Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penyakit periodontal yang sering terjadi adalah peradangan pada periodonsium yang
dalam bahasa kedokterannya disebut periodontitis. Periodontitis merupakan penyakit
multifaktor yang diawali oleh plak pada mulut.Penyakit tersebut awalnya dari dental plak
yang merupakan campuran lengket terdiri dari partikel makanan, lendir dan bakteri.
Manifestasi dan perkembangan dari periodontitis ini sendiri dipengaruhi oleh
beragam faktor, termasuk didalamnya karakteristik individu,gaya hidup dan social,faktor
sistemik, faktor genetik, faktor kondisi gigi yang ada, komposisi dental plak serta masih
banyak faktor yang berpengaruh lainnya. Kesemua faktor ini nantinya akan mempengaruhi
rencana perawatan dari si pasien sendiri. Penyakit ini sendiri memliki beberapa klasifikasi
yang seiring waktu terus berubah sesuai perkembangan ilmu. Namun penulis disini memilih
kesepakatan terakhir yang diakui sebagai klasifikasi periodontitis yaitu dari Interasional
Workshop for a Classification of Periodontal Disease and Condition tahun 1999 yaitu antara
lain Chronic Periodontitis, Aggressive Periodontitis, Periodontitis as a Manifestation of
systemic disease, Necrotizing Periodontal Disease, Absesses of the periodontium,
Periodontitis Associated with Endodontic Lesions dan Developmental or Acquired
Deformation and Condition.
Namun disini kami masih hanya akan memfokuskan pembahasan pada penanganan
pada kasus Chronic Periodontitis atau periodontitis kronis saja. Berhubung kesulitan yang
dialami dalam mendiagnosis jenis penyakit serta gambaran klinis yang sering kompleks dan
tumpah tindih, maka dalam pencapaian diagnosis ini kita membutuhkan pemeriksaan
penunjang disamping pemeriksaan subjektif dan objektif yaitu berupa pemeriksaan
radiografi, guna melihat apakah ada kerusakan tulang yang dapat membedakannya dengan
penyakit lainnya yaitu gingivitis.

1
1.2 BATASAN MASALAH
Masalah yang akan dibahas pada makalah ini terbatas pada:
A. FAAL
1. Periodontitis Kronis
a. Histopatologi
b. Patogenensis
c. Imunopatogenesis
d. Proses Penyembuhan

B. PERIODONTOLOGI
1. Penyakit Periodontal
a. Etiologi
b. Klasifikasi dan Gambaran Klinis
2. Pemeriksaan Klinis
3. Diagnosis, DD, dan Prognosis

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 FAAL
2.1.1 Periodontitis Kronis
a. Histopatologi
Perbedaan histology yang paling penting diantara gingivitis dan periodontitis
adalah resorpsi tulang, proliferasi apikal dan ulserasi epitel penghubung (poket) serta
kelanjutan kehilangan perlekatan jaringan ikat. Pada poket ditemukan bakteri gram (+),
gram (-), dan adheheren. 1
Perjalanan inflamasi dari gingiva ke struktur ke periodontal pendukung (atau
peralihan gingivitis menjadi periodontitis) diduga sebagai dimodifikasi oleh potensi
patogenesis plak, atau oleh daya tahan pejamu. Daya tahan pejamu yang dimaksud
mencakup aktivitas imunologis, dan mekanisme yang berkaitan dengan jaringan lainnnya
seperti derajat fibrosis gingiva, kemungknan juga lebar gingival cekat dan reaksi
fibrogenesis dan osteogenesis yang berlangsung disekitar lesi inflamasi. Suatu sistem fibrin-
fibrinolitik disebut-sebut sebagai berperan menghambat perluasan lesi. 2

b. Patogenensis

Mikroba yang terdapat pada plak subgingiva menghasilkan suatu kenaikan respon
imun-inflami host dalam jaringan periodontal yang dikarakteristikkan oleh produksi
berlebih sitokin inflamatori (interleukin, faktor nekrosis tumor), prostaglandin (PGE 2) dan
enzim-enzim meliputi matix metaloproteinases (MMPs). Mediator-mediator inflamasi ini
bertanggung jawab untk besarnya kerusakan jaringan periodonsium, terutama pada tanda-
tanda klinis dan gejala dari periodontitis. Proses ini dimodifikasi oleh oleh lingkungan
(merokok) dan faktor resiko yang didapat (penyakit sistemik) serta kerentanan genetik,
PMNs, dan LPS.3

c. Proses Penyembuhan

3
Proses penyembuhan secara umum adalah berupa penyingkiran debris, jaringan yang
mengalami degeneralisasi serta pergantian jaringan yang telah rusak.
Terdapat empat aspek penyembuhan periodontal:
1. Regenerasi
Regenerasi merupakan proses biologik dimana bentuk dan fungsi jaringan yang
hilang digantikan sama persis dengan sempurna. Misalnya pembentukan kembali
sementum, ligamen periodontal, dan tulang alveolar yang hilang.

2. Repair
Repair merupakan penyembuhan dengan pembentukan jaringan yang sebenarnya
tidak mengembalikan arsitektur dan fungsi aslinya. Misalnya pembentukan epitel
penghubung yang panjang (long junctionnal epithelium) setelah skelling dan root planning.

3. New atthachment
Perlekatan baru diartikan sebagai tertanamnya serabut ligamen periodontal yang
baru ke sementum yang baru dan perlekatan epitel gingiva ke permukaan gingiva gigi yang
tadinya tersingkap karena penyakit.4,5

4. Reattachment
Reattachment merupakan pertemuan kembali antara jaringa ikat dan akar yang
sbelumnya terpisahkan karena suatu insisi atau injuri, namun bukan karena penyakit.
Misalnya pembukaan sementara jaringan ikat gingival untuk akses ke karies akar.5

4
2.2 PERIODONTOLOGI
2.2.1 Penyakit Periodontal
a. Etiologi
Berdasarkan keberadaannya faktor etiologi dibedakan atas :
1. Faktor etiologi lokal/faktor ekstrinsik.
a. Faktor anatomi
 Morfologi akar gigi (bentuk dan ukuran)
 Letak gigi di lengkung rahang
 Jarak antara akar gigi

b. Faktor iatrogenik : kesalahan pada restorasi dan protesa, yang bisa berperan dalam
menyebabkan perusakan jaringan periodontal.
 Tepi restorasi : tepi tumpatan yang mengemper (overhanging) turut berperan
dalam terjadinya perusakan periodontal karena, (1) merupakan lokasi yang ideal
bagi penumpukan plak; (2) mengubah keseimbangan ekologis sulkus gingiva kea
rah yang menguntungkan bagi organisme anaerob gram-negatif yang menjadi
penyebab penyakit periodontal.
 Kontur restorasi : mahkota tiruan dan restorasi dengan kontur berlebih
(overcontoured) cenderung mempermudah penumpukan plak dan kemungkinan
juga mencegah mekanisme self-cleansing oleh pipi, bibir, dan lidah.
 Oklusi : restorasi yang tidak sesuai dengan pola oklusal akan menyebabkan
disharmoni yang bisa mencederai jaringan periodontal pendukung.
 Bahan restorasi : pada umumnya bahan restorasi tidaklah mencederai jaringan
periodontal, kecuali bahan akrilik self-curing. Yang terpenting adalah bahan
restorasi harus dipoles dengan baik agar tidak mudah ditumpuki plak.
 Disain gigi tiruan sebagian lepasan : gigi tiruan sebagian lepasan mempermudah
penumpukan plak, terutama apabila disainnya menutup gingiva.
 Prosedur kedokteran gigi : penggunaan klem rubber dam, cincin untuk matriks,
dan disc yang tidak baik bisa mencederai gingiva dengan akibat terjadinya
inflamasi. Separasi gigi yang terlalu memaksa dapat menimbulkan cedera pada
jaringan periodontal pendukung.

5
c. Kalkulus dental
Merupakan massa terkalsifikasi atau berkalsifikasi yang melekat ke permukaan
gigi asli maupun tiruan. Biasanya kalkulus terdiri dari plak bakteri yang telah
mengalami mineralisasi.

d. Perawatan ortodonti
 Retensi plak
 Iritasi dari cincin ortodonsi
 Tekanan dari piranti ortodonsi

e. Impaksi makanan
Adalah terdesaknya makanan secara paksa ke periodonsium oleh tekanan oklusal.
Impaksi makanan bisa terjadi pada permukaan interproksimal atau pada permukaan
vestibular/oral. Kegagalan dalam mendeteksi dan menyingkirkan impaksi makanan
bisa menjadi sumber gagalnya perawatan periodontal.

f. Tidak digantinya gigi yang hilang


Pencabutan gigi yang tidak disertai penggantian dengan gigi tiruan dapat
menimbulkan serangkaian perubahan yang menimbulkan dampak bagi periodonsium.
Apabila gigi molar pertama mandibula dicabut, perubahan awal yang terjadi adalah
drifting (bergesernya) dan tilting (miring) gigi molar kedua dan ketiga mandibula, dan
ekstrusi molar pertama maksila. Tonjol distal molar kedua mandibula akan meninggi
dan bertindak sebagai tonjol pendorong yang akan mendesak makanan ke
ruanginterproksimal diantara molar pertama maksila yang diektrusi dengan molar
kedua maksila.

2.2.2 Pemeriksaan Klinis


1. Pemeriksaan kesehatan

6
Pemeriksaan kesehatan meliputi riwayat medis dan kesehatan gigi
a. Riwayat Medis
Alasan pentingnya riwayat medis adalah:
 Untuk menemukan manifestasi oral dari kondisi sistemik tertentu seperti
leukimia, DM, gangguan hormonal, dan lain-lain.
 Untuk memastikan adanya kondisi sistemik seperti kehamilan, DM, kelainan
darah, defisiensi nutrisi yang dapat merubah respon hospes terhadap bakteri.
 Untuk menentukan ada atau tidaknya kondisi sistemik tertentu yang
membutuhkan modifikasi.
b. Riwayat kesehatan gigi
 Pemeriksaan Gigi menyeluruh
- Pemeriksaan jaringan lunak; pemeriksaan ini adalah penulusuran adanya
kanker rongga mulut atau tidak.
- Posisi gigi; meliputi kesesuaian lengkung rahang, maloklusi morfologi, dan
migrasi gigi.
- Karies; meliputi pemeriksaan lokasi, jenis, dan luas karies.
- Perawatan Restoratif
- Kebiasaan; misalnya kebiasaan merokok ,menjulurkan lidah, dan lainnya.
- Kondisi pulpa gigi, khususnya yang mengalami kehilangan tulang yang hebat
- Kegoyangan gigi (tes mobilitas)

 Pemeriksaan jaringan periodontal


- Warna, bentuk dan konsistensi gingiva
- Perdarahan dan eksudasi purulen
- Kedalaman poket (kedalaman probing)
Cara pemeriksaan kedalaman poket :
a. Selipkan prob ke dalam poket sedapat mungkin sejajar dengan poros
panjang gigi dengan tetap menjaga permukaan gigi sampai dirasakan
adanya tahanan

7
b. Prob dijalankan mengelilingi gigi. Probing dilakukan mulai dari
interproksiamal gigi permukaan vestibular, dijalankan ke arah mesial
sepanjang permukaan vestibular sampai ke interproksimal mesial,
kemudian dilakukan dengan cara yang sama di permukaan oral.
- Jarak antara tepi gingiva ke pertautan semento-enamel
- Hubungan antara pertautan semento-enamel dan dasar poket
- Lebar keseluruhan gingiva berkeratin, hubungan antara kedalama probing dan
pertemuan muko-gingiva dan pengaruh letak frenulum serta perlekatan otot
terhadap tepi gingiva
- Perluasan patologis dari daerah furkasi

 Pemeriksaan Radiografi
Hal-hal yang dapat ditemukan dari gambaran radiografi :
- Morfologi dan panjang akar
- Perbandingan mahkota
- Perkiraan banyaknya kerusakan tulang
- Hubungan antara sinus maksilaris dengan kelainan bentuk jaringan periodontal
- Resorpsi tulang horizontal dan vertikan pada puncak tulang interproksimal
- Pelebaran ruang ligamen periodonsium di daerah mesial dan distal akar
- Keterlibatan furkasi tingkat lanjut
- Kelainan periapek
- Kalkulus
- Restorasi yang overhanging
- Fraktur akat
- Karies
- Resorpsi akar

8
BAB 3
PEMBAHASAN

Sesuai keterangan yang diperoleh dari pemicu, rumusan pemerikasaan klinis pada kasus
ini adalah sebagai berikut:
1. Anamnesis
- Gigi belakang kiri bawah goyang dan tidak nyaman bila dipakai mengunyah, terasa
enak bila ditusuk-tusuk dengan tusuk gigi.

2. Pemeriksaan Subjektif
a. Riwayat Medis: -
b. Riwayat Dental: restorasi amalgam site 2 pada gigi 36

3. Pemeriksaan Objektif
a. Extra oral: baik.
b. Intra oral:
 Periodontal
- Plak dan kalkulus (+)
- Poket rata-rat 3-5mm
- Gigi 36: pd 7mm, mob.02
 Dental
- Gigi 36: restorasi amalgam site 2 overhanging
- Gigi 26: plunger cusp

4. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiografik
- Kerusakan tulang sampai ⅓ servikal gigi
- Penebalan ligamen periodontal
- Pada mesial gigi 36: kerusakan tulang sampai ⅓ tengah gigi.

9
2.2.3 Diagnosis, DD, dan Prognosis
Sesuai pemicu3 ini,
Diagnosis:
Periodontitis kronis generalisata yang disebabkan oleh plak dan kalkulus, diperberat oleh:
 Pada gigi 36, food impaksi karena restorasi over hanging dan plunger cusp pada gigi
26.
DD:
Periodontitis Aggressive
Prognosis:
Buruk, jika pasien tidak perduli dengan OH nya. Ada peningkatan mobilitas dan pasien
tidak kooperatif.

1.2.4 Rencana Perawatan

Terapi Inisial
DHE dan fisioterapi oral
Skeling dan Root Planing
Gigi 36: koreksi restorasi site 2
Gigi 26: occlusal adjustment

Evaluasi

IV. Terapi Pemeliharaan


Kelas B: 3-4 bulan

II. Terapi Bedah III. Terapi Rekontruksi


Gigi 36: bedah flap --
RA/RB: kuretase, jika tidak terjadi pendangkalan poket

10
BAB 4
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
4.2
Setelah dilakukuan pemerikasaan klinis yang mencakup anamnesis, pemeriksaan
subjektif, pemeriksaan objektif (extra oral dan intra oral), dan pemeriksaan radiograf sebagai
penunjuangnya, dapat ditegakkan diagnosisnya, yaitu periodontitis kronis generalisata yang
disebabkan oleh plak dan kalkulus, diperberat oleh pada gigi 36: food impaksi karena restorasi
over hanging dan plunger cusp pada gigi 26. Diagnosis bandingnya adalah periodontitis
aggressive, namun disangkal karena ternyata pasien tidak menderita penyakit sistemik dan
adanya perbandingan yang sesuai antara faktor etiologi dengan kerusakan jaringan yang terjadi.
Prognosisnya adalah buruk, jika pasien tidak perduli dengan kebersihan mulutnya ada
peningkatan mobilitas dan pasien tidak kooperatif.
Rencana perawatan yang disusun untuk kasus ini mencakup 3 fase terapi yang
dilakukan, yaitu Terapi Inisial (I), Terapi Bedah (II) dan terapi pemeliharaan (III). Terapi
Rekontruksi (IV) tidak diperlukan karena tidak ada kehilangan gigi atau kehilangan struktur
gigi yang luas yang mengaruskan untuk pembuatan restorasi (inlay, onlay, post core) atau gigi
tiruan. Terapi inisial terdiri dari DHE, fisioterapi oral, SRP, koreksi restorasi site 2 pada gigi
36, dan occlusal adjustment pada gigi 26. Terapi bedah yang dipertimbangkan adalah bedah
flap pada gigi 36, dan kuretase RA/RB jika tidak terjadi pendangkalan poket. Pasien diduga
masuk kelas B dengan interval kontrol berkalanya adalah 3-4 bulan.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Hasel. Thomas M. Color Atlas of Dental Medicine. 23.


2. Dhalimunthe, Saidina Hamzah. Periodonsia, Edisi Revisi. Medan: Departemen
Periodonsia FKG-USU. 2008. 87, 105-141, 1-32, 127-130
3. Newman, Takkei, Kokkleivold, Carranza. Clinical Periodontology, 10th Ed. Elsevier.
2006. 276-9, 242, 106-108
4. Fedi, Peter F., Arthur R.Vernino, John L.Grav. Silabus Periodonti, Edisi 4. Jakarta: EGC.
2003. 40, 50-61
5. Nield-Gehrig, Jill S. and Donald G.Willmann. Foundations of Periodontics for the Dental
Hygienist. Lippiniott Williams & Wilkins. 2003.292-3,
6. Iqbal Sandira: A simple Blog that Discuss My Various Interest: Periodontitis. Avaiable
online [URL] http://iqbalsandira.blogspot.com/2009/03/periodontitis.html. Post on 24
March 24th, 2009 at 9:23 am.
7. White, Stuart C. and Michael J.Pharoah. Oral Radiology: Principles and Interpretation,
6th Ed. Mosby Elsevier. 2009. 283.
8. Dan Holtzclaw . JIACD: The Journal of Implant and Advanced Clinical Dentistry: Local
Factors in Periodontal Disease. Avaible online [URL] www.jiacd.com/dentists-qa/local-
factor-periodontal-disease. Post on March 1st, 2009 at 01:15pm.
9. Thomson, Hamish. Oklusi edisi-2. Jakarta.EGC.2007. Hal.331

12
KARYA TULIS ILMIAH

PERAWATAN PADA KASUS PERIODONTAL AGGRESSIVE

Oleh:

Drg. DINA FIRDAUSIA

NIP. 198603082011012006

13
14

Anda mungkin juga menyukai