0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan4 halaman

Teori dan Dampak Cyberbullying di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang teori cyberbullying, dampaknya, unsur-unsur pelaku dan korban, serta berbagai definisi cyberbullying menurut para ahli. Dokumen juga membahas hubungan antara cyberbullying dengan sila ke-2 Pancasila tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, serta menampilkan data survei dan grafik mengenai kasus cyberbullying.

Diunggah oleh

Alariq Joe
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan4 halaman

Teori dan Dampak Cyberbullying di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang teori cyberbullying, dampaknya, unsur-unsur pelaku dan korban, serta berbagai definisi cyberbullying menurut para ahli. Dokumen juga membahas hubungan antara cyberbullying dengan sila ke-2 Pancasila tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, serta menampilkan data survei dan grafik mengenai kasus cyberbullying.

Diunggah oleh

Alariq Joe
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAMPIRAN

1. Teori Cyberbullying
Cyberbullying adalah perilaku atau tindakan yang ditujukan kepada seseorang
secara berulang dengan sengaja, dengan cara mengirimkan pesan teks, email, gambar
atau video melalui media internet atau teknologi digital lainnya, dengan tujuan untuk
menghina, memaki, mempermalukan dan mengancam.1 Cyberbullying memiliki
dampak yang sangat tidak baik bagi korban, antara lain; harga diri rendah, penurunan
nilai, depresi kegelisahan, tidak tertarik pada aktivitas yang dahulunya dapat
dinikmati, ketidak-bermaknaan, penarikan diri dari teman, menghindari sekolah atau
kelompok bermain, bahkan perubahan suasana hati, perilaku, pola tidur dan nafsu
makan.

Cyberbullying terdiri dari beberapa individu yang berperan, ada yang disebut
pelaku, target, dan orang sekitar yang menyadari adanya bullying, komposisinya sama
seperti bullying di dunia nyata.2 Target adalah sasaran, sering kali diidentifikasi
sebagai korban. Diluar pelaku dan target, ada individu lain yang tercakup atu
berpartisipasi mendukung bullying yang dinamakan dengan istilah Bystanders.
Bystanders dapat pula dibagi menjadi bystander yang ikut berpartisipasi dengan
pelaku untuk melecehkan target atau yang tidak melakukan apapun.

Teori Cyberbullying menurut para ahli:


1. Menurut Willard (2005), cyberbullying adalah perlakuan kejam yang
dilakukan dengan sengaja kepada orang lain dengan mengirimkan atau
mengedarkan bahan yang berbahaya atau terlibat dalam bentuk-bentuk
agresi sosial menggunakan internet atau teknologi digital lainnya.3

2. Menurut Nurjanah (2014), cyberbullying adalah perilaku agresif, intens,


berulang yang dilakukan oleh individu dan perorangan dengan
menggunakan bentuk-bentuk pemanfaatan teknologi dan elektronik
sebagai media untuk menyerang orang tertentu. 

1
Sheri Bauman, Donna Cross and Jenny Walker, Principles of Cyberbullying (New York: Taylor and
Francis Group,2013), 23.
2
Terry Brequet, Cyberbullying (USA:Rosyen Publishing, 2010),37).
3
Nancy E Willard, Cyberbullying and Cyberhearts (USA: Malloy, 2011), 6.
3. Menurut Bauman (2008), cyberbullying adalah penggunaan dari teknologi
komunikasi modern yang ditujukan untuk mempermalukan, menghina,
mempermainkan atau mengintimidasi individu untuk menguasai dan
mengatur individu tersebut.

4. Menurut William dan Guerra (2007), cyberbullying adalah suatu tindakan


yang ditujukan kepada seseorang melalui pesan teks, email, pesan gambar
atau video yang bertujuan untuk mengolok-olok, memaki dan
mengancam. 

5. Menurut Kowalski, dkk (2007),cyberbullying merupakan agresi yang


dilakukan dengan sengaja dan berulang kali dilakukan dalam konteks
elektronik (seperti, email, blog, pesan instan, pesan teks) terhadap
seseorang yang tidak dapat dengan mudah membela dirinya.

2. Cyberbullying Ditinjau dari Sila ke-2 Pancasila


Cyberbullying memang sedang marak terjadi di Indonesia, terutama di
kalangan remaja.4 Namun, Cyber-bullying ini tidak sesuai dengan sila ke 2 pancasila,
yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Pembullyan merupakan tingkah laku yang
tidak beradab karena memberi kata-kata yang tidak baik kepada orang lain
menunjukkan bahwa kita tidak punya adab dalam berkomunikasi dan bersosialisasi.
Orang yang beradab tentu akan memikirkan segala kata-kata yang ia ucapkan, apakah
akan menyakiti orang lain atau tidak. Penbullyan merupakan sikap yang tidak
memanusiakan manusia. Sebagai sesama manusia seharusnya kita saling
menghormati dan menghargai bukan malah saling menjelek-jelekkan satu sama
lain.Inilah pentingnya menerapkan pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
pancasila terkandung nilai-nilai luhur yang dapat menjadi filter terhadap arus negatif
kemajuan teknologi saat ini. Jika kita menerapkan pancasila sebagai pandangan hidup,
niscaya akan tercipta kehidupan yang baik dan membawa kita untuk mencapai tujuan
bangsa.

3. Teori Ahli Tentang Cyberbullying Dikatikan Dengan Sila ke-2 Pancasila


4
Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, Kenakalan Remaja (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), 88.
Pada teori diatas, dikatakan oleh seorang ahli yaitu Willard (2005) bahwa,
cyberbullying adalah perlakuan kejam yang dilakukan dengan sengaja kepada orang
lain dengan mengirimkan atau mengedarkan bahan yang berbahaya atau terlibat
dalam bentuk-bentuk agresi sosial menggunakan internet atau teknologi digital.5
Dalam teori tersebut, perlu di garis bawahi kata “Perlakuan Kejam”. Hal itu sangat
bertentangan dengan sila ke-2 dalam pancasila. Memperlakukan orang lain dengan
kejam dengan tujuan menghina, dan merendahkan martabat orang tersebut sama
sekali tidak mencerminkan sebagai manusia yang beradab. Karena, manusia yang
beradab sejatinya orang yang bisa menghargai orang lain, dan tidak pernah merugikan
orang lain.

4. Data dan Grafik Mengenai Kasus Cyberbullying


Survey dilakukan terhadap terhadap 126 pembaca majalah Kawanku dalam kutipan
buku Celebrate Your Wierdness dalam (Nurjanah, 2014) bahwa:
1. 69.84% pernah merasakan menjadi korban cyberbullying melalui twitter dan
facebook
2. 2% mengaku pernah menjadi pelaku cyberbullying di twitter dan facebook.
3. Tindakan cyberbullying yang paling banyak diterima adalah cyberbullying berupa
tulisan atau komentar, 53.97% mengaku pernah diejek dengan kata-kata kasar.
4. Dampak yang paling nyata yang dialami korban adalah 38,10% mengaku merasa
terasing dan merasa tidak punya teman.

Gambar 1 Survei APJII: 49% Pengguna Internet Pernah Dirisak di Medsos

Gambar 2 Grafik Analisis Cyberbullying (Singhal, 2013)


5
Nancy E Willard, Cyberbullying and Cyberhearts (USA: Malloy, 2011), 6.
Gambar 3 Grafik Analisis Cyberbullying (2015)

Gambar 4 Pengguna Media Sosial di Indonesia

Anda mungkin juga menyukai