Anda di halaman 1dari 82

Contoh Sederhana Sebuah Analisis Puisi

6
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sudah sepatutnya kita menyadari bahwa sebuah karya sastra adalah

sesuatu yang sangat kaya dengan makna. Karya tersebut harus dapat dipahami agar dapat diketahui makna yang terkandung

di dalamnya.

Selain itu, kita dihadapkan pada sebuah tantangan bahwa kita akan menjadi seorang pengajar yang diruntut untuk

mempunyai kompetensi untuk mengajarkan sastra, yang salah satunya adalah pemahaman terhadap genre sastra puisi. Oleh

sebab itu, maka kita harus senantiasa dapat memahami bagaimana cara atau metode dalam memaknai sebuah karya sastra

yang dalam hal ini adalah puisi.

B. Rumusan Masalah

Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah yang penulis susun adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana cara memahami sebuah puisi?

2. Apa makna yang terkandung dari contoh puisi dalam makalah?

C. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai setelah penyusunan makalah adalah:

1. Memberikan gambaran tentang bagaimana cara memahami sebuah puisi.

2. Memberikan makna atau tafsiran terhadap beberapa contoh puisi yang terdapat dalam makalah.

D. Kegunaan
Makalah ini diharapkan menjadi sebuah gambaran tentang cara atau langkah yang harus ditempuh oleh seorang apresiator

dalam memaknai sebuah puisi, lebih khusus tentang hakikat puisi.

E. Prosedur

Disusun dengan menggunakan metode studi pustaka atau menelaah berbagi buku.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Landasan Teoretis

Memahami sebuah puisi ternyata bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan bahwa puisi merupakan sebuah karya yang

multi interpretatif, sehingga memungkinkan makna yang lebih dari satu tergantung dari sudut mana apresiator

menerjemahkan puisi tersebut.

Kemultiinterpretatifan puisi merangsang para ahli sastra untuk memberikan kemudahan dalam memahami sebuah puisi,

seperti yang dilakukan oleh Prof. Dr. Mursal Esten dalam bukunya yang berjudul Memahami Puisi.

Beliau memberikan sepuluh petunjuk dalam memahami puisi. Kesepuluh langkah tersebut adalah:

1. Perhatikanlah judulnya

2. Lihat kata-kata yang dominan

3. Selami makna konotatif

4. Makna yang lebih benar adalah makna yang sesuai dengan struktur bahasa.

5. Untuk menangkap maksud sebuah puisi, prosakanlah atau parafrasekan puisi tersebut.
6. Usut siapa yang dimaksud kata ganti yang terdapat dalam puisi tersebut.

7. Temukan pertalian antara semua unsure dalam puisi

8. Mencari makna yang tersembunyi

9. Memperhatikan corak sebuah sajak

10. Harus dapat menunjukan bait mana, atau larik mana yang menjadi sumber tafsiran tersebut.

Memahmi Puisi karya Mursal Esten (1995:31-56)

Ternyata, dalam memahami puisi tidak hanya dapat dilakukan dengan meninjau unsur fisiknya saja, melainka ada unsur lain

yang tidak kalah pentingnya untuk dipahami.

Herman J. Waluyo dalam bukunya Teori dan Apresiasi Puisi mengistilahkan unsur batin puisi denagan istilah hakikat puisi.

Ada empat unsur hakikat puisi, yakni:

1. Tema

Herman J. Waluyo (1987:106) mengatakan Tema merupakan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair.

Ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa tema merupakan sebuah atmosfer dari sebuah puisi, sebuah puisi pasti memiliki

sebuah tema (umumnya satu) yang melingkupi keseluruhan puisi. Oleh sebab itu dalam menafsirkan tema dalam puisi, puisi

tersebut harus ditafsirkan secara utuh.

2. Perasaan (Feeling)

Perasaan ini adalah keadaan jiwa penyair ketika menciptakan puisi tersebut. Pendapat penulis ini didukung oleh pernyataan

yang dikemukakan oleh Herman J. Waluyo (1987:121) bahwa perasaan adalah suasana perasaan penyair yang ikut

diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca.

3. Nada dan Suasana


Nada adalah sikap penyair dalam menyampaikan puisi terhadapa pembaca, beraneka ragam sikap yang sering digunakan

oleah penyair, seperti yang dikemukakakn oleh Herman J. Waluyo (1987:125) apakah dia ingin bersikap menggurui,

menasihati, menyindir, atau bersikap lugas.

Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut.

4. Pesan (Amanat)

Herman J. Waluyo (1987:130) menyatakan bahwa Pesan adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan atau

pesan atau tujuan yang hendak disampaikan penyair.

Meninjau pernyataan beliau, pesan merupakan inti dari sebuah puisi yang merupakan gagasan subjektif penyair terhadapa

sesuatu.

B. Pembahasan

Berikut adalah beberapa puisi yang telah coba penulis tentukan makna di balik hakikat puisi tersebut.

Hendri Rosevelt

Sesuatu yang Datang dan Pergi

Biarkan lilin ini tetap menyala, katamu

dengan wajah yang tak seluruhnya terbaca

dibalut malam yang tua. Dan jam dinding

yang mengantarkan gigil suara

seperti memberikan nyawa setiap benda.


Kemudian pada sebuah jendela

kau ingat-ingat lagi seluruh peristiwa

malam yang sama, hujan belum juga reda

telah menghapus setiap jejak di jalan kecil itu

namun tidak untuk sesuatu yang kau tunggu.

Sesuatu yang selalu datang

dan memburumu dalam dekap

sebelum kembali pergi menuntaskan sepi.

Dan kau tidak bisa berbuat apa

lantaran mengerti harus ada yang diselesaikan

dari kesedihan.

Bandar Lampung, 2003

A. Tema

Hal pertama yang harus dilakukan untuk menentukan hakikat dari sebuah puisi adalah menentukan tema yang terkandung

dalam sebuah puisi. Herman J. Waluyo (Teori dan Apresiasi Puisi,106) mengatkan bahwa: Tema merupakan gagasan

pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair.

Dalam menentukan tema dari sebuah puisi, seorang apresiator harus menghubungkan antara puisi dengan penyairnya, sebab

puisi bersifat khusus (subjektif), tetapi puisi juga bersifat obyektif bagi semua penafsir, sebab jika puisi telah diterbitkan atau
telah di publikasikan, maka puisi tersebut mutlak milik pembaca, yang tentunya tetap harus memperhatikan kaidah

pemaknaan sebuah puisi.

Puisi yang berjudul Sesuatu yang Datang dan Pergi memiliki tema religius. Penulis menafsirkan demikian sebab puisi

tersebut melambangkan pengalaman batin penyair terhadap kematian. Hal tersebut terlihat dari judul puisinya Sesuatu yang

Datang dan Pergi. Menurut pendapat penulis, yang dimaksud oleh sesuatu di sana adalah kematian. Hal tersebut seiring

dengan cara memahami puisi yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Mursal Esten (1995:32) Perhatikanlah judulnya. Judul

adalah sebuah lubang kunci untuk keseluruhan makna puisi.

Dalam puisi tersebut terlihat bagaimana kepasrahan tokoh dalam puisi terhadap kematian. Tokoh begitu menyadari bahwa

kematian adalah sesuatu yang pasti datang, sebab sudah merupakan takdir-Nya.

Sesuatu yang selalu datang

dan memburumu dalam dekap

sebelum kembali pergi menuntaskan sepi.

Dan kau tidak bisa berbuat apa

lantaran mengerti harus ada yang diselesaikan

dari kesedihan.

Bait di atas menggambarkan bahwa kematian akan selalu datang, memburu. Kesadaran tokoh yang dilukiskan pengarang

terlihat dalam Dan kau tidak bisa berbuat apa lantaran mengerti harus ada yang diselesaikan dari kesedihan larik tersebut

menggambarkan kepasrahan, bahwa kita tidak akan mampu berbuat apa-apa jika dihadapkan pada kematian, dan tokoh

dalam cerita begitu mengerti bahwa hidup memang harus ada penyelesaian.

Dengan demikian maka jelas bahwa tema yang terkandung dalam puisi di atas adalah tema religius.

B. Perasaan (Feeling)
Perasaan dalam sebuah puisi adalah suatu ekspresi dari perasaan penyair yang dituangkan dalam puisi tersebut. Perasaan

setiap penyair tentunya berbeda, hal inilah yang membedakan sikap penyair yang satu dengan penyair yang lain walaupun

terhadap sesuatu hal yang sama.

Penulis berpendapat bahwa perasaan kereligiusan penyair menjadi hal utama yang melandasi terciptanya puisi tersebut.

Sikap pasrah penyair terhadap takdir-Nya, dan kesadaran penyair tentang kematian.

Biarkan lilin ini tetap menyala, katamu

dengan wajah yang tak seluruhnya terbaca

dibalut malam yang tua. Dan jam dinding

yang mengantarkan gigil suara

seperti memberikan nyawa setiap benda.

Bait di atas menggambarkan kesunyian yang dirasakan penyair ketika kematian akan datang, bahkan penyair beranggapan

bahwa kematian adalah sebuah kesunyian. Kesunyian ini dilambangkan penyair dengan sebuah metafor Dan jam dinding

yang mengantarkan gigil suara seperti memberikan nyawa setiap benda metafor tersebut penulis artikan sebagai waktu yang

begitu sunyi sampai detak jam dinding pun terdengar begitu jelas.

Dengan demikian maka penulis menyimpulkan bahwa perasaan yang dirasakan penyair dalam puisinya adalah perasaan

pasrah menghadapi sebuah kematian.

C. Nada dan Suasana

Herman J. Waluyo (Teori dan Apresiasi Puisi,125) Sikap penyair terhadap pembaca ini disebut nada puisi. Setiap puisi

memiliki nada-nada tertentu, nada ini adalah cara penyair menyampaikan hal dalam puisinya.

Penulis berpendapat bahwa puisi tersebut bernada lugas, sebab penyair begitu lugas dalam mengemukakan bagaimana

pengalaman religiusnya terhadap pembaca. Puisi yang berjudul Sesuatu yang Datang dan Pergi mencerminkan bagaimana
kelugasan penyair dalam mengemukakan pengalamannya, tidak bersikap menggurui. Hal ini disebabkan bahwa kematian

adalah sesuatu yang sangat sakral, tidak ada yang mampu meramalkan sebuah kematian.

Suasana adalah perasaan yang dirasakan pembaca setelah membaca sebuah puisi. Seperti yang dikemukakan oleh Herman J.

Waluyo (Teori dan Apresiasi Puisi:125) Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat

psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Puisi yang berjudul Sesuatu yang Datang dan Pergi memberikan

kesadaran pada pembaca, bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Hal ini penulis rasakan setelah membaca

puisi tersebut, penulis menyadari bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, sebab walau bagaimanapun kematian

akan tetap datang, sebab kematian merupakan sebuah kepastian.

D. Amanat (Pesan)

Setelah memahami tentang tema, nada,dan perasaan yang terdapat dalam puisi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa pesan

yang ingin disampaikan pengarang dalam puisinya adalah tentang kematian, pengarang ingin mengamanatkan bahwa kta

tidak perlu takut menghadapai kematian, sebab kematian pasti akan selalu datang, yang harus kita persiapkan agar kematian

tidak menjadi sesuatu yang menakutkan adalah kehidupan yang tetap di Jalan-Nya.

Tengsoe Tjahjono

Samudera

Diri manusia adalah samudra

dalam dan luas

malaekat dan setan membunyikan

genderang perang

berkejaran di atas ombak-ombak

terpental kepantai lantas


menggapai langit

dengan jemari dan kuku-kukunya

satu kalah

satu menang

A. Tema

Tema yang terkandung dalam puisi yang berjudul Samudra ini adalah tema kemanusiaan. Penulis berpendapat bahwa yang

diceritakan penyair dalam puisi tersebut adalah tentang luasnya jiwa manusia yang disimbolkan oleh samudra, diri manusia

adalah samudra dalam dan luas tetapi walau demikian jiwa manusia yang luas tersebut tidak luput dari godaan setan

malaikat dan setan membunyikan gendering perang, hal ini adalah sebuah kode aksian tentang bagai mana gejolak yang

terjadi dalam jiwa manusia, konflik batin yang ditimbulkan oleh bisikan setan dan malakat. Terkadang jiwa manusia menang

sebab bisikan malaikat lebih kuat jika dibandingkan dengan bisikan setan tetapi terkadang sebaliknya.

berkejaran di atas ombak-ombak

terpental kepantai lantas

menggapai langit

dengan jemari dan kuku-kukunya

satu kalah

satu menang

B. Perasaan (feeling)
Puisi ini menggambarkan pemahaman penyair terhadap situasi jiwa manusia, pandangan penyair terhadap bisikan-bisikan

hati manusia yang mempengaruhi prilaku manusia. Penyair memahami bagaimana setan dan malaikat mempengaruhi jiwa

manusia. Malaikat mempengaruhi manusia agar selalu ada di jalan-Nya, sedangkan setan menjerumuskan manusia agar

ingkar terhadap firman-Nya. Kadang jiwa manusia mampu mengusir segala bisikan setan yang dapat menjerumuskannya

tetapi terkadang manusia malah mengikuti hawa nafsunya, ketika itulah setan merasa menang.

C. Nada dan Suasana

Nada yang terlihat dalam puisi di atas adalah bahwa penyair berlaku sebagai seorang teman pembaca yang bercerita tentang

keadaan jiwanya atau jiwa pembaca, bahkan seluruh jiwa umat manusia. Penyair tidak berlaku sebagai seorang guru, bahkan

penyair seolah tidak leluasa dalam membagi pengalamannya. Hal terlihat dalam: satu kalahsatu menang, penulis

berpendapat bahwa penyair sebenarnya ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya manusia lebih sering menuruti kehendak

setan dari pada kehendak malaikat.

Suasana yang ditimbulkan setelah membaca puisi tersebut adalah bahwa kita harus mengetahui bahwa dalam menjalani

kehidupan tidaklah semudah yang sering kita bayangkan. Pembaca seharusnya menyadari bahwa dalam mengarungi

kehidupan

D. Pesan (Amanat)

Pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisi tersebut adalah bahwa dalam diri manusia terdapat jiwa yang teramat luas

sehingga diperlukan kontrol. Sejak jaman Adam sampai saat ini setan selalu datang membisikan ke dalam dada manusia agar

ingkar dari jalan-Nya, oleh sebab itu, manusia memerlukan kendali untuk melawan bisikan tersebut.

satu kalah

satu menang

Potongan bait ini menjelaskan keadaan jiwa manusia, kadangkala manusia mampu melawan bisikan setan tersebut, dan

terkadang pula sebaliknya, manusia terjerumus oleh bisikan setan. Sekali lagi manusia memerlukan sebuah benteng untuk

melawan bisikan setan tersebut. Satu-satunya jalan untuk melawan bisikan setan adalah dengan memegang erat ajaran

agama.
Inggit Putria Marga

Firman

Ada yang menitik,

Sembunyi

Pada celah batu

Ada yang mengalir

Ada yang beku

Bandar Lampung,2001

A. Tema

Seperti halnya puisi karya Hendri Rosevelt Sesuatu yang Datang dan Pergi puisi karya Inggit yang berjudul Firman pun

bertema religius, bahkan dalam judulnya pun sudah begitu jelas bahwa puisi ini bercerita tentang Firman Tuhan. Kata

Firman merupakan sebuah kata yang biasa dipakai dalam suasana kereligiusan.

Penyair mempunyai sebuah kesimpulan bahwa semua yang ada di dunia ini adalah firman-Nya.

Ada yang menitik,

Sembunyi

Pada celah batu

Ada yang mengalir


Ada yang beku

Penyair menyadari bahwa sekecil apapun yang ada di dunia ini merupakan firman-Nya. Hal ini dikemukakan penyair dengan

menggunakan sebuah majas perbandingan (personifikasi) Ada yang menitik, sembunyi pada celah batu ada yang mengalir

ada yang beku. Penulis memakna bahwa yang menitik, yang sembunyi, yang mengalir, dan yang beku adalah firman,

sesuatu yang abstrak tetapi diserupakan dengan prilaku manusia, sehingga majas tersebut termasuk pada majas personifikasi.

B. Perasaan (Feeling)

Puisi di atas merupakan sebuah hasil perenungan penyair terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini, sehingga terciptalah

puisi religius ini. Perasaan penyair yang diekspresikan dalam puisi ini adalah perasaan sadar bahwa betapa kuasanya Tuhan,

sehingga selalu memberikan firmannya dalam segala bentuk, untuk menjadi sebuah bahan tafakur umat manusia, bukan

hanya untuk dieksploitasi dengan semena-mena.

Sebagai mahluk Tuhan kita harus memikirkan ciptaan-Nya, untuk menjadi sebuah pengetahuan yang akan beguna dalam

kehidupan, sebab mahluk Tuhan akan memberikan pengetahuan pada setiap orang yang mau mempelajarinya dengan

saksama.

C. Nada dan Suasana

Nada penyair dalam menyampaikan isi dari puisinya, adalah dengan mengekspresikan hasil pemikirannya tehadap segala

sesuatu yang ada di dunia ini, penyair menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah firman.

Dalam mengemukakan hal itu, pengarang sama sekali tidak bermaksud menggurui pembaca, pengarang hanya

mengemukakan hasil pemikirannya pada pembaca dengan lugas dan apa adanya sesuai dengan hasil pemikirannya tersebut.

Suasana yang ditimbulkan setelah penulis membaca karya tersebut adalah suasana kesadaran dan penyesalan, mengapa

demikian? Sebab penulis merasa menyesal mengapa penulis tidak berpikir sejauh itu, tidak berusaha memahami semua

ciptaan-Nya sebagi sebuah firman yang harus menjadi sebuah bahan pemikiran.

D. Pesan (Amanat)
Pesan yang ingin penyair sampaikan dalam puisi tersebut adalah bahwa kita sebagi mahluk Tuhan seharusnya menafakuri

semua ciptaannya sebagai sebuah sebuah firman yang dapat memberikan pengetahuan pada kita.

Pada umumnya manusia hanya memikirkan bagaimana agar bumi ini memberikan keuntungan sebesar-besarnya pada dirinya

tanpa memikirkan akibatnya, hal inilah yang menjadi hal yang dapat memberikan kehancuran pada alam semesta ciptaan-

Nya.

Apip Mustopa

Tuhan Telah Menegurmu

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran

lewat gempa bumi yang berguncang

deru angin yang meraung-raung kencang

hujan dan banjir yang melintang pukang

adakah kau dengar?

A. Tema
Tema yang terkandung dalam puisi yang berjudul Tuhan Telah Menegurmu adalah tema ketuhanan. Penulis

menyimpulkan demikian sebab puisi tersebut menceritakan tentang bagaimana Tuhan memberikan peringatan pada manusia

dengan gejala alam yang termasuk kecil (hanya berupa kiamat kecil), puisi tersebut menggambarkan bagaimana Tuhan

adalah Maha Penyabar, tidak langsung memberikan akhir dunia pada manusia.

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran

lewat gempa bumi yang berguncang

deru angin yang meraung-raung kencang

hujan dan banjir yang melintang pukang

Dalam puisi tersebut tergambar bagaimana Tuhan begitu sabar memberikan peringatan pada umat manusia, Tuhan

memberikan sebuah gambaran tentang kehidupan untuk menjadi sebuah pembelajaran pada kita untuk berbagi dengan

sesama. lewat perut anak-anak yang kelaparan. Sebagai manusia ciptaan Tuhan seharusnya kita selalu mengingatnya

lewat semayup suara azan serta Tuhan juga memberikan gambaran bagaimana akibat dari ulah manusia jika

mengeksploitasi alam secara semena-mena lewat gempa bumi yang berguncang deru angin yang meraung raung kencang

hujan dan banjir yang melintang pukang.

Dengan demikian maka jelas bahwa tema yang terkandung dalam puisi tersebuat adalah ketuhanan.

B. Perasaan (Feeling)
Yang tergambar dalam puisi di atas adalah perasaan getir pengarang terhadap kehidupan umat manusia yang seolah tidak

peduli dengan peringtan-peringatan yang telah dengan cukup sabar diberikan Tuhan. Pengarang memberikan sebuah

ironisme atau sindiran pada manusia tentang kejadian yang terjadi di sekeliling manusia tetapi tidak juga menyadarkan

mereka. Bahkan penulis mengindikasikan adanya rasa kesal pengarang terhadap prilaku manusia tersebut, manusia seakan

tidak peduli dengan kejadian yang terjadi di lingkungannya. Hal ini terlihat dalam bait terakhir dari puisi tersebut yang hanya

satu larik. adakah kau dengar? hal ini merupakan ungkapan kekesalan penyair tentang prilaku manusia.

C. Nada dan Suasana

Nada pengarang dalam menyampaikan puisinya adalah menggurui, hal ini sebagai ungkapan pengarang dalam

mengekspresikan kekesalannya terhadap sikap manusia yang tak acuh terhadap kejadian yang terjadi di lingkungannya, pada

pengemis-pengemis yang sering kelaparan, pada bencana alam, dan akibat dari ulah manusia yang merusak alam.

Penyair sebenarnya tidak ingin menggurui pembaca, tetapi karena terdorong oleh perasaan kecewa tersebut maka penyair

melakuka hal itu. Hal ini terlihat dalam bait terakhir puisi tersebut, yang berbunyi: Adakah kau dengar?. Hal ini terdorong

oleh kekesalan penyair terhadap manusia yang seolah tuli dengan kejadian yang seharusnya menjadi tanggung jawab

bersama.

Suasana yang ditimbulkan setelah membaca puisi tersebut adalah kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi haruslah

menjadi sebuah bahan pemikiran kita, seperti anak yang kelaparan, bencana alam dan lain-lain. Sebab tidak mustahil semua

kejadian tersebut akibat ulah kita. Bahkan saya salaku pembaca merasa malu dan tersindir oleh apa yang dikemukakan

penyair dalam puisinya, selama ini kita seolah membutakan mata sendiri ketika melihat anak yang kelaparan, kita seolah

menulikan telinga sendiri ketika mendengar bencana alam, bahkan kita enggan mengingat-Nya ketika terdengar semayup

suara azan.

D. Pesan (Amanat)

Hal yang ingin disampaikan penyair dalam puisi ini adalah bahwa kita sebagai umat manusia harus lebih peka dengan

kejadian yang terjadi di lingkungan kita, kita harus menyadari bahwa Tuhan telah begitu sabar memberikan peringatan pada

kita, penyair juga ingin memberikan sebuah kenyataan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita untuk menjadi tanggung

jawab bersama.
Puisi ini juga memberikan sebuah solusi bagaimana cara kita agar lebih peka terhadap lingkungan kita, yaitu dengan jalan

selalu mengingat tuhan yang disiratkan oleh semayup suara azan.

Dian Jaka Sudrajat

Menunggu

Waktu hanya menjadi sebuah penantian

Bagi kita. Berabad-abad

Menunggu jemputan takdir yang Kuasa

Untuk sebuah pertemuan

Pertemuan antara hatimu dan hatiku

Dalam cahaya kebahagiaan cinta

2001

A. Tema

Puisi yang berjudul Sesuatu yang Menunggu memiliki tema religius. Penulis menafsirkan demikian sebab puisi tersebut

melambangkan pengalaman penyair terhadap sesuatu yang dinamakan waktu. Hal tersebut terlihat dari judul puisinya

Menunggu. Menunggu adalah suatu perbuatan pasif yang berkaitan dengan waktu.

Pada bait kedua Menunggu jemputan takdir yang Kuasa untuk sebuah pertemuan Penulis menafsirkan bahwa kehidupan

sebenarnya adalah sebuah penantian untuk pertemuan dengan Yang Maha Kuasa, dengan kata lain, bahwa sebenarnya kita

hidup di dunia hanya persinggahan sementara, untuk menunggu sebuah kehidupan yang abadi. Dalam puisi tersebut terlihat

bagaimana kepasrahan tokoh dalam puisi terhadap kematian. Tokoh begitu menyadari bahwa kematian adalah sesuatu yang

pasti datang, sebab sudah merupakan takdir-Nya.


Dengan demikian maka jelas bahwa tema yang terkandung dalam puisi di atas adalah tema religius.

1. Perasaan (Feeling)

Perasaan yang peling tampak dalam puisi di atas adalah sebuah arus kesadaran penyair dalam mengarungi kehidupan di

dunia, bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Penyair begitu menyadari bahwa kehidupan yang sesungguhnya

adalah kehidupan setelah alam dunia ini.

Tetapi pada dua larik akhir pada bait kedua, penyair mempunyai sebuah harapan bahwa kehidupan yang abadi ada dalam

kebahagiaan.

Pertemuan antara hatimu dan hatiku

dalam kebahagiaan cahaya cinta

Yang dimaksud dengan hatimu dan hatiku pada larik tersebuat adalah pertemuan antara mahluk dengan sang pencipta.

Sedangkan yang dimaksud dengan dalam kebahagiaan cinta adalah surga, penyair menginginkan bahwa hidup nanti di

akhirat dapat rahmat dari Yang Maha Kuasa dengan surga-Nya.

1. Nada dan Suasana

Menurut pendapat penulis, nada penyair dalam menyampaikan isi puisi tersebut adalah sebagai seorang pencerita. Seorang

pencerita yang menyadari bahwa takdir manusia adalah untuk menunggu kehidupan abadi di akhirat. Manusia tidak dapat

mengelak dari kematian untuk hidup kembali di alam lain dan mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ada di alam

dunia.

Penyair ingin berbagi dan mengajak pembaca untuk selalu berharap yang terbaik untuk kehidupan abadi tersebut, yaitu

surga. Dengan ajakan tersebut, sebenarnya penyair ingin memberikan sebuah pertanyaan pada pembaca, bagaimana agar

dapat hidup bahagia di alam sana?.

Suasana yang ditimbulkan setelah membaca puisi tersebut adalah pembaca semakin menyadari bahwa kehidupan di dunia

hanyalah sementara, kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat. Termasuk saya sebagai pembaca, saya merasa harus lebih

hati-hati dalam menjalankan kehidupan ini, sebab nanti akan diminta pertangungjawaban atas semua yang telah dilakukan.
1. Amanat (Pesan)

Dalam puisi yang berjudul Menunggu penyair ingin memberikan sebuah amanat pada pembaca agar lebih hati-hati dalam

menjalankan kehidupan ini,sebab segala yang diucapkan, diniatkan, dan dilakukan ada pertanggungjawabannya. Penyair

mengingatkan pembaca bahwa manusia jangan terlena oleh kehidupan dunia.

Selama kita menunggu di dunia hendaklah diisi dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat bagi diri dan orang lain,

sehingga menjadi sebuah jaminan agar kita bahagia nanti di kehidupan abadi.

Doni Muhamad Nur

Nurani

Penyair tidak mencipta

Sajak dari ketiadaan, dari

Mimpi-mimpi kosong

Ia pendaki puncak batin;

Desah nafasnya adalah

Nyanyian kehidupan

Yang menjelma puisi

Lebih kekal dari batang

Usianya yang rapuh

Dipangkas waktu

1997-2001
A. Tema

Untuk menentukan tema dari sebuah puisi pertama-tama penulis memperhatikan judulnya terlebih dahulu. Langkah ini

seperti yang telah penulis baca dari buku karangan Mursal Esten (1995:31) yang mengatakan bahwa petunjuk pertama dalam

memahami sebuah puisi adalah dengan melihat judulnya. Puisi di atas berjudul Nurani, dengan judul yang seperti telah

penulis sebutkan tadi, maka tema yang terdapat dalam puisi di atas adalah kemanusiaan, sebab menceritakan tentang nurani

yang seyogyanya selalu ada dalam setiap hati manusia.

Meneliti lain hal dari puisi tersebut yang memperkuat pendapat penulis adalah kutipan berikut:

Penyair tidak mencipta

Sajak dari ketiadaan, dari

Mimpi-mimpi kosong

Ia pendaki puncak batin;

Desah nafasnya adalah

Nyanyian kehidupan

Dari kutipan di atas maka yang diceritakan penyair adalah tentang penyair, peyair adalah seseorang yang menciptakan

sebuah karya bukan dari sebuah kekosongan, maksudnya bahwa puisi merupakan sebuah karya sastra yang berasal dari

kehidupan manusia.

Selain itu di sana juag adi ceritakan penyair merupakan seorang pendaki puncak batin, artinya penyair adalah seseorang yang

mempunyai kepakaan batin terhadap sesuatu yang terjadi di lingkungannya (kehidupan).

Maka tema yang ada dalam puisi tersebut adalah tema kemanusiaan (sosial).

B. Perasaan
Penulis mengira bahwa perasaan yang ada pada diri pengarang pada saat membuat karya tersebut adalah memikirkan apa

dan siapakah penyair. Perasaan ini lahir dari pemikiran penyair terhadap apa yang dia rasakan ketika membuat sebuah sajak,

bahwa sajak adalah sebuah karya isi atau tidak kosong dari kehidupan yang terjadi di lingkungannya.

Selain itu, penulis berpendapat bahwa ketika itu penyair merasakan sebuah perasaan yang mendalam tentang proses

pembuatan sebuah karya. Pembuatan sebuah puisi bukanlah hal yang mudah, sebab seorang penyair harus memahami

sesuatu bukan hanya dari lahirnya saja melainkan dari batinnya juga.

Ia pendaki puncak batin;

Desah nafasnya adalah

Nyanyian kehidupan

Dengan demikian perasaan yang sebenarnnya dirasakan penyair adalah bahwa untuk menjadi seorang penyair bukanlah hal

yang mudah.

C. Nada dan Suasana

Nada adalah proses atau cara penyair menyampaikan sesuatu pada pembaca puisinya. Ada yang bersikap seperti seorang

guru dan lain-lain. Hal ini diungkapkan pula oleh seorang ahli sastra sebagai berikut:

Herman J. Waluyo (1987:125) Penyair mempunyai sikap tertentu terhadapa pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui,

menasihati, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu pada pembaca.

Menurut pendapat penulis, penyair dalam puisi di atas termasuk pada sikap yang terakhir, yaitu bersikap lugas hanya

menceritakan sesuatu pada pembaca, hanya saja kali ini penyair ingin meyakinkan bahwa seorang penyair bukanlah

seseorang yang bodoh, bahkan menurutnya penyair adalah seseorang yang mempunyai kelebihan dibandingkan orang-orang

pada umumnya.
Perasaan yang saya rasakan ketika membaca puisi ini dan memaknainya lebih jauh, saya menjadi lebih tahu tentang siapa

penyair sebenarnya, dari manakah sumber ide pembuatan sebuah puisi yang dapat dijawab pada larik terakhir bait kedua

Desah nafasnya adalah nyanyian kehidupan penulis memberikan arti bahwa puisi bersumber dari kehidupan manusia.

D. Pesan atau Amanat

Amanat atau pesan berbeda dengan tema, tema menurut pendapat penulis bersifat objektif atau tergantung pada pembaca,

tetapi amanat itu bisaanya hal yang ingin disampaikan penyair berdasarkan persepsinya sendiri.

Pesan yang terdapat dalam puisi tersebut adalah tentang rintangan yang harus dihadapi seorang penyair untuk dapat

membuat sebuah karya.

Tetapi seandainya karya tersebut sudah lahir, tidak sedikit karya yang abadi walaupun penyairnya telah wafat.

Yang menjelma puisi

Lebih kekal dari batang

Usianya yang rapuh

Dipangkas waktu

Doni Muhamad Nur

Api dan Air

Api dan air tak pernah menyatu

Tapi saling membantu

Api dan air mengapit cinta;

Membenihkan kasih sayang


Membenihkan pula luka

Dan duka di bumiNya.

1997

A. Tema

Tema yang terdapat dalam puisi di atas adalah sosial. Tetapi penulis mengalami kesulitan ketika akan menerjemahkan

temanya, sebab puisi tersebut sangat kaya dengan majas.

Majas yang terdapat dalam puisi tersebut adalah majas metafora atau perbandingan langsung. Majas ini pula adalah sebuah

terobosan baru, sebab biasanya kita mendengar bahwa air tidak akan pernah bersatu, tetapi oleh penyair justru air dan api

dapat saling membantu Api dan air tak pernah menyatu tapi saling membantu kutipan di atas penulis artikan sebagai

perbedaan yang biasanya terdapat dalam kehidupan manusia, perbedaan dimetaforkan dengan air dan api, yang dapat saling

membantu, arti kata bahwa perbedaan dapat pula dipakai menjadi sebuah alat untuk saling membantu.

Dengan demikian tema yang terdapat dalam puisi di atas adalah sosial kemanusiaan.

B. Perasaan

Menurut pendapat penulis perasaan pengarang yang tergambar dari puisi di atas adalah gambaran dari kekhawatiran penyair

tentang penyalahgunaan perbedaan pada diri manusia, seperti yang terjadi di negara kita saat ini. Perbedaan justru dijadikan

alat untuk saling menjatuhkan.

Perbedaan yang disimbolkan oleh air dan api dapat melahirkan cinta kasih dengan sesama. Bukankah Tuhan menciptakan

mahluk-Nya berpasang-pasangan?

Api dan air mengapit cinta;

Membenihkan kasih sayang


Tetapi penyair juga mewaspadai tentang akibat negative dari perbedaan itu. Perbedaa itu kadang-kadang bahkan sering

menjadi sebuah benih yang dapat menghancurkan semua hal.

C. Nada dan Suasana

Nada yang menjadi cara dalam menyampaikan inti cerita, penyair seperti menjadi guru bagi pembaca, hal ini terbukti dari

cara penyair dalam memberikan pengertian tentang kebisaaan api dan air yang menjadi simbol perbedaan tersebut, tetapi

mungkin saja hal ini sebagai akibat dari emosi penyair yang menyaksikan perbedaan yang dijadikan alat untuk saling

menjatuhkan.

Suasana yang ditimbulkan oleh puisi tersebut adalah bertambahnya rasa kasih sayang terhadap sesama, walaupun berbeda

suku, warna kulit, dan sebagainya.

Suasana ini menjadi sebuah pedoman bagi pembaca untuk hidup di lingkungan dengan membina tali persaudaraan dan saling

mengasihi, agar tercipta suasana lingkungan yang sejahtera.

D. Pesan

Pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisinya adalah bahwa perbedaan janganlah menimbulkan pertentangan dan

perbedaan janganlah dijadikan alat untuk saling merusak, sebab bukan hanya umat manusia yang akan rusak oleh perbedaan

yang tidak dipahami tetapi juga alam yang sepatutnya kita jaga akan mengalami kerusakan.

Pesan tersebut merupakan sebuah hal yang sangat kontekstual. Mengapa demikian? Sebab hal ini terjadi saat ini di negara

kita.

Moh. Wan Orlet

INDONESIA KAYA

Untuk:WR. Supratman

Indonesia telah merdeka


Putuskan rantai penjajah

Dan kini berkibar merah putih

Indonesia merdeka

Kita telah manusia

Aku telah manusia

Indonesia kaya merdeka

Kapan kita manusia

Kapan aku manusia

2000

A. Tema

Tema yang terdapat dalam puisi karya Moh. Wan Orlet ini adalah tema nasionalisme. Mengapa demikian, sebab puisi

tersebut menceritakan tentang Bangsa Indonesia yang terlepas dari penjajahan.

Pendapat penulis ini disimpulkan setelah memperhatikan kutipan berikut:

Indonesia telah merdeka

Putuskan rantai penjajah

Dan kini berkibar merah putih

Dalam kutipan di atas dikatakan bahwa Indonesia telah terlepas dari belenggu penjajahan.
Yang unik dari puisi di atas adalah bahwa puisi tersebut didedikasikan untuk Seorang tokoh nasional yang menciptakan lagu

kebangsaan Indonesia Raya, tetapi meninjau judul puisi di atas Indonesia Kaya membuat pertanyaan dalam benak saya,

apakah puisi tersebut merupakan sebuah sindiran untuk Bangsa kita?

Pendapat penulis ini hadir terangsang oleh kehadiran bait terakhir puisi tersebut:

Indonesia kaya merdeka

Kapan kita manusia

Kapan aku manusia

Di sana disebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dan telah merdeka, tetapi hal tersebut menjadi sebuah

pertanyaan kapan kita manusia, kapan aku manusia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebenarnya masyarakat kita

belum menjadi manusia seutuhnya dalam arti kita masih harus mengalami proses perbaikan.

Dengan demikian maka pendapat penulis, bahwa tema yang terkandung dalam puisi tersebut adalah nasionalisme benar

adanya.

B. Perasaan

Perasaan pengarang ketika membuat karya tersebut menurut pendapat penulis adalah perasaan ketidakpuasan penyair atas

lagu yang diciptakan WR. Supratman yang mengumumkan bahwa Indonesia telah merdeka, sebab mungkin penyair

berpendapat bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Hal tersebut sangat kentara dengan pertanyaan penyair yang

penulis artikan bahwa pertanyaan tersebut ditujukan pada WR. Supratman kapan kita manusia, kapan aku manusia.

Selain perasaa ketidakpuasan penyair, perasaan yang terdapat dalam puisi di atas adalah perasaan yang ingin menyindir

keadaan Bangsa Indonesia yang katanya kaya tetapi masih banyak masyarakatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Atau sering kita saksikan kekayaan tanah Indonesia di eksploitasi oleh bangsa lain.

C. Nada dan Suasana


Nada yang tampak dari puisi di atas adalah kegamblangan penyair dalam mengungkapkan realita kehidupan Bangsa

Indonesia yang belum sepenuhnya merdeka, Bangsa Indonesia yang kaya tetapi masyarakatnya hidup di bawah garis

kemiskinan, dan ada seseorang yang begitu tertipu oleh kata-kata bahwa Indonesia telah merdeka (WR. Supratman) sehingga

menciptakan sebuah lagu Indonesia Raya.

Menurut pendapat penulis, pengarang ini tergolong pengarang yang begitu berani mengungkapkan sebuah kebenaran, tidak

peduli apakah ada yang tersinggung atau tidak. Pendapat penulis ini dibuktikan dengan pemakaian kata-kata yang begitu

diafan (seandainya dikaji secara struktural atau struktur lahir puisi) sehingga cukup mudah diartikan. Selain itu Puisi tersebut

ditujukan pada tokoh tertentu yang disebutkan namanya.

Sedangkan suasana yang diciptakan puisi tersebut dalam benak pembaca adalah sebuah perasaan malu, sebab sangat sedikit

orang yang menyadari bahwa bangsa kita sebenarnya belum merdeka sepenuhnya, atau masyarakatnya belum menjadi

manusia seutuhnya. Dengan membaca puisi tersebut pembaca akan lebih meningkatkan sumbangsihnya bagi negara yang

dimulai dengan memperbaiki diri pribadi.

D. Pesan

Pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisi tersebut adalah bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia jangan sampai

terbuai oleh gemor-gemor bahwa bangsa kita telah merdeka, justru ada yang lebih berbahaya dari penjajahan secara fisik

yaitu penjajahan di bidang pendidikan, bidang ekonomi, dan sebagainya.

Pesan lainnya adalah bahwa kita sebagai manusia harus berusaha meningkatkan kualitas pribadi agar benar-benar menjadi

manusia seutuhnya.

Ratna Ayu Budhiarti

TAHAJUD

Tuhanku

Aku tak kuasa tengadah lagi


Di depanmu aku begitu kerdil, tak

Setitik kecilpun

Tuhanku

Keangkuhanku sirna sudah mengingat

Diriku yang bersimbah debu kenistaan

Di hamparan sajadah merah

Aku terduduk, tafakur

Merenungi diri dan kisah perjalananku

Hari ini

Mohon lapangkan hidupku

Esok hari

1996

A. Tema

Tema yang ada dalam puisi yang berjudul Tahajud adalah tema religius. Seandainya puisi tersebut dikaji diksinya, puisi

tersebut didominasi oleh kata-kata yang mencerminkan kereligiusan puisi, yaitu:

Tuhanku

Sajadah
Tafakur

Selain itu, tema tersebut dapat disimpulkan melalui judul yang dipakai oleh pengarang yaitu tahajud. Tahajud adalah salah

satu sholat sunat yang dilaksanakan malam hari setelah pelaku tidur sejenak.

Puisi tersebut menceritakan pengakuan penyair tentang ke-Maha-Kuasaan Tuhan, penyair menyadari bahwa dia begitu kecil

jika dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan.

Hal ini merupakan hasil perenungan penyair ketika dia melaksanakan sholat tahajud. Selain itu penyair menyadari bahwa

dirinya adalah insan yang penuh dengan dosa.

Tuhanku

Aku tak kuasa tengadah lagi

Di depanmu aku begitu kerdil, tak

Setitik kecilpun

Tuhanku

Keangkuhanku sirna sudah mengingat

Diriku yang bersimbah debu kenistaan

Dengan pemaparan yang telah penulis ungkapkan di atas maka jelas bahwa tema yang terkandung dalam puisi di atas adalah

tema religius.

B. Perasaan (Feeling)

Perasaan penyair dalam puisi tersebut adalah perasaan rendah diri penyair. Perasaan tersebut hadir ketika dia merasa bahwa

dirinya adalah insan yang dipenuhi dosa tetapi Tuhan selalu saja memberikan rejeki padanya.
Penyair menyadari bahwa dirinya tak pantas untuk berlaku angkuh di hadapan Tuhan. Selain itu karena penyair merasa

begitu kecil di hadapan-Nya maka penyair memohon doa agar hidupnya dilapangkan.

Di hamparan sajadah merah

Aku terduduk, tafakur

Merenungi diri dan kisah perjalananku

Hari ini

Mohon lapangkan hidupku

Esok hari

C. Nada dan Suasana

Pegarang menyampaikan idenya pada pembaca dengan menggunakan dirinya sebagai tokoh dalam puisi, sehingga tercermin

bahwa penyair adalah seorang yang berbudi luhur, rendah diri, dan peka.

Penyair tidak berusaha mengingatkan pembaca dengan sikap yang menggurui, melainkan denga sebuah teknik yang

sempurna, sehingga tidak ada pihak yang merasa tersinggung dengan hadirnya puisi tersebut.

Sedangkan suasana yang ada setelah membaca puisi tersebut adalah mengikuti arus kesadaran pengarang bahwa kita

hanyalah mahluk Tuhan yang begitu kerdil, penuh dosa, dan tidak pantas untuk berlaku angkuh di dunia milik-Nya.

D. Pesan (Amanat)

Pesan yang ingin disampaikan penagrang dalam puisinya adalah:

1. Kita adalah mahluk Tuhan yang begitu kerdil jika dibandingkan dengan kekuasaan-Nya.

2. Manusia adalah mahluk yang penuh dengan dosa, sedangkan Tuhan selalu memberikan rejeki pada manusia.
3. Manusia tidak pantas berlaku angkuh dan sombong di dunia.

4. Tidak ada tempat berlindung dan memohon pertolongan kecuali Pada Tuhan.

D. Zawawi Imron

KURSI

Sebuah kursi peninggalan kakekku

ada lingkaran terukir di situ

kek, jika tembangmu menyiratkan jalanku

dimana kau simpan cerminmu?

bawah matahari yang belum kuseru

laut begitu dalam

menunggu dan menunggu

dan lelaki tua yang di pantai termangu

mungkin bayang-bayang diriku

sebuah kursi peninggalan kakekku

ada lingkaran terukir di situ

dan aku berjalan

mencari sudut lingkaran itu


1975

A. Tema

Tema yang ada dalam puisi tersebut adalah kemanusiaan, sebab menceritakan tentang sebuah kehidupan. Tema tersebut

dihadirkan dengan menggunakan metafor.

Sebuah kursi peninggalan kakekku

ada lingkaran terukir di situ

kek, jika tembangmu menyiratkan jalanku

dimana kau simpan cerminmu?

Kursi pada puisi di atas adalah sebuah simbol dari kehidupan. Pada kursi tersebut terukir sebuah lingkaran yang penulis

artikan sebagai pengalaman kehidupan. Mengapa penulis mengartikan demikian?, sebab diperkuat oleh perkataan tokoh aku

yang menanyakan bagaimana pengalaman tersebut dan harus seperti apa aku menjalani kehidupan.

Bait selanjutnya yang berbunyi:

bawah matahari yang belum kuseru

laut begitu dalam

menunggu dan menunggu

dan lelaki tua yang di pantai termangu

mungkin bayang-bayang diriku


Bait tersebut merupakan pendapat tokoh aku tentang masa depannya, dengan berbagi kemungkinan. Apakah hanya akan

menjadi lelaki tua yang termangu di tepi pantai? (seseorang yang tidak berguna sampai hari tua).

Pemaparan penulis di atas menjelaskan bahwa tema yang terdapat dalam puisi di atas adalah tema kemanusiaan.

B. Perasaan

Perasaan dalam puisi di atas adalah bahwa penyair mengetahui dalam hidup ini diperlukan pengalaman agar tidak salah

dalam mengambil jalan.

Penyair merasa perlu pengalaman dalam menjalani kehidupan, bahkan kehidupan harus selalu bercermin dari pengalaman

orang lain yang berguna bagi diri pribadi.

C. Nada dan Suasana

Nada penyair dalam menyampaikan inti cerita adalah dengan lugas menjelaskan betapa dalam menjalani hidup ini

diperlukan sebuah pengalaman, sebab sesuai pepatah bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Suasana yang ada dalam benak saya sebagai pembaca adalah perasaan berupa ungkapan persetujuan tentang apa yang

diungkapkan penyair, bahwa kehidupan memerlukan pengalaman.

D. Pesan

Pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam puisi di atas adalah kita harus selalu teliti dalam menjalani kehidupan,

ketelitian tersebut memberikan pemahaman bahwa hidup harus senantiasa berhati-hati. Salah satu cara untuk hidup berhati-

hati adalah dengan selalu bercermin dari pengalaman, baik itu pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain.

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Setelah menelaah beberapa puisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa puisi begitu sarat dengan makna yang sangat berguna

bagi kita dalam menempuh kehidupan.

Mengkaji tema, perasaan, nada, suasana, dan amanat sebuah puisi memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi penulis,

selain kaitannya dengan panulis yang bergelut dalam dunia pendidikan juga makana yang terkandung dalam sebuah puisi

tidak terlepas dari nuansa religius yang dapat memperkokoh keimanan.

B. SARAN

Penulis hanya bisa menyarankan agar mempelajari dan memaknai sebuah puisi bukan Karen atuntutan tugas atau lain hal,

melainkan karena panggilan jiwa yang merasa butuh akan amanat yang terkandung dalam sebuah puisi.

DAFTAR PUSTAKA

Esten, Mursal (1995). MEMAHAMI PUISI. Bandung: Angkasa.

J. Waluyo, Herman (1987). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Teringat curhatan teman teman baik di kelas maupun di luar kelas yang mengatakan puisi itu sulit
di pahamin jadi berasa males banget bermain main dengan mahluk yang bernama puisi itu!! lha,
kenapa mesti males bercanda tawa dengan puisi? bukankah puisi itu memiliki estetika bahasa
yang luar biasa? jangan jangan yang di tanya juga setuju dengan curhatan temen temen ku tadi?
(Gubraakk ^,^) hehe.

Sebenarnya memahami isi puisi itu tidak terlalu sulit, apalagi bagi orang orang yang bathimya
sudah peka terhadap karya sastra (utamanya puisi). dalam memahami atau menafsirkan puisi di
perlukan adanya apresiasi. karena kegiatan apresiasi dapat menyebabkan seseorang memahami
puisi dengan penuh penghayatan, merasakan hal yang di tulis penyair, memahami nilai nilai yang
terkandung dalam puisi, dan yang terakhir menghargai karya tersebut. apresiasi itu apa sich?
dalam kamus istilah sastra, Abdul razak zaidan (1991) membatasi pengertian apresiasi puisi
sebagai penghargaan atas puisi sebagai hasil pengenalan, pemahaman,penafsiran, penghayatan,
penikmatan atas karya tersebut yang di dukung oleh kepekaan bathin terhadap nilai nilai yang
terkandung dalam puisi itu. syraat untuk dapat mengapresiasi karya sastra adalah kepekaan bathin
terhadap nilai nilai karya sastra sehingga seseorang dapat mengenal, memahami, menafsirkan,
menghayati, dan menikati karya sastra tersebut.

Baca Juga :

Cara dan Tips Membaca Puisi


Cara Mempersiapkan Penerbitan Puisi
Pengertian Puisi

untuk mengapresiasi puisi, kita harus mengenal hakikat puisi, yaitu tema, nada dan suasana,
perasaan, serta amanat puisi tersebut.

1. Tema
Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan
makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna
keseluruhan.
tema yang banyak di jumpai dalam puisi adalah tema ketuhanan,kemanusiaan, cinta, patriotisme,
perjuangan, kegagalan hidup, alam, keadilan, kritik sosial, demokrasi, dan kepahlawan.
perhatikan puisi karya Chairil anwar berikut:
Advertisement

Kami sama pejalan larut


Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal di pelabuhan

Dalam empat baris pertama sajak ini Chairil Anwar mencoba menyelaraskan irama bunyi setiap
akhir baris, antara larut dan kabut, badan dan pelabuhan. Di sini chairil Anwar mencoba
menceritakan sebuah perjuangan antara si aku dan temannya yang dirangkum dalam kata
kami dengan penuh perjuangan hingga berkeringat.

2. Nada dan suasana puisi


Puisi mengungkapkan nada dan suasana jiwa yang mengungkapkan sikap penyair terhadap
pembaca.
Nada dan suasana puisi saling berhubungan. Nada puisi menimbulkan suasana tertentu terhadap
pembacanya. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba di hati
pembaca. Nada kritik yang diberikan penyair dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan
bagi pembaca. Nada religius dapat menimbulkan suasana khusyuk.

3. perasaan
isi merupakan karya sastra yang paling mewakili ekspresi perasaan penyair. Bentuk
ekspresi itu dapat berupa kerinduan, kegelisahan, ataupengagungan kepada kekasih,
alam, atau Sang Khalik.

Jika penyair hendak mengagungkan keindahan alam, sebagai sarana ekspresinya, ia


akan memanfaatkan majas dan diksi yang mewakili dan memancarkan makna
keindahan alam. Jika ekspresinya merupakan kegelisahan dan kerinduan kepada Sang
Khalik, bahasa yang digunakannya cenderung bersifat perenungan akan eksistensinya
dan hakikat keberadaan dirinya sebagai hamba Tuhan.

Tentang cara penyair mengekspresikan bentuk-bentuk perasaannya itu, antara lain,


dapat dilihat dalam penggalan puisi berikut:

Hanyut aku Tuhanku


Dalam lautan kasih-Mu
Tuhan bawalah aku
Meninggi ke langit ruhani
Larik-larik di atas diambil dari puisi yang berjudul "Tuhan" karya Bahrum Rangkuti. Puisi
tersebut merupakan pengejawantahan kerinduan dan kegelisahan penyair untuk
bertemu dengan Sang Khalik. Kerinduan dan kegelisahannya itu diekspresikannya
melalui kata hanyut, kasih, meninggi, dan langit ruhani.

4. Amanat puisiPesan dalam puisi disebut amanat. Pesan merupakan anjuran atau nasihat
penyair kepada pembaca puisi. Anjuran atau nasihat tersebut berupa perbuatan-perbuatan baik
atau berhubungan dengan nilai moral. Pesan atau amanat penyair disampaikan lewat kata demi
kata dalam puisi.

ok, semoga bermangfaat...


selamat berapresiasi!!

(dari berbagai sumber)

Kiriman Dari : Selvi Nurmala


Facebook : https://www.facebook.com/vhyye.yasashii

Suasana, Irama, dan Diksi Puisi


Advertisement

Menelaah Nada, Suasana, Irama, dan Diksi Puisi Siswa mampu menelaah nada, suasana, irama,
dan diksi puisi.
Pengertian Puisi
, jumlah baris dan bait dalam puisi tidak terikat.

Puisi tersusun atas struktur batin dan struktur fisik. Struktur batin puisi adalah struktur yang
membangun puisi secara impPuisi adalah salah satu karya sastra yang tersusun atas bahasa yang
indah dan padat makna. Puisi terdiri atas beberapa baris yang membentuk bait. Namun demikianlisit
atau tidak terlihat. Struktur batin disebut juga hakikat puisi. Struktur fisik adalah struktur yang
membangun puisi secara eksplisit, yaitu terlihat melalui susunan kata.

Struktur batin meliputi nada dan suasana, sedangkan struktur fisik meliputi irama dan diksi. Keempat
unsur tersebut merupakan unsur yang penting dalam sebuah puisi. Oleh karena itu, unsur-unsur
tersebut perlu dipahami untuk merefleksi atau memaknai sebuah puisi.

Nada
Nada adalah sikap seorang penyair dalam puisinya sehingga efeknya terasa oleh pembaca. Nada
adalah cara penyair menyampaikan puisinya sesuai dengan pilihan kata-katanya. Misalnya, puisi
yang bernada protes, sinis, marah, serius, bahagia, haru, sedih, semangat, hingga bersenda gurau.
Suasana
Suasana adalah perasaan pembaca setelah membaca puisi. Jika nada adalah cara penyair
menyampaikan puisinya, suasana adalah efek yang dirasakan pembaca setelah membaca atau
mendengar puisi yang dibacakan oleh penyair. Misalnya, saat penyair membacakan puisi penuh
semangat, pembaca akan merasakan suasana yang sama. Pembaca juga dapat merasakan suasana
puisi melalui pilihan kata yang digunakan penyair dalam puisi. Misalnya, saat membaca puisi yang
menggambarkan kondisi alam, pembaca akan merasa damai.
Irama
Irama adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lembut, atau cepat lambatnya kata-kata atau
baris-baris puisi saat pembacaan puisi. Irama disebut juga dengan ritme. Irama dipengaruhi oleh
bunyi dari kata-kata yang digunakan dalam puisi tersebut. Irama dapat berupa perulangan bunyi,
huruf, kata, atau kalimat dalam puisi.
Diksi
Diksi adalah pilihan kata yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan maksud yang ingin
diungkapkannya. Pemilihan kata dilakukan untuk mencari kata yang paling tepat untuk mewakili
perasaan dan gagasan yang ingin dikemukakan penyair dalam puisinya. Pemilihan kata tersebut
dapat dilakukan dengan melakukan pemilihan bentuk kata, pencarian persamaan kata (sinonim), dan
pemilihan kata-kata kiasan.

Kata-kata kiasan disebut juga dengan majas. Majas yang biasanya muncul di dalam puisi adalah
sebagai berikut.
1. Personifikasi, yaitu majas yang menggunakan benda-benda mati yang seolah-olah memiliki
ciri-ciri sifat manusia. Misalnya: angin menyentuh lembut.
2. Metafora, yaitu majas yang membandingkan sesuatu dengan benda lain secara langsung
tanpa kata-kata perbandingan seperti, ibarat, bagaikan, atau bak. Misalnya: dirimu
adalahdewi malam.
3. Simile, yaitu majas yang membandingkan sesuatu dengan benda lain dengan menggunakan
kata-kata perbandingan seperti, ibarat, bagaikan, bak, atau laksana. Misalnya: kamu dan
dia bagaikan air dan minyak.
Telaah Nada, Suasana, Irama, dan Diksi Puisi
Bacalah puisi berikut ini dengan saksama untuk berlatih menelaah nada, suasana, irama, dan
diksi pada puisi!
Perhatikan Contoh

Puisi tersebut berisi tentang kerinduan seorang manusia pada sesuatu yang dapat memberikannya
pelita atau cahaya karena dirinya merasa gelap. Puisi tersebut banyak menggunakan kata-kata
kiasan dan harus dibaca secara saksama untuk dapat menangkap nada, suasana, irama, dan
diksinya. Berikut penjelasan lengkapnya!

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa puisi tersebut berisi tentang pertemuan seseorang dengan
seseorang atau sesuatu yang selama ini dirindukannya. Selama ini, dia merasa berjalan dalam
kegelapan dan akhirnya menemukan lagi zat yang memberinya cahaya namun zat itu tidak berupa.
Nada yang dibangun penyair dalam puisi tersebut adalah rasa pasrah dan penuh harap. Dengan
nada yang dibangun penyair, suasana yang timbul dari puisi tersebut adalah perasaan khidmat.

Dalam puisi tersebut terdapat banyak bahasa kiasan yang tidak sama dengan bahasa sehari-hari.
Beberapa kata di dalamnya juga diulang-ulang untuk memberikan efek penegasan, seperti
kata rindu pada ungkapan rindu rasa, rindu rupa. Selain itu, ada juga kata-kata berawalan huruf
yang sama dan diulang-ulang, seperti ungkapan kaulah kandil kemerlap dan sabar setia selalu
yang masing-masing mengulang huruf k dan s. Dengan demikian, irama dalam puisi ini dibentuk
dengan perulangan kata dan huruf.
Diksi yang dipilih oleh penyair adalah kata-kata bahasa Indonesia lama yang sulit dimengerti, seperti
kaulah kandil kemerlap. Padahal, di baris berikutnya digunakan katapelita.
Kata kandil dan pelita memiliki makna yang sama (sinonim), yaitu cahaya atau lampu. Penggunaan
kata yang bersinonim tersebut adalah untuk memperindah makna.
Poin Penting
1. Puisi adalah jenis karya sastra yang tersusun atas bahasa yang indah dan padat makna.
2. Struktur batin puisi adalah struktur yang membangun puisi secara implisit atau tidak terlihat.
Struktur batin disebut juga hakikat puisi. Struktur fisik adalah struktur yang membangun puisi
secara eksplisit, yaitu terlihat melalui susunan kata-katanya.
3. Struktur batin meliputi nada dan suasana, sedangkan struktur fisik meliputi irama dan diksi.
Unsur-unsur tersebut perlu dipahami untuk merefleksi atau memaknai sebuah puisi.

Analisis Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi


Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba


Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka


Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

Karya : Chairil Anwar


A. Unsur Intrinsik

Struktur Fisik Puisi

Diksi
Diksi merupakan makna kiasan yang harus dipahami secara seksama dan
menyeluruh, seperti:
Sajak merupakan kiasan suara hati si penyair, suara hati si aku. Putih mengiaskan
ketulusan, kejujuran, dan keihklasan. Jadi, sajak putih berarti suara hati si aku
yang sangat tulus dan jujur.
Pada bait I

1. Warna pelangi adalah gambaran hati seorang pemuda yang sedang senang;
2. Bertudung sutra senja yang dimaksud adalah pada sore hari;
3. Di hitam matamu kembang mawar dan melati yang di maksud adalah bola matanya yang
indah.
Pada bait II
1. Sepi menyanyi yang di maksud adalah memohon (doa) kepada Allah;
2. Muka kolam air jiwa yang di maksud adalah bersedih hati;
3. Dadaku memerdu lagu yang di maksud adalah berkata dalam hati;
4. Menari seluruh aku menggambarkan rasa kegembiraan.
Pada bait III

1. Hidup dari hidupku, pintu terbuka menggambarkan bahwa si aku merasa hidupnya penuh
dengan kemungkinan dan ada jalan keluar;
2. Selama matamu bagiku menengadah merupakan kiasan bahwa si gadis masih mencintai si aku,
mau memandang wajah si aku;
3. Selama kau darah mengalir dari luka yang di maksud adalah hidup si aku penuh harapan selama
si gadis masih hidup wajar;
4. Antara kita Mati datang tidak membelah menggambarkan sampai kematian tiba pun keduanya
masih mencintai, dan tidak akan terpisahkan.
Citraan
Citraan dalam karya sastra berperan untuk menimbulkan pembayangan imajinatif
bagi pembaca melalui ungkapan tidak langsung.

1. Citraan visual (penglihatan) terlihat pada baris kedua dan kedelapan yaitu Kau depanku dan
menarik menari.
2. Citraan indera (pencium) terlihat pada bait keempat yaitu Harum rambutmu.
3. Citraan indera (pendengaran) terlihat pada baris kelima yaitu Sepi menyayi.
Kata-kata konkret
Pada puisi ini ditemukan diksi yang berupa kata-kata konkret yang dapat
membangkitkan citraan seperti penglihatan, penciuman, pendengaran. Kata-kata
konkret tersebut sangat jelas menunjukan sikap tindakan baik dari penyair maupun
dari pembaca. Kata-kata konkret tersebut bertujuan untuk menggambarkan unsur-
unsur puisi secara tepat agar pembaca dapat merasakan keadaan yang dirasakan
penyair.

Gaya Bahasa (Majas)


Dalam puisi Sajak Putih gaya bahasa (majas) yang muncul yaitu:

1. Pada baris ketiga bait pertama, yaitu Dihitam matamu kembang mawar dan melati, merupakan
majas metafora yang bersifat membandingkan sesuatu secara langsung. Mawar dan melati yang
mekar menggambarkan sesuatu yang indah dan menarik, biasanya mawar itu berwarna merah
yang menggambarka cinta dan melati putih menggambarkan kesucian. Jadi dalam mata si gadis
tampak cinta yang tulus, menarik, dan mengikat.
2. Majas repetisi pada baris kesembilan bait ketiga, yaitu terjadi pengulangan kata, Hidup dari
hidupku, menggambarkan bahwa si aku merasa hidupnya penuh dengan kemungkinan.
3. Pada baris 1 bait 1 yaitu, Tari warna pelangi merupakan bahasa kiasan personifikasi yang
menggambarkan benda mati dapat digambarkan seolah-olah hidup. Rambutmu mengalun
bergelut senda juga menggunakan bahasa kiasan personifikasi.
4. Dalam bait kedua baris pertama, Sepi menyanyi adalah personifikasi karena mereka berdua
tidak berkata-kata, suasana begitu khusuk seperti waktu malam untuk mendoa tiba. Dalam
keadaan diam itu, jiwa si akulah yang berteriak seperti air kolam kena angin.
5. Majas Anatonomasia pada bait kesatu baris kedua yaitu, Kau depanku bertudung sutra senja
yang menggunakan ciri fisik seseorang sebagai penggantinya.
Rima dan ritma
Puisi Sajak Putih secara keseluruhan didominasi dengan adanya vokal /a/, /i/, dan
/u/. Asonansi vokal /a/ terdapat pada baris puisi yaitu baris 2, 4, 5, 6, 9, 10, 11,
dan 12. Misalnya:
Asonansi vokal (a)

Kau depanku bertudung sutra senja (baris kedua bait pertama).


Harum rambutmu mengalun bergelut senja (baris keempat bait pertama).

Asonansi vokal (i)

Bersandar pada tali warna pelangi (bait pertama baris pertama).


Dihitam matamu kembang mawar dan melati (bait pertama baris ketiga).

Dari asonansi vokal diatas dapat disimpulkan bahwa puisi ini mempunyai irama yang
tepat dan beraturan yakni irama vokal i i a a.

Struktur Batin Puisi

Tema
Tema dalam puisi Sajak Putih adalah Percintaan. Dalam puisi Sajak Putih
menceritakan seorang gadis yang sangat cantik yang mempunyai cinta yang sangat
tulus dan memikat terhadap seorang pria yang membuat pria tersebut merasa
terharu dan tertarik terhadapnya. Tetapi kedua insan tersebut belum ada kesiapan
untuk saling menyatakan perasaannya masing-masing, mereka hanya diam tanpa
ada sepatah kata yang diucapakn, mereka hanya berbicara didalam hatinya masing
masing, tetapi si pria tersebut mempunyai banyak harapan bahwa gadis tersebut
mencintainya. Kedua insan tersebut berjanji bahwa sampai kapanpun mereka tak
akan terpisahkan.

Perasaan
Perasaan yang ditekankan pada puisi ini adalah rasa bahagia karena kedua insan
yang tadinya tidak mempunyai keberanian untuk saling menyatakan perasannya,
tetapi pada akhirnya mereka mempunyai keberanian untuk saling menyatakaan
perasaannya. Karena cinta yang dimiliki oleh kedua insan tersebut sangat tulus dan
suci.

Nada
Nada yang ditunjukan dalam puisi Sajak Putih ini adalah kegembiraan dan
kebahagiaan. Nada gembira dan bahagia ini muncul karena, rasa gembira seorang
pria yang memiliki seorang gadis yang mempunyai cinta yang sangat tulus dan suci
terhadapnya yang terlihat pada kata tali warna pelangi, sutra senja, menarik
menari. Maka munculah benih-benih cinta diantara mereka. Unsur nada dalam puisi
ini adalah optimis, dan kesetiaan.
Unsur nada optimis

Hidup dari hidupku, pintu terbuka


Selama matamu bagiku menengadah

Unsur nada kesetiaan

Selama kau darah mengalir dari luka


Antara kita Mati datang tidak membelah

Amanat
Dalam puisi ini amanat yang disampaikan oleh penyair adalah bahwa jika kita
mencintai seseorang harus berani untuk menyatakaan perasaan kita masing-
masing, menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita, dan
berusahalah untuk selalu mencintai dan ada disisinya sampai hembusan nafas
terakhir

B. Unsur Ekstrinsik
Sajak putih adalah sebuah puisi karya Chairil Anwar yang sarat akan nilai-nilai
romantika. Ketulusan, kejujuran dan keikhlasan seorang pujangga dalam romantika
cinta tersirat jelas di sini. Puisi ini menggambarkan ungkapan tulus perasaan penulis
kepada kekasih yang sangat dipujanya pada pandangan pertama.
Seperti puisi-puisinya yang lain, dalam sajak putih Chairil Anwar ini penulis memilih
bersembunyi di balik metafora dan kiasan-kiasan. Dalam puisi ini, Chairil anwar
menggambarkan gelora hati Aku terhadap seorang gadis yang mencuri hatinya
dengan keindahan sore yang berpelangi. Begitu indah, menyenangkan namun juga
mencemaskan karena akan berakhir senja yang sepi dan gelap. Perasaan cinta
dalam sajak putih Chairil Anwar ini juga disembunyikan dalam kiasan indah.
Bagaimana Chairil mengilustrasikan keindahan cinta dengan kembang mawar yang
diharapkan bertemu dengan ketulusan hati si gadis yang diilustrasikan dengan
melati, sangat indah dan menarik mencari dan menafsirkan teka-teki romantika
cinta di balik puisi sajak putih Chairil Anwar ini.
Chairil Anwar selalu menyimpan semangat dan optimisme dalam puisinya, termasuk
dalam sajak putih ini. Meski di bagian tengah puisi digambarkan bahwa romantika
cinta antara Aku dan si gadis hanya sebatas kekaguman saat melihat satu sama
lain, tidak ada pembicaraan cinta dan rayuan yang terucap, tidak ada janji bertemu
di berikan, hanya tatapan mata yang menyiratkan kekaguman yang menjadi
pegangan. Namun Aku tetap optimis bahwa ada masa yang akan mempersatukan
mereka dalam kisah cinta yang suci.
Akan ada harapan, demikian akhir yang dikiaskan oleh Chairil dalam puisi ini. Hal ini
sangat terlihat pada cuplikan kalimat berikut Selama matamu bagiku
menengadah.
Begitulah ciri khas puisi-puisi Chairil Anwar. Selalu melahirkan semangat dan
optimisme untuk menggapai harapan. Chairil seakan berpesan pada pembacanya,
bahwa selalu ada harapan selama usaha dan doa bersanding dalam langkah kaki
kita.

C. Makna Puisi Sajak Putih


Dalam puisi sajak putih digambarkan gadis si aku pada suatu senja hari yang indah
ia duduk dihadapan si aku. Ia besandar yang pada saat itu ada warna pelangi yaitu
langit senja yang indah penuh dengan macam-macam warna. Gadis itu bertudung
sutra diwaktu haru sudah senja. Sedangkan rambut gadis itu yang harum ditiup
angin tampak seperti sedang bersenda gurau, dan dalam mata gadis yang hitam
kelihatan bunga mawar dan melati yang mekar. Mawar dan melati yang mekar
menggambarkan sesuatu yang indah dan menarik . Suasana pada saat itu sangat
menyenangkan, menarik dan penuh keindahan yang membuat si aku haru dengan
semua itu.
Dalam pertemuan kedua insan itu sepi menyanyi, malam dalam doa tiba yang
menggambarkan tidak ada percakapan dari keduanya. Mereka hanya diam tanpa
ada sepatah kata yang diucapkan seperti hanya ketika waktu berdoa. Hanya kata
hati yang berkata dan tidak keluar suara. Kesepian itu mengakibatkan jiwa si aku
bergerak seperti hanya permukaan kolam yang terisa air yang beriak tertiup angin.
Dalam keadaan diam tanpa kata itu, didalam dada si aku terdengar lagu yang
merdu yang menggambarkan kegembiraan. Rasa kegembiraan itu digambarkan
dengan menari seluruh aku.
Hidup dari hidupku, pintu terbuka menggambarkan bahwa si aku merasa hidupnya
penuh dengan kemungkinan dan ada jalan keluar serta masih ada harapan yang
pasti bisa diwujudkan selama gadis kekasihnya masih menengadahkan mukanya ke
si aku. Ini merupakan kiasan bahwa si gadis masih mencintai si aku, mau
memandang kemuka si aku.
Begitu juga hidup si aku penuh harapan selama si gadis masih hidup wajar,
dikiaskan dengan darahnya yang masih mengalir dan luka, sampai kematian tiba
pun keduanya masih mencintai, dan tidak akan terpisahkan. Sajak merupakan
kiasan suara hati si penyair, suara hati si aku. Putih mengiaskan ketulusan
kejujuran, dsan keihklasan. Jadi sajak putih berarti suara hati si aku yang sangat
tulus dan jujur.

SHARE TO
Facebook

Twitter

Analisis Puisi Derai-Derai Cemara Karya Chairil Anwar

Derai-Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh


Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan


Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada satu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
Karya :Chairil Anwar

A. Unsur Intrinsik

Tema
Perubahan dalam diri manusia yang terpisah dari kehidupan masa lalu

Rasa
Sedih

Nada
Iba atau merengek

Amanat
Kehidupan hanyalah perjalanan yang keras untuk ditempuh dan setiap manusia akan mati
dengan tenang kalau apa yang harapkannya tercapai.

Diksi
Diksi yang digunakan dalam sajak ini sangat sederhana dan dingin, sehingga pembaca
seolah-olah mengalami pesakitan yang dialami oleh pengarang.

Imajinasi
Imajinasi yang digunakan oleh pengarang sangat tinggi walaupun menggunakan kata-kata
yang sederhana tetapi sangat menyentuh hati pembaca.

Kata-kata konkret
Kata-kata yang jika dilihat secara denotative sama, tetapi secara konotatif tidak sama,
bergantung pada situasi dan kondisi pemakainya.

Gaya bahasa
Bahasa yang digunakan pengarang dalam sajak ini sangat sederhana, dan dengan
kesederhanaan itu pengarang mencapai kepada klimaks yang ingin disampaikan

Irama
Irama dalam sajak ini tidak terlalu tinggi-tidak juga rendah

Rima
Unsure bunyi dalam sajak ini sangat dingin sehingga menimbulkan kemerduan puisi, dan
dapat memberikan efek terhadap makna, nada dan suasana puisi tersebut.
B. Unsur Extrinsik

Biografi Pengarang
Sebagaimana kita ketahui bahwa sajak-sajak Chairi Anwar merupakan merupakan sajak
yang disusun dengan kata-kata yang sederhana dan lebih memperdalam makna.Chiril
Anwar dan cara hidupnya yang jalang telah menjadi semacam mitos, kita suka bahwa
sajak-sajak yang ditulis menjelang kematiannya menunjukkan sikap hidupnya yang matang
dan mengendap meskipun umurnya baru 26 tahun. Puisi Derai-Derai Cemara ini
merupakan sajak yang ditulisnya pada saat ia berada pada pembaringan di rumah sakit.

Dalam sajak ini Chairil Anwar meneriakkan keinginannya untuk tetap hidup walaupun
umurnya telah terbatas, yaitu 27 tahun tidak seperti kawan-kawannya yang lain, seperti HB
Jassin yang hidupnya lebih panjang daripada Chairil. Pada usia 26 tahun ia menyadari
bahwa hidupnya hidup hanya menunda kekalahansebelum pada akhirnya kita
menyerah. Sajak ini merupakan sebuah kesimpulan yang diutarakan dengan sikap yang
sudah mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang
memisahkannya dari gejolak masa lampau. Proses itu begitu cepat, sehingga ada yang
tetapi tidak diucapkan.

Pengaturan inipun begitu tertib dan tenang, masing-masing terdiri dari empat larik yang
sepenuhnya menggunakan rima a-b-a-b citraan alam yang digunakan Chairil pun
menampilkan ketenanangan itu: suara deraian cemara sampai di kejauhan menyababkan
hari terasa akan jadi malam, dan dahan yang di tingkap merapuh itu pun dipukul angin yang
terpendam. Dalam seluruh sajak ini, kata dipukul jelas merupakan kata yang paling keras
mengungkapkan masih adanya sesuatu di dalam yang masih terpendam. Si aku dalam lirik
sajak ini pun menyadari sepenuhnya bahwa hari belum malam, namun terasa jadi malam.

Biografi Singkat Chairil Anwar


Chairil Anwar dilahirkan di Medan pada 26 Juli 1922. Dia merupakan anak tunggal dari
pasanganToeloes dan Saleha. Ayahnya bekerja sebagai pamongpraja. Ibunya masih
mrmpunyai pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Chairil dibesarkan dalam keluarga yang berantakan. Kedua orang tuanya bercerai dan
ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Setelah perceraian itu, Chairil mengikuti ibunya
merantau ke Jakarta. Saai itu, ia baru lulus SMA. Chairil masuk Hollands Inlandsche School
(HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian
meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah
pertama Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang
remaja, namun tak satu pun puisi awalnya yang ditemukan. Meskipun pendidikannya tak
selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman. Ia mengisi
waktu luangnya dengan membaca buku-buku dari pengarang internasional ternama, seperti
Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du
Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung
mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia. Semasa kecil di Medan, Chairil
sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini memberikan kesan lebih pada hidup Chairil.
Dalam hidupnya yang jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya
meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang pedih sebagaimana
yang tertulis dalam kutipan (1).
(1) Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak
kutahusetinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta Sesudah nenek, ibu adalah
wanita kedua yang paling Chairil sayangi. Dia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya,
Tulus, di depan sang Ibu. Hal itu ia lakukan sebagai tanda bahwa ia yang mendampingi
nasib ibunya. Di depan ibunya juga, Chairil sering kali kehilangan sisi liarnya. Beberapa puisi
Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Chairil Anwar mulai memiliki perhatian terhadap kesusasteraan sejak sekolah dasar. Di
masa itu, ia sudah menulis beberapa sajak yang memiliki corak Pujangga Baru, namun ia
tidak menyukai sajak-sajak tersebut dan membuangnya. Begitulah pengakuan Chairil Anwar
kepada kritikus sastra HB. Jassin. Seperti yang ditulis oleh Jassin sendiri dalam Chairil
Anwar Pelopor Angkatan 45. Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kegigihannya. Seorang
teman dekatnya, Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil
Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya
ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam
mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang
menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah
diam. Jassin juga pernah bercerita tentang salah satu sifat sahabatnya tersebut, Kami
pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya,
dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di
depan para gadis.Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati,
Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Semua nama
gadis itu masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Hapsah adalah gadis kerawang yang menjadi
pilihannya untuk menemani hidup dalam rumah tangga. Pernikahan itu tak berumur panjang.
Karena kesulitan ekonomi dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai.
Saat itu, anaknya baru berumur tujuh bulan dan Chairil pun menjadi duda. Tak lama setelah
itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versitentang
sakitnya, namun banyak pendapat yang mengatakan bahwa TBC kronis dan sipilislah yang
menjadi penyebab kematiannya. Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Kependekan itu
meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi
contoh terbaik untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian.
Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar yang menjadi notaris di bekasi
harus meminta maaf saat mengenang kematian ayahnya di tahun 1999. Ia berkata, Saya
minta maaf, karena kini saya hidup disuatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil
Anwar, (Haniey:2007). Tak sedikit buku-buku karangan Chairil semasa hidupnya, buku-buku
itu adalah sebagai berikut: DeruCampur Debu (1949), Kerikil Tajam dan yang Terampas dan
yang Putus (1949), Tiga Menguak Takdir(1950, dengan Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini
Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949, dieditoleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh
Sapardi Djoko Damono (1986), Derai-derai Cemara (1998), Pulanglah Dia Si Anak Hilang
(1948), terjemahan karya Andre Gide Kena Gempur (1951), dan terjemahan karya John
Steinbeck. Selain itu, karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing,
antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya
seperti Sharp gravel, Indonesian poems, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California,
1960), Cuatro poemas indonesios[por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati (Madrid: Palma
de Mallorca, 1962), Chairil Anwar:Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam
(New York, New Directions, 1963), Only Dust:Three Modern Indonesian Poets, oleh Ulli
Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets,1969), The Complete Poetry and
Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh BurtonRaffel (Albany, State
University of New York Press, 1970), The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan
diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore:
UniversityEducation Press, 1974), Feuer und Asche: smtliche Gedichte,
Indonesisch/Deutsch oleh WalterKarwath (Wina: Octopus Verlag, 1978), dan The Voice of
the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio:
Ohio University, Center for International Studies,1993).

Nilai-nilai puisi

Nilai agama : Semua yang bernyawa pasti akan mati apabila telah tiba pada waktunya.

Nilai pendidikan : walaupun cita-cita pengarang tidak sesuai dengan yang dia impikan namun harus tetap semangat dan
jangan putus asa.

Keterkaitan Puisi

Chairil dalam puisinya ini menunjukkan kelebihannya dalam memilih kata-kata yang tidak biasa
orang lain gunakan tetapi memberikan kesan yang dalam pada setiap pembacanya. Selain itu juga dalam
puisinya ini memiliki kelabihan tersendiri dibanding puisi-puisi lainnya yakni mengenai rimanya yang
teratur berbeda dengan puisi-puisi lainnya.

Puisi ini juga baik dibaca oleh masyarakat umum tidak hanya kalangan sastra saja, yang pada
saat ini masyarakat kita cenderung bekerja keras tetapi lupa kepada penciptanNya. Puisi ini dapat
mengajarkan mereka bahwa sesungguhnya sekeras apapun kita berusaha atau bekerja tetap saja semua
jalan hidup dan keputusan ada di tanganNya. Bahkan seorang Chairil pun akhirnya menyerah juga pada
Tuhan di akhir hayatnya.

Makna Puisi Derai-Derai Cemara


Pembacaan Heuristik
Kata Derai-derai yang digunakan penulis untuk judul sajak mempunyai arti berjatuhan atau
berguguran yang biasanya digunakan untuk menyebut beberapa macam tumbuhan atau
dedaunan yang sebelumnya masih berada pada sebuah pohon. Cemara merupakan jenis
pohon yg berbatang tinggi lurus seperti tiang, daunnya kecil-kecil sepertt lidi, nama
ilmiahnya adalah Casuarina Eqnisetifolia

Cemara menderai sampai jauh, cemara dijelaskan pada bait sebelumnya merupakan
sebuah jenis pohon yang berbatang tinggi lurus seperti tiang yang daunnya kecil-kecil
seperti lidi. Menderai dapat digunakan sebagai sebuah gambaran guguran atau dedaunan
yang berjatuhan. Jauh menggambarkan sebuah jarak yang atau panjang antaranya tidak
dekat. Terasa dapat diartikan suatu suasana yang dialami oleh pelaku, hari dapat diartikan
waktu selama matahari menerangi tempat kita (dari matahari terbit sampai matahari
terbenam). Menjadi malam menunjukkan suasana perubahan situasi, malam diartikan waktu
setelah matahari terbenam hingga matahari terbit. Ada beberapa menunjukkan jumlah yang
tidak tentu banyaknya. Lebih dari dua tetapi tidak terlalu banyak. Dahan adalah salah satu
bagian dari pohon yang tumbuh mencuat dan menyamping, beranting dan berdaun. Tingkap
merupakan salah satu jendela yang teltetak diatap atau di dinding pada sebuah rumah yang
memiliki banyak nama. Merapuh berasal dari kata dasar rapuh yang berarti sudah lemah,
rusak, tidak kuat lagi. Memperoleh penambahan prefiks yang mempunyai arti sebuah proses
menuju rapuh. Dipukul adalah sesuatu yang dialami oleh subjek yaitu pukulan dengan
sesuatu alat yang berat. Angin adalah gerakan udara dr daerah yg bertekanan tinggi ke
daerah yg bertekanan rendah. Terpendam diartikan sesuatu yang tertanam, biasanya
didalam tanah atau dapat juga dengan sesuatu yang lain.

Sekarang menunjukkan waktu saat ini atau saat yang sedang terjadi. Bisa berarti dapat atau
mampu dan tahan berarti tetap keadaannya (kedudukannya dsb) meskipun mengalami
berbagai-bagai hal. Sudah berarti telah terjadi. Beberapa menunjukkan jumlah yang tidak
tentu jumlahnya yang lebih dari dua namun tidak terlalu banyak. Waktu mempunyai arti
seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung.
Bukan kanak-kanak lagi. Bukan berarti berlainan dengan sebenarnya. Kanak-kanak berarti
periode perkembangan anak masa prasekolah (usia antara 2-6 tahun). Dulu berarti dahulu
yaitu waktu sebelum sekarang tapi dengan jangka yang cukup lama. Suatu bahan yang
dimaksudkan adalah barang yg akan dibuat menjadi satu benda tertentu; bakal; atau
sesuatu yg dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu, spt untuk pedoman atau
pegangan, untuk mengajar, memberi ceramah. Bukan merupakan menunjukkan negasi atau
penyebutan sesuatu yang bukan sebenarnya. Dasar diartikan sebuah pokok atau pangkal
suatu pendapat sedangkan perhitungan mempunyai arti tentang pertimbangan mengenai
sesuatu. Kini menunjukkan waktu sekarang atau saat ini atau waktu dekat dengan sekarang.

Hidup diartikan sebagai sebuah keadaan yang masih tetap ada, bergerak dan berfungsi
sebagai manusia. Kata ini identik digunakan pada manusia hewan atau tumbuh-tumbuhan.
Hanya berarti Cuma atau menyebutkan sesuatu yang dianggap sepele atau tidak penting.
Menunda berarti mengundurkan waktu pelaksanaan (yang sudah direncanakan
sebelumnya). Kekalahan berarti sebuah situasi yang buruk, berada pada satu pihak yang
dikategorikan lebih lemah. Terasing mempunyai arti terpisah dari yang lain atau dalam suatu
keadaan yang terdiskriminatif. Cinta berarti sebuah perasaan yang manusiawi dimiliki
manusia yang ditujukan kepada lawan jenis atau merupakan sebuah ungkapan sayang.
Sekolah rendah menunjukkan jenjang pendidikan yang terbatas, mungkin hanya tingkat
sekolah dasar yang dianggap lebih rendah dibandingkan dengan lulus SMA.

Sebelum menunjukkan waktu ketika belum terjadi atau lebih dahulu dari suatu kejadian.
Akhirnya berarti kesudahannya atau memberikan kesimpulan terhadap sebuah wacana
yang letah dijabarkan sebelumnya. Menyerah berarti berserah pasrah, tidak mampu berbuat
apa-apa.

Pembacaan Hermeneutik
Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari
daun-daun cemara yang berguguran yang mempunyai makna tentang runtuhnya harapan
tokoh sajak. Diawal kalimat menceritakan tentang cemara, cemara merupakan suatu jenis
pepohonan dengan daun yang kecil dan meruncing. Digambarkan dengan suasana sore
hari (hampir malam) dan beberapa dahan merapuh diterjang oleh angin malam. Merupakan
penggambaran diri manusia yang mulai merapuh, dan suasana yang hamper malam
menggambarkan tengtang kesadaran tentang perjalanan hidup yang pasti akan selalu
berakhir dan semua yang bernyawa pasti akan mati.

Bait kedua menggambarkan kedewasaan tokoh aku, yang digambarkan dari kalimat sudah
berapa waktu aku bukan kanak lagi. Penggambaran tentang pandangan si tokkoh aku yang
terjadi saat dia masih kanak dan tpandangan itu tidak relevan lagi ketika dia telah beranjak
dewasa atau meninggalkan masa kanak-kanaknya.

Bait ketiga merupakan penggambaran si tokoh aku tentang sebuah keterasingan. Kata jauh
menggambarkan tentang cita-cita si tokoh aku yang cemerlang, akan tetapi pada
kenyataannya hidup selalu penuh penderitaan dan jauh dari apa yang diharapkan oleh si
tokoh aku. Kalimat Hidup hanya menunda-nunda kekalahan merupakan sebuah
penggambaran tentang keputusasaan tokoh, semacam kesimpulan yang diutarakan dengan
sikap mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang
memisahkannya dari masa lalunya.

Matriks, model, dan varian puisi Derai-derai cemara


Secara umum, puisi Derai-derai cemara merupakan penggambaran sebuah kesadaran
tentang sebuah perjalanan hidup manusia dan rapuh. Setiap perjalanan manusia pasti akan
berakhir. Semua yang bernyawa pasti akan mati apabila telah tiba pada waktunya.

Varian yang pertama merupakan keseluruhan bait pertama (//Cemara menderai sampai jauh
/ Terasa hari akan jadi malam / Ada beberapa dahan di tingkap merapuh / Dipukul angin
yang terpendam //) Pohon cemara menggambarkan tentang sesuatu yang lemah, rapuh,
sesuai dengan bentuk daun cemara yang kecil, meruncing mudah terhempas oleh angin
yang bertiup. Malam identik dengan kesunyian, kegelapan, waktu istirahat dan akhir dari
sebuah kejadian. Angin memberikan gambaran tentang segala cobaan dan kepahitan dalam
hidup, yang menghempas kehidupan si tokoh pusi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bait
pertama memberikan gambaran tentang akhir dari sebuah perjalanan hidup. Merupakan
sebuah kesadaran tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia ini penuh dengan cobaan
dan semua yang ada didunia ini pasti akan berakhir, semua yang bernyawa juga pasti akan
mati.

Varian kedua (//Aku sekarang orangnya bisa tahan / Sudah beberapa waktu bukan kanak
lagi / Tapi dulu memang ada suatu bahan / Yang bukan dasar perhitungan kini //) tokoh puisi
merupakan sosok yang telah meninggalkan masa lalunya, masa kanak-kanaknya dan telah
menunjukkan kedewasaannya. Tokoh puisi telah mempunyai suatu cita-cita atau pandangan
hidup pada masa kecilnya, akan tetapi apa yang dicita-citakan pada waktu kecil tidak terjadi
pada masa sekarang, dan pandangan tentang hidupnya telah berbeda dari apa yang pernah
dia pikirkan waktu dia masih kanak-kanak.

Varian ketiga (//Hidup hanya menunda-nunda kekalahan / Tambah terasing dari cinta dan
sekolah rendah / Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan / Sebelum pada akhirnya kita
menyerah//) kata-kata hidup hanya menunda-nunda kekalahan seolah terasa asing
ditelinga, biasanya kita mengenal menunda-nunda kemenangan. Kekalahan digambarkan
sebagai suatu symbol kepasrahan dan sangat identik dengan keputusanaan. Penderitaan ,
bahkan kematian. Cita-cita si tokoh puisi pada masa lampaunya yang begitu cemerlang
namun tokoh puisi selalu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Nampak dari kata
terasingkan yang digunakanyang menceritakan tentang rencana si tokoh tentang cita-
citanya namun berbeda dengan apa yang diharapkan sehingga membawa dia ke dunia
yang dianggap asing dan pada akhirnya berujung pada keputusasaan, kematian.

Dapat didimpulkan, puisi Derai-derai Cemara merupakan ungkapan tentang perjalanan


seorang tokoh puisi yang hidupnya penuh penderitaan, dia sempat mempunyai cita-cita
yang cemerlang pada masa kecilnya namun pada kenyataannya hidupnya mengalami
kepahitan dan penderitaan,sehingga membawa pada sebuah keterasingan dan
menyadarkan tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti akan berakhir dan
segala sesuatu yang bernyawa pasti akan mati.

Hipogram Puisi Derai-derai Cemara


Secara intertekstual Puisi Derai-derai Cemara karya Chairil Anwar mepunyai kesamaan ide
dengan novel Olenka yang ditulis oleh Budi Dharma. Novel Olenka ini mengangkat tema
ketidakberdayaan manusia atas takdir yang terjabar dalam berbagai peristiwa. Peristiwa-
peristiwa yang dialami oleh Fanton Drummond, Olenka, Wayne Danton, dan Mary Carson
menunjukkan bahwa mereka hanyalah boneka bagi ketentuan takdir. Sikap Budi Darma
terhadap adanya kekuasaan takdir ini terangkum juga dalam pernyataan Fanton Drummond
setelah gagal mendapatkan Olenka maupun Mary Carson. tokoh utamanya (Fanton
Drummond, Olenka, Wayne Danton) adalah tokoh yang mengalami kesepian, kesunyian,
dan keterasingan dari pergaulan masyarakat kota besar. Fanton Drummond merasa
kesepian sehingga begitu berkenalan dengan Olenka, bayangan Olenka terus mengikutinya.
Ia pun bertekad memperistri Olenka meskipun Olenka telah bersuami dan beranak. Olenka
dan Wayne merasa kesepian karena kehidupan rumah tangga mereka tidak harmonis.
Keterasingan tampak dalam tokoh Wayne dan Steve yang selalu mengucilkan diri dari
pergaulan sesama. (Siswanto.163-172 )
Dari sajak tersebut hanya dua baris yang masuk ke dalam Olenka, yaitu Hidup hanya
menunda kekalahan dan Sebelum pada akhirnya kita menyerah (bait ketiga). Di dalam
Olenka ungkapan tersebut ditampilkan untuk mendukung suasana ketika Olenka hendak
pergi meninggalkan Fanton (subbagian 1.12, hlm. 5560). Sebelum Olenka meninggalkan
Fanton, tergambarlah suasana seperti berikut.

Sekonyong-konyong dia menangis. Saya tidak tahu apa sebabnya, dan tidak sampai hati
untuk menanya-kannya. Kemudian dia mengatakan bahwa hidupnya adalah serangkaian
kesengsaraan. Bukan hanya perka-winannya saja yang hancur, akan tetapi juga seluruh
hidupnya. Dia menyesal mengapa dia tidak mati ketika dia masih bayi, atau paling tidak
ketika dia masih kanak-kanak, pada waktu dia masih lebih banyak mempergunakan
instinknya daripada otaknya. Sekarang sudah terlambat baginya mati tanpa merasa takut
menghadapinya. Hidupnya bukan hanya menunda keka-lahan, akan tetapi juga kehancuran,
sebelum akhirnya dia menyerah. (hlm. 60)
Tampak bahwa dua baris sajak Chairil Anwar tersebut dimanfaatkan untuk membangun
suasana tertentu agar kesengsaraan dan kehancuran hidup Olenka sebelum dia akhirnya
menyerah terasa lebih dalam. Hanya saja, di dalam gambaran tersebut terasa ada
semacam manipulasi atau penyelewengan makna sajak. Atau, dalam konteks itu terasa
ada perbedaan yang mendasar antara apa yang dimaksudkan penyair dalam sajak dan apa
yang dimaksudkan pengarang dalam novel. Akan tetapi, justru karena itulah, hubungan
Olenka dengan sajak Derai-Derai Cemara karya Chairil Anwar tidak sekedar bersifat
transformatif atau hipogramatik, tetapi juga dialektis.

Benar bahwa dua baris sajak tersebut baik oleh penyair dalam sajak maupun oleh novelis
dalam novel sama-sama dipergunakan untuk menggambarkan betapa dalam penyerahan
diri manusia kepada Tuhan. Akan tetapi, aku lirik di dalam sajak digambarkan lebih tenang
dan lebih dewasa dalam menghadapi segala hal, termasuk ketika ia harus menghadapi
kematian. Sementara itu, di dalam novel, Olenka justru digambarkan sebagai figur yang
penuh rasa sesal. Olenka merasa bahwa hidupnya hanyalah serangkaian kesengsaraan
sehingga ia menyesal mengapa tidak mati saja ketika dirinya masih bayi. Itulah sebabnya, ia
merasa takut dan cemas menghadapi kematian. Hal ini berbeda dengan sikap aku lirik di
dalam sajak. Ungkapan Aku sekarang orangnya bisa tahan dan Sudah lama bukan kanak
lagi menunjukkan bahwa aku lirik telah sadar dan siap menghadapi segala hal. Oleh sebab
itu, ia sadar pula bahwa hidup hanya menunda kekalahan, karena bagaimanapun kita
(manusia) pasti kalah, sehingga apa pun yang terjadi harus diserahkan sepenuhnya
kepada Tuhan. Kalau sudah demikian, tidak perlu takut walaupun kematian segera
menjemput.

Telah dikatakan bahwa di dalam konteks novel telah terjadi penyelewengan makna sajak.
Kalau tindakan penyerahan diri di dalam sajak didukung oleh sikap penuh optimistik akibat
dari penerimaannya terhadap adanya proses perubahan yang tidak terelakkan dalam diri
manusia, tindakan penyerahan diri di dalam novel justru disertai dengan sikap dan rasa
pesimistik akibat dari ketidaksadarannya akan proses perubahan dalam hidup. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa gambaran penyerahan diri Olenka (kepada Tuhan)
hanya ditampilkan sebagai sebuah gambaran penyerahan semu.

Analisis Puisi Aku Karya Cahiril Anwar

AKU

Kalau sampai waktuku


'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang


Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari


Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar
Maret 1943
A. MAKNA PUISI AKU
Dengan membaca dan memahami makna puisi Aku karya Chairil Anwar, ada banyak
hal yang bisa dipelajari. Khususnya, bagi generasi yang hidup di era kemerdekaan.
Karena, pada generasi ini, tentu tidak pernah hidup dan mengalami secara nyata
apa yang terjadi di era awal kemerdekaan Indonesia. Beberapa makna puisi Aku, di
antaranya adalah :

1. Wujud kesetiaan dan keteguhan hati atas pilihan kebenaran yang diyakininya. Hal ini tercermin
melalui dua kalimat di awal puisi tersebut, yakni Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang kan
merayu
2. Keberanian dalam berjuang meskipun banyak resiko yang akan dihadapi. Termasuk resiko untuk
kehilangan nyawa atau terluka karena senjata musuh. Inilah yang digelorakan oleh Chairil Anwar,
yang tersurat pada bait ketiga puisi tersebut.
3. Semangat yang tak pernah padam. Sebagaimana yang dinyatakan melalui kalimat aku mau hidup
seribu tahun lagi. Hal tersebut adalah cermin dan betapa semangat Chairil Anwar untuk berjuang,
tidak ingin dibatasi oleh waktu

B. UNSUR INTRINSIK PUISI AKU

Tema
Tema pada puisi Aku karya Chairil Anwar adalah menggambarkan kegigihan dan
semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan, dan
semangat hidup seseorang yang ingin selalu memperjuangkan haknya tanpa
merugikan orang lain, walaupun banyak rintangan yang ia hadapi. Dari judulnya
sudah terlihat bahwa puisi ini menceritakan kisah AKU yang mencari tujuan hidup.

Pemilihan Kata (Diksi)


Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang
dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya. Seperti
pada baris kedua: bait pertama Ku mau tak seorang kan merayu merupakan
pengganti dari kata ku tahu. Kalau sampai waktuku dapat berarti kalau aku
mati, tak perlu sedu sedandapat berarti berarti tak ada gunannya kesedihan itu.
Tidak juga kau dapat berarti tidak juga engkau anaku, istriku, atau kekasihku.

Rasa
Rasa adalah sikap penyeir terhadap pokok permasalahan yang terdapat pada
puisinya.Pada puisi Aku karya Chairil Awar merupakan eskpresi jiwa penyair yang
menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau
menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin
berkreasi. Sikap jiwa jika sampai waktunya, ia tidak mau terikat oleh siapa saja,
apapun yang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai aku. Bahkan jika ia
terluka, akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa
dengan luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah
hidup. Sebab itu ia malahan ingin hidup seribu tahun lagi. Uraian di atas merupakan
yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah sikap chairil yang lahir dari
ekspresi jiwa penyair.

Nada dan Suasana


a.) Nada
Dalam puisi tersebut penulis menggambarkan nada-nada yang berwibawa, tegas,
lugas dan jelas dalam penyampaian puisi ini, karena banyak bait-bait puisi tersebut
menggandung kata perjuangan. Dan menggunanakan nada yang syahdu di bait
yang terkesan sedikit sedih.

b.) Suasana
Suasana yang terdapat dalam puisi tersebut adalah suasana yang penuh
perjuangan, optimis dan kekuatan emosi yang cukup tinggi tetapi ada beberapa
suasana yang berubah menjadi sedih karena dalam puisi tersebut menceritakan ada
beberapa orang yang tak mengaangap perjuangannya si tokoh.

Majas
Dalam puisi tersebut menggunakan majas hiperbola pada kalimat Aku tetap
meradang menerjang. Terdapat juga majas metafora pada kalimat Aku ini
binatang jalang.

Pencitraan/pengimajian
Di dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian, diantaranya :Ku mau tak
seorang kan merayu (Imaji Pendengaran), Tak perlu sedu sedan itu (Imaji
Pendengaran), Biar peluru menembus kulitku (Imaji Rasa), Hingga hilang pedih
perih (Imaji Rasa).

Amanat
Amanat adalah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat
berhubungan dengan makna karya sastra. Makna bersifat kias, subjektif, dan
umum. Makna berhubungan dengan individu, konsep seseorang dan situasi
tempatpenyair mengimajinasikan puisinya.Amanat dalam Puisi Aku karya Chairil
Anwar yang dapat saya simpulkan dan dapat kita rumuskan adalah sebagai berikut
:

1. Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan menghadang.
2. Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja.
3. Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya
itu dapat hidup selama-lamanya.
C. UNSUR EKSTRINSIK

Biografi Pengarang
1. Chairil Anwar di Medan, 22 Juli 1922.
2. Mulai muncul di dunia kesenian pada zaman Jepang.
3. Dilihat dari esai-esai dan sajak-sajaknya terlihat bahwa ia seorang yang individualis yang bebas
dan berani dalam menentang lembaga sensor jepang.
4. Chairil pun seorang yang mencintai tanah air dan bangsanya, hal ini tampak pada sajak-sajaknya:
Diponegoro, Karawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, dll.
Hubungan Karya Sastra Dengan kondisi sosial masyarakat Pada Saat Karya Sastra Lahir Sajak
AKU ini, banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Bahkan sebagai
akibat dari lahirnya sajak AKU ini, Chairil Anwar ditangkap dan dipenjara oleh Kompetai Jepang.
Hal ini karena sajaknya terkesan membangkang terhadap pemerintahan Jepang.

1. Sajak AKU ini ditulis pada tahun 1943, di saat jaman pendudukan Jepang.
2. Kondisi masyarakat pada waktu itu sangat miskin dan menderita.
3. Bangsa Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang, tanpa mampu berbuat banyak
untuk kemerdekannya.
4. Kerja paksa marak terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.
5. Bangsa Indonesia menjadi budak di negaranya sendiri.
Chairil Anwar mulai banyak dikenal oleh masyarakat dari puisinya yang paling
terkenal berjudul Semangat yang kemudian berubah judul menjadi Aku. Puisi yang
ia tulis pada bulan Maret tahun 1943 ini banyak menyita perhatian masyarakat
dalam dunia sastra. Dengan bahasa yang lugas, Chairil berani memunculkan suatu
karya yang belum pernah ada sebelumnya. Pada saat itu, puisi tersebut mendapat
banyak kecaman dari publik karena dianggap tidak sesuai sebagaimana puisi-puisi
lain pada zaman itu
Puisi yang sebelumnya berjudul Semangat ini terdapat dua versi yang berbeda.
Terdapat sedikit perubahan lirik pada puisi tersebut. Kata ku mau berubah menjadi
kutahu. Pada kata hingga hilang pedih peri, menjadi hingga hilang pedih dan
peri. Kedua versi tersebut terdapat pada kumpulan sajak Chairil yang berbeda,
yaitu versi Deru Campur Debu, dan Kerikil Tajam. Keduanya adalah nama kumpulan
Chairil sendiri, dibuat pada bulan dan tahun yang sama. Mungkin Chairil perlu uang,
maka sajaknya itu dimuat dua kali, agar dapat dua honor (Aidit:1999).
Penjelajahan Chairil Anwar berpusar pada pencariannya akan corak bahasa ucap
yang baru, yang lebih berbunyi daripada corak bahasa ucap Pujangga Baru. Chairil
Anwar pernah menuliskan betapa ia betul-betul menghargai salah seorang penyair
Pujangga Baru, Amir Hamzah, yang telah mampu mendobrak bahasa ucap penyair-
penyair sebelumnya. Idiom binatang jalang yang digunakan dalam sajak tersebut
pun sungguh suatu pendobrakan akan tradisi bahasa ucap Pujangga Baru yang
masih cenderung mendayu-dayu.
Secara makna, puisi Aku tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk
dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari
puisi ini. Sesuai dengan judul sebelumnya, puisi tersebut menggambarkan tentang
semangat dan tak mau mengalah, seperti Chairil sendiri.
1. Pada lirik pertama, chairil berbicara masalah waktu seperti pada kutipan (1).

Kalau sampai waktuku

Waktu yang dimaksud dalam kutipan (1) adalah sampaian dari waktu atau sebuah
tujuan yang dibatasi oleh waktu. Chairil adalah penyair yang sedang dalam
pencarian bahasa ucap yang mampu memenuhi luapan ekspresinya sesuai dengan
yang diinginkannya, tanpa harus memperdulikan bahasa ucap dari penyair lain saat
itu. Chairil juga memberikan awalan kata kalau yang berarti sebuah pengandaian.
Jadi, Charil berandai-andai tentang suatu masa saat ia sampai pada apa yang ia cari
selama ini, yaitu penemuan bahasa ucap yang berbeda dengan ditandai keluarnya
puisi tersebut.

Ku mau tak seorang kan merayu

Pada kutipan (2) inilah watak Charil sangat tampak mewarnai sajaknya. Ia tahu
bahwa dengan menuliskan puisi Aku ini akan memunculkan banyak protes dari
berbagai kalangan, terutama dari kalangan penyair. Memang dasar sifat Chairil, ia
tak menanggapi pembicaraan orang tentang karyanya ini, karena memang inilah
yang dicarinya selama ini. Bahkan ketidakpeduliannya itu lebih dipertegas pada lirik
selanjutnya pada kutipan (3).
Tidak juga kau

Kau yang dimaksud dalam kutipan (3) adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini.
Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah
mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk.
Berbicara tentang baik dan buruk, bait selanjutnya akan berbicara tentang nilai baik
atau buruk dan masih tentang ketidakpedulian Chairil atas keduanya.

Tidak perlu sedu sedan itu


Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Zaini, salah seorang Sahabat Chairil pernah bercerita, bahwa ia pernah mencuri
baju Chairil dan menjualnnya. Ketika Chairil mengetahui perbuatan sahabatnya itu,
Chairil hanya berkata, Mengapa aku begitu bodoh sampai bisa tertipu oleh kau. Ini
menunjukkan suatu sikap hidup Chairil yang tidak mempersoalkan baik-buruknya
suatu perbuatan, baik itu dari segi ketetetapan masyarakat, maupun agama.
Menurut Chairil, yang perlu diperhatikan justru lemah atau kuatnya orang.
Dalam kutipan (4), ia menggunakan kata binatang jalang, karena ia ingin
menggambar seolah seperti binatang yang hidup dengan bebas, sekenaknya sendiri,
tanpa sedikitpun ada yang mengatur. Lebih tepatnya adalah binatang liar. Karena
itulah ia dari kumpulannya terbuang. Dalam suatu kelompok pasti ada sebuah
ikatan, ia dari kumpulannya terbuang karena tidak ingin mengikut ikatan dan
aturan dalam kumpulannya.

Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Peluru tak akan pernah lepas dari pelatuknya, yaitu pistol. Sebuah pistol seringkali
digunakan untuk melukai sesuatu. Pada kutipan (5), bait tersebut tergambar bahwa
Chairil sedang diserang dengan adanya peluru menembus kulit, tetapi ia tidak
mempedulikan peluru yang merobek kulitnya itu, ia berkata Biar. Meskipun dalam
keadan diserang dan terluka, Chairil masih memberontak, ia tetap meradang
menerjang seperti binatang liar yang sedang diburu. Selain itu, lirik ini juga
menunjukkan sikap Chairil yang tak mau mengalah.
Semua cacian dan berbagai pembicaraan tentang baik atau buruk yang tidak ia
pedulikan dari sajak tersebut juga akan hilang, seperti yang ia tuliskan pada lirik
selanjutnya.

Dan aku akan lebih tidak perduli


Aku mau hidup seribu tahun lagi

Inilah yang menegaskan watak dari penyair atau pun dari puisi ini, suatu
ketidakpedulian. Pada kutipan (6), bait ini seolah menjadi penutup dari puisi
tersebut. Sebagaimana sebuah karya tulis, penutup terdiri atas kesimpulan dan
harapan. Kesimpulannya adalah Dan aku akan lebih tidak perduli, ia tetap tidak
mau peduli. Chairil berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar ia tetap
bisa mencari-cari apa yang diinginkannya.
Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam
puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu adalah makhluk
yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang
dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap
manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu
dalam berkarya. Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun
bentuk penilaian itu.

Analisis Puisi Surat Dari Ibu Karya Asrul Sani

SURAT DARI IBU

Pergi ke dunia anak-anaku sayang


pergi ke hidup bebas!
Sesama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang


pergi ke alam bebas!
Sesama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar


dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang


kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"

karya : Asrul Sani


UNSUR INSTRINSIK

Tema
Tema merupakan gagasan utama atau ide pokok yang terdapat dalam sebuah puisi
yang ingin diungkapkan oleh penyair. Tema yang terkandung dalam puisi Surat dari
Ibu karya Asrul Sani adalah pendidikan, yaitu nasihat seorang ibu kepada anaknya
agar mengembara untuk mencari pengetahuan dan pengalaman sebanyak mungkin
agar hidupnya dapat kokoh.
Setelah pemuda memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup, dinyatakan
dengan "Jika bayang telah pudar/dan elang laut pulang ke sarang angin bertiup ke
benua tiang-tiang akan kering sendiri dan nakhoda sudah tahu pedoman Boleh
engkau datang padaku!" Pada bait terakhir, sang ibu meminta anaknya "pulang
kembali ke balik malam untuk "bercerita tentang cinta dan hidupmu pagi hari".

Perasaan
Perasaan merupakan kehendak yang ingin diungkapkan oleh penyair. Perasaan juga
mrujuk kepada isi hati sang penyair, bagaimana suasana hatinya saat membuat
sebuah puisi. Perasaan yang terkandung dalam puisi Surat dari Ibu karya Asrul Sani
adalah ketegasan. Perasaan ketegasan terlihat pada bait ke-2, yaitu masa muda di
saat tenaga masih kuat dan banyak kesempatan tersedia untuk mencapai cita-cita.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang


pergi ke alam bebas!
Sesama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Nada dan Suasana


Nada merupakan sikap penyair terhadap para pembaca, sedangkan suasana
merupakan keadaan jiwa yang ditimbulkan oleh puisi tersebut kepada para
pembaca. Jika membaca puisi Surat dari Ibu karya Asrul Sani akan terlihat
bagaimana nada yang akan dipakai saat mengucap larik-lariknya. Penulis
merasakan nada sungguh-sungguh dan serius. Selain itu juga ada larik yang jika
dibacakan sangat sesuai dengan nada haru, yaitu pada baris ke-20 yang berbunyi
Kita akan bercerita, yaitu menggambarkan sang ibu dan sang anak saling
menceritakan pengalamannya dan melepas kerinduan. Suasana dalam puisi ini juga
menggambarkan suasana serius, yaitu pada baris ke-15 dan ke-16, yaitu dan
nahkoda sudah tau pedoman dan boleh engkau datang padaku!. Keseriusan
tersebut mengandung arti seorang ibu menyuruh anaknya pergi untuk mencapai
segala cita-cita kemudian setelah cita-cita tercapai dan hidupnya telah sukses, maka
si Ibu menyuruh anaknya kembali pulang.

Amanat
Amanat merupakan suatu hal yang mendorong penyair untuk menciptakan sebuah
puisi. Dengan kata lain, amanat adalah pesan tersirat yang ingin disampaikan oleh
penyair melalui puisi buatannya. Amanat yang terkandung dalam puisi Surat dari
Ibu karya Asrul Sani adalah ini merupakan harapan ibu untuk anaknya dalam
berjuang menyelami hidup dari tidak mempunyai apa-apa (ilmu, harta benda dll)
sampai berhasil menjadi orang ( pintar, cerdas, sukses, kaya dll) sesuai dengan cita-
cita seorang anak, anak tersebut tidak melupakan keluarga dan ibunya, yang
akhirnya akan kembali lagi bercengkrama dengan ibunya.
Melalui puisinya, pengarang juga mau menyampaikan pesan/amanat bahwa:

1. Kesuksesan seorang anak hendaknya tidak menjadikannya lupa kepada kedua orang tuanya,
terutama ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.
2. Seorang ibu tidak pernah menginginkan kesuksesan ataupun buah kesuksesan anaknya (berupa
harta/uang). Seorang ibu akan cukup berbahagia jika anaknya masih mau meluangkan waktu
berkumpul dengannya untuk sekedar bercerita tentang pengalaman hidupnya dan kesuksesannya.
Maka, seorang anak hendaknya selalu menjaga hubungan baik dengan selalu memperhatikan
orang tuanya.
UNSUR EKSTRINSIK

Biografi Asrul Sani


Asrul Sani lahir di Rao, suatu daerah di sebelah utara Sumatera Barat, pada tanggal
10 Juni 1926 dan meninggal di Jakarta, pada tahun 2004
Asrul Sani berasal dari keluarga yang terpandang. Ayahnya adalah seorang raja
yang bergelar Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti RaoMapat.
Meski membenci Belanda, ayahnya sangat menggemari musik klasik (aliran musik
bergengsi dari Eropa yang tidak biasa didengar oleh penduduk pribumi pada saat
itu, apalagi di daerah terbelakang seperti Rao). Oleh karena itu, Asrul patut
berbangga hati karena sebelum bersekolah, ia sudah mendengar karya-karya
terkenal dari Schubert.

Ibunya adalah seorang wanita yang sederhana, namun sangat memperhatikan


pendidikannya. Sejak kecil ia dimanjakan oleh ibunya dengan buku-buku cerita
ternama. Ibunya selalu membacakan buku-buku tersebut untuknya. Oleh karena itu,
sekali lagi, ia patut berbangga hati karena sebelum pandai membaca, ia sudah
mendengar cerita Surat Kepada Raja karya Tagore.
Inilah gambaran Asrul muda di mata Pramoedya Ananta Toer:
Seorang pemuda langsing, gagah, ganteng, berhidung mancung bersikap aristokrat
tulenTinggalnya di jalan Gondangdia Lama. Mendengar nama jalan ini saja, kami
pribumi kampung yang lain, mau tak mau terpaksa angkat pandang menatap
wajahnya. Di Gondangdia Lama hanya ada gedung-gedung besar, megah, dan
mewah. Akan tetapi, kami pun punya kebanggaan penerbitan kami. Begitulah,
pada suatu kali kami undang dia datang menghadiri diskusi sastra. Penerbitan
kebanggaan kami, kami perlihatkan kepadanya. Dia baca pendapat redaksi tentang
sajak-sajak peserta. Tentunya, kami ingin tahu pendapatnya, dan sudah tentu juga
perhatiannya. Ternyata pendapat dan perhatiannya tepat sebaliknya daripada yang
kami harapkan. Aku masih ingat kata-katanya: Tahu apa orang-orang ini tentang
sajak? Dan, kami pun sadar, sesungguhnya kami tidak tahu. Tapi itu tidaklah
begitu mengejutkan dibanding dengan kata-katanya yang lain: Tahu apa orang-
orang ini tentang Keats dan Shelley! Bukan hanya kami yang baru dengar kata-kata
aneh itu, juga Victor Hugo-nya Sanjaya menjadi gagu kehilangan lidah!
Pemuda berpeci merah tebal itu adalah asrul Sani . Dan penerbitan kamipun mati
kehabisan darah kebakaran semangant.
Asrul memulai pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School(HIS), Bukittinggi,
pada tahun 1936. Lalu, ia masuk ke SMP Taman Siswa, Jakarta (1942), Sekolah
Kedokteran Hewan, Bogor (194.). Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1955.
Jadi, ia adalah seorang dokter hewan. Akan tetapi, gelar bergengsi itu tidak dapat
mengalihkan perhatiannya dari dunia seni (sastra, teater, dan film). Bahkan, di sela-
sela kuliahnya, ia masih sempat belajar drama di akademi seni drama di Amsterdam
(bea siswa dari Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, 1952).
Asrul Sani bisa memuji secara habis, selamanya disediakan tempat yang lebih tinggi
bagi dirinya. (M. Balfas dalamHutagalung)g
Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan 45.
Kariernya sebagai Sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan
Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir.
Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang
mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra
dengan memproklamirkan Surat Kepercayaan Gelanggang sebagai manifestasi
sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka.
Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga
penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul Sahabat Saya Cordiaz
dimasukkan oleh Teeuw ke dalam Moderne Indonesische Verhalen dan dramanya
,Mahkamah, mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal
sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun 50-an. Salah satu karya
esainya yang terkenal adalah Surat atas Kertas Merah Jambu (sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).
Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan
langkahnya ke dunia film. Ia mementaskan Pintu Tertutup karya Jean-Paul Sartre,
Burung Camar karya Anton P. Chekov, dll. Ia menulis skenario film Lewat Jam
Malam (mendapat penghargaan dari FFI, 1955), Apa yang Kau Cari Palupi?
(mendapat Golden Harvest pada Festival Film Asia, 1971), Kemelut Hidup
(mendapat Piala Citra 1979),dll. Ia juga menyutradarai film Salah Asuhan (1972),
Jembatan Merah (1973), Bulan di atas Kuburan (1973), dll.
Banyak sekali pekerjaan yang dilakukan Asrul Sani semasa hidupnya dan berbagai
bidang pula. Ia pernah menjadi Laskar Rakyat (pada masa proklamasi), redaktur
majalah (Pujangga Baru, Gema Suasana, Siasat, dan Zenith). Ketua Dewan
Kesenian Jakarta (19771987), Ketua Lembaga Seniman Kebudayaan Muslim
(Lesbumi), Anggota Badan Sensor Film, Pengurus Pusat Nahdatul Ulama, Anggota
DPR-MPR (19661983), dll.
Dalam perjalanan hidupnya, Asrul pernah menikah dua kali. Yang pertama, ia
menikahi Siti Nuraini, temannya sesama wartawan, pada tanggal 29 Maret 1951, di
Bogor (dan bercerai pada tahun 1961). Yang kedua, ia menikahi Mutiara Sarumpaet,
22 tahu lebih muda darinya, pada tanggal 29 desember 1972. Dari pernikahannya
yang pertama, Asrul dikaruniai tiga anak perempuan dan dari pernikahannya yang
kedua Asrul dikaruniai tiga anak laki-laki
Pada masa akhir hidupnya, istrinya, Mutiara Sarumpaet, tetap setia
mendampinginya. Asrul yang mulai renta dan sudah harus duduk di kursi roda tidak
menghalangi keduanya untuk tampil di depan umum dengan mesra. Ketika
menghadiri acara pelantikan Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D. (adik kandung
Mutiara) menjadi guru besar di Universitas Indonesia (3 September 2003), Mutiara
dengan mesra menyuapi Asrul di atas kursi rodanya. Makanan dan minuman yang
sesekali meluncur dari bibir dan mengotori dagunya, dilap oleh Mutiara dengan
lembut.

Karya-Karya Asrul Sani


I. Karya Asli
a) puisi
b) cerita pendek
c) drama
d) esai
II. Karya Terjemahan
a) puisi
b) cerita pendek
c) novel (masih berupa naskah)
d) drama (sebagian besar masih berupa naskah)
MAKNA PUISI
Analisis kebahasaan dan makna
Puisi Surat dari Ibu, karya Asrul Sani
NO Larik Puisi Makna

1 Pergi ke laut lepas, anakku sayang mencari pengalaman dan menambah


wawasan

laut lepas = kata simbol (=dunia /


masyarakat / ilmu pengetahuan /
kehidupan)

2 pergi ke alam bebas! Alam bebas = kt. Simbol (=membebaskan


pikiran; menambah wawasan agar pergaulan
dan pengetahuannya luas)

3 Selama hari belum petang Selama sang anak belum menadi tua

Petang = kiasan; simbol (=tua)

4 dan warna senja belum kemerah- Dan pemikirannya belum penuh dengan
merahan beban pemikiran tentang hidup

Senja belum kemerah-merahan = suasana


suram / pekat;menggambarkan pikiran
orang tua yang penuh dengan permasalahan
hidup

5 menutup pintu waktu lampau Kita tak mungkin kembali ke masa lalu

Ket :

baris 4-5 mengandung majaspersonifikasi;


karena hari diandaikan berlaku seperti
manusia (menutup pintu)

baris 3-5 mengandung citraan / imaji visual

6 Jika bayang telah pudar Jika pengalaman yang didapat telah banyak ;
digambarkan dengan kata-kata konkret pada
baris 1-2 yang menggambarkan hari sudah
senja. (Jika bayang telah pudar berarti hari
sudah mulai senja / dan elang laut pulang ke
sarang juga pada waktu senja). Artinya,
pengalaman dan pengetahuan yang didapat
sang anak sudah banyak / sudah mencukupi.

7 dan elang laut pulang ke sarang

8 angin bertiup ke benua Angin bertiup ke benua / daratan saatnya


para nelayan kembali pulang ke darat;
artinya saatnya sang anak kembali pulang.
9 Tiang-tiang akan kering sendiri Tiang-tiang akan kering sendiri artinya
kedewasaan dan jiwa sang anak sudah
kokoh oleh pengalaman dan pengetahuan
yang diperoleh
SHARE
10 dan nakhoda sudah tahu pedoman Nakhoda simbol seorang pemimpin yang TO
Facebook
memimpin kapalnya.

Kapal simbol kehidupan / perjalanan hidup


seseorang

Jadi, nakhoda sudah tahu pedoman =


pemimpin yang sudah tahu tujuan hidupnya.
Sang anak diharapkan sudah tahu tujuan
hidupnya

11 boleh engkau datang padaku! Maka sang anak boleh menceritakan seluruh
pengalaman dan kesuksesannya kepada
sang ibu.

12 Kembali pulang, anakku sayang Sang ibu meminta anaknya pulang

13 kembali ke balik malam! Kembali untuk menenangkan diri dan


beristirahat / berkumpul dengan keluarga

Malam menggambarkan keadaan; saatnya


seluruh anggota keluarga berkumpul dan
beristirahat bersama

14 Jika kapalmu telah rapat ke tepi Jika perjalanan hidup; tujuan hidup sang
anak telah tercapai

Digambarkan dengan kapal telah merapat ke


tepi (biasanya kapal akan sandar / merapat
ke tepi / pelabuhan jika telah sampai tujuan)

15 Kita akan bercerita Kita (=sang ibu dan sang anak) saling
menceritakan pengalamannya; melepas
kerinduan

16 Tentang cinta dan hidupmu pagi Menceritakan hal-hal yang baik (tentang
hari kesuksesan sang anak dan bukan tentang
keluhan atau kegagalan yang menyebabkan
sang ibu bersedih) digambarkan dengan
menceritakan tentang cinta; dan
menceritakan rencana hidup sang anak di
masa depan.
Analisis Puisi Kepada Peminta-Minta Karya Chairil Anwar

A. Makna Puisi Kepada Peminta-Minta

Karya : Chairil Anwar

Baik, baik aku akan menghadap Dia


Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Seorang tokoh aku yang merasa iba kepada si pengemis dan memberikan apa
yang ia punya dengan terpaksa. Tokoh aku terganggu dan risih selalu dipandang
terus-menerus oleh pengemis, sebenarnya tokoh aku tidak setuju dengan cara si
pengemis mencari nafkah dan mengatakan jika si pengemis terus seperti ini ia tidak
akan iba lagi.

Jangan lagi kau bercerita


Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.

Tokoh aku yang tidak suka mendengar si pengemis meminta-minta sambil


memasang wajah susah dan sengsara, bahkan walau keringat banyak bercucuran ia
tetap meminta dengan nada yang kasihan sampai ada yang memberinya uang.

Bersuara tiap kau melangkah


Mengeerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau dating
Sembarang kau merebah.

Dari sudut pandang tokoh aku ia melihat si pengemis selalu meminta belas kasihan
di setiap lanngkahnya, mengiba disetiap pandangannya, dan menangis setiap saat
dan dia selalu tidur dimanapun dia berada.

Mengganggu dalam mimpiku


Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.

Tokoh aku selalu kepikiran dengan sikap si pengemis, Membuatnya berpikir


tentang kehidupan yang begitu sulit dan rumit, namun ia ingin mengatakan sesuatu
yang selalu menjanggal dipikirannya kepada si pengemis agar mencari nafkah yang
lebih baik dari pada meminta-minta.

Baik, baik aku akan menghadap Dia


Menyerahkan diri dari segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.
Seorang tokoh aku yang merasa iba kepada si pengemis dan memberikan apa
yang ia punya dengan terpaksa. Tokoh aku terganggu dan risih selalu dipandang
terus-menerus oleh pengemis, sebenarnya tokoh aku tidak setuju dengan cara si
pengemis mencari nafkah dan mengatakan jika si pengemis terus seperti ini ia tidak
akan iba lagi.

B. Unsur Intrinsik Puisi Kepada Peminta-minta


Unsur intrinsik puisi adalah unsur-unsur yang berasal dari dalam naskah puisi
tersebut. Adapun unsur-unsur intrinsic puisi yang berjudul Kepada Peminta-minta
meliputi:

Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran itu
begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama
pengucapannya. Tema puisi yang berjudul Kepada Peminta-minta adalah
keperihatinan dan ketidak setujuan. Disini tokoh aku tidak suka melihat pengemis
mencari nafkah dengan cara meminta-minta, walaupun kehidupan sangat rumit
namun tokoh aku berharap pengemis mencari nafkah dengan cara yang lebih baik.

Tipografi
Tipografi disebut juga ukiran bentuk puisi. Tipografi adalah tatanan larik, bait, dan
baris.

No Bentuk Puisi Kepada Peminta-minta

1 Bait Terdapat 5 bait

2 Baris Tiap bait terdiri dari 4 baris

Perasaan

Perasaan dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat
dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan
yang berbeda dari penyair lainnya. Perasaan yang terdapat dalam Kepada Peminta-minta
mampu mengungkapkan isi hati penyair yang begitu menginginkan pengemis untuk tidak lagi
meminta-minta dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Penggunaan kata-katanya sederhana namun
dapat membangkitkan perasaan pembaca yang ingin melihat perubahan terhadap cara untuk
mencari nafkah. Dalam kalimat

Mengganggu dalam mimpiku


Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.

Penyair mengungkapkan perasaan yang ingin diutarakan kepada pengemis dimana


Tokoh aku selalu kepikiran dengan sikap si pengemis, Membuatnya berpikir tentang
kehidupan yang begitu sulit dan rumit, namun ia ingin mengatakan sesuatu yang
selalu menjanggal dipikirannya kepada si pengemis agar mencari nafkah yang lebih
baik dari pada meminta.

Nada dan Suasana


Nada berkaitan erat dengan suasana. Nada bahagia yang diciptakan penyair dapat
menimbulkan perasaan senang pada pembaca setelah membaca puisi. Nada religius
menimbulkan suasana khusyuk pada pembaca. Nada kritik menimbulkan suasana
pemberontakan pada hati pembaca. Begitulah sangat eratnya hubungan nada dan
suasana. Puisi Kepada Peminta-minta bernada terpaksa seperti yang ditunjukkan
oleh kalimat

Baik, baik aku akan menghadap Dia


Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Seorang tokoh aku yang merasa iba kepada si pengemis dan memberikan apa
yang ia punya dengan terpaksa. Tokoh aku terganggu dan risih selalu dipandang
terus-menerus oleh pengemis, sebenarnya tokoh aku tidak setuju dengan cara si
pengemis mencari nafkah dan mengatakan jika si pengemis terus seperti ini ia tidak
akan iba lagi.
Suasana yang timbul akibat nada yang disodorkan penyair tersebut membuat
pembaca setuju bahwa dalam mencari nafkah tidak seharusnya dengan cara
meminta-minta selama kita masih mampu untuk berusaha.

Diksi
Persoalan pemilihan kata merupakan masalah yang sungguh-sungguh esensial
untuk melukiskan dengan sejelas-jelasnya wujud dan perincian materi. Diksi sendiri
berarti pemilihan kata, yaitu pemilihan kata yang digunakan penyair untuk mencari
kata yang tepat dan sesuai dengan bentuk puisi dan tema yang dikandungnya,
sehingga menghasilkan jiwa penyair secara tepat, setidak-tidaknya mendekati
kebenaran.
Kata-kata yang dipergunakan dunia persajakan di samping memiliki arti denotatif
dapat pula memiliki arti konotatif. Berikut perbandingan pemakaian kata-kata
konotatif dalam puisi Kepada Peminta-minta tersebut:

Bait Kepada Peminta-minta

1 Menyerahkan diri dan segala dosa

(baris 2)

2 Nanti darahku menjadi beku

(baris 4)
3 Nanah meleleh dari muka

(baris 1)

4 Mengerang tiap kau memandang

(baris 2)

5 Menghempas diri di bumi keras

(baris 2)

6 Menyerahkan diri dan segala dosa

(baris 2)

7 Nanti darahku menjadi beku

(baris 4)

Citraan
Citraan atau imagi (imageri) adalah gambaran angan yang timbul setelah seseorang
membaca karya sastra dalam hal ini puisi. Imageri dapat kita pakai sebagai hal
untuk memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan nantinya
akan menjelmakan gambaran nyata. Citraan yang terdapat dalam puisi Kepada
Peminta-minta meliputi citraan penglihatan, citraan pendengaran, dan citraan
gerak. Berikut ini citraan yang terdapat pada puisi tersebut:

Citraan Kepada Peminta-minta

Penglihatan Nanti darahku jadi beku

(bait 1 & 5, baris 4)

Telah tercacar semua di muka

(bait 2, baris 2 )

Nanah meleleh dari muka

(bait 2, baris 3)

Sembarang kau merebah

(bait 3, baris 4)

Pendengaran Bersuara tiap kau memandang

(bait 3, baris 1)
Mengaum di telingaku

(bait 4, baris 4)

Gerak Sambil berjalan kau usap jua

(bait 2, baris 4)

Gaya bahasa
Bahasa Figuratif
Dalam puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar terdapat bahasa figuratif
yang muncul yaitu pada baris ke 4 dan 21. Merupakan majas hiperbola yang bersifat
berlebih-lebihan. Muncul majas hiperbola dari kata nanti darahku jadi beku. Selain
itu pula muncul majas repetisi pada baris 1 dan 18. Terjadi pengulangan pada kata
baik, dalam konteksnya yaitu baik, baik aku akan menghadap Dia.

Verifikasi
Verifikasi adalah berupa rima (persamaan bunyi pada puisi, di awal, di tengah, dan
di akhir); ritma (tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lemahnya bunyi). Vertifikasi
yang terdapat dalam puisi Kepada Peminta-minta adalah bait pertama dan bait
kelima.

Majas
Majas adalah cara penyair menjelaskan pikirannya melalui gaya bahasa yang indah
dalam bentuk puisi. Gaya bahasa yang terdapat dalam puisi Kepada Peminta-
minta adalah hiperbola. Berikut ini gaya bahasa hiperbola yang terdapat dalam
puisi tersebut:

Gaya Kepada Peminta-minta


Bahasa
Hiperbola Nanti darahku jadi beku

(bait 1 dan 5, baris 4)

Nanah meleleh dari muka

(bait 2, baris 3)

Menghempas diri di bumi keras

(bait 4, baris 2)

Mengaum di telingaku

(bait 4 baris 4)
Amanat
Amanat atau pesan adalah sesuatu yang ingin disampaikan penyair melalui
karyanya. Amanat puisi Kepada Peminta-minta adalah ajakan penyair kepada
pembaca agar tetap berusaha dalam mencari nafkah untuk dirinya sendiri serta
keluarganya dan mencari pekerjaan yang lebih baik.

C. Unsur Ekstrinsik Puisi Kepada Peminta-minta

Biografi Pengarang
Unsur biografi adalah latar belakang atau riwayat hidup penulis.
Chairil Anwar dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul
Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya,
termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B.
Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia. Chairil lahir
dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan
ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah
mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya
menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme,
dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Chairil Anwar dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis. Orang tuanya
bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Ia merupakan anak satu-satunya dari
pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota,
Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri, Riau. Ia
masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama
Indonesia. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya. Namun,
Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit
cerminan dari kepribadian orang tuanya. Chairil Anwar mulai mengenyam
pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang
pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak
lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad
menjadi seorang seniman. Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya,
Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dimana ia berkenalan
dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya.
Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai
bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.

Chairil Anwar juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang


internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish,
Hendrik Marsman, J.Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat
memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan
Indonesia. Semasa kecil di Medan, Chairil Anwar sangat dekat dengan neneknya.
Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil Anwar. Dalam hidupnya
yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya
meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa
pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/
Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan
terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda
menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya
yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya. Sejak
kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul
Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika
semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah
pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam
mendapatkan keinginan hatinya.

Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu
meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. Rakannya, Jassin
pun punya kenangan tentang ini. Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan
dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus.
Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis
Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua
nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis
Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya. Pernikahan itu tak berumur panjang.
Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah
meminta pisah. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda. Tak lama
setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa
versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.Umur Chairil memang
pendek, 27 tahun.
Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan
Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-
sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya,
Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat
mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, Saya minta maaf, karena kini saya
hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.

Unsur nilai dalam cerita meliputi nilai ekonomi, politik, sosial, adat-istiadat, budaya, dan lain-lain.
1. Nilai ekonomi adalah kita harus berusaha mencari nafkah dan pekerjaan yang lebih baik, buktinya
: tokoh aku menginginkan si pengemis mencari nafkah dengan cara yang lebih baik, sehingga si
pengemis bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik daripada meminta-minta.
2. Nilai sosial adalah kita sesama manusia harus saling membantu dan tolong menolong. Buktinya :
tokoh aku membantu si pengemis dengan cara memberikannya uang dan nasihat.
3. Nilai politik adalah kita sebagai penerus bangsa harus menjadi orang yang memiliki kehidupan
yang lebih baik untuk dirisendiri, Negara, dan bangsa. Buktinya tokoh aku ingin melihat Negara
Indonesia menjadi maju dengan masyarakat yang terus berusaha mencari nafkah dengan pekerjaan
yang lebih baik dan mengurangi tingkat populasi pengemis maupun gelandangan.
4. Nilai agama adalah kita sebagai umat islam harus selalu berusaha dengan segenap kemampuan
sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Allah SWT. Butinya : tokoh aku tidak suka melihat
seorang pengemis yang meminta-minta, sedangkan dalam agama Allah SWT menganjurkan
umatnya untuk berusaha selama ia bisa melakukannya.
5. Nilai budaya adalah kita sebagai generasi penerus harus melestarikan kebiasaan yang baik dan
menjauhi kebiasaan yang buruk. Buktinya : melakukan si pengemis akan menjadikan pekerjaan
meminta-minta sebagai kebiasaan sehingga ia malas untuk berusaha.
6. Nilai pendidikan adalah kita sebagai penerus bangsa harus berusaha dalam belajar agar
mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan berkecukupan.
Latar Belakang Puisi
Pada puisi Kepada Peminta-minta penyair menggambarkan bahwa ia merasa
kecewa serta marah terhadap pengemis dan ia ingin si pengemis mencari nafkah
dengan cara yang lebih baik, sehingga penyair menggambarkan perasaannya
melalui puisi ini.

Analisis Puisi Aku Karya Cahiril Anwar

AKU

Kalau sampai waktuku


'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang


Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari


Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar
Maret 1943
A. MAKNA PUISI AKU
Dengan membaca dan memahami makna puisi Aku karya Chairil Anwar, ada banyak
hal yang bisa dipelajari. Khususnya, bagi generasi yang hidup di era kemerdekaan.
Karena, pada generasi ini, tentu tidak pernah hidup dan mengalami secara nyata
apa yang terjadi di era awal kemerdekaan Indonesia. Beberapa makna puisi Aku, di
antaranya adalah :

1. Wujud kesetiaan dan keteguhan hati atas pilihan kebenaran yang diyakininya. Hal ini tercermin
melalui dua kalimat di awal puisi tersebut, yakni Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang kan
merayu
2. Keberanian dalam berjuang meskipun banyak resiko yang akan dihadapi. Termasuk resiko untuk
kehilangan nyawa atau terluka karena senjata musuh. Inilah yang digelorakan oleh Chairil Anwar,
yang tersurat pada bait ketiga puisi tersebut.
3. Semangat yang tak pernah padam. Sebagaimana yang dinyatakan melalui kalimat aku mau hidup
seribu tahun lagi. Hal tersebut adalah cermin dan betapa semangat Chairil Anwar untuk berjuang,
tidak ingin dibatasi oleh waktu

B. UNSUR INTRINSIK PUISI AKU

Tema
Tema pada puisi Aku karya Chairil Anwar adalah menggambarkan kegigihan dan
semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan, dan
semangat hidup seseorang yang ingin selalu memperjuangkan haknya tanpa
merugikan orang lain, walaupun banyak rintangan yang ia hadapi. Dari judulnya
sudah terlihat bahwa puisi ini menceritakan kisah AKU yang mencari tujuan hidup.

Pemilihan Kata (Diksi)


Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang
dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya. Seperti
pada baris kedua: bait pertama Ku mau tak seorang kan merayu merupakan
pengganti dari kata ku tahu. Kalau sampai waktuku dapat berarti kalau aku
mati, tak perlu sedu sedandapat berarti berarti tak ada gunannya kesedihan itu.
Tidak juga kau dapat berarti tidak juga engkau anaku, istriku, atau kekasihku.

Rasa
Rasa adalah sikap penyeir terhadap pokok permasalahan yang terdapat pada
puisinya.Pada puisi Aku karya Chairil Awar merupakan eskpresi jiwa penyair yang
menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau
menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin
berkreasi. Sikap jiwa jika sampai waktunya, ia tidak mau terikat oleh siapa saja,
apapun yang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai aku. Bahkan jika ia
terluka, akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa
dengan luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah
hidup. Sebab itu ia malahan ingin hidup seribu tahun lagi. Uraian di atas merupakan
yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah sikap chairil yang lahir dari
ekspresi jiwa penyair.

Nada dan Suasana


a.) Nada
Dalam puisi tersebut penulis menggambarkan nada-nada yang berwibawa, tegas,
lugas dan jelas dalam penyampaian puisi ini, karena banyak bait-bait puisi tersebut
menggandung kata perjuangan. Dan menggunanakan nada yang syahdu di bait
yang terkesan sedikit sedih.

b.) Suasana
Suasana yang terdapat dalam puisi tersebut adalah suasana yang penuh
perjuangan, optimis dan kekuatan emosi yang cukup tinggi tetapi ada beberapa
suasana yang berubah menjadi sedih karena dalam puisi tersebut menceritakan ada
beberapa orang yang tak mengaangap perjuangannya si tokoh.
Majas
Dalam puisi tersebut menggunakan majas hiperbola pada kalimat Aku tetap
meradang menerjang. Terdapat juga majas metafora pada kalimat Aku ini
binatang jalang.

Pencitraan/pengimajian
Di dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian, diantaranya :Ku mau tak
seorang kan merayu (Imaji Pendengaran), Tak perlu sedu sedan itu (Imaji
Pendengaran), Biar peluru menembus kulitku (Imaji Rasa), Hingga hilang pedih
perih (Imaji Rasa).

Amanat
Amanat adalah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat
berhubungan dengan makna karya sastra. Makna bersifat kias, subjektif, dan
umum. Makna berhubungan dengan individu, konsep seseorang dan situasi
tempatpenyair mengimajinasikan puisinya.Amanat dalam Puisi Aku karya Chairil
Anwar yang dapat saya simpulkan dan dapat kita rumuskan adalah sebagai berikut
:

1. Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan menghadang.
2. Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja.
3. Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya
itu dapat hidup selama-lamanya.
C. UNSUR EKSTRINSIK

Biografi Pengarang
1. Chairil Anwar di Medan, 22 Juli 1922.
2. Mulai muncul di dunia kesenian pada zaman Jepang.
3. Dilihat dari esai-esai dan sajak-sajaknya terlihat bahwa ia seorang yang individualis yang bebas
dan berani dalam menentang lembaga sensor jepang.
4. Chairil pun seorang yang mencintai tanah air dan bangsanya, hal ini tampak pada sajak-sajaknya:
Diponegoro, Karawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, dll.
Hubungan Karya Sastra Dengan kondisi sosial masyarakat Pada Saat Karya Sastra Lahir Sajak
AKU ini, banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Bahkan sebagai
akibat dari lahirnya sajak AKU ini, Chairil Anwar ditangkap dan dipenjara oleh Kompetai Jepang.
Hal ini karena sajaknya terkesan membangkang terhadap pemerintahan Jepang.

1. Sajak AKU ini ditulis pada tahun 1943, di saat jaman pendudukan Jepang.
2. Kondisi masyarakat pada waktu itu sangat miskin dan menderita.
3. Bangsa Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang, tanpa mampu berbuat banyak
untuk kemerdekannya.
4. Kerja paksa marak terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.
5. Bangsa Indonesia menjadi budak di negaranya sendiri.
Chairil Anwar mulai banyak dikenal oleh masyarakat dari puisinya yang paling
terkenal berjudul Semangat yang kemudian berubah judul menjadi Aku. Puisi yang
ia tulis pada bulan Maret tahun 1943 ini banyak menyita perhatian masyarakat
dalam dunia sastra. Dengan bahasa yang lugas, Chairil berani memunculkan suatu
karya yang belum pernah ada sebelumnya. Pada saat itu, puisi tersebut mendapat
banyak kecaman dari publik karena dianggap tidak sesuai sebagaimana puisi-puisi
lain pada zaman itu
Puisi yang sebelumnya berjudul Semangat ini terdapat dua versi yang berbeda.
Terdapat sedikit perubahan lirik pada puisi tersebut. Kata ku mau berubah menjadi
kutahu. Pada kata hingga hilang pedih peri, menjadi hingga hilang pedih dan
peri. Kedua versi tersebut terdapat pada kumpulan sajak Chairil yang berbeda,
yaitu versi Deru Campur Debu, dan Kerikil Tajam. Keduanya adalah nama kumpulan
Chairil sendiri, dibuat pada bulan dan tahun yang sama. Mungkin Chairil perlu uang,
maka sajaknya itu dimuat dua kali, agar dapat dua honor (Aidit:1999).
Penjelajahan Chairil Anwar berpusar pada pencariannya akan corak bahasa ucap
yang baru, yang lebih berbunyi daripada corak bahasa ucap Pujangga Baru. Chairil
Anwar pernah menuliskan betapa ia betul-betul menghargai salah seorang penyair
Pujangga Baru, Amir Hamzah, yang telah mampu mendobrak bahasa ucap penyair-
penyair sebelumnya. Idiom binatang jalang yang digunakan dalam sajak tersebut
pun sungguh suatu pendobrakan akan tradisi bahasa ucap Pujangga Baru yang
masih cenderung mendayu-dayu.
Secara makna, puisi Aku tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk
dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari
puisi ini. Sesuai dengan judul sebelumnya, puisi tersebut menggambarkan tentang
semangat dan tak mau mengalah, seperti Chairil sendiri.
1. Pada lirik pertama, chairil berbicara masalah waktu seperti pada kutipan (1).

Kalau sampai waktuku

Waktu yang dimaksud dalam kutipan (1) adalah sampaian dari waktu atau sebuah
tujuan yang dibatasi oleh waktu. Chairil adalah penyair yang sedang dalam
pencarian bahasa ucap yang mampu memenuhi luapan ekspresinya sesuai dengan
yang diinginkannya, tanpa harus memperdulikan bahasa ucap dari penyair lain saat
itu. Chairil juga memberikan awalan kata kalau yang berarti sebuah pengandaian.
Jadi, Charil berandai-andai tentang suatu masa saat ia sampai pada apa yang ia cari
selama ini, yaitu penemuan bahasa ucap yang berbeda dengan ditandai keluarnya
puisi tersebut.

Ku mau tak seorang kan merayu

Pada kutipan (2) inilah watak Charil sangat tampak mewarnai sajaknya. Ia tahu
bahwa dengan menuliskan puisi Aku ini akan memunculkan banyak protes dari
berbagai kalangan, terutama dari kalangan penyair. Memang dasar sifat Chairil, ia
tak menanggapi pembicaraan orang tentang karyanya ini, karena memang inilah
yang dicarinya selama ini. Bahkan ketidakpeduliannya itu lebih dipertegas pada lirik
selanjutnya pada kutipan (3).

Tidak juga kau

Kau yang dimaksud dalam kutipan (3) adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini.
Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah
mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk.
Berbicara tentang baik dan buruk, bait selanjutnya akan berbicara tentang nilai baik
atau buruk dan masih tentang ketidakpedulian Chairil atas keduanya.

Tidak perlu sedu sedan itu


Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Zaini, salah seorang Sahabat Chairil pernah bercerita, bahwa ia pernah mencuri
baju Chairil dan menjualnnya. Ketika Chairil mengetahui perbuatan sahabatnya itu,
Chairil hanya berkata, Mengapa aku begitu bodoh sampai bisa tertipu oleh kau. Ini
menunjukkan suatu sikap hidup Chairil yang tidak mempersoalkan baik-buruknya
suatu perbuatan, baik itu dari segi ketetetapan masyarakat, maupun agama.
Menurut Chairil, yang perlu diperhatikan justru lemah atau kuatnya orang.
Dalam kutipan (4), ia menggunakan kata binatang jalang, karena ia ingin
menggambar seolah seperti binatang yang hidup dengan bebas, sekenaknya sendiri,
tanpa sedikitpun ada yang mengatur. Lebih tepatnya adalah binatang liar. Karena
itulah ia dari kumpulannya terbuang. Dalam suatu kelompok pasti ada sebuah
ikatan, ia dari kumpulannya terbuang karena tidak ingin mengikut ikatan dan
aturan dalam kumpulannya.

Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Peluru tak akan pernah lepas dari pelatuknya, yaitu pistol. Sebuah pistol seringkali
digunakan untuk melukai sesuatu. Pada kutipan (5), bait tersebut tergambar bahwa
Chairil sedang diserang dengan adanya peluru menembus kulit, tetapi ia tidak
mempedulikan peluru yang merobek kulitnya itu, ia berkata Biar. Meskipun dalam
keadan diserang dan terluka, Chairil masih memberontak, ia tetap meradang
menerjang seperti binatang liar yang sedang diburu. Selain itu, lirik ini juga
menunjukkan sikap Chairil yang tak mau mengalah.
Semua cacian dan berbagai pembicaraan tentang baik atau buruk yang tidak ia
pedulikan dari sajak tersebut juga akan hilang, seperti yang ia tuliskan pada lirik
selanjutnya.

Dan aku akan lebih tidak perduli


Aku mau hidup seribu tahun lagi

Inilah yang menegaskan watak dari penyair atau pun dari puisi ini, suatu
ketidakpedulian. Pada kutipan (6), bait ini seolah menjadi penutup dari puisi
tersebut. Sebagaimana sebuah karya tulis, penutup terdiri atas kesimpulan dan
harapan. Kesimpulannya adalah Dan aku akan lebih tidak perduli, ia tetap tidak
mau peduli. Chairil berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar ia tetap
bisa mencari-cari apa yang diinginkannya.
Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam
puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu adalah makhluk
yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang
dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap
manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu
dalam berkarya. Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun
bentuk penilaian itu.

pengimajian dalam puisi


Posted on November 21, 2013 by titinagustincute

Standar

Pengertian Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah dan kaya makna. Keindahan
sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra. Adapun
kekayaan makna yang terkandung dalam puisi dikarenakan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang
dipergunakan dalam dalam puisi berbeda dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Puisi menggunakan
bahasa yang ringkas, namun maknanya sangat kaya. Kata-kata yang digunakan konotatif, yang
mengandung banyak penafsiran.
Berdasar hal itu, dapatlah dirumuskan ciri-ciri puisi:
1. Dalam puisi terdapat pemadatan segala unsur kekuatan bahasa.

2. Dalam penyusunannya, unsur-unsur bahasa itu dirapikan, diperbagus, dan diatur sebaik-baiknya
dengan memperhatikan irama dan bunyi.

3. Puisi berisikan ungkapan pikiran ungkapan pikiran, penyair berdasarkan pengalaman imajinatif.

4. Bahasa konotatif

5. Puisi dibentuk struktur fisik ( diksi, pengimajian, kata konkret, majas, ritma/ rima,
tipografi) dan unsur (struktur) batin (tema dan amanat, perasaan, nada dan
suasana)
B. Unsur-unsur/ Struktur Puisi
1. Unsur Fisik (bentuk)
a. Diksi (pemilihan kata)
Penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata. Kata-kata dipertimbangkan makna, komposisi bunyi dalam rima
dan irama, kedudukan kata itu dalam konteks atau dalam hubungan dengan kata yang lain, serta kedudukankata
dalam keseluruhan puisi. Leh karena itu, di samping memiliki kata yang tepat, penyair juga mempertimbangkan
urutan kata dan kekuatan/ daya magis kata-kata.

Pemilihan kata-kata dalam puisi hendaknya bersifat puitis, yang mempunyai efek keindahan dan berbeda
dengan kata-kata yang biasa kita pakai sehari-hari.

b. Pengimajian
Pengimajian/ Citraan dalam Puisi adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya.
Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Adapun gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam
pikiran yang sangat menyerupai, yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat
dilihat oleh mata (indra penglihatan). Jika dilihat dari fungsinya, citraan atau pengimajian lebih cenderung
berfungsi untuk mengingatkan kembali apa yang telah dirasakan.
Dengan demikian, citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran. Kita akan kesulitan menggambarkan objek
atau sesuatu yang disampaikan dalam puisi jika kita belum pernah sama sekali mengalami atau mengetahuinya.
Oleh karena itu, kita akan mudah memahami puisi jika memiliki simpanan imaji-imaji yang diperoleh dari
pengalamannya.

Ada beberapa jenis citraan yang dapat ditimbulkan puisi, yakni


sebagai berikut.

1). Citraan Penglihatan dalam puisi


Citraan penglihatan ditimbulkan oleh indra penglihatan (mata). Citraan ini merupakan jenis yang paling sering
digunakan penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indra penglihatan sehingga hal-hal
yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat.
Contoh citraan penglihatan dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.

Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak Kau membuat perahu kertas
dan kau
layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu
bergoyang menuju lautan.

Karya Sapardi Djoko Damono


Sumber: Perahu Kertas, 1991
2). Citraan Pendengaran dalam Puisi
Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indra pendengaran
(telinga). Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan
munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, suara mengiang, berdentum-dentum, dan sayup-sayup.
Contoh citraan pendengaran dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.

Penerbangan Terakhir
Maka menangislah ruh bayi itu keras-keras
Kedua tangan yang alit itu seperti kejang-kejang
Kakinya pun menerjang-nerjang
Suaranya melengking lalu menghiba-hiba

Karya Taufq Ismail


Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 :Kitab Puisi 2002
3). Citraan Perabaan dalam Puisi
Citraan perabaan atau citraan tactual adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indra peraba (kulit). Pada saat
membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang menyebabkan kita
merasakan rasa nyeri, dingin, atau panas karena perubahan suhu udara.
Berikut contoh citraan perabaan dalam puisi.
Blues untuk Bonie

sembari jari-jari galak di gitarnya


mencakar dan mencakar
menggaruki rasa gatal di sukmanya
Karya W.S. Rendra
Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 : Kitab Puisi 2002
4). Citraan Penciuman dalam puisi
Citraan penciuman atau pembauan disebut juga citraan olfactory. Dengan membaca atau mendengar kata-kata
tertentu, kita seperti mencium bau sesuatu. Citraan atau pengimajian melalui indra penciuman ini akan
memperkuat kesan dan makna sebuah puisi.
Perhatikan kutipan puisi berikut yang menggunakan citraan penciuman.

Pemandangan Senjakala
Senja yang basah meredakan hutan terbakar
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua
Bau mesiu di udara, Bau mayat. Bau kotoran kuda.

Karya W.S. Rendra


Sumber: Horison Sastra Indonesia 1: Kitab Puisi 2002
5). Citraan Pencicipan atau Pencecapan dalam puisi
Citraan pencicipan disebut juga citraan gustatory, yakni citraan yang muncul dari puisi sehingga kita seakan-
akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam, manis, atau pedas.
Berikut contoh larik-larik puisi yang menimbulkan citraan pencicipan atau pencecapan.
Pembicaraan
Hari mekar dan bercahaya:
yang ada hanya sorga. Neraka
adalah rasa pahit di mulut
waktu bangun pagi
Karya Subagio Sastrowardojo
6). Citraan Gerak dalam puisi
Dalam larik-larik puisi, kamu pun dapat menemukan citraan gerak atau kinestetik. Yang dimaksud citraan gerak
adalah gerak tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan tersebut. Munculnya
citraan gerak membuat gambaran puisi menjadi lebih dinamis.
Berikut contoh citraan gerak dalam puisi.
Mimpi Pulang

Di sini aku berdiri, berteman angin


Daun-daun cokelat berguguran
Meninggalkan ranting pohon oak yang meranggas
Dingin mulai mengigit telingaku
Kuperpanjang langkah kakiku
Menyusuri trotoar yang seperti tak berujung
Di antara beton-beton tua yang tidak ramah mengawasiku
Gelap mulai merayap menyusul langkah kakiku
Ah, Gott sei dank! di sana masih ada burung-burung putih
itu
Aku bagaikan pohon oak
Ditemani angin musim gugur yang masih tersisa

Karya Nuning Damayanti Sumber: Bunga yang Terserak, 2003


c. Kata konkret
Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka kata-kata harus diperkonkret. Fungsinya agar
pembaca seolah-olah melihat, mendengar, merasa apa yang dilukiskan penyair.

Jika imaji pembaca merupakan akibat dari pengimajian yang diciptakan penyair, maka kata konkret merupakan
sebab terjadinya pengimajian itu. Dengan kata yang diperkonkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas
peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh penyair. Perhatikan cuplikan puisi yang berjudul Gadis Peminta-
Minta karya Toto Sudarto Bachtiar berikut!

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil


Senyummu terlalu kecil untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara Katedral


Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku
Untuk melukiskan gadis itu benar-benar seorang pengemis gembel, penyair menggunakan kata-kata gadis kecil
berkaleng kecil. Lukisan itu lebih konkret daripada dengan menggunakan diksi gadis peminta-minta atau gadis
miskin. Untuk melukiskan tempat tidur pengap di bawah jembatan yang hanya dapat untuk menelentangkan
tubuh, penyair menulis pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok . Untuk memperkonkret dunia pengemis
yang penuh kemayaan, penyair memperkonkret diksi hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
gembira dari kemayaan riang. Untuk memperkonkret gambaran tentang martabat gadis itu yang sama halnya
memiliki martabat tinggi seperti manusia lainnya, penyair menulis duniamu yang tinggi dari, menara Katedral.

Contoh lain karya Rendra dalam Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo. Ia membuat kata konkret berikut ini.

Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi


Bulan berkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.
Kaki kuda yang bersepatu besi disebut penyair /kuku besi/. Kuda itu menapaki jalan tidak beraspal yang disebut
/kulit bumi/. Atmo Karpo sebagai perampok yang naik kuda digambarkan sebagai /penunggang perampok yang
diburu/. Penggambaran perjalanan Atmo Karpo naik kuda yang meletihkan itu diperkonkret dengan larik /surai
bau keringat basah/. Ia siap berperang dan telah menghunus /jenawi / (samurai). Hal ini diperkonkret dengan
larik /jenawi pun telanjang/.

Pengertian Puisi, Ciri, Jenis-Jenis, Unsur & Struktur Puisi


MORE FROM AROUND THE WEB

by
Berikut adalah cara untuk membakar lemak perut selama 1 malam!

Advertisement

Seorang gadis Terbuat 44 Juta Dari Rumah Di Jakarta !!!

Seorang gadis Terbuat 44 Juta Dari Rumah Di Jakarta !!!


Cara Dapatkan 44 Juta Di Indonesia Tanpa pekerjaan ???

Saya bisa mendapatkan 9 juta , Cukup dengan menggunakan cara yang cerdas ! Baca

PROMOTED CONTENT

by

Pemilik mobil mewah berlapis emas ini ternyata orang Indonesia

Kamu bisa mendapatkan 100 juta per hari dengan teknik ini
Milyarder ini membocorkan rahasia cara menghasilkan 38 juta/hari

Pemilik mobil mewah berlapis emas ini ternyata orang Indonesia

Pengertian Puisi, Ciri, Jenis-Jenis, Unsur & Struktur Puisi|Secara Umum, Pengertian

Puisi adalah bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang

terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna. Puisi mengungkapkan

pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan kekuatan

bahasa dengan struktur fisik dan struktur batinnya. Puisi mengutamakan bunyi, bentuk dan juga

makna yang ingin disampaikan yang mana makna sebagai bukti puisi baik jika terdapat makna yang

mendalam dengan memadatkan segala unsur bahasa. Puisi merupakan seni tertulis menggunakan

bahasa sebagai kualitas estetiknya (keindahan). Puisi dibedakan menjadi dua yaitu puisi lama dan

juga puisi baru.


Pengertian Puisi Menurut Para Ahli

Herman Waluyo: Pengertian puisi menurut herman waluyo adalah karya sastra tertulis

yang paling awal ditulis oleh manusia.

Sumardi: Pengertian puisi menurut sumardi adalah karya sastra dengan bahasa yang

dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata

kias (imajinatif).

Thomas Carlye: Pengertian puisi menurut thomas carley adalah ungkapan pikiran yang

bersifat musikal.

James Reevas: Pengertian puisi menurut James Reevas bahwa arti puisi adalah ekspresi

bahasa yang kaya dan penuh daya pikat.

Pradopo: Pengertian puisi adalah rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang

penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan.

Herbert Spencer: Pengertian puisi adalah bentuk pengucapan gagasan yang bersifat

emosional dengan mempertimbangkan keindahan.

Unsur-Unsur Puisi

Unsur-unsur puisi terdiri dari struktur fisik dan struktur batin puisi antara lain sebagai berikut...

Struktur Fisik Puisi

Perwajahan Puisi (Tipografi), adalah bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi

kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai

dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal tersebut menentukan pemaknaan

terhadap puisi.

Diksi ialah pemilihat kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi

adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-katanya dapat mengungkapkan banyak, hal

maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat

kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

Imaji, yaitu kata atau susunan kata yang mengungkapkan pengalaman indrawi, misalnya

penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji terbagi atas tiga yakni imaji suara (auditif),

imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji mengakibatkan

pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang dialami penyair.

Kata Konkret, adalah kata yang memungkinkan memunculkan imaji karena dapat

ditangkap indera yang mana kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Seperti

kata konkret "salju" dimana melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll,
sedangkan kata kongkret "rawa-rawa" melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi,

kehidupan dll.

Gaya Bahasa, adalah penggunaan bahasa dengan menghidupkan atau meningkatkan efek

dan menimbulkan konotasi tertentu dengan bahasa figuratif yang menyebabkan puisi

menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya makna. Gaya bahasa

disebut dengan majas. Macam-macam majas yaitu metafora, simile, personifikasi, litotes,

ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks,

antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks

Rima/Irama ialah persamaan bunyi puisi dibaik awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima

mencakup yakni: Onomatope (tiruan terhadap bunyi seperti /ng/ yang memberikan efek

magis puisi staudji C. B); Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir,

persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan

sebagainya; Pengulangan kata/ungkapan ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek,

keras lemahnya bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

Struktur Batin Puisi

Tema/Makna (sense); media pusi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda

dengan makna, maka pusi harus memiliki makna ditipa kata, baris, bait, dan makna

keseluruhan.

Rasa (Feeling) yaitu sikap penyair mengenai pokok permasalahan yang terdapat dalam

puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya akan latar belakang sosial dan

psikologi penyair, seperti latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial,

kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan

pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketetapan dalam menyikapi suatu

masalah tidak tergantung dari kemampuan penyair memili kata-kata, rima, gaya bahasa,

dan bentuk puisi saja, namun juga dari wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan

keperibadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.

Nada (tone) adalah sikap penyair terdapat pembacanya. Nada berhubungan dengan tema

dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema baik dengan nada yang menggurui, mendikte,

bekerja sama dengan pembaca dalam pemecahan masalah, menyerahkan masalah kepada

pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.

Amanat/tujuan maksud (intention) adalah pesan yang akan disampaikan penyair

kepada pembaca yang terdapat dalam puisi tersebut.


Puisi Lama dan Puisi Baru

1. Puisi Lama

Pengertian puisi lama adalah puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan yaitu sebagai berikut..

Jumlah kata dalam 1 baris

Jumlah baris dalam 1 bait

Persajakan (rima)

Banyak suku kata di tiap baris

Irama

Ciri-Ciri Puisi Lama

Tak diketahui nama pengarangnya.

Penyampaian dari mulut ke mulut, sehingga merupakan sastra lisan.

Sangat terikat akan aturan-aturan misalnya mengenai jumlah baris tiap bait, jumlah suku

kata maupun rima.

Jenis-Jenis Puisi Lama

a. Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap mempunyai kekuatan gaip.

Contoh Mantra : mantra untuk mengobati orang dari pengaruh makhluk halus

Sihir lontar pinang lontar

terletak diujung bumi

Setan buta jembalang buta

Aku sapa tidak berbunyi

b. Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, yang setiap bait terdiri dari 4 baris, dan

di tipa baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, sedangkan untuk 2 baris

berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri atas pantun anak, muda-mudi,

agama/nasihat, teka-teki, jenaka.

Contoh Pantun

sungguh elok emas permata

lagi elok intan baiduri

sungguh elok budi bahasa