2.
Pengendalian di bidang pendidikan dan kebudayaan
Pemerintah Jepang mulai membatasi kegiatan pendidikan. Jumlah sekolah juga dikurangi secara
drastis. Jumlah murid Sekolah Dasar menurun 30% dan jumlah siswa sekolah lanjutan merosot
sampai 90%. Begitu juga tenaga pengajarnya Mengalami penurunan secara signifikan. Mata
pelajaran bahasa Indonesia dijadikan mata pelajaran utama sekaligus sebagai bahasa pengantar.
Kemudian, bahasa Jepang menjadi mata pelajaran wajib disekolah.
Para pelajar harus menghormati budaya dan adat istiadat Jepang. Mereka juga harus melakukan
kegiatan kerja bakti (kinrohosyi). Kegiatan kerja bakti itu meliputi pengumpulan bahan-bahan untuk
perang, penanaman bahan makanan, penanaman pohon jarak, perbaikan jalan dan pembersihan
asrama. Para pelajar juga harus mengikuti kegiatan latihan jasmani dan kemiliteran mereka harus
benar-benar menjalankan semangat Jepang(nippon seishin). Para pelajar juga harus menyanyikan
lagu kimigayo menghormati bendera hinomaru dan melakukan gerak badan (taiso) serta seikerei.
Oleh karena itu, Pemuda Indonesia mengadakan program pemberantasan buta huruf yang
dipelopori oleh Putera. Berdasarkan kenyataan tersebut dapat dikatakan bahwa kondisi pendidikan
di Indonesia pada masa pendudukan Jepang mengalami kemunduran. Kemunduran pendidikan itu
juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah Jepang yang lebih berorientasi pada kemiliteran untuk
kepentingan pertahanan Indonesia dibandingkan pendidikan. Bagi Jepang pelaksanaan pendidikan
bagi rakyat Indonesia bukan untuk membuat pandai tetapi dalam rangka untuk pembentukan kader-
kader yang mempelopori program kemakmuran bersama Asia Timur Raya.