Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MATA KULIAH

PERPAJAKAN

KETETAPAN PAJAK OLEH


DIREKTUR JENDERAL PAJAK

Oleh

WA ODE PUTRI AULIA


NPM. 22 320 041

PROGRAM STUDI AKUTANSI FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN
BAUBAU
2023
Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara berkembang yang sedang melaksanakan pembangunan


di segala bidang, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Agar
pembangunan yang dilaksananakn berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang
diharapkan. Untuk itu dibutuhkana dana yang tidak sedikit. Dana tersebut
dikumpulkan dari berbagai potensi sumber daya yang dimiliki oleh Negara Indonesia
ini baik dari hasil sumber kekayaan alam seperti, minyak bumi dan gas alam maupun
dari sektor pajak.
Berbicara mengenai ketetapan pajak, pada umumnya tidak terlepas dari subyek
pajak yaitu mereka (orang atau badan) yang memenuhi syarat subyektif, yaitu syarat
yang melekat pada orang atau badan sesuai dengan apa yang ditentukan oleh undang-
undang. Sedangkan obyek pajak artinya mereka mempunyai potensi untuk dikenai
pajak, tetapi belum tentu dikenai pajak. Sementara itu, wajib pajak adalah mereka
(orang atau badan) yang selain memenuhi syarat subyektif, juga harus memenuhi
syarat obyektif. Jadi wajib pajak itu tidak hanya potensial untuk dikenakan pajak,
melainkan lebih dari itu memang sudah dikenakan kewajiban untuk membayar utang
pajak.
Di dalam menentukan besarnya pajak yang terutang sering terjadi perselisihan
antara wajib pajak dan petugas pajak. Perselisihan tersebut terjadi karena adanya
perbedaan pendapat antara wajib pajak dan petugas pajak mengenai suatu maslah
seperti peraturan dan penafsiran fiskus atas suatu fakta, dan kesalahan hitung atau
tulis.
Dalam makalah ini, kami akan membahas lebih lanjut mengenai Ketetapan
pajak.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Ketetapan Pajak ?

2. Apa saja jenis Ketetapan Pajak ?

3. Apa Fungsi dari Ketetapan Pajak ?


4. Bagaimana ketentuan pembetulan ketetapan Pajak ?

5. Apakah yang dimaksud dengan duwarsa Penetapan ?

C. Tujuan

1. Mengetahui yang dimaksud dengan Ketetapan Pajak

2. Mengetahui jenis ketetapan pajak

3. Mengetahui Fungsi dari ketetapan pajak

4. Mengetahui ketentuan / syarat pembetulan ketetapan pajak

5. Mengetahui yang dimaksud dengan duwarsa penetapan


Bab II

Pembahasan

A. Pengertian

Pada prinsipnya dalam sistem self assessment untuk membayar ketetapan


pajak yang terutang tidak harus tergantung adanya Surat Ketetapan Pajak. Artinya
Direktorat Jendral Pajak/ fiskus tidak lagi berkewajiban untuk menerbitkan Surat
Ketetapan Pajak, atas semua SPT Wajib Pajak. Dibandingkan dengan system self
assessment, fiskus harus menerbitkan Surat Ketetapan Pajak.
Penerbitan Surat Ketetapan Pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu
yang disebabkan ketidakbenaran pengisian SPT. Dapat juga karena ditemukan data
fiskal yang tidak dilaporkan dengan kata lain Wajib Pajak tidak patuh dalam
memenuhi kewajiban yang telah ditentukan oleh peraturan perudang-undangan yang
berlaku.
Penerbitan Surat Ketetapan Pajak pada ketentuannya dilakukan pemeriksaan,
sedangkan penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) dilakukan penelitian. Sanksi
administrasi yang diterapkan dalam Surat Ketetapan Pajak adalah sanksi
administrasi berupa denda dan kenaikan, sedangkan pada Surat Tagihan Pajak sanksi
yang diterapkan adalah sanksi berupa bunga dan atau denda.
Dalam apsal 14 ayat 2 UU KUP, ditentukan STP kekuatan hukumnya
disamakan dengan Surat Ketetapan Pajak, jika Wajib Pajak tidak melunasi STP
maka akan dilakukan penagihan pajak dengan surat paksa.
Berdasarkan pasal 12 UU KUP Direktorat Jendral Pajak tidak berkewajiban
untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak atas semua SPT yang disampaikan oleh
Wajib Pajak. Penerbitan suatu Surat Ketetapan Pajak hanya terbatas pada Wajib
Pajak tertentu yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPT atau
karena ditemukan data fiscal yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak.
Dengan ketentuan ini, bahwa Wajib Pajak telah menghitung dan membayar
besarnya pajak yang terutang secar benar, berdasarkan ketentuan perundang-
undangan perpajakan. Serta melaporkan dalam SPT sehingga kepadanya tidak perlu
diterbitkan Surat Ketetapan Pajak ataupun surat keputusan dari administrasi
perpajakan.
Apabila diketahui kemudian, berdasarkan hasil pemeriksaan atau berdasarkan
keterangan lain, bahwa pajak yang dihitung dan dilaporkan dalam SPT yang
bersangkutan tidak benar, misalnya pembebanan biaya ternyata melebihi
sebenarnya, maka Dirjen Pajak menetapkan besarnya pajak yang terutang
sebagaimana mestinya menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan.

B. Macam-Macam Ketetapan Pajak


Produk hokum yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, dalam hal ini
adalah Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan
(KPP/KPPBB) untuk mengetahui adanya kewajiban atau hak dari Wajib Pajak (WP)
adalah berupa surat ketetapan pajak yang terdiri dari 6 macam, yaitu :
1. Surat Tagihan Pajak (STP)
2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)
4. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
5. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
6. Surat Ketetapan Pajak Terutang (SPPT)

Penerbitan suatu Surat Ketetapan Pajak (SKP) hanya terbatas kepada WP tertentu
yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPT atau karena ditemukannya
data fiskal yang tidak dilaporkan oleh WP.
Penjelasan untuk masing-masing surat ketetapan pajak di atas seperti tersebut di
bawah ini :
1. Surat Tagihan Pajak (STP)
STP adalah surat yang diterbitkan untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi
administrasi berupa bunga dan atau denda.
Dasar hukum STP diatur dalam Pasal 14 Undang- Undang No. 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, sebagaimana telah dirubah
dengan Undang- Undang No.16 Tahun 2000 (UUKUP)
STP dapat diterbitkan jika :
- Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang bayar
- Dari hasil penelitian SPT terdapat kekurangan pembayaran pajak akibat salah
tulis dan atau salah hitung
- WP dikenakan sanksi administrasi denda atau bunga
- Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang PPN, tetapi
tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak
- Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tetapi
membuat Faktur Pajak
- Pengusaha Kena Pajak tidak membuat Faktur Pajak atau membuat Faktur
Pajak tetapi tidak tepat waktu atau tidak mengisi selengkapnya Faktur Pajak.
- Pengusaha kena pajak melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa
penerbitan faktur
- Pengusaha kena pajak gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian
pajak masukan diwajibkan membayar kembali.
Surat Tagihan Pajak (STP) mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan Surat
Ketetapan Pajak, sehingga dalam hal penagihannya dapat dilakukan dengan Surat
Paksa.
Penerbitan STP akan ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% sebulan untuk paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak atau
bagian tahun pajak sampai dengan diterbitkannya STP.

2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)


SKPKB adalah sirat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan besarnya
jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok
pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.
Dasar hokum SKPKB diatur dalam Pasal 13 UUKUP yang dapat diterbitkan
dalam jangka waktu 10 tahun sesudah terutangnya pajak, berakhirnya masa pajak,
bagian tahun pajak atau tahun pajak, jika terjadi dalam hal – hal berikut :
- Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang
terutang tidak atau kurang bayar
- Apabila sirat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah
ditetapkan dan telah ditegur secara tertulis, tidak disampaikan juga seperti
ditentukan dalam surat teguran.
- Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atas PPN dan PPnBM ternyata tidak
seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya
dikenakan tariff 0%
- Apabila wajib pajak tidak melakukan kewajiban pembukuan dan tidak
memenuhi permintaan dalam pemeriksaan pajak, sehingga tidak dapat
diketahui besarnya pajak terutang.
Penerbitan SPKPKB akan diikuti dengan sanksi administrasi berupa denda atau
kenaikan pajak . Sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% sebulan jika
berdasarkan hasil pemeriksaan WP tidak atau kurang membayar pajak yang
terutang.
Berdasarkan system self assessment, setiap WP seharusnya wajib untuk
membayar pajak yang terutang berdasarkan ketentuan undang-undang perpajakan
tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak.
Adanya batasan waktu 10 tahun, digunakan untuk menentukan adanya kepastian
hokum dalam menerbitkan ketetapan pajak tersebut. Artinya dalam jangka waktu
10, fiskus diberi kesempatan menerbitkan SKPKB sepanjang dalam pemeriksaan
WP masih mempunyai utang pajak.
SKPKB bahkan masih bisa diterbitkan setelah 10 tahun dengan diikuti sanksi
bunga 48% dari jumlah yang tidak atau kurang bayar,jika diketahui WP telah
melakukan tindak pidana perpajakan dan telah diputus oleh hakim dan
mempunyai kekuatan hokum tetap.

3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)


SKPKBT adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan
tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan dalam SKPKB.
Dasar hokum yang SKPKBT diatur dalam pasal 15 UU KUP, yang diterbitkan
untuk menampung beberapa kemungkinan yang terjadi seperti :
- Adanya SKPKB yang telah ditetapkan ternyata lebih rendah daripada yang
sebenarnya
- Adanya proses pengembalian pajak yang telah ditetapkan dalam SKPLB yang
seharusnya tidak dilakukan
- Adanya pajak terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) yang
ditetapkan ternyata lebih rendah
SPKPKB dilakukan apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum
terungkap yang dapat menyebabkan penambahan pajak yang terutang.
Yang dimaksud dengan data baru adalah data atau keterangan mengenai mengenai
segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang
terutang yang belum diberitahukan pada saat penetapan semula.
Sedangkan yang dimaksud dengan data yang semula belum terungkap adalah data
atau keterangan lain mengenai segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung
besarnya jumlah pajak yang terutang yang belum dilaporkan oleh WP dalam surat
pemberitahuan beserta lampirannnya dan pada saat WP tidak mengunkapkan data
atau keterangan secara benar, lengkap dan terperinci.
Penerbitan SKPKBT juga dapat diterbitkan setelah jangka waktu 10 tahun
ditambah sanksi bunga 48% dari jumlah yang tidak atau kurang dibayar bila WP
terbukti melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan telah diputus oleh
hakim serta mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

4. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)


SKPLB adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan jumlah
kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada
pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.
Berdasarkan Pasal 17 UUKUP, SKPLB diterbitkan dalam beberapa hal berikut
ini:
- untuk Pajak Penghasilan (PPh), jumlah kredit pajak lebih besar dari jumlah
pajak yang terutang, atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya
tidak terutang
- untuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), jumlah kredit pajak lebih besar dari
jumlah pajak yang terutang, atau telah dilakukan pembayaran pajak yang
seharusnya tidak terutang. Bila terdapat pajak terutang yang dipungut oleh
pemungut PPN, maka yang dimaksud dengan jumlah pajak terutang adalah
jumlah pajak keluaran setelah dikurangi pajak yang dipungut oleh pemungut
PPN tersebut.
- Untuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), jumlah pajak yang
dibayar lebih besar dari jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan
pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang.
SPKPLB akan diterbitkan jika ada permohonan tertulis dari WP. SKPLB harus
diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak paling lambat 12 bulan sejak
permohonan diterima. Jika dalam jangka waktu 12 bulan telah lewat, maka
permohonan WP dianggap telah diterima dan WP berhak memperoleh
pengembalian kelebihan pajaknya.

5. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)


SKPN adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan jumlah
pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang
dan tidak ada kredit pajak.
Berdasarkan pasal 17A UUKUP, SKPN diterbitkan jika :
- untuk PPh, jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau pajak
yang tidak terutang dan tidak ada kredit pajak
- untuk PPN, jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau pajak
yang tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Apabila terdapat pajak
terutang, maka yang dimaksud dengan jumlah pajak terutang adalah jumlah
pajak keluaran setelah dikurangi pajak yang dipungut oleh Pemungut PPN.
- Untuk PPnBM, jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau
pajak yang tidak terutang dan tidak ada pembayaran pajak

6. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)


SPPT adalah surat yang diterbitkan oleh Ditjen Pajak untuk memberitahukan
besarnya pajak yang terutang kepada WP.
SPPT diatur dalam Pasal 10 ayat 1 UU no. 12 tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB) yang harus dilunasi oleh WP pada waktu yang telah ditentukan.
SPPT yang diterbitkan harus dilunasi paling lambat 6 bulan sejak tanggal
diterimanya SPPT. Jika lewat dari waktu yang telah ditentukan, maka akan
dikenakan sanksi denda administrasi sebesar 2% sebulan dihitung sejak saat jatuh
tempo sampai hari pembayaran untuk jangka waktu paling lama 24 bulan.

C. Fungsi Surat Ketetapan Pajak

Surat Ketetapan Pajak berfungsi sebagai :

1. Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap WP tertentu yang nyata-nyata


atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau
kewajiban materil dalam memenuhi ketentuan perpajakan.
2. Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan.
3. Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak.
4. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar
5. Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang.

D. Pembetulan Ketetapan Pajak

Apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan dalam ketetapan pajak yang tidak
mengandung persengketaan antara fiskus dan WP, dapat dibetulkan oleh Direktur
Jendral Pajak secara jabatan atau atas permohonan WP.

Ruang lingkup kesalahan atau kekeliruan dalam ketetapan pajak yang dapat
dibetulkan terbatas pada :

- Kesalahan Tulis; antara lain : kesalahan yang dapat berupa penulisan nama,
alamat, NPWP, nomor surat ketetapan pajak, jenis pajak, masa atau tahun pajak
jatuh tempo
- Kesalahan hitung yang berasal dari penjumlahan dan atau pengurangan dan atau
pengalian dan atau pembagian suatu bilangan
- Kekeliruan dalam penerapan tariff, penerapan presentase Norma Penghitungan
Penghasilan Neto, penerpan sanksi administrasi, Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP), Penghitungan PPh dalam tahun berjalan dan pengkreditan pajak.

Jangka waktu penyelesain permohonan pembetulan WP harus diselesaikan


oleh Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 6 bulan sejak tanggal surat
permohonan pembetulan diterima. Apabila telah melebihi jangka waktu tersebut ,
dan Dirjen Pajak tidak memberikan keputusan, maka surat permohonan yang
diajukan, dianggap dikabulkan.

Dirjen Pajak karena jabatannya atau atas permohonan WP dapat


mengurangkan atau menghapus sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan
kenaikan yang ternyata dikenakan karena adanya kekhilafan atau bukan kesalahan
dari WP. Sanksi Administrasi yang telah ditetapkan dalam surat ketetapan yang
masih dapat diubah, harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
- Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan memberikan alasan yang
jelas dan meyakinkan
- Disampaikan kepada Dirjen Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak yang
mengenakan sanksi administrasi tersebut
- Tidak melebihi jangka waktu 3 bulan sejak diterbitkannya STP, SKPKB, atau
SKPKBT, kecuali apabila WP dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut
tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.
- Tidak mengajukan keberatan atas ketetapan pajaknya dan diajukan atas suatu
STP,SKPKB atau SKPKBT.

Setelah mengajukan permohonan pengurangan sanksi, Dirjen Pajak wajib


untuk memberikan surat keputusan paling lambat 12 bulan sejak surat permohonan
diterima jika melebihi jangka waktu tersebut tidak ada keputusan, maka surat
permohonan dianggap telah dikabulkan.

E. Daluwarsa Penetapan

Daluwarsa penetapan merupakan suatu batasan waktu yang ditentukan undang


– undang untuk dapat menerbitkan surat ketetapan pajak atas utang pajak WP yang
tujuannya tidak lain agar WP memperoleh kepastian hokum atas utang pajaknya.

Berdasarkan Pasal 13 UU KUP menetapkan daluwarsa penetapan adalah 10


tahun, yang artinya fiskus diberikan batas waktu sampai 10 tahun sesudah saat
terutangnya pajak untuk menerbitkan SKPKB. Jika dalam jangka waktu tersebut
fiskus tidak menerbitkan SKPKB, maka utang pajak WP dianggap telah daluwarsa.

Namun SKPKB masih dapat diterbitkan setelah melewati 10 tahun apabila WP


setelah jangka waktu 10 tahun tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di
bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hokum tetap.
Bab III
Penutup

A. Kesimpulan
1. Ketetapan Pajak adalah suatu ketentuan dalam sistem perpajakan untuk
pembayaran pajak terutang dengan penerbitan Surat Ketetapan Pajak.
2. Macam – Macam Ketetapan Pajak :
a. Surat Tagihan Pajak (STP)
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
c. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)
d. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
e. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
f. Surat Ketetapan Pajak Terutang (SPPT)
3. Fungsi Ketetapan Pajak :

a. Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap WP tertentu yang


nyata-nyata atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi
kewajiban formal dan atau kewajiban materil dalam memenuhi
ketentuan perpajakan.
b. Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan.
c. Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak.
d. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar
e. Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang.
4. Ruang lingkup pembetulan ketetapan pajak :

a. Kesalahan Tulis; antara lain : kesalahan yang dapat berupa penulisan


nama, alamat, NPWP, nomor surat ketetapan pajak, jenis pajak, masa
atau tahun pajak jatuh tempo
b. Kesalahan hitung yang berasal dari penjumlahan dan atau pengurangan
dan atau pengalian dan atau pembagian suatu bilangan
c. Kekeliruan dalam penerapan tariff, penerapan presentase Norma
Penghitungan Penghasilan Neto, penerpan sanksi administrasi,
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), Penghitungan PPh dalam
tahun berjalan dan pengkreditan pajak.
Ketentuan permohonan pembetulan ketetapan pajak :

- Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan memberikan


alasan yang jelas dan meyakinkan
- Disampaikan kepada Dirjen Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak
yang mengenakan sanksi administrasi tersebut
- Tidak melebihi jangka waktu 3 bulan sejak diterbitkannya STP,
SKPKB, atau SKPKBT, kecuali apabila WP dapat menunjukkan
bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan
diluar kekuasaannya.
- Tidak mengajukan keberatan atas ketetapan pajaknya dan diajukan atas
suatu STP,SKPKB atau SKPKBT.

5. Daluwarsa penetapan merupakan suatu batasan waktu yang ditentukan undang


– undang untuk dapat menerbitkan surat ketetapan pajak atas utang pajak WP
yang tujuannya tidak lain agar WP memperoleh kepastian hokum atas utang
pajaknya.

Anda mungkin juga menyukai