Anda di halaman 1dari 5

NGAJI PUISI

ANALISIS PUISI MENGGUNAKAN TEORI STRUKTURAL

Pada pertemuan kali ini kita akan mengaji Puisi dari pelbagai penyair, misalnya ada
Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer dan Wiji Thukul. Tiga penulis yang memiliki latar
belakang yang berbeda dan hasli karya yang berdeda. Namun pada esensinya mereka
sama-sama bergelut dalam realitas yang benar-benar tidak adil, maka spirit perjuangan
dalam memperkasai beberapa karya sebagai catatan kecil untuk merekam setiap perubahan
yang terjadi.

Bila kita baca perkembangan sastra Indonesia. Chairil Anwar adalah penyair Angkatan
'45 yang terkenal dengan puisinya berjudul "Aku". Berkat puisinya itu, ia memiliki julukan 'Si
Binatang Jalang'. Chairil banyak menelurkan puisi-puisi yang mayoritas bertemakan kematian,
individualisme, dan ekstensialisme. Karya-karya Chairil dikompilasikan dalam tiga buku, yaitu
Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga
Menguak Takdir yang merupakan kumpulan puisi bersama Asrul Sani dan Rivai Apin (1950),
serta diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Jerman, dan Spanyol. nesia, bahwa Chairil
Anwar termasuk bagian dari penyair angkatan 45

Beda dengan Pramoedya Aananta Toer seorang pegiat Lembaga Kebudayaan


Masyarakat (Lekra) sekaligus novelis yang kerap sekali mendapatrkan penghargaan Nobel
Sastra beberapa periodesasi ruamg apresiasi kesusastraan Nasional dan Internasional. Dan
tidak asing lagi, ketika mendengarkan bahwa beberapa karya Novel diangkat sebagai Film,
misal ada Perburuan dan Bumi Manusia yang disutradarai oleh Hanung. Namun kita tidak
akan membahas terkait film, lebih pada keperpihakan fdan sikap penulis dalam meraksi
situasi dan kondisi sosial. Jadi Pram merekam segala kejadian pada masa keajayaan
kolonialisme hindia dan belanda masih subur di Indonesia, selebihnya di Jawa itu sendiri,
bahwa perbudakan dan hukum etnis bagi masyarakat pribumi (indonesia).

1. Struktur Bathin
a. Tema
Herman J. Waluyo (1987:106) mengatakan “Tema merupakan pokok atau subject-
matter yang dikemukakan oleh penyair”. Ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa tema
merupakan sebuah atmosfer dari sebuah puisi, sebuah puisi pasti memiliki sebuah tema
(umumnya satu) yang melingkupi keseluruhan puisi. Oleh sebab itu dalam menafsirkan tema
dalam puisi, puisi tersebut harus ditafsirkan secara utuh.
Tema di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar yaitu tema sosial, karena
menceritakan kehidupan sosial penyair yang kemugkinan besar berusaha sabar dalam
menghadapi orang lain.

b. Perasaan (Feeling)
Herman J. Waluyo (1987:121) bahwa perasaan adalah “ suasana perasaan penyair
yang ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca”. Di dalam puisi ‘Kesabaran’
karya Chairil Anwar perasaannya yaitu penyair yang berusaha sabar dalam menghadapi
hidup, ia tidak memperdulikan apapun yang orang katakan tentang dirinya. Ia lebih baik diam
dan tidak berkomentar.
c. Nada dan Suasana
Nada adalah sikap penyair dalam menyampaikan puisi terhadap pembaca, beraneka
ragam sikap yang sering digunakan oleh penyair, seperti yang dikemukakan oleh Herman J.
Waluyo (1987:125) “…apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, menyindir, atau
bersikap lugas…”. Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu, atau
akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca.
Nada di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar Penulis berpendapat bahwa
puisi tersebut bernada lugas, sebab penyair begitu lugas dalam mengemukakan bagaimana
pengalamannya dalam bersabar. Puisi yang berjudul ‘Kesabaran’ mencerminkan bagaimana
kelugasan penyair dalam mengemukakan pengalamannya, tidak bersikap menggurui. Hal ini
disebabkan bahwa kesabaran adalah sesuatu yang sangat sakral, ada di dalam setiap diri
manusia.
Suasana di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar memberikan suasana pada
pembaca, bahwa perasaan penyair sangat kuat dan ia tidak memikirkan apapun yang
membuat ia sakit hati, ia akan bersabar dan tidak akan banyak berkomentar. Hal ini penulis
rasakan setelah membaca puisi tersebut, memberikan kesadaran bahwa apabila kita
menghadapi masalah harus bersikap sabar dan yakin bahwa cobaan itu akan berlalu seiring
berjalannya waktu.

d. Amanat
Setelah memahami tentang tema, nada,dan perasaan yang terdapat dalam puisi
tersebut, penulis menyimpulkan bahwa pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam
puisinya adalah tentang kesabaran, penyair ingin mengamanatkan bahwa kita harus bersabar
dalam menghadapi masalah, sebab masalah pasti akan selalu datang. Maka dari itu, kita harus
bersabar dan yakin bahwa suatu saat cobaan itu akan berlalu.

Struktur Lahir (Metode Puisi)

a. Diksi (Pemilihan Kata)


Penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata sebab kata-kata yang ditulis harus
dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di
tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Oleh sebab itu,
disamping memilih kata yang tepat, penyair juga mempertimbangkan urutan katanya dan
kekuatan atau daya magis dari kata-kata tersebut. Kata-kata diberi makna baru dan yang tidak
bermakna diberi makna menurut kehendak penyair. Karena begitu pentingnya kata-kata
dalam puisi, maka bunyi kata juga dipertimbangkan secara cermat dalam pemilihannya.
Karena pemilihan kata-kata mempertimbangkan berbagai aspek estetis, maka kata-kata yang
sudah dipilih oleh penyair untuk puisinya bersifat absolut dan tidak bisa diganti dengan padan
katanya, sekalipun maknanya tidak berbeda. Bahkan sekalipun unsur bunyinya hampir mirip
dan maknanya sama, kata yang sudah dipilih itu tidak dapat diganti. Jika kata itu diganti akan
mengganggu komposisi dengan kata lainnya dalam konstruksi keseluruhan puisi itu. Di
dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar diksi atau pemilihan kata menggunakan kata-
kata yang mudah dimengerti oleh pembaca meskipun dalam struktur kata tidak beraturan dan
kurang sesuai dengan struktur kata pada umumnya. Misalnya: kata ‘nggonggong’ dalam
struktur kata pada umumnya bukan ‘nggonggong’ tetapi ‘menggonggong’, namun penyair
lebih memilih kata ‘nggonggong’ sebagai kata yang memiliki unsur orisinalitas atau private
symbol sehingga menghasilkan poetic power.
b. Pengimajian
Ada hubungan erat antara diksi, pengimajian, dan kata kongkret. Diksi yang dipilih
harus menghasilkan pengimajian oleh karena itu kata-kata menjadi lebih kongkret seperti kita
hayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa. Pengimajian dapat dibatasi dengan
pengertian: kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris,
seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Baris atau bait puisi itu seolah mengandung
gema suara (imaji auditif), benda yang nampak (imaji visual), atau sesuatu yang bisa kita
rasakan, raba, atau sentuh (imaji taktil).
Pengimajian di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar yaitu sebagai berikut:
- Aku tak bisa tidur (imaji taktil)
- Orang ngomong, anjing nggonggong (imaji auditif)
- Dunia jauh mengabur (imaji taktil)
- Kelam mendiding batu (imaji taktil)
- Dihantam suara bertalu-talu (imaji auditif)
- Di sebelahnya api dan abu (imaji visual)
- Aku hendak bicara (imaji taktil)
- Suaraku hilang, tenagaku terbang (imaji taktil)
- Sudah! tidak jadi apa-apa! (imaji taktil)
- Ini dunia enggan disapa, ambil perduli (imaji taktil)
- Keras membeku air kali (imaji visual)
- Dan hidup bukan hidup lagi (imaji taktil)
- Kuulangi yang dulu kembali (imaji taktil)
- Sambil bertutup telinga, berpicing mata (imaji visual)
- Menunggu reda yang mesti tiba (imaji taktil)
c. Kata Kongkret
Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka kata-kata harus
diperkongkret, maksudnya ialah bahwa kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang
menyeluruh. Seperti halnya pengimajian, kata yang diperkongkret ini juga erat hubungannya
dengan penggunaan kiasan dan lambang. Jika penyair mahir memperkongkret kata-kata,
maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang dilukiskan oleh
penyair. Dengan demikian pembaca terlibat penuh secara bathin kedalam puisinya. Jika imaji
pembaca merupakan akibat dari pengimajian yang diciptakan penyair, maka kata kongkret ini
merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian itu. Dengan kata yang diperkongkret,
pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh
penyair.
Di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar kata kongkret yang dipilih untuk
melukiskan ia berusaha sabar dan mengabaikan orang-orang yang menggunjingnya atau
membicarakannya ia menggunakan kata ‘Aku tak bisa tidur/Orang ngomong, anjing
nggonggong/Dunia jauh mengabur/Kelam mendinding batu/Dihantam suara bertalu-talu/Di
sebelahnya api dan abu’, kata kongkret yang dipilih untuk melukiskan ia berusaha berbicara
namun ia tidak dapat berbicara dan akhirnya berusaha untuk tidak perduli ia menggunakan
kata ‘Aku hendak bicara/Suaraku hilang, tenaga terbang/Sudah! tidak jadi apa-apa!/Ini
dunia enggan disapa, ambil perduli’, kata kongkret yang dipilih untuk melukiskan ia sudah
tahan dan kuat untuk menjalani hidup ia menggunakan kata ‘Keras membeku air kali/Dan
hidup bukan hidup lagi’, kata kongkret yang dipilih untuk melukiskan bahwa ia akan terus
bersabar dan yakin bahwa suatu saat nanti cobaan itu akan berlalu seiring berjalannya waktu
ia menggunakan kata ‘Kuulangi yang dulu kembali/Sambil bertutup telinga, berpicing
mata/Menunggu reda yang mesti tiba’.
d. Bahasa Figuratif (Majas)
Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut
bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan
banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair
untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung
mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.
Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan
penyair karena:
1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif,
2) bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang
abstrak menjadi kongkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca,
3) bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan
menyampaikan sikap penyair,
4) bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan
cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat (Perrine,
1974:616-617).
Di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar menggunakan majas hiperbola
yakni kiasan yang berlebih-lebihan. Misalnya dalam kata ‘Dunia jauh mengabur’, ‘Kelam
mendinding batu’, ‘Suaraku hilang, tenaga terbang’, ‘Keras membeku air kali’, ‘Dan hidup
bukan hidup lagi’. Selain itu puisi tersebut juga menggunakan majas personifikasi seperti
dalam kata ‘Ini dunia enggan disapa, ambil perduli’.
e. Rima dan Ritma
Bunyi di dalam puisi menghasilkan rima dan ritma. Rima adalah pengulangan bunyi
di dalam puisi. Dalam ritma pemotongan-pemotongan baris menjadi frasa yang berulang-
ulang, merupakan unsur yang memperindah puisi itu.
1. Rima
Pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi.
Dengan pengulangan bunyi itu puisi menjadi merdu jika dibaca. Untuk mengulang bunyi ini
penyair juga mempertimbangkan lambang bunyi. Dengan cara ini pemilihan bunyi-bunyi
mendukung perasaan dan suasana puisi.
Rima di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar adalah sebagai berikut:
Aku tak bisa tidur (pengulangan bunyi fonem /a/ dan /i/)
Orang ngomong, anjing nggonggong (pengulangan bunyi fonem /o/ dan /ng/)
Dunia jauh mengabur (pengulangan bunyi fonem /u/)
Kelam mendinding batu (pengulangan bunyi fonem /e/ dan /m/)
Dihantam suara bertalu-talu (pengulangan bunyi fonem /a/)
Di sebelahnya api dan abu (pengulangan bunyi fonem /a/)

Aku hendak bicara (pengulangan bunyi fonem /a/)


Suaraku hilang, tenaga terbang (pengulangan bunyi fonem /a/ dan /ng/)
Sudah! tidak jadi apa-apa! (pengulangan bunyi fonem /a/)
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli (pengulangan bunyi fonem /i/ dan /a/)

Keras membeku air kali (pengulangan bunyi fonem /k/, /e/, dan /a/)
Dan hidup bukan hidup lagi (pengulangan bunyi fonem /a/, /i/ dan kata ‘hidup’)

Kuulangi yang dulu kembali (pengulangan bunyi fonem /u/ dan /a/)
Sambil bertutup telinga, berpicing mata (pengulangan bunyi fonem /a/,/i/ dan /u/)
Menunggu reda yang mesti tiba (pengulangan bunyi fonem /e/ dan /a/)
2. Ritma
Ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan dengan
pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritma dapat dikatakan sebagai irama namun
berbeda dengan metrum (matra). Dalam puisi karya-karya Chairil Anwar, irama sudah
diciptakan secara kreatif artinya tidak hanya berupa pemotongan baris-baris puisi menjadi
dua frasa, namun dapat berupa pengulangan kata-kata tertentu untuk mengikat beberapa baris
puisi.
Ritma di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar adalah kata ‘aku’ yang
merupakan pengikat beberapa baris, sehingga baris-baris itu seolah bergelombang
menimbulkan ritma.

Aku tak bisa tidur


Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak bicara


Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali


Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali


Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba

...

Anda mungkin juga menyukai