Anda di halaman 1dari 12

REL Rel digunakan pada jalur kereta api. Rel mengarahkan/memandu kereta api tanpa memerlukan pengendalian.

Rel merupakan dua batang rel kaku yang sama panjang dipasang pada bantalan sebagai dasar landasan. Rel-rel tersebut diikat pada bantalan dengan menggunakan paku rel, sekrup penambat, atau penambat e (seperti penambat Pandrol). Jenis penambat yang digunakan bergantung kepada jenis bantalan yang digunakan. Puku ulir atau paku penambat digunakan pada bantalan kayu, sedangkan penambat "e" digunakan untuk bantalan beton atau semen.

Rel kereta api dilihat lebih dekat Rel biasanya dipasang di atas badan jalan yang dilapis dengan batu kericak atau dikenal sebagai Balast. Balast berfungsi pada rel kereta api untuk meredam getaran dan lenturan rel akibat beratnya kereta api. Untuk menyeberangi jembatan, digunakan bantalan kayu yang lebih elastis ketimbang bantalan beton.

Teknologi jalan rel sulit dijelaskan tanpa mengetahui sejarah perkembangan teknologi jalan rel. Salah satunya adalah tentang sejarah perkembangan rel. Kegunaan rel sudah diketahui oleh manusia sejak 2000 tahun SM. Jika kondisi tanah basah, maka roda akan menekan tanah sehingga meninggalkan tapak berupa cekungan ke dalam tanah, hingga lama kelamaan setelah dilewati beberapa kali tanah akan mengeras dan padat. Mendorong gerobak melalui bagian tanah yang sudah mengeras membuktikan bahwa gerobak ternyata lebih mudah didorong. Kebutuhan mendorong gerobak di lorong pertambangan membutuhkan pengetahuan sifat istimewa dari rel, agar gerobak tidak membentur dinding lorong ditambahkan sebuah alat di bagian depan gerobak untuk menjaga agar gerak gerobak mengikuti arah lorong. Abad ke 18 digunakan jalan menggunakan papan kayu yang disebut Wagonway untuk angkutan batu bara. Setelah besi ditemukan maka dibuat roda yang lebih tahan lama dan mclapisi permukaan roda yang bersinggungan dengan jalan menggunakan lapisan besi tipis. Selain itu besi juga digunakan untuk melapisi permukaan jalan kayu. Tahun 1767, von Reynolds melapisi lapisan kayu dengan besi cor di atasnya dengan peninggian pada sisi-sisinya.

Sejak dikenal proses pengolahan besi yang lebih efektif kemudian menghasilkan rel sebagai pengganti jalan kayu. Rel dibuat dari besi tuang dengan lekukan yang diharapkan dapat memberi arah yang tepat bagi pergerakan roda. Jalan dengan menggunakan bahan ini disebut Plateway. Tahun 1782, von Jessops menggunakan rel darl besi cor yang merubah bentuk rel dari bentuk kanal menjadi bentuk jamur sejalan dengan dibuatnya roda yang dilengkapi dengan flens. Rel yang terbuat dari besi cor sering patah terutama pada bagian tengah. Kemudian dibuat rel yang diperkuat pada bagian tengah menjadi seperti perut ikan. Tahun 1820, mulai digunakan rel baja yang ditempa dengan kekuatan tarik yang lebih baik.

Jenis rel berdasarkan berat


Rel yang digunakan di Indonesia menggunakan standar UIC dengan Standar:

Rel 25 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 25 kilogram (kg). Rel 33 Rel 41 Rel 42 Rel 50 Rel 54 Rel 60

Lebar trak

Definisi lebar rel/Gauge

Ada beberapa lebar (gauge) yang digunakan, semakin lebar semakin stabil sehingga semakin tinggi kecepatan kereta apinya. Lebar trak yang umum digunakan di antaranya

Lebar 700 mm, digunakan Kereta api Aceh, dari Besitang menuju Banda Aceh yang saat ini sudah tidak digunakan lagi. Lebar 1000 mm disebut juga "meter gauge", digunakan di Malaysia Lebar 1067 mm, atau 3 kaki 6 inci merupakan lebar rel yang digunakan secara umum di Indonesia, disebut juga sebagai Narrow gauge. Narrow gauge cocok untuk daerah yang bergunung-gunung karena trak yang lebar membutuhkan biaya besar dan pembangunannya lebih sulit. Lebar 1435 mm, atau 4 kaki 8,5 inci. merupakan rel yang banyak digunakan didunia sehingga disebut juga sebagai Standard gauge

Penyambungan rel
Rel karena alasan transportasi menuju ke lokasi biasanya dari pabrik pembuat rel dipotong menjadi rel dengan panjang 25 m. Untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan kereta api yang berjalan diatasnya maka rel tersebut disambung. Penyambungan rel dilakukan dengan beberapa cara:

Las termit
Salah satu cara yang umum digunakan adalah dengan las termit dilokasi sehingga bisa menjadi rel yang menerus. Pengelasan menggunakan las termit dengan menggunakan bahan kimia senyawa besi yang ditempatkan di antara kedua rel kemudian bahan tersebut direaksikan pada suhu sampai mencairkan bahan kimia tersebut dan menyambung rel tersebut, sisa hasil reaksi kimia tersebut kemudian dipotong dan diratakan dengan rel.

Las kilatan listrik/Flash Butt Welding


Salah satu cara lain yang digunakan dalam mengelas rel kereta api adalah dengan cara las kilatan listrik atau dalam Bahasa Inggris disebut "Flash Butt Welding", yaitu dengan mendekatkan ujung dua potong rel yang akan dilas yang telah diberi muatan listrik dengan arus yang sangat besar, sehingga ketika terjadi kontak akan timbul kilatan listrik yang akan memanaskan dan melelehkan ujung kedua rel yang didekatkan tersebut. Setelah ujung kedua rel yang didekatkan berpijar dan meleleh, ujung rel kedua tersebut disatukan dengan diberi tekanan yang besar (150 s.d 300 kg/cm3) sehingga ujung dari kedua potong rel tersebut menyatu dan kemudian diratakan dan dimuluskan ketika rel masih berpijar. Kelebihan dari cara ini adalah tidak memerlukan bahan seperti las termit, dan hasil sambungan las pada rel lebih kuat daripada menggunakan las termit, selain itu las kilat membutuhkan waktu yang lebih singkat, yaitu hanya 15 menit per titik las, dibandingkan dengan las termit yang membutuhkan waktu 25-30 menit per titik las. Namun, cara ini tidak terlalu cocok dan berbahaya di Indonesia, karena arus listrik pada rel dapat mengalir ke bagian rel yang lainnya. Mengingat banyak jalur rel di berbagai daerah terdapat pemukiman padat penduduk, terkadang ada orang terutama anak-anak secara iseng maupun tidak sengaja menyentuh rel yang diberi muatan listrik sehingga dapat menimbulkan bahaya sengatan listrik.

Sambungan baut

Fishplate di antara 2 rel yang disambung Pada sambungan ini digunakan suatu penyangga yang disebut sebagai fish plate yang dibaut pada kedua rel yang disambung. Dengan sambungan yang demikian akan terasa pada saat berjalan dalam kereta api.

Jalur tunggal

Rel jalur tunggal

Jalur tunggal' atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai single track adalah jalur tunggal rel kereta api yang biasanya digunakan pada lintasan yang arus lalu lintasnya masih rendah. Oleh karena itu digunakan secara bergantian , tempat dimana kereta api berpapasan dibuat siding dimana salah satu rangkaian menunggu sebelum diijinkan untuk berjalan. Biasanya jalur tunggal dibangun pada lintasan yang arus lalu lintas kereta api masih rendah, dan bila lalu lintas meningkat biasanya ditingkatkan menjadi jalur ganda seperti pada jalur Jakarta - Cirebon, jalur Kutuarjo - Yogyakarta - Solo

Jalur ganda

jalur ganda

Jalur ganda' atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai double track adalah jalur kereta api yang jumlahnya dua atau lebih dengan tujuan agar masing-masing jalur digunakan untuk arah yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecelakaan kepala dengan kepala (head on) serta untuk meningkatkan kapasitas lintas dan disamping itu juga bisa meningkatkan aksesibilitas bila terjadi gangguan terhadap salah satu jalur. Pengoperasian di Indonesia Berdasarkan Undang-undang No 23 Tahun 2007 Mengenai Perkeretaapian disebutkan bahwa : Pengoperasian kereta api menggunakan prinsip berlalu lintas satu arah pada jalur tunggal dan jalur ganda atau lebih dengan ketentuan setiap jalur pada satu petak blok hanya diizinkan dilewati oleh satu kereta api; dan jalur kanan digunakan oleh kereta api untuk jalur ganda atau lebih.

Pengoperasian kereta api yang dimulai dari stasiun keberangkatan, bersilang, bersusulan, dan berhenti di stasiun tujuan diatur berdasarkan grafik perjalanan kereta api. MONOREL- http://id.wikipedia.org/wiki/Monorel

LEBAR SEPUR Lebar jalur kereta api atau lebar trak atau lebar sepur adalah lebar antara sisi dalam kepala rel pada trak kereta api. Hampir enam puluh persen trak kereta api diseluruh dunia menggunakan trak yang lebarnya 1.435 mm(4 ft 8 in), yang pada akhirnya disebut sebagai lebar trak standar Internasional. Lebar trak yang kurang dari itu disebut sebagai lebar trak sempit (narrow gauge) dan yang lebih lebar disebut sebagai trak lebar (broad gauge). Di beberapa negara ada yang menggunakan lebar trak yang berbeda sehingga pada tempat-tempat tertentu digunakan tiga rel dalam satu trak, sehingga lintasan bisa dipakai bersamaan antara kereta dengan lebar trak yang kecil dan lebar trak yang besar. Penggunaan lebar sepur di dunia Cari di http://id.wikipedia.org/wiki/Lebar_jalur_kereta_api Lebar sepur di Indonesia

Trak standar
Jalan rel pertama di Indonesia diresmikan pada tanggal 10 Agustus 1867. ] Jalan sepanjang 25 km ini menghubungkan Semarang dengan desa Tanggung menggunakan trak standar (1.435 mm). Pembangunan jalan rel ini kemudian dilanjutkan sampai Yogyakarta dan diresimkan pada tanggal 10 Juni 1872.

Trak sempit
Lebar trak sempit pertama kali digunakan di Indonesia pada jalur yang menghubungkan Jakarta dan Bogor yang dibangun antara 1871-1873. Lebar trak yang digunakan adalah 1.067 mm seperti yang digunakan di Afrika Selatan.[ Pada masa pendudukan Jepang, beberapa jalur rel trak standar seperti jalur SoloYogyakarta dan Semarang-Solo diganti menjadi trak sempit 1.067 mm. Di samping lebar trak 1.067 mm, di Indonesia juga pernah terdapat beberapa jalur rel dengan lebar trak 750 mm dan 600 mm. Jalur trak 750 mm digunakan di Aceh pada awal abad XX dalam perang melawan pemberontak. Lebar trak 750 mm juga digunakan di perkebunan tebu di pulau Jawa. Saat ini, tidak ada lagi jalur 600 mm di Indonesia karena perusahaan kereta api swasta yang menggunakannya sudah tidak ada.

BANTALAN REL
Bantalan rel adalah landasan tempat rel bertumpu dan diikat dengan penambat rel oleh karena itu harus cukup kuat untuk menahan beban kereta api yang berjalan di atas rel. Bantalan dipasang melintang rel pada jarak antara bantalan dengan bantalan sepanjang 0,6 meter. Jenis bantalan :

Bantalan kayu Bantalan kayu merupakan bantalan yang pertama sekali digunakan dalam dunia kereta api, serta digunakan di jembatan karena kayu lebih elastis dari beton. Kelemahan kayu adalah daya tahan yang tidak terlalu lama terutama didaerah yang hujan dan kelembabannya tinggi. http://www.forda-mof.org/files/3.%20Djarwanto%20dan%20Sihati.pdf Bantalan beton Bantalan beton dibuat dari beton bertulang prategang, pada bantalan beton juga sekaligus ditempatkan angker penambat. Keunggulan dari bantalan beton adalah daya tahan terhadap cuaca dibanding dengan bantalan kayu. Bantalan baja Terbuat dari pelat baja, biasanya dipasang pada lengkungan, tidak pada keseluruhan lintasan kereta api karena harganya lebih mahal dari bantalan beton. Bantalan slab Adalah bantalan yang langsung menjadi satu dengan badan jalan yang dicor dalam bentuk slab. Pengerjaan harus sangat teliti untuk mendapatkan kualitas penggunaan yang nyaman. Investasi untuk pembangunan lintasan dengan bantalan slab lebih besar dari bantalan beton atau baja tetapi biaya perawatannya jauh lebih rendah. Digunakan untuk membangun lintasan kereta api cepat, lintasan yang arus lalu lintas kereta apinya tinggi. http://id.wikipedia.org/wiki/Bantalan_rel http://www.scribd.com/doc/21375761/48/c-Bantalan-Baja

PENAMBAT REL
Penambat rel adalah pengikat rel ke bantalan rel kereta api. Penambat rel ada dua jenis: Jenis Penambat Kaku dan Jenis Penambat Elastis. Jenis Penambat Kaku biasanya terdiri dari paku rel, mur, baut, atau menggunakan tarpon (tirefond) yang dipasang menggunakan pelat landas. Umumnya penambat kaku ini digunakan pada jalur kereta api tua, baik yang masih aktif maupun tidak aktif. Karakteristik dari penambat kaku, selalu dipasang pada bantalan kayu atau bantalan baja. Penambat Kaku kini sudah tidak layak digunakan untuk semua rel kereta api. Frekuensi Tinggi Jenis Penambat Elastis diciptakan untuk meredam getaran dengan frekuensi tinggi pada rel yang diakibatkan oleh kereta api ketika bergerak di atasnya.

Penambat elastis

Sistem penambat elastis, merupakan salah satu komponen utama yang ikut memengaruhi kualitas struktur jalan rel, terbuat dari bahan baja yang elastis, sehingga memungkinkan untuk mengabsorbsi getaran yang terjadi pada saat kereta lewat di atasnya ataupun mengakomodasi pemuaian rel akibat perbedaan suhu rel.
Penambat e

Penambat Pandrol E-clip

Disebut juga sebagai e clip karena bentuknya seperti huruf e kecil dan berbentuk seperti klip kertas sehingga disebut sebagai klip. Digunakan di Indonesia sejak penggunaan bantalan rel beton. Merupakan penambat yang pertama sekali dikembangkan oleh Pandrol sehingga disebut juga sebagai Pandroll Clip. Salah satu kelemahan dari sistem ini mudah untuk dicuri, cukup dengan menggunakan palu sudah bisa mencabut klip ini, untuk menghindari permasalahan ini dipasang suatu anti vandalisme. Beberapa keunggulan dari Penambat e:

Komponen sedikit dan sederhana Elastis sehingga tetap mencengkeram rail walaupun bergetar Tahan lama Tingkat keselamatan dan keamanan tinggi Bisa digunakan pada berbagai bantalan maupun trak tanpa balast Bisa digunakan di Wesel atau persilangan Dapat dilengkapi dengan mekanisme anti vandal, untuk menghindari pencurian ataupun pencopotan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab Dapat dengan mudah diterapkan di segala bentuk bantalan Bebas perawatan Penggunaan mudah seperti pada waktu pergantian rel

Penambat type F

Penambat rel Tipe F bila dilihat sekilas tampak sederhana dan bentuknya mirip dengan Penambat Clip, namun komponen penambatnya relatif banyak sehingga membutuhkan ketelitian dalam pemasangan dan pemeliharaan. Kuat jepit yang dihasilkan dapat mencapai 500 kgf, dan penambat ini dianggap tidak cepat longgar karena mampu meredam getaran. Penambat ini banyak digunakan di Jepang.

KA Klip

KA Klip yang digunakan pada lintas Yogyakarta- Solo

Dikembangkan oleh PT Kereta Api Indonesia, yang mudah dipasang ataupun dibongkar dengan alat yang diciptakan khusus untuk itu. Penambat ini merupakan pengembangan dari F Type dan dibuat oleh PT Pindad. Beberapa Keunggulan KA Klip:

Komponen sedikit dan sederhana Pemasangan mudah Efektif untuk penggunaan kembali bila penggantian rel Hampir tidak membutuhkan perawatan Gaya jepit 750 sampai dengan 1300 Kgf (sesuai dengan standart : SNI 11-36771995) Dapat mereda getaran karena Clip elastis Dapat menahan beban longitudinal and lateral Dapat menahan beban dari axle load Mengunci sendiri (anti vandal) Dapat digunakan pada track lurus, lengkung, persilangan maupun sambungan Dapat digunakan pada bermacam-macam type rel Dilengkapi dengan insulator listrik untuk melindungi system sinyal & pelacakan. Dapat digunakan untuk upgrading rel tanpa mengganti bantalan

Penambat kupu-kupu

Merupakan penambat yang disebut juga sebagai fastclip, merupakan perkembangan dari e clip berbentuk seperti kupu-kupu yang waktu pemasangan cepat, mudah dirawat, dan harga murah. Penambat seperti ini belum digunakan di Indonesia.
DE Clip

Merupakan penambat elastis yang dikembangkan di Belanda dan di Indonesia dibuat juga oleh PT Pindad dan digunakan secara luas pada jaringan jalan kereta api, khususnya diwilayah pulau Jawa. Beberapa keunggulan dari DE Clip:

Koponen sedikit dan sederhana Mudah saat pemasangan dan penggantian di track/lintas Sangat handal dapat digunakan kembali pada penggantian Rel Hampir tidak membutuhkan perawatan Gaya jepit antara 750 ? 1300 Kgf (sesuai SNI 11-3677-1995) Mudah dipasang pada berbagai jenis bantalan dan ukuran rel Dapat digunakan untuk upgrading rel tanpa mengganti bantalan

Tidak mudah dirusak dan tidak memerlukan perawatan khusus Dapat digunakan pada track lurus, lengkung, persilangan maupun sambungan Dilengkapi dengan insulator listrik untuk melindungi system sinyal & pelacakan Ketahanan tinggi Resistensi dari ballast section memberikan stabilitas penuh terhadap rel Mampu mengunci sendiri

Penambat paku ulir

Paku ulir yang digunakan untuk mengikat rel ke bantalan

Merupakan penambat yang digunakan pada bantalan kayu, yang berupa paku ulir yang disekrup di atas pelat baja kedalam bantalan kayu sehingga mengikat rel ke bantalan.

BALAS DAN JENIS BALAS

Balas adalah bagian dari lapisan jalan kereta api dimana bantalan rel ditempatkan dan terletak diatas lapisan tanah dasar. Fungsi : 1. Meneruskan dan menyebarkan beban yang diterima bantalan ketanah dasar 2. Mencegah/menahan bergesernya bantalan dan rel baik kearah membujur (akibat gaya rem, jejakan pada rel, kembang susut rel karena perubahan suhu udara) maupun arah melintang akibat gaya lateral.

3. Sebagai drainase agar tidak terjadi genangan air disekitar bantalan rel. Ketebalan Lapisan Balas Pada tanah dasar yang mempunyai kuat dukung yang tinggi, tidak diperlukan ketebalan balas setebal balas di atas tanah lunak. Pada balas yang menerima beban ringan cukup menggunakan balas yang relatif tipis dibandingkan dengan balas yang harus menerima beban yang besar. Dengan demikian ketebalan lapsian balas yang diperlukan tergantung : a. kuat dukung tanah dasar badan jalan rell b. Beban roda kereta api c. Kecepatan kereta api d. Bahan balas Jika bantalan diletakkan langsung di atas tanah dasar tanpa balas, tanah di bawah bantalan dan juga bantalnnya akan cepat rusak akibat sentakan-sentakan oleh beban dinamis yang berasal dari kereta api yang berjalan di atasnya Rusaknya tanah dasar dan bantalan akan menyebabkan kedudukan sepur tidak stabil. Kerusakan yang terjadi akan akan semakin cepat dan besar sewaktu turun hujan yang dapat mengakibatkan lunaknya tanah dasar badan jalan rel. dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa lapisan balas tetap diperlukan untuk segala jenis tanah dasar badan jalan rel.

Balas terdiri atas dua bagian, yaitu : 1. Balas atas 2. Balas bawah

1. Balas atas Balas atas terdiri dari batu pecah yang keras, bersudut tajam (angular), tahan lama, tidak cepat aus oleh beban, dan tahan terhadap cuaca serta bergradasi baik. Hal ini dimaksudkan untuk menahan beban dinamis yang berat yang berasal dari kereta api yang berjalan di atas rel. Lapisan balas atas akan mengalami tegangan yang sangat besar, oleh karena itu bahan pembentuknya harus baik. 2. Balas bawah Lapisan balas bawah terdiri dari kerikil halus, kerikil sedang atau pasir kasar yang memenuhi syaratsyarat yang tercantum dalam Peraturan Bahan Jalan rel Indonesia (PBJRI). Balas bawah berfungsi sebagai lapisan penyaring (filter) antara tanah dasar dan lapisan balas atas dan harus dapat mengalirkan air dengan baik. Tebal minimum lapisan balas bawah adalah 15 cm

PETA JARINGAN KA DI JAWA DAN SUMATRA http://www.kereta-api.co.id/tentang-kami/prasarana.html

WESEL KA Wesel (dari bahasa Belanda wissel) adalah konstruksi rel kereta api yang bercabang (bersimpangan) tempat memindahkan jurusan jalan kereta api. Wesel terdiri dari sepasang rel yang ujungnya diruncingkan sehingga dapat melancarkan perpindahan kereta api dari jalur yang satu ke jalur yang lain dengan menggeser bagian rel yang runcing.

Cara kerja wesel

Animasi cara kerja wesel kereta api

Kereta api berjalan mengikuti rel, sehingga kalau relnya digeser maka kereta api juga mengikutinya. Untuk memindahkan rel, digunakan wesel yang digerakkan secara manual ataupun dengan menggunakan motor listrik. Pada kereta api kecepatan tinggi dibutuhkan transisi yang lebih panjang sehingga dibutuhkan pisau yang lebih panjang dari pada lintasan untuk kereta api kecepatan rendah. http://www.scribd.com/doc/38000970/WESEL-Dan-Emplasemen

Keselamatan :

Kecelakaan
Wesel merupakan tempat rawan pada prasarana kereta api, karena sering terjadi kecelakaan dalam bentuk anjlokan, yang biasanya terjadi karena wesel tidak berfungsi dengan baik karena keausan pisau wesel, motor penggerak wesel tidak bekerja sempurna ataupun terganjal oleh benda asing, di samping itu biasanya ada batas kecepatan untuk melalui wesel yang diabaikan oleh masinis.

Sabotase
Wesel juga merupakan tempat yang mudah untuk disabotase karena dengan menempatkan batu atau benda logam tertentu di antara rel yang bergerak dapat mengakibatkan wesel tidak berfungsi. Oleh karena itu perlu diawasi secara reguler.