0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan26 halaman

Panduan Perawatan Pascamelahirkan

Laporan ini membahas adaptasi fisiologis dan psikologis ibu nifas pasca persalinan. Secara fisiologis terjadi involusi uterus, kontraksi otot rahim, penurunan tempat plasenta, perubahan lokhea, serviks, vagina, payudara, sistem endokrin, urinarius, pencernaan, kardiovaskuler dan neurologi. Secara psikologis ibu mengalami penyesuaian terhadap hadirnya bayi baru. Laporan ini sangat berguna untuk memaham

Diunggah oleh

hasan muaffa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan26 halaman

Panduan Perawatan Pascamelahirkan

Laporan ini membahas adaptasi fisiologis dan psikologis ibu nifas pasca persalinan. Secara fisiologis terjadi involusi uterus, kontraksi otot rahim, penurunan tempat plasenta, perubahan lokhea, serviks, vagina, payudara, sistem endokrin, urinarius, pencernaan, kardiovaskuler dan neurologi. Secara psikologis ibu mengalami penyesuaian terhadap hadirnya bayi baru. Laporan ini sangat berguna untuk memaham

Diunggah oleh

hasan muaffa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

POST NATAL CARE


 
 
 

 
Disusun Oleh :
HASAN MUAFFA
NIM :2021207209093
 
 
 
 
 
 
 
 
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROFESI (NERS)
2021/ 2022
LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MATERNITAS

POST NATAL CARE

1. Pengertian

Post partum merupakan masa sesudah melahirkan atau persalinan. Masa


beberapa jam sesudah lahirnya plasenta atau tali pusat sampai minggu ke enam
setelah melahirkan, setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya
pada waktu saluran reproduksi kembali keadaan yang normal pada saat sebelum
hamil (Marmi, 2012).

Post partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali


pada keadaan tidak hamil, serta penyesuaian terhadap hadirnya anggota keluarga
baru. (Mitayani, 2011).

Post Partum adalah masa setelah keluarnya placenta sampai alat-alat


reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung
selama 6 minggu atau 40 hari (Ambarwati, 2010).

2. Adaptasi Fisiologis / Psikologis Ibu Nifas

a. Adaptasi Fisiologi
1. Pada Post Partum Proses Involusi Proses kembalinya uterus ke
keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi.
Proses dimulai setelah plasenta keluar akibat konstraksi otot-
otot polos
uterus. Pada akhir persalinan tahap III, uterus berada digaris
tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan fundus
bersandar pada promontorium sakralis. Ukuran uterus saat
kehamilan enam minggu beratnya kira-kira 1000 gr. Dalam
waktu 12 jam, tinggi fundus kurang lebih 1 cm diatas
umbilikus. Fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada
hari keenam fundus normal berada dipertengahan antara
umbilikus dan simfisis fubis. Seminggu setelah melahirkan
uterus berada didalam panggul sejati lagi, beratnya kira-kira
500 gr, dua minggu beratnya 350 gr, enam minggu berikutnya
mencapai 60 gr (Bobak,2004:493).
2. Konstraksi Uterus
Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi
lahir, diduga adanya penurunan volume intrauterin yang sangat
besar. Hemostatis pascapartum dicapai akibat kompresi
pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi
trombosit dan pembentukan pembekuan. Hormon desigen
dilepas dari kelenjar hipofisis untuk memperkuat dan mengatur
konstraksi. Selama 1-2 jam I pasca partum intensitas konstraksi
uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur, karena untuk
mempertahankan kontraksi uterus biasanya disuntikkan
aksitosan secara intravena atau intramuscular diberikan setelah
plasenta lahir (Bobak, 2004: 493)

3. Tempat Plasenta
Setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, kontriksi
vaskuler dan trombosis menurunkan tempat plasenta ke suatu
area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. Pertumbuhan
endometrium menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik dan
mencegah pembentukan jaringan parut yang menjadi
karakteristik penyembuhan luka. Proses penyembuhan
memampukan endometrium menjalankan siklusnya seperti
biasa dan memungkinkan implantasi untuk kehamilan dimasa
yang akan datang. Regenerasi endometrium selesai pada akhir
minggu ketiga pascapartum, kecuali bekas tempat
plasenta (Bobak, 2004: 493).

4. Lochea
Lochea adalah rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir,
mula-mula berwarna merah lalu menjadi merah tua atau merah
coklat. Rabas mengandung bekuan darah
kecil. Selama 2 jam pertama setelah lahir, jumlah cairan
yangkeluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal
yang keluar selama menstruasi. Lochea rubra mengandung
darah dan debris desidua dan debris trofoblastik. Aliran
menyembur menjadi merah muda dan coklat setelah 3-4 hari
(lochea serosa). lochea serosa terdiri dari darah lama (old
blood), serum, leukosit dan debris jaringan. Sekitar 10 hari
setelah bayi lahir, warna cairan ini menjadi kuning sampai
putih (lochea alba). Lochea alba mengandung leukosit, desidua,
sel epitel, mucus, serum dan bakteri. Lochea alba bertahan
selama 2-6 minggu setelah bayi lahir (Bobak, 2004: 494)
5. Serviks
Serviks menjadi lunak setelah ibu malahirkan. 18 jam
pascapartum, serviks memendek dan konsistensinya lebih padat
kembali kebentuk semula. Muara serviks berdilatasi 10 cm,
sewaktu melahirkan, menutup bertahap 2 jari masih dapat
dimasukkan Muara serviks hari keempat dan keenam
pascapartum (Bobak, 2004: 495).

6. Vagina dan Perinium


Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam
penipisan mucosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang
semula sangat teregang akan kembali secara bertahap
keukuran sebelum hamil, 6-8 minggu setelah bayi lahir . Rugae
akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat (Bobak,
2004:495).

7. Payudara
Konsentrasi hormone yang menstimulasi perkembangan
payudara selama wanita hamil (estrogen, progesteron, human
chrorionic gonadotropin, prolaktin, dan insulin)
menurun dengan cepat setelah bayi lahir. Hari ketiga atau
keempat pascapartum terjadi pembengkakan (engorgement).
Payudara bengkak, keras,nyeri bila ditekan, dan hangat jika
diraba (kongesti pembuluh darah menimbulkan rasa hangat).
Pembengkakan dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak
nyaman berkurang dalam 24 jam sampai 36 jam. Apabila bayi
belum menghisap (atau dihentikan), laktasi berhenti dalam
beberapa hari sampai satu minggu. Ketika laktasi terbentuk,
teraba suatu massa (benjolan), tetapi kantong susu yang terisi
berubah dari hari kehari. Sebelum laktasi dimulai, payudara
terasa lunak dan keluar cairan kekuningan, yakni kolostrum,
dikeluarkan dari payudara. Setelah laktasi dimulai, payudara
terasa hangat dan keras waktu disentuh. Rasa nyeri akan
menetap selama 48 jam, susu putih kebiruan
(tampak seperti susu skim) dapat dikeluarkan dari puting susu
(Bobak, 2004:498).

8. Laktasi
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan
pada kelenjar-kelanjar untuk menghadapi masa laktasi. Proses
ini timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas. Ari-ari
mengandung hormon penghambat prolaktin (hormon placenta)
yang menghambat pembentukan ASI. Setelah ari-ari
lepas ,hormone placenta tak ada lagi sehingga terjadi produksi
ASI. Sempurnanya ASI keluar 2-3 hari setelah melahirkan.
Namun sebelumnya di payudara sudah terbentuk kolostrum
yang bagus sekali untuk bayi, karena mengandung zat kaya
Gizi dan antibodi pembunuh kuman.

9. Sistem Endokrin
Selama postpartum terjadi penurunan hormon human
placenta latogen (HPL), nestrogen dan kortisol serta placental
enzime insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan,
sehingga kadar gula darah menurun pada masa puerperium.
Pada wanita yang tidak menyusui, kadar estrogen meningkat
pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari
wanita yang menyusui pascapartum hari ke-17
(Bobak, 2004: 496).

10. Sistem Urinarius


Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang
tinggi) turut menyebabkan peningkatan fungís ginjal,
sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan
akan mengalami penurunan fungsi ginjal selama masa
pascapartum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu 1
bulan setelah wanita melahirkan. Trauma terjadi pada uretra
dan kandung kemih selama proses melahirkan, yakni
sewaktu bayi melewati hiperemis dan edema. Kontraksi
kandung kemih biasanya akan pulih dalam 5-7 hari setelah bayi
lahir (Bobak, 2004:497-498).

11. Sistem Cerna


Ibu biasanya lapar setelah melahirkan sehingga ia boleh
mengkonsumsi makanan ringan. Penurunan tonus dan motilitas
otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah
bayi lahir. Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama
tiga hari setelah ibu melahirkan yang disebabkan karena tonus
otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal
masa pasca partum. Nyeri saat defekasi karena nyeri
diperinium akibat episiotomi, laserasi, atau hemoroid (Bobak,
2004: 498).

12. Sistem Kardiovaskuler


Pada minggu ke-3 dan 4 setelah bayi lahir, volume darah
biasanya turun sampai mencapai volume sebelum hamil.
Denyut jantung, volume sekuncup dan curah
jantung meningkat sepanjang hamil. Setelah wanita melahirkan
meningkat tinggi selama 30-60 menit, karena darah melewati
sirkuit uteroplasenta kembali ke sirkulasi umum. Nilai curah
jantung normal ditemukan pemeriksaan dari 8-10 minggu
setelah wanita melahirkan (Bobak, 2004:499-500).
13. Sistem Neurologi
Perubahan neurologi selama puerperium kebalikan adaptasi
neourologis wanita hamil, disebabkan trauma wanita saat
bersalin dan melahirkan. Rasa baal dan
kesemutan pada jari dialami 5% wanita hamil biasanya hilang
setelah anak lahir. Nyeri kepala pascapartum disebabkan
hipertensi akibat kehamilan , strees dan
kebocoran cairan serebrospinalis. Lama nyeri kepala 1-3 hari
dan beberapa minggu tergantung penyebab dan efek
pengobatan.

14. Sistem Muskuloskeletal


Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu terjadi selama hamil
berlangsung terbalik pada masa pascapartum. Adaptasi
membantu relaksasi dan hipermeabilitas sendi dan
perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. Stabilisasi
sendi lengkap pada minggu ke 6-8 setelah wanita melahirkan
(Bobak, 2004: 500-501).

15. Sistem Integumen


Kloasma muncul pada masa hamil biasanya menghilang
saat kehamilan berakhir; hiperpigmentasi di aerola dan linea
tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir.
Kulit meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul
mungkin memudar tapi tidak hilang seluruhnya. Kelainan
pembuluh darah seperti spider angioma (nevi),
eritema palmar dan epulis berkurang sebagai respon penurunan
kadar estrogen.Pada beberapa wanita spider nevi bersifat
menetap (Bobak, 2004: 501-502).

b. Adaptasi Psikologis Post Partum


Menurut Rubin dalam Varney (2007) adaptasi psikologis post
partum dibagi menjadi beberapa fase yaitu :
1. Fase Taking In ( dependent) Fase ini dimulai pada hari kesatu
dan kedua setelah melahirkan, dimana ibu membutuhkan
perlindungan dan pelayanan pada tahap ini pasien sangat
ketergantungan.
2. Fase Taking Hold (dependent- independent)
Fase ini dimulai pada hari ketiga setelah melahirkan dan
berakhir pada minggu keempat sampai kelima. Sampai hari
ketiga ibu siap menerima pesan barunya dan belajar tentang
hal-hal baru, pada fase ini ibu membutuhkan banyak sumber
informasi.
3. Fase Letting Go (independent) Fase dimulai minggu kelima
sampai minggu keenam setelah kelahiran, dimana ibu
mampu menerima tanggung jawab normal.

3. Tujuan Keperawatan Masa Post Natal

Tujuan dari pemberian asuhan masa nifas ini adalah untuk menjaga
kesehatan ibu dan bayi baik dari segi fisik maupun psikologis, untuk
melaksanakan deteksi dini secara komprehensif jika ada suatu komplikasi pada
ibu maupun bayi, untuk memberikan suatu pendidikan kesehatan pada ibu
mengenai perawatan diri, KB, menyusui, serta imunisasi dan perawatan bayi
(Nugroho et al., 2014).
Dalam masa nifas terdapat 3 tahapan, tahapan masa nifas antara lain yaitu :

periode immediate post partum, periode early postpartum, dan periode last
postpartum. Periode immediate post partum merupakan tahapan pertama, pada
tahap ini biasanya banyak terjadi masalah karena atonia uteri. Masa ini dimulai
dari plasenta lahir dan berakhir setelah 24 jam. Kemudian pada tahap kedua yaitu
periode early postpartum, masa ini dimulai dari 24 jam pertama setelah plasenta
lahir dan berakhir pada saat 1 minggu postpartum. Pada tahap ini perlu
memastikan jika involusi uteri berjalan dengan baik serta normal. Involusi uteri
dikatakan baik apabila tidak terdapat perdarahan, lochea yang keluar tidak berbau
busuk, gizi pada ibu terpenuhi, dan ibu dapat menyusui dengan baik serta
produksi ASI baik. Selanjutnya pada tahap ketiga yaitu periode last postpartum
yang berlangsung dari minggu 1-5 post partum. Pada tahap ini dilakukan
kunjungan secara rutin pasca nifas (Hidayah, 2009)

4. Kebutuhan Ibu Nifas

Kebutuhan dasar masa nifas antara lain sebagai berikut:


a. GiziIbu nifas dianjurkan untuk:

1) Makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat, protein,


lemak, vitamin dan mineral.
2) Mengkomsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari
pada 6 bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500kalori/hari dan
tahun kedua 400 kalori. Jadi jumlah kalori tersebut adalah
tambahan dari kalori per harinya.
3) Mengkomsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A
dalam bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI,
meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan
kelangsungan hidup anak. (Suherni, Hesty Widyasih, Anita
Rahmawati, 2009,p.101)

Tabel penambahan makanan pada wanita dewasa, hamil, dan menyusui


(Suherni, Hesty Widyasih, Anita Rahmawati, 2009, p.102)

b. Ambulasi
Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada
kontraindikasi. Ambulasi ini akan meningkatkan sirkulasi dan
mencegah risiko tromboflebitis, meningkatkan fungsi kerja
peristaltik dan kandung kemih, sehingga mencegah distensi
abdominal dan konstipasi. Bidan harus menjelaskan kepada ibu
tentang tujuan dan manfaat ambulasi dini. Ambulasi ini dilakukan
secara bertahap sesuai kekuatan ibu. Terkadang ibu nifas enggan
untuk banyak bergerak karena merasa letih dan sakit. Jika keadaan
tersebut tidak segera diatasi, ibu akan terancam mengalami
trombosis vena. Untuk mencegah terjadinya trombosis vena, perlu
dilakukan ambulasi dini oleh ibu nifas.Pada persalinan normal dan
keadaan ibu normal, biasanya ibu diperbolehkan untuk mandi dan ke WC
dengan bantuan orang lain, yaitu pada 1 atau 2 jam setelah persalinan.
Sebelum waktu ini, ibu harus diminta untuk melakukan latihan menarik
napas dalam serta latihan tungkai yang sederhana Dan harus duduk serta
mengayunkan tungkainya di tepi tempat tidur. Sebaiknya, ibu nifas turun
dan tempat tidur sediri mungkin setelah persalinan. Ambulasi dini dapat
mengurangi kejadian komplikasi kandung kemih, konstipasi, trombosis
vena puerperalis, dan emboli perinorthi. Di samping itu, ibu merasa lebih
sehat dan kuat serta dapat segera merawat bayinya. Ibu harus didorong
untuk berjalan dan tidak hanya duduk di tempat tidur. Pada ambulasi
pertama, sebaiknya ibu dibantu karena pada saat ini biasanya ibu merasa
pusing ketika pertama kali bangun setelah melahirkan. (Bahiyatun, 2009,
pp.76-77)

c. Higiene Personal
Ibu Sering membersihkan area perineum akan meningkatkan
kenyamanan dan mencegah infeksi. Tindakan ini paling sering
menggunakan air hangat yang dialirkan (dapat ditambah larutan
antiseptik) ke atas vulva perineum setelah berkemih atau defekasi,
hindari penyemprotan langsung. Ajarkan ibu untuk membersihkan
sendiri. Pasien yang harus istirahat di tempat tidur (mis,
hipertensi, post-seksio sesaria) harus dibantu mandi setiap hari dan
mencuci daerah perineum dua kali sehari dan setiap selesai
eliminasi. Setelah ibu mampu mandi sendiri (dua kali sehari),
biasanya daerah perineum dicuci sendiri. Penggantian pembalut
hendaknya sering dilakukan, setidaknya setelah membersihkan
perineum atau setelah berkemih atau defekasi.
Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptura, atau
laserasi merupakan daerah yang tidak mudah untuk dijaga agar
tetap bersih dan kering. Tindakan membersihkan vulva dapat
memberi kesempatan untuk melakukan inspeksi secara seksama
daerah perineum. Payudara juga harus diperhatikan kebersihannya. Jika
puting terbenam, lakukan masase payudara secara perlahan dan
tarik keluar secara hati - hati. Pada masa postpartum, seorang ibu akan rentan
terhadap infeksi. Untuk itu, menjaga kebersihan sangat
penting untuk mencegah infeksi. Anjurkan ibu untuk menjaga
kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungannya. Ajari
ibu cara membersibkan daerah genitalnya dengan sabun dan air bersih setiap
kali setelah berkemih dan defekasi. Sebelum dan
sesudah membersihkan genitalia, ia harus mencuci tangan sampai
bersih. Pada waktu mencuci luka (epistotomi), ia harus mencucinya
dan arah depan ke belakang dan mencuci daerah anusnya yang terakhir. Ibu
harus mengganti pembalut sedikitnya dua kali sehari.
Jika ia menyusui bayinya, anjurkan untuk menjaga kebersihan
payudaranya. Alat kelamin wanita ada dua, yaitu alat kelamin luar dan
dalam. Vulva adalah alat kelamin luar wanita yang terdiri dan
berbagai bagian, yaitu kommissura anterior, komrnissura interior,
labia mayora, labia rninora, klitoris, prepusium klitonis, orifisium
uretra, orifisium vagina, perineum anterior, dan perineum
posterior. Robekan perineum terjadi pada semua persalinan, dan biasanya
robekan tenjadi di garis tengah dan dapat meluas apabila kepala
janin lahir terlalu cepat. Perineum yang dilalui bayi biasanya
mengalami peregangan, lebam, dan trauma. Rasa sakit pada
perineum semakin parah jika perineum robek atau disayat pisau bedah. Seperti
semua luka baru, area episiotomi atau luka sayatan
membutuhkan waktu untuk sembuh, yaitu 7 hingga 10 hari
Infeksi dapat terjadi, tetapi sangat kecil kemungkinanya
jika luka perineum dirawat dengan baik. Selama di rumah sakit,
dokter akan memeriksa perineum setidaknya sekali sehari untuk
memastikan tidak terjadi peradangan atau tanda infeksi lainnya.
Dokter juga akan memberi instruksi cara menjaga kebersihan
perineum pascapersalinan untuk mencegah infeksi.

1) Perawatan perineum 10 hari : Ganti pembalut wanita yang bersih


setiap 4 - 5 jam. Posisikan pembalut dengan baik sehingga tidak
bergeser.
2) Lepaskan pembalut dari arah depan ke belakang untuk
menghindani penyebaran bakteri dan anus ke vagina.
3) Alirkan atau bilas dengan air hangat atau cairan antiseptic pada
area perineum setelah defekasi. Keringkan dengan kain
pembalut atau handuk dengan cara ditepuk – tepuk dari arah
depan ke belakang.
4) Jangan dipegang sampai area tersebut pulih.
5) Rasa gatal pada area sekitar jahitan adalah normal dan
merupakan tanda penyembuhan. Namun, untuk meredakan rasa
tidak enak, atasi dengan mandi berendam air hangat atau
kompres dingin dengan kain pembalut yang telah didinginkan.
6) Berbaring miring, hindari berdiri atau duduk lama untuk
mengurangi tekanan pada daerah tersebut.
7) Lakukan latihan Kegel sesering mungkin guna merangsang
peredaran darah di sekitar perineum. Dengan demikian, akan
mempercepat penyembuhan dan memperbaiki fungsi otot -
otot. Tidak perlu terkejut bila tidak merasakan apa pun saat
pertama kali berlatih karena area tersebut akan kebal setelah
persalinan dan pulih secara bertahap dalam beberapa minggu.
(Bahiyatun, 2009, pp.77-78)

d. Istirahat dan tidur


Anjurkan ibu untuk :
1) Istirahat yang cukup untuk mengurangi kelelahan.
2) Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
3) Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan.
Mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan
waktu untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8
jam. Kurang istirahat pada ibu nifas dapat berakibat:
a) Mengurangi jumlah ASI
b) Memperlambat involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan
perdarahan.
c) Depresi
(Suherni, Hesty Widyasih, Anita Rahmawati, 2009, pp.104-105)

e. Senam Nifas
Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami
perubahan fisik seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya
liang senggama, dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan
kepada keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima,
senam nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan. Ibu tidak perlu
takut untuk banyak bergerak, karena dengan ambulasi
secara dini dapat membantu rahim untuk kembali kebentuk semula.
Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama
melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh, terdiri dari
sederetan gerakan tubuh yang dilakukan untuk mempercepat
pemulihan ibu. (Suherni, Hesty Widyasih, Anita Rahmawati, 2009, p.105)

f. Seksualitas masa nifas


Kebutuhan seksual sering menjadi perhatian ibu dan
keluarga. Diskusikan hal ini sejak mulai hamil dan diulang pada
postpartum berdasarkan budaya dan kepercayaan ibu dan keluarga.
Seksualitas ibu dipengaruhi oleh derajat ruptur perineum dan
penurunan hormon steroid setelah persalinan. Keinginan seksual
ibu menurun karena kadar hormon rendah, adaptasi peran baru,
keletihan (kurang istirahat dan tidur). Penggunaan kontrasepsi
(ovulasi terjadi pada kurang lebih 6 minggu) diperlukan karena
kembalinya masa subur yang tidak dapat diprediksi. Menstruasi ibu
terjadi pada kurang lebih 9 minggu pada ibu tidak menyusui dan
kurang Iebih 30 - 36 minggu atau 4 - 18 bulan pada ibu yang
menyusui.

Hal-hal yang mempengaruhi seksual pada masa nifas,


yaitu:
1) Intensitas respons seksual berkurang karena perubahan faal
tubuh. Tubuh menjadi tidak atau belum sensitif seperti
semula.
2) Rasa lelah akibat mengurus bayi mengalahkan minat untuk
bermesraan.
3) Bounding dengan bayi menguras semua cinta kasih,
sehingga
waktu tidak tersisa untuk pasangan.
4) Kehadiran bayi di kamar yang sama membuat ibu secara
psikologis tidak nyaman berhubungan intim.
5) Pada minggu pertama setelah persalinan, hormon estrogen
menurun yang mempengaruhi sel - sel penyekresi cairan
pelumas vagina alamiah yang berkurang. Hal ini
menimbulkan
rasa sakit bila berhubungan seksual. Untuk itu, diperlukan
pelumas atau rubrikan.
6) Ibu mengalami let down ASI, sehingga respons terhadap
orgasme yang dirasakan sebagai rangsangan seksual pada
saat menyusui. Respons fisiologis ini dapat menekan ibu,
kecuali mereka memahami bahwa hal tersebut adalah
normal.
(Bahiyatun, 2009, pp.83-84)

g. Keluarga Berencana
Keluarga berencana adalah salah satu usaha untuk
mencapai kesejahteraan dengan jalan memberi nasihat
perkawinan, pengobatan kemandulan, dan penjarangan
kehamilan. KB merupakan salah satu usaha membantu keluarga / individu
merencanakan kehidupan berkeluarganya dengan baik, sehingga dapat
mencapai keluarga berkualitas. Manfaat keluarga berencana (KB) :

1. Untuk Ibu
1) Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya
kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang
terlalu pendek.
2) Adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak,
untuk istirahat, dan menikmati waktu luang, serta
melakukan kegiatan - kegiatan lain.

2. Untuk anak yang dilahirkan


1) Dapat tumbuh secara wajar karena ibu yang
mengandungnya berada dalam keadaan sehat.
2) Sesudah lahir anak tersebut akan memperoleh perhatian,
pemeliharaan, dan makanan yang cukup. Hal ini
disebabkan oleh kehadiran anak tersebut yang memang
diinginkan dan diharapkan.

3. Untuk anak yang lain


1) Memberi kesempatan perkembangan fisiknya lebih baik
karena memperoleh makanan yang cukup dan sumber yang
tersedia dalam keluarga.
2) Perkembangan mental dan sosial lebih sempurna karena
pemeliharaan yang lebih baik dan lebih banyak waktu
yang diberikan oleh ibu untuk anak.
3) Perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik
karena sumber pendapatan keluarga tidak habis untuk
mempertahankan hidup semata - mata.

4. Untuk ayah
1) Memperbaiki kesehatan fisiknya
2) Memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena
kecemasan berkurang serta lebih banyak waktu luang untuk
keluarganya.
5. Asuhan Keperawatan Pada Ibu Nifas

Pengkajian menurut Margaretha (2017) antara lain:

a. Identitas pasien
Biodata pasien terdiri dari nama, umur, agama, pendidikan,
suku/bangsa, pekerjaan dan alamat.

b. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan terdiri dari tempat pemeriksaan
kehamilan, frekuensi, imunisasi, keluhan selama kehamilan,
pendidikan kesehatan yang diperoleh.

c. Riwayat persalinan
Riwayat persalinan terdiri dari tempat persalinan, penolong
persalinan, jalannya persalinan.

d. Pemeriksaan fisik
1) Vital sign
Dalam vital sign yang perlu di cek yaitu: suhu, nadi,

pernapasan, dan juga tekanan darah. Suhu tubuh diukur


setiap 4 sampai 8 jam selama beberapa hari pascapartum
karena demam biasanya merupakan gejala awal infeksi.
Suhu tubuh 38⁰C mungkin disebabkan oleh dehidrasi
pada 24 jam pertama setelah persalinan atau karena
awitan laktasi dalam 2 sampai 4 hari. Demam yang
menetap atau berulang diatas 24 jam pertama dapat
menandakan adanya infeksi. Bradikardi merupakan
perubahan fisiologis normal selama 6 sampai 10 hari
pascapartum dengan frekuensi nadi 40
sampai 70 kali/ menit. Frekuensi diatas 100 kali/ menit
dapat menunjukan adanyya infeksi, hemoragi, nyeri, atau
kecemasan, nadi yang cepat dan dangkal yang
dihubungkan dengan hipotensi, menunjukan hemoragi,
syok atau emboli. Tekanan darah umumnya dalam
batasan normal selama kehamilan. Wanita pascapartum
dapat mengalami hipotensi ortostatik karena dieresis dan
diaphoresis, yang menyebabkan pergeseran volume
cairan kardiovasukuler, hipotensi menetap atau
berat dapat merupakan tanda syok atau emboli.
Peningkatan
tekanan darah menunjukan hipertensi akibat kehamilan,
yang dapat muncul pertama kali pada masa pascapartum.
Kejang eklamsia dilaporkan terjadi sampai lebih dari 10
hari pascapartum.

2) Kepala dan wajah


Inspeksi kebersihan dan kerontokan rambut (normal

rambut bersih, tidak terdapat lesi pada kulit kepala dan


rambut tidak rontok), cloasma gravidarum, keadaan sclera
(normalnya sclera berwarna putih), konjungtiva
(normalnya konjungtiva berwarna merah muda, kalau
pucat berarti anemis), kebersihan gigi
dan mulut (normalnya mulut dan gigi bersih, tidak
berbau, bibir merah), caries. Palpasi palpebra, odem pada
mata dan wajah; palpasi pembesaran getah bening
(normalnya tidak ada pembengkakan), JVP, kelenjar
tiroid.

3) Dada
Inspeksi irama nafas, dengarkan bunyi nafas dan
bunyi
jantung, hitung frekuensi. Payudara: pengkajian payudara
pada ibu postpartum meliputi inspeksi ukuran, bentuk,
warna, dan kesimetrisan dan palpasi konsisten dan apakah
ada nyeri tekan guna menentukan status laktasi.
Normalnya puting susu menonjol, areola berwarna
kecoklatan, tidak ada nyeri tekan, tidak ada bekas luka,
payudara simetris dan tidak ada benjolan atau masa pada
saat di palpasi.

4) Abdomen
Menginspeksi adanya striae atau tidak, adanya
luka/insisi, adanya linea atau tidak. Involusi uteri:
kemajuan involusi yaitu proses uterus kembali ke ukuran
dan kondisinya sebelum kehamilan, di ukur dengan
mengkaji tinggi dan konsistensi fundus uterus, masase
dan peremasan fundus dan karakter serta jumlah lokia 4
sampai 8 jam. TFU pada hari pertama setinggi pusat, pada
hari kedua 1 jari dibawah pusat, pada hari
ketiga 2 jari dibawah pusat, pada hari keempat 2 jari
diatas simpisis, pada hari ketujuh 1 jari diatas simpisis,
pada hari kesepuluh setinggi simpisis. Konsistensi fundus
harus keras dengan bentuk bundar mulus. Fundus yang
lembek atau kendor menunjukan atonia atau subinvolusi.
Kandung kemih harus kosong agar pengukuran fundus
akurat, kandung kemih yang penuh menggeser uterus dan
meningkatkan tinggi fundus.

5) Vulva dan vagina


Melihat apakah vulva bersih atau tidak, adanya
tanda- tanda infeksi. Lochea: karakter dan jumlah lochea
secara tidak langsung menggambarkan kemajuan
penyembuhan normal, jumlah ochea perlahan-lahan
berkurang dengan perubahan warna yang
khas yang menunjukan penurunan komponen darah
dalam aliran lochea. Jumlah lokia sangat sedikit noda
darah berkurang 2,5-5 cm= 10 ml, sedang noda darah
berukuran ≤ 10cm= 10,25 ml.

6) Perineum
Pengkajian daerah perineum dan perineal dengan
sering untuk mengidentifikasi karakteristik normal atau
deviasi dari normal seperti hematoma, memar, edema,
kemerahan, dan nyeri tekan. Jika ada jahitan luka, kaji
keutuhan, hematoma, perdarahan dan tanda-tanda infeksi
(kemerahan, bengkak dan nyeri tekan).
Daerah anus dikaji apakah ada hemoroid dan fisura.
Wanita dengan persalinan spontan per vagina tanpa
laserasi sering mengalami nyeri perineum yang lebih
ringan. Hemoroid tampak seperti tonjolan buah anggur
pada anus dan merupakan sumber yang paling sering
menimbulkan nyeri perineal. Hemoroid disebabkan oleh
tekanan otot-otot dasar panggul oleh bagian terendah
janin selama kehamilan akhir dan persalinan akibat
mengejan selama ase ekspulsi.
7) Payudara dan tungkai
Pengkajian payudara meliputi bentuk, ukuran,
warna, dan kesimetrisan serta palpasi konsistensi dan
deteksi apakah ada nyeri tekan guna persiapan menyusui.
Hari pertama dan kedua pasca melahirkan akan
ditemukan sekresi kolostrum yang banyak. Pengkajian
pada tungkai dimaksudkan untuk mengetahui ada
tidaknya tromboflebitis. Payudara dan tungkai dikaji tiap
satu jam sampai dengan 8 jam setelah persalinan,
kemudian dikaji tiap empat jam sampai dengan 24 jam
setelah persalinan

8) Eliminasi
Pengkajian eliminasi meliputi pengkajian bising
usus, inspeksi dan palpasi adanya distensi abdomen. Ibu
postpartum dianjurkan untuk berkemih sesegera mungkin
untuk menghindari distensi kandung kemih. Eliminasi
dikaji setiap 9 jam, kaji juga defekasi setiap harinya.

e. Pengkajian psikososial
Pengkajian psikososial ini difokuskan pada interaksi dan
adaptasi ibu, bayi baru lahir dan keluarga. Perawat melihat status
emosianal dan respon ibu terhadap pengalaman kelahiran, interaksi

dengan bayi baru lahir, menyusui bayi baru lahir, penyesuaian


terhadap peran baru, hubungan baru dalam keluarga, dan
peningkatan pemahaman dalam perawatan diri

f. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul menurut Standar
Diagnosa Keperawatan Indonesia (2016) yaitu:

1. Ketidaknyamanan Pasca Partum


Definisi: Perasaan tidak nyaman yang berhubungan dengan
kondisi setelah melahirkan
Penyebab:
1) Trauma perineum selama persalinan dan kelahiran
2) Involusi uterus, proses pengembalian ukuran rahim ke
ukuran semula
3) Pembengkakan payudara dimana alveoli mulai terisi
ASI
4) Kekurangan dukungan dari keluarga dan tenaga
kesehatan
5) Ketidaktepatan posisi duduk
6) Faktor budaya

Gejala dan tanda mayor


Subyektif : Mengeluh tidak nyaman
Objektif : Tampak meringis, terdapat kontraksi uterus,
luka episiotomi, payudara bengkak.

Gejala dan tanda minor


Subyektif : (Tidak tersedia)
Objektif : Tekanan darah meningkat, frekuensi nadi
meningkat, berkeringat berlebihan, menangis/ merintih,
haemoroid. Kondisi klinis terkait: Kondisi pasca
persalinan

2. Menyusui tidak efektif


Definisi: Kondisi dimana ibu dan bayi mengalami
ketidakpuasan atau kesukaran pada proses menyusui
Penyebab Fisiologis:
1) Ketidakadekuatan suplai ASI
2) Hambatan pada neonates
3) Anomaly payudara ibu
4) Ketidakadekuatan refleks oksitosin
5) Ketidakadekuatan refleks menghisap bayi
6) Payudara bengkak
7) Riwayat operasi payudara
8) Kelahiran kembar

Situasional:

1) Tidak rawat gabung


2) Kurang terpapar informasi tentang pentingnya menyusui
dan/ atau metode menyusui
3) Kurangnya dukungan keluarga
4) Faktor budaya

Gejala tanda mayor


Subyektif : Kelelahan maternal, kecemasan maternal
Objektif : Bayi tidak mampu melekat pada payudara
ibu, ASI tidak menetes/ memancar, BAK bayi kurang
dari 8 kali dalam 24 jam, nyeri dan/ atau lecet terus
menerus setelah minggu kedua Gejala tanda minor
Subyektif : -
Objektif : Intake bayi tidak adekuat, bayi menghisap
tidak terus menerus, bayi menangis saat disusui, bayi
rewel dan menangis terus dalam jam- jam pertama
setelah menyusui, menolak untuk menghisap.
Kondisi klinis terkait:
1) Abses payudara
2) Mastitis
3) Carpal tunnel syndrome
Keterangan: Carpal tunnel syndrome merupakan
salah satu masalah dalam menyusui dimana tangan
ibu terasa nyeri dan tidak nyaman. Ibu mengalami
kesulitan dalam memposisikan bayinya untuk
menyusui.

3. Gangguan pola tidur


Definisi: Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur
akibat faktor eksterna
Penyebab: Proses pasca partum
Gejala tanda mayor
Subyektif : Mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga,
mengeluh tidak puas tidur, mengeluh pola tidur
berubah, mengeluh istirahat tidak cukup
Objektif : -
Gejala tanda minor
Subyektif : Mengeluh kemampuan beraktifitas menurun
Objektif : -
Kondisi klinis terkait:
1) Nyeri/ kolik
2) Hipertiroidisme
3) Kecemasan
4) Penyakit paru obstruktif kronis
5) Kehamilan
6) Periode pasca partum
7) Kondisi pasca operasi

4. Defisit pengetahuan
Definisi: Ketiadaan atau kurangnya informasi kognitif yang
berkaitan dengan topik tertentu.
Penyebab: Kurang terpapar informasi Gejala tanda mayor
Subyektif : Menanyakan masalah yang dihadapi
Objektif : Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran,
menunjukkan persepsi yang keliru terhadap
masalah
Gejala tanda minor
Subyektif : -
Objektif : Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat,
menunjukkan perilaku berlebihan Kondisi klinis terkait:
1) Kondisi klinis yang baru dihadapi klien
2) Penyakit akut
3) Penyakit kronis

Intervensi keperawatan merupakan segala bentuk terapi yang dikerjakan oleh


perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai
peningkatan, pencegahan, dan pemulihan kesehatan individu, keluarga,
dan komunitas.

Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


keperawatan keperawatan keperawatan
Nyeri akut (SDKI, Setelah Observasi a. Identifikasi
dilakukan a. Identifikasi
karakteristik nyeri
2016) tindakan lokasi, dan faktor yang
keperawatan karakteristik, berhubungan
selama 3 kali durasi, frekuensi, merupakan suatu
pertemuan kualitas, intensitas
hal yang
diharapkan amat penting
tingkat nyeri nyeri untuk memilih
menurun b. Identifikasi intervensi yang
dengan kriteria skala cocok dan
hasil: nyeri untuk
a. Kemampuan Terapeutik mengevaluasi
menuntaskan a. Berikan teknik keefektifan dari
aktivitas nonfarmakologis terapi yang
membaik untuk mengurangi diberikan.
b. Keluhan nyeri rasa nyeri b. Untuk
menurun Edukasi mengetahui
c. Meringis a. Jelaskan strategi kualitas
menurun nyeri yang
d. Gelisah meredakan nyeri dirasakan klien
menurun b. Ajarkan teknik c. Untuk
e. Kesulitan tidur nonfarmakologis mengalihkan nyeri
menurun untuk mengurangi
f. Frekuensi nadi rasa nyeri yang dirasakan
membaik Kolaborasi klien
g. Nafsu makan a. Kolaborasi d. Memberikan
membaik pemberian penjelasan akan
(SLKI, 2016) analgetik, jika menambah
perlu pengetahuan klien
(SIKI, 2016) tentang strategi
meredakan
nyeri
e. Memberikan
penjelasan akan
membuat klien
dapat
mengalihkan nyeri
yang
dirasakannya
f. Untuk
mengurangi nyeri
Menyusui tidak Setelah Observasi a. Memahami
efektif (SDKI, dilakukan a. Identifikasi kemampuan
2016) tindakan kesiapan dan pasien
keperawatan kemampuan dalam menerima
selama 3 kali menerima informasi.
pertemuan informasi b. Memahami
diharapkan b. Identifikasi keinginan pasien
status tujuan dalam menyusui
menyusui atau keinginan c. Media
membaik menyusui memudahkan
dengan kriteria Terapeutik dalam
hasil: a. Sediakan materi penyampaian
a. Pelekatan bayi materi pendidikan
pada payudara dan media kesehatan
ibu meningkat pendidikan d. Agar jadwal
b. Miksi bayi kesehatan pendidikan
lebih dari 8 b. Jadwalkan kesehatan sesuai
kali/ 24 jam pendidikan dengan
meningkat kesehatan sesuai keinginan pasien
c. Berat badan kesepakatan e. Mengetahui
bayi c. Berikan pemahaman
meningkat kesempatan untuk pasien
d. Tetesan/ bertanya tentang materi
pancaran ASI d. Dukung ibu yang telah
meningkat meningkatkan disampaikan
e. Suplai ASI kepercayaan diri f. Agar pasien
adekuat dalam menyusui percaya diri dalam
meningkat
f. Lecet pada menyusui
puting susu Edukasi g. Memberikan
menurun a. Berikan penjelasan akan
g. Bayi rewel konseling menambah
menurun menyusui pengetahuan klien
(SLKI, 2016) b. Jelaskan tentang strategi
manfaat meredakan
menyusui bagi ibu nyeri
h. Agar ibu
dan bayi mengerti manfaat
c. Ajarkan 4 menyusui bagi ibu
(empat) dan bayi
posisi menyusui i. Agar ibu
dan perlekatan mengerti posisi
dengan benar menyusui dan
d. Ajarkan perlekatan
perawatan dengan benar
payudara j. Agar ibu
postpartum mengerti cara
(SIKI, 2016) perawatan
payudara
postpartum.
Gangguan pola Setelah Observasi a. Mengkaji
tidur (SDKI, dilakukan a. Identifikasi pola perlunya dan
2016) tindakan mengidentifikasi
keperawatan aktifitas dan tidur intervensi
selama 3 kali b. Identifiksi yang tepat
pertemuan faktor b. Mengetahui
diharapkan pengganggu tidur faktor
pola tidur Terapeutik pengganggu tidur
membaik a. Tetapkan jadwal dapat
dengan kriteria mengidentifikasi
hasil: tidur rutin intervensi
a. Keluhan sulit b. Lakukan yang tepat
tidur prosedur c. Agar memiliki
meningkat untuk jam tidur yang
b. Keluhan tidak meningkatkan tetap
puas tidur kenyamanan d. Agar pasien
meningkat Edukasi nyaman dalam
c. Keluhan a. Anjurkan tidur
istirahat tidak menepati e. Memberikan
cukup kebiasaan waktu penjelasan agar
meningkat tidur pasien menepati
(SLKI, 2016) (SIKI, 2016) kebiasaan
waktu tidur
Resiko infeksi Setelah Observasi a. Mengetahui
(SDKI, 2016) dilakukan a. Monitor tanda tindakan yang
tindakan dan akan dilakukan
keperawatan gejala infeksi b. Cuci tangan
selama 3 kali lokal dapat mencegah
pertemuan dan sistemik resiko infeksi
diharapkan Terapeutik c. Memberikan
tingkat infeksi a. Cuci tangan penjelasan
menurun sebelum dan membuat pasien
dengan kriteria sesudah kontak mengetahui
hasil: dengan pasien dan tanda dan gejala
a. Kebersihan infeksi
tangan lingkungan pasien d. Memberikan
meningkat Edukasi penjelasan
b. Kebersihan a. Jelaskan tanda membuat pasien
badan dan mengetahui
meningkat gejala infeksi cara cuci tangan
c. Nyeri menurun b. Ajarkan cara dengan benar
(SLKI, 2016) mencuci tangan e. Memberikan
dengan benar penjelasan
c. Ajarkan cara membuat pasien
memeriksa kondisi mengetahui
kondisi luka
luka atau luka f. Mencegah
operasi terjadinya infeksi
Kolaborasi
a. Kolaborasi
pemberian
imunisasi, jika
perlu
(SDKI, 2016)
Defisit Setelah Observasi a. Memahami
pengetahuan dilakukan a. Identifikasi kemampuan
(SDKI, tindakan kesiapan dan pasien dalam
2016) keperawatan kemampuan menerima
selama 3 kali menerima informasi
pertemuan informasi b. Media
diharapkan tingkat memudahakan
Terapeutik dalam
pengetahuan a. Sediakan materi penyampaian
membaik materi pendidikan
dengan kriteria dan media kesehatan
hasil: pendidikan c. Agar jadwal
a. Perilaku sesuai kesehatan pendidikan
anjuran b. Jadwalkan kesehatan sesuai
meningkat pendidikan dengan
b. Kemampuan kesehatan sesuai keinginan pasien
menjelaskan kesepakatan d. Mengetahui
pengetahuan c. Berikan pemahaman
tentang suatu kesempatan untuk pasien
topik bertanya tentang materi
meningkat Edukasi yang telah
c. Perilaku sesuai a. Ajarkan disampaikan
dengan perilaku e. Memberikan
pengetahuan hidup bersih dan penjelasan
meningkat sehat membuat pasien
d. Pertanyaan b. Ajarkan strategi mengerti
tentang bagaimana
masalah yang yang dapat perilaku hidup
dihadapi digunakan untuk bersih dan sehat
menurun meningkatakan f. Memberikan
e. Perilaku perilaku hidup penjelasan
membaik bersih dan sehat membuat pasien
(SLKI, 2016) (SIKI, 2016) mengerti
bagaimana
meningkatkan
perilaku hidup
bersih dan
sehat

h. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana
keperawatan oleh perawat dan pasien. Implementasi keperawatan adalah
pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah
disusun pada tahap perencanaan (Setiadi, 2012).

i. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah
dilakukan intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan
keperawatan yang telah diberikan. Evaluasi keperawatan adalah kegiatan
yang terus menerus dilakukan untuk menentukan apakah rencana
keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan,
merevisi rencana atau menghentikan rencana keperawatan (Manurung,
2011).

Daftar Pustaka

Ambarwati, E,R,Diah, W. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Bahiyatun. 2009. Buku Ajar asuhan Kebidanan Nifas normal. Jakata: EGC.

Bobak, I. M., Lowdermilk, L. D., & Jensen, M. D. (2004). Buku Ajar


Keperawatan Maternitas. (R. Komalasari, Ed.) (4th Ed.). Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran. Egc.

Hidayah, L. N. (2009). Hubungan Tingkat Nyeri..., Lidya Nur Hidayah, Fakultas


Ilmu Kesehatan Ump, 2017, 12–58.

Manurung, S. 2011. Buku ajar keperawatan maternitas asuhan keperawatan


intranatal. Jakarta : Trans info media.

Margaretha. L.2017. Konsep Dasar Post Partum. Diakses dari


repository.ump.ac.id, diakses tanggal 10 November 2020.

Marmi. 2012. Asuan Kebidanan Pada Masa Nifas “ Peurperium Care”.


Yogyakarta: pustaka pelajar.

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Salemba Medika Jakarta.

Nugroho, T., dkk. (2014). Buku ajar asuhan kebidanan nifas (askeb 3).
Yogyakarta : Nuha Medika

Setiadi. 2012. Konsep dan Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan : Graha


Ilmu.

Suherni, Widyasih, Hesti dan Rahmawati, Anita. (2008). Perawatan Masa Nifas.
Yogyakarta: Fitramaya.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2016. Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.

Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai