0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
347 tayangan13 halaman

Laporan Praktikum Hama Tanaman

Laporan praktikum entomologi hutan tentang pengamatan pohon asuh mendeskripsikan pengamatan dan identifikasi serangga perusak pada tiga pohon yaitu sengon, meranti tembaga, dan akasia. Pada sengon ditemukan kerusakan batang akibat penyakit kanker, pada meranti tembaga kerusakan daun oleh ulat kantong, dan pada akasia rapuhnya batang akibat rayap.

Diunggah oleh

bakhri yurico05
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
347 tayangan13 halaman

Laporan Praktikum Hama Tanaman

Laporan praktikum entomologi hutan tentang pengamatan pohon asuh mendeskripsikan pengamatan dan identifikasi serangga perusak pada tiga pohon yaitu sengon, meranti tembaga, dan akasia. Pada sengon ditemukan kerusakan batang akibat penyakit kanker, pada meranti tembaga kerusakan daun oleh ulat kantong, dan pada akasia rapuhnya batang akibat rayap.

Diunggah oleh

bakhri yurico05
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI HUTAN

“Pengamatan Pohon Asuh”

Kelompok 4
Anggota Kelompok
1. Raka Oktaviano Marshall E4401211017
2. Tyas astri pallupi E4401211025
3. Nurisma Khairunisa E4401211043
4. Bunayya Ittaki Almajid Albar E4401211065
5. Iman Hamdi Aliwikan Utomo E4401211097

Dosen:
Lufthi Rusniarsyah, SP. M.Si

LABORATORIUM ENTOMOLOGI HUTAN


DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2023
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman sebagai salah satu bahan makanan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk
melanjutkan kehidupannya di muka bumi. Kebutuhan akan pangan menjadi penting untuk
diperhatikan sebagai salah satu kebutuhan primer manusia disamping sandang dan papan.
Perubahan perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan akan makanan dari semula
mengumpulkan makanan dari alam kemudian beralih dengan cara budidaya tanaman membawa
dampak pada ekosistem lingkungan sekitar baik terhadap lingkungan biotik maupun abiotik.
Dampak penanaman tanaman pada suatu kawasan yang semula multikultural dengan monokultur
menyebabkan ketimpangan dalam jaring rantai makanan. Salah satu dampak ialah adanya
kerusakan pada tanaman budidaya kita yang disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman
(OPT). Permasalahan hama dan penyakit yang menyerang tanaman seringkali disebabkan oleh
lebih dari satu penyebab disebut "kompleks" (Mazuna dan Wardana 2021).
Hama merupakan salah satu jenis organisme pengganggu tanaman yang keberadaannya
sangat tidak diinginkan karena besarnya kerugian yang ditimbulkan akibat aktivitas hidup dari
organisme ini pada pertanaman. Apabila dilihat dalam arti luas, Hama adalah semua bentuk
gangguan baik kepada manusia, tanaman, maupun ternak. Namun, dari arti sempit hama adalah
semua hewan yang merusak tanaman yang dapat menimbulkan kerugian. Jadi, apabila ada seekor
hewan pada tanaman namun tidak menimbulkan kerugian maka hewan tersebut tidak termasuk
hama. Hama yang merusak tanaman dapat dilihat secara jelas dari bekasnya (gerekan atau
gigitan). Secara garis besar hewan yang dapat menjadi hama dapat dari jenis serangga, moluska,
tungau, tikus, burung, atau mamalia besar. Mungkin di suatu daerah hewan tersebut menjadi
hama, namun di daerah lain belum tentu menjadi hama. Pada intinya hama merupakan gangguan
yang meresahkan manusia, gangguan tersebut dapat berasal dari binatang penganggu (kutu,
tikus, wereng, dll), dan juga dapat berasal dari tumbuhan pengganggu (bakteri, jamur, virus)
(Gofar et al. 2021).
Penyakit tanaman adalah kondisi dimana sel dan jaringan tanaman tidak berfungsi secara
normal yang ditimbulkan karena gangguan secara terus menerus oleh agen patogen atau faktor
lingkungan dan akan menghasilkan perkembangan gejala. Sedangkan menurut Rahmat Rukmana
dan Sugandi Saputra, Penyakit tanaman adalah sesuatu yang menyimpang dari keadaan normal,
cukup jelas menimbulkan gejala yang dapat dilihat, menurunkan kualitas atau nilai ekonomis,
dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama. Jadi dapat disimpulkan, Penyakit tanaman
merupakan sebuah kondisi dimana tanaman terganggu namun bukan berasal dari gangguan
hama, melainkan karena jamur, virus, maupun bakteri yang pada akhirnya juga dapat merugikan
manusia. Tanaman yang terkena penyakit dapat terlihat jelas karena mengalami kerusakan sel
atau bahkan matinya sel dalam tanaman. Penyakit tanaman biasanya disebabkan oleh faktor
biotik dan faktor abiotik. Penyakit tanaman yang disebabkan oleh faktor biotik adalah penyakit
yang diakibatkan oleh organisme pengganggu (cendawan, bakteri, dll), biasanya gejala
kerusakan rata pada satu hamparan tanaman. Sedangkan penyakit tanaman yang disebabkan oleh
faktor abiotik ialah merupakan gejala serangan yang cenderung tidak merata, dan kerusakan
yang timbul akibat terlalu lembab, atau terlalu kering (Safitrtri 2016).

1.2 Tujuan Praktikum


Praktikum ini bertujuan mengetahui bentuk serangan hama pada tanaman Kehutanan
serta cara penanganan terhadap tiap jenis serangan.

1.3 . Metode PBL


Metode yang digunakan pada pengamatan kali ini yang bertempatkan di samping
Teaching Lab yaitu sebagai berikut:

A. Penentuan Tempat Pengamatan


Pengambilan data dilakukan di samping Teaching Lab Kampus IPB University
dengan memilih tiga macam pohon yang berbeda dengan bentuk kerusakan yang berbeda
pula.

B. Proses Identifikasi
Pengidentifikasian dilakukan pada setiap serangga perusak yang terdapat pada
masing-masing pohon. Proses identifikasi serangga menggunakan literatur yang relevan
untuk memudahkan visualisasi serangga perusak yang diamati. Serangga yang diamati
lalu diidentifikasi dan dicocokan kesamaan morfologinya dengan literatur yang relevan.

C. Analisis Data
Hasil dari data yang telah didapat kemudian dikelola dalam bentuk tabel, hasil
dari pengamatan juga diperkuat dengan study literatur (studi Pustaka) yang di gabungkan
dengan lingkungan serta komponen biotik dan abiotiknya. Jenis Penelitian pada
praktikum kali ini merupakan penelitian eksperimen lapangan. Data diperoleh melalui
pengamatan langsung di lapangan. Semua data yang telah terkumpul hasilnya disusun
menjadi sebuah makalah ilmiah tentang hama dan penyakit pada tanaman yang berada di
kawasan samping Teaching Lab Kampus IPB University.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 HASIL

Tabel 1 Pengamatan hama perusak pada tumbuhan


Minggu Nama Pohon Bentuk Penyebab Dampak kerusakan
ke kerusakan kerusakan

1 Kanker pada Penyebab Dampak kerusakan


batan pohon penyakit kanker berupa pengelupasan
sengon merupakan pada kulit pohon.
Hal tersebut diduga
interaksi antara
terjadi karena adanya
hama, jamur kanker pada batang
pathogen, dan pohon. Hal tersebut
perubahan proses juga ditunjukkan
fisiologis dari dengan adanya
tanaman itu sedikit
sendiri. Pada penggumpalan pada
batang sengon.
minggu pertama
pengamatan tidak
ditemukan
serangga ataupun
kotoranya

Semai Meranti Penyebab Daun tanaman yang


tembaga kerusakan pada terserang hama ulat
mengalami pengamatan kantong akan
bentuk minggu ke dimakan pada
kerusakan ulat pertama, yaitu lapisan epidermis
kantong serangga perusak bagian bawah dan
nya masih belum jaringan mesofil
terlihat, tetapi yang menyisakan
diduga jaringan epidermis
penyebabnya bagian atas, sisa
adalah ulat epidermis tersebut
kantong. akan mengering dan
hanya menyisakan
tulang daun.
Pada pohon Rayap yang Dampak yang
akasia (Acacia ditemukan pada ditimbulkan dari
mangium) pohon akasia serangan rayap
yaitu rapuhnya menjadi hama Coptotermes
batang pohon yang dapat curvignathus pada
akibat disebabkan oleh pohon akasia yaitu
serangan hama ketersediaan kayu membuat kulit pohon
rayap. dan tingkat menjadi
kelembaban rapuh,batang kayu
pohon tersebut yang mulai dimakan
sehingga dapat oleh rayap,dan
mengganggu pertumbuhan pohon
akibat yang lambat . Rayap
populasinya yang yang ditemukan pada
cukup luas dan pohon akasia
daya adaptasinya menjadi hama yang
yang baik. mengganggu akibat
populasinya yang
cukup luas dan daya
adaptasinya yang
baik.

2 Kanker pada Penyebab Dampak kerusakan


pohon sengon penyakit kanker berupa pengelupasan
merupakan pada kulit pohon.
Hal tersebut diduga
interaksi antara
terjadi karena adanya
hama, jamur kanker pada batang
pathogen, dan pohon. Hal tersebut
perubahan proses juga ditunjukkan
fisiologis dari dengan adanya
tanaman itu sedikit
sendiri. Di penggumpalan pada
batang sengon.
minggu pertama
dapat dilihat
bahwa kerusakan
yang dialami oleh
pohon sengon
kanker nya
terbuka lebar dan
terdapat serangga,
di minggu kedua.
Pohon sengon
sudah mulai
sedikit tertutup
dan tidak terdapat
serangga.

Semai Meranti Hari ke dua Serangan ulat


tembaga pengamatan hama kantong pada
mengalami yang terserang tanaman sengon
bentuk sudah terlihat yang memiliki
kerusakan ulat yaitu ulat ukuran daun kecil
kantong kantong. Ulat dapat mengakibatkan
kantong dapat tajuk menjadi
menyebabkan gundul.
daun rontok
dengan gejala
awal daun
tanaman yang
terserang menjadi
berlubang dan
berwarna coklat

Rayap hama Perubahan pada Dampak kerusakan


minggu kedua pada pohon akasia
dapat dilihat dari yang disebabkan
batang pohon oleh serangan rayap
yang mulai akan mengakibatkan
mengelupas/ pohon menjadi rapuh
rontok. Rayap dan pertumbuhannya
sudah tidak akan lambat.
terlihat dan tidak
menyebar
3 Kanker pada Pada pengamatan Hal itu disebabkan
pohon sengon minggu ketiga, karena pohon sengon
kerusakan yang dapat
dialami oleh berkembangbiak,
pohon sengon beradaptasi dengan
yang disebut baik. Atau
gejala kanker merupakan proses
mengalami pertumbuhan dari
perubahan yaitu pohon itu sendiri
pohon sengon sehingga penyakit
yang terkena kanker pada pohon
kanker sudah sengon dapat
tertutup. tertutup

Ulat kantong Pada minggu Daun berlubang


pada semai ketiga semai akibat dimakan oleh
meranti meranti tembaga ulat kantong,jumlah
tembaga mengalami daun yang berlubang
perubahan. semakin banyak

Rayap hama Pada minggu Tanah di batang


pada pohon ketiga mengalami pohon semakin
Akasia perubahan yang banyak dan serbuk
sangat terlihat geret semakin
yaitu batang pada banyak,dan rayap
pohon akasia membuat lubang di
semakin rontok, batang kayu
mengelupas, dan
rapuh. Selain itu,
terdapat getah
getah putih
2.2 Pembahasan
Pengamatan serangga kali ini dilakukan pada pohon di samping Teaching Lab Kampus
IPB University. Lahan pada Samping Teaching Lab IPB University memiliki strata vegetasi dari
semai hingga pohon dewasa dan juga tumbuhan bawah, hal ini tentu saja berpengaruh terhadap
ketersedian makanan bagi serangga . Semakin sedikit spesies tumbuhan yang dijumpai pada
suatu areal, semakin sedikit variasi mikrohabitat yang tersedia dan semakin sedikit pula spesies
serangga yang mampu didukungnya.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di samping Teaching Lab didapatkan
hama yang menyebabkan kerusakan pada pohon asuh yang dipilih yaitu pada pohon sengon
(Paraserianthes falcataria),pohon akasia (Acacia mangium),dan semai meranti tembaga (Shorea
leprosula).Kerusakan pada pohon akasia (Acacia mangium) yaitu rapuhnya batang pohon akibat
serangan hama rayap.Menurut Savitri et al.(2016) rayap merupakan serangga yang termasuk ke
dalam ordo isoptera.Rayap hidup secara berkoloni, dan memiliki tatanan kasta dalam
koloninya.Dalam satu koloni rayap terdiri atas tiga kasta dengan pembagian tugas yang jelas
yaitu kasta reproduktif,kasta pekerja,dan kasta prajurit.Terdapat tiga famili rayap di wilayah
Indonesia yaitu Kalotermitidae,Rhinotermitidae,dan Termitidae.Rayap yang didapatkan pada
pohon akasia yaitu Coptotermes curvignathus dari famili Rhinotermitidae,rayap ini merupakan
musuh terbesar bagi tanaman pohon dan bangunan karena kemampuannya yang mampu
beradaptasi dengan lingkungannya (Astuti 2013). Ciri ciri kasta pekerja dari Coptotermes
curvignathus yaitu mempunyai bentuk kapsul kepala seperti botol, berwarna coklat kekuningan,
dan rostrum berwarna lebih kuning kecoklatan. Antena berwarna pucat dari atau sama dengan
ujung kepala, tampak dari bagian dorsal kepala termasuk rostrum agak melingkar, panjang
rostrum lebih dari setengah panjang kepala dan tebal pada bagian dasar (Libertus dan Diba
2020). Kondisi lingkungan yang mendukung seperti kadar air yang tinggi dan tempat
pengamatan yang lembab membuat rayap Coptotermes curvignathus dapat berkembangbiak dan
membuat sarang pada pohon akasia.
Dampak yang ditimbulkan dari serangan rayap Coptotermes curvignathus pada pohon
akasia yaitu membuat kulit pohon menjadi rapuh,batang kayu yang mulai dimakan oleh
rayap,dan pertumbuhan pohon yang lambat . Rayap yang ditemukan pada pohon akasia menjadi
hama yang mengganggu akibat populasinya yang cukup luas dan daya adaptasinya yang baik.
Hama merupakan binatang yang merusak dan umumnya merugikan manusia dalam segi ekonomi
(Astuti dan Widyastuti 2016). Rayap menyerang tumbuhan yang masih hidup maupun sudah
mati. Serangannya pada tahap awal ditandai oleh adanya kerak tanah yang berupa alur-alur
sedangkan yang sudah lanjut ditandai dengan kerak tanah yang menutupi pohon hingga beberapa
meter dari permukaan tanah (Ngatiman dan Cahyono 2017). Pohon asuh yang telah diamati tidak
mengalami kematian dan masih tetap bertumbuh. Kerak tanah yang berupa alur-alur terlihat
menunjukkan bahwa serangan rayap masih pada tahap awal, namun kerusakan pada kulit pohon
sudah sangat terlihat sehingga pohon dapat dikategorikan mengalami serangan rayap yang cukup
serius. Pohon ditemukan di kawasan ekosistem hutan alam yang memungkinkan pohon lain di
sekitar pohon asuh yang ditanam dalam jarak dekat juga mengalami serangan rayap. Serangan
rayap masih aktif karena dalam 2 minggu pengamatan, kerusakan pohon semakin terlihat.
Keberadaan rayap dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dari pohon asuh. terlihat bahwa banyak
vegetasi sehingga kelembaban tinggi dan suhu rendah. Kondisi ini memudahkan rayap untuk
berkembangbiak dan menjadi semakin banyak menyebar serta mengganggu pohon-pohon di
sekitar pohon yang telah diserang.
Semai meranti tembaga terkena serangan ulang kantong yang ditandai dengan banyaknya
daun yang berlubang.Ulat kantong (Cryptothelea variegate) merupakan ordo lepidoptera dan
famili psychidae,pada stadium larva berwarna coklat tua sampai hampir hitam.Menurut Manya
(2017) ulat kantong hanya menyerang daun pada pagi dan malam hari karena ulat kantong tidak
kuat terhadap sinar cahaya matahari yang sangat panas. Dampak kerusakan yang terjadi pada
semai meranti tembaga yaitu terhambatnya proses fotosintesis akibat banyak lubang pada daun
semai meranti tembaga,dan terhambatnya pertumbuhan semai meranti tembaga. Gejala serangan
yang dilakukan oleh ulat kantung terdapat pada fase ulat muda yang sudah dapat mengeluarkan
benang sutra untuk menggantung, yang kemudian digunakan untuk menyebar dengan bantuan
angin, setelah menetap di satu tempat ulat kantung membentuk kantung sendiri. Ulat ini bergerak
dengan mengeluarkan kepala dan sebagian badanya untuk memakan daun, bunga, ataupun kulit
tanaman sehingga menyebabkan daun berlubang dan menggulung karena ulat ini membentuk
kantung. Gejala serangan tersebut menimbulkan kerusakan seperti daun tidak utuh lagi, rusak
dan berlubang (Ditjenbun 2016).
Pada pohon sengon samping teaching lab terdapat beberapa pengelupasan pada kulit
pohon. Hal tersebut diduga terjadi karena adanya kanker pada batang pohon. Hal tersebut juga
ditunjukkan dengan adanya sedikit penggumpalan pada batang sengon. Menurut Anggraeni
(2009) Gejala penyakit diawali dengan adanya pembengkakan lokal (tumefaksi) di bagian
tanaman yang terserang (daun, cabang, dan batang). Lama kelamaan pembengkakan berubah
menjadi benjolan-benjolan yang kemudian menjadi bintil - bintil kecil atau disebut tumor (gall).
Tumor yang timbul mempunyai bentuk bervariasi mulai bulat sampai tidak beraturan dengan
diameter mulai dari beberapa milimeter sampai lebih besar dari 10 cm. Sunarti dan supriyanto
(2013, menjelaskan lebih lanjut bahwa Tumor tersebut dapat berkelompok atau menyebar pada
bagian yang terserang. Tumor yang masih muda berwarna hijau kecoklatan muda yang diselimuti
oleh lapisan seperti tepung berwarna agak kemerahan yang merupakan kumpulan dari spora
patogen, sedangkan tumor yang tua berwarna coklat kemerahan sampai hitam dan biasanya
tumor sudah keropos berlobang serta digunakan sebagai sarang semut. Apabila yang terserang
penyakit bagian tangkai daun majemuk atau tajuk maka bagian tersebut agak membengkok
karena adanya penebalan dan pembengkakan. Kanker merupakan gejala kerusakan atau kematian
lokal pada kulit pada batang atau cabang tanaman berkayu dan tanaman lainnya dimana terlihat
lekukan di bawah kulitnya. Seringkali bagian jaringan yang sehat di sekitar bagian yang sakit
bertambah tebal sehingga terlihat lebih menonjol dibandingkan batang normal (Agrios 2005).
Penyebab penyakit kanker merupakan interaksi antara hama, jamur pathogen, dan perubahan
proses fisiologis dari tanaman itu sendiri. Seringkali penyakit kanker oleh faktor biotik primer
dipicu oleh cekaman faktor abiotik, baik karena perubahan kondisi cuaca (suhu dan kelembaban
ekstrim) maupun cara-cara budidaya tanaman yang tidak sesuai, seperti pemangkasan,
penggunaan herbisida, dan lain-lain (Febriyanti 2017).
Gejala kanker batang berupa kematian pada kulit batang yang terjadi secara lokal dan
jaringan yang masih hidup di pinggir kanker tersebut menebal hingga seakan-akan bagian yang
sakit tenggelam dan terletak lebih rendah daripada sekelilingnya. Gejala serangan lebih lanjut
terlihat adanya pembengkakan batang yang disertai dengan pecahnya jaringan kayu dan
keluarnya cairan berwarna putih keruh pada batang (Triwibowo 2014). Gejala kanker batang
pada stadium awal pada umumnya masih dapat diselamatkan. Oleh karena itu, apabila di
lapangan terlihat tanaman yang menderita kanker batang harus segera dilakukan perawatan dan
pemeliharaan secara intensif untuk memacu pertumbuhan tanaman (Triwibowo 2014). Penyakit
kanker batang umumnya terjadi pada tanaman muda umur 3 tahun sampai 7 tahun pada semua
jenis meranti. Serangan penyakit kanker batang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan riap
(Rahayu 1999).
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kerusakan pada tanaman dapat disebabkan oleh 2 faktor, yaitu penyakit tanaman dan
hama tanaman. Penyakit tanaman dan hama tanaman masing-masing memiliki intensitas
kerusakan yang berbeda karena tingkat kerusakan yang ditimbulkan mempunyai hasil kerusakan
yang berbeda juga. Hama penyakit tanaman umumnya memiliki intensitas kerusakan yang dapat
terlihat pada tanaman seperti bekas gigitan, daun yang bolong, dan batang tanaman yang terkikis.
Sedangkan penyakit tanaman memiliki dua intensitas kerusakan yang dapat ditimbulkan
berdasarkan faktor penyebabnya, yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik penyakit
pada tanaman dapat terlihat jelas dan relatif tampak pada permukaan luar yang biasa disebut
tanda penyakit pada tanaman seperti cendawan dan jamur. Sedangkan faktor abiotik relatif
menjadi gejala serangan penyakit pada tanaman. Jenis hama dan penyakit tanaman pun
berbeda-beda sesuai dengan jenis kekuatan tanaman tersebut. Perbedaan vegetasi tanaman yang
telah rusak oleh hama dan penyakit tanaman tidak bisa dijadikan indikator jenis kerusakan yang
sama karena faktor penyebab dan intensitas kerusakan pada setiap hama dan penyakit terhadap
tanaman berbeda. Penanganan yang harus dilakukan sebagai langkah pencegahan kerusakan
tanaman dilakukan berdasarkan jenis hama dan penyakit tanaman serta jenis karakteristik
kekuatan tanaman yang terserang. Pengetahuan tentang jenis hama dan penyakit terhadap
tanaman dapat menjadi langkah awal untuk proses mencegah terjadinya kerusakan pada tanaman
tersebut.

3.2 Saran
Saran Berbagai serangan yang terjadi pada pohon yang mampu berdampak fatal apabila
tidak diiringi pengawasan yang baik. Pemeliharaan pohon dalam hal ini harus diterapkan supaya
mampu menjaga kualitas dan kelestarian dari suatu susunan vegetasi, yakni dapat berupa
monitoring guna mencegah dan juga mengatasi apabila terjadi suatu serangan hama pada
tanaman. Saran terhadap praktikan dalam praktikum ini diharapkan memiliki ketelitian dan
pemahaman yang baik agar mampu mengidentifikasi suatu permasalahan atau serangan yang
terjadi pada pohon. Selain itu, penerapan monitoring dilakukan secara konsisten dan teratur
sehingga mampu mencegah apabila terjadi suatu serangan dengan seawal mungkin dan
perencanaan yang matang.
DAFTAR PUSTAKA

Agrios GN. 2005. Plant Pathology. San Diego (US): Elsevier Academic Press.

Astuti W, Widyastuti CR. 2016. Pestisida organik ramah lingkungan pembasmi hama tanaman
sayur. Rekayasa 14(2):115-120.

Astuti A. 2013. Identifikasi, sebaran dan derajat kerusakan kayu oleh serangan rayap
Coptotermes di Sulawesi Selatan [Doctoral dissertation]. Makassar : Universitas Hasanuddin.

Anggraeni I. 2009. Penyakit karat tumor pada sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) DI
perkebunan Glenmore Banyuwangi, Jawa Timur. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. 6(5):
311-321.

Ditjenbun. 2016. Ulat Kantong pada Kelapa Sawit. Internet:


https://sinta.ditjenbun.pertanian.go.id.

Gofar, N., Permatasari, S. D. I., & Setiawati, P. (2021). Pengantar Bercocok Tanam
Agroekologis. Bening Media Publishing.

Libertus FG, Diba F. 2020. Studi Serangan Rayap Pada Tanaman Akasia (Acacia Crassicarpa) Di
Lahan HTI PT Muara Sungai Landak Kabupaten Mempawah. Jurnal Hutan Lestari. 8(1): 32-39.

Muzuna, W. O. A. Z., & Wardana, W. O. D. P. (2021). Penyuluhan Pengembangan dan


Pengendalian Organisme Penganggu Tanaman Hortikultura di Desa Lawela Kabupaten Buton
Selatan. Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Membangun Negeri, 5(1), 288-300.

Ngatiman, Cahyono DDN. 2017. Serangan rayap Coptotermes sp. pada tanaman Shorea
leprosula Miq. di PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat. Jurnal Penelitian Ekosistem
Dipterokarpa 3(1):33-42.

Rahayu, S.1999. Penyakit Tanaman Hutan Di Indonesia. Gejala, Penyebab, dan Teknik
Pengendaliannya. Yogyakarta.: Kanisius.

Sunarti S, Supriyanto N. 2013. Studi Kasus Penyakit Karat Tumor pada Sengon (Paraserianthes
falcataria) di Desa Mendolo Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Agroforestri.
8(2): 105-112.

Safitri, D. Y. (2016). Tingkat Serangan Hama Pada Tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba
Miq.) Di Desa Negara Ratu II Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.
Savitri A, Martini M, Yuliawati S. 2016. Keanekaragaman Jenis Rayap Tanah dan Dampak
Serangan Pada Bangunan Rumah di Perumahan Kawasan Mijen Kota Semarang. Jurnal
Kesehatan Masyarakat (Undip), 4(1): 100-105.

Triwibowo H, Jumani, Ermawati H. 2014. Identifikasi hama dan penyakit shorea leprosula Miq
di Taman Nasional Kutai resort Sangkima Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur.
Agrifor: Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan 13 (2) : 175-184.

Anda mungkin juga menyukai