Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

TENTANG MENDALAMAI PUISI

Pengampu : Tantia Yuka Damayanti

Disusun Oleh :
Egi Aditya
Fatmawati
Rifa Khoerunnisha (ls)
Tati Alawiyah
Elin Mutia

SMK ISLAM BINTANG CENDEKIA

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, tuhan semesta alam, yang mana pada kesempatan ini
masih diberikan-Nya kenikmatan sehat lahir dan batin sehingga Kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan judul : “Mendalami Puisi”. Solawat serta salam tetap
tercurahkan kepada manusia pilihan, pembawa risalah islam yaitu Nabi Muhamad SAW.
Besrta para keluarga, sahabat dan kita semua pengikutnya.

Kami sadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, kekeliruan
ataupun kesalah. Maka dari itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sanagat kami
harapkan sebagai perbaikan makalah ini dimasa mendatang.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah khususnya, dan bagi pembaca
umumnya.

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………1

DAFTAR ISI ………...........................................................................2

A. Mengidentifikasi Komponen Penting Dalam Puisi .....................4


B. Mendemonstrasikan Puisi............................................................6
C. Menganalisi Puisi .......................................................................6
D. Menulis Puisi ..............................................................................9

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………… 12

Pengertian Puisi

Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni
tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau
selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan,
meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini
masih diperdebatkan. Pandangan kaum awam biasanya membedakan puisi dan
prosa dari jumlah huruf dan kalimat dalam karya tersebut. Puisi lebih singkat dan
padat, sedangkan prosa lebih mengalir seperti mengutarakan cerita. Beberapa ahli

2
modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis
literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala
kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang
membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.
Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain).
Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya.
Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-
ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak
dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang
diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan
sebuah puisi. Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru
Namun beberapa kasus mengenai puisi modern atau puisi cyber belakangan ini
makin memprihatinkan jika ditilik dari pokok dan kaidah puisi itu sendiri yaitu
'pemadatan kata'. Kebanyakan penyair aktif sekarang baik pemula ataupun bukan
lebih mementingkan gaya bahasa dan bukan pada pokok puisi tersebut.
Di dalam puisi juga biasa disisipkan majas yang membuat puisi itu semakin indah.
Majas tersebut juga ada bemacam, salah satunya adalah sarkasme yaitu sindiran
langsung dengan kasar.
Di beberapa daerah di Indonesia puisi juga sering dinyanyikan dalam bentuk
pantun. Mereka enggan atau tak mau untuk melihat kaidah awal puisi tersebut.

A. MENGIDENTIFIKASI KOMPONEN PENTING DALAM PUISI

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sangat populer. Untuk
memahami lebih jelas mengenai puisi, berikut ini beberapa pendapat para ahli
mengenai pengertian puisi.
Suherli dkk (2015), puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang banyak
disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya yang imajinatif.
Puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta
berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang
diutarakan dengan bahasa, yang mempergunakan setiap rencana yang matang dan
bermanfaat (Lascelles dalam Djojosuroto, 2005).
Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang mewakili perasaan
penulisnya. Puisi sering disebut sebagai seni merangkai kata yang di dalamnya
menyiratkan hubungan tanda dengan makna (Yunus, 2015).

3
Intinya dari tiga pendapat para ahli di atas puisi dapat diartikan sebagai
karya sastra yang sangat erat kaitannya dengan pengalaman imajinatif dan
perasaan penulis, kemudian ditulis dengan pilihan diksi yang indah dan memiliki
hubungan tanda dengan makna.

Setelah mengetahui mengenai pengertian puisi, mari kita mulai


mengidentifikasi komponen penting puisi. Memahami materi ini sangat penting
untuk membantu pemahaman materi selanjutnya yaitu mendemontrasikan puisi dan
menulis puisi. Terdapat tiga komponen penting puisi yang perlu dipahami, berikut
ini penjelasannya :
1. Menentukan Suasana Puisi, ketika mendengar lagu pastilah kamu akan
merasakan suatu perasaan baik sedih, bahagia, kecewa, gelisah, marah, dan
perasaan lainnya. Perasaan tersebut tercipta bukan hanya karena musik lagu
tersebut saja, tetapi juga lirik lagu. Sama halnya ketika sedang membaca
sebuah puisi, kamu juga akan mendapat sebuah perasaan tersebut. Perasaan
itulah yang disebut suasana puisi. Lebih sederhananya, suasana puisi
merupakan keadaan jiwa atau psikologis pembaca setelah membaca puisi.
Setiap judul puisi akan memgakibatkan suasana puisi yang berbeda ketika
dibaca. Hal tersebut karena ada ruh yang ditaruh oleh penyair, sehingga
membuat perasaan pembaca larut dan menimbulkan suasana puisi.

2. Menentukan Tema Puisi, semua karya sastra pastilah memiliki tema,


contohnya adalah puisi. Tema ini merupakan gagasan pokok atau ide pokok
yang mendasari terciptanya sebuah puisi. Jenis tema beragam, mulai tema
agama, kemanusiaan, cinta-kasih, budaya, kritik sosial, dan sebagainya.
Sehingga, tak salah jika tema dapat dikatakan sebagai inti permasalahan yang
ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Nah, untuk menentukan tema,
pembaca harus mengamati diksi-diksi yang sering keluar dalam puisi yang
diidentifikasi. Diksi-diksi itulah yang dapat menjadi kata kunci karena
membawa kita ke tema. Misalnya, tema cinta pastilah diksi-diksi yang
digunakan tidak jauh dari cinta dan konotasinya, dan seterusnya.

3. Menentukan Makna Puisi, makna atau juga biasa dikenal dengan amanat
merupakan pesan yang disampaikan penulis puisi pada pembaca. Pesan
tersebut dapat tersirat maupun tersurat. Tentu saja, setiap pembaca akan
menemukan makna yang sama ataupun berbeda dengan pembaca lain. Hal

4
tersebut karena setiap pembaca bebas untuk memapresiasi atau menafsirkan
makna puisi sendiri-sendiri. Makna atau pesan tersebut dapat ditemukan lebih
dari satu oleh setiap pembaca akan menemukan jumlah makna puisi berbeda
dengan yang lain. Itulah materi mengenai mengidentifikasi komponen puisi,
semoga bermanfaat untuk kamu, ya! Semangat belajar!

B. MENDEMONSTRASIKAN PUISI
Mendemonstrasikan atau mendeklamasikan puisi di atas panggung tentu
sudah menjadi hal yang biasa kalian lihat. Seorang pembaca puisi yang bagus
mampu menjiwai puisi yang dibacakan dengan baik. Hal ini akan membuat
pendengar bisa merasakan suasana puisi dan mampu menangkap makna puisi
tersebut.
Hal itu akan tercapai ketika pembaca puisi tidak hanya mengandalkan
permainan vokal tetapi juga memperhatikan ekspresi, intonasi, dan gerakan
tubuhnya saat membaca puisi.

C. MENGANALISIS UNSUR PEMBANGUN PUISI


a. Struktur batin
1. Tema atau makna
media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda
dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris,
bait, maupun makna keseluruhan.
2. Rasa atau feeling
yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam
puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar

5
belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang
pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam
masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan
pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam
menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan
penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja,
tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan,
pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang
sosiologis dan psikologisnya.
3. Nada atau note
yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan
dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada
menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan
masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan
nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
Amanat/tujuan/maksud (intention); yaitu pesan yang ingin disampaikan
penyair kepada pembaca.
4. Amanat atau tujuan atau maksud
yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.

b. Struktur Fisik
1. Perwajahan
Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang
tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga
baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri
dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan
terhadap puisi.
2. Diksi
yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya.
Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat
mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat
mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna,
keselarasan bunyi, dan urutan kata.
3. Imaji
yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan
pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.
Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji
penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat

6
mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan
seperti apa yang dialami penyair.
4. Kata konkret
yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan
munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau
lambang. Misalnya kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta,
kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat
melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
5. Gaya bahasa
yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek
dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi
menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan
makna. Gaya bahasa disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas
antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke,
eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme,antitesis, alusio, klimaks,
antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
6. Rima/Irama
adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris
puisi. Rima mencakup:
Onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek
magis pada puisi Sutadji C.B.),
Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan
awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata],
dan sebagainya.
pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang
pendek, keras lemahnya bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan
puisi.

7
D. MENULIS PUISI
Pengertian Menulis Puisi
Jabrohim, dkk dalam planetexperia.com menyatakan menulis puisi
merupakan wujud komunikasi tidak langsung (tulis) yang menekankan pada
ekspresi diri, emosi, gagasan, dan ide. Selain itu, keterampilan menulis puisi
merupakan aktivitas berpikir manusia secara produktif ekspresif serta didukung
oleh proses pengetahuan, kebahasaan, dan teknik penulisan.

Langkah-langkah Menulis Puisi


Endaswara (2003:220), menyebutkan ada beberapa tahap dalam menulis
puisi antara lain tahap penginderaan, tahap perenungan atau pengendapan, dan
tahap memainkan kata
i. Tahap Penginderaan
Tahap penginderaan merupakan tahap awal dalam penciptaan puisi. Penyair
sebelum menciptakan sebuah puisi terlebih dahulu melakukan penginderaan
terhadap alam sekitar. Hal ini dilakukan untuk menemukan suatu keanehan
yang terjadi di alam sekitar penyair. Keanehan-keanehan itu dijadikan
penyair sebagai sumber inspirasi atau ide dalam menulis puisi

ii. Tahap Perenungan atau Pengendapan


Perenungan akan semakin mendalam jika disertai daya intuisi yang tajam.
Intuisi dapat menimbulkan daya imajinasi yang pada akhirnya mampu
memunculkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sesuatu yang
tidak mungkin menjadi mungkin itulah yang dituangkan dalam bentuk puisi.
Pilih puisi yang ditulis oleh penyair yang kita senangi kemudian terapkan
pada tiga N, yaitu niteni, nirokake, dan nambahi. Ungkapan jawa itu berarti
memperhatikan, mengingat-ingat, menirukan, dan menambahkan. Meniru di
sini bukan berarti menjiplak kata demi kata atau kalimat demi kalimat, yang
kita tiru adalah cara menemukan tema, cara memilih kata-kata yang tepat,
cara merangkai kata-kata yang estetis, dan cara mendayagunakan majas
dalam puisi (Wiyanto 2005:48).

REFERENSI
No name. (2015). Pengertian Puisi. [online] Tersedia :
www.artikelsiana.com/2015/10/pengertian-puisi-ciri-jenis-jenis-unsur.html#.

8
Akses 16 April 2017.
No name. (2016. Langkah-langkah menulis puisi. [online] tersedia:
http://planetxperia.blogspot.co.id/2016/11/keterampilan-menulis-puisi-
langkah.html. Akses 25 April 2017

3. Tahap Merangkai Kata


Secara sederhana mencipta puisi hanya merangkai kata. Adapun unsur yang
harus diperhatikan yaitu masalah estetika. Estetika adalah kecermatan dan
kelihaian mencari, memilih, dan menyusun kata agar menjadi lebih indah
sehingga memiliki nilai yang tinggi.
Wiyanto 2005:52). Agar tahapan demi tahapan langkah dalam menulis puisi
di atas dapat dilakukan dengan baik, maka sebelum menulis puisi perlu
adanya motivasi dalam diri atau sikap awal yang harus ditumbuhkan agar
keterampilan menulis puisi dapat berhasil dilakukan adalah (1) harus ada niat
yang kuat. Dengan niat yang kuat kita tidak mudah menyerah ketika
menjumpai berbagai kesulitan sehingga kita akan dapat belajar dan berlatih
dengan sungguh-sungguh agar dapat menguasai keterampilan menulis; (2)
belajar dan berlatih menulis puisi; dan (3) membiasakan diri untuk membaca
puisi yang sudah ada.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi :

9
Djojosuroto, Kinayati. 2005. Puisi Pedekatan dan Pembelajaran. Bandung. Nuansa.
Suherli dkk. 2015. Buku Guru Bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Jakarta. Kemendikbud.
Yunus, Syarifudin. 2015. Kompetensi Menulis Kreatif. Bogor. Ghalia Indonesia.

10