0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan111 halaman

Pengetahuan dan Kecemasan Penyintas COVID-19

Skripsi ini membahas hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan pada penyintas COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pengambilan sampel sebanyak 81 responden melalui teknik purposive sampling. Hasilnya menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kecemasan penyintas COVID-19, dim

Diunggah oleh

kelompok empat
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan111 halaman

Pengetahuan dan Kecemasan Penyintas COVID-19

Skripsi ini membahas hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan pada penyintas COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pengambilan sampel sebanyak 81 responden melalui teknik purposive sampling. Hasilnya menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kecemasan penyintas COVID-19, dim

Diunggah oleh

kelompok empat
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT


KECEMASAN PADA PENYINTAS COVID-19 DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS SIDOMULYO KOTA BENGKULU
TAHUN 2022

Oleh :

RESI PURNAMA SARI


1826010040

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2022
PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama Mahasiswa : Resi Purnama Sari

Nomor Mahasiswa : 1826010040

Program Studi : Ners

Lembaga : STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini merupakan hasil karya saya

sendiri menggunakan data sesuai keadaan dilapangan, dan sepanjang pengetahuan

saya dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah di tulis atau

diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan

disebutkan dalam daftar pustaka.

Bengkulu, Agustus 2022

Yang membuat pernyataan

Resi Purnama Sari


NPM. 1826010040

i
Motto Dan Persembahan

Motto :

 “Waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memanfaatkannya dengan

baik, maka ia akan memanfaatkan mu ( HR. Muslim )

 Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum

sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri

( QS. Ar-Rad Ayat 11 )

 Start everything with bismillah, stay healthy, stay happy,Tidak

masalah seberapa lambat kamu berjalan, asalkan jangan sampai

berhenti.

Persembahan :

Dengan segenap rasa syukur, skripsi ini ku persembahkan untuk:

 Kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak kekuatan,

kesabaran, kesehatan, kemudahan dan kelancaran.puji syukur hamba

panjatkan padamu ya Rabb…setiap keberhasil ini takkan ada dalam

kehidupanku tanpa izinmu.

 Dengan iringan do’a dan rasa syukur,melalui perjuangan ini perlahan

ku gapai sekeping keberhasilan dengan tangan yang terbuka dan hati

yang tulus ku persembahkan setitik kebahagian ini kepada yang

tercinta ayahku (Kaharudin) dan ibunda tercintaku ( Yurnaini ) yang

slalu mendukungku setiap waktu dengan kasih sayang,dan tetesan

air mata yang senantiasa mengiringi setiap untaian bait doa-

doanya,serta cucuran keringat yang slalu mengiringi setiap usaha

dan jerih payahnya demi keberhasilanku.

ii
 Kepada kedua kakakku tersayang Helmiza, S.I.P & puryadi, M.Pd

terimakasih telah menjadi panutan serta motivasi untukku,dorongan

semangat dan d0’a kalian telah menghantarkan perjuangan ku sampai

di titik ini.

 Adek ku Radiyta dwi angreyni terimakasih telah membantu dan

mendampingiku mengerjakan skripsi ini hingga selesai.

 Terima kasih juga untuk sahabat tercinta ,sahabat seperjuanganku,

Chairiska putri meunasah siregar, yang telah menjadi penyemangat,

penenang serta panutaan dalam belajar untuku dalam berjuang

menyelesaikan skripsi ini.

 Untuk Sahabat tersayangku Chelly Masita ( Zherly ) terimakasih

telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini. menjadi

orang yang siap di repotkan kapan pun,menjadi saksi betapa sulitnya

jalan ini ku lalui.

 Kepada para sahabat ku Welia somita Gundari,endang sri mulyani,

frezylya lingwe erlangga yang telah memberikan semangat, bantuan

serta motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

 Terima kasih juga untuk kedua pembimbingku, Bapak (Dr. H. Buyung

Keraman M.Kes. ) dan bapak (Ns. Ade Herman Surya Direja, S.Kep,

MAN) yang telah meluangkan waktuya untuk membimbingku selama

penyelesaian Skripsi ini.

 Teman-temanku di kelas Keperawatan B angkatan 2018 kurang lebih

4 tahun kita bersama, terimakasih atas peran dan bantuan kepada

saya dalam berproses menjadi jiwa yang lebih kuat.

iii
 Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu

menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan namanya

satu-persatu.

 Terimakasih Teruntuk teman-teman seperjuanganku dan almamater

hijau tercinta Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

iv
ABSTRAK

Resi Purnama Sari, 2022. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat


Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 Di Wilayah Kerja Puskesmas
Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022. Skripsi. Bengkulu : Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu. Pembimbing I Bapak Dr. H.
Buyung Keraman, M. Kes dan Pembimbing II Bapak Ns. Ade Herman Surya
Direja, S. Kep, MAN.

Corona virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit akibat


infeksi virus saluran pernapasan yang sangat menular yang disebabkan oleh
virus baru bernama Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus 2 (SARS-
CoV-2). Pada banyak kasus, penyintas COVID-19 masih bergejala hingga lebih
dari 60 hari setelah onset pertama muncul akan ada gelombang besar pasien
dengan penyakit COVID yang berkepanjangan, baik fisik maupun emosional,
kondisi ini menimbulkan kecemasan pada masyarakat yang di akibatkan tingkat
pengetahuan yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan pada penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu dan telah di lakukan
penelitian dari tanggal 28 juni -14 juli 2022.
Penelitian ini men gambil sampel dari populasi dengan cara purposive
sampling dengan total sample 81 orang. Data yang di gunakan adalah data primer
dan data sekunder, data di analisis menggunakan analisis univariat dan bivariat.
Hasil penelitian ini menunjukan dari 81 sample terdapat responden dengan
tingkat pengetahuan baik berjumlah 22 orang (27,2%), responden tingkat
pengetahuan cukup berjumlah 45 orang (55,6%), dan responden tingkat
pengetahuan kurang berjumlah 14 orang (17,3%), dan responden dengan tingkat
kecemasan berat berjumlah 2 orang (2,5%), responden tingkat kecemasan sedang
berjumlah 26 orang (32,1%), responden tingkat kecemasan ringan berjumlah 10
orang (12,3%), responden tingkat kecemasan normal berjumlah 43 orang (53,1%).
Berdasarkan analisis data dari hasil uji statistik analisis korelasi Rank
Spearman (rho) didapat nilai rho = -0,458 dengan p-value=0,000<0,05 signifikan,
maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi Ada hubungan yang signifikan antara
hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas
COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022.

Kata kunci : COVID-19, Pengetahuan, Penyintas, Kecemasan

v
ABSTRAC

Resi Purnama Sari, 2022. Relationship between Knowledge Level and


Anxiety Level for COVID-19 Survivors in Sidomulyo Health Center Work
Area, Bengkulu City in 2022. Thesis. Bengkulu : Tri Mandiri Sakti Institute
of Health Sciences Bengkulu. Advisor I Dr. H. Buyung Keraman, M. Kes and
Advisor II Ns. Ade Herman Surya Direja, S. Kep, MAN.

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a disease caused by a highly


contagious respiratory viral infection caused by a new virus called Severe Acute
Respiratory Syndrome-Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). In many cases, COVID-19
survivors are still symptomatic for more than 60 days after the first onset, there
will be a large influx of patients with prolonged COVID-19, both physically and
emotionally, this condition causes anxiety in the community due to a lack of
knowledge. This study aims to determine the relationship between the level of
knowledge and the level of anxiety in COVID-19 survivors in the Work Area of
Pusjesmas Sidomulyo Bengkulu City and the research was conducted from 28
june -14 July 2022.
This study took samples from the population by purposive sampling with a
total sample of 81 people. The data used were primary and secondary data. The
data were analyzed using univariate and bivariate analysis.
The results of this study showed that from 81 samples there were 22 respondents
with a good level of knowledge (27.2%), 45 respondents with sufficient
knowledge (55.6%), and 14 respondents (17.3%) with a low level of
knowledge. ), and respondents with severe anxiety levels were 2 people (2.5%),
moderate anxiety level respondents were 26 people (32.1%), respondents with
mild anxiety levels were 10 people (12.3%), and normal anxiety level respondents
totaled 43 people (53.1%).
Based on data analysis from statistical test results of Spearman Rank
correlation analysis (rho) obtained rho value = -0.458 with p-value = 0.000 <0.05
significant, then Ho is rejected and Ha is accepted. So there is a significant
relationship between the level of knowledge and the level of anxiety in COVID-
19 survivors in the work area of the Sidomulyo Health Center, Bengkulu City in
2022.

Keywords: COVID-19, Knowledge, Survivors, Anxiety Level

vi
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang

telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta kemudahan dan pertolongan

yang telah diberikan sehingga penulis mampu menyelesaikan Skripsi ini tepat

pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan

Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 Di Wilayah Kerja

Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022” Skripsi ini merupakan

bagian yang tidak terpisahkan atau merupakan rangkaian kegiatan akademik yang

merupakan syarat yang diwajibkan untuk memperoleh gelar kesarjanaan

Keperawatan Strata-1 (S-1) pada Program Studi Ners Stikes Tri Mandiri Sakti

Bengkulu.

Selanjutnya, tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak

yang telah banyak membantu sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan. Ucapan

terimakasih khususnya penulis ucapkan kepada

1. Bapak Drs. H. S. Effendi, MS selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

2. Ibu Ns. Pawiliyah, S.Kep, MAN selaku Ketua Prodi Ners Sekolah Tinggi

Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

3. Bapak Dr. H. Buyung Keraman, M. Kes Selaku pembimbing I skripsi yang

banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Ns. Ade Herman Surya Direja, S.Kep, MAN selaku pembimbing II

skripsi yang banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

vii
5. Seluruh Dosen dan Staf Administrasi Program Studi Ners Sekolah Tinggi

Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu yang telah banyak membantu

baik secara langsung maupun tidak langsung demi kelancaran dalam

penyusunan skripsi ini.

6. Rekan-rekan satu angkatan 2018 Program Studi Ners Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

7. Kepada seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah

membantu penulis selama pengerjaan skripsi ini.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan yang

disebabkan oleh keterbatasan penulis. Oleh karena itu, penulis sangat

mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi

kesempurnaan skripsi ini sehingga akan lebih bermanfaat.

Bengkulu, September 2022

Penulis

viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL
PERNYATAAN.......................................................................................................i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................ii
ABSTRAK..............................................................................................................v
ABSTRAC.............................................................................................................vi
KATA PENGANTAR..........................................................................................vii
DAFTAR ISI..........................................................................................................ix
DAFTAR TABEL.................................................................................................xi
DAFTAR BAGAN...............................................................................................xii
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................xiii

BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................5
C. Tujuan penelitian...........................................................................................5
D. Manfaat Penelitian........................................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................8


A. Landasan Teori..............................................................................................8
B. Pengetahuan................................................................................................22
C. Kecemasaan................................................................................................33
D. Gejala Kecemasan.......................................................................................36
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan..........................................37
H. Kerangka Konsep........................................................................................43
I. Defenisi Operasional...................................................................................44
J. Hipotesis......................................................................................................45

BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................46


A. Tempat dan waktu penelitian......................................................................46
B. Desain penelitian.........................................................................................46
C. Populasi dan Sampel...................................................................................46
D. Teknik Pengumpulan Data..........................................................................48
E. Teknik Pengolahan Data.............................................................................49
F. Teknik Analisa Data....................................................................................49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................51


A. Hasil Penelitian...........................................................................................51
B. Pembahasan.................................................................................................55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................61


A. Kesimpulan.................................................................................................61
B. Saran............................................................................................................61

ix
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2. 1 Defenisi Operasional..................................................................................44

Tabel 4. 1 Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Penyintas COVID-19 di Wilayah

Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu...........................................52

Tabel 4. 2 Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 di Wilayah


Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu............................................53

Tabel 4. 3 Normalitas Data Tingkat Pengetahuan dan Kecemasan Pada Penyintas


COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu
....................................................................................................................54

Tabel 4. 4 Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Korelasi


Rank Spearman...........................................................................................54

xi
DAFTAR BAGAN

Halaman
Bagan 2. 1 Kerangka Konsep.................................................................................43

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Permohonan Izin Penelitian Ke Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu

Lampiran 2 Permohonan Izin Penelitian Ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik


Kota Bengkulu

Lampiran 3 Permohonan Izin Penelitian Ke Dinas Kesehatan Kota Bengkulu

Lampiran 4 Rekomendasi Izin Penelitian Dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu

Lampiran 5 Rekomendasi Izin Penelitian Dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
Kota Bengkulu

Lampiran 6 Surat Selesai Penelitian

Lampiran 7 Lembar Persetujuan Responden

Lampiran 8 Lembar Kuesioner Pengetahuan Tentang COVID-19 Pada Penyintas

Lampiran 9 Lembar Kuesioner Kecemasan Tentang COVID-19 Pada Penyintas

Lampiran 10 Tabulasi Data

Lampiran 11 Analisa Data

Lampiran 12 Dokumentasi

xiii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan hadirnya new emerging

infectious disease yang disebabkan oleh Corona Virus Disease (COVID-19)

Corona virus adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis Corona virus baru

yaitu Sars-CoV-2, yang dilaporkan pertama kali terdapat di Wuhan China

pada 31 Desember 2019 saat ini COVID-19 telah menjadi ancaman yang

serius diseluruh dunia terlebih khusus di Indonesia, sehingga COVID-19 ini

disebut menjadi pandemi (KEMENKES, 2020).

Corona Virus Disease (COVID-19) adalah penyakit menular yang dapat

ditularkan melalui kontak secara langsung dengan penderita yang ditularkan

melalui air liur, droplet, ataupun melalui udara yang buruk. Sebagian besar

orang yang terinfeksi virus COVID-19 akan mengalami gangguan pernafasan

ringan, sedang, hingga berat, atau dapat sembuh tanpa memerlukan perawatan

khusus. Orang yang memiliki penyakit komorbid seperti masalah Diabetes,

penyakit Kardiovaskular, Kanker, penyakit Pernapasan Kronis, kemungkinan

besar akan mengembangkan penyakit lebih serius (WHO, 2020).

COVID-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020

sejumlah dua kasus. Data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang

terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 kasus kematian. Tingkat

mortalitas COVID-19 di Indonesia sebesar 8,9%, angka ini merupakan yang

1
2

tertinggi di Asia Tenggara. Kasus di Indonesia sendiri menepati urutan ke 34

se-dunia dengan jumlah kasus 29.521 orang positif, 1.770 orang meninggal

dunia dan 9.443 orang dinyatakan sembuh. (Maulani, 2021). berdasarkan data

dinas kesehatan kota Bengkulu pada tahun 2020 jumlah kasus COVID-19

yang terkonfirmasih berjumlah 3.529 orang, di tahun 2021 berjumlah 8.873

orang yang di mana 7.579 orang mengalami gejala ringan,997 orang denghan

gejala sedang sedang dan 265 orang dengan gejala berat, sedangkan di tahun

2022 jumlah kasus yang terkonfirmasih berjumlah 2.857 orang. (Dinkes,

2022).

Pada banyak kasus, penyintas COVID-19 masih bergejala hingga lebih

dari 60 hari setelah onset pertama muncul (WHO, 2020). Akan ada gelombang

besar pasien dengan penyakit COVID yang berkepanjangan, baik fisik

maupun emosional, tim peneliti dari Italia melaporkan bahwa hampir sembilan

dari 10 pasien (87%) yang keluar dari rumah sakit roma setelah pulih dari

COVID-19 masih mengalami setidaknya satu gejala 60 hari setelah onset.

Mereka menemukan bahwa 13% dari 143 orang benar-benar bebas dari gejala

apa pun, sementara 32% memiliki satu atau dua gejala, dan 55% memiliki

tiga atau lebih. Meskipun tidak ada pasien yang mengalami demam atau tanda

atau gejala penyakit akut, banyak yang masih melaporkan kelelahan (53%),

sesak (43%), nyeri sendi (27%), dan nyeri dada (22%). Dua perlima pasien

melaporkan kualitas hidup yang memburuk. Kondisi ini dikenal sebagai long

COVID dan dialami oleh individu yang telah dinyatakan sembuh dari infeksi

COVID-19 (berdasarkan hasil swab PCR atau masa isolasi mandiri), tetapi
3

masih mengalami dampak lanjutan baik kesehatan fisik maupun mental

(Mahase, 2020).

Peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi di masyarakat didukung oleh

proses penyebaran virus yang cepat dari manusia ke manusia mengakibatkan

beberapa masyarakat cemas karena takut yang berlebihan dan berpikir yang

tidak masuk akal. Banyak diantara masyarakat cenderung menduga bahwa

masyarakat yang memiliki gejala menderita COVID-19, keadaan inilah yang

memotivasi masyarakat untuk terus mencari informasi mengenai COVID-19

tanpa memilah terlebih dahulu informasinya yang mereka dapatkan, sehingga

dapat menimbulkan kecemasan. Hal inilah yang mengakibatkan masyarakat

menjadi insomnia, sakit kepala, dan gangguan fisik lainnya. Keadaan seperti

itulah yang dapat dikatakan dalam kondisi stres (Muslim, 2020).

Penting bagi penyintas berfikir positif ditengah situasi buruk yang terjadi,

sebab diketahui bahwa kecemasan memiliki korelasi yang dekat dengan

keterlambatan proses penyembuhan pada kesehatan. penelitian baru-baru ini,

melibatkan lebih dari 42.000 subjek, dan menemukan hubungan yang cukup

dekat antara kecemasan dan fakta mengenai terhambatnya aktivitas sehari-hari

atau perubahan perilaku, yang terbukti kuat memiliki efek negatif pada

kesehatan (Vancampfort et al., 2018).

Ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui dan tidak biasa unfamiliar

serta kurangnya pengetahuan dan informasi terhadap suatu penyakit yang

belum ditemukan obat untuk penyembuhan nya sering kali menimbulkan

persepsi negatif, termasuk stigma, serta menjadi justifikasi atas pengasingan


4

terhadap mereka yang memiliki kondisi kesehatan tersebut. Salah satu dampak

yang sangat signifikan adalah dampak sosial yang dialami oleh para penyintas

COVID-19 dianggap membawa penyakit menular. Meskipun penyintas telah

dinyatakan sembuh, namun secara alami masih memiliki rasa takut

menularkan kepada orang lain (Arifin, 2021).

Menurut penelitian (Kholilah, 2021) Kekhawatiran penyintas COVID-19

juga disebabkan karena ketidakpastian info dari patofisiologis virus corona

baru ini. Prognosis yang kurang jelas dan beragam, komplikasi yang tidak

terduga dan kekambuhan menyebabkan keraguan mengenai keakuratan

informasi yang diberikan. Menurut (Arifin, 2021) dalam jurnal Dampak

Psikososial Terhadap Penyintas COVID-19,di sebutkan bahwa Stigma yang

tinggi dari masyarakat akan menimbulkan kecemasan pada individu yang

terstigma.

Kecemasan merupakan perasaan tidak nyaman secara berlebihan yang

merupakan suatu gejala psikologis atas rasa takut dari keadaan bahaya yang

mengancam. Kecemasan muncul disertai dengan tangan bergemetar, jantung

berdebar, serta berkeringat dingin. Jika terjadi secara terus menerus, hal ini

akan berdampak terhadap kesehatan psikologis penyintas COVID-19

diantaranya trauma.

Kurangnya Pengetahuan tentang pandemi COVID-19 dapat menimbulkan

berbagai macam spekulasi tentang penyebaran virus Corona, hal ini dapat

menurunkan sistem imun tubuh seseorang dan dapat pula meningkatkan

tekanan darah. Dengan menurunnya sistem imun seseorang maka virus


5

tersebut mudah menyerang. Faktor yang menyebabkan penyintas merasa

cemas akan pandemi ini adalah informasi yang kurang tepat yang didapatkan

tentang penyakit tersebut sehingga pemerintah perlu mememberikan informasi

yang baik tentang pandemi COVID-19 (Sirait, 2020).

Dalam penelitian (Amirullah, 2020) orang yang sudah sembuh dari

COVID-19 masih merasakan cemas dengan keadaanya sehingga pengetahuan

mengenai COVID-19 sangat diperlukan untuk mengatasi kecemasan yang

berlebihan. oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada

“Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan pada penyintas

COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun

2022.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah apakah ada hubungan tingkat pengetahuan dengan

tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas

Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022 ?

C. Tujuan penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan

tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-

19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022


6

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan penyintas COVID-

19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.

b. Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan penyintas COVID-19

di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.

c. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan mengenai dengan

tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di Wilayah Kerja

Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Mahasiswa

Dapat memberikan informasi dan pengetahuan bagi mahasiswa-

mahasiswi kesehatan tentang hubungan tingkat pengetahuan dengan

tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di Wilayah Kerja

Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.

2. Bagi Masyarakat

Dapat memberikan informasi spesifik dan masukan yang bermanfaat

kepada penyintas COVID-19 mengenai Pentingnya pengetahuan tentang

COVID-19 sehingga pengetahuan ini dapat memberikan pedoman untuk

masyarakat agar tidak mengalami kecemasan yang berlebihan

3. Bagi Peneliti

Meningkatkan wawasan dan pemahaman tentang penelitian

hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas


7

COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu

tahun 2022.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dapat menjadi acuan yang berguna untuk penelitian selanjutnya

dengan mencari Faktor-faktor lain yang berhubungan dengan, hubungan

tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-

19 di Wilayah Kerja Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Corona Virus Disease

a. Pengertian

Sejak November 2019 telah dilaporkan beberapa kasus Pneumonia

berat di Wuhan, Cina dan pada 31 Desember 2019 ditemukan peningkatan

kasus di beberapa provinsi Cina yang menyebar ke Negara-negara lain di

dunia. Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) pertama kali

ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret

2020. World Health Organization (WHO) melaporkan sampai dengan 28

Desember 2020 terdapat lebih dari 79 juta kasus terkonfirmasi COVID-19

dan lebih dari 1.757.947 kematian di dunia.19 COVID-19 menyebar

melalui saluran pernapasan yaitu secara droplet, kontak langsung dengan

benda terkontaminasi virus, dan kontak dengan hewan berisiko

menularkan COVID-19 (Perliyani, 2021)

Pada 31 Desember 2019, World Health Organization (WHO)

China Country Office melaporkan adanya kasus kluster pneumonia dengan

etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kasus ini

terus berkembang hingga pada 7 Januari 2020, dan akhirnya diketahui

etiologi dari penyakit ini adalah suatu jenis baru corona virus (Moudy,

2020)

8
9

b. Epidemiologi

Berawal pada bulan Desember 2019 tepatnya pada tanggal 29

Desember 2019, ditemukan lima kasus pertama pasien pneumonia di

Kota Wuhan Provinsi Hubei, China. Lima orang tersebut dirawat

dirumah sakit dengan Acute Respiratory Distress Syndrome dan satu

diantaranya meninggal dunia.Sekitar 66% penderita terpajan di pasar

ikan atau pasar makanan laut (Wet Market) Huanan di kota Wuhan.

Thailand adalah negara pertama yang terkonfirmasi COVID-19 diluar

Negara China pada tanggal 13 Januari 2020. Thailand terkonfirmasi

positif COVID-19 sebanyak 3.135 kasus dan 58 kematian sejak

tanggal 13 Januari 2020 hingga 15 Juni 2020. Penderita COVID-19

meningkat pesat menjadi 7.734 kasus pada tanggal 30 Januari 2020

dan pada tanggal yang sama terkonfirmasi 90 kasus pasien positif

COVID-19 yang berasal dari berbagai Negara baik di benua Asia,

Eropa dan Australia. Pada tanggal 30 Januari 2020 pula, WHO

membunyikan alaram darurat kesehatan masyarakat yang menjadi

perhatian oleh seluruh dunia yaitu Public Health Emergency of

International Concern (PHEIC). Penyebaran kasus pertama COVID-

19 di Indonesia pada tanggal 02 Maret 2020 yang terkonfirmasi

sebanyak 2 penderita yang berasal dari Jakarta.Tanggal 15 Juni 2020,

sebanyak 38.277 kasus terkonfirmasi positif COVID-19 dan

terkonfirmasi meninggal sebanyak 2.134 kasus. Di Jawa Timur, pada

tanggal 19 Juni 2020 terkonfirmasi penderita COVID-19 sebanyak


10

9.046 ± 209 kasus baru, terkonfirmasi sembuh sebanyak 2.763 kasus,

dan terkonfirmasi meninggal sebanyak 721 kasus (Levani, 2021)

Hingga 28 Maret 2020, jumlah kasus infeksi COVID-19

terkonfirmasi mencapai 571.678 kasus. Awalnya kasus terbanyak

terdapat di Cina, namun saat ini kasus terbanyak terdapat di Italia

dengan 86.498 kasus, diikut oleh Amerika dengan 85.228 kasus dan

Cina 82.230 kasus. Virus ini telah menyebar hingga ke 199 negara.

Kematian akibat virus ini telah mencapai 26.494 kasus. Tingkat

kematian akibat penyakit ini mencapai 4 5% dengan kematian

terbanyak terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun. Indonesia

melaporkan kasus pertama pada 2 Maret 2020, yang diduga tertular dari

orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Kasus di Indonesia pun

terus bertambah, hingga tanggal 29 Maret 2020 telah terdapat 1.115

kasus dengan kematian mencapai 102 jiwa. Tingkat kematian Indonesia

9%, termasuk angka kematian tertinggi. Berdasarkan data yang ada

umur pasien yang terinfeksi COVID-19 mulai dari usia 30 hari hingga

89 tahun. Menurut laporan 138 kasus di Kota Wuhan, didapatkan

rentang usia 37–78 tahun dengan rata-rata 56 tahun (42-68 tahun) tetapi

pasien rawat ICU lebih tua (median 66 tahun (57-78 tahun)

dibandingkan rawat non-ICU (37-62 tahun) dan 54,3% laki-laki.

Laporan 13 pasien terkonfirmasi COVID-19 di luar Kota Wuhan

menunjukkan umur lebih muda dengan median 34 tahun (34-48 tahun)

dan 77% laki -laki (Handayani, 2020)


11

c. Patogenesis

Patogenesis infeksi COVID-19 belum diketahui seutuhnya. Pada

awalnya diketahui virus ini mungkin memiliki kesamaan dengan SARS

dan MERS CoV, tetapi dari hasil evaluasi genomik isolasi dari 10

pasien, didapatkan kesamaan mencapai 99% yang menunjukkan suatu

virus baru, dan menunjukkan kesamaan(Identik 88%) dengan

Batderived Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)- like Corona

virus, bat-SL-CoVZC45 dan bat-SLCoVZXC21, yang diambil pada

tahun 2018 di Zhoushan, Cina bagian Timur, kedekatan dengan SARS-

CoV adalah 79% dan lebih jauh lagi dengan MERS-CoV Analisis

filogenetik menunjukkan COVID-19 merupakan bagian dari subgenus

Sarbecovirus dan Genus Betacoronavirus. (Handayani, 2020)

Corona Virus atau COVID-19 termasuk dalam genus

Betacoronavirus,hasil anasilis menunjukkan adanya kemiripan dengan

SARS. Pada kasus COVID-19, trenggiling diduga sebagai

perantaranya karena genomnya mirip dengan Corona Virus pada

kelelawar (90,5%) dan SARS-CoV2 (91%). Corona Virus Disease

2019 COVID-19 atau yang sebelumnya disebut SARS-CoV2. COVID-

19 pada manusia menyerang saluran pernapasan khususnya pada sel

yang melapisi alveoli. COVID-19 mempunyai glikoprotein pada

enveloped spikea atau protein “S”. Untuk dapat meninfeksi “manusia”

protein “S” virus akan berikatan dengan reseptor ACE2 pada plasma

membrane sel tubuh manusia. Di dalam sel, virus ini akan


12

menduplikasi materi genetik dan Protein yang dibutuhkan dan akan

membentuk virion baru di permukaan sel. Sama halnya SARS-CoV

setelah masuk ke dalam sel selanjutnya virus ini akan mengeluarkan

genom RNA ke dalam sitoplasma dan golgi sel kemudian akan

ditranslasikan membentuk dua lipoprotein dan protein struktural untuk

dapat bereplikasi (Levani, 2021)

Virus dapat melewati membran mukosa, terutama mukosa nasal

dan laring, kemudian memasuki paru-paru melalui traktus

respiratorius. Selanjutnya, virus akan menyerang organ target yang

mengekspresikan Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2), seperti

paru-paru, jantung, sistem renal dan traktus gastrointestinal. Protein S

pada SARS-CoV-2 memfasilitasi masuknya virus corona ke dalam sel

target. Masuknya virus bergantung pada kemampuan virus untuk

berikatan dengan ACE2, yaitu reseptor membran ekstraselular yang

diekspresikan pada sel epitel, dan bergantung pada priming protein S

ke protease selular, yaitu TMPRSS2 (Fitriani, 2020)

Virus masuk melewati membran mukosa terutama mukosa nasal

dan laring yang kemudian masuk ke traktus respiratorius. Lalu virus

akan menyerang organ target yang mengekspresikan Angiotensin

Converting Enzyme 2 (ACE2) seperti paru, jantung, renal, dan

gastrointestinal. Protein S pada SARSCoV-2 membantu virus masuk

ke dalam sel target dan tergantung pada kemampuan virus untuk

berikatan dengan ACE2. Namun, jika mekanisme ini tidak diatur dan
13

berlebihan, terjadi respons hiperinflamasi. Sitokin memainkan peranan

penting dalam merangsang sistem imunitas dan imunopatologi selama

infeksi yang berlebihan dan dapat menyebabkan sindrom klinis yang

dikenal sebagai Cytokine Storm. Cytokine Storm merupakan respons

hiperinflamasi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan sebagai

penyebab utama kematian pasien terinfeksi COVID-19. Infeksi SARS-

CoV-2 menyebabkan penurunan produksi sitokin oleh sistem imun

innate karena blokade oleh protein non-struktural virus. Selanjutnya

hal ini menyebabkan peningkatan kemokin dan sitokin proinflamasi

(TNF-α, IL-1, IL-6, IL-8, MCP-1, CCL2, CCL5, dan Interferon γ)

melalui aktivasi makrofag dan limfosit. (Perliyani, 2021)

d. Manifestasi Klinis

COVID-19 menjadi perhatian penting pada bidang medis, bukan

hanya karena penyebarannya yang cepat dan berpotensi menyebabkan

kolaps sistem kesehatan, tetapi juga karena beragamnya manifestasi

klinis pada pasien.Spektrum klinis COVID-19 beragam, mulai dari

asimptomatik,gejala sangat ringan, hingga kondisi klinis yang

dikarakteristikkan dengan kegagalan respirasi akut yang mengharuskan

penggunaan ventilasi mekanik dan support di Intensive Care Unit

(ICU). Ditemukan beberapa kesamaan manifestasi klinis antara infeksi

SARS-CoV-2 dan infeksi betacoronavirus sebelumnya, yaitu SARS-

CoV dan MERS-CoV. Beberapa kesamaan tersebut diantaranya


14

demam, batuk kering, gambaran opasifikasi ground-glass pada foto

toraks (Fitriani, 2020)

Gejala klinis umum yang terjadi pada pasien COVID-19,

diantaranya yaitu demam, batuk kering, dispnea, fatigue, nyeri otot,

dan sakit kepala gejala klinis yang paling sering terjadi pada pasien

COVID-19 yaitu demam (98%), batuk (76%), dan myalgia atau

kelemahan (44%). Gejala lain yang terdapat pada pasien, namun tidak

begitu sering ditemukan yaitu produksi sputum (28%), sakit kepala

8%, batuk darah 5%, dan diare 3%. Sebanyak 55% dari pasien yang

diteliti mengalami dispnea. (Fitriani, 2020)

Rata-rata masa inkubasi adalah 4 hari dengan rentang waktu 2

sampai 7 hari. Masa inkubasi dengan menggunakan distribusi lognoral

yaitu berkisar antara 2,4 sampai 15,5 hari. Periode bergantung pada

usia dan status imunitas pasien. Rata-rata usia pasien adalah 47 tahun

dengan rentang umur 35 sampai 58 tahun serta 0,9% adalah pasien

yang lebih muda dari umur 15 tahun. Gejala umum di awal penyakit

adalah demam, kelelahan atau myalgia, batuk kering. Serta beberapa

organ yang terlibat seperti pernapasan (batuk, sesak napas, sakit

tenggorokan, hemoptisis atau batuk darah, nyeri dada), gastrointestinal

(diare,mual,muntah), neurologis (kebingungan dan sakit kepala).

Namun tanda dan gejala yang sering dijumpai adalah demam (83-

98%), batuk (76-82%), dan sesak napas atau dyspnea (31-55%).

(Levani, 2021)
15

Pasien dengan gejala yang ringan akan sembuh dalam watu kurang

lebih 1 minggu, sementara pasien dengan gejala yang parah akan

mengalami gagal napas progresif karena virus telah merusak alveolar

dan akan menyebabkan kematian. Kasus kematian terbanyak adalah

pasien usia lanjut dengan penyakit bawaan seperti kardiovaskular,

hipertensi, diabetes mellitus, dan parkinson. Seperempat pasien yang

dirawat di rumah sakit Wuhan memiliki komplikasi serius berupa

aritmia, syok, cedera ginjal akut dan Acute Respiratory Distress

Syndrome (ARDS) (Levani, 2021)

Enzim konversi angiotensin 2 (ACE2) adalah reseptor untuk

SARS-CoV-2. Dalam paru normal manusia, ACE2 diekspresikan pada

alveolar tipe I dan II. Di antara mereka, 83% dari sel alveolar tipe II

memiliki ekspresi ACE2. Pria memiliki tingkat ACE2 yang lebih

tinggi dalam sel alveolar mereka daripada wanita. Asia memiliki

tingkat yang lebih tinggi dari ekspresi ACE2 dalam sel alveolar

mereka dibanding dengan ras kulit putih dan Afrika Amerika.

Pengikatan SARS-CoV-2 pada ACE2 menyebabkan peningkatan

ekspresi ACE2, yang dapat menyebabkan kerusakan pada sel alveolar.

Kerusakan sel alveolar dapat memicu serangkaian reaksi sistemik dan

bahkan kematian (Grace, 2020)

Ditemukan bahwa 98% pasien dalam studi mereka mengalami

demam, yang 78% memiliki suhu lebih tinggi dari 38°c. Mereka

melaporkan bahwa 76% pasien telah batuk, 44% dari pasien


16

mengalami kelelahan dan nyeri otot, dan 55% dari pasien mengalami

dyspnea. Sejumlah kecil pasien juga mengembangkan ekspektorasi

(28%), sakit kepala (8%), hemoptisis (5%), dan diare (3%). Tes

laboratorium menemukan bahwa 25% dari pasien yang terinfeksi

mengalami leukopenia dan 63% memiliki limfositopenia. Tingkat

Aspartat aminotransferase meningkat di 37% pasien, 12% dari

pasienmengalami hipersensitif troponin I. Kelainan pada gambar CT-

scan yang ditemukan di 100% pasien memperlihatkan adanya

gambaran grinding glass dan konsolidasi pada daerah paru yang

terinfeksi ditemukan di 98% dari pasien yang terinfeksi pada paru

bilateral (Grace, 2020)

e. Pencegahan

Pencegahan dan Pengendalian di Masyarakat Masyarakat memiliki

peran penting dalam memutus mata rantai penularan COVID-19 agar

tidak menimbulkan sumber penularan baru. Mengingat cara

penularannya berdasarkan droplet infection dari individu ke individu,

maka penularan dapat terjadi baik di rumah, perjalanan, tempat kerja,

tempat ibadah, tempat wisata maupun tempat lain dimana terdapat

orang berinteaksi sosial. Prinsipnya pencegahan dan pengendalian

COVID-19 di masyarakat (Kemenkes, 2020)

1) Pencegahan penularan pada individu

Menurut (Kemenkes, 2020) Penularan COVID-19 terjadi melalui

droplet yang mengandung virus SARS-CoV-2 yang masuk ke dalam


17

tubuh melalui hidung, mulut dan mata, untuk itu pencegahan penularan

COVID-19 pada individu dilakukan dengan beberapa tindakan, seperti:

a. Membersihkan tangan secara teratur dengan cuci tangan pakai sabun

dan air mengalir selama 40-60 detik atau menggunakan cairan

antiseptik berbasis alkohol (handsanitizer) minimal 20 – 30 detik.

Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak

bersih

b. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi

hidung dan mulut jika harus keluar rumah atau berinteraksi dengan

orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya (yang mungkin

dapat menularkan COVID-19)

c. Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari

terkena droplet dari orang yang yang batuk atau bersin. Jika tidak

memungkin melakukan jaga jarak maka dapat dilakukan dengan

berbagai rekayasa administrasi dan teknis lainnya.

d. Membatasi diri terhadap interaksi / kontak dengan orang lain yang

tidak diketahui status kesehatannya.

e. Saat tiba di rumah setelah bepergian, segera mandi dan berganti

pakaian sebelum kontak dengan anggota keluarga di rumah

f. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan Pola Hidup

Bersih dan Sehat (PHBS) seperti konsumsi gizi seimbang, aktivitas

fisik minimal 30 menit sehari, istirahat yang cukup termasuk

pemanfaatan kesehatan tradisional. Pemanfaatan kesehatan tradisional,


18

salah satunya dilakukan dengan melaksanakan asuhan mandiri

kesehatan tradisional melalui pemanfaatan Taman Obat Keluarga

(TOGA).

g. Mengelola penyakit penyerta/komorbid agar tetap terkontrol

h. Mengelola kesehatan jiwa dan psikososial Kondisi kesehatan jiwa dan

kondisi optimal dari psikososial dapat tingkatkan melalui:

1. Emosi positif : gembira, senang dengan cara melakukan kegiatan

dan hobi yang disukai, baik sendiri maupun bersama keluarga atau

teman dengan mempertimbangkan aturan pembatasan sosial

berskala besar di daerah masing-masing

2. Pikiran positif: menjauhkan dari informasi hoax, mengenang

semua pengalaman yang menyenangkan, bicara pada diri sendiri

tentang hal yang positif (positive self-talk), responsif (mencari

solusi) terhadap kejadian, dan selalu yakin bahwa pandemi akan

segera teratasi.

3. Hubungan sosial yang positif: memberi pujian, memberi harapan

antar sesama, saling mengingatkan cara-cara positif, meningkatkan

ikatan emosi dalam keluarga dan kelompok, menghindari diskusi

yang negatif, tetap melakukan komunikasi secara daring dengan

keluarga dan kerabat.

4. Apabila sakit menerapkan etika batuk dan bersin. Jika berlanjut

segera berkonsultasi dengan dokter/tenaga kesehatan.


19

5. Menerapkan adaptasi kebiasaan baru dengan melaksanakan

protokol kesehatan dalam setiap aktivitas.

2) Perlindungan Kesehatan Pada Masyarakat

COVID-19 merupakan penyakit yang tingkat penularannya cukup

tinggi, sehingga perlu dilakukan upaya perlindungan kesehatan

masyarakat yang dilakukan secara komprehensif. Perlindungan

kesehatan masyarakat bertujuan mencegah terjadinya penularan dalam

skala luas yang dapat menimbulkan beban besar terhadap fasyankes.

Tingkat penularan COVID-19 di masyarakat dipengaruhi oleh adanya

pergerakan orang, interaksi antar manusia dan berkumpulnya banyak

orang, untuk itu perlindungan kesehatan masyarakat harus dilakukan

oleh semua unsur yang ada di masyarakat baik pemerintah, dunia

usaha, aparat penegak hukum serta komponen masyarakat lainnya.

Adapun perlindungan kesehatan masyarakat dilakukan melalui

a. Upaya Pencegahan (Prevent)

1. Kegiatan promosi kesehatan (promote) dilakukan melalu

sosialisasi, edukasi, dan penggunaan berbagai media informasi

untuk memberikan pengertian dan pemahaman bagi semua orang,

serta keteladanan dari pimpinan, tokoh masyarakat, dan melalui

media mainstream.

2. Kegiatan perlindungan (protect) antara lain dilakukan melalui

penyediaan sarana cuci tangan pakai sabun yang mudah diakses

dan memenuhi standar atau penyediaan handsanitizer, upaya


20

penapisan kesehatan orang yang akan masuk ke tempat dan

fasilitas umum, pengaturan jaga jarak, disinfeksi terhadap

permukaan, ruangan, dan peralatan secara berkala, serta

penegakkan kedisplinan pada perilaku masyarakat yang berisiko

dalam penularan dan tertularnya COVID-19 seperti berkerumun,

tidak menggunakan masker, merokok di tempat dan fasilitas umum

dan lain sebagainya.

b. Unsur penanganan secara cepat dan efektif (respond) Melakukan

penanganan untuk mencegah terjadinya penyebaran yang lebih

luas, antara lain berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat

atau fasyankes untuk melakukan pelacakan kontak erat,

pemeriksaan laboratorium serta penanganan lain sesuai kebutuhan.

Penanganan kesehatan masyarakat terkait respond adanya kasus

COVID-19 meliputi:

1. Pembatasan Fisik dan Pembatasan Sosial Pembatasan fisik harus

diterapkan oleh setiap individu. Pembatasan fisik merupakan

kegiatan jaga jarak fisik (physical distancing) antar individu yang

dilakukan dengan cara

a. Dilarang berdekatan atau kontak fisik dengan orang mengatur

jaga jarak minimal 1 meter, tidak bersalaman, tidak berpelukan

dan berciuman.
21

b. Hindari penggunaan transportasi publik (seperti kereta, bus, dan

angkot) yang tidak perlu, sebisa mungkin hindari jam sibuk

ketika berpergian.

c. Bekerja dari rumah (Work from Home), jika memungkinkan dan

kantor memberlakukan ini.

d. Dilarang berkumpul massal di kerumunan dan fasilitas umum.

e. Hindari bepergian ke luar kota/luar negeri termasuk ke tempat-

tempat wisata.

f. Hindari berkumpul teman dan keluarga, termasuk

berkunjung/bersilaturahmi/mengunjungi orang sakit/melahirkan

tatap muka dan menunda kegiatan bersama. Hubungi mereka

dengan telepon, internet, dan media sosial.

g. Gunakan telepon atau layanan online untuk menghubungi dokter

atau fasilitas lainnya.

h. Jika anda sakit, dilarang mengunjungi orang tua/lanjut usia. Jika

anda tinggal satu rumah dengan mereka, maka hindari interaksi

langsung dengan mereka dan pakai masker kain meski di dalam

rumah.

i. Untuk sementara waktu, anak sebaiknya bermain bersama

keluarganya sendiri di rumah.

j. Untuk sementara waktu, dapat melaksanakan ibadah di rumah.

k. Jika terpaksa keluar harus menggunakan masker kain.


22

l. Membersihkan /disinfeksi rumah, tempat usaha, tempat kerja,

tempat ibadah, kendaraan dan tempat tempat umum secara

berkala.

m. Dalam adaptasi kebiasaan baru, maka membatasi jumlah

pengunjung dan waktu kunjungan, cek suhu pengunjung,

menyediakan tempat cuci tangan pakai sabun dan air mengalir,

pengecekan masker dan desinfeksi secara berkala untuk mall

dan tempat tempat umum lainnya.

n. Memakai pelindung wajah dan masker kepada para

petugas/pedagang yang berinteraksi dengan banyak orang.

B. Pengetahuan

a. Defenisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan pemahaman partisipan tentang topik

yang diberikan. Pengetahuan adalah kemampuan untuk menerima,

mempertahankan, dan menggunakan informasi, yang dipengaruhi oleh

pengalaman dan keterampilan. Sebagian besar dari pengetahuan yang

dimiliki seseorang berasal dari pendidikan baik formal dan informal,

pengalaman pribadi maupun orang lain, lingkungan, serta media massa.

Sikap merupakan respon atau reaksi seseorang yang masih bersifat

tertutup terhadap suatu objek, stimulus, atau topik. Sikap juga dapat

diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk bertindak, baik

mendukung maupun tidak mendukung pada suatu objek. Sikap belum


23

merupakan suatu tindakan, tetapi merupakan suatu faktor predisposisi

terhadap suatu perilaku. Sikap yang utuh dibentuk oleh komponen kognisi,

afeksi dan konasi. Tindakan adalah segala kegiatan atau aktivitas yang

dilakukan seseorang, sebagai reaksi atau respons terhadap stimulus dari

luar, yang menggambarkan pengetahuan dan sikap mereka (Moudy, 2020)

Pengetahuan adalah kemampuan untuk menerima

mempertahankan, dan menggunakan informasi, yang dipengaruhi oleh

pengalaman dan keterampilan. Sebagian besar dari pengetahuan yang

dimiliki seseorang berasal dari pendidikan baik formal dan informal,

pengalaman pribadi maupun orang lain, lingkungan, serta media massa

(Daha, 2021)

Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan sangat

erat hubungannya. Diharapkan dengan pendidikan yang tinggi maka akan

semakin luas pengetahuannya. Tetapi orang yang berpendidikan rendah

tidak mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak

mutlak diperoleh dari pendidikan formal saja, tetapi juga dapat diperoleh

dari pendidikan non formal. Pengetahuan akan suatu objek mengandung

dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan

menentukan sikap seseorang. Semakin banyak aspek positif dan objek

yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap semakin positif terhadap

objek tertentu (Notoatmojo, 2014)

Pengetahuan, digolongkan menjadi tiga macam, yaitu etika

(pengetahuan tentang baik dan buruk), estetika (pengetahuan tentang indah


24

dan jelek), dan logika (pengetahuan tentang benar dan salah) Ilmu dan

pengetahuan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan, namun

tidak selamanya bahwa pengetahuan itu sebagai ilmu, melainkan

pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara tertentu berdasarkan

kesepakatan para ilmuwan.Ilmu sebagai pengetahuan (knowledge) adalah

pengertian ilmu pada umumnya. Ilmu dikatakan sebagai aktivitas (activity)

adalah serangkaian aktivitas atau kegiatan yang dilaksanakan manusia

(Munir, 2018)

a. Jenis Pengetahuan

Berdasarkan (Ridwan, 2021) pengetahuan dapat dibagi menjadi beberapa

jenis diantaranya:

1. Pengetahuan Langsung (immediate) Pengetahuan langsung adalah

pengetahuan langsung yang hadir dalam jiwa tanpa melalui proses

penafsiran dan pikiran. Kaum realis (penganut paham Realisme)

mendefinisikan pengetahuan seperti itu. Umumnya dibayangkan

bahwa kita mengetahui sesuatu itu sebagaimana adanya, khususnya

perasaan ini berkaitan dengan realitas-realitas yang telah dikenal

sebelumnya seperti pengetahuan tentang pohon, rumah, binatang, dan

beberapa individu manusia. Namun, apakah perasaan ini juga berlaku

pada realitas-realitas yang sama sekali belum pernah dikenal dimana

untuk sekali melihat kita langsung mengenalnya sebagaimana

hakikatnya Apabila kita sedikit mencermatinya, maka akan nampak

dengan jelas bahwa hal itu tidaklah demikian adanya.


25

2. Pengetahuan Tidak Langsung (mediated) Pengetahuan tidak langsung

adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan proses berpikir serta

pengalaman-pengalaman yang lalu. Apa yang kita ketahui dari benda-

benda eksternal banyak berhubungan dengan penafsiran dan

penyerapan pikiran kita.

3. Pengetahuan Indrawi (perceptual) Pengetahuan Indrawi adalah sesuatu

yang dicapai dan diraih melalui indra-indra lahiriah. Sebagai contoh,

kita menyaksikan satu pohon, batu, atau kursi, dan objek-objek ini

yang masuk ke alam pikiran melalui indra penglihatan akan

membentuk pengetahuan kita. Tanpa diragukan bahwa hubungan kita

dengan alam eksternal melalui media indra-indra lahiriah ini, akan

tetapi pikiran kita tidak seperti klise foto dimana gambar-gambar dari

apa yang diketahui lewat indra-indra tersimpan didalamnya. Pada

pengetahuan indrawi terdapat beberapa faktor yang berpengaruh,

seperti adanya cahaya yang menerangi objek-objek eksternal, sehatnya

anggotaangota indra badan (seperti mata, telinga, dan lain-lain), dan

pikiran yang mengubah benda-benda partikular menjadi konsepsi

universal, serta faktor-faktor sosial (seperti adat istiadat). Dengan

faktor-faktor tersebut tidak bisa dikatakan bahwa pengetahuan indrawi

hanya akan dihasilkan melalui indra-indra lahiriah.

4. Pengetahuan Konseptual (conceptual) Pengetahuan konseptual juga

tidak terpisah dari pengetahuan indrawi. Pikiran manusia secara

langsung tidak dapat membentuk suatu konsepsi-konsepsi tentang


26

objek-objek dan perkara-perkara eksternal tanpa berhubungan dengan

alam eksternal. Alam luar dan konsepsi saling berpengaruh satu

dengan lainnya dan pemisahan di antara keduanya merupakan aktivitas

pikiran

5. Pengetahuan Partikular (particular) Pengetahuan partikular berkaitan

dengan satu individu, objek-objek tertentu, atau realitas-realitas

khusus. Misalnya ketika kita membicarakan satu kitab atau individu

tertentu, maka hal ini berhubungan dengan pengetahuan partikular itu

sendiri.

6. Pengetahuan universal (universal) Pengetahuan yang meliputi

keseluruhan yang ada, seluruh hidup manusian misalnya; agama dan

filsafat

b. Tingkat Pengetahuan

Menurut (Yuliana, 2017) pengetahuan seseorang terhadap objek

mempunyai intensitas yang berbeda-beda, dan menjelaskan bahwa ada

enam tingkatan pengetahuan yaitu sebagai berikut:

1. Pengetahuan (Knowledge diartikan hanya sebagai recall ingatan).

Seseorang dituntut untuk mengetahui fakta tanpa dapat

menggunakannya

2. Pemahaman (comprehension) Memahami suatu objek bukan sekedar

tahu, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi harus dapat

menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui.


27

3. Penerapan (application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah

memahami objek tersebut dapat menggunakan dan mengaplikasikan

prinsip yang diketahui pada situasi yang lain.

4. Analisis (Analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk

menjabarkan dan memisahkan, kemudian mencari hubungan antara

komponenkomponen yang terdapat dalam suatu objek.

5. Sintesis (synthesis) Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. Sintesis

menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau

meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-

komponen pengetahuan yang dimiliki.

6. Penilaian (evaluation) Yaitu suatu kemampuan seseorang untuk

melakukan penilaian terhadap suatu objek tertentu didasarkan pada

suatu kriteria atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.

c. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut (Yuliana, 2017) faktor-faktor yang mempengaruhi

pengetahuan adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan Pendidikan mempengaruhi proses dalam belajar, semakin

tinggi pendidikan seseorang, maka semakin mudah seseorang tersebut

untuk menerima sebuah informasi. Peningkatan pengetahuan tidak

mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi dapat diperoleh

juga pada pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang terhadap

suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek
28

negatif. Kedua aspek ini menentukan sikap seseorang terhadap objek

tertentu. Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui akan

menumbuhkan sikap positif terhadap objek tersebut. Pendidikan tinggi

seseorang didapatkan informasi baik dari orang lain maupun media

massa. Semakin banyak informasi yang masuk, semakin banyak pula

pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.

2. Media massa/sumber informasi Informasi yang diperoleh baik dari

pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengetahuan

jangka pendek (immediatee impact), sehingga menghasilkan

perubahan dan peningkatan pengetahuan. Kemajuan teknologi

menyediakan bermacam-macam media massa yang dapat

mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang informasi baru.

Sarana komunikasi seperti televisi, radio, surat kabar, majalah,

penyuluhan, dan lain-lain yang mempunyai pengaruh besar terhadap

pembentukan opini dan kepercayaan orang.

3. Sosial budaya dan Ekonomi Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan

seseorang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau

tidak. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan ketersediaan

fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial

ekonomi akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

4. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar

individu baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan

berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam


29

individu yang berada pada lingkungan tersebut. Hal tersebut terjadi

karena adanya interaksi timbal balik yang akan direspon sebagai

pengetahuan.

5. Pengalaman Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman pribadi

ataupun pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara

untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan.

6. Usia Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Bertambahnya usia akan semakin berkembang pola pikir dan daya

tangkap seseorang sehingga pengetahuan yang diperoleh akan semakin

banyak.

d. Metode Memperoleh Pengetahuan

Menurut, (Suryasumantri, 2021) pada dasarnya terdapat dua cara

pokok untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pertama,

mendasarkan diri kepada rasio atau dapat juga disebut rasionalisme, cara

yang kedua adalah mendasarkan kepada pengalaman mengembangkan

paham atau dapat juga disebut empirisme. Pengetahuan dapat diperoleh

kebenarannya dari dua pendekatan, yaitu:

1. Pendekatan Non-Ilmiah

a. Akal sehat adalah serangkaian konsep dan bagian konseptual yang

memuaskan untuk penggunaan praktis bagi kemanusiaan. Akal

sehat ini dapat menunjukkan hal yang benar, walaupun disisi

lainnya dapat pula menyesatkan.


30

b. Intuisi adalah penilaian terhadap suatu pengetahuan yang cukup

cepat dan berjalan dengan sendirinya, yang mana, biasanya didapat

dengan cepat tanpa melalui proses yang panjang tanpa disadari.

Pendekatan ini tidak bersifat sistemik

c. Prasangka Pengetahuan yang didapat melalui akal sehat, dapat

bersifat subyektif karena biasanya diikuti dengan kepentingan

orang yang melakukannya, sehingga membuat pengetahuan ini

berubah dari hal yang khusus menjadi terlalu luas. Inilah yang

disebut prasangka.

d. Penemuan coba-coba (trial and error) Pengetahuan yang didapat

menggunakan cara pendekatan ini bersifat tidak terkontrol dan

tidak pasti. Dilakukan dengan ketidaksengajaan yang

menghasilkan sebuah pengetahuan dan setiap cara pemecahan

masalahnya tidak selalu sama.

e. Otoritas Pengetahuan yang didapat dari orang yang sudah

mengenyam pendidikan formal yang tinggi atau memiliki

kekuasaan sehingga dipercaya benar, walaupun tidak semuanya

benar karena tidak sepenuhnya melalui percobaan yang pasti.

2. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah merupakan pengetahuan yang didapatkan

melalui percobaan yang terstruktur dan dikontrol oleh data-data

empiris dan dibangun diatas teori-teori terdahulu sehingga ditemukan

pembenaran-pembenaran atau perbaikan-perbaikan atas teori


31

sebelumnya. Pengetahuan dianggap ilmiah jika memenuhi beberapa

syarat, yaitu :

a. Objektif : pengetahuan itu sesuai dengan objek.

b. Metodik : pengetahuan itu diperoleh dengan cara-cara tertentu dan

terkontrol.

c. Sistematis : pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem,

tidak berdiri sendiri satu sama lain saling berkaitan, dan saling

menjelaskan, sehingga terbentuk suatu keseluruhan yang utuh.

d. Berlaku secara universal : pengetahuan tidak hanya diamati hanya

oleh seseorang atau oleh beberapa orang saja, tetapi semua orang

yang melakukan eksperimen yang sama akan menghasilkan

sesuatu yang sama atau konsisten.

f. Pengukuran Pengetahuan

Menurut (Arikunto, 2010) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan

diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :

0 : Baik, bila subyek menjawab benar 76%-100% seluruh

pertanyaan.

1 : Cukup, bila subyek menjawab benar 56%-75% seluruh

pertanyaan.

2 : Kurang, bila subyek menjawab benar < 56% seluruh pertanyaan

1 Pengetahuan Tentang COVID-19

Menurut (Kartika Sari Wanodya, 2020) Pengetahuan Tentang

COVID-19 merupakan faktor yang penting karena dapat mempengaruhi


32

persepsi seseorang yang mengakibatkan bagaimana sikap dan tindakan

yang akan dilakukan oleh individu tersebut. Pengetahuan penyintas

COVID-19 merupakan aspek yang sangat penting dalam masa pandemic

seperti sekarang ini.masayarakat perlu mengetahui penyebab COVID-

19,Karakteristik virusnya,tanda dan gejala,istilah yang terkait dengan

COVID-19,Pemeriksaan yang di perlukan dan proses transmisi serta upaya

pencegahan penyakit tersebut (Purnamasari, 2020)

Seseorang yang mempunyai pengetahuan yang baik terkait prilaku

sehat maka ada kecenderungan untuk berprilaku yang baik pula.Hal ini

berarti bahwa untuk meningkatkan prilaku sehat dan selamat,maka perlu

juga meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan. Semenjak menjadi

pandemi global, berita maupun diskusi terkait COVID-19 mulai sering

dibahas dan menjadi trend pada media sosial. Penyebaran informasi dapat

menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya stigma pada penderita

COVID-19. Sejumlah berita yang tidak terkendali dapat meningkat risiko

penyebaran berita palsu atau hoax yang lebih cepat daripada virus itu

sendiri Penyebaran informasi yang disertai bukti ilmiah dapat menghindari

rumor ataupun mitos yang salah pada masyarakat terutama pada daerah

yang terkena dampak, individu dan populasi yang rentan terhadap

COVID-19. Namun memberikan informasi yang valid dan akurat pada

publik bukanlah hal yang mudah meskipun diberikan oleh seseorang yang

kompeten.
33

Belum banyak pengetahuan valid tentang wabah virus corona yang

menjadi penyebab salah satu dampak kematian ekstrim di berbagai negara.

Penyebaran virus corona menjadi ancaman serius bagi dunia sejak pertama

dilaporkan akhir 2019 yang telah menginfeksi lebih dari satu per empat

juta orang. Perlu diketahui bahwa virus corona bukanlah flu biasa.Virus

corona menyebabkan penyakit dengan gejala yang berbeda, menyebar dan

membunuh lebih mudah serta berasal dari virus yang sangat berbeda

dengan penyebab flu biasa. CoV adalah virus RNA positif dengan

penampilan seperti mahkota di bawah mikroskop elektron (corona adalah

istilah latin untuk mahkota) karena adanya lonjakan glikoprotein pada

amplop. Subfamili Orthocoronavirinae dari keluarga Coronaviridae (orde

Nidovirales) digolongkan ke dalam empat gen CoV: Alphacoronavirus

(alphaCoV), Betacoronavirus (betaCoV), Deltacoronavirus (deltaCoV),

dan Gammacoronavirus (deltaCoV). Selanjutnya, genus betaCoV

membelah menjadi lima sub- genera atau garis keturunan. (Sri Handayani

Segala, 2020)

C. Kecemasaan

1. Defenisi Kecemasaan

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggris “anxiety” berasal dari

Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti

mencekik. Kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan, seperti

perasaan tidak enak, perasaan kacau, was-was dan ditandai dengan istilah
34

kekhawatiran, keprihatinan, dan rasa takut yang kadang dialami dalam

tingkat dan situasi yang berbeda-beda, (Kumbara, 2018)

Kecemasan adalah Ketakutan, kekhawatiran dan kegelisahan yang

berdampak pada perubahan perilaku seperti, menarik diri dari lingkungan,

sulit fokus dalam beraktivitas, susah makan, mudah tersinggung,

rendahnya pengendalian emosi amarah, tidak logis, susah tidur

Kecemasan dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya

adalah pengetahuan (Daha, 2021)

Kecemasan mungkin melibatkan perasaan, perilaku dan respon-

respon fisiologis. Menjelaskan kecemasan dapat diartikan sebagai suatu

reaksi emosi seseorang. Kecemasan dapat didefinisikan sebagai

manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur yang terjadi

ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan dan pertentangan. Hal

ini muncul karena beberapa situasi yang mengancam diri manusia sebagai

makhluk sosial (Kumbara, 2018)

2. Klasifikasi Tingkat kecemasan

Menurut (smeltzer, 2013) Ada empat tingkat kecemasan, yaitu

ringan, sedang, Berat dan panik

a. Kecemasan Ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam

kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada

dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan riangan dapat

memotivasi belajar dan menghasilakan pertumbuhan dan kreatifitas.


35

Manisfestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel,

motivasi meningkatkan dan tingkah laku sesuai situasui. Tanda dan

gejala pada kecemasan ringan jari tangan dingin, detak jantung makin

cepat, berkeringat dingin, kepala pusing, nafsu makan berkurang, tidur

tidak nyenyak, dada sesak. Gejala yang bersifat mental adalah :

ketakutakan merasa akan tertimpa bahaya, tidak dapat memusatkan

perhatian, tidak tentram, ingin lari dari kenyataan.

b. Kecemasan sedang

Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang

penting dan mengesampingkan yang lain sehingga aseseorang

mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu

yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan

menigkatkan kecep[atan denyut jantung dan pernafasan meningkatkan

ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tiinggi, lahan

persepsi menyempit, mampu untukbelajar namun tidak optimal,

kemampuan konsentrasi menurun, mudah tersinggung,tidak

sabar,mudah lupam, marah dan menangis, tanda dan gejalanya

adalagh kegelisaaan, anggotanya tubuh bergetar, banyak berkeringat,

sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin,

mudah marah atau tersinggung.

c. Kecemasan berat

Sangat mengurangi l;ahan persepsi seseorang. Seseorang denggan

kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada suatu yang


36

terinci dan spesifik, serta tidak dapat berfikir tentang hal lain. Orang

tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan

pada suatu area yang lai, manifestasi yang muncul pada tingkat in

adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur

(Insomnia), sering kencing, diare, berfokus pada dirinya sendiri dan

keinginan untuk menghilangkan kecem,asan tinggi, perasaan tidak

berdaya , bingung, disorientasi, tanda dan gejala ketakutan akan

ketidakmampuan untuk mengatasi maslah, pikiran terasa bercampur

aduk atau kebingungan.

d. Panik

Panik Berhubungan dengan Terperangah, Ketakutan dan teror

karena mengalami kehilangan kendali. orang yang sedang panic

mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. tanda dan

gejala pada keadaan ini adalah susah bernafas, dilatasi pupil, palpasi,

pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon

terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami

halusinasi dan delus.

D. Gejala Kecemasan

Beberapa gejala dari kecemasan antara (Prinzessin, 2021)

a. Ada saja hal-hal yang sangat mencemaskan hati, hampir setiap

kejadian menimbulkan rasa takut dan cemas. Kecemasan tersebut

merupakan bentuk ketidak beranian terhadap hal-hal yang tidak jelas.


37

b. Adanya emosi-emosi yang kuat dan sangat tidak stabil. Suka marah

dan sering dalam keadaan bergairah (excited) yang memuncak, sangat

rongseng (irritable), akan tetapi sering juga dihinggapi depresi.

c. Diikuti oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi dan delusi seperti

dikerjarkejar (delusion of persecution).

d. Sering merasa mual dan muntah-muntah, badan terasa sangat lelah,

banyak berkeringat, gemetar, dan sering kali menderita diare.

e. Muncul ketegangan dan ketakutan yang kronis yang menyebabkan

tekanan jantung menjadi sangat cepat atau tekanan darah tinggi.

Gejala tersebut kemudian dapat diklasifikasikan menjadi tiga (Starosta

dan Brenner, 2018), yaitu :

1. Gejala fisik dari kecemasan yaitu : kegelisahan, anggota tubuh

bergetar, banyak berkeringat, sulit bernafas, jantung berdetak kencang,

merasa lemas, panas dingin, mudah marah dan tersinggung.

2. Gejala sikap dari kecemasan yaitu : berperilaku menghindar,

terguncang, melekat dan dependen.

3. Gejala kognitif dari kecemasan yaitu : khawatir tentang sesuatu,

perasaan terganggu akan ketakutan terhadap suatu yang terjadi di masa

depan, keyakinan bahwa sesuatu yang menakutkan akan terjadi,

ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah, pikiran

terasa bercampur aduk atau kebingungan, dan sulit berkonsentrasi

E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan


38

Menurut (Prinzessin, 2021) Terdapat dua faktor utama yang dapat

menimbulkan kecemasan, yaitu :

a. Pengalaman negatif pada masa lalu Penyebab utama munculnya

kecemasan yaitu adanya pengalaman traumatis yang terjadi pada

masa kanak-kanak. Peristiwa tersebut mempunyai pengaruh pada

masa yang akan datang. Ketika individu menghadapi peristiwa

yang sama, maka akan merasakan ketengangan, sehingga

menimbulkan ketidaknyamanan

b. Pikiran yang tidak rasional Pikiran yang tidak rasional dapat dibagi

lagi menjadi 6 bentuk, yaitu:

1. Kegagalan katastropik : individu beranggapan bahwa sesuatu yang

buruk akan terjadi dan menimpa dirinya sehingga individu tidak

mampu mengatasi permasalahannya.

2. Kesempurnaan : individu mempunyai standar tertentu yang harus

dicapai pada dirinya sendiri sehingga menuntut kesempurnaan dan

tidak ada kecacatan berperilaku.

3. Persetujuan

4. Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan,

ini terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman. Faktor

risiko lain yang juga mempengaruhi kecemasan seseorang, antara

lain:

5. Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang

penting pada setiap individu karena berbeda usia, maka berbeda


39

pula terhadap tahap perkembangannya, hal tersebut dapat

mempengaruhi dinamika kecemasan pada seseorang

6. Lingkungan, yaitu kondisi yang ada di sekitar manusia. Faktor

lingkungan dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor internal

maupun eksternal. Terciptanya lingkungan yang cukup kondusif

akan menurunkan resiko kecemasan pada seseorang

Faktor risiko lain yang juga mempengaruhi kecemasan seseorang,

antara lain:

1. Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang

penting pada setiap individu karena berbeda usia, maka berbeda

pula terhadap tahap perkembangannya, hal tersebut dapat

mempengaruhi dinamika kecemasan pada seseorang.

2. Lingkungan, yaitu kondisi yang ada di sekitar manusia. Faktor

lingkungan dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor internal

maupun eksternal. Terciptanya lingkungan yang cukup kondusif

akan menurunkan resiko kecemasan pada seseoran.

3. Pengetahuan dan pengalaman,dengan pengetahuan dan

pengalaman seorang individu dapat membantu menyelesaikan

masalah-masalah psikis, termasuk kecemasan.

4. Peran keluarga, keluarga yang memberikan tekanan berlebih pada

anaknya yang belum mendapat pekerjaan menjadikan individu

tersebut tertekan dan mengalami kecemasan

5. Cara Pengukuran
40

Menurut (Asmadi, 2014) tiap tingkatan kecemasan mempunyai

kiarakteristik atau manifestasi yang berbeda satu sama lain. Manifestasi

kecemasan yang terjadi bergantung pada kematangan pribadi, pemahaman

dalam menghadapi ketegangan, harga diri, dan mekanisme koping yang

digunakan. Cara Penilaian DASS dengan sistem skoring, Yaitu skor 0 =

tidak pernah, skor 1 = Kadang-kadang, skor 2 = Sering,skor 3 = selalu.

Bila skor 0-7= kecemasan Normal, skor 8-9= Kecemasan Ringan, Skor 10-

14= kecemasan sedang, ≥15=kecemasan berat.

F. Kecemasan Penyintas COVID-19

Kecemasan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari ketika berada

pada kondisi penuh tekanan seperti di masa pandemi COVID-19. Salah

kunci penting mengelola kecemasan adalah pada penyeleksian informasi

yang diterima dalam kurun waktu tertentu. Informasi tersebut hendaklah

bersal dari sumber terpercaya dan memiliki kredibilitas di bidangnya

(Vibriyanti, 2020). Dalam hal ini masyarakat umum yang tidak terkena

virus ataupun sudah sembuh dari COVID-19 merasakan cemas dengan

keadaannya.

Kecemasan pada masa pandemi COVID-19 dapat disebabkan oleh

beberapa faktor yaitu faktor predisposisi faktor meliputi karena pandemi

COVID-19, Menghabiskan >9 jam di rumah, pencarian informasi online

yang berlebihan, lebih banyak terjadi pada wanita, status ekonomi,

memiliki bayi, status menikah, status mahasiswa, lingkungan belajar dan

jaringan internet. Faktor yang dapat mencegah atau mengurangi


41

kecemasan adalah factor regulasi emosi, resiliensi, intervensi suportif,

coping agama, dukungan keluarga, membatasi paparan media informasi

dan aktivitas fisik atau olahraga. Peningkatan kecemasan sejak 2019 dan

melaporkan kekhawatiran yang lebih besar tentang dampak COVID-19

terhadap kesehatan mental mereka dari pada kesehatan fisik.

G. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan penyintas

COVID-19

Untuk dapat melakukan sesuatu diperlukan sebuah dasar yaitu

pengetahuan. Tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa

faktor antara lain umur, dan pendidikan. Kecemasan sebenarnya adalah

perasaan yang normal dimiliki oleh manusia, karena saat cemas manusia

disadarkan dan diingatkan tentang bahaya yang mengancam (Suwandi, 2020)

Kombinasi antara masalah fisik dan psikologis membuat penyintas rentan

mengalami masalah emosi dan kecemasan. Namun kecemasan yang

berlebihan dapat mengganggu aktivitas, karena perasaan takut dan khawatir

akan sesuatu. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab dari terjadinya

kecemasan pada penyintas saat pandemi COVID-19 ini. Salah satu nya yaitu

kurangnya informasi yang didapat (fitria, 2020)

Penting bagi penyintas berfikir positif ditengah situasi buruk yang terjadi,

sebab diketahui bahwa kecemasan memiliki korelasi yang dekat dengan

keterlambatan proses penyembuhan pada kesehatan. penelitian baru-baru ini,

melibatkan lebih dari 42.000 subjek, dan menemukan hubungan yang cukup

dekat antara kecemasan dan fakta mengenai terhambatnya aktivitas sehari-hari


42

atau perubahan perilaku, yang terbukti kuat memiliki efek negatif pada

kesehatan (Vancampfort et al., 2018).

Selain itu, informasi palsu (hoax) juga turut menyumbang peran penting

sebagai faktor penyebab terjadinya kecemasan. Salah satu hal yang dapat

memberikan dampak positif kepada penyintas COVID-19 adalah dengan

adanya hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar atau dengan keluarga.

Memberikan pengaruh positif dalam menghadapi situasi setelah terinfeksi

COVID-19, dapat membantu untuk mengurangi tingkat kecemasan.

Dukungan dari keluarga serta koping positif dari lingkungan sekitar, juga

dapat membantu beradaptasi dengan situasi belajar selama pandemi dan

berbagai keadaan yang tentunya berpengaruh terhadap tingkat kecemasan

yang akan dialami. Oleh karena itu, penyintas COVID-19 menghadapi

tantangan besar agar mampu bangkit dan pulih secara fisik maupun

psikologis. Pada dasarnya, kecemasan merupakan respon yang normal

terhadap adanya ancaman. Kecemasan merupakan perasaan takut yang

bersifat lama pada sesuatu yang tidak jelas dan berhubungan dengan perasaan

yang tidak menentu dan tidak berdaya. Namun untuk dapat mengelola

kecemasan agar tetap normal diperlukan proses penilaian berulang kali

terhadap sesuatu.Proses tersebut dapat bergantung pada frekuensi informasi

dan kualitas informasi yang diterima. Saat ini media sosial juga digunakan

untuk membagikan berita atau informasi yang sedang menjadi isu besar.

Salah satunya ialah mengenai kesehatan yang hampir setiap harinya selalu

terbit berita terbaru. Bahkan beberapa perangkat media sosial memberikan


43

berita 20 terbaru secara otomatis pada setiap harinya. Dalam sehari pun

banyak berita dan isu mengenai kesehatan yang muncul dan dengan cepat

tersebar luas. Berita dan isu kesehatan yang sedang hangat diperbincangkan

saat ini yaitu COVID-19. Peningkatan frekuensi informasi tentang COVID-19

dan penerimaan informasi berulang di masyarakat dapat mempengaruhi

kecemasan. Oleh karena itu pengetahuan tentang COVID 19 yang benar

sangat mempengaruhi respon kecemasan seseorang

H. Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang di atas,maka kerangka konsep dalam penelitian

ini sebagai berikut.

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan tentang
Tingkat Kecemasan
COVID-19

Bagan 2. 1 kerangka konsep


44

I. Defenisi Operasional

Definisi operasional variabel merupakan pedoman bagi peneliti untuk

mengukur variabel. Definisi operasional dibuat untuk memudahkan

pengumpulan data dan menghindarkan perbedaan interpretasi serta membatasi

ruang lingkup variabel. Variabel yang dimasukkan dalam definisi operasional

adalah variabel kunci/penting yang dapat diukur secara operasional dan dapat

dipertanggung jawabkan (Saryono, 2009).

Tabel 2. 1
Definisi Operasional

No Variabel Defenisi Cara Alat ukur Hasil ukur Skala


operasional ukur ukur

1 Variabel Segala wawan kuesioner 2:<56%: ordinal


independen sesuatu yang cara
di ketahui kurang
Pengetahuan berkenaan
1:56-75%:
dengan
cukup
COVID-19
0:
>75%:baik

2 Variabel Kecemasan wawan kuesioner 3: ≥ 15 ordinal


dependen social dan cara
tingkat fisik yang di Kecemasan
kecemasan rasakan berat
responden
2:10-14:
kecemasan
sedang
1:8-9:
kecemasan
ringan
0:0-7 :
kecemasan
45

normal
46

J. Hipotesis

Ho: Tidak ada hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat

pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada Penyintas COVID-19 di

wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat pengetahuan

dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di wilayah kerja

Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022 .


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan waktu penelitian

penelitian ini di lakukan pada tanggal 28 Juni 2022-14 juli 2022, objek

dari penelitian ini adalah Penyintas COVID-19 yang berada di wilayah kerja

Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.

B. Desain penelitian

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif,dengan desain penelitian yang di

gunakan adalah cross sectional study dengan menggunakan rancangan

korelasional yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara

dua variabel dan untuk menyatakan ada atau tidaknya hubungan antara

variabel independent ( pengetahuan) dan variabel dependent ( kecemasan )

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua penyintas yang

terdiagnosa COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota

Bengkulu tahun 2022 yang berjumlah 135 Orang akan diambil dan

disesuaikan dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dari penelitian

yang sebelumnya telah ditentukan oleh peneliti atau cara-cara tertentu

sehingga sampel tersebut dapat mewakili populasi yang diteliti

(Notoadmojo, 2010).

47
48

2. Sampel

Sampel adalah subjek yang akan diambil sebagian dari keseluruhan

populasi yang diteliti. Pengambilan sampel penelitian digunakan teknik

penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling.

Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin sebagai berikut

135
n=
1+135 ¿ ¿

n = 81 Orang

Keterangan :

n = Jumlah sampel

N = Besar populasi/jumlah populasi

e = Batas toleransi kesalahan (error tolerance)/persen kelonggaran

a. Kriteria Inklusi

1. Penyintas COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota

Bengkulu tahun 2022.

2. Penyintas yang tidak dalam keadaan positif COVID-19.

3. Penyintas yang bersedia di jadikan responden.

b. Kriteria Eksklusi

1. Bukan Penyintas COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo

kota Bengkulu tahun 2022.

2. Penyintas yang memiliki gangguan bicara dan pendengaran

3. Penyintas yang memiliki gangguan kejiwaan.


49

D. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer yang

didapatkan menggunaan kuesioner yang akan di isi langsung oleh responden.

Kuesioner yang digunakan bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa

tingkat pengetahuan responden tentang COVID-19 dengan kecemasan yang

dirasakan selama pandemi COVID-19. Metode pengumpulan data dilakukan

mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1. Kuesioner dibagikan kepada responden dalam bentuk lembaran lembaran

yang berisi pertanyaan-pertanyaan.

2. Penjelasan secara singkat diberikan kepada responden tentang maksud

dan tujuan dari penelitian ini pada halaman awal kuesioner

3. Pengisian borang informed consent oleh responden sebagai bukti

pemberian persetujuan untuk menjadi bagian dari penelitian ini dan

persetujuan responden untuk menggunakan data dirinya demi keperluan

penelitian ini.

4. Responden diminta untuk mengisi semua pertanyaan sesuai petunjuk yang

telah diberikan dalam format pertanyaan kuesioner. Apabila sudah selesai

akan langsung dikumpulkan kepada peneliti. Pengambilan data dilakukan

dengan memindahkan data yang didapat dan dimasukkan ke komputer

agar selanjutnya dapat diproses.


50

E. Teknik Pengolahan Data

Menurut Notoatmodjo,(2012) pengolahan data yang telah di kumpulkan di

lakukan dengan computer,melalui beberapa tahap antara lain :

1. Editing yaitu melihat apakah isi jawaban atau data yang diolah tersebut

sudah tersedia lengkap dan apakah sudah relevan dengan tujuan penelitian

2. Coding yaitu kode setiap jawaban

3. Tabulating yaitu mentabulasi data berdasarkan kelompok data yang telah

di tentukan ke dalam master table

4. Entry memasukan data yang sudah di lakukan editing dan coding tersebut

ke dalam computer dan menggunakan perangkat lunak computer

5. Cleaning yaitu untuk memastikan apakah semua data sudah siap di

analisis

F. Teknik Analisa Data

1. Analisis Univariat

Digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi dari

variabel independen dan variabel dependen

2. Uji Normalitas Data

Untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak di

gunakan uji Kolmogorov smirnov

3. Analis Bivariat

Analisis bivariat di gunakan untuk mengetahui hubungan tingkat

pengetahuan mengenai COVID-19 dengan tingkat kecemasan pada

Penyintas COVID-19 di Wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota


51

Bengkulu dengan menggunakan analisis korelasi product moment

Pearson.jika data tidak berdistribusi normal di gunakan analisis korelasi

Rank Spearman (rho)


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Puskesmas Sidomulyo Merupakan salah satu Puskesmas yang

berada di wilayah Kota Bengkulu terlatak di jalan Hibrida Vll Kelurahan

Sidomulyo kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu dengan kode pos

38229. Wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo dengan jumlah penduduk

mencapai 11.067 orang, yang menaungi 37 RT yang terletak di antara

Wilayah Hibrida sampai dengan wilayah Timur Indah. Puskesmas ini

merupakan Puskesmas non rawat inap. Puskesmas Sidomulyo melayani

Pasien BPJS maupun non BPJS.

2. Jalannya Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo

Kota Bengkulu berdasarkan Rekomendasi surat izin penelitian dari

STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu dengan nomor 1646-PH/K.01-

STIKES TMS/2022 ditujukan ke Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan

Politik Kota Bengkulu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu dan

Kepala Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022. Penelitian ini

di lakukan bertujuan untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan

Dengan Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 tahun 2022.

52
Langkah pertama yang di lakukan dalam penelitian ini yaitu pengambilan

sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu peneliti

53
54

mengandalkan penilaianya sendiri ketika memilih anggota populasi, di

dapatkan 81 sampel yang merupakan Penyintas COVID-19. Sebelum

penelitian dimulai peneliti melakukan inform consent untuk menjelaskan

tujuan penelitian pada calon responden dan jika calon responden setuju

untuk menjadi responden dilanjutkan responden mengisi kuesioner untuk

mendapatkan informasi tentang nama, usia, jenis kelamin responden.

Setelah seluruh data terkumpul, selanjutnya data tersebut dikelompokkan

sesuai dengan usia dan jenis kelamin, kemudian dibandingkan dengan

kriteria hasil ukur yang sudah ditetapkan, dibedakan berdasarkan kriteria

tersebut, dicek kelengkapannya, dan diberikan kode. Selanjutnya data

tersebut dimasukkan ke dalam master tabel dan dilakukan analisis baik

secara univariat dan bivariat.

3. Analisa Univariat

Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang masing-

masing variabel yang diteliti, baik variabel independen maupun dependen.

a. Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Penyintas COVID-19 di

Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.

Tabel 4. 1
Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.(n=81)

No Pengetahuan Penyintas Frekuensi Persentase


%
1. Baik 22 27,2
2. Cukup 45 56,6
3. Kurang 14 17,3
Total 81 100.0
55

Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan bahwa Dari 81

orang sebagian besar responden tingkat pengetahuan baik berjumlah 22

orang (27,2%), responden tingkat pengetahuan cukup berjumlah 45

orang (55,6%), dan responden tingkat pengetahuan kurang berjumlah

14 orang (17,3%).

b. Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 di Wilayah

Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.

Tabel 4. 2
Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.(n=81)

No Kecemasan Penyintas Frekuensi Presentase %


1 Berat 2 2,5
2 Normal 43 53,1
3 Ringan 10 12,3
4 Sedang 26 32,1
Total 81 100,0
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan bahwa Dari 81 orang

sebagian besar responden tingkat kecemasan berat berjumlah 2 orang

(2,5%), Responden tingkat kecemasan sedang berjumlah 26 orang

(32,1%), Responden tingkat kecemasan ringan berjumlah 10 orang

(12,3%), Responden tingkat kecemasan normal berjumlah 43 orang

(53,1%).
56

4. Uji Normalitas Data

Tabel 4. 3
Normalitas Data Tingkat Pengetahuan dan Kecemasan Pada
Penyintas COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota
Bengkulu (n=81)
Variabel Kolmogrov Smirnov Katerangan
P-Value α= 0,05
5. Tingkat 0,000 P<α Tidak Normal
Pengetahuan

6. Tingkat 0,004 P<α Tidak Normal


Kecemasan

Hasil Uji Normalitas data didapat nilai:

a. P-value = 0,000<0,05 signifikan, berarti data tingkat pengetahuan tidak

berdistribusi normal,

b. P-value = 0,004<0,05 signifikan, berarti data tingkat kecemasan tidak

berdistribusi normal,

Karena kedua data tidak berdistribusi normal, maka tidak memenuhi

syarat untuk dilakukan analisis korelasi Product Moment Pearson.

Selanjutnya akan digunakan analisis korelasi Rank Spearman (rho)

5.Analisis Bivariat

Tabel 4. 4
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan
Korelasi Rank Spearman

Variabel rho P-Value α = 0,05 Keterangan

Hubungan
Tingkat
Pengetahuan
dengan Tingkat
Kecemasan -0,458 0,000 P<α Hubungan
Pada Penyintas Sedang
COVID-19 di
57

Wilayah Kerja
Puskesmas
Sidomulyo Kota
Bengkulu.

Hasil analisis korelasi Rank Spearman (rho) didapat nilai rho = -0,458

dengan p-value=0,000<0,05 signifikan, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Jadi ada hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat pengetahuan

dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di wilayah kerja

Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022.

Keterangan:

a. Rho = -0,458 artinya semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka

semakin rendah tingkat kecemasan responden, dan sebaliknya semakin

rendah tingkat pengetahuan responden maka semakin tinggi tingkat

kecemasan responden.

b. Nilai rho = -0,458 diharga mutlakkan menjadi 0,458 terletak dalam

interval 0,20 – 0,60, maka kategori hubungan sedang.

B. Pembahasan

1. Analisis Univariat

a. Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Penyintas COVID-19 di

Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 81 Penyintas COVID-19

dari responden tingkat pengetahuan baik berjumlah 22 orang (27,2%),

responden tingkat pengetahuan cukup berjumlah 45 orang (55,6%),


58

dan responden tingkat pengetahuan kurang berjumlah 14 orang

(17,3%).

Menurut (Angi, 2022) Pengetahuan masyarakat khususnya dalam

mencegah transmisi penyebaran virus SARS-CoV-2 sangat berguna

dalam menekan penularan virus tersebut. Dengan memiliki

pengetahuan yang baik terhadap suatu hal, seseorang akan

memiliki kemampuan untuk menentukan dan mengambil keputusan

bagaimana cara meningkatkan pencegahan COVID-19 melalui

berbagai cara yang benar dan dibutuhkan pengetahuan yang benar

pula. Pengetahuan yang benar dapat mempengaruhi tindakan

seseorang. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

(Sari, 2020) yang menyatakan bahwa pengetahuan masyarakat

Kabupaten wonosobo tentang Penyintas COVID-19 berada pada

kategori Cukup (90%) dan hanya 10% berada pada kategori baik.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

(Yanti, 2020) mengenai Pengetahuan, Penyintas COVID-19 di

Indonesia menyebutkan bahwa 99% masyarakat Indonesia memiliki

pengetahuan yang cukup.

Penelitian ini juga sejalan dengan (Augla, 2021) yaitu dimana

responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang COVID-

19. Penelitian yang di lakukan oleh Augla ini memiliki jumlah

responden sebanyak 95 orang atau sebesar 63,3% dari total responden

yang ada. Namun, hanya 27 orang (18%) yang memiliki tingkat


59

pengetahuan yang tergolong baik terkait COVID-19, kelompok ini

berada pada kategori kelompok dengan jumlah responden paling

sedikit. Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan kelompok responden

yang memiliki tingkat pengetahuan yang buruk tentang COVID-19,

yaitu sebesar 28 orang (18,7%).

b. Gambaran Tingkat kecemasan Pada Penyintas COVID-19 di

Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 81 Penyintas COVID-19

dari responden tingkat kecemamasan, Responden tingkat kecemasan

berat berjumlah 2 orang (2,5%), Responden tingkat kecemasan sedang

berjumlah 26 orang (32,1%), Responden tingkat kecemasan ringan

berjumlah 10 orang (12,3%), Responden tingkat kecemasan normal

berjumlah 43 orang (53,1%).

Kecemasan dan ketakutan akan penularan selama krisis COVID-19

mungkin terkait dengan ketidakpastian, ketakutan akan ketidaktahuan,

dan kepanikan. Paparan berulang terhadap laporan tentang krisis

COVID-19 dapat meningkatkan kecemasan. Kekhawatiran dan

ketakutan menyebabkan berbagai gejala mental dan fisik dan dapat

menyebabkan perkembangan gangguan kecemasan, depresi dan

gangguan tidur. Ada kemungkinan besar bahwa para penyintas

COVID-19, terutama para penyintas yang menderita COVID-19 parah,

memiliki risiko bunuh diri yang tinggi. Sebuah studi baru-baru ini di

China menunjukkan bahwa 96,2% pasien COVID-19 yang pulih


60

memiliki gejala stres pasca trauma yang signifikan. Sekitar 50% pasien

yang pulih tetap cemas setelah epidemi SARS 2003 di Hong Kong.

(Hasrida, 2021)

Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Hasrida, 2021) yang

menyatakan tingkat kecemasan penyintas COVID-19 tertinggi yaitu

responden dengan kecemasan normal 61 orang,kecemasan ringan 14,

kecemasan sedang 13, dan kecemasan berat 6 orang.

2. Analisis Bivariat

a. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan

Pada Penyintas COVID-19 Di Wilayah Kerja Puskesmas

Sidomulyo Kota Bengkulu.

Hasil analisis korelasi Rank Spearman (rho) didapat nilai rho = -

0,458 dengan p-value=0,000<0,05 signifikan, maka Ho ditolak dan Ha

diterima. Jadi Ada hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat

pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di

wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022.

Yaitu dimana Rho = -0,458 artinya semakin tinggi tingkat

pengetahuan, maka semakin rendah tingkat kecemasan responden, dan

sebaliknya semakin rendah tingkat pengetahuan responden maka

semakin tinggi tingkat kecemasan responden. Nilai rho = -0,458

dihargamutlakkan menjadi -0,458 terletak dalam interval 0,20 – 0,60,

maka kategori hubungan sedang.


61

Hasil perhitungan kuesioner tingkat pengetahuan pada penyintas

COVID-19 dengan tingkat baik berjumlah 22 orang, penyintas dengan

pengetahuan cukup berjumlah 45 orang, dan penyintas dengan tingkat

pengetahuan kurang berjumlah 14 orang. Adapun jenis pertanyaan

yang tercantum pada kuesioner meliputi definisi dan latar belakang

dari COVID-19, jalur transmisi virus, manifestasi klinis umum yang

dapat diamati pada penderita, serta cara pencegahan agar terhindar dari

penyakit ini. Umumnya pengetahuan para penyintas di kategori cukup.

Hasil perhitungan kuesioner tingkat kecemasan pada penyintas

COVID-19 dengan kecemasan tingkat berat berjumlah 2 orang,

penyintas dengan tingkat kecemasan normal 43 orang, penyintas

dengan tingkat kecemasan ringan 10 orang dan penyintas dengan

tingkat kecemasan sedang 26 orang. Berdasarkan hasil penelitian

(Ridlo, 2020) menunjukkan bahwa kecemasan pada penyintas COVID-

19 di Kecamatan Nuha, rendah dikarenakan masyarakat sudah pernah

mengalami kecemasan sebelumnya. Ada kemungkinan besar bahwa

para penyintas COVID-19, terutama para penyintas yang menderita

COVID-19 parah, memiliki risiko bunuh diri yang tinggi. Pengalaman

stres seperti belajar tentang diagnosis COVID-19, takut menulari orang

lain, gejala penyakit, rawat inap, terutama masuk ke unit perawatan

intensif, dan kehilangan pendapatan dapat menyebabkan

perkembangan kecemasan, depresi dan pasca-trauma. Banyak pasien

COVID-19 yang sembuh memiliki gejala fisik termasuk rasa sakit


62

dalam waktu yang lama. Gangguan neurologis seperti stroke iskemik,

sakit kepala dan kejang berhubungan dengan perilaku bunuh diri.

Gejala fisik, terutama nyeri juga meningkatkan risiko bunuh diri

Hasil Penelitian dari hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat

kecemasan pada penyintas COVID-19 di wilayah kerja puskesmas

Sidomulyo kota Bengkulu Penelitian ini sejalan dengan (Augla, 2021)

Dengan menggunakan metode analisis yang sama, p value berada

dibawah 0,05, sehingga dapat dibuktikan bahwa H0 dari penelitian ini

dapat ditolak, mengindikasikan bahwa dijumpainya korelasi yang

signifikan antara tingkat pengetahuan tentang COVID-19 dengan

tingkat kecemasan yang dirasakan oleh mahasiswa Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara angkatan 2017. Correlation coefficient

ditemukan sebesar 0,206, hal ini menandakan bahwa meskipun

terdapat hubungan antara kedua variabel, hubungan tersebut tergolong

lemah.
63

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di wilayah Kerja Puskesmas

Sidomulyo Kota Bengkulu di simpulkan bahwa

1. Dari 81 orang responden di dapatkan data bahwa pengetahuan baik

berjumlah 22 orang (27,2%), responden tingkat pengetahuan cukup

berjumlah 45 orang (55,6%), dan responden tingkat pengetahuan kurang

berjumlah 14 orang (17,3%).

2. Dari 81 orang responden di dapatkan data bahwa kecemasan Responden

tingkat kecemasan berat berjumlah 2 orang (2,5%), Responden tingkat

kecemasan sedang berjumlah 26 orang (32,1%), Responden tingkat

kecemasan ringan berjumlah 10 orang (12,3%), Responden tingkat

kecemasan normal berjumlah 43 orang (53,1%).

3. Berdasarkan hasil analisis korelasi Rank Spearman (rho) terdapat

hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan, dengan

kategori hubungan sedang.

B. Saran

1. Bagi mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Agar mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu khususnya

jurusan keperawatan dapat mempelajari dan memahami hasil penelitian ini

supaya dapat mengaplikasikan hasil penelitian ini dalam praktik


64

keperawatan dan dapat memberikan informasi pada masyarakat yang

membutuhkan.

2. Bagi masyarakat Penyintas Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota

Bengkulu

Bagi masyarakat Penyintas Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo

Kota Bengkulu hendaklah mengembangkan serta meningkatkan

pengetahuan melalui pendidikan kesehatan yang telah bekerjasama dengan

Puskesmas terkait. Sehingga di harapkan para penyintas COVID-19

memahami dan meningkatkan pengetahuan agar para penyintas dapat

dengan bijak mengambil keputusan.

3. Bagi Peneliti

Diharapkan Peneliti lebih Meningkatkan pengetahuan mengenai

Hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kecemasan pada penyintas

COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu. Agar

nantinya petugas kesehatan dapat melakukan penyuluhan dan pendidikan

kesehatan agar dapat memberikan informasih mengenai COVID-19.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dapat menjadi acuan atau titik tolak yang berguna untuk penelitian

selanjutnya dengan mencari faktor-faktor lain yang berhubungan dengan

penyintas COVID-19. bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat

meneliti lebih lanjut mengenai topik yang sama dengan melakukan analisis

faktor-faktor terkait yang berbeda dalam penelitian ini agar menjadi

perbandingan lanjutan.
DAFTAR PUSTAKA

Agus munir, M. (2018). Strategi pendidikan islam dalam menghadapi globalisasi


ilmu pengetahuan dan teknologi. Jurnal kajian dan penelitian pendidikan
islam, Vol.12, No.2, 122-139.

amirullah, A. K. (2020). Penanganan kecemasan pasien survivor COVID-19


intensive care unit literature riview.

Angi, S. I. (2022). Perbedaan tingkat pengetahuan ,sikap dan prilaku terhadap


pencegahan COVID-19 antara penyintas dengan non penyintas COVID-19
di kota kupang. cendana medical journal.

Arikunto. (2010). prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: Rineka


cipta.

Asmadi. (2014). Teknik prosedural keperawatan konsep anak dan apikasi


kebutuhan dasar klien salemba medika. jakarta.

Atik Mardiani Kholilah, A. Y. (2021). Gejala sisa penyintas COVID-19: Literatur


Review. Jurnal ilmu keperawatan jiwa, Vol 4,No 3, 501-51

Diah Handayani, D. R. (2020). Penyakit Virus Corona 2019. Jurnal of The


indonesian society of respirology, Vol.40,No.2, 119-128.

Dinkes, k. B. (2022). Data kasus COVID-19 kota Bengkulu.

D'prinzessin, C. a. (2021). hubungan tingkat pengetahuan tentang COVID-19


terhadap tingkat stres dan kecemasaan pada mahasiswa farmasi
universitas sumatera utara angkatan 2017.

Fitria, i. (2020). kecemasan remaja pada masa pandemi COVID-19. jurnal


pendidikan indonesia

Fitriani. (2021). gambaran pengetahuan sikap dan tindakan pada riwayat kontak
penyintas dalam upaya pencegahan COVID-19 di kecamatan ujungbulu
kabupaten bulukumba.

Grace, C. (2020). Manifestasi Klinis dan Perjalanan Penyakit Pada Pasien


COVID-19. Vol.9 No.1, 49-55.

Hayat, A. (2014). Kecemasan dan metode pengendaliannya. Vol.XII.No 01.


Healthy Seventina Sirait, A. H. (2020). Hubungan pengetahuan tentang COVID1-
19 terhadap tingkat kecemasan pada lansia yang mengalami hipertensi.
jurnal kesehatan, Vol.11 No 2, 165-169.

Hasrida. (2021). hubungan karakteristik individu, kecemasan, dan sosio kognitif


dengan kejadian stres pada penyintas COVID-19 di kecamatan nuha
kabupaten luwu timur. 111.

Indah Fitriani, N. (2020,). Tinjauan Pustaka COVID-19 Virologi,Patogenesis,dan


Manifestasi Klinis. Jurnal Medika Malahayati, Vol.4,No.3, 194-198.

Jesica Moudy, R. A. (2020). Pengetahuan terkait usaha pencegahan Corona virus


disiase ( COVID-19) do indonesia. Journal of public heakth research and
development, 333-346.

Kartika Sari Wanodya, N. K. (2020). Literature Review Stigma Masyarakat


Terhadap COVID-19. Vol 5,No 2, 107-111.

KEMENKES. (2020). Pedoman Pencegahan dan pengendalian corona virus


disease 2019 ( COVID-19). 106-116.

kumbara, H. (2018). analisis tingkat kecemasaan (Anxiety) dalam menghadapi


pertandingan atlet sepak bola kabupaten banyuasin pada porprov 2017.
jurnal ilmu keolahragaan, vol.17 (2), 28-35.

M.Zainal Arifin, A. D. (2020). Dampak Psikososial Terhadap Penyintas COVID-


19. 2-4.

Mahase, E. (2020). COVID-19 apa yang di ketahui tentang COVID panjang.

Muannif Ridwan, A. S. (2021). Studi analisis tentang makna pengetahuan dan


ilmu pengetahuan serta jenis dan sumbernya. Jurnal Geuthee,
Vol.04,No.01, 32-54.

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Onisimus Umbu Daha, A. G. (2021). Hubungan tingkat pengetahuan dengan


kecemasan dalam mencegah paparan corona virus disease (COVID-19) di
perkotaan. Journal of Nursing Science, Vol.2 No.1, 46-50.

Perliyani, H. (2021). Manifestasi Klinis dan Diagnosis COVID-19 Multisysystem


inflammatory syndrome pada anak. Vol.48 N0 4, 231-234.

Purnamasari, A. (2020). Tingkat pengretahuan dan prilaku masyarakat kabupaten


wonosobo gtentang COVID-19. Jurnal ilmiah kesehatan.
Ridlo. (2020). Pandemi COVID-19 dan tantangan kebijakan kesehatan mental di
indonesia. Jurnal psikologi dan kesehatan mental.

Sari, I. p. (2020). Tingkat pengetahuan dan prilaku masyarakat kabupaten


wonosobo tentang COVID-19. jurnal ilmiah kesehatan, 33-42.

Sipa Maulani, s. (2021). hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang


COVID-19 dengan kesadaran masyarakat dalam menggunakan masker.
JURNAL KESEHATAN POLTEKES KEMENKES RI PANGKAL
PINANG, Vol.9,No 1(P-ISSN.2339-2150, E-ISSN 2620-6234), 59-68.

smeltzer. (2013). Buku ajar keperawatan medikal bedah. jakarta: penerbit buku
kedokteran.

Sri Handayani Segala, Y. M. (2020). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap


Masyarakat Terhadap COVID-19 A literature Review. Jurnal Menara
Medika.

Sujarweni, V. W. (2014). Metode penelitian lengkap,praktis dan mudah di


pahami. yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Suryasumantri, J. (1999). Ilmu dalam perspektif. yayasan obor indonesia.

Suwandi, M. (2020). Hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan


terhadap COVID-19 pada remaja di Sma advent balik papan. malahayati
nursing journal, 677-685.

Verawati, A. M. (2021). Hubungan pengetahuan tentang COVID-19 terhadap


kecemasan ibu hamil trimester lll. Jurnal kesehatan, Vol.12 No 2, 234-
241.

WHO. (2021). There is a current outbreak of corona virus (COVID-19) disease

Yanti. (2020). Community Knowledge,Attitudes,and behavior towards social


distancing policy as a means of preventing transmission of COVID 19 in
indonesia. jurnal administrasi kesehatan indonesia, 4-14.

Yelvi Levani, A. D. (2021). Corona virus Disease 2019 ( COVID-19)


Patogenesis,Manifestasi Klinis dan pilihan terapi. Jurnal kedokteran dan
kesehatan, Vol.17 No.1, 45-57.

Yuliana, E. (2017). Analisis pengetahuan siswa tentang makanan yang sehat dan
bergizi terhadap pemilihan jajanan di sekolah. Retrieved April Senin,
2022,fromhttp//repository.ump.ac.id/4114/3/Erlin%20Yuliana_BAB
%20II.pdf
L
A
M
P
I
R
A
N
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ……………………………………….
Alamat : ……………………………………......
Umur : ………………………………………..

Menyatakan bersedia menjadi responden pada penelitian yang akan di


lakukan oleh mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu Jurusan S1
keperawatan Semester Vlll :
Nama : Resi Purnama Sari
NPM : 1826010040
Jurusan : S1 Ilmu keperawatan
Judul Skripsi : Hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat
kecemasan pada penyintas COVID-19 di Wilayah
Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun
2022.
Saya bersedia mengikuti semua kegiatan yang di lakukan sesuai
dengan sistematika dan prosedur yang di lakukan dan menerima hasil yang di
berikan.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa
ada unsur paksaan dari pihak manapun.

Bengkulu,………………….2022
Responden

( )
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Dengan Hormat
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Mahasiswa STIKES Tri Mandiri
Sakti Bengkulu jurusan S1 Keperawatan Semester Vlll.
Nama : Resi Purnama Sari
Npm : 1826010040
Jurusan : S1 Ilmu Keperawatan
Akan mengadakan penelitian dengan judul “ HUBUNGAN TINGKAT
PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA
PENYINTAS COVID-19 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
SIDOMULYO KOTA BENGKULU TAHUN 2022.” Bersama ini saya mohon
kepada bapak-bapak dan ibu-ibu untuk bersedia menjadi responden dan
berpartisipasi dalam penelitian ini. Dengan menandatangani lembar persetujuan
serta menjawab pertanyaaan yang saya ajukan. Hasil jawaban yang bapak-
bapak,ibu-ibu berikan akan saya jaga kerahasianya dan akan di gunakan untuk
kepentingan penelitian. Atas perhatian dan kerjasamanya sebagai responden
saya,saya ucapkan terimakasiah.

Peneliti

( Resi Purnama Sari )


KUESIONER PENGETAHUAN

Pentunjuk pengisian :

Bacalah dengan cermat dan teliti setiap bagian pertanyaan dalam kuesioner ini !!!

A. Karakteristik Responden

Nama :

Usia :

Jenis kelamin :
B. Pengetahuan

Isilah pernyataan di bawah ini dengan memberi tanda chek list (√) pada kotak

benar dan salah

Keterangan :

0 = ≥ 75 % : Baik

1= 56-75 % : Cukup

2= ≤ 56 % : Kurang

No Pernyataan Benar Salah

1 Orang yang pernah terinfeksi COVID-19


tidak bisa menyebarkan virus ke orang
lain jika tidak menunjukan gejala

2 Penyakit COVID-19 di sebabkan oleh


virus SARS CoV-2

3 Penyebaran penyakit COVID-19 dapat


melalui pemakaian sabun yang di
gunakan secara bersama-sama penderita
COVID-19

4 Batuk,nyeri dada,dan demam merupakan


tanda dan gejala dari penyakit COVID-
19

5 Anggota keluarga yang sering keluar


rumah memiliki risiko yang besar
terserang atau tertular penyakit COVID-
19

6 Sering begadang dan kurang istirahat


merupakan salah satu factor penyebab
terjangkit COVID-19

7 Pencegahan penularan COVID-19


dengan menutup mulut saat bersin dan
batuk

8 COVID-19 bila tidak di tangani dengan


baik akan menyebabkan komplikasi pada
bagian tubuh seperti paru-paru dan
jantung

9 Berjemur di bawah sinar matahari dapat


membunuh virus COVID-19

10 Droplet ( Cairan dari mulut/hidung)


merupakan media penularan COVID-19

11 Penderita COVID-19 dapat mengalami


kematian akibat virus COVID-19 yang
ada di dalam tubuhnya

12 Supaya tidak tertular penyakit COVID-


19,maka sebaiknya rajin berolahraga

13 Membersihkan lingkungan rumah setiap


hari merupakan tindakan efektif dalam
pencegahan COVID-19

14 Mendatangi tempat keramaian


merupakan kondisi yang dapat
menyebabkan terserang virus COVID-19

15 Mencuci tangan/menggunakan
handsanitazier setelah melakukan kontak
langsung dengan orang lain merupakan
salah satu upaya pencegahan virus
COVID-19

16 Penyakit COVID-19 merupakan penyakit


bawaan dari orang tua

17 Upaya pencegahan yang lain yaitu


dengan keluar rumah tidak memakai
masker

18 Mematuhi peraturan pemerintah untuk


tidak keluar rumah merupakan tindakan
yang efektif untuk mencegah penularan
penyakit

19 Tidur dan istirahat yang cukup dapat


mencegah tertularnya COVID-19

20 Pencegahan COVID-19 dapat di lakukan


dengan memyediakan makanan dengan
gizi seimbang seperti nasi,lauk,sayur dan
buah

Sumber : Fitriani,2021

KUESIONER DEPRESSION ANXIETY STRESS SCALES ( DASS 42)


Nama responden :

Jenis kelamin :

Umur :

Nomor handphone :

Keterangan untuk Kecemasan

0 : Tidak Pernah (TP)

1 : kadang-kadang (KK)

2 : sering (SR)

3 : selalu (SL) sangat sesuai dengan yang di alami

Total Skor :

0-7 : Kecemasan normal

8-9 : kecemasan ringan

10-14 : Kecemasan sedang

≥15 : kecemasan berat

No Aspek penilaian TP KK SR SL

1 Setelah sembuh dari Covid-19 mulut saya


biasa terasa kering

2 Setelah sembuh dari Covid-19 saya merasakan


gangguan dalam bernapas ( Napas cepat,sulit
bernapas ) tanda adanya aktifitas fisik.

3 Setelah sembuh dari Covid-19 saya mengalami


kelemahan pada anggota tubuh contoh kaki
seperti menyerah ( gemetar)

4 Setelah sembuh dari Covid-19 saya merasa


cemas yang berlebihan dalam suatu situasi
namun bisa lega jika hal/situasi itu berakhir
5 Setelah sembuh dari Covid-19 saya merasakan
kelelahan

6 Setelah sembuh dari Covid-19 saya sering


bekeringat ( missal : tangan bekeringat ) tampa
stimulasi oleh cuaca maupun latihan fisik

7 Setelah sembuh dari Covid-19 saya ketakutan


tanpa alasan yang jelas

8 Setelah sembuh dari Covid-19 saya kesulitan


untuk menelan

9 Setelah sembuh dari Covid-19 saya mengalami


perubahan kegiatan jantung dan denyut nadi
tanpa stimulasi suhu maupun latihan fisik

10 Setelah Sembuh dari Covid-19 saya mudah


panic

11 Setelah sembuh dari Covid-19,saya takut


terhambat oleh tugas-tugas yang tidak bisa di
lakukan

12 Setelah sembuh dari Covid saya sering merasa


ketakutan

13 Setelah sembuh dari Covid-19 saya sering


khawatir dengan situasi diri saya,dan menjadi
panic

14 Setelah sembuh dari Covid-19 saya biasa


gemetar (misal tangan )

Sumber : Hasrida,2021
TABULASI KUESIONER HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA
PENYINTAS COVID-19 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIDOMULYO KOTA BENGKULU

Jenis
No Nama Kelamin Umur Kategori Usia Pengetahuan Kecemasan
1 Ny. P p 37 Dewasa 20 BAIK 0 NORMAL
2 Nn. S p 15 Remaja 11 KURANG 6 NORMAL
3 Nn. K p 17 Remaja 14 CUKUP 5 NORMAL
4 Ny. A p 34 Dewasa 12 CUKUP 3 NORMAL
5 Tn. V L 34 Dewasa 14 CUKUP 4 NORMAL
6 Ny. S p 45 Dewasa 12 CUKUP 6 NORMAL
7 Nn. T p 17 Remaja 11 KURANG 16 BERAT
8 Ny. H p 48 Lansia 13 CUKUP 12 SEDANG
9 Tn. A L 56 Lansia 12 CUKUP 11 SEDANG
10 Tn. H L 26 Dewasa 11 KURANG 22 BERAT
11 Ny. H P 49 Lansia 13 CUKUP 6 NORMAL
12 Ny. O P 29 Dewasa 13 CUKUP 10 SEDANG
13 Tn. S L 52 Lansia 15 CUKUP 4 NORMAL
14 Tn. R L 28 Dewasa 16 BAIK 4 NORMAL
15 Tn. B L 35 Dewasa 13 CUKUP 13 SEDANG
16 Ny. S P 47 Lansia 13 CUKUP 3 NORMAL
17 Tn. M L 38 Dewasa 13 CUKUP 2 NORMAL
18 Ny. Y P 42 Dewasa 12 CUKUP 12 SEDANG
19 Nn. C P 23 Remaja 16 BAIK 14 SEDANG
20 Ny. P P 46 Lansia 14 CUKUP 5 NORMAL
21 Ny. D P 41 Dewasa 13 CUKUP 14 SEDANG
22 Ny. K P 36 Dewasa 11 KURANG 14 SEDANG
23 Tn. T L 35 Dewasa 12 CUKUP 10 SEDANG
24 Tn. F L 44 Dewasa 13 CUKUP 2 NORMAL
25 Ny. E P 51 Lansia 12 CUKUP 3 NORMAL
26 Ny. Y P 27 Dewasa 13 CUKUP 5 NORMAL
27 Tn. P L 26 Dewasa 19 BAIK 2 NORMAL
28 Tn. F L 25 Remaja 13 CUKUP 9 RINGAN
29 Ny. N P 48 Lansia 12 CUKUP 12 SEDANG
30 Ny. R P 27 Dewasa 15 CUKUP 5 NORMAL
31 Ny. N P 41 Dewasa 12 CUKUP 3 NORMAL
32 Ny. H P 23 Remaja 11 KURANG 11 SEDANG
33 Tn. M L 35 Dewasa 13 CUKUP 12 SEDANG
34 Ny. T P 18 Remaja 16 BAIK 9 RINGAN
35 Ny. T P 41 Dewasa 12 CUKUP 5 NORMAL
36 Tn. M L 23 Remaja 11 KURANG 14 SEDANG
37 Tn. N L 29 Dewasa 14 CUKUP 10 SEDANG
38 Ny. S P 17 Remaja 15 CUKUP 13 SEDANG
39 Ny. A P 16 Remaja 13 CUKUP 9 RINGAN
40 Ny. A P 24 Remaja 16 BAIK 13 SEDANG
41 Tn. M L 27 Dewasa 9 KURANG 8 RINGAN
42 Ny. A P 25 Remaja 16 BAIK 6 NORMAL
43 Tn. T L 42 Dewasa 10 KURANG 11 SEDANG
44 Tn. C L 58 Lansia 11 KURANG 7 NORMAL
45 Ny. S P 55 Lansia 11 KURANG 9 RINGAN
46 Tn. M L 19 Remaja 15 CUKUP 14 SEDANG
47 Tn. A L 29 Dewasa 18 BAIK 4 NORMAL
48 Ny. H P 63 Lansia 11 KURANG 13 SEDANG
49 Ny. H P 25 Remaja 17 BAIK 3 NORMAL
50 Ny. N P 26 Dewasa 17 BAIK 7 NORMAL
51 Tn. F L 18 Remaja 14 CUKUP 11 SEDANG
52 Tn. E L 17 Remaja 12 CUKUP 9 RINGAN
53 Nn. A P 18 Remaja 14 CUKUP 4 NORMAL
54 Tn. R L 21 Remaja 14 CUKUP 9 RINGAN
55 Ny. M P 31 Dewasa 11 KURANG 14 SEDANG
56 Tn. M L 16 Remaja 17 BAIK 2 NORMAL
57 Tn. F L 27 Dewasa 19 BAIK 2 NORMAL
58 Tn. M L 53 Lansia 15 CUKUP 3 NORMAL
59 Ny. A P 39 Dewasa 19 BAIK 0 NORMAL
60 Tn. N L 35 Dewasa 17 BAIK 3 NORMAL
61 Ny. M P 25 Remaja 14 CUKUP 12 SEDANG
62 Tn. I L 59 Lansia 18 BAIK 1 NORMAL
63 Tn. M L 18 Remaja 16 BAIK 0 NORMAL
64 Ny. M P 51 Lansia 13 CUKUP 6 NORMAL
65 Ny. E P 62 Lansia 15 CUKUP 7 NORMAL
66 Ny. P P 21 Remaja 15 CUKUP 9 RINGAN
67 Ny. P P 30 Dewasa 14 CUKUP 14 SEDANG
68 Ny. T P 31 Dewasa 14 CUKUP 13 SEDANG
69 Ny. Y P 20 Remaja 13 CUKUP 7 NORMAL
70 Tn. A L 42 Dewasa 17 BAIK 6 NORMAL
71 Tn. Z L 27 Dewasa 17 BAIK 6 NORMAL
72 Tn. A L 59 Lansia 12 CUKUP 9 RINGAN
73 Ny. F P 25 Remaja 17 BAIK 6 NORMAL
74 Tn. A L 32 Dewasa 16 BAIK 9 RINGAN
75 Ny. E P 45 Dewasa 16 BAIK 5 NORMAL
76 Ny. R P 33 Dewasa 10 KURANG 10 SEDANG
77 Ny. A P 26 Dewasa 12 CUKUP 3 NORMAL
78 Tn. M L 61 Lansia 15 CUKUP 5 NORMAL
79 Tn. S L 47 Lansia 12 CUKUP 4 NORMAL
80 Tn. M L 16 Remaja 11 KURANG 12 SEDANG
81 Ny. Y P 31 Dewasa 18 BAIK 3 NORMAL
ANALISIS DATA RESI

1. ANALISIS UNIVARIAT
Pengetahuan Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid BAIK 22 27.2 27.2 27.2

CUKUP 45 55.6 55.6 82.7

KURANG 14 17.3 17.3 100.0

Total 81 100.0 100.0

Kecemasan Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid BERAT 2 2.5 2.5 2.5

NORMAL 43 53.1 53.1 55.6

RINGAN 10 12.3 12.3 67.9

SEDANG 26 32.1 32.1 100.0

Total 81 100.0 100.0

Jenis Kelamin Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid L 35 43.2 43.2 43.2

P 46 56.8 56.8 100.0

Total 81 100.0 100.0


Umur Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 15 1 1.2 1.2 1.2

16 3 3.7 3.7 4.9

17 4 4.9 4.9 9.9


18 4 4.9 4.9 14.8

19 1 1.2 1.2 16.0

20 1 1.2 1.2 17.3

21 2 2.5 2.5 19.8

23 3 3.7 3.7 23.5

24 1 1.2 1.2 24.7

25 5 6.2 6.2 30.9

26 4 4.9 4.9 35.8

27 5 6.2 6.2 42.0

28 1 1.2 1.2 43.2

29 3 3.7 3.7 46.9

30 1 1.2 1.2 48.1

31 3 3.7 3.7 51.9

32 1 1.2 1.2 53.1

33 1 1.2 1.2 54.3

34 2 2.5 2.5 56.8

35 4 4.9 4.9 61.7

36 1 1.2 1.2 63.0

37 1 1.2 1.2 64.2

38 1 1.2 1.2 65.4

39 1 1.2 1.2 66.7

41 3 3.7 3.7 70.4

42 3 3.7 3.7 74.1

44 1 1.2 1.2 75.3

45 2 2.5 2.5 77.8

46 1 1.2 1.2 79.0

47 2 2.5 2.5 81.5

48 2 2.5 2.5 84.0

49 1 1.2 1.2 85.2

51 2 2.5 2.5 87.7


52 1 1.2 1.2 88.9

53 1 1.2 1.2 90.1

55 1 1.2 1.2 91.4

56 1 1.2 1.2 92.6

58 1 1.2 1.2 93.8

59 2 2.5 2.5 96.3

61 1 1.2 1.2 97.5

62 1 1.2 1.2 98.8

63 1 1.2 1.2 100.0

Total 81 100.0 100.0

Kategori Usia Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Dewasa 38 46.9 46.9 46.9

Lansia 18 22.2 22.2 69.1

Remaja 25 30.9 30.9 100.0

Total 81 100.0 100.0

2. UJI NORMALITAS DATA


Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig. Statistic df Sig.

Tingkat
.149 81 .000 .958 81 .009
Pengetahuan

Tingkat
.124 81 .004 .957 81 .008
Kecemasan

a. Lilliefors Significance Correction

3. ANALISIS BIVARIAT

Correlations

Rank of Rank of
TINGKAT TINGKAT
PENGETAHUAN KECEMASAN

Spearman's rho Rank of TINGKAT Correlation Coefficient 1.000 -.458**


PENGETAHUAN1
Sig. (2-tailed) . .000

N 81 81

Rank of TINGKAT Correlation Coefficient -.458** 1.000


KECEMASAN1
Sig. (2-tailed) .000 .

N 81 81

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai