Anda di halaman 1dari 12

PENGKAJIAN PERTUMBUHAN DENGAN FORM WHO NCHS CDC2000

Grafik pertumbuhan yang paling umum digunakan di Amerika Serikat adalah Grafik dari
National Center for Health Statistik untuk anak laki-laki dan perempuan.
Parameter pertumbuhan fisik meliputi berat badan, tinggi badan, ketebalan lipatan kulit
dan lingkar lengan , dan lingkar kepala. Nilai untuk parameter pertumbuhan ini telah
digambarkan dalam grafik persentil dan pengukuran anak dalam persentil dibandingkan
dengan populasi secara umum.

Pengukuran Berat Badan


• Pengukuran berat badan berdasarkan usia menggunakan persentil sebagai berikut :
persentil 50-30 dikatakan normal, sedangakn persentil kurang atau sama dengan tiga
termasuk malnutrisi.
• Penilaian berat badan berdasarkan tinggi menggunakan persentase dari median sebagai
berikut 80-100% dikatakan malnutrisi sedang dan kurang dari 80% dikatakan malnutrisi
akut (wasting)
• Penilaian berat badan berdasarkan tinggi badan menurut standar baku NCHS yaitu
menggunakan persentil sebagai berikut : persentil 75-25 dikatakan normal, persentil 10-5
dikatakan malnutrisi sedang, dan kurang dari persentil 5 dikatakan malnutrisi berat.
• Selain penggunaan standar baku NCHS juga dapat digunakan Kartu Menuju Sehat
(KMS). Sebagaimana penelitian Anwar (2003) dengan adanya KMS perkembangan anak
dapat dipantau secara praktis, sederhana, dan mudah.

Pengukuran Tinggi Badan


Pengukuran ini digunakan untuk menilai status perbaikan gizi, dapat dilakukan dengan
sangat mudah dalam menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penilaian
TB berdasarkan usia menurut WHO dengan standar baku NCHS yaitu dengan
menggunakan persentase dari median sebagai berikut :Lebih dari atau sama dengan 90%
dikatakan normal sedangkan kurang dari 90% dikatakan malnurtisi Kronis atau abnormal.

Ketebalan Lipatan Kulit dan Lingkar Lengan


Dianjurkan sebagai pengukuran rutin ketebalan lipatan kulit diukur dengan caliper khusus
seperti caliper lange. Tempat yang paling sering digunakan untuk mengukur ketebalan
lipatan kulit adalah trisep, subscapula, supra iliaka, abdomen dan paha atas. Prosedur
pengukuran yang tepat harus dilakukan rata-rata dua kali pengukuran pada satu tempat
yang sama dan harus dicatat (lihat kotak pedoman). Lingkar lengan adalah pengukuran
tidak langsung terhadap masa otot. Pengukurab lingkar lengan mengikuti prosedur yang
sama dengan ketebalan lipatan kulit kecuali pengukuran titik tengah dengan menggunakan
sehelai kertas atau meteran longam.
• Letakkan meteran secara vertical sepanjang bagian posterior lengan atas ke prosesus
acromial dan proseksus olecranon, setengah dari panjang hasil pengukuran adalah titik
tenghahnya.
Persentil untuk lipatan kulit trisep dan lingkar lengan pada anak terdapat dalam apendiks
D dan dapat digunakan sebagai rujukan. Tapi itu bukan merupakan standar atau norma
kerena nilai antara persentil 5 dan 95 bukan merupakan rentang normal.

Lingkar Kepala
Ukur lingkar kepala pada anak sampai berusia 36 bulan dan pada anak-anak yang memiliki
masalah pada ukuran kepalanya. Ukur lingkar kepala pada ukuran terbesarnya, biasanya
sedikit diatas alis mata dan daun telinga dan mengelilingi prominen oksipital dibelakang
tengkorak. Karena bentuk kepala dapat mempengaruhi lokasi lingkaran yang maksimum,
maka perlu dilakukan pengukuran lebih dari satu kali pada titik diatas alis mata. Untuk
mendapatkan hasil pengukuran yang paling akutrat.gunakan selembar kertas atau
meteran logam karena meteran yang terbuat dari kain dapat meregang dan memberikan
pengukuran yang salah. Supaya hasil pengukuran benar-benar akurat, gunakan alat
pengukur dengan skala 0.1 cm , karena grafik persentil hanya berskala 0,5 cm.
Tandai ukuran kepala pada grafik pertumbuhan yang tepat dibawah lingkar kepala. Secara
umum, lingkar kepala dan lingkar dada sama pada usia 1-2 tahun. Selama masa kanak-
kanak, lingkar dada melebihi ukuran kepala sekitar 5-7 cm (2-3 inci).
Baku patokan
Bebertapa baku antropometrik berat badan dan tinggi badan yang dikenal saat ini adalah
sebagai berikut7,8,9,10
a. Baku Boston atau Harvard
Baku Harvard disusun berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian Stuart (1930-1939)
pada sejumlah anak Kaukasia dengan gisi relatif baik di Ameriksa Serikat. Baku Harvard
dipergunakan secara luas pada kartu pertumbuhan di Amerika Latin dan Asia.
b. Baku Tanner
Data yang dipergunakan pada baku Tanner diperoleh dari penelitian di berbagai negara di
Eropa yaitu Perancis, Belanda, Swedia, Swiss, dan Inggris. Baku Tanner ini dipakai sebagai
baku pertumbuhan untuk Inggris oleh International Children.s Centre UK Study. David
Morley, tahun 1975 menggunakan baku Tanner untuk menyusun kartu pertumbuhan anak
pertama yang dikenal dengan Rood to Health Chart.
c. Hasil penelitian di Indonesia
Jumadias tahun 1964 mengumpulkan data berat dan tinggi badan anak usia 6-18 tahun
dengan menggunakan persentil. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan persentil ke-
50 Jumadias berada di bawah 80% persentil ke-50 NCHS. Sedangkan persentil ke-90
Jumadias berada pada persentil ke-50 NCHS.
Husaini YK, dkk, mengumpulkan data berat dan panjang badan bayi usia 0-12 bulan serta
berat dan tinggi badan anak usia 12-60 bulan di Klinik gizi Bogor periode 1970-1984
sebagai bahan referensi antropometrik nasional.
d. Baku NCHS
Baku NCHS pertama tahun 1977 disusun berdasarkan data berat badan, tinggi badan pada
populasi di Amerika sejak tahun 1860 yang dikumpulkan oleh National Health and Nutrition
Examination Survey (NHANES) secara berkala. Baku NCHS ini dipakai oleh WHO.
e. CDC 2000
Kurva CDC, dipublikasikan pada bulan Mei 2000, merupakan perbaikan/revisi dari Kurva
yng dibuat olleh National Center for Health Statistics (NCHS) pada tahun 1977 dan
terdapat tambahan berupa Kurva Indeks Masa Tubuh terhadap umur. CDC menganjurkan
penggunakan kurva IMT/U untuk semua anak berusia 2 samapi 20 tahun menggantikan
kurva sebelumnya (1977) berat terhadan umur

DETEKSI PERTUMBUHAN MENGGUNAKAN CDC 2000


Langkah deteksi pertumbuhan menggunakan CDC 20008,10
A. Hitung Umur Anak
Cara menghitung umur anak adalah dengan cara mengurangi tanggal pemeriksaan
terhadap tanggal lahir.
Mengihitung umur anak yang lahir prematur
Untuk bayi prematur, dalam mengukur berat, panjang dan lingkaran kepala harus
digunakan umur koreksi sampai anak berusia 2 tahun. Cara menghitung umur koreksi
adalah dengan cara mengurangi umur kronologis terhadap jumlah minggu prematur.
Contoh:
Bayi Ani lahir pada tanggal 20 Desember 2002, lahir dengan umur gestasi 33 minggu,
dengan berat lahir 2000 gram.

Tanggal pemeriksaan 5 Juli 2004 2004 07 05


Tanggal lahir 20 Desember 2002: 2002 12 20
Umur kronologis: 1 06 15
Prematur 7 minggu: 01 21
Umur koreksi: 1 04 24
Umur anak adalah 1 tahun, 4 bulan, 24 hari dan diplot pada 16 ½ bulan

Plot hasil pengukuran ke dalam Kurva Pertumbuhan


CDC menyediakan 2 macam Kurva, yiatu Kurva Individual dan Kurva Klinik. Kurva klinik
digunakan oleh petugas kesehatan yang merupakan gabungan beberapa kurva Individual:
Kurva Klinik
Umur 0-36 bln: BB/U; TB/U; BB/TB; LK/U
Umur 2-20 th: BB/U; TB/U; IMT/U

Tabel 1. Kurva Klinik CDC 2000


Jenis kelamin dan umur Kurva
Laki-laki, lahir sampai 36 bulan PB/U dan BB/U ,BB/TB dan LK/U
Perempuan, lahir sampai 36 bulan PB/U dan BB/U, BB/TB dan LK/U
Laki-laki, 2 - 20 tahun TB/U dan BB/U, IMT/U
Perempuan, 2 – 20 tahun TB/U dan BB/U, IMT/U

Menilai hasil pertumbuhan


Dalam menilai pertumbuhan diperlukan beberapa kali pengukuran, hal ini untuk melihat
arah pertumbuhan. Pada neonatus sebaiknya dilakukan pada minggu ke-1, ke-2 dan ke-4,
selanjutnya dianjurkan melakukan pengukuran antropometri setiap bulan satu kali.
Berikut di bawah ini beberapa kriteria yang digunakan untuk menilai bahwa terdapat
masalah dalam pertumbuhan.
1. Hasil pengukuran PB/U; TB/U; BB/TB; IMT/U di bawah persentil 5
2. Arah pertumbuhan menurun melewati dua batas persentil, misalnya dari persentil 75
turun menjadi persentil 25 dalam beberapa bulan pengamatan
3. Kecepatan pertumbuhan di bawah persntil 5
Pada kurva CDC hanya dapat menggunakan kriteria 1 dan 2.
Tabel 2. Indikator Status Gizi
Indeks antropometri Batasan Indkiator status gizi
IMT/U > 95th Overweight
BB/PB; BB/TB > 95th Overweight
IMT/U > 85th dan < 95th Risiko Overweight
IMT/U; BB/PB < 5th Underweight
TB/U; PB/U < 5th Short stature
LK/U < 5th ; >95th Masalah perkembangan

Konsep status gizi

2.1.1 Definisi

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk

anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga

didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara

kebutuhan dan masukan nutrient. Penelitian status gizi merupakan pengukuran

yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit.(Beck,

2000).

2.1.2 Pengukuran status gizi

a. Pengukuran status gizi dengan menggunakan KMS (Kartu Menuju

Sehat)

1) Definisi

KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang

sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau

kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus

disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali

mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk

bidan dan dokter.


KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan

keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi

kesalahan atau ketidakseimbangan pemberian makan pada anak.

KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas

kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan

kondisi kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan,

meningkatkan atau memulihkan kesehatan- nya.

KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan

anak, imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A,

kondisi kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan

Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke

Puskesmas/ Rumah Sakit.

KMS juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi

orang tua balita tenta ng kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000).

2) Manfaat KMS (Kartu Menuju Sehat)

Manfaat KMS adalah :

a) Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan

balita secara lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan,

pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul

vitamin A, kondisi kesehatan pemberian ASI eksklusif, dan

Makanan Pendamping ASI.

b) Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan

anak

c) Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas

untuk menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan

kesehatan dan gizi.

(Depkes RI, 2000)

3) Cara Memantau Pertumbuhan Balita

Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang,

hasil penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS

dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini

dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan

anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang

sehat, berat badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan

sesuai dengan umurnya (Depkes RI, 2000).

a) Balita naik berat badannya bila :


(1) Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita
warna, atau
(2) Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna diatasnya.

Gambar 2.1. Indikator KMS bila balita naik berat badannya


b) Balita tidak naik berat badannya bila :

Garis pertumbuhannya turun, atau

Garis pertumbuhannya mendatar, atau

Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya.

Gambar 2.2. Indikator KMS bila balita tidak naik berat badannya

c) Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan balita

mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus,

sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

Gambar 2.3. Indikator KMS bila berat badan balita dibawah garis merah
d) Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak nail (3T), artinya

balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus

langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

Gambar 2.4. Indikator KMS bila berat badan balita tidak stabil

e) Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap

bulannya.

Gambar 2.5. Indikator KMS bila berat badan balita naik setiap bulan

f) Balita sehat, jika : Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu

pita warna atau pindah ke pita warna diatasnya.


Gambar 2.6. Indikator KMS bila pertumbuhan balita sehat

b. Pengukuran status gizi dengan NCHS


Kriteria keberhasilan nutrisi ditentukan oleh status gizi :
1) Gizi baik, jika BB menurut umur > 80% standart WHO – NHCS.
2) Gizi kurang, jika berat badan menurut umur 61% sampai 80% standart
WHO – NHCS.

3) Gizi buruk, jika berat badan menurut umur ≤ 60%

standart WHO – NHCS.

( Supariasa, 2002)
Rumus Antropometri pada anak : ( Soetjiningsih : 1998).

1) Berat badan
Umur 1 – 6 tahun = ( tahun ) x 2 + 8

2) Tinggi badan
Umur 1 tahun = 1,5 x tinggi badan lahir
Umur 2 – 12 tahun = umur ( tahun ) x 6 + 77

2.1.3 Manfaat nutrisi

a. Nutrisi untuk pertumbuhan

Dengan makanan bergizi, tubuh manusia tumbuh dan dipelihara. Semua

organ tubuh dapat berfungsi dengan baik. Bagian tubuh yang rusak diganti.

Kulit dan rambut terus berganti, sel – sel tubuh terus bertumbuh. Sel-sel

tubuh memasak dan mengolah zat makanan yang masak agar zat makanan

dapat dipakai untuk pekerjaan tubuh.

b. Makanan sebagai suku cadang

Makanan juga bermanfaat untuk memulihkan badan yang baru sembuh

dari sakit. Selama sakit banyak bagian tubuh yang rusak. Mungkin juga
sebagian selnya mati. Selama orang juga kurang makan sehingga tubuh

kekurangan berbagai zat makanan yang dibutuhkannya. Mungkin juga

banyak kehilangan darah sehingga makin lama sakit berlangsung, makin

banyak zat makanan yang harus ditambahkan.

Untuk itu, setelah sakit kita perlu banyak makan makanan bergizi.

Begitu juga untuk yang menjalani operasi atau yang baru melahirkan.

c. Makanan sebagai bensin tubuh

Makanan juga dibutuhkan untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti

mandi, menyapu, juga berkebun. Dalam keadaan tidurpun tubuh tetap

membutuhkan tenaga untuk bernafas, degup jantung, serta tenaga

memasak zat makanan dan memakainya. Namun, makanan perlu

diatur agar sesuai dengan kebutuhan tubuh. Jumlahnya harus memadai, dan

mutunya sesuai dengan kebutuhan sehari-hari (Nadesul, 2001).


BAB II
ISI
DEFINISI MTBS
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of
Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu
dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-
59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program
kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Konsep
pendekatan MTBS yang pertama kali diperkenalkan oleh WHO merupakan
suatu bentuk strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk
menurunkan angka kematian, kesakitan dan kecacatan bayi dan anak balita
di negara-negara berkembang.
Pendekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan
dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll).
Upaya ini tergolong lengkap untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang
sering menyebabkan kematian bayi dan balita di Indonesia. Dikatakan
lengkap karena meliputi upaya preventif (pencegahan penyakit), perbaikan
gizi, upaya promotif (berupa konseling) dan upaya kuratif (pengobatan)
terhadap penyakit-penyakit dan masalah yang sering terjadi pada balita.
Strategi MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
1. Komponen I: Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam
tatalaksana kasus balita sakit (selain dokter, petugas kesehatan non-dokter
dapat pula memeriksa dan menangani pasien asalkan sudah dilatih).
2. Komponen II: Memperbaiki sistem kesehatan (utamanya di tingkat
kabupaten/kota).
3. Komponen III: Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam
perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit
(meningkatkan pemberdayaan keluarga dan masyarakat), yang dikenal
sebagai 'MTBS berbasis Masyarakat.'

SEJARAH PENERAPAN MTBS DI INDONESIA


Strategi MTBS mulai diperkenalkan di Indonesia oleh WHO pada tahun 1996.
Pada tahun 1997 Depkes RI bekerjasama dengan WHO dan Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI) melakukan adaptasi modul MTBS WHO. Modul tersebut
digunakan dalam pelatihan pada bulan November 1997 dengan pelatih dari
SEARO. Sejak itu penerapan MTBS di Indonesia berkembang secara bertahap
dan up-date modul MTBS dilakukan secara berkala sesuai perkembangan
program kesehatan di Depkes dan ilmu kesehatan anak melalui IDAI.
Hingga akhir tahun 2009, penerapan MTBS telah mencakup 33 provinsi,
namun belum seluruh Puskesmas mampu menerapkan karena berbagai
sebab: belum adanya tenaga kesehatan di Puskesmasnya yang sudah terlatih
MTBS, sudah ada tenaga kesehatan terlatih tetapi sarana dan prasarana
belum siap, belum adanya komitmen dari Pimpinan Puskesmas, dll. Menurut
data laporan rutin yang dihimpun dari Dinas Kesehatan provinsi seluruh
Indonesia melalui Pertemuan Nasional Program Kesehatan Anak tahun 2010,
jumlah Puskesmas yang melaksanakan MTBS hingga akhir tahun 2009
sebesar 51,55%. Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS bila
memenuhi kriteria sudah melaksanakan (melakukan pendekatan memakai
MTBS) pada minimal 60% dari jumlah kunjungan balita sakit di Puskesmas
tersebut.
LATAR BELAKANG PERLUNYA PENERAPAN MTBS DI INDONESIA
Menurut data hasil Survei yang dilakukan sejak tahun 1990-an hingga saat ini
(SKRT 1991, 1995, SDKI 2003 dan 2007), penyakit/masalah kesehatan yang
banyak menyerang bayi dan anak balita masih berkisar pada
penyakit/masalah yang kurang-lebih sama yaitu gangguan perinatal,
penyakit-penyakit infeksi dan masalah kekurangan gizi.
Penyebab kematian neonatal (bayi berusia 0-28 hari) menurut Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dapat dilihat pada tabel dibawah
ini.

Tabel proporsi penyebab kematian neonatal di Indonesia tahun 2007


Sumber: Badan Litbangkes, Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007

Sedangkan penyebab kematian bayi dan anak balita menurut Riskesdas


2007, pada kelompok bayi (29 hari - 11 bulan) dan kelompok anak balita (12
bulan - 59 bulan) ada dua penyebab kematian tersering yaitu diare dan
pneumonia. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel proporsi penyebab kematian bayi dan anak balita di Indonesia tahun
2007
Sumber: Badan Litbangkes, Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007

Penyakit-penyakit penyebab kematian tersebut pada umumnya dapat


ditangani di tingkat Rumah Sakit, namun masih sulit untuk tingkat
Puskesmas. Hal ini disebabkan antara lain karena masih minimnya
sarana/peralatan diagnostik dan obat-obatan di tingkat Puskesmas terutama
Puskesmas di daerah terpencil yang tanpa fasilitas perawatan, selain itu
seringkali Puskesmas tidak memiliki tenaga dokter yang siap di tempat setiap
saat. Padahal, Puskesmas merupakan ujung tombak fasilitas kesehatan yang
paling diandalkan di tingkat kecamatan. Kenyataan lain di banyak provinsi,
keberadaan Rumah Sakit pada umumnya hanya ada sampai tingkat
kabupaten/kota sedangkan masyarakat Indonesia banyak tinggal di
pedesaan.
Berdasarkan kenyataan (permasalahan) di atas, pendekatan MTBS dapat
menjadi solusi yang jitu apabila diterapkan dengan benar (ketiga komponen
diterapkan dengan maksimal). Pada sebagian besar balita sakit yang dibawa
berobat ke Puskesmas, keluhan tunggal jarang terjadi. Menurut data WHO,
tiga dari empat balita sakit seringkali memiliki beberapa keluhan lain yang
menyertai dan sedikitnya menderita 1 dari 5 penyakit tersering pada balita
yang menjadi fokus MTBS. Hal ini dapat diakomodir oleh MTBS karena dalam
setiap pemeriksaan MTBS, semua aspek/kondisi yang sering menyebabkan
keluhan anak akan ditanyakan dan diperiksa.
Menurut laporan Bank Dunia (1993), MTBS merupakan jenis intervensi yang
paling cost effective yang memberikan dampak terbesar pada beban penyakit
secara global. Bila Puskesmas menerapkan MTBS berarti turut membantu
dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan dan membuka akses bagi
seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
terpadu. Oleh karena itu, bila anda membawa anak balita berobat ke
Puskesmas, tanyakanlah apakah tersedia pelayanan MTBS di Puskesmas itu?
bila ada, mintalah dilayani memakai pendekatan MTBS.

MTBS SANGAT COCOK DITERAPKAN DI PUSKESMAS


Pada sebagian besar balita sakit yang dibawa berobat ke Puskesmas, keluhan
tunggal kemungkinan jarang terjadi, menurut data WHO, tiga dari empat
balita sakit seringkali memiliki banyak keluhan lain yang menyertai dan
sedikitnya menderita 1 dari 5 penyakit tersering pada balita yang menjadi
fokus MTBS. Pendekatan MTBS dapat mengakomodir hal ini karena dalam
setiap pemeriksaan MTBS, semua aspek/kondisi yang sering menyebabkan
keluhan anak akan ditanyakan dan diperiksa.
Menurut laporan Bank Dunia (1993), MTBS merupakan jenis intervensi yang
cost effective yang memberikan dampak terbesar pada beban penyakit secara
global. Bila Puskesmas menerapkan MTBS berarti turut membantu dalam
upaya pemerataan pelayanan kesehatan dan membuka akses bagi seluruh
lapisan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terpadu.
Oleh karena itu, bila anda membawa anak balita berobat ke Puskesmas,
tanyakanlah apakah tersedia pelayanan MTBS disana.
MTBS SEBAGAI SUATU SISTEM
MTBS dalam kegiatan di lapangan khususnya di Puskesmas merupakan suatu
system yang mem permudah pelayanan serta meningkatkan mutu pelayanan.
Tabel di bawah ini dapat dilihat penjelasan MTBS merupakan suatu sistem.

1. Input
Balita sakit datang bersama kelaurga diberikan status pengobatan dan
formulir MTBS Tempat dan petugas : Loket, petugas kartu
2. Proses
• Balita sakit dibawakan kartu status dan formulir MTBS.
• Memeriksa berat dan suhu badan.
• Apabila batuk selalu mengitung napas, melihat tarikan dinding dada dan
mendengar stridor.
• Apabila diare selalu memeriksa kesadaran balita, mata cekung, memberi
minum anak untuk melihat apakah tidak bias minum atau malas dan
mencubit kulit perut untuk memeriksa turgor.
• Selalu memerisa status gizi, status imunisasi dan pemberian kapsul Vitamin
A
Tempat dan petugas : Ruangan MTBS, case manager
3.Output
Klasifikasi yang dikonversikan menjadi diagnosa, tindakan berupa pemberian
terapi dan konseling berupa nasehat pemberian makan, nasehat kunjungan
ulang, nasehat kapan harus kembali segera. Konseling lain misalnya kesehatn
lingkungan, imunisasi, Konseling cara perawatan di rumah. Rujukan
diperlukan jika keadaan balita sakit membutuhkan rujukan Tempat dan
petugas : Ruangan MTBS, case manager.
PENATALAKSANA BALITA SAKIT DENGAN PENDEKATAN MTBS
Berikut ini gambaran singkat penanganan balita sakit memakai pendekatan
MTBS. Seorang balita sakit dapat ditangani dengan pendekatan MTBS oleh
Petugas kesehatan yang telah dilatih. Petugas memakai tool yang disebut
Algoritma MTBS untuk melakukan penilaian/pemeriksaan dengan cara:
menanyakan kepada orang tua/wali, apa saja keluhan-keluhan/masalah anak
kemudian memeriksa dengan cara 'lihat dan dengar' atau 'lihat dan raba'.
Setelah itu petugas akan mengklasifikasikan semua gejala berdasarkan hasil
tanya-jawab dan pemeriksaan. Berdasarkan hasil klasifikasi, petugas akan
menentukan jenis tindakan/pengobatan, misalnya anak dengan klasifikasi
Pneumonia Berat atau Penyakit Sangat Berat akan dirujuk ke dokter
Puskesmas, anak yang imunisasinya belum lengkap akan dilengkapi, anak
dengan masalah gizi akan dirujuk ke ruang konsultasi gizi, dst.
Gambaran tentang begitu sistematis dan terintegrasinya pendekatan MTBS
dapat dilihat pada item di bawah ini tentang hal-hal yang diperiksa pada
pemeriksaan dengan pendekatan MTBS. Ketika anak sakit datang ke ruang
pemeriksaan, petugas kesehatan akan menanyakan kepada orang tua/wali
secara berurutan, dimulai dengan memeriksa tanda-tanda bahaya umum
seperti:
• Apakah anak bisa minum/menyusu?
• Apakah anak selalu memuntahkan semuanya?
• Apakah anak menderita kejang?
Kemudian petugas akan melihat/memeriksa apakah anak tampak
letargis/tidak sadar?
Setelah itu petugas kesehatan akan menanyakan keluhan utama lain:
• Apakah anak menderita batuk atau sukar bernafas?
• Apakah anak menderita diare?
• Apakah anak demam?
• Apakah anak mempunyai masalah telinga?
• Memeriksa status gizi
• Memeriksa anemia
• Memeriksa status imunisasi
• Memeriksa pemberian vitamin A
• Menilai masalah/keluhan-keluhan lain
Berdasarkan hasil penilaian hal-hal tersebut di atas, petugas akan
mengklasifikasi keluhan/penyakit anak, setelah itu melakukan langkah-
langkah tindakan/pengobatan yang telah ditetapkan dalam
penilaian/klasifikasi. Tindakan yang dilakukan antara lain:
• Mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah
• Mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah
• Menjelaskan kepada ibu tentang aturan-aturan perawatan anak sakit di
rumah, misal aturan penanganan diare di rumah
• Memberikan konseling bagi ibu, misal: anjuran pemberian makanan selama
anak sakit maupun dalam keadaan sehat
• Menasihati ibu kapan harus kembali kepada petugas kesehatan
• dan lain-lain
Selain itu di dalam MTBS terdapat penilaian dan klasifikasi bagi Bayi Muda
berusia kurang dari 2 bulan, yang disebut juga Manajemen Terpadu Bayi
Muda (MTBM). Penilaian dan klasifikasi bayi muda di dalam MTBM terdiri dari:
• Menilai dan mengklasifikasikan untuk kemungkinan penyakit sangat berat
atau infeksi bakteri
• Menilai dan mengklasifikasikan diare
• Memeriksa dan mengklasifikasikan ikterus
• Memeriksa dan mengklasifikasikan kemungkinan berat badan rendah dan
atau masalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Yang menarik disini, diuraikan
secara terperinci cara mengajari ibu tentang cara meningkatkan produksi
ASI, cara menyusui yang baik, mengatasi masalah pemberian ASI secara
sistematis dan terperinci, cara merawat tali pusat, menjelaskan kepada ibu
tentang jadwal imunisasi pada bayi kurang dari 2 bulan, menasihati ibu cara
memberikan cairan tambahan pada waktu bayinya sakit, kapan harus
kunjungna ulang, dll.
• Memeriksa status penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi.
• Memeriksa masalah dan keluhan lain.

CONTOH PENILAIAN ANAK SAKIT


Penilaian pertama yang dilakukan terhadap balita sakit adalah memeriksa
tanda bahaya umum, bila ditemukan satu atau lebih tanda-tanda bahaya
umum maka diklasifikasikan sebagai 'penyakit sangat berat'. Kemudian
dilanjutkan penilaian keluhan utama yang dimulai dengan pertanyaan 'apakah
anak menderita baruk atau sukar bernafas?' Bila ya, maka dihitung frekuensi
nafas anak permenit, memeriksa tanda-tanda pneumonia berupa adanya
tarikan dinding dada kedalam dan stridor. Penilaian: bila ada tanda bahaya
umum diikuti adanya tarikan dinding dada kedalam dan adanya stridor maka
anak diklasifikasikan sebagai 'pneumonia berat atau penyakit sangat berat'.
Bila hanya ada nafas cepat maka diklasifikasikan sebagai 'pneumonia', tetapi
bila tidak ada tanda-tanda pneumonia atau penyakit sangat berat maka
diklasifikasikan sebagai 'batuk: bukan pneumonia'. Selanjutnya menilai diare,
demam, dst.