Anda di halaman 1dari 24

HIPERMETROPIA

NORHAZIRAH BINTI MOHD RASHID 112011256

PENGERTIAN
Hipermetropia merupakan keadaan dimana kekuatan pembiasan sinar pada mata tidak cukup kuat untuk memfokuskan sinar pada bintik kuning (macula lutea), sehingga mata menfokuskan sinar di belakang retina.

HIPERMETROPIA

EPIDEMIOLOGI
Jumlah

penderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk atau sekitar 55 juta jiwa.
Kasus

kelainan refraksi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.


Kelainan

refraksi hipermetropia ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.

ETIOLOGI
1.

Hipermetropia sumbu atau hipermetropia aksial merupakan kelainan refraksi akibat bola mata pendek atau sumbu anteroposterior yang pendek. Hipermetropia kurvatur, dimana kelengkungan kornea atau lensa kurang sehingga bayangan difokuskan di belakang retina. Hipermetropia indeks refraktif, dimana terdapat indeks bias yang kurang pada sistem optic mata, misalnya pada usia lanjut lensa mempunyai indeks refraksi yang berkurang.

2.

3.

ETIOLOGI

KLASIFIKASI
1.

Hipermetropia manifes ialah hipermetropia yang dapat dikoreksi dengan kacamata positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Terdiri atas hipermetropia absolut ditambah dengan hipermetropia fakultatif. Hipermetropia absolut, dimana kelainan refraksi tidak dapat diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh. Hipermetropia fakultatif, dimana kelainan hipermetropia dapat diimbangi dengan akomodasi ataupun dengan kacamata positif.

a)

b)

KLASIFIKASI
2. Hipermetropia laten, di mana kelainan hipermetropia tanpa siklopegi (atau dengan obat yang melemahkan akomodasi) diimbangi seluruhnya dengan akomodasi.

Hipermetropia laten diukur bila diberikan siklopegia. Hipermetropia laten merupakan selisih antara hipermetropia total dan manifes yang menunjukkan kekuatan tonus dari mm.siliaris.

KLASIFIKASI
3. Hipermetropia total ialah hipermetropia

yang ukurannya didapat sesudah diberikan siklopegia.

Hasil pengukuran lensa sesudah diberikan siklopegia (hipermetropia total) lebih besar daripada hipermetropia manifes.

KLASIFIKASI
Contoh : Pasien usia 25 th, tajam penglihatan 6/20 Dikoreksi dengan sferis +2.00 6/6 Dikoreksi dengan sferis + 2.50 6/6 Dikoreksi dengan siklopegia, sferis + 5.00 6/6 Maka, Hipermetropia absolut sferis + 2.00 Hipermetropia manifes sferis + 2.50 Hipermetropia fakultatif sferis (+2.50)-(+2.00)= +0.50 Hipermetropia laten sferis +5.00 (+2.50)= +2.50

GEJALA DAN TANDA


Gejala

subjektif terdiri dari :

Penglihatan dekat kabur, kecuali pada hipermetrop tinggi atau pada usia tua, penglihatan jauh juga terganggu Astenopia akomodatif dengan gejala sakit sekitar mata, sakit kepala, konjungtiva merah, lakrimasi, fotofobia ringan, mata terasa panas dan berat, mengantuk. Gejala biasanya timbul setelah melakukan pekerjaan dekat seperti menulis, membaca, dan sebagainya

GEJALA DAN TANDA


Gejala

objektif terdiri dari :

Bilik mata depan dangkal karena akomodasi terus menerus sehingga menimbulkan hipertrofi otot siliaris yang disertai terdorongnya iris ke depan Pupil miosis karena berakomodasi. Pseudopapilitis (pseudoneuritis) karena hiperemis papil N.II akibat akomodasi terus menerus sehingga seolah-olah meradang

DIAGNOSIS
Dari anamnesis sesuai dengan gejala hipermetropia Metode trial and error Retinoskopi: dengan lensa kerja +2.00, pemeriksa mengamati reflex fundus yang bergerak searah dengan arah gerakan retinoskop (with movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis positif sampai tercapai netralisasi. Autorefraktometer (computer)

DIAGNOSIS BANDING

PRESBIOPIA Gangguan akomodasi pada usia lanjut yang terjadi akibat kelemahan otot akomodasi dan lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sklerosis lensa Keluhan : mata lelah, berair, sering terasa pedas dan nyeri kepala Pemeriksaan : dikoreksi penglihatan jauhnya dengan metode trial and error hingga visus mencapai 6/6. Dengan menggunakan koreksi jauhnya kemudian secara binokuler ditambahkan lensa sferis positif dan diperiksa menggunakan kartu Jaeger pada jarak 33cm.

DIAGNOSIS BANDING

PRESBIOPIA Penatalaksanaan : Lensa sferis positif sesuai pedoman umur, yaitu pada umur 40 tahun ditambahkan sferis +1.00 dan setiap 5 tahun di atasnya ditambahkan lagi sferis +0.50. Prognosis : baik Komplikasi : bila tidak dikoreksi dapat makin parah dan mengakibatkan kualitas hidup menurun.

KOREKSI MATA
1)

2)

kaca mata sferis positif terkuat atau lensa positif terbesar yang masih memberikan tajam penglihatan maksimal. Pada pasien di mana akomodasi masih sangat kuat atau pada anak-anak, maka sebaiknya dilakukan dengan memberikan siklopegik atau melumpuhkan otot akomodasi. Pasien akan mendapatkan koreksi kacamatanya dengan mata yang istirahat.

KOREKSI MATA
3) Pasien hipermetropia aksial memerlukan kekuatan lensa yang lebih tinggi untuk menggeser sinar ke macula lutea 4) Setiap kekuatan lensa +1 dioptri akan terjadi pembesaran benda yang dilihat sebesar 2%. Penderita yang memakai kacamata positif akan terlihat seolaholah matanya menjadi besar. 5) Kacamata positif tebal akan terjadi kesukaran melihat seperti gangguan penglihatan tepi dan aberasi sferis.

KOREKSI MATA
6) Lensa kontak dapat mengurangi masalah tetapi perlu diperhatikan kebersihan dan ketelitian pemakaiannya. 7) Perlu diperhatikan juga masalah lama pemakaian, infeksi, dan alergi terhadap bahan yang dipakai.

KOREKSI MATA

KOMPLIKASI
Ambliopia akibat mata tanpa akomodasi tidak pernah melihat obyek dengan baik dan jelas. Bila terdapat perbedaan kekuatan hipermetropia antara kedua mata maka akan terjadi ambliopia pada salah satu mata Mata ambliopia sering menggulir kearah temporal.
1)

KOMPLIKASI
2) Esotropia atau juling ke dalam terjadi akibat pasien terus-menerus menggunakan akomodasi,bola mata turut melakukan konvergensi. 3) Glaukoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata.

PENCEGAHAN
Duduk dengan posisi tegak ketika membaca dan menulis. Istirahat mata setiap 30 60 menit setelah menonton TV, komputer atau setelah membaca. Mata dipejamkan sebentar atau digunakan untuk melihat objek yang jauh. Mengatur jarak membaca yang tepat yaitu lebih dari 30 cm. Gunakan penerangan yang cukup Jangan membaca dengan posisi tidur

PROGNOSIS
Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian pengobatan, pengobatan yang diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.

TERIMA KASIH