisata camping” yang dikemas secara mewah. Paket
wisata di Kawasan Pulau Moyo ini sudah sangat terkenal di mancanegara sehingga dapat
memberikan devisa bagi negara.
(3). Wisata Kultural. Salah satu komponen pulau kecil yang sangat signifikan adalah
masyarakat lokal karena sudah lama berinteraksi dengan ekosistem pulau kecil. Berdasar realitas
di lapangan, masyarakat pulau-pulau kecil mempunyai budaya dan kearifan tradisional (local
wisdom) tersendiri yang merupakan nilai komoditas wisata yang tinggi. Kawasan yang dapat
dijadikan sebagai objek wisata kultural, misalnya di Pulau Lembata. Masyarakat suku Lamalera
di Pulau Lembata mempunyai budaya heroik “Berburu Paus secara tradisional” (traditional
whales hunter).

Kegiatan berburu paus secara tradisional tersebut dilakukan setelah melalui ritual-ritual
budaya yang sangat khas, yang hanya dimiliki oleh Suku Lamalera tersebut. Keunikan budaya
dan kearifan tradisional tersebut menjadi daya tarik bagi para wisatawan

Strategi Pengembangan Wisata Bahari di Pulau Kecil

Terdapat dua faktor penting dalam strategi pembangunan kegiatan pariwisata nasional.
Pertama, faktor internal berupa strategi dan manajemen daya tarik objek wisata, yang terkait
mulai dari aspek teknis, strategi jasa pelayanan, sampai kepada strategi penawaran. Kedua, faktor
eksternal berupa dukungan perangkat kebijakan dari pemerintah serta penciptaan iklim
keamanan yang kondusif bagi kegiatan pariwisata di Indonesia (Sya’rani 2010 dalam Santoso
2018).

Terkait dengan ekowisata pulau-pulau kecil, upaya perumusan konsep pengembangan dan
sistem pengelolaan pulau-pulau kecil harus melibatkan setiap unsur stakeholders. Masyarakat
harus tahu benar tujuan dan manfaat upaya pengembangan dan pengelolaan ekowisata pulau-
pulau kecil. Selain pengelolaan sumberdaya, pengembangan kelembagaan masyarakat tak dapat
dilepaskan. Dipandang dari sudut individu, kelembagaan merupakan gugus kesempatan bagi
individu dan kelompok individu dalam membuat keputusan dan pelaksanaan aktivitas.

10
Pengelolaan sumberdaya berbeda untuk setiap lokasi mengingat perbedaan situasi serta
kondisi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang ada. Oleh karena itu, sebelum
ditetapkannya konsep pengembangan dan sistem pengelolaan ekowisata perlu dilakukan tahap-
tahap seperti mengidentifikasi kondisi fisik wilayah, mengidentifikasi potensi sumberdaya alam
dan jasa lingkungan, serta mengidentifikasi permasalahan yang ada.

Pulau-pulau kecil didefinisikan berdasarkan dua kriteria utama yaitu luasan pulau dan jumlah
penduduk yang menghuninya. Menurut tipenya, pulau-pulau kecil dibedakan menjadi pulau
benua, pulau vulkanik, dan pulau karang. Masing-masing tipe pulau tersebut memiliki kondisi
lingkungan biofisik yang khas sehingga perlu menjadi pertimbangan dalam kajian dan penentuan
pengelolaannya agar berkelanjutan.

Hal ini akan berpengaruh pula terhadap pola permukiman yang berkembang di pulau-pulau
kecil berdasarkan aktivitas yang sesuai dengan kondisi lingkungan biofisik tersebut. Misalnya
tipologi pulau kecil lebih dominan ke arah pengembangan budidaya perikanan maka
kemungkinan besar pola permukiman yang berkembang adalah masyarakat nelayan.

Beberapa Permasalahan

11
Kawasan pulau-pulau kecil termasuk pantainya merupakan sumberdaya alam hayati dan aset
wisata bahari yang sangat potensial. Pantai merupakan bagian dari ekosistem pesisir yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi karena selain berfungsi sebagai daerah penyangga juga dapat
berfungsi sebagai daerah wisata. Kebijakan pemerintah terhadap pembangunan wisata bahari
mengindikasikan potensi kelautan telah menjadi salah satu andalan bagi pertumbuhan ekonomi
nasional.

Namun demikian, terdapat berbagai permasalahan seperti permasalahan lingkungan fisik


perairan yang disebabkan oleh berbagai bentuk pencemaran, perrmasalahan ekonomi
masyarakat, permasalahan sosial dan budaya yang berimplikasi kepada aktivitas yang bersifat
mengganggu kelestarian sumberdaya, serta terbatasnya sarana dan prasarana penunjang.

Semuanya merupakan faktor-faktor yang menghambat pengembangan aktivitas


perekonomian di kawasan pulau-pulau kecil (Hutabarat dan Rompas 2007). Permasalahan
lainnya adalah

1. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 yang menggantikan


UU Pemerintahan Daerah yang lama. Perubahan ini di satu sisi akan meningkatkan efektivitas
pengelolaan perairan itu sendiri karena tidak lagi terbagi-bagi antara kabupaten/kota dengan
pemerintah provinsi. Di sisi lain akan menimbulkan permasalahan kompleks dalam pengelolaan
pulau-pulau kecil.

Dengan UU ini, akan terjadi dualisme perencanaan pada ekosistem pulau-pulau kecil tersebut
di mana perairannya menjadi bagian dari perencanaan provinsi sedangkan daratannya
perencanaannya dikeluarkan oleh kabupaten.

2. Kontribusi keberadaan pulau-pulau kecil masih membutuhkan ekstra perhatian yang lebih
khusus kepada warga di wilayah pulau-pulau kecil. Masih terdapat persoalan yang kompleks dan
dinamis membelenggu masyarakat kepulauan, beberapa di antaranya yaitu

a. Belum adanya definisi operasional yang mampu mengakomodir keberadaan pulau-pulau


kecil secara utuh sehingga tidak jarang di lapangan masih sering terjadi perdebatan, multitafsir,
dan asimetris informasi terkait pulau-pulau kecil. Dan yang lebih memprihatinkan adalah
perbedaan cara pandang tersebut ikut mempengaruhi intervensi dari pemerintah dan lembaga
terkait lainnya kepada warga kepulauan.

Baik intervensi ekonomi, pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia serta
kolaborasi dalam mendorong pembangunan bagi warga kepulauan;

b. Ketersediaan data dan informasi yang komprehensif serta akurat tentang pulau kecil
sepertinya masih belum menjadi prioritas utama bagi pihak-pihak yang berwenang terhadap
pembangunan warga kepulauan. Jika hal ini terus dibiarkan, akan sangat menghambat proses
perencanaan dan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia yang notabene bersumber dari
informasi yang lengkap dan akurat;

c. Terdapat ancaman geopolitik dan pertahanan keamanan bagi warga kepulauan karena letak
dan posisi pulau-pulau terluar Indonesia sangat minim dari sentuhan pembangunan dan
pelayanan dasar yang memadai, memaksa warga kepulauan untuk hidup dalam keterbatasan.
Tidak jarang mereka mendapatkan bantuan dari negara lain yang memiliki kedekatan secara
geografis dengan wilayahnya sehingga dapat memunculkan kekhawatiran jika situasi tersebut
terus dipertahannkan akan dapat mengikis nasionalisme warga kepulauan yang memang minim
perhatian;

d. Ketimpangan alokasi pembangunan yang masih berorientasi pada pendekatan mindland


ikut memperburuk nasib warga kepulauan di mana alokasi pembangunan masih memprioritaskan
pada perhitungan luas daratan dan sedikit untuk luas perairannya. Hal ini berimplikasi terjadinya
disparitas pertumbuhan wilayah kepulauan yang notabene merupakan daerah yang memerlukan
perhatian khusus;

e. Dalam pengelolaan potensi pulau-pulau kecil, pertimbangan wilayah, cakupan dampak


(ekologi, ekonomi, sosial) serta kemampuan ekosistem dalam menopang aktivitas eksploitasi
semestinya menjadi dasar perencanaan yang harus dipatuhi. Namun dalam praktiknya, banyak
aktivitas eksploitasi di kawasan pulau-pulau kecil tidak mengindahkan pertimbangan-
pertimbangan tersebut.
Orientasi pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu alasan yang digunakan untuk menabrak
peraturan pemerintah lainnya yang bersifat membatasi. Hasilnya bisa dipastikan selain dapat
menimbulkan bencana ekologis juga akan merusak pranata sosial warga kepulauan;

f. Sebagai bagian dari ekosistem global, ancaman ekologis yang tinggi juga dihadapi oleh
warga kepulauan baik berupa perubahan iklim, kenaikan muka air laut, degradasi lingkungan,
perubahan suhu ekstrem yang ikut mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi warga
kepulauan yang notabene ruang geraknya terbatas.

Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan

1. Pengelolaan pulau-pulau kecil bisa berjalan baik maka aturan UU Nomor 27 Tahun 2007
serta perubahannya UU Nomor 1 Tahun 2014, harus ditegakkan. Pengelolaan pulau-pulau kecil
harus secara terintegrasi dan satu pintu. Tidak bisa dipecah-pecah berdasarkan kewenangan.

Pemerintah pusat menetapkan norma, standar, dan prosedur yang mengatur integrasi
pengelolaan pulau-pulau kecil sebagai implikasi dari pelaksanaan UU Nomor 23 Tahun 2014;

2. Sebagai bagian dari ekosistem kepulauan maka pulau-pulau di Indonesia termasuk pulau
kecil harus memiliki peran, posisi, serta potensi yang sangat strategis untuk menjamin
keberlanjutan pembangunan Indonesia sebagai bangsa yang utuh dan berdaulat. Selama ini,
kontribusi yang sangat tinggi telah diberikan daerah-daerah kepulauan dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keamanan bangsa, baik dari sektor pariwisata, industri
bahari, pertambangan, jasa lingkungan, energi dan pertahanan.

Dengan potensi kekayaan alam yang bersumber dari sektor perikanan, wisata bahari, minyak
bumi, dan transportasi laut, sudah semestinya seluruh warga kepulauan memiliki tingkat
kesejahteraan yang tinggi;

3. Implementasi pengelolaan pulau-pulau kecil menghadapi berbagai perubahan dan ancaman


yang cukup kompleks, baik dari aspek ekologi, ekonomi, sosial, pertahanan keamananan, serta
politik nasional maupun internasional. Untuk mengantisipasinya, pengelolaan pulau-pulau kecil
harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Untuk itu, kebijakan dan strategi nasional
harus mampu menyentuh persoalan-persoalan yang sifatnya fundamental.
Dengan tetap mengedepankan prinsip keterpaduan di mana masing-masing pihak dapat
bekerja sama dan menjamin pembagian yang adil (fair sharing) terhadap fungsi manajemen,
pembagian hak dan tanggung jawab dalam pengelolaan wilayah pulau pulau kecil;

4. Sinergisitas wilayah, integrasi keilmuan, koordinasi antar-aktor, serta komitmen sektor


yang terkait menjadi kunci untuk mendorong pembangunan wilayah kepulauan yang optimal dan
berkelanjutan. Hal ini sesuai mandat UU Nomor 27 Tahun 2007 yang menegaskan bahwa
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan suatu proses perencanaan,
pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil antar-
sektor, antara pemerintah dan pemerintah daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara
ilmu pengetahuan dan manajemen.
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Pengembangan suatu wilayah kepulauan yang ada di Indonesia tidak terlepas juga dari
bentuk bentang alam atau morfologinya terutama dalam pengembangan ekowisata sebab
morfologi ataw bentang alam adalah salah satu factor penting dalam pengembangan eko wisata
terutama daerah kepulauan seperti yang ada sekatrang di darah muna dengan bentuk morfologi
karstnya walaupun dalam pengenmbanganya masih banyak mendapat hambatan. pemanfaatan
potensi pulau-pulau kecil harus dilakukan dengan perencanaan optimal, dilakukan secara
terintegrasi dan berkelanjutan sesuai peraturan perundangan yang berlaku agar upaya pelestarian
alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat segera terwujud. Jika upaya ini menjadi
kenyataan maka julukan Indonesia sebagai negara kepulauan memang pantas untuk disematkan
kepada negeri yang bernama Indonesia.

2. SARAN

Saran dari penulisan makalah ini agar pemerintah diharapkan partisipasi dan dukungan
kabupaten setempat di harapkan mampu mendukung realisasi pengembangan ekowisata. Dan
juga bagi pemerintah setempat perlu adanya sosialisasi dan penyuluhan pada masyarakat
mengenai pengembangan Ekowisata berdasarkan karateristik bentuk atau bentang lahan.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin Samsul. 2016. Model Perencanaan Pengembangan wilayah Agro Industri Berdasarkan
Analisis Penginderaan Jauh dan SIG. Jurnal Model Perencanaan Pengembangan
Wilayah.1(1) : 16 September 2021

Bermana Ike. 2016. Klasifikasi Geomorfologi Untuk Pemetaan Geologi Yang Telah Dibakukan.
Jurnal Bulletin of Scientific Contribution. 4(2). : 16 September 2021

Harun Uton Rustan. 2016. Model Perencanaan Pengembangan Wilaya Kepulauan Nusa
Tenggara. 10(1). : 18 September 2021

Hasmunir. 2017. Materi Pembelajaran Geomorfologi Untuk Program Studi Pendidikan Geografi.
Jurnal Pendidikan Geosfer. 2(2): 18 September 2021

Haryono Eko dan Tjahyo Nugroho Adji. 2020. Geomorfologi Dan Hidrologi Karst. Jurnal
Bahan Ajar. 7(2): 19 September 2021

Iwan Nugroho, 2019. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kuntowijoyo. 2020. Mengelola Pulau-Pulau Kecil Berbasis Ekowisata. Jurnal Marine. 4(2): 19
September 221

Kurnianto Fahmi Arif. 2019. Proses Geomorfologi dan Kaitannya dengan Tipologi Wilayah.
Jurnal Kelompok Riset Basis Data Sistem Informasi Geografis Universitas Jember. 5(2):
17 September 2021

Monica Mery. 2020. Perencanaan Dan Pengembangan Wilayah Berbasis Sektor Ekonomi
Unggulan Di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan
Geografi. 4(2): 19 September 2021

Fahad Nuraini. 2018. Kajian Karakteristik dan Potensi Kawasan Karst untuk Pengembangan
Ekowisata di Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Program Studi Pendidikan
Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negri Yogyakata. Yogyakarta 2018

Nuriyanto Muhammad Zaid. Fahrul Agil Firmansyah. Dan Ica Prasetyono. 2019. Analisis
Bentang Geomorfologi Terhadap Pengembangan Wilayah. Program Studi Pendidikan
Geografi. Universitas Jember. Indonesia. Jember 2019

Anda mungkin juga menyukai