Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

“AKHLAK, MORAL DAN ETIKA”

Disusun oleh :

1. AHMAD CHANAFI (201853021)


2. IZZA NUR ZAHRA MA’ARIF (201853022)
3. RETA MAHDARIANI (201853023)
4. MUHAMMAD ALFAN AFADA (201853025)

PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2018/2019


BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Di era global yang semakin maju ini perilaku seorang muslim semakin beraneka ragam.
Manusia cenderung mengikuti pola hidup yang mewah dan bergaya, mereka bahkan lupa
dengan adanya akhlak, moral dan etika yang membatasi perilaku mereka. Di zaman sekarang
ini akidah-akidah islam seperti itu tidak terlalu dihiraukan dan dijadikan pedoman dalam
hidup. Karena pada kenyataannya manusia sekarang kurang pengetahuan tentang etika,
moral, dan akhlak.
Selama ini pelajaran akhlak, moral dan etika sudah diperkenalkan sejak kita berada di
sekolah dasar, yaitu pada pelajaran agama islam dan kewarganegaraan. Namun ternyata
pelajaran akhlak, moral dan etika itu hanya dibiarkan saja tanpa di aplikasikan ke dalam
perilaku kehidupan sehari-hari, sehingga pelajaran yang telah disampaikan menjadi sia-sia.
Sebagai generasi penerus Indonesia, sangatlah tidak terpuji jika kita para generasi
penerus tidak memiliki etika, moral dan akhlak. Oleh karena itu penulis menyusun makalah
ini agar menjadi acuan dalam perbaikan akhlak, moral dan etika masyarakat.

b. Rumusan Masalah
1)        Apakah pengertian akhlak, moral dan etika itu?
2)        Perbedaan dan persamaan antara akhlak, moral dan etika?
3)        Sumber akhlak yang ada dalam islam?
4)        Apakah akhlak bisa sebagai acuan moral sosial bagi keberhasilan hidup seseorang?
c. Tujuan
1)        Untuk mengetahui pengertian akhlak, moral dan etika.
2)        Untuk mengetahui perbedaan dan persamaan antara akhlak, moral dan etika.
3)        Untuk mengetahui sumber akhlak yang ada dalam islam.
4)      Untuk mengetahui apakah akhlak bisa menjadi acuan moral sosial bagi keberhasilan hidup
seseorang
d. Manfaat
1)        Memperluas wawasan masyarakat mengenai pengetahuan tentang akhlak, moral dan etika
dalam kehidupan sehari-hari.
2)       Memberikan pengetahuan bagi masyarakat yang membaca makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akhlak, Moral, dan Etika


a.       Pengertian Akhlak
Akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan jama’ dari “khulqu” dari bahasa
Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang
Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau
Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah).
Akhlak yang mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana,
memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan hawa
nafsu) dan bersifat adil. Jelasnya, ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan
negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa
bersyukur dan berterima kasih, sabar dan rida dengan kesengsaraan, berbicara benar dan
sebagainya.
Æ  Menurut Ibnu Maskawaih : Menurutnya akhlak ialah "hal li nnafsi daa'iyatun lahaa ila
af'aaliha min ghoiri fikrin walaa ruwiyatin" yaitu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
Æ  Menurut Abu Hamid Al Ghazali : Akhlak ialah sifat yang terpatri dalam jiwa manusia yang
darinya terlahir perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan senang dan mudah tanpa
memikirkan dirinya serta tanpa adanya renungan terlebih dahulu.
Æ  Menurut Ahmad bin Mushthafa : Akhlak merupakan sebuah ilmu yang darinya dapat
diketahui jenis-jenis keutamaan, dimana keutamaan itu ialah terwujudnya keseimbangan
antara tiga kekuatan yakni kekuatan berpikir, marah dan syahwat atau nafsu.
Æ  Menurut Muhammad bin Ali Asy Syariif Al Jurjani : Akhlak merupakan sesuatu yang
sifatnya (baik atau buruk) tertanam kuat dalam diri manusia yang darinyalah terlahir
perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa berpikir dan direnungkan.
Dalam Al-Qur'an surat Al-Qalam ayat 4 dikatakan bahwa :

ٍ <ُ‫ك< لَ< َع< لَ< ٰ<ى< ُخ< ل‬


<‫ق< َع< ِظ< ي< ٍم‬ َ <َّ‫َو< ِإ ن‬
Artinya : "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung".
Dan dalam sebuah hadits dikatakan bahwa :
Artinya : " Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".
Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT, akhlak yang baik itu
dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala
perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah
Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar,
seperti firman Allah dalam surat Al-Imran 110 yang artinya “Kamu adalah umat yang terbaik
untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman
kepada Allah”
Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub,
dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan penyakit-
penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam
kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan
lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat
yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai
mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berbunyi:

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar).”(Q.S. Ar-Ruum).
Seperti yang telah disebutkan di atas Akhlak juga dibagi kedalam 2 jenis yaitu,
Akhlak Mahmudah dan Akhlak Mazmumah. Akhlak mahmudah adalah akhlak yang baik dan
dibenarkan oleh Allah.  Sedangkan Akhlak Mazmumah adalah akhlak yang tidak dibenarkan
oleh Allah.

b.      Pengertian Moral
Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab.
Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan (akhlak). Moralisasi,
berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan dan kelakuan yang baik. Demoralisasi,
berarti kerusakan moral.
Menurut asal katanya “moral” dari kata mores dari bahasa Latin, kemudian
diterjemahkan menjadi “aturan kesusilaan”. Dalam bahasa sehari-hari, yang dimaksud
dengan kesusilaan bukan mores, tetapi petunjuk-petunjuk untuk kehidupan sopan santun dan
tidak cabul. Jadi, moral adalah aturan kesusilaan, yang meliputi semua norma kelakuan,
perbuatan tingkah laku yang baik. Kata susila berasal dari bahasa Sansekerta, su artinya
“lebih baik”, sila berarti “dasar-dasar”, prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan hidup. Jadi
susila berarti peraturan-peraturan hidup yang lebih baik.
Pengertian moral dibedakan dengan pengertian kelaziman, meskipun dalam praktek
kehidupan sehari-hari kedua pengertian itu tidak jelas batas-batasnya. Kelaziman adalah
kebiasaan yang baik tanpa pikiran panjang dianggap baik, layak, sopan santun, tata krama,
dsb. Jadi, kelaziman itu merupakan norma-norma yang diikuti tanpa berpikir panjang
dianggap baik, yang berdasarkan kebiasaan atau tradisi.

Moral juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:


Æ  Moral murni, yaitu moral yang terdapat pada setiap manusia, sebagai suatu pengejawantahan
dari pancaran Ilahi. Moral murni disebut juga hati nurani.
Æ  Moral terapan, adalah moral yang didapat dari ajaran pelbagai ajaran filosofis, agama, adat,
yang menguasai pemutaran manusia.

c.       Pengertian Etika
Dari segi etimologi (asal kata), istilah etika berasal dari kata Latin “Ethicos” yang
berarti kebiasaan. Dengan demikian menurut pengertian yang asli, yang dikatakan baik itu
apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Kemudian lambat laun pengertian ini berubah,
bahwa etika adalah suatu ilmu yang mebicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku
manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai tidak baik. Etika juga
disebut ilmu normative, maka dengan sendirinya berisi ketentuan-ketentuan (norma-norma)
dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Etika merupakan cabang filsafat yang mempelajari pandangan-pandangan dan
persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan, dan kadang-kadang orang
memakai filsafat etika, filsafat moral atau filsafat susila. Dengan demikian dapat dikatakan,
etika ialah penyelidikan filosofis mengenai kewajiban-kewajiban manusia dan hal-hal yang
baik dan buruk. Etika adalah penyelidikan filsafat bidang moral. Etika tidak membahas
keadaan manusia, melainkan membahas bagaimana seharusnya manusia itu berlaku benar.
Etika juga merupakan filsafat praxis manusia. Etika adalah cabang dari aksiologi, yaitu ilmu
tentang nilai, yang menitikberatkan pada pencarian salah dan benar dalam pengertian lain
tentang moral.

B.     Perbedaan dan Persamaan Antara Akhlak, Etika, dan Moral


Dilihat dari fungsi dan peranannya, dapat dikatakan bahwa akhlak, etika, dan moral,
sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk
ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama menghendaki terciptanya
keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tentram sehingga sejahtera batiniah
dan lahiriahnya. Objek dari akhlak, etika, dan moral, yaitu perbuatan manusia, ukurannya
yaitu baik dan buruk .
Sedangkan perbedaan antara akhlak dengan etika, dan moral, dapat kita lihat pada
sifat dan kawasan pembahasannya, di mana etika lebih bersifat teoritis dan memandang
tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral lebih bersifat praktis, yang ukurannya
adalah bentuk perbuatan. Serta sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan
buruk pun berbeda, di mana akhlak berdasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunnah, etika
berdasarkan akal pikiran, sedangkan moral berdasarkan kebiasaan yang berlaku pada
masyarakat.
Adapun hubungan antara akhlak dengan etika, dan moral, ini bisa kita lihat dari segi
fungsi dan perannya, yakni sama-sama menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan
yang dilakukan oleh manusia untuk ditentukan baik dan buruknya, benar dan salahnya
sehingga dengan ini akan tercipta masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tenteram
serta sejahtera lahir dan batin.

C.    Sumber Akhlak Dalam Islam

Sumber akhlak adalah wahyu (al-Qur’an dan al-Hadits). Sebagai sumber akhlak
wahyu menjelaskan bagaimana berbuat baik. al-Qur’an bukanlah hasil renungan manusia,
melainkan firman Allah SWT yang Maha pandai dam Maha bijaksana. Oleh sebab itu, setiap
muslim berkeyakinan bahwa isi al-Qur’an tidak dapat dibuat dan ditandingi oleh bikinan
manusia. Sumber akhlak yang kedua yaitu al-Hadits meliputi perkataan, ketetapan dan
tingkah laku Rasulullah SAW.
Dasar akhlak yang dijelaskan dalam al-Qur’an yaitu:

َ‫<ان يَرْ ُج<<وا هللا‬ َ <‫ان لَ ُك ْم فِ ْي َر ُس< ْو ِل هللاِ ُأ ْس< َوةٌ َح َس<نَةٌ لِّ َم ْن َكثِ ْي<رًا َك‬
َ ‫لَقَ ْد َك‬
َ‫َو ْاليَ ْو َم اآْل ِخ َر َو َذ َك َر هللا‬
Artinya :”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah”. (Q.S.al-Ahzab : 21)
Dasar akhlak dari hadits yang secara eksplisit menyinggung akhlak tersebut yaitu sabda Nabi:

َ ‫ار َم اَأْل ْخاَل‬ ‫اِنَّ َما بُ ِع ْث ُ ُأِل‬


‫ق‬ ِ ‫ت تَ ِّم َم َم َك‬
Artinya : “Bahwasanya aku (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak”.
Jadi telah jelas bahwa al-Qur’an dan hadits adalah pedoman hidup yang menjadi asas
bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlaqul karimah.

D.    Akhlak Sebagai Moral Sosial Bagi Keberhasilan Hidup Seseorang

Dan tujuan akhir dari akhlak, yaitu memutuskan diri kita dari cinta kepada dunia, dan
menancapkan dalam diri kita cinta kepada Allah SWT. Maka, tidak ada lagi sesuatu yang
dicintai selain berjumpa dengan dzat ilahi rabbi, dan tidak menggunakan semua hartanya
kecuali karenanya…"
Jelaslah, al-Ghazāli menempatkan kebahagiaan jiwa manusia sebagai tujuan akhir dan
kesempurnaan dari akhlak. Kebahagiaan tertinggi dari jiwa berarti mengenal adanya Allah
tanpa keraguan ( ma’rifatullah).
Allah merupakan sumber cinta dalam manusia dan kebenaran yang memuaskan
rohani. Implikasi etis, jiwa manusia meninggalkan segala hal duniawi supaya mengalami
kebahagiaan jiwa. Manusia yang berpegang pada prinsip akhlak akan mengupayakan
hidupnya secara bijak. Semua perbuatannya/amalnya diyakini keterarahan kepada Allah yang
telah menanamkan segala yang baik dalam ciptaan. Dengan keseimbangan jiwanya, ia tidak
membiarkan diri hanyut akan hal-hal bersifat material sejauh hal itu bisa menambah
kesempurnaan akhlak.
Kebahagiaan itu diyakini mampu diwujudkan dalam keutamaan-keutamaan hidup.
Jalan keutamaan itu sendiri perlu dilatihkan dan diterangi dengan prinsip akhlak di mana
terjadi perpaduan anugerah Tuhan dan rasionalitas manusia untuk terarah pada kebaikan
moral. Bahkan, dalam daya jiwa difokuskan suatu perbuatan mesti diorientasikan pada
tindakan yang mengarah pada keadilan dan memandang kebebasan mutlak setiap individu.

Kesuksesan hakiki akan dapat diraih jika mengikuti konsep 7B, yaitu:
1.      Beribadah dengan benar
2.      Bertakwa dengan baik
3.      Belajar tiada henti
4.      Bekerja keras dan ikhlas
5.      Bersahaja dalam hidup
6.      Bantu sesama dan
7.      Bersihkan hati selalu
Dengan 7 konsep tersebut kita dapat mengimplikasikan dalam kehidupan sehari – hari namun
tetap dengan akhlak yang baik maka kesuksesan akan dengan mudah kita dapat, baik
kesuksesan dunia maupun akhirat.
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada
hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur”(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong melakukan suatu perbuatan secara
spontan tanpa pertimbangan dan proses berfikir terlebih dahulu dan tanpa ada unsur paksaan.
ilmu akhlak adalah suatu ilmu pengetahuan agama islam yang berguna untuk memberikan
petunjuk-petunjuk kepada manusia, bagaimana cara berbuat kebaikan dan menghindarkan
keburukan Akhlak pun memiliki kaitan erat dengan etika, dan moral.
Pembahasan mengenai ruang lingkup ilmu akhlak adalah tentang perbuatan-perbuatan
manusia yang mendorong kepada baik atau buruknya. Ilmu akhlak bukanlah tingkah laku
manusia melainkan perbuatan yang dilakukan atas kemauan manusia itu sendiri yang selalu
dilakukannya dan kemudian mendarah daging dalam diri  manusia itu sendiri.

B.     Saran
Dari Penulisan ini, yang kami kutip dari referensi-referensi yang kami anggap
terpercaya semoga dapat menambah wawasan, terutama bagi penulis dan bagi pembacanya,
di samping itu semoga penulisan ini dapat membawa kita kepada berbudi pekerti luhur dan
dapat menjadi akhlakul karimah. Dan apabila ada kesalahan dan kesilapan dalam penulisan
ini harap di perbaiki dan kami mohon kritikan ke arah membangun.
DAFTAR PUSTAKA

https://af008.wordpress.com/etika-etiket-dan-moral
http://dewi-w-n-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-104158-%20Sosial%20Politik-Definisi
%20Etika,%20Etiket,%20Moralitas,%20dan%20Sikap%20Santun.html
http://tradisional.co.id
Margiono, 2011, Akidah Akhlak, Jakarta Timur, Erlangga.
Mukni’ah, 2011, Materi Pendidikan Agama Islam, Jogjakarta, Ar-ruzz media.
http://sanrhadita..com/2012/11/08/akhlaktasawuf-persmaan-dan-perbedaad-sertaketerkaitan-
akhlak-etoka-moral-kesusilaan-dan-kesopanan
http://abdmajid.staf.upi.edu/2013/08/27/akhlaq-tolok-ukur-kesuksesan-hidup-2/

Anda mungkin juga menyukai