Anda di halaman 1dari 6

SURAT KEPUTUSAN

DIREKTUR RUMAH SAKIT SINAR KASIH TOR


NOMOR : /SK-RSSKT/II/2019

Tentang

PENUNJUKAN CASE MANAJER


RUMAH SAKIT SINAR KASIH TORAJA

DIREKTUR RUMAH SAKIT SINAR KASIH TORAJA,

Menimbang : a. Bahwa untuk meningkatkan mutu Pelayanan Rumah Sakit


diperlukan perubahan cara pandang pihak manajemen dan
klinis.
b. Bahwa dalam upaya peningkatan mutu dan keluarganya
tentang rasa sakit;

Mengingat : 1. Undang –Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


2. Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

MEMUTUSKAN

Menetapkan :
Pertama : PENUNJUKAN CASE MANAJER RUMAH SAKIT SINAR KASIH
TORAJA.
Kedua : Penunjukkan Case Manajer Rumah Sakit Sinar Kasih Toraja
sebagaimana tercantum dalam lampiran Surat Keputusan ini.
Kedua : Kebijakan Penunjukkan Case Manajer Rumah Sakit Sinar
Kasih Toraja sebagaimana dimaksud dalam dictum kesatu
sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini,
akan di adakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Makale
Pada tanggal : Februari 2019

Direktur

Rumah Sakit Sinar Kasih Toraja

dr. Zadrak Tombeg, Sp. A


Lampiran1 :
Hal : Penunjukan Case Manager Rumah Sakit Sinar Kasih Toraja

CASE MANAGER RUMAH SAKIT SINAR KASIH TORAJA


Tahun 2019

1.Ruang Dewasa :
2.Ruang Anak :
3.Ruang Bedah :
4.Ruang VK :
5. Ruang VIP :
6. IGD :
7. Poli :
8. OK :
9. HCU :
10. Ruang Nifas :
11.Laboratorium :
12.Radiologi :
13.Apotek :
Lampiran1 :
Hal : Penunjukan Case Manager Rumah Sakit Sinar Kasih Toraja

URAIAN TUGAS CASE MANAGER YAITU :

A. Memonitor permasalahan yang potensial


B. Mengevaluasi permasalahan dan mengusulkan solusi
C. Mengkomunikasikan solusi dan alternatif pemecahan masalah
D. Melakukan tindakan emergency jika diperlukan
E. Mengkoordinir pelaksanaan program
F. Penghubung pasien / keluarga dengan dokter utama atau bidang lain di
rumah sakit
G. Penghubung antar dokter specialis
H. Pertolongan gawat darurat
I. Pelayanan kepada pasien sesuai standar
J. Meningkatkan kepuasan pasien
K. Mengkoordinasikan pemberian pelayanan yang berkualitas
L. Mengkomunikasikan, monitor dan mengevaluasi pelayanan pasien sejak
masuk sampai dengan keluar Rumah Sakit.

FUNGSI MANAJER PELAYANAN PASIEN

1. Asesmen utilitas. Mampu mengakses semua informasi dan data untuk


mengevaluasi manfaat/utilisasi, untuk kebutuhan manajemen pelayanan
pasien. (Semua informasi dan data akurat, lengkap yang mudah diakses
tentang kebutuhan klinis, finansial, serta sosial pasien)

2. Perencanaan. Dengan asesmen yang lengkap, disusun perencanaan untuk


pelaksanaan manajemen pelayanan pasien. Perencanaan tsb mencerminkan
kelayakan/kepatutan dan efektivitas-biaya dari pengobatan medis dan
klinis serta kebutuhan pasien untuk mengambil keputusan.

3. Fasilitasi. Tugas ini mencakup interaksi antara MPP dan para anggota tim
pemberi pelayanan kesehatan, perwakilan pembayar, serta pasien/keluarga
yang mencari/menginginkan pembebasan dari hambatan namun dapat
mempengaruhi kinerja/hasil, serta menjaga kontinuitas pelayanan.
4. Advokasi. Mewakili kepentingan pasien adalah inti dari peran MPP. Tetapi
peran ini juga menjangkau pemangku kepentingan lain. MPP diharapkan
melakukan advokasi untuk opsi pengobatan yang dapat diterima setelah
berkonsultasi dengan DPJP, termasuk rencana pemulangan yang aman.
Advokasi perlu mempertimbangkan sistem nilai pasien, kemampuan
finansial termasuk atas jaminan pembiayaan, pilihan, serta kebutuhan
pelayanan kesehatannya

 TANGGUNG JAWAB

A. Seorang Case Manager bertanggung jawab atas pelaksanaan program


pemeriksaan penunjang dan pelaksanaan terapi yang telah ditentukan,agar
pelayanan kepada pasien diberikandengan baik sesuai standar sehingga
kepuasan pasien meningkat. Seorang Case Manager juga perlu memastikan
agar pelayanan kesehartan yang baik itu dapat di berikan
berkesinambungan dan kualitas yang prima.
B. MPP dapat bertanggung-jawab ke Direktur Medis

1. Melakukan skrining pasien yang membutuhkan manajemen pelayanan


pasien, berdasarkan pasien yang meliputi :

1.1 Risiko tinggi


1.2 Biaya tinggi
1.3 Potensi komplain tinggi
1.4 Kasus dengan penyakit kronis
1.5 Kasus komplek / rumit
1.6 Kemungkinan sistem pembiayaan yang komplek

2. Setelah pasien ditentukan sebagai klien MPP, maka dilakukan asesmen


utilitas dengan mengumpulkan berbagai informasi klinis, psiko-sosial,
sosio-ekonomis, maupun sistem pembayaran yang dimiliki pasien

3. Menyusun rencana manajemen pelayanan pasien tersebut,


berkolaborasi dengan DPJP serta para anggota tim klinis lainnya, yang
mencerminkan kelayakan / kepatutan dan efektivitas-biaya dari
pengobatan medis dan klinis serta kebutuhan pasien untuk mengambil
keputusan

4. Melakukan fasilitasi yang mencakup interaksi antara MPP dan DPJP


serta para anggota tim klinis lainnya, berbagai unit pelayanan,
pelayanan administrasi, perwakilan pembayar. Fasilitasi untuk
koordinasi, komunikasi dan kolaborasi antara pasien dan pemangku
kepentingan, serta menjaga kontinuitas pelayanan.

5. Memfasilitasi untuk kemungkinan pembebasan dari hambatan yang


tidak mempengaruhi kinerja/hasil

6. Memfasilitasi dan memberikan advokasi agar pasien memperoleh


pelayanan yang optimal sesuai dengan sistem pembiayaan dan
kemampuan finansial

7. Ada bukti dokumentasi kegiatan MPP, a.l. termasuk dalam rekam medis
seperti pencatatan dalam formulir edukasi-informasi.