Anda di halaman 1dari 35

FI-4241

Topik Khusus Fisika


Reaktor

In-core fuel management


Abdul Waris, Ph.D

Physics Study Program


Faculty of Mathematics and Natural Sciences
PHYSI S Institut Teknologi Bandung
Teras Reaktor

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Advanced BWR Fuel Designs

AREVA ATRIUM-10 Westinghouse SVEA-96 (ABB)

1/3 part
length
part length

full length

full length

2/3 part
length

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
AREVA ATRIUM-10

Bottom Assembly (0% void) Top Assembly (40% void)

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Impact of Heterogeneity on the
Resonance Treatment

Guide Tube

3.3% UO2 Pin

Model 1
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Impact of Heterogeneity on the
Resonance Treatment

B4C Control rod

3.3% UO2 Pin

Model 1
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Pengantar
Istilah “fuel management” bukan definisi yg unik, ia
memiliki arti yang berbeda untuk orang yg
berbeda, namun demikian beberapa aktivitas
berikut secara definitif merupakan bagiannya.
1. Suplai material dan servis yg diperlukan pada
sejumlah langkah dalam siklus BBN (contoh:
uranium, conversion, enrichment, fabrication,
transport, disposal, storage)
2. Pengembangan, review, dan evaluasi yang
berhubungan dengan kontrak suplai dan
servismaterial
3. Studi tentang biaya bahan bakar
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Pengantar...
4. Studi ttg. persyaratan dan desain bahan bakar
yg diperlukan dalam siklus BBN
5. Pertimbangan operasional yg dihubungkan
dengan performansi BBN dlm teras
6. Sejarah daya dalam teras (sejarah operasi BB
dlm teras)
7. Pola pengisian bahan bakar dlm teras (core
refueling pattern)
8. Aktivitas refueling
9. Penyimpanan dan pembuangan BBN sisa

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Pengantar...

 Aktivitas 1,2,3, dan 9 merupakan


kelompok “out of core” fuel
management
 Sisanya merupakan bagian dari “in-
core” fuel management.

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Tujuan

Tujuan utama pengelolaan BB (fuel management)


adalah untuk meminimumkan biaya BB yang
pada gilirannya adalah meminimumkan biaya
produksi listrik tanpa mengganggu kendala
operasi dan pertimbangan keselamatan

 Ada dua kendala yang harus dihadapi:


1. Kendala operasional (operational constraints)
2. Kendala keamanan (safety constraints)

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Kendala operasional
 Refueling harus dijadwalkan untuk
periode yg sepanjang mungkin
 Reaktivitas BB harus cukup untuk
memenuhi target burnup
 Teras harus memiliki kontrol reaktivitas
yg cukup
 Pengurangan fluks netron cepat pada
pressure vessel (untuk PWR)

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Kendala Keselamatan

Kendala keselamatan dinyatakan dalam


nilai-nilai parameter tertentu yang
tidak boleh dilanggar:
 Peak-to-average power ratio
 Suhu maksimum dalam teras
 Deviation from nucleate boiling ratio
(DNBR)
 Reaktivitas teras
 Koefisien reaktivitas dari temperatur
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Burnup, Availability, and Capacity factors
 Burnup (BU) dari bahan bakar selama periode waktu T
yang dinyatakan dengan MWD/MTU diberikan oleh:

 MWD  P0 [ MW (t )] x CF x T ( days )
BU  =
 MTU  MTU
T
 Capacity factor (CF) didefinisikan sebagai:
∫ P(t )dt
CF = 0

P0T

Po = Daya reaktor
MTU = massa uranium dalam teras, dalam ton
P(t) = daya termal pada waktu t, selama periode T

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Burnup…
 Dalam definisi di atas, T biasanya diambil 1 tahun.

 Sebelum tahun 80an CF bernilai antara 60% - 70%

 Selanjutnya karena continuous improvement, more


comprehensive operator training dan pemanjangan
fuel cycle dari 12 bulan ke 18 bulan, CF sudah bisa
di atas 80%

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Burnup, Availability, and Capacity factors …

 Eksperimen menunjukkan bahwa final burnup secara


esensial sebanding dengan pengayaan awal dari BB

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Availability factors (AF)
 Availability factor (AF) didefinisikan sebagai:

Time during which the plant was operational in period T


AF =
T
 Jelas AF > CF.
 Karena refueling berlangsung paling sedikit 4 minggu,
nilai AF maksimum untuk annual fuel cycle adalah AF=48
mg/52 mg = 0,92, untuk 18 siklus bulan, AF =74 mg / 78
mg = 0.95

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Effective Full Power Days (EFPD)

Effective Full Power Days (EFPD) didefinisikan sebagai:


T
EFPD = ∫ CF (t )dt = CFxT (days)
0

Walaupun EFPD memeiliki dimensi waktu, ia terkait


langsung dengan energi yg dihasilkan dalam waktu T.
Energi = EFPD x Po (MWD)

Dalam kasus ideal dengan CF 100%, EFPD dalam


setahun adalah 365. Kenyataannya CP berkisar 80%
sehingga EFPD dalam setahun adalah ~300
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Reaktivitas teras reaktor
 Reaktivitas didefinisikan sebagai:

ρ=(k − 1)
k
 Total reaktivitas teras adalah:
ρ total = ρ fuel − ρ fp − ρ T

Dimana:
ρ fuel = reaktivitas material fisi dalam teras (+)
ρ fp = reaktivitas produk fisi dalam teras (-)
ρ T = reaktivitas (-) karena pengaruh temperatur (Doppler)
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Reaktivitas teras reaktor …
 Setelah reator mulai beroperasi dengan “fresh fuel” komponen
reaktivitas negatif karena FP dan efek temperatur akan mencapai
kesetimbangan, karena FP akan memcapai nilai saturasi dalam
beberapa hari dan efek suhu akan muncul penuh pada daya 100%.
 Untuk itu reaktivitas teras vs waktu (vs Burnup) akan turun tajam di
awal kemudian seiring dengan pengurangan fuel, reaktivitas positif
akan berkurang secara linier dengan waktu

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Reaktivitas teras reaktor …
 Untuk mengoperasikan reaktor selama
peride tertentu, disebut “fuel cycle”,
sejumlah nilai reaktivitas positif diperlukan
untuk menaikkan daya.
 Sekali daya yg diinginkan telah dicapai,
reaktor harus kritis  reaktivitas total ρ =
0
 Untuk mendapatkan ρ = 0, reaktivitas
positif dari teras, disebut “reactivity swing”
harus dikompensasi oleh racun neutron dan
batang kendali (CR).

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
1. Multi-batch Core Loading

 Teras reaktor terdiri dari fuel assemblies


dengan tingkat pengayaan awal yang berbeda.
 Saat refueling hanya sebagian dari bahan bakar
yang dikeluarkan dan diganti dengan bahan
bakar baru (fresh / unirradiated fuel)
 “batch” adalah jumlah FA (minimal satu) yang
masuk atau keluar teras secara bersama-sama
dalam satu grup. Suatu “batch” terdiri dari
bahan bakan dengan tipe dan tingkat pengayaan
yang sama.
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
1.3. One- and Two-Batch Core
For One-batch core, the reactivity as a function of irradiation time
is:
 BU 1(1) (t ) 
ρ1 (t ) = ρ1 1 − 
 BU 1 (t ) 

BU N( n ) (t ) = burnup of batch in an N - batch core, during cycle n, at time t.


For each batch in the N - batch core, n ≤ N

BU N (T ) = final burnupof a batch in an N - batch core, after thebatch has been in


the core for N - cyclesof equal durationT

T = the length of cycle

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
1.3. One- and Two-Batch Core …
 For Two-batch core

 BU 2(1) (t )   BU 2( 2 ) (t ) 
1 −  + 1 − 
BU (t ) BU ( t )
ρ2 (t ) = ρ1  1   1 
2

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
1.3. The N-Batch Core
 For N-batch core

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
1.3. The N-Batch Core…
 For N-batch core

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
2. Fuel Loading Patterns

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
2.1. Out-In Loading

 Out-In refueling scheme

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
2.2. Scatter Loading
 Scatter (checkerboard) refueling scheme

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
2.3. Low-Leakage Core Loading

 Fast Flux distribution

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
2.3. Low-Leakage Core Loading …

 Low-leakage core refueling scheme

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
2.4. Gas Turbine-Modular Helium Reactor
(GT-MHR) Fuel Loading
 A cross-section of the GT-MHR annular core

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
Referensi
 R. G. Cochran and N. Tsoulfanidis, “The
Nuclear Fuel Cycle: Analysis and
Management”, ANS, 1999
 W. Marshall, “Nuclear Power Technology
Vol. 2 Fuel Cycle”, Clarendon Press
Oxford, 1983
 P.D. Wilson, “The Nuclear Fuel Cycle:
From Ore to Waste”, Oxford, 2001

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S
End of Section...

Physics Study Program - FMIPA | Institut Teknologi Bandung

PHYSI S