Anda di halaman 1dari 25

PRINSIP PERLAKUAN

S ETA R A T E R H A D A P H A K
PEMEGANG SAHAM
PRINSIP PERLAKUAN SETARA
TERHADAP PEMEGANG SAHAM
Perkembangan struktur pendanaan perusahaan melahirkan berbagai jenis dan kelompok
pemegang saham. Perusahaan dapat menerbitkan berbagai macam jenis saham dengan dengan
profil yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.

Pemegang Saham Pengendali Saham non


Pengendali Merugikan Pengendali

Memiliki Kontrol Keterbatasan Informasi

Informasi
PRINSIP PERLAKUAN SETARA
TERHADAP PEMEGANG SAHAM
Pada prinsip ke-3 ini ditekankan perlunya persamaan perlakuan kepada seluruh pemegang
saham termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing.
Pada praktiknya pemegang saham utama perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih banyak
untuk memberikan pengaruhnya dalam kegiatan operasional perusahaan
KESAMANAAN HAK UNTUK SAHAM
DENGAN KELAS YANG SAMA
Pada seri kelas yang sama, seluruh saham harus memiliki hak yang sama
Semua investor harus dapat memperoleh informasi tentang hak masing-masing seri dan kelas
saham sebelum melakukan pembelian saham
Setiap perubahan pada hak suara harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari
pemegang saham yang memperoleh dampak negative dari perubahan hak suara tersebut
PEDOMAN UMUM GCG INDONESIA

Hak untuk menghadiri, menyampaikan pendapat, dan memberikan suara dalam RUPS berdasarkan ketentuan satu
saham memberi hak kepada pemegangnya untuk mengeluarkan satu suara;
Hak untuk memperoleh informasi mengenai perusahaan secara tepat waktu, benar dan teratur, kecuali hal-hal yang
bersifat rahasia, sehingga memungkinkan pemegang saham membuat keputusan mengenai investasinya dalam
perusahaan berdasarkan informasi yang akurat;
Hak untuk menerima bagian dari keuntungan perusahaan yang diperuntukkan bagi pemegang saham dalam bentuk
dividen dan pembagian keuntungan lainnya, sebanding dengan jumlah saham yang dimilikinya;
Hak untuk memperoleh penjelasan lengkap dan informasi yang akurat mengenai prosedur yang harus dipenuhi
berkenaan dengan penyelenggaraan RUPS agar pemegang saham dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan,
termasuk keputusan mengenai hal-hal yang mempengaruhi eksistensi perusahaan dan hak pemegang saham;
Dalam hal terdapat lebih dari satu jenis dan klasifikasi saham dalam perusahaan, maka: (i) setiap pemegang saham
berhak mengeluarkan suara sesuai dengan jenis, klasifikasi dan jumlah saham yang dimiliki; dan (ii) setiap pemegang
saham berhak untuk diperlakukan setara berdasarkan jenis dan klasifikasi saham yang dimilikinya.
TRANSAKSI DENGAN PIHAK
BERELASI/MENGANDUNG BENTURAN
KEPENTINGAN
Dalam PSAK 7 disebutkan bahwa transaksi pihak-pihak berelasi adalah suatu pengalihan sumber
daya, jasa, atau kewajiban antara entitas pelapor dengan pihak-pihak berelasi, terlepas apakah
ada harga yang dibebankan. Pihak-pihak berelasi didefinisikan sebagai orang atau entitas yang
terkait dengan entitas tertentu dalam menyiapkan laporan keuangannya.
Transaksi pihak berelasi/mengandung benturan kepentingan juga berpotensi menjadi abusive
terhadap pihak tertentu.Transaksi abusive tersebut terjadi ketika manajemen dan/atau
pemegang saham pengendali dapat mengarahkan transaksi yang hanya menguntungkan
perusahaan yang dikendalikannya dan menyebabkan kerugian di perusahaan yang berelasi.
OECD GUIDE ON FIGHTING ABUSIVE
RELATED PARTY TRANSACTIONS IN ASIA
The legal definition of related parties should refer to control and be broad enough to capture relevant
transactions that present a risk of potential abuse. It should be sufficiently harmonised with respect to different bodies of
law such as company law, listing rules and accounting standards in each jurisdiction to avoid misunderstanding and an
excessive regulatory burden, thereby underpinning better implementation and enforcement.
The legal and regulatory framework for related party transactions should provide appropriate and effective
threshold-based tiers, referring to materiality for disclosure and shareholders approval and/or board approval of related
party transactions according to the risk of potential abuse. It should also take into account regulatory efficiency,
weighing the potential cost and benefits.
A company should develop and make public a policy to monitor related party transactions that should be subject
to an effective system of checks and balances as well as a disclosure process. This can include the possibility for non-
controlling shareholders to review the independence of directors in a timely manner.
OECD GUIDE ON FIGHTING ABUSIVE
RELATED PARTY TRANSACTIONS IN ASIA
The external auditor should be independent, competent and qualified in order to provide an assurance to
the board and shareholders that material information concerning related party transactions is fairly
disclosed and alert them to any significant concerns with respect to internal control. The policy framework
should support this role effectively.
Independent directors should play a central role in monitoring related party transactions, such as
designing board approval procedures, conducting investigations and having the possibility for obtaining
advice from independent experts. Their role should be supported by the policy framework.
Objective judgement in the decision-making process of the board should be ensured.
This would include giving non-controlling shareholders sufficient influence over the nomination and election
of directors, in particular independent directors, and the design of their incentive structures, such as
remuneration policy.
OECD GUIDE ON FIGHTING ABUSIVE
RELATED PARTY TRANSACTIONS IN ASIA
Where reliance is placed on shareholders approval, a voting system should be established with a
majority of disinterested shareholders for the approval of related party transactions at Shareholders
Meetings.
The legal and regulatory framework should ensure that legal action, including specialized courts and
alternative dispute resolution, does not prohibit minority shareholders from seeking legal redress
quickly and cost-effectively.
A coherent regulatory system dealing with related party transactions, particularly disclosure, board
oversight and shareholder approval should be established in each jurisdiction to facilitate
implementation and enforcement efforts.
PEDOMAN GCG INDONESIA

Pemegang saham pengendali harus dapat: (i) memperhatikan kepentingan pemegang saham minoritas dan
pemangku kepentingan lainnya sesuai peraturan perundang-undangan; dan (ii) mengungkapkan kepada instansi
penegak hukum tentang pemegang saham pengendali yang sebenarnya (ultimate shareholders) dalam hal
terdapat dugaan terjadinya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan, atau dalam hal diminta oleh
otoritas terkait;
Pemegang saham minoritas bertanggung jawab untuk menggunakan haknya dengan baik sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan anggaran dasar;
Pemegang saham harus dapat: (i) memisahkan kepemilikan harta perusahaan dengan kepemilikan harta pribadi;
dan (ii) memisahkan fungsinya sebagai pemegang saham dengan fungsinya sebagai anggota Dewan Komisaris atau
Direksi dalam hal pemegang saham menjabat pada salah satu dari kedua organ tersebut;
Dalam hal pemegang saham menjadi pemegang saham pengendali pada beberapa perusahaan, perlu diupayakan
agar akuntabilitas dan hubungan antar-perusahaan dapat dilakukan secara jelas.
PERDAGANGAN ORANG DALAM
(INSIDER TRADING)
Bagian kedua prinsip 3 ini berbicara mengenai larangan transaksi orang dalam (insider trading)
dan perdagangan tutup sendiri yang merugikan pihak lain (abusive self dealing).
Banyak negara OECD sudah mempunyai peraturan perundang-undangan berkenaan dengan
larangan dua transaksi diatas.Yang masih menjadi masalah adalah penegakkan hukum yang
belum efektif atas pelanggaran ketentuan yang ada. Oleh sebab itu, pemerintah diminta untuk
memberikan perhatiannya terdapat penegakan hukum khususnya untuk transaksi di atas.
INSIDER TRADING

Insider trading sebagaimana tercantum dalam Dictionary of investing Jerry M Rosenberg,Yaitu


keikutsertaan seseorang dalam suatu transaksi yang didasarkan kepada informasi khusus yang
didapatnya dari kedudukannya yang mana hal ini menghasilkan keuntungan secara tidak fair.
Bila informasi yang didapatnya akan mempengaruhi harga dalam transaksi, hal ini merupakan
perbuatan yang tidak sah .
UU PM PASAL 95 DAN 96

Pasal 95 Perdagangan Orang Dalam


Pembelian atau penjualan atas efek emiten atau perusahaan publik.
Pembelian atau penjualan atas efek perusahaan lain yang melakukan transasi dengan emiten atau
perusahaan publik; oleh orang dalam dari emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan
yang memiliki informasi orang dalam
Pasal 96 Perdagangan orang dalam juga mencakup upaya:
Mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan efek
Memberi informasi orang dalam kepada pihak mana pun yang patut diduganya menggunakan
informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan efek.
UU PM PASAL 97 DAN 98

UU PM pasal 97 ditambahkan bahwa perdagangan orang dalam juga mencakup transaksi yang
dilakukan oleh pihak lain yang memperoleh informasi orang dalam dengan cara melawan
hukum.
Pasal 98 mengatur bahwa yang dimaksud orang dalam adalah:
Komisaris, direktur, atau pegawai emiten atau perusahaan publik.
Pemegang saham utama emiten atau perusahaan publik.
Orang perseorangan yang karena kedudukan atau profesinya atau karena hubunganusahanya dengan
emiten atau perusahaan publik memungkinkan orang tersebut memperoleh informasi orang dalam;
atau emiten atau perusahaan publik memungkinkan menjadi orang dalam.
Pihak yang dalam waktu 6 bulan terakhir tidak akan menjadi yang disebutkan di atas.
KEWAJIBAN DARI KOMISARIS, DIREKSI DAN MANAJEMEN
KUNCI UNTUK MENGUNGKAPKAN KEPENTINGANNYA
KEPADA DEWAN KOMISARIS

Bagian terakhir dari pinsip 3 adalah kewajiban dari komisaris, direksi dan manajemen kunci
untuk mengungkapkan kepentingannya kepada dewan komisaris jika baik langsung maupun tidak
langsung atau atas nama pihak ketiga mempunyai kepentingan yang material dalam suatu
transaksi atau suatu hal yang mempengaruhi perusahaan.
Peungkapan kepentingan para pihak di atas kepada dewan komisaris juga harus diikuti dengan
ketidak-ikut sertaan para pihak didalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan transaksi
yang memuat kepentingan mereka tersebut
PERLAKUAN SETARA TERHADAP PEMEGANG
SAHAM DALAM PROSES DAN PROSEDUR RUPS

Pemegang saham diberikan kesempatan untuk mengajukan usul mata acara RUPS sesuai dengan
peraturan perundang-undangan
Panggilan RUPS harus mencakup informasi mengenai mata acara, tanggal, waktu dan tempat
RUPS
Bahan mengenai setiap mata acara yang tercantum dalam panggilan RUPS harus tersedia di
kantor perusahaan sejak tanggal panggilan RUPS
Penjelasan mengenai hal-hal lain yang berkaitan dengan mata acara RUPS dapat diberikan
sebelum dan atau pada saat RUPS berlangsung
Risalah RUPS harus tersedia di kantor perusahaan, dan perusahaan menyediakan fasilitas agar
pemegang saham dapat membaca risalah tersebut
PENGUNGKAPAN INFORMASI BENTURAN
KEPENTINGAN ANGGOTA DIREKSI DAN
DEWAN KOMISARIS
Benturan kepentingan adalah keadaan dimana terdapat konflik antara kepentingan ekonomis
perusahaan dan kepentingan ekonomis pribadi pemegang saham, angggota Dewan Komisaris
dan Direksi, serta karyawan perusahaan;
Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta
karyawan perusahaan harus senantiasa mendahulukan kepentingan ekonomis perusahaan diatas
kepentingan ekonomis pribadi atau keluarga, maupun pihak lainnya;
Anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan dilarang menyalahgunakan
jabatan untuk kepentingan atau keuntungan pribadi, keluarga dan pihak-pihak lain;
PENGUNGKAPAN INFORMASI BENTURAN
KEPENTINGAN ANGGOTA DIREKSI DAN
DEWAN KOMISARIS
Dalam hal pembahasan dan pengambilan keputusan yang mengandung unsur benturan
kepentingan, pihak yang bersangkutan tidak diperkenankan ikut serta;
Pemegang saham yang mempunyai benturan kepentingan harus mengeluarkan suaranya dalam
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai dengan keputusan yang diambil oleh pemegang
saham yang tidak mempunyai benturan kepentingan;
Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan yang memiliki
wewenang pengambilan keputusan diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak memiliki
benturan kepentingan terhadap setiap keputusan yang telah dibuat olehnya dan telah
melaksanakan pedoman perilaku yang ditetapkan oleh perusahaan.
PERAN AKUNTAN PROFESIONAL

Melakukan audit secara profesianal khusunya untuk pengungkapan transaksi berelasi sesuai PSAK
dan ketentuan yang berlaku.
Membantu komisaris independen dalam melakukan reviu atas kewajaran transaksi pihak berelasi.
Merancang dan mengimplementasikan sistem informasi dan pengendalian yang mendorong
terciptanya perlakuan setara terhadap peegang saham, khusunya untuk transaksi pihak yang berelasi.
Mengendalikan diri dan unit/area yang menjadi tanggung jawabnya dari keterlibatan perdagangan
orang dalam.
Mendorong keterbukaan dan kewajaran dalam pengungkapan transaksi pihak berelasi dan transaksi
yang mengandung kepentingan.
KASUS PT
SUMALINDO
PT SUMALINDO LESTARI INDONESIA

Pada tahun 2010, 2011, dan 2012 PT Sumalindo mengalami penurunan kinerja perusahaan yang
disebabkan penurunan volume penjualan MDF.
Hal ini disebabkan oleh minimnya modal kerja perseroan yang mengakibatkan berkurangnya
suplai bahan baku sehingga perusahaan mematikan mesin MDF.
Penurunan Kinerja keuangan tersebut menyebabkan PT SULI tidak dapat memenuhi hutang
jatuh temponya.
SENGKETA PEMEANG SAHAM PENGENDALI
DAN PEMEGANG SAHAM PUBLIK
Pada tahun 2011, pemegang saham publik atas nama Imani United Pte Ltd dan Deddy artawan
Jamin, pemegang 13,8% saham perusahaan, mengajukan permohonan pemeriksaan.
Hal ini disebabkan atas laporan keuangan yang tidak sesuai dengan kapasitasnya.
Kejanggalan tersebut antara lain:
Terdapat piutang ragu-ragu yang merupakan pinjaman tanpa bunga yang diberikan kepada anak
perusahaan SULI senilai Rp 140.000.000.000 dalam bentuk zero bond coupon tanpa ada penjelasan.
Setelah penerbitan obligasi, SULI menjual kepemilikan SHK ke PT Tjiwi Kimia dengan pembayaran
tidak wajar.
Adanya klausul yang tidak sesuai.
PERSIDANGAN

Adanya dugaan praktik illegal logging yang tidak tercatat pada laporan keuangan perusahaan.
Adanya dugaan penambangan batu-bara secara besar-besaran di area SHK namun tidak
dilaporkan ,
TRANSAKSI PIHAK BERELASI

Pada LK SULI terdapat transaksi pihak-pihak berelasi.


Transaksi tersebut menyebabkan saldo piutang dan utang usaha pada laporan keuangan
Tidak ditemukan bahwa transaksi tersebut sudah menggunakan arms length principle.
TERIMA KASIH