Materi 2-1
Materi 2-1
Disusun Oleh:
Vera Dwi Faradina (17010044010)
2019
2
KATA PENGANTAR
Mari kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-
Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tantang “Problematika Belajar pada Anak
Berkebutuhan Khusus” dengan sebaik-baiknya.
Adapun tujuan penyusunan karya ini adalah untuk tugas Mata Kuliah Pembelajaran
Bahasa Indonesia untuk ABK. Dalam proses penyusunan penelitian ini, tentunya mendapatkan
bimbingan, arahan, koreksi, dan saran. Untuk itu rasa terima kasih yang dalam kami sampaikan
pada pihak-pihak yang sudah membantu menyelesaikan makalah ini.
. Kami berharap makalah ini berguna bagi kami, pembaca dan orang lain.
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………..…i
Kata Pengantar……………………………………..……………………………………………ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………………………iii
BAB 1 PENDAHULUAN..……………………………………………………………...……… 1
A. Latar Belakang……………………….………………………………………...…........... 1
B. Rumusan Masalah………………………….…………………………………....………. 1
C. Tujuan………………………………….………………………………………..........…. 2
BAB 11 PEMBAHASAN……………………………………………………………….…...…. 3
A. Kesimpulan …………………………………………………………………………….. 20
B. Saran ………………………………………………………………………………........ 21
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………… IV
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tidak setiap anak yang dilahirkan di dunia ini selalu mengalami perkembangan
normal. Banyak di antara mereka yang dalam perkembangannya mengaklami hambatan,
gangguan, kelambatan, atau memiliki faktor-faktor resiko sehingga untuk mecapai
perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah yang
kemudian dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus.
Dalam memahami anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa, sangat diperlukan
adanya pemahaman mengenai jenis-jenis kecacatan dan akibat-akibat yang terjadi pada
penderita. Anak berkebutuhan khusus disebut sebagai anak yang cacat dikarenakan mereka
termasuk anak yang pertumbuhan dan perkembangannya mengalami penyimpangan atau
kelainan, baik dari segi fisik, mental, emosi serta sosialnya bila dibandingkan dengan anak
yang normal.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain:
1
C. TUJUAN
Dalam rumusan masalah diatas, dapat dilihat tujuan dari makalah ini adalah:
2
BAB 2
PEMBAHASAN
Menurut Mulyono, anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang tergolong cacat
atau yang menyandang ketentuan,dan juga anak lantib dan berbakat. Dan menurut Frieda
Mangunsong, anak berkebutuhan khusus adalah anak yang menyimpang dari rata-rata anak
normal dalam hal ciri-ciri mental,kemampuan-kemampuan sensorik, fisik dan
neuromaskular, perilaku social dan emosional, kemampuan berkomunikasi, maupun
kombinasi dua atau lebih dari hal-hal diatas. Mereka memerlukan modifikasi dari tugas-tugas
sekolah, metode belajar atau pelayanan terkait lainnya, yang bertujuan untuk pengembangan
potensi atau kapasitas nya secara maksimal.
Jadi dapat disimpulkan, anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam
pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya.
Anak dikatakan berkebutuhan khusus jika ada sesuatu yang kurang atau lebih dalam dirinya.
Anak berkebutuhan khusus di definisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan
layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna
Secara garis besar, anak – anak berkebutuhan khusus adalah anak – anak yang
mengalami hambatan dari segi fisik, motorik, kognitif, emosi, dan juga perilaku sehingga
membutuhkan penanganan khusus. Namun penjelasan ini masih terlalu umum dan belum
terklasifikasi. Maka dari itu, para ahli mengklasifikasikan anak – anak berkebutuhan khusus
ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan karakteristik yang mereka miliki. Berikut adalah
klasifikasi anak berkebutuhan khusus (Efendy, 2008).
3
1. Tunanetra
Adalah anak yang memiliki hambatan pada fungsi penglihatannya. Bisa berupa
kebutaan menyeluruh ataupun sebagian.Seseorang dikatakan buta untuk pendidikan bila
mempunyai ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada bagian mata yang terbaik
setelah mendapat perbaikan nyang diperlukan atau mempunyai ketajaman lrbih dari
20/200 tetapi mempunyai keterbatasan dalam lantang pandangnya sehingga luas daerah
penglihatannya membentuk sudut tidak lebih dari 20 derajat
2. Tunarungu
Adalah anak yang memiliki hambatan pada fungsi pendengaraannya. Bisa berupa
kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang
mampu berkomunikasi secara verbal.
Tunarungu dibagi dalam dua kategori, yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (low
hearing). Tuli (deaf) berate keadaan dimana kemampuan pendengaran sudah tidak ada
sama sekali, sehingga anak menjadi tidak bisa mendengar seutuhnya. Sedangkan keadaan
low hearing masih memungkinkan anak untuk dapat mendengar, namun seringkali harus
dibantu oleh alat bantu dengar.
3. Tunadaksa
Tunadaksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan
bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal
(Somantri, 2007). Sedangkan menurut Efendi (2006) tunadaksa adalah gangguan yang
terjadi pada satu atau beberapa atribut tubuh yang menyebabkan penderitanya mengalami
kesulitan untuk mengoptimalkan fungsi tubuhnya secara normal..
4. Tunagrahita
Tunagrahita (retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami
hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata (IQ
dibawah 70) sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi
maupun social.
4
5. Autis
anak kesulitan belajar berarti suatu kelainan pada satu atau lebih proses psikologi
dasar untuk memahami penggunaan bahasa, berbicara atau menulis dengan kemungkinan
manifestasi dari semua itu dengan kukurangan dalam berfikir, berbicara, membaca,
menulis, mengeja dan melakukan perhitungan matematika.
7. ADHD
Anak – anak ADHD memiliki ciri – ciri antara lain tidak bisa diam, kesulitan
berkonsentrasi, dan cenderung impulsif. Mereka juga mengalami kesulitan dalam
mengambil keputusan, kesulitan berorganisasi, kesulitan dalam hal – hal yang sifatnya
sosial, juga kesulitan menempatkan diri mereka pada tatanan yang sudah seharusnya
(sulit disiplin).
8. Tunalaras
Tunalaras adalah anak – anak dengan perilaku yang menyimpang dari persepsi
masyarakat pada umumnya. Mereka pada umumnya mengalami gangguan emosional dan
ketidakmampuan penyesuain diri sehingga masyarakat awan seringkali menyebut mereka
sebagai anak – anak nakal.
5
C. Problematika Belajar Anak Tunanetra
Menurut Didi Tarsidi (2012) anak – anak tunanetra memiliki problematika belajar
yang khas akibat gangguan penglihatan yang mereka miliki. Gangguan penglihatan ini
menghambat segala informasi visual yang masuk, sehingga kemampuan kognitif anak juga
terhambat ketimbang anak – anak normal pada umumnya. Gangguan ini menyebabkan
beberapa problematika belajar. Antara lain:
Karena kurangnya pengalaman visual, maka konsepsi mereka tentang dunia ini
mungkin berbeda dari konsepsi orang awas pada umumnya.anak tuna netra
mengembangkan konsepnya terutama melalui pengalaman taktual sedangkan anak awas
melalui pengalaman visual.Inilah yang menyebabkan guru tertantang untuk menciptakan
media dan metode pembelajaran yang mengesampingkan pengalaman visual dan lebih
bergantung pada pengalaman audiotori dan taktil.
6
keterampilan untuk memahami hubungan lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya
di dalam lingkungan (Hill dan ponder, 1976)
Anak tunanetra tentu akan kesulitan dalam hal mobilitas apabila mereka tidak
mendapatkan pelajaran orientasi dan mobilitas dengan baik. Hal ini berpengaruh terhadap
tata ruang yang ada di sekitar mereka, termasuk ruang kelas. Untuk itu, para pakar dalam
bidang orientasi dan mobilitas telah merumuskan dua cara yang dapat ditempuh oleh
individu tuna netra untuk memproses informasi tentang lingkungannya, yaitudengan
metode urutan (sequncial mode) yang menggambarkan titik-titik di dalam lingkungan
sebagai rute yang berurutan, atau dengan metode peta kognitifvyang memberikan
gambaran topografis tentang hubungan secara umum antara berbagai titik di dalam
lingkungan .
Anak tuna netra dalam melakukan suatu hal yang bersifat baru membutuhkan
bentuan dan arahan agar dapat melakukannya, namun bantuan dan arahan tersebut tidak
dapat dilakukan secara terus menerus. Hal ini dilakukan oleh anak tunanetra yang
memiliki asumsi bahwa dengan bantuan orang awas terutama monilitas merasa lebih
aman, sehingga akan menjadikan anak tuna netra memiliki ketergantungan secara
berlebihan kepada orang awas terutama pada hal-hal yang anak tuna netra dapat
melakukan secara mandiri.
Anak tuna rungu tidak bisa mendengar bahasa, kemampuan berbahasanya tidak
akan berkembang bila tidak dididik atau dilatih secara khusus. Akibat
ketidakmampuannya, jika dibandingkan dengan anak yang mendengar dengan usia yang
7
sama, maka dalam perkembangan bahasanya akan jauh tertinggal. Kemampuan bicara
anak tuna rungu akan berkembang dengan sendirinya, namun diperlukan latihan dan
bimbingan secara intensif.
Anak – anak tunagrahita adalah anak – anak yang memiliki tingkat kecerdasan di
bawah anak normal atau menurut American Asociation on Mental Deficiency, mencapai
angka 84 ke bawah. Biasanya anak – anak tunagrahita akan mengalami kesulitan dalam
“Adaptive Behavior” atau penyesuaian perilaku.Hal ini berarti anak tunagrahita tidak dapat
mencapai kemandirian yang sesuai dengan ukuran (standard) kemandirian dan tanggungjawab
sosial anak normal yang lainnya dan juga akan mengalami masalah dalam keterampilan
akademik dan berkomunikasi dengan kelompok usia sebaya (Yosiani, 2014).
Pada anak tunagrahita, segala masalah yang terjadi merupakan akibat dari
ketidakmampuan kognisi mereka dalam mencari, mengolah, dan menyimpan informasi yang
didapatkan dari lingkungan. Hal ini tentu menyebabkan anak – anak tunagrahita mengalami
kesulitan dalam hal belajar. Beberapa problematika belajar yang terjadi pada anak tunagrahita
antara lain:
8
1. Kesulitan dalam Menerima dan Menyimpan Pengetahuan Baru
Anak – anak tunagrahita memiliki kemampuan mengingat yang rendah. Tiap kali
mereka mendapatkan pengetahuan baru, mereka akan mengalami kesulitan dalam
menerima dan menyimpan pengetahuan tersebut apabila tidak disertai dengan
pengulangan terus – menerus. Hal ini tentu berimbas pada materi dan juga lama
pendidikan yang diberikan. Apabila anak – anak normal mampu diberi materi sebanyak –
banyaknya, maka anak – anak tunagrahita hanya mampu menerima materi dalam jumlah
yang terbatas. Itu pun membutuhkan waktu yang lebih lama dengan media yang
sederhana, menarik dan mudah dimengerti.
Karena kecenderungan anak tunagrahita yang memiliki usia mental yang lebih
rendah dibanding usia kronologisnya, maka kemampuan konsentrasi anak tunagrahita
turut rendah pula. Mereka tidak mudah menaruh perhatian terhadap sesuatu apabila
sesuatu tersebut dirasa kurang menarik. Tentu saja implikasi dari problematika ini adalah
permasalahan dalam belajar. Ketika belajar, anak – anak tunagrahita akan sulit menaruh
perhatian pada materi yang diberikan. Mereka akan cenderung mengikuti kemauan
mereka sendiri akibat kesadaran akan moral dan etika yang kurang.
9
koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi
(Astati. 2014). Pada umumnya, anak – anak tunadaksa dibagi menjadi dua kategori. Yakni
anak yang mengalami kelainan pada sistem cerebral (cerebral palsy) dan anak yang mengalami
kelainan pada sistem rangka atau otot.
Dari segi intelegensi, anak tunadaksa memiliki tingkatan yang beragam. Anak – anak
yang mengalami kelainan pada sistem rangka atau otot sebagian besar memiliki kecerdasan
normal, sehingga dapat belajar layaknya orang normal. Sedangkan pada anak cerebral palsy,
tingkat kecerdasan yang dimiliki seringkali berbeda – beda antara anak satu dengan lainnya.
Menurut Hardman (1990), 45% anak cerebral palsy mengalami keterbelakangan mental
(tunagrahita), 35% memiliki kecerdasan normal dan di atas normal, sedangan sisanya memiliki
kecerdasan borderline atau sedikit di bawah rata – rata.
Bagi anak – anak tunadaksa yang memiliki tingkat kecerdasan rendah, tentu
problematika belajarnya sama dengan anak tunadaksa. Sedangkan bagi anak – anak tunadaksa
lainnya, problematika belajarnya berkutat dengan masalah sosial – emosi dan juga mobilisasi.
Berikut penjabaran problematika tersebut.
Anak – anak tunadaksa yang tidak memiliki ketangguhan mental biasanya akan
mengalami masalah pada tingkat kepercayaan dirinya. Mereka kerapkali merasa tidak
diterima oleh lingkungan akibat masalah fisik yang mereka. Tentu saja hal ini akan
berdampak pada kesulitan dalam mengaktualiasi diri. Sehingga dalam pembelajaran
mereka cenderung pasif, meskipun sesungguhnya mereka memiliki kemampuan memadai
untuk memahami materi pembelajaran yang diberikan.
10
Masalah mobilisasi adalah masalah pelik bagi anak tunadaksa. Mereka yang
mengalami kelainan otot namun tidak didukung oleh peralatan penunjang yang baik akan
kesulitan dalam beripindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Begitu pula dalam
kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, anak tunadaksa membutuhkan
perlatan khusus dalam melakukan mobilisasi di dalam kelas.
Anak berkesulitan belajar spesifik adalah individu yang mengalami gangguan dalam
suatu proses psikologis dasar, disfungsi sistem syaraf pusat, atau gangguan neurologis yang
dimanifestasikan dalam kegagalan-kegagalan nyata dalam: pemahaman, gangguan
mendengarkan, berbicara, membaca, mengeja, berpikir, menulis, berhitung, atau
keterampilan sosial.
Adapun problem anak kesulitan belajar spesifik dalam pembelajarannya sebagai berikut:
1. Anak mempunyai kekacauan dalam satu atau lebih proses psikologi dasar (memori,
persepsi auditori, persepsi visual, bahasa, dan berfikir)
2. Anak mempunyai kesulitan dalam belajar, terutama dalam hal berbicara, mendengarkan,
menulis, membaca (mekanik dan pemahaman), dan matematika
3. Memiliki masalah pada memori jangka panjangnya
4. Memiliki masalah pada executive functionnya seperti anak sulit memperkirakan jarak,
ukuran, kecepatan
5. Sulit fokus dalam proses pembelajaran
6. Tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri
7. Tidak bisa mengikuti intruksi kalimat bertingkat, misalnya buka buku halaman 13, bab 3,
paragraf 3
Beberapa masalah perilaku yang muncul yang menghambat proses belajar pada anak
ADHD dapat digambarkan sebagai berikut:
11
Masalah motorik pada anak ini disebabkan karena kesulitan mengontrol dan
melakukan koordinasi dalam aktivitas motoriknya, sehingga tidak dapat membedakan
kegiatan yang penting dan yang tidak penting. Gerakannya dilakukan terus-menerus
tanpa lelah, sehingga kesulitan memusatkan perhatian. Aktivitas motorik berlebihan ini
seperti, jalan-jalan di kelas atau bertindak berlebihan.
Masalah ini sangat membutuhkan kesabaran guru. Ciri impulsif demikian ini
merupakan salah satu sifat yang dapat menghambat proses belajar anak. Keadaan ini
menunjukkan bahwa anak tidak dapat mengendalikan dirinya untuk berespon secara
tepat. Mereka sangat dikuasai oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi, sulit
untuk mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang akan
ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan yang bersangkutan maupun
lingkungannya.
Impulsivitas ini muncul pula dalam bentuk verbal. Mereka berbicara tanpa
berpikir lebih dahulu, tidak memperhitungkan bagaimana perasaan orang lain yang
mendengarkan, apakah akan menyinggung atau menyakitkan hati. Bentuk lain dari
impulsivitas adalah anak seperti tidak sabaran, kurang mampu untuk menuna: keinginan,
menginterupsi pembicaraan orang lain. Cepat marah jika orang lain melakukan sesuatu di
luar keinginannya
3. Menghindari Tugas
12
Masalah ini muncul karena biasanya anak merasa cepat bosan, sekalipun dengan
tugas yang menarik. Tugas-tugas belajar kemungkinan sulit dikerjakan karena anak
mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri terhadap kegiatan belajar yang diikutinya.
Keadaan ini dapat memunculkan rasa frustasi. Akibatnya anak kehilangan motivasi untuk
belajar.
4.Kurang Perhatian
13
Masalah ini berpangkal pada perhatian, ketika perhatian pecah selama kegiatan
permbelajaran, terjadi perpecahan proses informasi yang mengakibatkan kebingungan
sehingga informasi yang diterima tidak utuh.
Selain itu dapat menurunkan daya ingat jangka pendek. Anak ADHD mengalami
kesulitan dalam mengingat informasi yang baru didapat untuk jangka waktu yang pendek.
Keadaan ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar, karena anak cenderung tidak dapat
merespon dengan baik setiap instruksi. Dengan demikian mereka juga mengalami
kesulitan dalam mempelajari simbol-simbol, seperti warna dan alphabet.
7. Disorganisasi
Anak-ank ini seringkali memiliki tulisan tangan yang jelek. Masalah ini bisa
ditemukan pada tingkat berat sampai ringan. Tulisan yang jelek ada hubungannya dengan
masalah aktivitas motorik dan sikap impulsif yang teburu-buru.
Masalah ini juga erat kaitannya dengan masalah koordinasi motorik yang
mengaruhi keterampilan motorik kasar dan halus atau koordinasi mata dan tangan. Dalam
keterampilan motorik kasar, mereka mengalami kesulitan dalam keseimbangan
melompat, berlari, atau naik sepeda. Dalam keterampilan motorik halus, seperti
14
mengancingkan baju, memakai tali sepatu, menggunting, mewarnai, dan tulisannya sulit
dibaca. Dalam koordinasi mata-tangan seperti melempar bola, menangkap bola,
menendang, maka gerakan-gerakannya cenderung terburu-buru. Hal ini tampak juga
ketika mengikuti kegiatan olah raga, gerakangerakannya tampak kurang terampil.
Meskipun masalah dalam hubungan teman sebaya tidak ditemukan pada semua
anak - anak ini, namun kecenderungan impulsif, kesulitan menguasai diri sendiri, serta
toleransi rasa frustasi yang rendah, tidaklah mengherankan jika sebagian anak
mempunyai masalah dalam kehidupan sosial, kesulitan bermain dengan aturan, dan
aktivitas lainnya yang tidak hanya terbatas di sekolah saja tetapi di lingkungan sosial
lainnya.
Masalah penyesuaian diri ini, bisa ditemukan dalam semua hal yang baru,
misalnya sekolah, guru, rumah, baju baru. Mereka lebih menyukai lingkungan yang
sudah dikenal dengan baik, tidak mudah berubah, dan bersifat kekeluargaan. Keadaan ini
dapat menyebabkan mereka lebih cepat menjadi putus asa. Seringkali apa yang sudah
menjadi kebiasaan sejak kecil akan berlanjut terus sampai dewasa.
Anak ADHD menampakkan pula perilaku sangat labil dalam menentukan derajat
suasana hati dari sedih ke gembira. Stimulus yang menyenangkan akan menyebabkan
kegembiraan yang berlebihan, sedang rangsang yang tidak menyenangkan akan
memunculkan kemarahan yang besar. Anak seringkali marah hanya disebabkan oleh
faktor pemicu yang sepele. Mereka juga cenderung mengalami masalah untuk merasakan
kegembiraan. Pada masa remaja kurang merasakan perasaan kehilangan semangat atau
tidak berdaya.
Selain itu pada gangguan ini konsep diri yang dimiliki sangat rendah. Kebanyakan
mereka menolak untuk bermain dengan teman seusianya, mereka lebih suka bermain
dengan yang lebih mudah usianya. Keadaan ini menunjukkan pertanda awal dari harga
diri yang rendah. Apabila dikemudian hari mereka tidak menunjukkan kemajuan di
sekolah atau tidak dapat mengembangkan keterampilan sosial, akan menimbulkan
perasaan citra diri yang negatif yang membuat rasa harga dirinya semakin menurun.
15
I. Problematika Belajar Anak Autis
Autis merupakan suatu istilah yang berasal dari kata autos dan bermakna segala sesuatu
yang mengarah pada diri sendiri. Sedangkan isme memiliki arti satu paham yang tertarik pada
dunianya sendiri. Autism Spectrum Disorder (ASD) seringkali disebut sebagai gangguan
spektrum autis yang menyebabkan adanya gangguan atau hambatan pada perkembangan
seorang anak atau individu dan berdampak pada kemampuan komunikasi dan interaksi sosial
dan juga perilakunya.
Dalam Kamus Lengkap Psikologi, Chaplin (2005) mendefinisikan Autis sebagai :
1. Cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau oleh diri sendiri
2. Menanggapi dunia berdasarkan penglihatan, harapan sendiri, dan menolak realitas
3. Keasyikan ekstrim dengan pikiran dan fantasi sendiri
Hallahan dan Kaufman (2006) juga menyatakan bahwa individu dengan spektrum autis
juga memiliki gangguan pendukung atau tambahan, yaitu dalam segi kognitif, persepsi sensori,
motorik, afektif, tingkah laku agresif dan impulsif serta gangguan tidur dan makan.
16
berkomunikasi, mereka bermasalah ketika hendak mengungkapkan suatu respon, juga
menjalin kontak mata dan memusatkan perhatiannya pada komunikan.
Banyak dari mereka yang cenderung memiliki sikap mutisme, yakni tidak mau
memfungsikan alat bicaranya. Dan mereka baru memulai berbicara hanya pada orang-
orang tertentu yang sudah familier.
2. Cognitive Behavioral Stereotypy
Anak atau individu dengan spektrum autis mengalami gangguan atau hambatan
pada pola perilaku dan minat. Kecerdasan yang dimiliki oleh anak atau individu dengan
spektrum autis sangat bervariasi. Mereka memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-
beda, namun pada umumnya mereka mimiliki pola keahlian yang tidak merata. Anak atau
individu dengan spektrum autis memiliki gaya berpikir yang kongkrit dan cenderung
kesulitan dalam menghadapi konsep abstrak dan verbal.
Kegiatan pada anak atau individu dengan spektrum autis cenderung terbatas,
berulang-ulang dan stereotip. Jadi dalam hal ini dimaknai bahwa anak dengan spektrum
autis memiliki perilaku yang tidak semestinya atau tidak seperti yang diharapkan orang
pada umumnya. Mereka cenderung mengulang-ulang suatu perilaku yang tidak bertujuan
dan orang lain menyebutnya “aneh”, misalnya seperti perilaku repetitif atau pengulangan.
Anak dengan spektrum autis seringkali memiliki tingkah laku motorik ritual seperti
berputar-putar dengan cepat atau biasa yang disebut twirling. Mereka juga sering
memutar-mutar suatu objek yang menurutnya itu menarik dan mengasyikkan. Selain itu,
seringkali mengepak-ngepakkan tangannya, atau biasa disebut flapping dan yang terakhir
bergerak maju mundur atau kiri kanan, disebut dengan rocking. Perilaku tersebut juga
seringkali muncul secara tiba-tiba.
Anak atau individu dengan ASD juga memiliki rentang minat yang terbatas.
Mereka seringkali menunjukkan suatu sikap atau rutinitas dan ritual dengan cara atau
urutan tertentu. Sehingga anak atau individu dengan ASD mudah menolak terhadap suatu
perubahan, karena mereka menganggap bahwa perpindahan (transisi) kegiatan tersebut
merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Maka jika terjadi suatu perubahan atau
perpindahan suatu cara ataupun urutan kegiatannya, mereka cenderung memunculkan
suatu perilaku yang tidak semestinya. Dalam hal ini bermakna, kegiatannya tidak sebaik
dari sebelumnya. Pada masa-masa tersebut, anak atau individu dengan ASD dapat
17
mengalami frustasi, kebingungan dan kecemasan dalam dirinya. Karena mereka
mengalami kesulitan dalam komunikasi, sosial dan sensoris pada suatu proses perubahan
kegiatannya. Sebagai orang tua, ada baiknya jika kita dapat memahami perilaku anak atau
individu dengan ASD sebagai bentuk komunikasinya untuk mengisyaratkan terkait
kondisi atau kesulitan yang ia alami.
3. Impairment In Social Interaction
Anak atau individu dengan spektrum autis mengalami gangguan atau hambatan
pada interaksi sosial. Mereka sering kali kesulitan ketika melakukan suatu kontak atau
hubungan dengan lingkungannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan perilaku anak dengan
spektrum autis ketika menjalin hubungan pertemanan dengan anak sebayanya. Mereka
cenderung tidak ingin berbagi kegiatan atau minatnya dengan orang lain dan lebih asyik
dengan “dunia”nya sendiri. Mereka juga mengalami kesulitan dalam merespon suatu
situasi ataupun perilaku sosial dengan wajar. Gangguan ini juga menyebabkan anak
dengan spektrum autis kesulitan dalam memahami ekspresi wajah orang lain maupun
mengekspresikan perasaannya sendiri, baik verbal maupun non-verbal. Dari situlah
timbul kesan bahwa anak dengan spektrum autis mereka tidak ingin berteman.
J. Problematika Belajar Anak Lambat Belajar
Masalah belajar utama anak dengan lambat berlajar dalah lambatnya menerima,
mengolah, juga mengomunikasikan segala informasi yang mereka dapat. Hal tersebut
disebabkan karena anak dengan lambat belajar cenderung lamban dalam mengamati dan
mereaksi suatu peristiwa yang terjadi dilingkungan sekitarnya, sehingga anak dalam proses
belajarnya cenderung tertinggal dengan anak atau siswa yang lainnya. Anak dengan lamban
belajar juga cenderung jarang mengajukan pertanyaan dan kurang berkeinginan dalam
mengikuti jawabannya, sehingga anak lamban belajar akan tertinggal dalam memahami apa
yang sedang dipelajari. Mereka juga banyak menggunakan daya ingat (hafalan) daripada
logiga, hal tersebut juga mempengaruhi proses belajarnya apabila anak dengan lamban belajar
memiliki ingatan yang buruk. Problematika lainnya yaitu mereka tidak dapat menggunakan
cara-cara menghubungkan bagian pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, kurang lancar,
tidak jelas dan tidak tepat dalam menggunakan bahasa, banyak bergantung pada guru dan
orang tua dalam membuktikan ilmu pengetahuan, sangat lamaban dalam memahami hal-hal
ynag bersifat abstrak.
18
K. Problematika Belajar Anak Tunalaras
Anak tunalaras banyak mengalami problematika belajar, hal ini disebabkan karena anak
tunalaras memiliki daya konsentrasi yang terbatas. Hal tersebut dapat mempengaruhi proses
belajar karena dalam proses belajar juga memerlukan konsentrasi. Anak tunalaras juga
cenderung kurang disiplin, hal tersebut menyebabkan anak tunalaras akan tertinggal belajarnya
dari anak yang lain. Anak tunalaras juga kurang motivasi dalam belajarnya. Problem yang
lainnya yaitu kurang memiliki kerjasama dan toleransi, kurang memiliki motif prestasi, kurang
memiliki kesabaran, dan kurang mampu berfikir komprehensif dan kemampuan analisisnya
yang rendah, cenderung mengabaikan tugas dan tanggungjawab yang diberikan.
19
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak Berkebutuhan Khusus atau disingkat ABK, ialah anak yang pada masa
pertumbuhannya mengalami hambatan, gangguan, kelambatan, dan beberapa faktor-faktor
lain yang memperlambat proses tumbuh kembang fisik, emosinal, pemikiran, maupun
kehidupan sosialnya. Anak berkebutuhan khusus ini terdiri atas tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, tunadaksa, autis, ADHD, Kesulitan Belajar, Lambat Belajar, dan Tunalaras.
Anak tunanetra memiliki beberapa hambatan belajar. Di antaranya: (1) Tidak mampu
menerima informasi secara visual, (2) Menggunakan indera peraba untuk keperluan kognisi
membutuhkan usaha, (3) Keterlambatan dalam kemampuan bergerak di dalam lingkungan,
(4) Memiliki sifat ketergantungan terhadap guru atau partner belajar.
Problematika belajar yang dialami anak tunarungu antara lain: (1) kesulitan berbahasa
yang mengganggu proses komunikasi dalam pembelajaran, (2) Keenganan untuk
berpartisipasi secara oral, (3) Adanya ketergantungan terhadap petunjuk atau instruksi di
kelas.
Problematika belajar anak tunagrahita antara lain: (1) Kesulitan dalam menerima dan
menyimpan pengetahuan baru, (2) Perhatian mudah teralih, serta (3) Pasif dalam
pembelajaran.
Problematika belajar anak tunadaksa antara lain: (1) Kurangnya rasa percaya diri dan
(2) Rendahnya kemampuan mobilisasi.
Problematika anak kesulitan belajar antara lain : (1) Anak mengalami kekacauan
dalam proses psikologis dasar (memori, persepsi auditori, visual, bahasa dan berpikir). (2)
Anak mempunyai kesulitan dalam belajar, terutama dalam hal berbicara, mendengarkan,
menulis, membaca (mekanik dan pemahaman), dan matematika, (3) Memiliki masalah pada
memori jangka panjangnya, (4) Memiliki masalah pada executive functionnya seperti anak
sulit memperkirakan jarak, ukuran, kecepatan, (5) Sulit fokus dalam proses pembelajaran, (6)
20
Tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri, (7) Tidak bisa mengikuti intruksi kalimat
bertingkat, misalnya buka buku halaman 13, bab 3, paragraf 3.
Problematika belajar anak ADHD antara lain: (1) Aktivitas motorik yang berlebihan,
(2) Menjawab tanpa ditanya, (3) Menghindari tugas, (4) Kurang perhatian, (5) Tugas yang
tidak diselesaikan, (6) Bingung akan arahan – arahan, (7) Disorganisasi, (8) Tulisan yang
jelek, (9) Emosi yang tidak stabil.
Problematika belajar pada anak autis antara lain: (1) Cara berpikir yang dikendalikan
oleh kebutuhan personal atau oleh diri sendiri, (2) Menanggapi dunia berdasarkan penglihatan,
harapan sendiri, dan menolak realitas, (3) Keasyikan ekstrim dengan pikiran dan fantasi
sendiri.
Problematika belajar pada anak lamban belajar adalah lamanya mereka dalam
menerima, mengolah, serta mengomunikasikan informasi yang didapat. Sedangkan
problematika belajar pada anak tunalaras adalah konsentrasi yang terbatas dan sulitnya
menaati aturan.
B. SARAN
1.Pemahaman mengenai karakteristik dan problema belajar bukan hanya tugas para psikolog,
namun guru sebagai pengajar juga wajib memperlajari hal tersebut.
2. Para orang tua yang memiliki anak problema belajar sebaiknya segera berkonsultasi dengan
tenaga ahlin untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
21
DAFTAR PUSTAKA
Astati, dkk. 2000. Model Pembelajaran Anak Luar Biasa yang Mengikuti Pendidikan di Sekolah
Umum. Laporan Penelitian. Bandung. Jurusan PLB FIP UPI
Yosiani, Novita. 2014. Relasi Karakteristik Anak Tunagrahita Dengan Tata Ruang Belajar Di
Sekolah Luar Biasa. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan. Jurnal Architecture
Vol 1. No. 2
22