0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
296 tayangan18 halaman

Psikologi Dakwah: Hubungan Da’i dan Mad’u

Teks tersebut membahas tentang faktor-faktor yang mendekatkan hubungan antara da'i (penyiar agama) dan mad'u (audience). Faktor-faktor tersebut meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Imitasi merujuk pada kecenderungan seseorang untuk meniru teladan orang lain, sedangkan sugesti adalah pengaruh psikologis untuk menerima pandangan orang lain. Identifikasi terjadi ketika seseorang meng

Diunggah oleh

Aldi Elan Saputra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
296 tayangan18 halaman

Psikologi Dakwah: Hubungan Da’i dan Mad’u

Teks tersebut membahas tentang faktor-faktor yang mendekatkan hubungan antara da'i (penyiar agama) dan mad'u (audience). Faktor-faktor tersebut meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Imitasi merujuk pada kecenderungan seseorang untuk meniru teladan orang lain, sedangkan sugesti adalah pengaruh psikologis untuk menerima pandangan orang lain. Identifikasi terjadi ketika seseorang meng

Diunggah oleh

Aldi Elan Saputra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dakwah merupakan salah satu kewajiban umat islam,
sebagaimana Rasulullah yang menjadi panutan semua umat telah
memperjuangkan hidupnya dalam berdakwah hanya karena Allah,
metode dakwah Rasulullah sangat beraneka ragam, baik yang bersifat
di atas mimbar maupun dalam berdiskusi atau majlis ta’lim. Dalam
berdakwah yang perlu diperhatikan ialah bagaimana seorang da’i
dapat berkomunikasi dengan masyarakat, sebab dengan adanya
hubungan dekat dengan masyarakat, maka materi dalam berdakwah
akan mudah diterima oleh masyarakat, bahkan lebih dari itu, seorang
da’i pun wajib menjadi figur bagi masyarakat, baik dalam berkeluarga
maupun dalam bersosial.
Pada proses dakwah yang bermaksud untuk mengubah sikap
kejiwaan seorang mad’u, maka pengetahuan tentang psikologi dakwah
menjadi sesuatu yang sangat penting. Jika dilihat dari segi psikologi,
bahwa dakwah dalam prosesnya dipandang sebagai pembawa
perubahan, atau suatu proses. Dari segi dakwah, psikologi banyak
memberi jalan pada tujuan dakwah pemilihan materi dan penetapan
metodenya. Bagi seorang da’i dengan mempelajari metode psikologi
dapat memungkinkan mengenal berbagai aspek atau prinsip yang
dapat menolongnya dalam meneliti tingkah laku manusia dengan
lebih kritis dan juga dapat memberikan kepadanya pengertian yang
lebih mendalam tentang tingkah laku. Psikologi memberikan jalan
bagaimana menyampaikan materi dan menetapkan metode dakwah
kepada individu manusia yang merupakan makhluk yang berjiwa dan
memiliki kepribadian.
Dengan demikian, dalam makalah ini akan dibahas tentang
adjusment atau hubungan psikologis antara da’i dan mad’u.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja faktor yang mendekatkan hubungan da’i dan mad’u ?
2. Bagaimana hubungan psikologis antara da’i dan mad’u ?
3. Bagaimana hubungan model-model da’i dan mad’u ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mendekatkan
hubungan da’i dan mad’u.
2. Untuk mengetahui hubungan psikologis antara da’i dan mad’u.
3. Untuk mengetahui macam-macam hubungan model da’i dan
mad’u.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Faktor-Faktor yang Mendekatkan Hubungan


1. Faktor Imitasi
Imitasi, yaitu keadaan seseorang yang mengikuti sesuatu di
luar dirinya/ meniru. Hal yang perlu diperhatikan sebelum meniru
adalah mempunyai minat dan perhatian yang besar, sikap menjunjung
tinggi, pandangan meniru akan memperoleh penghargaan sosial yang
tinggi.1
Faktor dasar dari interaksi sosial yang menyebabkan
keseragaman dalam pandangan dan tingkah laku orang banyak. Yang
dimaksud dengan proses imitasi adalah seperti tiru meniru, dan ikut-
ikutan. Proses imitasi diawali oleh timbulnya sebuah gagasan
(keyakinan baru) di dalam masyarakat sebagai perangsang pikiran.
Gagasan itu lalu dirumuskan oleh individu berbakat tinggi yang
kemudian menjadi ide baru, ide baru ini lalu diimitasi dan disebarkan
oleh orang banyak dalam masyarakat. 2 Nabi Muhammad sendiri
menjadi teladan umat manusia, baik umat islam maupun non-islam.
Baik dalam kehidupan muamalah, ibadah, ataupun kehidupan lainnya
(khususnya muslim), bahkan kalau kita mau bersikap objektif umat
non islam pun dapat mengambil hikmah perilaku dan teladan
Rasulullah saw. Di sinilah pentingnya imitasi dalam dakwah sebagai
seorang da’i.3
2. Faktor Sugesti
Sugesti merupakan proses mempengaruhi orang lain, dengan
tujuan tingkah laku (behavior), bersikap (attitude), pendapat
1
http://chalouiss.blogspot.com/2012/10/faktor-faktor-dalam-ham-hubungan-
antar.html?m=1 Di akses pada tanggal 13 April 2020 pukul 13.35
2
Janu Murdiyatmoko, Sosiologi (Memahami dan Mengkaji Masyarakat) (Bandung:
Grafindo Media Pratama, 2007), 68.
3
Faizah dan Lalu Muchsin, Psikologi Dakwah (Jakarta: Prenada Media Group, 2006),
130.
(oppinion) supaya identik dengan kita. Begitu pula dakwah dengan
tujuan, agar mad’u itu mengikuti jalan yang islamis, tidak terlalu
tergesa-gesa. Pada hakikatnya antara keduanya memiliki hubungan
yang erat sekali, bahkan dakwah merupakan sugesti pada orang lain. 4
Sugesti, yaitu proses individu menerima cara pandang orang lain tanpa
kritik lebih dulu.5 Sugesti merupakan suatu proses dimana seorang
individu dapat menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-
pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.
Dalam proses sugesti, seorang memberikan pandangan atau sikap dari
dirinya yang diterima oleh orang lain di luar dirinya. Sugesti dapat
terjadi dengan mudah pada keadaan-keadaan tertentu, seperti :
a. Sugesti karena hambatan berfikir.
Dalam proses sugesti terjadi gejala bahwa orang
yang dikenai sugesti mengambil pandangan-pandangan
orang lain tanpa memberikan pertimbangan-pertimbangan
dan kritik terlebih dahulu, hal itu lebih mudah terjadi
apabila individu berada dalam keadaan hilang cara berfikir
kritis.
b. Sugesti karena keadaan pikiran terpecah-pecah.
Pikiran terpecah-pecah juga dapat mempercepat
proses sugesti. Sugesti ini dapat dilihat pada keadaan
seseorang yang sedang bingung.
c. Sugesti karena otoritas.
Dalam hal ini orang cenderung menerima
pandangan atau sikap tertentu apabila pandangan atau
sikap tersebut dimiliki oleh orang-orang yang ahli
dibidangnya yang dianggap memiliki otoritas.
d. Sugesti karena mayoritas.
4
Faizah dan Lalu Muchsin, 131.
5
http://chalouiss.blogspot.com/2012/10/faktor-faktor-dalam-ham-hubungan-
antar.html?m=1 Di akses pada tanggal 13 April 2020 pukul 13.35
Individu dalam masyarakat akan menerima
suatu pandangan atau ucapan apabila pandangan itu
dibantu oleh mayoritas anggota masyarakat tersebut dan
cenderung menerima pandangan itu pertimbangan lebih
lanjut.6
3. Faktor Identifikasi
Identifikasi berarti kecenderungan atau keinginan dalam diri
anak untuk menjadi sama seperti ayah atau ibunya. Kecenderungan ini
bersifat tidak sadar bagi seorang anak. Seorang anak secara tidak
sadar akan mengambil sikap-sikap orang tua yang dapat ia mengerti
mengenai norma dan pedoman tingkah laku sejauh kemampuan yang
ada pada anak tersebut, dalam proses identifikasi seluruh sistem
norma, sikap, tingkah laku orang tua harus dapat dijadikan sistem
norma dan cita-cita seorang anak. 7 Identifikasi, yaitu proses yang
berlangsung secara sadar, irasional, berdasar perasaan, dan
berkembang bahwa identifikasi berguna untuk melengkapi sistem
norma-norma yang ada. Menurut Sigmund Freud “identifikasi”
merupakan cara belajar norma dari orang tuanya.8
Sebagai ilustrasi, bagi seorang anak, sang ayah adalah refleksi
sifat kejantanan, kewibawaan, dan kepemimpinan. Sedang ibu adalah
idola dari perwujudan kelembutan dan kasih sayang. Dengan
demikian metode keteladanan dalm dakwah mutlak sifatnya, sebab
orang lainakan lebih dulu melihat tindak tanduk dan perilaku kita.
Sehingga ada pepatah mengatakan “lihat orangnya dan jangan lihat
apa yang diucapkannya” walaupun Ali bin Abi Thalib ra. Mengatakan :
“lihat apa yang diucapkan dan bukan siapa yang mengucapkan”, tetapi
realitasnya lain. Di sinilah peran orang tua dalam menumbuhkan

6
Janu Murdiyatmoko, Sosiologi (Memahami dan Mengkaji Masyarakat), 68.
7
Janu Murdiyatmoko, 69.
8
http://chalouiss.blogspot.com/2012/10/faktor-faktor-dalam-ham-hubungan-
antar.html?m=1 Di akses pada tanggal 13 April 2020 pukul 13.35
religious consciousness atau rasa keagamaan pada anak-anaknya. Islam
menggarisbawahi tentang kehidupan keluarga ini. Di sini jelaslah
kewajiban orang tua memberi contoh yang baik dan
bertanggungjawab kepada anggota keluarganya, sebab ia sebagai
model identifikasi. Begitu pula dalam dakwah, da’i merupakan the best
example dalam lingkungan masyarakat.9
4. Faktor Simpati
Simpati yaitu perasaan tertarik individu terhadap orang lain
yang timbul atas dasar penilaian perasaan. 10 Simpati merupakan
proses sadar bagi diri manusia yang merasa simpati terhadap orang
lain. Dalam hal dimpati, hubungan yang timbal balik akan
menghasilkan suatu hubungan kerjasama, dimana individu yang satu
ingin lebih mengerti dengan individu yang lain secara lebih mendalam,
sehingga individu tersebut merasa berfikir dan bertingkah laku
seolah-olah ia adalah individu yang lain. 11 Dalam proses interaksi
dalam dakwah, faktor simpati ini besar sekali perannya. Karena salah
satu yang tidak dapat diabaikan dalam proses dakwah adalah terlebih
dahulu membangkitkan rangsangan (stimulan) yang akan
memberikan jalan pada mad’u. Seorang da’i harus mampu
menumbuhkan rasa simpati pada mad’u. Sekiranya mad’u sudah tidak
simpati terlebih dahulu dengan da’i jangan diharapkan terjadi feed
back dalam dakwah, apalagi tujuan dakwah akan terealisasi.12
Wahyu Ilahi. MA dalam bukunya yang berjudul “Komunikasi
Dakwah” menjelaskan bahwa dalam berdakwah seorang da’i harus
mampu menghipnotis mad’unya, dapat dilakukan dengan kemampuan
atau karakteristik seorang da’i, agar terdapat keunikan dan
kenyamanan dalam mendengarkan dakwah. Dengan demikian hal

9
Faizah dan Lalu Muchsin, Psikologi Dakwah, 132–133.
10
http://chalouiss.blogspot.com/2012/10/faktor-faktor-dalam-ham-hubungan-
antar.html?m=1 Di akses pada tanggal 13 April 2020 pukul 13.35
11
Janu Murdiyatmoko, Sosiologi (Memahami dan Mengkaji Masyarakat), 69.
12
Faizah dan Lalu Muchsin, Psikologi Dakwah, 134–135.
tersebut, akan terwujudnya hubungan komunikasi antara da’i dan
mad’u. Sehingga apabila kedekatan dan kenyamanan sudah dapat
diaplikasikan dalam forum berdakwah, maka materi yang
disampaikan akan mudah diterima oleh masyarakat. Ketertarikan dan
sikap positif masyarakat terhadap da’i dapat diurai faktor-faktornya
sebagai berikut :
1. Ketertarikan masyarakat terhadap da’i boleh jadi disebabkan
karena daya pesona da’i, misalnya orang gagah, sikapnya lemah
lembut dan halus budi, memiliki kemampuan membantu
masyarakat dalam memecahkan problem sosial mereka, dan
mampu memberikan harapan masa depan (optimisme) kepada
masyarakat luas. Ketertarikan ini seperti orang yang jatuh cinta
melihat gadis yang memang cantik.
Seorang da’i ketika mau menyampaikan ucapannya di depan
mad’u harus mempunyai kesiapan yang matang agar kegiatan
dakwah berjalan lancar. Kesiapan tersebut akan nampak pada
seorang da’i ketika menyampaikan materinya apakah meyakinkan
atau tidak. Dan pembicaraan topiknya akan sistematis dalam
artian tidak akan berbicara kemana-mana walaupun nantinya
ditengah-tengah diselingi dengan permainan (humor) atau yang
lainnya, dikarenakan da’i sudah mempersiapkan arah
pembicaraan dari awal hingga akhir.13
2. Ketertarikan itu boleh jadi karena kehadiran da’i tepat waktu
yakni pada saat masyarakat membutuhkan kehadiran figur
seorang tokoh panutan, yakni dikala suasana psikologis sedang
menunggu kehadiran seseorang yang didambakan, tiba-tiba hadir
sang da’i mengisi kekosongan. Seorang da’i juga harus
membawakan kesan kepada mad’unya, bahwa ia berhati tulus
dalam niat dan perbuatannya. Da’i harus hati-hati untuk

13
Wahyu Ilahi MA, Komunikasi Dakwah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010),
79.
menghindari kata-kata yang mengarah pada kecurigaan terhadap
ketidaktulusan.14 Faktor yang menghubungkan kedua belah pihak
seperti ini sama seperti hubungan cinta seorang pemuda yang
kesepian, kemudian ketemu dengan seorang gadis, meski tidak
ideal namun mampu mengisi kekosongan jiwanya.
3. Hubungan batin itu terbentuk boleh jadi karena masyarakat
sedang merindukan hadirnya keajaiban karena sedang
menghadapi masalah-masalah yang tidak logis. Sosok yang
dipandang mampu mengatasi hal seperti itu biasanya adalah
seorang pemimpin spiritual. Tiba-tiba datang seorang da’i
membawa apa yang diidam-idamkan, yang doanya dianggap
mujarab dan bahkan lebih. Kedekatan antara hubungan batin
antara da’i dan mad’u dalam model ketiga ini dapat dibandingkan
hubungan kaum Anshor dan Muhajirin pada zaman awal islam.
Ketika itu orang yastrib yang sudah lama berkutat pada konflik
sosial dengan lawan-lawan kabilahnya sampai pada suatu titik
merindukan hadirnya tokoh pemersatu, apalagi dalam
menghadapi kesombongan teologis orang Yahudi. Dalam kondisi
psikologis demikian mereka mendengar ada tokoh bernama
Muhammad yang dilecehkan oleh orang Mekah, maka setelah
mereka berjumpa dan melihat keunggulan komparatif yang
dimiliki oleh pribadi Muhammad, orang yastrib ketika itu
meminta Nabi unutk hijrah ke Madinah, dan beliau memberikan
banyak kontribusi di Madinah.15
Sikap positif dan kesukaan atau ketertarikan orang kepada da’i
dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Kesamaan karakteristik personal

14
Wahyu Ilahi MA, 79.
15
Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah Membangun Cara Berpikir dan Merasa
(Malang: Madani Press, 2014), 151.
Yakni kesamaan agama, keyakinan aliran ediologi,
tingkat sosial ekonomi, nilai-nilai yang dianut, sikap
terhadap sesuatu dan sebagainya.
2. Kesamaan tekanan psikologis
Orang yang sedang tertekan perasaannya cenderung
tertarik kepada orang lain yang juga sedang tertekan.
3. Rendah diri
Keramahan da’i dalam berkomunikasi akan
menimbulkan rasa simpati mad’u kepadanya. Keramahan
tidak berarti kelemahan, tetapi pengekspresian sikap etis.
Lebih-lebih jika komunikator muncul dalam forum yang
mengandung dan membutuhkan argumentatif. Adakalanya
dalam satu forum timbul tanggapan dari seorang mad’u
sebuah kritik pedas, maka dalam situasi seperti ini, sikap
hormat komunikator dalam memberikan jawaban dengan
tidak menggunakan nada yang tinggi dan meledak-ledak
dikarenakan emosinya, dengan seperti inilah akan
meluluhkan sikap emosional mad’u dan akan menimbulkan
rasa simpati pada komunikator. 16
Menurut pendapat pemakalah, faktor-faktor yang
menyebabkan dekatnya hubungan antara da’i dan mad’u
bisa dimulai dari da’i itu terlebih dahulu, jika seorang da’i
memiliki figur yang baik, maka secara tidak sadar respon
mad’u terhadap seorang da’i akan muncul dengan
sendirinya. Sehingga jika sudah demikian, dalam berdakwah
seorang da’i pasti akan dengan mudah menyampaikan
materi dakwah yang akan ia berikan pada mad’u, dan mad’u
juga dapat dengan mudah menerima materi itu dengan
sangat baik.
B. Pijakan Psikologis Hubungan Da’i dan Mad’u
16
Wahyu Ilahi MA, Komunikasi Dakwah, 79.
Hubungan baik antar da’i dan mad’u, sebagaimana hubungan
baik antar siapa pun tidak otomatis terjadi, tetapi membutuhkan
adanya pijakan-pijakan psikologis. Hubungan baik itu dimungkinkan
jika di antara kedua pihak terdapat hal-hal sebagai berikut :
1. Faktor Percaya
Jika masyarakat percaya kepada da’i dan memandangnya
penuh hormat, di pihak lain da’i pun percaya bahwa
masyarakat berpikir konstruktif, maka faktor ini
memungkinkan terjadinya hubungan baik antara da’i dan
masyarakat. Jika di antara kedua belah pihak tidak saling
percaya maka yang terjadi adalah kesalahpahaman. 17 Seorang
da’i dalam berdakwah harus memancarkan sebuah kepastian.
Ini harus selalu muncul dengan penguasaan diri dan situasi
secara sempurna. Dia harus selamanya siap menghadapi
berbagai situasi dan kondisi yang ada. Namun, walaupun ia
harus menunjukkan kepercayaan dirinya, jangan sekali-kali
dalam sikapnya lalu muncul takabbur.18
2. Sikap Saling Membantu
Jika masyarakat merasa dibantu oleh kehadiran da’i dan da’i
pun merasa dibantu oleh masyarakat dalam berekspresi diri
dan beramal saleh mengembangkan karir, maka hubungan baik
mudah terjadi. Sebaliknya jika kehadiran da’i dirasakan oleh
masyarakat sebagai gangguan, atau beban, atau da’i merasa
diperbudak oleh masyarakat, maka hubungan baik itu tidak
akan terjadi.
3. Sikap Terbuka
Seorang da’i, jika ia memiliki sikap terbuka, yakni tahu betul
apa yang telah diketahui oleh masyarakat tentang dirinya
sehingga ia tidak perlu menutupi dirinya dengan topeng

17
Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah Membangun Cara Berpikir dan Merasa, 153.
18
Wahyu Ilahi MA, Komunikasi Dakwah, 80.
kepalsuan (basa-basi), serta tahu betul hal-hal dirinya yang
tidak perlu diketahui oleh masyarakat sehingga ia tidak merasa
perlu untuk memberitahukannya, kemudian bertemu dengan
jamaah yang juga terbuka, tidak terbasa-basi, tidak berpura-
pura, maka hubungan kedua belah pihak akan baik. Akan
tetapi, jika kedua belah pihak saling menyimpan rahasia yang
sebenarnya bukan rahasia, maka hubungan baik sulit
terwujud.19
Kesederhanaan tidak hanya menyangkut hal-hal yang
bersifat fisik, tetapi juga dalam penggunaan bahasa sebagai alat
untuk menyampaikan dan menyalurkan pikiran dan perasaan
dan dalam gaya komunikasinya. Bahasa dan kata-kata yang
disampaikan oleh da’i harus menyesuaikan dengan keadaan
mad’u yang mana bahasa dan kata-kata itu mudah untuk
difahami, jangan lantas seorang da’i yang notabenenya juga
seorang akademis lalu menyampaikan dalam bahasa dan kata-
kata akademis kepada mad’u yang mayoritas pengetahuannya
kurang, tentu apa yang disampaikan da’i tersebut sulit untuk
dipahami mad’u.20
Menurut pendapat pemakalah, apabila dalam berdakwah sikap
percaya antara da’i dan mad’u dapat berjalan dengan baik, maka
hubungan komunikasi keduanya akan mudah terwujud. Dimana
seorang da’i yang percaya akan suksesnya ia ketika menyampaikan
materi, dan mad’u pun percaya kepada da’i tentang penyampaian isi
materi dakwah yang disampaikan oleh seorang da’i. Begitupun dengan
dua sikap lainnya yang telah dijelaskan di atas, yang apabila antara
da’i dan mad’u sama-sama melakukan kedua sikap tersebut maka
hubungan baik akan dapat dengan mudah terwujud.

19
Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah Membangun Cara Berpikir dan Merasa, 152–
153.
20
Wahyu Ilahi MA, Komunikasi Dakwah, 80.
C. Model-Model Hubungan Da’i dan Mad’u
Hubungan antara da’i dan mad’u atau hubungan antara da’i dan
masyarakat dapat diuraikan dengan menggunakan teori hubungan
interpersonal. Dalam tinjauan ini, sekurang-kurangnya ada tiga model
hubungan interpersonal yang dapat digunakan untuk mengetahui
intensitas hubungan antara da’i dan masyarakat, yaitu : 1. Model
pertukaran sosial, 2. Model peranan, 3. Model permainan. 21
1. Model pertukaran sosial
Teori ini memandang bahwa hubungan antara da’i dan mad’u
tak ubahnya seperti orang yang sedang melakukan transaksi
dagang. Artinya, da’i menjual kebahagiaan, ketentraman dan
keabsahan, sedang masyarakat membayarnya dengan
mengeluarkan biaya, berupa uang untuk honor, uang biaya untuk
transport menghadiri pengajian misalnya, serta tenaga dan waktu
yang diperlukan untuk mendengarkan pesan dakwah.
Dalam perspektif ini maka kontinuitas dan kualitas hubungan
antara da’i dan mad’u bergantung kepada seberapa besar kedua
belah pihak memperoleh kepuasan dari transaksi itu. Jika
kebahagiaan yang dijual oleh da’i itu tinggi nilainya di mata
masyarakat, maka mereka bersedia membayar mahal dengan harta,
tenaga, dan waktu. Demikian juga jika da’i merasa dagangannya
laku dan bahkan dibayar tinggi (berupa uang, penghargaan sosial,
dukungan) oleh masyarakat, maka da’i akan bersemangat dalam
“menjual” pesan-pesan dakwah.
2. Model peranan
Seorang da’i seharusnya hidup harmonis dalam rumah
tangganya. Tetapi sering kedengaran cekcok dengan istrinya maka
ia dinilai tidak pandai melakukan peran. Jika ia dihadapan umum
memukuli istrinya. maka da’i itu menyimpang dari peran

21
Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah Membangun Cara Berpikir dan Merasa, 153–
154.
semestinya. Jika da’i kurang pintar memainkan peran, apalagi salah
peran, maka hubungan interpersonalnya dengan masyarakat tidak
baik.
Menurut A’la al-Maududi yang dikutip Moh Ali Aziz dalam
bukunya yang berjudul Ilmu Dakwah beliau menjelaskan bahwa
sifat-sifat model peranan seorang da’i dapat disimpulkan sebagai
berikut :
a) Sanggup memerangi musuh dalam dirinya sendiri yaitu nafsu
untuk taat kepada Allah SWT dan rasul-Nya sebelum memerangi
hawa nafsunya.
b) Sanggup berhijrah dari hal-hal yang maksiat yang dapat
merendahkan dirinya dihadapan Allah SWT dan dihadapan
masyarakat.
c) Mampu menjadi uswatun hasanah budi dan akhlaknya yang
menjadi mad’unya.
d) Memiliki persiapan mental :
1) Sabar, yang meliputi sifat-sifat teliti tekad yang kuat, tidak
bersifat pesimis.
2) Senang memberi pertolongan kepada orang yang bersedia
berkorban, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan harta
serta kepentingan yang lain.
3) Cita dan memiliki semangat yang tinggi dalam mencapai
tujuan.
4) Menyediakan diri untuk berkorban dan bekerja terus
menerus secara teratur dan berkesinambungan.
3. Model permainan
Menurut teori ini, hubungan interpersonal manusia itu didasari
oleh permainan peranan yang berpokok pada tiga kepribadian,
yaitu : kepribadian orang tua, orang dewasa dan kepribadian anak-
anak.
Jika seorang da’i dalam hubungannya dengan masyarakat
(mad’u) menunjukkan kepribadian pemaaf, penyayang dan
penganyom masyarakat, maka ia diperlakukan orang sebagai
orang tua (sesepuh) yang disegani. Jika ia menunjukkan
kepribadian sebagai orang terampil, aktif dan bertanggung jawab
dalam menghadapi masalah-masalah penting, maka ia
diperlakukan orang sebagai orang dewasa, tetapi jika seorang da’i
manja, tidak sabaran dan lebih menyukai kesenangan, maka ia
diperlakukan sebagai anak-anak.22

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :
1. Faktor-faktor yang mendekatkan hubungan da’i dan mad’u
diantaranya ada 4 faktor yaitu : faktor imitasi, sugesti, identifikasi
dan faktor simpati. Sedangkan menurut Wahyu Ilahi faktor yang
mendekatkan hubungan da’i dan mad’u ialah : daya pesona yang da’i
miliki, kehadiran da’i disaat yang tepat, adanya kedekatan hubungan
batin antara da’i dan mad’u.
2. Hubungan psikologis antara da’i dan mad’u tidak otomatis terjadi
secara sendirinya, namun membutuhkan adanya pijakan-pijakan
psikologis seperti : faktor saling percaya, sikap saling membantu, dan
sikap terbuka. Dimana tiga hal ini yang membuat terwujudnya
hubungan baik antara da’i dan mad’u.
3. Ada tiga model hubungan antara da’i dan mad’u jika menggunakan
teori hubungan interpersonal, dimana teori ini digunakan untuk

22
Moh Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta: Prenada Media Group, 2004), 82.
mengetahui intensitas hubungan antara da’i dan mad’u. Ketiga model
itu antara lain : Model pertukaran sosial, Model peranan, dan Model
permainan.

PETA KONSEP

Hubungan Psikologis
Hubungan Psikologis
Faktor Imitasi AntaraDa’i
Antara Da’i dan
dan Mad’u
Mad’u Daya pesona yang Da’i
miliki
Faktor Sugesti

Faktor yang mendekatkan Kehadiran Da’i di saat


hubungan yang tepat
Faktor Identifikasi

Kedekatan hubungan
Faktor Simpati batin antara Da’i dan
Mad’u

Pijakan Psikologis Hubungan


Da’i dan Mad’u

Sikap Terbuka

Faktor saling
percaya
Sikap saling
membantu

Model-Model Hubungan
Da’i dan Mad’u

Model pertukaran
Model Peranan Model Permainan
Sosial

Saran

Adapun beberapa saran yang kami berikan antara lain :


a. Untuk mahasiswa
Sebagai calon guru yang professional, sebaiknya materi yang
telah diterima ataupun dipelajari baik itu selama proses perkuliahan
ataupun saat di bangku sekolah hendaknya diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan bermasyarakat, bukan
hanya disimpan dan ditimbun saja untuk kepentingan pribadi.
Sehingga ilmu yang telah diterima menjadi barokah, berguna dan
dapat membantu orang lain.
b. Untuk orang tua/ wali
Sebagai pengamat, sekaligus wali atau orang tua siswa maupun
mahasiswa, sebaiknya tetap memberikan dukungan kepada peserta
didik untuk belajar dan menambah pengetahuan, baik itu berupa
dukungan fisik, psikis, mental, maupun finansial. Sehingga generasi
penerus menjadi generasi yang lebih baik dan berguna bagi bangsa
dan negara.
c. Untuk IAIN sebagai lembaga
Sebagai institut atau lembaga, hendaknya tetap mendukung
perkembangan mahasiswa dan menampung setiap aspirasi dari para
mahasiswa. Sehingga para mahasiswa dapat mengembangkan dirinya
menjadi pribadi yang lebih baik yang memiliki skill dan kemampuan
sebagai bekal ketika hidup di masyarakat kelak.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Mubarok. Psikologi Dakwah Membangun Cara Berpikir dan Merasa.


Malang: Madani Press, 2014.
Faizah, dan Lalu Muchsin. Psikologi Dakwah. Jakarta: Prenada Media Group,
2006.

Janu Murdiyatmoko. Sosiologi (Memahami dan Mengkaji Masyarakat).


Bandung: Grafindo Media Pratama, 2007.

Moh Ali Aziz. Ilmu Dakwah. Jakarta: Prenada Media Group, 2004.

Wahyu Ilahi MA. Komunikasi Dakwah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya,


2010.

http://chalouiss.blogspot.com/2012/10/faktor-faktor-dalam-ham-
hubungan-antar.html?m=1

Anda mungkin juga menyukai