0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan24 halaman

Bab 13 Rencana Dan Program Audit Keselur

Diunggah oleh

wanda korompis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan24 halaman

Bab 13 Rencana Dan Program Audit Keselur

Diunggah oleh

wanda korompis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Jenis-Jenis Pengujian Audit

▰1 . Pengujian pengendalian
Pemahaman Auditor terhadap pengendalian internal digunakan untuk
mengukur risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit terkait transaksi.
Untuk mendapat bukti yang tepat dan mencukupi untuk mendukung
pengukuran tersebut auditor melakukan Pengujian Pengendalian. Pengujian
pengendalian baik secara manual/otomatis dapat mencakup jenis bukti
berikut ini.
1. Meminta keterangan dari personil klien yang tepat
2. Memeriksa dokumen, catatan, dan laporan
3. Mengamati aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian
4. Melaksanakan-ulang prosedur klien

2
▰ Pengujian pengendalian juga digunakan untuk
menentukan apakah pengendalian tersebut efektif dan
biasanya meliputi pengujian atas sampel transaksi.
Jumlah bukti tambahan yang diperlukan untuk
pengujian pengendalian tergantung pada dua hal :
1. Luas bukti yang diperoleh dalam memahami
pengendalian internal
2. Pengurangan risiko pengendalian yang direncanakan

3
▰ 2 . Pengujian substantif atas transaksi
Pengujian substantif adalah prosedur yang dirancang untuk menguji
salah saji moneter yang secara langsung mempengaruhi kebenaran
saldo laporan keuangan. Pengujian substantif atas transaksi
(substantive test of transactions) digunakan untuk menentukan
apakah keenam tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi telah
dipenuhi bagi setiap kelas transaksi. Pengujian substantif transaksi
digunakan untuk menentukan apakah keenam tujuan audit terkait
transaksi telah terpenuhi untuk setiap kelompok transaksi.

4
3. Prosedur analitis (analytical procedures)
▰ Melibatkan perbandingan jumlah yang tercatat
dengan harapan yang dikembangkan oleh
auditor. Dua tujuan yang paling penting dari
prosedur analitis dalam mengaudit saldo akun
adalah :
1. Menunjukkan salah saji yang mungkin dalam
laporan keuangan
2. Memberikan bukti substantif

5
4. Pengujian rincian saldo (test of details of balance)
Berfokus pada saldo akhir buku besar baik untuk akun neraca maupun
laporan laba-rugi. Penekanan utamanya dalam sebagian besar pengujian
rincian saldo adalah pada neraca. Pengujian atas saldo akhir ini sangat
penting karena bukti-bukti biasanya diperoleh dari sumber independen
dengan klien, dan dianggap sangat dapat dipercaya. Luas pengujian ini
bergantung pada hasil pengujian pengendalian, pengujian substantif atas
transaksi, dan prosedur analitis substantif atas akun-akun tersebut. Pengujian
rincian saldo dapat membantu dalam menetapkan kebenaran moneter akun-
akun yang berhubungan dan karenanya merupakan pengujian substantif.

6
7
8
Hubungan pengujian pengendalian dengan pengujian subtantif.
Untuk memahami pengujian pengendalian dan pengujian subtantif
dengan lebih baik, mari kita pelajari perbedaan keduanya. Suatu
pengecualian dalam pengujian pengendalian hanya
mengindentifikasikan kemungkinan salah saji memengaruhi nilai rupiah
dari laporan keuangan, sedangkan suatu pengecualian dalam
pengujian subtantif transaksi atau pengujian terperinci saldo
merupakan suatu salah saji dalam laporan keuangan. Pengecualian
dalam pengujian pengendalian dinamakan deviasi uji pengendalian.

9
Hubungan prosedur analitis dan pengujian subtantif
Seperti halnya pengujian pengendalian, prosedur analitis hanya mengindikasikan
kemungkinan salah saji yang berpengaruh pada nilai rupiah laporan keuangan.
Fluktuasi yang tidak biasa dalam hubungan sebuah akun dengan akun lainnya, atau
dengan informasi non keuangan, dapat mengindikasikan adanya peningkatan
kemungkinan terjadinya salah saji tanpa perlu membuktikan bukti langsung atas saji
material tersebut. ketika prosedur analitis tersebut mengindentifikasikan fluktuasi yang
tidak biasa, auditor harus melakukkan pengujian subtantif transaksi atau pengujian
terperinci saldo untuk menentukan apakah salah saji rupiah benar-benar telah terjadi.
Jika auditor melakukan prosedur analitis subtantif dan meyakini bahwa kemungkinan
terjandinya salah saji itu kecil, pengujian subtantif lainnya dapat dikurangi.

10
Dilema antara pengujian pengendalian dan pengujian subtantif
Terdapat dilema antara pengujian pengendalian dengan pengujian
subtantif. Selama perencanaan, auditor harus memutuskan apakah
akan menilai resiko pengendalian dibawah maksimum. Jikia mereka
melakukannya, mereka kemudian harus melakukan pengujian
pengendalian untuk menentukan tingkat resiko pengendalian yang
dinilai tersebut dapat dibenarkan. ( mereka harus selalu melakukan
pengujian pengendalian dalam suatu audit pemgendalian internal
laporan keuangan ). Jika pengujian pengendalian mendukung
penilaian resiko pengendalian, resiko deteksi yang direncanakan
da l a m mo d e l r e s i k o a u d i t m e n i n g k a t , s e h i n g g a p e n g u j i a n
direncanakan dapat dikurangi.
11
BUKTI GABUNGAN

▰ Pilihan jenis pengujian mana yang akan digunakan dan seberapa


luas pengujian tersebut dilakukan dapat berbeda antara audit
yang memiliki tingkat efektivitas pengendalian dan risiko bawaan
yang berbeda. Untuk mendapatkan bukti yang tepat dengan
memadai untuk menghadapi risiki-risiko yang teridentifikasi
melalui prosedur penilaian risiko, auditor menggunakan
kombinasi antara keempat jenis pengujian lainnya. Kombinasi ini
sering kali dinamai dengan bukti gabungan (evidence mix).

12
MERANCANG PROGRAM AUDIT
▰ Setelah auditor menggunakan prosedur penilaian risiko untuk menentukan
penekanan yang tepat pada setiap empat jenis pengujian lainnya, prosedur
audit spesifik untuk setiap jenis pengujian harus dirancang. Prosedur audit ini
kemudian digabungkan untuk membentuk suatu program audit. Setelah bukti
gabungan disetujui, auditor yang bertugas menyiapkan program audit atau
memodifikasi program yang sudah ada untuk memenuhi semua tujuan audit.
Perlu diingat bahwa auditor juga merancang program audit untuk memenuhi
tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan. Sebagai tambahan di bagian
progam audit yang berisi prosedur penilaian risiko yang dilakukan dalam tahap
perencanaan, program audit bagi sebagian besar pengauditan dirancang dalam
tiga bagian utama. Ketiga bagian itu adalah pengujian pengendalian dan
pengujian substantif transaksi, prosedur analitis, dan pengujian perincian
saldo.
13
▰ Pengujian Pengendalian dan Pengujian
Substantif Transaksi
Program audit pengujian pengendalian dan
pengujian substantif transaksi biasanya termasuk
bagian deskripsi yang mendokumentasikan
pemahaman terhadap pengendalian internal yang
didapatkan selama melakukan prosedur penilaian
risiko. Auditor menggunakan informasi ini untuk
mengembangkan program audit pengujian
pengendalian dan pengujian substantif transaksi.

14
▰ Prosedur Audit
▰ Ketika merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi, auditor menekankan
pada pemenuhan tujuan audit terkait transaksi. Auditor mengikuti pendekatan empat langkah

▰ 1.
untuk mengurangi penilaian risiko pengendalian.
Menerapkan tujuan audit terkait transaksi untuk kelompok-kelompok transaksi yang sedang

▰ 2.
diuji, seperti penjualan.
Mengidentifikasi pengendalian kunci yang dapat mengurangi risiko pengendalian untuk setiap

▰ 3.
tujuan audit terkait.
Mengmbangkan pengujian pengendalian yang tepat untuk semua pengendalian internal yang
digunakan untuk mengurangi penilaian awal risiko pengendalian dibawah tingkat maksimum

▰ 4.
(pengendalian-pengendalian kunci).
Untuk kemungkinan jenis-jenis salah saji yang terkait dengan masing-masing tujuan audit
terkait transaksi, merancang pengujian substantif transaksi yang tepat, dengan
mempertimbangkan kekurangan-kekurangan dalam pengendalian internal dan ekspektasi hasil
pengujian pengendalian.
15
▰ Prosedur Analitis
P enghitungan pro seduranalitis berdasarkan jum lah
bulanan biasanya lebih efektif dalam m endeteksisalah
saji dibandingkan dengan perhitungan berdasarkan
jum lah tahunan, dan perbandingan berdasarkan liniusaha
bia sa n ya lebih efektif da ripa da perba n din g a n
berdasarkan h ubun g an - h ubun g an yan g sudah
diprediksikan dengan data nonkeuangan, auditorsering
kalim enggunakan inform asitersebutuntuk prosedur
analitis.

16
Metodologi untuk merancang pengujian
terperinci atas saldo/piutang

17
Ikhtisar Istliah-istilah penting terkait Bukti

18

19
Fase I merencanakan dan merancang
pendekatan audit

▰ M enerim a klien dan m elaksanakan perencanaan awal


▰ M em aham ibisnisdan industryklien
▰ M enilairisiko bisnisklien
▰ M elaksanakan proseduranalitispendahuluan
▰ M enetapkan m aterialitasdan m enilairisiko audityang dapatditerim a
serta risiko inheren
▰ M em aham ipengendalian internal dan m enilairisiko pengendalian
▰ M engum pulkan inform asiuntuk m enilairisiko kecurangan
▰ M engem bangkan rencana auditdan program auditsecara keseluruhan

20
Fase II melaksanakan pengujian pengendalian
dan pengujian substantif atas transaksi

▰ M erencanakan untuk m engurangipenilaian tingkatrisiko


pengend alian
▰ M elaksanakan pengujian pengendalian
▰ M elaksanakan pengujian substantifatastransaksi
▰ M enilaikem ungkinan salah sajidalam laporan keuangan

21
Tujuan darifase IIIadalah untuk m em peroleh bukti
tam bahan yang m encukupiguna m enentukan apakah
saldo akhirdan catatan kakiataslaporan keuangan telah
dinyatakan secara wajar.
▰ M elaksanakan proseduranalitis
▰ M elaksanakan pengujian rincian saldo tam bahan

22
▰ M enyelesaikan auditdan m engeluarkan laporan audit
▰ M elaksanakan pengujian tam bahan ataspenyajian dan
pengungkapan
▰ M engum pulkan buktiakhir
▰ M engevaluasihasil
▰ M engeluarkan laporan audit
▰ M engom unikasikan kepada kom ite auditdan m anajem en

23
TERIMAKASIH

24

Anda mungkin juga menyukai