Realita Haji : 1

Edisi VI / Tahun 2011

Daftar ISI
Salam Redaksi Surat Pembaca Sorotan Fokus Realita Info Kebijkakan Info Daerah Asrama Haji Hajisiana Resensi Buku Kronika Dalam Negeri Kronika Luar Negeri PIAK (Program Inisiatif Anti Korupsi) 3 4 5 6 12 22 25 28 32 34 37 39

Realita Haji : 2
Edisi VI / Tahun 2011

Salam Redaksi RH VI/2011

E siensi Penyelenggaraan Haji 1432H/2011M

A

lhamdulillah, penyelenggaraan ibadah haji tahun 1432H/2011M secara umum berlangsung lancar dan sukses. Dari 11 Embarkasi Haji yang ada di seluruh Indonesia telah bisa melaksanakan tugasnya dengan baik memberangkatkan para calon jemaah haji ke Tanah Suci sesuai rencana. Tentu saja, untuk bisa memastikan, bagaimana penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, kita harus bersabar menunggu terselenggaranya Rapat Kerja Nasional Evaluasi Haji 1432H/2011M yang biasanya dilangsungkan pada Januari 2012. Untuk sementara dari hasil pemantauan tim Realita Haji, baik di beberapa embarkasi pemberangkatan jemaah calon haji atau pun di Saudi Arabia, hingga saat ini tidak ada peristiwa besar yang sampai mengganggu prosesi penyelenggaraan ibadah haji, kecuali ada keluhan sebagian kecil jemaah haji yang sulit mendapatkan angkutan untuk bisa beribadah di Masjidil Haram serta terlambatnya penyediaan konsumsi oleh perusahaan katering tertentu, sehingga sebagian jemaah haji mengalami keterlambatan untuk makan. Terhadap perusahaan katering tersebut, Menteri Agama Suryadharma Ali minta untuk musim haji yang akan datang, perusahaan nakal tersebut tidak perlu dikasih kesempatan untuk menyediakan konsumsi bagi para jemaah haji Indonesia. Operasionalisasi penyelenggaraan ibadah haji tersebut akan menjadi laporan utama atau dalam rubrik Fokus Realita dalam majalah internal Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) Realita Haji ini. Laporan ini merupakan rangkuman kegiatan pemberangkatan para jemaah calon haji dari beberapa Embarkasi Haji, mulai dari Embarkasi Haji Jakarta, Medan, Solo, Padang, dan sebagainya. Tentu saja laporan dari kegiatan penyelenggaraan ibadah haji di Daerah Kerja (Daker) Makkah, Madinah, Jeddah serta kegiatan secara umum selama musim haji, akan melengkapi laporan utama tersebut. Rubrik lainnya akan hadir seperti biasanya. Untuk rubrik resensi buku, kita turunkan pengalaman seorang muallaf yang sebelumnya beragama Kristen, setelah menjadi Muslim lantas menunaikan ibadah haji dengan judul ‘’Orang Kristen Naik Haji’’. Kemudian ada juga profile Asrama Haji Medan (Armed) serta pelayanan prima Embarkasi Haji Batam, dalam rubrik Info Daerah. Demikianlah gambaran sekilas isi majalah yang kita cintai ini. Seperti Surat Pembaca datang dari seorang reporter News Agency, Jepang, Nekkei yang menanyakan beberapa masalah terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji untuk kepentingan penulisan reportase rukun Islam ke lima tersebut. Tentu saja, sebagai pengelola majalah tersebut, kami berharap semoga semua itu akan menambah wawasan para pembaca yang budiman, tentang penyelenggaraan ibadah haji yang setiap tahun kita selenggarakan. Koreksi dan tegoran, selalu kami harapkan demi perbaikan isi dan performa majalah yang kita cintai ini. Wassalam Redaksi

Pengarah Slamet Riyanto Penanggung Jawab Cepi Supriatna Pimpinan Redaksi M. Amin Akkas Wakil Pimpinan Redaksi Ali Rokhmad Sekretaris Redaksi Affan Rangkuti Redaktur Senior Ahmad Baedowi Mustofa Helmi Redaktur A. Kartono Zainal Abidin Supi Ahmad Djunaedi Bahar Maksum Toto Sugiarto Editor Edy Supriyatna Suviyanto Kadar Santoso Nashir Maqsudi Reza Muhammad Desain Visual & Fotografer Syaiful Asifuddin Tau q Erwin Haryadi Misbachul Munir Ahmad Rizal Dhias Rangga Ananta Sekretariat Tamriyanto Erwin Julistyawan Ratna Salbiah Kun Ismanto Eko Dwi Irianto Widya Ningsih Fajris Saidah Endang Sugandi Herianto Diterbitkan Oleh : Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI Alamat Redaksi : Gedung Kementerian Agama , Lt.VI/B.608 Jl. Lapangan Banteng Barat, No.3-4 Jakarta Pusat 10710 Redaksi menerima kritik dan saran dari Telepon (021)3846446, Fax. pembaca.(021)34831417 Di samping itu menerima
tulisan yang berkaitan dengan penyelenggaraan haji dan umrah. Tulisan dapat dikirim ke redaksi atau email: Realita Haji : realita@haji.kemenag.go.id Edisi VI / Tahun 2011

3

Surat Pembaca
Assalamualaikum wr.wb. Mohon petunjuk dan info dimana dan bagaimana prosedurnya melakukan pendaftaran untuk menunaikan ibadah haji, termasuk proses penyetoran biaya perjalanan ibadah haji. Terima kasih Terimakasih telah menghubungi kami,. untuk tatacara pendaftaran haji, sialhkan anda merujuk pada video multimedia berikut: http://haji.kemenag.go.id/index.php/subMenu/multimedia/video/ detail_multimedia/22 Assalamualaikum wr. wb. Saya ingin menanyakan bagaimana prosedur claim asuransi haji? Untuk prosedur klaim asuransi, silahkan anda melihat video multimedia pada website kami: http://haji.kemenag.go.id/index.php/ subMenu/multimedia/video/detail_multimedia/9 Keluarga sudah diperbaiki. Yang saya tanyakan bagaimana caranya untuk memperbaiki kesalahan tersebut....? Terima kasih Wasssalamualaikum wr wb Myrna Yuliana Rahman Perum Persada Kemala Jatibening, Bekasi Wa’alaikumsalam Wr Wb, Untuk permasalahan tersebut, ibu langsung saja datang ke kantor kemenag bekasi untuk melapor kesalahan data dengan membawa bukti setor awal, ktp atau paspor serta kk, untuk dibuatkan surat ke siskohat pusat. setelah datanya dirubah nanti ibu datang ke bank tempat mendaftar untuk cetak ulang bukti setoran awal. saya insya Alloh masuk daftar antri berangkat haji tahun ini. kalau saya mau berangkat haji lagi reguler untuk menghajikan ibu saya, kapan saya bisa mendaftar lagi? Eka Ardiansyah kp. asem kulon rt 1 rw 4 no 21 cibatu garut Jawaban dari Redaksi Assalamualaikum wr wb, Sebelumnya Kami ucapkan terimakasih kepada Saudara. Perlu Kami sampaikan bahwa pendaftaran haji dapat dilakukan sepanjang tahun, hanya saja jika sudah pernah melakukan ibadah haji dengan nama yang sama menurut regulasi yang berlaku maka yang belum pernah berangkat haji akan didahulukan. dengan begitu maka waiting list Saudara akan menjadi lama.

Saya No porsi 0900078121 beserta istri (78122) dan saudara perempuannya (78508) terdaftar di DKI Jakarta untuk keberangkatan 1433H. Saudara istri saya tersebut beberapa bulan yang lalu pindah ke Bandung dan berganti KTP Bandung. Apakah dia tetap bisa berangkat bersama kami dari DKI Jakarta? Karena dia sudah dititipkan oleh suaminya yang tidak bisa berangkat karena kondisi kesehatan. kalau harus ada dokumen yang harus dilengkapi dari Bandung mohon penjelasan bapak, terimakasih. Terimakasih telah menghubungi kami,. Untuk tata cara mutasi silahkan saudara merujuka pada video multimedia berikut: http://haji. kemenag.go.id/index.php/subMenu/346 Assalamualakum.. saya mau tanya apakah dengan pelunasan ONH lebih awal, porsi pemberangkatan haji saya bisa maju??karena estimasi keberangkatan saya tahun 2014 Era Riadiani jl. dr sutomo 25 Bangil-Kabupaten Pasuruan Terimkasih Pendaftaran haji memiliki peraturan, dimana yang dahulu mendaftar akan dahulu pula berhak melunasi dan akan dahulu pula di akan diberangkatkan ke tanah suci. Assalamualaikkum wr wb. Pada saat saya melakukan pendaftaran haji ternyata ada kesalahan dan terlanjur di input kedalam Siskohat. Kesalahan itu adalah nama ayah saya, dan ternyata kesalahan itu bersumber dari Kartu Keluarga. Nah saat ini nama ayah saya di Kartu

Realita Haji : 4
Edisi VI / Tahun 2011

Sorotan

Penyelenggaraan Haji Selalu Ditingkatkan
Drs. M. Amin Akkas, M.Si

P

rosesi penyelenggaraan ibadah haji 1432H/2011M, selesai sudah dengan usainya puncak ibadah haji wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah 1432. Dari serangkaian acara itu, memang tidak mungkin tidak akan ada cela. Tetapi usaha untuk terus menyempurnakannya, secara terus menerus dilakukan oleh pihakpihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji sebagai tugas nasional. Penyelenggaraan ibadah haji tidak mungkin sempurna seratus persen. Tetapi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji sebagai tugas nasional, selalu berusaha secara maksimal untuk terus menyempurnakannya hingga tidak ada celah untuk terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Dari serangkaian program itu, sebenarnya semuanya bisa dikatakan sebagai kegiatan rutin yang sudah puluhan tahun dilaksanakan seperti itu-itu saja. Hanya saja, ketika dalam prosesi itu melibatkan pihak lain, di sinilah proses tarik ulur terjadi yang sering menyita waktu, menguras tenaga dan pikiran yang sangat melelahkan hingga pada akhirnya mengurangi kelancaran serangkaian program yang telah tersusun rapi. Salah satunya adalah pembahasan BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) Pembahasan BPIH ini dilakukan bersama antara Pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Agama dengan Komisi VIII DPR RI serta pihak-pihak terkait. Dalam pembahasan ini menyita waktu yang cukup lama disebabkan pencermatan struktur biaya yang berorientasi pada keberpihakan pada Jemaah haji. Keputusan BPIH sebenarnya merupakan awal dari mulainya para jemaah calon haji untuk melunasi pembayaran BPIH. Dari sini mereka kemudian bisa mengikuti latihan manasik haji, membuat paspor sekaligus dengan pemvisaannya hingga persiapan untuk berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Penetapan BPIH lebih dini akan sangat membantu prosesi penyelenggaraan. Katakanlah seperti untuk penyelenggaraan latihan manasik haji, bisa dilaksanakan mulai kisaran bulan Maret. Tetapi ada berita menarik dari Komisi VIII DPR RI dalam sidangnya pada 20 Juli lalu yang memutuskan untuk membahas sistem pembahasan BPIH agar lebih e sien pada Januari 2012. Langkah itu kita harapkan semoga pembahasan BPIH nantinya bisa lebih e sien serta bisa dilangsungkan awal-awal tahun setelah selesainya penyelenggaraan ibadah haji tahun sebelumnya. Sehingga, keputusan penetapan BPIH bisa lebih cepat. Sehingga pengalaman selama ini, dimana akibat pendeknya waktu antara penetapan BPIH dengan pelunasannya serta persiapan pemberangkatan jemaah haji ke Tanah Suci, selalu menimbulkan kesibukan yang luar biasa yang menimbulkan kesulitan bagi aparat Kementerian Agama khususnya. Hal seperti itu diharapkan tidak perlu terjadi lagi di masa mendatang. Demikianlah, upaya terus memperbaiki penyelenggaraan ibadah haji secara terus menerus tanpa mengenal lelah. Semua itu dilakukan demi membina, melayani dan memberikan perlindungan bagi para jemaah haji , sehingga mereka bisa beribadah dengan khusyuk dan tenang serta sempurna demi meraih haji mabrur yang diridlai oleh Allah SWT, amin ya rabbal alamin.

Realita Haji : 5

Edisi VI / Tahun 2011

Fokus Realita

Menag Lepas Jamaah Kloter Awal
Menag Suryadharma Ali didampingi Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih melepas jamaah haji kloter pertama Embarkasi Jakarta di Bandara Soekarno Hatta (2 Okt 2011)

Photo : MCH Kemenag

M

enteri Agama Suryadharma Ali melepas keberangkatan Jamaah Haji secara nasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang. Pelepasan ini dilakukan dengan simbol penyerahan bendera merah putih dari Menag kepada perwakilan jamaah. Kepada para tamu Allah, Menteri Agama berpesan agar berkonsentrasi pada ibadah dan tidak boros berbelanja. “Saya berharap harus betul-betul diiringi niat yang fokus untuk beribadah dengan sebaik-baiknya. Saya berpesan jangan boros tenaga dan uang, jika ada di tempat belanja,” kata Suryadharma di ruang tunggu Terminal Keberangkatan Haji, Minggu, 2 Oktober. Menag juga menyarankan agar jamaah haji bisa tertib saat tiba di Tanah Suci. Menurutnya, tradisi tertib dan mudah diatur selalu ditampilkan jamaah asal Indonesia hingga saat ini. “Jamaah Indonesia dikenal sebagai jamaah yang tertib,” ucapnya. Pada upacara pelepasan jamaah hadir Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Ny. Indah Suryadharma Ali, Menteri Perhubungan yang diwakili Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti Gumay, DPR Komisi VIII Jazuli Juwaini, anggota DPD Djan Faridz, ang-

Realita Haji : 6
Edisi VI / Tahun 2011

gota, Ketua Umum IPHI Kurdi Mustofa, Dirjen PHU Slamet Riyanto, Irjen Kemenag Suparta dan Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar. Menag yang berbaju batik seragam haji berharap mereka dapat beribadah dengan lancar dan bisa menjadi haji yang mabrur. Oleh karena itu, diingatkan bahwa membawa terlalu banyak uang juga bisa mengganggu kenyamanan ibadah haji seseorang. “Bawa uang banyak justru menjadi beban dan ibadahnya menjadi tidak khusyuk. Jaga predikat sebagai jamaah yang tertib dan disukai oleh jamaah dari negara-negara lain,” pesan Suryadharma. Dia juga meminta calon jamaah haji tetap waspada dengan barang bawaan, jangan sampai kecurian karena lengah. Karena, ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang akan memanfaatkan kelengahan para jamaah. Menag juga berpesan agar para calon jamaah haji menjaga betul kesehatan fisik. “Hati-hati terhadap barang bawaannya. Karena selain ada yang niat beribadah tapi tidak sedikit juga yang memanfaatkan keadaan dengan tidak bertanggung jawab. Jaga kesehatan. Sekarang ini baru awal, dan pada inti kegiatannya harus tetap prima,” ujarnya. Kemudian Menag melepas secara resmi kloter perdana ini. “Labaik Allahuma labaik!”, kalimat talbiyah pun berkumandang di ruangan itu. Sementara Direktur Pelayanan Haji Kementerian Agama Zainal Abidin Supi dalam laporannya menyebutkan, calon haji Indonesia diberangkatkan melalui 11 embarkasi. Kecuali dari embarkasi Banjarmasin yang diberangkatkan pada 6 Oktober, yang lainnya secara serentak mulai 2 Oktober.

Menag Suryadharma Ali didampingi Ibu Indah memberikan ucapan selamat jalan kepada jamaah haji kloter pertama Embarkasi Jakarta di Bandara Soekarno Hatta (2 Okt 2011) Photo : MCH Kemenag

Pada kesempatan terpisah Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, meskipun penyelenggaraan haji rutin dilakukan dari tahun ke tahun, namun pelayanan terhadap jamaah haji harus semakin baik dan secara maksimal. “Walaupun penyelenggaraan haji merupakan tugas rutin, tetapi kita sekali-kali tidak boleh takabur,” kata Menag pada sambutan pelantikan pejabat di lingkungan Kementerian Agama. Ia meminta seluruh aparat Kementerian Agama di pusat dan daerah untuk menyukseskan penyelenggaraan haji tahun ini. Karenanya, perbaikan manajemen dan kinerja pelayanan haji memerlukan komitmen, kerjasama dan sinkronisasi pelaksanaan tugas semua lini. Pada saat ini, kata Menag, operasional penyelenggaraan ibadah haji tahun 1432 H/2011 M dalam tahap pemberangkatan menuju tanah suci. “Untuk itu, saya meminta agar memperhatikan kelancaran pelayanan terhadap jamaah haji serta mengantisipasi kendala dan

masalah di lapangan,” kata SDA sapaan akrab Suryadharma Ali. Seperti tahun sebelumnya, pada musim haji tahun 1432 Hijriyah/ 2011 m, jemaah haji Indonesia diangkut oleh dua maskapai, yaitu Saudi Arabian Airlines dan Garuda Indonesia. “Dalam pelaksanaan penerbangan haji tahun ini, Garuda Indonesia mengoperasikan 14 pesawat berbadan lebar,” kata Vice President Coporate Communications Garuda, Pujobroto. Pesawat tersebut, lanjut Pujobroto, rata-rata berusia muda dan bahkan ada pesawat yang diproduksi tahun 2009. Awak kabin yang akan bertugas dalam pelaksanaan penerbangan haji tahun ini berjumlah 687 orang, 91 persen adalah awak kabin yang direkrut dari daerah embarkasi. Pelaksanaan keberangkatan penerbangan haji tahun 2011 ini dimulai pada 2 Oktober hingga 31 Oktober. Sementara pemulangan akan dilaksanakan pada tanggal 11 Nopember hingga 10 Desember 2011. (KS)

Realita Haji : 7

Edisi VI / Tahun 2011

Fokus Realita

Biaya Operasional

Haji 1432H Semakin E sien

B

iaya operasional penyelenggaraan ibadah haji 1432H/2011M semakin efisien dibandingkan dengan musim haji tahun sebelumnya atau 1431H/2010M yang mencapai 4,6%. Tahun ini biaya operasional tersebut hanya 3,86%. Sementara biaya yang diperuntukkan bagi para jemaah haji mencapai 95,82%, dan untuk safeguarding atau contigency atau biaya cadangan untuk mengatasi terjadinya sesuatu yang tidak terduga mencapai 0,33%. Biaya keseluruhan penyelenggaraan ibadah haji 1432H/2011M mencapai Rp7.380.373.472.106 (Tujuh triliyun tiga ratus delapan puluh miliyar tiga ratus tujuh puluh tiga ribu seratus enam rupiah) Menurut Direktur Pengelolaan Dana Haji, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU), Drs. H. Achmad Djunaidi, MBA keberhasilan tersebut karena adanya tekad untuk terus menerus menekan biayabiaya yang tidak perlu. Sehingga pada akhirnya hanya biaya-biaya yang sangat diperlukan yang bisa dimasukkan

Photo. M. Izzul Mutho
Realita Haji : 8
Edisi VI / Tahun 2011

dalam biaya operasional. ‘’Kami sangat bersyukur atas semua keberhasilan itu. Ini tentunya sangat membanggakan bagi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji sebagai tugas nasional. Dan, belum ada instansi pemerintah atau pun perusahaan biaya operasionalnya seefisien penyelenggaraan ibadah haji,’’ ujar Djunaidi dalam wawancara khusus dengan Realita Haji di ruang kerjanya, Jakarta beberapa waktu lalu. Dibandingkan dengan biaya operasional sejumlah instansi pemerintah atau pun perusahaan, biaya operasional penyelenggaraan ibadah haji ini, jauh sangat efisien. Seperti biaya operasional Bank Indonesia (BI) kini mencapai 12%. Bahkan, biaya operasional BNI 46, men-

capai 70,50% seperti yang mereka terbitkan secara terbuka, baik melalui media cetak atau pun elektronika. Untuk biaya operasional penyelenggaraan ibadah haji 1432H/2011M ini mencapai Rp332.069.482.587 (Tiga ratus tiga puluh dua milyar enam puluh sembilan juta empat ratus delapan puluh duu lima ratus delapan puluh tujuh rupiah) atau 3,83% dari seluruh biaya penyelengaraan ibadah haji yang mencapai Rp 7,3 triliyun. Biaya operasional itu terdiri dari biaya untuk petugas di Arab Saudi yang mencapai 1,7% atau Rp127.755.782.331 (Seratus dua puluh tujuh milyar tujuh ratus lima puluh lima juta tjuh ratus delapan puluh dua ribu tiga ratus tiga puluh satu rupiah), dan petugas di

dalam negeri mencapai 2,8% atau Rp 204.313.700.256 (Dua ratus empat milyar tiga ratus tiga belas juta tujuh ratus ribu dua ratus lima puluh enam rupiah). Dari biaya operasional itu, dibebankan kepada APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) mencapai Rp 89.785.133.500 (Delapan puluh sembilan milyar tiga ratus tiga puluh tiga ribu lima ratus rupiah) ditambah APBN Perubahan sebesar Rp 49.125.000.000,- (Empat puluh sembilan milyar seratus dua puluh lima juta rupiah) atau berjumlah sekitar Rp 138 milyar. Kekurangannya, atau sekitar Rp 194 milyar dibebankan kepada dana optimalisasi setoran awal calon jemaah haji. ‘’Jadi, bantuan dari APBN untuk
Realita Haji : 9

Edisi VI / Tahun 2011

kepentingan penyelenggaraan ibadah haji, kecil sekali. Ya, hanya sekitar 1,7% dari seluruh biaya penyelenggaraan ibadah haji. Biaya terbesar dari para jemaah langsung serta subsidi yang bersumber dari dana optimalisasi setoran awal para jemaah calon haji yang mencapai Rp 1,4 triliyun, yang berarti dari dana jemaah haji juga,’ ’ ungkap Djunaidi, pejabat karir yang mengabdi di Kementerian Agama sejak tahun 1973. Sedangkan biaya yang langsung untuk kepentingan para jemaah haji mencapai 95,82% atau sebesar Rp 7.024.458.337.419 (Tujuh triliyun dua puluh empat miliyar empat ratus lima puluh delapan juta tiga ratus tiga puluh tujuh juta empat ratus sembilan belas rupiah) terdiri dari dua komponen, yakni direct cost atau biaya yang ditanggung para jemaah haji langsung sebesar Rp 5.962.997.400.000,- (Lima triliyun sembilan ratus enam puluh dua milyar sembilan ratus sembilan puluh tujuh juta empat ratus ribu rupiah) dan biaya indirect cost atau biaya tidak langsung ditanggung jemaah haji, melainkan subsidi dari dana optimalisasi setoran awal calon jemaah haji sebesar Rp1.061.460.937.419,(Satu triliyun enam puluh satu milyar empat ratus enam puluh juta sembilan ratus tiga puluh tujuh ribu empat ratus sembilan belas rupiah) Untuk kepentingan pelayanan kepada para jemaah, juga ada komponen subsidi, yakni subsidi untuk perumahan di Arab Saudi, subsidi lainnya serta subsidi untuk kepentingan selama jemaah masih di dalam negeri. Subsidi pelayanan di Arab Saudi mencapai Rp 285. 714. 351.935,- (Dua ratus delapan puluh lima milyar tujuh ratus empat belas juta tiga ratus lima puluh satu ribu sembilan ratus tiga puluh lima rupiah), subsidi pelayanan selama
Realita Haji : 10
Edisi VI / Tahun 2011

jemaah haji di dalam negeri mencapai Rp 204.780.179.032 (Dua ratus empat milyar tujuh ratus delapan puluh juta seratus tujuh puluh sembilan ribu tiga puluh dua rupiah), dan subsidi lainnya sebesar Rp 570.966.406.452,- (Lima ratus tujuh puluh milyar sembilan ratus enam puluh enam juta empat ratus enam ribu empat ratus lima puluh dua rupiah) Dengan keberhasilan pemerintah menyediakan perumahan para jemaah haji 100% di ring I dengan jarak terjauh 2.500 meter dari Majidil Haram, maka kini tidak ada lagi uang kembalian untuk mereka, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Subsidi untuk Jemaah Haji
Seperti disebutkan di atas, subsidi untuk para jemaah haji yang bersumber dari optimalisasi dana setoran awal jemaah calon haji sebesar Rp 1,4 triliyun, ini berarti setiap jemaah haji mendapat seubsidi sekitar Rp 7.306.000 (Tujuh juta tiga ratus enam ribu rupiah) atau Rp 1,4 triliyun dibagi 194.000 jemaah haji reguler.Itu untuk tambahan dari BPIH yang telah dibayarkan oleh setiap jemaah haji tahun 1432H/2011M ini. Dibandingkan subsidi musim haji tahu 1431H/2010M hanya Rp5.414.000/jemaah,-, subsidi tahun ini mengalami peningkatan. Maklum, dana optimalisasi tahun lalu yang digunakan untuk mensubsidi para jemaah haji hanya Rp 1,051 triliyun. Sementara itu, bantuan dari APBN untuk penyelenggaraan ibadah haji sangat kecil, yakni sekitar 1,7% atau Rp 138 milyar. Untuk ke depan, apakah dana dari APBN untuk kepentingan penyelenggaraan

ibadah haji akan ada peningkatan? Atas pertanyaan itu, pejabat yang selalu mengoptimalkan kewenangan stafnya sehingga di meja kerjanya bersih dari kertas-kertas kerja, menyatakan ada kesepakatan antara pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama dengan Komisi VIII bahwa semua biaya yang tidak terkait dengan para jemaah haji, akan diupayakan untuk dibebankan kepada APBN, seperti untuk biaya petugas haji, baik di dalam negeri atau pun selama di Arab Saudi. ‘’Jadi, ada harapan bantuan dari APBN ke depan akan lebih besar lagi. Kita doakan saja, semoga pemerintah dan DPR terus meningkatkan anggarannya untuk kepentingan penyelenggaraan ibadah haji,’’ ujar lelaki yang selalu energik meski usianya kini menjelang 60 tahun. Kalau mau jujur, menurut Djunaidi, adanya beban operasional yang bersumber dari APBN sekarang ini sudah lumayan. Karena jauh sebelumnya, semua biaya penyelenggaraan ibadah haji dibeban kepada para jemaah haji. ‘’Dulu seperti itu,’’ tegas lelaki yang mantan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama yang berhasil menaikkan anggaran Kementerian Agama dari sekitar Rp 6,9 triliyun menjadi Rp 28 triliyun tersebut sebelum dimutasi sebagai Direktur Pengelolaan Dana Haji dua tahun lalu. Keberhasilan APBN ikut membiayai penyelenggaraan ibadah haji ini tidak lepas dari keberhasilan pemerintah dan DPR melahirkan UU No. 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, dimana di dalamnya diatur, bahwa semua biaya yang tidak terkait dengan para jemaah haji, dibebankan kepada APBN atau pun APBD. (Bhm)

Drs. H. Achmad Djunaidi, MBA Direktur Pengelolaan Dana Haji, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU),

KOMPONEN DIRECT COST BPIH TAHUN 1432/2011M (Perpres. No. 51 Tahun 2011 tanggal 12 Agustus 2011) No. Komponen Tahun 2011 Asusmsi USD.1 = 8.700 USD. 2.019,6 SAR 3.150 = USD 846.8 SAR 600 = USD 161,3 Tahun 2010 Asumsi USD. = 9.300 USD. 1.734,0 SAR 2.850 = USD 766.1 SAR 600 = USD 161.3

1. 2. 3. 4.

5.

Tiket & airporttax *) Pemondokan di Makkah riil rata-rata SAR.3.700,Pemondokan Madinah rata-rata SAR.650,General Service : a. Pelayanan Muasasah Thawwafah Al Adilla, dan Maktab Wukala Al Muwahad SAR 294,0 b. Perkemaahan di Armina SAR 300,0 c. Naqobah Jeddah, Makkah, Madinah dan Armina SAR 435,0 Jumlah General Service SAR 1.029,0 Beban General Service Jemaah Subsidi General Service Jemaah Living Cost Jumlah Pembulatan Jumlah Rp.

USD 277 USD 100,0 USD 177 USD 405,0 USD 3.532,7 USD 3.533 Rp. 30.737.100,USD 191 Rp. 343.500

USD 276,0 USD 405,0 USD 3.342,4 USD 3.342 Rp. 31.080.600,-

Harga tiket rata-rata sudah termasuk surcharge landing Madinah sebesar USD.50 (Medan, Batam, Jakarta, Surabaya) dan airporttax Arab Saudi sebesar USD.14. Quota jemaah haji 1432H/2011M 221.000 orang Jemaah Haji Reguler 201.000 orang Jemaah Haji Khusus 20.000 orang Jakarta, 21 Juli 2011 An. Direktur Jenderal Direktur Pengelolaan Dana Haji

Achmad Djunaidi NIP. 195110161976101001
Realita Haji : 11
Edisi VI / Tahun 2011

Info Kebijakan

Pelayanan Haji

Deklarasi Mekkah Dan Perbaikan
ara kepala sektor di bawah koordinasi Daerah Kerja (Daker) Mekkah yang saat itu kadaker Mekkah dijabat oleh Drs. H. Cepi Supriatna tak menyia-nyiakan kesempatan. Begitu panitia seminar sehari yang salah satunya diinisiator oleh Affan Rangkuti membuka peluang mengemukakan pendapat, mereka bicara blak-blakan tentang berbagai kesulitan yang dialami. Selama penyelenggaraan ibadah haji musim haji 1431 H/2010 M, di wilayahnya masing-masing, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Sektor menjadi ujung tombak dalam pelayanan kepada jemaah haji. Mereka inilah yang menentukan “hitam-putihnya” atau baik buruknya penyelenggaraan ibadah haji di tanah suci. Namun di sisi lain, para kepala sektor itu pulalah yang banyak mendapat cacian dari jemaah tatkala menghadapi masalah di pemondokan. Bagai air bah, yang dibendung dan kemudian mendapat celah sempit untuk keluar, ”uneg-uneg” para petugas PPIH di Daker Mekkah mengalir deras, tanpa tedeng alingaling. Berbagai pengalaman pahit dalam melayani jemaah haji dikemukakan, sehingga terkuak semua

P

Drs. H. Cepi Supriatna, Sekretaris Ditjen PHU. Mantan Kadakker Mekkah 1431H/2010M. letak titik simpul yang mengakibatkan pelayanan kepada jemaah haji dirasakan belum optimal. Ini adalah forum bebas. Jadi, melalui seminar ini, siapa pun boleh mengemukakan pendapatnya, yang tentu diharapkan dapat menghasilkan perbaikan bagi penyelenggaraan haji, kata Direktur Pelayanan Haji, Zanal Abidin Supi, tatkala membuka acara tersebut. Kegiatan yang digagas oleh yang menamakan diri kelompok 313 itu dimaksudkan sebagai ajang silaturahim. Namun dibalik itu, menurut Affan Rangkuti -- salah seorang inisiator -- dimaksudkan mencari masukan dari para petugas PPIH Arab Saudi yang diharapkan mengasilkan rekomendasi berupa Deklarasi Mekkah untuk perbaikan bahan evaluasi haji nasional di Jakarta. “Mumpung masing segar ingatan petugas, kita harus maksimalkan forum ini,” kata Amin Akkas, salah seorang penggagas seminar yang mengusung tema “Tinjauan Kritis Pelayanan Jemaah Haji Indonesia” di Daker Mekkah. Melihat tema dan persoa-

Realita Haji : 12
Edisi VI / Tahun 2011

lan yang mencuat dalam seminar tersebut, Zanal Abidin Supi menilai bahwa kegiatan yang untuk pertama kalinya dalam penyelenggaraan haji patut mendapat apresiasi. Pasalnya, petugas haji harus memiliki sikap kritis. Mana hak jemaah, mana hak yang harus diberikan pemerintah Arab Saudi. Ada kejelasan sehingga dalam melaksanakan tugas, semua pemangku kepentingan bisa bekerja sinergis. Esensi dari seminar ini, kata Supi, dimaksudkan untuk meningkatkan kepuasan jemaah terhadap pelayanan yang diberikan petugas. Pengalaman bekerja pada masa lalu, jika memang relevan dapat dipadukan dengan kondisi dewasa ini, tentu bisa diaplikasikan. Pertanyaannya, apakah sinergi itu kini sudah dapat dirasakan. Syekh Hamzah Azhari, perwakilan dari Maktab, dengan bahasa Indonesia yang “pas-pasan” berusaha meyakinkan peserta seminar bahwa esensi haji adalah wukuf di padang Arafah. Karena itu, pihaknya berusaha maksimal memberi kepuasan kepada para jemaah. Untuk itu, Syekh Hamzah, mengaku tidak merasa malu membersihkan WC di kawasan Arafah. Ini mengandung maksud bahwa semua manusia harus merendahkan diri kepada Allah. Membersihkan tempat kotor bermakna agar diri tak sombong di hadapan Allah. Karena demikian pentingnya Arafah itu, kata Hamzah, pemerintah Kerajaan Arab Saudi tak hentihentinya meningkatkan pelayanan. Kalau dulu jumlah rumah sakit terbatas, kini di Armina sudah ada lima. Jika dahulu di Arafah tak ada MCK (Mandi Cuci Kakus), sekarang bertebaran di beberapa tempat. Masih

Realita Haji : 13

Edisi VI / Tahun 2011

banyak lagi kemudahan untuk jemaah, walau biayanya triliunan dikeluarkan. Di Arab Saudi, lanjut dia, anak usia lima tahun sudah diberi pemahaman bahwa setiap tahun ada musim haji. Pada saat itulah berbagai bangsa datang ke tanah suci untuk berhaji. Anak-anak di sini diberi penjelasan bahwa mereka adalah tamu Allah yang harus diberi pelayanan. Kalaupun dalam pelaksanaan (dewasa ini) ada kekurangan, itu bisa terjadi karena ada anak satu dua yang nakal.

Ta’limatul Haj
Syaerozi Dhimyati, Ketua PPIH Sebanyak 449 jemaah haji Indonesia asal Kab. Tasikmalaya Jawa Barat, Arab Saudi yang ikut menjadi nara Minggu (2/10) waktu setempat, telah tiba dengan selamat di Bandara Amir sumber pada seminar tersebut Muhammad bin Abdul Azis, Madinah, Arab Saudi.(Photo. hirlan) menjelaskan bahwa pemerintah setempat telah menegaskan sejumlah ketentuan dalam pelayanan kepada genai hubungan muasasah, mag- Prosedur (SOP) yang dibuat harus jemaah. Ketentuan yang dikeluar- tab, aturan di airport, wukuf di Ara- mengacu kepada aturan yang ditkan pemerintah Arab Saudi itu dike- fah dan seterusnya. Jadi, pelayanan erapkan pemerintah setempat. haji sepenuhnya menjadi tanggung PPIH tak bisa memaksakan ini, nal sebagai ta’limatul haj. jawab pemerintah Arab Saudi. karena yang memiliki otoritas peTa’limatul haj ini -- belakangan Sampai di sini, menurut Kepala nuh adalah pemerintah Arab Saudi, -- dipahami sebagai nota kesepahaStaf Tekhnis Urusan Haji itu, banyak katanya. man Memorandum Of Understanding (MoU). Padahal antara Mou dan orang belum memahami dasar dari ta’limatul haj itu. Pelayanan haji adata’limatul haj berbeda. Menghangat MoU mengandung pengertian lah tugas muasasah. Posisi petugas bahwa di antara kedua belah pihak PPIH adalah membantu melancarDirektur Pembinaan Haji, Ahyang menandatangani punya kese- kan tugas muasasah. Jika dalam pelaksanaan di lapa- mad Kartono juga ikut bicara dalam jajaran kedudukan, yang keinginanngan ada “benturan”, yang harus seminar yang berlangsung hingnya disepakati bersama. Sedangkan ta’limatul haj tidak demikian. Dia dipedomani adalah aturan yang ga larut malam. Ia menyoroti soal lebih cenderung kepada sejumlah dikeluarkan pemerintah Arab Saudi. pelaksanaan ritual haji, termasuk di Untuk memuaskan pelayanan dalamnya dalam pelaksanaan ibaaturan yang dikeluarkan pemerintah Arab Saudi secara detail dan haji, pemerintah Indonesia melalui dah terhadap jemaah haji Indonesia. pihak lain harus mengindahkannya. Kementerian Agama (Kemenag) telSambil berseloroh Kartono ah berupaya secara maksimal. Salah berucap, sampai sekarang tak ada Ta’limatul haj ini, setiap tahun ditandatangani oleh menteri agama satu di antaranya melalui program satu pun jemaah haji Indonesia pada sekitar bulan April tiap tahun. layanan jaminan mutu (ISO), namun yang melontarkan protes apakah Di dalamnya ada penjelasan men- hal ini belum bisa diterapkan karena ibadah hajinya sempurna atau tidak. berbagai hal. Standar Operasional
Realita Haji : 14
Edisi VI / Tahun 2011

Ketiadaan protes tentang sempurna atau tidaknya dalam ritual haji, menurut dia, mencerminkan bahwa peran Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dewasa ini demikian maju. Namun di sisi lain, peran KBIH pun amat besar sumbangannya dalam memberi pemahaman yang keliru terhadap jemaahnya. Dicontohkan, memberi target 15 kali umroh selama berada di Mekkah, mendorong jemaah untuk berdemo meminta kenaikan selisih uang sisa pondokan, dan secara tak langsung mendorong naiknya angka kematian jemaah pada usia risiko tinggi. Usai shalat magrib, suasana seminar makin hangat. Para kepala sektor, tenaga kesehatan dan pelayanan umum, banyak diberi kesempatan bicara. Termasuk pelaksanaan pemberian konsumsi melalui perusahaan katering di Armina jadi bahasan menarik. Para kepala sektor mempertanyakan mekanisme perolehan pondokan yang berkualitas buruk, yang berujung mencuatnya protes ke kantor daker. Sebagai pelaksana di lapangan, para kepala sektor tentu mendapat beban berat, karena perolehan pondokan dinilai tak mengindahkan standar minimal kelengkapan bagi jemaah. Mereka, ke depan, minta mekanisme perolehan pondokan dibenahi dan dilakukan secara transparan. Mengapa dan apa sebabnya satu pondokan berdekatan, pondokan buruk harganya lebih mahal ketimbang di sebelahnya pondokan baik harganya murah. Jika perolehan pondokan dari “hulunya” dilakukan dengan baik, tentu para kepala sektor yang bekerja sebagai ujung tombak di lapa-

Jalan Menuju Pintu King Abdul Azis Masjidil Haram Mekkah ( Photo Duta Suhanda)

Realita Haji : 15

Edisi VI / Tahun 2011

ngan, tak akan mendapat “tekanan” berlebihan dari jemaah yang menuntut pelayanan haji harus lebih baik dari tahun ke tahun. Tak kalah menariknya, adanya tuntutan agar petugas PPIH fokus kepada pelayanan jemaah haji. Sebab, para kepala sektor mengaku merasa dianaktirikan. Mobil yang digunakan untuk mengangkut jemaah haji terpisah dari rombongan, misalnya, kondisinya sangat memprihatinkan. Di sisi lain, ia melihat, ada pejabat menggunakan fasilias “wah” alias berlebihan. Belum lagi kendaraan yang digunakan. Mereka minta, jika ada tamu seperti anggota legislatif harus menjadi bagian pelayanan dari Konsulat Jenderal RI (KJRI), bukan tugas daker atau PPIH lain yang mengurusi tamu VIP dalam pelaksanaan ibadah haji. “Kita direkrut untuk melayani jemaah dari tanah air, bukan untuk mereka,” kata seorang peserta seminar. Selain perolehan pondokan
Realita Haji : 16
Edisi VI / Tahun 2011

yang dianggap bermasalah, termasuk soal tasrih, mereka juga minta dibenahi pelayanan kesehatan. Angka kematian di pondokan tahun ini cukup tinggi, yang ditanggapi Wakil PPIH bidang kesehatan, dr. Chairul Rajab Nasution sebagai suatu “kegagalan” dalam pemberian pelayanan kepada jemaah. Ia berjanji tahun mendatang akan meningkatkan koordinasi pada lapisan bawah. Parameter bidang kesehatan dapat dikatakan sukses antara lain bila mampu menekan angka kematian, termasuk kematian di pemondokan. Untuk itu, para pemangku kepentingan bidang kesehatan, terutama di tanah air harus kerja ekstra memberi pelayanan kepada jemaah. Hal yang terkait dengan pelayanan kepada jemaah memang bukan soal pemondokan, kesehatan, katering yang selalu berulang setiap tahun. Masalah transportasi -- yang tahun ini dinilai bagus -- untuk tahun mendatang harus lebih berhati-hati

lagi. Pasalnya, perolehan pondokan akan memiliki kaitan erat dengan transportasi bagi jemaah. Faktor kesehatan jemaah, jarak tempuh ke Masjidil Haram dan ketersediaan angkutan -- ke depan -- perolehannya harus dilakukan secara integral. Ada baiknya, para pemangku kepentingan, sebelum mengambil keputusan, memahami lebih awal ta’limatul haj. Dengan demikian , pemberian pelayanan kepada jemaah haji dapat diawali melalui pemikiran yang kritis sehingga tentu hasilnya akan memuaskan. Kini penyelenggaraan ibadah haji 1432 H/2011 M tengah berlangsung. Perbaikan dan kenyamanan bagi jemaah haji sudah semakin dirasakan. Ini terlihat dari dekatnya pondokan jemaah dengan Masjidil Haram, Mekkah. Termasuk pula kemudahan dalam melaksanakan ritual haji di masjid tersebut. Semua itu tak lepas dari peran orang-orang yang berhimpun dalam memberikan masukan pada Deklarasi Mekkah tahun silam. (ess).

Serti kasi Pembimbing Haji Untuk Meningkatkan Kualitas Ibadah Jemaah

P

ara ulama dan kaum cendikia menyebutkan bahwa ibadah haji adalah salah satu bentuk ibadah yang unik. Artinya, ibadah yang satu ini tidak bisa dilaksanakan di sembarang waktu dan tempat. Waktunya seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an disebut asyhur ma’lumat (bulan-bulan tertentu) yaitu: Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah; dan tempatnya pun hanya bisa dilaksanakan di Mekkah di wilayah Kerajaan Arab Saudi. Tepatnya seperti Mina, Muzdalifah dan Arafah. Semua wilayah itu ada batasnya sesuai dengan petunjuk syara’ sehingga pemerintah Arab Saudi tidak mungkin bisa memperluas wilayah semaunya karena akan berhadapan dengan masalah keabsahan ibadah haji. Seperti halnya ibadahibadah lain yang memiliki tatacara dan atuanaturan yang tidak boleh dilanggar. Kenyataan seperti itu, menurut Prof.Dr.H. Ahmad Saiful Anam, M.Ag, menuntut bagi orang-orang yang hendak menunaikan ibadah haji agar berbekal pengetahuan yang cukup tentang tatacara pelaksanaannya (manasik), di samping bekal lain yang berwujud keikhlasan dan kekhusyukan ruhani, kesehatan dan kekuatan jasmani, dan kecukupan materi. “Sekali lagi bahwa terpenuhinya aspek-aspek tersebut belum menjamin seseorang untuk bisa berangkat menunaikan ibadah haji, karena ada peraturan pembatasan kuota,” katanya. Sampai tahun ini saja jumlah pendaftar yang masuk dalam waiting list sudah mencapai angka 1,5 juta orang. Jika dirata-rata dengan jumlah kuota yang ditetapkan, maka mereka yang terdaftar dalam waiting list itu harus menunggu rata-rata selama 7 (tujuh) tahun baru semuanya bisa diberangkatkan. Dari sejumlah calon jemaah haji yang sudah mendaftar, lebih dari 16% masuk dalam kategori risti karena mereka sudah berusia lebih dari 60 tahun saat ini. Bahkan yang berusia di atas 80 tahun 0,4% jumlahnya. Melihat dari tingginya mobilitas dalam pelaksanaan manasik haji dan umrah, maka sudah bisa dibayangkan betapa banyak persoalan yang akan dihadapi para jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah.Karena itu, sebelum para calon jamaah haji menunaikan ibadahnya di Mekkah dan sekitarnya, mereka perlu mendapatkan bekal

Realita Haji : 17

Edisi VI / Tahun 2011

pengetahuanyang memadai secara teoritis maupun praksis. “Untuk memberikan bekal pengetahuan atau bimbingan diperlukan tenaga-tenaga yang memiliki pengetahuan luas baik secara teoritis maupun praksis tentang manasik haji dan umrah including penguasaan medanmedan di mana manasik tersebut harus dilaksanakan,” tutur Saiful Anam. Selain itu, tambah staf pengajar pada Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya itu, masih ada pengetahuan lain yang harus dimiliki oleh seorang calon pembimbing, yakni kemampuan berbahasa Arab (bahasa komunikasi) yang akan digunakan untuk berurusan dengan orang-orang Arab Saudi. Di samping pengetahuan tentang tradisi dan budaya masyarakat setempat yang seringkali menjadi kendala bagi para jamaah haji Indonesia. “Dengan kata lain, para calon jamaah haji harus pula dibekali pengetahuan tentang cross culture agar mereka tidak salah persepsi dalam menilai tradisi dan budaya masyarakat Arab,” tulis Ahmad Saiful Anam dalam makalanya bertajuk “Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh”. Mengingat berat dan kompleksnya tugas para pembimbing untuk membekali calon jamaah haji dengan berbagai macam pengetahuan, lanjut Saiful Anam, maka mereka dituntut untuk profesional dalam melaksanakan tugas-tugasnya baik dalam memberi bekal pengetahuan tentang manasik haji dan umrah selama persiapan keberangkatan jamaah ke Tanah Suci maupun untuk membimbing mereka selama berada di Arab Saudi. Untuk itulah, katanya lagi, pemerintah cq. Kementerian Agama RI memandang perlu adanya standarisasi kompetensi para calon pembimbing agar bekal yang diberikan kepada calon jamaah tidak ada kesenjangan dan perbedaan komprehensivitasnya. Dan dengan tersedianya para pembimbing manasik haji dan umrah yang bersertifikat, diharapkan mereka mampu mentransfer ilmu pengetahuannya tentang manasik dengan baik dan efektif kepada para calon jamaah haji, termasuk pengetahuan tentang regulasi pemerintah Arab Saudi dan Indonesia berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji dan umrah.

Realita Haji : 18
Edisi VI / Tahun 2011

“Sehingga para jamaah haji Indonesia di masa yang akan datang bisa melaksanakan ibadah haji dengan baik dan benar. Di samping itu, mereka lebih mandiri dalam melaksanakan manasik hajinya dan tidak sangat tergantung kepada pembimbing yang jumlahnya relatif sangat sedikit dibanding dengan jumlah jamaahnya,” jelas Saiful Anam.

Kompetensi Pembimbing Haji
Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas termasuk tuntutan terhadap pelayanan dalam bimbingan manasik haji, semakin tinggi. Oleh karena itu peningkatan dan penyempur¬naan pola bimbingan secara terus menerus dan berkelanjutan dilakukan, sesuai dengan kondisi dan situasi yang berkembang, merupakan suatu keniscayaan. Sejalan dengan itu bimbingan terhadap jemaah haji dalam bentuk perorangan, kelompok dan massal hendaknya diarahkan dalam rangka membentuk jemaah haji mandiri. Akan tetapi bimbingan yang dilakukan saat ini di Kecamatan, Kabupaten/ Kota, Propinsi maupun di Pusat, masih secara tradisional melalui tatap muka dengan hasil kurang efektif. Pengamatan A. M. Fathurrahman dari Pusdiklat Teknis Keagamaan, Balitbang dan Diklat, pada Kementerian Agama RI menyebutkan, dampak pembinaan/bimbingan jemaah haji yang selama ini dilakukan, belum menunjukan hasil yang optimal. Hal ini, katanya, dapat diamati dan ditemukan dalam pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi yakni dengan masih adanya ketergantungan jemaah haji ke¬pada petugas atau orang lain, malahan masih terdengar pertanyaan jemaah “setelah melakukan yang tadi (lontar) apalagi yang akan dilakukan”? Juga sering dilihat pada waktu tawaf ketua rom¬bongan teriak-teriak baca do’a diikuti jemaah di belakangnya. “Ini mengindikasikan tingkat pengetahuan jemaah tentang proses ibadah haji sangat kurang, dan gambaran tidak adanya kemandirian dalam beribadah. Padahal seluruh jemaah haji setelah selesai menunaikan ibadah haji mendambakan memperoleh haji mabrur. Haji mabrur tidak akan tercapai manakala tidak didukung pemahaman
Realita Haji : 19

Edisi VI / Tahun 2011

jemaah haji terhadap manasik dan ibadah lainnya sesuai tuntunan ajaran agama Islam. Hal ini menjadi prasyarat kesempurnaan ibadah haji untuk memperoleh haji mabrur,” tegas Fathurrahman. Dalam makalahnya yang berjudul “Jemaah Haji Mandiri”, dia mendiskripsikan bahwa jemaah haji mandiri adalah jemaah haji yang memiliki kompetensi atau kemampuan memahami manasik haji dan ibadah lainnya, serta dapat menunaikan ibadah haji dengan benar sesuai tuntunan ajaran agama Islam. Oleh karena itu, lanjut Fathurrahman, bila dirinci kompetensi tersebut ke dalam indikator adalah pertama, jemaah dapat menyebutkan syarat rukun, wajib, sunah dan larangan ibadah haji; kedua, dapat melakukan manasik haji dengan benar sesuai tuntunan agama Islam; ketiga, dapat menyebutkan proses perjalanan ibadah haji; keempat, dapat menjaga kesehatan dan keamanan diri sendiri; dan kelima, dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri. Karena itu, tambahnya, kompetensi pembimbing akan sangat menentukan keberhasilan bim¬bingan. Adapun kompetensi pembimbing yang diharapkan, adalah kemampuan memahami proses pelaksanaan ibadah haji dan penerapan metode sesuai dengan materi dalam proses bimbingan. Pertama, Adapun pertama, menurut Fathurrahman, adalah dapat mengidentifikasi jenis materi bimbingan yang sesuai dengan bentuk bimbingan perorangan, kelompok dan massal. Kedua, dapat menentukan penerapan metode yang sesuai dengan materi dengan pendekatan pembelajaran orang dewasa. Ketiga, dapat memilih media pembelajaran yang sesuai dengan bentuk bimbingan. Keempat, dapat melakukan evaluasi pembelajaran. Dia juga mengingatkan adanya faktor intern maupun ekstern yang harus mendapat perhatian, karena akan berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan bimbingannya. Fathurrahman pun kemudian merinci faktor intern yang dapat mempengaruhi kegagalan/keberhasilan bimbingan, antara lain adalah sangat beragamnya profil jemaah haji; pengetahuan manasik haji, latar belakang pendidikan, tingkat sosial, budaya, dan umur. Kualitas dan kompetensi pembimbing jemaah haji dalam penguasaan metode bimbingan. Sedang faktor ekstern yang mempengaruhi bim¬bingan antara lain, pengaruh lingkungan sosial yang menghambat kelancaran bimbingan dan pengaruh ilmu pengetahuan. “Langkah perbaikan dan penyempurnaan dari berbagai faktor tersebut yang dianggap dapat menghambat kelancaran ke¬berhasilan bimbingan, maka perlu ada langlangkah inovatif dan kreatif yang harus dilakukan,” tegasnya. Menurut Fathurrahman, langkah-¬langkah tersebut antara lain menyempurnakan pola pembinaan jemaah haji dengan desain dan struktur kurikulum yang disesuaikan dengan tujuan membentuk sosok seorang jemaah yang memiliki kompetensi mandiri. Meningkatkan kualitas pembimbing yang ada melalui pelaksanaan uji kompetensi dan sertifikasi. Menyusun dan menyempurnakan materi bimbingan dalam bentuk modul, leaflet, booklet, CD, poster, sebagai pegangan pembimbing dan jemaah haji, selain buku-¬buku bimbingan manasik haji yang sudah baku. “Komitmen pimpinan dan berbagai pihak sangat menentukan terwujudnya keberhasilan bimbingan. Selain dari itu tanpa adanya dukungan anggaran yang memadai mustahil akan terwujud,” pungkas Fathurrahman.(NM)
Realita Haji : 20
Edisi VI / Tahun 2011

Kompetensi pembimbing yang diharapkan, adalah kemampuan memahami proses pelaksanaan ibadah haji dan penerapan metode sesuai dengan materi

Padang. Menteri Agama Suryadharma Ali mengecam aksi perampokan yang dilakukan terhadap jamaah haji Indonesia di Madinah merupakan tindakan yang keterlaluan. Apalagi diperoleh informasi pelaku masih bangsa sendiri yang bermukim di Arab Saudi. “Perampokan tersebut keterlaluan karena pelaku dalam menjalankan aksinya menggunakan bahasa yang sama dengan jamaah, sehingga tidak ada yang menduga kalau hendak merampok,” kata Menag kepada wartawan Jumat (7/10) sore, saat melakukan kunjungan singkat ke Asrama Haji Tabing Padang. Menag mengemukakan hal itu menanggapi adanya jamaah haji asal Indonesia yang menjadi korban perampokan di Masjid Nabawi oleh tiga orang yang tidak dikenal dan dapat berbahasa Indonesia pada 4 Oktober 2011. “Perampok tersebut tahu betul tenaga keamanan kita sangat terbatas dan tidak dapat melakukan pengamanan secara detil, sehingga kelemahan tersebut dimanfaatkan untuk merampok,” katanya. Menag juga mengungkapkan pada musim haji 2010 juga terjadi aksi penipuan terhadap jamaah haji, namun harta benda yang diambil dapat diambil lagi. Karena itu diimbau kepada jamaah untuk berhati-hati supaya kejadian serupa tidak terulang karena jumlah aparat keamanan juga terbatas. “Mintalah bantuan kepada teman yang dikenal, bukan orang lain,” katanya. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu seorang calhaj laki-laki berusia 60-an dirampok senilai Rp3 juta dan 1.400 real oleh tiga orang tidak dikenal yang dapat berbahasa

Menag Kecam
Perampokan Jamaah Haji
Indonesia. Menurut Kepala Daerah Kerja Madinah, Ahmad Jauhari lelaki lanjut usia itu dihampiri seorang yang diduga WNI. Pelaku mengajak calhaj tersebut ke luar masjid, karena sudah ditunggu seorang temannya di depan Masjid Nabawi. Setelah jauh dari keramaian, ada dua laki-laki lain yang menunggu mereka. Lalu, badan calhaj dipegang mereka. Sementara lelaki pengantar, mengeruk kantong jamaah dan mengambil uang. Menurut dia, aksi kejahatan itu harus menjadi pelajaran bagi jamaah haji yang akan berangkat supaya berhati-hati. Selain itu Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) harus menyosialisasikan hal ini di setiap embarkasi agar tidak ada lagi jamaah yang menjadi korban kejahatan. Hal ini mengingat jamaah haji umumnya berasal dari kampung yang belum pernah mengunjungi ibu kota, namun langsung ke luar negeri atau berangkat haji. “Ketika sampai di Arab Saudi seperti orang kebingungan dan begitu ada orang yang menggunakan bahasa yang sama menawarkan bantuan, maka langsung diterima, ternyata hendak melakukan kejahatan,” katanya. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga telah melakukan koordinasi dengan pihak keamanan Arab Saudi. “Bahkan ada yang dilaporkan telah ditangkap oleh aparat keamanan setempat walaupun sebenarnya kita tidak tega karena hukumannya bisa potong tangan,” katanya. Dalam kunjungan singkat, Menag memperoleh penjelasan penyelenggaraan ibadah haji di Embarkasi Padang dari Kepala Kanwil Sumatera Barat Darwas dan Kabid Haji, Zakat dan Wakaf Japeri. (KS)
Realita Haji : 21

Edisi VI / Tahun 2011

Info Daerah

Pelayanan Prima

Embarkasi Haji Batam

P

elayanan Embarkasi Batam untuk para jemaah calon haji 1432H/2011M, sangat berbeda dengan pelayanan yang diberikan embarkasi haji lainnya. Biasanya, dengan berbekal SPMA (Surat Perintah Masuk Asrama), para jemaah calon haji bisa langsung masuk asrama haji. Sedangkan untuk Embarkasi Haji Batam tidak seperti itu. Menurut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Drs. H. Razali Djaya, pihaknya menjemput para jemaah calon haji dari empat provinsi, yakni Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Riau, Jambi dan Kalimantan Barat (Kalbar) di bandara atau di pelabuhan laut dimana mereka mendarat. ‘’Kalau mereka dari daerah asalnya naik pesawat udara, kami jemput mereka di Bandara Hang Nadim, kalau naik kapal laut, kami jemput di pelabuhan laut. Ini bedanya pelayanan Asrama Haji Embarkasi Batam dengan embarkasi lainnya,’’ tegas Razali dalam wawancara khusus dengan Realita Haji usai membuka Sosialisasi Hukum Mabit di Mina pada Yaumut Tasyrik di Gedung Pusat Informasi Haji Batam be-

Sebanyak 364 Jamaah Calon Haji (JCH) Kota Batam, Selasa (13/10) dilepas oleh Wali Kota (Wako) Batam, Ahmad Dahlan dan mengikuti kegiatan Manasik Haji berapa waktu lalu. Dengan demikian, PPIH harus menyediakan sarana dan prasarana angkutan untuk menjemput mereka, truk angkutan barang, porter untuk pemindahan atau penimbangan barang. Untuk ini kita perlu mengalokasikan anggarannya. ‘’Alhamdulillah, Pemda Provinsi Kepri telah mengalokasikan anggaranya dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, semua biaya itu dibebankan kepada para jemaah calon haji. Sehingga, masalah pelayanan ini, insya Allah akan bisa lancar semuanya.’’ Bukan hanya itu, PPIH Embarkasi Batam di masing-masing bandara atau pun di pelabuhan laut, juga menyediakan tenaga adimistrasi saat menerima para jemaah calon haji dengan menunjukkan SPMA, juga tenaga medis untuk memeriksa kesehatannya, bea cukai yang akan memeriksa

Realita Haji : 22
Edisi VI / Tahun 2011

kanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Riau barang-barang bawaannya, pihak bank yang akan menyerahkan living cost kepada masing-masing jemaah calon haji serta penyerahan paspor dan gelang identitas serta penentuan kamar masing-masing. ‘’Semua itu kita sebut sebagai pelayanan prima Embarkasi Haji Batam. Selanjutnya mereka masuk kamar di asrma haji dan tidak diganggu dengan berbagai pelayanan lainnya, kecuali untuk shalat atau mengikuti ceramah serta manasik haji yang bisa diikuti di kamar masing-masing melalui TV khusus asrama haji,’’ ungkap Razali lagi. Untuk pemulangan para jemaah haji pun, menurut Razali, pihaknya juga memberikan pelayanan yang sama. Ketika mereka kembali ke Tanah Air mendarat di Bandara Hang Nadim, langsung PPIH Embarkasi Batam menjemputnya, lantas membawanya ke Asrama Haji Batam, untuk selanjutnya, jika mereka pulang dengan pesawat udara, pihaknya mengantarkannya ke bandara, sedangkan yang akan pulang dengan kapal laut, merka diantarkan ke pelabuhan laut yang ada. Persiapan Penyelengaraan Haji 1432 H Mengenai persiapan menghadapi penyelenggaraan ibadah haji 1432H/2011M, Razali mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan persiadipan-persiapan yang sudah matang. Mulai peniapan tenaga petugas untuk kloter atau pun non kloter, sarana dan prasarana, baik fisik atau pun non fisik. ‘’Insya Allah semuanya sudah siap,’’ tegasnya. Khusus untuk persiapan tenaga petugas haji, pihaknya sudah dapat SK Ditjen PHU (Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah) untuk PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Embarkasi Haji Batam berjumlah 23 orang, yang melibatkan pihak-pihak dari empat provinsi, terutama dari Kota Batam. Mereka adalah unsur dari Kantor Gubernur atau provinsi, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Kantor Imigrasi, Bea dan Cukai, petugas keamanan dan sebagainya. ‘’Karena penyelenggaraan ibadah haji ini sebagai tugas nasional, maka kita libatkan semua instansi terkait. Alhamdulillah, semua pihak yang terkait mendukung demi suksesnya penyelenggaraan ibadah haji tahun 1432H atau 2011M,’’ ungkap Kakanwil Kemenag Provinsi Kepri yang kini memasuki tahun ke enam memimpin Kanwil Kemenag Kepri. Untuk penyediaan personil ini, diakui oleh Razali, tidak cukup hanya 23 orang untuk melayani 10.000 orang jemaah, maka Ketua PPIH, yakni Kakanwil Kemenag Provinsi Kepri untuk menunjuk P3IH (Panitia Pembantu Penyelenggaraan Ibadah Haji) yang total keseluruhannya dari 23 orang menjadi 115. Jadi, ada tambahan 92 orang yang berstatus sebagai P3IH.
Realita Haji : 23

Edisi VI / Tahun 2011

‘’Mereka inilah yang akan melayani seluruh jemaah haji Embarkasi Batam yang akan menunaikan ibadah haji tahun ini,’’ tambahnya. Para anggota P3IH ini telah dilantik oleh Gubernur Kepri pada 15 September. Selanjutnya mereka mengadakan rapat pertama pada 26 September yang membahas antara lain pembagian tugas, sehingga apa yang harus mereka kerjakan sebagai anggota P3IH, jelas semuanya. ‘’Mereka itupun berasal dari empat provinsi embarkasi Batam serta dari semua instansi terkait dengan pelaksanaan ibadah haji. Di sini kita tekankan pada kebersamaan demi suksesnya pelaksanaan tugas nasional penyelenggaraan ibadah haji,’’ tegas Razali lagi. Untuk pelayanan administrasi, Razali mengungkapkan, seperti penyediaan paspor, untuk kuota murni, sebelum adanya kuota tambahan, semuanya sudah diantar ke Jakarta untuk pemvisaannya. Menyusul kemudian paspor untuk kuota tambahan yang kita dapatkan se-

banyak 118 juga akan segera dikirim ke Jakarta. ‘’Kuota itu diutamakan untuk mereka usia lanjut, pendampingnya, atau pengganti yang tidak bisa berangkat tahun ini, atau mendampingi istri dan sebagainya. Insya Allah semuanya bisa kita isi.’’ Untuk pelayanan dari segi fisik, yakni dari Asrama Haji Batam. Razali menjelaskan, bahwa asrama haji ini bukan milik Pemda Provinsi Kepri atau Kementerian Agama, melainkan milik Badan Otorita Batam (BOB). Untuk itu, PPIH Embarkasi Batam mengadakan kontrak dengan BOB untuk bisa melayani para jemaah calon haji yang akan berangkat menunaikan ibadah haji pada 1432H/2011M. Mereka tidak boleh melayani pihak lain, kecuali untuk kepentingan para jemaah calon haji. ‘’Kita sudah minta kepada Pengelola Asrama Haji Batam ini untuk membenahi semua fasilitas yang ada agar bisa lebih baik. Sehingga pada saatnya melayani kepentingan para jemaah calon haji, semuanya sudah siap. Dan, hasil inspeksi kami

Drs. H. Razali Djaya (Kakanwil Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau
Realita Haji : 24
Edisi VI / Tahun 2011

dari PPIH, asrama haji ini insya Allah sudah siap,’’ tegas Razali. Kesiapan itu, mulai dari fasilitas kamar ruang penginapan, penyediaan air, listrik, kebersihan, katering, tenaga pengamanan, termasuk penerimaan barang dan penimbangannya serta gudang penyimpanan sementara barang-barang milik jemaah dan sebagainya. Sehingga para jemaah merasa nyaman selama berada di asrama haji sebelum berangkat ke Tanah Suci atau pun sepulangnya ke Indonesia nanti. Khusus untuk pelayanan katering, Razali mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mengadakan lelang untuk penentuan perusahaan yang akan melayani penyediaan jasa katering untuk para jemaah calon haji dan sudah ada pemenangnya. ‘’Kepada pemenang itu, kita sudah kasih penunjuk, bagaimana pelayanan yang harus diberikan kepada para jemaah calon haji. Ini penting, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, karena masalah katering ini sangat riskan,’’ ujarnya. Persiapan lainnya dari segi kesehatan, baik penyediaan tenaga medis untuk kloter atau pun untuk pengawasan kesehatan dalam katering. Ini kami anggap sangat penting, karena makanan itu bukan hanya harus bergizi tetapi harus hieginis, bersih dan sehat. Semua itu, harus kita sediakan tenaga medis untuk mengawasinya. ‘’Kalau makanannya tidak hieginis, lantas jemaah setelah menyantap makanan dari katering kita, sakit, ini bisa gawat. Untuk itu, kita sediakan pengawas khusus untuk makanan ini,’’ tegas mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun itu. (Bhm/Rm)

Asrama Haji

Mengintip Modernisasi Pengelolaan AHMED

RHI/Affan Rangkuti

H

asil survey Pengukuran Kepuasan Jemaah Haji Tahun 2010 membuktikan bahwa secara umum indeks kepuasan sebesar 81,45 %, tergolong dalam tingkat “memuaskan/di atas standar” dan ditambah dengan perolehan sertifikat ISO 9001:2008 dalam penyelenggaraan ibadah haji yang baru-baru ini kami peroleh. Anugerah ini buah dari perbaikan pelayanan ibadah haji yang terus menerus dilakukan dari tahun ke tahun sebagaimana harapan masyarakat. Monumental tersebut merupakan motivasi bagi kami untuk terus melakukan peningkatan-peningkatan layanan kepada jemaah haji terutama pada sektor pendayagunaan asrama sebagai media pelatihan manasik haji, media centre dan pusat informasi haji serta pelaksanaan kegiatan-kegiatan institusi/organisasi/lembaga. Asrama Haji Medan (Ahmed)
Realita Haji : 25

Edisi VI / Tahun 2011

yang dibangun di atas area 51.860 m2 di Jalan Karya Jasa/Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution Kelurahan Pangkalan Masyur Kota Medan, dibagun pada tahun 1978 serta diresmikan oleh Direktur Jenderal Urusan Haji Burhanuddin Cokrohandoko yang secara bertahap terus dilakukan pengembangan-pengembangan pisik sarana dan prasarana bagi jemaah haji. Asrama haji yang yang tidak begitu jauh dari kota dan airport internasional polonia berkisar kurang lebih 5 Km, hingga pada

kenangan terhadap asrama haji medan. Merupakan modal fundamental untuk mengembangkannya. Kekuatan dengan lokasi yang berada di daerah perkotaan, multi fungsi dan guna, sarana yang memadai dan kepercayaan masyarakat dengan terus meningkatnya pemakaian dan pemanfaatan gedung untuk kegiatan-kegiatan lokal, nasional dan internasional menuntut pengelolaannya harus mampu bersaing dengan gedung-gedung layanan umum

Bina Raga Nasional. Disamping itu, dengan fungsi utamanya sebagai media penyelenggaraan ibadah haji baik sebelum, saat dan sesudah dengan tingkat kepercayaan jemaah haji dan masyarakat atas layanan yang diberikan, menjadi salah satu faktor pendukung dan mengantarkan Kanwil Kementerian agama Provinsi Sumatera Utara baru-baru ini memperoleh sertifikat ISO 9001:2008, ini sebuah tantangan untuk melakukan pengelolaan asama yang lebih baik

saat ini dapat menampung lebih kurang 1.656 orang. Bersandar pada visi “mewujudkan pelayanan standard, merajut kesejahteraan umum” adalah sebuah komitmen integrasi pelayanan dengan misi: 1. Memberikan pelayanan yang efektif, efesien, professional dan terstruktur (satandard service); 2. Menyediakan kebutuhan umum baik sarana dan prasarana; 3. Tersedianya jasa yang dibutuhkan masyarakat baik fisik maupun non-fisik; 4. Menciptakan image, hasrat dan

lainnya. Dengan 11 gedung yang berisi 100 kamar penginapan, 15 Gedung pertemuan dan di dukung dengan fasilitas penunjang seperti masjid, kantin, koperasi, dapur umum, pos penjagaan, wartel, poliklinik, laundry, lapangan manasik, olah raga, upacara, pusat informasi haji, mesin genset dan lapangan parkir yang luas menjadikan Ahmed pernah terpilih dan ditunjuk sebagai tempat penyelenggaraan Pospenas, teknologi tepat guna tingkat nasional, Porwil, popnas, Pertukaran mahasiswa Indonesia-MalaysiaThailand, Kejurnas STE dan Kejurnas

lagi, papar Kabid Haji Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Utara Drs. H. Abdurrahman Harahap, M.Ag. Langkah strategik yang dilaksanakan menurut Bang Rahman, sapaan akrab kabid berdarah Batak Mandailing yang ramah lembut dan senang berpantun ini adalah dengan memberdayakan dan menggunakan seluruh sumberdaya yang ada dalam rangka pelayanan yang diberikan untuk jemaah haji dan masyarakat adalah dengan melakukan rancangan strategi bisnis baru yang lebih menjanjikan dan sesuai dengan kebutuhan public dan sesuai dengan situasi dan kondisi

Realita Haji : 26
Edisi VI / Tahun 2011

zaman, tempat, kultur masyarakat, seperti: 1. Pengadaan bangunan yang refresentatif yang dapat dimanfaatkan untuk perkantoran, biro, travel dan pertemuan bertaraf nasional dan bahkan internasional; 2. Penyediaan jasa semacam pelatihan, pengkaderan, penyuluhan, pendidikan, konsultan dan lain-lain; 3. Penyediaan sarana kesehatan yang dapat dimanfaatkan umum terutama bagi masyarakat sekitar; 4. Penyediaan sarana iklan dan penyiaran yang dapat dimanfaatkan para pelaku bisnis; 5. Percetakan dan penerbitan sebagai lumbung dan jantung peradaban; dan 6. Pertokoan yang dapat menyediakan barang setidaknya sembako. Program lima tahun kedepan juga sudah ditetapkan dengan rencana pembangunan kantor bertingkat, penyediaan jasa, sarana kesehatan, iklan dan penyiaran (PSA), Pencetakan dan penerbitan, Pertokoan dan meningkatkan saran yang telah ada. Baru-baru ini pada bulan Juli yang lalu, Bang Rahman telah melakukan studi banding di Hotel Bratagi Cottege dan pelatihan terhadap seluruh pengurus dan karyawati Ahmed sebanyak 99 orang, untuk melaksanakan dan meningkatkan knowledge SDM nya dalam pelayanan terapan hotel berbintang, dengan tujuan peningkatan pelayanan bagi jemaah haji dan masyarakat pengguna Ahmed yang dicintai oleh masyarakat Kota Medan ini. Teruslah berkarya Bang. (AR)

Realita Haji : 27

Edisi VI / Tahun 2011

Hajisiana Hajisiana

Tidak Semua Jemaah Haji

Orang Kaya

K

S

ebagian besar masyarakat rata-rata beranggapan jika mereka yang dapat melaksanakan ibadah haji tentu tergolong orang kaya dan berlebihan harta. Namun anggapan seperti itu tidak berlaku bagi pasangan suami isteri Madsukardi (80) dan Sartinah (70) asal Dusun Gunungbawang Desa Nusajati Sampang Kabupaten Cilacap. Calhaj yang tergabung kloter 45 setibanya di asrama haji Donohudan nampak begitu mesra meski sudah dikaruniai 5 anak 22 cucu dan 7 buyut. Wajah pasutri yang sudah uzur dari pelosok pedesaan ini nampak sumringah lantaran keinginan untuk dapat melaksanakan ibadah haji yang sudah diidam-idamkan puluhan tahun akhirnya terwujud. Keinginan untuk menunaikan rukun Islam kelima ini, jika dilihat dari penghasilannya sebagai buruh tani sebenarnya sangat mustahil, karena hanya cukup untuk makan seharihari. Ketika keinginannya disampaikan kepada kelima anaknya, rupanya memperoleh respon yang positif. “Bapake donga bae, mbok menawa inyong sakpranak duwe rejeki mugamuga bisa urunan kanggo bayar mangkat kaji” (Bapak berdoa saja, siapa tahu putra-putranya mendapatkan rejeki semoga bisa patungan untuk membiayai berangkat haji) kata Madsukardi menirukan ungkapan anak-anaknya.
Realita Haji : 28
Edisi VI / Tahun 2011

Sedemikian besar perhatian anak-anaknya untuk mewujudkan keinginan kedua orangtuanya, maka kelima anak-anaknya secara patungan menabung. Akhirnya setelah 17 tahun mereka secara rutin menabung, terkumpul uang dan cukup untuk membayar kedua orangtuanya . “Mboten naming kangge ongkos kaji, wong sedaya kebetahan liyane nggih dipun cekapi anak-anak kula”, katanya sambil menghitung uang real yang baru saja dibagikan Sabtu (15/10) oleh petugas PPIH. Kondisi jamaah calon haji seperti Madsukardi sebenarnya cukup banyak yang berangkat haji berkat bantuan orang lain. Maka sudah sewajarnya jika beberapa kabupaten yang sudah mengalokasikan APBD untuk meringankan jamaah haji, seperti Kab Banyumas sebesar Rp. 300 juta, Brebes Rp. 206 juta. Sayangnya, hingga saat ini Pemkab Cilacap belum mengikuti jejak kabupaten terdekatnya. Untungnya mereka memperoleh living cost tiap calhaj 1500 real yang cukup untuk biaya hidup selama di Tanah Suci, termasuk untuk membayar dam sekitar 350 real. Hingga kloter 42, PPIH Embarkasi Solo telah membagikan living cost kepada 15.605 calhaj sebanyak 23.407.500 real. Dana tersebut belum termasuk insentif kepada ketua regu masing-masing sebesar 200 real dan ketua rombongan 300 real. (Badrussalam/Humas PPIH Solo)

ebahagiaan terpancar dari wajah lelaki berusia 62 tahun ini. Tak pernah disangka ia benar-benar diberi jalan untuk bertandang ke tanah suci, menunaikan rukun islam kelima. Jika Syafawi adalah pengusaha, meski hanya pengusaha kerupuk atau tempe, tentu keinginannya berangkat naik haji musim haji tahun ini bukan sesuatu yang langka. Namun Syafawi adalah seorang pengayuh becak barang di Pelantar Satu, Tanjungpinang. Puluhan ini sudah dijalaninya puluhan tahun. Sebelumnya, perantau asal Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur ini juga bukan pelaku bisnis yang bisa menyimpan hasil usahanya sebagai bagian dari keinginannya menabung untuk naik haji. Saat masih muda, ia hanyalah pekerja bangunan. Bukan mandor, melainkan kuli bangunan yang siap bekerja di tengah panas atau malam hari jika harus lembur. Bapak dua anak yang tinggal di Kampung Melati, Batu 2, Tanjungpinang ini tak dapat menahan rasa bahagia ketika beberapa waktu lalu menyerahkan tabungan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit sebagai setoran Ongkos Naik Haji atau ONH. Puluhan juta itu diserahkannya sekaligus berniat bisa berangkat ke tanah suci. Padahal, dengan uang itu bisa saja Syafawi membeli banyak becak lalu menyewakannya kepada orang lain. Sebagai pengayuh becak tentu ia tahu bisnis ini masih menguntungkan. Atau bisa saja dibelikan lapak di pasar dan menjual berbagai kebutuhan untuk mendongkrak perekonomiannya. Syafawi sadar, profesinya sebagai pengayuh becak barang men-

Tukang Becak Itu Akhirnya Naik Haji
imbulkan pertanyaan atau bahkan ungkapan sinis saat ia mengutarakan niatnya. Namun Syafawi yakin, apa yang dilakukannya bukan atas dorongan siapa – siapa. “Saya dipanggil Allah, bukan camat, lurah atau bupati. Kalau Dia yang sudah memanggil, Insya Allah muncul keyakinan dan kekuatan untuk melakukan apa yang kita yakini benar,” tutur Syafawi sambil bersantai di atas becak barangnya, tiga hari silam, di Pelantar Satu. Kehidupan lelaki ini rasanya cukup pantas dijadikan patokan. Saat bekerja, ia memperlakukan diri sebagai pekerja yang patuh terhadap aturan. Ia harus bekerja keras, tak boleh mengeluh dan merasa berat dengan pekerjaannya itu. Saat mengayuh pedal becak barang, sudah pasti terasa berat. Namun saat ia mengayuhnya dengan riang hati dan selalu bersyukur atas rezekinya, ia merasakan beban yang didorongnya biasa saja. Demikian juga saat ia harus berkomunikasi dengan pencipta, ia harus meninggalkan sejenak pangkalan becak kayuhnya dan menuju masjid, surau atau pulang ke rumah untuk bersembahyang. Saat bulan puasa, Syafawi juga berniat ingin tetap melaksanakan ibadah ini meski haus menderanya saat mengantarkan barang para pelanggan. Berbagai pendapat sampai ke telinganya. Ada yang membuatnya terharu, seperti saat menyerahkan tabungannya ke bank dan mengatakan ingin naik haji. Oleh pegawai bank, Syafawi dinasehati bahwa apa yang terjadi di hatinya tak terjadi pada semua manusia. Apalagi ia bukanlah warga yang dengan mudah bisa mendapatkan uang. Saat manasik haji, ia juga menitikkan air mata karena menyukuri nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Bagi yang menyindir atau mencibir, Syafawi tidak sakit hati. Ia memang merasa siap naik haji. Berkat kerja kerasnya, ia bisa membuatkan kedai di rumah yang dijaga istrinya. Semangatnya juga membuahkan hasil lain, saat ini ia memiliki tiga rumah. Dua disewakan sedangkan satu dipakai sendiri bersama keluarganya. “Saya hanya bersyukur atas apa yang diberikan Allah. Jika yang sedikit itu kita syukuri, niscaya Allah akan memberikan lebih banyak. Itu janji Allah, dan saya selalu percaya itu,” katanya. (Media Bawean)

Syafawi
(Tukang becak yang berangkat Haji)

Realita Haji : 29

Edisi VI / Tahun 2011

M

enjalankan ibadah haji ke Arab Saudi sesungguhnya semata-mata bukan hanya melakukan kegiatan ritual sebagai tamu Allah, tapi lebih dari itu juga menjalankan kegiatan fisik yang cukup berat. Banyak jamaah calon haji lupa atau mungkin mengabaikan bahwa selama berada di Tanah Suci, mereka akan dihadapkan dengan berbagai kegiatan ibadah sekaligus melakukan kegiatan fisik. Seringkali jamaah saat tiba di Tanah Suci lupa terhadap kondisi fisiknya. Mereka begitu tiba di Madinah banyak yang langsung menjalankan sholat lima waktu di Masjid Nabawi untuk mengejar Arbain. Bahkan tidak sedikit dari mereka saat mengejar untuk memperoleh pahala, lupa terhadap kebutuhan badannya sendiri seperti makan cukup dan teratur serta istirahat (tidur) cukup. Akibatnya mereka sesungguhnya kondisi fisik lemah dan sakit tapi karena mengejar keinginan untuk beribadah keadaan tersebut diabaikan. Jamaah sebetulnya bisa mengukur diri sendiri apakah kondisi fisiknya lemah atau tidak, orang lain bahkan saudara terdekat atau teman sekalipun. Tanpa bermaksud menyalahkan takdir, wafatnya seorang jamaah calon haji asal Kebumen, Jawa Tengah, Kasiyah binti Ahmad Disan (79) di Balai Pengobatan Haji Indonesia Madinah, Arab Saudi, (4/10) disebabkan almarhumah mengabaikan makan yang cukup. “Menurut keluarganya, sejak masuk ke Arab Saudi, almarhumah tetap ikuti acara ziarah dengan ke-

Menjaga Fisik
Sebuah Upaya Kesuksesan

Ibadah Haji
luarganya, dan pingsan saat ziarah. Ternyata pingsannya ini kekurangan kalori,” kata Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Madinah Dr Subagyo. Kasiyah yang meninggal pada Selasa (4/10) pukul 15.30 waktu setempat atau pukul 19.30 WIB merupakan jemaah haji asal embarkasi S0C (Solo) 2 yang dirujuk oleh kerabatnya ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPIH) setelah mengalami pingsan saat melakukan ziarah di Madinah. Saat mendapat perawatan di BPHI, kata Subaygio, almarhumah sempat siuman dan kondisinya stabil. Namun saat keluarga yang mengantarkannya kembali ke sektor IV, kondisi almarhumah kembali lemas dan organnya tidak berfungsi. “Masalah ketuaan membuah kondisinya labil. Kekurangan kalori, kelompok 65 tahun ke atas harus dapat pendampingan dan almarhumah memang ada hipertensi,” katanya.

Subagyo mengingatkan agar para jemaah harus betul-betul mempersiapkan dengan baik saat melakukan perjalanan haji, termasuk menjaga kesehatannya. “Harus mau makan dan minum. Apalagi masalah ketuaan, kondisinya sangat labil,” kata Subagyo.

Gunakan Masker
Sementara itu untuk menjaga kesehatan, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi Dr Mawari Edi mengingatkan jamaah haji disarankan terus menggunakan masker selama berada di Arab Saudi untuk menghindari penyakit saluran pernafasan. “Suhu panas dan kelembaban rendah bisa sebabkan serangan saluran pernafasan yang berakibat tenggorokan kering, gatal dan terasa ingin batuk,” kata Mawari. Dikatakannya, rata-rata suhu di

Realita Haji : 30
Edisi VI / Tahun 2011

Arab Saudi saat ini cukup terik sehingga bagi warga Indonesia menjadikan cepat letih ketimbang berada di Indonesia. Dia mengingatkan kelembaban udara rendah sehingga perlu diwaspadai jemaah calon haji. Oleh sebab itu, katanya menyarankan jemaah haji hendaknya terus menggunakan masker dimanapun berada terutama saat berada di tempat terbuka. “Penggunaan masker itu penting untuk cegah serangan saluran pernafasan dan jaga kelembaban udara. Jadi walaupun tidak sakit dianjurkan tetap pakai masker” kata Mawari. Hal lain yang perlu dilakukan calhaj, tambahnya, perlu secara rutin minum air putih setidaknya tiga liter sehari. Air putih penting dikonsumsi untuk menjaga dehidrasi dan meningkatkan daya tahan tubuh. “Kalau sudah dehidrasi maka

bisa menyebabkan disorientasi sehingga bisa menyebabkan daya tahan tubuh lemah dan pada akhirnya mudah sakit,” katanya menambahkan. Dari pengalaman tahun-tahun lalu, serangan saluran pernafasan merupakan penyakit yang paling banyak menyerang calhaj. “Kami dari BPHI sudah 100 persen menyiapkan diri dengan tenaga dokter umum, bedah, jantung dan perawat untuk membantu calhaj,” katanya.

Sesekali Boleh
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekah Arsyad Hidayat mengingatkan jamaah hendaknya harus bener-benar mempersiapkan diri secara fisik saat menjalankan ibadah haji. “Sesekali boleh menjalankan ibadah sunah tapi hendaknya

jangan terlalu memaksakan diri sehingga nanti malah sakit dan tidak bisa jalankan ibadah wajibnya,” katanya. Dia mengingatkan rangkaian ibadah haji selama 40 hari di Tanah Suci Mekah bukanlah ibadah ringan dan memerlukan fisik yang prima, karena harus tawaf, sai, serta jalan kaki menuju Arafah saat puncak haji. Arsyad menilai jamaah Indonesia selama ini memang terlalu bersemangat saat tiba di Tanah Suci sehingga tidak lagi memperdulikan kondisi fisiknya yang letih setelah menempuh perjalanan udara dari Jakarta sekitar sembilan jam. Memang dapat dipahami alasan para jamaah untuk terus melakukan ibadah mengingat ada kesan “Kapan lagi dapat pahala besar mumpung berada di Tanah Suci”. Belum lagi saat ini untuk bisa berangkat menjalankan ibadah haji harus antri sekitar empat hingga tujuh tahun. “Saya memang bisa paham alasan jamaah mengapa memaksakan diri untuk ibadah. Tapi hendaknya mereka juga bisa tahu kondisi fisiknya masing-masing,” katanya. Apalagi, katanya, memang ada pendapat yang mengatakan bahwa apabila shalat lima waktu di Masjid Nabawi pahalanya 1.000 kali lipat dan di Masjid Haram 100 ribu kali lipat. Ini tampaknya yang mendorong jemaah untuk terus melakukan ektivitas ibadah namun tidak memahami kondisi kesehatannya. Untuk itu dia mengingatkan jangan sampai jamaah terlalu memaksakan diri beribadah, sesuaikan dengan kemampuan fisik masingmasing, sehingga nanti saat pucak haji di Arafah yang wajib hukumnya bisa menjalankan dengan baik.(NM/ MCH)
Realita Haji : 31

Edisi VI / Tahun 2011

Resensi Buku

ORANG KRISTEN NAIK HAJI
Apakah orang nonmuslim dilarang menginjakkan kaki di tanah Mekkah?

S

esungguhnya telah lama pertanyaan seperti itu kerap muncul di kalangan umat Islam. Bahkan tatkala jemaah haji memasuki kota Mekah, termasuk dari Indonesia, akan bertanya saat di perjalanan menyaksikan satu ruas jalan disediakan pemerintah setempat bagi warga non-muslim agar tak “nyelonong” masuk menuju Mekah. Bagi petugas haji Indonesia, pembagian satu ruas jalan dari arah Jeddah menjadi dua arah: satu ke Mekah dan ke kota lain bagi warga nonmuslim, tentu sudah dapat dipahami. Sebab, warga nonmuslim dilarang menginjakan kaki di kota Mekah. Lantas, mengapa dilarang dan apa jadinya jika larangan itu tak diindahkan? Buku al-Masihiyun fi Makkah (Christian at Mecca, 1909) karya Augustus Ralli menjadi menarik lantaran berupaya menjawab larangan tersebut. Buku yang dicetak perdana pada Agustus 2011 itu, kini menjadi terasa aktual untuk memberi pemahaman seputar ritual pelaksanaan haji yang “diintip” melalui kaca mata orang Kristen, sekaligus menjawab mengapa warga non muslim berani menginjakan kaki di kota Mekah. Dalam prespektif sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah pada 622 M, yang kemudian ditandai dengan penanggalam hijriyah bagi umat Islam. Di kota Madinah, Nabi Muhammad SAW mendapat sambutan dan pengikutnya pun bertambah. Lalu penyebaran akidah Islam pun meluas. Pada 629 M, Nabi Muhammad SAW kembali ke tanah kelahirannya, Mekah, sebagai pemenang dengan sebelumnya mengalahkan lawan-lawannya yang sejak lama memusuhi. Pada tahun itu pula lahir satu undang-undang baru yang menegaskan bahwa tak seorang pun selain mukmin (muslim) yang boleh menginjakkan kaki di tanah Mekah.

Realita Haji : 32
Edisi VI / Tahun 2011

Charles M. Doughty, dalam kata pengantar buku berjudul “Christian at Mecca” ini menyebut setiap musim haji pasti terjadi eksekusi mati bagi beberapa orang Kristen yang terbukti masuk ke tanah suci secara ilegal. Belum lagi dua warga asing tertangkap di Mina. Meski ada larangan masuk ke tanah suci bagi non-muslim, termasuk berbagai kemungkinan yang akan dihadapi, malahan menjadi “magnet” yang menarik animo orang-orang berjiwa patualang. Banyak kisah orang Eropa tak gentar, menyembunyikan jatidiri mereka, menyamar dengan pakaian muslim, melakukan tradisi dan ritual Islam, mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi sepanjang patualangannya di darat, laut dalam iklim yang ekstrim. Setelah mereka Judul :

kembali ke negara masing-masing, mereka membawa pengetahuan yang susah payah diperoleh dari pusat Islam tersebut. Buku setebal 371 halaman semakin menarik untuk dibaca, karena esensi para patualang dari Eropa antara lain bertujuan memenuhi naluri ingin tahu mereka, termasuk aspek ilmu pengetahuan. Para petualang itu di antaranya Ludovico Bartema (1503), Vincent Le Blanc (1568), Johann Wild (1607), Joseph Pitts (1680), Badia Y Leblich (Ali Bey AlAbbasi) 1807, Ullrich Jasper Seetzen (Haji Musa) 1809-1810, John Ludwig Burckhardt (Syekh Haji Ibrahim) 1814-1815, Geovanni Finati (Haji Muhammad) 1814, Leon Roches (Haji Umar) 1841-1842, George Augustus Wallin (Waliyyuddin) 1845, Sir Richard Burton (Syekh Haji Abdullah)

1853, Heinrich Freiherr Von Maltzan (Sayid Abdurahman Bin Muhammad al-Skikidi) 1860, Herman Bicknell (Haji abdul Wahid) 1862, John Fryer Keana (Haji Muhammad Amin) 1877-1878 dan Snouck Hurgronje (Abdul Gaffar) 1885. Memang, mengikuti kisah para petualang itu, seakan pembaca diajak untuk melanglang-buana merambah spiritualitas mereka yang dimungkinkan menambah kerinduan terhadap tanah suci Mekah dan Madinah. Kedua kota tersebut menjadi impian bagi umat Muslim. Terlebih diperoleh gambaran perkembangan transportasi modern, yang mendukung perjuangan umat Muslim menunaikan ibadah haji dari tahun ke tahun. (ESS)

Sinopsis:
Mekah dan Madinah, dua kota suci bagi umat Islam itu tidak hanya menjadi kota impian bagi setiap muslim demi menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi impian bagi para petualang dan orientalis Eropa. Tanah suci yang terlarang bagi nonmuslim itu tidak lantas membuat gentar, justru menjadi magnet bagi jiwa-jiwa yang penuh keingintahuan untuk menyingkap rahasia-rahasia tersembunyi dan demi mengetahui tentang Islam langsung dari tempat agama itu diturunkan. Pada masa sebelum berkembangnya transportasi modern, perjalanan ke kota suci harus ditempuh lewat jalur darat dari Jeddah dan kota-kota pelabuhan lainnya, melintasi hamparan luas padang pasir nan gersang, di bawah sengatan terik yang membakar. Dengan berbagai cara, menempuh berbagai rintangan perjalanan, serta ancaman pembunuhan seandainya mereka ketahuan sebagai nonmuslim, para petualang Eropa yang akan Anda baca kisahnya dalam buku ini akhirnya berhasil menginjakkan kaki di tanah suci, melakukan ritual-ritual ibadah haji, menyaksikan keagungan Ka’bah, dan mengunjungi makam Rasulullah. Mengikuti kisah perjalanan terlarang orang-orang Eropa terdahulu dalam buku ini—di antaranya: Bartema, Badia, Burckhardt, Giovanni Finati, Léon Roches, Sir Richard Burton, dan Snouck Hurgronje—Anda akan mengetahui seluk-beluk kota suci pada masa silam dan betapa perjalanan haji pada masa itu sungguh menegangkan, penuh rintangan, ujian, marabahaya, tetapi sekaligus menggetarkan.
Realita Haji : 33

Orang Kristen Naik Haji
Penulis : Augustus Ralli Penerjemah : Tau k Damas Penyunting : Adi Toha Tebal : 372 halaman Cetakan: I, September 2011

Edisi VI / Tahun 2011

Kronika Dalam Negeri

Suara Azan Menyertai Keberangkatan Jemaah Haji
Pemberangkatan jemaah haji Indonesia hampir bisa dikatakan lancar Garuda mengklaim 99% tidak ada keterlambatan Kumandang azan yang disiarkan dari mobil Oparasional Haji Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat dengan pengera suara yang lantang, penerbangan jemaah haji kloter 16 bergerak memasuki landasan pacu.
menit dari yang direncanakan,” kata Ketua Koordinator Pembinaan Jamaah pada Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) embarkasi justru sering maju dari jadwal,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Darwas.

P

ersis suara azan habis, pesawat Garuda Airbus 330-300 yang disewa dari Corsair, Prancis itu, mengaung dan kemudian melesat terbang dengan penumpang sebanyak 359 jemaah haji asal Lima Puluh Kota, Lancarnya penerbangan mungSumatera Barat pada pukul 09.20 Padang, Drs. H. Tasman. Dalam catatan yang ada di PPIH Padang, pe- kin bisa dilihat dari sisi manajemen WIB. sawat Garuda belum pernah men- antara embarkasi Padang dan pihak “Penerbangan maju sepuluh galami terlambat. “Malah yang ada Garuda serta elemen perhajian

Realita Haji : 34
Edisi VI / Tahun 2011

tertinggal atau hilang,” kata Darwas. Kedua, penyambutan jemaah haji yang meski sederhana namun tidak kehilangan makna pemuliaan kepada tamu. “Jemaah haji yang datang kami jamu dengan teh atau kopi serta bubur.” Penerimaan selalu dilakukan dengan acara resmi, ada sambutan dan pembacaan ayat suci Al-Quran, meski jemaahnya hanya sekitar 25 orang seperti yang terjadi pada hari Kamis, 20 Oktober lalu, ketika jemaah haji asal kota Padang yang jumlahnya 25 orang memasuki asrama untuk melengkapi jemaah haji asal Pasaman Barat. Ketiga, pada malam hari proses imigras dan boarding penerbangan Garuda sudah selesai dilakukan. “Di sini imigrasi dan Garuda kami beri tempat dan juga kami libatkan sebagai PPIH,” Kata Darwas. Keempat, jemaah harus banyak istirahat. “Malam ghari saya hapus acara. Saya tidak ingin jemaah diganggu keluarganya. Walaupun kami sediakan juga tempat untuk bertemu dengan keluarga. Tapi, intinya jemaah harus banyak istirahat, sebab, perjalanan masih jauh dan meletihkan.” Kelima, dalam upacara pelepasan embarkasi Padang tidak mengundang pejabat. “Seringkali keterlambatan justru karena menunggu pejabat itu sendiri,” katanya. Karena itu upacara pelepasan cukup sederhana namun memiliki kesan dan kesyahduan sendiri karena dibarengi dengan pembacaan talbiyah bersamaan serta selawat. Sebelum pemberangkatan, uang saku sebanyak 1.500 riyal dibagikan dalam amplop bersegel dari bank. Yang keenam, faktor lain yang cara tidak ada masalah. “Selama enam tahu kami terapkan sistem itu mendukung adalah dekatnya jabelum pernah ada kejadian barang rak antara asrama haji dan bandara penting lainnya. PPIH Embarkasi Padang selama ini menerapkan jadwal ketat jemaah masuk asrama serta memberi kelebihan yang sangat menguntungkan jemaah. “Saya tahu jemaah itu capek yang harus banyak istirahat,” kata Darwas. Cara yang dilakukan Embarkasi Padang, pertama adalah melakukan upaya agar jemaah tidak terbebani bagasi. Sejak dari daerah barang bagasi sudah harus masuk penimbangan di embarkasi sehari sebelum jemaah masuk asrama haji. Kemudian diangkut ke bandara tanpa ada lagi campur tangan jemaah. Artinya, jemaah sudah benar-benar menyiapkan bagasi sebagai bekal kepentingan di Arab Saudi bukan selama di asrama haji. Dan dengan

serta tidak macet yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Disamping itu pula, faktor ketujuh, bandara Minangkabau Padang tidak termasuk bandara padat sehingga jadwal keberangkatan pesawat haji tak terkendala gangguan keharusan menunggu keluar masuknya pesawat komersial. Dari beberapa faktor ini yang kemudian menjadikan embarkasi Padang belum pernah mengalami keterlambatan penerbangan, bahkan seringkali terjadi percepatan terbang. Embarkasi Padang yang telah swakelola ini setiap tahunnya memberangtkatkan sekitar 7.500 jemaah haji. Tahun ini memberangkatkan 7.863 jemaah haji setelah ada penambahan kuota. Jumlah kloter bertambah satu, dari 21 kloter menjadi 22 kloter. “Satu kloter tidak penuh hanya dengan 310 jemaah haji,” kata Drs. H. Tasman. Dari sekian banyak jemaah itu, propinsi Sumatera barat memberangkatkan 4.715 jemaah. Sisanya, diisi oleh propinsi Bengkulu sebabnyak 1.669 jemaah dan sebagian propinsi Jambi bagian Barat seperti Kerinci, Sorolangun, Merangin, Muara Bungo dan Tebo sebanyak 1.362 jemaah. “Tanpa didukung dua propinsi itu kami tidak bisa membuat embarkasi sendiri. Karena itu kami janjikan rendang satu kilogram buat daerah di luar Sumatera barat,” kata Darwas. Tahun ini, Pemda Sumatera barat mealui APBD menyiapkan 3 ton daging sapi yang ditenderkan untuk penyediaaan rendang buat 3.031 jemaah haji dari Jambi dan Bengkulu yang masing-masing jemaah menerima satu kilogram. “Tidak apa-apa, sebab kami bisa menghemat sekitar Rp 10 miliar dengan tidak berangkat dari Medan,” katanya.
Realita Haji : 35

Edisi VI / Tahun 2011

Asrama haji embarkasi Padang memiliki fasilitas akomodasi untuk 1.200 jemaah haji atau sebanyak tiga kloter sekaligus. Sementara setiap harinya hanya dijadwal satu kloter. “Sisanya kami siapkan kalau ada delay, kami masih mampu menampung hingga 3 kloter,” kata Darwas. Gempa bumi tahun 2009 mengganggu pemberangkatan jemaah haji, karena terjadi 20 hari sebelum pemberangkatan. Dengan dekungan semua pihak termasuk dari Pemda dan TNI, akhirnya bisa direhabilitasi kerusakan karena gempa terutama untuk bangunan vital jemaah haji. Gedung Jabal Nur yang dipakai untuk sekretariat PPIH baru bisa dipergunakan setelah dua tahun tak tersentuh rehabilitasi.

Sejumlah calon jamaah haji dari Sumatera Barat antre memasuki bis di Bandara King abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Minggu (2/10). Sebanyak 360 calon haji kloter pertama dari embarkasi Padang, Sumbar tiba dan langsung berangkat ke Madinah untuk menunaikan ibadah Arbain. (Foto. ANTARA/Prasetyo Utomo)

Serempak
Secara serempak jemaah haji Indonesia berangkat pada hari Ahad tanggal 2 Oktober dari 12 embarkasi: Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang, Jakarta Garuda, Jakarta Saudia, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan dan Makassar. Jumlah jemaah haji Indonesia dengan penambahan kuota 10.000 jemaah kini berjumlah 221.000 jemaah haji, termasuk 19.000 jemaah haji khusus. Jemaah haji Indonesia adalah jemaah haji terbesar yang disusul kemudian jemaah haji Iran, Pakistan, Mesir dan Turki. Batik biru sekarang mulai mewarnai dua kota suci Mekah dan Madinah. Hingga kini sudah lebih 60% jemaah haji yang telah diberangkatkan ke tanah suci. Batik biru menggantikan seragam biru telur asin yang diperkenalkan Menteri Agama H. Maftuh Basyini sejak tahun 2005.

JEDDAH, 2/10- KEDATANGAN JAMAAH HAJI. Sejumlah valon haji dari Sumatera Barat tiba di Bandara King abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Minggu (2/10). Sebanyak 5475 calon haji Indonesia dari 14 Kloter tiba hari Minggu (2/10) yang kemudian langsung diberangkatkan ke Madinah untuk menunaikan ibadah Arbain (sholat berjamah di masjid Nabawi selama delapan hari). FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo/ed/ama/11

Realita Haji : 36
Edisi VI / Tahun 2011

Kronika Luar Negeri

Raja Arab Saudi Undang Haji 1.400 Muslim Dunia

K

hadimul Haramain Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud telah mengeluarkan perintah untuk mengundang 1.400 tokoh Muslim dari sejumlah negara di seluruh dunia untuk melakukan ibadah haji tahun 1432 H (2011 M) ini. Undangan ini masuik dalam program tahunan Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Kerajaan Arab Saudi. Dalam sebuah pernyataan kepada Saudi Press Agency (SPA), Menteri Urusan Islam, Wakaf, Dawa’a dan Penyuluhan Sheikh Saleh bin Abdulaziz bin Mohammed Al AlSheikh, yang juga Pengawas Umum Program Undangan Haji ini, sejak program ini ada, sudah 18.000 tokoh dunia yang diundang. Tokoh muslim dunia yang akan diundang haji tahun ini adalah tokoh dari negara Indonesia, India, Bangladesh, Pakistan, Turki, Thailand, Filipina, Kamboja, Kazakhstan, Sri Lanka, Tajikistan, Nepal, Afghanistan, Vietnam, Malaysia, Rusia, Hong Kong, Mongolia, Singapura, Myanmar, Jepang, Laos, Brunei, Papua Nugini, Taiwan, Korea Selatan, Maladewa, Azerbaijan, Uzbekistan, Turkmenistan, negara Sudan Selatan serta berbagai negara Afrika. (MH)
Realita Haji : 37

Edisi VI / Tahun 2011

Kronika Luar Negeri

Musim Haji Diharapkan Selamatkan Kerugian Umrah Mesir
Musim haji tahun ini sangat diharap sekitar 3.000 perusahaan penyelenggara haji dan umrah Mesir dengan bisa meraup untung yang bisa menutupi kerugian umrah tahun ini karena Revolusi 25 Januari yang berhasil menumbangkan Presiden Hosni Mubarak. Mereka mengaku, lembaganya menderita kerugian finansial yang besar. Revolusi 25 Januari 25 revolusi telah menyebabkan penurunan tajam jemaah umrah dan juga jumlah wisatawan yang datang ke Mesir dari Eropa, Amerika, Rusia, Asia Tenggara dan lain-lain. “Menyediakan layanan haji telah memungkinkan sejumlah agen perjalanan dan wisata untuk mengkompensasi sebagian dari kerugian keuangan mereka yang telah dikeluarkan sejak masuknya turis Barat telah menyusut tajam menyusul insiden politik di negara ini,” kata Ashraf Shiha, wakil ketua Kamar Dagang Industri Mesir bidang biro perjalanan dan lembaga pariwisata. Menurut Shiha, biasanya lebih dari 600.000 orang Mesir yang melaksanakan umrah selama Ramadhan umrah. “Para agen perjalanan dan wisata dibagi hasil antara mereka sendiri membuat keuntungan yang baik,terutama karena biaya umrah per individu telah mencapai lebih dari $ 2.000,” tambahnya. Shiha mengatakan selama musim Haji, para agen perjalanan dan wisata telah berusaha agar visa haji gratis. “Setiap jemaah dikenakan biaya £ 12.000 Mesir untuk visa haji dicap di paspor,” tambahnya. Shiha mengatakan, sebelum pembatalan pembayaran visa wajib, biaya haji per jamaah Mesir individu berjumlah lebih dari 35.000 pound Mesir (sekitar $ 6.000). “Para jemaah Mesir sekarang dapat dengan mudah membeli hadiah dari Mekah dan Madinah untuk kerabat dan teman-teman kembali ke rumah,” katanya. Shiha meminta pemerintah Mesir mempercayakan layanan haji ke agen perjalanan dan wisata saja dan bukan kepada Kementerian Sosial dan Keamanan Dalam Negeri. Jemaah haji Mesir juga mengharapkan layanan yang lebih baik dari pemerintah mereka setelah Revolusi 25 Januari. “Kami ingin memiliki perubahan positif yang sama dalam pelayanan haji seperti yang dinikmati Tunisia,” kata Hamam Al-Aswani, pengelola agen perjalanan haji. Demikian seperti diberitakan harian Arab News edsisi 25 Oktober. (MH)
Realita Haji : 38
Edisi VI / Tahun 2011

PROGRAM INISIATIF ANTI KORUPSI
Pengertian Grati kasi menurut penjelasan Pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001 Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. • Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. • Pengecualian Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Pasal 12 C ayat (1) : Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12B ayat (1) tidak berlaku, jika penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Peraturan yang mengatur Grati kasi adalah: Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, Pasal 12C ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12B Ayat (1) tidak berlaku, jika penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada KPK Penjelasan aturan Hukum Pasal 12 UU No. 20/2001 Didenda dengan pidana penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar: 1. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya. 2. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima bayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri; Sanksi Pasal 12B ayat (2) UU no. 31/1999 jo UU No. 20/2001 Pidana penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.

Realita Haji : 39

Edisi VI / Tahun 2011

Realita Haji : 40
Edisi VI / Tahun 2011

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful