Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Suatu zat cair dapat ditentukan indeks biasnya dengan menggunakan suatu zat pengukur yang bekerja berdasarkan prinsip sudut kritis . Penentuan indeks bias cahaya berpatokan pada salah satu sifat cahaya, yaitu perubahan kecepatan cahaya di dalam suatu medium tertentu, sehingga cahaya dapat mengalami pembelokkan arah cahaya. 1.2 Identifikasi Masalah Jika suatu cahaya melewati dua batas medium yang berbeda, maka cahaya akan mengalami perubahan kecepatan pada medium tersebut dan inj disebut indeks bias. Pada percobaan ini, digunakan alat Refraktometer ABBE yang bekerja dengan menggunakan seperangkat lensa yang dapat membelokkan arah cahaya datang. Dengan adanya pembelokkan arah cahaya ini, maka akan dihasilkan sudut kritis lensa yang merupakan sudut yang dapat menentukan indeks bias zat tertentu. 1.3 Tujuan Percobaan 1. Mempelajari prinsip kerja alat Refraktometer ABBE. 2. Mengukur indeks bias suatu cairan. 3. Mengetahui pengaruh suhu terhadap indeks bias. 4. Menentukan dispersi nf - nc. 1.4 Metoda Percobaan Dalam praktikum tentang refraktometer ABBE ini kita akan

membandingkan besar harga indeks bias yang terdapat dalam teori dengan

percobaan yang telah kita lakukan. Kemudian pada percobaan ini juga kita akan mempelajari pengarh dari perubahan suhu terhadap indeks bias, terutama indeks bias minyak dan air sehingga dapat diperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan praktikum dari teori dan kesimpulan yang didapat selama mengerjakan percobaan tersebut. 1.5 Sistematika Percobaan Laporan ini terdiri dari beberapa bab pokok bahasan , yaitu : a. Bab 1 : Pada bab pendahuluan ini terdapat inti dari percobaan yang telah dilakukan, seperti latar belakang, identifikasi masalah, tujuan percobaan, dan metode percobaan. b. c. Bab 2 : Berisikan teori dasar yang menunjang percobaan ini baik dari Bab 3 : Pada bab tiga dibahas tentang alat-alat percobaan yang penurunan rumus dan pengertian-pengertiannya. digunakan selama praktikum berlangsung dan prosedur percobaan serta langkah-langkah yang dilakukan selama praktikum berlangsung. d. e. Bab 4 : Dalam bab ini terdapat data yang diperoleh selama praktikum Bab 5 : Pada bab ini terdapat kesimpulan serta saran dalam percobaan dilakukan beserta pembahasannya dan tugas dari laporan akhir. yang telah dilaksanakan. I. 6 Waktu & Tempat Percobaan Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fisika Menengah, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran, pada hari Selasa tanggal 18 dan 25 April 2005 pukul 08.00 11.00 WIB.

BAB II TEORI DASAR


2.1 Pengertian Refraktometer ABBE adalah suatu alat pengukur indeks bias suatu zat cair yang mempunyai nilai indeks bias antara 1,3 dan 1,7. Pengukuran indeks bias ini penting untuk pengukuran sifat dan kemurnian cairan, konsentrasi larutan dan perbandingan komponen dua zat cair yang diekstraksikan dalam pelarut. Indeks refraksi suatu medium ke medium lain biasanya bergantung kepada panjang gelombang. Tidak seperti halnya refleksi, berdasarkan kenyataan ini, refraksi dapat digunakan untuk menguraikan cahaya atas komponenkomponen panjang gelombangnya. Pengukuran oleh refraktometer ABBE ini didasari oleh prinsip sudut batas(kritis), yaitu apabila sinar cahaya monokromatis berpindah dari medium optik yang kurang rapat, ke medium optik yang lebih rapat, maka akan terjadi pembiasan ke arah normal. Hukum Snellius : sin i sin r = n2 n1

Sudut r akan mencapai harga maksimum, jika sudut i hampir sama dengan 90o. Karena sin 90o = 1, maka : 1 / sin r = n2 / n1 sin r = n1 / n2 Pada refraktometer, garis batas antara gelap dan terang ditentukan dengan menjatuhkan sinar dari medium 1 dengan indeks bias n1 yang harus diukur melalui bidang batas kepada prisma 2 dengan indeks bias n2 yang sudah diketahui dan n2 >> dari n1. 0leh karena n2 telah diketahui, maka indeks bias dari n1 dapat dihitung. 2.2 Prinsip Kerja Refraktometer ABBE

Refraktormeter ABBE adalah alat pengukur indeks bias suatu zat cair yang mempunyai indeks bias antara 1,3 dan 1,7. Prinsip kerja alat ini didasarkan pada sifat sudut kritis. Refraktometer ABBE terdiri dari sebuah teleskop dengan dua prisma pembias P dan P, dua prisma amici K1 dan K2, dan cermin datar sebagai pemantul. Objek yang akan diukur indeksnya diletakkan diantara prisma P dan P. Tiap sistem prisma K1 dan K2 terdiri dari masing-masing tiga prisma yang ditempelkan. Sistem ini dinamakan kompensator. Tiga prisma ini terdiri dari dua buah lensa korona dan satu buah lensa flinta. Kompensator berfungsi untuk menjadikan sinar polikromatik menjadi (spektrum) sinar monokromatik dari suatu sumber cahaya.

K1 K2

cermin Gambar 1. Skema refraktometer ABBE. 2.3 Pengukuran Indeks Bias Indeks bias zat cair yang akan diamati harus lebih kecil dari indeks bias n. Besar n tergantung daripada panjang gelombang cahaya monokromatik yang digunakan. Cahaya yang digunakan adalah cahaya kuning. Cahaya kuning yang melewati kompensator akan diteruskan tanpa mengalami deviasi. Dispersi dapat menjadi nol, bila alas kedua prisma amici ini sejajar dan saling terbalik. Tiap kali pengukuran n, kompensator disetel sedemikian rupa sehingga batas terang dan gelap dalam teleskop tidak terlihat adanya warna

lagi. Bila suatu bahan dengan indeks bias n ditempelkan pada gelas prisma yang mempunyai indeks bias ng dan sudut bias A, seperti ditunjukkan pada gambar : i A n r ng

Dengan menggunakan Hukum Snellius didapatkan : nu sin i = ng sin r dengan nu = indeks bias udara =1 ,maka : sin i = ng sin r Dari hukum Snellius : n sin = ng sin Dengan perhitungan geometri : A + = 1800 + r + = 1800 n sin 900 = ng sin n = ng sin n = ng sin (A - r) n = ng sin A cos r - ng cos A sin r cos r = (1 - sin2 r)1/2 ng sin r = sin i, maka : n = ng sin A (1 - sin2r)1/2 - cos A sin i n = sin A { (ng2 - sin2r) - cos A sin i }1/2 A=r+ =A-r

adalah sudut kritis, sedang n < ng, maka = 900

2.4 Polarisasi Pada Dielektrik Satu bahan dielektrik dengan konstanta bila berada pada medan listrik E maka terjadi polarisasi dalam bahan. Polarisasi (P) pada satu partikel dalam bahan adalah : P= E ; = Polarizabilitas

Maka bila ada N partikel dalam polarisasi total adalah : P=N E Karena terjadi polarisasi maka terjadi displacement partikel-partikel dalam bahan (D), yaitu : D= E E= E= = / (1) Indeks refraktif (indeks bias) bahan dirumuskan : n = C/V dimana: C = kecepatan gelombang elektromagnetik pada vacuum. V = kecepatan gelombang elektromagnetik pada bahan. n = ( / n2 = /
o o o o o

; D = Do + P E+P E+N E ;
o

= konstanta dielektrik pada vacum

+ N
o

=1+N /

) : ( /

). (2)

Dari persamaan (1) diperoleh n2 = 1 + N /


o

(3)

Teori Dielektrik Secara Mikro Medan molekul (Em) adalah medan listrik yang menyebabkan polarisasi molekul bahan dielektrik. Medan ini disebabkan oleh : Semua sumber luar. Semua molekul terpolarisasi dalam dielektrik kecuali pada suatu molekul yang ditinjau. Em = Ex + Ed + Es + E Dimana: Ex = Medan listrik primer yang ditimbulkan oleh muatan plat paralel. Ex = ( 1/ permukaan
o

; = Rapat muatan (C/m2)

Ed = Medan dipolarisasi yang disebabkan oleh polarisasi muatan pada diluar dielektrik. Ed = - 1/ ; p = rapat muatan polarisasi Dimana Ed dapat dirumuskan:
o p

Ed = - 1/ o P Es = medan listrik akibat polarisasi muatan pada permukaan Cavity (rongga) Es = {1 / (3 o)} P E = medan listrik akibat semua dipole dalam Cavity. E = 0, karena arah dipole bersifat acak (random). Em = Ex + Ed + Es Em = / o (P/ o) + {1/(3 o)}P Em = {E + (P/ o)} P/ o + P/(3 o) /
o

; E + P/ o=

Em = E + {1/(3 o)} P (a)

Jadi polarisasi molekul dalam bahan adalah : Pm = Em Jika pada bahan terdapat N molekul P = NPm = N Em Substitusi (a) dan (b) : (b)

P = N

{ E + P/(3 o)} maka :

Dengan pengertian P = (K-1) o E dengan K = / (K-1) o E = N E + {N /(3 o )} (K-1) o E (K-1) o = [N +{ N/(3 o)} (K-1) o] ( K-1 ) = [N + { N/(3 o)} (K-1)] (3 o) (K-1) = N ( K+2 )
o o

Dengan n2 = / = (c) Refraksi

= K maka:

(3 o) ( n2 1) N (n2 + 2) (rm) didefinisikan Refraksi dari gelombang

molekuler

elektromagnerik pada 1 mol molekul tersebut, sehingga jumlah partikelnya sama dengan bilangan Avogadro (No) = 6,027 X 1023 ) rm = No 3 Substitusi (c) ke (d) yaitu: rm
= o

(d)

No 3

(3 o) (n2 1) N (n2 + 2)

Dengan No / N = M / M = berat molekul = rapat massa

rm = M / (n2 1) (n2 + 2)

Refraksi Spesifik ( rs ) didefinisikan refraksi molekuler persatuan berat molekul. rs = rm / M maka :

rs =

(n2 1) (n2 + 2)

2.5 Penentuan Dispersi nf - nc Dengan mencatat pembacaan skala d dan kompensator, dapat digunakan untuk menentukan dispersi suatu zat yaitu selisih indeks bias garis korona dan garis flinta dari hidrogen. Selain dengan grafik, dapat pula ditentukan dengan rumus empiris : (Air) (Minyak) 2.6 Koreksi Temperatur prisma dalam refraktormeter tidak sama, maka perlu adanya koreksi untuk harga-harga nd dengan persamaan : nd kor = nd + R x 10-5 , dengan : R = 29,5 A (T1- 20) + 0,094 [ (0,04525 / A ) n ] [ ( T2-20) d ] Dimana : nd kor nd R x 10-5 A = indeks bias hasil koreksi = indeks bias yang dikoreksi = nilai koreksi = Konstanta yang terdapat pada persamaan penentuan dispersi nf - nc = 4.10-7d3 4.10-5 d2 + 9.10-5 d + 0,0465 nf - nc = 4.10-7d3 3.10-5 d2 + 8.10-5 d + 0,0435

T1 T2

= temperatur prisma ABBE = temperatur prisma kompensator

BAB III ALAT-ALAT & PROSEDUR PERCOBAAN


3.1 ALAT-ALAT PERCOBAAN 1. Refraktometer ABBE Sebagai alat untuk menentukan indeks bias suatu medium. 2. Lampu Natrium Sebagai sumber cahaya monokromatik yang digunakan untuk menentukan indeks bias zat cair. 3. Bejana air beserta pompa dan pipa pipa penghubung Sebagai sarana percobaan. 4. Air suling dan minyak Sebagai objek yang akan diukur indeks biasnya. 5. Pemanas Untuk memanaskan air suling saat diukur indeks biasnya dalam percobaan. 6. Minyak dan air Berfungsi sebagai zat cair yang akan diukur indeks biasnya. 7. Termometer Sebagi alat untuk mengukur suhu. 3.2 PROSEDUR PERCOBAAN A. Persiapan 1. Nyalakan lampu natrium dengan menggunakan sumber tegangan 110V, tunggu selama 5 meitMenentukan indeks bias minyak pada suhu kamar. 2. Pasang termometer pada refraktor

10

Hubungkan pipa-pipa pada refraktor ABBE.Pipa dar

pompa dipasangkan pada lubang masukan pada refraktometer .Lubang 3 dan 4 dihubungkan dengan pipa ke bejana. PP Input dari pompa Output ke bejana

B. Pengambilan Data a. Menentukan indeks bias minyak pada suhu kamar. 1. 2. Buka prisma dengan hati-hati,kemudian teteskan satu tetes Menyetel okuler refraktometer sehingga terlihat skala menyetel cermin cahaya minyak di atas prisma.Tutup dan kuncikan hingga teguh. dengan jelas. 3. Mengamati dengan teleskop dan sehingga garis silang terlihat jelas. 4. Memutar kompensator sehingga didapat garis terang dan gelap tidak berwarana. 5. Menghimpitkan garis batas dengan pertengahan garis silang. 6. Mencatat indeks bias n dan pergeseran kompensator. 7. Mengulang percobaan tiga kali untuk tiap zat cair. b. Menentukan indeks bias air suling dalam berbagai temperatur 1. Mengalirkan air melalui prisma refraktometer ABBE dengan temperatur air yang berubah antara 25oC 60oC 2. Pada suhu 25o lakukan percobaan seperti diatas.(a). 3. 4. Melakukan percobaan 2 untuk variasi suhu antara 25o Mengambil delapan macam temperatur dan untuk setiap sampai dengan 60 temperatur mencatat harga n dan d.

11

5.

Dengan bantuan grafik tentukan nilai nf nc pada masing-

masing variasi suhu.

BAB IV DATA PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA

I. TABEL DATA I.1. INDEKS BIAS MINYAK Tref(0C) 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 D 60 36 8 49 49 49 47 25 21 24 nd 1,505 1,5025 1,4921 1,505 1,502 1,503 1,506 1,496 1,496 1,501 nf-nc 0,007 0,0195 0,0415 0,0105 0,0103 0,0104 0,0112 0,0298 0,0332 0,0312

I.2. INDEKS BIAS AIR BERBAGAI SUHU Tref 28 31 35,6 41 45,8 51 55,5 60,2 Tair 27 30 35 40 45 50 55 60 d 51 51 42 42 34 34 34 34 nd 1,332 1,327 1,332 1,328 1,33 1,334 1,323 1,324 nf-nf 0,0075 0,00748 0,014 0,0139 0,02155 0,275 0,216 0,216

II. PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA II.1. Nilai Terbaik Indeks Bias Minyak

12

Untuk menghitung harga indeks bias terbaik dan sesatannya, maka dapat dihitung dengan menggunakan rumusan :
nd =

nd
N

= 1,50086

Kemudian harga sesatannya dapat ditentukan dengan rumusan : = 0.000548 N 1 Maka diperoleh harga indeks bias terbaik beserta sesatannya, yaitu sebesar
nd =
i

nd

Nx nd

(n d ) d n

= 1.50085 0.000548 nd Minyak Koreksi dan Nilai nf-nc Perhitungan

II.2.

Untuk menghitung harga indeks bias koreksi dan besarnya kesalahan relatif, maka dapat dihitung dengan menggunakan rumusan : ndkoreksi = nd + R x 10-5 Dengan harga R menggunakan rumus : R = 29,5 A (T1 20) + 0,094 [(0,04525/D) nd][(T2 20)d] Untuk mencari kesalahan relatif terhadap indeks bias minyak koreksi menggunakan rumus :
KSR = nd koreksi nd percobaan nd koreksi x100 %

Untuk menentukan harga nf nc dari indeks bias minyak secara perhitungan, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : (nf - nc)perhit 0,0435 Hasil nf nc yang diperoleh dari perhitungan tersebut dibandingkan dengan nf-nc dari percobaan, dengan rumusan :
KSR = ( nf nc ) perhitunga
n

3,85.10-7d3 3,4480.10-5d2 + 8,3965.10-5d +

(nf nc ) percobaan
n

( nf nc ) perhitunga

x100 %

Sehingga hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : nd 1,505 1,5025 1,4921 nf-nc 0,007 0,0195 0,0415 ndkor 1,505149 1,502656 1,492265 KSR 0,009874 0,010384 0,011032 nf-nc kor 0,007573 0,019803 0,042166 KSR 7,57233 1,52913 1,57879

13

1,505 1,502 1,503 1,506 1,496 1,496 1,501 II.3.

0,0105 0,0103 0,0104 0,0112 0,0298 0,0332 0,0312 Grafik

1,505152 1,502152 1,503152 1,506153 1,496159 1,496161 1,50116

0,010098 0,010125 0,010116 0,01013 0,01066 0,010741 0,01064

0,010126 0,010126 0,010126 0,011255 0,030068 0,033627 0,030981

3,6908 1,715737 2,703269 0,49292 0,89243 1,26881 0,708478

II.4.

nd Koreksi dan nf-nc Koreksi untuk Air

Menghitung harga indeks bias (nd) koreksi dengan rumusan sebagai berikut : ndkoreksi = nd + R x 10-5 Dengan R : R = 29,5 A (T1 20) + 0,094 [(0,04525/D) n][(T2 20)d] Untuk mencari kesalahan relatif terhadap indeks bias air koreksi menggunakan rumus :
KSR = nd koreksi nd percobaan nd koreksi x100 %

Untuk menentukan harga nf nc dari indeks bias minyak secara perhitungan, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : (nf - nc)perhit = 4,31.10-7d3 3,8789.10-5d2 + 8,7686.10-5d + 0,046535811

14

Hasil nf nc yang diperoleh dari perhitungan tersebut dibandingkan dengan nf-nc dari percobaan, dengan rumusan :
KSR = ( nf nc ) perhitunga
n

(nf nc ) percobaan
n

( nf nc ) perhitunga

x100 %

Sehingga hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : nd 1,332 1,327 1,332 1,328 1,33 1,334 1,323 1,324 nf-nf 0,0075 0,00748 0,014 0,0139 0,02155 0,0275 0,0216 0,0216 ndkor 1,332098 1,327139 1,332204 1,328278 1,330346 1,334417 1,32348 1,324544 ksr 0,00734 0,010484 0,015331 0,020966 0,026023 0,031287 0,036232 0,041072 Nf-nckor 0,00729 0,00729 0,013727 0,013727 0,021617 0,021617 0,021617 0,021617 KSR 2,877991 2,60365 1,990602 1,262097 -0,31029 27,21425 -0,07899 -0,07899

15

ANALISA DATA Untuk tabel pengamatan indeks bias minyak diperoleh indeks bias (nd) berubah dan lama kelamaan tetap pada suhu kamar. Selain itu, nilai nd tidak dipengaruhi langsung oleh perubahan nilai d, sedangkan nilai (nf nc) dipengaruhi oleh nilai nd dan d. Untuk tabel pengamatan indeks air suling, terlihat bahwa semakin tinggi suhu ruangannya , maka nilai indeks bias air suling akan semakin mengecil, ini berarti bahwa indeks bias air suling dipengaruhi oleh perubahan suhu ruangan. Sedangkan nilai (nf nc) sangat dipengaruhi oleh perubahan nilai nd dan d-nya. Perbedaan suhu terjadi pada T1 dan T2 dikarenakan pada suhu T1 suhunya dipengaruhi juga oleh suhu ruangan, sedangkan untuk T1 tidak terpengaruhi suhu ruangan.

Analisa Grafik : Dari tampilan grafik diatas kita dapat perhatikan bahwa indeks bias air terhadap suhu, merupakan berbanding terbalik, disaat suhunya semakin tinggi maka indeks biasnya semakin kecil, dengan harga mt adalah minus dan harga ntnya adalah plus. Sama halnya dengan data yang diperoleh semakin besarnya suhu maka akan semakin kecil indeks biasnya. Dan dapat dilhat dari tampilan grafik diatas, bahwa grafik sebenarnya berbentuk tak beraturan, tapi walaupun demikian garfik diatas dapat dikatakan hampir mendekati linier kebawah.

16

BAB V KESIMPULAN PERCOBAAN


Setelah kita melakukan percobaan tentang refraktometer ABBE maka dapat disimpulan bahwa harga indeks bias minyak sebesar 1,5104 dan harga indeks bias air suling sebesar 1.3305 hampir mendekati dengan harga indeks bias minyak yang sebesar 1,51 dan harga indeks bias air yang sebesar 1,33, sehingga dapat kita tarik kesimpulan bahwa harga indeks bias minyak lebih besar daripada indeks bias air suling. Temperatur sangat mempengaruhi nilai indeks bias. Semakin besar temperatur, maka semakin kecil indeks bias cairan (minyak dan air ). Untuk tabel pengamatan indeks air suling, terlihat bahwa semakin tinggi suhu ruangannya , maka nilai indeks bias air suling akan semakin mengecil, ini berarti bahwa indeks bias air suling dipengaruhi oleh perubahan suhu ruangan. Sedangkan nilai (nf nc) sangat dipengaruhi oleh perubahan nilai nd dan d-nya. Perbedaan suhu terjadi pada T1 dan T2 dikarenakan pada suhu T1 suhunya dipengaruhi juga oleh suhu ruangan, sedangkan untuk T1 tidak terpengaruhi suhu ruangan. Dan yang terakhir dilakukan yaitu kita harus menghitung nilai kesalahan relatif yang menunjukan kesuksesan kita dalam praktikum

17