Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Akhir akhir ini di Yogyakarta sering terjadi kasus penganiayaan,

pengeroyokan dan tawuran antar pelajar. Dalam kasus yang terjadi tersebut, menyebabkan korbannya mengalami luka luka bahkan sampai ada korban meninggal dunia, pelakunya adalah pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan data dari Balai Pemasyarakatan (BAPAS) kelas I Yogyakarta di temukan bahwa, kejahatan yang dilakukan pelajar sekolah di Yogyakarta pada tahun 2009 sebagai berikut : TABEL I Perbandingan dan Prosentase Tindak Pidana yang Dilakukan Pelajar Di Kota Yogyakarta. NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. TINGKAT PENDIDIKAN Tidak Sekolah Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Sarjana Muda Sarjana Lain - lain Jumlah JUMLAH 1 79 133 18 35 266 PROSENTASE 0,38% 29,70% 50,00% 6,77% 13,16% 100 %
1

Lihat grafik dan tabel klien anak BAPAS Yogyakarta tahun 2009.

Berdasarkan tabel di atas meskipun perbuatan kriminal yang dilakukan oleh pelajar SMA menduduki peringkat keempat dengan prosentase 6,77 %, tetapi sebenarnya tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan pelajar SMA sering terjadi, bahkan ada beberapa kasus yang menyebabkan korbannya hingga meninggal dunia. Kasus yang terjadi tidak semua diselesaikan melalui jalur penal / hukum pidana tetapi ada yang diselesaikan melalui jalur non penal dengan mediasi. Bahan hukum yang tercatat di Markas Kepolisian Kota Besar Yogyakarta (MAPOLTABES) satuan Reserse Kriminal (RESKRIM) menunjukkan bahwa, pelaku kejahatan / pelanggaran yang dilakukan oleh anak tahun 2009 berjumlah 73 (tujuh puluh tiga) pelaku, dengan rincian 62 (enam puluh dua) orang pelajar, 3 (tiga) orang mahasiswa, dan lainnya berjumlah 8 (delapan) orang. Kasus yang paling banyak jumlahnya adalah kasus penganiayaan dan pengeroyokan, karena kasus tersebut pada tahun 2009 hampir setiap bulannya terjadi. Dari bulan januari 2009 hingga bulan November 2009 terjadi 26 (dua puluh enam) kasus penganiayaan atau pengeroyokan, 25 (dua puluh lima) kasus diantaranya dilakukan oleh siswa laki-laki dan 1 (satu) diantaranya dilakukan siswi perempuan.
2

Kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan pelajar SMA di Yogyakarta telah merusak nama kota Yogyakarta yang filosofinya sebagai kota budaya dan kota pelajar, seperti kasus pengeroyokan pelajar SMA di Yogyakarta yang terjadi delapan tahun silam dan sempat mengagetkan warga masyarakat
Lihat data pelaku kejahatan/pelanggaran yang dilakukan oleh anak tahun 2009 SAT RESKRIM MAPOLTABES Yogyakarta.
2

Yogyakarta. Kasus tersebut terjadi di jalan Kartini, Kelurahan Sagan, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 21 September 2002 pukul 15.30 WIB. Korban yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut bernama R. Andika Aditya Putra, merupakan siswa SMA N 9 Yogyakarta yang meninggal terkena paser tepat di dada sebelah kanannya. Pelakunya 2 (dua) orang dari SMA Muhammadiyah I Yogyakarta bernama Muhammad Kahfi dan Abdul Zaffal Alim. Kasus serupa dan hampir sama juga terjadi pada akhir tahun tepatnya pada tanggal 20 Desember 2009 lalu yang pelakunya adalah siswa SMA Muhammadiyah I Yogyakarta dan korbannya alumni SMA N 6 Yogyakarta. Kronologis kasus tersebut berawal pada hari minggu kira-kira pukul 03.00 WIB tiga orang pelajar Theofilus Uki Caesar Kusuma, Atyanta Wihikan, dan Nashir Astungkara mengendarai sepeda motor dari bundaran UGM menuju daerah STC, di tengah jalan korban dihadang 38 (tiga puluh delapan) orang mengendarai 20 (dua puluh) sepeda motor. Setelah berhenti, tanpa alasan yang jelas tiba-tiba korban dikeroyok dan dianiaya oleh orang yang menghadangnya tersebut. Theofilus Uki Caesar Kusuma dan Atyanta Wihikan berusaha menyelamatkan diri menggunakan sepeda motornya, tetapi tetap dikejar pelaku hingga korban menaberak tiang telefon dan terjatuh dari motornya. Setelah terjatuh korban dikeroyok dan dianiaya kembali oleh pelaku yang mengakibatkan Theofilus Uki Caesar Kusuma meninggal dunia di lokasi kejadian dan Atyanta Wihikan mengalami kritis karena luka ditubuhnya yang cukup parah. Terdakwa dalam kasus tersebut berjumlah 6 (enam) orang yaitu terdiri dari MV, Ar, AAW,
3

Bernas Jogja, tanggal 21 Desember 2009.

YP, Fn dan AH. Atas perbuatannya terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum didakwa dengan pasal 353 (1) (2) (3) KUHP jo pasal 55(1) ke-1 KUHP. Untuk terdakwa MV di tambah dengan pasal 170 (1) (2) ke-1 ke-2 dan ke-3 KUHP.
4

Kasus tersebut merupakan sebagian contoh tindak pidana yang terjadi dan membuktikan kepada masyarakat bahwa di sekolah-sekolah khususnya di Yogyakarta ada geng pelajar yang kadang bertindak bar-bar atau brutal dan anarkhis antara lain merusak fasilitas umum dengan mencorat-coret serta melakukan aksi penganiayaan dan pengeroyokan. Tindakan mengganggu inilah yang disebut kenakalan remaja sebagai pengganti istilah juvenile deliquent. Remaja sering bertindak demikian karena mereka berada dalam proses pola-pola yang menetap.
5

Berdasarkan uraian di

atas, peneliti mengangkat Judul PENDEKATAN

PENAL DAN NON PENAL DALAM PENYELESAIAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DAN PENGEROYOKAN OLEH PELAJAR SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI YOGYAKARTA ini dikarenakan masalah

penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan pelajar SMA di Yogyakarta sedang menjadi sorotan pembicaraan hangat masyarakat Yogyakarta dan sangat jarang dibahas dalam skripsi mahasiswa.

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan

masalah pokok yang ditarik secara garis besar sebagai berikut:


4 5

Kedaulatan Rakyat, tanggal 17 Februari 2010. Simanjuntak. B, Latar belakang Kenakalan Remaja, Alumni, Bandung,1984, hlm.120.

1. Faktor apa yang mempengaruhi pelajar SMA di Yogyakarta melakukan tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan? 2. Bagaimana proses penyelesaian perkara tindak pidana penganiayaan

dan pengeroyokan yang dilakukan pelajar SMA di luar pengadilan oleh kepolisian? 3. Bagaimana pertimbangan hakim dalam memidana pelajar SMA yang melakukan tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan?

C.

Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan dalam pembuatan skripsi ini, untuk menjawab pokok permasalahan sebagaimana telah dirumuskan dalam rumusan masalah di atas, yakni: a. Untuk mengetahui latar belakang tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan pelajar SMA. b. Untuk mengetahui proses penyelesaian kasus tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan pelajar SMA di luar pengadilan yang dilakukan oleh kepolisian. c. Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memidana pelaku tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoritis yang diharapkan oleh peneliti agar skripsi ini dapat menambah khasanah keilmuan hukum pidana peneliti, masyarakat umum, serta pihak pihak yang membaca skripsi ini b. Manfaat praktis yang diharapkan oleh peneliti agar skripsi ini dapat diaplikasikan langsung di dalam kehidupan masyarakat.

D.

Tinjauan Pustaka Sebelumnya pada tahun 1995 sudah ada mahasiswa Fakultas Hukum

Universitas Islam Indonesia yang meneliti Latar Belakang dan Proses Peradilan Bagi Remaja yang Melakukan Kenakalan (Perbuatan Pidana) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang ditulis oleh R. Bagus Dwiantho. Ada tiga rumusan masalah yang diangkat dalam skripsi tersebut yaitu: latar belakang para remaja melakukan kenakalan (perbuatan pidana), proses peradilan bagi remaja yang melakukan kenakalan (perbuatan pidana), dan dampak proses peradilan pidana tersebut bagi remaja yang melakukan kenakalan (perbuatan pidana). Skripsi yang ditulis oleh R.Bagus Dwiantho ada kemiripan tentang masalah yang diteliti dengan skripsi penulis yaitu tentang latar belakang para remaja melakukan kenakalan (perbuatan pidana). Tetapi subyek dan obyek yang diteliti berbeda dengan karya ilmiah penulis. Letak perbedaan lain skripsi yang ditulis R.Bagus Dwiantho subyeknya adalah remaja yang berusia antara 12 sampai 18 tahun di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sedangkan dalam skripsi penulis subyeknya dibatasi pelajar SMA yang rata-rata berusia 14 sampai

18 tahun di wilayah Yogyakarta, tidak di wilayah DIY karena memang kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan pelajar SMA paling banyak terjadi di wilayah Yogyakarta. Obyek penelitian yang diteliti oleh penulis juga khusus pada tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan pelajar SMA, sedangkan dalam karya ilmiah R.Bagus Dwiantho obyek penelitian mencakup semua bentuk kenakalan remaja yang terjadi di DIY dari tahun 1990 sampai tahun 1994 meliputi (pembunuhan, penganiayaan, penculikan, pencurian, perkosaan, narkotika, perjudian, penadahan dll), sehingga lebih bersifat umum.
6

E.

Kerangka Teori 1. Teori Kontrol Sosial (Social Control) Permasalahan penelitian didasarkan pada teori Kontrol Sosial yaitu teori yang berusaha menganalisis jawaban dan sebab-sebab orang melakukan kejahatan. Teori Kontrol Sosial ini dicetuskan oleh Reiss dan Travis Hirschi. Menurut Reiss Teori ada 3 komponen pada kajian teori Kontrol Sosial untuk menjelaskan masalah kenakalan remaja yaitu kurang kontrol yang wajar selama masa anak anak, hilangnya kontrol internal itu sendiri. tidak adanya lagi norma-norma sosial atau konflik antar normanorma sosial yang dimaksud.
7

Menurut Travis Hirschi Teori Kontrol

Sosial kajiannya melihat dari sudut pandang criminal biology yaitu faktor dari dalam si pelaku dan criminal sociology yaitu faktor dalam milieunya
R.Bagus Dwiantho, Latar Belakang dan Proses Peradilan Bagi Remaja yang Melakukan Kenakalan (Perbuatan Pidana) di Daerah Istimewa Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 1995, hlm.100-102. 7 Abdul Kholiq, Teori Kontrol Sosial: Bahan Ajar Kuliah Kriminologi, Yogyakarta 2009, hlm.4-5.
6

atau kondisi dalam lingkungan yang mempengaruhi perilaku seseorang seperti attachment, involvement, commitment, belief.
8

Dimana terjadinya

kejahatan disebabkan oleh dua faktor tersebut yakni yang pertama adalah faktor individu dan yang kedua adalah faktor lingkungan. Hal ini dapat digambarkan dalam bentuk bagan dibawah ini.

I + L = P/K (INDIVIDU + LINGKUNGAN = PERBUATAN KEJAHATAN)

Perbuatan manusia adalah hasil dari unsur-unsur individu ditambah dengan lingkungan. Di dalam individu (I) tercakup seluruh unsur, baik psikologis maupun filosofis. Sedangkan di dalam lingkungan (L) tercakup seluruh unsur lingkungan alam termasuk masyarakat. Faktor lingkungan yang membentuk karakteristik seseorang pelaku untuk melakukan kejahatan dimulai dari lingkungan yang terkecil yaitu lingkungan keluarga, lingkungan tetangga, sampai yang besar yaitu lingkungan teman pergaulan atau lingkungan di sekolahan. Memang yang utama adalah lingkungan keluarga karena merupakan milieu yang pertama dijumpai manusia sejak lahir. Dalam pembentukan mental dan psychologis anak peranan orang tua sangat penting bahkan Joseph S.Roucek mengatakan keluarga adalah buaian dari kepribadian. Keluarga juga sebagai pusat ketenangan hidup,
9

Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Ctk.Kedua PT.Refika Aditama, Bandung, 2007, hlm.46. 9 Gerson W. Bawengan, Pengantar Psychologi Kriminil, Ctk.Keempat, Pradnya Paramita, Jakarta, 1991, hlm.50-51.

keluarga sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan, dan keluarga sebagai pusat agama.
10

2.

Tindak Pidana Penganiayaan dan Pengeroyokan Perbuatan pidana penganiayaan terhadap orang lain juga dapat diancam

dengan pasal 351 KUHP yang berbunyi : (1). Penganiayaan diancam pidana paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. (2). Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun. (3). Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh 11 tahun. Unsur-Unsur dalam pasal 351 KUHP tentang tindak pidana penganiayaan: a. Barangsiapa. b. Dengan sengaja. c. Akibat yang ditimbulkan: ayat (1) mengakibatkan luka, ayat (2) mengakibatkan luka berat, ayat (3) mengakibatkan mati. Apabila penganiayaan itu direncanakan terlebih dahulu maka diancam dengan pasal 353 KUHP yang berbunyi : (1). Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (2). Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan penjara paling lama tujuh tajun. (3). Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara 12 paling lama sembilan tahun. Unsur- Unsur dalam pasal 353 KUHP tentang tindak pidana penganiayaan dengan direncanakan terlebih dahulu : a. Barangsiapa. b. Dengan sengaja. c. Dengan rencana terlebih dahulu. d. Akibat yang ditimbulkan:
Simanjuntak. B, Latarbelakangop.cit.,hlm.129. Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Ctk.Keduapuluh enam, Bumi Aksara, Jakarta,2007, hlm.125. 12 Ibid., hlm.126.
11 10

10

ayat (1) mengakibatkan luka, ayat (2) mengakibatkan luka berat, ayat (3) mengakibatkan mati. Dalam KUHP Pengeroyokan termasuk dalam kejahatan terhadap ketertiban umum diancam dengan pasal 170 KUHP yang berbunyi : (1) Barangsiapa terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan (2) Yang bersalah diancam : Ke-1. Dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, jika dengan sengaja menghancurkan barang atau kekerasan yang digunakan mengakibatkan luka-luka; Ke-2. Dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, jika kekerasan mengakibatkan luka berat; Ke-3 Dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika 13 kekerasan mengakibatkan maut. Unsur-unsur dalam pasal 170 KUHP tentang tindak pidana pengeroyokan yaitu: a. Barang siapa. b. Terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan. c. Terhadap orang atau barang. 3. Kewenangan Diskresi Kepolisian Secara garis besar upaya penanggulangan kejahatan dibagi dua macam, yaitu jalur penal (hukuman pidana) dan jalur non penal (di luar hukum pidana) contohnya menggunakan mediasi (perdamaian). Penanggulangan kejahatan melalui jalur penal menyangkut bekerjanya aparat penegak hukum didalam sistem peradilan pidana mulai dari kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga pemasyarakatan.
14

Undang Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab

Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasal 5 huruf a butir keempat


Ibid., hlm.65. Wahyu Priyanka. N, Perlindungan Hukum terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana Dalam Proses Pengadilan Anak di Indonesia, Tesis, Program Magister Ilmu Hukum, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2009, hlm.12.
14 13

11

dijelaskan penyidik dapat mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
15

Kata tindakan lain sesungguhnya polisi diberi

kebebasan dalam hal menangani suatu perkara. Peluang yang diberikan Undang-Undang kepada polisi tersebut memberi wewenang kepadanya untuk melakukan diskresi. kebijaksanaan,
16

Secara sederhana diskresi kita

artikan sebagai rencana Dengan

keleluasaan atau kemampuan

untuk memilih
17

kebijaksanaan atau mempertimbangkan bagi dirinya sendiri.

pengertian ini, maka diskresi merupakan kebebasan menerobos aturan, akan tetapi hal itu dilakukan dalam aturan bernalar dan atau keadilan.
18

Salah satu

diskresi yang dilakukan polisi untuk menyelesaikan kasus pidana yang pelakunya anak-anak dengan cara mediasi. Mediasi merupakan kebijakan penyelesaian perkara diluar proses pengadilan, hal ini untuk memberikan perlindungan dan rehabilitasi kepada anak dan memberi kesempatan kepada anak untuk berubah.

4.

Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Putusan akhir merupakan tahapan paling akhir dalam persidangan. Dalam

putusan akhir ini nantinya hakim akan menjatuhkan vonis terdakwa bersalah atau tidak bersalah. Ada beberapa alasan yang dijadikan pertimbangan hakim

Undang Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, hlm.10. 16 Nur Hidayani, Wewenang Diskresi Polisi dan Jaksa dalam Penegakan Hukum Pidana, Tesis, Program Magister Ilmu Hukum, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2002, hlm.115. 17 Warsito Hadi Utomo, Hukum Kepolisian di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Yogyakarta, 2002, hlm.115. 18 Andi Hamzah, Jaksa di Berbagai Negara Peranan Kedudukannya, Sinar Grafika, Jakarta, 1995, hlm.29.

15

12

sebelum menyusun putusannya. Pertama unsur-unsur dakwaan Penuntut Umum terpenuhi semua sehingga terdakwa dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sesuai dengan pasal yang didakwa oleh penuntut umum. Apabila ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi maka hakim tidak bisa menjatuhkan vonis untuk menghukum terdakwa. Kedua tidak ada alasan pembenar dan atau pemaaf sehingga terdakwa tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Alasan pemaaf adalah hal-hal yang menjadikan dapat dimaafkannya pelaku perbuatan pidana menurut hukum sehingga sanksi pidana yang seharusnya dijatuhkan kepadanya menjadi terhapus.
19

Misalnya

daya paksa/Overmacht pasal 48 KUHP, pembelaan terpaksa/ Noodweer pasal 49 ayat (1) KUHP, melaksanakan ketentuan Undang-Undang pasal 50 KUHP, dan melaksanakan perintah jabatan pasal 51 ayat (1) KUHP.
20

Alasan

pembenar adalah alasan-alasan yang menjadikan dapat dibenarkannya perbuatan pidana yang dilakukan oleh pelaku sehingga secara hukum sudah tidak merupakan perbuatan pidana lagi, Misalnya pembelaan yang melampaui batas Pasal 49 ayat (2) KUHP, alasan penghapus penuntutan pidana tentang perintah jabatan yang tanpa wenang pasal 51 ayat (2) KUHP. Sedangkan dayapaksa /Overmacht pasal 48 KUHP, para ahli pidana hingga sekarang belum ada kesatuan pendapat mengenai masalah ini, ada yang mengatakan daya-paksa ini
21

19 20

Abdul Kholiq, Buku Pedoman Kuliah: Hukum Pidana, Yogyakarta, 2005, hlm.144. Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana , Ctk.Ketujuh, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2002, Abdul Kholiq, Buku Pedoman Kuliah. op.cit.,hlm.145.

hlm.138.

21

13

sebagai alasan pembenar ada juga yang mengatakan bahwa daya paksa ini adalah alasan pemaaf.
22

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasal 183 dijelaskan hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
23

Alat bukti kasus pidana dalam

pasal 184 KUHAP dijelaskan tentang alat bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, bukti surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.
24

Secara

teori dan berdasarkan UU No.4 tahun 2004 jo. UU No.5 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, dikenal ada 3 jenis putusan majelis hakim sebagai berikut : 1. Putusan unianimoust adalah jika semua anggota majelis hakim setuju terhadap isi putusan, putusan ini juga sering disebut putusan bulat. 2. Putusan concuring opinion adalah jika semua anggota majelis hakim setuju terhadap isi putusan secara bulat, tetapi ada sebagian anggota majelis yang memiliki alasan yang berbeda. 3. Putusan dissenting opinion adalah jika terhadap isi putusan yang ditetapkan oleh majelis hakim, tetapi ada anggota majelis yang sebenarnya sama sekali berbeda pandangan dan putusan dengan 25 majelis hakim secara keseluruhan. Meskipun dimungkinkan ada anggota majelis hakim yang mempunyai pertimbangan dan putusan berbeda pada saat membuat putusan akhir tetapi putusan hakim tersebut harus mendasarkan pada asas keadilan pada pelaku dan korban tidak hanya mendasarkan kepastian hukum semata. Meskipun idee
Moeljatno, Asas-Asas. op.cit.,hlm.138. Undang Undang No. 8 Tahun 1981 op.cit., hlm.77. 24 Ibid., hlm.77. 25 Abdul Kholiq, Struktur Badan Peradilan Di Indonesia: Bahan Ajar Kuliah Pengantar Hukum Indonesia, Yogyakarta 2010, hlm.12-13.
23 22

14

des recht ( idealnya) putusan hakim harus memuat tiga unsur yaitu keadilan (gerechtigkeit), kepastian hukum (rechtssicherheit), dan kemanfaatan

(zmeckmmasisigkeit).

F.

Definisi Operasional Dalam KUHP pasal 351 penganiayaan merupakan kejahatan terhadap tubuh

orang lain. Sedangkan Pasal 353 penganiayaan yang diawali perencanaan terlebih dahulu, ayat (1) mengakibatkan luka, ayat (2) mengakibatkan luka berat dan ayat (3) mengakibatkan mati. Menurut Mr. M.H. Tirtaamidjaja, pengertian penganiayaan adalah sebagai berikut: Dengan sengaja menyebabkan sakit atau luka pada orang lain. Akan tetapi perbuatan yang menyebabkan sakit atau luka pada orang lain, tidak dapat dianggap penganiayaan kalau perbuatan itu dilakukan untuk menambah keselamatan badan.
26

Tindak pidana pengeroyokan pasal 170 KUHP termasuk kejahatan terhadap ketertiban umum, ayat (1) mengakibatkan luka, ayat (2) mengakibatkan luka berat dan ayat (3) mengakibatkan mati. Pengeroyokan dalam Kamus Bahasa Indonesia artinya serangan beramai-ramai atau orang banyak.
27

Sebenarnya

perbuatan pengeroyokan hampir sama dengan penganiayaan tetapi tidak berimbang kekuatannya. Dalam penganiayaan biasanya satu lawan satu, tetapi dalam pengeroyokan pelakunya lebih banyak dibandingkan korbannya sehingga kekuatannya tidak berimbang dan perbuatan itu dilakukan lebih brutal dibandingkan penganiayaan.
26 27

Mr M.H. Tirtaamidjaja, Pokok-pokok hukum pidana, Fasco, Jakarta 1955, hlm.174. Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002, Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta, hlm.556.

15

Pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah Pelajar yang menuntut ilmu di SMA yang kira kira berusia antara 15 sampai 18 tahun baik di sekolah negeri (sekolah milik pemerintah) dan swasta (sekolah yang bukan milik pemerintah biasanya dikelola oleh yayasan) di kota Yogyakarta.

G.

Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif dan penelitian hukum empiris. a. Penelitian hukum empiris adalah penelitian yang

mengkonsepsikan hukum sebagai perilaku dan atau hukum sebagai interaksi sosial. Metode ini digunakan untuk menganalisis rumusan masalah yang pertama. b. Penelitian hukum normatif adalah adalah penelitian hukum yang mengkonsepsikan dan dikembangkan atas dasar doktrin meliputi nilai-nilai, norma-norma hukum positif dan atau putusan

pengadilan. Metode ini digunakan untuk menganalisis rumusan masalah yang kedua dan ketiga.

2.

Objek Penelitian ini adalah: a. Faktor penyebab tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan oleh pelajar SMA di Yogyakarta.

16

b. Proses penyelesaian perkara melalui mediasi oleh kepolisian yang menangani kasus penganiayaan dan pengeroyokan oleh pelajar SMA di Yogyakarta. c. Pertimbangan hakim dalam pemidanaan terhadap kasus

penganiayaan dan pengeroyokan oleh pelajar SMA di Yogyakarta.

3. Subyek penelitian/responden: a. Pelaku tindak pidana penganiayaan dan atau pengeroyokan yang pelakuknya pelajar SMA di Yogyakarta. b. Polisi yang melakukan mediasi terhadap kasus perbuatan pidana penganiayaan dan atau pengeroyokan yang pelakuknya pelajar SMA Yogyakarta. c. Hakim di pengadilan yang menangani kasus perbuatan pidana penganiayaan dan atau pengeroyokan yang pelakuknya pelajar SMA Yogyakarta.

4.

Sumber Bahan Hukum : a. Bahan hukum primer : Bahan hukum yang diperoleh peneliti secara langsung dari subjek penelitian yang dapat berupa wawancara (field research). Wawancara pelaku penganiayaan dan atau pengeroyokan Wawancara dengan polisi yang melakukan mediasi terhadap kasus perbuatan pidana penganiayaan dan atau pengeroyokan.

17

Wawancara dengan hakim di pengadilan yang menangani kasus perbuatan pidana penganiayaan dan atau pengeroyokan.

b. Bahan hukum sekunder : Bahan hukum yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui kepustakaan (library research), seperti dari buku-buku, peraturan perundang-undangan, kamus bahasa indonesia, bahan hukum dari Markas Kepolisian Kota Besar (MAPOLTABES) Yogyakarta, bahan hukum dari Balai Pemasyarakatan (BAPAS), putusan pengadilan negeri, bahan dari internet, dan hasil penelitian.

5. Teknik Pengumpulan bahan hukum : a Wawancara. Merupakan proses tanya jawab dengan subyek penelitian,

dengan menyiapkan catatan-catatan pertanyaan mengenai pokokpokok permasalahan yang akan diteliti b Studi Kepustakaan dan Dokumenter. Peneliti mencari bahan hukum dari buku yang mengangkut permasalahan yang diteliti dan menganalisa beberapa putusan hakim mengenai tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan oleh pelajar SMA di Yogyakarta.

18

6.

Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini menggunakan tiga jenis pendekatan, yaitu: Yuridis Normatif yaitu dengan mengkaji dari sudut pandang

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UndangUndang No.8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana, UndangUndang No.3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak, UndangUndang No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Undang-Undang No.4 Tahun 2004 jo. Undang-Undang No.5 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman). Kriminologi yaitu pendekatan dari sudut pandang ilmu hukum terhadap asal

mula suatu kejahatan. Yuridis Sosiologis yaitu pendekatan dari sudut pandang menurut pendapat masyarakat.

7.

Analisis Bahan Hukum Analisis bahan hukum dilakukan secara deskriptif kualitatif,

artinya bahan hukum tersebut digambarkan secara sistematis dan wujud uraian-uraian kalimat yang diambil maknanya sebagai pernyataan atau kesimpulan.
28

Rony Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Juri Metri, Ghalia, Jakarta, 1998, hlm.82 dan 98.

28