Panduan Perawatan Pascamelahirkan
Panduan Perawatan Pascamelahirkan
Disusun Oleh :
HASAN MUAFFA
NIM :2021207209093
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROFESI (NERS)
2021/ 2022
LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MATERNITAS
1. Pengertian
a. Adaptasi Fisiologi
1. Pada Post Partum Proses Involusi Proses kembalinya uterus ke
keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi.
Proses dimulai setelah plasenta keluar akibat konstraksi otot-
otot polos
uterus. Pada akhir persalinan tahap III, uterus berada digaris
tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan fundus
bersandar pada promontorium sakralis. Ukuran uterus saat
kehamilan enam minggu beratnya kira-kira 1000 gr. Dalam
waktu 12 jam, tinggi fundus kurang lebih 1 cm diatas
umbilikus. Fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada
hari keenam fundus normal berada dipertengahan antara
umbilikus dan simfisis fubis. Seminggu setelah melahirkan
uterus berada didalam panggul sejati lagi, beratnya kira-kira
500 gr, dua minggu beratnya 350 gr, enam minggu berikutnya
mencapai 60 gr (Bobak,2004:493).
2. Konstraksi Uterus
Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi
lahir, diduga adanya penurunan volume intrauterin yang sangat
besar. Hemostatis pascapartum dicapai akibat kompresi
pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi
trombosit dan pembentukan pembekuan. Hormon desigen
dilepas dari kelenjar hipofisis untuk memperkuat dan mengatur
konstraksi. Selama 1-2 jam I pasca partum intensitas konstraksi
uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur, karena untuk
mempertahankan kontraksi uterus biasanya disuntikkan
aksitosan secara intravena atau intramuscular diberikan setelah
plasenta lahir (Bobak, 2004: 493)
3. Tempat Plasenta
Setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, kontriksi
vaskuler dan trombosis menurunkan tempat plasenta ke suatu
area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. Pertumbuhan
endometrium menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik dan
mencegah pembentukan jaringan parut yang menjadi
karakteristik penyembuhan luka. Proses penyembuhan
memampukan endometrium menjalankan siklusnya seperti
biasa dan memungkinkan implantasi untuk kehamilan dimasa
yang akan datang. Regenerasi endometrium selesai pada akhir
minggu ketiga pascapartum, kecuali bekas tempat
plasenta (Bobak, 2004: 493).
4. Lochea
Lochea adalah rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir,
mula-mula berwarna merah lalu menjadi merah tua atau merah
coklat. Rabas mengandung bekuan darah
kecil. Selama 2 jam pertama setelah lahir, jumlah cairan
yangkeluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal
yang keluar selama menstruasi. Lochea rubra mengandung
darah dan debris desidua dan debris trofoblastik. Aliran
menyembur menjadi merah muda dan coklat setelah 3-4 hari
(lochea serosa). lochea serosa terdiri dari darah lama (old
blood), serum, leukosit dan debris jaringan. Sekitar 10 hari
setelah bayi lahir, warna cairan ini menjadi kuning sampai
putih (lochea alba). Lochea alba mengandung leukosit, desidua,
sel epitel, mucus, serum dan bakteri. Lochea alba bertahan
selama 2-6 minggu setelah bayi lahir (Bobak, 2004: 494)
5. Serviks
Serviks menjadi lunak setelah ibu malahirkan. 18 jam
pascapartum, serviks memendek dan konsistensinya lebih padat
kembali kebentuk semula. Muara serviks berdilatasi 10 cm,
sewaktu melahirkan, menutup bertahap 2 jari masih dapat
dimasukkan Muara serviks hari keempat dan keenam
pascapartum (Bobak, 2004: 495).
7. Payudara
Konsentrasi hormone yang menstimulasi perkembangan
payudara selama wanita hamil (estrogen, progesteron, human
chrorionic gonadotropin, prolaktin, dan insulin)
menurun dengan cepat setelah bayi lahir. Hari ketiga atau
keempat pascapartum terjadi pembengkakan (engorgement).
Payudara bengkak, keras,nyeri bila ditekan, dan hangat jika
diraba (kongesti pembuluh darah menimbulkan rasa hangat).
Pembengkakan dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak
nyaman berkurang dalam 24 jam sampai 36 jam. Apabila bayi
belum menghisap (atau dihentikan), laktasi berhenti dalam
beberapa hari sampai satu minggu. Ketika laktasi terbentuk,
teraba suatu massa (benjolan), tetapi kantong susu yang terisi
berubah dari hari kehari. Sebelum laktasi dimulai, payudara
terasa lunak dan keluar cairan kekuningan, yakni kolostrum,
dikeluarkan dari payudara. Setelah laktasi dimulai, payudara
terasa hangat dan keras waktu disentuh. Rasa nyeri akan
menetap selama 48 jam, susu putih kebiruan
(tampak seperti susu skim) dapat dikeluarkan dari puting susu
(Bobak, 2004:498).
8. Laktasi
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan
pada kelenjar-kelanjar untuk menghadapi masa laktasi. Proses
ini timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas. Ari-ari
mengandung hormon penghambat prolaktin (hormon placenta)
yang menghambat pembentukan ASI. Setelah ari-ari
lepas ,hormone placenta tak ada lagi sehingga terjadi produksi
ASI. Sempurnanya ASI keluar 2-3 hari setelah melahirkan.
Namun sebelumnya di payudara sudah terbentuk kolostrum
yang bagus sekali untuk bayi, karena mengandung zat kaya
Gizi dan antibodi pembunuh kuman.
9. Sistem Endokrin
Selama postpartum terjadi penurunan hormon human
placenta latogen (HPL), nestrogen dan kortisol serta placental
enzime insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan,
sehingga kadar gula darah menurun pada masa puerperium.
Pada wanita yang tidak menyusui, kadar estrogen meningkat
pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari
wanita yang menyusui pascapartum hari ke-17
(Bobak, 2004: 496).
Tujuan dari pemberian asuhan masa nifas ini adalah untuk menjaga
kesehatan ibu dan bayi baik dari segi fisik maupun psikologis, untuk
melaksanakan deteksi dini secara komprehensif jika ada suatu komplikasi pada
ibu maupun bayi, untuk memberikan suatu pendidikan kesehatan pada ibu
mengenai perawatan diri, KB, menyusui, serta imunisasi dan perawatan bayi
(Nugroho et al., 2014).
Dalam masa nifas terdapat 3 tahapan, tahapan masa nifas antara lain yaitu :
periode immediate post partum, periode early postpartum, dan periode last
postpartum. Periode immediate post partum merupakan tahapan pertama, pada
tahap ini biasanya banyak terjadi masalah karena atonia uteri. Masa ini dimulai
dari plasenta lahir dan berakhir setelah 24 jam. Kemudian pada tahap kedua yaitu
periode early postpartum, masa ini dimulai dari 24 jam pertama setelah plasenta
lahir dan berakhir pada saat 1 minggu postpartum. Pada tahap ini perlu
memastikan jika involusi uteri berjalan dengan baik serta normal. Involusi uteri
dikatakan baik apabila tidak terdapat perdarahan, lochea yang keluar tidak berbau
busuk, gizi pada ibu terpenuhi, dan ibu dapat menyusui dengan baik serta
produksi ASI baik. Selanjutnya pada tahap ketiga yaitu periode last postpartum
yang berlangsung dari minggu 1-5 post partum. Pada tahap ini dilakukan
kunjungan secara rutin pasca nifas (Hidayah, 2009)
b. Ambulasi
Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada
kontraindikasi. Ambulasi ini akan meningkatkan sirkulasi dan
mencegah risiko tromboflebitis, meningkatkan fungsi kerja
peristaltik dan kandung kemih, sehingga mencegah distensi
abdominal dan konstipasi. Bidan harus menjelaskan kepada ibu
tentang tujuan dan manfaat ambulasi dini. Ambulasi ini dilakukan
secara bertahap sesuai kekuatan ibu. Terkadang ibu nifas enggan
untuk banyak bergerak karena merasa letih dan sakit. Jika keadaan
tersebut tidak segera diatasi, ibu akan terancam mengalami
trombosis vena. Untuk mencegah terjadinya trombosis vena, perlu
dilakukan ambulasi dini oleh ibu nifas.Pada persalinan normal dan
keadaan ibu normal, biasanya ibu diperbolehkan untuk mandi dan ke WC
dengan bantuan orang lain, yaitu pada 1 atau 2 jam setelah persalinan.
Sebelum waktu ini, ibu harus diminta untuk melakukan latihan menarik
napas dalam serta latihan tungkai yang sederhana Dan harus duduk serta
mengayunkan tungkainya di tepi tempat tidur. Sebaiknya, ibu nifas turun
dan tempat tidur sediri mungkin setelah persalinan. Ambulasi dini dapat
mengurangi kejadian komplikasi kandung kemih, konstipasi, trombosis
vena puerperalis, dan emboli perinorthi. Di samping itu, ibu merasa lebih
sehat dan kuat serta dapat segera merawat bayinya. Ibu harus didorong
untuk berjalan dan tidak hanya duduk di tempat tidur. Pada ambulasi
pertama, sebaiknya ibu dibantu karena pada saat ini biasanya ibu merasa
pusing ketika pertama kali bangun setelah melahirkan. (Bahiyatun, 2009,
pp.76-77)
c. Higiene Personal
Ibu Sering membersihkan area perineum akan meningkatkan
kenyamanan dan mencegah infeksi. Tindakan ini paling sering
menggunakan air hangat yang dialirkan (dapat ditambah larutan
antiseptik) ke atas vulva perineum setelah berkemih atau defekasi,
hindari penyemprotan langsung. Ajarkan ibu untuk membersihkan
sendiri. Pasien yang harus istirahat di tempat tidur (mis,
hipertensi, post-seksio sesaria) harus dibantu mandi setiap hari dan
mencuci daerah perineum dua kali sehari dan setiap selesai
eliminasi. Setelah ibu mampu mandi sendiri (dua kali sehari),
biasanya daerah perineum dicuci sendiri. Penggantian pembalut
hendaknya sering dilakukan, setidaknya setelah membersihkan
perineum atau setelah berkemih atau defekasi.
Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptura, atau
laserasi merupakan daerah yang tidak mudah untuk dijaga agar
tetap bersih dan kering. Tindakan membersihkan vulva dapat
memberi kesempatan untuk melakukan inspeksi secara seksama
daerah perineum. Payudara juga harus diperhatikan kebersihannya. Jika
puting terbenam, lakukan masase payudara secara perlahan dan
tarik keluar secara hati - hati. Pada masa postpartum, seorang ibu akan rentan
terhadap infeksi. Untuk itu, menjaga kebersihan sangat
penting untuk mencegah infeksi. Anjurkan ibu untuk menjaga
kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungannya. Ajari
ibu cara membersibkan daerah genitalnya dengan sabun dan air bersih setiap
kali setelah berkemih dan defekasi. Sebelum dan
sesudah membersihkan genitalia, ia harus mencuci tangan sampai
bersih. Pada waktu mencuci luka (epistotomi), ia harus mencucinya
dan arah depan ke belakang dan mencuci daerah anusnya yang terakhir. Ibu
harus mengganti pembalut sedikitnya dua kali sehari.
Jika ia menyusui bayinya, anjurkan untuk menjaga kebersihan
payudaranya. Alat kelamin wanita ada dua, yaitu alat kelamin luar dan
dalam. Vulva adalah alat kelamin luar wanita yang terdiri dan
berbagai bagian, yaitu kommissura anterior, komrnissura interior,
labia mayora, labia rninora, klitoris, prepusium klitonis, orifisium
uretra, orifisium vagina, perineum anterior, dan perineum
posterior. Robekan perineum terjadi pada semua persalinan, dan biasanya
robekan tenjadi di garis tengah dan dapat meluas apabila kepala
janin lahir terlalu cepat. Perineum yang dilalui bayi biasanya
mengalami peregangan, lebam, dan trauma. Rasa sakit pada
perineum semakin parah jika perineum robek atau disayat pisau bedah. Seperti
semua luka baru, area episiotomi atau luka sayatan
membutuhkan waktu untuk sembuh, yaitu 7 hingga 10 hari
Infeksi dapat terjadi, tetapi sangat kecil kemungkinanya
jika luka perineum dirawat dengan baik. Selama di rumah sakit,
dokter akan memeriksa perineum setidaknya sekali sehari untuk
memastikan tidak terjadi peradangan atau tanda infeksi lainnya.
Dokter juga akan memberi instruksi cara menjaga kebersihan
perineum pascapersalinan untuk mencegah infeksi.
e. Senam Nifas
Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami
perubahan fisik seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya
liang senggama, dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan
kepada keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima,
senam nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan. Ibu tidak perlu
takut untuk banyak bergerak, karena dengan ambulasi
secara dini dapat membantu rahim untuk kembali kebentuk semula.
Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama
melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh, terdiri dari
sederetan gerakan tubuh yang dilakukan untuk mempercepat
pemulihan ibu. (Suherni, Hesty Widyasih, Anita Rahmawati, 2009, p.105)
g. Keluarga Berencana
Keluarga berencana adalah salah satu usaha untuk
mencapai kesejahteraan dengan jalan memberi nasihat
perkawinan, pengobatan kemandulan, dan penjarangan
kehamilan. KB merupakan salah satu usaha membantu keluarga / individu
merencanakan kehidupan berkeluarganya dengan baik, sehingga dapat
mencapai keluarga berkualitas. Manfaat keluarga berencana (KB) :
1. Untuk Ibu
1) Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya
kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang
terlalu pendek.
2) Adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak,
untuk istirahat, dan menikmati waktu luang, serta
melakukan kegiatan - kegiatan lain.
4. Untuk ayah
1) Memperbaiki kesehatan fisiknya
2) Memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena
kecemasan berkurang serta lebih banyak waktu luang untuk
keluarganya.
5. Asuhan Keperawatan Pada Ibu Nifas
a. Identitas pasien
Biodata pasien terdiri dari nama, umur, agama, pendidikan,
suku/bangsa, pekerjaan dan alamat.
b. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan terdiri dari tempat pemeriksaan
kehamilan, frekuensi, imunisasi, keluhan selama kehamilan,
pendidikan kesehatan yang diperoleh.
c. Riwayat persalinan
Riwayat persalinan terdiri dari tempat persalinan, penolong
persalinan, jalannya persalinan.
d. Pemeriksaan fisik
1) Vital sign
Dalam vital sign yang perlu di cek yaitu: suhu, nadi,
3) Dada
Inspeksi irama nafas, dengarkan bunyi nafas dan
bunyi
jantung, hitung frekuensi. Payudara: pengkajian payudara
pada ibu postpartum meliputi inspeksi ukuran, bentuk,
warna, dan kesimetrisan dan palpasi konsisten dan apakah
ada nyeri tekan guna menentukan status laktasi.
Normalnya puting susu menonjol, areola berwarna
kecoklatan, tidak ada nyeri tekan, tidak ada bekas luka,
payudara simetris dan tidak ada benjolan atau masa pada
saat di palpasi.
4) Abdomen
Menginspeksi adanya striae atau tidak, adanya
luka/insisi, adanya linea atau tidak. Involusi uteri:
kemajuan involusi yaitu proses uterus kembali ke ukuran
dan kondisinya sebelum kehamilan, di ukur dengan
mengkaji tinggi dan konsistensi fundus uterus, masase
dan peremasan fundus dan karakter serta jumlah lokia 4
sampai 8 jam. TFU pada hari pertama setinggi pusat, pada
hari kedua 1 jari dibawah pusat, pada hari
ketiga 2 jari dibawah pusat, pada hari keempat 2 jari
diatas simpisis, pada hari ketujuh 1 jari diatas simpisis,
pada hari kesepuluh setinggi simpisis. Konsistensi fundus
harus keras dengan bentuk bundar mulus. Fundus yang
lembek atau kendor menunjukan atonia atau subinvolusi.
Kandung kemih harus kosong agar pengukuran fundus
akurat, kandung kemih yang penuh menggeser uterus dan
meningkatkan tinggi fundus.
6) Perineum
Pengkajian daerah perineum dan perineal dengan
sering untuk mengidentifikasi karakteristik normal atau
deviasi dari normal seperti hematoma, memar, edema,
kemerahan, dan nyeri tekan. Jika ada jahitan luka, kaji
keutuhan, hematoma, perdarahan dan tanda-tanda infeksi
(kemerahan, bengkak dan nyeri tekan).
Daerah anus dikaji apakah ada hemoroid dan fisura.
Wanita dengan persalinan spontan per vagina tanpa
laserasi sering mengalami nyeri perineum yang lebih
ringan. Hemoroid tampak seperti tonjolan buah anggur
pada anus dan merupakan sumber yang paling sering
menimbulkan nyeri perineal. Hemoroid disebabkan oleh
tekanan otot-otot dasar panggul oleh bagian terendah
janin selama kehamilan akhir dan persalinan akibat
mengejan selama ase ekspulsi.
7) Payudara dan tungkai
Pengkajian payudara meliputi bentuk, ukuran,
warna, dan kesimetrisan serta palpasi konsistensi dan
deteksi apakah ada nyeri tekan guna persiapan menyusui.
Hari pertama dan kedua pasca melahirkan akan
ditemukan sekresi kolostrum yang banyak. Pengkajian
pada tungkai dimaksudkan untuk mengetahui ada
tidaknya tromboflebitis. Payudara dan tungkai dikaji tiap
satu jam sampai dengan 8 jam setelah persalinan,
kemudian dikaji tiap empat jam sampai dengan 24 jam
setelah persalinan
8) Eliminasi
Pengkajian eliminasi meliputi pengkajian bising
usus, inspeksi dan palpasi adanya distensi abdomen. Ibu
postpartum dianjurkan untuk berkemih sesegera mungkin
untuk menghindari distensi kandung kemih. Eliminasi
dikaji setiap 9 jam, kaji juga defekasi setiap harinya.
e. Pengkajian psikososial
Pengkajian psikososial ini difokuskan pada interaksi dan
adaptasi ibu, bayi baru lahir dan keluarga. Perawat melihat status
emosianal dan respon ibu terhadap pengalaman kelahiran, interaksi
f. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul menurut Standar
Diagnosa Keperawatan Indonesia (2016) yaitu:
Situasional:
4. Defisit pengetahuan
Definisi: Ketiadaan atau kurangnya informasi kognitif yang
berkaitan dengan topik tertentu.
Penyebab: Kurang terpapar informasi Gejala tanda mayor
Subyektif : Menanyakan masalah yang dihadapi
Objektif : Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran,
menunjukkan persepsi yang keliru terhadap
masalah
Gejala tanda minor
Subyektif : -
Objektif : Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat,
menunjukkan perilaku berlebihan Kondisi klinis terkait:
1) Kondisi klinis yang baru dihadapi klien
2) Penyakit akut
3) Penyakit kronis
h. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana
keperawatan oleh perawat dan pasien. Implementasi keperawatan adalah
pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah
disusun pada tahap perencanaan (Setiadi, 2012).
i. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah
dilakukan intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan
keperawatan yang telah diberikan. Evaluasi keperawatan adalah kegiatan
yang terus menerus dilakukan untuk menentukan apakah rencana
keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan,
merevisi rencana atau menghentikan rencana keperawatan (Manurung,
2011).
Daftar Pustaka
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar asuhan Kebidanan Nifas normal. Jakata: EGC.
Nugroho, T., dkk. (2014). Buku ajar asuhan kebidanan nifas (askeb 3).
Yogyakarta : Nuha Medika
Suherni, Widyasih, Hesti dan Rahmawati, Anita. (2008). Perawatan Masa Nifas.
Yogyakarta: Fitramaya.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2016. Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta : EGC