Anda di halaman 1dari 6

KEWAJIBAN HUKUM DI AMERIKA Para profesional audit bertanggung jawab untuk memenuhi apa yang tekah dinyatakan dalam

kontrak dengan klien. Apabila auditor gagal memberikan jasa atau tidak cermat dalam pelaksanaannya, mereka secara hukum bertanggung jawab kepada klien atas kelalaian dan/atau pelanggaran kontrak, dan dalam situasi tertentu, kepada pihak selain klien mereka. Kegagalan Bisnis, Kegagalan Audit, dan Risiko Audit Kegagalan bisnis terjadi apabila bisnis tersebut tidak mampu memenuhi harapan atau mengembalikan pinjaman para investor karena situasi ekonomi dan bisnis seperti adanya resesi, keputusan manajemen yang buruk atau persaingan yang tidak terduga dalam industri tersebut. Kegagalan audit terjadi apabila auditor mengeluarkan opini yang tidak benar karena gagal memenuhi kriteria standar audit. Risiko audit merupakan kemungkinan bahwa auduitor akan menyimpulkan, setelah melaksanakan audit yang memadai, bahwa laporan keuangan telah dinyatakan secara wajar, sedangkan dalam kenyataannya mengandung salah saji yang material. Ketiga aspek tersebut diyakini oleh banyak profesional audit dan hukum sebagai penyebab utama tuntutan hukum kepada akuntan publik. Umumnya kurangnya pemahaman para pemakai laporan keuangan atas konsep perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit dan konsep kegagalan audit dan risiko audit yang memicu banyaknya tuntutan kepada akuntan publik. Konsep-Konsep Hukum yang Mempengaruhi Kewajiban Bidang kewajiban dalam audit dapat digolongkan menjadi: 1. Kewajiban terhadap klien Kewajiban hukum bagi akuntan publik yang paling umum selama ini adalah kewajiban terhadap klien, karena kegagalan untuk melaksanakan tugas audit sesuai waktu yang ditentukan, pelaksanaan audit yang tidal memadai, gagal menemukan kesalahan, dan pelanggaran kerahasiaan. Pembelaan yang digunakan oleh kantor akuntan publik bila terjadi tuntutan dari klien biasanya menggunakan satu atau kombinasi dari empat berikut ini: Tidak adanya kewajiban Kantor akuntan publik mengklaim bahwa tidak ada kontrak yang tersirat atau yang dinyatakan, biasanya pembuktian dilakukan dengan alat bukti surat penugasan Tidak ada kelalaian dalam pelaksanaan tugas Kantor akuntan publik mengklaim bahwa audit yang dilaksanakannya telah sesuai dengan kriteria dan standar yang berlaku umum. Bahkan jika terjadi kesalahan sekalipun, pernyataan salah yang disengaja atau penyajian yang salah (penyimpangan) yang tidak ditemukan, auditor tidak bertanggung jawab jika auditnya dilakukan secara benar. Kelalaian kontribusi Kantor akuntan publik menjamin jika klien telah melakukan kewajiban tertentu, tidak akan terjadi kerugian. Pembelaan auditor dapat berupa klaim bahwa kantor akuntan publik tersebut telah memberitahu manajemen tentang kelemahan sistem pengendalian internal yang memberi peluang terjadinya penggelapan itu, tetapi manajemen tidak melakukan perbaikan. Ketiadaan hubungan timbal balik Untuk sukses dalam tuntutan auditor, klien harus mampu menunjkkan adanya hubungan sebab akibat yang rasional antara pelanggaran auditor terhadap standar korelasi dengan kerugian yang dialami klien

2. Kewajiban terhadap pihak ketiga menurut common law Kewajiban terhadap pihak ketiga menurut common law terus berlanjut secara tidak pasti. Tanggung jawab tergantung pada yurisdiksi terjadinya kasus. Pihak ketiga meliputi pemegang saham aktual dan calon pemegang saham, pemasok, bankir dan kreditor lain, karyawan, serta pelanggan. Sebuah kantor akuntan publik dapat mempunyai kewajiban terhadap pihak ketiga jika pihak ketiga tersebut mengklaim menderita kerugian akibat mengandalkan laporan keuangan yang menyesatkan. Kasus pertama yang muncul adalah kasus Ultramares Corporation kepada Touche. Kasus ini menghasilkan doktrin Ultramares. Doktrin ini menyatakan bahwa kelalaian biasa tidak cukup untuk menimbulkan kewajiban kepada pihak ketiga karena tidak adanya privity of contract antara pihak ketiga dengan auditor, kecuali pihak ketiga adalah penerima manfaat utama. Namun bila ada kecurangan atau kelalaian besar di pihak auditor, auditor dapat dapat bertanggung jawab terhadap pihak ketiga secara lebih umum. Perluasan doktin ini melebar sampai adnya foreseen users, yaitu anggota dari golongan pemakai terbatas yang mengandalkan laporan keuangan. Ada tiga pendekatan utama yang diberlakukan saat ini terkait foreseen users, yaitu: Credit Alliance Pendekatan ini berpegang pada konsep privity of contract, dimana auditor harus mengetahui dan menyadari bahwa hasil pekerjaannya akan digunakan oleh pihak ketiga untuk tujuan tertentu, dan pengetahuan dan kesadaran tersebut harus dibuktikan oleh auditor. Restatement of Torts Restatement of torts adalah seperangkat prinsip hukum otoritatif. Restatement rule menyatakan bahwa foreseen users harus menjadi anggota dari kelompok pemakai yang terbatas dan dapat diidentifikasi yang mengandalkan pekerjaan akuntan publik, kreditor misalnya, meskipun auditor tidak mengenal orangorang tersebut pada pelaksanaan audit. Forseeable Users Pemakai yang sudah harus dapat ditentukan sebelumnya oleh auditor sebagai pemakai laporan keuangan klien, memiliki hak yang sama seperti pada privity of contract. Para pemakai ini sering disebut kelompok tak terbatas. 3. Kewajiban sipil menurut UU sekuritas federal Securities Act Tahun 1933 Undang-undang tahun 1933 ini dikenal sebagai Kebenaran dalam Undang-undang Sekuritas (Truth in Securities Act). Undang-undang ini mengatur dirancang untuk mengatur penawaran sekuritas kepada public melalui pos atau melalui interstate commerce. Gugatan melawan auditor menurut undang-undang ini biasanya didasarkan pada pasal 11 tentang Kewajiban Perdata atas Akun pada Laporan Pendaftaran yang Tidak Benar (Civil Liabilities on Account of False Registration Statement). Pada pasal 11 tersebut mencantumkan dua istilah kunci, yaitu fakta yang material dan laporan keuangan yang menyesatkan. Sesuai dengan ketentuan perdata dari undang-undang tahun 1933, kerugian keuangan yang dapat diperoleh kembali oleh seorang penggugat dibatasi pada perbedaan antara: 1. Jumlah yang dibayar investor untuk sekuritas tersebut 2. Harga pasar atau harga jual pada saat gugatan diajukan Apabila sekutitas tersebut dijual, maka jumlah yang dapat dibayarkan sebagai ganti rugi adalah selisih antara jumlah yang dibayarkan dikurangi dengan harga jual. Mengajukan Gugatan Menurut Undang-undang Tahun 1933

Pengaruh laporan utama undang-undang ini atas pihak-pihak yang terlibat dalam suatu gugatan dapat diringkas sebagai berikut: Penggugat Setiap orang yang membeli atau mengakuisisi sekuritas seperti yang diuraikan dalam laporan pendaftaran, tanpa memandang apakah ia merupakan klien auditor atau tidak Harus mendasarkan gugatannya pada dugaan pemalsuan yang material atau laporan keuangan yang menyesatkan yang ada dalam laporan pendaftaran Apabila pembelian sekuritas yang dilakukan sebelum laporan laba-rugi yang meliputi periode setidaknya 12 bulan setelah tanggal efektif laporan pendaftaran, penggugat tidak harus menerbitkan adanya ketergantungan pada keandalan laporan yang tidak benar atau yang menyesatkan atau bahwa kerugian yang diderita diperkirakan sebagai akibat laporan keuangan tersebut Tidak harus membuktikan bahwa auditor telah melakukan kelalaian atau kecurangan dalam mengesahkan laporan keuangan terkait. Tergugat Memiliki beban untuk menegakkan kebebasan dari kelalaian dengan cara membuktikan bahwa ia telah melakukan investigasi yang memadai dan sesuai dengan itu memiliki dasar yang memadai untuk percaya, dan memang percaya bahwa laporan keuangan yang disahkan adalah benar pada tanggal laporan tersebut serta pada saat laporan pendaftaran menjadi efektif Melalui pembelaan harus menunjukkan bahwa kerugian penggugat secara keseluruhan atau sebagian disebabkan oleh hal lain di luar laporan yang dianggap tidak benar atau menyesatkan tersebut. Securities Exchange Act Tahun 1934 Undang-undang ini disahkan oleh Kongres A.S. untuk mengatur perdagangan sekuritas di masyarakat. Undang-undang tahun 1934 ini mewajibkan perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam lingkup undang-undang ini untuk: 1. Mengarsipkan laporan pendaftaran apabila sekuritas tersebut diperdagangkan secara terbuka kepada masyarakat melalui pasar bursa efek atau pasar di luar bursa efek (over the counter) 2. Menjaga agar arsip laporan pendaftaran tersebut tetap mutakhir dengan cara mengarsipkan laporan tahunan, laporan kuartalan, dan informasi-informasi lain yang berkaitan dengan SEC 4. Kewajiban kriminal Cara keempat para akuntan publik dapat dianggap bertanggung jawab adalah menurut kewajiban kriminal bagi akuntan. Undang-undang yang paling mungkin diberlakukan adalah Uniform Securities of Act. UU federal yang lebih relevan yang mempengaruhi auditor adalah Securities Act dan Securities Exchange Act 1934, serta Federal Mail Fraud Statute dan Federal False Statement Statute. Semua peraturan itu menetapkan bahwa menipu orang lain, yaitu dengan sadar terlibat dalam laporan keuangan yang palsu merupakan tindakan kriminal.

KEWAJIBAN HUKUM AUDITOR DI INDONESIA Regulasi Terhadap Auditor di Indonesia Regulasi yang diterapkan terhadap auditor Indonesia saat ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Regulasi oleh Pemerintah, antara lain:

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Gelar Akuntan (UU Nomor 34 Tahun 1954) Penyelenggaraan Pendidikan Profesi (Kepmen Nomor 179/U/2001) Register Negara (Kepmen Nomor 331/KMK/017/1999) Pemberian Jasa (Kepmen Nomor 426/KMK.06/2002 dan Nomor 359/KMK.06/2003) Undang_Undang Akuntan Publik (rancangan) Regulasi oleh Badan Pemerintah lainnya, seperti otoritas pasar modal, Bank Sentral dan lain-lain.

Regulasi oleh Organisasi Profesi Akuntan, antara lain: 1. Standar Akuntansi 2. Standar Audit 3. Kode Etik Profesi Dari teori etika, profesi pemeriksa (auditor) diatur dalam sebuah aturan yang disebut sebagai kode etik profesi akuntan. Dalam kode etik profesi akuntan ini diatur berbagai masalah, baik masalah prinsip yang harus melekat pada diri auditor, maupun standar teknis pemeriksaan yang juga diikuti oleh auditor, juga bagaimana ketiga pihak melakukan komunikasi atau interaksi. Dinyatakan dalam kode etik yang berkaitan dengan masalah prinsip bahwa auditor harus menjaga, menjunjung dan menjalankan nilai-nilai kebenaran dan moralitas, seperti bertanggung jawab (responsibility), berintegritas (integrity), bertindak secara objektif (objectivity) dan menjaga indenpendensinya terhadap kepentingan berbagai pihak (independence), dan hati-hati dalam menjalankan profesi (due care). Kode Etik Akuntan Indonesia pasal 1 ayat dua menyatakan bahwa setiap anggota harus mempertahankan integritas, objektivitas dan independensi dalam menjalankan tugasnya. Seorang auditor yang mempertahankan integritas, akan bertindak jujur dan tegas dalam mempertimbangkan fakta, terlepas dari kepentingan pribadi. Etika auditor yang dalam SPAP (1994) yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) disebut sebagai norma akuntan menjadi patokan resmi para auditor Indonesia dalam berpraktek. Norma-norma dalam SPAP tersebut yang menjadi acuan dalam penentuan tiga standar utama dalam pekerjaan auditor, antara lain: 1. Auditor harus memiliki keahlian teknis, independen dalam sikap mental serta kemahiran professional dengan cermat dan seksama. 2. Auditor wajib menemukan ketidakberesan, kecurangan, manipulasi dalam pengauditan. Hal yang paling ditekankan dalam SPAP adalah betapa esensialnya kepentingan publik yang harus dilindungi serta sifat independensi dan kejujuran seorang auditor dalam berprofesi. Namun sulit untuk menentukan fungsi dan etika pengauditan yang secara teknik dapat mendeteksi jika ada penyelewengan pada sistem pemerintahan baik untuk penyusunan anggaran maupun aktivitas keuangan lainnya. Pengawasan kepatuhan dan penilaian pelaksanaan kode etik serta SPAP oleh akuntan publik dilaksanakan oleh Badan Pengawas Profesi ditingkat Kompartemen Akuntan Publik dan Dewan Pertimbangan Profesi di tingkat IAI. IAI mempunyai tugas dan kewajiban terhadap anggotanya yang terlibat dalam proses pemeriksaan akuntan (auditing) agar tetap menjunjung tinggi profesionalisme mereka. Tuntutan profesionalisme bagi auditor antara lain: 1. kan dan mengembangkan ilmu dan seni akuntansi 2. Menjaga kepercayaan publik kepada profesi 3. Mengadakan dan menjalankan setiap program dan kegiatan profesi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas jasa yang diberikan profesi

Sebagai organisasi profesional di samping harus mampu membina anggotanya, IAI harus mampu mengawasi dan menindak anggotanya yang melanggar kode etik profesi. Kewajiban lain yang harus dipikul IAI agar dapat menjadi salah satu pillars of integrity adalah menjadi salah satu agen yang mempromosikan good governance. Promosi ini dilakukan pada dasarnya untuk menyuarakan adanya keterbukaan dan akuntabilitas dalam berbagai aktivitas masyarakat. Peran lain yang dapat IAI ambil untuk mendukung gerakan anti korupsi yang merupakan salah satu elemen gerakan untuk menciptakan good governance adalah dengan memberikan dukungan teknis kepada lembaga atau gerakan anti korupsi. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik PASAL 28 1. Akuntan Publik wajib mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) yang diselenggarakan yang diakui oleh IAI dan atau Direktur Jenderal dengan jumlah Satuan Kredit PPL (SKP) sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) SKP setiap tahun. 2. Akuntan Publik yang dalam waktu 1 tahun melakukan audit umum atas laporan keuangan, wajib mengikuti PPL di bidang auditing dan akuntansi sekurangkurangnya sebanyak 15 (lima belas) SKP pada tahun berikutnya, yang merupakan bagian dari jumlah SKP sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: 359/KMK.06/2003 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik PASAL I: Pasal 26 1. Akuntan Publik dilarang merangkap sebagai pejabat negara, pimpinan atau pegawai pada instansi pemerintah, BUMN atau daerah atau swasta, atau badan hukum lainnya. PASAL II 1. KAP yang memberikan jasa audit umum untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut atau lebih atas laporan keuangan dari suatu entitas pada saat berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, dapat melaksanakan audit umum atas laporan keuangan suatu entitas tersebut sampai dengan tahun buku 2003. 2. Akuntan Publik yang memberikan jasa audit umum untuk 3 (tiga) tahun buku beturut-turut atau lebih atas laporan keuangan dari suatu entitas pada saat berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, dapat melaksanakan audit umum atas laporan keuangan suatu entitas tersebut sampai tahun buku 2003. Pembatasan dan rotasi terhadap akuntan publik diatur dalam pasal 6 ayat 4, yang berbunyi: Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dapat dilakukan oleh KAP paling lama untuk lima tahun buku berturut-turut dan oleh seorang akuntan public paling lama tiga tahun berturut-turut. Beberapa perubahan penting dalam Kepmenkeu itu diatur dalam pasal 6, yang semula empat ayat ditambah menjadi tujuh ayat. Adapun tiga ayat tambahan tersebut adalah: 1. Dalam hal KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari satu entitas melakukan perubahan komposisi akuntan publiknya maka terhadap KAP tersebut tetap diberlakukan ketentuan ayat 4. 2. Dalam hal KAP melakukan perubahan komposisi akuntan public yang mengakibatkan jumlah akuntan publiknya 50% atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas maka terhadap KAP itu diberlakukan sebagai kelanjutan KAP atas akuntan public

yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud ayat 4. 3. Dalam hal pendirian atau perubahan nama KAP yang komposisi akuntan publiknya 50% atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas maka terhadap KAP tersebut diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal akuntan public yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam ayat 4.