SKRIPSI
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT
KECEMASAN PADA PENYINTAS COVID-19 DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS SIDOMULYO KOTA BENGKULU
TAHUN 2022
Oleh :
RESI PURNAMA SARI
1826010040
PROGRAM STUDI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2022
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama Mahasiswa : Resi Purnama Sari
Nomor Mahasiswa : 1826010040
Program Studi : Ners
Lembaga : STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini merupakan hasil karya saya
sendiri menggunakan data sesuai keadaan dilapangan, dan sepanjang pengetahuan
saya dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah di tulis atau
diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan
disebutkan dalam daftar pustaka.
Bengkulu, Agustus 2022
Yang membuat pernyataan
Resi Purnama Sari
NPM. 1826010040
i
Motto Dan Persembahan
Motto :
“Waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memanfaatkannya dengan
baik, maka ia akan memanfaatkan mu ( HR. Muslim )
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri
( QS. Ar-Rad Ayat 11 )
Start everything with bismillah, stay healthy, stay happy,Tidak
masalah seberapa lambat kamu berjalan, asalkan jangan sampai
berhenti.
Persembahan :
Dengan segenap rasa syukur, skripsi ini ku persembahkan untuk:
Kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak kekuatan,
kesabaran, kesehatan, kemudahan dan kelancaran.puji syukur hamba
panjatkan padamu ya Rabb…setiap keberhasil ini takkan ada dalam
kehidupanku tanpa izinmu.
Dengan iringan do’a dan rasa syukur,melalui perjuangan ini perlahan
ku gapai sekeping keberhasilan dengan tangan yang terbuka dan hati
yang tulus ku persembahkan setitik kebahagian ini kepada yang
tercinta ayahku (Kaharudin) dan ibunda tercintaku ( Yurnaini ) yang
slalu mendukungku setiap waktu dengan kasih sayang,dan tetesan
air mata yang senantiasa mengiringi setiap untaian bait doa-
doanya,serta cucuran keringat yang slalu mengiringi setiap usaha
dan jerih payahnya demi keberhasilanku.
ii
Kepada kedua kakakku tersayang Helmiza, S.I.P & puryadi, M.Pd
terimakasih telah menjadi panutan serta motivasi untukku,dorongan
semangat dan d0’a kalian telah menghantarkan perjuangan ku sampai
di titik ini.
Adek ku Radiyta dwi angreyni terimakasih telah membantu dan
mendampingiku mengerjakan skripsi ini hingga selesai.
Terima kasih juga untuk sahabat tercinta ,sahabat seperjuanganku,
Chairiska putri meunasah siregar, yang telah menjadi penyemangat,
penenang serta panutaan dalam belajar untuku dalam berjuang
menyelesaikan skripsi ini.
Untuk Sahabat tersayangku Chelly Masita ( Zherly ) terimakasih
telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini. menjadi
orang yang siap di repotkan kapan pun,menjadi saksi betapa sulitnya
jalan ini ku lalui.
Kepada para sahabat ku Welia somita Gundari,endang sri mulyani,
frezylya lingwe erlangga yang telah memberikan semangat, bantuan
serta motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
Terima kasih juga untuk kedua pembimbingku, Bapak (Dr. H. Buyung
Keraman M.Kes. ) dan bapak (Ns. Ade Herman Surya Direja, S.Kep,
MAN) yang telah meluangkan waktuya untuk membimbingku selama
penyelesaian Skripsi ini.
Teman-temanku di kelas Keperawatan B angkatan 2018 kurang lebih
4 tahun kita bersama, terimakasih atas peran dan bantuan kepada
saya dalam berproses menjadi jiwa yang lebih kuat.
iii
Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan namanya
satu-persatu.
Terimakasih Teruntuk teman-teman seperjuanganku dan almamater
hijau tercinta Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
iv
ABSTRAK
Resi Purnama Sari, 2022. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat
Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 Di Wilayah Kerja Puskesmas
Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022. Skripsi. Bengkulu : Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu. Pembimbing I Bapak Dr. H.
Buyung Keraman, M. Kes dan Pembimbing II Bapak Ns. Ade Herman Surya
Direja, S. Kep, MAN.
Corona virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit akibat
infeksi virus saluran pernapasan yang sangat menular yang disebabkan oleh
virus baru bernama Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus 2 (SARS-
CoV-2). Pada banyak kasus, penyintas COVID-19 masih bergejala hingga lebih
dari 60 hari setelah onset pertama muncul akan ada gelombang besar pasien
dengan penyakit COVID yang berkepanjangan, baik fisik maupun emosional,
kondisi ini menimbulkan kecemasan pada masyarakat yang di akibatkan tingkat
pengetahuan yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan pada penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu dan telah di lakukan
penelitian dari tanggal 28 juni -14 juli 2022.
Penelitian ini men gambil sampel dari populasi dengan cara purposive
sampling dengan total sample 81 orang. Data yang di gunakan adalah data primer
dan data sekunder, data di analisis menggunakan analisis univariat dan bivariat.
Hasil penelitian ini menunjukan dari 81 sample terdapat responden dengan
tingkat pengetahuan baik berjumlah 22 orang (27,2%), responden tingkat
pengetahuan cukup berjumlah 45 orang (55,6%), dan responden tingkat
pengetahuan kurang berjumlah 14 orang (17,3%), dan responden dengan tingkat
kecemasan berat berjumlah 2 orang (2,5%), responden tingkat kecemasan sedang
berjumlah 26 orang (32,1%), responden tingkat kecemasan ringan berjumlah 10
orang (12,3%), responden tingkat kecemasan normal berjumlah 43 orang (53,1%).
Berdasarkan analisis data dari hasil uji statistik analisis korelasi Rank
Spearman (rho) didapat nilai rho = -0,458 dengan p-value=0,000<0,05 signifikan,
maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi Ada hubungan yang signifikan antara
hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas
COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022.
Kata kunci : COVID-19, Pengetahuan, Penyintas, Kecemasan
v
ABSTRAC
Resi Purnama Sari, 2022. Relationship between Knowledge Level and
Anxiety Level for COVID-19 Survivors in Sidomulyo Health Center Work
Area, Bengkulu City in 2022. Thesis. Bengkulu : Tri Mandiri Sakti Institute
of Health Sciences Bengkulu. Advisor I Dr. H. Buyung Keraman, M. Kes and
Advisor II Ns. Ade Herman Surya Direja, S. Kep, MAN.
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a disease caused by a highly
contagious respiratory viral infection caused by a new virus called Severe Acute
Respiratory Syndrome-Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). In many cases, COVID-19
survivors are still symptomatic for more than 60 days after the first onset, there
will be a large influx of patients with prolonged COVID-19, both physically and
emotionally, this condition causes anxiety in the community due to a lack of
knowledge. This study aims to determine the relationship between the level of
knowledge and the level of anxiety in COVID-19 survivors in the Work Area of
Pusjesmas Sidomulyo Bengkulu City and the research was conducted from 28
june -14 July 2022.
This study took samples from the population by purposive sampling with a
total sample of 81 people. The data used were primary and secondary data. The
data were analyzed using univariate and bivariate analysis.
The results of this study showed that from 81 samples there were 22 respondents
with a good level of knowledge (27.2%), 45 respondents with sufficient
knowledge (55.6%), and 14 respondents (17.3%) with a low level of
knowledge. ), and respondents with severe anxiety levels were 2 people (2.5%),
moderate anxiety level respondents were 26 people (32.1%), respondents with
mild anxiety levels were 10 people (12.3%), and normal anxiety level respondents
totaled 43 people (53.1%).
Based on data analysis from statistical test results of Spearman Rank
correlation analysis (rho) obtained rho value = -0.458 with p-value = 0.000 <0.05
significant, then Ho is rejected and Ha is accepted. So there is a significant
relationship between the level of knowledge and the level of anxiety in COVID-
19 survivors in the work area of the Sidomulyo Health Center, Bengkulu City in
2022.
Keywords: COVID-19, Knowledge, Survivors, Anxiety Level
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta kemudahan dan pertolongan
yang telah diberikan sehingga penulis mampu menyelesaikan Skripsi ini tepat
pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan
Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 Di Wilayah Kerja
Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022” Skripsi ini merupakan
bagian yang tidak terpisahkan atau merupakan rangkaian kegiatan akademik yang
merupakan syarat yang diwajibkan untuk memperoleh gelar kesarjanaan
Keperawatan Strata-1 (S-1) pada Program Studi Ners Stikes Tri Mandiri Sakti
Bengkulu.
Selanjutnya, tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang telah banyak membantu sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan. Ucapan
terimakasih khususnya penulis ucapkan kepada
1. Bapak Drs. H. S. Effendi, MS selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
2. Ibu Ns. Pawiliyah, S.Kep, MAN selaku Ketua Prodi Ners Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
3. Bapak Dr. H. Buyung Keraman, M. Kes Selaku pembimbing I skripsi yang
banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Ns. Ade Herman Surya Direja, S.Kep, MAN selaku pembimbing II
skripsi yang banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
vii
5. Seluruh Dosen dan Staf Administrasi Program Studi Ners Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu yang telah banyak membantu
baik secara langsung maupun tidak langsung demi kelancaran dalam
penyusunan skripsi ini.
6. Rekan-rekan satu angkatan 2018 Program Studi Ners Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
7. Kepada seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah
membantu penulis selama pengerjaan skripsi ini.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam
penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan yang
disebabkan oleh keterbatasan penulis. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi
kesempurnaan skripsi ini sehingga akan lebih bermanfaat.
Bengkulu, September 2022
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
PERNYATAAN.......................................................................................................i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................ii
ABSTRAK..............................................................................................................v
ABSTRAC.............................................................................................................vi
KATA PENGANTAR..........................................................................................vii
DAFTAR ISI..........................................................................................................ix
DAFTAR TABEL.................................................................................................xi
DAFTAR BAGAN...............................................................................................xii
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................xiii
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................5
C. Tujuan penelitian...........................................................................................5
D. Manfaat Penelitian........................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................8
A. Landasan Teori..............................................................................................8
B. Pengetahuan................................................................................................22
C. Kecemasaan................................................................................................33
D. Gejala Kecemasan.......................................................................................36
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan..........................................37
H. Kerangka Konsep........................................................................................43
I. Defenisi Operasional...................................................................................44
J. Hipotesis......................................................................................................45
BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................46
A. Tempat dan waktu penelitian......................................................................46
B. Desain penelitian.........................................................................................46
C. Populasi dan Sampel...................................................................................46
D. Teknik Pengumpulan Data..........................................................................48
E. Teknik Pengolahan Data.............................................................................49
F. Teknik Analisa Data....................................................................................49
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................51
A. Hasil Penelitian...........................................................................................51
B. Pembahasan.................................................................................................55
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................61
A. Kesimpulan.................................................................................................61
B. Saran............................................................................................................61
ix
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2. 1 Defenisi Operasional..................................................................................44
Tabel 4. 1 Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Penyintas COVID-19 di Wilayah
Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu...........................................52
Tabel 4. 2 Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 di Wilayah
Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu............................................53
Tabel 4. 3 Normalitas Data Tingkat Pengetahuan dan Kecemasan Pada Penyintas
COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu
....................................................................................................................54
Tabel 4. 4 Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Korelasi
Rank Spearman...........................................................................................54
xi
DAFTAR BAGAN
Halaman
Bagan 2. 1 Kerangka Konsep.................................................................................43
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Permohonan Izin Penelitian Ke Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu
Lampiran 2 Permohonan Izin Penelitian Ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
Kota Bengkulu
Lampiran 3 Permohonan Izin Penelitian Ke Dinas Kesehatan Kota Bengkulu
Lampiran 4 Rekomendasi Izin Penelitian Dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu
Lampiran 5 Rekomendasi Izin Penelitian Dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
Kota Bengkulu
Lampiran 6 Surat Selesai Penelitian
Lampiran 7 Lembar Persetujuan Responden
Lampiran 8 Lembar Kuesioner Pengetahuan Tentang COVID-19 Pada Penyintas
Lampiran 9 Lembar Kuesioner Kecemasan Tentang COVID-19 Pada Penyintas
Lampiran 10 Tabulasi Data
Lampiran 11 Analisa Data
Lampiran 12 Dokumentasi
xiii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan hadirnya new emerging
infectious disease yang disebabkan oleh Corona Virus Disease (COVID-19)
Corona virus adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis Corona virus baru
yaitu Sars-CoV-2, yang dilaporkan pertama kali terdapat di Wuhan China
pada 31 Desember 2019 saat ini COVID-19 telah menjadi ancaman yang
serius diseluruh dunia terlebih khusus di Indonesia, sehingga COVID-19 ini
disebut menjadi pandemi (KEMENKES, 2020).
Corona Virus Disease (COVID-19) adalah penyakit menular yang dapat
ditularkan melalui kontak secara langsung dengan penderita yang ditularkan
melalui air liur, droplet, ataupun melalui udara yang buruk. Sebagian besar
orang yang terinfeksi virus COVID-19 akan mengalami gangguan pernafasan
ringan, sedang, hingga berat, atau dapat sembuh tanpa memerlukan perawatan
khusus. Orang yang memiliki penyakit komorbid seperti masalah Diabetes,
penyakit Kardiovaskular, Kanker, penyakit Pernapasan Kronis, kemungkinan
besar akan mengembangkan penyakit lebih serius (WHO, 2020).
COVID-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020
sejumlah dua kasus. Data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang
terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 kasus kematian. Tingkat
mortalitas COVID-19 di Indonesia sebesar 8,9%, angka ini merupakan yang
1
2
tertinggi di Asia Tenggara. Kasus di Indonesia sendiri menepati urutan ke 34
se-dunia dengan jumlah kasus 29.521 orang positif, 1.770 orang meninggal
dunia dan 9.443 orang dinyatakan sembuh. (Maulani, 2021). berdasarkan data
dinas kesehatan kota Bengkulu pada tahun 2020 jumlah kasus COVID-19
yang terkonfirmasih berjumlah 3.529 orang, di tahun 2021 berjumlah 8.873
orang yang di mana 7.579 orang mengalami gejala ringan,997 orang denghan
gejala sedang sedang dan 265 orang dengan gejala berat, sedangkan di tahun
2022 jumlah kasus yang terkonfirmasih berjumlah 2.857 orang. (Dinkes,
2022).
Pada banyak kasus, penyintas COVID-19 masih bergejala hingga lebih
dari 60 hari setelah onset pertama muncul (WHO, 2020). Akan ada gelombang
besar pasien dengan penyakit COVID yang berkepanjangan, baik fisik
maupun emosional, tim peneliti dari Italia melaporkan bahwa hampir sembilan
dari 10 pasien (87%) yang keluar dari rumah sakit roma setelah pulih dari
COVID-19 masih mengalami setidaknya satu gejala 60 hari setelah onset.
Mereka menemukan bahwa 13% dari 143 orang benar-benar bebas dari gejala
apa pun, sementara 32% memiliki satu atau dua gejala, dan 55% memiliki
tiga atau lebih. Meskipun tidak ada pasien yang mengalami demam atau tanda
atau gejala penyakit akut, banyak yang masih melaporkan kelelahan (53%),
sesak (43%), nyeri sendi (27%), dan nyeri dada (22%). Dua perlima pasien
melaporkan kualitas hidup yang memburuk. Kondisi ini dikenal sebagai long
COVID dan dialami oleh individu yang telah dinyatakan sembuh dari infeksi
COVID-19 (berdasarkan hasil swab PCR atau masa isolasi mandiri), tetapi
3
masih mengalami dampak lanjutan baik kesehatan fisik maupun mental
(Mahase, 2020).
Peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi di masyarakat didukung oleh
proses penyebaran virus yang cepat dari manusia ke manusia mengakibatkan
beberapa masyarakat cemas karena takut yang berlebihan dan berpikir yang
tidak masuk akal. Banyak diantara masyarakat cenderung menduga bahwa
masyarakat yang memiliki gejala menderita COVID-19, keadaan inilah yang
memotivasi masyarakat untuk terus mencari informasi mengenai COVID-19
tanpa memilah terlebih dahulu informasinya yang mereka dapatkan, sehingga
dapat menimbulkan kecemasan. Hal inilah yang mengakibatkan masyarakat
menjadi insomnia, sakit kepala, dan gangguan fisik lainnya. Keadaan seperti
itulah yang dapat dikatakan dalam kondisi stres (Muslim, 2020).
Penting bagi penyintas berfikir positif ditengah situasi buruk yang terjadi,
sebab diketahui bahwa kecemasan memiliki korelasi yang dekat dengan
keterlambatan proses penyembuhan pada kesehatan. penelitian baru-baru ini,
melibatkan lebih dari 42.000 subjek, dan menemukan hubungan yang cukup
dekat antara kecemasan dan fakta mengenai terhambatnya aktivitas sehari-hari
atau perubahan perilaku, yang terbukti kuat memiliki efek negatif pada
kesehatan (Vancampfort et al., 2018).
Ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui dan tidak biasa unfamiliar
serta kurangnya pengetahuan dan informasi terhadap suatu penyakit yang
belum ditemukan obat untuk penyembuhan nya sering kali menimbulkan
persepsi negatif, termasuk stigma, serta menjadi justifikasi atas pengasingan
4
terhadap mereka yang memiliki kondisi kesehatan tersebut. Salah satu dampak
yang sangat signifikan adalah dampak sosial yang dialami oleh para penyintas
COVID-19 dianggap membawa penyakit menular. Meskipun penyintas telah
dinyatakan sembuh, namun secara alami masih memiliki rasa takut
menularkan kepada orang lain (Arifin, 2021).
Menurut penelitian (Kholilah, 2021) Kekhawatiran penyintas COVID-19
juga disebabkan karena ketidakpastian info dari patofisiologis virus corona
baru ini. Prognosis yang kurang jelas dan beragam, komplikasi yang tidak
terduga dan kekambuhan menyebabkan keraguan mengenai keakuratan
informasi yang diberikan. Menurut (Arifin, 2021) dalam jurnal Dampak
Psikososial Terhadap Penyintas COVID-19,di sebutkan bahwa Stigma yang
tinggi dari masyarakat akan menimbulkan kecemasan pada individu yang
terstigma.
Kecemasan merupakan perasaan tidak nyaman secara berlebihan yang
merupakan suatu gejala psikologis atas rasa takut dari keadaan bahaya yang
mengancam. Kecemasan muncul disertai dengan tangan bergemetar, jantung
berdebar, serta berkeringat dingin. Jika terjadi secara terus menerus, hal ini
akan berdampak terhadap kesehatan psikologis penyintas COVID-19
diantaranya trauma.
Kurangnya Pengetahuan tentang pandemi COVID-19 dapat menimbulkan
berbagai macam spekulasi tentang penyebaran virus Corona, hal ini dapat
menurunkan sistem imun tubuh seseorang dan dapat pula meningkatkan
tekanan darah. Dengan menurunnya sistem imun seseorang maka virus
5
tersebut mudah menyerang. Faktor yang menyebabkan penyintas merasa
cemas akan pandemi ini adalah informasi yang kurang tepat yang didapatkan
tentang penyakit tersebut sehingga pemerintah perlu mememberikan informasi
yang baik tentang pandemi COVID-19 (Sirait, 2020).
Dalam penelitian (Amirullah, 2020) orang yang sudah sembuh dari
COVID-19 masih merasakan cemas dengan keadaanya sehingga pengetahuan
mengenai COVID-19 sangat diperlukan untuk mengatasi kecemasan yang
berlebihan. oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada
“Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan pada penyintas
COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun
2022.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah apakah ada hubungan tingkat pengetahuan dengan
tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas
Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022 ?
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan
tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-
19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022
6
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan penyintas COVID-
19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.
b. Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan penyintas COVID-19
di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.
c. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan mengenai dengan
tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di Wilayah Kerja
Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Mahasiswa
Dapat memberikan informasi dan pengetahuan bagi mahasiswa-
mahasiswi kesehatan tentang hubungan tingkat pengetahuan dengan
tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di Wilayah Kerja
Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.
2. Bagi Masyarakat
Dapat memberikan informasi spesifik dan masukan yang bermanfaat
kepada penyintas COVID-19 mengenai Pentingnya pengetahuan tentang
COVID-19 sehingga pengetahuan ini dapat memberikan pedoman untuk
masyarakat agar tidak mengalami kecemasan yang berlebihan
3. Bagi Peneliti
Meningkatkan wawasan dan pemahaman tentang penelitian
hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas
7
COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu
tahun 2022.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat menjadi acuan yang berguna untuk penelitian selanjutnya
dengan mencari Faktor-faktor lain yang berhubungan dengan, hubungan
tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-
19 di Wilayah Kerja Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Corona Virus Disease
a. Pengertian
Sejak November 2019 telah dilaporkan beberapa kasus Pneumonia
berat di Wuhan, Cina dan pada 31 Desember 2019 ditemukan peningkatan
kasus di beberapa provinsi Cina yang menyebar ke Negara-negara lain di
dunia. Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) pertama kali
ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret
2020. World Health Organization (WHO) melaporkan sampai dengan 28
Desember 2020 terdapat lebih dari 79 juta kasus terkonfirmasi COVID-19
dan lebih dari 1.757.947 kematian di dunia.19 COVID-19 menyebar
melalui saluran pernapasan yaitu secara droplet, kontak langsung dengan
benda terkontaminasi virus, dan kontak dengan hewan berisiko
menularkan COVID-19 (Perliyani, 2021)
Pada 31 Desember 2019, World Health Organization (WHO)
China Country Office melaporkan adanya kasus kluster pneumonia dengan
etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kasus ini
terus berkembang hingga pada 7 Januari 2020, dan akhirnya diketahui
etiologi dari penyakit ini adalah suatu jenis baru corona virus (Moudy,
2020)
8
9
b. Epidemiologi
Berawal pada bulan Desember 2019 tepatnya pada tanggal 29
Desember 2019, ditemukan lima kasus pertama pasien pneumonia di
Kota Wuhan Provinsi Hubei, China. Lima orang tersebut dirawat
dirumah sakit dengan Acute Respiratory Distress Syndrome dan satu
diantaranya meninggal dunia.Sekitar 66% penderita terpajan di pasar
ikan atau pasar makanan laut (Wet Market) Huanan di kota Wuhan.
Thailand adalah negara pertama yang terkonfirmasi COVID-19 diluar
Negara China pada tanggal 13 Januari 2020. Thailand terkonfirmasi
positif COVID-19 sebanyak 3.135 kasus dan 58 kematian sejak
tanggal 13 Januari 2020 hingga 15 Juni 2020. Penderita COVID-19
meningkat pesat menjadi 7.734 kasus pada tanggal 30 Januari 2020
dan pada tanggal yang sama terkonfirmasi 90 kasus pasien positif
COVID-19 yang berasal dari berbagai Negara baik di benua Asia,
Eropa dan Australia. Pada tanggal 30 Januari 2020 pula, WHO
membunyikan alaram darurat kesehatan masyarakat yang menjadi
perhatian oleh seluruh dunia yaitu Public Health Emergency of
International Concern (PHEIC). Penyebaran kasus pertama COVID-
19 di Indonesia pada tanggal 02 Maret 2020 yang terkonfirmasi
sebanyak 2 penderita yang berasal dari Jakarta.Tanggal 15 Juni 2020,
sebanyak 38.277 kasus terkonfirmasi positif COVID-19 dan
terkonfirmasi meninggal sebanyak 2.134 kasus. Di Jawa Timur, pada
tanggal 19 Juni 2020 terkonfirmasi penderita COVID-19 sebanyak
10
9.046 ± 209 kasus baru, terkonfirmasi sembuh sebanyak 2.763 kasus,
dan terkonfirmasi meninggal sebanyak 721 kasus (Levani, 2021)
Hingga 28 Maret 2020, jumlah kasus infeksi COVID-19
terkonfirmasi mencapai 571.678 kasus. Awalnya kasus terbanyak
terdapat di Cina, namun saat ini kasus terbanyak terdapat di Italia
dengan 86.498 kasus, diikut oleh Amerika dengan 85.228 kasus dan
Cina 82.230 kasus. Virus ini telah menyebar hingga ke 199 negara.
Kematian akibat virus ini telah mencapai 26.494 kasus. Tingkat
kematian akibat penyakit ini mencapai 4 5% dengan kematian
terbanyak terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun. Indonesia
melaporkan kasus pertama pada 2 Maret 2020, yang diduga tertular dari
orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Kasus di Indonesia pun
terus bertambah, hingga tanggal 29 Maret 2020 telah terdapat 1.115
kasus dengan kematian mencapai 102 jiwa. Tingkat kematian Indonesia
9%, termasuk angka kematian tertinggi. Berdasarkan data yang ada
umur pasien yang terinfeksi COVID-19 mulai dari usia 30 hari hingga
89 tahun. Menurut laporan 138 kasus di Kota Wuhan, didapatkan
rentang usia 37–78 tahun dengan rata-rata 56 tahun (42-68 tahun) tetapi
pasien rawat ICU lebih tua (median 66 tahun (57-78 tahun)
dibandingkan rawat non-ICU (37-62 tahun) dan 54,3% laki-laki.
Laporan 13 pasien terkonfirmasi COVID-19 di luar Kota Wuhan
menunjukkan umur lebih muda dengan median 34 tahun (34-48 tahun)
dan 77% laki -laki (Handayani, 2020)
11
c. Patogenesis
Patogenesis infeksi COVID-19 belum diketahui seutuhnya. Pada
awalnya diketahui virus ini mungkin memiliki kesamaan dengan SARS
dan MERS CoV, tetapi dari hasil evaluasi genomik isolasi dari 10
pasien, didapatkan kesamaan mencapai 99% yang menunjukkan suatu
virus baru, dan menunjukkan kesamaan(Identik 88%) dengan
Batderived Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)- like Corona
virus, bat-SL-CoVZC45 dan bat-SLCoVZXC21, yang diambil pada
tahun 2018 di Zhoushan, Cina bagian Timur, kedekatan dengan SARS-
CoV adalah 79% dan lebih jauh lagi dengan MERS-CoV Analisis
filogenetik menunjukkan COVID-19 merupakan bagian dari subgenus
Sarbecovirus dan Genus Betacoronavirus. (Handayani, 2020)
Corona Virus atau COVID-19 termasuk dalam genus
Betacoronavirus,hasil anasilis menunjukkan adanya kemiripan dengan
SARS. Pada kasus COVID-19, trenggiling diduga sebagai
perantaranya karena genomnya mirip dengan Corona Virus pada
kelelawar (90,5%) dan SARS-CoV2 (91%). Corona Virus Disease
2019 COVID-19 atau yang sebelumnya disebut SARS-CoV2. COVID-
19 pada manusia menyerang saluran pernapasan khususnya pada sel
yang melapisi alveoli. COVID-19 mempunyai glikoprotein pada
enveloped spikea atau protein “S”. Untuk dapat meninfeksi “manusia”
protein “S” virus akan berikatan dengan reseptor ACE2 pada plasma
membrane sel tubuh manusia. Di dalam sel, virus ini akan
12
menduplikasi materi genetik dan Protein yang dibutuhkan dan akan
membentuk virion baru di permukaan sel. Sama halnya SARS-CoV
setelah masuk ke dalam sel selanjutnya virus ini akan mengeluarkan
genom RNA ke dalam sitoplasma dan golgi sel kemudian akan
ditranslasikan membentuk dua lipoprotein dan protein struktural untuk
dapat bereplikasi (Levani, 2021)
Virus dapat melewati membran mukosa, terutama mukosa nasal
dan laring, kemudian memasuki paru-paru melalui traktus
respiratorius. Selanjutnya, virus akan menyerang organ target yang
mengekspresikan Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2), seperti
paru-paru, jantung, sistem renal dan traktus gastrointestinal. Protein S
pada SARS-CoV-2 memfasilitasi masuknya virus corona ke dalam sel
target. Masuknya virus bergantung pada kemampuan virus untuk
berikatan dengan ACE2, yaitu reseptor membran ekstraselular yang
diekspresikan pada sel epitel, dan bergantung pada priming protein S
ke protease selular, yaitu TMPRSS2 (Fitriani, 2020)
Virus masuk melewati membran mukosa terutama mukosa nasal
dan laring yang kemudian masuk ke traktus respiratorius. Lalu virus
akan menyerang organ target yang mengekspresikan Angiotensin
Converting Enzyme 2 (ACE2) seperti paru, jantung, renal, dan
gastrointestinal. Protein S pada SARSCoV-2 membantu virus masuk
ke dalam sel target dan tergantung pada kemampuan virus untuk
berikatan dengan ACE2. Namun, jika mekanisme ini tidak diatur dan
13
berlebihan, terjadi respons hiperinflamasi. Sitokin memainkan peranan
penting dalam merangsang sistem imunitas dan imunopatologi selama
infeksi yang berlebihan dan dapat menyebabkan sindrom klinis yang
dikenal sebagai Cytokine Storm. Cytokine Storm merupakan respons
hiperinflamasi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan sebagai
penyebab utama kematian pasien terinfeksi COVID-19. Infeksi SARS-
CoV-2 menyebabkan penurunan produksi sitokin oleh sistem imun
innate karena blokade oleh protein non-struktural virus. Selanjutnya
hal ini menyebabkan peningkatan kemokin dan sitokin proinflamasi
(TNF-α, IL-1, IL-6, IL-8, MCP-1, CCL2, CCL5, dan Interferon γ)
melalui aktivasi makrofag dan limfosit. (Perliyani, 2021)
d. Manifestasi Klinis
COVID-19 menjadi perhatian penting pada bidang medis, bukan
hanya karena penyebarannya yang cepat dan berpotensi menyebabkan
kolaps sistem kesehatan, tetapi juga karena beragamnya manifestasi
klinis pada pasien.Spektrum klinis COVID-19 beragam, mulai dari
asimptomatik,gejala sangat ringan, hingga kondisi klinis yang
dikarakteristikkan dengan kegagalan respirasi akut yang mengharuskan
penggunaan ventilasi mekanik dan support di Intensive Care Unit
(ICU). Ditemukan beberapa kesamaan manifestasi klinis antara infeksi
SARS-CoV-2 dan infeksi betacoronavirus sebelumnya, yaitu SARS-
CoV dan MERS-CoV. Beberapa kesamaan tersebut diantaranya
14
demam, batuk kering, gambaran opasifikasi ground-glass pada foto
toraks (Fitriani, 2020)
Gejala klinis umum yang terjadi pada pasien COVID-19,
diantaranya yaitu demam, batuk kering, dispnea, fatigue, nyeri otot,
dan sakit kepala gejala klinis yang paling sering terjadi pada pasien
COVID-19 yaitu demam (98%), batuk (76%), dan myalgia atau
kelemahan (44%). Gejala lain yang terdapat pada pasien, namun tidak
begitu sering ditemukan yaitu produksi sputum (28%), sakit kepala
8%, batuk darah 5%, dan diare 3%. Sebanyak 55% dari pasien yang
diteliti mengalami dispnea. (Fitriani, 2020)
Rata-rata masa inkubasi adalah 4 hari dengan rentang waktu 2
sampai 7 hari. Masa inkubasi dengan menggunakan distribusi lognoral
yaitu berkisar antara 2,4 sampai 15,5 hari. Periode bergantung pada
usia dan status imunitas pasien. Rata-rata usia pasien adalah 47 tahun
dengan rentang umur 35 sampai 58 tahun serta 0,9% adalah pasien
yang lebih muda dari umur 15 tahun. Gejala umum di awal penyakit
adalah demam, kelelahan atau myalgia, batuk kering. Serta beberapa
organ yang terlibat seperti pernapasan (batuk, sesak napas, sakit
tenggorokan, hemoptisis atau batuk darah, nyeri dada), gastrointestinal
(diare,mual,muntah), neurologis (kebingungan dan sakit kepala).
Namun tanda dan gejala yang sering dijumpai adalah demam (83-
98%), batuk (76-82%), dan sesak napas atau dyspnea (31-55%).
(Levani, 2021)
15
Pasien dengan gejala yang ringan akan sembuh dalam watu kurang
lebih 1 minggu, sementara pasien dengan gejala yang parah akan
mengalami gagal napas progresif karena virus telah merusak alveolar
dan akan menyebabkan kematian. Kasus kematian terbanyak adalah
pasien usia lanjut dengan penyakit bawaan seperti kardiovaskular,
hipertensi, diabetes mellitus, dan parkinson. Seperempat pasien yang
dirawat di rumah sakit Wuhan memiliki komplikasi serius berupa
aritmia, syok, cedera ginjal akut dan Acute Respiratory Distress
Syndrome (ARDS) (Levani, 2021)
Enzim konversi angiotensin 2 (ACE2) adalah reseptor untuk
SARS-CoV-2. Dalam paru normal manusia, ACE2 diekspresikan pada
alveolar tipe I dan II. Di antara mereka, 83% dari sel alveolar tipe II
memiliki ekspresi ACE2. Pria memiliki tingkat ACE2 yang lebih
tinggi dalam sel alveolar mereka daripada wanita. Asia memiliki
tingkat yang lebih tinggi dari ekspresi ACE2 dalam sel alveolar
mereka dibanding dengan ras kulit putih dan Afrika Amerika.
Pengikatan SARS-CoV-2 pada ACE2 menyebabkan peningkatan
ekspresi ACE2, yang dapat menyebabkan kerusakan pada sel alveolar.
Kerusakan sel alveolar dapat memicu serangkaian reaksi sistemik dan
bahkan kematian (Grace, 2020)
Ditemukan bahwa 98% pasien dalam studi mereka mengalami
demam, yang 78% memiliki suhu lebih tinggi dari 38°c. Mereka
melaporkan bahwa 76% pasien telah batuk, 44% dari pasien
16
mengalami kelelahan dan nyeri otot, dan 55% dari pasien mengalami
dyspnea. Sejumlah kecil pasien juga mengembangkan ekspektorasi
(28%), sakit kepala (8%), hemoptisis (5%), dan diare (3%). Tes
laboratorium menemukan bahwa 25% dari pasien yang terinfeksi
mengalami leukopenia dan 63% memiliki limfositopenia. Tingkat
Aspartat aminotransferase meningkat di 37% pasien, 12% dari
pasienmengalami hipersensitif troponin I. Kelainan pada gambar CT-
scan yang ditemukan di 100% pasien memperlihatkan adanya
gambaran grinding glass dan konsolidasi pada daerah paru yang
terinfeksi ditemukan di 98% dari pasien yang terinfeksi pada paru
bilateral (Grace, 2020)
e. Pencegahan
Pencegahan dan Pengendalian di Masyarakat Masyarakat memiliki
peran penting dalam memutus mata rantai penularan COVID-19 agar
tidak menimbulkan sumber penularan baru. Mengingat cara
penularannya berdasarkan droplet infection dari individu ke individu,
maka penularan dapat terjadi baik di rumah, perjalanan, tempat kerja,
tempat ibadah, tempat wisata maupun tempat lain dimana terdapat
orang berinteaksi sosial. Prinsipnya pencegahan dan pengendalian
COVID-19 di masyarakat (Kemenkes, 2020)
1) Pencegahan penularan pada individu
Menurut (Kemenkes, 2020) Penularan COVID-19 terjadi melalui
droplet yang mengandung virus SARS-CoV-2 yang masuk ke dalam
17
tubuh melalui hidung, mulut dan mata, untuk itu pencegahan penularan
COVID-19 pada individu dilakukan dengan beberapa tindakan, seperti:
a. Membersihkan tangan secara teratur dengan cuci tangan pakai sabun
dan air mengalir selama 40-60 detik atau menggunakan cairan
antiseptik berbasis alkohol (handsanitizer) minimal 20 – 30 detik.
Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak
bersih
b. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi
hidung dan mulut jika harus keluar rumah atau berinteraksi dengan
orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya (yang mungkin
dapat menularkan COVID-19)
c. Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari
terkena droplet dari orang yang yang batuk atau bersin. Jika tidak
memungkin melakukan jaga jarak maka dapat dilakukan dengan
berbagai rekayasa administrasi dan teknis lainnya.
d. Membatasi diri terhadap interaksi / kontak dengan orang lain yang
tidak diketahui status kesehatannya.
e. Saat tiba di rumah setelah bepergian, segera mandi dan berganti
pakaian sebelum kontak dengan anggota keluarga di rumah
f. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan Pola Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) seperti konsumsi gizi seimbang, aktivitas
fisik minimal 30 menit sehari, istirahat yang cukup termasuk
pemanfaatan kesehatan tradisional. Pemanfaatan kesehatan tradisional,
18
salah satunya dilakukan dengan melaksanakan asuhan mandiri
kesehatan tradisional melalui pemanfaatan Taman Obat Keluarga
(TOGA).
g. Mengelola penyakit penyerta/komorbid agar tetap terkontrol
h. Mengelola kesehatan jiwa dan psikososial Kondisi kesehatan jiwa dan
kondisi optimal dari psikososial dapat tingkatkan melalui:
1. Emosi positif : gembira, senang dengan cara melakukan kegiatan
dan hobi yang disukai, baik sendiri maupun bersama keluarga atau
teman dengan mempertimbangkan aturan pembatasan sosial
berskala besar di daerah masing-masing
2. Pikiran positif: menjauhkan dari informasi hoax, mengenang
semua pengalaman yang menyenangkan, bicara pada diri sendiri
tentang hal yang positif (positive self-talk), responsif (mencari
solusi) terhadap kejadian, dan selalu yakin bahwa pandemi akan
segera teratasi.
3. Hubungan sosial yang positif: memberi pujian, memberi harapan
antar sesama, saling mengingatkan cara-cara positif, meningkatkan
ikatan emosi dalam keluarga dan kelompok, menghindari diskusi
yang negatif, tetap melakukan komunikasi secara daring dengan
keluarga dan kerabat.
4. Apabila sakit menerapkan etika batuk dan bersin. Jika berlanjut
segera berkonsultasi dengan dokter/tenaga kesehatan.
19
5. Menerapkan adaptasi kebiasaan baru dengan melaksanakan
protokol kesehatan dalam setiap aktivitas.
2) Perlindungan Kesehatan Pada Masyarakat
COVID-19 merupakan penyakit yang tingkat penularannya cukup
tinggi, sehingga perlu dilakukan upaya perlindungan kesehatan
masyarakat yang dilakukan secara komprehensif. Perlindungan
kesehatan masyarakat bertujuan mencegah terjadinya penularan dalam
skala luas yang dapat menimbulkan beban besar terhadap fasyankes.
Tingkat penularan COVID-19 di masyarakat dipengaruhi oleh adanya
pergerakan orang, interaksi antar manusia dan berkumpulnya banyak
orang, untuk itu perlindungan kesehatan masyarakat harus dilakukan
oleh semua unsur yang ada di masyarakat baik pemerintah, dunia
usaha, aparat penegak hukum serta komponen masyarakat lainnya.
Adapun perlindungan kesehatan masyarakat dilakukan melalui
a. Upaya Pencegahan (Prevent)
1. Kegiatan promosi kesehatan (promote) dilakukan melalu
sosialisasi, edukasi, dan penggunaan berbagai media informasi
untuk memberikan pengertian dan pemahaman bagi semua orang,
serta keteladanan dari pimpinan, tokoh masyarakat, dan melalui
media mainstream.
2. Kegiatan perlindungan (protect) antara lain dilakukan melalui
penyediaan sarana cuci tangan pakai sabun yang mudah diakses
dan memenuhi standar atau penyediaan handsanitizer, upaya
20
penapisan kesehatan orang yang akan masuk ke tempat dan
fasilitas umum, pengaturan jaga jarak, disinfeksi terhadap
permukaan, ruangan, dan peralatan secara berkala, serta
penegakkan kedisplinan pada perilaku masyarakat yang berisiko
dalam penularan dan tertularnya COVID-19 seperti berkerumun,
tidak menggunakan masker, merokok di tempat dan fasilitas umum
dan lain sebagainya.
b. Unsur penanganan secara cepat dan efektif (respond) Melakukan
penanganan untuk mencegah terjadinya penyebaran yang lebih
luas, antara lain berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat
atau fasyankes untuk melakukan pelacakan kontak erat,
pemeriksaan laboratorium serta penanganan lain sesuai kebutuhan.
Penanganan kesehatan masyarakat terkait respond adanya kasus
COVID-19 meliputi:
1. Pembatasan Fisik dan Pembatasan Sosial Pembatasan fisik harus
diterapkan oleh setiap individu. Pembatasan fisik merupakan
kegiatan jaga jarak fisik (physical distancing) antar individu yang
dilakukan dengan cara
a. Dilarang berdekatan atau kontak fisik dengan orang mengatur
jaga jarak minimal 1 meter, tidak bersalaman, tidak berpelukan
dan berciuman.
21
b. Hindari penggunaan transportasi publik (seperti kereta, bus, dan
angkot) yang tidak perlu, sebisa mungkin hindari jam sibuk
ketika berpergian.
c. Bekerja dari rumah (Work from Home), jika memungkinkan dan
kantor memberlakukan ini.
d. Dilarang berkumpul massal di kerumunan dan fasilitas umum.
e. Hindari bepergian ke luar kota/luar negeri termasuk ke tempat-
tempat wisata.
f. Hindari berkumpul teman dan keluarga, termasuk
berkunjung/bersilaturahmi/mengunjungi orang sakit/melahirkan
tatap muka dan menunda kegiatan bersama. Hubungi mereka
dengan telepon, internet, dan media sosial.
g. Gunakan telepon atau layanan online untuk menghubungi dokter
atau fasilitas lainnya.
h. Jika anda sakit, dilarang mengunjungi orang tua/lanjut usia. Jika
anda tinggal satu rumah dengan mereka, maka hindari interaksi
langsung dengan mereka dan pakai masker kain meski di dalam
rumah.
i. Untuk sementara waktu, anak sebaiknya bermain bersama
keluarganya sendiri di rumah.
j. Untuk sementara waktu, dapat melaksanakan ibadah di rumah.
k. Jika terpaksa keluar harus menggunakan masker kain.
22
l. Membersihkan /disinfeksi rumah, tempat usaha, tempat kerja,
tempat ibadah, kendaraan dan tempat tempat umum secara
berkala.
m. Dalam adaptasi kebiasaan baru, maka membatasi jumlah
pengunjung dan waktu kunjungan, cek suhu pengunjung,
menyediakan tempat cuci tangan pakai sabun dan air mengalir,
pengecekan masker dan desinfeksi secara berkala untuk mall
dan tempat tempat umum lainnya.
n. Memakai pelindung wajah dan masker kepada para
petugas/pedagang yang berinteraksi dengan banyak orang.
B. Pengetahuan
a. Defenisi Pengetahuan
Pengetahuan merupakan pemahaman partisipan tentang topik
yang diberikan. Pengetahuan adalah kemampuan untuk menerima,
mempertahankan, dan menggunakan informasi, yang dipengaruhi oleh
pengalaman dan keterampilan. Sebagian besar dari pengetahuan yang
dimiliki seseorang berasal dari pendidikan baik formal dan informal,
pengalaman pribadi maupun orang lain, lingkungan, serta media massa.
Sikap merupakan respon atau reaksi seseorang yang masih bersifat
tertutup terhadap suatu objek, stimulus, atau topik. Sikap juga dapat
diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk bertindak, baik
mendukung maupun tidak mendukung pada suatu objek. Sikap belum
23
merupakan suatu tindakan, tetapi merupakan suatu faktor predisposisi
terhadap suatu perilaku. Sikap yang utuh dibentuk oleh komponen kognisi,
afeksi dan konasi. Tindakan adalah segala kegiatan atau aktivitas yang
dilakukan seseorang, sebagai reaksi atau respons terhadap stimulus dari
luar, yang menggambarkan pengetahuan dan sikap mereka (Moudy, 2020)
Pengetahuan adalah kemampuan untuk menerima
mempertahankan, dan menggunakan informasi, yang dipengaruhi oleh
pengalaman dan keterampilan. Sebagian besar dari pengetahuan yang
dimiliki seseorang berasal dari pendidikan baik formal dan informal,
pengalaman pribadi maupun orang lain, lingkungan, serta media massa
(Daha, 2021)
Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan sangat
erat hubungannya. Diharapkan dengan pendidikan yang tinggi maka akan
semakin luas pengetahuannya. Tetapi orang yang berpendidikan rendah
tidak mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak
mutlak diperoleh dari pendidikan formal saja, tetapi juga dapat diperoleh
dari pendidikan non formal. Pengetahuan akan suatu objek mengandung
dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan
menentukan sikap seseorang. Semakin banyak aspek positif dan objek
yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap semakin positif terhadap
objek tertentu (Notoatmojo, 2014)
Pengetahuan, digolongkan menjadi tiga macam, yaitu etika
(pengetahuan tentang baik dan buruk), estetika (pengetahuan tentang indah
24
dan jelek), dan logika (pengetahuan tentang benar dan salah) Ilmu dan
pengetahuan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan, namun
tidak selamanya bahwa pengetahuan itu sebagai ilmu, melainkan
pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara tertentu berdasarkan
kesepakatan para ilmuwan.Ilmu sebagai pengetahuan (knowledge) adalah
pengertian ilmu pada umumnya. Ilmu dikatakan sebagai aktivitas (activity)
adalah serangkaian aktivitas atau kegiatan yang dilaksanakan manusia
(Munir, 2018)
a. Jenis Pengetahuan
Berdasarkan (Ridwan, 2021) pengetahuan dapat dibagi menjadi beberapa
jenis diantaranya:
1. Pengetahuan Langsung (immediate) Pengetahuan langsung adalah
pengetahuan langsung yang hadir dalam jiwa tanpa melalui proses
penafsiran dan pikiran. Kaum realis (penganut paham Realisme)
mendefinisikan pengetahuan seperti itu. Umumnya dibayangkan
bahwa kita mengetahui sesuatu itu sebagaimana adanya, khususnya
perasaan ini berkaitan dengan realitas-realitas yang telah dikenal
sebelumnya seperti pengetahuan tentang pohon, rumah, binatang, dan
beberapa individu manusia. Namun, apakah perasaan ini juga berlaku
pada realitas-realitas yang sama sekali belum pernah dikenal dimana
untuk sekali melihat kita langsung mengenalnya sebagaimana
hakikatnya Apabila kita sedikit mencermatinya, maka akan nampak
dengan jelas bahwa hal itu tidaklah demikian adanya.
25
2. Pengetahuan Tidak Langsung (mediated) Pengetahuan tidak langsung
adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan proses berpikir serta
pengalaman-pengalaman yang lalu. Apa yang kita ketahui dari benda-
benda eksternal banyak berhubungan dengan penafsiran dan
penyerapan pikiran kita.
3. Pengetahuan Indrawi (perceptual) Pengetahuan Indrawi adalah sesuatu
yang dicapai dan diraih melalui indra-indra lahiriah. Sebagai contoh,
kita menyaksikan satu pohon, batu, atau kursi, dan objek-objek ini
yang masuk ke alam pikiran melalui indra penglihatan akan
membentuk pengetahuan kita. Tanpa diragukan bahwa hubungan kita
dengan alam eksternal melalui media indra-indra lahiriah ini, akan
tetapi pikiran kita tidak seperti klise foto dimana gambar-gambar dari
apa yang diketahui lewat indra-indra tersimpan didalamnya. Pada
pengetahuan indrawi terdapat beberapa faktor yang berpengaruh,
seperti adanya cahaya yang menerangi objek-objek eksternal, sehatnya
anggotaangota indra badan (seperti mata, telinga, dan lain-lain), dan
pikiran yang mengubah benda-benda partikular menjadi konsepsi
universal, serta faktor-faktor sosial (seperti adat istiadat). Dengan
faktor-faktor tersebut tidak bisa dikatakan bahwa pengetahuan indrawi
hanya akan dihasilkan melalui indra-indra lahiriah.
4. Pengetahuan Konseptual (conceptual) Pengetahuan konseptual juga
tidak terpisah dari pengetahuan indrawi. Pikiran manusia secara
langsung tidak dapat membentuk suatu konsepsi-konsepsi tentang
26
objek-objek dan perkara-perkara eksternal tanpa berhubungan dengan
alam eksternal. Alam luar dan konsepsi saling berpengaruh satu
dengan lainnya dan pemisahan di antara keduanya merupakan aktivitas
pikiran
5. Pengetahuan Partikular (particular) Pengetahuan partikular berkaitan
dengan satu individu, objek-objek tertentu, atau realitas-realitas
khusus. Misalnya ketika kita membicarakan satu kitab atau individu
tertentu, maka hal ini berhubungan dengan pengetahuan partikular itu
sendiri.
6. Pengetahuan universal (universal) Pengetahuan yang meliputi
keseluruhan yang ada, seluruh hidup manusian misalnya; agama dan
filsafat
b. Tingkat Pengetahuan
Menurut (Yuliana, 2017) pengetahuan seseorang terhadap objek
mempunyai intensitas yang berbeda-beda, dan menjelaskan bahwa ada
enam tingkatan pengetahuan yaitu sebagai berikut:
1. Pengetahuan (Knowledge diartikan hanya sebagai recall ingatan).
Seseorang dituntut untuk mengetahui fakta tanpa dapat
menggunakannya
2. Pemahaman (comprehension) Memahami suatu objek bukan sekedar
tahu, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi harus dapat
menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui.
27
3. Penerapan (application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah
memahami objek tersebut dapat menggunakan dan mengaplikasikan
prinsip yang diketahui pada situasi yang lain.
4. Analisis (Analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk
menjabarkan dan memisahkan, kemudian mencari hubungan antara
komponenkomponen yang terdapat dalam suatu objek.
5. Sintesis (synthesis) Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. Sintesis
menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-
komponen pengetahuan yang dimiliki.
6. Penilaian (evaluation) Yaitu suatu kemampuan seseorang untuk
melakukan penilaian terhadap suatu objek tertentu didasarkan pada
suatu kriteria atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
c. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut (Yuliana, 2017) faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan Pendidikan mempengaruhi proses dalam belajar, semakin
tinggi pendidikan seseorang, maka semakin mudah seseorang tersebut
untuk menerima sebuah informasi. Peningkatan pengetahuan tidak
mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi dapat diperoleh
juga pada pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang terhadap
suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek
28
negatif. Kedua aspek ini menentukan sikap seseorang terhadap objek
tertentu. Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui akan
menumbuhkan sikap positif terhadap objek tersebut. Pendidikan tinggi
seseorang didapatkan informasi baik dari orang lain maupun media
massa. Semakin banyak informasi yang masuk, semakin banyak pula
pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.
2. Media massa/sumber informasi Informasi yang diperoleh baik dari
pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengetahuan
jangka pendek (immediatee impact), sehingga menghasilkan
perubahan dan peningkatan pengetahuan. Kemajuan teknologi
menyediakan bermacam-macam media massa yang dapat
mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang informasi baru.
Sarana komunikasi seperti televisi, radio, surat kabar, majalah,
penyuluhan, dan lain-lain yang mempunyai pengaruh besar terhadap
pembentukan opini dan kepercayaan orang.
3. Sosial budaya dan Ekonomi Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan
seseorang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau
tidak. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan ketersediaan
fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial
ekonomi akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
4. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar
individu baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan
berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam
29
individu yang berada pada lingkungan tersebut. Hal tersebut terjadi
karena adanya interaksi timbal balik yang akan direspon sebagai
pengetahuan.
5. Pengalaman Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman pribadi
ataupun pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara
untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan.
6. Usia Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Bertambahnya usia akan semakin berkembang pola pikir dan daya
tangkap seseorang sehingga pengetahuan yang diperoleh akan semakin
banyak.
d. Metode Memperoleh Pengetahuan
Menurut, (Suryasumantri, 2021) pada dasarnya terdapat dua cara
pokok untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pertama,
mendasarkan diri kepada rasio atau dapat juga disebut rasionalisme, cara
yang kedua adalah mendasarkan kepada pengalaman mengembangkan
paham atau dapat juga disebut empirisme. Pengetahuan dapat diperoleh
kebenarannya dari dua pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan Non-Ilmiah
a. Akal sehat adalah serangkaian konsep dan bagian konseptual yang
memuaskan untuk penggunaan praktis bagi kemanusiaan. Akal
sehat ini dapat menunjukkan hal yang benar, walaupun disisi
lainnya dapat pula menyesatkan.
30
b. Intuisi adalah penilaian terhadap suatu pengetahuan yang cukup
cepat dan berjalan dengan sendirinya, yang mana, biasanya didapat
dengan cepat tanpa melalui proses yang panjang tanpa disadari.
Pendekatan ini tidak bersifat sistemik
c. Prasangka Pengetahuan yang didapat melalui akal sehat, dapat
bersifat subyektif karena biasanya diikuti dengan kepentingan
orang yang melakukannya, sehingga membuat pengetahuan ini
berubah dari hal yang khusus menjadi terlalu luas. Inilah yang
disebut prasangka.
d. Penemuan coba-coba (trial and error) Pengetahuan yang didapat
menggunakan cara pendekatan ini bersifat tidak terkontrol dan
tidak pasti. Dilakukan dengan ketidaksengajaan yang
menghasilkan sebuah pengetahuan dan setiap cara pemecahan
masalahnya tidak selalu sama.
e. Otoritas Pengetahuan yang didapat dari orang yang sudah
mengenyam pendidikan formal yang tinggi atau memiliki
kekuasaan sehingga dipercaya benar, walaupun tidak semuanya
benar karena tidak sepenuhnya melalui percobaan yang pasti.
2. Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah merupakan pengetahuan yang didapatkan
melalui percobaan yang terstruktur dan dikontrol oleh data-data
empiris dan dibangun diatas teori-teori terdahulu sehingga ditemukan
pembenaran-pembenaran atau perbaikan-perbaikan atas teori
31
sebelumnya. Pengetahuan dianggap ilmiah jika memenuhi beberapa
syarat, yaitu :
a. Objektif : pengetahuan itu sesuai dengan objek.
b. Metodik : pengetahuan itu diperoleh dengan cara-cara tertentu dan
terkontrol.
c. Sistematis : pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem,
tidak berdiri sendiri satu sama lain saling berkaitan, dan saling
menjelaskan, sehingga terbentuk suatu keseluruhan yang utuh.
d. Berlaku secara universal : pengetahuan tidak hanya diamati hanya
oleh seseorang atau oleh beberapa orang saja, tetapi semua orang
yang melakukan eksperimen yang sama akan menghasilkan
sesuatu yang sama atau konsisten.
f. Pengukuran Pengetahuan
Menurut (Arikunto, 2010) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan
diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :
0 : Baik, bila subyek menjawab benar 76%-100% seluruh
pertanyaan.
1 : Cukup, bila subyek menjawab benar 56%-75% seluruh
pertanyaan.
2 : Kurang, bila subyek menjawab benar < 56% seluruh pertanyaan
1 Pengetahuan Tentang COVID-19
Menurut (Kartika Sari Wanodya, 2020) Pengetahuan Tentang
COVID-19 merupakan faktor yang penting karena dapat mempengaruhi
32
persepsi seseorang yang mengakibatkan bagaimana sikap dan tindakan
yang akan dilakukan oleh individu tersebut. Pengetahuan penyintas
COVID-19 merupakan aspek yang sangat penting dalam masa pandemic
seperti sekarang ini.masayarakat perlu mengetahui penyebab COVID-
19,Karakteristik virusnya,tanda dan gejala,istilah yang terkait dengan
COVID-19,Pemeriksaan yang di perlukan dan proses transmisi serta upaya
pencegahan penyakit tersebut (Purnamasari, 2020)
Seseorang yang mempunyai pengetahuan yang baik terkait prilaku
sehat maka ada kecenderungan untuk berprilaku yang baik pula.Hal ini
berarti bahwa untuk meningkatkan prilaku sehat dan selamat,maka perlu
juga meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan. Semenjak menjadi
pandemi global, berita maupun diskusi terkait COVID-19 mulai sering
dibahas dan menjadi trend pada media sosial. Penyebaran informasi dapat
menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya stigma pada penderita
COVID-19. Sejumlah berita yang tidak terkendali dapat meningkat risiko
penyebaran berita palsu atau hoax yang lebih cepat daripada virus itu
sendiri Penyebaran informasi yang disertai bukti ilmiah dapat menghindari
rumor ataupun mitos yang salah pada masyarakat terutama pada daerah
yang terkena dampak, individu dan populasi yang rentan terhadap
COVID-19. Namun memberikan informasi yang valid dan akurat pada
publik bukanlah hal yang mudah meskipun diberikan oleh seseorang yang
kompeten.
33
Belum banyak pengetahuan valid tentang wabah virus corona yang
menjadi penyebab salah satu dampak kematian ekstrim di berbagai negara.
Penyebaran virus corona menjadi ancaman serius bagi dunia sejak pertama
dilaporkan akhir 2019 yang telah menginfeksi lebih dari satu per empat
juta orang. Perlu diketahui bahwa virus corona bukanlah flu biasa.Virus
corona menyebabkan penyakit dengan gejala yang berbeda, menyebar dan
membunuh lebih mudah serta berasal dari virus yang sangat berbeda
dengan penyebab flu biasa. CoV adalah virus RNA positif dengan
penampilan seperti mahkota di bawah mikroskop elektron (corona adalah
istilah latin untuk mahkota) karena adanya lonjakan glikoprotein pada
amplop. Subfamili Orthocoronavirinae dari keluarga Coronaviridae (orde
Nidovirales) digolongkan ke dalam empat gen CoV: Alphacoronavirus
(alphaCoV), Betacoronavirus (betaCoV), Deltacoronavirus (deltaCoV),
dan Gammacoronavirus (deltaCoV). Selanjutnya, genus betaCoV
membelah menjadi lima sub- genera atau garis keturunan. (Sri Handayani
Segala, 2020)
C. Kecemasaan
1. Defenisi Kecemasaan
Kecemasan atau dalam Bahasa Inggris “anxiety” berasal dari
Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti
mencekik. Kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan, seperti
perasaan tidak enak, perasaan kacau, was-was dan ditandai dengan istilah
34
kekhawatiran, keprihatinan, dan rasa takut yang kadang dialami dalam
tingkat dan situasi yang berbeda-beda, (Kumbara, 2018)
Kecemasan adalah Ketakutan, kekhawatiran dan kegelisahan yang
berdampak pada perubahan perilaku seperti, menarik diri dari lingkungan,
sulit fokus dalam beraktivitas, susah makan, mudah tersinggung,
rendahnya pengendalian emosi amarah, tidak logis, susah tidur
Kecemasan dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya
adalah pengetahuan (Daha, 2021)
Kecemasan mungkin melibatkan perasaan, perilaku dan respon-
respon fisiologis. Menjelaskan kecemasan dapat diartikan sebagai suatu
reaksi emosi seseorang. Kecemasan dapat didefinisikan sebagai
manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur yang terjadi
ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan dan pertentangan. Hal
ini muncul karena beberapa situasi yang mengancam diri manusia sebagai
makhluk sosial (Kumbara, 2018)
2. Klasifikasi Tingkat kecemasan
Menurut (smeltzer, 2013) Ada empat tingkat kecemasan, yaitu
ringan, sedang, Berat dan panik
a. Kecemasan Ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam
kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada
dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan riangan dapat
memotivasi belajar dan menghasilakan pertumbuhan dan kreatifitas.
35
Manisfestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel,
motivasi meningkatkan dan tingkah laku sesuai situasui. Tanda dan
gejala pada kecemasan ringan jari tangan dingin, detak jantung makin
cepat, berkeringat dingin, kepala pusing, nafsu makan berkurang, tidur
tidak nyenyak, dada sesak. Gejala yang bersifat mental adalah :
ketakutakan merasa akan tertimpa bahaya, tidak dapat memusatkan
perhatian, tidak tentram, ingin lari dari kenyataan.
b. Kecemasan sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang
penting dan mengesampingkan yang lain sehingga aseseorang
mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu
yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan
menigkatkan kecep[atan denyut jantung dan pernafasan meningkatkan
ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tiinggi, lahan
persepsi menyempit, mampu untukbelajar namun tidak optimal,
kemampuan konsentrasi menurun, mudah tersinggung,tidak
sabar,mudah lupam, marah dan menangis, tanda dan gejalanya
adalagh kegelisaaan, anggotanya tubuh bergetar, banyak berkeringat,
sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin,
mudah marah atau tersinggung.
c. Kecemasan berat
Sangat mengurangi l;ahan persepsi seseorang. Seseorang denggan
kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada suatu yang
36
terinci dan spesifik, serta tidak dapat berfikir tentang hal lain. Orang
tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan
pada suatu area yang lai, manifestasi yang muncul pada tingkat in
adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur
(Insomnia), sering kencing, diare, berfokus pada dirinya sendiri dan
keinginan untuk menghilangkan kecem,asan tinggi, perasaan tidak
berdaya , bingung, disorientasi, tanda dan gejala ketakutan akan
ketidakmampuan untuk mengatasi maslah, pikiran terasa bercampur
aduk atau kebingungan.
d. Panik
Panik Berhubungan dengan Terperangah, Ketakutan dan teror
karena mengalami kehilangan kendali. orang yang sedang panic
mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. tanda dan
gejala pada keadaan ini adalah susah bernafas, dilatasi pupil, palpasi,
pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon
terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami
halusinasi dan delus.
D. Gejala Kecemasan
Beberapa gejala dari kecemasan antara (Prinzessin, 2021)
a. Ada saja hal-hal yang sangat mencemaskan hati, hampir setiap
kejadian menimbulkan rasa takut dan cemas. Kecemasan tersebut
merupakan bentuk ketidak beranian terhadap hal-hal yang tidak jelas.
37
b. Adanya emosi-emosi yang kuat dan sangat tidak stabil. Suka marah
dan sering dalam keadaan bergairah (excited) yang memuncak, sangat
rongseng (irritable), akan tetapi sering juga dihinggapi depresi.
c. Diikuti oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi dan delusi seperti
dikerjarkejar (delusion of persecution).
d. Sering merasa mual dan muntah-muntah, badan terasa sangat lelah,
banyak berkeringat, gemetar, dan sering kali menderita diare.
e. Muncul ketegangan dan ketakutan yang kronis yang menyebabkan
tekanan jantung menjadi sangat cepat atau tekanan darah tinggi.
Gejala tersebut kemudian dapat diklasifikasikan menjadi tiga (Starosta
dan Brenner, 2018), yaitu :
1. Gejala fisik dari kecemasan yaitu : kegelisahan, anggota tubuh
bergetar, banyak berkeringat, sulit bernafas, jantung berdetak kencang,
merasa lemas, panas dingin, mudah marah dan tersinggung.
2. Gejala sikap dari kecemasan yaitu : berperilaku menghindar,
terguncang, melekat dan dependen.
3. Gejala kognitif dari kecemasan yaitu : khawatir tentang sesuatu,
perasaan terganggu akan ketakutan terhadap suatu yang terjadi di masa
depan, keyakinan bahwa sesuatu yang menakutkan akan terjadi,
ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah, pikiran
terasa bercampur aduk atau kebingungan, dan sulit berkonsentrasi
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan
38
Menurut (Prinzessin, 2021) Terdapat dua faktor utama yang dapat
menimbulkan kecemasan, yaitu :
a. Pengalaman negatif pada masa lalu Penyebab utama munculnya
kecemasan yaitu adanya pengalaman traumatis yang terjadi pada
masa kanak-kanak. Peristiwa tersebut mempunyai pengaruh pada
masa yang akan datang. Ketika individu menghadapi peristiwa
yang sama, maka akan merasakan ketengangan, sehingga
menimbulkan ketidaknyamanan
b. Pikiran yang tidak rasional Pikiran yang tidak rasional dapat dibagi
lagi menjadi 6 bentuk, yaitu:
1. Kegagalan katastropik : individu beranggapan bahwa sesuatu yang
buruk akan terjadi dan menimpa dirinya sehingga individu tidak
mampu mengatasi permasalahannya.
2. Kesempurnaan : individu mempunyai standar tertentu yang harus
dicapai pada dirinya sendiri sehingga menuntut kesempurnaan dan
tidak ada kecacatan berperilaku.
3. Persetujuan
4. Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan,
ini terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman. Faktor
risiko lain yang juga mempengaruhi kecemasan seseorang, antara
lain:
5. Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang
penting pada setiap individu karena berbeda usia, maka berbeda
39
pula terhadap tahap perkembangannya, hal tersebut dapat
mempengaruhi dinamika kecemasan pada seseorang
6. Lingkungan, yaitu kondisi yang ada di sekitar manusia. Faktor
lingkungan dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor internal
maupun eksternal. Terciptanya lingkungan yang cukup kondusif
akan menurunkan resiko kecemasan pada seseorang
Faktor risiko lain yang juga mempengaruhi kecemasan seseorang,
antara lain:
1. Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang
penting pada setiap individu karena berbeda usia, maka berbeda
pula terhadap tahap perkembangannya, hal tersebut dapat
mempengaruhi dinamika kecemasan pada seseorang.
2. Lingkungan, yaitu kondisi yang ada di sekitar manusia. Faktor
lingkungan dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor internal
maupun eksternal. Terciptanya lingkungan yang cukup kondusif
akan menurunkan resiko kecemasan pada seseoran.
3. Pengetahuan dan pengalaman,dengan pengetahuan dan
pengalaman seorang individu dapat membantu menyelesaikan
masalah-masalah psikis, termasuk kecemasan.
4. Peran keluarga, keluarga yang memberikan tekanan berlebih pada
anaknya yang belum mendapat pekerjaan menjadikan individu
tersebut tertekan dan mengalami kecemasan
5. Cara Pengukuran
40
Menurut (Asmadi, 2014) tiap tingkatan kecemasan mempunyai
kiarakteristik atau manifestasi yang berbeda satu sama lain. Manifestasi
kecemasan yang terjadi bergantung pada kematangan pribadi, pemahaman
dalam menghadapi ketegangan, harga diri, dan mekanisme koping yang
digunakan. Cara Penilaian DASS dengan sistem skoring, Yaitu skor 0 =
tidak pernah, skor 1 = Kadang-kadang, skor 2 = Sering,skor 3 = selalu.
Bila skor 0-7= kecemasan Normal, skor 8-9= Kecemasan Ringan, Skor 10-
14= kecemasan sedang, ≥15=kecemasan berat.
F. Kecemasan Penyintas COVID-19
Kecemasan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari ketika berada
pada kondisi penuh tekanan seperti di masa pandemi COVID-19. Salah
kunci penting mengelola kecemasan adalah pada penyeleksian informasi
yang diterima dalam kurun waktu tertentu. Informasi tersebut hendaklah
bersal dari sumber terpercaya dan memiliki kredibilitas di bidangnya
(Vibriyanti, 2020). Dalam hal ini masyarakat umum yang tidak terkena
virus ataupun sudah sembuh dari COVID-19 merasakan cemas dengan
keadaannya.
Kecemasan pada masa pandemi COVID-19 dapat disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu faktor predisposisi faktor meliputi karena pandemi
COVID-19, Menghabiskan >9 jam di rumah, pencarian informasi online
yang berlebihan, lebih banyak terjadi pada wanita, status ekonomi,
memiliki bayi, status menikah, status mahasiswa, lingkungan belajar dan
jaringan internet. Faktor yang dapat mencegah atau mengurangi
41
kecemasan adalah factor regulasi emosi, resiliensi, intervensi suportif,
coping agama, dukungan keluarga, membatasi paparan media informasi
dan aktivitas fisik atau olahraga. Peningkatan kecemasan sejak 2019 dan
melaporkan kekhawatiran yang lebih besar tentang dampak COVID-19
terhadap kesehatan mental mereka dari pada kesehatan fisik.
G. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan penyintas
COVID-19
Untuk dapat melakukan sesuatu diperlukan sebuah dasar yaitu
pengetahuan. Tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain umur, dan pendidikan. Kecemasan sebenarnya adalah
perasaan yang normal dimiliki oleh manusia, karena saat cemas manusia
disadarkan dan diingatkan tentang bahaya yang mengancam (Suwandi, 2020)
Kombinasi antara masalah fisik dan psikologis membuat penyintas rentan
mengalami masalah emosi dan kecemasan. Namun kecemasan yang
berlebihan dapat mengganggu aktivitas, karena perasaan takut dan khawatir
akan sesuatu. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab dari terjadinya
kecemasan pada penyintas saat pandemi COVID-19 ini. Salah satu nya yaitu
kurangnya informasi yang didapat (fitria, 2020)
Penting bagi penyintas berfikir positif ditengah situasi buruk yang terjadi,
sebab diketahui bahwa kecemasan memiliki korelasi yang dekat dengan
keterlambatan proses penyembuhan pada kesehatan. penelitian baru-baru ini,
melibatkan lebih dari 42.000 subjek, dan menemukan hubungan yang cukup
dekat antara kecemasan dan fakta mengenai terhambatnya aktivitas sehari-hari
42
atau perubahan perilaku, yang terbukti kuat memiliki efek negatif pada
kesehatan (Vancampfort et al., 2018).
Selain itu, informasi palsu (hoax) juga turut menyumbang peran penting
sebagai faktor penyebab terjadinya kecemasan. Salah satu hal yang dapat
memberikan dampak positif kepada penyintas COVID-19 adalah dengan
adanya hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar atau dengan keluarga.
Memberikan pengaruh positif dalam menghadapi situasi setelah terinfeksi
COVID-19, dapat membantu untuk mengurangi tingkat kecemasan.
Dukungan dari keluarga serta koping positif dari lingkungan sekitar, juga
dapat membantu beradaptasi dengan situasi belajar selama pandemi dan
berbagai keadaan yang tentunya berpengaruh terhadap tingkat kecemasan
yang akan dialami. Oleh karena itu, penyintas COVID-19 menghadapi
tantangan besar agar mampu bangkit dan pulih secara fisik maupun
psikologis. Pada dasarnya, kecemasan merupakan respon yang normal
terhadap adanya ancaman. Kecemasan merupakan perasaan takut yang
bersifat lama pada sesuatu yang tidak jelas dan berhubungan dengan perasaan
yang tidak menentu dan tidak berdaya. Namun untuk dapat mengelola
kecemasan agar tetap normal diperlukan proses penilaian berulang kali
terhadap sesuatu.Proses tersebut dapat bergantung pada frekuensi informasi
dan kualitas informasi yang diterima. Saat ini media sosial juga digunakan
untuk membagikan berita atau informasi yang sedang menjadi isu besar.
Salah satunya ialah mengenai kesehatan yang hampir setiap harinya selalu
terbit berita terbaru. Bahkan beberapa perangkat media sosial memberikan
43
berita 20 terbaru secara otomatis pada setiap harinya. Dalam sehari pun
banyak berita dan isu mengenai kesehatan yang muncul dan dengan cepat
tersebar luas. Berita dan isu kesehatan yang sedang hangat diperbincangkan
saat ini yaitu COVID-19. Peningkatan frekuensi informasi tentang COVID-19
dan penerimaan informasi berulang di masyarakat dapat mempengaruhi
kecemasan. Oleh karena itu pengetahuan tentang COVID 19 yang benar
sangat mempengaruhi respon kecemasan seseorang
H. Kerangka Konsep
Berdasarkan latar belakang di atas,maka kerangka konsep dalam penelitian
ini sebagai berikut.
Variabel Independen Variabel Dependen
Pengetahuan tentang
Tingkat Kecemasan
COVID-19
Bagan 2. 1 kerangka konsep
44
I. Defenisi Operasional
Definisi operasional variabel merupakan pedoman bagi peneliti untuk
mengukur variabel. Definisi operasional dibuat untuk memudahkan
pengumpulan data dan menghindarkan perbedaan interpretasi serta membatasi
ruang lingkup variabel. Variabel yang dimasukkan dalam definisi operasional
adalah variabel kunci/penting yang dapat diukur secara operasional dan dapat
dipertanggung jawabkan (Saryono, 2009).
Tabel 2. 1
Definisi Operasional
No Variabel Defenisi Cara Alat ukur Hasil ukur Skala
operasional ukur ukur
1 Variabel Segala wawan kuesioner 2:<56%: ordinal
independen sesuatu yang cara
di ketahui kurang
Pengetahuan berkenaan
1:56-75%:
dengan
cukup
COVID-19
0:
>75%:baik
2 Variabel Kecemasan wawan kuesioner 3: ≥ 15 ordinal
dependen social dan cara
tingkat fisik yang di Kecemasan
kecemasan rasakan berat
responden
2:10-14:
kecemasan
sedang
1:8-9:
kecemasan
ringan
0:0-7 :
kecemasan
45
normal
46
J. Hipotesis
Ho: Tidak ada hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat
pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada Penyintas COVID-19 di
wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat pengetahuan
dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di wilayah kerja
Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022 .
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan waktu penelitian
penelitian ini di lakukan pada tanggal 28 Juni 2022-14 juli 2022, objek
dari penelitian ini adalah Penyintas COVID-19 yang berada di wilayah kerja
Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022.
B. Desain penelitian
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif,dengan desain penelitian yang di
gunakan adalah cross sectional study dengan menggunakan rancangan
korelasional yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara
dua variabel dan untuk menyatakan ada atau tidaknya hubungan antara
variabel independent ( pengetahuan) dan variabel dependent ( kecemasan )
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penyintas yang
terdiagnosa COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota
Bengkulu tahun 2022 yang berjumlah 135 Orang akan diambil dan
disesuaikan dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dari penelitian
yang sebelumnya telah ditentukan oleh peneliti atau cara-cara tertentu
sehingga sampel tersebut dapat mewakili populasi yang diteliti
(Notoadmojo, 2010).
47
48
2. Sampel
Sampel adalah subjek yang akan diambil sebagian dari keseluruhan
populasi yang diteliti. Pengambilan sampel penelitian digunakan teknik
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling.
Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin sebagai berikut
135
n=
1+135 ¿ ¿
n = 81 Orang
Keterangan :
n = Jumlah sampel
N = Besar populasi/jumlah populasi
e = Batas toleransi kesalahan (error tolerance)/persen kelonggaran
a. Kriteria Inklusi
1. Penyintas COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota
Bengkulu tahun 2022.
2. Penyintas yang tidak dalam keadaan positif COVID-19.
3. Penyintas yang bersedia di jadikan responden.
b. Kriteria Eksklusi
1. Bukan Penyintas COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo
kota Bengkulu tahun 2022.
2. Penyintas yang memiliki gangguan bicara dan pendengaran
3. Penyintas yang memiliki gangguan kejiwaan.
49
D. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer yang
didapatkan menggunaan kuesioner yang akan di isi langsung oleh responden.
Kuesioner yang digunakan bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa
tingkat pengetahuan responden tentang COVID-19 dengan kecemasan yang
dirasakan selama pandemi COVID-19. Metode pengumpulan data dilakukan
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Kuesioner dibagikan kepada responden dalam bentuk lembaran lembaran
yang berisi pertanyaan-pertanyaan.
2. Penjelasan secara singkat diberikan kepada responden tentang maksud
dan tujuan dari penelitian ini pada halaman awal kuesioner
3. Pengisian borang informed consent oleh responden sebagai bukti
pemberian persetujuan untuk menjadi bagian dari penelitian ini dan
persetujuan responden untuk menggunakan data dirinya demi keperluan
penelitian ini.
4. Responden diminta untuk mengisi semua pertanyaan sesuai petunjuk yang
telah diberikan dalam format pertanyaan kuesioner. Apabila sudah selesai
akan langsung dikumpulkan kepada peneliti. Pengambilan data dilakukan
dengan memindahkan data yang didapat dan dimasukkan ke komputer
agar selanjutnya dapat diproses.
50
E. Teknik Pengolahan Data
Menurut Notoatmodjo,(2012) pengolahan data yang telah di kumpulkan di
lakukan dengan computer,melalui beberapa tahap antara lain :
1. Editing yaitu melihat apakah isi jawaban atau data yang diolah tersebut
sudah tersedia lengkap dan apakah sudah relevan dengan tujuan penelitian
2. Coding yaitu kode setiap jawaban
3. Tabulating yaitu mentabulasi data berdasarkan kelompok data yang telah
di tentukan ke dalam master table
4. Entry memasukan data yang sudah di lakukan editing dan coding tersebut
ke dalam computer dan menggunakan perangkat lunak computer
5. Cleaning yaitu untuk memastikan apakah semua data sudah siap di
analisis
F. Teknik Analisa Data
1. Analisis Univariat
Digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi dari
variabel independen dan variabel dependen
2. Uji Normalitas Data
Untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak di
gunakan uji Kolmogorov smirnov
3. Analis Bivariat
Analisis bivariat di gunakan untuk mengetahui hubungan tingkat
pengetahuan mengenai COVID-19 dengan tingkat kecemasan pada
Penyintas COVID-19 di Wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota
51
Bengkulu dengan menggunakan analisis korelasi product moment
Pearson.jika data tidak berdistribusi normal di gunakan analisis korelasi
Rank Spearman (rho)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Puskesmas Sidomulyo Merupakan salah satu Puskesmas yang
berada di wilayah Kota Bengkulu terlatak di jalan Hibrida Vll Kelurahan
Sidomulyo kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu dengan kode pos
38229. Wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo dengan jumlah penduduk
mencapai 11.067 orang, yang menaungi 37 RT yang terletak di antara
Wilayah Hibrida sampai dengan wilayah Timur Indah. Puskesmas ini
merupakan Puskesmas non rawat inap. Puskesmas Sidomulyo melayani
Pasien BPJS maupun non BPJS.
2. Jalannya Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo
Kota Bengkulu berdasarkan Rekomendasi surat izin penelitian dari
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu dengan nomor 1646-PH/K.01-
STIKES TMS/2022 ditujukan ke Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan
Politik Kota Bengkulu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu dan
Kepala Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2022. Penelitian ini
di lakukan bertujuan untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan
Dengan Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 tahun 2022.
52
Langkah pertama yang di lakukan dalam penelitian ini yaitu pengambilan
sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu peneliti
53
54
mengandalkan penilaianya sendiri ketika memilih anggota populasi, di
dapatkan 81 sampel yang merupakan Penyintas COVID-19. Sebelum
penelitian dimulai peneliti melakukan inform consent untuk menjelaskan
tujuan penelitian pada calon responden dan jika calon responden setuju
untuk menjadi responden dilanjutkan responden mengisi kuesioner untuk
mendapatkan informasi tentang nama, usia, jenis kelamin responden.
Setelah seluruh data terkumpul, selanjutnya data tersebut dikelompokkan
sesuai dengan usia dan jenis kelamin, kemudian dibandingkan dengan
kriteria hasil ukur yang sudah ditetapkan, dibedakan berdasarkan kriteria
tersebut, dicek kelengkapannya, dan diberikan kode. Selanjutnya data
tersebut dimasukkan ke dalam master tabel dan dilakukan analisis baik
secara univariat dan bivariat.
3. Analisa Univariat
Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang masing-
masing variabel yang diteliti, baik variabel independen maupun dependen.
a. Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.
Tabel 4. 1
Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.(n=81)
No Pengetahuan Penyintas Frekuensi Persentase
%
1. Baik 22 27,2
2. Cukup 45 56,6
3. Kurang 14 17,3
Total 81 100.0
55
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan bahwa Dari 81
orang sebagian besar responden tingkat pengetahuan baik berjumlah 22
orang (27,2%), responden tingkat pengetahuan cukup berjumlah 45
orang (55,6%), dan responden tingkat pengetahuan kurang berjumlah
14 orang (17,3%).
b. Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 di Wilayah
Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.
Tabel 4. 2
Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.(n=81)
No Kecemasan Penyintas Frekuensi Presentase %
1 Berat 2 2,5
2 Normal 43 53,1
3 Ringan 10 12,3
4 Sedang 26 32,1
Total 81 100,0
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan bahwa Dari 81 orang
sebagian besar responden tingkat kecemasan berat berjumlah 2 orang
(2,5%), Responden tingkat kecemasan sedang berjumlah 26 orang
(32,1%), Responden tingkat kecemasan ringan berjumlah 10 orang
(12,3%), Responden tingkat kecemasan normal berjumlah 43 orang
(53,1%).
56
4. Uji Normalitas Data
Tabel 4. 3
Normalitas Data Tingkat Pengetahuan dan Kecemasan Pada
Penyintas COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota
Bengkulu (n=81)
Variabel Kolmogrov Smirnov Katerangan
P-Value α= 0,05
5. Tingkat 0,000 P<α Tidak Normal
Pengetahuan
6. Tingkat 0,004 P<α Tidak Normal
Kecemasan
Hasil Uji Normalitas data didapat nilai:
a. P-value = 0,000<0,05 signifikan, berarti data tingkat pengetahuan tidak
berdistribusi normal,
b. P-value = 0,004<0,05 signifikan, berarti data tingkat kecemasan tidak
berdistribusi normal,
Karena kedua data tidak berdistribusi normal, maka tidak memenuhi
syarat untuk dilakukan analisis korelasi Product Moment Pearson.
Selanjutnya akan digunakan analisis korelasi Rank Spearman (rho)
5.Analisis Bivariat
Tabel 4. 4
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan
Korelasi Rank Spearman
Variabel rho P-Value α = 0,05 Keterangan
Hubungan
Tingkat
Pengetahuan
dengan Tingkat
Kecemasan -0,458 0,000 P<α Hubungan
Pada Penyintas Sedang
COVID-19 di
57
Wilayah Kerja
Puskesmas
Sidomulyo Kota
Bengkulu.
Hasil analisis korelasi Rank Spearman (rho) didapat nilai rho = -0,458
dengan p-value=0,000<0,05 signifikan, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jadi ada hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat pengetahuan
dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di wilayah kerja
Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022.
Keterangan:
a. Rho = -0,458 artinya semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka
semakin rendah tingkat kecemasan responden, dan sebaliknya semakin
rendah tingkat pengetahuan responden maka semakin tinggi tingkat
kecemasan responden.
b. Nilai rho = -0,458 diharga mutlakkan menjadi 0,458 terletak dalam
interval 0,20 – 0,60, maka kategori hubungan sedang.
B. Pembahasan
1. Analisis Univariat
a. Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 81 Penyintas COVID-19
dari responden tingkat pengetahuan baik berjumlah 22 orang (27,2%),
responden tingkat pengetahuan cukup berjumlah 45 orang (55,6%),
58
dan responden tingkat pengetahuan kurang berjumlah 14 orang
(17,3%).
Menurut (Angi, 2022) Pengetahuan masyarakat khususnya dalam
mencegah transmisi penyebaran virus SARS-CoV-2 sangat berguna
dalam menekan penularan virus tersebut. Dengan memiliki
pengetahuan yang baik terhadap suatu hal, seseorang akan
memiliki kemampuan untuk menentukan dan mengambil keputusan
bagaimana cara meningkatkan pencegahan COVID-19 melalui
berbagai cara yang benar dan dibutuhkan pengetahuan yang benar
pula. Pengetahuan yang benar dapat mempengaruhi tindakan
seseorang. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Sari, 2020) yang menyatakan bahwa pengetahuan masyarakat
Kabupaten wonosobo tentang Penyintas COVID-19 berada pada
kategori Cukup (90%) dan hanya 10% berada pada kategori baik.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Yanti, 2020) mengenai Pengetahuan, Penyintas COVID-19 di
Indonesia menyebutkan bahwa 99% masyarakat Indonesia memiliki
pengetahuan yang cukup.
Penelitian ini juga sejalan dengan (Augla, 2021) yaitu dimana
responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang COVID-
19. Penelitian yang di lakukan oleh Augla ini memiliki jumlah
responden sebanyak 95 orang atau sebesar 63,3% dari total responden
yang ada. Namun, hanya 27 orang (18%) yang memiliki tingkat
59
pengetahuan yang tergolong baik terkait COVID-19, kelompok ini
berada pada kategori kelompok dengan jumlah responden paling
sedikit. Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan kelompok responden
yang memiliki tingkat pengetahuan yang buruk tentang COVID-19,
yaitu sebesar 28 orang (18,7%).
b. Gambaran Tingkat kecemasan Pada Penyintas COVID-19 di
Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 81 Penyintas COVID-19
dari responden tingkat kecemamasan, Responden tingkat kecemasan
berat berjumlah 2 orang (2,5%), Responden tingkat kecemasan sedang
berjumlah 26 orang (32,1%), Responden tingkat kecemasan ringan
berjumlah 10 orang (12,3%), Responden tingkat kecemasan normal
berjumlah 43 orang (53,1%).
Kecemasan dan ketakutan akan penularan selama krisis COVID-19
mungkin terkait dengan ketidakpastian, ketakutan akan ketidaktahuan,
dan kepanikan. Paparan berulang terhadap laporan tentang krisis
COVID-19 dapat meningkatkan kecemasan. Kekhawatiran dan
ketakutan menyebabkan berbagai gejala mental dan fisik dan dapat
menyebabkan perkembangan gangguan kecemasan, depresi dan
gangguan tidur. Ada kemungkinan besar bahwa para penyintas
COVID-19, terutama para penyintas yang menderita COVID-19 parah,
memiliki risiko bunuh diri yang tinggi. Sebuah studi baru-baru ini di
China menunjukkan bahwa 96,2% pasien COVID-19 yang pulih
60
memiliki gejala stres pasca trauma yang signifikan. Sekitar 50% pasien
yang pulih tetap cemas setelah epidemi SARS 2003 di Hong Kong.
(Hasrida, 2021)
Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Hasrida, 2021) yang
menyatakan tingkat kecemasan penyintas COVID-19 tertinggi yaitu
responden dengan kecemasan normal 61 orang,kecemasan ringan 14,
kecemasan sedang 13, dan kecemasan berat 6 orang.
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan
Pada Penyintas COVID-19 Di Wilayah Kerja Puskesmas
Sidomulyo Kota Bengkulu.
Hasil analisis korelasi Rank Spearman (rho) didapat nilai rho = -
0,458 dengan p-value=0,000<0,05 signifikan, maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Jadi Ada hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat
pengetahuan dengan tingkat kecemasaan pada penyintas COVID-19 di
wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun 2022.
Yaitu dimana Rho = -0,458 artinya semakin tinggi tingkat
pengetahuan, maka semakin rendah tingkat kecemasan responden, dan
sebaliknya semakin rendah tingkat pengetahuan responden maka
semakin tinggi tingkat kecemasan responden. Nilai rho = -0,458
dihargamutlakkan menjadi -0,458 terletak dalam interval 0,20 – 0,60,
maka kategori hubungan sedang.
61
Hasil perhitungan kuesioner tingkat pengetahuan pada penyintas
COVID-19 dengan tingkat baik berjumlah 22 orang, penyintas dengan
pengetahuan cukup berjumlah 45 orang, dan penyintas dengan tingkat
pengetahuan kurang berjumlah 14 orang. Adapun jenis pertanyaan
yang tercantum pada kuesioner meliputi definisi dan latar belakang
dari COVID-19, jalur transmisi virus, manifestasi klinis umum yang
dapat diamati pada penderita, serta cara pencegahan agar terhindar dari
penyakit ini. Umumnya pengetahuan para penyintas di kategori cukup.
Hasil perhitungan kuesioner tingkat kecemasan pada penyintas
COVID-19 dengan kecemasan tingkat berat berjumlah 2 orang,
penyintas dengan tingkat kecemasan normal 43 orang, penyintas
dengan tingkat kecemasan ringan 10 orang dan penyintas dengan
tingkat kecemasan sedang 26 orang. Berdasarkan hasil penelitian
(Ridlo, 2020) menunjukkan bahwa kecemasan pada penyintas COVID-
19 di Kecamatan Nuha, rendah dikarenakan masyarakat sudah pernah
mengalami kecemasan sebelumnya. Ada kemungkinan besar bahwa
para penyintas COVID-19, terutama para penyintas yang menderita
COVID-19 parah, memiliki risiko bunuh diri yang tinggi. Pengalaman
stres seperti belajar tentang diagnosis COVID-19, takut menulari orang
lain, gejala penyakit, rawat inap, terutama masuk ke unit perawatan
intensif, dan kehilangan pendapatan dapat menyebabkan
perkembangan kecemasan, depresi dan pasca-trauma. Banyak pasien
COVID-19 yang sembuh memiliki gejala fisik termasuk rasa sakit
62
dalam waktu yang lama. Gangguan neurologis seperti stroke iskemik,
sakit kepala dan kejang berhubungan dengan perilaku bunuh diri.
Gejala fisik, terutama nyeri juga meningkatkan risiko bunuh diri
Hasil Penelitian dari hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat
kecemasan pada penyintas COVID-19 di wilayah kerja puskesmas
Sidomulyo kota Bengkulu Penelitian ini sejalan dengan (Augla, 2021)
Dengan menggunakan metode analisis yang sama, p value berada
dibawah 0,05, sehingga dapat dibuktikan bahwa H0 dari penelitian ini
dapat ditolak, mengindikasikan bahwa dijumpainya korelasi yang
signifikan antara tingkat pengetahuan tentang COVID-19 dengan
tingkat kecemasan yang dirasakan oleh mahasiswa Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara angkatan 2017. Correlation coefficient
ditemukan sebesar 0,206, hal ini menandakan bahwa meskipun
terdapat hubungan antara kedua variabel, hubungan tersebut tergolong
lemah.
63
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di wilayah Kerja Puskesmas
Sidomulyo Kota Bengkulu di simpulkan bahwa
1. Dari 81 orang responden di dapatkan data bahwa pengetahuan baik
berjumlah 22 orang (27,2%), responden tingkat pengetahuan cukup
berjumlah 45 orang (55,6%), dan responden tingkat pengetahuan kurang
berjumlah 14 orang (17,3%).
2. Dari 81 orang responden di dapatkan data bahwa kecemasan Responden
tingkat kecemasan berat berjumlah 2 orang (2,5%), Responden tingkat
kecemasan sedang berjumlah 26 orang (32,1%), Responden tingkat
kecemasan ringan berjumlah 10 orang (12,3%), Responden tingkat
kecemasan normal berjumlah 43 orang (53,1%).
3. Berdasarkan hasil analisis korelasi Rank Spearman (rho) terdapat
hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan, dengan
kategori hubungan sedang.
B. Saran
1. Bagi mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Agar mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu khususnya
jurusan keperawatan dapat mempelajari dan memahami hasil penelitian ini
supaya dapat mengaplikasikan hasil penelitian ini dalam praktik
64
keperawatan dan dapat memberikan informasi pada masyarakat yang
membutuhkan.
2. Bagi masyarakat Penyintas Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota
Bengkulu
Bagi masyarakat Penyintas Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo
Kota Bengkulu hendaklah mengembangkan serta meningkatkan
pengetahuan melalui pendidikan kesehatan yang telah bekerjasama dengan
Puskesmas terkait. Sehingga di harapkan para penyintas COVID-19
memahami dan meningkatkan pengetahuan agar para penyintas dapat
dengan bijak mengambil keputusan.
3. Bagi Peneliti
Diharapkan Peneliti lebih Meningkatkan pengetahuan mengenai
Hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kecemasan pada penyintas
COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu. Agar
nantinya petugas kesehatan dapat melakukan penyuluhan dan pendidikan
kesehatan agar dapat memberikan informasih mengenai COVID-19.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat menjadi acuan atau titik tolak yang berguna untuk penelitian
selanjutnya dengan mencari faktor-faktor lain yang berhubungan dengan
penyintas COVID-19. bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat
meneliti lebih lanjut mengenai topik yang sama dengan melakukan analisis
faktor-faktor terkait yang berbeda dalam penelitian ini agar menjadi
perbandingan lanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Agus munir, M. (2018). Strategi pendidikan islam dalam menghadapi globalisasi
ilmu pengetahuan dan teknologi. Jurnal kajian dan penelitian pendidikan
islam, Vol.12, No.2, 122-139.
amirullah, A. K. (2020). Penanganan kecemasan pasien survivor COVID-19
intensive care unit literature riview.
Angi, S. I. (2022). Perbedaan tingkat pengetahuan ,sikap dan prilaku terhadap
pencegahan COVID-19 antara penyintas dengan non penyintas COVID-19
di kota kupang. cendana medical journal.
Arikunto. (2010). prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: Rineka
cipta.
Asmadi. (2014). Teknik prosedural keperawatan konsep anak dan apikasi
kebutuhan dasar klien salemba medika. jakarta.
Atik Mardiani Kholilah, A. Y. (2021). Gejala sisa penyintas COVID-19: Literatur
Review. Jurnal ilmu keperawatan jiwa, Vol 4,No 3, 501-51
Diah Handayani, D. R. (2020). Penyakit Virus Corona 2019. Jurnal of The
indonesian society of respirology, Vol.40,No.2, 119-128.
Dinkes, k. B. (2022). Data kasus COVID-19 kota Bengkulu.
D'prinzessin, C. a. (2021). hubungan tingkat pengetahuan tentang COVID-19
terhadap tingkat stres dan kecemasaan pada mahasiswa farmasi
universitas sumatera utara angkatan 2017.
Fitria, i. (2020). kecemasan remaja pada masa pandemi COVID-19. jurnal
pendidikan indonesia
Fitriani. (2021). gambaran pengetahuan sikap dan tindakan pada riwayat kontak
penyintas dalam upaya pencegahan COVID-19 di kecamatan ujungbulu
kabupaten bulukumba.
Grace, C. (2020). Manifestasi Klinis dan Perjalanan Penyakit Pada Pasien
COVID-19. Vol.9 No.1, 49-55.
Hayat, A. (2014). Kecemasan dan metode pengendaliannya. Vol.XII.No 01.
Healthy Seventina Sirait, A. H. (2020). Hubungan pengetahuan tentang COVID1-
19 terhadap tingkat kecemasan pada lansia yang mengalami hipertensi.
jurnal kesehatan, Vol.11 No 2, 165-169.
Hasrida. (2021). hubungan karakteristik individu, kecemasan, dan sosio kognitif
dengan kejadian stres pada penyintas COVID-19 di kecamatan nuha
kabupaten luwu timur. 111.
Indah Fitriani, N. (2020,). Tinjauan Pustaka COVID-19 Virologi,Patogenesis,dan
Manifestasi Klinis. Jurnal Medika Malahayati, Vol.4,No.3, 194-198.
Jesica Moudy, R. A. (2020). Pengetahuan terkait usaha pencegahan Corona virus
disiase ( COVID-19) do indonesia. Journal of public heakth research and
development, 333-346.
Kartika Sari Wanodya, N. K. (2020). Literature Review Stigma Masyarakat
Terhadap COVID-19. Vol 5,No 2, 107-111.
KEMENKES. (2020). Pedoman Pencegahan dan pengendalian corona virus
disease 2019 ( COVID-19). 106-116.
kumbara, H. (2018). analisis tingkat kecemasaan (Anxiety) dalam menghadapi
pertandingan atlet sepak bola kabupaten banyuasin pada porprov 2017.
jurnal ilmu keolahragaan, vol.17 (2), 28-35.
M.Zainal Arifin, A. D. (2020). Dampak Psikososial Terhadap Penyintas COVID-
19. 2-4.
Mahase, E. (2020). COVID-19 apa yang di ketahui tentang COVID panjang.
Muannif Ridwan, A. S. (2021). Studi analisis tentang makna pengetahuan dan
ilmu pengetahuan serta jenis dan sumbernya. Jurnal Geuthee,
Vol.04,No.01, 32-54.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Onisimus Umbu Daha, A. G. (2021). Hubungan tingkat pengetahuan dengan
kecemasan dalam mencegah paparan corona virus disease (COVID-19) di
perkotaan. Journal of Nursing Science, Vol.2 No.1, 46-50.
Perliyani, H. (2021). Manifestasi Klinis dan Diagnosis COVID-19 Multisysystem
inflammatory syndrome pada anak. Vol.48 N0 4, 231-234.
Purnamasari, A. (2020). Tingkat pengretahuan dan prilaku masyarakat kabupaten
wonosobo gtentang COVID-19. Jurnal ilmiah kesehatan.
Ridlo. (2020). Pandemi COVID-19 dan tantangan kebijakan kesehatan mental di
indonesia. Jurnal psikologi dan kesehatan mental.
Sari, I. p. (2020). Tingkat pengetahuan dan prilaku masyarakat kabupaten
wonosobo tentang COVID-19. jurnal ilmiah kesehatan, 33-42.
Sipa Maulani, s. (2021). hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang
COVID-19 dengan kesadaran masyarakat dalam menggunakan masker.
JURNAL KESEHATAN POLTEKES KEMENKES RI PANGKAL
PINANG, Vol.9,No 1(P-ISSN.2339-2150, E-ISSN 2620-6234), 59-68.
smeltzer. (2013). Buku ajar keperawatan medikal bedah. jakarta: penerbit buku
kedokteran.
Sri Handayani Segala, Y. M. (2020). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap
Masyarakat Terhadap COVID-19 A literature Review. Jurnal Menara
Medika.
Sujarweni, V. W. (2014). Metode penelitian lengkap,praktis dan mudah di
pahami. yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Suryasumantri, J. (1999). Ilmu dalam perspektif. yayasan obor indonesia.
Suwandi, M. (2020). Hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasaan
terhadap COVID-19 pada remaja di Sma advent balik papan. malahayati
nursing journal, 677-685.
Verawati, A. M. (2021). Hubungan pengetahuan tentang COVID-19 terhadap
kecemasan ibu hamil trimester lll. Jurnal kesehatan, Vol.12 No 2, 234-
241.
WHO. (2021). There is a current outbreak of corona virus (COVID-19) disease
Yanti. (2020). Community Knowledge,Attitudes,and behavior towards social
distancing policy as a means of preventing transmission of COVID 19 in
indonesia. jurnal administrasi kesehatan indonesia, 4-14.
Yelvi Levani, A. D. (2021). Corona virus Disease 2019 ( COVID-19)
Patogenesis,Manifestasi Klinis dan pilihan terapi. Jurnal kedokteran dan
kesehatan, Vol.17 No.1, 45-57.
Yuliana, E. (2017). Analisis pengetahuan siswa tentang makanan yang sehat dan
bergizi terhadap pemilihan jajanan di sekolah. Retrieved April Senin,
2022,fromhttp//repository.ump.ac.id/4114/3/Erlin%20Yuliana_BAB
%20II.pdf
L
A
M
P
I
R
A
N
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ……………………………………….
Alamat : ……………………………………......
Umur : ………………………………………..
Menyatakan bersedia menjadi responden pada penelitian yang akan di
lakukan oleh mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu Jurusan S1
keperawatan Semester Vlll :
Nama : Resi Purnama Sari
NPM : 1826010040
Jurusan : S1 Ilmu keperawatan
Judul Skripsi : Hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat
kecemasan pada penyintas COVID-19 di Wilayah
Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu Tahun
2022.
Saya bersedia mengikuti semua kegiatan yang di lakukan sesuai
dengan sistematika dan prosedur yang di lakukan dan menerima hasil yang di
berikan.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa
ada unsur paksaan dari pihak manapun.
Bengkulu,………………….2022
Responden
( )
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Dengan Hormat
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Mahasiswa STIKES Tri Mandiri
Sakti Bengkulu jurusan S1 Keperawatan Semester Vlll.
Nama : Resi Purnama Sari
Npm : 1826010040
Jurusan : S1 Ilmu Keperawatan
Akan mengadakan penelitian dengan judul “ HUBUNGAN TINGKAT
PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA
PENYINTAS COVID-19 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
SIDOMULYO KOTA BENGKULU TAHUN 2022.” Bersama ini saya mohon
kepada bapak-bapak dan ibu-ibu untuk bersedia menjadi responden dan
berpartisipasi dalam penelitian ini. Dengan menandatangani lembar persetujuan
serta menjawab pertanyaaan yang saya ajukan. Hasil jawaban yang bapak-
bapak,ibu-ibu berikan akan saya jaga kerahasianya dan akan di gunakan untuk
kepentingan penelitian. Atas perhatian dan kerjasamanya sebagai responden
saya,saya ucapkan terimakasiah.
Peneliti
( Resi Purnama Sari )
KUESIONER PENGETAHUAN
Pentunjuk pengisian :
Bacalah dengan cermat dan teliti setiap bagian pertanyaan dalam kuesioner ini !!!
A. Karakteristik Responden
Nama :
Usia :
Jenis kelamin :
B. Pengetahuan
Isilah pernyataan di bawah ini dengan memberi tanda chek list (√) pada kotak
benar dan salah
Keterangan :
0 = ≥ 75 % : Baik
1= 56-75 % : Cukup
2= ≤ 56 % : Kurang
No Pernyataan Benar Salah
1 Orang yang pernah terinfeksi COVID-19
tidak bisa menyebarkan virus ke orang
lain jika tidak menunjukan gejala
2 Penyakit COVID-19 di sebabkan oleh
virus SARS CoV-2
3 Penyebaran penyakit COVID-19 dapat
melalui pemakaian sabun yang di
gunakan secara bersama-sama penderita
COVID-19
4 Batuk,nyeri dada,dan demam merupakan
tanda dan gejala dari penyakit COVID-
19
5 Anggota keluarga yang sering keluar
rumah memiliki risiko yang besar
terserang atau tertular penyakit COVID-
19
6 Sering begadang dan kurang istirahat
merupakan salah satu factor penyebab
terjangkit COVID-19
7 Pencegahan penularan COVID-19
dengan menutup mulut saat bersin dan
batuk
8 COVID-19 bila tidak di tangani dengan
baik akan menyebabkan komplikasi pada
bagian tubuh seperti paru-paru dan
jantung
9 Berjemur di bawah sinar matahari dapat
membunuh virus COVID-19
10 Droplet ( Cairan dari mulut/hidung)
merupakan media penularan COVID-19
11 Penderita COVID-19 dapat mengalami
kematian akibat virus COVID-19 yang
ada di dalam tubuhnya
12 Supaya tidak tertular penyakit COVID-
19,maka sebaiknya rajin berolahraga
13 Membersihkan lingkungan rumah setiap
hari merupakan tindakan efektif dalam
pencegahan COVID-19
14 Mendatangi tempat keramaian
merupakan kondisi yang dapat
menyebabkan terserang virus COVID-19
15 Mencuci tangan/menggunakan
handsanitazier setelah melakukan kontak
langsung dengan orang lain merupakan
salah satu upaya pencegahan virus
COVID-19
16 Penyakit COVID-19 merupakan penyakit
bawaan dari orang tua
17 Upaya pencegahan yang lain yaitu
dengan keluar rumah tidak memakai
masker
18 Mematuhi peraturan pemerintah untuk
tidak keluar rumah merupakan tindakan
yang efektif untuk mencegah penularan
penyakit
19 Tidur dan istirahat yang cukup dapat
mencegah tertularnya COVID-19
20 Pencegahan COVID-19 dapat di lakukan
dengan memyediakan makanan dengan
gizi seimbang seperti nasi,lauk,sayur dan
buah
Sumber : Fitriani,2021
KUESIONER DEPRESSION ANXIETY STRESS SCALES ( DASS 42)
Nama responden :
Jenis kelamin :
Umur :
Nomor handphone :
Keterangan untuk Kecemasan
0 : Tidak Pernah (TP)
1 : kadang-kadang (KK)
2 : sering (SR)
3 : selalu (SL) sangat sesuai dengan yang di alami
Total Skor :
0-7 : Kecemasan normal
8-9 : kecemasan ringan
10-14 : Kecemasan sedang
≥15 : kecemasan berat
No Aspek penilaian TP KK SR SL
1 Setelah sembuh dari Covid-19 mulut saya
biasa terasa kering
2 Setelah sembuh dari Covid-19 saya merasakan
gangguan dalam bernapas ( Napas cepat,sulit
bernapas ) tanda adanya aktifitas fisik.
3 Setelah sembuh dari Covid-19 saya mengalami
kelemahan pada anggota tubuh contoh kaki
seperti menyerah ( gemetar)
4 Setelah sembuh dari Covid-19 saya merasa
cemas yang berlebihan dalam suatu situasi
namun bisa lega jika hal/situasi itu berakhir
5 Setelah sembuh dari Covid-19 saya merasakan
kelelahan
6 Setelah sembuh dari Covid-19 saya sering
bekeringat ( missal : tangan bekeringat ) tampa
stimulasi oleh cuaca maupun latihan fisik
7 Setelah sembuh dari Covid-19 saya ketakutan
tanpa alasan yang jelas
8 Setelah sembuh dari Covid-19 saya kesulitan
untuk menelan
9 Setelah sembuh dari Covid-19 saya mengalami
perubahan kegiatan jantung dan denyut nadi
tanpa stimulasi suhu maupun latihan fisik
10 Setelah Sembuh dari Covid-19 saya mudah
panic
11 Setelah sembuh dari Covid-19,saya takut
terhambat oleh tugas-tugas yang tidak bisa di
lakukan
12 Setelah sembuh dari Covid saya sering merasa
ketakutan
13 Setelah sembuh dari Covid-19 saya sering
khawatir dengan situasi diri saya,dan menjadi
panic
14 Setelah sembuh dari Covid-19 saya biasa
gemetar (misal tangan )
Sumber : Hasrida,2021
TABULASI KUESIONER HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA
PENYINTAS COVID-19 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIDOMULYO KOTA BENGKULU
Jenis
No Nama Kelamin Umur Kategori Usia Pengetahuan Kecemasan
1 Ny. P p 37 Dewasa 20 BAIK 0 NORMAL
2 Nn. S p 15 Remaja 11 KURANG 6 NORMAL
3 Nn. K p 17 Remaja 14 CUKUP 5 NORMAL
4 Ny. A p 34 Dewasa 12 CUKUP 3 NORMAL
5 Tn. V L 34 Dewasa 14 CUKUP 4 NORMAL
6 Ny. S p 45 Dewasa 12 CUKUP 6 NORMAL
7 Nn. T p 17 Remaja 11 KURANG 16 BERAT
8 Ny. H p 48 Lansia 13 CUKUP 12 SEDANG
9 Tn. A L 56 Lansia 12 CUKUP 11 SEDANG
10 Tn. H L 26 Dewasa 11 KURANG 22 BERAT
11 Ny. H P 49 Lansia 13 CUKUP 6 NORMAL
12 Ny. O P 29 Dewasa 13 CUKUP 10 SEDANG
13 Tn. S L 52 Lansia 15 CUKUP 4 NORMAL
14 Tn. R L 28 Dewasa 16 BAIK 4 NORMAL
15 Tn. B L 35 Dewasa 13 CUKUP 13 SEDANG
16 Ny. S P 47 Lansia 13 CUKUP 3 NORMAL
17 Tn. M L 38 Dewasa 13 CUKUP 2 NORMAL
18 Ny. Y P 42 Dewasa 12 CUKUP 12 SEDANG
19 Nn. C P 23 Remaja 16 BAIK 14 SEDANG
20 Ny. P P 46 Lansia 14 CUKUP 5 NORMAL
21 Ny. D P 41 Dewasa 13 CUKUP 14 SEDANG
22 Ny. K P 36 Dewasa 11 KURANG 14 SEDANG
23 Tn. T L 35 Dewasa 12 CUKUP 10 SEDANG
24 Tn. F L 44 Dewasa 13 CUKUP 2 NORMAL
25 Ny. E P 51 Lansia 12 CUKUP 3 NORMAL
26 Ny. Y P 27 Dewasa 13 CUKUP 5 NORMAL
27 Tn. P L 26 Dewasa 19 BAIK 2 NORMAL
28 Tn. F L 25 Remaja 13 CUKUP 9 RINGAN
29 Ny. N P 48 Lansia 12 CUKUP 12 SEDANG
30 Ny. R P 27 Dewasa 15 CUKUP 5 NORMAL
31 Ny. N P 41 Dewasa 12 CUKUP 3 NORMAL
32 Ny. H P 23 Remaja 11 KURANG 11 SEDANG
33 Tn. M L 35 Dewasa 13 CUKUP 12 SEDANG
34 Ny. T P 18 Remaja 16 BAIK 9 RINGAN
35 Ny. T P 41 Dewasa 12 CUKUP 5 NORMAL
36 Tn. M L 23 Remaja 11 KURANG 14 SEDANG
37 Tn. N L 29 Dewasa 14 CUKUP 10 SEDANG
38 Ny. S P 17 Remaja 15 CUKUP 13 SEDANG
39 Ny. A P 16 Remaja 13 CUKUP 9 RINGAN
40 Ny. A P 24 Remaja 16 BAIK 13 SEDANG
41 Tn. M L 27 Dewasa 9 KURANG 8 RINGAN
42 Ny. A P 25 Remaja 16 BAIK 6 NORMAL
43 Tn. T L 42 Dewasa 10 KURANG 11 SEDANG
44 Tn. C L 58 Lansia 11 KURANG 7 NORMAL
45 Ny. S P 55 Lansia 11 KURANG 9 RINGAN
46 Tn. M L 19 Remaja 15 CUKUP 14 SEDANG
47 Tn. A L 29 Dewasa 18 BAIK 4 NORMAL
48 Ny. H P 63 Lansia 11 KURANG 13 SEDANG
49 Ny. H P 25 Remaja 17 BAIK 3 NORMAL
50 Ny. N P 26 Dewasa 17 BAIK 7 NORMAL
51 Tn. F L 18 Remaja 14 CUKUP 11 SEDANG
52 Tn. E L 17 Remaja 12 CUKUP 9 RINGAN
53 Nn. A P 18 Remaja 14 CUKUP 4 NORMAL
54 Tn. R L 21 Remaja 14 CUKUP 9 RINGAN
55 Ny. M P 31 Dewasa 11 KURANG 14 SEDANG
56 Tn. M L 16 Remaja 17 BAIK 2 NORMAL
57 Tn. F L 27 Dewasa 19 BAIK 2 NORMAL
58 Tn. M L 53 Lansia 15 CUKUP 3 NORMAL
59 Ny. A P 39 Dewasa 19 BAIK 0 NORMAL
60 Tn. N L 35 Dewasa 17 BAIK 3 NORMAL
61 Ny. M P 25 Remaja 14 CUKUP 12 SEDANG
62 Tn. I L 59 Lansia 18 BAIK 1 NORMAL
63 Tn. M L 18 Remaja 16 BAIK 0 NORMAL
64 Ny. M P 51 Lansia 13 CUKUP 6 NORMAL
65 Ny. E P 62 Lansia 15 CUKUP 7 NORMAL
66 Ny. P P 21 Remaja 15 CUKUP 9 RINGAN
67 Ny. P P 30 Dewasa 14 CUKUP 14 SEDANG
68 Ny. T P 31 Dewasa 14 CUKUP 13 SEDANG
69 Ny. Y P 20 Remaja 13 CUKUP 7 NORMAL
70 Tn. A L 42 Dewasa 17 BAIK 6 NORMAL
71 Tn. Z L 27 Dewasa 17 BAIK 6 NORMAL
72 Tn. A L 59 Lansia 12 CUKUP 9 RINGAN
73 Ny. F P 25 Remaja 17 BAIK 6 NORMAL
74 Tn. A L 32 Dewasa 16 BAIK 9 RINGAN
75 Ny. E P 45 Dewasa 16 BAIK 5 NORMAL
76 Ny. R P 33 Dewasa 10 KURANG 10 SEDANG
77 Ny. A P 26 Dewasa 12 CUKUP 3 NORMAL
78 Tn. M L 61 Lansia 15 CUKUP 5 NORMAL
79 Tn. S L 47 Lansia 12 CUKUP 4 NORMAL
80 Tn. M L 16 Remaja 11 KURANG 12 SEDANG
81 Ny. Y P 31 Dewasa 18 BAIK 3 NORMAL
ANALISIS DATA RESI
1. ANALISIS UNIVARIAT
Pengetahuan Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid BAIK 22 27.2 27.2 27.2
CUKUP 45 55.6 55.6 82.7
KURANG 14 17.3 17.3 100.0
Total 81 100.0 100.0
Kecemasan Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid BERAT 2 2.5 2.5 2.5
NORMAL 43 53.1 53.1 55.6
RINGAN 10 12.3 12.3 67.9
SEDANG 26 32.1 32.1 100.0
Total 81 100.0 100.0
Jenis Kelamin Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid L 35 43.2 43.2 43.2
P 46 56.8 56.8 100.0
Total 81 100.0 100.0
Umur Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 15 1 1.2 1.2 1.2
16 3 3.7 3.7 4.9
17 4 4.9 4.9 9.9
18 4 4.9 4.9 14.8
19 1 1.2 1.2 16.0
20 1 1.2 1.2 17.3
21 2 2.5 2.5 19.8
23 3 3.7 3.7 23.5
24 1 1.2 1.2 24.7
25 5 6.2 6.2 30.9
26 4 4.9 4.9 35.8
27 5 6.2 6.2 42.0
28 1 1.2 1.2 43.2
29 3 3.7 3.7 46.9
30 1 1.2 1.2 48.1
31 3 3.7 3.7 51.9
32 1 1.2 1.2 53.1
33 1 1.2 1.2 54.3
34 2 2.5 2.5 56.8
35 4 4.9 4.9 61.7
36 1 1.2 1.2 63.0
37 1 1.2 1.2 64.2
38 1 1.2 1.2 65.4
39 1 1.2 1.2 66.7
41 3 3.7 3.7 70.4
42 3 3.7 3.7 74.1
44 1 1.2 1.2 75.3
45 2 2.5 2.5 77.8
46 1 1.2 1.2 79.0
47 2 2.5 2.5 81.5
48 2 2.5 2.5 84.0
49 1 1.2 1.2 85.2
51 2 2.5 2.5 87.7
52 1 1.2 1.2 88.9
53 1 1.2 1.2 90.1
55 1 1.2 1.2 91.4
56 1 1.2 1.2 92.6
58 1 1.2 1.2 93.8
59 2 2.5 2.5 96.3
61 1 1.2 1.2 97.5
62 1 1.2 1.2 98.8
63 1 1.2 1.2 100.0
Total 81 100.0 100.0
Kategori Usia Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Dewasa 38 46.9 46.9 46.9
Lansia 18 22.2 22.2 69.1
Remaja 25 30.9 30.9 100.0
Total 81 100.0 100.0
2. UJI NORMALITAS DATA
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
Tingkat
.149 81 .000 .958 81 .009
Pengetahuan
Tingkat
.124 81 .004 .957 81 .008
Kecemasan
a. Lilliefors Significance Correction
3. ANALISIS BIVARIAT
Correlations
Rank of Rank of
TINGKAT TINGKAT
PENGETAHUAN KECEMASAN
Spearman's rho Rank of TINGKAT Correlation Coefficient 1.000 -.458**
PENGETAHUAN1
Sig. (2-tailed) . .000
N 81 81
Rank of TINGKAT Correlation Coefficient -.458** 1.000
KECEMASAN1
Sig. (2-tailed) .000 .
N 81 81
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
DOKUMENTASI