Pencegahan Bullying di PAUD
Pencegahan Bullying di PAUD
II
III
Sambutan
Usia dini merupakan usia yang paling tepat untuk membentuk karakter
seseorang. Jika pada masa ini karakter setiap anak dapat terbentuk, maka
kelak di masa dewasa dia akan menjadi generasi yang berkarakter kuat. Hal
inilah yang menyebabkan pendidikan anak usia dini menjadi fondasi yang
paling kuat bagi tegaknya karakter bangsa di masa depan. Semakin baik
kualitas pendidikan usia dini, semakin kukuh bangunan fondasi kecerdasan
anak bangsa. Sebaliknnya, semakin lemah kualitas pendidikan pada jenjang ini,
maka semakin lemah pula kemungkinan karakter anak bangsa di masa depan.
Untuk mewujudkan PAUD berkualitas maka dibutuhkan kerjasama yang kuat
antara keluarga dalam hal ini orang tua, lingkungan sekolah dan lingkungan
masyarakat.
Lingkungan keluarga adalah elemen pertama yang sangat berperan penting
dalam pembentukan sikap atau karakter anak, karena lingkungan keluarga
adalah lingkungan yang paling berpengaruh dalam masa tumbuh kembangnya
anak. Oleh karena itu sebisa mungkin keluarga harus menjadi tauladan yang
baik untuk anak, karena anak yang masih usia dini sikap dan karakternya masih
berubah-ubah dan masih bisa diubah
IV
Lingkungan sekolah merupakan elemen kedua yang dapat mempengaruhi sikap
serta karakter anak, karena sekolah merupakan wahana untuk mengembangkan
seluruh potensi yang dimiliki anak usia dini.
Lingkungan masyarakat ikut mempengaruhi dalam pembentukan sikap dan
karakter anak usia dini. Karena jika anak berada pada lingkungan yang kurang
baik, maka anak akan sangat mudah terpengaruh dalam lingkungan kurang
baik tersebut.
Untuk itulah Ditjen PAUD Dikdasmen berupaya untuk mewujudkan Tri Sentra
Pendidikan, dengan harapan anak usia dini dapat terhindar dari pengaruh
negatif.
Direktur Jenderal,
V
Pengantar
Tantangan dunia pendidikan di era globalisasi saat ini demikian kompleks.
Arus globalisasi telah memberikan banyak perubahan dan dampak terhadap
masyarakat Indonesia. Dampak negatif dari arus globalisasi yang terlihat miris
adalah perubahan yang cenderung mengarah pada krisis moral dan akhlak.
Bila tidak segera disikapi sejak dini melalui pendidikan, maka bangsa Indonesia
yang terkenal dengan adat dan budaya luhur sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
akan semakin luntur.
Usia dini adalah usia kritis bagi pembentukan karakter seorang anak.
Penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak-
anak adalah kunci utama untuk menyiapkan generasi yang bermoral. Usia dini
adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak. Pada
usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk melalui hasil belajar dan suri
tauladan pembiasaan dan perilaku orangtua, guru dan tenaga kependidikan,
serta lingkungan masyarakat sekitar anak.
Buku seri pengembangan karakter pada anak usia dini yang terdiri dari:
Pencegahan Radikalisme pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pencegahan
Perundungan (bullying) pada Pendidikan Anak Usia Dini dan Lindungi Anak Usia
Dini dari Bahaya Narkoba dimaksudkan untuk memberikan bekal pengetahuan
kepada orang tua dan guru PAUD tentang bahaya paham radikalisme,
VI
dampak negatif perundungan (bullying) pada anak, serta dampak negatif
apabila anak terpapar narkoba. Buku ini juga memberikan tips tentang upaya-
upaya yang harus dilakukan oleh orang tua dan guru agar anak PAUD terhindar
dari paham radikalisme, bullying di lingkungan sekolah dan pencegahan agar
anak terhindar dari bahaya narkoba.
Kami berharap, buku ini memberikan kemanfaatan bagi guru dan tenaga
kependidikan, orangtua, maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam
membimbing, mendidik, dan mengasuh anak sehingga karakter anak tumbuh
dan berkembang sesuai nilai-nilai luhur Pancasila.
Direktur PAUD,
VII
Daftar Isi
Pengertian Perundungan 1
Jenis-Jenis Perundungan 2
VIII
Dampak Pada Korban Perundungan 14
1
Jenis-Jenis Perundungan
2
2. Perundungan Verbal
Perundungan verbal adalah perilaku seorang anak atau kelompok anak melalui
kata-kata yang memiliki arti negatif seperti mengejek, mengancam, menertawakan,
mengolok-olok, membentak, mempermalukan, membandingkan dan lain sebagainya.
Contoh: gendut, 'item', pendek, kurus, atau 'kriwil / kriting'.
3
3. Perundungan Sosial
Perundungan sosial adalah perilaku seorang anak atau kelompok anak melalui perilaku
yang membatasi atau mengasingkan temannya dari pergaulan, seperti mengucilkan,
mendiamkan.
Contoh: "tidak mengajak main karena berbeda", "mengucilkan karena tidak memiliki
mainan yang sama".
Biasanya perundungan
sosial dimulai dengan
perundungan verbal
seperti "Jangan main
sama dia karena
sepatunya jelek",
"Kamu jangan ikut kita,
karena larimu lambat".
4
4. Perundungan di Dunia Maya
Perundungan yang dilakukan di media sosial atau maya (dalam jaringan) melalui
berbagai macam hal, seperti menuliskan kalimat negatif, memperolok, mengancam,
menghina, umpatan, kata-kata kotor dan lain sebagainya. Pada umumnya perundungan
di dunia maya ini ditemukan pada anak usia Sekolah Dasar ke atas.
5
Tempat Kejadian, Pelaku Dan Korban Perundungan
1. Satuan PAUD
Perundungan dapat terjadi di satuan
PAUD. Pelaku dan korban perundungan
merupakan warga sekolah (guru, tenaga
kependidikan dan anak). Perundungan
dapat terjadi dari guru ke anak, dari tenaga
kependidikan ke anak, atau dari anak ke
anak.
Contoh:
6
2. Rumah
Perundungan dapat terjadi di rumah yang dilakukan oleh keluarga. Pelaku dan korban
perundungan adalah anggota keluarga seperti ayah, ibu, kakak, paman, bibi, nenek,
kakek, atau asisten rumah tangga (ART).
Contoh:
Ayah ke Anak : "Kamu malas,
tidak seperti kakak mu"
Kakak ke Adik : "Kamu
wajahnya beda, kamu bukan anak
ibu" sambil mendorong adiknya.
Ibu ke Anak : "Kamu cengeng,
selalu tidak bisa mengatasi
masalah".
7
3. Fasilitas Publik
Perundungan dapat terjadi di tempat ibadah,
di tempat perbelanjaan, di taman kota, balai
desa dan lain sebagainya.
Contoh:
Orang tua yang sering memarahi
anak secara berlebihan di tempat
umum (seperti membentak,
menjewer, memukul dan lain lain)
dan mengatakan "Di toko jangan
kejar-kejaran".
8
4. Dalam Jaringan (Daring)
Perundungan dalam
jaringan (daring)
dilakukan oleh
seorang anak atau
kelompok anak yang
menyerang anak lain
melalui daring seperti
facebook, instagram,
whatsapp, youtube
dan beragam media
sosial lainnya.
Contoh:
Di facebook/Instagram dipasang foto
seorang anak dan menjadi bahan
tertawaan. Di youtube diunggah video
yang menunjukkan ketidakmampuan
atau kekurangan anak sehingga
menjadi bahan tertawaan.
9
Faktor Penyebab Perundungan
1. Pengasuhan yang Buruk
Seorang anak yang dibesarkan dengan pengasuhan
di keluarga yang menggunakan hukuman dan
kekerasan akan menghasilkan anak yang rendah
diri, tidak percaya diri serta merasa tidak
berdaya. Namun demikian dari orang tua dengan
karakteristik yang sama dapat pula menghasilkan
anak yang menekan teman-temannya karena anak
tersebut mencontoh perilaku orang tuanya.
Terkadang anak membutuhkan perhatian,
namun mereka tidak tahu bagaimana cara
mengekspresikannya. Mereka melakukan
dengan cara berlebihan agar diperhatikan oleh
orangtuanya.
10
Contoh:
Ketika anak melakukan
kesalahan, kemudian orang
tuanya menghukum dengan
mencubit, membentak, dan
mengurung, anak tersebut akan
merasa rendah diri dan merasa
selalu bersalah. Orang tua yang
sering menggunakan hukuman
fisik, perilakunya ditiru oleh
anak di sekolah. Anak tersebut
akan memukul temannya ketika
mengganggap temannya tidak
menyenangkan atau melakukan
sesuatu yang tidak sesuai
dengan yang diinginkan.
11
2. Faktor Kepribadian
Anak-anak yang dilahirkan dengan kepribadian diri yang kuat, memiliki rasa percaya diri dan
tidak mudah dipengaruhi orang lain, biasanya tidak mudah menjadi korban perundungan,
karena dapat menyatakan apa yang menjadi pendapatnya. Dilain pihak terdapat anak-anak
yang kurang percaya diri serta tidak berani mengemukakan pendapat, biasanya mereka
adalah anak yang sering menjadi sasaran perundungan.
12
13
Dampak Terhadap Korban Perundungan
Dampak yang dialami oleh anak sebagai korban perundungan sebagai berikut
1. Terganggunya Kesehatan Fisik
Segala jenis perundungan akan membawa
dampak pada korban. Korban akan mengalami
gangguan kesehatan fisik, diantaranya:
14
2. Terganggunya Kesehatan Mental
Segala jenis perundungan akan berdampak pada korban. Korban akan
mengalami gangguan kesehatan mental, diantaranya:
Cemas Bingung
Takut
Depresi
Murung
15
3. Terganggunya Perkembangan Anak
Perundungan dapat menghambat
capaian perkembangan anak, seperti
anak mengalami keterlambatan
berbicara karena perasaan tertekan
atau takut,tidak berani mengungkapkan
ide gagasan, dll.
16
Dampak Bagi Pelaku
Perundungan
Perundungan tidak hanya berdampak
bagi korban, tetapi juga bagi pelaku
perundungan, yaitu:
1. Terganggunya perkembangan anak
Sama halnya dengan korban, pelaku
perundungan mengalami gangguan
/ hambatan dalam berbagai aspek
perkembangan seperti aspek
kognitif, motorik, sosial emosional,
bahasa, misalnya tidak mampu
mengendalikan diri, sering berkata
kasar, berteriak atau membanting
benda benda di sekitarnya.
17
2. Kepribadian yang buruk
Anak yang sering melakukan
perundungan dalam jangka
waktu yang lama akan
terpengaruh kepribadiannya.
Sikap dan tindakan yang
dilakukan berulang-ulang
akan menjadi kebiasaan dan
membentuk perilaku anak.
Perundungan melahirkan
kepribadian yang buruk, anak
bersikap arogan, agresif,
pemarah, suka melanggar
aturan, memancing keributan,
dan lain sebagainya.
18
3. Tidak disukai orang orang di sekitarnya
Kehadiran pelaku perundungan di tengah masyarakat cenderung tidak diterima dengan
baik. Masyarakat dan teman sebayanya biasanya menghindari pelaku dan menolak
kehadiran pelaku sebagai sanksi sosial. Pelaku perundungan akan semakin negatif
perilakunya dan sering membuat masalah di lingkungan.
19
4. Kesejahteraan di masa depan
Dampak dari perilaku pelaku
perundungan dalam waktu yang
lama membentuk kepribadian.
Pelaku di masa sekolah menjadi
kurang berprestasi dalam
bidang akademik, ketika remaja
menjadi anak yang nakal, dan
ketika dewasa memiliki perilaku
menyimpang yang dapat
berdampak pada kondisi sosial
ekonominya, dan bahkan menjadi
kriminal.
20
Pencegahan Perundungan di Satuan PAUD
Upaya pencegahan perundungan pada tingkat satuan PAUD dapat dilakukan
melalui cara berikut ini:
1. Merancang Program Anti Perundungan (Anti Bullying )
Cara yang efektif untuk mewujudkan komitmen pencegahan perundungan sejak dini
adalah dengan menghadirkan program pencegahan perundungan di tingkat PAUD.
Program ini merupakan upaya proaktif dalam rangka tindakan pencegahan, dapat
berupa:
a . Program kerja di satuan PAUD
Kunci keberhasilan program pencegahan perundungan ada pada kepemimpinan dan
komitmen kepala sekolah. Kepala sekolah mengintegrasikan program pencegahan
perundungan dalam berbagai dokumen kebijakan di satuan PAUD, seperti
mengintegrasikan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), program
pelibatan keluarga, penyediaan sarana dan prasarana. Secara spesifik program
pencegahan perundungan dapat dilakukan dengan:
1. Menyamakan pemahaman tentang perundungan antara kepala sekolah,
guru, tenaga kependidikan dan orang tua.
2. Menyediakan Buku Panduan pencegahan perundungan.
3. Menyusun Standar Operasional Prosedural (SOP) pencegahan
perundungan
4. Menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bermuatan
pencegahan perundungan.
21
5. Menyusun perencanaan
pembelajaran.
22
b. Kegiatan di Kelas
Kegiatan pembelajaran di kelas hendaknya dapat mencegah perundungan. Guru
perlu menyusun kegiatan pembelajaran dalam mencegah perundungan, seperti:
23
Petunjuk Praktis:
Untuk pelaku yang
Guru mengapresiasi semua membahayakan
Guru terbiasa menanyakan
Guru membantu anak hasil karya anak dengan teman-temannya maka
apa yang dirasakan oleh
mengenali perasaannya. memajang hasil karya anak guru perlu mengambil
anak setiap hari. (contoh:
(contoh: ketika anak sesuai keunikan masing- tindakan seperti
“Bagaimana perasaanmu
sedang merasa kesal masing. menempatkan pelaku
hari ini?”)
menunggu antrian dan duduk dekat dengan
dia tetap mau menunggu. posisi guru. Mengawasi
Guru mengatakan “Oo pelaku pada saat
kamu sabar”, ketika guru berkegiatan di luar
mengatakan “Besuk kita kelas
akan rekreasi” dan anak Setelah terjadi
Setelah terjadi anak berteriak “Horeee”, perundungan guru
perundungan guru guru mengatakan “O kamu mengajak korban
mengajak bercakap- sedang bergembira”) bercakap-cakap Guru segera bereaksi
cakap dan mendengarkan untuk menanyakan ketika melihat
pelaku untuk dan mendengarkan kejanggalan pada perilaku
mengetahui alasan perasaannya dan dan kondisi anak (pakaian
mengapa melakukan memotivasi anak untuk kotor/robek, permintaan
perundungan. Melalui percaya diri kembali dari teman membawa
percakapan tersebut serta mampu menghadapi sesuatu seperti uang,
Guru menumbuhkan
guru dapat membantu keadaan serupa di masa barang, makanan dengan
sikap anak untuk
mengembangkan empati akan datang. jumlah tertentu yang
berani melaporkan
anak. tidak wajar).
tindakan perundungan.
24
25
c. Intervensi Individu
Pada kasus perundungan yang parah,
anak dapat mengalami perubahan
perilaku seperti anak menolak pergi ke
sekolah, anak menjadi lebih cengeng,
anak tidak bisa tidur dan sering mimpi
buruk. Sebaiknya pada kasus-kasus
yang sudah berdampak buruk, guru
meminta bantuan profesional seperti
psikolog anak. Intervensi selanjutnya
yang dapat dilakukan satuan
PAUD melalui guru yaitu dengan
mengidentifikasi anak secara individu
baik yang memiliki potensi melakukan
perundungan maupun berpotensi
menjadi korban perundungan.
26
2. Bekerjasama dengan Masyarakat Luas
Langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan pencegahan perundungan pada satuan PAUD
adalah dengan melibatkan masyarakat luas atau organisasi pendidikan, sosial, dan masyarakat
yang memiliki fokus dan profesionalisme dalam pencegahan perundungan. Kerjasama dapat
dilakukan dalam berbagai bentuk, diantaranya:
1 Masyarakat atau
organisasi pendidikan,
sosial, dan masyarakat
dapat berperan dalam
melakukan pelatihan yang
efektif membina guru
2 Menjadi guru tamu
secara berkala dalam
upaya penguatan
karakter dan perilaku
anak
3
Masyarakat atau organisasi
pendidikan, sosial, dan
masyarakat berperan dalam
melakukan pendampingan
pada anak-anak yang
terlalu aktif yang
5
dan tenaga kependidikan berpotensi melakukan
dalam upaya pencegahan perundungan.
perundungan.
4 6
Kerjasama melibatkan
perguruan tinggi
27
Pencegahan Perundungan di Keluarga
Pihak yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan anak adalah orang tua/keluarga.
Pengasuhan yang diterapkan orang tua akan menentukan perkembangan anak dikemudian hari, maka
orang tua perlu memperhatikan perilakunya. Orang tua harus menjadi tauladan yang baik. Segala bentuk
perilaku orang tua akan ditiru oleh anak. Maka, pengasuhan yang baik tentu akan mengoptimalkan
perkembangan anak.
Pencegahan perundungan melalui peran keluarga dapat dilakukan melalui hal berikut ini:
1
Pengasuhan yang positif
Pengasuhan positif menjadi kunci terbentuknya anak menjadi pribadi yang positif dan memiliki rasa percaya
diri anak, sehingga anak tidak menjadi pelaku dan tangguh dalam menghadapi aksi perundungan. Peran
yang dapat dilakukan dalam pengasuhan positif antara lain:
28
29
2
Orang tua menjadi teladan dalam berperilaku
Orang tua adalah cermin bagi anak. Apa yang dilakukan orang tua
selama di rumah dapat menjadi perhatian anak dan dapat membentuk
sikap anak. Oleh karena itu, praktek baik di keluarga dapat membentuk
perilaku baik pada anak.Melalui teladan orang tua, anak dapat
mengembangkan empatinya, misalnya ketika orang tua membantu
tetangga yang sedang kesusahan atau memerlukan bantuan.
3
Membangun komunikasi efektif dengan anak
Komunikasi yang efektif yaitu perilaku yang menunjukkan
perhatian dan saling menghargai antar anggota keluarga.
Komunikasi yang baik dengan anak akan membuat anak
merasa didengarkan, dimengerti sehingga menumbuhkan rasa
percaya diri, aman dan nyaman.
4
Orang tua harus peka dengan perubahan perilaku
anak yang mengalami perundungan di sekolah
Orang tua perlu peka terhadap anak yang mengalami
perundungan, tampak dari perubahan perilaku murung, luka
dan memar, perubahan mood, berkurangnya kepercayaan
diri dan harga diri, sulit tidur, sering mimpi buruk dan lain
sebagainya.
30
Pencegahan Perundungan di Masyarakat
Masyarakat memiliki peran dalam melakukan pencegahan perilaku perundungan di
lingkungannya, diantaranya adalah:
1. Membentuk Gerakan Masyarakat Anti Perundungan
Gerakan masyarakat anti perundungan adalah upaya proaktif dalam mencegah
perundungan di lingkungan sekitarnya. Program yang dapat dilakukan oleh gerakan ini
antara lain kampanye anti perundungan, sosialisasi bahaya perundungan, festival anti
perundungan dan lain sebagainya. Kampanye dan sosialisasi dapat berbentuk poster,
pamflet, buku dan media sosial.
31
Referensi
Ihsana Sabriani Borualogo, Hadi Wahyudi dan Sulisworo Kusdiyati (2020). Prediktor Perundungan
Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Vol. 08, No. 01, Januari. Hlm 26-42.
Miirohana Mayasari, Syamsul Hadi dan Dedi Kuswandi (2019). Tindak Perundungan di Sekolah Dasar
dan Upaya Penyelesaiannya. Jurnal Pendidikan : Teori, Penelitian dan Pengembangan. Volume. 4,
Nomor. 3. Hlm 399-406
Dwi Karlina (2018). Laporan Kasus : Pengaruh Perundungan Terhadap Kesehatan Jiwa. Majalah
Kedokteran UKI . Vol XXXIV No. 1 Januari - Maret. Hlm 44-50
Deti Elmahera (2018). Analisis Bullying Pada Anak Usia Dini. Prosiding Seminar dan Diskusi Nasional
Pendidikan Dasar. ISSN :2528-5564
Dan Olweus. 1993. Bullying at school : What We Know and What We Can Do. Oxford UK : Blackwell
Plubising.
Ian Revers, Neil Duncan, Velerei E. Besags. 2009. Bullying : A Handbook for Educators and Parents.
USA : Rowman and Littelfield Education
Peter K. Smith, Debla Pepler and Ken Rigby. 2004. Bullying in School : How Successful Can
Interventions Be?. UK : Cambridge University Press
Andri Priyatna. Lets End Bullying : 2010. Memahami, Mencegah dan Mengatasi Bullying. Jakarta : Elex
Media Komputindo.
Ponny Retno Astuti. 2008. Meredam Bullying : 3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan Pada Anak. Jakarta
: Grasindo
32
Narahubung
Direktorat PAUD
Komplek Kemendikbud
Jalan Jenderal Sudirman, Gedung E lt. 7
Senayan Jakarta 10270
Surel: paud@kemdikbud.go.id
Telp: (021) 572-5495
33