Therecia Malau
Therecia Malau
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul
“EVALUASI STANDAR PELAYANAN MINIMAL PEMUATAN
KENDARAAN DI ATAS KAPAL PADA PELABUHAN BOLOK DAN
PELABUHAN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR” ini tepat
pada waktu yang telah ditentukan. Penulisan Tugas Akhir ini merupakan realisasi
dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan magang yang dilaksanakan
di Pelabuhan Bolok dan Pelabuhan Ende dalam kaitannya dengan pengaplikasian
dari teori-teori yang didapat selama mengikuti perkuliahan di Politeknik
Transportasi Sungai Danau dan Penyebrangan Palembang.
Dalam pelaksanaan kegiatan dan penulisan Tugas Akhir ini tidak terlepas
dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Direktur Politeknik Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan
Palembang
2. Pembimbing I…..
3. Pembimbing II…..
4. Direktur Perusahaan Pelayaran/ Instansi …..
5. Keluarga....
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Kertas Kerja Wajib ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, oleh karna itu diharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk dapat menjadi perbaikan. Semoga laporan
Tugas Akhir ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Palembang, 2024
Penulis
3
NPT. 2103120
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL iv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Penelitian 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penelitian 3
D. Batasan Masalah 3
E. Manfaat Penelitian 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 5
A. Tinjauan Pustaka 5
1. Penelitian Terdahulu 5
2. Teori Pendukung Yang Relevan 6
B. Landasan Teori 10
1. Landasan Hukum 10
2. Landasan Teori 13
BAB III METODE PENELITIAN 16
A. Desain Penelitian 16
1. Waktu Dan Lokasi Penelitian 16
2. Jenis Penelitian 16
3. Instrumen Penelitian 16
4. Jenis Dan Sumber Data 17
5. Bagan Alir Penelitian 17
B. Teknik Pengumpulan Data 18
1. Data Primer 19
2. Data Sekunder 20
C. Teknik Analisis Data 20
DAFTAR PUSTAKA 29
4
DAFTAR TABEL
5
DAFTAR GAMBAR
6
BAB I
PENDAHULUAN
7
Angkutan penyeberangan di NTT sangat penting untuk
menghubungkan daerah dari kota ke desa. Rata-rata, orang yang
menggunakan Pelabuhan Bolok dan Pelabuhan Ende menggunakan
kendaraan seperti motor, mobil, bus, dan truk. Kita sering mendengar berita
tentang kapal ferry yang mengangkut truk dan mobil yang akibat cuaca buruk
dan gelombang laut yang tinggi, seperti 3 meter, mobil dan truk dikabarkan
bergeser dan banyak terjadi kerusakan. Hal ini mengancam penumpang dan
bahkan dapat menyebabkan kapal terguling dan tenggelam.
Sebagai masyarakat, kita menyadari bahwa menaikkan atau
memuat kendaraan truk berat atau mobil ke dalam kapal ferry adalah kegiatan
yang sangat berisiko, berbahaya, dan membahayakan. Karena terjangan
gelombang laut yang tinggi dapat mengubah berat kapal ferry dan
stabilitasnya, kapal ferry harus menyediakan sarana untuk mengikat truk dan
mobil.
Agar pelayaran berjalan dengan baik dan selamat, setiap pelabuhan
harus memiliki standar pemuatan kendaraan yang sesuai dengan aturan. Salah
satu kegiatan yang harus diperhatikan adalah pemuatan kendaraan, karena
jika tidak sesuai dengan aturan, dapat terjadi kecelakaan yang melibatkan
korban jiwa dan kerugian materi. Misalnya, Kendaraan yang tidak diikat atau
lashing, akan bergerak dan membahayakan penumpang.
Berdasarkan informasi ini, peneliti ingin melakukan penelitian
dengan judul “EVALUASI STANDAR PELAYANAN MINIMAL
PEMUATAN KENDARAAN DI ATAS KAPAL PADA PELABUHAN
BOLOK DAN PELABUHAN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA
TIMUR” sebagai tugas akhir Kertas Kerja Wajib (KKW).
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang dilakukan selama melakasanakan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Pelabuhan Penyeberangan Bolok dan
Pelabuhan Ende sebagai berikut :
1. Bagaimana Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pemuatan
kendaraan di atas kapal pada Pelabuhan Bolok lintasan Kupang-
8
Larantuka dan Pelabuhan Ende lintasan Ende - Kupang telah sesuai
dengan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 62
Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan
Penyeberangan ?
2. Apa saja aspek yang harus ditingkatkan pada pelayanan pemuatan
kendaraan diatas kapal pada Pelabuhan Bolok lintasan Kupang-Larantuka
dan Pelabuhan Ende lintasan Ende - Kupang agar sesuai dengan
Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun
2019 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan ?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas akhir dan
memenuhi persyaratan kelulusan program studi Diploma III MTPD di
Politeknik Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan Palembang.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membahas masalah yang dihadapi di
Pelabuhan Penyeberangan Bolok dan Pelabuhan Ende, sebagai berikut :
1. Mengevaluasi apakah Standar Pelayanan Minimal (SPM) pemuatan
kendaraan diterapkan pada kapal Pelabuhan Bolok lintasan Kupang-
Larantuka dan Pelabuhan Ende lintasan Ende - Kupang sesuai dengan
Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun
2019 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan.
2. Menganalisis aspek yang perlu ditingkatkan dalam pelayanan pemuatan
kendaraan di atas kapal Pelabuhan Bolok lintasan Kupang-Larantuka dan
Pelabuhan Ende lintasan Ende - Kupang agar sesuai dengan Peraturan
Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2019 tentang
Standar Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan.
D. BATASAN MASALAH
Pembatasan harus dibuat pada ruang lingkup penelitian agar topik
yang akan dibahas dalam Kertas Kerja Wajib ini tidak menyimpang atau
meluas dari fokus penelitian. Pembatasan ini harus mencakup hal-hal berikut:
9
1. Penelitian ini dilaksanakan di Pelabuhan Penyeberangan Bolok dan
Pelabuhan Ende
2. Penelitian ini membahas tentang kesesuaian Standar Pelayanan Minimal
(SPM) dalam aspek pemuatan kendaraan di atas Kapal Pelabuhan Bolok
lintasan Kupang-Larantuka dan Pelabuhan Ende lintasan Ende – Kupang
berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019
tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Penyebrangan.
3. Penelitian ini menggunakan data kapal pada Pelabuhan Bolok lintasan
Kupang-Larantuka dan Pelabuhan Ende lintasan Ende - Kupang, Nusa
Tenggara Timur.
E. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penulisan KKW ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Bagi Taruna
a. Penerapan teori yang diajarkan di kampus pada lokasi PKL.
b. Metode latihan bagi taruna sebelum memasuki dunia kerja setelah
lulus.
c. Penggunaan pengetahuan tentang transportasi yang dipelajari di pusat
pendidikan transportasi, khususnya tentang hubungan antara kualitas
pelayanan dan kenyamanan pengguna jasa angkutan, agar tercipta zero
accident.
2. Manfaat Bagi Lembaga Pendidikan
a. Sumber informasi pembelajaran tentang standar pelayanan minimal
angkutan penyeberangan untuk pemuatan kendaraan di atas kapal.
b. Referensi untuk penelitian dengan masalah yang terkait dengan SPM
pemuatan kendaraan di atas kapal.
3. Manfaat Bagi Lembaga/Instansi
a. Bahan untuk upaya perbaikan dan pengembangan untuk menangani
standar pelayanan minimal pemuatan kendaraan di atas kapal yang
beroperasi.
b. Panduan untuk peningkatan kualitas layanan di masa mendatang.
10
c. Bahan untuk melakukan tinjauan standar pelayanan minimal sesuai
dengan peraturan yang ditetapkan.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Penelitian Terdahulu
Dalam melakukan penelitian ini, penulis mengambil penelitian
yang relevan agar hasil yang didapat lebih akurat. Untuk itu dilakukan
penelitian yang sama membahas fasilitas sandar di pelabuhan
penyeberangan.
Nama Penulis Judul Penelitian Hasil Penelitian
M Rusedky Kajian Sistem Kewajiban pengikatan kendaraan di
Pemuatan Kendaraan atas kapal penyeberangan pada
Di Atas Kapal lintasan Hunimua - Waipirit masih
Penyeberangan Milik belum sesuai dengan tata cara
Pt. Asdp Pada pemuatan kendaraaan yang telah
Lintasan Hunimua - diatur pada Peraturan Menteri
Waipirit Provinsi Perhubungan Nomor 30 tahun 2016
Maluku Tahun 2020 tentang Kewajiban Pengikatan
Kendaraan Pada Kapal Angkutan
Penyeberangan. seperti tidak adanya
pengikatan kendaraan di atas kapal
penyeberangan lintasan Hunimua –
Waipirit karena tali pengikat hanya
disimpan di gudang.
Ahmad Medi Evaluasi Tata Cara Operator kapal harus menyediakan
Kurniawan Pengangkutan alat pengikat dan klem roda kendaraan
Kendaraan Di Atas yang cukup sesuai dengan jumlah
12
Kmp Kalabia Pada kendaraan yang diangkut, agar semua
Lintasan kendaraan yang berada di bagian
Penyeberangan wajib lashing dapat di lashing sesuai
Sorong - Fak-Fak - dengan Peraturan Menteri
Wahai Provinsi Papua Perhubungan yang berlaku.
Barat
Nama Penulis Judul Penelitian Hasil Penelitian
Yun Widya Tinjauan Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Rachmadhani Pengangkutan tidak ada jarak yang sesuai antara
Kendaraan Pada kendaraan, jembatan timbang tidak
KMP. Parama Kalyani tersedia, dan setiap kendaraan yang
Lintasan Ketapang - ada di kapal tidak dilakukan
Lembar pengikatan kendaran, yang seharusnya
mengacu pada Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor 115 Tahun 2016.
13
fisik mengubah lokasi antara barang (muatan) dan penumpang ke
tempat lain.
3) Menurut Nasution (2008) dalam Creator Media (2021),
mengatakan bahwa Transportasi diartikan sebagai pemindahan
barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Unsur –
unsur transportasi meliputi lima hal yakni:
a. Adanya muatan yang diangkut.
b. Tersedianya kendaraan sebagai alat angkutnya.
c. Ada jalanan yang dapat dilalui.
d. Ada terminal asal dan terminal tujuan
e. Sumber daya manusia dan organisasi atau manajemen yang
menggerakan kegiatan transportasi tersebut.
4) Rustian Kamaludin (2003:13) dalam Creator Media (2021),
menyatakan bahwa istilah "transportasi" berasal dari kata Latin
"transportare", yang berarti "seberang" atau "sebelah lain", dan
"portare" berarti "mengangkut atau membawa." Oleh karena itu,
transportasi berarti mengangkut atau membawa sesuatu dari satu
tempat ke tempat lain.
b. Keselamatan Pelayaran
Petugas pelabuhan dan operator kapal harus dilatih.
Pengaturan, pengendalian, dan pengawasan adalah bagian dari
pembinaan yang dilakukan. Menurut Undang-Undang Pelayaran
Nomor 17 Tahun 2008, Pasal 5 menetapkan bahwa pembinaan harus
dilakukan dengan mempertimbangkan semua aspek kehidupan
masyarakat dan ditujukan untuk:
1) Memperlancar arus perpindahan orang dan/atau barang secara
massal melalui perairan dengan selamat, aman, cepat, lancar, tertib
dan teratur, nyaman, dan berdaya guna, dengan biaya yang
terjangkau oleh daya beli masyarakat.
2) Meningkatkan penyelenggaraan kegiatan angkutan di perairan,
kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan, serta perlindungan
lingkungan maritim sebagai bagian dari keseluruhan moda
14
transportasi secara terpadu dengan memanfaatkan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
3) Mengembangkan kemampuan armada angkutan nasional yang
tangguh di perairan serta didukung industri perkapalan yang andal
sehingga mampu memenuhi kebutuhan angkutan, baik di dalam
negeri maupun dari dan ke luar negeri.
4) Mengembangkan usaha jasa angkutan di perairan nasional yang
andal dan berdaya saing serta didukung kemudahan memperoleh
pendanaan, keringanan perpajakan, dan industri perkapalan yang
tangguh sehingga mampu mandiri dan bersaing.
5) Meningkatkan kemampuan kepelabuhanan serta keselamatan dan
keamanan pelayaran dengan menjamin tersedianya alur pelayaran,
kolam pelabuhan, dan sarana bantu navigasi-pelayaran yang
memadai dalam rangka menunjang angkutan di perairan.
6) Mewujudkan sumber daya manusia yang berjiwa bahari,
profesional, dan mampu mengikuti perkembangan kebutuhan
penyelenggaraan pelayaran.
c. Sistem Penataan Muatan Kendaraan di Kapal
Menurut Panji Kusuma (2008:23), untuk memaksimalkan ruang
kapal, pengaturan mobil harus dilakukan. Mobil harus diparkir sejajar
dalam ruang yang sempit. Pemarkiran ini bertujuan untuk menghemat
ruang dan mempercepat proses mengisi dan mengeluarkan kendaraan.
Untuk mencegah penumpukan beban pada satu sisi kapal, susunan
mobil di kapal ferry, seperti kapal container, harus disesuaikan dengan
bobot mobil.
d. Lintasan Penyebrangan
Lintas penyeberangan, menurut Iskandar Abubakar (2010),
adalah suatu alur perairan laut, selat, sungai, atau danau yang digunakan
sebagai lintas penyeberangan dan berfungsi untuk menghubungkan
simpul ke jaringan jalan dan/atau jalur kereta api.
e. Dermaga
Dermaga, menurut Triatmodjo (2010:195), adalah suatu struktur
15
pelabuhan yang digunakan untuk merapat dan menambat kapal saat
bongkar muat barang dan menaik-turunkan penumpang.
f. Observasi
Menurut Nasution dalam Sugiyono (2020:109), Observasi
adalah kondisi di mana peneliti melakukan pengamatan secara langsung
untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang konteks data
dalam konteks situasi sosial secara keseluruhan, yang memungkinkan
peneliti untuk mendapatkan perspektif yang lebih menyeluruh.
g. Golongan Kendaraan
Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 66 Tahun
2019 Tentang Mekanisme Penetapan dan Formulasi Perhitungan Tarif
Angkutan Penyeberangan. Golongan kendaraan merupakan dapat
dilihat pada Tabel 2.1
16
NO Golongan Jenis Kendaraan dan/Ukuran
panjang lebih dari 5 meter sampai dengan 7 meter;
6 Golongan VI a. Kendaraan bermotor untuk penumpang berupa
mobil bus dengan ukuran panjang lebih dari 7 meter
sampai dengan 10 meter; atau
b. Mobil barang (truk) tronton dengan ukuran panjang
lebih dari 7 meter sampai dengan 10 meter dan
sejenisnya, dan mobil penarik tanpa gandengan.
7 Golongan VII Mobil barang (truk) tronton, mobil penarik berikut
gandengan serta kendaraan alat berat dengan ukuran
panjang lebih dari 10 meter sampai dengan 12 meter.
8 Golongan VIII Mobil barang (truk) tronton, mobil tangki, kendaraan
alat berat dan mobil penarik berikut gandengan ukuran
panjang lebih dari 12 meter sampai dengan 16 meter.
9 Golongan IX Mobil barang (truk) tronton, Mobil tanki, kendaraan
alat berat dan mobil penarik berikut gandengan
ukuran panjang lebih dari 16 meter
Sumber : PM 66 Tentang Mekanisme Penetapan dan Formulasi Perhitungan Tarif Angkutan
Penyebrangan (2019)
B. LANDASAN TEORI
1. Landasan Hukum
Adapun dasar hukum yang diambil sebagai landasan teori yang
langsung berkaitan dengan masalah yang diteliti, yaitu:
a. Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran.
1) Pasal 1 ayat (3)
Angkutan di perairan adalah kegiatan mengangkut dan/atau
memindahkan penumpang dan/atau barang dengan menggunakan
kapal.
2) Pasal 1 ayat (6)
Trayek adalah rute atau lintasan pelayanan angkutan dari satu
pelabuhan ke pelabuhan lainnya.
17
3) Pasal 1 ayat (16)
Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan
dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan
kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal
bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang,
berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan
fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang
pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antarmoda
transportasi.
4) Pasal 1 ayat (36)
Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu,yang
digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energi lainnya,
ditarik atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung
dinamis,kendaraan di bawah permukaan air,serta alat apung dan
bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
5) Pasal 22 ayat (1)
Angkutan penyeberangan merupakan angkutan yang berfungsi
sebagai jembatan yang menghubungkan jaringan jalan atau jaringan
jalur kereta api yang dipisahkan oleh perairan untuk mengangkut
penumpang dan/atau kendaraan beserta muatannya.
b. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019 Tentang Standar
Pelayanan Minimal Angkutan Penyebrangan.
1) Pasal 1 ayat (1)
Standar Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan
Angkutan Penyeberangan adalah persyaratan minimal yang harus
dipenuhi oleh perusahaan angkutan penyeberangan dalam
memberikan pelayanan kepada pengguna jasa.
2) Pasal 3 ayat (2)
SPM Angkutan Penyeberangan untuk pemuatan kendaraan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b meliputi :
a) Keselamatan
b) Keamanan
18
c) Kemudahan
3) Pasal 4 ayat (2)
SPM Angkutan Penyeberangan untuk pemuatan kendaraan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf b terdiri atas :
a) Pintu rampa
b) Ruang untuk kendaraan
4) Pasal 13 ayat (1)
Untuk memenuhi SPM Angkutan Penyeberangan, dilakukan
pemeriksaan oleh Petugas Pemeriksa SPM Angkutan Penyeberangan.
5) Pasal 13 ayat (2)
Dalam hal telah memenuhi SPM Angkutan Penyeberangan,
diberikan surat keputusan SPM Angkutan Penyeberangan.
6) Pasal 13 ayat (3)
Pemenuhan surat keputusan SPM Angkutan Penyeberangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh :
a. Menteri, untuk pelayanan Angkutan Penyeberangan lintas
antarnegara dan/atau antarprovinsi.
b. Gubernur, untuk pelayanan Angkutan Penyeberangan lintas
antarkabupaten/kota dalam provinsi.
c. Bupati/wali kota, untuk pelayanan Angkutan Penyeberangan
lintas dalam kabupaten/kota.
7) Pasal 13 ayat (4)
Pemenuhan penetapan surat keputusan yang ditetapkan oleh
Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a ditandatangani
oleh Directur Jenderal.
8) Pasal 13 ayat (5)
Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku
paling lama 1 (satu) tahun atau sampai dengan kapal dok.
9) Pasal 15 ayat (1)
Untuk memastikan pemenuhan SPM Angkutan
Penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, dilakukan
monitoring dan evaluasi.
19
10) Pasal 15 ayat (2)
Monitoring dan evaluasi secara berkala sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara :
a. berkala.
b. insidental.
11) Pasal 15 ayat (3)
Monitoring dan evaluasi secara berkala sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a dilaksanakan setelah diperoleh
persetujuan SPM Angkutan Penyeberangan.
12) Pasal 15 ayat (4)
Monitoring dan evaluasi secara insidental sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan dalam hal terdapat
laporan atau aduan dari pengguna jasa.
13) Pasal 15 ayat (5)
Hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilakukan oleh menteri melalui Direktur Jenderal, Gubernur,
dan Bupati/Wali Kota sesuai dengan kewenangan.
14) Pasal 15 ayat (6)
Hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) digunakan sebagai dasar evaluasi terhadap pemberian SPM
Angkutan Penyeberangan.
15) Pasal 15 ayat (7)
Dalam hal hasil monitoring dan evaluasi secara berkala
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditemukan pelanggaran,
Perusahaan Angkutan Penyeberangan dikenai sanksi berupa
dikeluarkan dari jadwal operasi sampai dengan terpenuhinya SPM
Angkutan Penyeberangan.
16) Pasal 15 ayat (8)
Dalam hal hasil monitoring dan evaluasi secara berkala
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditemukan pelanggaran,
Perusahaan Angkutan Penyeberangan dikenai sanksi berupa
pencabutan Surat Keputusan SPM Angkutan Penyebrangan.
20
2. Landasan Teori
a. Persyaratan SPM Pemuatan Kendaraan di Kapal.
Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019
Tentang Standar Pelayanan Minimal, terdapat persyaratan SPM pemuatan
kendaraan di kapal, yaitu:
1) Jarak minimal antar kendaraan antara lain :
a) Jarak antar masing-masing kendaraan pada sisi kiri dan kanan adalah
60 cm.
b) Jarak antar muka dan belakang masing-masing kendaraan adalah
30 cm.
c) Untuk kendaraan yang sisi sampingnya bersebelahan dengan
dinding kapal, berjarak 60 cm.
21
6) Memiliki scupper.
7) Terdapat marka pada cardeck dan pintu rampa.
2) Aspek Keamanan
a. Tersedia peralatan pencegahan tindak kriminal antara lain:
(1) CCTV dapat berfungsi dan rekaman dapat dimanfaatkan.
(2) Diletakkan pada haluan dan buritan.
(3) CCTV yang dipasang paling sedikit 2 unit.
b. Tersedia lampu penerangan dengan intensitas cahaya sebesar 200 –
300 lux.
c. Lantai ruang untuk kendaraan dilengkapi dari garis jaur kendaraan,
cat lantai geladak hijau dengan garis lajur kendaraan kuning.
(1) Dapat dilihat dengan jelas.
(2) Jarak salah satu sisi kendaraan sekurang – kurangnya 60 cm.
(3) Jarak antara muka dan belakang masing – masing kendaraan
adalah 30 cm.
(4) Untuk kendaraan yang sisi sampingnya bersebelahan dengan
dinding kapal, berjarak 60 cm dihitung dari lapisan dinding dalam
atau sisi luar gading – gading (frame).
3) Aspek Kemudahan / Keterjangkauan
a) Fasilitas bongkar muat yang digunakan dalam kegiatan pemuatan
kedalam kapal berupa:
(1) Paling sedikit memiliki 2 pintu rampa yang digunakan untuk
jalan keluar dan masuk.
(2) Akses kendaraan dari dan ke geladak atas (upper deck) arus
tersedia dudukan atau tumpuan untuk jalan keluar masuk
kendaraan.
(3) Akses penumpangan dari dan ke geladak atas (upper deck) harus
tersedia dudukan atau tumpuan untuk rampa dermaga yang
digunakan untuk jalan keluar masuk penumpang.
b) Tempat untuk parkir kendaraan selama masa pelayaran
(1) Tinggi ruang geladak untuk memuat kendaraan golongan I-V
sekurang – kurangnya 250 cm.
22
(2) Tinggi ruang geladak untuk memuat kendaraan golongan VI –
IX sekurang – kurangnya 420 cm.
(3) Untuk stabilitas memanjang, setiap kendaraan harus di ganjal,
dan untuk stabilitas melintang, apabila diperkirakan kondisi
perairan dapat mengakibatkan kemiringan kapal lebih dari 10
derajat maka kendaraan wajib diikat (lashing).
(4) Ruang kendaraan harus disediakan lampu penerangan, sistem
sirkulasi udara, jalan penghubung antara ruang kendaraan dan
ruang penumpang.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN
2. Jenis Penelitian
Penulis memilih untuk melakukan penelitian deskriptif kualitatif.
Penelitian deskriptif kualitatif adalah jenis penelitian di mana data yang
dikumpulkan lebih didominasi oleh kata-kata atau gambar daripada angka-
angka. Metode ini menggunakan pengamatan/observasi, wawancara, dan
studi dokumen untuk menekankan masalah dasar.
3. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini antara lain :
a. Formulir survei
Formulir survei yang digunakan antara lain :
1) Formulir survei jarak antar kendaraan terdapat pada Lampiran 1;
23
2) Formulir survei pemuatan kendaraan Menurut Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019 Tentang Standar Pelayanan
Minimal terdapat pada Lampiran 2;
3) Formulir wawancara terdapat pada Lampiran 3.
b. Meteran untuk mengukur jarak antar kendaraan
c. Lux meter untuk mengukur intensitas cahaya di cardeck
d. Handphone untuk dokumentasi
24
4. Jenis dan Sumber Data
Penulisan Kertas Kerja Wajib (KKW) ini mengumpulkan data sebagai
bahan acuan dan perbandingan. Metode ini disesuaikan dengan keadaan dan
lokasi objek penelitian. Data—Data berikut diperoleh dari penelitian ini:
1. Data Primer
Data primer secara khusus dikumpulkan untuk menjawab
pertanyaan penelitian dengan mengumpulkan data primer dari sumber
pertama, baik individu maupun kelompok, secara langsung (tanpa
perantara). Data primer meliputi observasi lapangan dan wawancara
kepada operator kapal terhadap permuatan kapal penyeberangan di
Pelabuhan Bolok dan Pelabuhan Ende.
2. Data Sekunder
Jenis dan sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak
langsung (melalui perantara) disebut data sekunder. Penelitian ini
menggunakan data sekunder seperti :
a) Data karakteristik kapal
b) Data produktivitas Pelabuhan Bolok lintasan Kupang-Larantuka dan
Pelabuhan Ende lintasan Ende - Kupang 30 hari dan 5 tahun terakhir
c) Data Badan Pusat Statistis Provinsi Nusa Tenggara Timur, lintasan,
dan Peraturan Menteri Nomor 62 Tahun 2019 tentang Standar
Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan.
25
MULAI
Pengamatan
Identifikasi Masalah
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Stasioner
Analisis Permasalahan :
1) Bagaimana tingkat kesesuaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pemuatan kendaraan di
atas kapal Pelabuhan Bolok dan Pelabuhan Ende
2) Aspek yang harus ditingkatkan pada pelayanan pemuatan kendaraan diatas kapal pada
Pelabuhan Bolok dan Pelabuhan Ende
Pemecahan Masalah
Kesimpulan Saran
SELESAI
26
B. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Untuk mendapatkan data sebagai bahan acuan dan perbandingan,
kertas kerja wajib (KKW) ini menggunakan berbagai metode. Metode ini
disesuaikan dengan keadaan dan lokasi objek penelitian. Data - Data berikut
diperoleh dari penelitian ini:
1. Data Primer
Adalah data yang di dapat langsung dari sumbernya atau
berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, dalam memperoleh data
primer penulis menggunakan metode sebagai berikut :
a. Metode Observasi
Pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung
dilakukan untuk mengumpulkan data penelitian. Dalam penelitian ini,
pengamatan dilakukan mulai dari kendaraan memasuki kapal, proses
penanganan muatan di atas kapal, mengukur jarak antar kendaraan,
dan mengamati jenis golongan kendaraan yang ada di atas kapal saat
memuat kendaraan, maka diperlukan survei :
1) Survei pengukuran jarak antar kendaraan
Data yang dikumpulkan menunjukkan seberapa jauh jarak
parkir kendaraan di atas kapal sesuai dengan Peraturan Menteri
Nomor 62 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal
Angkutan Penyeberangan.
2) Survei kesesuaian Standar Pelayanan Minimal
Data berupa kesesuaian Standar Pelayanan Minimal (SPM)
pemuatan kendaraan sesuai dengan aturan yang berlaku.
b. Dokumentasi
Untuk mendapatkan bukti kondisi nyata yang terjadi saat
peneliti melakukan pengamatan di lapangan dan bahan penting untuk
menyajikan data dalam penulisan kertas kerja wajib (KKW), maka
dokumentasi atau foto kondisi eksisting dilakukan.
27
c. Metode Wawancara
Operator kapal diwawancarai untuk mengetahui alasan
pemuatan yang tidak sesuai dengan peraturan yang ada yang dapat
mempengaruhi keselamatan kapal dan faktor-faktor yang
menyebabkannya. PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang
Kupang, BPTD Wilayah XIII, dan Satpel Penyeberangan Bolok
diwawancarai.
2. Data Sekunder
Data tidak langsung kepada pengumpul data. Data pendukung
yang di dapat berdasarkan pengamatan pihak lain dan berupa laporan
secara tertulis. Metode yang digunakan untuk memperoleh data sekunder
adalah sebagai berikut:
a. Metode Literatur
Proses mengumpulkan data dari buku, jurnal, artikel, atau
peraturan yang terkait dengan proses penelitian yang berkaitan dengan
masalah yang akan diteliti.
b. Metode Institusional
Pengumpulan data melalui kunjungan ke instansi atau kantor
untuk mendapatkan data sekunder. Penulis telah mengumpulkan data
dari instansi atau kantor yang terkait dengan penelitian ini yaitu
sebagai berikut :
1) Balai Pengelola Transportasi Darat kelas II Nusa Tenggara Timur
2) PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Kupang
3) Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur
28
organisasi pada selang waktu tertentu dan keadaan yang diinginkan atau
potensial di masa depan. Peneliti melakukan gap analysis terhadap tiga aspek
di mana kondisi sekarang dengan kondisi sesuai aturan. Tiga aspek ini adalah
aspek keselamatan, aspek keamanan, dan aspek kemudahan/keterjangkauan.
Gambar 3.2 menunjukkan langkah-langkah yang diambil untuk melakukan
analisis data pada penelitian ini.
Mengumpulkan Membersihkan
Analisis Data Penyajian Data
Data Data
29
Kesenjangan atau gap yang dimaksud adalah perbandingan kondisi
lapangan saat ini dengan kondisi lapangan yang sesuai aturan.
d. Identifikasi solusi yang tepat
Menyimpulkan kesenjangan atau masalah yang terjadi maka
selanjutnya peneliti melakukan analisis. Analisa tersebut nantinya
akan menjadi solusi.
4. Penyajian Data
Setelah data dianalisis peneliti menyajikan data dalam bentuk tabel
sehingga mudah dimengerti.
30
BAB IV
31
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam Angka (2024)
a. Batas Administrasi
Berdasarkan letak geografisnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur
memiliki batas wilayah administrasi dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4. 1 Batas Wilayah Administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur
Arah Perbatasan
Utara Laut Flores
Selatan Samudra Hindia
Timur Timor Leste
Barat Provinsi NTB
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam Angka (2024)
b. Kependudukan
Salah satu faktor pendorong meningkatnya perekonomian suatu
wilayah yakni sumber daya manusia yang berdomisili di wilayah tersebut.
Sebagai unsur yang paling menentukan dalam pembangunan maka
pemerintah dalam hal ini harus memperhatikan laju pertumbuhan
penduduk yang mesti terkendali, mengingat banyak aspek yang berkaitan
langsung dengan masalah kependudukan seperti penyediaan bahan
makanan, perumahan, pendidikan, kesehatan serta penyiapan lapangan
pekerjaan disamping juga faktor keamanan dan lain sebagainya. Adapun
laju pertumbuhan penduduk per kecamatan di Kota Kupang dapat dilihat
pada tabel 4.2
32
Gambar 4. 2 Diagram Laju Perkembangan Penduduk
8%
18%
16%
13% 23%
22%
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur dalan Angka (2024)
c. Ekonomi
2. Sarana Transportasi
Sarana angkutan penyeberangan sangat mendukung dalam pelayanan dan
kinerja dari pelabuhan penyeberangan itu sendiri. Demikian juga dengan
Pelabuhan Bolok. Dengan adanya sarana yang memadai dan lancar akan
menghasilkan pergerakan arus lalu lintas penumpang, kendaraan dan barang
sehingga diharapkan dapat meningkatkan kegiatan perekonomian.
33
Kapal tersebut dikelola oleh PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang
Kupang dan Flobamor. Adapun izin trayek 6 kapal ferry yang beroperasi di
Pelabuhan Bolok yang dapat dilihat pada Tabel 4.3.
34
5 KMP. Uma Kalada PT ASDP Indonesia 881 GT Kupang-Sabu-Raijua-
Ferry (Persero) Cabang Waingapu
Kupang Kupang-Rote
Kupang-Aimere
Kupang-Kalabahi
Kupang-Lewoleba
Kupang-Hansisi
Kupang-Larantuka
6 KMP. Lakaan PT ASDP Indonesia 1689 Kupang-Rote
GT
Ferry (Persero) Cabang Kupang-Aimere
Kupang Kupang-Sabu
Kupang-Kalabahi
Kupang-Lewoleba
Kupang-Hansisi
Kupang-Larantuka
a. KMP Cakalang II
Kapal yang beroperasi di Pelabuhan Penyeberangan Bolok yaitu KMP
Cakalang II dengan 702 GT dan kapasitas angkut penumpang sebanyak 216
orang dan kendaraan sebanyak 20 unit kendaraan campuran dengan rute
lintasan Kupang-Rote-Ndao, Kupang-Aimere, Kupang-Sabu, Kupang-
Kalabahi, Kupang-Lewoleba, Kupang-Hansisi, Kupang-Larantuka. Gambar
dan ship particular KMP. Cakalang II dapat dilihat pada Gambar 4.3 dan Tabel
4.4.
35
Uraian Keterangan
Nama Kapal KMP CAKALANG II
Call Sign/Panggilan PNJC
Tipe Kapal/GRT Ferry Ro-Ro / 702 GT
Tipe Kapal/NRT 211 NT
Pemilik PT. ASDP Indonesia ferry
Galangan Pembuatan Kamal – Madura
Tahun Pembuatan 2008
Klasifikasi Kapal Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
Kecepatan Kapal 9 knot
Ukuran
Panjang Seluruh (LOA) 55,55 meter
Panjang (LBP) 48,34 meter
Lebar Kapal 13,00 meter
Dalam (h) 3,45 meter
Draft Kapal 2,70 meter
Permesinan
Mesin Utama Mitsubishi (2 unit )
Tipe S12A2-MPTK
Tenaga Kuda/PK 2x1055 HP
RPM 2000
Mesin Bantu Perkins (2 unit)
Tipe 6 TG 2 AM
Tenaga 2 x 124 HP
Kapasitas Muat
Jumlah Awak Kapal 19 orang
Jumlah Penumpang 216 orang
Kendaraan 20 unit
Sumber :Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Nusa Tenggara Timur (2024)
b. KMP Inerie II
Kapal yang beroperasi di Pelabuhan Penyeberangan Bolok yaitu
KMP. Inerie II dengan 1031 GT dan kapasitas angkut penumpang
sebanyak 216 orang dan kendaraan sebanyak 15 unit kendaraan campuran
dengan rute lintasan Kupang-Rote, Kupang-Aimere, Kupang-Sabu,
Kupang-Kalabahi, Kupang-Lewoleba, Kupang-Hansisi, Kupang-larantuka.
Gambar dan ship particular KMP. Inerie II dapat dilihat pada Gambar 4.4
dan Tabel 4.5.
36
Uraian Keterangan
Nama Kapal KMP INERIE II
Call Sign/Panggilan JZRD
Tipe Kapal/GRT Ferry Ro-Ro / 1031 GT
Tipe Kapal/NRT 310 NT
Pemilik PT. ASDP Indonesia ferry
Galangan Pembuatan PT. Dumas Tanjung Perak
Tahun Pembuatan 2012
Klasifikasi Kapal Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
Kecepatan Kapal 9 knot
Ukuran
Panjang Seluruh (LOA) 56,02 meter
Panjang (LBP) 48,91 meter
Lebar Kapal 14,00 meter
Dalam (h) 3,80 meter
Draft Kapal 2,70 meter
Permesinan
Mesin Utama Baudouin
Tipe 12 M 26.2-A225
Tenaga Kuda/PK 2x1100 HP
RPM 1900
Mesin Bantu Dongfeng Cummins
Tipe 6 BTA5.9-GM100
Tenaga 2 x 136 HP
Kapasitas Muat
Jumlah Awak Kapal 20 orang
Jumlah Penumpang 216 orang
Kendaraan 15 unit
Sumber :Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Nusa Tenggara Timur (2024)
37
c. KMP Ranaka
Kapal yang beroperasi di Pelabuhan Penyeberangan Bolok yaitu
KMP Ranaka dengan 1029 GT dan kapasitas angkut penumpang sebanyak
218 orang dan kendaraan sebanyak 15 unit kendaraan campuran dengan
rute lintasan Kupang-Rote, Kupang-Aimere, Kupang-Sabu, Kupang-
Kalabahi, Kupang-Lewoleba, Kupang-Hansisi, Kupang-larantuka. Gambar
dan ship particular KMP. Ranaka dapat dilihat pada Gambar 4.5 dan Tabel
4.6
Uraian Keterangan
Nama Kapal KMP RANAKA
Call Sign/Panggilan JZCN
Tipe Kapal/GRT Ferry Ro-Ro / 1029 GT
Tipe Kapal/NRT 309 NT
Pemilik PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero)
Galangan Pembuatan Surabaya
Tahun Pembuatan 2011
Klasifikasi Kapal Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
Kecepatan Kapal 7 knot
Ukuran
Panjang Seluruh (LOA) 56,02 meter
Panjang (LBP) 48,91 meter
Lebar Kapal 14,00 meter
Dalam (h) 3,80 meter
Draft Kapal 2,70 meter
38
Uraian Keterangan
Permesinan
Mesin Utama Mitsubishi (2 unit )
Tipe S12A2-MPTK
Tenaga Kuda/PK 2x1166 HP
RPM 2100
Mesin Bantu Cummins (2 unit)
Tipe 6BTA5.9-GM100
Tenaga 2 x 136 HP
Kapasitas Muat
Jumlah Awak Kapal 20 orang
Jumlah Penumpang 218 orang
Kendaraan 15 unit
Uraian Keterangan
Nama Kapal KMP ILE LABALEKAN
Call Sign/Panggilan PLMH
Tipe Kapal/GRT Ferry Ro-Ro / 895 GT
Tipe Kapal/NRT 269 NT
Pemilik PT. ASDP Indonesia Ferry (PERSERO)
Galangan Pembuatan PT. Daya Radar Utama, Tanjung Priok
Tahun Pembuatan 2014
39
Klasifikasi Kapal Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
Uraian Keterangan
Ukuran
Panjang Seluruh (LOA) 56,02 meter
Panjang (LBP) 48,90 meter
Lebar (B) 14,00 meter
Tinggi Geladak Utama (D) 3,80 meter
Tinggi Sarat (d) 2,70 meter
Kecepatan Kapal 12 knot
Permesinan
Mesin Utama/Daya Mitshubishi
Tipe S6R2-T2MTK3L-1
Tenaga 2 X 1100 HP
RPM 1450
Mesin Bantu Weichai
Tipe CCFJ90J-WJ
RPM 2 x 1500
Kapasitas Muat
Awak Kapal 19 orang
Jumlah Penumpang 275 orang
Kendaraan 25 unit
Sumber : Hasil Survei Tim PKL Kupang Kelas II Nusa Tenggara Timur (2024)
40
Uraian Keterangan
Nama Kapal KMP UMA KALADA
Call Sign/Panggilan YSGG
Sumber Tipe Kapal/GRT Ferry Ro-Ro / 881 GT
:Balai Tipe Kapal/NRT 278 GT
Pemilik PT ASDP Indonesia Ferry ( PERSERO)
Galangan Pembuatan PT Adiluhung Sarana Segera, Indonesia
Tahun Pembuatan 1997
Klasifikasi Kapal Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
Ukuran
Panjang Seluruh (LOA) 45,50 meter
Panjang (LBP) 40,99 meter
Lebar (B) 12,00 meter
Dalam (h) 3,20 meter
Draft Kapal 2,40 meter
Kecepatan Kapal 7 knot
Permesinan
Mesin Utama Yanmar
Tipe 8 LAAM-UTE
Tenaga 2x670 HP
RPM 1850
Mesin Bantu Mercedes Benz
Tipe 6 R099TE31
Tenaga 2x94 HP
RPM 1500
Kapasitas Muat
Awak Kapal 19 orang
Jumlah Penumpang 242 orang
Kendaraan 22 unit
Pengelola Transportasi Darat Kelas II Nusa Tenggara Timur (2024)
f. KMP Lakaan
Kapal yang beroperasi di Pelabuhan Penyeberangan Bolok yaitu
KMP Lakaan dengan 1689 GT dan kapasitas angkut penumpang
sebanyak 216 orang dan kendaraan sebanyak 25 unit kendaraan
campuran dengan rute lintasan Kupang-Rote, Kupang-Aimere, Kupang-
Sabu, Kupang-Kalabahi, Kupang-Lewoleba, Kupang-Hansisi, Kupang-
larantuka. Gambar dan ship particular KMP. Lakaan dapat dilihat pada
Gambar 4.8 dan Tabel 4.9.
41
Uraian Keterangan
Nama Kapal KMP LAKAAN
Call Sign/Panggilan YBS12
Type Kapal/GRT Ferry Ro-Ro / 1689 GT
Type Kapal/NRT 808 NT
Pemilik PT. ASDP Indonesia ferry
PT. Industri Kapal Indonesia (Persero)
Galangan Pembuatan
Makassar
Tahun Pembuatan 2015
Klasifikasi Kapal Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
Kecepatan Kapal 10 Knot
Ukuran
Panjang Seluruh (LOA) 64,52 meter
Panjang (LBP) 50,50 meter
Lebar (B) 14,00 meter
Tinggi Geladak Utama (D) 2,70 meter
Tinggi Sarat (d) 2,70 meter
Kecepatan Kapal 11 knot
Permesinan
Mesin Utama Yanmar, Heavy Duty / 2X 1100HP
Tipe Heavy Duty 0681 dan 0682
Tenaga 2 x 1100 HP
RPM 1500-1900
Mesin Bantu Perkins
Tipe 6TG2AM
Tenaga 2x100 HP
RPM 1500
Kapasitas Muat
Awak Kapal 21 Orang
Kelas VIP : 40 orang
Kelas I : 96 orang
Jumlah Penumpang
Kelas Ekonomi : 80 orang
3. Prasarana Transportasi
1) Lapangan Parkir
43
3) Toll Gate
Pintu Gerbang masuk menuju pelabuhan atau pos bea cukai.
Kondisi saat ini di Pelabuhan Penyeberangan Bolok masih ditemukan
kendaraan yang tidak melewati portal yang berfungsi untuk mengukur
ketinggian kendaraan serta tidak melewati jembatan timbang. Toll gate di
Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat dilihat pada Gambar 4.11.
4) Ruang Tunggu
Ruang tunggu merupakan tempat penumpang menunggu atau beristirahat
sementara, pada saat menunggu kedatangan kapal untuk menyeberang setelah
mendapatkan tiket pada loket yang tersedia. Ruang tunggu terletak di belakang
loket pembelian tiket. Ruang tunggu di Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat
dilihat pada Gambar 4.12.
44
5) Pos Masuk Pelabuhan
Tempat pengguna jasa melakukan pembayaran untuk memasuki area
pelabuhan. Pos masuk pelabuhan berada pada depan pelabuhan para
penjemput diwajibkan membayar uang masuk pelabuhan. Pos masuk
pelabuhan ini dijaga oleh 2 petugas PT. ASDP Ferry Indonesia Ferry
(Persero). Pos masuk pelabuhan dapat dilihat pada Gambar 4.13.
45
6) Lapangan Parkir Kendaraan Menyeberang
Area parkir merupakan suatu tempat yang digunakan oleh kendaraan
di pelabuhan untuk menunggu masuk ke dalam kapal atau biasa disebut
lapangan parkir siap muat serta mengadakan pengecekan ulang atas bus
yang telah diperiksa pada pos pemeriksa manifest. Lapangan parkir
kendaraan menyeberang dapat dilihat pada Gambar 4.14.
7) Toilet / WC
Toilet merupakan suatu ruangan yang didesain khusus lengkap dengan
kloset, persediaan air dan segala pernak-pernik yang ada di dalamnya.
Keberadaan toilet sangat diwajibkan di setiap rumah, kantor, fasilitas umum
dan berbagai tempat yang memungkinkan. Toilet / WC dapat dilihat pada
46
Gambar 4.15.
8) ATM
Pada pelabuhan penyeberangan Bolok terdapat 1 Atm center. Letak ATM
berada di sebalah pos polisi KP3 yang berdekatan dengan loket dan ruang
tunggu Pelabuhan Penyeberangan Bolok. Fasilitas berupa ATM hanya ada
satu di Pelabuhan Penyeberangan Bolok yaitu Bank Rakyat Indonesia
(BRI). ATM Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat dilihat pada Gambar
4.16
47
Lapangan
2. Parkir Siap 57,5 52,3 3.000 m2 🗸 Ada
Muat
Lapangan
Parkir Antar
3. 48 54,5 m2 🗸 Ada
/Jemput
Lampu
4. 24 Titik 🗸 Ada
Penerang
Ruang
5. 19,9 10,4 206,9 m2 🗸 Ada
Tunggu
Loket
6. 2,64 3,8 2,7 10,03 m2 🗸 Ada
Tiket
Pos Penjagaan
7. 7 5 35 m2 🗸 Ada
Jembatan 🗸
8. - - - 1 Buah Ada
Timbang
Toilet
9. 2,25 2 2,7 4,5 m2 🗸 Ada
Tanki Air
10. 6 6 11 Unit 🗸 Ada
Bersih
Tanki - Tidak
11 - - - - Ton -
BBM
Ada
Listrik KVA
12. - - - 30.000 🗸 Ada
/watt
Air
13. 35.000 🗸 Ada
(PAM/Air
Tanah) m3
Musala 🗸
14. 5 6 30 m2 Ada
Pagar
15. 1.500 🗸 Ada
Pelabuhan
Pintu Gerbang - Bel
16. - - - - Unit -
u
m
Ada
Gudang
17. 3,1 15,1 2,7 46,81 🗸 Ada
Ruang
18. 3 2 66 🗸 Ada
Menyusui
Taman -
19. 102 1,2 - 122,4 - Ada
Jalur Hijau Tidak
20. - - - - m2
Ada
Pemadam -
21. - - - - kg/unit - Tidak
Kebakaran
Ada
Fasilitas
22.
Usaha
Penunjang
a. Kantin
20 Unit 🗸 Ada
b. Wartel - Tidak
- - - - Unit -
Ada
48
c. ATM
1,5 1,5 1 Unit 🗸 Ada
Akses Jalan
23.
Jenis Kondisi
No Dimensi Vol
Fasilitas Ket
Satuan Rusak
P L T Baik
a. Menuju
1.800 M 🗸 Ada
Pelabuhan
b. Dalam
250 M 🗸 Ada
Pelabuhan
Mess
24. 117 m2 🗸 Ada
49
2) Gang Way
Gangway / Koridor sebagai sarana penguhubung penumpang menuju
ke kapal dari ruang tunggu. Kondisi Gangway saat ini sangat baik dan bisa
digunakan untuk jalur penumpang menuju kapal. Gang way dapat dilihat
pada Gambar 4.18.
3) Cause Way
Lahan yang digunakan sebagai jalan penghubung untuk menuju
dermaga. Cause way digunakan sebagai jalan untuk kendaraan yang akan
masuk dan keluar kapal. Cause way Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat
dilihat pada Gambar 4.19.
50
4) Ruang Kontrol Movable Bridge
Dalam operasional kapal di dermaga, fungsi jembatan bergerak
movable bridge sangat diperlukan untuk mengatasi perbedaan pasang surut
air laut karena dapat diatur sesuai dengan posisi kapal. Jembatan bergerak
diatur oleh petugas yang telah ditunjuk oleh pengolah pelabuhan, maka
disediakan juga rumah movable bridge. Movable bridge yang terdapat di
Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat dilihat pada Gambar 4.20.
5) Trestle
Bangunan dari dermaga yang berfungsi sebagai jalan akses dari daratan
menuju atau sebaliknya. Trestle yang terdapat di Pelabuhan Penyebrangan
Bolok dapat dilihat pada Gambar 4.21.
51
6) Catwalk
Catwalk adalah jembatan yang menghubungkaan dermaga untuk
menuju mooring dolphin dari dermaga. Catwalk digunakan petugas untuk
menuju bolder yang terletak di mooring dolphin pada saat kapal akan sandar
dan pada saat kapal akan berlayar. Kondisi Catwalk di dermaga II saat ini
masih terdapat jalan yang bolong sehingga petugas harus berhati-hati untuk
melewati catwalk tersebut. Catwalk yang terdapat di Pelabuhan
Penyeberangan Bolok dapat dilihat pada 4.22.
7) Bolder
Bolder berfungsi untuk mengikat tali kapal yang sedang
tambat. Bolder yang terdapat di Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat
dilihat pada Gambar 4.23.
52
8) Fender
Fender berfungsi meredam energi kinetik kapal saat membentur
dermaga, sehingga menghindarkan dermaga dari kerusakan akibat
benturan. Fender pada Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat dilihat pada
Gambar 4.24
53
Movable Bridge
11. 20 7 140 m2 🗸 Ada
II
Kapasitas 40 Ton 🗸 Ada
12. Fender 7 Unit 🗸 Ada
Frontal
13. Frame 7 Buah 🗸 Ada
Bolar/ Bolder
14. 26 Buah 🗸 Ada
Rambu
15. Suar - - - 2 Unit 🗸 Ada
Ruang Kontrol
16. MB I 3,8 3,74 2,7 14,2 m2 🗸 Ada
Ruang Kontrol
17. MB II 3,8 3,74 2,7 14,2 🗸 Ada
m2
Genset MB I KVA
18. 500V 🗸 Ada
Genset KVA
19. MB II 500V 🗸 Ada
Visi :
Menjadi organisasi pemerintah yang professional, yang dapat
memfasilitasi dan mendukung mobilitas masyarakat, melalui suatu layanan
transportasi darat yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan berkeadilan,
yang aman, selamat, mudah dijangkau, berkualitas, berdaya saing tinggi, dan
54
terintegrasi dan dapat di pertanggung jawabkan.
Misi :
1) Menciptakan system pelayanan transportasi darat yang aman, selamat, dan
mampu menjangkau masyarakat dan wilayah Indonesia.
2) Menciptakan dan mengintrogasi transportasi jalan, sungai, danau dan
penyeberangan serta perkotaan yang berkualitas, berdaya saing dan
berkelanjutan.
3) Mendorong berkembangnya industri transportasi darat yang transparan dan
akuntabel. Membangun prasarana dan sarana transportasi darat.
c. Tugas Pokok dan Fungsi di Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Nusa
Tenggara Timur
Tugas :
Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Nusa Tenggara Timur
mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan lalu lintas dan angkutan jalan,
sungai, danau dan penyeberangan, serta penyelenggaraan pelabuhan
penyeberangan pada pelabuhan yang diusahakan secara komersil dan
pelabuhan yang belum diusahakan secara komersil.
Fungsi :
1) Penyusunan rencana, program dan anggaran;
2) Pelaksanaan pembangunan, pemeliharaan, peningkatan, penyelenggaraan
dan pengawasan Terminal Penumpang Tipe A, Terminal Barang, Unit
Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB), pelaksanaan
kalibrasi peralatan pengujian berkala kendaraan bermotor, pelaksanaan
pemeriksaan fisik rancang bangun sarana angkutan jalan serta pengawasan
teknis sarana lalu lintas dan angkutan di jalan nasional dan pengujian
berkala kendaraan bermotor dan industri karoseri;
3) Pelaksanaan manajemen dan rekayasa lalu lintas, pengawasan angkutan
jalan antar kota antar provinsi, angkutan orang tidak dalam trayek, angkutan
barang, penyidik dan pengusulan sanksi administrasi terhadap pelanggaran
peraturan perundang- undangan di bidang lalu lintas dan angkuatan
55
jalan,peningkatan kinerja dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan,
serta pengawasan tarif angkutan jalan;
4) Pelaksanaan pembangunan, pemeliharaan, peningkatan, penyelenggaraan,
dan pengawasan pelabuhan sungai, danau dan penyeberangan
yangdiusahakan secara komersil, penjaminan keamanan dan
ketertiban,penyidikan dan pengusulan sanksi administrasi terhadap
pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang lalu lintas dan
angkutan sungai danau dan penyeberangan yang diusahakan secara komersil
dan pelabuhan yang belum diusahakan secara komersil, peningkatan kinerja
dan keselamatan lalu lintas dan angkutan, pelayanan jasa kepelabuhan serta
pengusulan dan pemantauan tarif dan penjadwalan angkutan sungai,
danaudan penyeberangan yang diusahakan secara komersil dan pelabuhan
yangbelum diusahakan secara komersil.
5) Pelaksanaan urusan tata usaha, rumah tangga, kepegawaian, keuangan
hukum dan hubungan masyarakat;
6) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan.
56
Gambar 4. 25 Struktur Organisasi BPTD Kelas II Nusa Tenggara Timur
Sumber : Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Nusa Tenggara Tmur (2024)
57
pengoperasian, dan pemeliharaan perlengkapan jalan, rambu sungai dan danau,
sarana bantu navigasi pelayaran, dan sistem informasi manajemen lalu lintas
sungai, danau, dan penyeberangan, pengerukan dan reklamasi di kolam pelabuhan
penyeberangan dan alur sungai dan danau, pemberian rekomendasi laik fungsi
jalan nasional non-tol, pemberian bantuan teknis perlengkapan jalan, halte, dan
rambu sungai danau, pengamatan dan pemantauan perusahaan angkutan jalan,
kegiatan karoseri, penyelenggara pengujian berkala kendaraan bermotor,
pelabuhan dan penyelenggara pelabuhan sungai, danau, dan penyeberangan
komersil, operator kapal sungai, danau, dan penyeberangan, kendaraan bermotor
di jalan, tarif angkutan jalan, sungai, danau, dan penyeberangan, pemberian
subsidi angkutan jalan, pelaksanaan manajemen dan rekayasa lalu lintas,
pemenuhan perlengkapan jalan, persetujuan teknis analisis dampak lalu lintas,
pemeriksaan persyaratan teknis kendaraan, pemenuhan kelaiklautan kapal sungai,
danau, dan penyeberangan, ketepatan waktu pelayanan, dan pemberian subsidi
angkutan sungai, danau, dan penyeberangan, sarana bantu navigasi pelayaran
sungai, danau, dan penyeberangan, rambu, alur, dan halte sungai danau, kegiatan
pengerukan dan reklamasi di kolam pelabuhan penyeberangan dan alur sungai
danau, dan pemanfaatan bantuan teknis, pelaksanaan kegiatan kesyahbandaran
pada pelabuhan sungai, danau, dan penyeberangan, penegakan hukum terhadap
pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang lalu lintas dan angkutan
jalan, sungai, danau, dan penyeberangan, serta patroli dan pengamanan pelayaran
sungai, danau, dan penyeberangan.
58
5. Produktivitas Angkutan
a. Produktivitas Keberangkatan dan Kedatangan Penumpang dan Kendaraan di Lintasan Kupang - Larantuka Selama 15
Hari.
Berikut ini merupakan data produktivitas Pelabuhan Penyeberangan Bolok di Lintasan Kupang - Larantuka
selama 15 hari dapat dilihat pada Tabel 4.12 dan 4.13.
Tabel 4. 12 Data Produktivitas Kedatangan Selama 15 Hari
KEDATANGAN
KENDARAAN GOLONGAN
NO TANGGAL PNP GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL
I II III IVA IVB VA VB VIA VIB VII VIII IX
1 16 FEBRUARI 198 0 25 0 2 1 0 8 0 0 0 0 0
2024
2 19 FEBRUARI 251 0 17 0 10 4 0 0 0 0 0 0 0
2024
3 23 FEBRUARI 341 0 20 0 3 3 0 4 0 0 0 0 0
2024
4 26 FEBRUARI 432 0 19 0 4 4 0 7 0 0 0 0 0
2024
5 04 MARET 197 0 13 0 4 0 0 9 0 0 0 0 0
2024
6 08 MARET 236 0 23 0 3 2 0 6 0 1 0 0 0
2024
7 11 MARET 133 0 3 0 4 1 0 13 0 1 0 0 0
2024
8 18 MARET 90 0 3 0 2 2 0 2 0 0 0 0 0
2024
9 22 MARET 197 0 8 0 8 1 0 8 0 0 0 0 0
2024
10 25 MARET 202 0 6 0 4 1 0 10 0 0 0 0 0
2024
11 29 MARET 90 0 2 0 2 1 0 4 0 1 0 0 0
2024
12
13
14
15
Dari tabel 4.12 dapat diketahui produktivitas kedatangan selama 15 hari pada lintasan Kupang - Larantuka
untuk produktivitas paling sedikit sebesar ...... penumpang dan........ kendaraan pada tanggal .......... dan untuk
produktivitas paling banyak sebesar ....... penumpang dan ....... kendaraan pada tanggal .............
KEBERANGKATAN
KENDARAAN GOLONGAN
NO TANGGAL PNPG GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL GOL
I II III IVA IVB VA VB VIA VIB VII VIII IX
1 15 FEBRUARI 79 0 7 0 0 1 0 3 0 0 0 0 0
2024
2 18 FEBRUARI 107 0 10 0 1 1 0 9 0 0 0 0 0
2024
3 22 FEBRUARI 130 0 8 0 3 2 0 10 0 0 0 0 0
2024
4 25 FEBRUARI 194 0 15 0 3 1 0 9 0 0 0 0 0
2024
5 29 FEBRUARI 167 0 11 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0
2024
6 03 MARET 402 0 26 0 3 1 0 8 0 0 0 0 0
2024
7 07 MARET 266 0 17 0 2 3 0 8 0 0 0 0 0
2024
8 10 MARET 257 0 21 0 3 2 0 7 0 0 0 0 0
2024
9 17 MARET 107 0 6 0 3 1 0 12 0 0 0 0 0
2024
10 21 MARET 240 0 21 0 4 2 0 6 0 0 0 0 0
2024
11 24 MARET 524 0 26 0 5 0 0 7 0 0 0 0 0
2024
12 28 MARET 513 0 33 0 1 3 0 5 0 0 0 0 0
2024
13 31 MARET 188 0 22 0 1 0 0 8 0 0 0 0 0
2024
14
15
Dari tabel 4.13 dapat diketahui produktivitas keberangkatan selama 15 hari pada lintasan Kupang - Larantuka
untuk produktivitas paling sedikit sebesar ...... penumpang dan .........kendaraan pada tanggal .............. dan untuk
produktivitas paling banyak sebesar .......... penumpang dan ........... kendaraan pada tanggal ..............
211 Rabu,
Kamis,0615 Februari
Maret 20242024 56 366
609 111
149 00 83
93 00 52 15
22 0 9
23 0 72 0 0 0
222 Kamis,
Jumat, 07
16 Maret
Februari 2024
2024 66 481
1049 190
223 00 131
147 00 7
17 25
28 0 20
27 0 42 05 0 0
233 Jumar,
Sabtu, 08
17 Maret
Februari 2024
2024 65 565
745 197
198 00 120
130 00 14
15 41
31 0 19 0 3 0 0 0
244 Sabtu,
Minggu,
09 18 Februari
Maret 2024 2024 55 535
809 136
188 00 72
123 00 13
18 30
29 1 19
25 0 21 0 0 0
255 Minggu,
Senin, 1910Februari 2024
Maret 2024 55 405
676 112
159 00 74
118 00 8
12 15
13 0 10
16 0 05 0 0 0
266 Senin,
Selasa,1120Maret
Februari
20242024 15 553
58 153
45 00 90
31 00 9
10 23
3 0 24
1 0 06 0 0 10
277 Selasa,
Rabu, 21
12 Februari 2024
Maret 2024 13 256
145 75
67 00 45
53 00 37 8
11 0 14
0 0 01 0 0 0
288 Rabu,
Kamis,1322 Februari
Maret 20242024 17 687
48 179
20 00 93
12 00 11
2 33
6 0 37
0 0 05 0 0 0
1) Adapun data produktivitas yang di peroleh yaitu data produktivitas 5 tahun terakhir yang di lakukan di Pelabuhan
Penyeberangan Bolok. Data produktivitas Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat dilhat pada Tabel 4.15.
Sumber :Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Nusa Tenggara Timur (2023)
Dari hasil Tabel 4.15 diketahui dalam 5 tahun terakhir dari tahun 2018 – 2022 pada Pelabuhan Penyeberangan Bolok diketahui
setiap tahun terjadi peningkatan yang signifikan dari penumpang dan kendaraan pada Tahun 2022 sebesar 352.223 untuk
produktivitas penumpang dan 88.606 untuk produktivitas kendaraan.
2) Adapun data produktivitas yang di peroleh yaitu data produktivitas 5 tahun terakhir yang di lakukan di Pelabuhan
Penyeberangan Bolok. Data produktivitas Pelabuhan Penyeberangan Bolok lintasan Bolok – Rote dapat dilihat pada
Tabel 4.16.
Tabel 4. 16 Data Produktivitas Lintasan Kupang - Larantuka
JUMLAH GOLONGAN KENDARAAN
NO TAHUN PNP I II III IV A IV B V A VB VI A VI B VII VIII IX TRIP
KENDARAAN
1 2019
2 2020
3 2021
4 2022
5 2023
Dari hasil Tabel 4.16 diketahui dalam 5 tahun terakhir dari tahun 2019 – 2022 pada Lintasan Bolok - Rote diketahui
setiap tahun terjadi peningkatan yang signifikan dari penumpang dan kendaraan pada Tahun 2022 sebesar 133.538 untuk
produktivitas penumpang dan 40.690 untuk produktivitas kendaraan.
6. Jaringan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan
Waktu Tempuh
No Lintasan Mil Menit Jam
1 Kupang – Aimere 189 1020 17
2 Kupang – Hansisi 6 30 -
3 Kupang – Kalabahi 137 780 13
4 Kupang – Larantuka 120 780 13
5 Kupang – Lewoleba 128 900 15
6 Kupang – Rote 40 180 3
7 Kupang – Sabu 115 780 13
Sumber: Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Nusa Tenggara Timur (2024)
7. Letak lokasi Pelabuhan
Pelabuhan Penyeberangan Bolok terletak di Desa Nitneo
Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Pelabuhan Penyeberangan
Bolok merupakan Pelabuhan Penyeberangan utama di Kabupaten
Kupang. Pelabuhan ini melayani 9 lintasan dengan 8 armada kapal Ro-
Ro. Letak lokasi Pelabuhan Penyeberangan Bolok dapat dilihat pada
Gambar 4.26.
B. Analisis
1. Penyajian Data
2 EB 4975 BP II 35 - 58 40 62
3 EA 3273 YA IVA 40 65 62 33 -
4 DH 6542 KW IVB 34 61 - 37 65
5 DH 1962 AZ IVA 38 63 - 31 61
6 L 8025 VD IVA 31 67 61 - -
7 DK 8684 GV VB - 60 - 73 91
8 DH 8323 WZ VB - 74 66 42 -
9 EB 4137 BN VB 35 63 72 33 -
10 N 8524 KC VB 40 - 61 45 75
11 N 9268 UG IVB 38 60 70 - -
12 S 8393 NI VA 32 - 65 35 62
b. Dilarang Tersedia,
menghidupkan mudah
mesin kendaraan dibaca dan
selama pelayaran dilihat oleh
sampai pintu penumpang
rampa dibuka
kembali
c. Dilarang Tersedia,
membuang mudah
sampah ke laut dibaca dan
dilihat oleh
penumpang
d. Dilarang Tersedia,
bersandar di mudah
reling dibaca dan
dilihat oleh
penumpang
e. Pemberitahuan Terdapat
ketika kapal akan Himbauan
berlayar dan dari
bersandar Awak
kapal
2. Fasilias a. Hidran Tersedia 1, Sesuai dengan aturan yang
Keselamatan terletak berlaku dalam PM Nomor
Pemuatan disamping 62 Tahun 2019
Kendaraan tangga
Jenis Kondisi
No Pelayanan Kondisi Sesuai Aturan Dilapangan Dokumentasi GAP
1 Fasilitas a. Paling sedikit Tersedia dan Sesuai dengan aturan
Bongkar Muat memiliki 2 pintu berfungsinya yang berlaku dalam
rampa yang pintu rampa PM Nomor 62 Tahun
digunakan untuk 2019
jalan keluar dan
masuk
Berdasarkan survey yang telah dilakukan terdapat beberapa pelayanan yang sesuai dan tidak sesuai dengan Standar Pelayanan
Minimal Angkutan Penyeberangan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019 tentang Standar
Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan. Perbandingan Kondisi Eksisting Yang Ada Dengan Kondisi Yang Direncanakan Sesuai
PM Nomor 62 Tahun 2019 dilihat pada Tabel 4.24.
Tabel 4. 24 Perbandingan Kondisi Eksisting Yang Ada Dengan Kondisi Yang Direncanakan Sesuai PM Nomor 62 Tahun 2019
No Kapal Jenis Pelayanan Kondisi Eksisting Kondisi Seharusnya Manfaat
1. KMP. Lakaan Fasilitas Rusaknya Sprinkler dan Tersedia dan berfungsinya alat Memudahkan pengguna jasa
Keselamatan pendeteksi asap di cardeck. fasilitas keselamatan. ataupun awak kapal apabila terjadi
kecelakaan dan meminimalisir
kerugian yang terjadi.
Tidak tersedia petunjuk jalur Adanya petujuk jalur evakuasi Memberikan infomasi arah titik
evakuasi di cardeck kumpul apabila ada keadaan
darurat.
Kendaraan yang tidak di Setiap kendaraan yang berlayar Memberikan keamanan kepada
lashing dan tidak sesuai diwajibkan untuk diikat pemilik kendaraan pada saat
dengan PM No. 62 Tahun berlayar.
2019.
Fasilitas CCTV yang tidak ada pada Tersedia dan berfungsi dengan Rekaman bisa dijadikan kunci
Keamanan buritan ataupun haluan. baik, diletakkan pada haluan apabila terjadi tindak pencurian,
dan buritan dan dipasang pembunuhan, kecelakaan dll.
paling sedikit dua unit.
Ruang Geladak Masih sulitnya kendaraan Pembatasan golongan Menghindari kerusakan pada saat
Kapal besar untuk memasuki maupun kendaraan yang masuk ke kendaraan tinggi pada saat masuk
keluar dari kapal karena tinggi kapal dan perlu penambahan ke atas kapal serta memberikan
cardeck kapal tidak sesuai. kapal lain yang besar ukuran keamanan kepada pemilik
tinggi cardeck nya sesuai kendaraan yang memiliki tinggi
dengan aturan yang berlaku. apabila cardeck tidak sesuai.
Kendaraan yang tidak Setiap kendaraan yang berlayar Memberikan keamanan kepada
semuanya di lashing dan tidak diwajibkan untuk diikat. pemilik kendaraan pada saat
sesuai dengan PM No. 62 berlayar.
Tahun
2019.
Lampu penerangan yang tidak Berfungsinya sebagai sumber Memudahkan pengemudi untuk
dihidupkan di cardeck, adanya cahaya di kapal memarkirkan kendaraan di cardeck
lampu yang rusak serta hanya penyeberangan untuk kapal.
menggunakan tenaga surya memberikan kemudahan
untuk pencahayaan selama pengemudi pada saat
berlayar. menempatkan kendaraan di
Kapal.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisa dan pembahasan maka peneliti menarik kesimpulan
dari tinjauan tingkat kesesuaian Standar Pelayanan Minimal pemuatan kendaraan
di atas kapal KMP. Lakaan pada pelabuhan penyeberangan Bolok, yaitu :
1. Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019
tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan. Sesuai dengan
survey yang dilakukan Standar Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan
masih belum sesuai dengan aturan.
2. Adapun aspek yang harus ditingkatkan dan atau diperbaiki agar Standar
Pelayanan Minimal Pemuatan Kendaraan diatas kapal sesuai dengan
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019 tentang Standar
Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan. Aspek yang perlu ditingkatkan
yaitu :
a. KMP. Lakaan
Aspek keselamatan berupa: 1) Sprinkler; 2) Pendeteksi asap; 3)
Petunjuk jalur evakuasi; dan 4) Pengikatan kendaraan, aspek keamanan
berupa: CCTV, dan aspek kemudahan/keterjangkauan berupa: 1) Tinggi
cardeck; 2) Posisi kendaraan; dan 3) Lampu Penerangan.
B. Saran
Panji Kusuma. (2008). Analisis Sistem Lashing Pada Ferry Untuk Keselamatan
Transportasi Laut. Universitas Indonesia, diakses dari :
file:///C:/Users/Echa/Downloads/digital_2016-10_20250339-S38091-Panji
%20Kusuma-1.pdf