Anda di halaman 1dari 25

GEOLOGI DI DAERAH CYCLOOPS DAN

SEKITARNYA KABUPATEN JAYAPURA,


PROVINSI PAPUA

oleh :
IWAN YANER AYOMI

JAYAPURA
2017

1
Peta fisiografi Papua (Visser & Hermes,
1962)
Lokasi
Penelitian

Peta geologi regional Papua modifikasi dari


peta geologi Irian Jaya oleh Dow et al (1988)

Lokasi
Penelitian

Lokasi
Penelitian

Peta tektonik Papua dan Papua New Guinea


modifikasi dari Hamilton (1979), dalam (Cloos,
2005)
2
Geomorfologi
Daerah Irian Jaya (Papua) secara fisiografi dapat dibagi menjadi tiga mandala, yaitu :
Mandala New Guinea Utara, Mandala New Guinea Tengah dan Mandala New Guinea
atan
(Visser dan Hermes, 1962. Gambar 2.1).
1. Mandala New Guinea Utara dicirikan oleh batuan-batuan sedimen dan batuan gunungapi
yang beralaskan batuan-batuan metamorfosa dan ultrabasa. Mandala ini menempati
bagian utara wilayah Papua.
2. Mandala New Guinea Tengah dicirikan oleh endapan sedimen yang sangat tebal dan
mengalami tektonik kuat serta pengangkatan selama Tersier. Mandala ini membentuk
pegunungan tinggi di tengah wilayah Papua.
3. Mandala New Guinea Selatan yang daerahnya merupakan dataran rendah di bagian
selatan Papua dicirikan oleh batuan sedimen laut yang relatif tipis, yang yang diendapkan
pada lingkungan trangresi di daerah yang sudah mantap tektoniknya.

3
Geologi Regional Daerah Jayapura, Suwarna dan Noya (1995)

4
Stratigrafi
Stratigrafi regional daerah penelitian menurut Suwarna dan Noya (1995),
dalam peta Geologi Lembar Jayapura, Pegunungan Cycloops dapat
dibagi menjadi beberapa satuan yang berumur Pra Tersier sampai Kuarter.

1. Kelompok Malihan Cycloops (pTmc).


Terdiri dari sekis, spot gneis, filit, amphibolit, unakit, batu pualam,
aktinolit, dan hornfels. Mengandung urat-urat kuarsa setebal 50 cm,
setempat mineral sulfida akibat terobosan granit sebelum sekis
mengalami alih tempat.
2. Batuan ultramafik (um). Kelompok batuan ini tersusun atas harsburgit,
serpentinit, piroksenit dan dunit. Hasburgit mempunyai ukuran
menengah sampai kasar, mineral utama olivin sebagian mengalami
ubahan menjadi antigorit dan orthopiroksin.
3. Batuan Mafik (m). Kelompok batuan ini terdiri dari Gabro dan Diorit.
Gabro sebagian sudah teruralitkan, terbreksikan banyak mengandung
plagioklas dan ortho-klinopiroksen, tremolit-aktinolit yang merupakan
hasil ubahan piroksen, olivin mengandung inklusi piroksen.

5
4. Formasi Auwewa (Tema). Formasi ini tersusun atas lava basal, diabas dan
andesit, aglomerat, breksi gunung api, tuff, sisipan batugamping, grewek
dan tuff pasiran gampingan. Lava basal banyak terdapat kekar lapis,
bentukan lava berupa lava bantal dan amigdaloid, banyak mengandung
plagioklas dan gelas, piroksen dan sedikit mineral bijih, sebagian berupa
spilit.
5. Formasi Nubai (Tomn). Terdiri dari batugamping bersisipian biomikrit,
napal, batupasir halus, grewak batugamping tufan, tuf; setempat bersisipan
kalkarenit dan kalsipelit. Batugamping dan biomikrit, berlapis baik; jelek;
fosil Lepidocyclina sp., Spiroclypeus., Amphistegina sp., Elphidium sp.,
Globorotalia sp., Globigerina sp., ganggang moluska, dan koral, umur
Oligosen-Miosen Awal (Te bawah atas). Batupasir halus, sisipan tebal 15
cm.
6. Formasi Makats (Tmm). Terdiri dari berselingan dengan batulanau dan
batulempung, sisipan napal dan konglomerat, lensa dan buncak
batugamping; bagian bawah bersisipan tuf dan breksi gunungapi.
Greywacke, setempat gampingan, urat kalsit mengisi rekahan sampai 0,5
cm; struktur lapisan bersusun, lapisan sejajar, silang siur dan lapisan
perulangan.

6
7. Formasi Jayapura (Qpj). Terdiri dari batugamping koral-ganggang,
kalsirudit, kalkarenit; setempat batugamping kapuran, batugamping
napalan dan napal, berlapis jelek, setempat berstuktur terumbu;
setempat berselingan dengan batugamping pelagos. Fosil foraminifera
kecil bentos dan pelagos, koral, moluska dan ganggang. Umur satuan
Plistosen.
8. Kipas Aluvium (Qf). Terdiri dari aluvium kasar dan konglomerat,
terpilah buruk. Terdiri terutama dari pasir, kerakal, dan kerikil batuan
ultramafik dan malihan.
9. Aluvium & Endapan Pantai (Qa). Terdiri dari kerakal, kerikil, pasir,
lanau dan lumpur di lingkungan rawa dan pantai, mengandung
pecahan batugamping koral resen.

7
Tatanan Tektonik Endapan Emas Orogenik
(Groves et al., 1998).

Skema keterdapatan endapan emas orogenik, endapan emas anomalous metal association, dan endapan emas yang berasosiasi
dengan intrusi, yang memperlihatkan korelasi kedalaman dan tatanan struktur serta litologi batuan pembawa (Groves, et al., 2003)

8
Geologi Daerah Penelitian
Geomorfologi

9
Geologi Daerah Penelitian
Peta Lintasan dan Lokasi Pengamatan

Serpentinit

Sekis hijau

Diabas Piroksenit Konglomerat Peridotit

10
Stratigrafi dan struktur geologi daerah
penelitian

11
Sejarah Geologi
Sejarah geologi daerah Harapan dan sekitarnya dapat
ditentukan dan tidak terlepas dari kondisi geologi regional serta
fase tektonik regional yang dimulai pada kala Kapur. Hal ini
belum nampak jelas di daerah penelitian karena kurangnya data
dan singkapan yang dijumpai. Proses tektonik mulai nyata pada
Oligosen Awal ketika busur kepulauan volkanik Eosen
membentuk bagian utara kraton Australia.

Sejak Kala Kapur hingga Miosen Awal telah terjadi kegiatan


gunungapi bawah laut. Kegiatan tektonik Oligosen Tengah
menyebabkan terjadinya susut laut dan proses orogenesa
sehingga batuan serpentinit dan sekis hijau pra Tersier muncul
ke permukaan, namun kegiatan gunungapi bawah laut terus
berlangsung.

Pengangkatan kuat yang terjadi pada Kala Pliosen atau yang


dikenal dengan fase pengangkatan Pliosen (Pliocene Upthrust
Phase) dalam Dow et al., (1988), bertanggung jawab
membentuk sesar-sesar di daerah penelitian. Pengangkatan ini
menyebabkan terangkatnya satuan batuan serpentinit dan sekis
hijau ke permukaan yang lebih tinggi oleh sesar naik (Pliosen 12
Endapan Emas Sekunder/Placer
A B

Ma
g

A. Penambangan emas placer B. Penambangan emas placer Au


Au
sungai Jabawi sungai Telaga Ria
0,5
mm 0,5
mm
A

Au
0,5

1 mm
S. Jabawi

Au

13
Endapan Emas Sekunder/Placer
Mineral
Mineral berat
berat umumnya
umumnya berupa
berupa magnetit,
magnetit, ilmenit,
ilmenit, pirit,
pirit, kromit
kromit dan
dan limonit.
limonit. Mineral
Mineral ringan
ringan
berupa kuarsa, feldspar dan kalsit
berupa kuarsa, feldspar dan kalsit
Sebaran
Sebaran endapan
endapan emas
emas placer
placer ini
ini pada
pada litologi
litologi sekis
sekis hijau
hijau dan
dan pada
pada satuan
satuan serpentinit
serpentinit maupun
maupun
pada
pada endapan recent yang terdiri dari bahan bersifat lepas, atau belum terkonsolidasi secara
endapan recent yang terdiri dari bahan bersifat lepas, atau belum terkonsolidasi secara
sempurna,
sempurna, berukuran
berukuran pasir-kerakal,
pasir-kerakal, dapat
dapat berselingan
berselingan dengan
dengan lapisan
lapisan lempung
lempung dan
dan lanau.
lanau.
Secara
Secara umum
umum kadar
kadar emas
emas placer/paleo-placer
placer/paleo-placer yang yang terdapat
terdapat di di anak
anak sungai
sungai Jabawi
Jabawi dan
dan
sungai Telaga Ria cukup bervariasi yaitu dapat dilihat pada hasil analisis
sungai Telaga Ria cukup bervariasi yaitu dapat dilihat pada hasil analisis geokimia conto geokimia conto
berupa
berupa pasir
pasir lepas
lepas yang
yang diambil
diambil pada
pada daerah
daerah aliran
aliran sungai.
sungai.
Kadar
Kadar emas placer tertinggi terdapat pada sampel TR-PS (2).
emas placer tertinggi terdapat pada sampel TR-PS (2).

Hasil analisis geokimia endapan emas sekunder/placer Sungai Jabawi dan Sungai Telaga Ria

Sampel Au Co Ni Cu Pb Zn Ag Mo As Sb

TR-PS (1) 0.01 122 736 20 <2 64 <0.1 1 9 15

TR-PS (2) 0.45 99 1040 55 2 51 0.2 <1 5 7

KJD-SS <0.01 112 2160 16 <2 51 0.1 <1 3 7


TR-SS <0.01 243 4000 55 <2 89 0.2 <1 4 7

Units ppm ppm ppm ppm ppm ppm ppm ppm ppm ppm

Det Lim 0.01 0.01 0.01 2.0 0.01 2.0 0.01 0.01 1 1

Scheme FA51 FA51 FA51 IC01 IC01 IC01 IC01 CV02 IC01 IC01

14
Endapan Emas Primer
Emas
Emas primer
primer yang
yang berupa
berupa native
native gold
gold tidak
tidak dapat
dapat diamati
diamati secara
secara langsung
langsung di
di lapangan
lapangan maupun
maupun pada
pada urat
urat
kuarsa serta
kuarsa serta pada
pada batuan
batuan teralterasi
teralterasi yang
yang ada
ada di
di lokasi
lokasi penelitian.
penelitian.
Pada
Pada beberapa
beberapa conto
conto terpilih
terpilih berupa
berupa urat
urat kuarsa
kuarsa maupun
maupun batuan
batuan samping
samping yang
yang terubah
terubah sangat
sangat kuat
kuat yang
yang
dilakukan analisis sayatan poles, dijumpai kehadiran emas (Au) seperti yang terlihat pada Gambar.
dilakukan analisis sayatan poles, dijumpai kehadiran emas (Au) seperti yang terlihat pada Gambar.

Kadar emas tertinggi diperlihatkan pada conto RSTR-8


yang merupakan urat kuarsa yang sejajar foliasi.
Samp Au
Au1 Au3 Cu Pb Zn Ag Hg As Sb
el 2
Au
TRGS- <0.0 - - 34 <2 34
0. 34. <2 4
Au
RS 1 1 9
RSKJ-A <0.0 <0 - 6 <2 8 < 33. 3 12
1 .01 0. 9
1
0,5
mm RSKJ-B <0.0 - - 7 <2 23 0. 14. <2 3
1 1 9
RSTR-8 0.02 - - 15 <2 19 0. 20. <2 1
1 9
Units ppm pp pp pp pp pp Pp pp ppm ppm
m m m m m m m
Det Lim 0.01 0.0 0.0 2.0 0.0 2.0 0. 0.0 1 1
1 1 1 01 1
Schem FA51 FA FA5 IC0 IC0 IC0 IC CV0 IC01 IC0
e 51 1 1 1 1 01 2 1
Hasil analisis geokimia sampel urat/batuan dengan metode Fire Assay dan AAS

15
Endapan Emas Primer

Histogram distribusi 8 unsur logam pada


4 (empat) conto batuan/urat kuarsa.

Diagram bivariat yang memperlihatkan hubungan


antara Au dengan unsur lain.
16
Kloritisas
i

Argilik

Kloritisas
Silisifikas i
i

17
Mineralisasi
Mineralisasi Bijih
Pirit (FeS2)
Kalkopirit
(CuFeS2)
Fotomikrograf Fotomikrograf
Galena (Pbs)
(a) Pirit, sampel KN. 02-1; (d) Pirit, sampel TRD.2-1 Emas (Au)
(b) Galena, sampel KJA; (e) Kalkopirit, sampel KH 04.B.2
(c) Hematit, sampel KH 04.B.2 (f) Emas, sampel TRGS.1

a b c
G
n
Py Hem

0,5 0,5
0,5
mm mm
mm

d e f

Py Cpy
Py
A
0,5 0,5 Cpy u 0,5
mm mm mm

18
Pembahasan

19
Karakteristik Urat Kuarsa
Penelitian lapangan menunjukan bahwa urat kuarsa berasosiasi dengan batuan
malihan terutama sekis hijau.
1

1. Urat kuarsa sejajar foliasi


A. Dilatational quartz
vein/memotong
B. Urat kuarsa
terdeformasi/breksiasi
C. Urat kuarsa memotong
foliasi/tersegmentasi
D. Imbrikasi urat kuarsa bukti
brittle structure
20
Sifat Fisik-Kimia Fluida Endapan
Salinitas
Ukuran Tm C Th C Tm C Th C (Average)
No Kode Conto Generasi Urat Conto
Inklusi (Average) (Average) (Abundan) (Abundan) (% Wt
NaCl)
Urat
1 KJ-VQ 100 m Memotong foliasi -0,36 233,72 -0.2 - -0.9 210.7 245 0.32 kuarsa
Urat
2 TR-FA 95 m Sejajar foliasi -0,26 220,72 -0.2 - -0.3 201 236 0.12 kuarsa
Urat
3 TR-LD2 95 m Sejajar foliasi -0,25 246,06 -0.1 - -0.8 211 300 0.15 kuarsa

Fluida Primer L (H2O)

V (CO2)
Fluida Primer
Fotomikrograf conto urat
kuarsa sejajar foliasi, V
L (H2O) L (H2O) (CO2)
kenampakan dua fasa (L+V)
fluida primer
L (H2O)
V (CO2) V
(CO2)

L (H2O)
Fluida Primer
Fotomikrograf conto urat Fluida Primer
L (H2O)
kuarsa memotong foliasi, V
kenampakan dua fasa (L+V) (CO2)
fluida primer
V (CO2)
L (H2O) V
(CO2)
21
Sifat Fisik-Kimia Fluida
Pembentuk Endapan
Dari
Dari hasil
hasil evaluasi
evaluasi data
data tersebut
tersebut diatas
diatas dapat
dapat dibuat
dibuat grafik
grafik mengenai
mengenai bagaimana
bagaimana hubungan
hubungan antara
antara nilai
nilai temperatur
temperatur
homogenisasi
homogenisasi (Th),
(Th), temperatur
temperatur pelelehan
pelelehan (Tm)
(Tm) serta
serta salinitas
salinitas dari
dari kedua
kedua tipe
tipe urat
urat tersebut
tersebut
Hubungan nilai (Tm) rata-rata dari conto pada dua tipe urat
70
60
50 Hubungan nilai salinitas rata-rata dari conto pada dua tipe
40 urat kuarsa urat
30 (generasifoliasi
memotong ke-2), n=24 40
Frekuensi 20 35
urat kuarsa sejajar
10 (generasi ke-1), n=19
foliasi2 30
0
urat kuarsa sejajar 25
(generasi ke-1), n=29
foliasi 20 urat kuarsa
15 memotong foliasi
Frekuensi
10 urat kuarsa sejajar
Distribusi temperatur pelelehan (Tm C)
foliasi2
5
urat kuarsa sejajar
0
Hubungan nilai (Th) rata-rata dari conto pada dua tipe urat foliasi

35
30
25 Salinitas (wt, % NaCl equivalent)
20
urat kuarsa
15 (generasifoliasi
memotong ke-2), n=24
Frekuensi
10 urat kuarsa sejajar
5 (generasi ke-1),
foliasi2 n=19
0 urat kuarsa sejajar
(generasi ke-1), n=29
foliasi

Distribusi temperatur homogenisasi (Th C)

22
Tipe Endapan

Wiluna
Racetrack
Granny Smith
Harapan Deposit
Mt Charlotte

Norseman deposit

23
Kesimpulan
Karakteristik endapan emas primer di daerah penelitian dijumpai pada batuan sekis hijau yang
merupakan batuan metamorf regional. Mineralisasi yang berkembang yaitu, pirit, kalkopirit, galena
dan emas. Kadar emas tertinggi diperlihatkan pada sampel RSTR-8 : 0,02 ppm untuk emas primer dan
kadar emas tertinggi pada sampel TR-PS(2) : 0,45 ppm untuk emas sekunder/placer. Alterasi yang
berkembang dilokasi penelitian yaitu (1) argilik, (2) silisifikasi, dan (3) kloritisasi. Pola urat kuarsa
yang dijumpai didaerah penelitian adalah sigmoidal quartz vein atau melensa dan dilatational quartz
vein.

Terdapat 2 (dua) generasi urat pada endapan emas orogenik yaitu generasi pertama adalah urat
kuarsa yang sejajar foliasi, urat tipe ini terbentuk pada temperatur 220,72 dan 246,06C, dengan nilai
salinitas masing-masing yaitu 0,12 dan 0,15 wt,%NaCl equivalent. Sedangkan urat generasi kedua
adalah urat kuarsa yang memotong foliasi, terbentuk pada temperatur 233,72C dengan nilai salinitas
0,32 wt,%NaCl equivalent.

Genesa pembentukan endapan emas primer terjadi setelah adanya proses metamorfosa regional,
dimana batuan sekis hijau yang mengalami pemineralan berupa urat-urat kuarsa yang mengisi rekahan
atau rongga-rongga penjajaran (foliasi) mineral pada batuan sekis hijau. Endapan emas orogenik
daerah Harapan merupakan sumber emas sekunder/placer/paleoplacer yang terdapat di daerah
penelitian yang terbentuk pada suhu antara 201C hingga 300C serta berada pada zona transisi antara
epizonal-mesozonal yaitu pada fasies greenschist pada kedalaman kurang lebih 5-6 kilometer.

24
TERIMA KASIH

25