MAKALAH
MATEMATIKA
Disusun Oleh:
Nama: Muhammad Fikri Haikal
Kelas: Xll IPS 1
SMA NEGERI 12 TANGERANG SELATAN
2022/2023
Jl. Cilenggang 1, Cilenggang, Serpong, Tangerang Selatan – Banten 15310 Telp. (021) 53161212 Fax (021)
53162011
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya dan karunia-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah singkat tepat pada waktunya.
Pada kesempatan kali ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen mata kuliah
manajemen perusahaan yang telah membimbing saya untuk menyelesaikan makalah singkat ini.
Selain itu, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
saya dalam menyelesaikan makalah singkat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menulis makalah singkat ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun diharapkan dapat membuat makalah singkat ini
menjadi lebih baik serta bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Senin 12 September 2022
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………...i
DAFTAR ISI…………………………………………………………..ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………..1
1.1 Latar Belakang………………………………………………….1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………..………1-2
1.3 Tujuan…………………………………………………………..2
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………...3
2.1 membuat distribusi frekuensi, histogram, poligon, ogive….....3-8
2.2 Mean (cara biasa, cara simpangan, cara coding)…………..…8-10
2.3 Modus………………………………………………………….10
2.4 Median…………………………………………………… …11-12
2.5 Kuartil…………………………………………….……….…12-13
2.6 Desil………………………………………………………….13-14
2.7 Persentil……………………………………………….……..14-17
2.8 Ragam…………………………………………………..…….17
2.9 Simpangan baku……………………………………………..18-19
2.10Simpangan rata – rata………………………………………..19-20
BAB III PENUTUP…………………………………………………..21
3.1 Kesimpulan………………………………………………….….21
3.2 Saran……………………………………………………………21
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………...…22
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menyajikan atau mendeskripsikan data angka yang telah berhasil dihimpun itu secara teratur,
ringkas, mudah dimengerti, hingga dengan secara jelas dapat memberikan gambaran yang cepat
mengenai ciri atau sifat yang terkandung didalam data angka tersebut.
Dengan diketahuinya ciri atau sifat yang terkandung dalam kumpulan data angka itu berarti
kumpulan data angka setiap kali kita melakukan kegiatan pengumpulan data statistik, maka pada
umumnya kegiatan tersebut akan menghasilkan kumpulan data angka yang keadaannya tidak
teratur, berserak dan masih merupakan bahan keterangan yang sifatnya kasar dan mentah.
Dikatakan kasar dan mentah, sebab kumpulan data dalam kondisi seperti yang diebutkan diatas
belum dapat memberikan informasi secara ringkas dan jelas mengenai ciri atau sifat yang dimiliki
oleh sekumpulan angka tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Materi, penjelasan, contoh soal dan pembahasan) dengan indikator sbb:
1. membuat distribusi frekuensi, histogram, poligon, ogive
2. Mean (cara biasa, cara simpangan, cara coding)
3. Modus
4. Median
5. Kuartil
6. Detail
7. persentil
8. Ragam
9. Simpangan baku
10. Simpangan rata – rata
1.3 Tujuan
1. untuk mengetahui membuat distribusi frekuensi, histogram, poligon, ogive
2. untuk mengetahui Mean (cara biasa, cara simpangan, cara coding)
3. untuk mengetahui Modus
4. untuk mengetahui Median
5. untuk mengetahui Kuartil
6. untuk mengetahui Detail
7. untuk mengetahui persentil
8. untuk mengetahui Raga
1
9. untuk mengetahui Simpangan baku
10. untuk mengetahui Simpangan rata – rata
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Cara membuat distribusi frekuensi, histogram, poligon, ogive
a. Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi adalah cara untuk mengatur, menyusun, dan meringkas data menjadi lebih
sederhana. Data tersebut didapatkan dari hasil penelitian dan diolah sedemikian rupa agar tidak
menyulitkan sang peneliti.
Distribusi diambil dari bahasa Inggris 'distribution' yang artinya pembagian atau penyaluran.
Sedangkan frekuensi dalam istilah statistika adalah kumpulan variabel yang berbentuk
angka.Dengan demikian, prinsip dari distribusi frekuensi pada dasarnya adalah bagaimana frekuensi
dari variabel yang dilambangkan dengan angka itu telah tersalur, terbagi, tersebar, dan terpancar.
Dalam pembuatan sebuah distribusi frekuensi akan terdapat bagian-bagian yang terpakai, antara
lain:
1 Kelas atau kelompok nilai data
2 Batas Kelas yaitu nilai-nilai yang membatasi kelas yang satu dengan kelas yang lain.
3 Tepi Kelas yakni batas kelas yang tidak memiliki lubang untuk angka tertentu antara kelas yang
satu dengan kelas yang lain.
4 Titik tengah kelas yaitu nilai data yang terletak ditengah-tengah kelas.
5 Interval adalah selang yang memisahkan kelas yang satu dengan kelas yang lain.
6 Panjang interval kelas ialah jarak antara tepi atas kelas dan tepi bawah kelas.
7 Frekuensi kelas yaitu banyaknya data yang termasuk kedalam kelas tertentu.
3
Contoh Soal dan Jawaban:
Nilai ujian statistika 65 orang mahasiswa adalah sebagai berikut:
30, 25, 90, 42, 50, 45, 26, 80, 70, 70, 60, 45, 46, 50, 40, 78, 55, 43, 56, 58, 42, 52, 53, 68, 50, 40,
78, 36, 42, 35, 60, 85, 30, 68, 82, 27, 25, 75, 76, 74, 71, 72, 63, 63, 62, 65, 61, 50, 50, 51, 56, 58,
57, 64, 60, 65, 74, 70, 72, 90, 88, 88, 90, 75, 75.
Ditanya: Buatlah distribusi frekuensi dari data di atas?
Jawab: Langkah-langkah pembuatan distribusi frekuensi adalah sebagai berikut:
1. Urutkan data dari yang terkecil sampai yang terbesar
25, 25, 26, 27, 30, 30, 35, 36, 40, 40, 42, 42, 42, 43, 45, 45, 46, 50, 50, 50, 50, 50, 51, 52, 53, 55,
56, 56, 57, 58, 58, 60, 60, 60, 61, 62, 63, 63, 64, 65, 65, 68, 68, 70, 70, 70, 71, 72, 72, 74, 74, 75,
75, 75, 76, 78, 8, 80, 82, 85, 88, 88, 90, 90, 94.
2. Menghitung jarak atau rentangan (R).
Rumus: R = data tertinggi – data terkecil.
R = 94 – 25 = 69
2. Menghiting jumlah kelas.
K = 1 + 3,3 log n
= 1 = 3,3 log (65)
= 1 + 3,3 (1,8192)
= 6,98
=7
3. Hitung panjang kelas (P).
P=R/K
= 69 / 7
= 9,8
= 10
4
4. Hitung batas panjang interval kelas (P)
25 + ( 10 -1 ) = 34
35 + ( 10 -1 ) = 44
45 + ( 10 -1 ) = 54
55 + ( 10 -1 ) = 64
65 + ( 10 -1 ) = 74
75 + ( 10 -1 ) = 84
85 + ( 10 -1 ) = 94
5. Membuat tabel distribusi frekuensi dengan cara memindahkan hasil langkah ke-5 ke dalam
kolom interval kelas dan isi kolom frekuensi dengan jumlah frekuensi setiap interval kelas
diambil dari langkah ke-1.
b. Histogram
pengertian histogram adalah representasi grafis (diagram) yang mengatur dan menampilkan
frekuensi data sampel pada rentang tertentu. Frekuensi data yang ada pada masing-masing kelas
direpresentasikan dengan bentuk grafik diagram batang atau kolom.
Prinsip kerja histogram ialah dengan menjadikan sekumpulan data sampel penelitian menjadi
bentuk visual yang mudah ditafsirkan dengan mengambil titik data kemudian mengelompokkannya
kedalam rentang yang logis.
5
Grafik histogram ini dibuat berdasarkan satu kelas interval pada sumbu horizontal berupa frekuensi
yang absolut dengan frekuensi relative (presentase) berada pada sumbu vertikalnya. Artinya, angka
yang terdapat pada sumbu vertikal menyajikan hasil observasi dari tiap kelas sampel data penelitian
yang diuji.
Pada grafik histogram, variabel independen diplot sepanjang sumbu horizontal dan variabel
dependen diplot sepanjang sumbu vertikal. Data muncul sebagai persegi panjang berwarna atau
berbayang dari area variabel. Dengan adanya histogram ini, orang yang membaca data tersebut bisa
membaca pola data yang bahkan sulit dideteksi dari tabel sederhana.
C. poligon
Dalam buku Aljabar Elementer karya Barnett Rich dan Philip A Schmid, poligon adalah sebuah
bentuk tertutup pada suatu bidang dengan permukaan datar yang dibatasi dengan garis-garis lurus.
Secara garis besar, poligon merupakan bidang datar yang memiliki sisi lebih dari satu. Inilah istilah
atau penamaan bentuk poligon dari 1 sisi sampai 20 sisi:
Henagon/monogon: 1 sisi
Digon: 2 sisi
Segitiga/trigon: 3 sisi
Persegi/segi empat/ tetragon: 4 sisi
Pentagon: 5 sisi
Heksagon/seksagon: 6 sisi
Heptagon: 7 sisi
Oktagon: 8 sisi
Nonagon: 9 sisi
Dekagon: 10 sisi
Hendekagon: 11 sisi
Dodekagon: 12 sisi
Tridekagon: 13 sisi
Tetradekagon: 14 sisi
Pentadekagon:15 sisi
Heksadekagon:16 sisi
Heptadekagon: 17 sisi
Oktadekagon: 18 sisi
Enneadekagon: 19 sisi
Ikosagon: 20 sisi
6
Jenis – jenis polygon
Poligon sama sisi, jenis poligon ini juga biasa disebut poligon ekuilateral, yaitu sisi-sisi
bangunnya memiliki panjang yang sama atau kongruen. Contoh bangun datar ini adalah
bujur sangkar atau persegi.
Poligon sama sudut merupakan jenis poligon yang memiliki besaran sudut yang sama, tetapi
panjang bangunnya tidak sama. Contohnya seperti bangun datar persegi panjang.
Poligon beraturan adalah bentuk poligon yang memiliki sisi yang sama, begitu pula dengan
sudutnya. Contoh bangun datar poligon beraturan adalah segi lima.
D. Ogive
Ogive adalah grafik yang digambarkan berdasarkan data yang sudah disusun dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi kumulatif. Untuk data yang disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
kumulatif kurang dari, grafiknya berupaogive positif, sedangkan untuk data yang disusun dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi kumulatif lebih dari, grafiknya berupa ogive negatif.
7
Frekuensi kumulatif kurang dari untuk suatu kelas adalah jumlah frekuensi semua kelas sebelum
kelas tersebut dengan frekuensi kelas itu. Sedangkan frekuensi kumulatif lebih dari suatu kelas
adalah jumlah frekuensi semua kelas sesudah kelas tersebut dengan frekuensi kelas itu.
2.2 Mean (cara biasa, cara simpangan, cara coding)
Mean adalah bagian dari perhitungan dasar statistika. Dalam bahasa Indonesia, mean juga disebut
dengan rata-rata. Mean adalah indikator statistik yang dapat digunakan untuk mengukur rata-rata
sebuah data.
8
Mean adalah metode yang umum digunakan dalam statistik. Mean dapat dengan mudah dihitung
dengan rumus sederhana. Mean adalah perhitungan yang biasanya digunakan bersama modus dan
median.
Penghitungan mean banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh manfaat
perhitungan mean adalah untuk mengetahui nilai rata-rata siswa di satu kelas. Mean adalah
perhitungan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Mean adalah rata-rata matematika sederhana dari sekumpulan dua atau lebih bilangan. Mean
menunjukkan distribusi nilai yang sama untuk kumpulan data tertentu. Untuk menghitung mean,
kamu perlu menambahkan nilai total yang diberikan dalam data dan kemudian membagi jumlahnya
dengan jumlah nilai total.
Ada beberapa jenis mean, dan metode penghitungan mean bergantung pada hubungan yang
diketahui atau diasumsikan mengatur anggota lain.
Nilai mean dapat ditentukan dengan membagi jumlah data dengan banyaknya data. Mean (rataan)
dapat dicari dari berbagai jenis data tunggal atau data kelompok. Mean (rataan) dapat dicari dari
berbagai jenis data tunggal atau data kelompok.
Rumus mean adalah:
mean = jumlah data : banyak data
Intinya kamu hanya perlu jumlahkan semua angka, lalu bagi dengan banyaknya angka yang ada.
Contoh soal mencari mean
Misal dalam satu kelas terdapat 20 siswa dan diperoleh persentase:
88,82,88,85,84,80,81,82,83,85,84,74,75,76,89,90, 89,80,82,83.
Tentukan mean yang diperoleh kelas tersebut.
Jawaban:
Rata-rata = Jumlah persentase yang diperoleh 20 siswa di kelas : Jumlah siswa
Rata-rata = [88 + 82 + 88 + 85 + 84 + 80 + 81 + 82 + 83 + 85 + 84 + 74 + 75 + 76 + 89 + 90 + 89 +
80 + 82 + 83] : 20
Rata-rata = 1660 ; 20 = 83
Contoh lain:
Contoh: Berapakah mean dari 3, 5, 9, 5, 7, 2?
Jawabannya:
9
mean = jumlah data : banyak data
mean = (3 + 5 + 9 + 5 + 7 + 2) : 6
mean = 31 : 6
mean = 5.16
2.3 Modus
Modus adalah penjelasan tentang suatu kelompok data dengan menggunakan nilai yang sering
muncul dalam kelompok tersebut. Apabila dalam suatu kelompok data memiliki satu nilai modus
disebut unimodal. Sedangkan, suatu data yang memiliki dua nilai modus disebut bimodal.
Contoh soal modus
a. hitunglah modus dari tinggi badan pada siswa kelas 11 yaitu: 142 145 143 148 144 142 146 148
147 146 145
Jawab:
Dalam data di atas menybutkan bahwa nilai 142 muncul sebanyak 2 kali, 143 = 1, 144 = 1, 145 = 2,
146 = 2, 147 = 1, dan 148 = 2
Modus dari data di atas yaitu 142, 14, 146, dan 148.
b. Tentukan nilai modus dari data nilai matematika dari siswa kelas 9 adalah: 10, 9, 8, 7, 8, 9, 8, 6,
6, 7, 9, 8, 7, 9, 10, 9, 8, 7, 7, 6, 7, 8, 9, 10, 9, 8, 6, 7, 9, 10
Untuk data yang lebih dari 10 akan lebih mudah untuk diurutkan terlebih dahulu. Dengan demikian
anda akan bisa menentukan nilai median sekaligus nilai modusnya. Walaupun seperti itu, anda
hanya perlu menghitung modus dahulu kali ini.
Data diurutkan menjadi:
6, 6, 6, 6, 7, 7, 7, 7, 7, 7, 7, 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, 9, 9, 9, 9, 9, 9, 9, 9, 10, 10, 10, 10
Dari data yang telah diurutkan kita bisa lihat bahwa nialai yang sering muncul adalah angka = 9.
Artinya, berdasarkan dari nilai yang ada, bahwa siswa kelas VI dengan nilai 9 lah yang paling
banyak ditemukan.
10
2.4 Median
Median atau nilai tengah adalah pemusatan data yang membagi suatu data menjadi setengah (50%)
data terkecil dan terbesarnya.
Median adalah bilangan sentral dari suatu kumpulan dalam ukuran pemusatan data. Dimana, atur
titik data dari yang terkecil hingga terbesar dan temukan nomor pusatnya. Maka, itulah mediannya.
Akan tetapi jika ada 2 angka di tengah, median adalah rata-rata dari 2 angka tersebut.
syarat utama untuk menentukan median adalah dengan mengurutkan data-data yang ada.
Mengurutkan dari nilai terkecil sampai ke nilai terbesar.
Apabila median adalah nilai tengah dalam daftar tabel angka yang berurutan naik atau turun, dan
bisa lebih deskriptif daripada mean atau nilai rata- rata.
Median seringkali digunakan sebagai kebalikan dari mean saat terdapat pencilan dalam urutan yang
mungkin mendistorsi nilai mean. Median suatu urutan data bisa lebih sedikit dipengaruhi oleh
pencilan daripada mean atau rata-rata.
Contoh soal 1:
Tentukanlah median dari data sebagai berikut: 29, 19, 21, 52, 91, 50, 82, 65, 53, 84, 51, 90, 93.
Jawaban:
19, 21, 29, 50, 51, 52, 53, 65, 82, 84, 90, 91, 93
Setelah diurutkan, banyaknya data di atas adalah 13 yang berarti ganjil. Maka mediannya adalah
data ke (13+1) : 2 = 14 : 2 = 7.
Jadi hasilnya data ke-7 yang tak lain adalah bilangan 53.
Contoh soal 2:
Tentukanlah median dari data sebagai berikut: 39, 35, 35, 36, 37, 38, 42, 40, 38, 41, 37, 35, 38, 40,
41, dan 40.
Jawaban:
35, 35, 35, 36, 37, 37, 38, 38, 38, 39, 40, 40, 40, 41, 41, 42
Setelah diurutkan, banyaknya data di atas ada 16 (genap), maka 16 : 2 = 8. Artinya, mediannya
(data ke 8 + data ke 9) : 2
Data ke 8 adalah bilangan 38
11
Data ke 9 adalah bilangan 38
Maka median = (38 + 38) : 2 = 76 : 2 = 38
2.5 Kuartil
Kuartil atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Quartile adalah nilai yang membagi sekumpulan
data yang terurut menjadi empat bagian yang sama yaitu bagian pertama, bagian kedua, bagian
ketiga dan bagian keempat. Terdapat tiga buah Kuartil yang didapati dari suatu gugus data yaitu
Kuartil 1 (Q1), Kuartil 2 (Q2) atau Median dan Kuartil 3 (Q3).
Pengertian Kuartil menurut Para Ahli
Berikut ini adalah beberapa definisi atau pengertian Kuartil menurut para ahli.
Pengertian Kuartil menurut Wirawan (2001:105), Kuartil (K) adalah nilai-nilai yang
membagi serangkaian data atau suatu distribusi frekuensi menjadi empat (4) bagian yang
sama. Ada tiga Kuartil yaitu kuartil pertama (K1), kuartil kedua (K2), dan kuartil ketiga
(K3).
Pengertian Kuartil menurut Suliyanto (2002:106), Kuartil berarti membagi kelompok data
menjadi empat bagian, yaitu bagian pertama sampai bagian keempat.
Pengertian Kuartil Menurut Sudijono (2006:112). Kuartil adalah titik atau skor atau nilai
yang membagi seluruh distribusi frekuensi kedalam empat bagian yang sama besar, yaitu
masing-masing sebesar 1/4N. Jadi di sini akan kita jumpai tiga buah kuartil, yaitu kuartil
pertama (K1), Kuartil kedua (K2), dan Kuartil ketiga (K3).
Rumus Kuartil Data Tunggal
Kuartil Bawah Q1 = ¼ (n+1)
Kuartil Tengah Q2 = ½ (n+1)
Kuartil Atas Q3 = ¾ (n+1)
Contoh Cara Mencari Kuartil Data Tunggal
Berikut ini adalah perhitungan dan contoh soal atau contoh kasus untuk mencari Kuartil Data
Tunggal.
1. Kuartil data tunggal dengan jumlah data ganjil
Terdapat sejumlah data pengujian yang terdiri dari 5, 7, 4, 4, 6, 2, 8. Carikan nilai Q1, Q2 dan Q3.
Langkah 1 : urutkan data menjadi 2, 4, 4, 5, 6, 7, 8.
12
Langkah 2 : Cari Q1, Q2 dan Q3 berdasarkan rumus Kuartil data tunggal.
Q1 = ¼ (n+1)
Q1 = ¼ (7+1)
Q1 = ¼ (8)
Q1 = 2
Berarti Q1 berada di posisi 2 yaitu angka 4
Q2 = ½ (n+1)
Q2 = ½ (7+1)
Q2 = ½ (8)
Q2 = 4
Berarti Q2 berada di posisi 4 yaitu angka 5
Q3 = ¾ (n+1)
Q3 = ¾ (7+1)
Q3 = ¾ (8)
Q3 = 6
Berarti Q3 berada di posisi 6 yaitu angka 7
2.6 Desil
Desil atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Decile adalah istilah statistik yang membagi
sekumpulan data yang terurut menjadi sepuluh bagian yang sama yaitu bagian pertama, bagian
kedua, bagian ketiga, bagian keempat, bagian kelima, bagian keenam, bagian ketujuh, bagian
kedelapan, bagian kesembilan dan bagian kesepuluh.
Dengan kata lain, terdapat 9 nilai yang membagi data populasi menjadi sepuluh fragmen yang sama
sehingga setiap fragmen mewakili 1/10 atau 10% populasi. 9 nilai Desil tersebut adalah Desil 1
(D1), Desil 2 (D2), Desil 3 (D3), Desil 4 (D4), Desil 5 (D5), Desil 6 (D6), Desil 7 (D7), Desil 8
(D8) dan Desil 9 (D9). Desil 5 atau D5 adalah Median dari sekumpulan data yang dibagi dengan
Desil.
13
Untuk lebih jelas mengenai Pengertian Desil, berikut ini adalah beberapa definisi dan pengertian
Desil menurut para Ahli.
Pengertian Desil menurut Wirawan (2001:110), Desil adalah nilai-nilai yang membagi
serangkaian data atau suatu distribusi frekuensi menjadi sepuluh bagian yang sama.
Pengertian Desil menurut Sudijono (2006:117-118), Desil (D) adalah titik atau skor atau
nilai yang membagi seluruh distribusi frekuensi dari data yang diselidiki ke dalam 10 bagain
yang sama besar, yang masing-masing sebesar 1/10 N.
Rumus Desil Data Tunggal
Ada beberapa rumus yang dipergunakan untuk menghitung desil, namun metode yang dipergunakan
ini adalah salah satu metode yang paling sederhana yaitu setiap Desil dihitung dengan
menambahkan satu ke jumlah data dalam populasi, kemudian membagi jumlahnya dengan 10 dan
akhirnya mengalikan hasilnya dengan pangkat desil yaitu 1 untuk D1, 2 untuk D2 … 9 untuk D9.
Secar Matematis, dapat dituliskan seperti pada persamaan di bawah ini.
Di = i * (n + 1) / 10
Keterangan :
D = Desil
i = 1,2,3,4,5,6,7,8,9 (Desil yang ingin dicari)
n = Banyaknya Data
Contoh soal
D1 = 1 * (23 + 1) / 10
D1 = 1 * 24 / 10
D1 = 2,4
Artinya D1 berada di posisi 2,4 yaitu diantara 24 dan 27.
Untuk mencari nilainya, kita dapat menggunakan cara seperti dibawah ini :
D1 = data ke1 + 0,4 * (data ke3 – data ke2)
D1 = 24 + 0,4 * (27 – 24)
D1 = 24 + 0,4 * 3
D1 = 25,2
Jadi Nilai Desil 1 atau D1 adalah 25,2.
14
2.7 persentil
Persentil adalah istilah yang digunakan dalam statistik untuk menyatakan bagaimana skor
dibandingkan dengan skor lain dalam kumpulan data yang sama, meskipun secara teknis tidak ada
definisi standar tentang persentil, persentil biasanya dikomunikasikan sebagai persentase nilai yang
berada di bawah nilai tertentu dalam kumpulan skor data.
Dalam istilah statistik, ada tiga definisi terpisah dari persentil, yaitu:
Lebih besar dari: Persentil ke-i adalah skor terendah dalam kumpulan data yang lebih besar dari
persentase skor (i). Misalnya, jika i = 0,25, kita akan mencoba mengidentifikasi skor terendah yang
lebih besar dari 25% skor dalam kumpulan data.
Lebih besar dari atau sama dengan: Persentil ke-i adalah skor terendah dalam kumpulan data yang
lebih besar dari atau sama dengan persentase skor (i). Misalnya, jika i = 0,25, kita akan mencari
nilai yang lebih besar atau sama dengan 25% dari skor.
Rata-rata tertimbang: Dalam metode ini, persentil ke-i adalah rata-rata tertimbang dari persentil
yang dihitung dalam dua definisi di atas. Metode ini memungkinkan angka untuk dibulatkan lebih
rapi dan mendefinisikan median himpunan sebagai persentil ke-50.
Persentil (atau skor persentil) dan peringkat persentil adalah istilah terkait. Peringkat persentil dari
sebuah skor adalah persentase skor dalam distribusinya yang kurang dari itu, definisi eksklusif, dan
yang dapat dinyatakan dengan formula tunggal yang sederhana.
Sebaliknya, ada banyak rumus atau algoritma untuk skor persentil. Hyndman dan Fan
mengidentifikasi sembilan dan sebagian besar perangkat lunak statistik dan spreadsheet
menggunakan salah satu metode yang mereka jelaskan.
Rumus Presentil
Secara garis besar penghitungan presentil dibagi menjadi dua bentuk. Yaitu;
1. Presentil Data Tunggal
Rumus untuk mencari persentil data tunggal yaitu sebagai berikut:
Rumus untuk mencari persentil data tunggal
Keterangan yaitu:
I = bilangan bulat yang nilainya kurang dari 100 (1, 2, 3, 4, 5,…, 99)
15
N = banyaknya data
2. Presentil Data Kelompok
Rumus untuk mencari persentil data kelompok yaitu sebagai berikut:
Rumus untuk mencari persentil data kelompok
Keterangan yaitu:
i = bilangan bulat yang nilainya kurang dari 100 (1, 2, 3, 4, 5,…, 99)
Tb = tepi bawah kelas persentil
n = jumlah seluruh frekuensi
f {k} = jumlah frekuensi sebelum kelas persentil
f {i} = frekuensi kelas persentil
p = panjang kelas interval
Contoh Soal Persentil Kelompok
Diketahui sebuah kelompok data seperti tabel dibawah, Maka tentukanlah letak persentil kelompok
ke 25 ?
Jawaban :
16
Letak Persentil ke 25 =(25/100). 40 = 10, yakni data pada tabel ke 10 dan kelas pada Persentil ke 25
= 51 – 55 sehingga diperoleh :
Maka, nilai persentil ke-25 yaitu 50,81
2.8 Ragam
Ragam biasanya diajarkan pada ilmu statistik untuk mengukur tingkat kesamaan atau kedekatan
dalam suatu kelompok.
Ragam adalah nilai statistik yang sering kali dipakai dalam menentukan kedekatan sebaran data
yang ada di dalam sampel dan seberapa dekat titik data individu dengan mean atau rata-rata nilai
dari sampel itu sendiri.
Contoh soal
Tentukan ragam dari tabel berikut:
Pembahasan
1. Tentukan nilai tengah dari setiap kelompok yang ada. Selanjutnya hitung jumlah nilai kelompok
dengan cara nilai tengah dikalikan frekuensi.
17
2.9 Simpangan baku
simpangan baku pada kumpulan data bisa bernilai nol atau lebih kecil dari nol. Jika nilainya nol,
maka seluruh nilai yang terdapat dalam himpunan itu sama. Sedangkan jika nilainya lebih besar
atau lebih kecil dari nol, maka titik data dari individu itu jauh dari nilai rata-rata.
Untuk menghitung nilai simpangan baku pada kumpulan data, Anda harus memerhatikan beberapa
langkah terlebih dahulu. Pertama, hitung nilai rata-rata (mean) pada setiap titik data.
Kemudian hitung varian data dengan cara menghitung simpangan atau selisih setiap titik data dari
nilai rata-rata. Nilai simpangan di setiap titik data dikuadratkan dan diselisihkan dengan kuadrat
dari nilai rata-ratanya.
Nilai ini disebut sebagai variansi. Setelah mendapatkan nilai variansi kita dapat menghitung
simpangan baku dengan cara mengakarkuadratkan nilai variansinya.
Rumus Simpangan Baku
Contoh soal
Agar lebih memahami materi simpangan baku, berikut contoh soal dan pembahasannya:
Diketahui data sebagai berikut:
9, 10, 8, 7, 8, 6
Tentukan ragam (variansi) dan simpangan bakunya!
18
Jadi nilai simpangan baku dari data tersebut adalah 1,29.
2.10 Simpangan rata – rata
simpangan rata-rata (mean deviation) merupakan nilai rata-rata dari harga mutlak simpangan-
simpangannya.
Nilai simpangan rata-rata adalah jumlah semua nilai mutlak simpangan dibagi dengan banyaknya
data. Simpangan rata-rata dibagi menjadi dua yaitu simpangan rata-rata data tunggal dan data
berkelompok.
Rumus Simpangan Rata-Rata
Dikutip dari buku Statistik Pendidikan karangan Yulingga Nanda Hanief dan Wasis Himawanto,
rumus simpangan rata-rata data tunggal dan berkelompok adalah sebagai berikut.
19
Tentukan simpangan rata-rata dari data 21, 23, 9, 17, 14, 12 dengan mean data 16!
Penyelesaian:
Jadi simpangan rata-rata dari 21, 23, 9, 17, 14, 12 adalah 4,33.
20
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis,
menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan
dengan data. Dalam menghitung pengukuran gejala pusat seperti mean, modus, median dan quartile
harus berkesinambungan satu sama lain atau dapat di katakan terstruktur. Karna kesaalahan dalanm
satu soal pengerjaan saja bisa membuat salah soal-soal selanjutnya.
3.2 Saran
Demikian makalah ini disusun.Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah sendiri.Kami
menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalamPembuatan makalah ini.Maka dari itu
kami mengharapkan kritik dan saran nya agar Kami lebih baik lagi dalam membuat makalah
berikutnya.
21
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Purnomo Setiady dan Husaini Usman. 2006. Pengantar Statistika Edisi Kedua. Jakarta : PT
Bumi Aksara
Akdon dan Riduwan .2013. Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung : Alfabeta. Dajan,
Anto, 1986. “Pengantar Metode Statistik Jilid II”. Jakarta : LP3ES .
Vincent. 1989. Statistika. Armico:Bandung
Hamid, H.M. Akib dan Nar Herrhyanto. 2008. Statistika Dasar. Jakarta : Universitas Terbuka.
Harinaldi, 2005. “Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains”. Jakarta : Erlangga.
Hasan, M. Iqbal. 2011. Pokok – Pokok Materi Statistika 1 (Statistik Deskriptif). Jakarta :PT Bumi
Aksara
Herrhyanto, Nar. 2008. Statistika Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.
Mangkuatmodjo, Soegyarto. 2004. Statistika Lanjutan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Pasaribu, Amudi. 1975. Pengantar Statistik. Gahlia Indonesia : Jakarta
Rachman,Maman dan Muchsin . 1996. Konsep dan Analisis Statistik. Semarang : CV. IKIP
Semarang Press
Saleh,Samsubar. 1998. STATISTIK DESKRIPTIP. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.
Siregar,Syofian. 2010. Statistika Deskriptif untuk Penelitian Dilengkapi Perhitungan Manual
dan Aplikasi SPSS Versi 17. Jakarta : Rajawali Pers.
Somantri, Ating dan Sambas Ali Muhidin. 2006. Aplikasi statistika dalam Penelitian. pustaka ceria :
Bandung
Subana,dkk. 2000. Statistik Pendidikan. Pustaka Setia:Bandung
Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Statistik Pendidikan. Raja Grafindo Persada.Jakarta
Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Sudijono,
Usman, Husaini & Setiady Akbar, Purnomo.2006. PENGANTAR STATISTIKA. Yogyakarta:
BUMI AKSARA.
Walpole, Ronald E, 1995. “Pengantar Statistik Edisi Ke-4”. Jakarta : PT Gramedia.
22